Anda di halaman 1dari 7

1. Tahap Bayi (Infancy): Sejak lahir hingga usia 18 bulan.

Periode ini disebut juga dengan tahapan sensorik oral, karena orang biasa melihat bayi
memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya., dengan penekanan pada kontak visual dan
sentuhan. Jika periode ini dilalui dengan baik, bayi akan menumbuhkan perasaan perasaan
mistrust (tidak percaya) dan akan melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang
mengecewakan dan penuh frustrasi. Di awal kehidupan ini begitu penting meletakkan dasar
trust (percaya) pada lingkungan dan melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik.
Sebaliknya, bila gagal di periode ini, individu memiliki perasaan percaya dan keyakinan
bahwa tiap manusia memiliki hak untuk hidup di muka bumi, dan hal itu hanya bisa
dilakukan oleh sosok Ibu, atau siapapun yang dianggap signifikan dalam memberikan kasih
sayang secara tetap.
2. Tahap Kanak-Kanak Awal (Early Childhood): 18 Bulan hingga 3 tahun
Selama tahapan ini individu mempelajari ketrampilan untuk diri sendiri. Bukan sekedar
belajar berjalan, bicara, dan makan sendiri, melainkan juga mempelajari perkembangan
motorik yang lebih halus, termasuk latihan yang sangat dihargai: toilet training. Di masa ini,
individu berkesempatan untuk belajar tentang harga diri dan otonomi, seiring dengan
berkembangnya kemampuan mengendalikan bagian tubuh dan tumbuhnya pemahaman
tentang benar dan salah.
Di sisi lain, ada kerentanan yang bisa terjadi dalam periode ini, khususnya berkenaan dengan
kegagalan dalam proses toilet training atau mempelajari skill lainnya, yang mengakibatkan
munculnya rasa malu dan ragu-ragu. Lebih jauh, individu akan kehilangan rasa percaya
dirinya.
3. Tahap Usia Bermain (Play Age): 3 hingga 5 tahun
Pada periode ini, individu biasanya memasukkan gambaran tentang orang dewasa di
sekitarnya dan secara inisiatif dibawa dalam situasi bermain. Di masa ini, muncul sebuah kata
yang sering diucapkan seorang anak KENAPA?.
4. Tahap Usia Sekolah (School Age): Usia 6 12 tahun
Periode ini sering disebut juga dengan periode laten, karena individu sepintas hanya
menunjukkan pertumbuhan fisik tanpa perkembangan aspek mental yang berarti, berbeda
dengan fase-fase sebelumnya. Kita bisa simak, dalam periode sebelumnya pertumbuhan dan

perkembangan

berbilang

bulan

saja

untuk

manusia

agar

bisa

tumbuh

dan

berkembang.Ketrampilan baru yang dikembangkan selama periode ini mengarah pada sikap
industri (ketekunan belajar, aktivitas, produktivitas, semangat, kerajinan, dsb), serta berada di
dalam konteks sosial. Bila individu gagal menempatkan diri secara normal dalam konteks
sosial, ia akan merasakan ketidak mampuan dan rendah diri.
5. Tahap Remaja (Adolescence): Usia 12 hingga 18 tahun
Bila sebelumnya perkembangan lebih berkisar pada apa yang dilakukan untuk saya, sejak
stage perkembangan ini perkembangan tergantung pada apa yang saya kerjakan. Karena di
periode ini individu bukan lagi anak tetapi belum menjadi dewasa, hidup berubah sangat
kompleks karena individu berusaha mencari identitasnya, berjuang dalam interaksi sosial, dan
bergulat dengan persoalan-persoalan moral.
Tugas perkembangan di fase ini adalah menemukan jati diri sebagai individu yang terpisah
dari keluarga asal dan menjadi bagian dari lingkup sosial yang lebih luas. Hal utama yang
perlu dikembangkan di sini adalah filosofi kehidupan. Di masa ini, seseorang bersifat idealis
dan mengharapkan bebas konflik, yang pada kenyataannya tidak demikian. Wajar bila di
periode ada kesetiaan dan ketergantungan pada teman. Berikut pertumbuhan dari remaja
awal-remaja akhir
1. Remaja awal (11-13 tahun)
A. Perkembangan fisik
Beberapapertumbuhan fisik yang terjadi pada periode ini adalah pertumbuhan rambut pada
beberapa area tubuh, meningkatnya produksi dan pengeluaran keringat serta minyak pada
rambut dan kulit, kejadian ini biasa juga disebut dengan istilah tanda-tanda pubertas pada
seseorang.
Pada remaja perempuan, payudara mulai mengalami pembesaran serta mulai mengalami
menstruasi, sedangkan pada remaja laki-laki, alat kelamin mulai mengalami pertumbuhan,
mimpi basah serta perubahan suara. Periode ini juga merupakan periode dimana berat badan
dan tinggi badan mengalami perkembangan yang luar biasa.
B. Perkembangan Kognitif

