Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau,
sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Dapatkah Anda bayangkan jika di dunia ini
tidak ada air, tentu saja tidak pernah ada kehidupan seperti yang ada sekarang ini. Air memang
mutlak diperlukan dalam kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya. Tanpa air kehidupan
tidak dapat berlangsung. Demikian juga dalam kehidupan kita sehari-hari, air sangat diperlukan
untuk berbagai kegiatan di dalam rumah tangga, juga untuk pertanian, transportasi serta rekreasi.
Di dalam industri, air digunakan antara lain sebagai bahan pengolah, pendingin dan pembangkit
tenaga.
Berbagai teknik penanganan dan pengolahan dapat diterapkan untuk memanfaatkan limbah yang
kualitasnya baik atau sudah menurun. Berbagai produk telah dihasilkan dari limbah yang
berkualitas baik, seperti surimi, fish jelly, produk fermentasi dan kerupuk. Sedangkan dari
limbah yang kualitasnya telah menurun dapat dihasilkan tepung ikan, tepung tulang, dan silase.
Masih banyak peluang yang dapat diperoleh dari pemanfaatan limbah tersebut.Maka dari hal
tersebut lah kami berisiatif untuk memilih pokok masalah tentang pencemaran air .
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
a.Mengetahui karakteristik limbah Perikanan
b.Mengetahui penanganan limbah
c.Mengetahui pengaruh pencemaran Air

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Karakteristik Limbah Perikanan
Limbah memiliki karakter khas. Berdasarkan karakter tersebut limbah dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu limbah yang masih dapat dimanfaatkan dan sudah tidak dapat dimanfaatkan.
Limbah perikanan berbentuk padatan, cairan dan gas. Limbah tersebut ada yang berbahaya dan
sebagian lagi beracun. Limbah padatan memiliki ukuran bervariasi, mulai beberapa mikron
hingga beberapa gram atau kilogram. Ikan rucah, yang jumlahnya banyak, merupakan limbah
dengan bobot mencapai ratusan kilogram atau ton. Beberapa limbah padatan masih dapat
dimanfaatkan dan sisanya tidak dapat dimanfaatkan dan berpotensi sebagai pencemar
lingkungan.
Jelas terlihat bahwa kualitas limbah sangat ditentukan oleh volume, kandungan bahan pencemar
dan frekuensi pembuangan limbah. Volume limbah berkaitan dengan kemampuan alam untuk
mendaur ulangnya. Peningkatan volume limbah akan meningkatkan beban siklus alami, terutama
peningkatan yang berlangsung secara cepat.
Bahan pencemar yang terkandung didalam limbah berpengaruh terhadap kualitas limbah. Bahan
pencemar berupa bahan organik relatif tidak berbehaya dibandingkan dengan logam berat.
Demikian pula bahan pencemar yang berupa senyawa beracun.
Keberadaan limbah di lingkungan dapat diamati berdasarkan indikator tertentu, seperti
perubahan pH (tingkat Keasaman), perubahan warna atau timbulnya endapan. Perubahan pH
terjadi karena perubahan konsentrasi ion hidrogen dalam air. Kriteria air yang memenuhi syarat
bagi kehidupan memiliki pH netral dengan kisaran nilai 6.5 7.5. Limbah industri yang belum
diolah memiliki pH asam (<7) atau basa (>7). Bila memasuki perairan dalam jumlah besar,
limbah industri akan mempengaruhi pH perairan sehingga akan mengganggu kehidupan
organisme didalamnya.
Air bersih umumnya bening tidak berwarna. Perubahan warna dimungkinkan karena masuknya
limbah. Dengan demikian, perubahan warna air dapat digunakan sebagai indikator masuknya
limbah. Selain warna, timbulnya bau pada air merupakan indikator terjadinya pencemaran oleh

