Anda di halaman 1dari 201

BAB 5

ANALISIS POTENSI DAN KENDALA PENGEMBANGAN

KABUPATEN

KEPULAUAN ARU

5.1 Analisis Tata Ruang dan Lahan


5.1.1. Analisis Kesesuaian lahan
Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan suatu bidang lahan untuk tipe
penggunaan tertentu ( land utilization type ).Kesesuaian lahan tersebut dapat dinilai
untuk kondisi saat ini (present) atau setelah diadakan perbaikan (improvement).
Lebih spesifik lagi kesesuaian lahan tersebut ditinjau dari sifat sifat fisik
lingkungannya, yang terdiri atas iklim, tanah, topografi, hidrologi dan/atau drainase
sesuai untuk suatu usaha tani atau komoditas tertentu yang produktif.
Pada prinsipnya penilaian kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara
mencocokkan (matching) data tanah dan fisik lingkungan dengan tabel rating
kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan persyaratan penggunaan lahan
mencakup persyaratan tumbuh/hidup komoditas pertanian yang bersangkutan.
Pada prinsipnya penilaian kesesuaian lahan dilaksanakan dengan beberapa cara,
antara lain, dengan perkalian parameter, penjumlahan, atau menggunakan hukuim
minimum yaitu mencocokkan ( matching ) antara kualitas lahan dan karakteristik
lahan sebagai parameter dengan kriteria kelas kesesuaian lahan yang telah disusun
berdasrkan persyaratan penggunaan atau persyaratan tumbuh tanaman atau
komoditas lainnya yang dievaluasi. Struktur klasifikasi kesesuaian lahan menurut
kerangka FAO ( 1983 ) dapat dibedakan menurut tingkatannya sebagai berikut :
L A P O R A N A N T A R A : Data dan Analisis

-1

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Ordo

: Keadaan kesesuaian lahan secara global. Pada tingkat ordo kesesuaian


lahan dibedakan antara lahan tergolong sesuai ( S ) dan lahan yang
tergolong tidak sesuai

Kelas : Keadaan tingkat kesesuaian dalam tingkat ordo. Pada tingkat kelas, lahan
yang tergolong ordo sesuai (S) dibedakan ke dalam tiga kelas, yaitu :
lahan sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2), dan sesuai marginal (S3).
Sedangkan lahan yag tergolong ordo tidak sesuai (N) tidak dibedakan ke
dalam kelas-kelas.
Kelas S1, sangat sesuai : Lahan tidak mempunyai faktor pembatas yang
berarti atau nyata terhadap penggunaan
secara berkelanjutan, atau faktor pembatas
yang bersifat minor dan tidak akan
mereduksi produktivitas lahan secara nyata.
Kelas S2, cukup sesuai

: Lahan mempunyai faktor pembatas, dan


factor pembatasini akan berpengaruh
terhadap produktivitasnya, memerlukan
tambahan masukan (input). Pembatas
tersebut biasanya dapat diatasi oleh petani
sendiri,

Kelas S3, sesuai marginal

: Lahan mempunyai faktor pembatas yang


berat, dan faktor pembatas ini akan
berpengaruh terhadap produktivitasnya,
memerlukan tambahan masukan yang lebih
banyak daripada lahn yang tergolong S2.
Untuk mengatasi faktor pembatas pada S3
memerlukan modal tinggi, sehingga perlu
adanya bantuan atau campur tangan
(intervensi) pemerintah atau pihak swasta.
Tanpa bantuan tersebut petani tidak mampu
mengatasinya.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 2

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Kelas N, tidak sesuai

: Lahan yang tidak sesuai (N) karena


mempunyai faktor pembatas yang sangat
berat dan/atau sulit diatasi.

Subkelas: Keadaan tingkatan dalam kelas kesesuaian lahan. Kelas kesesuaian


lahan dibedakan menjadi subkelas berdasarkan kualitas dan karakteristik
lahan yang menjadi faktor pembatas terberat. Faktor pembatas ini
sebaiknya dibatasi jumlahnya, maksimum dua pembatas. Tergantung
peranan faktor pembatas pada masing masing subkelas, kemungkinan
kelas kesesuaian lahan yang dihasilkan ini bisa diperbaiki dan
ditingkatkan kelasnya sesuai dengan masukan yang diperlukan.
Untuk menentukan kesesuaian lahan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor:
1. Iklim, berupa temperatur rata-rata (tc)
2. Ketersediaan air (wa), berupa rata-rata curah hujan tahunan
3. Ketersediaan oksigen (oa), berupa draenase
4. Media perakaran (rc), yang meliputi tekstur tanah dan solum/kedalaman
tanah.
5. Retensi unsur hara (nr), meliputi KTK, Kejenuhan Basa, pH tanah dan Corganik.
6. Ketersediaan unsur hara, meliputi unsur hara makro seperti N, P, K, Ca, Mg,
Na, S.
7. Bahaya erosi (eh), berupa kelerengan.
8. Palawija,utk lahan kering dan peternakan ,sama : S2-S3, PP. Aru sebag
besar, Aru Tengah dari tengah ke Timur Aru selatan sebagian wilayah timur
dan utara.
Tujuan dari analisis kesesuaian lahan ini adalah untuk mendapatkan gambaran awal
dan masih bersifat umum pada daerah-daerah yang mempunyai potensi
pengembangan lahan pertanian, perkebunan dan kehutanan dengan jenis
komoditas disesuaikan dengan kondisi fisik lingkungan.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 3

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Jenis komoditas yang akan dianalisis kesesuaian lahannya adalah:


1. Komoditas yang saat ini banyak diusahakan masyarakat
2. Komoditas yang diminati dan diinginkan masyarakat
3. Komoditas yang akan dikembangkan oleh Dinas Pertanian dan Dinas
Perkebunan.
4. Komoditas yang mempunyai prospek bagus dari segi ekonomi saat ini dan di
masa mendatang.
Jenis Komoditas-komoditas tersebut adalah :
1. Tanaman pangan : padi ladang, jagung, ketela pohon (ubi kayu), ketela rambat,
kacang tanah, kacang hijau, kacang-kacangan lainnya, ubiubian lainnya.
2. Tanaman hortikultura (sayur-sayuran): Lombok, ketimun, sawi, tomat, kangkung,
kacang-kacangan, terong, bayam, bawang merah, buncis.
3. Tanaman hortikultura (buah-buahan) : mangga, pepaya, nangka, sukun, nanas,
pisang, jeruk, sirsak
4. Tanaman perkebunan : kelapa, kopi,kakao, jambu mete, vanili, sagu
Dengan melihat kondisi agroklimat dan karakteristik serta kemampuan lahan yang
ada di Kabupaten Kepulauan Aru, ada beberapa wilayah yang sesuai untuk
budidaya pertanian, baik tanaman pangan, tanaman hortikultura sayur-sayuran dan
buah-buahan, maupun tanaman perkebunan. Wilayah-wilayah tersebut di dalam
peta digambarkan oleh beberapa kode land system (sistem lahan), yaitu AYT, ADS
dan KFT. AYT merupakan wilayah yang paling sesuai untuk diusahakan tanaman
pangan, hortikultura maupun perkebunan, dan merupakan wilayah terluas
(khususnya di wilayah Aru bagian Tengah) dibandingkan wilayah dengan sistem
lahan ADS dan KFT.
Hasil analisis kelas kesesuaian lahan untuk komoditas-komodiatas di atas dapat
dilihat pada tabel berikut

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 4

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

TABEL 5.1
KELAS KESESUAIAN LAHAN AKTUAL BEBERAPA KOMODITAS
BERDASARKAN LAND SYSTEM
Land System
No

Komoditas
AYT

ADS

KFT

Tanaman Pangan:
Padi ladang
Jagung
Ketela Pohon
Ketela rambat
Kacang tanah
Kacang hijau

S1
S3wa
S2wa,rc
S2wa
S3wa
S3wa

S3rc
S3warc
S3wa,rc
S3wa,rc
S3wa,rc
S3wa,rc

S3rc
S3warc
S3wa,rc
S3wa,rc
S3wa,rc
S3wa,rc

Sayur-sayuran:
Sawi
Bayam
Kangkung
Mentimun
Terung
Bawang merah
Cabe merah
Buncis
Tomat

S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa

S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa

S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa
S3wa

Buah-buahan:
Mangga
Sukun
Nangka
Jeruk
Nanas
Pisang
Pepaya
Sirsak

S3wa
S2rc
S2wa
S2rc
S3wa
S1
S3wa
S2rc

S3wa,rc
S3rc
S3rc
S3,rc
S3wa
S3rc
S3wa
S3rc

S3wa,rc
S3rc
S3rc
S3,rc
S3wa
S3rc
S3wa
S3rc

Perkebunan:
Kelapa
Kakao
Jambu Mete
Kopi
Vanili

S2rc
S2rc
S3wa
S2rc
S2wa

S3rc
S3rc
S3wa,rc
S3rc
S3rc

S3rc
S3rc
S3wa,rc
S3rc
S3rc

Dari hasil penilaian kesesuaian lahan berdasarkan kondisi riil lapangan dan kriteria
kebutuhan karakteristik komoditas (FAO,1983) menunjukkan bahwa, pada wilayah
kajian terdapat kelas kesesuaian lahan yaitu: kelas S1 (sangat sesuai),kelas S2

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 5

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

(sesuai) dan kelas S3 (sesuai marginal) dengan faktor pembatas yang dominan
adalah:
1. media perakaran (rc)
2. curah hujan (wa)
Mengingat faktor pembatas utama adalah iklim dan faktor alam, maka kesesuaian
lahan aktual di atas tidak dapat diperbaiki (diimprovement)menjadi kesesuaian lahan
potensial, menjadi tingkat kelas kesesuaian lahan yang lebih tinggi.
Untuk tanaman pangan, padi ladang sangat sesuai diusahakan pada daerah yang
mempunyai kode land system AYT. Akan tetapi pada daerah dengan land system
ADS dan KFT kelas kesesuaian lahannya S3rc, yang artinya kurang sesuai apabila
diusahakan pada daerah tersebut karena faktor pembatas utama kedalaman
perakaran. Untuk ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah dan kacang hijau kelas
kesesuaian lahannya S2

di daerah AYT,yang berarti Sesuai dengan faktor

pembatas utama tingginya curah hujan dan kedalaman perakaran (khusus untuk
ketela pohon). Apabila akan diusahakan di wilayah yang mempunyai type system
lahan ADS dan KFT, kelas kesesuaian lahannya untuk semua komoditas tanaman
pangan adalah S3 dengan faktor pembatas utama kedalaman efektif perakaran dan
tingginua curah hujan. Untuk itu, apabila komoditas-komoditas tersebut akan
dikembangkan atau diusahakan, perlu diperhatikan lokasi penanaman (daerah yang
mempunyai solum sedang) dan waktu tanam (pada saat curah hujan tidak terlalu
tinggi).
Untuk tanaman sayuran semua komoditas masuk kelas kesesuaian lahan S3
(kesesuaian marginal) dengan faktor pembatas utama tingginya curah hujan, baik di
wilayah dengan land system AYT, ADS maupun KFT. Untuk itu di dalam
pengusahaannya perlu diperhatikan masa tanamnya, agar tidak menanam pada
saat curah hujan sedang tinggi, karena tanaman akan mudah terserang penyakit.
Untuk tanaman buah-buahan, tanaman pisang sangat sesuai untuk diusahakan
untuk land system AYT. Sedangkan jeruk, sukun dan sirsak termasuk dalam kelas
kesesuaian lahan

S2rc (sesuai) dengan faktor pembatas utama kedalaman

perakaran
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 6

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Gambar 5.1
Peta land system untuk

kesesuaian lahan beberapa komoditas


pertanian.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 7

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Untuk kelompok tanaman perkebunan, tanaman kelapa, kopi dan kakao masuk
dalam kelas kesesuaian lahan S2rc (sesuai) dengan faktor pembatas kedalaman
efektif perakaran. Sedangkan vanili masuk kelas kesesuaian lahan S2wa yang
berarti sesuai untuk diusahakan dengan faktor pembatas utama tingginya curah
hujan. Untuk komoditas jambu mete termasuk dalam kelas kesesuaian lahan S3wa
(sesuai marginal) dengan faktor pembatas utama curah hujan yang tinggi. Tanaman
jambu mete termasuk jenis tanaman yang sangat membutuhkan kondisi iklim yang
agak kering dan panas atau tidak cocok terhadap kelembaban yang tinggi dan suhu
udara yang rendah selama masa pembungaan dan pembuahan. Jumlah curah hujan
tahunan yang tidak terlalu besar dan bulan kering yang cukup panjang akan
menciptakan kondisi iklim mikro (suhu dan kelembaban udara) yang optimal di areal
pertanaman terutama selama pembungaan dan pembuahan.
5.1.2

Analisis Pemanfaatan Lahan

Penggunaan lahan di Kabupaten Kepulauan Aru dapat dibedakan dalam dua


kategori utama, yaitu penggunaan lahan untuk kegiatan perkotaan yang cenderung
merupakan kawasan terbangun dan penggunaan lahan untuk kegiatan nonperkotaan yang merupakan kawasan tidak terbangun. Penggunaan lahan pada
kawasan perkotaan di Kota Dobo sebagian besar merupakan kawasan permukiman
dan fasilitas umum seperti Pelabuhan Dobo, Bandara, Pasar dan Pertokoan, serta
Perkantoran Pemerintahan. Sedangkan penggunaan lahan pada kawasan nonperkotaan sebagian besar berupa hutan dan semak belukar yang dapat dijumpai di
hampir seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Aru.
Kegiatan permukiman yang relatif padat di Kabupaten Kepulauan Aru dapat dijumpai
di Kota Dobo sebagai ibukota kabupaten dan Kota Benjina dan Jerol sebagai ibukota
kecamatan. Mengingat kondisi eksisting kawasan terbangun di Pusat Kota Dobo
yang relatif cukup padat dan berada di pulau kecil (Pulau Warmar), maka dalam
pengembangan
pengembangan

kegiatan

permukiman

permukiman

secara

di

kawasan

ekstensif

tersebut

(horisontal)

harus
tetapi

dibatasi
masih

memungkinkan untuk dilakukan pengembangan permukiman secara intensif


(vertikal) seperti rumah bertingkat atau rumah susun.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 8

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Dalam rangka mengatasi permasalah permukiman padat dan kumuh di Kota Dobo
dapat dilakukan kegiatan revitalisasi kawasan kumuh dengan memindahkan
permukiman kumuh di tepi laut ke kawasan daratan yang relatif aman dengan
konsep rumah vertikal.
Kegiatan non-perkotaan yang banyak dijumpai di Kabupaten Kepulauan Aru adalah
kegiatan yang berkaitan dengan kehutanan, perkebunan, pertanian, dan wisata
bahari. Kegiatan perkebunan dan wisata bahari merupakan kegiatan prospektif di
Kabupaten Kepulauan Aru.
5.1.3

Analisis Ketersediaan Lahan

Dari hasil pengolahan Citra terlihat bahwa tanah terbuka dan semak belukar sebagai
kawasan yang belum terbangun masih sangat luas. Hal ini menunjukkan adanya
potensi ketersediaan lahan untuk kegiatan pembangunan fisik kegiatan perkotaan di
Kabupaten Kepulauan Aru. Sedangkan kawasan terbangun untuk kegiatan
permukiman dan fasilitas umum masih relatif sangat kecil.
Ketersediaan lahan tidak terbangun di Kabupaten Kepulauan Aru yang bisa
dikonversikan menjadi lahan terbangun masih sangat luas. Hal ini dapat dilihat dari
keberadaan tanah terbuka dan semak belukar di Kabupaten Kepulauan Aru pada
Tahun 2006 seluas sekitar 42.614 hektar yang sangat memungkinkan untuk
dijadikan kawasan yang lebih peroduktif untuk menunjang kegiatan perkotaan
seperti pembangunan kawasan permukiman dan fasilitas serta infrastruktur
pendukung. Jenis penggunaan lahan tidak terbangun yang dapat dikonversikan
untuk kegiatan perkotaan tidak hanya tanah kosong dan semak belukar, namun juga
jenis penggunaan lahan lainnya sepanjang tidak merupakan kawasan lindung atau
konservasi.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 9

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

GAMBAR 5.2
PETA CITRA Kabupaten Kepulauan Aru

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 10

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

5.1.4

Analisis Carrying Capacity

Daya dukung lahan

merupakan salah satu komponen yang penting dalam

perencanaan penataan ruang di suatu wilayah. Daya dukung lahan/ruang adalah


batas kemampuan dan / atau ketersediaan lahan/ruang untuk menopang kehidupan
yang ada, memasok sumberdaya, mendukung pertumbuhan, dan mengasimilasi
penyebab kerusakan, serta mengantisipasi degradasi. Dengan adanya analisis daya
dukung dalam proses penyusunan penataan ruang maka diharapkan kelestarian
sumberdaya alam tetap berkelanjutan, dan di sisi lain dengan penataan ruang yang
tepat maka daya dukung lahan diharapkan dapat lebih optimal.
Faktor-faktor utama untuk menyusun daya dukung lahan adalah kemampuan lahan,
kerawanan bencana dan tutupan lahan di wilayah perencanaan. Peta-peta tematik
dari faktor-faktor utama tersebut ditumpangsusunkan untuk mendapatkan daya
dukung lahan. Berdasarkan analisis daya dukung lahan, maka dapat diketahui
bahwa di Kabupaten Kepulauan Arul, daya dukung lahannya didominan untuk hutan
(63%), permukiman dan lahan terbangun (15%), kebun (13%), dan pertanian (9%).
Dengan demikian lahan yang sesuai dengan daya dukung untuk hutan terutama
hutan lahan kering primer dan sekunder, serta hutan mangrove terutama di sekitar
selat dan pantai, merupakan dominan di wilayah perencanaan. Berdasarkan analisis
penggunaan lahan yang, lahan hutan pada saat ini luasnya memang paling dominan
dibandingkan dengan penggunaan lahan lainnya. Hal ini dikarenakan kondisi
lapangan yang banyak kendala jika dikembangkan untuk perkebunan maupun
pertanian. Daya dukung lahan untuk perkebunan relatif lebih luas jika dibandingkan
dengan lahan pertanian. Di wilayah perencanaan pada saat untuk daya dukung
lahan untuk perkebunan digunakan sebagai kebun campuran di samping masih
banyak belum dikelola yang berupa masih semak belukar. Daya dukung lahan untuk
lahan terbangun (permukiman, perkantoran, industri, fasilitas umum, fasilitas sosial)
banyak tersedia di sepanjang pantai pulau-pulau. Untuk pulau-pulau kecil relatif
terbatas untuk lahan terbangunnya, dikarenakan kondisi fisik dan kerawanan
bencananya. Lahan sekitar pantai relatif cukup mudah untuk pengembangan lahan
untuk permukiman karena lahannya relatif landai (datar) dibandingkan dengan
bagian tengah pulau. Namun yang diperhatikan adalah kerawanan gelombang
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 11

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

ombak dan air pasang dari perairan sekitarnya, sehingga untuk itu pengembangan
untuk bangunan dibatasi harus diluar jarak 100 m dari garis pantai, kecuali pantaipantai yang sudah dibangun tanggul penahan ombak dan pasang air, sehingga
jaraknya dapat di luar 50 m dari garis pantai.
Daya dukung lahan pertanian di Kabupaten Kepulauan Aru relatif terbatas, yang hal
ini karena keterbatasan sifat tanah, sifat batuan dan dukungan air. Lahan pertanian
disarankan

digunakan

sebagai

pertanian

lahan

kering,

sehingga

biaya

pengelolaannya tidak terlalu besar.


5.1.5

Analisis Perkembangan Kawasan Perkotaan

Perkembangan kegiatan perkotaan di Kabupaten Kepulauan Aru sebagai akibat dari


perkembangan jumlah penduduk dan perkembangan kegiatan ekonomi akan
berimplikasi pada kebutuhan lahan untuk mendukung kegiatan permukiman dengan
fasilitas dan infrastruktur pendukunganya.
Perkembangan kegiatan perkotaan di Kabupaten Kepulauan Aru selain di terjadi di
Pusat Kota Dobo (Kecamatan PP. Aru) juga terjadi di Kota Benjina (Kecamatan Aru
Tengah) dan Kota Jerol (Kecamatan Aru Selatan).
Perkembangan kawasan terbangun yang relatif padat di Kota Dobo pada umumnya
menyebabkan permasalahan baru yang berkaitan dengan kemacetan, penyediaan
air bersih, drainase, dan pengelolaan sampah. Sampai saat ini permasalahan
tersebut belum menjadi masalah yang serius untuk segera ditangani di Kota Dobo,
namun untuk perencanaan ke depan perlu diantisipasi beberapa permasalahan
tersebut.
Dengan semakin berkembangnya Kota Dobo sebagai ibukota kabupaten, maka
dalam jangka waktu 20 tahun kedepan perlu diantisipasi untuk memindahkan
ibukota kabupaten dari Kota Dobo (Pulau Warmar) ke wilayah daratan atau lokasi
yang lebih aman dan memungkinkan untuk dilakukan pembangunan fisik lahan guna
mendukung peran dan fiungsinya sebagai ibukota kabupaten. Lokasi alternatif
sebagai ibukota kabupaten yang baru adalah Kota Benjina. Issue pemindahan
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 12

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

ibukota kabupaten dari Kota Dobo ke Kota Benjina telah diwacanakan dalam Draft
RTRW Provinsi Maluku.
5.2.

ANALISIS SUMBER DAYA AIR KABUPATEN KEPULAUAN ARU

5.2.1.

Analisis Ketersediaan Sumber Daya Air

Berdasarkan ketersediaan sumber daya air di dunia ini dapat dibedakan menjadi 3
jenis yaitu :
1. Air hujan langsung
2. Air permukaan
a.

Mata air

b.

Air sungai

c.

Air danau alamiah

d.

Air situ alamiah

e.

Air danau buatan

f.

Air beku/salju

3. Air tanah
a.

Aquifer air tanah tertekan

b.

Aguifer air tanah semi tertekan

c.

Aquifer air tanah tidak tertekan (bebas)

Sedangkan berdasarkan fungsinya maka sumber daya air merupakan :


1. Untuk kehidupan manusia
2. Untuk kehidupan flora fauna
3. Untuk media transportasi
Permasalahan mengenai ketersediaan air akan muncul pada suatu tempat apabila
persediaannya terbatas atau mutu airnya tidak memenuhi persyaratan. Air yang
akan dimanfaatkan sangat tergantung akan ruang dan waktu. Air yang menjadi
sumber kehidupan berasal dari airtanah, air permukaan dan air hujan. Air yang dapat
dimanfaatkan secara aman oleh makhluk hidup jumlahnya sangat terbatas, tidak
hanya memenuhi persyaratan kuantitas, namun juga kualitasnya.
Neraca air menurut fungsi meteorologis sangat diperlukan untuk mengevaluasi
ketersediaan air hujan di suatu wilayah, terutama untuk mengetahui kapan dan
seberapa lama surplus dan defisit yang terjadi di wilayah perencanaan. Neraca air
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 13

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

ini dikembangkan oleh Thornthwaite dan Mather (1957). Air hujan yang jatuh di
permukaan tanah, sebagian menjadi lengas tanah (soil moisture), air tanah (ground
water) dan sebagian akan menjadi aliran permukaan (surface runoff). Persentase
ketiga komponen tadi tidak tetap, tergantung pada banyak faktor seperti jenis tanah
(terutama

tekstur),

tataguna

lahan

(kedalaman

perakaran),

dan

lain-lain.

Kemampuan tanah untuk menyimpan air (water holding capasity) dapat diduga
tanpa mengadakan pengukuran langsung, sedangkan lengas tanah ini akan selalu
berubah-ubah tergantung pada evapotranspirasi dan hujan.
Bulan dinyatakan bulan basah apabila hujan lebih besar daripada evapotransiprasi
potensial dan sebaliknya bulan kering jika hujannya lebih kecil dari evapotranspirasi.
Dengan persamaan neraca air dapat diketahui surplus dan defisit air di wilayah
tersebut dan runoff rata-rata bulanannya.
Data komponen cuaca ini berdasarkan dari data stasiun pengukuran yang terdekat
dengan Kepulauan Aru yaitu Stasiun Dobo. Untuk data Water Holding Capacity
(WHC) atau Sto berdasarkan fungsi dari tekstur tanah dan kedalaman zone
perakaran yang diperoleh dari analisis peta tanah dan penggunaan lahan
Berdasarkan perhitungan neraca air maka dapat diketahui bahwa pada umumnya
wilayah Kepulauan Aru memiliki bulan basah yang lebih banyak daripada bulan
kering. Secara terperinci neraca di wilayah ini dapat dilihat pada Tabel 5.2.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 14

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

TABEL5.2
NERACA AIR DI KABUPATEN KEPULAUAN ARU
Bulan

Paramete
r
P
PE
P-PE
APWL
St
dST
AE
Defisit
Surplus
Runoff

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agu

Sep

Okt

Nov

Des

281
93
188
0
200
0
93
0
188
165,0

268
90
178
0
200
0
90
0
178
171,4

321
92
229
0
200
0
92
0
229
200,5

343
87
256
0
200
0
87
0
256
228,2

346
88
258
0
200
0
88
0
258
243,2

383
81
302
0
200
0
81
0
302
272,8

202
81
121
0
200
0
81
0
121
196,8

148
81
67
0
200
0
81
0
67
132,0

179
79
100
0
200
0
79
0
100
115,8

247
86
161
0
200
0
86
0
161
138,3

247
97
150
0
200
0
97
0
150
144,2

238
96
142
0
200
0
96
0
142
143,1

Sumber : Hasil pengolahan data dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Kepulauan
Aru, 2008
Keterangan :
P

= hujan rata-rata bulanan ,

PE = evapotranspirasi potensial

bulanan
P-PE = hujan dikurangi evapotranspirasi,
St

APWL= akumulasi potensi air yang hilang

= kelengasan tanah tersimpan = Sto. e (APWL/Sto) Sto = WHC

dST = perubahan lengas tanah

AE = evapotranspirasi aktual

= kekurangan lengas tanah

RO = runoff bulanan

= kelebihan lengas tanah

Satuan dalam mm

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 15

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Gambar 5.3
Diagram Keseimbangan Air di Kabupaten Kepulauan Aru

Berdasarkan data dan grafik di atas maka diketahui bahwa di wilayah perencanaan
dalam setahun selalu surplus air. Selanjutnya dari data diatas dapat dihitung potensi
cadangan air dari tebal runoff yang ada dengan memperhitungkan luasan wilayah
daratan di Kabupaten Kepulauan Aru. Dengan luas daratan sekitar 6.426,77 km 2 dan
diasumsikan hanya sekitar 30% wilayah tersebut yang dapat menampung air, maka
potensi cadangan air diperkirakan sebesar 41.471.947 m3/tahun.
Untuk ketersediaan air di Kabupaten Kepulauan Aru juga dianalisa berdasarkan Peta
Kerawanan Air yang dikeluarkan oleh Ditjen Cipta Karya, Departemen Pekerjaan
Umum tahun 2003. Peta ini berasal dari analisa berbagai peta dan data dari
Bakosurtanal, DGTL, PU, PSAB dan PDAM. Berdasar peta tersebut diketahui tidak
terdapat desa-desa di Kabupaten Kepulauan Aru yang masuk ke dalam kategori
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 16

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

desa rawan air, yaitu desa yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber air
bersih sepanjang tahun.
5.2.2.

Analisis Potensi dan Peluang Pengembangan Sumber Daya Air

Air merupakan kebutuhan utama bagi setiap insan dipermukaan bumi baik manusia,
hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Untuk bisa menopang hidup, penduduk
membutuhkan air yang cukup. Air diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pertanian,
industri, maupun kebutuhan domestik, termasuk air bersih. Hal ini berarti, bahwa
pertambahan jumlah penduduk yang terus menerus dan pertumbuhan ekonomi
membutuhkan usaha yang sadar dan sengaja agar sumber daya air dapat tersedia
secara berkelanjutan.
Guna memenuhi semua kebutuhan terhadap air di Kabupaten Kepulauan Aru maka
perlu dilakukan analisa mengenai potensi sumber daya air yang ada. Sumbersumber air yang dapat dikembangkan di wilayah ini berasal dari air permukaan
seperti sungai, danau, dan airtanah. Untuk aliran sungai di wilayah ini belum dapat
diperkirakan kapasitas debitnya, karena hanya berupa aliran-aliran kecil saja dan
pada umumnya alirannya tidak sepanjang tahun. Sedangkan sungai-sungai besar
yang membagi pulau-pulau di Kepulauan Aru sebenarnya adalah suatu selat-selat
kecil yang menghubungkan Laut Arafura dan Laut Banda/Laut Aru dan berupa air
asin.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk pengadaan air bersih. Kolam-kolam
penampungan air hujan dan aliran air bakau telah dibangun di wilayah ini untuk
digunakan sebagai bahan baku air bersih. Berikut adalah beberapa bangunan air
yang telah dibangun di Kabupaten Kepulauan Aru seperti di Siwalima, Wangel dan
Benjina. Terdapat suatu danau atau kolam penampungan yang mempunyai
kapasitas air yang terbesar di Kepulauan Aru yang saat ini belum dioptimalkan
pemanfaatannya, yaitu di Desa Popjetur, Kecamatan Aru Selatan.

Sedangkan airtanah sebagai salah satu sumber air bersih merupakan salah satu
sumber yang dominan dimanfaatkan oleh penduduk. Masyarakat memanfaatkan

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 17

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

sumur-sumur gali sebagai sumber air bersih. Rata-rata kedalaman airtanah di


Kepulauan Aru adalah berkisar 1 13 meter. Bahkan PAM Cabang Dobo juga
memanfaatkan sumur gali sebagai sumber air baku untuk melayani kawasan
perkotaan. Perusahaan ini memanfaatkan 3 buah sumur dengan kedalaman ratarata 10 m sebagai sumber air baku dengan dilengkapi prasarana pompa sebanyak 2
pompa dengan debit 5 l/det dan 3 pompa dengan debit 2,5 l/det.
TABEL 5.3
KARAKTERISTIK POTENSI AIRTANAH DI KABUPATEN KEPULAUAN ARU
Karakte
ristik

Airtanah
dangkal

Baik

Setempat
terbatas

Langka

Airtanah
Sedang

Airtanah
Dalam

Keterangan

Wilayah

Terbatas
setempat/Ba
ik

Terbatas
setempat/
langka

< 2,5 l/d/km2

Terbatas
setempat/
Baik

Terbatas
setempat/
langka

< 2,5 l/d/km2,


di lembahlembah pada
aluvial

Langka

Langka

Kritis air

Sebagian desa desa di


Kec. PP Aru seperti
Dobo, Wokam, Laelaut,
Jabulenga, Tungu dan
pesisir barat, Kec. Aru
Tengah dan Aru Selatan
Tengah, Aru Selatan
seperti desa-desa
sepanjang Selat Maekor
Kec. Aru Utara, Kec. PP
Aru, Aru Tengah, Aru
Tengah Selatan, dan Aru
Selatan, Aru Selatan
Timur
Kec Aru Tengah Timur,
khususnya Desa
Algadang, Papakula
dan Kec. Aru Selatan
khususnya Desa
Popjetur, Jelia, Juring
dan Gradagal

Sumber : analisis Peta Indikasi Potensi Airtanah (Ditjen Ciptakarya, 2003)

Namun ketersediaan airtanah ini juga sangat tergantung pada musim, sehingga jika
terjadi musim kemarau kuantitas airnya juga juga menurun hingga hampir
setengahnya. Untuk mataair hanya terdapat di beberapa desa saja. Hingga sampai
saat ini belum pernah dilakukan kajian yang mendalam mengenai ketersediaan
airtanah. Berdasarkan hasil interpretasi dari peta hidrogeologi maka di kawasan

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 18

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

perencanaan berdasarkan keberadaan dan produktivitas airtanah dapat dibagi


menjadi tiga bagian, seperti yang tampak pada Tabel 5.3.

Gambar 5.4

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 19

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Peta Potensi Air Tanah di Kabupaten Kepulauan Aru

5.2.3.

Analisis Kebutuhan Sumber Daya Air

Untuk menghadapi meningkatnya kebutuhan air dan kompetisi penggunaaan air


yang semakin ketat maka diperlukan pengelolaan sumberdaya air yang memadai
dalam arti dapat memanfaatkan potensi sumber daya air yang ada secara
bijakasana dan mengembangkan sesuai dengan kebutuhan yang ada. Peningkatan
kebutuhan atau demand terhadap air secara umum dapat dibagi menjadi 3
kelompok, yaitu: (1) Air untuk keperluan konsumsi domestik atau rumah tangga
misalnya untuk mandi, mencuci, memasak, dan minum. (2) Air untuk keperluan
pengairan lahan pertanian misalnya untuk irigasi, mengairi sawah Perikanan, dan
usaha tani lainnya. (3) Air untuk kegiatan industri misalnya untuk pembangkit listrik,
proses produksi, transportasi, dan kegiatan yang lainnya.
Diperkirakan kebutuhan rata-rata air bersih setiap individu adalah sekitar 27 hingga
200 liter perhari. Kebutuhan dasar tersebut bisa berbeda-beda tergantung keadaan
geografis dan karakteristik individu yang bersangkutan. Namun, secara keseluruhan,
baku minimum untuk memenuhi kebutuhan dasar minum, sanitasi, mandi, dan
memasak rata-rata sebanyak 50 liter per orang per hari (Gleick, 1996).
Kebutuhan air berdasarkan sektor kegiatan dapat dibagi ke dalam tiga kelompok
besar, yaitu : satu, kebutuhan domestik; dua, irigasi pertanian dan peternakan; dan
tiga, industri. Sejalan dengan pertambahan penduduk dan perkembangan industri,
maka kebutuhan air meningkat pula baik di daerah perkotaan maupun perdesaan.
Wilayah kajian merupakan wilayah yang cukup berkembang sehingga diperkirakan
kebutuhan air akan selalu berkembang cepat. Kebutuhan air domestik untuk tiap
daerah tidaklah selalu sama. Kebutuhan domestik meliputi untuk air minum, masak,
cuci, mandi, siram tanaman, dan lainnya. Standar kebutuhan air untuk domestik
masyarakat perdesaan berdasarkan standar dari Ditjen Cipta Karya adalah 60
liter/orang/hari. Tabel 5.4 menunjukkan kebutuhan air tiap penduduk setiap harinya
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 20

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

pada masing-masing kecamatan di wilayah

perencanaan. Data penduduk

berdasarkan tahun 2007 yang diperoleh dari BPS Kab. Kep. Aru, 2007.

TABEL 5.4
PERKIRAAN KEBUTUHAN AIR DOMESTIK DI KAB. KEPULAUAN ARU

Kecamatan

Jumlah
Penduduk
(jiwa)

Standar
kebutuhan
air

Kebutuhan air
l/hari

m3/tahun

No.
Kecamatan
1. P.P Aru
34,651
60
2,079,060
758,856.90
2. Aru Tengah
25,305
60
1,518,300
554,179.50
3. Aru Selatan
15,682
60
940,920
343,435.80
4.
Total
75,638
60
4,538,280 1,656,472.20
Sumber : Hasil analisis, 2008, kecamatan-kecamatan lain masih
bergabung dengan kecamatan induk

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa kebutuhan domestik untuk Kab.
Kepulauan Aru adalah 1,656,472.20 m3/tahun. Kebutuhan air untuk non domestik
antara lain untuk keperluan irigasi, peternakan, industri, dan pertambangan serta
lain-lainnya (perikanan, perdagangan, pelayanan umum, pariwisata, dan lainlainnya). Kebutuhan air untuk keperluan ini diasumsikan 50% dari kebutuhan air
domestik, yaitu sebesar 856.485,46 m3/tahun . Dengan demikian kebutuhan air total
dapat ditentukan seperti yang disajikan pada tabel berikut. Total kebutuhan air untuk
semua keperluan di Kab. Kepulauan Aru adalah 2,484,708.30 m3/tahun.

5.2.4.

Simulasi Daya Tampung Wilayah di Kabupaten Kepulauan Aru

Dalam pembahasan sebelumnya, diketahui bahwa kebutuhan air eksisting pada


wilayah perencanaan pada saat ini

masih dapat dipenuhi dari ketersediaan air,

khususunya dari curah hujan dan sumber air lainnya yang ada. Untuk
pengembangan wilayah perencanaan khususnya penduduk perlu dilakukan suatu
simulasi guna mengetahui seberapa jauh sumberdaya air dapat mendukungnya. Air
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 21

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

hujan merupakan salah satu andalan sebagai salah satu sumber air baku di wilayah
perencanaan. Hal ini karena keberadaan cadangan airtanah di wilayah ini tidak
terlalu berpotensi.
Dalam pemanfaatan sumber air

perlu diperhitungkan batasan pemanfaatan air

dengan menggunakan IPA (< 0,2) guna mempertahankan kelestarian air baik
kualitas maupun kuantitas. Dengan demikian dari potensi air yang dapat
dimanfaatkan diasumsikan adalah 20% dari potensi yang ada.
Perkiraan kebutuhan air untuk domestik adalah 2/3 atau 67% dari kebutuhan yang
ada, sedangkan kebutuhan lainnya adalah sisanya (1/3 atau 33%). Tabel berikut
menunjukkan simulasi daya tampung Kab. Kepulauan Aru khususnya penduduknya
berdasarkan daya dukung air.
TABEL 5.5
SIMULASI DAYA TAMPUNG DENGAN KETERSEDIAAN AIR YANG ADA DI
KAB. KEPULAUAN ARU

Jenis sumber
1. Curah Hujan
Total :

Daya Dukung SDA


Potensi

IPA = 0,2

41.471.947

m3/th

8.294.389

m3/th

41.471.947

m3/th

8.294.389

m3/th

5.557.241
253.755
17.292

m3/th
jiwa
jiwa

236.463

jiwa

Daya Tampung
Daya Tampung Penduduk
- SDA yang tersedia untuk kebutuhan
penduduk
- Jumlah penduduk yang dapat ditampung
- Jumlah penduduk yang sudah ada
- Jumlah penduduk tambahan yang bisa
ditampung

Keterangan
Indeks Penggunaan Air
20% dari kapasitas yang
ada

67% dari seluruh jenis


kebutuhan air
kebutuhan : 60 l/org/hari

Sumber : hasil analisis tim, 2008

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka kemampuan total daya tampung untuk
penduduk di Kab. Kepulauan Aru masih cukup besar. Namun perlu diingat bahwa
peningkatan penduduk harus selalu diikuti dengan penambahan atau peningkatan
bangunan-bangunan sumberdaya air seperti bak-bak PAH, dan danau/waduk.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 22

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

5.3

ANALISIS KERAWANAN DAN RESIKO BENCANA ALAM

Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru merupakan wilayah rawan bencana terutama


bencana gempabumi, tsunami serta gelombang pasang dan angin topan yang terjadi
akibat perubahan iklim. Tsunami dibedakan dengan gelombang pasang akibat
perubahan iklim terutama berdasarkan cara terjadinya maupun tempo waktu
kejadian. Tsunami terjadi akibat adanya runtuhan, longsoran atau gelinciran material
yang terjadi di dasar laut yang terjadi pada tempo relatif singkat, sedangkan
gelombang pasang akibat perubahan iklim biasanya terjadi pada tempo musiman.
Gelombang pasang akibat perubahan iklim juga berkaitan dengan kemungkina
terjadinya angin topan.
Berdasarkan data geologi wilayah Kepulauan Aru, bencana lain yang mungkin terjadi
adalah

penurunan

daratan

Kepulauan Aru

yang

terjadi

secara

perlahan.

Kemungkinan ini dikenali dari fenomena geologi yang ada di beberapa tempat di
wilayah Kepulauan Aru terutama di wilayah pesisir dan selat. Namun demikian
karena proses penurunan ini berjalan dalam kerangka waktu geologi yang sangat
panjang (sampai ribuan tahun) maka dalam perencanaan tata ruang dapat
diabaikan.
5.3.1

Metode Analisis Kerawanan dan Resiko Bencana

Analisis kerawanan dan resiko bencana dilakukan dengan metode analisis kualitatif
pada skala lokal dan regional. Pada skala lokal analisis didasarkan pada hasil
pengamatan lapangan dan interpretasi Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1 : 100.000
yang diterbitkan oleh Bakosurtanal. Sedangkan analisis regional dilakukan dengan
interpretasi Peta Seismotektonik Indonesia

skala 1 : 5.000.000 yang diterbitkan

Pusat Survei Geologi tahun 1998 serta Peta Wilayah Rawan Bencana Gempabumi

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 23

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Indonesia (2001) dan Peta Bahaya Goncangan Gempabumi Indonesia (1999) skala
1 : 5.000.000 yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
Analisis regional ini juga didukung dengan pengamatan dan interpretasi terhadap
kondisi regional terkini dengan sumber dari citra satelit yang mutakhir.
Peta Seismotektonik dibuat berdasarkan analisis yang menggabungkan aspekaspek geologi baik litologi maupun patahan-patahan aktif dan dikaitkan dengan
kejadian-kejadian gempabumi yang sudah terjadi yang dimanisfestasikan dalam
sebaran sumber-sumber gempabumi. Kondisi litologi berkaitan dengan sifatnya
dalam meneruskan gelombang getaran gempabumi. Sedangkan patahan-patahan
aktif berkaitan dengan aktivitas tektonik yang mungkin terjadi secara sistematik
dalam suatu wilayah secara lokal. Data yang diolah oleh Pusat Survei Geologi
menunjukkan bahwa gempabumi yang terjadi di seluruh kepulauan Indonesia
selama periode 1963-1997 dengan intensitas lebih dari 5 skala Richter sebagian
besar dapat dikaitkan dengan penunjaman lempeng kerak bumi dan sebaran sesar
aktif. Gempabumi yang merusak pada umumnya bersumber dangkal, dengan
kedalaman kurang dari 60 kilometer, sedangkan kerusakan-kerusakan yang terjadi
pada umumnya terletak pada batuan lepas seperti aluvium dan batuan gunungapi
muda.
Peta Wilayah Rawan Bencana Gempabumi dibuat berdasarkan nilai intensitas
tertinggi atau tingkat kerusakan terparah yang diakibatkan oleh terjadinya
gempabumi. Besarnya intensitas dan tingginya tingkat kerusakan akibat gempabumi
sangat tergantung pada beberapa faktor, diantaranya adalah jarak suatu wilayah
terhadap sumber gempabumi dan kondisi geologi wilayah tersebut. Selanjutnya
wilayah-wilayah yang mempunyai nilai intensitas dan nilai kerusakan yang sma
dihubungkan oleh garis isoseismal.
Peta Bahaya Goncangan Gempabumi adalah peta yang memperlihatkan kontur nilai
percepatan gempabumi dalam perioda ulang dan pada jenis batuan dasar
(basement) tertentu. Peta ini dibuat dengan suatu metode probalilistik dengan
mempertimbangkan rata-rata kejadian gempa di dalam daerah zona sumber gempa
ataupun di sepanjang patahan di suatu lokasi.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 24

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Gempabumi berdasarkan faktor pemicu terjadinya dibedakan atas gempabumi


tektonik dan vulkanik. Gempa tektonik terjadi karena adanya aktivitas tektonik
sedangkan gempabumi vulkanik disebabkan oleh letusan gunung api. Gempabumi
merupakan rambatan energi melalui media padat di bawah permukaan sehingga
kekuatan gempa bisa mencapai ratusan kilometer dan merusak apapun yang ada di
permukaan. Oleh karena itu maka analisis gempabumi, khususnya gempabumi
tektonik sering dilakukan secara regional. Data-data lokal dikompilasikan dalam
rangka mendapatkan Gempabumi berdasarkan faktor pemicu terjadinya dibedakan
atas gempabumi tektonik dan vulkanik. Gempa tektonik terjadi karena adanya
aktivitas tektonik sedangkan gempabumi vulkanik disebabkan oleh letusan gunung
api. Gempabumi merupakan rambatan energi melalui media padat di bawah
permukaan sehingga kekuatan gempa bisa mencapai ratusan kilometer dan
merusak apapun yang ada di permukaan. Oleh karena itu maka analisis
gempabumi, khususnya gempabumi tektonik sering dilakukan secara regional. Datadata lokal diperlukan untuk melakukan liniasi bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh
gempabumi yang terjadi. Jadi secara genetik proses terjadinya gempabumi dilihat
dari informasi regional sedangkan liniasi daerah bahaya dilakukan dengan data-data
skala lokal.
5.3.2

Analisis Kerawanan Bencana Alam

a.

Gempabumi

Berdasarkan Peta Seismotektonik Indonesia, secara regional Wilayah Kabupaten


Kepulauan Aru terletak pada Zona Sumber Gempabumi Graben Aru (Gambar 5.1).
Lajur penunjaman (Palung Aru) yang terletak di sebelah barat Kepulauan Aru
menjadikan wilayah ini rawan bencana gempabumi. Akumulasi energi yang terjadi
pada jalur penunjaman dapat menjadi pemicu terjadinya gempa bumi akibat
pelepasan energi akumulatif tersebut. Selanjutnya energi ini akan merambat lebih
cepat melalui patahan-patahan yang terletak pada satu sistem dengan episentrum.
Pola struktur dasar laut sebelah barat dan utara Kepulauan Aru yang berarah utaraselatan atau timur laut barat daya sangat berpotensi menjadi zona lemah. Untuk
itu zona sepanjang patahan-patahan dalam sistem ini harus diwaspadai sebagai
daerah bahaya gempabumi merusak.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 25

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Secara historis gempa-gempa yang terjadi di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru


merupakan gempa dangkal (dengan hiposenter 0-90 kilometer) dengan kekuatan 5
dan 6 Magnitude. Pusat-pusat gempa berada pada arah timur laut dan sedikit di
utara Pulau Kai Besar serta di barat dan sedikit di barat-selatan Pulau Kai Kecil
(Gambar 5.1). Zona pusat gempabumi yang paling dekat adalah di sebelah utarabarat laut wilayah Kepulauan Aru. Pada umumnya sumber gempabumi pada zona ini
merupakan gempabumi dangkal dengan kekuatan rendah (5 Magnitude). Zona ini
merupakan penyebaran sumber gempabumi yang ada di sepanjang patahan yang
merupakan kemenerusan dari Palung Aru yang merupakan satu sistem dengan
Palung Aru itu sendiri dan patahan dengan arah barat-timur dengan ujung timur di
Teluk Etna dan bagian barat berpotongan dengan Palung Aru.

Gempa dangkal (magnitude 5)

Gempa dangkal (magnitude 6)


Gempa menengah (magnitude 5)
Gempa menengah (magnitude 6)

Gambar 5.5
Sebaran sumber-sumber gempabumi di wilayah

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 26

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Kepulauan Aru dan sekitarnya


(Pusat Survei Geologi, 1998)

Sejarah terjadinya gempa bumi menunjukkan bahwa wilayah ini termasuk wilayah
gempabumi yang merusak (Wilayah XIII/Aru) dengan kekuatan V - VI MMI (Gambar
5.6).

MMI>VII

MMI VI-VII
MMI VVI
MMI IVV

MMI<IV

Gambar 5.6
Peta Wilayah Rawan Bencana Gempabumi Kepulauan Aru dan sekitarnya
(P3G,2001)

Nilai percepatan gempa untuk daerah ini dan sekitarnya adalah 250 cm/det 2, untuk
perioda ulang 500 tahun dengan fungsi attenuasi dari Fukushima & Tanaka (1990)
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 27

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

(Peta Bahaya Goncangan Gempabumi, 1999). Nilai ini terhitung cepat karena
beberapa faktor diantaranya karena posisi wilayah yang relatif dekat dengan sumber
gempabumi, sumber gempabumi relatif dangkal dan banyaknya material batuan
lepas di wilayah ini. Nilai percepatan tanah pada batuan dasar pada interval 0,200,25 gravitasi. Semakin ke bagian timur nilai percepatan semakin kecil karena
komposisi material di dasar Laut Arafura sebelah timur Kepulauan Aru merupakan
material padatan kokoh (rigid).

132

134

136

Gambar 5.7
Peta Bahaya Goncangan Gempabumi di wilayah
Kepulauan Aru dan sekitarnya
(P3G, 1999)

Daerah rawan gempabumi mencakup keseluruhan wilayah kepulauan Aru baik di


daratan, pesisir, maupun kepulauan. Wilayah rawan tsunami umumnya mencakup

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 28

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

wilayah pesisir terutama pesisir barat. Beberapa wilayah yang merupakan daerah
bahaya gempabumi di Kapulauan Aru antara lain :
1.

Daerah di sekitar zona patahan, seperti di wilayah Pulau Wokam,

2.

Daerah dengan batuan lepas menutupi permukaan, misalnya daerah


kawasan pesisir serta pulau-pulau kecil seperti Pulau Enu, Pulau Karang,
Pulau Jeh, Pulau Mar, Pulau Jendin, Pulau Wadidin dan Kepulauan Jin di
bagian selatan; serta Pulau Koba, Pulau Lutur, Pulau Kulur, Pulau Binaar dan
Kepulauan Jedan di bagian utara wilayah Kepulauan Aru.