Pada tahapan ini, kemampuan berfikir mulai tumbuh dan pada umumnya sudah mulai berfikir
tentang masa depan meskipun dalam taraf terbatas dan aspek moral selalu menjadi perhatian.
C. Perkembangan Sosial-Emosional
Remaja pada tahapan ini mulai berusaha menunjukkan identitas dirinya, muncul perasaan
canggung saat bertemu dengan seseorang, konflik dengan orang tua meningkat, pengaruh
teman sebaya sangat besar, memiliki perasaan bebas dan tidak mau diatur, memiliki
kecenderungan berperilaku kekanak-kanakan khususnya jika mereka mengalami stress, sifat
moodi meningkat, ketertarikan kepada lawan jenis juga meningkat.
2. Remaja pertengahan (14-18 tahun)
A. Perkembangan fisik
Pertumbuhan pubertas pada tahapan ini sudah sempurna, disisi lain pertumbuhan fisik pada
perempuan mulai melambat akan tetapi pada remaja laki-laki terus berlanjut.
B. Perkembangan Kognitif
Kemampuan berfikir terus meningkat, sudah mulai mampu menetapkan sebuah tujuan,
tertarik pada hal-hal yang lebih rasional dan mulai berfikir tentang makna sebuah kehidupan
C. Perkembangan Sosial-Emosional
Pada periode ini, remaja mulai melibatkan diri secara intens dalam sebuah kegiatan yang ia
senangi, mengalami perubahan dari harapan yang tinggi tetapi dengan konsep diri yang
kurang. Body Image terus berlanjut, kecenderungan untuk jauh dari orang tua semakin
meningkat dan semakin ingin bebas dari orang tua, pengaruh teman sebaya juga masih sangat
kuat, issu popularitas bisa mejadi sangat penting dalam periode ini, perasaan cinta dan gairah
pada lawan jenis semakin meningkat.
3. Remaja akhir (19-24 tahun)
A. Perkembangan fisik
Pertumbuhan fisik pada remaja putri biasanya sudah mencapai pada puncaknya atau sudah
sempurna, sedangkan pada remaja putra, masih terus berlanjut khususnya pada peningkatan
berat, tinggi, massa otot dan rambut pada tubuh.