limbah. Air yang bau dapat berasal dari limba industri atau dari hasil degradasi bahan organik
oleh mikroba. Mikroba pembusuk yang hidup dalam media budidaya ikan akan mengubah
organik menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau.
Limbah berbentuk padat umumnya mengendap di dasar perairan. Limbah padat dapat berupa
limbah organik dan anorganik. Apabila tidak ditangani secara baik, limbah padat akan
mengendap di dasar perairan.
2.2 Penanganan Limbah
Limbah hasil perikanan dapat berbentuk padatan, cairan atau gas. Limbah berbentuk padat
berupa potongan daging ikan, sisik, insang atau saluran pencernaan. Limbah ikan yang berbentuk
cairan antara lain darah, lendir dan air cucian ikan. Sedangkan limbah ikan yang berbentuk gas
adalah bau yang ditimbulkan karena adanya senyawa amonia, hidrogen sulfida atau keton.
Berbagai teknik penanganan dan pengolahan limbah telah dikembangkan. Masing-masing jenis
limbah membutuhkan cara penanganan khusus, berbeda antara jenis limbah yang satu dengan
limbah lainnya. Namun secara garis besarnya, teknik penanganan dan pengolahan limbah dapat
dibagi menjadi penanganan dan pengolahan limbah secara fisik, kimiawi, dan biologis.
Secara Fisik
Penanganan dan pengolahan limbah secara fisik dilakukan untuk memisahkan antara limbah
berbentuk padatan, cairan dan gas. Penanganan dan pengolahan limbah secara fisik mampu
melakukan pemisahan limbah berbentuk padat dari limbah lainnya. Limbah padatan akan
ditangani atau diolah lebih lanjut sehingga tidak menjadi bahan cemaran, sedangkan limbah cair
dan gas akan ditangani atau diolah menggunakan teknik kimiawi dan biologis.
Secara fisik, penangan limbah dilakukan menggunakan penyaring (filter). Bentuk saringan
disesuaikan dengan kondisi dimana limbah tersebut ditangani. Panyaring yang digunakan dapat
berbentuk jeruji besi atau saringan.
Secara Kimiawi
Penanganan dan pengolahan limbah secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan senyawa
kimia tertentu untuk mengendapkan limbah sehingga mudah dipisahkan. Pada limbah berbentuk

padat, penggunaan senyawa kimia dimaksudkan untuk menguraikan limbah menjadi bentuk yang
tidak mencemari lingkungan.
Secara Biologis
Pengolahan limbah secara biologis dilakukan dengan menggunakan tanaman dan mikroba. Jenis
tanaman yang digunakan dapat berupa eceng gondok, duckweed, dan kiambang. Jenis mikroba
yang digunakan adalah bakteri, jamur, protozoa dan ganggang. Pemilihan jenis mikroba yang
digunakan tergantung dari jenis limbah. Bakteri merupakan mikroba yang paling sering
digunakan pada pengolahan limbah secara biologis. Bakteri yang digunakan bersifat
kemoheterotrof dan kemoautotrof. Bakteri kemoheterotrof memanfaatkan bahan organisk
sebagai sumber energi, sedangkan bakteri kemoautotrof memanfaatkan bahan anorganik sebagai
sumber energi.
Jamur yang digunakan dalam penanganan dan pengolahan limbah secara biologis bersifat
nonfotosintesa dan bersifat aerob. Protozoa yang digunakan dalam penanganan dan pengolahan
limbah bersel tunggal dan memiliki kemampuan bergerak (motil). Ganggang digunakan pada
penanganan dan pengolahan limbah secara biologis karena memiliki sifat autotrof dan mampu
melakukan fotosintesa. Oksigen yang dihasilkan dari fotosintesa dapat dimanfaatkan oleh
mikroba.
2.3 Pengaruh Pencemaran Air terhadap Hewan, Tumbuh-tumbuhan, dan Tubuh Manusia
Diantara sekian banyak bahan pencemar air ada yang beracun dan berbahaya dan dapat
menyebabkan kematian. Telah anda pelajari bahwa bahan pencemar air antara lain ada yang
berupa logam-logam berat seperti arsen (As), kadmium (Cd), berilium (Be), Boron (B), tembaga
(Cu), fluor (F), timbal (Pb), air raksa (Hg), selenium (Se), seng (Zn), ada yang berupa oksidaoksida karbon (CO dan CO2), oksidaoksida nitrogen (NO dan NO2), oksida-oksida belerang
(SO2 dan SO3), H2S, asam sianida (HCN), senyawa/ion klorida, partikulat padat seperti asbes,
tanah/lumpur, senyawa hidrokarbon seperti metana, dan heksana. Bahan-bahan pencemar ini
terdapat dalam air, ada yang berupa larutan ada pula yang berupa partikulat-partikulat, yang
masuk melalui bahan makanan yang terbawa ke dalam pencernaan atau melalui kulit.