3.

Daerah pemukiman padat penduduk, seperti Kota Dobo,

4.

Daerah dengan bangunan-bangunan semi permanen ataupun


bangunan yang tidak tahan gempa,

b.

Tsunami

Terkait erat dengan kejadian gempabumi, maka di wilayah Kabupaten Kepulauan


Aru juga berpotensi terjadi tsunami apabila gempa diikuti oleh perpindahan material
di bawah laut akibat longsoran, runtuhan atau gelinciran maupun akibat goncangan
(shaking) gempa sendiri.
Wilayah bagian barat Kepulauan Aru merupakan patahan besar yang membentuk
Palung Aru. Apabila terjadi perpindahan/longsoran material di palung yang terletak di
Laut Banda ini akibat proses tektonik, maka terdapat kemungkinan akan terjadi
gelombang tsunami yang mengarah ke arah timur. Pada wilayah bagian timur
kemungkinan terjadinya tsunami lebih kecil mengingat dasar samudera pada bagian
timur (Laut Arafura) merupakan bongkah yang tegar dan stabil. Hal ini juga
dibuktikan dari citra satelit yang menunjukkan bahwa di daerah ini tidak terdapat
lajur struktur sama sekali dan relatif datar.

Disamping itu Peta Seismotektonik

menunjukkan bahwa di wilayah timur tidak terdapat catatan adanya pusat-pusat


gempabumi.
Kerusakan bangunan di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru yang mungkin
ditimbulkan oleh terjadinya bencana gempabumi antara lain disebabkan oleh :
1.

Goncangan tanah,

2.

Retakan tanah,

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 29

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

3.

Pengaruh sampingan seperti gerakan tanah,

4.

Lamanya getaran gempabumi,

5.

Jarak dengan pusat gempa,

6.

Intensitas gempabumi,

7.

Kekuatan, kelenturan dan kesatuan bangunan.

Dari kemungkinan penyebab-penyebab kerusakan tersebut, selain pengaturan jarak


bangunan dengan kemungkinan pusat gempa, salahsatu faktor lain yang dapat
direkayasa oleh manusia adalah kekuatan, kelenturan dan kesatuan bangunan.
Faktor bangunan dalam analisis kebencanaan ini berkaitan erat dengan penataan
ruang.
c.

Gelombang pasang

Kondisi iklim di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru pada tahun-tahun terakhir sering
berubah dari pola iklim yang terjadi p;ada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terutama
disebabkan oleh adanya pengaruh iklim wilayah sekitar yang juga mengalami
perubahan. Gejala ini menunjukkan bahwa pola iklim yang terjadi pada masa
lampau sudah tidak mungkin lagi digunakan sebagai acuan dalam memperkirakan
kondisi iklim di masa mendatang. Bencana gelombang laut yang cukup tinggi
(sampai dengan 6 meter) atau sering disebut sebagai gelombang pasang terjadi
beberapa kali dalam satu tahun. Gelombang pasang ini diakibatkan oleh adanya
pengaruh pola dan kecepatan pergerakan angin. Angin kencang bertiup pada bulan
Januari dan Pebruari diikuti dengan hujan deras dan laut bergelora. Kecepatan
angin yang cukup tinggi juga terjadi pada bulan Agustus sampai Oktober (data
Badan Meteorologi dan Geofisika) juga berkaitan erat dengan keterjadian
gelombang pasang di Kabupaten Kepulauan Aru.
Pemanasan global telah menyebabkan dampak bagi perubahan iklim di seluruh
bagian bumi, termasuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru. Perubahan iklim ini
menyebabkan pergeseran pola iklim dari waktu ke waktu di seluruh wilayah. Karena
itu pula maka bencana gelombang pasang di Kabupaten Kepulauan Aru di masa
mendatang dapat terjadi pada bulan-bulan yang lain daripada kejadian yang ada

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 30

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

pada saat ini. Dengan alasan tersebut maka perkiraan cuaca menjadi penting untuk
diperhatikan.
Wilayah rawan bencana gelombang pasang yang diakibatkan oleh perubahan iklim
meliputi seluruh wilayah pesisir, terutama wilayah pesisir yang terbuka. Wilayah
bagian barat rawan terhadap bencana ini pada saat terjadinya angin barat,
sedangkan wilayah bagian timur Kepulauan Aru rawan akan terjadinya gelombang
pasang pada musim angin timur.
d.

Angin Topan

Kecepatan pergerakan angin yang datang dari arah terbuka (laut) dan menyapu
benda-benda yang ada di permukaan daratan seperti pepohonan, rumah dan
bangunan-bangunan lain. Angin kencang bertiup pada bulan Januari dan Pebruari
diikuti dengan hujan deras. Kecepatan angin yang cukup tinggi juga terjadi pada
bulan Agustus sampai Oktober (data Badan Meteorologi dan Geofisika).
Seperti halnya gelombang pasang dan terkait dengan perubahan iklim maka
wilayah-wilayah yang rawan terkena bencana angin topan meliputi seluruh wilayah
Kabupaten Kepulauan Aru. Wilayah bagian barat rawan terhadap bencana ini pada
saat terjadinya angin barat, sedangkan wilayah bagian timur Kepulauan Aru rawan
akan terjadinya gelombang pasang pada musim angin timur.
Wilayah-wilayah yang memiliki resiko lebih tinggi terhadap bencana angin topan ini
antara lain :
1.

Daerah pesisir yang menghadap langsung ke laut tanpa vegetasi


penghalang,

2.

Wilayah padat pemukiman dan didominasi oleh bangunan semi


permanen.

e.

Penenggelaman Pulau

Gejala geologi di wilayah Kepulauan Aru yang tampak saat ini adalah terpecahnya
Pulau Aru menjadi banyak pulau yang dipisahkan oleh selat (sungai). Beberapa
selat memperlihatkan pola tertentu, dimana umumnya mempunyai arah barat laut
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 31

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

tenggara dan timur laut barat daya. Lebar selat berkisar antara 18-500 meter dan
3200 meter di daerah muara (Gregory drr, 1924). Kedalaman Selat Workai kurang
lebih 100 meter (Merton dalam Gregory, 1924). Terbentuknya selat diduga sebagai
akibat tektonik dan disertai proses non-tektonik. Secara historis sungai-sungai
berkembang mengikuti pola kekar. Kemudian seiring dengan bertambahnya waktu,
sungai-sungai ini menjadi lebar dan panjang disebabkan oleh erosi pasang surut dan
kemudian berubah menjadi selat. Proses ini juga menunjukkan bahwa Kepulauan
Aru mengalami penenggelaman secara perlahan (Peta Geologi Lembar Aru, P3G).
Proses penenggelaman ini terjadi secara perlahan pada skala waktu ribuan tahun.
Bukti penenggelaman juga tampak jelas di Pulau Warilau. Analisis potret udara yang
dilakukan pada saat pemetaan geologi, menunjukkan bahwa di beberapa tempat
alur sungai dan batas pulau lama berada di bawah muka laut. Di lapangan terbukti
bahwa alur ini tidak pernah muncul di atas muka laut meskipun air surut. Demikian
juga batugamping koral yang ada di seluruh daerah ini tidak pernah muncul di
permukaan.
5.3.3

Upaya Pengurangan Resiko Bencana Alam

Bencana alam merupakan peristiwa alamiah yang tidak bisa dihilangkan atau
ditunda. Namun demikian manusia dapat mengurangi resiko yang ditimbulkan oleh
bencana alam. Upaya resiko bencana meliputi kegiatan-kegiatan yang dilakukan
untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh bencana alam, baik kerugian jiwa
maupun kerugian materi. Secara umum upaya yang perlu dilakukan dalam
pengurangan resiko bencana adalah melakukan pengaturan upaya pengurangan
resiko bencana regulasi, membentuk perangkat yang menangani masalah
kebencanaan, dan mengedepankan pendanaan untuk kegiatan yang terkait dengan
upaya pengurangan resiko bencana.
Terkait dengan kondisi dan isu kebencaanaan di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru,
kebijakan-kebijakan pemerintah daerah yang diperlukan adalah :
1. Menyusun regulasi (Peraturan Daerah) kebencanaan daerah yang
mencakup regulasi mengenai :

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 32

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

(1) Pengaturan

organisasi

perangkat

daerah

yang

menangani

kebencanaan,
(2) Pengaturan pendanaan untuk kegiatan-kegiatan yang terkait dengan
upaya pengurangan resiko bencana,
(3) Pengaturan mengenai aspek teknis upaya pengurangan resiko
bencana, antara lain : standar pendirian bangunan tahan bencana,
standar pengelolaan ekosistem dan lingkungan, dll.
(4) Perencanaan pengurangan resiko dan penanganan bencana alam.
2. Membentuk perangkat daerah yang menangani masalah kebencanaan,
3. Memperkuat kerjasama penanganan bencana dengan daerah lain di
sekitarnya,
4. Memperkuat akses komunikasi antara daerah kepulauan, baik melalui
radio atau telepon,
5. Memperkuat akses informasi ke pusat informasi kebencanaan dan
lembaga-lembaga riset terutama di daerah-daerah pulau-pulau terpencil,
6. Memfasilitasi penelitian-penelitian yang dilakukan oleh lembaga riset
tentang kebencanaan di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru,
7. Memperkuat jaringan pemerintah, masyarakat dan swasta dalam
pengurangan resiko bencana,
8. Memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dengan melakukan sosialisasi
dan pelatihan bencana.
Selain kebijakan-kebijakan, upaya pengurangan resiko bencana yang perlu
dilakukan secara teknis adalah :
1. Membangun tanggul penahan ombak di daerah pesisir yang padat
penduduk,
2. Melakukan penanaman tumbuhan yang bisa hidup di lahan pesisir
sebagai penahan gelombang dengan tanaman mangrove dan sejenisnya,
3. Membangun jaringan komunikasi radio (SSB) antar pulau, terutama
pulau-pulau terpencil,
4. Membangun sarana transportasi dalam rangka meningkatkan kecepatan
evakuasi di daerah-daerah terpencil, antara lain pembangunan helipad
dan pelabuhan laut,

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 33

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

5. Membangun pusat-pusat evakuasi di setiap pulau, terutama pulau-pulau


terpencil,
Membangun

rumahsakit

daerah

yang

memiliki

kapasitas

dalam

penanganan tanggap darurat, terutama untuk merawat korban bencana


gempabumi, tsunami, gelombang pasang, dan angin topan.
6. Memasang alat-alat pemantau dan peringatan dini gelombang tsunami di
perairan barat Kepulauan Aru.

5.4 ANALISIS POTENSI EKONOMI WILAYAH


5.4.1 Analisis Pertumbuhan Ekonomi
Pembahasan

mengenai

pertumbuhan

ekonomi

ditekankan

pada

proyeksi

pertumbuhan untuk waktu perencanaan yaitu 20 tahun mendatang. Berdasarkan


hasil proyeksi terhadap data statistik yang ada maka perekonomian Kabupaten
Kepulauan Aru akan tumbuh rata rata pertahunnya sebesar 5,55%. Dari angka
total rata rata pertumbuhan tersebut terdapat hanya 1 sektor ekonomi yang
memiliki angka laju pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari angka rata rata
pertumbuhan kabupaten yaitu sektor Pertanian. Adapun sektor lainnya tumbuh
dengan tingkat rata rata pertumbuhan di bawah angka rata rata pertumbuhan
kabupaten.
Yang menarik adalah proyeksi mengenai angka rata rata pertumbuhan untuk
sektor Industri Pengolahan. Nampak bahwa sektor Industri Pengolahan akan
mengalami pertumbuhan yang juga cukup tinggi di mana hampir menyamai tingkat
pertumbuhan rata rata kabupaten. Angka 5,54% hanya terpaut 0,01% dari angka
rata rata pertumbuhan kabupaten. Dalam hal ini menjadi titik perhatian bahwa
sektor ini diharapkan akan mampu untuk semakin berperan dimasa mendatang.
TABEL 5.6
HASIL PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI
KABUPATEN KEPULAUAN ARU 2009 2028
Sektor
Pertanian

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

Rata2
Pertumbuhan
5,69%

5- 34

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Pertambangan & Penggalian


Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
Bangunan
Perdagangan, Hotel & Restoran
Pengangkutan & Komunikasi
Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan
Jasa jasa
PDRB

4,70%
5,54%
5,43%
5,36%
5,48%
5,06%
4,83%
4,82%
5,55%

Sumber : Data PDRB Diolah, 2008

Adapun untuk sektor Perdagangan,hasil proyeksi menunjukkan bahwa sektor ini


akan tumbuh rata rata pertahunnya sebesar 5,48%. Angka ini sebenarnya cukup
tinggi mengingat proyeksi perencanaannya adalah untuk kurun waktu 20 tahun
mendatang. Selain itu sektor yang juga tumbuh lebih dari 5% adalah sektor Listrik,
Gas dan Air Bersih, sektor Bangunan serta sektor Pengangkutan dan Komunikasi.
Sedangkan untuk sektor Pertambangan dan Penggalian, sektor Keuangan,
Persewaan dan Jasa Perusahaan serta sektor Jasa Jasa tumbuh dibawah 5%.
Sektor dengan angka rata rata pertumbuhan terkecil di perekonomian kabupaten
ini adalah sektor Pertambangan dan Penggalian.
5.4.2 Analisis Kebutuhan Investasi dan Pembiayaan
Di dalam menentukan jumlah investasi yang dibutuhkan oleh suatu wilayah
perencanaan maka perlu terlebih dahulu diketahui angka indeks Incremental Capital
Output Ratio (ICOR). Angka indeks ini sangat berguna untuk mengetahui berapa
tingkat investasi yang diperlukan untuk mencapai angka pertumbuhan ekonomi yang
dikehendaki. Dalam menghitung kebutuhan investasi untuk Kabupaten Kepulauan
Aru maka digunakan asumsi mengenai besarnya angka indeks ICOR yaitu 4,5.
Adapun yang sebagai target pencapaian pertumbuhan ekonomi akan digunakan
angka rata rata pertumbuhan ekonomi sebagaimana dibahas sebelumnya yaitu
5,55% pertahunnya.
Berdasarkan data yang terdapat diatas maka dapat dilihat kontribusi yang
dibutuhkan dari pemerintah maupun dari pihak swasta dalam mencapai target
tingkat pertumbuhan yang diinginkan. Pembagian kontribusi tersebut berdasarkan
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 35

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

situasi pada umumnya yaitu 30% investasi dari pemerintah dan sisanya sebesar
70% diharapkan berasal dari swasta.

TABEL 5.7
KEBUTUHAN INVESTASI KABUPATEN KEPULAUAN ARU 2009 2028
(JUTAAN RP)
Tahun

Investasi

Pemerintah
(30%)

Swasta
(70%)

2009

90.293,46

27.088,04

63.205,42

2010

98.268,87

29.480,66

68.788,21

2011

106.244,27

31.873,28

74.370,99

2012

114.219,68

34.265,91

79.953,78

2013

122.195,09

36.658,53

85.536,56

2014

130.170,50

39.051,15

91.119,35

2015

138.145,91

41.443,77

96.702,14

2016

146.121,32

43.836,40

102.284,92

2017

154.096,73

46.229,02

107.867,71

2018

162.072,14

48.621,64

113.450,50

2019

170.047,55

51.014,26

119.033,28

2020

178.022,96

53.406,89

124.616,07

2021
2022

185.998,37

55.799,51
58.192,13

130.198,86

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 36

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

193.973,77

135.781,64

2023

201.949,18

60.584,76

141.364,43

2024

209.924,59

62.977,38

146.947,21

2025

217.900,00

65.370,00

152.530,00

2026

225.875,41

67.762,62

158.112,79

2027

233.850,82

70.155,25

163.695,57

2028

241.826,23

72.547,87

169.278,36

Sumber : Data Diolah, 2008

5.4.3 Analisis Struktur Ekonomi


Proyeksi yang dilakukan terhadap data statistik yang ada juga menunjukkan
mengenai gambaran struktur ekonomi Kabupaten Kepulauan Aru di masa 20 tahun
mendatang. Tentu dalam proyeksi ini terdapat beberapa situasi yang perlu menjadi
bahan pertimbangan dalam mencermati data tersebut.
Hal ini tidak lain karena proyeksi yang dilakukan adalah untuk jangka waktu yang
cukup panjang yaitu 20 tahun. Yang mana tentunya akan sangat sensitif terhadap
perubahan yang dapat saja terjadi. Namun proyeksi tetap penting dilakukan
setidaknya untuk memperoleh gambaran kemungkinan situasi yang dapat terjadi di
masa mendatang.
TABEL 5.8
DISTRIBUSI PERSENTASE SEKTOR EKONOMI TERHADAP PDRB HASIL
PROYEKSI 2028 KABUPATEN KEPULAUAN ARU
Sektor
Pertanian
Pertambangan & Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
Bangunan
Perdagangan, Hotel & Restoran
Pengangkutan & Komunikasi
Keuangan, Persewaan dan Jasa
Perusahaan
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

Distribusi
Persentase
63,65%
0,62%
0,26%
0,30%
0,95%
26,39%
1,04%
1,49%

5- 37

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Jasa jasa
PDRB

5,31%
100,00%

Sumber : Data Diolah, 2008

Dari data di dalam tabel diatas nampak bahwa adanya kecenderungan sektor
Pertanian semakin memberikan kontribusi yang besar di akhir masa perencanaan.
Angka tersebut hingga mencapai 63,65% dari total PDRB Kabupaten Kepulauan Aru
hasil proyeksi. Sementara itu sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran menunjukkan
hal yang sebaliknya di mana terjadi penurunan kontribusinya terhadap PDRB.
Namun dari kedua sektor tersebut nampak bahwa sektor Pertanian dan sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran semakin mendominasi pembentukan PDRB
kabupaten. Jika di tahun 2006 tercatat mencapai lebih dari 88% PDRB berasal dari
kedua sektor tersebut maka diperkirakan pada tahun 2028 kontribusi tersebut akan
mencapai lebih dari 90%. Hal ini menjadikan bahwa perekonomian kabupaten akan
semakin tergantung pada kedua sektor tersebut, khususnya kepada sektor
Pertanian. Sementara itu sektor lainnya nampak memberikan kontribusi yang relatif
kecil dibandingkan dengan kedua sektor dominan tersebut.
5.4.4 Permasalahan Yang Dihadapi
Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa perekonomian dari Kabupaten Kepulauan
Aru sebenarnya menunjukkan suatu kondisi yang tidak jauh berbeda dengan kondisi
yang terjadi di perekonomian daerah lain. Pertumbuhan yang diproyeksikan
menunjukkan pertumbuhan yang positif dan dengan demikian maka dari sisi
pendapatan regional dapat diharapkan adanya peningkatan pendapatan regional
untuk kabupaten ini.
Permasalahan yang terjadi saat ini meliputi;
1. Dari sudut pandang ekonomi, sebenarnya terdapat beberapa masalah yang
mungkin akan menjadi faktor kendala bagi pertumbuhan ekonomi kabupaten
ini di masa mendatang. Permasalahan yang sebenarnya terjadi adalah
menyangkut rantai nilai yang dikaitkan dengan upaya untuk memperoleh nilai
tambah bagi output yang dihasilkan oleh sektor primer kabupaten. Hal ini
sebenarnya

dalam

rangka

memperoleh

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

tambahan

pendapatan

bagi

5- 38

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

perekonomian. Antara sektor primer, khususnya sektor Pertanian, dengan


sektor sekunder, khususnya sektor Industri Pengolahan nampak tidak
memiliki keterkaitan yang kuat. Hal ini dapat terjadi mengingat banyak output
sektor Perikanan langsung dijual kepada konsumen atau pembeli tanpa perlu
melalui proses pemberian nilai tambah di sektor Industri Pengolahan. Situasi
ini mengingat pada karakteristik komoditas yang menjadi unggulan bagi
kabupaten yaitu komoditas yang berasal dari sektor Perikanan. Dengan
rendahnya tingkat intensitas sektor Industri Pengolahan untuk berperan
dalam kegiatan produksi di Kabupaten Kepulauan Aru maka akan
memberikan implikasi tidak optimalnya penciptaan nilai tambah bagi output
yang diproduksi oleh perekonomian kabupaten ini.
Alternatif Solusi; untuk menghadapi situasi seperti yang terjadi diatas maka
diperlukan adanya penanganan yang serius untuk memperkuat keterkaitan
antar sektor ekonomi melalui implementasi konsep rantai pasokan (value
chain) yang mengedepankan pentingnya pemanfaatan sektor ekonomi yang
ada di daerah untuk mendukung proses peningkatan nilai tambah produk.
2. Permasalahan berikutnya adalah mengenai dominasi yang terlalu kuat dari
sektor Pertanian dan sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran. Dominasi
yang demikian kuat hingga hampir mencapai 90% dari total PDRB akan
rentan terhadap gejolak yang dapat terjadi di suatu sektor. Sekiranya terjadi
fluktuasi harga yang berdampak negatif terhadap kegiatan sektor Perikanan
maka perekonomian kabupaten ini akan menghadapi masalah yang serius.
Hal ini mengingat begitu tingginya tingkat ketergatungan perekonomian
kabupaten ini terhadap kedua sektor utama tersebut. Untuk itu yang perlu
dilakukan oleh Kabupaten Kepulauan Aru adalah dengan
Alternatif Solusi; situasi yang terjadi dimana ketergantungan terhadap salah
satu sektor ekonomi sudah sedemikian kuat maka yang perlu dilakukan pada
dasarnya adalah melalui diversifikasi ekonomi. Melalui diversivikasi ekonomi
maka akan terjadi pemecahan konsentrasi kegiatan ekonomi tidak hanya di
satu sektor ekonomi saja. Hal ini tentunya perlu dukungan dari sumber daya
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 39

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

manusia yang dapat menjawab tantangan kebutuhan akan diversifikasi


ekonomi tersebut. Oleh karenanya peningkatan kualitas sumber daya
manusia melalui jalur pendidikan akan sangat membantu proses percepatan
diversifikasi ekonomi apabila hal tersebut dikehendaki.

5.5 ANALISIS PENGEMBANGAN PERDAGANGAN


5.5.1 Potensi dan Sebaran Kegiatan
Sejalan dengan kondisi yang saat ini ada di Kabupaten Kepulauan Aru dimana
sektor Perdagangan merupakan salah satu sektor yang mendominasi perekonomian
Kabupaten Kepulauan Aru maka pengembangan sektor ini diarahkan untuk mampu
memberdayakan potensi sumber daya yang ada di kabupaten. Hingga saat ini
kegiatan perdagangan terkonsentrasi di Kecamatan P.P Aru baik ditinjau dari jumlah
unit usaha maupun skala perdagangan yang terjadi. Hal ini pada dasarnya dapat
dimanfaatkan untuk mendorong kegiatan perdagangan yang ada supaya dapat
memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi.
Sebagaimana diketahui bahwa lebih dari 63% jumlah perdagang ada di Kecamatan
P.P Aru dan potensi ini menjadi besar apabila dikaitkan dengan kegiatan sektor lain
yaitu sektor Pertanian, khususnya subsektor Perikanan. Subsektor Perikanan
sebagai kontributor terbesar bagi perekonomian kabupaten perlu didukung oleh
sektor Perdagangan yang menjadi sektor hilir sehingga dapat memberikan nilai lebih
bagi output subsektor Perikanan.
Sektor Perdagangan perlu didukung oleh kegiatan pemasaran yang dapat
menembus baik pasar domestik maupun pasar internasional. Upaya ini merupakan
hal penting untuk mengembangkan kegiatan perdagangan sehingga mampu

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 40

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

memberikan pendapatan yang lebih besar lagi terhadap perekonomian Kabupaten


Kepulauan Aru.
5.5.2 Kegiatan Prospektif
Kegiatan prospektif dalam pengembangan perdagangan di sentra perdagangan
Kecamatan P.P Aru adalah mengkait kepada perdagangan output subsektor
Perikanan. Hal tersebut meliputi :
1. Pengembangan Jasa Perdagangan
2. Pengembangan perdagangan jasa transportasi
3. Perdagangan alat penangkapan ikan
4. Perdagangan kapal dan peralatan kapal
5. Perdagangan valuta asing untuk mengakomodasi kebutuhan kegiatan ekspor
6. Jasa perbankan dan lembaga keuangan bukan bank
5.5.3 Prospek Pengembangan Komoditas Unggulan
Jasa Perdagangan merupakan salah satu komoditas unggulan yang bagi sektor
Perdagangan bagi Kabupaten Kepulauan Aru. Jasa yang dihasilkan sangat
diperlukan bagi kegiatan hilir komoditas unggulan lainnya di kabupaten ini. Kegiatan
hilir untuk daerah seperti Kabupaten Kepulauan Aru menjadi penting mengingat
lokasi yang relatif jauh dari pasar sasaran menyebabkan kemampuan memberikan
layanan jasa perdagangan menjadi penting. Disamping itu jasa perdagangan ini juga
nampak sebagai komoditas yang mampu menggerakkan banyak sektor di
perekonomian kabupaten ini. Dengan bergeraknya jasa perdagangan menjadikan
transkasi lebih mudah dan efisien.
Sejalan dengan berkembangnya bagian hulu dari berbagai sektor produksi di
Kabupaten Kepulauan Tual menjadikan bagian hilir yang dalam hal ini adalah jasa
perdagangan memegang peranan penting bagi berlangusungnya rantai pasokan
secara efisien dan efektif. Tanpa jasa perdagangan lokal yang tangguh maka
kegiatan perdagangan akan berpindah pada pasar terdekat sehingga pelaku
ekonomi dan perekonomian kabupaten akan kehilangan kesempatan untuk
memperoleh nilai tambah lebih dari produk yang dihasilkannya.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 41

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Prospek pengembangan komoditas jasa ini di masa mendatang sangat baik


sebagaimana disampaikan di atas. Komoditas jasa perdaganga yang berkualitas
akan dapat menembus tidak hanya pasar domestik namun juga pasar internasional
yang mana hal ini akan memberikan nilai tambah yang tinggi bagi produk yang
dihasilkan Kabupaten Kepulauan Aru.
5.5.4 Analisis Kelayakan Pengembangan Komoditas Unggulan
Analisis kelayakan

bagi pengembangan komoditas unggulan

untuk sektor

perdagangan sebenarnya dapat didekati secara kualitatif. Jasa perdagangan akan


memiliki eksistensi apabila terdapat kondisi yang mengarah pada potensi terjadinya
transaksi

perdagangan.

Transaksi

memiliki

potensi

terjadi

apabila

adanya

permintaan dan penawaran.


Permintaan efektif sebenarnya dapat dilihat dari sisi konsumen bahwa dengan
semakin bertambahnya jumlah penduduk baik Indonesia maupun dunia maka akan
menambah pula permintaan efektif akan produk makanan yang salah satunya
adalah hasil laut. Dengan demikian maka produk hasil laut akan mengalami
pertumbuhan permintaan efektif. Dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka sisi
penawaran berupaya memenuhi permintaan tersebut. Dalam situasi ini maka jasa
perdagangan memainkan peranan penting untuk dapat melaksanakan misinya
dengan efisien.
Dari ulasan kualitatif di atas maka dapat dipahami bahwa untuk pengembangan jasa
perdagangan

sebagai

komoditas

unggulan

sektor

perdagangan

Kabupaten

Kepulauan Aru adalah cukup layak untuk dilakukan. Hal ini untuk menjawab
kebutuhan akan media transaksi yang efisien untuk memberikan nilai tambah yang
positif bagi output yang dihasilkan berbagai sektor ekonomi kabupaten.
5.6

ANALISIS PENGEMBANGAN INDUSTRI

5.6.1 Potensi dan Sebaran Kegiatan


Pengembangan sektor Industri di Kabupaten Kepulauan Aru diarahkan untuk
meningkatkan nilai tambah bagi output sektor Pertanian, khususnya subsektor
Perikanan. Dengan proyeksi tingkat pertumbuhan sektor Industri yang tinggi untuk
masa mendatang menjadikan sektor ini sangat prospektif untuk dikembangkan.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 42

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Keterkaitan dengan sektor Pertanian akan menjadikan sektor Industri lebih kuat
dalam hal rantai pasokan yang dimilikinya. Pasokan yang dapat diandalkan akan
mendorong kegiatan sektor Industri lebih intensif dalam melakukan kegiatan
produksi.
Kegiatan sektor Industri direncanakan di Pulau Aru bagian utara dan selatan dan
menekankan pada pengembangan industri perikanan. Hal ini diharapkan dapat
memberikan

dampak

pengganda

bagi

pendapatan

masyarakat

Kabupaten

Kepulauan Aru melalui sinergi bagi kegiatan ekonomi melalui peningkatan


keterkaitan antar sektor ekonomi yang saat ini telah ada dan menjadi andalan bagi
perekonomian kabupaten.
5.6.2 Kegiatan Prospektif
Mengikut pada rencana pengembangan industri perikanan di bagian utara dan
selatan Pulau Aru maka hal ini akan menggerakkan perekonomian di kawasan
tersebut

melalui

berbagai

kegiatan

yang

prospektif

dimasa

mendatang.

Pengembangan kawasan industri perikanan tidak hanya akan mendorong


terciptanya kluster industri di kawasan tersebut namun juga akan dapat mendorong
berkembangnya aglomerasi di kawasan industri yang akan meningkatkan aktivitas
ekonomi setempat
Beberapa kegiatan prospektif yang dapat diharapkan tumbuh di kawasan tersebut
diantaranya;
1. Industri pengolahan ikan
2. Perbengkelan kapal dan alat penangkapan ikan
3. Industri peralatan mesin
4. Industri pendukung lainnya.
5.6.3 Prospek Pengembangan Komoditas Unggulan
Sebagaimana diketahui berdasarkan data yang telah dianalisis pada bagian
sebelumnya nampak bahwa sektor Perikanan merupakan sektor sangat penting bagi
perekonomian Kabupaten Kepulauan Aru. Dengan demikian pengembangan industri
yang berbasiskan pada output sektor Perikanan memiliki prospek yang baik pula
untuk dikembangkan.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 43

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Hal ini dapat dilihat pula bahwa hingga saat ini tercatat belum banyak investasi
pengembangan industri pengolahan ikan di Kabupaten Kepulauan Aru. Dengan
demikian peluang untuk pengembangan industri pengolahan ikan di kabupaten ini
memiliki prospek yang cerah di masa mendatang.
Hal ini juga tentunya didukung oleh meningkatnya permintaan efektif akan produk
ikan laut sejalan dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk. Pengembangan
industri ini juga akan memperkuat rantai nilai kegiatan produksi yang berbasiskan
komoditas unggulan setempat yaitu produk ikan laut. Dengan demikian maka dapat
dikatakan bahwa kegiatan pengembangan industri pengolahan ikan merupakan
kegiatan yang prospektif di masa mendatang.
5.6.4 Analisis Kelayakan Pengembangan Komoditas Unggulan
Berdasarkan data produksi dan potensi sumber daya ikan laut maka nampak di
kawasan kabupaten ini pemanfaatan sumber daya ikan laut belum optimal. Hingga
saat ini baru sebatas kurang lebih 50% dari potensi yang ada yang dimanfaatkan.
Dengan demikian masih terbuka luas peluang untuk pengembangan industri
pengolahan ikan sejalan dengan akan semakin meningkatnya pula produksi di
bagian hulu untuk sektor Perikanan.
Peningkatan aktivitas di bagian hulu sektor Perikanan, khususnya perikanan laut
akan mendorong pula bagian hilirnya untuk berkembang. Dalam hal ini industri
pengolahan ikan yang merupakan bagian hilir dari kegiatan penangkapan ikan akan
terdorong untuk berkembang dalam rangka meningkatkan nilai tambah bagi produk
ikan laut tersebut.
Dilihat pula dari sisi permintaan yang semakin meningkat di masa mendatang maka
pengembangan

industri

pengolahan

ikan

sebagai

sebagai

upaya

untuk

menghasilkan output yang menjadi komoditas unggulan adalah layak untuk


dilaksanakan. Hal ini juga dipahami sebagai bagian yang terintegrasi dengan upaya
untuk menghasilkan peningkatan pendapatan bagi perekonomian kabupaten secara
keseluruhan.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 44

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

5.7 Analisis Pengembangan Pertambangan


Pengembangan industri dan pertambangan di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru
dilakukan berdasarkan potensi pertambangan yang ada sebagai bahan baku serta
daya dukung dan ketersediaan energi, air baku, sarana transportasi serta industri
penyerta yang dibutuhkan sesuai komoditas yang dikembangkan.
.

5.7.1

Potensi dan Sebaran Komoditas Pertambangan

Berdasarkan kondisi geologi wilayah Kabupaten Kepulauan Aru maka potensi


komoditas pertambangan yang terdapat di wilayah ini antara lain adalah
batugamping, batupasir kuarsa, tanah laterit dan batubara.
Batugamping napalan yang telah banyak diusahakan penduduk merupakan bagian
dari Formasi Koba yang banyak terdapat di bagian tenggara Kepulauan Aru (Pulau
Koba, bagian timur Pulau Kobror dan Pulau Trangan, serta di sebagian Pulau
Workai, Pulau Baun, Pulau Penambulai dan pulau-pulau kecil di sekitarnya).
Batugamping napalan diusahakan oleh penduduk setempat sebagai dinding rumah
dengan cara memotong menjadi semacam batako atau bata merah.
Potensi bahan tambang lain adalah adanya indikasi pasir kuarsa dan tanah laterit
dari Formasi Tanahmerah. Batupasir kuarsa dari Formasi Tanahmerah sedikit
mengandung lempung dan jika lapuk menjadi tanah laterit berwarna merah. Di
beberapa tempat tebal laterit mencapai 7 meter. Kemungkinan besar lempung ini
tersusun oleh mineral yang kaya aluminium. Pada batupasir kuarsa dijumpai
batulanau karbonan berwarna kelabu tua sampai hitam, lunak yang dijumpai di
Kampung Salarem dengan tebal 1,2 meter. Sebaran batupasir kuarsa ini antara lain
terdapat cukup luas di bagian selatan Kepulauan Aru serta di Pulau Workai dan
Pulau Penambulai. Citra satelit tahun 2008 (Gambar 5.1) menunjukkan bahwa
daerah selatan Kepulauan Aru ini merupakan daerah terbuka dengan sedikit

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 45

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

vegetasi. Tumbuhan sulit berkembang di wilayah ini karena litologi Formasi


Tanahmerah yang terdapat di permukaan secara fisik relatif mudah meloloskan air.
Air yang lolos dari formasi ini kemudian terperangkap pada batuan Formasi Wasir (di
bawah Formasi Tanahmerah) yang berukuran halus dan relatif tidak meloloskan air
sehingga banyak terdapat sumber air pada daerah ini.

daerah terbuka

Gambar 5.8
Citra satelit menunjukkan adanya lahan terbuka pada litologi pasir kuarsa
Formasi Tanahmerah. (Google Earth, 2008)

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 46

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Keterdapatan batubara di wilayah timur Indonesia diketahui pada umumnya kurang


ekonomis karena lapisannya relatif tipis walaupun seringkali memiliki kalori yang
cukup tinggi. Secara kualitatif potensi batubara ini biasanya cukup bagus, namun
secara kualitatif kurang menguntungkan. Walaupun secara kuantitatif belum terukur,
namun keterdapatan batubara di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru perlu diteliti
lebih lanjut. Sisipan batubara dijumpai di dasar sumur gali di Kampung Doka Barat
selebar paling sedikit 3 meter, tebal batubara ini belum diketahui.
5.7.2

Kegiatan Prospektif Hulu Hilir

Berdasarkan informasi potensi pertambangan yang terdapat di wilayah Kabupaten


Kepulauan Aru, maka diidentifikasikan kegiatan prospektif sebagai berikut:
1. Pemanfaatan batugamping napalan
Pemanfaatan batugamping napalan secara tradisonal telah dilakukan oleh penduduk
setempat sebagai dinding rumah dengan cara memotong menjadi semacam batako
atau bata merah. Upaya yang perlu dilakukan dan cukup prospektif adalah
industrilisasi produksi bahan bangunan dengan bahan baku batugamping napalan.
Secara fisik batuan ini cukup kompak dan butirannya berukuran halus sehingga liat
dan tidak mudah pecah apabila dipotong. Dengan melakukan pengukuran kuat
tekan dan elastisitas batuan, maka prospek kualitatif pemanfaatan komoditas ini
akan dapat diketahui. Batugamping napalan dengan kuat tekan dan elastisitas yang
baik memiliki keunggulan dibandingkan bahan bangunan lain.
2. Pemanfaatan batupasir kuarsa.
Pemanfaatan batupasir kuarsa memilki efek berganda dari prospek kegiatan industri
yang dimungkinkan. Dari pemanfaatan komoditas ini dimungkinkan adanya kegiatan
penambangan dan kegiatan pengolahan pasir kuarsa. Selain itu pasir kuarsa juga
dapat dipasarkan dalam bentuk bahan mentah setelah silika (SiO 2) dipisahkan dari
mineral pengotornya.
(1)

Penambangan pasir kuarsa


Sebaran pasir kuarsa yang merupakan litologi dari Formasi Tanahmerah ini
telah dipetakan pada skala survei tinjau (dalam skala 1:250.000) sehingga

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 47

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

kegiatan yang perlu dilakukan berikutnya adalah kegiatan eksplorasi rinci


untuk mengetahui secara pasti sebaran dan ketebalan lapisan batupasir
kuarsa. Secara kualitatif karakteristik pasir kuarsa yang berbutiran kasar
relatif bagus dan mudah untuk ditambang. Wilayah yang memiliki sebaran
cukup luas dari batupasir kuarsa Formasi Tanahmerah ini adalah di bagian
selatan Kepulauan Aru (daerah Naiguli dan sekitarnya).
Pada eksplorasi rinci umumnya dilakukan kegiatan pemboran, paritan dan
sumuran uji, serta pengujian contoh komoditas di laboratorium untuk
mengetahui kandungan silika (SiO2) yang ada. Dengan berdasarkan
informasi yang didapatkan dari eksplorasi rinci tersebut maka dapat diketahui
nilai ekonomis komoditas pasir kuarsa dan apabila dipandang ekonomis
maka dapat ditentukan desain tambang yang memungkinkan.
Kegiatan penambangan akan selalu menimbulkan dampak bagi rona
lingkungan. Upaya yang dapat dilakukan adalah meminimalkan dampak
tersebut serta mengembalikan fungsi daya dukung ekosistem. Apabila
dampak

yang

ditimbulkan

diperhitungkan

tidak

sebanding

dengan

keuntungan yang didapatkan maka dapat disimpulkan bahwa pengusahaan


pasir kuarsa ini tidak ekonomis. Wilayah selatan Kepulauan Aru yang
ditempati oleh Formasi Tanahmerah memang cukup prospektif sebagai lokasi
bahan baku industri kaca. Namun adanya sumberdaya air di wilayah ini tidak
bisa diabaikan dan perlu dilindungi keberadaannya.
(2)

Industri kaca
Keberadaan pasir kuarsa di wilayah ini cukup prospektif untuk dimanfaatkan
sebagai bahan baku industri kaca. Hal ini dipandang cukup ekonomis
mengingat posisi wilayah Kabupaten Kepulauan Aru cukup jauh dari
kawasan industri lain sehingga apabila pasir kuarsa dipasarkan ke luar
daerah, maka akan diperlukan operasi pengangkutan yang cukup mahal dan
memakan waktu yang lama. Untuk itu salah satu pilihan pemanfaatan
komoditi ini adalah dengan mendirikan industri pada lokasi penambangan.
Untuk keperluan industri ini dipersyaratkan adanya studi kelayakan yang
mencakup estimasi nilai proyek, lokasi, teknologi, aspek lingkungan, serta

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 48

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

aspek-aspek penting lainnya. Studi kelayakan diperlukan sebelum memasuki


fase awal pengembangan proyek.
3. Pemanfaatan tanah laterit
Kandungan alumina yang terdapat pada tanah laterit dari pelapukan batupasir
kuarsa mempunyai prospek untuk diusahakan sebagai bahan baku logam. Alumina
merupakan bahan baku untuk industri aluminium. Pemisahan alumina (Al2O3) dari
mineral lain dalam tanah laterit merupakan kegiatan industri prospektif. Alternatif
berikutnya adalah pengolahan bijih alumina atau pemasaran langsung ke industri
logam di daerah lain. Namun demikian dari aspek energi, kebutuhan daya
pembangkit proyek alumina jauh lebih kecil yakni hanya di bawah 100 MW
dibandingkan pembuatan aluminiumnya yang mencapai ratusan MW.
Untuk keperluan pemanfaatan tanah laterit ini, kegiatan ekplorasi perlu ditekankan
pada besaran cadangan yang ada berdasar kualitas kandungan alumina dalam
tanah laterit di Formasi Tanahmerah. Walaupun sebaran Formasi Tanahmerah di
bagian selatan Kepulauan Aru cukup luas, namun persentase kandungan alumina
(kadar) dalam tanah laterit akan sangat menentukan jumlah alumina yang
dihasilkan.
5.7.3

Prospek Pengembangan Komoditas Unggulan

Komoditas pertambangan yang ada di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru adalah


batupasir kuarsa, batugamping napalan, batubara dan tanah laterit. Suatu komoditas
tambang prospektif dapat dikatakan ekonomis bila komoditas ini secara teknis
mungkin diusahakan dan mempunyai permintaan pasar besar. Teknis pengusahaan
selain menyangkut status lahan juga menyangkut kebutuhan teknologi yang dipakai
untuk pengusahaannya. Ketersediaan infrastruktur dan sumberdaya manusia yang
memadai juga ikut menentukan apakah suatu sumberdaya tambang dapat dinilai
ekonomis. Prasarana transportasi dan sumberdaya manusia yang siap pakai akan
meningkatkan keunggulan suatu komoditas untuk diusahakan.
Aspek lain yang juga dapat menunjukkan keunggulan suatu bahan tambang adalah
ketersediaan prasarana transportasi pada saat ini. Ketersediaan prasarana
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 49

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

transportasi ini juga akan mempengaruhi kebutuhan modal. Tersedianya prasarana


transportasi akan memperkecil kebutuhan modal. Kebutuhan modal yang lain adalah
kebutuhan modal tetap (fixed cost) dan modal berjalan (operational cost).
Pengembalian modal dalam jangka waktu pendek seringkali menjadi pilihan yang
baik bagi investor sehingga dilakukan perhitungan aliran modal (cash flow) yang
dapat menunjukkan keunggulan suatu komoditas untuk diusahakan dari aspek
modal.
Dampak lingkungan merupakan salahsatu variabel dalam menentukan keunggulan
suatu komoditas pertambangan mengingat bahwa setiap kegiatan penambangan
pasti menimbulkan perubahan rona. Kegiatan penambangan yang bagus akan lebih
sedikit menimbulkan perubahan rona lingkungan.
Perubahan yang sangat diharapkan dari pengusahaan sumberdaya tambang adalah
perubahan ekonomi yang diharapkan cenderung positif. Cakupan peningkatan
ekonomi yang lebih luas juga diharapkan dari pengusahaan sumberdaya
pertambangan. Perubahan berganda yang diakibatkan oleh pengusahaan suatu
kegiatan atau sering disebut juga multiplier effect dipandang dapat dijadikan sebagai
slah satu tolok ukur keberhasilan dalam pengelolaan sumberdaya alam.
Dari beberapa aspek yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam pengusahaan
pertambangan ini, maka dapat dilakukan penilaian terhadap beberapa komoditas
tambang yang ada sehingga dapat ditentukan komoditas apa yang paling unggul
diantara komoditas-komoditas tersebut.
TABEL 5.9
PEMERINGKATAN KOMODITAS UNGGULAN SEKTOR PERTAMBANGAN
Komoditas
Aspek Penilaian
Kebutuhan pasar
Ketersediaan Teknologi
Status Lahan
Sumberdaya manusia
Transportasi

Batugamping
napalan

Batupasir
kuarsa

Batubara

Tanah
laterit

2
5
4
4
3

5
2
4
2
2

5
1
3
2
2

4
2
4
2
2

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 50

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Aspek modal
Dampak Lingkungan
Dampak ekonomi
Total

5
4
3
30

1
2
4
22

2
2
3
19

1
2
4
21

Keterangan skor :
1. Rendah
2. Cukup rendah
3. Sedang
4. Cukup tinggi
5. Tinggi

5.7.4

Analisis Kelayakan Pengembangan Komoditas Unggulan

Dari pembahasan pada sub-bab sebelumnya diketahui bahwa batugamping napalan


merupakan komoditas pertambangan yang paling unggul di wilayah Kabupaten
Kepulauan Aru. Komoditas ini mudah untuk didapatkan dan sudah diusahakan oleh
masyarakat untuk bahan bangunan walaupun kebutuhan pasar terhadap komoditas
ini

cukup

rendah.

Masyarakat

secara

tradisional-pun

mampu

untuk

mengusahakannya sehingga tidak diperlukan sumberdaya manusia dengan keahlian


khusus. Teknologi yang harus digunakan untuk pengusahannya juga relatif
sederhana dan murah.
Keunggulan batugamping napalan juga ditunjukkan oleh rendahnya modal yang
dibutuhkan. Kebutuhan modal yang relatif besar diperlukan apabila terjadi
perubahan permintaan pasar. Dari aspek ketersediaan lahan dan material,
batugamping napalan sangat berlimpah tersedia di wilayah Kabupaten Kepulauan
Aru. Komoditas ini banyak terdapat di bagian tenggara Kepulauan Aru (Pulau Koba,
bagian timur Pulau Kobror dan Pulau Trangan, serta di sebagian Pulau Workai,
Pulau Baun, Pulau Penambulai dan pulau-pulau kecil di sekitarnya).

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 51

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Karena sifat pengusahaannya dalam skala kecil, maka dapat dipastikan dampak
lingkungan yang diakibatkan oleh pengusahaan komoditas ini menjadi relatif lebih
kecil. Pengusahaan komoditas ini dalam skala besar memerlukan analisis dampak
lingkungan tersendiri. Batugamping napalan juga merupakan litologi yang relatif
menahan air sehingga perlu perhatian lebih pada daerah-daerah yang dijadikan
sebagai daerah penyimpan air.
5.8 Analisis Pengembangan Pertanian dan Perkebunan
5.8.1

Potensi dan Sebaran Komoditas Unggulan

Ada beberapa komoditas dari jenis tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan
yang diusahakan di Kabupaten Kepulauan Aru. Sebagian dari komoditas tersebut
mempunyai potensi yang bagus untuk dikembangkan baik dari sisi kesesuaian
lahannya, produksi maupun pemasarannya baik pemasaran di tingkat regional
maupun internasional. Secara umum potensi-potensi yang ada di Kabupaten
Kepulauan Aru yang dapat menunjang berkembangnya sektor pertanian antara lain:
1. Potensi lahan yang sesuai bagi pengembangan komoditas pertanian (baik
untuk tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan) masih cukup tersedia.
2. Berdasarkan kriteria kesesuaian lahan untuk kegiatan komoditas pertanian
tanaman pangan,hortikultura, dan perkebunan beberapa wilayah mempunyai
potensi lahan yang bisa dikembangkan. Lokasi tersebut di satuan peta lahan
adalah AYT. Di samping itu bisa juga diusahakan beberapa komoditas
tertentu di satuan peta lahan ADS dan AFT.
3. Solum yang agak dalam dalam
4. Sifat kimia tanah yang tergolong subur
5. Iklim di daerah penelitian relatif menguntungkan dengan angka curah hujan
yang cukup tinggi (>2000 mm/tahun) dan sesuai untuk pengembangan
komoditas pertanian dan perkebunan.
6. Berbagai jenis komoditas pertanian dan perkebunan telah dikenal dan
umumnya telah diusahakan oleh petani, sehingga akan sangat menunjang
program diversifikasi usahatani baik horizontal maupun vertikal. Di samping
itu bila terjadi pengalihan jenis tanaman, maka tidak akan menimbulkan
goncangan terhadap struktur perekonomian keluarga.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 52

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

7. Lahan tersedia untuk usaha tani masih tergolong luas, namun persoalannya
adalah tingkat produktivitas yang masih rendah. Namun peluang peningkatan
produktivitas dapat dicapai dengan meningkatkan penggunaan input
usahatani (lahan, modal dan tenaga kerja), maupun peningkatan teknik
budidaya (input teknologi).
8. Jumlah petani yang produktif merupakan kekuatan untuk mengembangkan
pertanian.
Di samping beberapa potensi di atas, ada beberapa kendala untuk pengembangan
sektor pertanian di Kabupaten Kepulauan Aru, diantaranya:
1. Pemilikan lahan usahatani yang terpencar dengan skala usaha subsisten
menyebabkan rendahnya efisiensi dan produktivitas tenaga kerja keluarga,
dan sarana produksi yang selanjutnya akan menyebabkan pendapatan
usahatani

juga

rendah.