B. Perkembangan Kognitif
Mereka sudah mulai memiliki kemampuan untuk memikirkan sebuah ide mulai dari awal
sampai akhir, kemampuan untuk menunda kepuasan atau kegembiraan, mulai peduli pada
masa depan dan berpikir rasional.
C. Perkembangan Sosial-Emosional
Identitas diri semakin kuat, termasuk identitas seksual, stabilitas emosi dan kepedulian
terhadap orang lain semakin meningkat, semakin mandiri, hubungan antar teman sebaya tetap
menjadi issu yang penting dan hubungan dengan lawan jenis semakin serius
6. Tahap Dewasa Awal (Young Adulthood): Usia 18 hingga 35 Tahun
Langkah awal menjadi dewasa adalah mencari teman dan cinta. Hubungan yang saling
memberikan rasa senang dan puas, utamanya melalui perkawinan dan persahabatan.
Keberhasilan di stage ini memberikan keintiman di level yang dalam.Kegagalan di level ini
menjadikan orang mengisolasi diri, menjauh dari orang lain, dunia terasa sempit, bahkan
hingga bersikap superior kepada orang lain sebagai bentuk pertahanan ego.Hubungan yang
signifikan adalah melalui perkawinan dan persahabatan.
7. Tahap Dewasa (Middle Adulthood): Usia 35 hingga 55 atau 65 tahun
Masa ini dianggap penting karena dalam periode inilah individu cenderung penuh dengan
pekerjaan yang kreatif dan bermakna, serta berbagai permasalahan di seputar keluarga. Selain
itu adalah masa berwenang yang diidamkan sejak lama.Tugas yang penting di sini adalah
mengejawantahkan budaya dan meneruskan nilai budaya pada keluarga (membentuk karakter
anak) serta memantapkan lingkungan yang stabil. Kekuatan timbul melalui perhatian orang
lain, dan karya yang memberikan sumbangan pada kebaikan masyarakat, yang disebut
dengan generativitas.Ada kehidupan yang berubah drastic, individu harus menetapkan makna
dan tujuan hidup yang baru. Bila tidak berhasil di stage ini, timbullah self-absorpsi atau
stagnasi. Yang memainkan peranan di sini adalh komunitas dan keluarga.
7. Tahap Dewasa Akhir (Late Adulthood): Usia 55 atau 65 tahun hingga mati
Orang berusia lanjut yang bisa melihat kembali masa-masa yang telah dilaluinya dengan
bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada kehidupan, ia akan
merasakan integritas. Kebijaksanaannya yang tumbuh menerima keluasan dunia dan

menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan.Sebaliknya, orang yang menganggap


masa lalu adalah kegagalan merasakan keputus asaan, belum bisa menerima kematian karena
belum menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi, ia merasa telah menemukan jati diri dan
meyakini sekali bahwa dogma yang dianutnyalah yang paling benar.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Fisik Remaja
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan fisik remaja adalah sebagai berikut:
a) Pengaruh keluarga
Pengaruh keluarga meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan. Karena faktor
keturunan, seorang anak dapat lebih tinggi atau panjang daripada anak lainnya, jika ayah dan
ibu atau kakeknya tinggi dan panjang. Faktor lingkungan akan membantu menentukan
tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa anak. Pada setiap tahapan usia,
lingkungan lebih banyak pengaruhnya terhadap berat tubuh daripada tinggi tubuh.
b) Pengaruh gizi
Anak-anak yang memperoleh gizi yang cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan
sedikit lebih cepat mencapai masa remaja dibanding dengan mereka yang memperoleh gizi
buruk. Lingkungan dapat memberikan pengaruh bagi remaja sedemikian rupa, sehingga
menghambat atau mempercepat potensi untuk pertumbuhan di masa remaja.
c) Gangguan emosional
Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan mengalami terbentuknya steroid
adrenal yang berlebihan, dan ini akan membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon
pertumbuhan di kelenjar pituitari. Bila terjadi hal demikian, pertumbuhan awal remajanya
akan terhambat dan tidak tercapai berat tubuh yang seharusnya.
d) Jenis kelamin
Anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat daripada anak perempuan, kecuali pada
usia antara 12 dan 15 tahun. Anak perempuan biasanya akan sedikit lebih tinggi dan lebih
berat daripada anak laki-laki. Terjadi perbedaan berat dan tinggi tubuh ini karena bentuk
tulang dan otot pada anak laki-laki memang berbeda dari anak perempuan.
e) Status sosial ekonomi

Anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi rendah, cenderung lebih kecil
daripada anak yang berasal dari keluarga yang status sosial ekonominya tinggi. Keluarga
yang kaya akan dapat memenuhi kebutuhan primer anak-anaknya. Sebaliknya, keluarga
miskin tidak akan dapat memenuhi sembilan kebutuhan primernya secara memadai.
f) Kesehatan
Anak-anak sehat dan jarang sakit biasanya akan memiliki tubuh yang lebih berat daripada
anak yang sakit-sakitan. Kurangnya perawatan kesehatan akan menyebabkan anak mudah
terserang penyakit. Cara makan yang salah dalam arti makan tanpa memerhatikan
keseimbangan gizi dan vitamin juga dapat menyebabkan tubuh menjadi sakit.
g) Pengaruh bentuk tubuh
Bentuk tubuh mesamorf, ektomorf, atau endomorf akan memengaruhi besar kecilnya tubuh
anak. Misalnya, anak yang bentuk tubuhnya mesomorf akan lebih besar daripada yang
endomorf atau eksomorf, karena memang mereka lebih gemuk dan berat.

1. Aspek-Aspek pertumbuhan dan Perkembangan


1)

Pertumbuhan dan Perkembangan fisik yaitu perubahan dalam ukuran tubuh, proporsi

anggota badan, tampang, dan perubahan dalam fungsi-fungsi dari sistem tubuh seperti
perkembangan otak, persepsi dan gerak (motorik), serta kesehatan.
2)

Pertumbuhan dan Perkembangan kognitif yaitu perubahan yang bervariasi dalam proses

berpikir dalam kecerdasan termasuk didalamnya rentang perhatian, daya ingat, kemampuan
belajar, pemecahan masalah, imajinasi, kreativitas, dan keunikan dalam menyatakan sesuatu
dengan mengunakan bahasa.
3)

Pertumbuhan yang seimbang dengan Perkembangan sosialemosional yaitu

perkembangan berkomunikasi secara emosional, memahami diri sendiri, kemampuan untuk


memahami perasaan orang lain, pengetahuan tentang orang lain, keterampilan dalam
berhubungan dengan orang lain, menjalin persahabatan, dan pengertian tentang moral.
2. Periode pertumbuhan dan Perkembangan

Ketika anak mencapai pertumbuhan serta perkembangan pada periode tertentu maka akan
dipereroleh kemampuan dan pengalaman sosial-emosional yang baru. Periode pra-lahir :
sejak masa konsepsi sampai lahir. Pada periode ini terjadi perubahan yang paling cepat.
Periode masa bayi dan kanak-kanak: Sejak lahir sampai usia 2 tahun. Pada periode ini terjadi
perubahan badan dan pertumbuhan otak yang dramatis, mendukung terjadinya saling
berhubungan antara kemampuan gerak, persepsi, kapasitas kecerdasan, bahasa dan terjadi
untuk pertama kali berinteraksi secara akrab dengan orang lain. Masa bayi dihabiskan pada
tahun pertama sedangkan masa kanak-anak dihabiskan pada tahun kedua.Periode awal masa
anak : dari usia 2 tahun sampai 6 tahun. Pada periode ini ukuran badan menjadi lebih tinggi,
keterampilan motorik menjadi lebih luwes, mulai dapat mengontrol diri sendiri dan dapat
memenuhi menjadi lebih luas. Pada masa ini anak mulai bermain dengan membentuk
kelompok teman sebaya. Periode masa anak-anak : dari usia 6 sampai 11 tahun. Pada masa
ini anak belajar tentang dunianya lebih luas dan mulai dapat menguasai tanggung jawab,
mulai memahami aturan, mulai menguasai proes berpikir logis, mulai menguasai
keterampilan baca tulis, dan lebih maju dalam memahami diri sendiri, dan pertemanan.
Periode masa remaja : dari usia 11-20 tahun. Periode ini adalah jembatan antara masa anakanak dengan masa dewasa. Terjadi kematangan seksual, berpikir menjadi lebih abstrak dan
idealistik.Tahapan Perkembangan Remaja