Bahan pencemar unsur-unsur di atas terdapat dalam air di alam ataupun dalam air limbah.
Walaupun unsur-unsur diatas dalam jumlah kecil? sensial/diperlukan dalam makanan hewan
maupun tumbuhtumbuhan, akan tetapi apabila jumlahnya banyak akan bersifat racun, contoh
tembaga (Cu), seng (Zn) dan selenium (Se) dan molibdium esensial untuk tanaman tetapi bersifat
racun untuk hewan.
Air merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan di muka bumi terutama bagi manusia. Oleh
karena itu apabila air yang akan digunakan mengandung bahan pencemar akan mengganggu
kesehatan manusia, menyebabkan keracunan bahkan sangat berbahaya karena dapat
menyebabkan kematian apabila bahan pencemar itu tersebut menumpuk dalam jaringan tubuh
manusia.
Bahan pencemar yang menumpuk dalam jaringan organ tubuh dapat meracuni organ tubuh
tersebut, sehingga organ tubuh tidak dapat berfungsi lagi dan dapat menyebabkan kesehatan
terganggu bahkan dapat sampai meninggal.
Selain bahan pencemar air seperti tersebut di atas ada juga bahan pencemar berupa bibit penyakit
(bakteri/virus) misalnya bakteri coli, disentri, kolera, typhus, para typhus, lever, diare dan
bermacammacam penyakit kulit. Bahan pencemar ini terbawa air permukaan seperti air sungai
dari buangan air rumah tangga, air buangan rumah sakit, yang membawa kotoran manusia atau
kotoran hewan.
Lingkungan terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Jika komponen biotik berada dalam
komposisi yang proporsional antara tingkat trofik dengan komponen abiotik yang mendukung
kehidupan komponen biotik, lingkungan tersebut berada dalam keseimbangan atau stabil.
Contoh lingkungan aIami yang seimbang adalah hutan. Di hutan, tumbuhan sebagai produsen
ada dalam jumlah yang mencukupi untuk perlindungan dan makanan bagi konsumen tingkat
pertama, seperti burung pemakan tumbuhan, rusa dan monyet. Tumbuhan di hutan dapat
berkembang dengan baik karena kondisi lingkungan abiotik yang sesuai. Hewan sebagai
konsumen tingkat pertama berada dalam jumlah yang mencukupi untuk kehidupan konsumen
tingkat kedua, misalnya harimau, musang, dan ular. Jumlah masing- masing komponen biotik
tersebut tidak mendominasi satu dengan yang lainnya sehingga terbentuk rantai makanan yang
seimbang.