Rendahnya

pendapatan

usahatani

akan

menyebabkan petani sulit melakukan investasi guna pengembangan


usahatani.
2. Orientasi usaha pertanian yang sebagian besar hanya untuk memenuhi
kebutuhan konsumtif.
3. Produktivitas yang masih rendah, karena masih kurangnya pemahaman
dalam penggunaan teknologi pertanian yang modern bagi petugas dan
petani dalam upaya pengembangan tanaman pangan dan hortikultura,
diantaranya penggunaan benih yang tidak bermutu dan pola usahatani yang
tradisional.
4. Lemahnya permodalan yang dimiliki petani.
5. Secara proporsional berdasarkan tingkat pendidikan maupun bidang
keahlian, kualitas petani, aparat pembina dan petugas lapangan belum
memadai.
6. Pola tanam dan pola pergiliran tanaman masih berdasarkan kebiasaan
petani yang terkadang tidak sesuai dengan agroekologi setempat.
7. Sarana dan prasarana produksi usahatani belum memadai (misalnya benih,
pupuk, pestisida, dan lain-lain).
8. Lembaga ekonomi pedesaan terutama KUD belum berfungsi dengan baik,
khususnya pengadaan sarana produksi dan pemasaran produksi pertanian.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 53

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

9. Kelembagaan petani di pedesaan berupa kelompok tani belum berperan


sebagaimana mestinya.
10. Kegiatan pelayanan aparat pertanian seperti Penyuluh Pertanian Lapangan
(PPL) belum berjalan dengan baik karena masih rendahnya mutu dan jumlah
aparat PPL, dan juga terbatasnya sarana penunjang mobilitas kegiatan PPL
11. Lembaga-lembaga pemasaran belum berfungsi dengan baik, diikuti pula oleh
sarana prasarana transportasi yang belum memadai, menyebabkan biaya
pemasaran cenderung terlalu tinggi. Sehingga petani lebih cenderung
menjual hasil produksinya kepada tengkulak atau pedagang pengumpul yang
menentukan secara sepihak harga suatu komoditi tertentu.
12. Keadaan geografis daerah terdiri atas banyak pulau-pulau, selat-selat
menyebabkan transportasi sebagai kendala utama yang harus segera
diatasi, karena sangat mempengaruhi pengembangan usahatani terutama
pemasaran hasil produksi.
13. Belum tersedianya data base yang memadai dari seluruh unsur penunjang
pembangunan pertanian yang bermanfaat dalam kegiatan-kegiatan evaluasi
keberhasilan kegiatan usahatani, maupun dalam kegiatan perencanaan
usahatani kedepan.
TABEL 5.10
SEBARAN JENIS TANAMAN PANGAN, HOLTIKULTURA DAN PERKEBUNAN
BERDASARKAN KECAMATAN DI KABUPATEN KEPULAUAN ARU

N
o
1

Kecamatan
P.P. Aru
Aru Utara
Sirsir
Batuley

Aru Tengah
Aru Tengah Timur
Aru Tengah Selatan

Tanaman
Pangan
Padi
Jagung
Ketela pohon
Ketela rambat
Kacang Tanah
Kacang Hijau
Kacangkacangan
Ubi-Ubian
Padi
Jagung
Ketela pohon

Komoditas
Sayur-Sayuran
Lombok
Ketimun
Sawi
Tomat
Kangkung
Kacang-kacangan
Terong
Bayam
Bawang merah
Buncis
Lombok
Ketimun
Sawi

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

BuahBuahan
Jeruk
Mangga
Pisang
Jambu
Nangka
Nanas
Sukun

Tanaman
Perkebunan
Kelapa
Kopi
Sagu

Sirsak
Pepaya
Nenas
Mangga
Pepaya

Kelapa
Kopi
Kakao

5- 54

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Ketela rambat
Kacang Tanah
Kacang Hijau
Kacangkacangan
Ubi-Ubian

Aru Selatan
Aru Selatan Timur
Aru Selatan Utara

Padi
Jagung
Ketela pohon
Ketela rambat
Kacang Tanah
Kacang Hijau
Kacangkacangan
Ubi-Ubian

Tomat
Kangkung
Kacang-kacangan
Terong

sukun
nangka
Pisang
Jeruk

Bayam
Bawang merah

sirsak
Rambuta
n

Buncis
Lombok
Ketimun
Sawi
Tomat
Kangkung
Kacang-kacangan
Terong
Bayam
Bawang merah
Buncis

Nenas
Mangga
Pepaya
sukun
nangka
Pisang
Jeruk

Jambu mete
Sagu

Kelapa
Kakao
Sagu
Jambu mete

sirsak

Ada beberapa komoditas dari jenis tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan
yang diusahakan di Kecamatan-kecamatan wilayah Kabupaten Kepulauan Aru.
Sebaran komoditas yang diusahakan tersebut dapat di lihat pada tabel 5.10.
A.

Komoditas Berpotensi di Wilayah Aru Utara

Darihasil analisis kesesuaian lahan, ada beberapa komoditas di wilayah Aru bagian
Utara yang mempunyai potensi dan prospek bagus untuk dikembangkan, baik di
Kecamatan P.P.Aru, Kecamatan Aru Utara, Kecamatan Sirsir maupun Kecamatan
Batuley.
1. Tanaman Pangan
Tanaman pangan yang diperhitungkan mempunyai potensi sebagai pangan
unggulan di wilayah Aru Utara adalah padi ladang, ketela pohon,ketela rambat dan
kacang tanah. Padi ladang merupakan prioritas pangan unggulan. Optimalisasi
produksi dan produktivitas padi ladang tidak hanya dapat menjadi sumber keamanan
pangan daerah tetapi juga menjadi sumber pendapatan petani sekaligus

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 55

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

menghindarkan petani dan masyarakat Kepulauan Aru tergantung dari beras impor
yang harganya relatif mahal.
Sebagai bagian dari bahan makanan pokok penduduk lokal, dan dalam upaya
menjaga kestabilan ketahanan pangan daerah, ketela pohon dan ketela rambat
merupakan alternatif bahan makanan pokok yang potensial untuk dikembangkan,
mengingat luasan kedua komoditas tersebut yang diusahakan oleh masyarakat.
Sedangkan

kacang

tanah,

selain

untuk

dikonsumsi,

juga

banyak

yang

diperdagangkan oleh masyarakat. Dalam perspektif agribisnis, maka kacang tanah


yang diproduksi, perlu diolah dan dijual dalam bentuk packaging yang menarik untuk
memberikan nilai tambah (misalnya kacang botol) dan meningkatkan pendapatan
petani. Produk kacang tanah perlu diperbaiki dengan inovasi dan daya tarik yang
lebih baik secara berkelanjutan sesuai dengan preferensi konsumen (pasar).

2. Tanaman Hortikultura
Ada 10 jenis sayuran yang diusahakan oleh masyarakat di wilayah Aru bagian utara.
Ada 5 jenis sayuran diantaranya yang mempunyai potensi untuk dikembangkan,
yaitu di kecamatan PP.Kur dan 7 diantaranya dapat dikembangkan sebagai
komoditas unggulan, yakni bawang merah, kacang-kacangan, lombok, timun,
terong, tomat lombok, sawi, tomat, kangkung, bayam. Berdasarkan dari analisis
kesesuaian

lahan

sebenarnya

semua

komoditas

tersebut

termasuk

kelas

kesesuaian lahan S3wa, yaitu sesuai marginal untuk diusahakan dengan faktor
pembatas utama tingginya curah hujan, walaupun dari segi kualitas lahan termasuk
lahan subur. Untuk itu perlu diatur waktu tanam pada saat jumlah curah hujan
bulanan tidak terlalu tinggi agar tanaman tidak mudah terserang penyakit. Tanaman
lombok mempunyai potensi yang bagus untuk dikembangkan menjadi komoditas
unggulan mengingat komoditas ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Untuk jenis buah-buahan, tanaman nangka, sukun, dan jeruk mempunyai potensi
tinggi untuk dikembangkan. dari hasil analisis kesesuaian lahan ketiga komoditas
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 56

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

tersebut sesuaiuntuk diusahakan di wilayah Aru bagian Utara. Sedangkan komoditas


mangga dan nanas, walaupun termasuk kelas kesesuaian lahan S3wa dengan
kendala utama tingginya curah hujan, mempunyai potensi pasar yang bagus.
3. Tanaman Perkebunan
Ada 3 jenis komoditas perkebunan yang diusahakan masyarakat wilayah Aru Utara,
yaitu kelapa, kopi dan sagu. dari analisis kesesuaian lahan, Ketiga komoditas
tersebut sesuai diusahakan di wilayah ini. Berdasarkan data yang tersedia,
Kabupaten Kepulauan Aru mempunyai potensi kelapa yang cukup besar, sehingga
perlu dimanfaatkan sebagai komoditas perkebunan unggulan regional. Alasannya
diduga kuat, bahwa tanaman kelapa hampir tumbuh merata di tiap kecamatan dan
desa, sehingga memungkinkan mengusahakan kelapa dalam skala besar. Kecuali
itu, kelapa diolah dalam bentuk setengah jadi atau produk jadi berupa kopra atau
minyak sehingga memberikan nilai tambah yang berarti bagi petani maupun daerah.
Selain ketiga komoditas tersebut, Dinas Perkebunan Kabupaten Kepulauan Aru
berencana untuk mengembangkan kakao dan vanili di wilayah Aru Utara. dari hasil
analisis kesesuaian lahan kakao termasuk dalam kelas kesesuaian lahan S2rc,
sedangkan vanili S2wa. Ini berarti kedua komoditas sesuai dan bisa diusahakan
dengan baik di wilayah tersebut, khususnya dilahan-lahan dengan type sistem lahan
AYT.
B.

Komoditas Berpotensi di Wilayah Aru Tengah.

1. Tanaman Pangan
Ada 8 jenis tanaman pangan yang diusahakan di wilayah Kepulauan Aru bagian
Tengah. Namun ada 6 jenis komoditas yang mempunyai potensi dan prospek bagus
untuk dikembangkan, yaitu: padi ladang, jagung, ketela pohon, ketela rambat, dan
kacang tanah. Padi ladang akan dijadikan komoditas unggulan sekaligus prioritas
utama untuk dikembangkan di wilayah ini. Selain untuk meningkatkan ketahanan
pangan, penananam padi ladang juga ditujukan untuk meningkatkan pendapatan
petani.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 57

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Dari hasil analisis kesesuaian lahan, padi ladang sangat sesuai diusakan di wilayah
ini (S1) pada land system AYT. Sebagai pendukung kestabilan ketahanan pangan di
daerah ini, pengembangan komoditas ketela pohon yang diusahakan secara luas
oleh masyarakat perlu diperhatikan sebagai bahan pangan alternatif, disamping
jagung, ketela rambat dan kacang tanah.
2. Tanaman Hortikultura
Semua jenis tanaman sayuran dataran rendah mempunyai potensi untuk
dikembangkan di daerah ini, namun perlu diatur waktu tanam yang tepat untuk
menghindari gagal panen akibat serangan penyakit. Namun demikian ada 7
tanaman prioritas yang bisa dikembangkan, yaitu lombok, ketimun, sawi, kangkung,
bayam, tomat dan bawang merah. Jika dipertimbangkan berdasarkan potensi pasar
maka mentimun, cabe dan bawang merah lebih baik untuk dijadikan komoditas
sayuran unggulan di wilayah Aru bagian Tengah. Selain mempunyai nilai jual yang
tinggi, komoditas ini lebih bersifat tahan lama dibanding komoditas sayuran lainnya
yang lebih bersifat perishable.
Komoditas buah-buahan yang diidentifikasi di wilayah Aru bagian Tengah ada 9
jenis. Mangga, jeruk, nanas, nangka, sukun dan rambutan merupakan jenis
komoditas yang mempunyai prospek bagus untuk dikembangkan. Dari segi
pemasaran, komoditas-komoditas tersebut mempunyai peluang pasar yang bagus
untuk dipasarkan keluar Pulau Aru. Nangka, jeruk dan Sukun merupakan komoditas
yang sesuai dikembangkan di daerah ini (S2).
3. Tanaman Perkebunan
Komoditas perkebunan yang diusahakan masyarakat di wilayah Aru bagian Tengah
ada 5 jenis, yaitu kelapa, kopi, kakao, jambu mete dan sagu. Semua komoditas
sesuai untuk diusahakan, kecuali jambu mete yang masuk kelas kesesuaian lahan
S3wa, yang berarti kurang sesuai untuk diusahakan dengan faktor pembatas utama
tingginya curah hujan. Tanaman jambu mete termasuk jenis tanaman yang sangat
membutuhkan kondisi iklim yang agak kering dan panas atau tidak cocok terhadap
kelembaban yang tinggi dan suhu udara yang rendah selama masa pembungaan
dan pembuahan. Jumlah curah hujan tahunan yang tidak terlalu besar dan bulan
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 58

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

kering yang cukup panjang akan menciptakan kondisi iklim mikro (suhu dan
kelembaban udara) yang optimal di areal pertanaman terutama selama pembungaan
dan pembuahan. Selain ke 5 komoditas tersebut yang berpotensi untuk
dikembangkan, vanili juga mempunyai prospek dan peluang pasar yang cukup baik
untuk dikembangkan.
C.

Komoditas Berpotensi di Wilayah Aru Selatan

1. Tanaman Pangan
Seperti wilayah Aru bagian Utara dan Tengah, Wilayah Aru bagian Selatan juga
memiliki 8 jenis komoditas pangan utama dan 4 diantaranya berpotensi menjadi
komoditas pangan unggulan yakni padi ladang, jagung, ketela pohon dan ketela
rambat. Padi ladang akan menjadi prioritas utama untuk dikembangkan dalam
rangka meningkatkan ketahanan pangan daerah, mengingat tingkat kesesuaian
lahan komoditas ini yang temasuk sangat sesuai untuk diusahakan (S1) untuk
daerah dengan sistem lahan AYT. Untuk menunjang kestabilan ketahanan pangan,
jagung, ketela pohon dan ketela rambat adalah komoditas-komoditas yang perlu
mendapat perhatian karena juga merupakan bahan makanan pokok masyarakat
lokal. Produksi jagung selain untuk meningkatkan ketahanan pangan wilayah juga
bisa diolah lebih lanjut untuk pakan ternak.
2. Tanaman Hortikultura
Petani sayuran di wilayah Aru Selatan mengusahakan berbagai jenis sayuran
tanaman rendah. Ada 5 jenis sayuran yang perlu mnendapat prioritas untuk
dikembangkan yaitu, lombok, ketimun, sawi, bayam dan kangkung. Semua jenis
tanaman ini termasuk dalam kelas kesesuaian lahan S3wa baik di daerah dengan
sistem lahan AYT, ADS dan KFT. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas ini kurang
sesuai diusahakan dengan faktor pembatas utama curah hujan. Untuk itu perlu
diatur waktu tanam yang tepat agar tanaman tidak mudah terserang penyakit akibat
tingginya curah hujan. Lombok dan ketimun bisa dijadikan sebagai komoditas
unggulan wilayah Aru bagian Selatan. Tanaman ini selain mempunyai nilai ekonomi
cukup tinggi juga lebih tahan lama dalam penyimpanan di bandingkan tanaman
lainnya.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 59

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Ada 8 jenis tanaman buah-buahan yang diusahakan masyarakat di wilayah Aru


bagian Selatan. Sukun, nangka, jeruk dan mangga merupakan komoditas yang
berpotensi baik untuk dikembangkan, khususnya jeruk dan mangga yang
mempunyai nilai ekonomi tinggi dan mempunyai peluang pasar ke luar Kepulauan
Aru.
3. Tanaman Perkebunan
Kelapa, kakao, jambu mete dan sagu merupakan 4 jenis komoditas perkebunan
yang diusahakan masyarakat Aru bagian Selatan saat ini. Semua komoditas
tersebut mempunyai potensi bagus untuk dikembangkan, ditambah komoditas jambu
mete dan kopi yang akan dikembangkan di wilayah ini oleh Dinas Perkebunan
Kabupaten Kepulauan Aru. Kelapa dan sagu merupakan komoditas yang
penyebarannya merata di seluruh wilayah Kepulauan Aru. kelapa juga masih
menjadi komoditas unggulan regional.

5.8.2

Kegiatan Prospektif Hulu-Hilir

Saat ini hanya komoditas Kelapa Dalam yang sudah dikembangkan menjadi produk
hasil olahan dengan peluang pasar yang cukup tinggi baik untuk konsumsi lokal
maupun daerah lain yang sudah berkembang dengan cukup baik dari hulu-hilir.
Kelapa Dalam merupakan komoditas perkebunan yang tersebar secara merata dan
mempunyai potensi serta prospek yang bagus untuk terus dikembangkan di seluruh
wilayah Kabupaten Kepulauan Aru. Hasil panen kelapa dalam sudah diolah terlebih
dahulu menjadi produk lain sebelum dipasarkan (menjadi kopra). Industri hilir yang
bisa dikembangkan lebih lanjut dari bahan baku kelapa selain kopra antara lain
menjadi makanan nata de coco, Virgin Coconut Oil (VCO) dan PCO. Namun
demikian budidaya dan pemeliharaannya di Kepulauan Aru masih dilakukan secara
tradisional. Perlu ada perbaikan cara budidaya dan pemeliharaan agar diperoleh
hasil yang lebih tinggi, seperti pemilihan bibit yang baik, pemupukan baik organik
ataupun anorganik, serta pengendalian hama penyakit.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 60

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Ada beberapa komoditas yang diusahakan di Kabupaten Kepulauan Aru berpeluang


untuk dikembangkan dari hulu-hilir (produk olahan), seperti jagung (menjadi tepung
maezena dan pakan ternak), ubi kayu (tepung dan embal)dan kacang tanah (kacang
botol)untuk tanaman pangan, nanas (makanan kaleng) dan beberapa komoditas
perkebunan seperti kelapa, kopi, kakao, dan vanili yang baru akan dikembangkan.
Untuk pengembangan komoditas-komoditas tersebut secara optimal dari hulu-hilir,
maka perlu dikembangkan sistem agrobisnis. Secara garis besar, kegiatan
pengembangan komoditas prospektif dengan sistem agrobisnis dapat dilihat dari
tabel berikut:

TABEL 5.11
RENCANA KEGIATAN PENGEMBANGAN KOMODITAS PROSPEKTIF DARI
HULU-HILIR DILIHAT DARI SISTEM AGROBISNIS

Hulu

On Farm

Sistem
persiapan lahan

Data
base:
luas
lahan,
ketersediaan
TK, teknologi
budidaya

Pengadaan
benih unggul

Kualitas dan
kuantitas
produksi yang
berkelanjutan
Penyuluhan
partisipatif
berkelanjutan

Pupuk organik

Agroindustri
(Hilir)
Diversifikasi
produk olahan

Sumber benih

Pemasaran
Peluang
pasar (study
supply

demand)
Aksesibilitas

Packing/kema
san

Pestisida nabati

Konsumsi

Alat dan mesin

Pelatihan

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

Jasa, Kelembagaan
dan Kebijakan
Sarana dan prasarana
fisik
(transportasi,
komunikasi, dll)

Kelembagaan
Penyuluhan agrobisnis
komoditas unggulan
Pengembangan
kelompok tani, dan
koperasi
komoditas
unggulan
Payung hukum (Perda
komoditas unggulan)
Jaminan
pasar

5- 61

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

pengolahan
Stasiun iklim

agroindustri
Standar mutu

Sistem
pengairan

komoditas unggulan
Meningkatkan peran
dan tanggung jawab
lembaga
keuangan
daerah
Pembiayaan /investasi
komoditas unggulan

Sub sistem hulu disebut juga sebagai sub sistem industri yang menghasilkan benih,
pupuk, obat-obatan (pestisida), serta alat dan mesin pertanian. dalam bidang
pertanian biaya yang biasanya dikeluarkan untuk sub sistem hulu adalah
pembangunan sarana prasarana perbenihan, bantuan bibit tanaman dll. Sub sistem
On Farm (Budidaya) meliputi kegiatan persiapan lahan, penanaman, perawatan dan
pemanenan tanaman. Sedangkan sub sistem hilir (pengolahan) mempunyai arti
penting dalam penanganan pasca panen produk-produk pertanian. Kecuali untuk
peningkatan nilai tambah, pengolahan hasil juga akan menciptakan lapangan kerja
dan perbaikan pendapatan masyarakat petani.
Sistem agrobisnis adalah harmoni yang tercipta antar sub-sistem. Jadi harus ada
interaksi yang saling mendukung yang dalam implementasinya membutuhkan
kerjasama lintas sektor. Untuk melancarkan kegiatan antar sub-sistem dari hulu
hingga hilir (pemasaran) perlu didukung sektor Jasa
Dalam era industrialisasi seperti sekarang ini, ketiga sub sektor tersebut harus
mampu memenuhi kebutuhan pangan dan bahan industri, juga harus mampu
menghadapi perubahan-perubahan lingkungan strategi, baik di tingkat nasional,
regional, maupun internasional Mempertimbangkan hal tersebut perlu melalukan
pembangunan sub sektor tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan dari corak
tradisional ke pertanian modern yang dilakukan secara profesional, efektif, efisien
dan berdaya saing tinggi.
Sesuai dengan tuntutan perkembangan pertanian dan tuntutan kebutuhan
masyarakat, maka ketiga sub sektor tersebut adalah mewujudkan pertanian modern,
tanggap dan efisien, berbudaya industri dalam rangka membangun industri
pertanian berbasis perdesaan. Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk
mewujudkan hal tersebut di atas adalah:

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 62

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

1. Meningkatkan optimasi pemanfaatan sumberdaya lahan, air, tenaga kerja,


modal dan teknologi.
2. Memperluas struktur pembangunan pertanian melalui diversifikasi, teknologi
sumber daya, produksi dan konsumsi.
3. Melakukan rekayasa teknologi spesifik lokasi secara dinamis.
4. Meningkatkan efisiensi sistem agrobisnis dengan memanfaatkan IPTEK
untuk meningkatkan produksi pertanian yang berdaya saing tinggi sehingga
memberi dampak peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat
konsumen.

5.8.3

Prospek Pengembangan Komoditas Unggulan

Secara ringkas, komoditas-komoditas yang mempunyai potensi untuk dikembangkan


di Kabupaten Kepulauan Aru dapat dilihat pada tabel berikut.
TABEL 5.12
PENYEBARAN KOMODITAS YANG MEMPUNYAI POTENSI UNTUK
DIKEMBANGKAN DI KABUPATEN KEPULAUAN ARU
Pilihan Komoditi
Kecamatan :
P.P.Aru, Aru Utara,
Sirsir, Batuley

Aru Tengah, Aru


Tengah Timur, Aru
Tengah Selatan.
Aru Selatan,
Selatan Timur,

Tanaman
Pangan
Padi ladang,
ketela
pohon,ketela
rambat, kacang
tanah
Padi ladang,
jagung, ketela
pohon,ketela
rambat, kacang
tanah.
Padi ladang,
jagung, ketela

Tanaman
Sayuran
Lombok, sawi,
tomat,
kangkung,
bayam

Tanaman BuahBuahan
Nangka, Sukun,
mangga, jeruk,nanas

Tanaman
Perkebunan
Kelapa Dalam,
Kakao,
kopi,Vanili,sagu

Lombok,
Ketimun, Sawi,
kangkung,
bayam, tomat,
bawang merah
Lombok,
Ketimun, Sawi,

Mangga,
jeruk,nanas,nangka,
sukun , rambutan

Kelapa Dalam,
Kakao, Kopi,
Vanili,
sagu,Jambu
mete
Kelapa Dalam,
Kakao, vanili,

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

Sukun,
nangka,jeruk,mangga

5- 63

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Selatan Utara

pohon,ketela
rambat

kangkung,
bayam

sagu, kopi,
jambu mete

Dari beberapa komoditas prospektif tersebut ada beberapa komoditas yang dapat
dijadikan komoditas unggulan di Kabupaten Kepulauan Aru, yaitu:
A. Padi Ladang
Padi merupakan sumber bahan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat
Kabupaten Kepulauan Aru. Dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan lokal,
Dinas Pertanian akan memperluas areal tanaman padi ladang. Dari hasil analisis
kesesuaian lahan, padi ladang sangat sesuai (S1) untuk dikembangkan di
Kepulauan Aru, khususnya pada land system AYT. Selain sebagai bahan makanan
pokok, jerami padi bisa dimanfaatkan sebagai makanan ternak dan bahan bakar.
Sedangkan buah/biji (gabah) selain diolah menjadi

beras, sisanya sekam bisa

diolah lebih lanjut menjadi dedak dan bahan bakar. Secara garis besar komoditas
padi ladang dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk yang mempunyai nilai
tambah, seperti pada gambar 5.9.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 64

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Gambar 5.9
Pohon Industri Padi

B. Jagung
Jagung dapat dikembangkan sebagai sumber pangan penduduk maupun pakan bagi
ternak di beberapa kecamatan di Kabupaten kepulauan Aru. Di dalam sistem
pengelolaannya, usaha tani jagung mulai dari persiapan/pengolahan lahan, benih,
budidaya hingga pemeliharaan tanaman, masih dilakukan masyarakat Kabupaten
Kepulauan Aru secara tradisional. Apabila dilakukan dengan teknik budidaya yang
lebih modern, selain produktivitas akan meningkat maka akan diikuti pula dengan
kebutuhan/penyerapan jumlah tenaga kerja yang lebih banyak, mulai dari penyiapan
lahan (hulu) hingga pemasaran (hilir). Di luar kendala teknik budidaya, aspek
pemasaran (masih dikuasai pedagang pengumpul/tengkulak) dan sarana prasarana
pendukung perlu mendapat perhatian, karena kadang-kadang untuk mendapatkan
pupuk buatan (kimia) masih mengalami kesulitan. Dengan perbaikan sarana dan
prasarana, akan mendorong perdagangan dan pertukaran barang dan jasa baik
didalam kecamatan maupun antar kecamatan, sehingga dinamika ekonomi
pedesaan makin membaik dan kesejahteraan petani dapat lebih baik. Secara garis
besar komoditas jagung dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk yang
mempunyai nilai tambah, seperti pada gambar 5.10.
C. Ubi Kayu
Komoditas ubi kayu menyebar secara merata di kecamatan-kecamatan Kepulauan
Aru. Selain sebagai alternatif makanan pokok (diversifikasi pangan) dan untuk
meningkatkan ketahanan pangan lokal masyarakat Aru, pengelolaan komoditi ini
mulai dari sub-sistem hulu hingga ke hilir, sudah cukup baik, sehingga nilai tambah
produk benar-benar bisa dirasakan ditingkat rumah tangga petani. Jika
dikombinasikan dengan ubi kayu yang tersebar di kecamatan lain maka produk ubi
kayu dapat membentuk kluster komoditas unggulan regional kabupaten Kepulauan

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 65

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Aru . Selain sebagai bahan makanan pokok tanaman ini mempunyai prospek
pemasaran yang cukup baik apabila diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk
olahan, seperti bahan baku tepung atau pakan ternak.
Dengan semakin banyak ragam produk olahan yang berbahan baku ubi kayu, maka
akan semakin banyak tumbuh setidaknya home industry yang dapat meningkatan
penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat.
Secara ringkas tanaman ubi kayu mempunyai potensi untuk diolah lebih lanjut
seperti tertera dalam 5.11.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 66

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Gambar 5.10
Pohon Industri Jagung

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 67

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Gambar 5.11
Pohon industri Ubi Kayu

C. Kelapa Dalam
Kelapa Dalam merupakan komoditas perkebunan yang tersebar secara merata dan
mempunyai potensi serta prospek yang bagus untuk terus dikembangkan di seluruh
wilayah Kabupaten Kepulauan Aru.
Pohon kelapa dapat menghasilkan buah dan batang kelapa. Buah kelapa dapat
dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, seperti air kelapa, daging kelapa,
tempurung kelapa, dan sabut kelapa. Air kelapa dapat dimanfaatkan menjadi nata
decoco, kecap kelapa, dan minuman dari kelapa. Sementara itu buah kelapa daapat
dikembangkan beberapa industri turunan, yaitu kopra yang dapat dijadikan minyak
kelapa. Sedangkan tempurung kelapa daapat diciptakan arang yang dapat
dikembangkan menjadi tepung arang dan karbon aktif. Sedangkan sabut kelapa
dapat berguna menjadi jok mobil dan matras. Jika baatang kelapa dimanfaatkan,
maka akan memberikan nilai tambah yang besar, yaitu berupa furniture dan bahan
bangunan. Untuk lebih jelasnya bberbagai kegiatan prospektif yang dapat
dikembangkan dari kelapandapat dilihat pada gambar di bawah ini.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 68

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Gambar 5.12
Pohon industri kelapa

D. Kakao
Di samping Kelapa Dalam, tanaman perkebunan lainnya seperti kakao akan
didorong untuk lebih berkembang dan menjadi komoditas unggulan. Peluang pasar
kakao sangat prospektif baik untuk pasar regional maupun pasar internasional.
Kakao banyak diusahakan di Kepulauan Aru bagian tengah dan akan dikembangkan
di bagian Selatan. Pada tahun 2007 luas areal panen kakao di Kabupaten
Kepulauan Aru adalah 233 hektar, dengan populasi tanaman 145.625. Buah kakao
banyak manfaatnya apabila diolah lebih lanjut. Selain sebagai bahan makanan dan
kue, juga dapat diolah menjadi minuman, obat-obatan, dan industri kimia. Secara
lengkap, buah kakao dapat diolah lebih lanjut seperti tertera pada gambar berikut.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 69

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Gambar 5.5
Pohon industri kakao

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 70

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

5.8.4. Analisis Kelayakan Pengembangan Industri Komoditas Unggulan


A. Jagung
Dewasa ini jagung tidak hanya digunakan untuk bahan pangan tetapi juga untuk
pakan. Dalam beberapa tahun terakhir proposi penggunaan jagung oleh industri
pakan telah mencapai 50% dari total kebutuhan nasional. Dalam 20 tahun ke depan,
penggunaan jagung untuk pakan diperkirakan terus meningkat dan bahkan setelah
tahun 2020 lebih dari 60% dari total kebutuhan nasional. Ditinjau dari sumberdaya
lahan dan ketersediaan teknologi, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk
berswasembada jagung dan bahkan berpeluang pula menjadi pemasok di pasar
dunia mengingat makin meningkatnya permintaan dan makin menipisnya volume
jagung di pasar internasonal.
Upaya peningkatan produksi jagung di dalam negeri dapat ditempuh melalui
perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas. Perluasan areal dapat
diarahkan pada lahan-lahan potensial seperti lahan sawah irigasi, lahan sawah
tadah hujan, dan lahan kering yang belum dimanfaatkan untuk pertanian.
Berdasarkan penyebaran luas sawah dan tipe irigasinya, diperkirakan terdapat
457.163 ha yang potensial untuk peningkatan indeks pertanaman. Di luar Jawa
terdapat 20,5 juta ha lahan kering yang dapat dikembangkan untuk usahatani
jagung.
Selain melalui perluasan areal tanam dan peningkatan produktivitas, upaya
pengembangan jagung juga memerlukan peningkatan efisiensi produksi, penguatan
kelembagaan petani, peningkatan kualitas produk, peningkatan nilai tambah,
perbaikan akses pasar, pengembangan unit usaha bersama, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infrastruktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif
usaha. Dalam kaitan ini diperlukan berbagai dukungan, termasuk dukungan
kebijakan pemerintah.
Dari aspek teknis, teknologi yang diperlukan untuk mendukung pengembangan
jagung antara lain adalah varietas hibrida dan komposit yang lebih unggul (termasuk
penggunaan bioteknologi), di antaranya memiliki sifat toleran kemasaman tanah dan
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 71

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

kekeringan, teknologi produksi benih sumber dan sistem perbenihan-nya, teknologi


budidaya yang efisien dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT), dan
teknologi pascapanen untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk.
Investasi yang diperlukan untuk pengembangan jagung bergantung kepada
pencapaian target yang diinginkan. Berkaitan dengan hal ini, ada dua skenario
pengembangan jagung nasional dalam periode 2005-2025. Skenario 1 atau skenario
moderat, laju pertumbuhan produksi 4,24 %/tahun. Skenario 2 atau skenario optimis,
volume ekspor meningkat menjadi 15%. Kebutuhan investasi untuk pengembangan
jagung melalui skenario 1 dan 2 dalam kurun waktu 2005-2025 masing-masing
adalah Rp 29,0 trilyun, dan Rp 33,7 trilyun. Biaya investasi mencakup perluasan
areal tanam pada lahan sawah, pembukaan lahan baru (lahan kering) dan
infrastruktur, perbenihan, penyuluhan, penelitian dan pengembangan. Proporsi
investasi yang menjadi tanggung jawab masyarakat 4%, sedangkan yang bersumber
dari pemerintah dan swasta masing-masing dengan proporsi 74% dan 22%.
Kebijakan yang diperlukan dalam pengembangan jagung adalah kebijakan
pengembangan insentif investasi, kelembagaan keuangan dan permodalan,
peningkatan dukungan teknologi yang siap diterapkan di lapang, peningkatan
kualitas sumberdaya manusia, kelembagaan agribisnis, dukungan pemasaran, serta
dukungan peraturan dan perundangan.
Kegiatan pascapanen merupakan bagian integral dari pengembangan agribisnis,
yang dimulai dari aspek produksi bahan mentah sampai pemasaran produk akhir.
Peran kegiatan pascapanen menjadi sangat penting, karena merupakan salah satu
sub-sistem agribisnis yang mempunyai peluang besar dalam upaya meningkatkan
nilai tambah produk agribisnis. Dibanding dengan produk segar, produk olahan
mampu memberikan nilai tambah yang sangat besar. Daya saing komoditas
Indonesia masih lemah, karena selama ini hanya mengandalkan keunggulan
komparatif dengan kelimpahan sumberdaya alam dan tenaga kerja tak terdidik
(factordriven), sehingga produk yang dihasilkan didominasi oleh produk primer atau
bersifat natural recources-based dan unskilled-labor intensive.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 72

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Pemanfaatan

teknologi

pengolahan

jagung

berpeluang

meningkatkan

nilai

komoditas jagung tidak hanya sebagai sumber pakan tetapi dapat diolah menjadi
berbagai produk pangan yang bernilai ekonomi seperti corn-flake, pop-corn, tepung
jagung, pati jagung dan minyak jagung. Pati jagung potensial mensubstitusi terigu
maupun tapioka dari 20-100%. Jika pati jagung menggantikan 10% saja, maka
diperlukan 0,3-1,0 juta ton pati jagung per tahun. Pascapanen jagung selama ini
masih dkerjakan secara tradisional. Dengan teknologi yang ada (existing
technology), maka diperlukan investasi teknologi baik untuk pengolahan jagung di
sektor hulu maupun hilir. Untuk pengembangan industri pati jagung, dibutuhkan
investasi mencapai Rp 80-160 miliar.
B. Ubi Kayu
Singkong secara umum adalah tanaman yang dipandang sebelah mata. Tetapi
karena bisa diubah menjadi bio etanol, pamor singkong kembali menggeliat. Selama
ini kita mengenal ubi kayu sebagai tanaman yang mudah didapat bibitnya dan
gampang dibudidayakan (dapat ditanam di lahan yang kurang subur sekali pun,
risiko gagal panen 5%, dan tidak memiliki banyak hama). Di sisi lain, dibandingkan
tanaman pangan pada umumnya yang rata-rata hanya berumur empat bulan,
sumber energi yang kaya karbohidrat tapi miskin protein ini, umurnya lebih panjang
yaitu tujuh hingga 12 bulan. Selain itu, harga jualnya terbilang rendah dan dianggap
sebagai tanaman yang menguruskan tanah, karena boros mengambil unsur hara.
Padahal, kondisi ini sangat tergantung kepada kesuburan tanah, produktivitas, dan
pemupukan.
Sisi baik dan buruk yang dimiliki umbi atau akar pohon yang bernama lain singkong
ini, menjadikannya dipandang sebelah mata oleh banyak pihak, bahkan oleh
petaninya.Tanaman yang dianggap tanaman marjinal karena biasanya tumbuh di
lahan marjinal ini, tahun lalu secara nasional hanya mampu berproduksi 20,05 juta
ton dengan luas panen 1,24 juta ha. Ini berarti tingkat produktivitasnya hanya 16,2
ton/ha. Sementara produksi singkong di Thailand sebanyak 21,44 juta ton yang
didapat dari lahan seluas 1,06 juta ha atau dengan tingkat produktivitas 20,28
ton/ha.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 73

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Tingkat produksi tersebut memang terbilang rendah. Karena, sebenarnya masih


bisa ditingkatkan menjadi 25 juta ton hingga 40 juta ton. Hal ini terjadi, sebab petani
menanam ketela pohon secara apa adanya, dalam arti, begitu ditanam langsung
ditinggalkan begitu saja. Pemupukan pun dilakukan sekadarnya, misalnya
menggunakan sisa pupuk tanaman jagung yang ditanam sebelumnya di lahan yang
sama. Di sisi lain, situasi ini harus dimaklumi mengingat para petani ubi kayu pada
umumnya berpenghasilan rendah, sehingga tidak mampu membeli pupuk yang
harganya dari waktu ke waktu semakin mahal. Jadi ya pintar-pintarnya mereka
melakukan pemupukan, lanjutnya.
Memang tidak pernah diketahui, berapa sebenarnya kebutuhan negara ini akan ubi
kayu. Setiap tahun, para petani ubi kayu hanya diarahkan untuk memenuhi target
yang telah ditetapkan. Misalnya, untuk tahun ini, ditargetkan 20,6 juta ton. Tapi,
sejauh ini baru berhasil diproduksi sebanyak 19,5 juta ton. Jadi, ya memang harus
terus ditingkatkan mengingat kebutuhan akan singkong itu sebenarnya sangat besar,
baik untuk bahan pangan, industri farmasi, kimia, bahan bangunan, kertas, maupun
yang sedang marak saat ini yaitu industri biofuel (bio-etanol). Bahkan, turunanturunannya pun masih berguna, misalnya untuk pakan ternak, saus, dan
sebagainya.
Berkaitan dengan bio-etanol, energi alternatif pengganti bahan bakar minyak untuk
kendaraan ini merupakan etanol atau bahan alkohol hasil proses fermentasi
singkong. Studi terhadap bio-etanol di Indonesia sudah dilakukan sejak 1983,
bertepatan dengan produksi singkong di Lampung yang ketika itu melimpah ruah.
Brasil menggunakan tebu sebagai bahan baku etanol, sedangkan Amerika Serikat
memakai jagung. Indonesia masih menggunakan campuran antara singkong (8%),
pepes tebu (1%), dan sorgum (1%). Tapi, nantinya hanya akan menggunakan
singkong. Nah, kalau produksi singkong kita bisa mencapai 25 juta ton/ha dan harga
per kilonya Rp 350,-, tentu terjadi peningkatan pendapatan yang sangat besar bagi
petani, meski sudah dikurangi biaya produksi. Di sisi lain, pihak industri akan dapat
terus beroperasi karena bahan bakunya terpenuhi sepanjang musim, ungkapnya.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 74

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Sekadar informasi, Lampung sebagai sentra ketela pohon, tahun lalu menyumbang
produksi ubi kayu sebanyak 5,5 juta ton dari luas panen 2,8 ribu ha.
Lalu, ubi kayu yang bagaimana yang bagus untuk bio-etanol? Pada dasarnya, ubi
kayu mempunyai banyak varietas, tapi baru 10 yang berhasil diteliti di Indonesia.
Nantinya, akan dilepaskan lagi beberapa varietas sehubungan dengan industri bioetanol. Berbeda dengan yang dikonsumsi manusia, singkong untuk bio-etanol harus
memiliki kadar pati yang tinggi yaitu 25% sampai 45%. Dan, biasanya itu ubi kayu
yang berasa pahit (melalui proses pencucian yang benar, ketela pohon ini pun dapat
dimakan manusia). Menurut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi cq Balai
Besar Teknologi Pati Lampung Maret 2006, dari 6,5 kg ubi kayu segar dapat
dihasilkan 1 liter etanol berkadar 95%, dengan harga jual Rp3.500,-/liter. Bila
diperhitungkan dengan ongkos tenaga kerja, transpor, dan sebagainya maka harga
jualnya akan menjadi Rp 4.350,-/liter.
Singkong sebagai bahan baku utama bio-etanol, mungkin merupakan tanda
kebangkitan ketiga itu telah datang, setelah kebangkitan pertama singkong diubah
menjadi gaplek dalam kaitannya dengan sumber bahan pangan alternatif dan
kebangkitan kedua atau ketika singkong diolah menjadi tapioka.
Analisa Usaha Tani Ubi Kayu (per hektar)
A. Total biaya tenaga kerja

Rp. 1.685.000,-

B. Sarana produksi
- Bibit 10.000 stek @ Rp 30,-

Rp.

300.000,-

- Pupuk buatan

Rp.

495.000,-

- Pupukkandang

Rp.

- Pestisida

Rp.

- Pengeluaran lainnya

Rp.

540.000,-

Rp. 1.335.000,Total biaya ( A dan B )

Rp. 3.020.000,-

C. Hasil penjualan (tingkat petani)


25.000 kg @ Rp 300,Pendapatan bersih (hasil penjualan total biaya) =
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

Rp.7.500.000,Rp4.480.000,5- 75

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

R/C (hasil penjualan : total biaya) = 2,48


Jika melihat

prospek dan kelayakan pengembangan komoditas ubi kayu

sebagaimana disebutkan di atas, maka komoditas ini menjadi sangat menjanjikan


untuk dikembangkan di daerah ini.
C. Kelapa dan Kakao
komoditas kelapa memiliki berbagai macam kegunaan baik untuk industri pangan
maupun non-pangan. Pengembangan produk utama, produk turunan, dan produk
samping dari kelapa ditujukan untuk mengejar perolehan nilai tambah domestik
(retained domestic value added) secara maksimal. Dari pohon industri kelapa yang
mempunyai prospek pasar meliputi nata de coco, minuman isotonik air kelapa,
desiccated coconut, santan kelapa, virgin coconut oil, pakan ternak, arang
tempurung, arang aktif, tepung tempurung kelapa, serat sabut kelapa, dan produk
turunan (oleokimia) dari virgin coconut oil (minyak kelapa murni). Harga minyak
kelapa murni sesuai standar CODEX Alimentarius di pasar internasional mencapai
US $ 9 per kg, jauh di atas harga minyak goreng.
Air kelapa merupakan cairan yang mempunyai kandungan gizi, terutama mineral,
yang sangat baik untuk tubuh manusia, sehingga air kelapa berpotensi dijadikan
minuman isotonic drink. Permintaan terhadap produk santan kelapa dan desiccated
coconut dimasa datang akan meningkat terutama untuk konsumsi dalam negeri,
seiring dengan terjadinya perbaikan ekonomi domestik dan perubahan gaya hidup
masyarakat perkotaan yang lebih mementingkan segi kepraktisan.
Sebagian agroindustri kelapa dapat dikembangkan dalam skala industri kecil dan
sebagian dalam industri besar. Beberapa jenis produk agroindustri kelapa dapat
dikembangkan dalam bentuk kluster antara industri kecil dengan industri menengah
seperti industri sabut kelapa (industri kecil) dengan industri finishing serat sabut
kelapa (industri menengah), industri arang tempurung (industri kecil) dengan industri
arang aktif (industri menengah). Agroindusti oleokimia dari kelapa merupakan
industri teknologi tingi, dan diproyeksikan akan dapat dilaksanakan lima tahun

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 76

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

mendatang. Total kebutuhan investasi untuk pengembangan agroindustri kelapa


selama 5 tahun diperkirakan mencapai Rp. 1,8 trilyun.
Pendapatan merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kegiatan
seorang petani dalam berusahatani. Luas lahan usahatani akan mempengaruhi
besar kecilnya pendapatan yang diterima dari produksi usahatani. Komoditas kelapa
di daerah kajian, dapat memberikan tingkat pendapatan yang memadai bagi
kehidupan masyarakat tani setempat, seperti tergambar pada tabel berikut.
TABEL 5.13
RATA-RATA PENDAPATAN UNTUK BEBERAPA KOMODITI PERKEBUNAN DI
KABUPATEN MALUKU TENGGARA
Jenis Komoditi
Perkebunan
Kakao
Kelapa
Kenari
Jambu Mente
Pala
Cengkeh
Jumlah

Rata-rata
Penerimaan
(Rp/Thn)
8.523.000
9.725.000
10.250.000
8.634.000
7.542.000
5.750.000
50.424.000

Rata-Rata
Biaya
Produksi(Rp/
Thn)
2.780.000
2.825.000
3.426.500
2.238.000
2.145.000
2.502.000
15.916.500

Pendapatan
(Rp/Thn)
5.743.000
6.900.000
6.823.500
6.396.000
5.397.000
3.248.000
34.507.500

R/C

B/C

3.07
3.44
2.99
3.86
3.52
2.29
3.19

2.07
2.44
1.99
2.86
2.52
1.29
2.19

Tabel tersebut memberi gambaran umum terhadap beberapa tanaman perkebunan


seperti kelapa, kakao, kenari, jambu mente, pala, dan cengkeh yang layak secara
ekonomi untuk dikembangkan, karena nilai R/C dan B/C lebih besar dari satu.
Maknanya, setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan untuk melakukan kegiatan
usaha tanaman perkebunan, akan memperoleh penerimaan dan keuntungan yang
lebih besar dari satu.
Berdasarkan hasil kajian terhadap usahatani beberapa tanaman perkebunan
tersebut menunjukkan bahwa penguatan komoditi yang diusahakan petani setempat
akan memberikan keuntungan dan kontribusi yang besar bagi kehidupan rumah
tangga petani. Petani harus lebih dikuatkan kapasitasnya agar lebih intensif, higienis
dan lestari dalam berusahatani sehingga keuntungan yang diperoleh dari penjualan

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 77

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

berbagai produk organik dari komoditi yang dikembangkan secara polikultur dimasa
yang akan datang, akan lebih baik dan sustainable.

5.9.

Analisis Pengembangan Kehutanan

5.9.1 Potensi dan Sebaran Komoditas Kehutanan


Sebaran hutan di Kabupaten Kepulauan Aru sangat luas dan tersebar secara merata
baik di wilayah Aru bagian Utara, Menengah dan Selatan. Selain hutan lindung dan
hutan konservasi yang ditujukan untuk menjaga kelestarian lingkungan, ada Hutan
Produksi Tetap dan Hutan Produksi Konversi dengan luasan masing-masing
173.778,12 ha dan 378.583,4 ha. Pada tahun 2006 telah dihasilkan 110 meter kubik
kayu meranti dan 300 meter kubik kayu rimba campuran. Disamping itu juga
dihasilkan kayu gergajian dan kayu gelondongan. Dengan luasan Hutan Produksi
dan Hutan Produksi Konversi di atas, potensi untuk meningkatkan produksi jenis
kayu-kayu di atas cukup besar.
Selain itu, hampir di sepanjang pantai Kabupaten Kepulauan Aru ditemui banyak
hutan mangrove. Mangrove merupakan ekosistem penyangga antara lautan dengan
daratan dan memegang peranan penting dalam mendukung produktivitas di laut.
Selain itu mangrove berperan dalam memperluas daratan, sebagai pelindung pantai
dan abrasi dan lain-lain. Pada tahun 2004 di Kepulauan Aru dijumpai beberapa
spesies mangrove diantaranya Rhizophora mucronata, A. Floridum, Ceriops Tagal
dan lain-lain. Jumlah dan kerapatan mangrove dapat dilihat pada tabel berikut:
TABEL 5.14
DISTRIBUSI LAMUN, LUAS, DAN PERSEN TUTUPAN KEPULAUAN ARU

Kecamatan

Desa

Jumlah
Jenis

Kep. Aru

Benjina
Ulir

5
2

Kerapatan
Mangove (ind/Ha)
Semai
Pancang
103
204.6
6.4
52

Sumber : RTR Pesisir dan Kelautan Wilayah Maluku dalam RTRW Kab Ke Aru

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 78

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

TABEL 5.15
JENIS MANGROVE YANG DITEMUKAN DI MALUKU
No.

Famili

1.

Rhizophoraceae

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Maliaceae
Combtreacea
Myrsinacea
Myrtacea
Sterculiacea
Bombacaceae
Bignoiaceae

Jenis
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Rhizophora apiculata
Rhizophora mucronata
Rhizophora stylosa
Bruquiera gymnorrhiza
Ceriop tagal
Xylocarpus moluccensis
Lumnitzera littorea
Aegiceras corniculatum
Osbornia octodonta
Heritiera littoralis
Camtostemon schultzii
Dolichadrone spathacea

Sumber: Tupan, 2000

Kondisi hutan mangrove di Kepulauan Aru tergolong cukup stabil dengan indeks
keanekaragaman sebesar 2,687 yang menunjukan keanekaragaman jenisnya cukup
tinggi. Tegakan hutannya cukup rapat dan lahan-lahan yang terbuka relatif tidak ada.
Jumlah Fauna yang berasosiasi dengan hutan mangrove tergolong sedang, yaitu 19
jenis burung (aves), 18 jenis crustacean, serta 21 jenis kelompok moluska.
Kondisi hutan mangrove di Kepulauan Aru bagian barat tergolong kurang baik
dengan kerapatan tegakan yang tergolong jarang, dan banyak yang sudah terbuka
dan diokupasi masyarakat. Kegiatan tersebut apabila tidak dikelola dengan baik
dikhawatiirkan akan dapat mengganggu kelestarian fungsi ekologis mangrove
sebagai pelindung pantai.

Penyebaran Hutan Mangrove di Kepulauan Aru cukup merata terutama di pesisir


bagian Timur Kepulauan Aru seperti di sekitar Pulau Ngoba, Pulau Warilau, Pulau

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 79

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Belading, Pulau Toposur, Desa Marlasi, Desa Masidan, Desa Gumsei, Desa
Gumzai, Pulau Binaar, Pulau Arakula, Desa Moha, Desa Komfane, Desa
Fakwakwaka, Pulau Wodinhun, Pulau Aduar, Desa Kabalsiang, Desa Benjuring,
Pulau Tabar, Desa Kumul, Pulau Watulei, Pulau Mangan, Desa Worialau, Pulau
Waria, Desa Sewer, Pulau Maria, Pulau Jurisian, Desa Doseninemeleu, Desa Dosi,
Desa Wakua, Desa Karwai, Desa Balatan, Desa Korjabai, Desa Warloi, Pulau Mariri,
Desa Kepala Sungai Korjabi, Desa Warjukur, Desa Kobror, Desa Kaibar, Desa
Warbola, Desa Murai Lama, Pulau Baun, Pulau Penambulai, Pulau Barakan, Pulau
Workai, dan sebaginya.
5.9.2 Kegiatan Prospektif hulu-hilir
Saat ini pada bidang kehutanan tidak ditemukan adanya industri pengolahan (hilir).
Hal ini disebabkan kegiatan utama saat ini adalah memperbaiki lahan kritis dengan
penanaman komoditas kehutanan yang ramah lingkungan dan produktif secara
ekonomi dalam jangka panjang. Namun dalam jangka panjang. Namun demikian
dalam jangka panjang tanaman kayu yang telah ditanam diperkirakan akan dipanen.
Hasil panen akan menciptakan industri pengolahan kayu sekaligus sumber
kesempatan bekerja dan berusaha serta perbaikan pendapatan dan taraf hidup.
Dengan mengacu pada Tabel 5.15 sama seperti halnya dengan sub sektor pertanian
dan perkebunan, pada sub sektor kehutanan alokasi biaya terbesar yang digunakan
untuk rehabilitasi hutan dan lahan dalam bentuk pengadaan bibit tanaman
kehutanan. Sedangkan sub-sistem penunjang adalah pembangunan kelembagaan
dan penyuluhan terpadu serta pendampingan berkelanjutan terhadap masyarakat
agar memelihara kelestarian lingkungan melalui penanaman hutan produktif.
5.10. ANALISIS PENGEMBANGAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
5.10.1 Potensi dan sebaran komoditas perikanan dan kelautan
A. Analisis Geo-BioFisika-Kimia
1. Geomorfologi
Kepulauan Aru terdiri atas banyak pulau yang satu sama lainnya memiliki
karakteristik yang berbeda-beda, Pulau-pulau besar meliputi Pulau Koba, Pulau
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 80

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Wokam, Pulau

Kobror, Pulau Maekoor,

Pulau Trangan dsb. Pulau Wamar

merupakan salah satu pulau di Kepulauan Aru, merupakan lokasi Ibukota Kabupaten
Kepulauan Aru. Pulau Wamar memiliki topografi relative datar dengan kemiringan
rata-rata kurang dari 15%, ketinggian umumnya kurang dari 50 m dpl termasuk
dalam dataran rendah. Pesisir pantainya terdiri atas pantai berpasir dan pada
beberapa tempat terdapat pantai bertebing. Secara geomorfologis Pulau Wamar
telah mengalami proses abrasi di sebagian pantai. Penggunaan lahan yang dominan
adalah hutan lahan kering, dibagian timur terdapat hutan mangrove, sedangkan
disebelah barat terdapat lahan perkebunan. Dibagian Utara Pulau Wamar
merupakan pusat permukiman, pemerintahan dan perkantoran, terdapat pula
sarana dan prasarana transportasi laut, darat dan udara.

Pasar, pertokoan dan

fasilitas perkotaan lainnya.


Pulau Wokam merupakan salah satu pulau terbesar di Kepulauan Aru, terletak di
sebelah barat Ibukota Kabupaten Kepulauan Aru.

Sama seperti Pulau Wamar,

Pulau Wokam memiliki topografi relative datar dan termasuk dalam dataran rendah.
Pesisir pantainya terdiri atas pantai berpasir dan pada beberapa tempat terdapat
pantai bertebing. Secara geomorfologis Pulau Wokam telah mengalami proses
abrasi di sebagian pantai khususnya di bagian timur. Penggunaan lahan yang
dominan adalah hutan lahan kering, di sebagian besar pesisir bagian timur terdapat
hutan mangrove, sedangkan disebelah barat hutan mangrove terdapat di sekitar
Desa Laelalaut, Samang, Jabulenga, Tunggu dan Desa Selimar. Permukiman
umumnya menyebar sepanjang pesisir Timur dan Barat, Umumnya penduduk di
Pulau Wokam memiliki matapencaharian sebagai Nelayan.

Umumnya kondisi

permukiman penduduk di Pulau Wokam cukup memprihatinkan karena kondisi


bangunan umumnya adalah temporer dengan infrastruktur permukiman dan utilitas
yang minim seperti Jalan, air bersih, listrik, telepon serta sarana transportasi dan
sebagainya.
Pulau Kobror termasuk salah satu pulau terbesar di Kepulauan Aru, terletak di
sebelah selatan Pulau Wokam.

Pulau Kobror memiliki topografi relative datar dan

termasuk dalam dataran rendah. Pesisir pantainya terdiri atas pantai berpasir dan
pada beberapa tempat terdapat pantai bertebing khususnya di bagian selatan.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 81

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Secara geomorfologis Pulau Kobror telah mengalami proses abrasi di sebagian


pantai khususnya di bagian timur. Penggunaan lahan yang dominan adalah hutan
lahan kering, di sebagian besar

pesisir bagian timur terdapat hutan mangrove,

sedangkan disebelah barat hutan mangrove terdapat di sekitar Desa Wakua,


Namara, dsb. Permukiman umumnya menyebar sepanjang pesisir Timur, Selatan
dan Barat, Umumnya penduduk di Pulau Kobror memiliki matapencaharian sebagai
Nelayan.

Umumnya kondisi permukiman penduduk di Pulau Kobror cukup

memprihatinkan karena kondisi bangunan umumnya adalah temporer dengan


infrastruktur permukiman dan utilitas yang minim seperti Sarana pendidikan,
kesehatan, jalan, air bersih, listrik, telepon serta sarana transportasi dan sebagainya.
Pulau Maekor termasuk salah satu pulau terbesar di Kepulauan Aru, terletak di
sebelah selatan Pulau Kobror.

Pulau Maekor memiliki topografi relative datar dan

termasuk dalam dataran rendah. Pesisir pantainya terdiri atas pantai berpasir dan
pada beberapa tempat terdapat pantai bertebing khususnya di bagian selatan dan
utara. Secara geomorfologis Pulau Maekor telah mengalami proses abrasi di
sebagian pantai khususnya di bagian Barat. Penggunaan lahan yang dominan
adalah hutan lahan kering, di sebagian kecil Pulau Bagian Timur terdapat hutan
mangrove. Permukiman umumnya menyebar di bagian barat Pulau. Umumnya
penduduk di Pulau Maekor memiliki matapencaharian sebagai Nelayan.
Sama halnya dengan Pulau-pulau Wamar, Wokam, Kobror dan Maekor, umumnya
pulau-pulau di Kepulauan Aru seperti Pulau Koba, Tragan serta pulau-pulau kecil
lainnya memiliki permasalahan geomorfologi yang hampir sama yaitu dominasi
penggunaan lahan sebagai hutan lahan kering dan di pesisir umumnya adalah hutan
mangrove. Umumnya pulau-pulau di Kepulauan Aru memiliki topografi yang relative
datar dan di sebagian tempat berbukit. Pesisir pantainya sebagian berpasir tetapi
umumnya bertebing dan berawa. Permukiman penduduk umumnya menyebar di
pesisir pantai dengan kualitas permukiman yang umumnya kurang baik serta
terbatasnya sarana dan prasarana permukiman.
2. Plankton

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 82

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Jumlah jenis phytoplankton di Kepulauan Aru di tiga wilayah (Benjina, Dobo, dan
Pulau Ujir) mencapai 21, 24, dan 27 jenis. Sedangkan keragaman spesies juga
relatif tinggi, yaitu mencapai 2,36, namun tidak terlihat adanya dominasi jenis.
Kondisi di pulau-pulau Aru memperlihatkan bahwa perairannya cenderung tetap
stabil terhadap perubahan lingkungan.

TABEL 5.16
JUMLAH PHYTOPLANKTON BERDASARKAN
JENIS & TITIK SAMPEL DI KEP.ARU
Titik Sampel
Organisme
Benjina
Cyanophyceae:
Trichodesmium sp.
Bacillariophyceae:
Biddulphia sp.
Dactyliosolen sp.
Lauderia sp.
Guainardia sp.
Eucampia sp.
Hemiaulus sp.
Rhizosolenia sp.
Chaetoceros sp.
Bacteriastrum sp.
Coscinodiscus sp.
Hemidiscus sp.
Amphora sp.
Amphiprora sp.
Thalassiothrix sp.
Thalassionema sp.
Nitzschia sp.
Navicula sp.
Leptocylindrus sp.
Pleurosigma sp.
Climacodium sp.
Ditylum sp.
Climacosphenia sp.
Rhabdonema sp.
Corethron sp.

Dobo

0
935910
883915
1143890
51995
2495760
883915
779925
11022940
1663840
1091895
51995
51995
0
51995
51995
779925
0
259975
259975
779925
0
0
0
0

51995
2963715
467955
831920
571945
4107605
207980
1975810
2443765
571945
1559850
51995
103990
0
103990
415960
831920
0
155985
103990
103990
103990
311970
519950
51995

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

Pulau Ujir
311970
207980
155985
207980
935910
1299875
0
1455860
2859725
415960
571945
51995
363965
51995
0
0
1299875
207980
0
467955
155985
0
0
0
0

5- 83

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Steptotheca sp.
Gyrosigma sp.
Ceratulina sp.
Achnanthes sp.
Cymbella sp.
Diploneis sp.
Bacillaria sp.
Dinophyceae:
Peridinium sp.
Ceratium sp.
Organisme
Jumlah Indvidu/m2
Jumlah Taksa
Indeks Keragaman
Indeks Keseragaman
Indeks Dominansi

259975
0
0
0
0
0
0

51995
0
0
0
0
0
0

0
363965
51995
103990
51995
51995
103990

831920
0

207980
51995
Titik Sampel

1975810
0

Benjina

Dobo

24385655
21
2.09
0.69
0.23

18978175
27
2.53
0.77
0.11

Pulau Ujir
13726680
24
2.58
0.81
0.1

Zooplankton di Kepulaun Aru juga menunjukan jumlah yang relatif rendah

(4-8

jenis), yaitu dari kelompok protozoa dan copepoda. Tingkat dominasi relatif rendah.
Pengaruh kondisi lingkungan, seperti arus dan bahan organik menyebabkan
populasi zooplankton berkembang lebih banyak.
TABEL 5.17
JUMLAH ZOOPLANKTON BERDASARKAN JENIS DAN TITIK SAMPEL
DI KEPULAUAN ARU

Organisme
Protozoa:
Amporellopsis sp.
Codonellopsis sp.
Favella sp.
Dinophysis sp.
Porticella sp.
Copepoda:
Organisme
Nauplius (Stadia)
Calanus sp.
Oithona sp.
Corycaeus sp.

Benjina

Titik Sampel
Dobo
Pulau Ujir

0
2767
0
0
0

3773
18865
3773
3773
18865

0
20247
8677
0
0

Titik Sampel
Benjina
41509
0
4842
691

Dobo
17359
7546
18865
0

Pulau Ujir
133054
0
2892
0

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 84

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Microsetella sp.
Jumlah Taksa

0
4

0
8

2892
5

Jumlah Individu/m2
Indeks Keragaman
Indeks Keseragaman
Indeks Dominansi

50079
0.60
0.43
0.70

92819
1.88
0.90
0.17

167762
0.73
0.46
0.65

Populasi plankton di Kepulauan Aru, seperti di daerah Dobo, Benjina, dan Pulau Ujir
memperlihatkan perbedaan yang signifikan. Jumlah jenis dari populasi yang
ditemukan di daerah Dobo umumnya seragam dan tidak ada jenis yang
mendominansi (0,17). Kondisi ekosistem ini memperlihatkan bahwa daerah Dobo
sudah mengalami perkembangan kualitas perairan yang kompleks, seperti
pencemaran organik.
3. Benthos
Biota bentik di Kepulauan Aru juga relatif terbatas, terutama di daerah Benjina. Hal
ini menunjukkan bahwa terjadi tekanan lingkungan yang cukup kuat di daerah ini,
seperti buangan minyak kapal trawl yang menangkap udang disekitar pulau-pulau
Aru, limbah organik dari pemukiman masyarakat, dan sebagainya. Proses trawling
tersebut menyebabkan tidak bertahannya kehidupana biota dasar (bentic).
Sedangkan di Dobo dan Pulai Ujir, terlihat adanya dominasi spesies. Perubahaan ini
menujukkan bahwa di kedua daerah tersebut mengalami tekanan yang cukup kuat
dari aktivitas perikanan.
4. Kualitas Biofisik Wilayah
Pulau Kobror (Benjina) merupakan salah satu gugus pulau di kepulauan Aru. Antara
satu lokasi dengan lokasi lainya dipisahkan oleh sebuah celah yang cukup dalam
dengan keadalam bervariasi antara 30-50 m.

Sementara itu, di sekitar pinggir

terusan tersebut ditumbuhi oleh mangrove yang cukup tebal, sehingga menjadikan
bagian pinggirnya menjadi daerah yang berlumpur, karena proses degradasi daundaun bakau yang terjadi dalam waktu lama.

Pada saat musim hujan, biasanya

terusan ini keruh karena pergerakan air dari timur atau dari barat. Bagian yang
berbatu umumnya terjal dan memiliki tumbuhan pantai dengan jumlah yang sangat
sedikit. Kekeruhan perairan di Benjina selain di sebabkan oleh perputaran arus,

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 85

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

juga karena proses penangkapan udang yang terjadi di daerah tersebut. Jarak
antara kedua sisi terusan tersebut bervariasi, yaitu antara 100-300 meter. Namun
demikian, wilayah terusan ini lebih terlindung saat musim barat maupun musim
timur. Pada umumnya, karakter Pulau Kobror merupakan kawasan yang terdiri dari
rawa-rawa, hutan bakau yang cukup tebal, hutan pantai, serta pantai berbatu dan
berpasir halus.

Pulau Wamar juga memiliki kemiripan dengan Pulau lainnya di Aru.

Namun

demikian, biofisik pantai di daerah Dobo lebih banyak mengalami perubahan karena
proses aktvitas manusia, seperti reklamasi dan pengurukan pantai untuk mendirikan
bangunan.

Sampai saat ini, belum ada aturan yang dapat mengikat semua

masyarakat untuk tidak mengembangkan perluasan bangunanya kearah pantai.


Bahkan, juga terjadi penebangan hutan bakau untuk membuka pemukiman baru.
Bagian pantai yang menghadap laut bebas umumnya berpasir putih dengan lebar
pantai saat pasang rendah tidak lebih dari 10 meter. Kondisi ini menunjukkan bahwa
topografi pantai wilayah neritik relatif lebih pendek, karena langsung berbatasan
dengan laut dalam. Sedangkan di wilayah yang terdapat hutan pantai atau celah
yang sempit umumya berlumpur dengan kedalam lumpur lebih dari 1 meter. Bagian
barat pantai ini kurang cukup terlindung saat musim barat karena langsung
berhadapan dengan laut aru, sehingga resiko abrasi di bagian barat lebih besar dari
bagian timur.

Sedangkan bagian timur relatif terlindung, karena langsung

berhadapan dengan Pulau Kobror (Benjina).

Pulau Ujir berada di utara Pulau Wamar dan Pulau Workam. Kondisi biofisik
lingkungan pantai di Pulau Ujir juga beragam.

Pantai

yang relatif terlindung

umumnya memiliki struktur pantai yang berpasir. Sehingga juga dapat ditemukan
beberapa jenis lamun seperti Enhalus acoroides. Sedangkan yang mengarah ke
laut bebas umumnya berbatu cadas dengan lebar pantai yang pendek. Tumbuhan
pantai seprti mangrove umumnya tumbuh di bagian pantai yang ada celah atau
terusanya. Ketebalannya mencapai 300-500 meter. Sehingga pada bagian pantai
yang masih kuat pengaruh pasang surut masih dapat ditemukan daerah berlumpur.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 86

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Mangrove yang tumbuh umumnya tinggi-tinggi dan telah berumur puluhan tahun.
Struktur pantai di zona neritik lebih pendek, dan langsung berhadapan dengan laut
dalam.
5. Kualitas Air
Kawasan Benjina merupakan kawasan yang cukup terbuka dan memiliki sirkulasi air
yang cukup

banyak.

Daerah ini merupakan pusat penangkapan udang.

Penangkapan udang umumnya dilakukan dengan menggunakan trawl sehingga


menyebabkan kerusakan ekosistem terumbu karang dan lamun.

Penangkapan

udang selain dilakukan dilaut lepas juga dilakukan didekat kawasan pantai.
Dobo merupakan pusat ibukota Kepulauan Aru. Selain sebagai pusat kegiatan
bongkar muat, daerah ini juga merupakan pusat aktivitas masyarakat.

Kegiatan

perikanan yang berkembang seperti karamba kurang berkembang disekitar Dobo.


Sekeliling kawasan ini, ditumbuhi oleh mangrove yang cukup tebal. Kerusakan
lingkungan akibat penangkapan juga terjadi di kawasan ini.

Pulau Ujir terletak di sebelah Utara Pulau Aru dan umumnya perairan tersebut relatif
baik serta ingkungannya tidak banyak mengalami degradasi.

Namun demikian,

aksesibilitas ke dan dari lokasi ini agak terbatas, kapal nelayan yang hanya berjalan
sekali dalam sehari.
TABEL 5.18
KUALITAS AIR BERDASARKAN PARAMETER FISIKA DAN KIMIA
DI KEPULAUAN ARU
NO
.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.

Parameter
F I S I K A:
Warna
Kekeruhan
Padatan
(TSS)
Suhu
Kecerahan
Salinitas
K I M I A:
pH

Satuan

Rataan

Pt.Co.
NTU

5.000
0.357

mg/l
o
C
meter
O
/oo
-

Kualitas Gol B untuk Budidaya dan


Perikanan
Diperbolehkan
Diiinginkan
< 50
< 30
< 80

< 30
<5
< 25

4.000
29.067
3.500
26.333

Alami
10 %

Alami
10 %

8.150

6-9

6,5 8,5

tersuspensi

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 87

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Oksigen terlarut (DO)


Sulfida (H2S)
COD
Ammonia (NH3-N)
Nitrat (NO3-N)
Nitrit (NO2-N)
Sianida (CN
Phosphat
Raksa (Hg)
Kadmium (Cd)
Timah Hitam (Pb)
Khrom heksavalen (Cr6+)
Tembaga (Cu)

mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l
mg/l

6.407
< 0.01
26.620
0.005
0.106
0.005
0.010
0.005
< 0.001
0.047
0.007
< 0.001
0.016

>4
< 0,03
< 80
<1
Nihil
0,2
< 0,003
< 0,01
< 0,01
< 0,01
< 0,06

>6
< 0,01
< 40
< 0,3
Nihil
< 0,5
0,0001
0,00001
0,0002
0,0004
0,001

TABEL 5.19
HASIL ANALISIS KUALITAS AIR
DI BEBERAPA LOKASI PENGAMATAN DI LAUT ARU
No.

Parameter

Fisika
1.
Suhu
2.
Salinitas
3.
Kecerahan
4.
Kekeruhan
5.
Kedalaman
Kimia
6.
pH.
7.
Oksigen terlarut
8.
BOD5
9.
Ammonia
10. Nitrat
11.
Silikat
12. Fosfat Total
13. Nitrogen total
Biologi
14. Fhitoplankton
15. Zooplankton
16. Klorofil-a
17. Produktivitas primer
18. Ratio Fp/Zp

Satuan
0 C

m
NTU
m

mg/I
mg/I
mg/I
mg/I
mg/I
mg/I
mg/I
ind/I
ind/I
/I
ppm O2/h

29.5
29

30.5
26

29.5
21

30
22

33
8

0.6
20

225
5

2.5
6

120
1

25
11

7
5.8
0.44
0.374
0.36
0.854
0.002
3.78

7
3.6
3.2
0.471
0.36
0.765
0.276
4.2

7
6.2
2.4
0.284
0.35
1.703
0.003
3.92

7
5.2
2.8
0.087
0.9
1.794
0.361
3.22

6.5
6.4
1.6
0.112
0.66
2.427
0.026
1.82

1.199
99
0.883

129.984
1.069
1.023

92.202
582
4.614

1.306
462
2.718

12.1

9.4

158.4

61.442
1.423
18.49
0.8
43.2

2.8

Stasiun 1 = Benjina; Stasiun 2 = Kelar-kelar; Stasiun 3 = Dobo; Stasiun 4 =


Timur Wokam; Stasiun 5 =Maparpe

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 88

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Oksigen terlarut yang tercatat selama pengamatan berkisar 4,8-6,8 ppm dengan
rata-rata 6,1 ppm di bagian barat dan berkisar 3,6-7,2 ppm dengan rata-rata 5,1 ppm
di bagian timur, yang cukup bagi kehidupan organisme laut termasuk ikan yang
memerlukan oksigen terlarut sekitar 4-5 ppm untuk kelangsungan hidupnya. Nilai ini
merupakan resultante dari nilai oksigen terlarut yang di hasilkan oleh organime air
yang bersifat autotrof dalam proses foto sintesis dan penambahan lewat interaksi
antara udara dan permukaan laut.
Nilai BOD (oksigen yang diperlukan secara biologis) berkisar 2,0-5,2 ppm per 5 hari
atau sekitar 0,40-1,04 ppm per hari di bagian barat dan 0,44-7,20 ppm per 5 hari
atau sekitar 0,09-1,44 ppm per hari di bagian timur. Kebutuhan ini sudah terpenuhi
oleh oksigen di perairan ini, yang dihasilkan oleh fitoplankton dan interaksi udaralaut yang besarnya rata-rata 5,1 ppm. Nilai BOD tersebut juga menunjukan bahwa
perairan laut Arafura masih bersih, belum tercemar oleh bahan organik.
Produktifitas primer fitoplankton tidak di ukur di semua stasiun karena kebanyakan
pengambilan contoh dilakukan pada sore atau malam hari sehingga tidak dapat
dilakukan inkubasi atau pencahayaan. Dari eksperimen pengukuran produktifitas
primer yang di lakukan, diperoleh nilai 0,8 ppm O2/jam di bagian barat dan sebesar
rata-rata 1,0 ppm O2/jam di bagian timur. Jika dianggap dalam satu hari terdapat 12
jam penyinaran oleh matahari, maka akan diperoleh produksi oksigen sebesar 9,612,0ppm O2/hari.Nilai tersebut setara dengan 9,6-12,0 g O2/m3/hari.
Kandungan chlorophyll-a berkisar antara 0,412-18,490 mg/liter dengan rata 3,021
mg/liter, termasuk tinggi untuk menghasilkan produksi primer dan bagi makanan
biota laut (larva udang,ikan,dll). Fitoplankton di perairan ini cukup mendapatkan
nutrien yang diperlukan untuk keperluan produksi, yang tercatat berturut-turut
sebesar 0,003-0,127 ppm, 0,415-2,427 ppm, dan 0,001-0,361 ppm berturut-turut
untuk nitrat, silikat, dan fosfosfat (Kaswadji, 2005).
B. Analisis Sumberdaya Ikan
1.

Ikan Pelagis

(1) Ikan Pelagis Kecil


Tingkat pemanfaatan ikan pelagis kecil dari perairan Kabupaten Kepulauan Aru
bervariasi antar kecamatan yang satu dengan lainnya karena potensi dan produksi

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 89

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

dari masing-masing kecamatan berbeda-beda. Produksi ikan pelagis yang terdata


untuk jenis ikan kembung (Rastrelliger sp), terbang (Chypsilurus sp), tembang
(Sardinella sp) dan julung (Hemirahmpus sp) mencapai 2.951,5 ton. Kondisi ini
menyatakan bahwa pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil di seluruh perairan
Kabupaten Kepulauan Aru pada wilayah 0-4 mil laut dari batas surut terendah untuk
keempat jenis ikan pelagis kecil ini diperkirakan mencapai 16,89 % dari potensi ikan
pelagis kecil yang ada atau 33,78 % dari MSY dan 42,23 % dari JTB.
Dengan demikian, bila mengacu pada produksi keempat jenis ikan pelagis kecil ini,
maka ikan pelagis kecil yang masih diperbolehkan untuk ditangkap dari perairan
Kabupaten Kepulauan Aru (wilayah perairan 0-4 mil laut) sebesar 57,77 % lagi. Nilai
ini akan lebih kecil lagi bila semua jenis ikan pelagis kecil yang ditangkap di perairan
Kabupaten Kepulauan Aru dapat terdata secara menyeluruh. Di sisi lain,
kemungkinan pemanfaatan ikan pelagis kecil ini akan lebih besar lagi, bila nelayan
Kabupaten Kepulauan Aru dapat memanfaatkan potensi yang tersedia di wilayah
kelola Provinsi Maluku (4-12 mil laut) yang berbatasan langsung dengan perairan
Kabupaten Kepulauan Aru.
TABEL 5.20
PERKIRAAN POTENSI SUMBERDAYA IKAN PELAGIS KECIL
SESUAI DENGAN JALUR PENANGKAPAN DI PERAIRAN
KABUPATEN KEPULAUAN ARU

No
1.

2.

3.

Total

Kecamatan

Potensi Jalur 0-3 mil laut


(la)
Ptn.
MSY
JTB
(ton)
(tn/th)
(tn/th)

Potensi Jalur 3-6 mil


laut (lb)
Ptn.
MSY
JTB
(ton)
(tn/th)
(tn/th)

P.P. A r u
dan Aru
Utara

2.266,
98

1.133,
49

906,79

924,8
7

462,43

369,95

960,07

480,03

384,03

Aru Tengah,
Aru Tengah
Timur dan

3.620,
07

1.810,
04

1.448,03

946,8
1

473,41

378,73

733,01

366,51

293,20

2.494,
34

1.247,
17

997,74

1.367
,54

683,77

547,02

1.
1.171,4
3

585,71

468,57

8.381,

4.190,

3.352,56

3.239

1.619,61

1.295,

2.864,5

1.432,2

1.145,

Aru Selatan
dan
Aru Selatan
Timur

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

Potensi Jalur 6-12 mil


laut (ll)
Ptn.
MSY
JTB
(ton)
(tn/th) (tn/th)

5- 90

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

39

70

,23

69

80

Keterangan :
Nild IK berdasarkan KOMNAS Pengkajian Stok Sumberdaya Perikanan (2001);
Luas daerahpenyebaran berdasarkan Citra ]-ansat ETM 7+, peta
batimetri Kab. Kep Aru dan peta]alur-Jalur Penangkapan Ikan Kabupaten
Kepulauan Aru

Peruntukan wilayah penangkapan ikan sesuai jalur penangkapan menurut SK


MENTAN No. 392/Kpts./IKl 20/4/1999, menyatakan bahwa pada jalur penangkapan
ikan 0-3 mil laut (jalur la) dari batas pantai diperkirakan memiliki potensi
sumberdaya ikan pelagis kecil sebesar 8.381,39 ton dengan MSY sebesar 4.10,70
ton/tahun dan JTB sebesar 3.352,56 ton/tahun. Perkiraan potensi ikan pelagis di
jalur 3-6 mil laut (jalur Ib) sebesar 3.239,23 ton dengan MSY sebesar 1.619,61
ton/tahun dan JTB sebesar 1.295,69 ton/tahun. Pada jalur penangkapan 6-12 mil
laut (jalur II), potensi sumberdaya ikan pelagis kecil diperkirakan sebesar 1.171,43
ton dengan MSY sebesar 585,71 ton/tahun dan JTB sebesar 1.145,80 ton/tahun
(Tabel 5.20).
Perkiraan potensi sumberdaya ikan pelagis kecil menurut wilayah ekologis dapat
menjadi acuan bagi pemanfatan sumberdaya ini, dengan mempertimbangkan aspek
berwawasan lingkungan sesuai dengan pembagian wilayah ekologis di Kabupaten
Kepulauan Aru. Potensi ikan pelagis kecil, tertinggi di wilayah ekologis Wokam Kola
yakni 6.470,88 ton dengan MSY sebesar 3.235,44 ton/tahun dan JTB sebesar
2.588,35 ton/tahun. Potensi yang juga masih tinggi di wilayah ekologis Pulau Karang
Timur sebesar 6.235,26 ton dengan MSY sebesar 3.117,63 ton/tahun dan JTB
sebesar 2.494,10 ton/tahun. Potensi ikan pelagis kecil di wilayah ekologis Kobror
Koba Maikor yang terendah dibandingkan dengan potensi di wilayah ekologis lainnya
(Tabel 5.21).
TABEL 5.21
PERKIRAAN POTENSI SUMBERDAYA IKAN PELAGIS KECIL
MENURUT WILAYAH EKOLOGIS DI PERAIRAN KABUPATEN
KEPULAUAN ARU
No
1.

Wilayah
Ekologis
Wokam Kola

Ptn. (ton)
6.470,88

Potensi
MSY (tn/th)
3.235,44

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

JTB (tn/th)
2.588,35

5- 91

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

2.

Kobror Koba
Maikor

1.920,15

960,07

768,06

3.

Trangan

2.847,14

1.423,57

1.138,86

4.

Pulau Karang
Timur

6.235,26

3.117,63

2.494,10

Keterangan :

Nilai IK berdasarkan KOMNAS Pengkajian Stok Sumberdaya Perikanan (2001);

Luas daerah penyebaran berdasarkan Citra Lansat ETM 7+, peta


batimetri Kab. Kep Aru dan peta Wilayah Hkologis Kabupaten
Kepulauan Aru

Potensi sumberdaya ikan pelagis di tiap wilayah ekologis pada Tabel 5.9, di atas
merupakan batas wilayah kelola Kabupaten Kepulauan Aru (0-4 mil laut). Dengan
demikian nelayan Kabupaten Kepulauan Aru juga dapat memanfaatkan potensi yang
tersedia pada perairan yang menjadi wilayah kelola Provinsi Maluku (4-12 mil laut)
yang berbatasan dengan wilayah ekologis didekatnya.
(2) Ikan Pelagis Besar
Sumberdaya ikan pelagis besar di Kabupaten Kepulauan Aru yang diproduksi selama
tahun 2005 telah dicapai untuk penangkapan ikan tuna (Thunnus sp), cakalang
(Katsuwonus pe/amis), tenggiri (Scomberomorus sp) dan tongkol (Auxiz thazard;
Euthynnus affinis) sebesar 2.990,3 ton, maka tingkat pemanfaatan ikan pelagis
besar telah mencapai 37,69 % dari potensi yang tersedia atau 75,37 % dati jumlah
tangkapan maksimum lestari (MSY) dan 94,22 % dari jumlah tangkapan yang
diperbolehkan (JTB).
TABEL 5.22
PERKIRAAN POTENSI SUMBERDAYA IKAN PELAGIS BESAR
MENURUT JALUR PENANGKAPAN DI PERAIRAN
KABUPATEN KEPULAUAN ARU

No

Kecamatan

Potensi Jalur 0-3 mil laut


(la)
Ptn.
MSY
JTB
(ton)
(tn/th)
(tn/th)

1.

P.P. A r u
dan Aru
Utara

483,71

241,86

93,49

Potensi Jalur 3-6 mil laut


(lb)
Ptn.
MSY
JTB
(ton)
(tn/th)
(tn/th)

Potensi Jalur 6-12 mil


laut (ll)
Ptn.
MSY
JTB
(ton)
(tn/th) (tn/th)

197,34

204,85

98,67

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

78,94

102,43

5- 92

81,94

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

2.
3.

Aru Tengah,
Aru Tengah
Timur dan
Aru Selatan
dan
Aru Selatan
Timur

Total

772,43

386,21

308,97

202,03

101,01

80,81

156,41

78,20

62,56

532,23

266,11

212,89

291,80

145,90

116,72

249,95

124,98

99,98

1.788,3
7

894,18

715,35

691,17

345,58

276,47

611,21

305,61

244,48

Keterangan :
Nilai IK berdasarkan KOMNAS Pengkajian Stok Sumberdaya Perikanan (2001);
Laos daerah penyebaran berdasarkan Citra Lansat ETM 7+, peta
batimetri Kab. Kep Aru dan peta Wilayah Ekolqgis Kabupaten Kepulauan
Aru

Sesuai dengan jalur-jalur penangkapan ikan di perairan Kabupaten Kepulauan Aru,


maka diperkirakan potensi sumberdaya ikan pelagis besar di wilayah 0-3 mil laut (jalur
la) sebesar 1.788,37 ton dengan MSY sebesar 894,18 ton/tahun dan JTB sebesar
715,35 ton/tahun. Di jalur penangkapan ikan pada wilayah 3-6 mil laut (jalur Ib),
potensi ikan pelagis besar diperkirakan sebesar 691,17 ton dengan MSY sebesar
345,58 ton/tahun dan JTB sebesar 276,47 ton/tahun. Jalur penangkapan 6-12 mil
laut (jalur II) memiliki potensi ikan pelagis besar sebesar 611,21 ton dengan MSY
sebesar 305,61 ton/tahun dan JTB sebesar 244,48 ton/tahun (Tabel 5.22)
TABEL 5.23
PERKIRAAN POTENSI SUMBERDAYA IKAN PELAGIS BESAR
MENURUT WILAYAH EKOLOGIS DI PERAIRAN KABUPATEN
KEPULAUAN ARU

No

Potensi

Wilayah Ekologis
Ptn. (Ton)

MSY (Ton/thn)

JTB (Ton/thn)

1.380,72

690,36

552,29

1.

Wokam Kola

2.

Kobror Koba Maikor

409,71

204,85

163,88

3.

Trangan

607,51

303,75

243,00

4.

Pulau Karang Timur

1.330,44

665,22

532,18

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 93

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Keterangan :
Nilai IK berdasarkan KOMNAS Pengkajian Stok Sumberdaya Perikanan (2001);
Luas daerah penyebaran berdasarkan Citra LMnsat ETM 7+, peta
batimetri Kab. Kep Aru dan peta Wilayah Ekologis Kabupaten Kepulauan
Aru

Berdasarkan pembagian wilayah ekologis yang termasuk pada wilayah kelola


Kabupaten Kepulauan Aru (0-4 mil laut dari pantai), maka potensi ikan pelagis besar
terbanyak di wilayah ekologis Wokam Kola dan Kobror (Tabel 5.8). Di wilayah
ekologis Wokam Kola, potensi sumberdaya ikan pelagis besar sebesar 1.380,72 ton
dengan MSY sebesar 690,36 ton/tahun dan JTB sebesar 552,29 ton/tahun,
sementara di wilayah ekologis Aru Timur sebesar 1.330,44 ton dengan MSY sebesar
665,22 ton/tahun dan JTB sebesar 532,18 ton/tahun. Potensi sumberdaya ikan
pelagis besar yang dapat dimanfaatkan oleh nelayan Kabupaten Kepulauan Aru ini
pada kenyataannya masih dapat lebih besar lagi karena mereka mampu
menjangkau perairan yang menjadi wilayah kelola Provinsi Maluku (4-12 mil laut).
2. Ikan Demersal
Produksi ikan demersal yang terdata selama tahun 2005 dari perairan Kabupaten
Kepulauan Aru sebesar 5.414,7 ton. Ikan-ikan demersal yang tertangkap terdiri dari
bubara (Caranx sp; Carangoides sp), kerapu (Epinephelus sp), baronang (Siganus
sp), kakap (Lutjanus sp), Sikuda (Lethrinus sp), biji nangka (Upeneus tragula), bawal
(Parastromateus niger), gulama (Argyrosomus amoyensis), sebelah (Synoglosus spp),
beloso (Saulida sp), pari (Dasyatis sp), lencam (Lethrinus sp), belanak (Mugil sp),
raja bau (Plectorhynchus sp) dan sebagainya.
TABEL 5.24
PERKIRAAN POTENSI SUMBERDAYA IKAN DEMERSAL
MENURUT WILAYAH EKOLOGIS DI PERAIRAN KABUPATEN
KEPULAUAN ARU
Kecamatan Potensi Jalur 0-3 mil laut Potensi Jalur 3-6 rail laut Potensi Jalur 6-12 mil laut
(la)
(Ib)
(II)

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 94

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Ptn.
(Ton)
P.P. A r u
dan Aru
Utara

1.589,01

MSY
JTB
(Tn/th) (Tn/th)
794,50

635,60

Aru Tengah, 2.537,43 1.268,72 1.014,97


Aru Tengah
Timur dan
Aru Selatan
dan
Aru Selatan
Timur
Total

1.748,37

874,18

699,35

Ptn.
(Ton)

MSY
JTB
(Tn/th) (Tn/th)

Ptn.
(Ton)

MSY
(Tn/th)

JTB
(Tn/th)

648,27

324,14

259,31

672,94

336,47

269,18

663,65

331,83

265,46

513,79

256,90

205,52

958,56

479,28

383,42

821,09

410,55

328,44

5.874,81 2.937,40 2.349,92 2.270,49 1.135,24

908,19

2.007,83 1.003,92

803,13

Keterangan :
Nilai IK berdasarkan KOMNAS Pengkajian Stok Sumberdaya Perikanan (2001);
Laos daerah penyebaran berdasarkan Gtra Lansat ETM 7+, peta
batimetri Kab. Kep Aru dan peta Wilayah Ekologis Kabupaten
Kepulauan Aru

Potensi sumberdaya ikan demersal di Kabupaten Kepulauan Aru pada wilayah


perairan dapat diperhitungkan sampai pada batas wilayah 12 mil laut karena kondisi
perairannya yang tidak dalam dan nelayan Kabupaten Kepulauan Aru dapat
mengoperasikan alat tangkap hingga wilayah ini. Potensi ikan demersal yang telah
dimanfaatkan sebesar 20,77 % atau 41,55 % dari MSY dan 51,93 % dari JTB (Tabel
5.24). Tingkat pemanfaatan ikan demersal ini, dapat lebih kecil nilainya apabila
diperhitungkan dengan potensi ikan karang konsumsi yang ada karena jenis alat
penangkapan ikan dengan tujuan menangkap ikan demersal ini biasanya juga turut
menangkap ikan karang konsumsi.
Pengelolaan sumberdaya ikan demersal melalui pemanfaatan sumberdaya ikan
dengan mengesploitasinya menggunakan alat penangkapan ikan dapat mengacu
pada potensi yang tersedia di setiap wilayah ekologis yang ada di Kabupaten
Kepulauan Aru. Potensi sumberdaya ikan demersal tertinggi di wilayah ekologis
Wokam Kola dan Aru Timur, yakni 4.535,66 ton dan 4.370,51 ton (Tabel 5.25).

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 95

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

TABEL 5.25
PERKIRAAN POTENSI SUMBERDAYA IKAN DEMERSAL MENURUT
WILAYAH EKOLOGIS DI PERAIRAN KABUPATEN KEPULAUAN ARU
No

Potensi

Wilayah Ekologis
Ptn. (Ton)

MSY (Ton/thn)

JTB (Ton/thn)

1.

Wokarn Kola

4.535,66

2.267,83

1.814,26

2.

Kobror Koba Maikor

1.345,90

672,95

538,36

3.

Trangan

1.995,66

997,83

798,26

4.

Pulau Karang Timur

4.370,51

2.185,25

1.748,20

Keterangan :
Nilai IK berdasarkan KOMNAS Pengkajian Stok Sumberdaya Perikanan (2001);
Luas daerah penyebaran berdasarkan Citra Lansat ETM 7+, peta
batimetri Kab. Kep Aru dan peta Wilayah Ekologis Kabupaten
Kepulauan Am

Perkiraan potensi sumberdaya ikan demersal yang dapat dimanfaatkan oleh


nelayan Kabupaten Kepulauan Aru dapat lebih besar lagi karena mereka mampu
menjangkau wilayah perairan 4-12 mil laut yang adalah wilayah kelola Provinsi
Maluku untuk menangkap ikan.
3. Ikan Karang dan Ikan Hias
Pengambilan data ikan karang pada perairan pantai di Kecamatan Pulau Pulau Aru
dilakukan pada enam titik pengamatan yakni: Desa Durdjela, Blakang Wamar, Desa
Warialau, Pulau Wasir, Pulau Ararkula dan Pulau Babi. Secara keseluruhan pada
kecamatan ini dijumpai sebanyak 151 spesies ikan yang tergolong ke dalam 80
genera dan 37 famili. Kelimpahan spesies ikan karang tertinggi dijumpai pada titik
pengamatan di Pulau Wasir yakni sebanyak 123 spesies dan terendah dijumpai
pada titik pengamatan di Pulau Ararkula yakni sebanyak 37 spesies. Pada tingkat
genera, kelimpahan tertinggi juga dijumpai pada titik pengamatan di Pulau Wasir
yakni sebanyak 67 genera dan terendah dijumpai pada titik pengamatan di Pulau
Ararkula yakni sebanyak 28 genera. Sedangkan pada tingkat famili, kelimpahan
tertinggi dijumpai pada titik pengamatan di Pulau Wasir dan Pulau Babi yakni
sebanyak 27 genera dan terendah dijumpai pada titik-titik pengamatan lainnya
yakni sebanyak 23 famili.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 96

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Data yang disajikan pada Tabel 5.26 memperlihatkan bahwa secara keseluruhan
jumlah spesies ikan konsumsi lebih tinggi dari jumlah spesies ikan hias walaupun
perbedaannya sangat kecil. Sedangkan bila dilihat berdasarkan titik pengamatan
maka pada titik-titik pengamatan di Durdjela, Belakang Wamar dan Ararkula jumlah
spesies ikan konsumsi lebih tinggi dari jumlah spesies ikan hias. Sebaliknya pada
titik-titik pengamatan di Wasir, Warialau dan P. Babi jumlah spesies ikan hias lebih
tinggi dari jumlah spesies ikan konsumsi.
Pada tabel 5.26 juga terlihat bahwa kepadatan ikan karang rata-rata di perairan
kecamatan ini sebesar 3,52 individu/m 2 dimana kepadatan ikan karang tertinggi
dijumpai pada perairan Pulau Wasir yakni sebesar 7,29 individu/m 2 dan
kepadatan terendah dijumpai pada perairan Pulau Ararkula yakni sebesar 1,16
individu/m2. Sedangkan bila dilihat berdasarkan kriteria pemanfaatannya maka
secara keseluruhan kepadatan ikan konsumsi (2,60 individu/m2) lebih tinggi dari
ikan hias (0,92 individu/m2) maupun bila dilihat berdasarkan titik pengamatan,
kecuali pada titik pengamatan di Ararkula kepadatan ikan hias lebih tinggi dari
kepadatan ikan konsumsi.

TABEL 5.26
KOMPOISI TAKSA DAN KEPADATAN (INDIVIDU/M2) IKAN KARANG YANG
TERSENSUS DI PERAIRAN KARANG KECAMATAN PULAU PULAU ARU
Kompoisi Taksa
dan Kepadatan

Desa
Durdjela

Blakang
Wamar

Pulau
Wasir

Desa
Warialau

Pulau
Babi

Pulau
Ararkula

PP
Aru

Jumlah Spesies

68

72

123

101

113

37

151

Ikan Konsumsi

37

37

60

46

52

23

76

Ikan Hias

31

35

63

55

61

14

75

Jumlah Genera

42

43

67

56

64

28

80

Jumlah Family

23

23

27

23

27

23

37

Kepadatan total

2,40

2,28

7,29

3,96

4,03

1,16

3,52

Ikan Konsumsi

2,09

1,94

5,54

2,82

2,88

0,32

2,60

Ikan Hias

0,31

0,34

1,75

1,14

1,15

0,84

0,92

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 97

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

C. Analisis Makrofauna Bentos (Moluska, EKinodermata, Crustasea)


Nilai kepadatan makrofauna bentos yang dijumpai pada perairan pantai Kabupaten
Kepulauan Aru berkisar antara 0,01 36,33 ind/m 2, dengan jumlah spesies
berkisar antara 6 -52. Beberapa dari spesies-spesies yang ditemukan merupakan
spesies yang bernilai ekonomis penting. Spesies-spesies tersebut yaitu Holothuria
atra, Hyppopus hyppopus, Tridacna crosea, Tridacna sp., Trochus niloticus, Pofymesoda
bangalensis, Scylla serrata, Peneus monodon, Saccostrea echinata, Gafrarium tumidum,
Anadara granosa, Pinctada mangaritifera, H. scabra, H. edulis, Thelenota ananas dan
Tripeneustus gratilla merupakan spesies-spesies yang mempunyai nilai ekonomis
penting.
Melihat nilai ekonomis dari spesies-spesies yang ditemukan pada perairan pantai
Kabupaten Kepulauan Aru dan tipe perairan yang ada, maka dapat dikatakan
spesies-spesies tersebut berpeluang untuk dapat dikembangkan yaitu dengan
jalan pembudidayaan. Apalagi ada dijumpai spesies-spesies yang dilindungi seperti
misalnya Tridacna crosea dan Tridacna sp, maka kegiatan konservasi untuk
melestarikan spesies tersebut juga perlu dilakukan.

D. Analisis Mamalia laut


1. Paus
Provinsi Maluku yang luas wilayahnya didominasi oleh lautan, sangat potensial
sebagai rute migrasi bagi paus dari Samudera Pasifik di bagian utara ke Samudera
Indonesia di bagian selatan dan/atau sebaliknya. Berdasarkan hasil-hasil penelitian
tentang migrasi paus oleh Salm dan Halim (1984) dalam Monk et.al. (1997), serta
fakta survei lapangan menunjukan bahwa setidaknya dalam wilayah perairan
pesisir dan laut Kabupaten Kepulauan Aru dilalui sekitar 6 - 7 jenis paus. Jenisjenis paus tersebut adalah Megaptera novaeangliae (Humpback whale), Balaenoplera
borealis (Set whale), Balaenoplera musculatus (Blue whale), Balaenoplera physaKs (Fin
whale), Physeter catodon (Sperm whale}, Physeter sp., dan Orcinas orca (Killer whale}.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 98

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Kehadiran dari jenis paus biru, sperm whale dan paus pembunuh di wilayah pesisir
dan laut Kabupaten Kepulauan Aru merupakan hal yang spesifik dibanding empat
(4) jenis paus lain yang hadir di wilayah perairan Indonesia. Diduga rute migrasi
dari 3 jenis paus yaitu paus biru (Balaenoptera musculus}, Balaenoptera physalis dan
Balaeonoptera borealis dari samudera Pasifik menuju samudera Indonesia
melintasi perairan antara Pulau Halmahera dan Papua, kemudian memasuki laut
Maluku maupun laut Seram, dimana sewaktu menuju perairan Nusa Tenggara
Timur melintasi perairan pesisir dan laut Kabupaten Kepulauan Aru, dan menuju
Samudera Indonesia melalui perairan Selat Timor. Rute lainnya yaitu setelah
melintasi Laut Maluku dan Laut Seram, kemudian menuju Laut Banda dan
sewaktu akan melalui Selat Timor menunju Samudera Indonesia, terlebih dahulu
bermigrasi ke perairan Kepulauan Aru. Kemungkinan, sewaktu jenis-jenis paus ini
bermigrasi dari Seram atau Laut Banda di bagian Utara menunju Selat Timor,
bermigrasi ke perairan wilayah ekologis Wokam Kola dan wilayah ekologis Aru
Timur.
Rute migrasi dari jenis paus Physeter catodon dan Physeter sp. dari samudera
Pasifik menuju Samudera Indonesia atau sebaliknya melintasi perairan Laut
Maluku antara 'Pulau Halmahera dan Suilawesi, memasuki Laut Banda, kemudian
menuju Perairan Nusa Tenggara Timur menuju Samudera Indonesia memalui
Selat Timor. Sesuai rute tersebut, maka jenis-jenis paus ini melintasi perairan
pesisir dan Laut wilayah ekologis Wokam Kola dan Pulau Karang Timur dari
Kabupaten Kepulauan Aru sebelum memasuki perairan Nusa Tenggara Timur
melalui Selat Timor untuk kemudian bermigrasi Samudera Indonesia. Pada bagian
lain, rute migrasi dari jenis paus Megaptera novaeangliae dari Samudera Indonesia
menuju Samudera Pasifik melalui Selat Timor, dimana kemungkinan memasuki
perairan pesisir dan laut Wokam Kola dan Pulau Karang Timur sebelumnya
memasuki Laut Banda di bagian Utara.
Pada bagian lain, jenis paus pembunuh (Orcinus area) yang habitat aslinya di
perairan kutub Selatan atau sekitar Australia, ditemukan hadir secara temporal di
perairan pesisir dan laut wilayah ekologis Trangan dan Pulau Karang Timur, dan
bahkan Wokam Kola pada musim tertentu. Kehadiran paus pembunuh ini

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 99

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

bertepatan dengan kondisi suhu perairan yang agak dinging juga bersamaan
dengan periode musim dimana terjadi peningkatan populasi sotong (cumi-cumi),
serta ikan pelagis kecil di perairan pesisir dan laut Kabupaten Kepulauan Aru.
Fakta ini menunjukan kondisi suhu perairan dan ketersediaan sumber makanan
menjadi faktor utama kehadiran paus pembunuh ini di perairan pesisir dan laut
Kabupaten Kepulauan Aru.
Melalui data dan informasi, serta fakta lapangan yang telah diuraikan, dapat
dikatakan bahwa posisi wilayah pesisir dan laut Kabupaten Kepulauan Aru sangat
potensial dan strategis bagi kehadiran paus, karena diapit oleh Laut Banda di
Bagian Utara dan Samudera Indonesia di Bagian Selatan, serta sangat dekat
dengan Benua Australia yang merupakan daerah migrasi dari berbagai jenis paus.
Semua jenis paus yang hadir di wilayah perairan pesisir, laut dan Pulau-Pulau kecil
dari Kabupaten Kepulauan Aru ini termasuk mamalia laut yang dilindungi secara
Nasional maupun Internasional. Secara Nasional, jenis-jenis paus tersebut
merupakan mamalia laut yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7
Tahun 1999 (Noerdjito dan Maryanto, 2001). Oleh karena itu, kehadiran dari
mamalia laut (paus) pada wilayah perairan pesisir, laut dan Pulau-Pulau kecil
Kabupaten Kepulauan Aru sebagai ruang migrasi maupun kepentingan berbagai
aktivitas hidup (biologis) perlu ditata untuk selanjutnya dikelola secara baik.