2.4 POTENSI LIMBAH UDANG SEBAGAI PENYERAP LOGAM BERAT (TIMBAL,


KADMIUM, DAN TEMBAGA) DI PERAIRAN
Pembangunan yang pesat dibidang ekonomi disatu sisi akan meningkatkan kualitas hidup
manusia, yaitu dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, tetapi di sisi lain akan berakibat
pada penurunan kesehatan akibat adanya pencemaran yang berasal dari limbah industri dan
rumah tangga. Hal ini karena kurangnya atau tidak memadainya fasilitas atau peralatan untuk
menangani dan mengelola limbah tersebut.
Salah satu pencemaran pada badan air adalah masuknya logam berat. Peningkatan kadar logam
berat di dalam perairan akan diikuti oleh peningkatan kadar zat tersebut dalam organisme air
seperti kerang, rumput laut dan biota laut lainnya. Pemanfatan organisme ini sebagai bahan
makanan akan membahayakan kesehatan manusia.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan maka berkembang pulalah industri-industri.
Akibatnya lingkungan menjadi salah satu sasaran pencemaran, terutama sekali lingkungan
perairan yang sudah pasti terganggu oleh adanya limbah industri, baik industri pertanian maupun
industri pertambangan. Kebanyakan dari limbah itu biasanya dibuang begitu saja tanpa
pengolahan terlebih dahulu.
Berbagai metode seperti penukar ion, penyerapan dengan karbon aktif dan pengendapan secara
elektrolisis telah dilakukan untuk menyerap bahan pencemar beracun dari limbah, tetapi cara ini
membutuhkan biaya yang sangat tinggi dalam pengoperasiannya. Penggunaan bahan biomaterial
sebagai penyerap ion logam berat merupakan alternatif yang memberikan harapan. Sejumlah
biomaterial seperti lumut, daun teh, sekam padi dan sabut kelapa sawit begitu juga dari bahan
non biomaterial seperti perlit, tanah gambut, lumpur aktif dan lain-lain telah digunakan sebagai
bahan penyerap logam-logam berat dalam air limbah.
Kulit udang yang mengandung senyawa kimia khitin dan khitosan merupakan limbah yang
mudah didapat dan tersedia dalam jumlah yang banyak, yang selama ini belum termanfaatkan
secara optimal.
Dengan adanya sifat-sifat khitin dan khitosan yang dihubungkan dengan gugus amino dan
hidroksil yang terikat, maka menyebabkan khitin dan khitosan mempunyai reaktifitas kimia yang

tinggi dan menyebabkan sifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai penukar ion
(ion exchanger) dan dapat berperan sebagai absorben terhadap logam berat dalam air limbah.
Karena berperan sebagai penukar ion dan sebagai absorben maka khitin dan khitosan dari limbah
udang berpotensi dalam memecahkan masalah pencemaran lingkungan perairan dengan
penyerapan yang lebih murah dan bahannya mudah didapatkan.
Pengertian Logam Berat
Logam adalah unsur alam yang dapat diperoleh dari laut, erosi batuan tambang, vulkanisme dan
sebagainya. Umumnya logam-logam di alam ditemukan dalam bentuk persenyawaan dengan
unsur lain, sangat jarang yang ditemukan dalam elemen tunggal. Unsur ini dalam kondisi suhu
kamar tidak selalu berbentuk padat melainkan ada yang berbentuk cair, misalnya merkuri (Hg).
Dalam badan perairan, logam pada umumnya berada dalam bentuk ion-ion, baik sebagai
pasangan ion ataupun dalam bentuk ion-ion tunggal. Sedangkan pada lapisan atmosfir, logam
ditemukan dalam bentuk partikulat, dimana unsur-unsur logam tersebut ikut berterbangan dengan
debu-debu yang ada di atmosfir. Melihat bentuk dan kemampuannya setiap logam haruslah
memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1)Memiliki kemampuan yang baik sebagai penghantar daya listrik (konduktor).
2)Memiliki kemampuan sebagai penghantar panas yang baik.
3)Memiliki rapatan yang tinggi.
4)Dapat membentuk alloy dengan logam lainnya.
5)Untuk logam yang padat, dapat ditempa dan dibentuk.
Logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3, terletak di
sudut kanan bawah sistem periodik, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsur S dan
biasanya bernomor atom 22 sampai 92 dari periode 4 sampai 7. Sebagian logam berat seperti
timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang berbahaya. Afinitas
yang tinggi terhadap unsur S menyebabkan logam ini menyerang ikatan belerang dalam enzim,
sehingga enzim bersangkutan menjadi tak aktif. Gugus karboksilat (-COOH) dan amina (-NH2)
juga bereaksi dengan logam berat. Kadmium, timbal, dan tembaga terikat pada sel-sel membran