2. Lumba-Lumba
Lumba-lumba yang termasuk dalam kelompok mamalia laut ditemukan di seluruh
wilayah ekologis perairan pesisir, laut dan pulau-ulau kecil Kabupaten Kepulauan
Aru. Setidaknya terdapat lima jenis lumba-lumba yang hadir di perairan pesisir,
laut dan Pulau-Pulau kecil Kabupaten Kepulauan Aru ini yaitu Gkbicephala
macrorhynchus, Pseudorca crassidens, Delphinus delphis dan D. capensis (lumbalumba biasa), serta Tursiops truncatus (lumba-lumba hidung botol).
Fakta lapangan menunjukan jenis lumba-lumba yang umum ditemukan di wilayah
perairan pesisir, laut dan Pulau-Pulau kecil Kabupaten Kepulauan Aru adalah
lumba-lumba biasa dan lumba-lumba hidung botol. Kedua jenis lumba-lumba
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 100

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

tersebut bermigrasi hingga ke perairan dangkal dan memasuki perairan teluk atau
selat dari keempat wilayah ekologis dalam Kabupaten ini. Temyata semua jenis
lumba-lumba yang berada di wilayah perairan Kabupaten Kepulauan Aru
merupakan mamalia laut yang dilindungi, seperti tertuang dalam PP. No. 7 Tahun
1999 (Noerdjito dan Maryanto, 2001). Pada bagian lain, kondisi lingkungan
perairan Kabupaten Kepulauan Aru tergolong spesifik, dengan berbagai aktivitas
perikanan tergolong intensif dapat menjadi pembatas terhadap migrasi dan
kehadiran lumba-lumba. Dengan demikian, kebutuhan ruang bagi eksistensi
mamalia laut yang dilindungi ini sangat penting serta perlu mendapat perhatian
dalam penyusunan tata ruang dan rencana pengelolaan wilayah perairan pesisir,
laut dan Pulau-Pulau kecil Kabupaten Kepulauan Aru.
3. Dugong (Duyung)
Salah satu jenis mamalia laut yang cukup penting dan umumnya hadir pada wilayah
perairan pesisir yang relatif dangkal adalah Dugong dugon (Dugong/Duyung).
Melalui berbagai hasil penelitian, diketahui perairan pesisir Kabupaten Kepulauan
Aru merupakan habitat utama dari dugong. Pada bagian lain, sesuai hasil
pengamatan dan laporan masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Kabupaten
Kepulauan Aru, insiden tertangkapnya Dugong oleh nelayan yang menggunakan
jaring untuk menangkap penyu, serta penemuan dan pengamatan mereka dalam
kegiatan di lingkungan perairan pesisir dan Pulau-Pulau kecil Kabupaten ini,
diketahui Dugong hadir di hampir semua wilayah ekologis perairan pesisir dan
Pulau-Pulau kecil Kabupaten Kepulauan Aru.
Hasil survei dengan pendekatan PRA menunjukan, kehadiran Dugong lebih umum
pada wilayah ekologis Trangan dan Pulau Karang Timur, terutama dalam kawasan
Taman Laut Aru Tenggara yang sangat menonjol ekosistem lamunnya. Kehadiran
Dugong pada beberapa bagian perairan pesisir dan Pulau-Pulau kecil dari wilayah
ekologis Kabupaten Kepulauan Aru tersebut berkaitan sangat erat dengan
kehadiran vegetasi lamun (padang lamun) yang merupakan habitat hidup dan
sumber

makanan

mengindikasikan

utamanya.

populasi

Pada

dugong

telah

bagian

lain,

menurun

informasi

karena

masyarakat

diburu

sebagain

masyarakat Aru untuk dimakan dan dikoleksi taringnya, sering terperangkap oleh

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 101

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

alat tangkap nelayan, serta akibat intensitas penggunaan perairan pesisir (terutama
padang lamun) untuk berbagai kepentingan yang cenderung meningkat, sehingga
menghambat tujuan migrasi untuk aktivitas hidupnya, terutama mencari makan pada
area! vegetasi lamun. Berkaitan dengan kenyataan tersebut maka dugong menjadi
salah satu jenis mamalia laut yang dilindungi undang-undang, dimana secara
nasional mamalia laut ini dilindungi berdasarkan PP. No. 7 Tahun 1999 (Noerdjito dan
Maryanto, 2001). Bukti dari upaya konservasi terhadap jenis mamalia laut ini adalah
kawasan perairan pesisir dan Pulau-Pulau kecil Aru Tenggara ditetapkan oleh
pemerintah sebagai Taman Laut Nasional
Pada bagian lain, penurunan populasi dugong di wilayah perairan pesisir dan PulauPulau kecil Kabupaten Kepulauan Aru berkaitan erat dengan kehadiran padang
lamun sebagai makanan utamanya yang juga mengalami degradasi yang pesat
akibat tekanan pemanfaatan wilayah pesisir, terutama padang lamunnya. Oleh
karena itu, penataan ruang wilayah pesisir dan Pulau-Pulau kecil, serta pengelolaan
(konservasi) padang lamun sebagai salah satu habitat utama pada wilayah-wilayah
ekologis Kabupaten Kepulauan Aru menjadi sangat penting.
E. Analisis Reptilia Laut
1. Penyu
Berdasarkan hasil-hasil survei, pemanfaatan dan penampakan yang dilihat oleh
masyarakat peisir, ternyata hanya dua jenis penyu yang menempati perairan pesisir,
lautan Pulau-Pulau kecil Kabupaten Kepulauan Aru, yaitu penyu hijau (Chelonia
mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Penyu hijau lebih umum ditemukan
atau menempati wilayah perairan pesisir, laut dan Pulau-Pulau kecil Kabupaten
Kepulauan Aru dibanding penyu sisik. Berdasarkan pendekatan distribusi geografis
dan habitat hiudup (Noerdjito dan Maryanto, 2001), dapat dikatakan jenis penyu
hijau dan penyu sisik ini merupakan penghuni perairan pesisir, laut dan Pulau-Pulau
kecil Kabupaten Kepulauan Aru. Fakta lapangan menunjukan jenis penyu hijau
menyebar dan menempati perairan pesisir dimana padang larnun serta pulau-pulau
dengan habitat pasir serta semak dari beberapa pulau kecil seperti Pulau Enu dan
Pulau Karang sebagai tempat bertelur (nesting). Pada bagian lain, penyu sisik

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 102

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

dengan popolasi yang rendah ditemukan pada perairan pesisir Kabupaten


Kepulauan Aru dimana terdapat ekosistem terumbu karang.
Melalui pengamatan lapangan serta informasi dari nelayan dan/atau masyarakat
pesisir, ternyata di wilayah ekologis wilayah ekologis Aru Timur maupun Aru Selatan,
ternyata kehadiran penyu hijau maupun penyu sisik lebih dominan. Jenis-jenis penyu
tersebut juga menggunakan beberapa pulau di wilayah ekologis ini sebagai tempat
bertelur. Kenampakan penyu hijau yang memanfaatkan padang lamun pada wilayah
ekologis Kabupaten Kepulauan Aru sebagai tempat makan sebelum naik bertelur di
P. Enu dan P, Karang atau Pulau-Pulau kecil sekitarnya atau setelah bertelur,
kemudian bermigrasi kembali ke Australia untuk kepentingan biologis lainnya.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, spesimen yang ditangkap oleh nelayan
serta telur yang diambil oleh nelayan/masyarakat menunjukan penyu hijau yang
menempati wilayah perairan pesisir, laut dan Pulau-Pulau kecil Kabupaten Kepulauan
Aru termasuk dewasa. Fakta tersebut memberi indikasi bahwa kehadiran penyu di
wilayah perairan Kabupaten Kepulauan Aru untuk tujuan bertelur (nesting), serta
untuk tujuan mencari makan sebelum menuju areal bertelur (nesting), dan setelah
bertelur dan kemudian bermigrasi menuju Australia yang merupakan habitat utama
bagi jenis penyu tersebut, terutama penyu hijau.
Kedua jenis penyu yang menempati perairan pesisir, laut dan Pulau-Pulau kecil
Kabupaten Kepulauan Aru ini merupakan jenis reptilia laut yang telah dilindungi
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 (Noerdjito dan Maryanto,
2001), karena populasinya di alam telah menurun drastis akibat diburu oleh manusia
sebagai bahan konsumsi, dijual ke Bali untuk kepentingan upacara adat dan
pemanfaatan kulitnya untuk berbagai usaha kerajinan. Pada bagian lain, frekwensi
kehadiran penyu di wilayah perairan pesisir, laut dan Pulau-Pulau kecil Kabupaten
Kepulauan Aru telah berkurang seiring dengan menurunnya areal dan kualitas padang
lamun maupun terumbu akibat tekanan lingkungan dan pemanfaatan. Uraian di atas
memberi petunjuk bahwa upaya perlindungan (konservasi) terhadap penyu tersebut
menjadi penting. Upaya dimaksud dapat dilakukan melalui penataan ruang wilayah
pesisir, laut dan Pulau-Pulau kecil Kabupaten Kepulauan Aru serta konservasi padang

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 103

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

lamun dan rehabilitasi terumbu karang, maupun konservasi lahan teresterial pesisir
yang merupakan habitat hidup serta reproduksi dari jenis-jenis penyu tersebut,
terutama penyu hijau.
2. Ular Laut
Hasil pengamatan menunjukan jenis ular laut yang ditemukan di perairan pesisir,
laut dan pulau-pulau kecil Kabupaten Kepulauan Aru sebanyak 8 spesies, dan
terbagi atas jenis-jenis ular laut yang hidup di habitat terumbu karang atau pesisir
pantai berbatu (Alien dan Steen, 2002) serta penghuni perairan di luar ekosistem
terumbu karang dan pantai berbatu tersebut. Jenis ular laut penghuni ekosistem
terumbu karang wilayah ekologis Kabupaten Kepulauan Aru adalah Laticauda
colubrina, Laticauda semifasdata, Aipysurus laevis, Astoria stokesti dan Enhydrina
scbistosa. Selain itu, jenis ular laut yang menempati lingkunganperairan di luar
terumbu karang adalah Hydrophis fasciatus, Hydrvphis sp., dan Pelamis platurus.
Semua jenis ular laut di atas ditemukan hadir pada hampir semua wilayah ekologis
Kabupaten Kepulauan Aru.
Jenis-jenis ular laut penghuni ekosistem terumbu karang itu tergolong sangat
berbisa, dan sangat sensitif pada waktu musim kawin, yaitu pada akhir musim Timur
dan selama musim pancaroba antara musim Timur dan musim Barat. Dengan
demikian kehadiran dan populasi dari kelima jenis ular laut penghuni terumbu karang
itu sangat menonjol pada periode musim tersebut di atas. Jenis ular laut Laticauda
spp., sering ditemukan hadir pada lingkungan pesisir pantai berbatu dengan dindingdinding yang agak terjel serta memiliki lubang atau celah bebatuan seperti di sekitar
P. Karang, serta pulau-pulau karang di wilayah ekologis Aru Timur. Fenomena yang
sangat menarik yaitu jenis-jenis ular laut dari genus Laticauda tersebut, ditemukan
hidup pada lahan teresterial (pantai kering) Pulau Arakula dengan populasi cukup
besar. Diperkirakan pada pulau-pulau kecil lainnya yang dengan karakteristik dan
geomorfologi sperti pulau Arakula di wilayah ekologis Wokam Kola ini, juga ditempati
oleh jenis-jenis ular laut tersebut.
Kehadiran delapan jenis ular laut pada perairan pesisir dan laut Kabupaten Kepulauan
Aru ini, setidaknya memberi sumbangan sangat berarti terhadap keragaman spesies
reptilia laut pada khusunya dan biota laut pada umumnya. Bahwa ketersediaan
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 104

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

habitat dengan kondisi lingkungan yang menunjang kehadiran jenis-jenis ular laut ini
adalah penting untuk menjamin kerberlangsungan berbagai aktivitas hidupnya. Pada
sisi lain, peningkatan populasi manusia disertai peningkatan kebutuhan dan aktivitas
hidup akan berkorelasi langsung terhadap penurunan kualitas dari habitat hidup
jenis-jenis ular laut di atas. Oleh karena itu kebijakan dan upaya penataan terhadap
ruang pesisir, laut dan pulau-pulau kecil pada keempat wilayah ekologis Kabupaten
Kepulauan Aru yang diikuti dengan upaya implementasi untuk mengisi ruang-ruang
tersebut, program pengelolaan, termasuk konservasi menjadi sangat penting.
3. Buaya
Selain penyu dan ular laut, maka buaya adalah salah satu reptilia yang juga
ditemukan hadir di perairan dan/atau wilayah pesisir, sempadan dan muara sungai
di Provinsi Maluku (Monk, et.al., 1997). Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah
dilakukan, serta informasi dari masyarakat dan nelayan yang menggunakan
lingkungan perairan pesisir wilayah ekologis Pulau Karang Timur, temyata pada
areal hutan mangrove serta lingkungan teresterial pesisir Pulau Enu terdapat buaya
yang dapat dikelompokan sebagai buaya air laut (asin).
Data dan fakta tersebut menimbulkan suatu pertanyaan tentang dari mana dan
mengapa jenis reptilia ini bisa menempati lingkungan perairan pesisir dan lahan pulau
Enu. Bila dikaitkan dengan sejarah geologi, pendekatan aspek zoogeografi dan
letak geografi, maka kemungkinan kehadiran jenis reptilia tersebut di wilayah
Kabupaten Kepulauan Aru karena migrasinya pada periode yang panjang dari
Papua ataupun Australia yang merupakan habitat utama buaya di dunia. Selain itu,
kemungkinan kehadirannya pada lingkungan Pulau Enu berkaitan erat dengan
adaptasi untuk kurun waktu yang panjang serta kondisi habitat yang sesuai bagi
kehidupan dan kehadiran jenis reptilia yang dilindungi tersebut.
Berdasarkan uraian analisis di atas, dapat dikatakan lingkungan perairan pesisir
dan pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Aru ini tergolong potensial bagi satwa
buaya yang telah dilindungi ini. Sehubungan dengan itu, kebijakan dan
implementasi penataan terhadap ruang pesisir, laut dan pulau-pulau kecil
Kabupaten Kepulauan Aru, termasuk wilayah-wilayah ekologisnya menjadi sangat

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 105

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

penting. Selain itu, perlu diikuti oleh program dan kegiatan terukur dan tepat
sasaran

dalam

rangka

mengisi

ruang-ruang

dimaksud,

termasuk

upaya

pengelolaan dan konservasi terhadap satwa buaya dan lingkungan (habitat


hidupnya.
F. Analisis Aves (Burung)
Berdasarkan hasil pengamatan, ternyata beberapa jenis burung laut seperti
burung camar, burung talang, burung kondo abu-abu dan kondo putih
ditemukan hadir di perairan pesisir, laut dan pulau-pulau kecil wilayah ekologis
Kabupaten Kepulauan Aru. Selain itu, ditemukan burung pelikan menempati
perakan pesisir Kabupaten Kepulauan Aru ini pada waktu-waktu tertentu. Dapat
dipastikan kehadiran jenis burung pelikan ini berkaitan erat dengan musim
rnigrasinya dari Australia sebagai habitat aslinya, dan memasuki Kabupaten
Kepulauan Aru. Dari fakta yang ada, besar kemungkinan dari Kabupaten
Kepulauan Aru ini jenis burung pelikan tersebut bermigrasi ke semua Kabupaten
di Provinsi Maluku dan bahkan Provinsi tetangga.
Pada dasarnya kehadiran jenis-jenis burung laut di atas pada wilayah perairan
pesisir Kabupaten Kepulauan Aru berkaitan erat dengan kesesuain lingkungan
perairan sebagai habitat hidupnya. Jenis-jenis burung kondo menggunakan areal
pasang surut dan perairan sangat dangkal sekitar hutan mangrove dan padang
lamun untuk mencari makan. Sementara burung camar dan burung talang
menggunakan perairan pesisir untuk mencari dan mendapatkan makanannya di
siang hari, kemudian menggunakan hutan mangrove dan hutan pantai untuk
beristirahat di malam hari. Melalui uraian analisis tersebut, dapat dipastikan
kondisi lingkungan pesisir dan sumber makanan dalam wilayah kabupaten ini
masih dianggap layak bagi kehidupan burung laut, baik lingkungan pantai basah
maupun ekosistem mangrove dan hutan pantai dari pulau-pulau antar wilayah
ekologis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penataan ruang pesisir, laut
dan pulau-pulau kecil sebagai habitat hidup dari jenis-jenis burung laut ini serta
menjamin kehadiran dan keberlangsungan hidupnya menjadi sangat penting.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 106

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

G. Analisis Perikanan Tangkap dan Budidaya


1. Perikanan Tangkap
Kegiatan usaha penangkapan ikan di perairan Kepulauan Aru masih tergolong
tradisional dan dalam skala rumah tangga, dimana sebagian besar para nelayan
melaksanakan kegiatan penangkapan ikan dengan tanpa mempergunakan perahu.
Sementara itu nelayan yang mempergunakan armada penangkapan dalam kegiatan
usahanya sebagian besar terdiri atas perahu tanpa motor, motor tempel, dan kapal
motor (Tabel 5.27).
TABEL 5.27
BANYAKNYA PERAHU/KAPAL MOTOR PENANGKAPAN IKAN
MENURUT JENISNYA

Jenis

P.P Aru dan


Aru Utara
Tahun
2005
2006

Perahu Tanpa Motor / Non


Powered Boats
Motor Tempel / Out-board Motors
Kapal Motor / In-board Motors

Aru Tengah,
Aru Tengah
Timur dan
Aru Tengah
Selatan
Tahun
2005
2006

Aru Selatan
dan Aru
Selatan
Timur
Tahun
2005 2006

552

607

594

653

391

430

97
371

127
382

43
314

63
324

22
158

42
167

Sumber: Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Aru

Dari Table 5.27, terlihat bahwa perkembangan armada penangkapan baik perahu
tanpa motor, perahu dengan motor temple maupun kapal motor terjadi peningkatan
diseluruh wilayah kecamatan Kabupaten Kepulauan Aru pada tahun 2006. Hal ini
mengindikasikan bahwa perkembangan kegiatan penangkapan di wilayah ini cukup
baik yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan produksi perikanan tangkap dari
tahun 2005 dari 6.521 ton menjadi 24.966,9 ton pada tahun 2006 (Tabel 5.28)
TABEL 5.28
PERKEMBANGAN HASIL PENANGKAPAN IKAN DAN NILAI
IKAN/NON IKAN MENURUT KECAMATAN
DI KABUPATEN KEPULAUAN ARU TAHUN 2005

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 107

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Produksi /
Production
[Ton]

Tahun
Years

Nilai / Value
[000 Rp]

1. P.P. A r u dan
Aru Utara
2. Aru Tengah, Aru
Tengah
Timur
dan
Aru
Tengah
Selatan
3. Aru Selatan dan Aru
Selatan Timur

7.490,0

38.500.635,0

12.483,5

64.167.725,0

4.993,4

25.667.090,0

Tahun 2 0 0 6
Tahun 2 0 0 5

24.966,9
6.521,5

128.335.450,0
45.138.150,0

Sumber: Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Aru

Meskipun terjadi peningkatan produksi, hasil penangkapan ikan pada tahun 2006
sebanyak 24.966,9 ton dengan nilai sebesar Rp. 128.335.450,0,- dinilai masih lebih
rendah dibandingkan dengan potensi yang dimiliki Kabupaten Aru. Relatif kurang
berkembangnya usaha perikanan tangkap di Kabupaten Kepulauan Aru disebabkan
oleh terbatasnya kemampuan sumberdaya manusia para nelayan, armada
penangkapan dan alat tangkap yang digunakan oleh para nelayan. Sebagian besar
nelayan di Kabupaten Kepulauan Aru memiliki kemampuan jangkauan daerah
penangkapan ikan yang tergolong sempit, yaitu hanya di sekitar perairan pantai.
Untuk mendukung perkembangan perikanan tangkap di Kepulauan Aru ke arah yang
lebih maju, maka perlu dilakukan peningatan kemampuan SDM para nelayan melalui
pelatihan,

pendidikan

dan

penyuluhan,

meningkatkan

kemampuan

armada

penangkapan ikan melalui pengadaan kapal motor perikanan, serta peningkatan dan
diversifikasi alat dan teknologi penangkapan ikan melalui pengadaan kapal motor
perikanan, serta peningkatan dan diversifikasi alat dan teknologi penangkapan ikan
yang jangkauan daerah penangkapan ikan (fishing ground). Perluasan daerah
penangkapan tersebut dapat diarahkan ke perairan Laut Aru dan perairan lepas
pantai yang belum padat tangkap. Banyaknya nelayan dan kelompok nelayan di
Kabupaten Kepulauan Aru terlihat pada Tabel 5.29 berikut.
TABEL 5.29

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 108

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

BANYAKNYA NELAYAN DAN KELOMPOK NELAYAN DI KABUPATEN


KEPULAUAN ARU MENURUT KECAMATAN

Kecamatan
1. P.P. A r u dan
Aru Utara
2. Aru Tengah, Aru
Tengah
Timur dan
3. Aru Selatan dan Aru
Selatan Timur
Tahun 2 0 0 6
Tahun 2 0 0 5
Tahun 2 0 0 4
Tahun 2 0 0 3

Nelayan

Kelompok Nelayan

9.772

246

9.304

178

9.266

169

28.342
24.693
13.260
9.325

593
305
275
170

Sumber: Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Aru

Sementara jenis alat tangkap yang beroperasi di kabupaten Kepulauan Aru cukup
beragam dan terjadi peningkatan untuk seluruh jenis alat tangkap diseluruh
kecamatan wilayah Kabupaten Kepulauan Aru.

Alat penangkapan ikan yang

beroperasi di wilayah ini terdiri dari pukat udang, pukat ikan, jaring insang, jaring
angkat, pancing lainnya, alat pengumpul kerang, sero dan bubu (Tabel 5.30).

TABEL 5.30
BANYAKNYA ALAT TANGKAP IKAN MENURUT JENISNYA

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 109

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Kecamatan
Jenis Alat Tangkap

Pukat Udang / Shirmp Net


Pukat Ikan / Fish Net
Jaring Insang / Gillnet
Jaring Angkat / Liftnet
Pancing Lainnya / Other Fishing
Gear

P.P Aru dan


Aru Utara
Tahun
2005
2006
5
7
906
997
102
112
1.738
3.066
2.519

Alat Pengumpul Kerang


Sero / Sero
Alat Pengumpul Rumput Laut
Seaweed Colectors
Bubu / Fish Trap
Lain-lain / Others

2.645

157

173
-

481

529
-

Aru Tengah, Aru


Tengah Timur dan
Aru Tengah Selatan
Tahun
2005
2006
25
28
12
898
988
72
79
1.75
2.292
5
1.60
1.764
4
60
66
454

499
-

Aru Selatan
dan Aru
Selatan Timur
Tahun
2005
2006
2
660
726
46
51
1.744
2.178
459

505

24

26
-

440

484
-

Sumber: Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Aru

Dari Tabel 5.30 diatas terlihat bahwa hubungan antara jumlah alat yang
beroperasi, jumlah armada dan jumlah nelayan berkorelasi positif terhadap
jumlah produksi hasil tangkapan.

Hal ini terlihat pada distribusi ke tiga

komponen faktor produksi menurut wilayah kecamatan di Kabupaten


Kepulauan Aru, dimana bagian utara wilayah ini merupakan wilayah yang
paling produktif, kemudian di ikuti wilayah bagian tengah dan selatan. Untuk
pengembangan kedepan, nampaknya wilayah selatan perlu mendapat
perhatian khusus agar pemerataan pembangunan di seluruh wilayah bisa
tercapai.

Program pengembangan yang dapat dilakukan di wilayah ini,

antara lain peningkatan sarana dan prasarana pendukung kegiatan


penangkapan ikan dan mobilisasi nelayan.

2. Perikanan Budidaya
Kegiatan budidaya perikanan di Kabupaten Kepulauan Aru kurang berkembang,
kecuali budidaya mutiara. Hal tersebut disebabkan karena kondisi lingkungan fisik

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 110

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

yang tidak mendukung serta tidak tersedianya lahan yang sesuai untuk usaha
budidaya perikanan, khususnya budidaya air payau dan budidaya laut, serta
keterbatasan modal dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat. Usaha budidaya
KJA umumnya dilakukan masyarakat di sekitar Dobo tergolong cukup besar jika
dilihat dari luasan areal pembudidayaan, dan dilakukan oleh perusahaan. Perikanan
budidaya cukup sesuai dikembangkan di pesisir Kabupaten Aru, khususnya di
pesisir timur dengan jenis budidaya mutiara, kerang, kepiting, rumput laut, dan
sebagainya.
TABEL 5.31
KRITERIA KESESUAIAN LAHAN UNTUK BUDIDAYA TAMBAK UDANG

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Kriteria Kesesuaian

Parameter
Curah Hujan
(mm/th)
Kecerahan (%)
Kedalaman Pirit
(cm)
Oksigen Terlarut
(mg/l)
Salinitas (o/oo)
Suhu (oC)
Amoniak (NH3)
(mg/l)
pH
Input air tawar
Kesuburan air
Pengaruh banjir
Polutan

Baik

25-34

Sedang
1000-2000
dan 3000-3500
16-24

Buruk
<1000
atau
>3500
<16 atau >34

>100

50-75

<50

>5

3-5

<3

12-20
28-31

20-35
26-28

>35
<26 atau >31

<0,3

0,3-0,5

>0,5

7,5-8,5
Besar
Tinggi
Tidak ada
Tidak ada

6-7,5 dan 8,5-10


Sedang
Sedang
-

>10 atau < 6


Kurang
Rendah
Ada
Ada

2500-3000

Berdasarkan kajian kesesuaian lahan terhadap data yang ada, kegiatan budidaya
tambak udang cukup potensial dikembangkan di pesisir bagian Barat Kepulauan
Aru, walaupun di kawasan ini terdapat keterbatasan input air tawar namun untuk
lokasi-lokasi tertentu dapat diusahakan. Sama halnya dengan budidaya tambak
udang, budidaya tambak bandeng juga potensial untuk dikembangkan di bagian
Barat Kepulauan Aru. Kriteria kesesuaian lahan dan perairan untuk kegiatan
budidaya udang terlihat pada Tabel 5.31.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 111

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Berdasarkan kajian kesesuaian lahan terhadap data yang ada, budidaya ikan
dengan KJA cukup potensial untuk dikembangkan di hampir semua perairan pesisir
Kepulauan Aru terutama di pesisir Timur Kepulauan Aru yang memiliki karakteristik
lingkungan biofisik yang cukup mendukung terhadap kegiatan budidaya ikan dengan
KJA. Sama halnya dengan budidaya ikan dengan KJA, Budidaya Moluska (Kerang
darah, Kerang bulu, Kerang mutiara dan tiram), Teripang dan rumput laut juga
sangat potensial untuk dikembangkan di pesisir Kepulauan Aru terutama di pesisir
bagian timur. Berikut ini disajikan beberapa tabel kriteria kesesuaian lahan dan
perairan untuk beberapa komoditas budidaya perikanan (Tabel 5.32- 5.35).
TABEL 5.32
KRITERIA KESESUAIAN LAHAN UNTUK BUDIDAYA TAMBAK BANDENG
No.

Parameter

1.

Curah Hujan (mm/th)

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Kecerahan (%)
Kedalaman pirit (cm)
Oksigen Terlarut (mg/l)
Salinitas (o/oo )
Suhu (oC)
Amoniak (NH3) (mg/l)
pH
Input air tawar
Kesuburan air
Pengaruh banjir
Polutan

Kriteria Kesesuaian
Baik
2500-3000
25-34
>100
>5
12-20
26-31
<0,3
7,5-8,5
Besar
Tinggi
Tidak ada
Tidak ada

Sedang
1000-2000
dan 3000-3500
16-24
50-75
3-5
20-35
20-26
0,3-0,5
6-7,5 dan 8,5-10
Sedang
Sedang
-

Buruk
<1000
atau
>3500
<16 atau >34
<50
<3
>35
<20
>0,5
>10 atau < 6
Kurang
Rendah
Ada
Ada

TABEL 5.33
KRITERIA KESESUAIAN LAHAN UNTUK BUDIDAYA IKAN DENGAN KJA
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 112

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Kesesuaian Lahan

Parameter
1. Kenyamanan
2. Tinggi air pasang
3. Arus (m/detik)
4. Kedalaman air dari dasar jaring
5. Oksigen terlarut (ppm)
6. Salinitas ()
7. Perubahan cuaca
8. Sumber listrik
9. Sumber pakan
10. Tenaga kerja
11. Ketersediaan Benih
12. Pencemaran

Baik
Baik
> 1,0
0,2 0,4
> 10
5
> 30
Jarang
Baik
Baik
Baik
Baik
Tidak ada

Sedang
Sedang
0,5 1,0
0,05 0,2
4 10
35
20 30
Sedang
Cukup
Cukup
Cukup
Cukup
Sedang

Kurang
Kurang
< 0,5
0,4 0,5
<4
<3
< 20
Sering
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang
Kurang

Sumber: Tiensongrusmee dkk (1986)


TABEL 5.34
KRITERIA KESESUAIAN LAHAN UNTUK BUDIDAYA KERANG HIJAU

Parameter
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kedalaman (m)
Substrat
Arus (m/dt)
Derah terlarang
Kecerahan (m)
Pencemaran

7.
Kesuburan
perairan
8. Suhu (C)
9. Salinitas ()
10. Aksesbilitas

Kesesuaian Lahan
Baik
3-7m
Lumpur
0,05 - 0,2 m/dt
Aman
1-4m
Tidak
tercemar/Ringan
Tinggi
(>15.000
ind/lt)
25 - 27
25 - 30
Mudah

Sedang
>7m
Pasir Lumpur
0,2 - 0,5
Cukup
5-8
Tercemar Sedang
Sedang
15.000)
28 - 30
31 - 35
Cukup

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

(2000-

Kurang
<3m
Pasir, Karang
>0,5
Kurang
>8
Tercemar
berat
<2000 ind/lt
<26, >30
<21, >35
Kurang

5- 113

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

TABEL 5.35
KRITERIA KESESUAIAN LAHAN UNTUK BUDIDAYA
RUMPUT LAUT (SEA WEED)
Kesesuaian Lahan

Parameter
1. Terlindung dari
pengaruh angin
musim
2. Kondisi gelombang
(cm)
3. Arus (cm/detik)
4. Kedalaman air (m)
5. Dasar perairan
6. Salinitas ()
7. Suhu (oC)
8. Kecerahan (cm)
9. Kesuburan perairan
10. Sumber benih dan
induk
11. Sarana penunjang
12. Pencemaran
13. Keamanan

Baik
Baik

Sedang
Sedang

Kurang
Kurang

< 10

10 30

>30 dan < 10

20 30

< 10 dan > 40

2,5 5
Berkarang
32 34
24 30
110 60
Subur
Banyak

10 20 dan
30 40
1 2,5
Pasir
30 32
20 24
30 40
Cukup
Sedang

Baik
Tidak ada
Aman

Cukup
Sedang
Cukup

Kurang
Kurang
Kurang

< 0,5
Pasir/lumpur
< 30 dan > 34
< 20 dan > 30
< 30
Kurang
Kurang

Sumber: Winanto dkk (1991)

H. Isu dan Permasalahan Lingkungan serta Sumberdaya Pesisir dan Laut di


Kepulauan Aru
Pengembangan

kelautan

dan

perikanan

Kepulauan Aru dilakukan

melalui

pendekatan potensi sumberdaya yang ada beserta prasarana dan sarana yang
mendukungnya. Identifikasi potensi yang ada disertai penggunaan berbagai metode
dan analisa diharapkan mampu memunculkan potensi dan peluang nyata
pengembangan sumberdaya kelautan dan perikanan Kab Kepulauan Aru.
1. Lingkungan dan Pengelolaan Wilayah
Isu utama dari bidang lingkungan yang muncul adalah kerusakan lingkungan (darat,
pesisir dan laut) akibat berbagai aktivitas masyarakat. Khususnya aktivitas
penangkapan ikan dengan menggunakan trawl, penangkapan ikan dengan
menggunakan sianida dan racun dan lain-lain mempunyai dampak negatif, seperti

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 114

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

perubahan ekosistem, perubahan morfologi pantai, kerusakan hutan mangrove,


terumbu karang, biota-biota darat dan laut dan merubah pola migrasi ikan.
Secara umum kondisi lingkungan di Kepulauan Aru masih tergolong cukup baik.
Sebagian besar hutan mangrove yang ada di kawasan Kepulauan Aru belum ada
degradasi lingkungan pesisir akibat kerusakan mangrove yang berbahaya. Akan
tetapi tidak adanya usaha pelestarian dan terus berlanjutnya aktivitas manusia yang
merusak, merupakan sebuah kesalahan yang sulit dan mahal untuk menebusnya.
Perencanaan pengelolaan lingkungan mutlak diperlukan oleh Kepulauan Aru
sebagai upaya sadar melaksanakan pembangunan berkelanjutan.
Beberapa masalah dan tantangan dalam bidang lingkungan adalah seperti diuraikan
berikut ini:

(1) Kerusakan

Terumbu

Karang

dan

Lingkungan

Laut

Akibat

Kegiatan

Penangkapan Ikan yang Tidak Ramah Lingkungan


Penangkapan ikan di laut masih banyak dilakukan dengan menggunakan caracara yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan trawl dan racun
Sianida serta bahan peledak.

Penggunaan trawl yang tidak selektif,

menyebabkan ikan-ikan muda berukuran kecil tertangkap dan mati. Selain itu
nelayan pengguna trawl di daerah terumbu karang, juga mengakibatkan
banyaknya karang yang patah terseret trawl dan mati.

Kerusakan ini tidak

sebanding dengan ikan yang didapat dimana kerusakan terumbu karang


membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk pulih.

Penggunaan racun

(potasium) dan bom juga terjadi di perairan Kepulauan Aru. Hal ini tidak saja
dilakukan oleh nelayan Kepulauan Aru, tapi juga oleh nelayan-nelayan
pendatang dari kepulauan lain di sekitar Maluku dan Papua dan nelayan asing.
Kondisi ini tidak dapat terus dibiarkan mengingat jumlah terumbu karang dan
ikan muda yang mati semakin lama semakin banyak.

Pengawasan dan

penindakan serta penerapan hukum yang tegas (law enforcement) mutlak


diperlukan demi menjaga kelestarian sumberdaya yang ada.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 115

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

(2)

Lemahnya Manajemen dan Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan


Lingkungan
Isu lingkungan saat ini selalu menghiasi setiap proses kegiatan pembangunan,
terutama sektor-sektor yang berhubungan dengan eksploitasi dan eksplorasi
sumberdaya alam. Tapi secara teknis upaya pengelolaan tersebut selalu
terlambat. Upaya reklamasi yang dilakukan selalu bersifat terlambat, bahkan
seadanya.

Keterbatasan sektoral dalam pengawasan, pengontrolan dan

pengendalian selalu menjadi bagian yang menyebabkan terlambatnya upaya


perlindungan lingkungan. Diantara keterbatasan itu antara lain adalah:
a. Belum adanya peraturan dan produk hukum yang memadai terhadap
kegiatan

yang

menyebabkan

kerusakan

serta

terhadap

penanggulangannya. Kasus perusakan lahan pesisir, kerusakan terumbu


karang karena pengeboman dan pertambangan belum ditangani secara
serius.
b. Terbatasnya

pemahaman

tentang

upaya

pengelolaan

lingkungan,

sehingga tidak ada barrier yang dapat mengontrol kegiatan-kegiatan


yang bersifat destruktif terhadap kerusakan dan degradasi sumberdaya
alam.
c. Kerjasama kelembagaan yang masih bersifat parsial serta tidak
mengikutsertakan pelaku-pelaku pembangunan secara bersama. Tidak
ada koordinasi antara lembaga-lembaga terkait dalam pengelolaan
lingkungan.
Kelemahan manajemen dan kebijakan ini salah satunya disebabkan masih
rendahnya kualitas sumberdaya manusia.

Contoh yang dapat dikemukakan

kesalahan manajemen dalam pengontrolan upaya penangkapan ikan karang.


Dimana

tidak

terdapat

pengawasan

terhadap

penangkap

ikan

yang

menggunakan Sianida.

2. Kegiatan Perikanan Tangkap


Dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya ikan di Perairan
Kepulauan Aru hingga sejauh 4 mil yang masih memberikan peluang
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 116

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

pengembangan, maka tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan harus ditingkatkan


dengan memperhatikan aspek-aspek lingkungan dan teknologi. Kondisi yang
ada sekarang ini menunjukkan adanya beberapa permasalahan sekaligus
tantangan bagi pengembangan perikanan tangkap. Permasalahan yang ada
berasal dari pemanfaatan yang tidak optimal, penangkapan ikan yang tidak
ramah lingkungan, pencurian oleh nelayan asing, sarana dan prasarana,
teknologi, sumberdaya nelayan, kelembagaan, pemasaran pengolahan hasil dan
lain-lain.
(1) Tingkat Penangkapan Sumberdaya Ikan yang Tinggi di Perairan Teritorial
oleh Nelayan Asing
Kegiatan pencurian ikan oleh nelayan asing di wilayah perairan Kepulauan
Aru sudah berlangsung cukup lama. Tidak adanya penindakan hukum dan
pengawasan akibat kekurangan prasarana serta SDM, menyebabkan
tingginya tingkat pencurian sumberdaya ikan oleh nelayan asing (nelayan
Thailand).
Ketidakamanan di laut, kurangnya pengawasan dan lemahnya penegakan
hukum, telah menimbulkan permasalahan bagi para nelayan lokal.

Hasil

pengamatan di lapangan melalui wawancara dengan nelayan dapat


terungkap bahwa hal ini mempengaruhi hasil tangkapan mereka.
Berdasarkan uraian di atas, maka isu dan permasalahan ini mengindikasikan
beberapa hal, yaitu:
a.

Terjadinya kebocoran wilayah akibat aktivitas penangkapan; adanya


potensi pendapatan/devisa masyarakat/ daerah yang hilang

b.

Terbatasnya akses masyarakat lokal dalam pemanfaatan sumberdaya


dalam skala besar karena kurang modal dan dukungan pemerintah

c.

Rendahnya kapasitas penegakan hukum/keamanan (Law enforcement)


dalam pelaksanaan MCS (Monitoring, Controlling and Surveilance);
ketidakmampuan pemerintah dan masyarakat di dalam menegakan
hukum di wilayah perairan teritorial (keterbatasan aparat, fasilitas, dana
dan kelembagaan).

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 117

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

(2) Penggunaan Trawl dalam Penangkapan


Penggunaan trawl sebagai alat tangkap terlarang sepertinya merupakan hal
biasa di wilayah perairan Kepulauan Aru.

Bahkan izin penangkapan di

daerah Kep Aru dengan menggunakan Trawl untuk menangkap udang,


izinnya langsung dikeluarkan pusat.

Padahal kerusakan wilayah seperti

tingginya kekeruhan dan kerusakan terumbu karang secara langsung


berdampak pada usaha masyarakat setempat.
Banyaknya

pengusaha

udang yang

menggunakan

berpengaruh terhadap aktvitas budidaya mutiara.

trawl

juga

telah

Mutiara tidak dapat

berkembang dengan baik, karena tingkat kekeruhan perairan makin lama


makin meningkat.
(3) Kapasitas SDM Nelayan (Keterampilan, Penguasaan Teknologi, Pola Pikir,
dll)

Membatasi

Optimalisasi

Pemanfaatan

Sumberdaya

Ikan

yang

Berkelanjutan
Kemampuan dan kapasitas sumberdaya manusia nelayan Kepulauan Aru
ternyata masih rendah dan terbatas sekali. Hal ini dilatar belakangi oleh
beberapa hal, yaitu:
a. Tingkat pendidikan masih rendah dan terbatas dalam usaha perikanan
b. Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang rendah
c. Rendahnya kemampuan manajerial dan kurangnya daya saing nelayan
lokal
d. Skala usaha kecil dengan teknologi tradisional sehingga faktor iklim dan
oseanografi menjadi pembatas.

Kawasan Indonesia timur merupakan

kawasan perairan laut dalam dengan pengaruh hidrodinamika yang


tinggi. Sementara armada perikanan yang dikembangkan adalah armada
semut (kecil).
Kemampuan SDM nelayan yang rendah baik keterampilan, penguasaan
teknologi,

pola

pikir,

dll

menyebabkan

penangkapan yang mereka lakukan.

hampir

statisnya

kegiatan

Hasil tangkapan pun tetap dan

cenderung sedikit akibat kerusakan lingkungan daerah tangkapan yang ada


LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 118

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

di wilayah pesisirnya terus menjadi lahan tangkapan bagi nelayan asing.


Keinginan untuk maju dan berkembang banyak dimiliki, akan tetapi pola pikir
dan kemampuan serta pengetahuan mereka belum mampu untuk mencari
solusi yang terbaik.
Pemanfaatan sumberdaya ikan yang belum optimal di wilayah perairan
Kepulauan Aru salah satunya disebabkan karena skala usaha yang
dikembangkan masih terbatas pada pemenuhan kebutuhan lokal. Nelayan
cenderung untuk menangkap dalam jumlah sedikit (kebutuhan sehari-hari).
Pemikiran untuk mengembangkan skala usaha dan melakukan bisnis dalam
arti luas, belum banyak dipikirkan oleh nelayan.

Hal ini terkait dengan

beberapa hal, diantaranya:


a. lemahnya permodalan nelayan;
b. tingkat pendidikan masih rendah (kualitas SDM rendah);
c. adanya sistem patron-klien antara nelayan lokal dengan nelayan asing
(bandar) yang menciptakan stratifikasi usaha;
d. struktur kelembagaan nelayan masih lemah bahkan tidak ada, dan;
e. kurangnya perhatian dan keberpihakan Pemerintah daerah, baik Pusat
dan Daerah terhadap kegiatan perikanan.
Oleh karena itu disini diperlukan adanya pendampingan dari Pemerintah,
LSM, Swasta dan Perguruan Tinggi, baik dalam bentuk bantuan ataupun
kemitraan yang saling menguntungkan.

(4) Tidak Berfungsinya Tempat Pendaratan Ikan dan Fasilitas TPI dalam
Menunjang Aktivitas Perikanan
Aktivitas perikanan tidak terlepas dari infrastruktur pendukungnya.

Salah

satu infrastruktur yang diperlukan adalah adanya Tempat Pelelangan Ikan


dan pelabuhan untuk memasarkan hasil tangkapan sekaligus tempat
berlabuh kapal. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan terhadap kondisi
Tempat Pelelangan Ikan di Kepulauan Aru hampir semua tempat pelelangan
tidak berfungsi. Keadaaan ini terjadi karena hal-hal sebagai berikut:
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 119

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

a. Sedikitnya hasil tangkapan nelayan lokal, yang rata-rata hanya untuk


memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga tidak bisa dilelang.
b. Banyak nelayan Asing khususnya di Kep Aru Timur

dengan armada

besar yang menjadi penampung hasil tangkapan, tanpa harus melewati


TPI.

(5) Tidak Adanya Sistem Monitoring Pendaratan Hasil Tangkapan Ikan dan Stok
Sumberdaya Ikan
PP No. 25 Tahun 2000, nampaknya menjadi masalah antara kabupaten/kota
dengan propinsi karena PP ini mengatur bahwa retribusi hanyalah
kewenangan kabupaten/kota.

Dalam pelaksanaannya metode retribusi ini

ditentukan hanya oleh kabupaten/kota sehingga data tidak mengalir ke


propinsi. .
Lemahnya sistem pendataan pendaratan ikan ini disebabkan karena data
produksi tidak dicatat secara langsung (berdasarkan pendaratan) tapi hanya
berdasarkan laporan dari pedagang pengumpul.

Selain itu, kesadaran

nelayan, pedagang pengumpul maupun eksportir untuk melaporkan data


pendaratan secara benar sangat rendah.

3. Kegiatan Perikanan Budidaya


Kegiatan perikanan budidaya di Kepulauan Aru sudah mulai terlihat hasilnya
walaupun masih dengan skala usaha yang kecil. Kegiatan budidaya di pesisir dan
laut mencakup budidaya pantai dan budidaya laut serta budidaya air tawar yang
berdekatan dengan pesisir. Berbagai komoditas ikan dan jenis lainnya sudah diteliti
mempunyai tingkat keberhasilan yang cukup tinggi untuk dibudidayakan. Dengan
panjang pantai yang cukup signifikan ditambah dengan kondisi kualitas air yang
relatif masih baik, potensi perikanan budidaya di Kepulauan Aru menjanjikan hasil
yang besar bagi peningkatan PAD dan kesejahteraan nelayan/petani ikan.
Pengembangan aktivitas perikanan budidaya merupakan program utama dalam
pengembangan kelautan dan perikanan Kepulauan Aru. Untuk itu berbagai

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 120

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

permasalahan menyangkut aspek teknis, kelembagaan, teknologi, kebijakan, SDM


dan pemanfaatan ruang perlu dikaji dan dicarikan solusi alternatif pemacahannya.

(1). Kurang Tersedianya Data yang Akurat Mengenai Potensi Budidaya di


Kabupaten Kepulauan Aru
Data potensi budidaya laut yang akurat dan ilmiah belum tersedia secara
optimal.

Ada beberapa kawasan yang secara geografis baik untuk

pengembangan budidaya laut, tapi secara kualitas tidak begitu baik. Tetapi
secara umum kawasan di sekitar perairan Kepulauan Aru sangat cocok untuk
perikanan budidaya laut, tapi data yang tersedia juga masih kurang
memadai.

Akibatnya kegiatan budidaya yang dikembangkan umumnya

dilakukan oleh pengusaha besar mulai dari penyediaan data awal sampai
detail desainya. Akibatnya pemerintah akan sulit melakukan kontrol terhadap
kegiatan budidaya yang sedang dikembangkan di daerah.

(2). Kesesuaian Pemanfaatan Ruang dan Pulau Kecil sebagai Lokasi Budidaya
Laut yang Kurang Tepat
Kegiatan budidaya di Kepulauan Aru belum begitu optimal. Ini menunjukkan
belum seriusnya kegiatan pengembangan budidaya laut. Selain itu
pengembangan budidaya juga terkait dengan kepemilikan pulau. Pengusaha
yang memiliki pulau biasanya mengembangkan kegiatan perikanan di sekitar
pulau yang dimilikinya. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kegiatan budidaya
laut selalu identik dengan modal yang besar. Namun demikian sebenarnya
kegiatan budidaya laut di pengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:
a. Belum tersedianya data yang akurat mengenai potensi budidaya seperti
yang disajikan pada point diatas.
b. Perijinan usaha yang belum begitu dipahami dan dimengerti oleh
masyarakat umum.

Sehingga terkesan tidak ada informasi yang

transparan tentang kegiatan budidaya perikanan.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 121

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

c. Kepemilikan pulau dengan status sewaan menyebabkan terbatasnya


ruang usaha bagi masyarakat yang tidak memiliki pulau.
d. Belum tersedianya informasi yang memadai tentang faktor lingkungan
yang berpengaruh terhadap budidaya seperti pola sebaran arus dicalon
lokasi, gelombang, suhu perairan, pencampuran (salinitas) serta
kemudahan mencapai lokasi.
e. Banyaknya kawasan pulau kecil yang dikembangkan berdasarkan tujuan
dan kepentingan pengusaha seperti untuk budidaya mutiara di sekitar
perairan Kepulauan Aru

(3). Keterbatasan Sumberdaya Manusia Perikanan Budidaya


Perikanan budidaya di Kepulauan Aru relatif masih baru dan tampaknya
lambat berkembang, padahal sumberdaya alam sangat mendukung seperti
ketersediaan ikan budidaya yang bernilai ekonomi tinggi. Salah satu faktor
utama penyebab hal tersebut adalah kemampuan SDM dalam menguasai
teknologi dan manajerial budidaya terbatas. Sumberdaya Manusia perikanan
budidaya umumnya adalah pengusaha besar yang memiliki modal besar.
Sedang ditingkat nelayan lokal belum begitu berkembang, karena umumnya
sulit bersaing dengan pengusaha besar, baik dari segi kualitas maupun
kuntitas dan nilai jual ikan.

(4). Keterbatasan Sarana dan Prasarana Pendukung Usaha Budidaya


Proses produksi budidaya perikanan membutuhkan dukungan sarana
produksi yang tepat waktu, tepat jumlah, tepat mutu dan tepat harga (4 T).
Sarana produksi tersebut antara lain: benih/benur, pakan (pelet atau rucah),
BBM, es, pupuk dan obat-obatan serta peralatan budidaya.

Benih ikan

kerapu masih menjadi masalah, mengingat benih dari alam sudah semakin
terbatas sementara benih dari hatchery umumnya berukuran kecil dan daya
adaptasi terhadap lingkungan dan pakan relatif rendah sehingga mudah mati.
Benih tersebut umumnya didapat nelayan lokal dengan memancing maupun
dengan cara menjaring.

Sementara itu hatchery ikan kerapu juga masih

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 122

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

terbatas (belum tersedia), bahkan belum ada yang mampu menghasilkan


benih dengan baik.
Prasarana produksi meliputi antara lain: aksesibilitas (jalan dan sarana
komunikasi) antara daerah penghasil dengan lokasi budidaya serta pasar
masih terbatas. Sehingga biaya yang diperlukan untuk kegiatan budidaya
menjadi lebih besar. Biaya ini akan menjadi lebih ringan kalau dikembangkan
oleh nelayan lokal (penduduk setempat).
(5). Kesesuaian Tata Ruang Lahan Budidaya di Kawasan Pesisir dan Laut
Belum tertatanya tata ruang budidaya yang komprehensif menyebabkan
rendahnya tingkat kepastian berusaha dan pengembangan budidaya
sehingga menjadi kendala yang serius.

Aktivitas dan pengembangan

budidaya akan bersinggungan dengan beberapa sektor lain, seperti


perlindungan kawasan, konservasi.

Beberapa contoh banyak nelayan di

sekitar kawasan budidaya yang menggembangkan karamba di atas terumbu


karang.
4. Aspek Sosial Budaya dan Ekonomi (Pendapatan)
(1). Rendahnya Penerimaan Daerah Akibat Hilangnya Sumberdaya di Wilayah
oleh Nelayan Asing
Kebocoran wilayah (regional leakages) ditandai dengan banyaknya hasil ikan
dari Perairan Kepulauan Aru yang tangkap dan dijual keluar negeri oleh
nelayan asing yang tidak menjadi bagian pendapatan masyarakat, PAD
maupun devisa. Adanya pelanggaran fishing ground oleh nelayan asing, di
perairan Kepulauan Aru. Kasus penangkapan ikan di Kepulauan Aru oleh
nelayan asing telah menyebabkan hilangnya sumber mata pencaharian
masyarakat. Adanya pemanfaatan sumberdaya oleh orang atau lembaga di
luar masyarakat daerah tersebut dan tidak atau sedikit memberikan
kontribusi sehingga orang luar mendapatkan manfaat yang maksimal dari
sumberdaya tersebut merupakan suatu kebocoran wilayah.

Kondisi di

Indonesia, terutama di wilayah pesisir, hal ini terjadi karena ketidakmampuan


masyarakat daerah tersebut untuk memanfaatkan sumberdaya secara

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 123

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

optimal. Keterbatasan kapasitas SDM baik masyarakat maupun aparat yang


ada menjadi fokus utama dari permasalahan ini.
(2). Keterbatasan Pasar dan Kepastian Harga Hasil Perikanan
Keterbatasan pasar merupakan salah satu keuntungan bagi nelayan asing.
Ini dimanfaatkan dengan memanfaatkan usaha nelayan lokal (membeli hasil
tangkapan dengan harga yang ditentukan sendiri oleh nelayan asing
tersebut).

Akibatnya nelayan yang memiliki hasil tangkapan yang besar

cenderung untuk menjualnya ke nelayan Asing, sedangkan yang mempunyai


hasil sedikti langsung dijual konsumen. Akibatnya nelayan lokal jadi tidak
begitu bersemangat untuk mengembangan usahanya.

(3. Rendahnya Produktivitas Kontribusi Sektor Perikanan Terhadap Pendapatan


Masyarakat dan Pemda.
Pemda selama ini selalu mengandalkan kontrbusi sektor perikanan dan
kelautan melalui pungutan terhadap nelayan asing berupa sewa tambat
labuh.

Akibatnya nelayan asing

merasa beruntung dengan sewa yang

rendah dapat memperoleh ikan yang banyak. Tidak berfungsinya TPI adalah
salah satu sebab rendahnya penerimaan daerah. Ketidakmampuan daerah
dalam mengelola daerah tersebut menjadi sebab kecilnya penerimaan
pemda dari sektor perikanan.
(4). Distribusi Pekerjaan yang Tidak Merata
Terjadinya polarisasi pekerjaan (kegiatan skala besar seperti penampung
ikan, budidaya kerapu, dan perdagangan skala besar oleh pengusaha
besar), dan perdagangan skala kecil jasa transportasi lokal oleh masyarakat
lokal. Ini juga dipicu oleh kemudahan yang diperoleh oleh golongan tertentu
untuk sektor-sektor besar, seperti fasilitas perijinan yang dikeluarkan pusat
untuk perijinan trawl di perairan Kepulauan Aru.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 124

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

a. Potensi konflik akibat kondisi sistem tata niaga, distribusi dan pasar
cenderung dikuasai oleh kelompok pengusaha. Sementara masyarakat
lainnya cenderung bekerja pada sektor primer, buruh dan pemerintahan.
b. Keberpihakan pemerintah terhadap penduduk lokal rendah dan kurang
mampu memanajemen sumberdaya manusia dan alam secara baik.
5. Institusional dan Kelembagaan
(1). Kapasitas Kelembagaan Pemerintahan Rendah
Dalam hal kelembagaan, maka peran penting disandang oleh Pemerintah
sebagai lembaga formal pelayan sosial masyarakat.

Oleh karena itu

pemerintah dituntut untuk mampu memberi yang terbaik bagi masyarakatnya.


Kondisi di Kepulauan Aru mencerminkan adanya kelemahan pada kapasitas
pemerintahan yang ada. Hal ini disebabkan oleh:
a. Belum optimalnya fungsi-fungsi kedinasan yang masih baru
b. Ketidakjelasan/ketidakpastian implementasi otonomi daerah

(2). Lemahnya Kelembagaan di Tingkat Masyarakat dalam Pengelolaan


Sumberdaya Publik
Lembaga-lembaga dalam masyarakat masih belum banyak berkembang. Ini
dipicu oleh kurangnya partisipasi masyarakat, juga karena keterbatasan
dukungan dari sektor pembangunan.

Misalnya banyak masyarakat yang

tidak memanfaatkan KUD untuk penjualan hasil perikanan dan sebagainya.


Masyarakat masih memiliki pola jangka pendek, yang tujuannya hanya untuk
memenuhi

kebutuhan

sesaat.

Kemudian

juga

terlihat

dari

kurang

berkembangnya lembaga keuangan untuk memberikan kredit/bantuan


keuangan

kepada nelayan

atau petani ikan

sebagai modal

untuk

memperbesar skala usaha dan memutuskan lingkaran setan nelayan dengan


toke/bandar.
Selain itu, kapasitas kelembagaan, masyarakat yang masih rendah
disebabkan oleh:

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 125

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

a. Masyarakat pesisir yang berkembangan kebanyakan adalah pendatang


sementara penduduk asli tidak begitu berkembang dalam kegiatan
pengusahaan perikanan
b. Kelembagaan

pemerintah

tidak

mampu

menjangkau

sampai

kelembagaan di tingkat masyarakat


c. Masyarakat tidak berorientasi pada prinsip pengelolaan sumberdaya
berkelanjutan
5.10.2 Kegiatan Prospektif Hulu-Hilir
Berdasarkan

analisa

keragaan

produksi,

sarana

prasarana,

kemampuan

sumberdaya manusia (SDM) dan beberapa isue permasalahan yang dihadapi dan
muncul sebagai kendala dalam pengembangan dan peningkatan produksi perikanan
baik perikanan tangkap maupun budidaya, maka beberapa kegiatan prospektif dari
hulu sampai hilir perlu dikembangkan.

Sesuai dengan tujuan pengelolaan dan

pemanfaatan sumberdaya perikanan yang telah digariskan pemerintah yaitu


sepenuhnya diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan
sumberdaya secara optimal dan berkelanjutan, maka bebera kegiatan prospektif
dalam bidang perikanan tangkap dan budidaya perikanan

perlu di kembangkan

semaksimal mungkin.
A. Pengembangan perikanan tangkap
Untuk mendukung pengembangan kegiatan perikanan tangkap melalui upaya
peningkatan produksi perikanan secara optimal dan berkelanjutan, perlu dilakukan
berbagai upaya perbaikan mulai dari hulu hingga hilir. Kegiatan ini harus disesuaikan
dengan daya dukung sumberdaya dan potensi unggulan daerahnya. Beberapa
kegiatan yang perlu dikembangkan untuk mendukung pengembangan perikanan
tangkap di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru mulai dari hulu hingga hilir antara lain
berupa :
1. Peningkatan kapasitas armada perahu bermotor dan kapal motor untuk
beberapa

kecamatan

yang

cukup

potensial

sumberdaya

perikanan

tangkapnya seperti di Kecamatan Aru Selatan dan Aru Selatan Timur.


Dengan berkembangnya armada ini diharapkan terjadi peningkatan produksi

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 126

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

dan penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak untuk menopang


kehidupan perekonomian masyarakat.
2. Peningkatan dan perbaikan alat tangkap yang efektif dan ramah lingkungan
untuk menjamin ketersediaan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan.
3. Perbaikan dan penyediaan sarana dan prasarana kepelabuhanan seperti
cold storage untuk meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan di setiap
kecamatan dan penyediaan tempat pelelangan ikan (TPI) yang memadai..
4. Pengembangan industri pengolahan ikan dalam rangka peningkatan nilai
tambah hasil perikanan dan perluasan lapangan kerja di Kecamatan Aru
Tengah (Benjina)
5. Peningkatan kemampuan sumberdaya manusia (SDM) nelayan untuk
meningkatkan keterampilan dalam bidang penangkapan, pengolahan ikan
dan pemasaran melalui berbagai program pelatihan.
6. Pengembangan pola kemitraan antara pengusaha dan nelayan yang
bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan para nelayan dan penyerapan
tenaga kerja. Pola kemitraan juga perlu diberlakukan kepada perusahaan
asing dengan mewajibkan mengikut sertakan nelayan setempat dalam
melakukan operasinya.
7. Mengembangan jaringan pemasaran baik dalam negeri maupun luar negeri
untuk menjamin kelancaran pemasaran.
8. Perbaikan sarana transportasi baik darat, laut maupun udara serta
komunikasi, perbankan, energi, akomodasi, permodalan dan sarana lainnya
untuk mendukung kelancaran pemasaran, mobilitas berbagai sarana
produksi termasuk mobilitas manusia.
9. Mengembangkan produk hasil tangkapan atau ikan olahan yang dapat
dijadikan produk unggulan daerah seperti ikan asap, sashimi atau surimi.
10. Untuk menjaga ketersediaan sumberdaya perikanan tangkap secara
berkelanjutan, maka perlu dilakukan pelarangan terhadap penggunaan
berbagai alat tangkap yang bersifat merusak seperti trawl, bahan peledak
dan racun sianida dengan melakukan pengawasan secara ketat dan sangsi
hukum yang berat.
11. Pembatasan dan pengawasan terhadap kegiatan operasi kapal asing di
Perairan Arura perlu dilakukan dengan sangat ketat, selain untuk menjaga
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 127

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

ketersediaan

sumberdaya

secara

keberlanjutan

dan

tidak

merusak

lingkungan, juga untuk menjaga rasa keadilan masyarakat setempat. Untuk


itu perlu diwajibkan kepada perusahaan asing untuk mendirikan pabrik
pengolahan ikan di Kepulauan Aru untuk memperluas lapangan kerja
masyarakat setempat dan menambah pemasukkan pendapatan daerah.
B. Perikanan Budidaya
Seperti halnya dengan perikanan tangkap, dalam bidang perikanan budidaya,
kegiatan hulu-hilir yang dapat dikembangkan antara lain :
1. Mengembangkan berbagai produk unggulan daerah hasil budidaya laut yang
dapat dijadikan sebagai komoditas unggulan budidaya khas daerah seperti
mutiara, ikan karang hidup kerapu yang memiliki harga tinggi mencapai US $
350 per kg di pasaran ekspor dan rumput laut..
2. Peningkatan sumberdaya manusia untuk dapat melakukan kegiatan
budidaya mulai dari yang sederhana berupa pemeliharaan ikan hasil
tangkapan dalam keramba jaring apung, pemeliharaan teripang, rumput laut
hingga budidaya mutiara. Dengan tersedianya sumberdaya manusia yang
cukum terampil, diharapkan kegiatan budidaya dapat berkembang dengan
baik di berbagai kecamatan dan para investor dapat meningkat jumlahnya.
3. Penyediaan benih ikan, udang, teripang, rumput laut, mutiara, kima dan
organisma lainnya baik melalui kegiatan pembenihan maupun hasil
tangkapan untuk memenuhi permintaan dalam kegiatan budidaya,
4. Peningkatan sarana dan prasarana pembenihan dan budidaya untuk
mendukung kegiatan pengembangan budidaya dan melakukan kajian
kesesuaian lahan untuk budidaya perikanan secara tepat sesuai dengan
potensi dan daya dukung daerahnya.
5. Pengembangan sentra produksi dan distributor sarana dan prasarana
budidaya termasuk penyedia pakan dan obat-obatan.
6. Pengembangan pola kemitraan antara pengusaha dan nelayan dalam
pengembangan usaha budidaya laut baik dalam sistem produksi maupun
pemasaran.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 128

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

7. Perbaikan sarana transportasi baik darat, laut maupun udara serta


komunikasi, perbankan, energi, akomodasi, permodalan dan sarana lainnya
untuk mendukung kelancaran pemasaran dan mobilitas berbagai sarana
produksi termasuk mobilitas manusia.
Dari segi pengembangan produksi hasil laut baik dari kegiatan penangkapan
maupun budidaya, dapat dikembangkan produk-produk perikanan seperti terlihat
pada Gambar 5.13.

Gambar 5.13
Pengembangan berbagai produk perikanan hasil tangkapan dan
budidaya

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 129

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Dari gambar tersebut terlihat bahwa produk hasil tangkapan ikan dapat berasal dari
ikan-ikan permukaan (ikan pelajik) dan ikan dasar (demersal). Ikan pelagik besar
seperti tuna merupakan komoditas ekspor yang bernilai ekonomi tinggi. Ikan tuna
selain dapat dipasarkan dalam bentuk segar, juga dapat diolah dalam bentuk
sashimi dan surimi.

Pasar tujuan ekspor tuna kebanyakan Jepang.

Untuk

pengembangan perikanan tuna dapat melibatkan tenaga nelayan local dengan


sedikit memberikan pelatihan. Diharapkan sektor ini kalau dapat dikembangkan di
wilayah perairan Kabupaten Kepulauan Aru, dapat membantun meningkatkan
perekonomian masyarakat pesisir dan perekonomian daerah ini.
Produk lain yang cukup potensial dikembangkan adalah hasil tangkapan ikan berupa
ikan pelajik kecil seperti ikan cakalang dan tenggiri yang dapat diolah menjadi ikan
asap atau ikan kaleng. Komoditi ini juga cukup banyak permintaannya baik untuk
pasar regional antar pulau maupun ekspor.

Demikian halnya dengan ikan-ikan

pelajik lainnya seperti ikan julung yang juga di ekspor, ikan tongkol, ikan kembung,
ikan layang, cumi dan ikan lainnya yang dapat dipasarkan dalam bentuk ikan segar,
dapat dipasarkan baik ke pasar local, regional maupun ekspor. Sementara ikan teri
telah ada penampungnya yaitu preusan Korea dan China. Ikan demersal seperti ikan
kakap dan beronang, banyak diminta pasar ekspor dalam bentuk ikan segar.
Sementara ikan karang seperti ikan kerapu dari berbagai jenis baik yang dihasilkan
dari penangkapan maupun budidaya, memiliki pasar ekspor khusus dengan harga
cukup tinggi berkisar antara US $ 6-50 dalam keadaan hidup. Ikan termahal dari
jenis ikan karang adalah ikan Napoleon yang sudah dilarang penangkapannya dan
ikan kerapu tikus. Kedua jenis ikan ini harganya dapat mencapai US $ 35-50 dan
sudah mulai langka di perairan Asia Tenggara. Untuk itu diperlukan kehatia-hatian
dalam melakukan penangkapan ikan-ikan karang dan jangan menggunakan alat
tangkapa yang merusak lingkungan hisupnya seperti dengan menggunakan bom
atau bius.
Sedangkan dari sektor budidaya laut, produk yang dihasilkan dapat dibedakan
dalam bentuk ikan konsumsi, bahan baku industri dan perhiasan.

Untuk ikan

konsumsi yang bisa dipasarkan dalam bentuk ikan segar adalah kakap, kekerangan
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 130

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

dan teripang. Komoditas ini juga cukup banyak permintaan baik di pasar lokal,
regional maupun ekspor dalam bentuk segar atau diawtkan seperti teripang. Untuk
komoditas rumput laut selain dapat dipasarkan dalam bentuk hasil olahan secara
tradisionil seperti dibuat dodol maupun manisan yang dapat dipasarkan di tingkat
lokal atau regional, komoditas ini juga dapat dipasarkan dalam bentuk bahan baku
industri setelah mengalami proses pengeringan.

Rumput laut jenis glacilaria

merupakan bahan baku agar-agar yang banyak diminta pasar dalam negeri. Namun
untuk jenis cotonii, banyak diminta pasar luar negeri seperti Amerika, Eropa dan
Jepang. Sementara untuk mutiara, mayoritas merupakan komoditi ekspor dalam
bentuk bahan perhiasan.
Melihat begitu beragamnya komoditas perikanan laut yang dapat dikembangkan di
wilayah Kabupaten Kepulauan Aru, bukan mustahil kawasan ini dapat berkembang
dan maju perekonomiannya dengan mengandalkan sumberdaya perikanan, pesisir
dan lautan. Namun demikian pengembangan sektor kegiatan penangkapan,
budidaya dan industri pengolahan di wilayah ini, sebaiknya disesuaikan dengan
daya dukung sumberdaya alam daerahnya. Untuk kegiatan penangkapan ikan
sebaiknya dikonsentrasikan di wilayah yang memiliki akses langsung ke perairan
terbuka seperti di wilayah Pulau-pulau Kur yang berhadapan langsung dengan Laut
Banda dan Arafura yang kaya akan ikan. Sementara untuk pengembangan budidaya
laut sebaiknya dikembangkan di kawasan pulau-pulau yang cukup terlindung dan
banyak karang terutama di kawasan perairan PP. Aru dan Aru Utara. Sementara di
Kecamatan Aru Tengah Timur, Aru Tengah Selatan dan Aru Selatan dapat
dikembangkan budidaya mutiara sesuai dengan potensi dan daya dukung alam
daerahnya.

Selain itu juga pengembangan budidaya laut bisa dikembangkan

berdasarkan komoditas unggulan setempat. Untuk menjaga keberlanjutan usaha


budidaya laut ini, hendaknya direncanakan sebaik mungkin dan dikembangkan
dengan memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan dengan melibatkan adat setempat
seperti SASI. Dengan demikian kondisi sumberdaya alam dapat terjaga dengan
baik dan berkelanjutan untuk mendukung pemanfaatan secara optimal.
Pengembangan industri pengolahan produk perikanan sebaiknya di arahkan di
Kecamatan Aru Tengah (Benjina), dimana saat ini telah terdapat beberapa usaha
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 131

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

pengolahan ikan seperti PT. Jayanti Group di Banjina. Lokasi pengembangan


kegiatan industri pengolahan kedepan, sebaiknya disesuaikan dengan daya dukung
sumberdaya alam wilayah dan didukung dengan penyediaan sarana infrastruktur
yang memadai di wilayah ini.
sumberdaya

air

dipertimbangkan

dan

energi

dengan

Karena industri perikanan akan memerlukan


yang

cukup,

memperhatikan

maka
kondisi

pengembangannya
setempat.

perlu

Selain

itu

pengembangan industri perikanan hendaknya didahului dengan studi Amdal untuk


mengurangi resiko kerusakan lingkungan dan benar-benar dibangun dengan
dilengkapi sarana pengolah limbah untuk menetralisir buangannya. Dengan
memperhatikan

kondisi

wilayah

Kabupaten

Kepulauan

Aru,

maka

peta

pengembangan kegiatan penangkapan ikan, budidaya laut dan industri di wilayah


Kabupaten Kepulauan Aru dapat terlihat pada Gambar 5.14 berikut.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 132

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Gambar 5.14
Peta sebaran potensi sumberdaya perikanan dan arahan kegiatan
penangkapan ikan, budidaya laut Marikultur Estat dan Industri
Pengolahan Ikan di wilayah perairan Kabupaten Kepulauan Aru

5.10.3. Prospek Pengembangan Komoditas Unggulan


Komoditas unggulan sektor perikanan dan kelautan yang dapat dikembangkan di
Wilayah Kabupaten Aru antara lain sektor perikanan tangkap dan budidaya. Kedua
sektor ini dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik perairan dan daya
dukung lingkungannya.
A. Perikanan tangkap
Komoditas unggulan yang dapat dikembangkan dari sektor penangkapan ikan,
antara lain terdiri dari :
1. Ikan-ikan pelagis besar dan kecil seperti ikan tuna, cakalang, tenggiri,
tongkol, kembung, layang, cucut/hiu, julung, teri, lemuru. Ikan tuna, cakalang,
julung dan sirip ikan hiu memiliki prospek yang cukup baik di pasaran ekspor
seperti Jepang, Korea dan Cina. Ikan tuna dan cakalang merupakan bahan
baku pembuatan sashimi di Jepang. Sirip ikan hiu selain untuk makanan
kelas tinggi di pasar Hongkong dan Cina, juga digunakan sebagai bahan
baku obat tradisional. Sedangkan ikan julung dan teri memiliki pasar yang

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 133

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

baik di Jepang. Negara tujuan ekspor lain untuk produk perikanan tangkap
antara lain Amerika Serikat, Hongkong, Thailand, Malaysia, Singapura,
Inggris Belanda dan Perancis. Untuk ikan-ikan pelagis yang lain masih dapat
dimanfaatkan untu pemasaran regional dan lokal dengan nilai ekonomi yang
cukup baik.
2. Ikan demersal yang dapat dijadikan komoditas unggulan di wilayah perairan
Kota Tual antara lain udang, kakap, bawal dan kerapu.

Udang memiliki

pasar yang cukup baik untuk kawasan Amerika Serikat, Eropa dan Jepang.
Kerapu untuk cukup baik untuk pasar Hongkong, Cina, Malaysia dan
Singapura.
Meskipun peluang pasar perikanan tangkap untuk kawasan ASEAN belum terlihat
cukup besar karena masing-masing negara, kecuali Brunei Darussalam dan
Singapura telah mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam mengelola dan
memanfaatkan potensi sumberdaya perairannya seperti Thailand, Philipina, dan
Malaysia. Namun karena tingkat konsumsi ikan di setiap negara sangat beragam
maka kawasan ASEAN pun tingkat kebutuhan ikannya masih cukup besar yaitu
sekitar 9,7 juta ton per tahun, sedangkan tingkat produksi ikan baru mencapai 7,4
juta ton, yang berarti kekurangan pasokan sekitar 2,3 juta ton per tahun. jika dilihat
peluang pasar bebas dalam kawasan Asia Pasifik atau Negara-negara anggota
APEC yang beranggotakan 18 negara, maka terdapat jumlah penduduk yang sangat
besar yaitu sekitar 2,1 milyar jiwa. Dengan kebutuhan ikan untuk kawasan ini
mencapai 45 juta ton. Kawasan APEC masih terdapat kekurangan pasokan ikan
yang cukup besar, dan ini merupakan peluang pasar yang harus segera
ditindaklanjuti.
Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun kawasan Asia Pasifik berperan sebagai
penghasil ikan terbesar di dunia, tetapi penduduknya masih membutuhkan hasil
perikanan yang cukup besar pula. Posisi Indonesia sebagai sepuluh Negara
terbesar penghasil ikan dunia, ternyata masih belum mampu memenuhi kebutuhan
penduduknya terutama karena penduduknya yang sangat besar mencapai sekitar
210 juta jiwa. Padahal konsumsi ikan/capital/tahun penduduk Indonesia masih
terbilang rendah yaitu 19,1 kg/capital/tahun. Oleh karena itu jika peluang pasar Asia
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 134

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Pasifik ini tidak segera dimanfaatkan maka Negara lain di kawasan ASEAN maupun
Asia Pasifik yang akan memanfaatkannya.
Di kawasan ASEAN yang menjadi pesaing utama Indonesia di pasar produk
perikanan dunia adalah Thailand dan Vietnam. Meskipun produksi perikanan
tangkap Indonesia lebih unggul, tetapi ekspor Indonesia masih kalah bila
dibandingkan dengan ekspor Thailand dan Vietnam. Pada tahun 2005, volume
ekspor Indonesia sebesar 0,87 juta ton, sedangkan ekspor ikan Thailand jauh
memimpin dengan volume sebesar 1,4 juta ton dan menempati peringkat 5 negara
pengekspor ikan terbesar di dunia. Volume ekspor Vietnam sebesar 0,55 juta ton
dan masih di bawah volume ekspor perikanan Indonesia. Selama periode tahun
2000 sampai tahun 2004, volume ekspor Thailand tumbuh rata-rata 4,68% per
tahun, sedangkan pertumbuhan volume ekspor Vietnam dan Indonesia sedikit lebih
baik, rata-rata tumbuh sebesar 16,25% dan 15,54%.
Peluang pasar lain yang selama ini belum dikelola secara optimal adalah peluangpeluang di Negara-negara Islam yang berhimpun dalam Negara OKI, Jika dilihat
peluang pasar dalam kawasan negara-negara Islam yang terhimpun dalam Negara
OKI, maka tentu saja peluang pasar hasil perikanan Indonesia akan semakin besar.
Ini karena Negara-negara Islam belum banyak yang memanfaatkan sumberdaya
alam lautnya, yang memang terbatas. Adapun Negara-negara Islam yang memiliki
hasil laut yang cukup besar selain Indonesia adalah Turki, Malaysia, Namibia,
Maroko, Pakistan, Mesir, Nigeria, Zaire, Iran dan lainnya.
Selama ini komoditi ikan laut utama yang banyak diperdagangkan di pasar dunia
adalah udang, tuna, dan ikan-ikan karang (kakap, kerapu, dan baronang), akan
tetapi pada masa yang akan datang akan lebih banyak lagi jenis ikan yang dapat
diperdagangkan dengan semakin berkembangnya pasar dunia. perdagangan
komoditi perikanan laut akan mengalami pergeseran dalam bentuk oLahan maupun
penyajiannya sesuai dengan perubahan sosial ekonomi Negara-negara pengimpor.
Perubahan selera konsumen ini akan memberikan nilai tambah yang sangat tinggi
seperti ikan hidup dan produk oiahan yang termasuk ready to serve atau ready to

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 135

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

eat. Untuk itu diperlukan inovasi-inovasi teknologi yang mendukung dalam rangka
memanfaatkan peluang pasar yang cenderung semakin berkembang.
Produk perikanan selain menghasilkan berbagai produk oiahan pangan juga
menghasilkan berbagai produk non pangan sebagai bahan untuk industri obatobatan, kosmetik, pakan dan industri lainnya. Salah satu produk yang perlu
dikembangkan adalah senyawa-senyawa alami yang terdapat pada produk
perikanan yang potensial untuk industri (bioprospecting) karena mempunyai nilai
tambah yang sangat tinggi. Sebagai salah satu negara produsen perikanan tangkap
terbesar di dunia, posisi perdagangan luar negeri Indonesia pun tidak bisa
dipandang sebelah mata. Indonesia juga menjadi salah satu negara eksportir produk
perikanan tangkap terbesar di dunia. Ekspor produk perikanan tangkap dari
Indonesia sebagian besar dalam bentuk ikan segar, ikan beku, dan ikan olahan.
Negara tujuan utama ekspor produk perikanan Indonesia adalah Jepang, Amerika
Serikat dan China, Volume Ekspor terbesar adalah China. Pada tahun 2005,
volumenya mencapai 160 ribu ton, atau mengalami peningkatan rata-rata sebesar
40% per tahun selama periode tahun 2000-2005, Kemudian diikuti oleh Jepang,
Amerika Serikat dan Singapura. Peningkatan volume ekspor ke China secara drastis
terjadi pada tahun 2003. Volume ekspor juga menunjukkan perkembangan yang baik
untuk negara tujuan Amerika Serikat, Thailand dan Inggris. Sedangkan untuk
Jepang mengalami penurunan volume ekspor rata-rata sebesar 18% per tahun.Hal
menarik terjadi dari sisi nilai ekspor di mana Jepang menempati urutan pertama
sebagai negara tujuan ekspor dengan nilat ekspor pada tahun 2005 mencapai USD
530,214 juta. Meskipun mengalami penurunan yang relatif besar (rata-rata sebesar
6,89% per tahun), Jepang tetap menjadi negara tujuan ekspor terbesar dari sisi nilai,
kemudian diikuti oleh Maerika Serikat dan Singapura. Nilai ekspor ke Jepang
menjadi sangat besar karena sebagian besar ekspor produk perikanan ke Jepang
adalah udang yang nilai ekonomisnya relatif tinggi.
TABEL 5.36
VOLUME DAN NILAI EKSPOR PRODUK PERIKANAN INDONESIA KE
NEGARA TUJUAN UTAMA TAHUN 2000 DAN 2005
Negara

Volume

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

Nilai (US $)

5- 136

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

2000

2005

2000

2005

Hongkong

16,346,406

14,829,619

57,123,328

54,658,584

Amerika Serikat

35,345,766

72,582,612

272,207,852 428,405,207

Jepang

97,402,854

96,505,309

757,831,006 530,314,337
'

Singapura

61,630,513

60,438,857

81,291,274

74,676,364

Malaysia

33,587,314

31,664,038

15,979,521

22,946,027

China

29,020,062

160,040,013 30,635,626

53,909,990

Belanda

8,571,909

5,001,113

37,705,000

20,014,615

Thailand

26,541,362

54,347,791

16,797,642

7,657,009

Inggris

5,319,298

8,204,458

38,078,414

47,408,828

Perancis

2,975,495

1,804,321

15,362,904

11,519,942

Korea

21,892,954

19,255,871

15,984,372

18,970,290

Perkembangan ekspor produk perikanan Indonesia berdasarkan kode HS dapat


dilihat pada bagan 5.7 dan bagan 5.8. Volume ekspor mengalami fluktuasi, dengan
volume ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2004 sebesar 7,44 ribu ton. Dilihat dari
jenisnya, ekspor didominasi oleh ikan dalam bentuk ikan beku, yang diikuti oleh
ekspor udang dan ikan segar. Tabel 5.36 menunjukkan volume dan nilai ekspor
produk perikanan Indonesia.
B. Perikanan Budidaya
Komoditas perikanan budidaya yang dapat dijadikan produk unggulan di wilayah
perairan Kota Tual, antara lain udang, ikan-ikan karang (kerapu) dan rumput laut
yang memiliki nilai ekonomi dan pasar yang cukup baik di pasar Hongkong, Cina,
Taiwan dan Singapura. Ikan kerapu merupakan ikan karang yang eksotis dan
merupakan komoditas ikan kelas atas yang bergengsi. Dipasaran Hongkong China,
Taiwan dan Singapura harga ikan kerapu hidup bisa mencapai USD 60 70 per
kilogram untuk jenis Napoleon dan kerapu tikus, USD 12 18 perkilogram untuk

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 137

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

kerapu sunu dan USD 5 10 untuk kerapu macan dan kerapu lumpur. Melihat
potensi dan peluang yang ada sekarang ini, nampaknya wilayah Kota Tual
merupakan

daerah

potensial

yang

bisa

maju

dan

berkembang

dengan

mengandalkan program perikanannya. Dari sektor perikanan, budidaya ikan kerapu


merupakan salah satu kegiatan usaha agribisnis yang dapat dijadikan andalan
mengingat nilai ekonomisnya yang cukup tinggi terutama dipasaran internasional.
Dari segi tekno-ekonomi dan potensi sumberdaya alamnya, usaha budidaya ikan
kerapu sudah layak dan siap untuk dikembangkan dan dimasyarakatkan. Usaha
budidaya ikan kerapu, selain secara ekonomis cukup berprospektif, juga sangat
bermanfaat dalam mengatasi kepunahan ikan kerapu di alam dan cukup efektif
dalam mengendalikan kerusakan lingkungan ekosistem karang yang merupakan
salah satu obyek wisata alam yang juga bernilai ekonomi tinggi dan merupakan
habitat hidup ikan kerapu. Dukungan teknologi untuk pengembangan budidaya ikan
kerapu saat ini telah berkembang cukup baik. Pengembangan perikanan di wilayah
perairan Kota Tual memerlukan pembangunan prasarana dan sarana serta
sumberdaya manusia yang handal yang kemampuannya dapat ditingkatkan melalui
kegiatan pelatihan budidaya.
Kerapu merupakan salah satu jenis dari kelompok ikan karang yang banyak diimpor
dan dikonsumsi oleh penduduk Hongkong.

Walaupun secara umum impor ikan

karang hidup Hongkong dari tahun 1996 2003 volumenya menurun, tetapi untuk
ikan kerapu volumenya cukup stabil sehingga secara relative jumlahnya meningkat
dari 29% tahun 1997 menjadi 48% tahun 2003 (Tabel .....) ini menunjukkan bahwa di
antara ikan karang hidup, kerapu merupakan salah satu jenis ikan yang digemari
konsumen Angka volume impor ikan karang hidup tersebut merupakan data resmi
yang dikeluarkan oleh instansi resmi Hongkong, khususnya CSD (Center Buerou of
Statistics

Departmen)

dan

AFCD

(Agriculture,

Fishery,

and

Conservation

Departmen). Beberapa praktisi dan ilmuwan memperkirakan volume impor yang


sesungguhnya bisa mencapai sekitar tiga kali dari angka resmi yang dikeluarkan
pemerintah. Hal ini menyangkut banyaknya impor tak tercatat terutama impor yang
menggunakan kapal laut.
TABEL 5.37
VOLUME IMPOR IKAN KARANG HIDUP UNTUK KONSUMSI HONGKONG
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 138

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Tahun
1996
1997
1998
1999
2000
2002
2003

Semua Jenis
(ton)
21.850
20.001
19.366
11.107
9.827
13.124
12.996

Jenis Kerapu
(ton)
(%)
5.715
6.555

29
34

7.057
6.219

54
48

Sumber
AFD Hongkong
AFD Hongkong
AFD Hongkong
IMA Hongkong
IMA Hongkong
AFD + CSD
AFD + CSD

Sementara itu McGilvary dan Chan (2003) serta Pawiro (-) menjelaskan bahwa
menurunnya tingkat konsumsi ikan karang hidup termasuk kerapu di hongkong
sangat dipengaruhi oleh menurunnya kinierja ekonomi yang ditunjukkan oleh
menurunnya angka Hang Seng Index sebesar 45% dari tahun 1999 ke 2002. Ikan
karang hidup di Hongkong, terutama yang bernilai tinggi, banyak dikonsumsi di
restoran. Dengan menurunnya kinerja ekonomi Hongkong serta adanya kejadian
bom di World Trade Center, telah berdampak kepada banyaknya perusahaan
ataupun rumah tangga yang memperketat anggaran untuk makan di restoran
ataupun membatasi perjalanan bisnis ke Hongkong sehingga secara keseluruhan
berakibat kepada menurunnya volume impor ikan karang hidup di Hongkong.
Dalam perdagangan ikan kerapu hidup, terdapat empat negara terbesar pemasok
ikan kerapu hidup ke Hongkong yaitu Phillipina, Indonesia, Australia, dan Thailand.
Berdasarkan data dari CSD Hongkong, keempat negara ini pada tahun 2002
memasok 86,6% dari total impor kerapu hidup Hongkong, dan pada tahun 2003
memasok 83,6%.

Phillipina yang pada tahun 2002 dan 2003 masing-masing

memasok sekitar 26% dan 27% dari keseluruhan impor kerapu hiidup Hongkong,
secara konsisten menjadi Negara pemasok terbesar. Phillipina hampir memasok
semua jenis kerapu ke Hongkong, tetapi jenis ikan yang menjadi andalan Phillipina
adalah spotted coral trout (sunu merah) dan humphead wrasse (napoleon).
Sementara itu Indonesia merupakan pemasok nomor tiga terbesar setelah Phillipina
dan Australia (tahun 2002) atau Thailand (tahun 2003). Pada tahun 2002 Indonesia
memasok sebesar 1.189.266 kg atau sekitar 22% dari total volume impor Hongkong

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 139

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

sedangkan pada tahun 2003 menurun menjadi 991.382 kg atau sekitar 17%.
Walaupun volume impor ikan kerapu hidup Hongkong pada tahun 2003 meningkat
sebesar 462.478 kg atau naik sekitar 8,6% dibanding tahun 2002, tetapi volume
impor yang berasal dari Indonesia justru menurun dari 1.189.266 kg menjadi
991.382 kg. Dari sembilan jenis ikan atau kelompok ikan kerapu yang diimpor
Hongkong yang tercatat oleh CSD, Indonesia memasok 8 jenis (kecuali Giant
grouper atau ikan kertang).

Pada tahun 2002 dan 2003, volume impor dari

Indonesia selalu tertinggi pada jenis High Finned (kerapu tikus) dan other groupers
(terutama kerapu Lumpur, Malabar, kerapu Hitam), walaupun pada tahun 2003
volumenya menurun dibanding tahun 2002. Selain jenis High Finned dan Other
Groupers, jenis kerapu yang volumenya menurun adalah Green, Flowey, dan
Humphead Wrasse (Napoleon).

Di lain pihak, jenis kerapu dari Indonesia yang

mengalami kenaikan volume impor adalah Tiger (kerapu Macan), Leopard Coral
Trout (Sunu Merah), dan Spotted Coral trout.
Australia sangat kuat pada kerapu Leopard Coral Trout (Sunu Merah) yang diperoleh
melalui penangkapan di perairan Great Barrier. Dari total impor ikan Sunu Merah
sebesar 2.237.650 kg tahun 2002, Australia menyumbang 1.132.597 kg, atau sekitar
50,6%. Sementara itu Thailand secara konsisten mampu menjadi pemasok terbesar
untuk kerapu jenis Green. Pada tahun 2002 Thailand menyumbang kerapu Green
yang diimpor Hongkong sebesar 41%, sedangkan pada tahun 2003 kontribusinya
meningkat menjadi 63,9%. Di luar empat Negara pemasok terbesar ikan kerapu
hidup di Hongkong, Taiwan merupakan Negara yang secara konsisten memasok
kerapu Giant (Kertang) ke Hongkong, walaupun Negara ini juga dikenal sebagai
konsumen ikan kerapu yang cukup intens. Penguasaan teknik budidaya kerapu
kertang di Taiwan telah mengantarkan negaranya menjadi eksporter ikan kerapu
kertang yang cukup sukses.
Sementara itu dari sisi spesies atau jenis kerapu yang diimpor Hongkong, terdapat
tiga jenis atau kelompok jenis kerapu yang dominant, yaitu Leopard Coral trout
(Sunu Merah), Green, dan kerapu campuran (other groupers) yang di dalamnya
terdapat kerapu Lumpur, Malabar, Hitam, dan lain-lain. Ketiga jenis atau kelompok
jenis kerapu ini pada tahun 2002 dan 2003 menguasai pangsa pasar Hongkong
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 140

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

masing-masing sebesar 92,4% dan 92,2%. Kerapu Sunu Merah (Leopard Coral
trout) yang dalam aktivitas bisnis disebut Tong Sing merupakan jenis kerapu yang
paling diminati konsumen atau pembeli Hongkong. Salah satu alasannya adalah
warnanya yang merah.

Pangsa pasar Kerapu Merah pada tahun 2002 sebesar

42,1% sedangkan tahun 2003 sebesar 37,7%. Australia dan Phillipina merupakan
Negara-negara pemasok utama ikan kerapu Sunu Merah di pasar Hongkong.
Sampai saat ini ikan Sunu Merah yang diimpor Hongkong berasal dari ikan
tangkapan karena belum ada Negara yang mampu membudidayakan.
Jenis ikan kerapu selain Sunu Merah yang mempunyai pangsa pasar terbesar kedua
adalah Green. Pangsa pasar kerapu Green di Hongkong pada tahun 2002 dan 2003
masing-masing sebesar 22,2% dan 30,3%. Banyak Negara yang memasok ikan
kerapu Green ke pasar Hongkong, tetapi yang paling menonjol adalah Thailand dan
Phillipina.

Pada tahun 2003, dari total impor Hongkong sebesar 1.754.079 kg,

sekitar 64% dipasok oleh Thailand.


Pangsa pasar untuk ikan kerapu Tikus dan Macan pada tahun 2003 ternyata sangat
kecil, yaitu 0,1% dan 3,7%. Kedua jenis ikan ini banyak dibudidayakan di Indonesia
sehingga pasokan dari Indonesia untuk kerapu tikus dan Macan hampir semuanya
berasal dari budidaya. Volume impor ikan kerapu Tikus menurun dari 11.943 kg
pada tahun 2002 menjadi 7.066 kg tahun 2003. Diduga penurunan ini terjadi karena
harganya yang terlalu mahal, sehingga ikan kerapu Tikus hanya dikonsumsi pada
hari-hari special saja. Di samping Indonesia, Negara pemasok utama kerapu Tikus
adalah Phillipina, serta dalam jumlah yang terbatas adalah Malaysia dan Australia.
Di lain pihak, ada kenaikan permintaan terhadap ikan kerapu Macan pada tahun
2003 dibanding dengan tahun 2002, yaitu dari 123.696 kg menjadi 216.270 kg.
Pemasok terbesar pasar Hongkong untuk kerapu Macan adalah Phillipina. Negaranegara pemasok kerapu Macan selain Indonesia dan Phillipina

yang perlu

diperhitungkan adalah Taiwan, Maladewa, Malaysia.


Jenis kerapu yang pemasoknya hanya sedikit Negara adalah Giant (Kertang) dan
Humphead Wrasse (Napoleon). Pangsa pasar untuk kedua jenis kerapu ini relative
kecil, yaitu 0,4% untuk Kertang dan 0,3% untuk Napoleon. Kertang hanya dipasok
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 141

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

oleh Taiwan dan Maladewa, sedangkan Napoleon oleh Phillipina, Indonesia, dan
Malaysia. Napoleon merupakan jenis ikan yang paling prestisius.
5.10.4. Analisis Kelayakan Pengembangan Industri Komoditas Unggulan
Sektor perikanan dan kelautan yang layak dikembangkan sampai dengan skala
industri di wilayah perairan Kabupaten Aru adalah ikan-ikan pelagis besar dan kecil
(tuna, cakalang, tenggiri, tongkol, teri, julung, lemuru), dan ikan-ikan demersal
(udang, kakap, cumi-cumi, bawal) untuk sektor perikanan tangkap. Sedangkan untuk
perikanan budidaya, komoditas yang layak dikembangkan adalah komoditas udang
dan ikan kerapu.
A. Perikanan Tangkap
Untuk komoditas perikanan tangkap, pengembangan ke skala industri diarahkan
untuk tujuan ekspor. Untuk mendukung terwujudnya tujuan tersebut, maka perlu
dilakukan identifikasi kelayakan lokasi yang secara besar dapat dibagi menjadi dua
kegiatan utama yaitu kegiatan penangkapan dan pengolahan.

Sesuai dengan

karakteristik perairan dan potensi yang ada di wilayah Kabupaten Aru, kegiatan
penangkapan dapat diarahkan di seluruh perairan Kabupaten Aru yang berhadapan
langsung dengan Laut Banda dan Laut Arafura dengan pangkalan utamanya di
wilayah Kecamatan Aru Tengah dengan pusat pangkan di Benjina.

Sedangkan

untuk pembangunan industrinya, dalam jangka panjang dapat diarahkan di daerah


Benjina, Kecamatan Aru Tengah dimana di kawasan ini sudah berkembang sebagai
kawasan industri perikanan. Sebagai kawasan penyangga, pusat pendaratan ikan
dapat dikembangkan di seputar Kabupaten Aru di sebelah Utara, Barat, Selatan dan
Timur.
Untuk mendukung pengembangan sektor industri perikanan tangkap di wilayah
Kabupaten Aru, perlu dibangun sarana prasarana antara lain armada perikanan
tangkap, pelabuhan kapal, dock dan galangan kapal, pabrik es, cold storage,
perbankan, ekspedisi, listrik/energi, transportasi darat, laut dan udara, komunikasi,
pusat-pusat penyediaan sarana dan prasarana pendukung kegiatan penangkapan
ikan seperti jaring, pelampung, spare part kapal dan pendukung lainnya. Sedangkan
untuk kegiatan pengalengan atau tepung ikan perlu di sediakan pabrik pengalengan
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 142

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

dan tepung ikan yang dilengkapi dengan perlengkapan permesinannnya.

Selain

prasarana fisik, yang tidak kalahnya adalah penyediaan sumberdaya manusia yang
handal baik untuk mendukung kegiatan penangkapan maupun pengolahan.
Agar kegiatan pengembangan industri perikanan tangkap dapat berjalan dengan
baik dan berkesinambungan, perlu dilakukan upaya pengelolaan yang baik untuk
mempertahankan ketersediaan bahan baku untuk jangka panjang. Untuk itu perlu
dikembangkan sistem penangkapan yang berkelanjutan dengan menerapkan
larangan penggunaan alat tangkap yang bersifat merusak lingkungan dan
penangkapan yang tidak melebihi kuota daya dukung ketersediaan sumberdaya
perikanan.

Upaya pecegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemantauan

(monitoring) secara teratur dan ketat oleh aparatur yang berwenang dan melakukan
pencatatan produksi baik di sewaktu pendaratan maupun ekspor.

Upaya

pencegahan juga perlu dilakukan untuk menjaga agar ikan tidak di pindah kapalkan
di tengah laut.

Upaya yang palin penting agar kegiatan industri penangkapan ikan

yang dapat menyerap tenaga kerja dan membantu pengembangan perekonomian


daerah, adalah perlunya upaya keras untuk memaksa pengusaha agar membangun
industri pengolahn di wilayah Kabupaten Aru.
B. Perikanan Budidaya
Komoditas perikanan budidaya yang dapat dikembangkan di wilayah Kabupaten Aru
adalah sampai dengan skala industri adalah udang, kakap, ikan kerapu dan rumput
laut.

Untuk pengembangan kedua komoditas ini perlu diidentifikasi lokasi yang

layak. Di wilayah Kabupaten Aru yang layak dikembangkan untuk pengembangan


usaha budidaya perikanan skala industri (marikultur estat) adalah wilayah perairan di
Kecamatan Pulau-pulau Aru dan Aru Utara.