yang menghambat proses transpormasi melalui dinding sel. Logam berat juga mengendapkan
senyawa fosfat biologis atau mengkatalis penguraiannya.
Berdasarkan sifat kimia dan fisikanya, maka tingkat atau daya racun logam berat terhadap hewan
air dapat diurutkan (dari tinggi ke rendah) sebagai berikut merkuri (Hg), kadmium (Cd), seng
(Zn), timah hitam (Pb), krom (Cr), nikel (Ni), dan kobalt
(Co). Daftar urutan toksisitas logam paling tinggi ke paling rendah terhadap manusia yang
mengkomsumsi ikan adalah sebagai berikut Hg2+ > Cd2+ >Ag2+ > Ni2+ > Pb2+ > As2+ >
Cr2+ Sn2+ > Zn2+. Sedangkan menurut Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan
Hidup (1990) sifat toksisitas logam berat dapat dikelompokan ke dalam 3 kelompok, yaitu
bersifat toksik tinggi yang terdiri dari atas unsur-unsur Hg, Cd, Pb, Cu, dan Zn. Bersifat toksik
sedang terdiri dari unsur-unsur Cr, Ni, dan Co, sedangkan bersifat tosik rendah terdiri atas unsur
Mn dan Fe.
Adanya logam berat di perairan, berbahaya baik secara langsung terhadap kehidupan organisme,
maupun efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Hal ini berkaitan dengan
sifat-sifat logam berat yaitu:
1) Sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan
keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan).
2) Dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang dan ikan, dan akan membahayakan
kesehatan manusia yang mengkonsumsi organisme tersebut.
3) Mudah terakumulasi di sedimen, sehingga konsentrasinya selalu lebih tinggi dari konsentrasi
logam dalam air. Disamping itu sedimen mudah tersuspensi karena pergerakan masa air yang
akan melarutkan kembali logam yang dikandungnya ke dalam air, sehingga sedimen menjadi
sumber pencemar potensial dalam skala waktu tertentu.
III. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat di ambil dari makalah ini adalah :

1. Berdasarkan karakter tersebut limbah dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu limbah yang
masih dapat dimanfaatkan dan sudah tidak dapat dimanfaatkan. Limbah perikanan berbentuk
padatan, cairan dan gas.
2. Namun secara garis besarnya, teknik penanganan dan pengolahan limbah dapat dibagi menjadi
penanganan dan pengolahan limbah secara fisik, kimiawi, dan biologis.
3. Bahan pencemar air antara lain ada yang berupa logam-logam berat seperti arsen (As),
kadmium (Cd), berilium (Be), Boron (B), tembaga (Cu), fluor (F), timbal (Pb), air raksa (Hg),
selenium (Se), seng (Zn), ada yang berupa oksida-oksida karbon (CO dan CO2), oksidaoksida
nitrogen (NO dan NO2), oksida-oksida belerang (SO2 dan SO3), H2S, asam sianida (HCN),
senyawa/ion klorida, partikulat padat seperti asbes, tanah/lumpur, senyawa hidrokarbon seperti
metana, dan heksana.
4. Logam adalah unsur alam yang dapat diperoleh dari laut, erosi batuan tambang, vulkanisme
dan sebagainya. Umumnya logam-logam di alam ditemukan dalam bentuk persenyawaan dengan
unsur lain, sangat jarang yang ditemukan dalam elemen tunggal

DAFTAR PUSTAKA
1. Eafrianto.Penanganan Limbah Hasil perikanan secara Biologis. 1 mei 2010.14:00
wib.http://wordpress.com/2009/12/10/
2. Achmad Lutfi. materi_kimia/kimia-lingkungan/pencemaran-air/pengaruh-pencemaran-airterhadap-hewan-tumbuh-tumbuhan-dan-tubuh-manusia .1 mei 2010.14:00 wib.http://www.chemis-try.org/ /
3. Muhammad Karim. perikanan-darat-bagian-kebudayaan-lokal .1 mei 2010.14:00
wib.http://www.dkp.go.id/index.php/ind/news/362/
4. Farisyalwan. ciri-sifat-macam-polusi-dan-limbah .1 mei 2010.14:00
WIB.http://blogspot.com/2009/05/.html
5. abahjack . potensi-limbah-udang-sebagai-penyerap-logam-berat-timbal-kadmium-dantembaga-di-perairan.1 mei 2010.14:00 WIB.http://limbahb3.com/index.php/ html
6. Kadek Diana Harmayani dan I G. M. Konsukartha potensi-limbah-udang-di-perairan.1 mei
2010.14:00 WIB.http://limbahb3.com/index.php/ html