Komoditas yang paling prospektif

dikembangkan dalam jangka pendek adalah ikan kerapu dan kakap yang dapat di
pelihara dalam keramba jaring apung (KJA). Benih yang digunakan dapat berasal
dari alam atau pembenihan (hatchery). Lokasi yang layak dikembangkan dalam
jangka pendek di wilayah Kabupaten Aru adalah perairan di Kecamatan Aru Utara
yang berdekatan dengan ibu kota Kabupaten Aru (Dobo). Sedangkan Kecamatan
Pulau-pulau Aru untuk jangka menengah dan Aru Selatan serta Timur untuk jangka

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 143

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

panjang.

Namun demikian masyarakat setempat dapat mengembangkan setiap

saat kalau benih dan sarana prasarana produksinya terpenuhi.


Dalam memilih lokasi hendaknya mempertimbangkan faktor teknis dan non teknis.
(1) Faktor Teknis
Faktor teknis adalah segala persyaratan yang harus dipenuhi dalam kegiatan
budidaya kerapu dan berhubungan langsung ke aspek teknis, seperti sumber air
(laut dan tawar), dc perairan, kualitas tanah, elevasi lahan dan pasang surut.
a. Sumber air dan dasar perairan
Kuantitas dan kualitas sumber air sangat menentukan keberhasilan pembenihan, tak
terkec dengan sumber air tawar yang juga merupakan kebutuhan pokok. Air tawar
diperlukan ui membersihkan peralatan kerja, sanitasi lingkungan dan digunakan
untuk kebutuhan se\ hari. Dilihat dari segi kualitas, sumber air laut harus jernih dan
bersih secara visual sepanj tahun. Dengan perairan pantai dengan dasar perairan
pasir atau berkarang, pada umurr jernih dan merupakan lokasi pengambilan air laut
yang baik. Sedangkan pada jenis pantai yang berlumpur memiliki air yang keruh dan
cenderung bersifat asam oleh karena itu perlu dihindari. Kejernihan suatu perairan
belum tentu memberikan jaminan kualitas air yang baik. Akan tetapi kejernihan
setidaknya cukup menduga secara fisik menunjukkan air yang baik. Untuk benarbenar memastikan kualitas air yang baik maka perlu dilakukan pemeriksaan
parameter kimia dan biologi.
Beberapa parameter kimia yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi
pembenihan meliputi oksigen terlarut (DO), salinitas, pH, BOD, COD, amoniak, nitrit,
nitrat, logam berat serta bahan-bahan polutan. Beberapa parameter yang perlu
diperhatikan adalah kecerahan, kekeruhan, suhu, warna, bau, benda terapung dan
kepadatan tersuspensi. Sedangkan parameter biologi perairan yang menjadi
pertimbangan adalah kesuburan perairan yang meliputi kelimpahan dan keragaman
fitoplankton dan zooplankton, keberadaan mikroorganisme pathogen dan biologi lain
yang ada di perairan. Berikut disajikan baku mutu air laut untuk biota laut (Budidaya

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 144

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Perikanan) menurut Kep. MENKLH No. KEP-02/ Men. KLH/1/1998 yang tercantum
pada Tabel 5.38.
TABEL 5.38
BAKU MUTU AIR LAUT UNTUK BIOTA LAUT (BUDIDAYA PERIKANAN)

No.

Parameter

(1)

(2)

FISIKA
1
Warna

Baku Mutu

Satuan

Diinginkan

(4)

(5)

(3)
Cu,
unit

Metode Analisa

Diperbolehkan

Color 50

(6)

30

Kolorimetrik/
Spektrofotometrik

Bau

Alami

Nihil

Organoleptik

Kecerahan

Meter

S3

>5

Visual

Kekeruhan

Nephelome < 30
tric Turbidy
Unit

<5

Nephelometric/Heli
ge turbidimetrik

Padat tersuspensi

Mb/I

<80

<25

Penimbangan

Benda Terapung

Nihil

Nihil

Visual

No.

Parameter

(1)

Baku Mutu

Satuan

(2)

Metode Analisa

Diperbolehkan

Diinginkan

(4)

(5)

(3)

(6)

Lapisan Minyak

Nihil

Nihil

Visual

Suhu

Alami

Alami

Pemuaian

KIMIA
1

PH

6-9

6,5-8,5

Elektrometrik

Salinitas

l
/oo

10% Alami

Alami

Konduktivitimetrik/
Argentometrik

Oksigen

Mg/liter

>4

>6

Titrimetrik Winkler/
Elektrokimiawi dan
inkubasi 5 hari

BODS

Mg/l

<45

<25

Titrimetrik Winkler/
Elektrokimiawi

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 145

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

COD Bikromat

Mg/l

<80

<40

Titrimetrik Frank J.
Baumann
(Refluksi)

Amonia

Mg/l

<1

<0,3

Biru Indofenol

Nitrit

Mg/l

Nihil

Nihil

Diazotasi

Sianida (Cn)

Mg/l

0,20

<0,5

Spectrofotometrik

Sulfida (H3S)

Mg/l

<0,03

<0,01

Kolotimetrik

10

Minyak Bumi

Mg/l

<5

Nihil

Spectofluoritmetrik

11

Senyawa fenol

Mg/l

< 0,002

Nihil

s.d.a

12

Pestisida
Organoklorin

Mg/l

<0,02

Nihil

Kromatografi
Cair

Gas

13

Polikhlorinated
Bifenil (PCD)

Mg/l

<1,0

Nihil

Kromatografi
Cair

Gas

14

Sulfaktan
(Detergen)

Mg/l MBAS -

Spectrofotometrik

15

Logam-Semilogam Mg/l

< 0,003

0,0001

Reduksi/Penguapa
n
Dingin,
Spektroskopi

-Cr (Heksavalen)

Mg/l

<0,01

0,00004

Ko-presipitasi
Spektroskopi
Serapan

-Ar (Arsen)

Mg/ml

<0,01

0,0026

Atom

-Selenium

Mg/ml

< 0,005

0,00045

Reduksi
dengan
Nyala Hidrogen

-Cadmium

Mg/ml

<0,01

0,00002

Ekstraksi Solven

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 146

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

-Tembaga

Mg/ml

<0,06

0,001

Ekstraksi Solven

-Timbal

Mg/ml

<0,01

0,00002

Spektrofotometrik
Serapan Atom

-Seng

Mg/ml

<0,1

0,002

Ekstraksi Solven

-Nikel

Mg/ml

< 0,002

0,007

Ekstraksi Solven

-Perak

Mg/ml

<0,05

0,0003

Ekstraksi Solven

E. Coloform

Sel/100ml <1000

Nihil

MPN/Tabung
Permentasi

Dari beberapa parameter fisika, kimia maupun biologi air laut diatas, pada dasarnya
ada beberapa parameter yang menjadi prioritas, diantaranya adalah : kecerahan,
salinitas, logam berat, pH, suhu, BOD, nitrit (NO2-N), amoniak (NH3-N), oksigen
terlarut, bahan organik dan sumber polutan (pencemaran).
(a) Kecerahan
Perairan yang jernih secara visual menandakan adanya kualitas air yang baik
karena dalam air yang jernih umumnya kandungan partikel-partikel terlarutnya
rendah. Pada air yang kecerahannya tinggi, beberapa parameter kualitas air
lain yang terkait erat dengan bahan organik seperti pH, NO2-N, H2S, dan NH3N cenderung rendah atau layak untuk lokasi pembenihan.
Kekeruhan suatu perairan umumnya disebabkan oleh 2 faktor yaitu : blooming
plankton dan tersuspensinya partikel tanah. Partikel penyebab kekeruhan
dapat menempel pada insang sehingga mengganggu pernapasan organisme
air. Kekeruhan juga dapat menyebabkan gangguan pada penetrasi cahaya

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 147

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

yang masuk dalam media air, sehingga dapat menghambat pertumbuhan


fitoplankton. Dalam kadar yang terlalu pekat dapat mengakibatkan kematian.
(b) Salinitas
Ikan kerapu khususnya kerapu macan dan tikus diketahui dapat hidup
diperairan karang. Umumnya salinitas di perairan karang adalah 30 - 35 ppt.
Oleh karena itu lokasi hendaknya tidak berdekatan dengan muara sungai,
karena pada lokasi demikian salinitas air laut umumnya fluktuatif. Pada musim
kemarau salinitas sangat tinggi, sedangkan pada musim penghujan pengaruh
air tawar dari sungai akan menurunkan salinitas secara drastis. Salinitas air
yang tidak sesuai dengan kebutuhan ikan kerapu dapat mengganggu
kesehatan dan pertumbuhannya. Karena secara fisiologis salinitas akan
mempengaruhi fungsi organ osmoregulator ikan. Perbedaan salinitas air media
dengan tubuh ikan akan menimbulkan gangguan keseimbangan. Hal ini
mengakibatkan sebagian besar energi yang tersimpan dalam tubuh ikan
digunakan untuk penyesuaian diri terhadap kondisi yang kurang mendukung
tersebut, sehingga dapat merusak sistem pencernaan dan transportasi zat-zat
makanan dalam darah.
(c) Logam Berat
Logam berat adalah logam-logam yang secara harfiah berat dengan densitas
>5 gr/cm3. Beberapa diantaranya merupakan unsur esensial bagi tubuh (Mn,
Mo, Se, Cu, Zn, Co), tetapi banyak pula yang sama sekali tidak dibutuhkan
dalam proses metabolisme (Cd, Pb dan Hg). Terhadap jenis logam yang
disebutkan terakhir ini tubuh dapat menyerapnya dalam jumlah tak terbatas
karena tidak ada mekanisme tubuh yang dapat mengenali dan menentukan
batasnya. Keberadaan logam berat pada suatu perairan sering dijadikan
indikator pencemaran limbah industri padahal tidak selamanya demikian
karena hal ini tergantung pada kadarnya. Logam berat dalam bentuk ion atau
komponen tertentu mudah larut dalam air, sehingga dapat diserap tubuh ikan.
Di dalam tubuh, ion berikatan dengan enzim dan menghambat fungsinya.
Senyawa kompleks logam berat dalam tubuh tidak dapat dicerna, maka
terjadilah

bioakumulasi

yang

kemudian

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

mengakibatkan

biomagnifikasi.
5- 148

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Meskipun latar belakang konsentrasi logam berat dimasing-masing perairan


berbeda, pada umumnya dianggap bahwa kadar normal logam berat di air
tercemar 1|ig/l, kecuali Zn 10 |ig/l (Moss, 1980). Untuk keperluan penentuan
lokasi pembenihan kerapu tikus, akan lebih aman jika perairan calon lokasi
terbebas dari logam-logam berat. Hal ini untuk menghindari segala
kemungkinan negatif yang dapat ditimbulkan oleh akibat adanya logam berat
tersebut.
(d) Derajat Keasaman (pH)
Reaksi asam basa sangat berarti bagi lingkungan, karena semua proses
biologi hanya akan terjadi dalam kisaran pH optimum. Derajat keasaman air
laut umumnya alkalis yaitu antara 7 - 9. Hal ini disebabkan di dalam massa air
laut terdapat sistem penyangga (Buffer system). Derajat keasaman yang terlalu
rendah umumnya karena adanya pengaruh dari pH tanah dasar dari perairan
tersebut dan juga oleh adanya beberapa proses kimiawi. Menurut Boyd (1982),
dekomposisi bahan organik dan respirasi akan menurunkan kandungan
oksigen terlarut, sekaligus menaikkan kandungan CO2 bebas sehingga
mengakibatkan turunnya pH air. Beberapa contoh yang dapat diakibatkan oleh
pengasaman air antara lain:
o

Amoniak bersifat racun bagi ikan dan organisme lain. Perbandingan


ammonium : ammonia tergantung pada pH.

Karbondioksida (CO2) juga racun bagi ikan, perbandingan hidrogen


Karbonat: CO2 juga tergantung pada pH.

Fertilitas telur ikan dan zooplankton sangat tergantung pada pH air.

Semua proses biologi mempunyai kisaran pH optimum biasanya


antara 6 - 8, jadi pertumbuhan alga, dekomposisi mikrobiologi, nitrifikasi
dan denitrifikasi juga dipengaruhi pH.

Pada pH rendah, ikatan logam berat dengan tanah atau sedimen


sangat cepat dan mudah terlepas.

Kematian organisme perairan dapat terjadi pada pH 4 dan 11


(Brotohadikusumo, 1997).

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 149

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Dalam pemilihan lokasi untuk pembenihan ikan kerapu, cara yang paling
sederhana untuk menilai pH adalah pada keberadaan padang lamun, koral
maupun hutan bakau, yang pada umumnya memiliki pH optimum.
(e) Suhu
Suhu secara langsung berpengaruh terhadap proses metabolisme ikan. Pada
suhu tinggi metabolisme ikan dipacu, sedangkan pada suhu yang lebih rendah
proses metabolisme diperlambat. Bila keadaan seperti ini berlangsung lama,
maka akan mengganggu kesehatan ikan. Sedangkan secara tidak langsung
suhu air yang tinggi menyebabkan oksigen dalam air menguap, akibatnya ikan
akan kekurangan oksigen.
(f) Biochemical Oxygen Demand (BOD)
BOD sangat erat kaitannya dengan eutrofikasi, yaitu suatu proses pengkayaan
zat hara di perairan (terutama oleh fosfat dan nitrat) yang mengakibatkan
habisnya gas oksigen terlarut. Zat-zat pengikat oksigen kebanyakan adalah zat
kimia organik. Zat kimia organik ini banyak dimanfaatkan sebagai hara atau
sumber energi oleh mikroorganisme. Dalam proses metabolisme mikroba
tersebut, zat kimia organik ini atau hara diuraikan menjadi senyawa yang lebih
sederhana, dan pada akhirnya menjadi elemen an organik dan gas. Reaksi
biokimia ini dapat terjadi karena adanya oksigen terlarut. Oleh karena itu zat
kimia organik tadi disebut sebagai zat-zatyang menimbulkan kebutuhan akan
oksigen (BOD). Semakin tinggi angka BOD suatu bahan air, semakin berat
derajat pencemaran organik air tersebut, karena di dalamnya terdapat
sedemikian banyak zat organik yang memerlukan oksigen dalam kelanjutan
proses dekomposisinya.
Angka BOD antara lain tergantung pada jumlah dan jenis zat hara, zat kimia
lain, jumlah dan tipe mikroba, suhu serta pH. Zat hara tersebut dapat berasal
dari beragam kegiatan pertanian atau pemupukan, peternakan, deterjen, erosi
dan limbah industri tertentu. Pengukuran BOD seperti halnya COD juga
dimaksudkan untuk mengetahui kandungan bahan organik dalam sua\u

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 150

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

perairan serta untuk mengetahui sampai seberapa berat beban polutan yang
terjadi di perairan calon lokasi yang akan dipilih.
(g) Amoniakdan Nitrit
Amoniak (NH3-N)) yang terkandung dalam suatu perairan merupakan salah
satu hasil dari proses penguraian bahan organik. Amoniak ini berada dalam
suatu bentuk amoniak tak ber-ion (NH3) dan amoniak ber-ion (NH4). Amoniak
tak ber-ion bersifat racun sedangkan amoniak ber-ion tidak. Menurut Boyd
(1982), tingkat keracunan amoniak tak ber-ion berbeda-beda untuk setiap
spesies, tetapi pada kadar 0,6 mg/l dapat membahayakan organisme tersebut.
Amoniak biasanya timbul akibat kotoran organisme dan hasil aktifitas jasad
renik dalam proses dekomposisi bahan organik yang kaya akan nitrogen.
Tingginya kadar amoniak biasanya diikuti naiknya kadar nitrit, mengingat nitrit
adalah hasil dari reaksi oksidasi amoniak oleh bakteri Nitrosomonas. Tingginya
kadar nitrit terjadi akibat lambatnya perubahan dari nitrit ke nitrat oleh bakteri
Nitrobacter.
(h) Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut dalam perairan sangat dibutuhkan semua organisme yang ada
di dalamya untuk pernafasan dalam rangka melangsungkan metabolisme
dalam tubuh. Oksigen yang ada dalam air bisa masuk melalui difusi dengan
udara bebas, hasil fotosintesis dari tanaman dalam air dan adanya aliran air
baru. Dalam penentuan lokasi pembenihan kerapu kandungan oksigen
perairan tidak merupakan faktor utama, karena dalam operasionalnya,
kebutuhan oksigen dapat dipenuhi dari sumber pengudaraan tersendiri yaitu
dengan memakai sumber pengudaraan (blower). Akan tetapi kandungan
oksigen suatu perairan perlu diketahui untuk menduga kesuburan perairan
tersebut secara keseluruhan dan dapat dipakai untuk mengetahui kadar BOD
maupun COD.
(i) Bahan Organik
Bahan organik merupakan berbagai bentuk ikatan kimia karbon dan nitrogen
dengan unsur-unsur lain yang terikat yang terikat pada atom karbon (Nebel,
1987). Bahan organik yang terkandung dalam perairan biasanya berasal dari
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 151

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

sisa-sisa organisme yang mati. Pengaruh bahan organik secara langsung pada
organisme yang dipelihara adalah gangguan sistem pernapasan. Kandungan
bahan organik tinggi dapat menyebabkan b/oom/ngfitoplankton, hal ini dapat
menurunkan kandungan oksigen yang akhirnya menurunkan kualitas air.
Selain akibat kompetisi oksigen, penguraian bahan organik oleh bakteri juga
membutuhkan oksigen yang cukup banyak. Penguraian bahan organik dapat
juga terjadi pada kondisi tanpa oksigen (anaerob) dengan produk akhir adalah
senyawa organik (asam) dan mikroba patogen yang memang bertahan hidup
dalam keadaan anaerob. Jika penguraian bahan organik terjadi dalam kondisi
aerob maka yang dihasilkan adalah unsur-unsur hara yang berguna bagi mikro
alga nabati.
(j) Sumber Polutan (pencemaran)
Pemantauan terhadap sumber cemaran terdekat perlu diketahui sejak dini agar
kemungkinan masuknya polusi ke perairan lokasi calon pembenihan dapat
diperhitungkan sebelum lokasi tersebut ditentukan. Pada label 3 tercantum
kisaran beberapa parameter kualitas air laut yang penting dalam pembenihan
kerapu.

TABEL 5.39
STANDAR MUTU AIR LAUT DI BALAI BUDIDAYA LAUT UNTUK
PEMBENIHAN KERAPU

Suhu

Kisaran
Nilai
28-32

Salinitas

30-32

PPt

Kesadahan

80- 120

mg/l

No

Parameter

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

Satuan
C

5- 152

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

pH

7-8

DO

>5

ppm

Phospat

<0,1

mg/l

Amoniak

<0,5

mg/l

Kecerahan

Maksimum

NO2-N

<0,1

mg/l

10

NO-Nij

<0,5

mg/l

Sumber polutan pada lingkungan perairan secara garis besar dapat dibagi menjadi
dua, yaitu sumber tetap dan sumber tersebar. Sumber polutan yang tetap berasal
dari industri, sedangkan sumber polutan tersebar berasal dari rumah tangga,
peternakan, tempat akhir pembuangan sampah, limpasan daerah pertanian dan
sebagainya. Masing-masing sumber polutan dan karakteristiknya disajikan dalam
tabel 4.
b. Kualitas Tanah, Elevasi Lahan dan Pasang Surut
Dalam mendirikan suatu bangunan dalam hal ini untuk kegiatan pembenihan kerapu
tidak lepas dari penentuan tanah yang akan digunakan. Salah satu faktor yang perlu
diperhatikan adalah sifat fisik tanah, meliputi sifat partikel tanah. Sifat kimia tanah
hanya perlu diukur jika akan membuka kegiatan perikanan yang langsung
berhubungan dengan tanah, seperti : pertambakan atau kolam. Sedangkan sifat
partikel tanah perlu diperhitungkan jika diatasnya akan didirikan suatu bangunan.
Sifat partikel tanah yang paling penting dalam pembentukan karakter tanah adalah
sifat hubungan partikel lainnya. Struktur tanah lepas (pasir) dan remah serta
kemampuan drainase merupakan unsur pokok yang perlu diperhitungkan dalam
menganalisa keadaan fisik tanah. Struktur lepas (berpasir) lebih mudah tererosi
dibandingkan struktur tanah yang remah maupun liat. Akibatnya bila dibagian
atasnya terdapat beban berat (beton/besi) lama-kelamaan akan rusakatau retakjika
konstruksinya jelek. Oleh karenanya pemilihan lokasi sebaiknya memiliki tanah yang
partikelnya padat selain itu juga dapat menghindari penimbunan yang memerlukan
biaya dan tenaga. Hamparan pantai calon lokasi sebaiknya landai dan tidak terlalu
terjal, hal ini seperti tersebut di atas berkaitan juga dengan modal dan teknis
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 153

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

operasionalnya nanti. Ketinggian lokasi pembenihan sebaiknya pada areal 0,5 m di


atas pasang tertinggi dan periode pasang harian minimal 6 jam.
(2) Faktor Non Teknis
Faktor non teknis merupakan pelengkap dan pendukung fakltor-faktor teknis dalam
memilih lokasi untuk pembenihan ikan kerapu. Dalam penentuan calon lokasi
pembenihan, pertama kali perlu diketahui tentang peruntukan suatu wilayah yang
biasanya telah terpetakan dalam RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) dan tata guna
lahan. Memperhatikan RUTR suatu wilayah untuk pembenihan kerapu diharapkan
tidak terjadi tumpang tindih lahan usaha. Pembangunan lokasi pembenihan yang
dekat untuk kegiatan perikanan akan menimbulkan efek negatif terhadap resiko
usaha, kesulitan dalam memperoleh perizinan dan terancamnya kelangsungan
usaha dimasa yang akan datang.
Persyaratan lokasi yang termasuk faktor non teknis lainnya adalah mengenai
kemudahan-kemudahan seperti tersedianya sarana transportasi, komunikasi,
instalasi listrik (PLN), tenaga kerja, pemasaran, pasar, sekolah, tempat ibadah,
pelayanan kesehatan dan sebagainya. Sebagai mahluk sosial, adanya kemudahankemudahan tersebut dapat memberikan ketenangan dan kenyamanan dalam
bekerja. Hal lain yang dapat mendukung kelangsungan usaha adalah dukungan
pemerintah setempat, terutama masyarakat sekitar lokasi, sehingga terjadinya
konflik atau masalah yang biasanya timbul tidak akan mengancam operasional
pembenihan.
Dukungan teknologi sangat diperlukan untuk mengsukseskan budidaya suatu
species yaitu teknologi pengembangbiakkan, pembenihan, pakan dan manajemen
pakan, pembesaran, kesehatan ikan dan lingkungan. Dibandingkan dengan species
ikan air tawar, dukungan teknologi budidaya terhadap species ikan laut masih
banyak tertinggal dan pada umumnya masih menggandalkan teknologi pembesaran
saja karena benih masih tergantung dari alam. Untuk beberapa species seperti ikan
kerapu, kakap, bandeng sudah dapat dibenihkan di luar habitat aslinya, tetapi
sediaan induk masih tergantung dari alam. Ikan cobia sudah sukses dibenihkan di
Taiwan, sedangkan teknologi pembenihan udang vannamei walaupunsudah sangat
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 154

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

berkembang di daerah asalnya tetapi di Indonesia baru saja dimulai. Abalone,


rumput laut dan ikan hias semuanya masih tergantung dari sediaan di alam.
Dukungan teknolgi pada umumnya dalam bentuk pakan dan manajemen pakan,
wadah budidaya dan manajemen pemeliharaan.
Ikan kerapu
Induk-induk alam ikan kerapu tikus/bebek, kerapu macan , kerapu lumpur, kerapu
batik, dan kerapu malabar telah dapat bertelur di luar habitat aslinya. Teknologi
pembenihan pada kerapu tersebut telah dapat dikuasai, walaupun jumlah benih
yang dihasilkan belum konsisten untuk setiap periodenya. Benih produksi hatchery
ini dibesarkan melalui tahapan pendederan, penggelondongan dan pembesaran
untuk kemudian dijual dan diekspor dalam keadaan hidup.

Beberapa tahapan

pemeliharaan tersebut dilakukan di bak-bak beton atau KJA untuk tahapan


pendederan dan karamba jaring apung (KJA) untuk tahapan penggelondongan dan
pembesaraan.
Selama beberapa tahapan pemeliharaan ini, benih diberi pakan berupa rucah, pellet
atau rucah dan pellet.

Pada umumnya ikan kerapu memberkan respon

pertumbuhan yang lebih baik terhadap pakan rucah dibandingkan dengan pakan
pellet, terutama dalam tahap penggelondongan dan pembesaran. Sampai saat ini
baru dua jenis kerapu yang banyak dipelihara

dalam KJA yaitu kerapu tikus

(Cromileptes altivelis), dan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus).

Hal ini

dikarenakan karena keduanya (terutama kerapu tikus) memiliki harga yang tinggi di
pasar internasional, dan teknologi pembenihan kedua jenis kerapu ini sudah
dikuasai.
a.

Kerapu tikus

Ikan kerapu bebek/tikus dalam sistematika termasuk famili Serranidae; genus :


Cromileptes : dan Species : Cromileptes altivelis. Ikan kerapu tikus disebut juga
barramundi cod (Australia) atau panther fish (karena seluruh tubuhnya dihiasi
dengan bintik-bintik bulat berarna hitam dan humpback grouper. Ikan kerapu tikus
yang berukuran kecil mempunyai bentuk dan penampilan yang menarik sebagai ikan
hias, karena itu ikan kerapu tikus juga memiliki nama grace kelly.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

Genus
5- 155

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Cromileptes bersifat monotypic yang artinya hanya mempunyai satu species saja.
Selain sebagai ikan konsumsi, kerapu tikus yang berukuran kecil mempunyai bentuk
dan penampilan yang menarik sebagai ikan hias sehingga mempunyai nama lain
yaitu grace kelly. Ikan ini termasuk jenis karnivora dan cenderung menangkap
mangsa yang aktif bergerak di dalam air. Ikan kerapu tikus bersifat hermaprodit
protogini, yaitu pada perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis
kelamin betina dan kemudian akan berubah menjadi jantan. Ikan kerapu tikus mulai
memperlihatkan perkembangan gonad pada kuran panjang 31 cm ( 0,7 kg) tetapi
sampai ukuran 35 cm 0,8 kg) masih belum matang. Induk betina matang gonad
banyak dijumpai pada panjang total 36 58 cm (bobot 1,0 3,0 kg). Induk jantan
mulai matang pada panjang total lebih dari 48 cm (bobot 2,5 kg)
Untuk mencapai ukuran konsumsi, pemeliharaan ikan kerapu tikus biasanya dapat
dilakukan melalui tiga tahapan yaitu : pendederan, penggelondongan dan
pembesaran. Tahap pendederan dan penggelondongan dapat dilakukan di bak
beton, bak fiber atau di karamba jaring apung (KJA). Pendederan merupakan tahap
pemeliharaan benih dari ukuran

5 cm

(3 gram)

sampai

12 cm (25 gram) .

Penggelondongan merupakan tahap pemeliharaan ikan dari ukuran 25 gram sampai


mencapai 100 gram. Sedangkan tahap pembesaran yang pada umumnya dilakukan
di KJA adalah kegiatan pemeliharaan ikan dari ukuran 100 gram sampai mencapai
ukuran konsumsi yaitu antara 400 600 gram. Ikan kerapu macan membutuhkan
waktu sekitar 18 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi (500 gram).
Pendederan dimulai dengan saat ikan berukuran 4 gram (6 cm) yang ditempatkan
dalam KJA yang berukuran 1 x 1 x 1,5 m 3, dengan kepadatan 250 ekor/ m2. Tahap
pendederan berhenti pada umumnya berlangsung selama 3 bulan, yaitu sampai ikan
sudah berukuran 12 cm ( 25 gram). Selama pendederan ikan kerapu tikus diberi
pakan berupa ikan rucah dengan dosis 14% sampai 20% dari bobot badan.
Pertumbuhan berat mencapai 5,25 kali. Sintasan benih selama pendederan 73,33
%, sedangkan FCR nya (dry weight basis) adalah 2,53.
Pada tahap penggelondongan, jaring polyethylene (PE) berukuran 1 x 1 x 1,5 m 3,
dengan mata jaring 4 mm digunakan untuk pemeliharaan ikan kerapu tikus.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 156

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Kepadatan sekitar 150 ekor per m3. Tahap penggelondongan biasanya berlangsung
selama 12 minggu, yaitu saat ikan telah mencapai ukuran sekitar 120 gram (20 cm).
Selama penggelondongan pakan diberikan sebanyak 6% sampai 8% dari bobot
badan. Hasil pemeliharaan selama 13 2 minggu memperlihatkan kenaikan bobot
tubuh ikan kerapu tikus sebesar 74,85 gram atau mencapai 1,91 kali bobot awalnya,
rasio konversi pakan (FCR) selama pemeliharaan mencapai 1,54

dan tingkat

sintasan atau kelangsungan hidup ikan (SR) mencapai 92,43 %.


Untuk tahap pembesaran, jaring polyethylene (PE) yang digunakan berukuran 3 x 3
x 3 m3, dengan mata jaring 1,25 inci. Kepadatan sekitar 6 ekor per m 3, dengan
ukuran awal sekitar 110 gram. Waktu yang diperlukan dalam tahap pembesaran
untuk mencapai ukuran 500 gram, adalah sekitar 9 bulan.
Pakan rucah merupakan saat ini masih merupakan pakan terbaik untuk diberikan
pada ikan kerapu saat saat pembesaran. Ikan rucah yang diberikan adalah jenis
yang sama yang digunakan pada fase pembenihan dan penggelondongan.
Banyaknya pakan yang diberikan adalah sekitar berkisar antara 2,5% -5 % dari berat
badan ikan, 2 kali sehari. Pertumbuhan pada tahap pembesaran ini cenderung lebih
lambat daripada tahap-tahap sebelumnya, tetapi kematian massal jarang terjadi
pada tahap ini, kecuali akibat kondisi perairan yang berubah secara tiba-tiba. Saat
panen, berat ikan adalah 3,16 kali dari berat awalnya.

Sintasan selama

pemeliharaan adalah 91,49 %, dan FCR nya (dry weight basis) adalah 2,44.

b.

Kerapu Macan

Ikan kerapu macan termasuk ke dalam famili Serranidae, genus: Epinephelus,


species : Epinephelus fuscoguttatus.

Ikan kerapu macan disebut juga brown-

marbled grouper atau tiger grouper. Di alam lingkungan yang cocok untuk ikan
kerapu macan adalah perairan dengan suhu antara 24 31 C, salinitas antara 30
33 ppt, kandungan oksigen terlarut > 3.5 ppm dan pH antara 7.8 8.0. Ikan kerapu
macan juga bersifat hermaprodit protogini, yaitu pada perkembangan mencapai
dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina dan akan berubah menjadi jantan
pada ukuran 740 mm dengan berat tubuh 11 kg. Tahap reproduksi betina tercapai
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 157

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

pada panjang tubuh minimum 450 mm 500 mm, dengan umur kurang dari 5 tahun
dan berat tubuh 3 10 kg.
Untuk mencapai ukuran konsumsi, pemeliharaan ikan kerapu macan biasanya dapat
dilakukan melalui tiga tahapan yaitu : pendederan, penggelondongan dan
pembesaran. Tahap pendederan dan penggelondongan dapat dilakukan di bak
beton, bak fiber atau di karamba jaring apung (KJA). Pendederan merupakan tahap
pemeliharaan benih dari ukuran 7 gram (atau panjang total 5 cm) sampai 40 gram
(atau panjang total 12 cm). Penggelondongan merupakan tahap pemeliharaan ikan
dari ukuran 40 gram sampai mencapai 100 gram.
Tahap pembesaran pada umumnya dilakukan di KJA yaitu pemeliharaan ikan dari
ukuran 100 gram sampai mencapai ukuran konsumsi yaitu antara 400 600 gram.
Ikan kerapu macan membutuhkan waktu sekitar 8 10 bulan untuk mencapai
ukuran konsumsi (500 gram).
Ikan kerapu macan yang didederkan dalam KJA dengan berat awal 10 gram akan
mencapai ukuran di atas 45 g setelah dipelihara selama 8 minggu.

Pemberian

pakan campuran rucah dan pellet memperlihatkan pertumbuhan relatif 3,82 dan
FCR 1,24, lebih baik dibandingkan dengan yang diberi pakan pellet dan rucah.
Kelangsungan hidup benih selama pendederan berkisar antara 89% sampai 91 %.
Penggelondongan ikan kerapu macan memerlukan waktu 9 minggu untuk mencapai
ukuran 150 g.

Pemberian pakan rucah 7% dari bobot badan per hari nya

menyebabkan ikan tumbuh 2,31 kalinya. Rasio konversi pakannya (FCR) mencapai
0,84 Pemberian pakan rucah meberikan FCR 0,84 dengan tingkat kelangsungan
hidup 98, 89 %. dan tingkat sintasan atau kelangsungan hidup ikan (SR) mencapai
98.89 %.
Tahap pembesaran berlangsung sampai 5 7 bulan untuk mencapai ukuran
konsumsi dengan ukuran minimal 500 gram. Pertumbuhan pada tahap pembesaran
ini cenderung lebih lambat daripada tahap-tahap sebelumnya, tetapi kematian
massal jarang terjadi pada tahap ini, kecuali akibat kondisi perairan yang berubah
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 158

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

secara tiba-tiba. Dengan pemberian pakan sebanyak 6% per hari, dengan bobot
awal sekitar 130 gr, bobot ikan kerapu akan meningkat 2,20 kalinya dalam waktu 6
bulan. Rasio konversi pakan (FCR) selama pemeliharaan mencapai 1,65 dan tingkat
sintasan atau kelangsungan hidup ikan (SR) mencapai 92,83 %. Berikut contoh
analisa usaha budidaya kerapu Tikus dalam Keramba Jaring Apung (KJA) :

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 159

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Ikan Kakap
Sampai ukuran konsumsi, ikan kakap dipelihara melalui tahapan pendederan,
penggelondongan dan pembesaran yang kesemuanya dilakukan dalam KJA yang
ditempatkan pada perairan dengan suhu 27C - 32C, kecerahan kurang dari 3 m,
kecepatan arus 20 30 cm/detik, salinitas 15 20 ppt, oksigen terlarut 5 8 ppm,
pH 7,5 8,5, kandungan amonia/nitrogen < 5 ppm.
Pada pemeliharaan di KJA, pada tahap pendederan dan penggelondongan,
biasanya digunakan jaring yang ukuran mata jaringnya disesuaikan dengan ukuran
benih yang dipelihara. Pada pendederan jaring waring yang digunakan berukuran 1
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 160

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

x 1 x 1,5 m3 dengan mata jaring 2 - 4 mm dan ukuran ikan yang ditebar 1,5 2 cm3
4 cm. Tahap penggelondongan, digunakan jaring PE yang berukuran 1 x 1 x 1,5
m3 dengan ukuran mata jaring jaring PE yang digunakan juga berukuran 1 2 cm
untuk menghasilkan ikan dengan ukuran 10 15 cm. Kemudian dilanjukan dengan
tahap pembesaran menggunakan jaring berukuran 3 x 3 x 3 m3 dengan mata jaring
3 cm untuk mendapatkan ikan ukuran konsumsi, yaitu 500 1000 gr.
Pada awal pendederan kepadatan benih ukuran 1,5 2 cm adalah 4000 5000
ekor/jaring,

untuk

kemudian

secara

bertahap

setiap

minggunya

dikurangi

kepadatannya, sampai akhirnya pada akhir penggelondongan yaitu pada saat


ukuran ikan mencapai 10 12 cm kepadatannya adalah 150 200 ekor per jaring.
Pakan buatan/pellet dengan kandungan protein 52% dapat diberikan pada ikan
kakap selama masa pendederan dan penggelondongan ini, diberikan sebanyak 4
5 kali setiap harinya secara ad libitum.

Ikan kakap mencapai kecepatan

pertumbuhan yang maksimum bila dipelihara pada perairan dengan salinitas 15 20


ppt, yaitu 2 3 gr/hari. Benih ikan kakap akan mencapai ukuran 11 12 cm setelah
masa pemeliharaan 2,5 3 bulan dengan tingkat kelulushidupan 25 30%.
Pada tahap pembesaran, ikan kakap ukuran 10 15 cm (75 - 100 g) dipelihara
dengan kepadatan 150 ekor/m3. dan akan mencapai 600 g per ekor setelah
pemeliharaan 6 bulan. Pakan dengan kandungan protein 45 50% yang diberikan
bisa berupa pellet (moist) atau ikan rucah, 2 kali se hari secara ad libitum. (8% dari
biomass). Tingkat kelulushidupan selama pembesaran adalah 80%.
Usaha budidaya ikan kakap di KJA dengan kapasitas produksi 6.804 kg, memiliki
IRR 32,21% dan B/C ratio 1,5.
Rumput Laut
Teknologi budidaya rumput laut yang banyak dipakai saat ini adalah sistem dasar,
sistem lepas dasar dan sistem apung (metode rakit, long line dan jalur), yang
aplikasinya sangat terkandung dengan kondisi lokasi dan kebiasaan masyarakat
pembudidaya rumput laut.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 161

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Untuk di budidayakan di KJA, biasanya digunakan jensi Eucheuma. Sistem budidaya


yang digunakan adalah budidaya sistem apung. Dalam sistem apung dikenal
metoda rakit, long line dan jalur (kombinasi). Metoda kombinasi antara rakit dan
long line digunakan dalam rangka effisiensi tempat budidaya dan peningkatan
produksi. Rakit dibentuk dari bambu yang ukurannya disesuaikan dengan luasan
KJA (2,5 x 2,5 m). Pada rakit tersebut dipasang jaring dengan ukuran mata jaring 20
cm, kemudian bibit rumput laut dengan berat berkisar 50 100 g diikatkan pada
jaring tersebut.

Penanaman juga dilakukan secara vertikal.

Jumlah bibit yang

ditanam, digantung sebanyak 3 tingkat. Rakit tersebut diberi pelambung di tiap


ujungnya akan posisinya tidak berubah. Selama budidaya, pengawasan selalu
dilakukan terhadap kondisi jaring, serangan binatang laut seperti l bulu babi,
teripang, dan bintang laut.

Tanaman yang kurang sehat/hilang segera diganti.

Rumput laut dipanen setelah berumur 25 35 hari, karena saat itu kandungan
carrageenannya sudah cukup baik.
5.11. ANALISIS PENGEMBANGAN PARIWISATA
Pariwisata merupakan sebuah bentuk kegiatan rekreasi. Sebagai kegiatan rekreasi,
pariwisata merupakan sarana pemenuhan hasrat manusia untuk bereksplorasi guna
mengalami berbagai perbedaan. Karakter yang melekat dari sebuah kegiatan wisata
adalah melakukan perjalanan keluar wilayah dari kehidupan sehari-hari. Unsur
perjalanah menjadi penting yang bertujuan untuk mengalami perbedaan. Perbedaan
tersebut mencakup, perbedaan fisik, seperti bangunan, lingkungan alam, bendabenda, hewan, tumbuhan, dan manusia. Perbedaan non-fisik, seperti perbedaan
suhu dan kelembaban udara, suara, rasa makanan dan minuman serta suasana,
dan juga perbedaan-perbedaan lain yang mengarah pada perilaku manusia
termasuk adat istiadat, kesenian, cara berpakaian dan lain sebagainya.
Karakter pariwisata lainnya adalah jangka waktu yang relatif pendek dan terbatas.
Umumnya kegiatan wisata dilakukan dalam jangka waktu tidak terlalu lama. Ketika
mereka sudah puas mengkonsumsi berbagai macam perbedaan yang dijumpai di
suatu tempat, dengan segera mereka akan pindah mencari perbedaan lainnya atau
kembali pada keseharian mereka. Bisa jadi di lain kesempatan mereka akan kembali
ke lokasi yang sama untuk menuntaskan perbedaan yang belum terpuaskan atau
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 162

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

ingin memperoleh pengalaman perjumpaan perbedaan yang pernah diperoleh


sebelumnya.
Kegiatan pariwisata merupakan sebuah interaksi sosio-kultural sebab di dalamnya
terkandung interaksi antara hosts (tuan rumah) dengan guests (wisatawan). Interaksi
di antara mereka akan terlaksana dalam konteks pencarian dan penyediaan
pengalaman perbedaan dan lebih nyata lagi dilakukan atas dasar pertukaran
ekonomi. Konteks ini akan membawa akibat pada hadirnya tingkah laku interaksi
yang khas, baik yang dialami wisatawan atau diterima oleh masyarakat setempat.
Produk pariwisata sebagai komponen penting dalam industri pariwisata mencakup 3
(tiga) aspek yang dikenal dengan istilah triple A (Atraksi, Amenitas dan Aksesibilitas).
Produk pariwisata dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat "dijual"
sebagai komoditas pariwisata. Atraksi objek dan daya tarik wisata adalah objek yang
memiliki daya tarik untuk dilihat, ditonton, dinikmati yang layak "dijual" ke pasar
wisata. Seringkali atraksi ditafsirkan dalam 2 (dua) komponen, yakni sebagai objek
wisata (tourist object) dan sebagai atraksi wisata (tourist attraction). Yang terakhir
adalah sesuatu yang dapat dilihat lewat pertunjukan (shows} dan seringkali
membutuhkan persiapan bahkan mengeluarkan pengorbanan untuk menikmatinya
(membayar). Berbeda dengan objek wisata (tourist object) yang dapat disaksikan
tanpa perlu persiapan. Pembahasan ini tidak secara ketat membedakan dua
pengertian tersebut yang keduanya termasuk dalam produk pariwisata. Dengan
demikian objek dan daya tarik wisata (ODTW) adalah segala macam objek bergerak
maupun tidak bergerak yang memiliki daya tarik wisata dan layak ditawarkan, "dijual"
kepada pasar wisata, baik wisatawan domestik ataupun mancanegara.
Dalam UUNomor 9 Tahun 1990 mengenai kepariwisataan disinggung bahwa atraksi
atau ODTW dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori, yakni objek wisata alam (nature),
objek wisata budaya, dan objek wisata buatan (man made). Batas antara ketiga jenis
kategori ini seringkali tidak jelas dan bahkan seringkali tumpang tindih (overlapping).
Meskipun demikian yang terpenting dalam pariwisata adalah kualitas ODTW-nya,
bukan kategorisasinya.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 163

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Objek pariwisata beserta segala atraksi yang diperlihatkan merupakan daya tarik
utama bagi seseorang untuk berkunjung ke suatu tempat. Untuk itu keaslian dari
objek dan atraksi yang ditawarkan tetap harus dipertahankan dan dilestarikan. Di
samping keaslian yang tetap dipertahankan juga periu dipikirkan variasi objek dan
atraksi yang hendak dijual, agat tidak terkesan monoton. Disinilah pentingnya
pengembangan diversifikasi produk di bidang pariwisata. Logikanya, keberhasilan
pengembangan produk yang dilakukan akan berakibat meningkatnya kunjungan
wisatawan yang berimbas pada lama tjnggal dan besarnya pengeluaran bagi
wisatawan.
Kecenderungan pariwisata dewasa ini ditandai oleh kuatnya permintaan terhadap
produk dan layanan berkualitas standar. Di samping itu, semakin jelas bahwa pasar
pariwisata juga menuntut produk yang beragam dan unik sebagai daya tarik yang
penting. Kecenderungan ini tidak hanya terjadi di level internasional tetapi juga di
tingkat nasional bahkan di berbagai daerah di Indonesia. Telah banyak kajian yang
menunjukkan bahwa hanya daerah tujuan wisata yang mampu mengantisipasi dan
beradaptasi dengan tuntutan pasar yang riil yang akan dapat mencapai keberhasilan
dan keberlanjutan pariwisata itu sendiri.
Fakta memperlihatkan bahwa banyak daerah tujuan wisata di dalam negeri,
termasuk

wilayah

Kabupaten

Kepulauan

Aru

yang

belum

sepenuhnya

mengantisipasi perkembangan tersebut, baik melalui penyiapan pengembangan


atraksi yang menarik maupun sarana prasarana pariwisata yang beragam. Di satu
sisi keinginan daerah, termasuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru untuk
menjadikan pariwisata sebagai sektor andalan pembangunan tampak sangat besar.
Sektor pariwisata diunggulkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah,
pencipta peluang kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Namun, di sisi lain
upaya-upaya konkrit dan terukur yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu relatif
masih sangat terbatas. Padahal kesiapan secara optimal sangat dibutuhkan untuk
menuju sasaran yang diinginkan.
Sebenarnya kecenderungan baru pariwisata dan keterbatasan pemerintah di daerah
tujuan wisata, termasuk wilayah Kabupaten Kepulauan Aru seperti disinggung di
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 164

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

atas tidak perlu ditakuti. Sebaliknya ia harus dihadapi dengan cara merumuskan
respon

yang

strategis

dalam

bentuk

kebijakan

yang

integral

terhadap

pengembangan diversifikasi produk, serta ODTW yang akomodatif terhadap


kecenderungan pasar. Keterpaduan kebijakan dalam pengembangan ODTW yang
beragam memiliki keuntungan ganda yang bersifat komplementer. Keuntungan
pertama, ia akan meningkatkan keunggulan komparatif suatu daerah dan; kedua, hal
itu dengan sendirinya juga akan meminimalisasi kompetisi yang tidak sehat antara
satu destinasi wisata dengan yang lainnya.
Di samping atraksi, yang termasuk dalam produk wisata lainnya adalah amentias,
yakni segala macam fasilitas yang menunjang kegiatan pariwisata. Diantaranya
rumah makan, hotel, sarana komunikasi, papan informasi, penukaran uang (money
changer) dan lainnya. Bahkan seringkali diperlukan jasa asuransi khususnya bagi
tipe wisata yang memiliki resiko kecelakaan tinggi. Keberadaan dan kelengkapan
berbagai jenis fasilitas menjadi prasyarat mutlak bagi peningkatan kunjungan
wisatawan pada suatu objek wisata. Dengan kata lain, meskipun objek wisata yang
dimiliki dinilai cukup bagus, namun bila tidak memiliki jaminan fasilitas yang
memadai lambat laun tentu akan ditinggalkan wisatawan.
Terakhir untuk produk wisata adalah aksesibilitas, berupa sarana-prasarana yang
menyebabkan wisatawan dapat berkunjung di sebuah destinasi (objek). Dalam
konteks ini, sarana dan prasarana dibangun agar wisatawan dapat mencapai objek
dengan aman, nyaman dan layak. Inilah yang membedakan dengan domain
ekonomi yang menyediakan sarana dan prasarana agar produk yang dijual dapat di
distribusi sehingga dapat dijangkau konsumen. Sementara domain pariwisata
sarana dan prasarana dibangun agar konsumen dapat mengunjungi objek wisata
sehingga mereka dapat "membeli" produk tersebut. Dengan demikian aksesibilitas
menyebabkan wisatawan mencapai objek wisata dengan mudah, aman dan
nyaman/layak.
Dari ketiga aspek produk wisata di atas, model pengembangan produk haruslah
mempertahankan keasliannya agar dapat bersaing dengan daerah lainnya. Dengan
kata lain, masing-masing objek harus memiliki style tersendiri yang berbeda dengan
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 165

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

objek wisata lainnya. Style merupakan faktor penting dalam menentukan penjualan.
Dalam pariwisata yang dikatakan sebagai product style yang baik adalah (a) daya
tarik objek itu sendiri, (b) memiliki perbedaan dengan objek lainnya, (c) dukungan
kondisi prasarana yang terpelihara dengan baik, (d) ketersediaan fasilitas
"something to see, something to do, & something to buy, dan (e) dilengkapi dengan
sarana
Potensi dan Sebaran Komoditas Pariwisata
Potensi pengembangan pariwisata di pesisir dan pulau-pulau kecil Kepulauan Aru
tergolong sangat beragam, terutama di wilayah Kecamatan Aru Utara

dan

Kecamatan Aru Selatan. Beberapa potensi tersebut diantaranya adalah wisata


bahari berupa snorkelling, diving, fishing, surfing, sailing, wisata pesisir, serta wisata
alam (ekowisata), yaitu berupa menikmati pemandangan (viewing) dan hiking.
Lokasi-lokasi yang potensial untuk dikembangkan sebagai lokasi wisata adalah
Pulau Baun, Cagar Alam Laut di sekitar Pulau Enu, Pulau Penambulai, Kawasan
Hutan Mangrove, serta pulau-pulau kecil yang tersebar di Kepulauan Aru bagian
timur yang memiliki panorama alam khususnya laut yang sangat potensial untuk
dikembangkan.
Kawasan pariwisata yang dapat dikembangkan di wilayah Kabupaten Kepulauan Aru
sesuai dengan potensi dan daya dukung daerahnya, antara lain :
Wisata Memancing
Lokasi kegiatan wisata memancing berlokasi di sekitar perairan pantai Penambulai,
Pulau Enu, Pulau Baun, Pulau Penjuring dsb. Jenis-jenis ikan yang potensial untuk
dijadikan target wisata memancing adafah ikan kerapu (Epinephelus sp), tongkol
(Euthynnus affinis), cakalang (Katsuwonus pelamis), dan lain-lain.
Wisata Mangrove
Kawasan wisata mangrove (wanawisata) berlokasi di Hutan Lindung Mangrove yang
terletak di sebelah barat

Pulau

Penambulai. Wisata yang ditawarkan adalah

menikmati suasana alam mangrove dan keanekaragaman hayati dan hidupan liar di

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 166

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

dalamnya dengan mempergunakan sampan kecil menyusuri

kawasan hutan

mangrove.
Surfing dan Sailing
Kegiatan wisat surving dan sailing potensial dikembangkan di sebelah timur dan
barat Pulau Penambulai
Diving dan Snorkeling
Kegiatan diving dan snorkeling potensial dikembangan di sekitar cagar alam Laut
Pulau Enu, sekitar Pulau Baun dan disekitar pantai utara Pulau Penambulai.
Gambaran umum mengenai potensi pariwisata Kabupaten Kepulauan Aru terlihat
pada Gambar 5.15.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 167

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Gambar 5.15
Sebaran potensi pariwisata Kabupaten Kepulauan Aru

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 168

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Kegiatan Prospektif Hulu-hilir


Kegiatan prospektif kepariwisataan dari hulu sampai hilir yang dapat dikembangkan
antara lain :
1. Rencana Kegiatan pengembangan Kebijakan Pariwisata
Program pengembangan pariwisata di Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Kajian teknis pengembangan Obyek Wisata Bahari
Studi tentang pola mengembangkan obyek wisata bahari dimaksudkan untuk dapat
memberikan landasan dan pegangan bagi pemanfaatan potensi bahari dalam jangka
pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Maksud dan tujuan dari kajian ini
adalah:

Memanfaatkan potensi sumberdaya pesisir secara optimal berdasarkan


prinsip konservasi

Terkumpulnya data untuk pengelolaan obyek wisata bahari

Terciptanya pola pengembangan obyek wisata bahari secara terpadu

b. Kajian teknis pengembangan Obyek Wisata Sejarah


Studi tentang pola mengembangkan obyel wisata sejarah sebagai obyek wisata
dimaksudkan untuk dapat memberikan landasan dan pegangan bagi pemanfaatan
peninggalan sejarah dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Maksud dan tujuan dari kajian ini adalah:

Memanfaatkan potensi sejarah PD II sebagai obyek wisata

Terkumpulnya data untuk pengelolaan obyek wisata sejarah

Terciptanya pola pengembangan obyek wisata sejarah

c. Kajian pemasaran wisata dan rencana tindak promosi wisata


Pemasaran wisata disini dimaksudkan sebagai penyesuaian yang sistematis dan
terkoordinasi mengenai kebijakan dari badan-badan usaha wisata maupun kebijakan

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 169

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

dalam sektor pariwisata pada tingkat pemerintah lokal, provinsi dan pusat guna
mencapai suatu titik kepuasan optimal bagi kebutuhan-kebutuhan kelompok
pelanggan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya, sekaligus untuk mencapai
tingkat keuntungan yang memadai. Beberapa kiat penting dalam pemasaran wisata
dapat disajikan sebagai berikut:
Promosi
Promosi adalah salah satu upaya yang tidak segera tampak hasilnya akan tetapi
sangat menentukan. Biayanya besar yang tergantung dari segmentasi pasar
yang dijadikan target dan dalam hal ini target utama adalah wisatawan
mancanegara, yang berasal dari Jepang, Amerika, Australia dan Eropa. Brosur
yang dirancang dengan baik dan menarik merupakan hal penting karena brosur
merupakan tampilan pertama dari obyek wisata yang dijual , sebelum wisatawan
tertarik untuk berkunjung. Promosi dapat dilakukan melalui jalur-jalur :

Mengikuti

pameran-pameran

atau

pasar

wisata

yang

selalu

diselenggarakan baik di Indonesia (seperti di Bali dan Jakarta) maupun di


Luar Negeri, seperti di Berlin.

Mengadakan kerjasama dengan operator wisata

Membuka website.

Penambahan Paket-paket wisata.


Paket-paket wisata perlu disusun dengan menonjolkan unsur-unsur yang
menjadi daya tarik wista yang dalam hal ini adalah wisata sejarah dan wisata
alam. Paket-paket wisata perlu dibuat bervariasi sehingga kelompok pelanggan
(menurut segmentasinya: pendapatan, umur, pendidikan, asal dll) dapat
mempunyai pilihannya.

Setiap paket hendaknya disiapkan secara lengkap,

termasuk memenuhi keselamatan pengunjung.

d. Kajian organisasi dan kelembagaan pengelola wisata


Pengelolaan Wisata di Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru dapat dilakukan melalui
suatu badan pengelola yang merupakan suatu lembaga yang berbadan hukum yang

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 170

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

terdiri dari komisaris sebagai perwakilan dari pihak investor dan masyarakat terkait,
dan manajer sebagai pihak yang menjalankan semua bisnis Wisata Bahari dan
bertanggung jawab kepada komisaris.
Semua aturan dibuat dan ditetapkan melalui rapat komisaris, mulai dari penetapan
besarnya saham yang ditanamkan pada objek wisata, sistem bagi hasil dari
pendapatan yang diperoleh serta kewajiban-kewajiban lain yang harus dipenuhi oleh
masing-masing pihak. Pada bagian lain manajer adalah orang yang berhubungan
langsung dengan pelanggan (wisatawan domestik dan manca negara). Manajer
bertugas mencari/mendatangkan wisatawan sebanyak mungkin melalui kerjasama
dengan semua biro perjalanan/travel, promosi, mengadakan atraksi yang unik dan
menarik

serta

memberikan

usul

pengembangan

wisata

sesuai

dengan

perkembangan dan permintaan wisatawan.


Sistem pengelolaan objek wisata yang terintegrasi dan berkelanjutan ditandai
dengan adanya kerjasama antara badan pengelola, investor dan masyarakat sekitar
daerah wisata. Masing-masing pihak mempunyai fungsi kontrol ke dalam atau ke
luar sebagai indikator apakah sistem yang ditetapkan berjalan sesuai dengan aturan
yang telah disepakati bersama.
Fungsi pemerintah lebih di arahkan pada fungsi sebagai fasilitator yang dapat
memfasilitasi

pihak

investor

pengelolaan

sumber

daya

dalam
yang

pengadaan
dimiliki,

atau

modal,
badan

masyarakat

dalam

pengelola

dalam

pengembangan objek wisata di suatu kawasan. Fungsi lain dari pemerintah adalah
sebagai akselerator, dan inkubator untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja,
serta dampingan (Assistance) teknologi dan manajemen dalam pengelolaan Wisata.
Pelaksanaan pengelolaan Wisata di Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru dapat
dilakukan oleh suatu organisasi yang memadai agar tercipta pengaturan dan
pengelolaan yang efektif. Organisasi pengelola ini mempunyai tugas dan tanggung
jawab dalam pelaksanaan pengembangan dan pengelolaan wisata. Organisasi
pengelolaan yang akan ditentukan secara definitif dan spesifik disesuaikan dengan
kegiatan yang akan dikembangkan dan ruang lingkup kerja instansi yang terkait baik
secara struktural maupun administratif.
Pengelolaan wisata disamping untuk tujuan konservasi, yakni mempertahankan

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 171

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

ekosistem wilayah, juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan


memperoleh pendapatan (retribusi) bagi pemerintah Kabupaten. Struktur organisasi
Wisata sesuai dengan hirarki administrasi di bawah tanggung jawab Pariwisata
Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru yang bekerjasama dengan Instansi Terkait.
Pelaksanaan tanggung jawab operasional pengelolaan Ekowisata secara khusus
dapat juga dibentuk Badan Pengelola Wisata, dengan tanggung jawab operasional
pengelolaan tetap pada Dinas Pariwisata setempat. Modal, namun pelaksanaannya
hendaknya berkoordinasi dan melibatkan semua instansi terkait seperti Dinas
Kehutanan/Konservasi Sumberdaya Alam, Dinas Perhubungan, Bapedalda, pihak
swasta (investor), masyarakat setempat dan instansi lainnya yang mempunyai
kepentingan terhadap kawasan
Hal yang tidak kalah pentingnya adalah masalah koordinasi.

Upaya koordinasi

dimaksud adalah koordinasi perlindungan dan pengamanan kawasan antara pihakpihak terkait (stakeholder) dalam mengelola kawasan wisata. Terutama antara pihak
keamanan dan pihak pengelola disamping peran serta masyarakat. Pendekatan oleh
pemerintah dapat dilakukan melalui ninik mamak atau tokoh cerdik pandai
dikawasan yang akan memberikan hasil yang baik.
Agar koordinasi dapat berjalan dengan lancar perlu didukung oleh sarana
komunikasi yang baik pula. Komunikasi dan informasi harus dapat diakses oleh
siapa saja, baik oleh masyarakat, pemerintah maupun LSM. Lebih lanjut dapat pula
dibuatkan

wadah

perlindungan

dan

yang

beranggotakan

pengamanan

unsur-unsur

kawasan.

Bagi

terkait

stakeholder

dalam
yang

upaya
telah

memanfaatkan potensi sumber daya kawasan hendaknya mempunyai persepsi yang


sama tentang upaya perlindungan dan pengamanan kawasan.
e. Penataan Kawasan Wisata
Penataan batas dalam rangka realisasi legalitas status kawasan wisata diperlukan
untuk menegaskan batas definitif di lapangan serta memperoleh status hukum yang
jelas dan pasti, sehingga akan menunjang kegiatan-kegiatan perencanaan dan
pelaksanaan (pembinaan dan pengawasan). Penataan kawasan wisata baik di darat
dan dilaut harus memperhatikan aspirasi masyarakat setempat dan zona inti.
Batas kawasan yang direncanakan sebagai daerah wisata mempertimbangkan

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 172

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

batas administratif, adat serta batas ekologis. Batas administratif diperlukan agar
tidak terjadi kerancuan dalam hal pengaturan administratif dan ada kejelasan
wewenang di pihak pemerintah kabupaten. Batas ekologis dipertimbangkan dengan
tujuan agar pengelolaan tersebut mencakup suatu ekosistem yang utuh.
f. Kajian dan rencana tindak pengembangan Sumberdaya Manusia
Pengembangan sumberdaya manusia difokuskan pada upaya pelatihan dan
pendidikan (informal). Pengelola maupun masyarakat yang terlibat dalam kegiatan
guide/pemandu wisata dan awak perahu, hendaknya diberikan pendidikan informal
atau pelatihan yang bermanfaat tidak saja kepada usaha jasanya tetapi juga dapat
memberikan motifasi dan contoh yang baik bagi para wisatawan.
g. Kajian dan rencana tindak pelibatan Peran Serta Masyarakat Setempat
Penyelenggaraan pengembangan wisata harus terkait dengan penyelenggaraan
pembangunan masyarakat di sekitarnya. Untuk itu perlu adanya upaya peningkatan
peran serta masyarakat yang aktif dan positif serta selalu diupayakan peningkatan
kesadaran masyarakat tentang lingkungan hidup dan konservasi. Pengembangan
masyarakat setempat merupakan upaya mengakui hak dan kewajiban masyarakat
yang bermukim di dalam dan di sekitar kawasan wisata melalui keterlibatannya
dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan penilaian/evaluasi pengelolaan
dengan tetap memperhatikan tingkat kesejahteraannya. Oleh karenanya, tugas
Badan Pengelola Wisata dalam kerangka pengembangan masyarakat lokal :
a) Menyediakan insentif bagi masyarakat setempat atas peran sertanya dalam
proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pengembangan wisata.
b) Menyediakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat setempat yang
sangat bergantung pada pemanfaatan ekstraktif sumber daya alam yang
berada pada kondisi kritis.
Bagi masyarakat yang melakukan pengrusakan biota laut dengan bom/potas,
maka perlu dicarikan alternatif usaha baik di sektor pariwisata maupun sektor
lainnya, sedangkan upaya-upaya yang dilakukan terhadap potensi kawasan
yang telah mengalami tekanan adalah:

Jika benar-benar telah terjadi pengrusakan pada kawasan

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 173

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

(pemboman/ potasium) yang diakibatkan ulah manusia, maka kawasan


tersebut perlu ditutup untuk sementara atau secara total.

Melakukan penyuluhan secara intensif terhadap masyarakat


agar mempunyai persepsi yang sama terhadap segala tindakan yang
dapat merusak lingkungan. Diharapkan untuk selanjutnya kegiatan yang
dilakukan hendaknya penuh dengan rasa tanggung jawab.

Pembuatan artificial reef atau rumpon sebagai lokasi


alternatif penangkapan ikan. Artificial reef ini merupakan tempat alternatif
yang dibuat dari rangkaian bambu atau ban bekas untuk dapat
merehabilitasi terumbu karang asli yang rusak. Bila proses ini berjalan
dengan baik, maka artificial reef akan tertutup oleh biota karang yang pada
akhirnya akan menarik ikan-ikan untuk beradaptasi dengan tempat
tersebut. Peletakan artificial reef ini tidak pada terumbu karang yang rusak
melainkan pada suatu jarak dan kedalaman tertentu dan meliputi areal
yang luas sehingga fungsinya betul-betul terasa.

c) Mengembangkan suatu pedoman kerjasama pengembangan masyarakat


dengan Pemerintah Kabupaten, Lembaga Swadaya Masyarakat dan
Perguruan Tinggi.
Program pengembangan kawasan konservasi tidak hanya ditentukan oleh
pemerintah, karena pada dasarnya masih ada dua faktor lain yang mempengaruhi
keberhasilan penyelenggaraan kegiatan konservasi itu sendiri yaitu masyarakat dan
lingkungan alam dimana di dalamnya terdapat beragam kehidupan hayati.
Keterkaitan antara lingkungan dengan masyarakat tinggal dan kehidupannya
bergantung pada lingkungan alam di sekitarnya adalah bahwa masyarakat berperan
dalam pemanfaatan atau pengeksploitasian alam.
Untuk pengembangan wisata bahari, pola pemanfaatan sumberdaya alam laut yang
dilakukan oleh masyarakat seperti penangkapan dan budidaya ikan serta hasil laut
lainnya. Dari ragam usaha penangkapan tersebut ada yang bersifat ramah
lingkungan dan ada pula yang justru menekan daya dukung lingkungan alam yang
pada

batas-batas

tertentu

akan

mengakibatkan

kerusakan

alam,

seperti

penggunaan bom dan racun. Akibat lebih lanjut dari kegiatan penangkapan ini, yaitu

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 174

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

alam tidak lagi berkemampuan menunjang kehidupan masyarakat sekitarnya.


Program-program pemerintah yang berkaitan dengan pelaksanaan pembangunan
konservasi sumberdaya hayati dan ekosistemnya tidak dapat lepas dari pelibatan
masyarakat sepenuhnya dalam program tersebut, dengan dasar pemahaman bahwa
masyarakatlah yang paling merasakan arti pentingnya konservasi alam dan
masyarakat memiliki peran yang sangat besar sebagai garda pengaman atas
keberlangsungan lingkungan hidup di sekitarnya.
Berkaitan dengan hal tersebut dalam penyelenggaraan program-program konservasi
sejak semula mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi menjadi lebih
baik jika melibatkan semua unsur dalam masyarakat. Pelibatan masyarakat sejak
awal akan menciptakan rasa memiliki terhadap program-program konservasi,
sehingga dapat diharapkan bahwa masyarakat akan selalu sadar dan peduli atas
kesuksesan program tersebut.
Implementasi program-program konservasi tidak lepas dari kegiatan awal seperti
pendekatan ke pemimpin lokal dan proses sosialisasi ke seluruh unsur masyarakat.
Proses sosialisasi dapat dilaksanakan dengan mengadakan kegiatan pertemuan
informal secara berkala di suatu tempat yang biasa dijadikan tempat berkumpulnya
anggota masyarakat (warung minum, musholla, dan lain-lain). Proses sosialisasi
juga dapat diselenggarakan di sekolah-sekolah, sehingga kesadaran tentang arti
pentingnya konservasi sumberdaya alam sudah tumbuh pada generasi muda.
Pelibatan masyarakat dalam program pengembangan ekowisata yang tidak kalah
pentingnya adalah dalam hal evaluasi dan pemantauan, karena dengan melakukan
hal ini masyarakat dapat mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan pekerjaan
mereka. Apabila program dinilai berhasil akan lebih memotivasi masyarakat untuk
melakukan kegiatan konservasi lebih giat lagi; apabila program dinilai tidak sesuai
dengan target maka dapat menjadi bahan pelajaran atau pengalaman sebagai
modal untuk melaksanakan program berikutnya yang lebih baik. Dalam hal ini akan
terjadi proses pembelajaran bagi masyarakat dan aparat pemerintah.
Faktor lain yang tidak kalah penting dalam keberhasilan program konservasi adalah
bagaimana pemerintah menyikapi kondisi lingkungan di wilayahnya, yang antara lain
tercermin dari kebijakan dan aturan-aturan yang tepat serta koordinasi antar instansi

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 175

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

yang terkait dengan aspek lingkungan hidup.

2. Program Pembangunan Prasarana dan Sarana Wisata


Ketersediaan sarana dan prasarana penunjang guna tercapainya tujuan, target dan
sasaran pengembangan wisata yang secara teknis dilaksanakan oleh 'Badan
Pengelola sangat diperlukan. Kebutuhan sarana dan prasarana wisata pada
dasarnya

meliputi

pemenuhan

kebutuhan

fasilitas

pengelolaan,

fasilitas

pelayanan/rekreasi, dan fasilitas pendukung/penunjang. Kebutuhan ini ditekankan


pada aspek komunikasi dan koordinasi baik secara intern maupun ekstern, aspek
pengamanan serta aspek promosi yang dilakukan Badan Pengelola Wisata. Untuk
pembangunan sarana dan prasarana wisata di pulau-pulau kecil dicadangkan 10 %
dari luas pulau. Fasilitas yang perlu dibangun dalam mengembangkan wisata di
Maluku Tenggara kecil antara lain:
a. Fasilitas Pengelolaan
Hal-hal yang menjadi perhatian utama adalah akses yang lancar. Untuk itu perlu
dilakukan hal-hal sebagai berikut:
1) Merealisasikan pembangunan jalan baru dan perbaikan jalan lingkar di Kei
kecil dan kei Besar serta jalan yang menuju obyek wisata.
2) Menambah moda angkutan laut dan peremajaan angkutan darat khususnya
yang melayani wisatawan ke lokasi obyek wisata.
3) Peningkatan fasilitas dan pelayanan dermaga yang sudah ada

dan

pembangunan darmaga yang menuju obyek wisata. Jika mungkin lebih baik
dibangun dermaga baru khusus untuk melayani para wisatawan sehingga
tidak menggangu kedua aktifitas. Selain itu dermaga dapat dibangun dengan
metode dermaga non permanen sehingga dapat beradaptasi dengan pasang
surut. Lokasi dermaga utama maupun dermaga dipulau-pulau perlu
disepakati bersama dengan pola tata letak penginapan atau fasilitas
pariwisata lainnya. Hal yang perlu mendapat perhatian adalah dalam
pembangunannya tidak merusak terumbu karang, karena kerusakan terumbu
karang akan menurunkan nilai manfaat atau daya tarik sumber daya alam

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 176

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

tersebut.
4) Menara pengawas/menara pengintai, kantor pengelola, pos jaga, jalan
masuk, jalan setapak, pintu gerbang, rambu-rambu dan loket karcis perlu
dibangun untuk melengkapi fasilitas pengelolaan.
b. Fasilitas Rekreasi
Pengembangan wisata bahari umumnya adalah memanfaatkan keindahan pesisir
pantai seperti kejernihan air laut, panorama sunset dan sunrise, panorama bawah
laut/air berupa terumbu karang dan biota laut. Oleh sebab itu perlu peningkatan nilai
manfaat sumber daya alam dan lingkungan. Fasilitas penginapan berupa homestay
yang sifatnya terbuka (bumi perkemahan), dapat diarahkan pada lokasi yang
memadai baik dari segi tata guna lahan, estetika, keamanan, lingkungan, air bersih
dan lain-lain. Pusat informasi, shelter, daerah piknik, tempat duduk.
c. Fasilitas Pelayanan
Yang termasuk di dalam pusat pelayanan adalah: bangunan yang digunakan untuk
kepentingan sarana pengelolaan maupun penunjang kepentingan wisatawan dan
masyarakat lokal. Untuk kepentingan wisatawan seperti fasilitas bungalow/cottage,
restoran, kios kerajinan/cenderamata, tempat sewa alat, kantor pos/wartel, pusat
informasi dan fasilitas umum lainnya (pos keamanan, pos kesehatan, bumi
perkemahan, tempat sampah, kamar mandi/WC). Sedangkan untuk fasilitas
penduduk seperti jasa komersial, warung, toko dan fasilitas umum lainnya (sekolah,
sarana peribadatan, sarana olah raga). Dalam pembangunannya fasilitas penunjang
harus direncanakan dengan memperhatikan aspek kondisi dan tata lingkungan.
d. Fasilitas Lain-Lain
Fasilitas lain yang termasuk faktor penunjang pembangunan wisata adalah
perlengkapan komunikasi, kantor, radio komunikasi dan telepon, fasilitas kesehatan
(pukesmas), instalasi air, pasar dan sarana penunjang transportasi.
Penyampaian informasi keindahan laut kepada pengunjung dan calon pengunjung
merupakan hal yang sangat penting. Kegiatan promosi telah menjadi kegiatan yang
amat penting dalam strategi pemasaran. Agar promosi efisien harus dikaitkan
dengan promosi daerah tujuan wisata lainnya seperti daerah wisata Ambon, Papua

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 177

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

dan lain-lain. Peranan dan arahan dunia informasi harus lebih dikembangkan sejalan
dengan peningkatan teknologi komunikasi sebagai jembatan penerangan. Beberapa
elemen promosi dan informasi yang dapat diarahkan meliputi:
a. Memaksimalkan peran media massa dalam peningkatan promosi dan
informasi dalam pembangunan kepariwisataan serta dalam pemberian
penerangan internasional untuk lebih memantapkan citra kawasan wisata
bahari Maluku Tenggara dalam mendukung pelaksanaan pemasaran dan
promosi nasional maupun internasional.
b. Menggalang kerjasama atau patnership dengan pihak swasta dalam
peningkatan promosi pariwisata di Maluku Tenggara dengan meningkatkan
usaha jasa pariwisata seperti biro perjalanan wisata, pramuwisata, konvensi
perjalanan, insentif pameran dan konsultan pariwisata.
c. Pengembangan kerjasama antar regional, sub regional, bilateral ataupun
antar negara atas dasar saling menguntungkan dan kebersamaan dalam
promosi dan informasi guna memperlancar arus wisatawan.
Dengan memperhatikan arahan seperti yang diuraikan diatas maka secara teknis
dan detail, program promosi dan informasi untuk pembangunan pariwisata di Maluku
Tenggara hendaknya memperhatikan hal sebagai berikut:
a. Melakukan paket wisata dengan daerah tujuan wisata lainnya yang ada di
provinsi Maluku.
b. Promosi dilakukan secara terus menerus baik melalui media cetak atau
elektronik melalui kerjasama pemerintah dan swasta. Informasi hendaknya
merupakan yang terbaru dan terpercaya yang dapat diberikan kepada
pengunjung secara cuma-cuma kepada pengunjung atau calon pengunjung.
c. Informasi dalam brosur-brosur tersebut selain ditempatkan di hotel/cottages
dapat juga diletakan di penginapan yang ada di daerah wisata lainnya seperti
di Ambon, Jakarta, Ternate, Manado dan Biak atau tempat-tempat yang
strategis lainnya.
Promosi dan informasi dapat pula dilakukan dengan cara membuat pintu gerbang di
Pelabuhan Tual untuk memberitahukan kepada wisatawan atau masyarakat tentang

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 178

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

keberadaan obyek wisata di Wilayah Kabupaten Kepulauan Aru.

5.11. 3. Prospek Pengembangan Komoditas Unggulan


Obyek wisata unggulan wilayah Kabupaten Aru yang dapat dikembangkan, antara
lain wisata bahari dan wisata budaya. Lokasi wisata bahari yang cukup prospektif di
kembangkan di wilayah Kabupaten Aru

adalah Kecamatan Aru Utara

Kecamatan Aru Selatan pemancingan dan penyelaman (snorkling) serta

dan
wisata

penyu dan paus yang sering muncul pada waktu-waktu tertentu.. Wisata unggulan
bahari di Kabupaten Aru antara lain berupa wisata snorkelling, diving, fishing,
surfing, sailing, wisata pesisir, serta wisata alam (ekowisata), yaitu berupa menikmati
pemandangan (viewing) dan hiking. Wisata bahari lain yaitu wisata budidaya laut
yang dapat dikembangkan di Kecamatan Pulau-pulau Aru dan Aru Utara. Lokasilokasi yang layak dikembangkan sebagai lokasi wisata adalah Pulau Baun, Cagar
Alam Laut di sekitar Pulau Enu, Pulau Penambulai, Kawasan Hutan Mangrove, serta
pulau-pulau kecil yang tersebar di Kepulauan Aru bagian timur yang memiliki
panorama alam khususnya laut yang sangat potensial untuk dikembangkan.
Selain wisata bahari, obyek wisata unggulan yang dapat dikembangkan di wilayah
Kabupaten Aru adalah wisata hutan mangrove yang banya terdapat di Pulau Aru
bagian Timur. Wisata di kawasan hutan mangrove antara lain berupa wisata jelajah
(tracking) dan jalan (jogging). Obyek wisata lain antara lain berupa peninggalan
sejarah berupa makam raja dan wisata budaya seperti

upacara adat, kesenian

tradisional serta adat istiadat Suku Kei. Demikian halnya dengan kerajinan tangan
seperti mutiara, tenunan dan makanan khas tradisional wilayah Kabupaten Aru
merupakan obyek wisata yang dapat dikemas sebagai komoditas unggulan wilayah
Kabupaten Aru yang layak dikembangkan di kawasan ini.
5.11.4. Analisis Kelayakan Pengembangan Komoditas Unggulan
Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan pariwisata di
wilayah Kabupaten Aru agar layak menjadi skala industri antara lain perlu :

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 179

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

a) Pengembangan sarana transportasi, baik transportasi udara, laut maupun


transportasi lokal;
b) Pengembangan sarana dan sarana penunjang kepariwisataan, seperti hotel,
restauran dan lain-lain;
c) Meningkatkan

pastisifasi

aktif

masyarakat

dalam

pengembangan

kegiatan pariwisata; dan


d) Adanya jaminan

keamanan dari pemerintah, mengingat lokasi kegiatan

pariwisata yang ada pernah mengalami konflik. Dll.


Wilayah Kabupaten Aru memiliki panorama pantai dan panorama bawah air yang
sangat indah. Berbagai jenis aktivitas wisata bahari (marine tourism} seperti selam
(diving), berenang(swimming), snorkling, berjemur (sun buthing), memancing
(fishing), perahu layar dan kano (cannoin) dapat dilakukan di berbagai obyek wisata
Kepulauan Kei .
Kondisi perairan pantai yang landai dengan hamparan ekosistem khas tropis (coral
reef)

merupakan

salah

satu

obyek

wisata

yang

sangat

potensial

untuk

dikembangkan, apalagi apabila didukung oleh kelengkapan sarana dan prasarana


seperti tempat penyewaan sarana selam dan juru pandu yang profesional.
Semua obyek wisata pantai dan bawah laut yang terdapat di wilayah Kabupaten Aru
dapat dikunjungi lewat darat dan laut, dan untuk mencapai obyek wisata selancar
dan snorkling dapat dicapai dengan bantuan speed boat yang ada di setiap lokasi
pariwisata. Mengingat masih sangat terbatasnya sarana dan prasarana yang ada
maka masih perlu pcmbenahan dan pengadaan sarana pendukung.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan wisata bahari di wilayah
Kabupaten Aru adalah penetapan kawasan wisata tcrsebut dengan penataan ruang
yang lebih baik sehingga tidak ada tumpang undih dalam pcmanfaatan wilayah pada
lokasi-lokasi yang potensial untuk dikembangkan. Selain itu perlu adanya partisifasi
aktif masyarakat lokal untuk menjaga kondisi panorama alam yang ada serta ikut
berperan serta dalam pengembangannya.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 180

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Demikian halnya untuk wisata hutan mangrove, sejarah dan budaya, sarana
prasarana penunjang berupa jogging track atau shelter (Gambar...)dan sasana
budaya berupa gedung pertemuan, musium atau sanggar-sanggar budaya perlu
dikembangkan secara paralel dengan pembinaan sumberdaya manusianya baik
melalui pelatihan maupun berbagai pendidikan lainnya yang dibarengi dengan
semangat nasionalisme yang tinggi.

Gambar.5.16
.Contoh pengembangan kawasan wisata mangrove

5.12 ANALISIS PROYEKSI PENDUDUK


LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 181

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

5.12.1 Proyeksi Penduduk Berdasarkan Trend


Proyeksi penduduk Kabupaten Kepulauan Aru berdasarkan metode Trend dilakukan
untuk kurun waktu 20 tahun sebagaimana kegiatan perencanaan ini dilakukan.
Berdasarkan proyeksi yang dilakukan maka jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan
Aru akan tumbuh dengan angka rata rata pertahunnya sebesar 1,97%. Angka ini
lebih kecil dibandingkan angka pertumbuhan rata rata pertahun untuk periode
tahun 1980 -1990 dan juga untuk tahun 1990 2000. Bahkan angka inijuga jauh
dibawah angka pertumbuhan untuk tahun 2000 2006. Berdasarkan metode ini
maka diperkirakan jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Aru akan mencapai
kurang lebih 120.000 orang di tahun 2028.
Perkembangan jumlah penduduk hasil proyeksi berdasarkan trend dapat dilihat
dalam tabel berikut;
TABEL 5.40
JUMLAH PENDUDUK KABUPATEN KEPULAUAN ARU BERDASARKAN TREND
2009 2028

Tahun

Jumlah
Penduduk

2009

82.820

2010

84.779

2011

86.738

2012

88.697

2013

90.656

2014

92.615

2015

94.574

2016

96.532

2017

98.491

2018

100.450

2019

102.409

2020

104.368

2021

106.327

2022

108.286

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 182

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Tahun

Jumlah
Penduduk

2023

110.245

2024

112.204

2025

114.163

2026

116.121

2027

118.080

2028

120.039

Sumber : Data Diolah,2008

5.11.2 Proyeksi Penduduk Berdasarkan Skenario


Proyeksi selanjutnya adalah dengan menggunakan skenario berdasarkan data
empiris yang ada. Dari data yang ada dapat disimpulkan bahwa dalam perencanaan
20 tahun mendatang akan digunakan skenario dengan mengambil nilai rata rata
pertumbuhan tertinggi yang pernah terjadi yaitu 2,53%. Berdasarkan hasil proyeksi
denga tingkat pertumbuhan jumlah sebesar 2,53% maka diperkirakan jumlah
penduduk Kabupaten Kepulauan Aru akanmencapai 132.767 orang di akhir periode
perencanaan. Jumlah selengkapnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini;
Tabel 5.41
Jumlah Penduduk Kab. Kepulauan Aru Berdasarkan Skenario2009 2028

Tahun

Jumlah Penduduk

2009

82.589

2010

84.679

2011

86.821

2012

89.018

2013

91.270

2014

93.579

2015

95.946

2016

98.374

2017

100.863

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 183

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

2018

103.415

2019

106.031

2020

108.714

2021

111.464

2022

114.284

2023

117.175

2024

120.140

2025

123.180

2026

126.296

2027

129.491

2028

132.767

Sumber : Data Diolah,2008

5.13 Analisis Kebutuhan Prasarana Wilayah


5.13.1 Transportasi
A. Sistem Transportasi Darat
Jaringan transportasi darat di Kabupaten Kepulauan Aru, khususnya jaringan jalan
hanya terdapat di Kota Dobo (ibukota Kabupaten Kepulauan Aru). Sementara di
daerah lainnya masih terbatas di wilayah-wilayah yang berpenduduk dan jaringan
jalan tersebut belum beraspal dan tidak terhubung antara desa yang satu dengan
desa yang lain apalagi antar kecamatan yang satu dengan kecamatan lainnya.
Selama ini akses menuju dan ke wilayah lainnya menggunakan jalur laut, padahal
kondisi laut di Kabupaten Kepulauan Aru seringkali tidak bersahabat. Ataupun pada
kondisi iklim baik, tetap hanya bisa dilakukan pada saat air laut pasang. Kondisi ini
sangat membatasi mobilitas penduduk, menghambat kegiatan ekonomi yang pada
gilirannya menghambat peningkatan pendapatan masyarakat.
Kondisi infrastruktur jalan yang masih minim, maka kendaraan darat (mobil) hanya
terdapat di Kota Dobo. Sampai dengan tahun 2008 telah terdapat dua trayek
kendaraan umum di Kota Dobo dengan sebuah terminal kota.
B. Jaringan Transportasi Udara
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 184

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Kondisi wilayah Kabupaten Kepulauan Aru yang sering bergelombang tinggi pada
dua musim yang mempengaruhi kepulauan ini. Pantai barat kepulauan ini aman
sekali selama musim timur (April - Agustus) dan sebaliknya akan mendapat pukulan
ombak yang kuat pada puncak musim barat yang jatuh pada bulan DesemberJanuari. Pantai timur aman selama musim barat (September - Maret) dan mendapat
pukulan ombak yang kuat pada puncak musim timur pada bulan Juni-Juli. Oleh
karena itu transportasi udara menjadi sangat penting khususnya jika terjadi musim
ombak.
Prasarana angkutan udara di Kabupaten Kepulauan Aru terdiri dari tiga bandara,
yaitu Bandara di Kota Dobo untuk penerbangan komersial, Bandara di Benjina milik
perusahaan perikanan dan sebuah bandara yang sudah digunakan lagi di
Marafenfen. Namun demikian penerbangan komersial belum terjadwal secara tetap.
Sehingga jika musim ombak terjadi antrian penumpang yang akan memanfaatkan
jasa penerbangan baik menuju atau ke luar dari Dobo. Jika kondisi sudah sangat
mendesak beberapa kelompok penumpang akan meminta bantuan pesawat Polri
untuk mengangkut mereka baik dari Dobo maupun menuju Dobo. Oleh karena itu,
dalam pengembangan ke depan penerbangan reguler perlu diaktifkan kembali,
dengan skenario dengan dan tanpa subsidi pemerintah. Untuk itu perlu dilakukan
kajian terlebih dahulu apakah penerbangan dengan frekuensi tertentu secara
ekonomi sudah layak atau belum bagi maskapai penerbangan. Jika hasil kajian
belum layak, maka pada penerbangan reguler disubsidi Pemerintah Daerah dengan
frekuensi sesuai dengan kemampuan keuangan Pemerintah Daerah.
C. Sistem Transportasi Laut
Prasarana transportasi laut Kabupaten Kepulauan Aru sudah memadai khususnya di
Kota Dobo yaitu dengan keberadaan pelabuhan penyeberangan dan pelabuhan
barang. Pelabuhan penyeberangan Tual dengan kapasitas 600 GT dan panjang
dermaga 58 meter. Pelabuhan barang Tual dengan kapasitas 1.000 DWT dan
panjang dermaga 103 meter.
Di Benjina terdapat pelabuhan penyeberangan Benjina dengan kapasitas 600 GT
dan panjang dermaga 58 meter. Pelabuhan-pelabuhan lainnya berbentuk jetty dan

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 185

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

terdapat dikapung-kampung sebagai prasarana untuk berlabuh perahu sebagai


sarana utama transportasi masyarakat di Kabupaten Kepulauan Aru.
Pengembangan prasarana lebih lanjut ditujukan pada pelabuhan-pelabuhan di kotakota kecamatan khususnya untuk kota kecamatan yang belum memiliki pelabuhan
atau yang sudah dalam kondisi rusak.
Sementara itu sarana angkutan laut yang merupakan sarana utama bagi pergerakan
barang dan penumpang di Kabupaten Kepulauan Aru masih sangat terbatas,
khususnya sarana angkutan untuk pergerakan penumpang dan barang antar
kecamatan atau dari kota kecamatan menuju kota kabupaten dan sebaliknya dari
kota kabupaten menuju kecamatan-kecamatan. Selama ini belum ada ada kapal
yang melayani secara reguler untuk kebutuhan tersebut. Sehingga jika transportasi
menjadi sangat mahal karena harus sewa. Untuk itu pengadaan kapal penumpang
dan atau kapal barang yang dapat melayani secara reguler ke seluruh wilayah
Kabupaten Kepulauan Aru mejadi sesuatu yang sangat mendesak. Mengingat
jumlah penumpang yang masih terbatas, maka secara ekonomi mungkin tidak layak,
oleh karena itu pada tahap awal peran Pemerintah Daerah dalam pembiayaan
sangat dibutuhkan baik dalam pengadaan maupun selama pengoperasiannya.
5.13.2 Energi
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan
khususnya pada Pasal 5 Ayat 1 disebutkan bahwa Pemerintah Daerah menyusun
Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah. Rencana Umum Ketenagalistrikan
Daerah yang selanjutnya disebut sebagai RUKD adalah suatu rencana terpadu yang
memiliki ruang lingkup daerah yang merupakan dokumen kebijakan Pemerintah
Daerah di bidang ketenagalistrikan yang berisi antara lain tentang perkembangan
kelistrikan daerah dan kebijakan sektor ketenagalistrikan serta rencana penyediaan
tenaga listrik secara kedaerahan di masa yang akan datang. Namun demikian
sebagai pemerintahan yang baru Kota Tual Belum mempunyai dokumen RUKD
sebagai dokumen perencanaan energi. Namun demikian telah tersedia dokumen
Rencana Penyediaan Tenaga Listrik 2007-2016 yang diterbitkan oleh PLN.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 186

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Kebutuhan tenaga listrik PLN disuatu daerah pada umumnya dipengaruhi oleh tiga
faktor yaitu :
1. Pertumbuhan ekonomi dan penduduk
2. Program elektrifikasi
3. Pengambilalihan captive power
Pertumbuhan ekonomi, dalam pengertian yang sederhana adalah meningkatkan
output barang dan jasa. Oleh karena itu, proses tersebut yang memerlukan tenaga
listrik sebagai salah satu input untuk menunjangnya, juga akan meningkat,
disamping input-input barang dan jasa yang lainnya. Disamping itu hasil dari
pertumbuhan ekonomi, adalah meningkatkan pendapatan masyarakat yang
mendorong untuk meningkatnya permintaan akan barang-barang peralatan listrik
seprerti : radio, TV, AC, lemari es dan lainnya. Akibatnya permintaan akan tenaga
listraik juga akan meningkat.
Faktor kedua adalah progrm elektrifikasi dari pemerintah. Mengingat bahwa rasio
elektrifikasi, yaitu perbandingan antara rumah tangga yang sudah berlistrik dengan
seluruh rumah tangga, masih relatif rendah, yaitu diproyeksikan 52,4 % pada tahun
2007 diseluruh Luar Jawa, sehingga dimasa lalu pemerintah memberikan bantuan
bantuan berupa program elektrifikasi , namun dengan perkembangan perekonomian
Indonesia akhir-akhir ini dan menjadi semakin terbatasnya kemampuan keuangan
Pemerintah, maka program elektrifikasi ini juga menjadi semakin terbatas.
Faktor ketiga yang menjadi pendorong perumbuhan permintaan akan tenaga listrik
PLN adalah pengalihan dari captive power menjadi pelanggan PLN. Sebagaimana
diketahui, dengan terbatasnya kemampuan PLN baik dari segi kuantitas maupun
kualitas untuk menyambung/ memenuhi permintaan pelanggan disuatu daerah
terutama pelanggan industri dan komersial, maka timbullah apa yang dinamakan
captive power. Apabila kemampuan PLN untuk menyambung di daerah tersebut
telah meningkat, maka captive power ini dengan berbagai perkembangan masingmasing, bersedia untuk menjadi pelanggan PLN. Faktor ketiga ini sangat bergantung
kepada kemampuan pasokan PLN disuatu daerah/ sistem kelistrikan, jadi tidak
berlaku umum.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 187

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Dalam sistem kelistrikan PLN luar Jawa Bali, kebutuhan listrik di Kab. Aru tidak
termasuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, PLN 2007-2016, oleh
karena itu pada bagian ini akan dilakukan analisis kebutuhan listrik Kab. Aru dengan
pendekatan tingkat pertumbuhan penduduk atau jumlah rumah tangga pada tahun
perencanaan. Secara rinci asumsi kebutuhan listrik di Kab. Aru adalah sebagai
berikut:
1. Perkiraan jumlah penduduk Kab. Aru untuk tahun 2028
2. Kebutuhan listrik rumah tangga diasumsikan sebesar 450 VA,
3. Kebutuhan untuk komersial 5 % dari total kebutuhan rumah tangga,
4. Kebutuhan untuk Pemerintahan 5% dari total kebutuhan rumah tangga
5. Kebutuhan fasilitas umum dan sosial 1,5 % dari total kebutuhan rumah
tangga.
6. Losses (Sejumlah energi yang hilang dalam proses pengaliran listrik dari
Gardu Induk atau Gardu Distribusi sampai ke konsumen) sebesar 10% dari
total kebutuhan.
Berdasarkan asumsi tersebut maka kebutuhan energi listrik pada tahun 2028 adalah
sebagai berikut:
TABEL 5.42
PROYEKSI KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK KAB. KEPULAUAN ARU TH. 2028

Jumlah
Jumlah Penduduk (2028)

Satuan

120.039

Jiwa

24.008

RT

10.804

KVA

Perkiraan Jumlah RT Tahun


2028
Konsumen:

RT

Komersial

540

KVA

Pemerintah

540

KVA

Sosial & Umum

162

KVA

Sub. Total

12.046

KVA

Losses

1.205

KVA

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 188

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

TOTAL Kebutuhan

13.251

KVA

Sumber: Hasil analisis 2008


Dari tabel di atas terlihat bahwa proyeksi kebutuhan energi listrik tahun 2028
mencapai 13.251 KVA atau 13,251 MW. Untuk memenuhi kebutuhan akan listrik
tersebut harus digali potensi energi hijau yang dapat digunakan sebagai pembangkit
tenaga listrik. Berdasarkan kondisi topografinya di Kab. Aru yang cenderung datar
sehingga tidak ada potensi pengembangan pusat listrik tenaga air, baik dalam skala
mikrohidro sekalipun, energi alternatif lainnya adalah energi surya. Sumber energi ini
telah diterapkan di Kab. Aru dibeberapa desa, sebagai bagian dari program PLTS
Departemen Kelautan dan Perikanan. Oleh karena itu untuk pemenuhan kebutuhan
listrik pada wilayah dengan penduduk yang relatif padat, khususnya di perkotaan
atau ibukota kecamatan dan desa-desa dengan penduduk padat lainnya dapat
dikembangkan Pusat listrik tenaga diesel (PLTD).

5.13. 3 Sumberdaya Air


Sumberdaya air merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan
kawasan perkotaan dimana air dapat menjadi faktor pembatas maupun pendukung.
Untuk itu perlu pengoptimalan sumber-sumber air yang sudah ada dan mencari
sumber-sumber air pada wilayah-wilayah yang potensi air terbatas.
Pemenuhan kebutuhan air bersih di Kab. Kepulauan Aru saat ini dipenuhi dari
sumur-sumur gali khususnya airtanah dangkal. Sedangkan di pulau-pulau kecil
sumber air mengandalkan hasil penampungan air yang berasal dari air hujan, selain
menggunakan sumur-sumur air tawar pada kantong-kantong airtanah setempat. dan
dari sumur selain dengan memanfaatkan sumber air yang ada. Cara lain dalam
pengadaan sumber air bersih dapat dilakukan dengan pembuatan sumur artesis/
sumur pompa dan pemanfaatan waduk/embung yang ada.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 189

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Gambar 5.17
Perkembangan Produksi Air PAM Cabang Dobo, Kabupaten Kepulauan
Aru dari tahun 2000 2006

Pelayanan air bersih oleh PAM hingga saat ini baru dilaksanakan untuk Kawasan
Kota Dobo saja. Sedangkan pelayanan air bersih di wilayah lain belum ada.
Berdasarkan data dari PAM Cabang Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, produksi air
pada tahun 2006 mencapai 100,211 m3/tahun atau sekitar 3,18 l/det, yang berarti
meningkat hampir 100% dibandingkan tahun produksi tahun 2005 yang mencapai
55.739 m3/tahun atau 1,77 l/det. Grafik berikut menunjukkan tingkat produksi air
PDAM dari tahun 2000 2006.
Jumlah pelanggan air minum pada tahun 2006 adalah sekitar 526 pelanggan.
Dengan demikian kapasitas produksi air bersih di PAM ini masih sangat kecil. Untuk
itu kapasitas produksi air PAM ini harus lebih dikembangkan untuk memenuhi
berbagai kebutuhan air seperti rumah tangga, hotel, perkantoran, komersial, industri
dan sebagainya serta tidak hanya untuk kawasan Kota Dobo saja, tetapi minimal
juga melayani kota-kota kecamatan di Kabupaten Kepulauan Aru. Untuk Kota Dobo
perlu alternatif sumber air lain untuk mengimbangi peningkatan jumlah penduduk
dan kegiatan perekonomian nantinya. Potensi sumber air yang mungking
dikembangkan adalah

mata air Gunung Sembilan Desa Galaydubu. Sedangkan

untuk Kecamatan Aru Selatan dapat memanfaatkan sumber air dari danau di
kawasan Popjetur.

5.13.4 Telekomunikasi

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 190

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Perkembangan telekomunikasi demikian cepat, pada awalnya telekomunikasi


berfungsi sebagai sarana komunikasi, kini telekomunikasi telah menjadi komoditi
perdagangan. Dalam lingkungan nasional telekomunikasi telah terbukti sebagai
sarana vital Indonesia untuk memperlancar kegiatan pemerintah, meningkatkan
hubungan antar bangsa serta memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam rangka
Wawasan Nusantara. Dalam era reformasi telekomunikasi berperan sebagai salah
satu faktor penting dan strategis dalam

menunjang dan meningkatkan daya saing

ekonomi wilayah atau daerah.


Bagi daerah seperti Kab. Aru yang secara geografis terisolasi, maka peran
telekomunikasi menjadi sarana yang tidak bisa tidak harus tersedia untuk membuka
keterisolasian, baik antara Kab. Aru dengan wilayah luar Kab. Aru maupun dalam
Kab. Aru sendiri. Oleh karena itu sarana telekomunikasi mutlak ada.
Secara umum peran pemerintah dalam telekomunikasi telekomunikasi telah
bergeser dari memiliki, membangun dan menyelenggarakan telekomunikasi ke
menentukan kebijakan, mengatur, mengawasi dan mengendalikannya, hal ini karena
fungsi telekomunikasi yang telah bergeser tersebut dari sarana menjadi komoditas.
Namun demikian karena tidak semua kondisi daerah (temasuk sebagian wilayah
Kab. Aru) secara ekonomi layak untuk diadakan jaringan telekomunikasi, maka
peran

pemerintah

untuk

memiliki,

membangun

dan

menyelenggarakan

telekomunikasi masih diperlukan, setidak-tidaknya komunikasi untuk kebutuhan


pelayanan publik.
Beberapa konsep telekomunikasi murah untuk menjangkau masyarakat yang tidak
mampu dan terisolir telah dikembangkan baik oleh pemerintah, swasta, maupun
bersama-sama pemerintah dan swasta. Di Kab. Aru sendiri terdapat kelompok
masyarakat yang telah mengembangkan sistem telekomunikasi untuk kepentingan
umat dengan sistem gelombang radio.
Usaha pemeritah dalam mengatasi telekomunikasi untuk daerah terpencil telah
diprogramkan sejak tahun 2005 melalui program Universal Service Obligation (USO)
dengan program ini pemerintah akan membebankan pembangunan fasilitas
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 191

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

telekomunikasi di daerah-daerah terpencil kepada para operator. Bentuknya berupa


pungutan sebesar 0,75 persen dari penjualan kotor setiap tahunnya dari semua
operator. Namun demikian program USO masih belum bisa dilaksanakan sampai
dengan sekarang, dengan tertundanya program USO ini, maka pemerintah
bermaksud menyinergikan USO dengan akses internet bagi masyarakat pedesaan
melalui program Community Access Point (CAP).
Permasalahan

pengembangan

telekomunikasi

didaerah

terpencil

disamping

masalah skala ekonomi, masalah lainnya adalah ketersediaan tenaga listrik sebagai
sumber energi peralatan telekomunikasi yang harus menyala selama 24 jam nonstop. Oleh karena itu dibutuhkan peralatan telekomunikasi yang tidak hanya hemat
energi tetapi hanya membutuhkan energi yang kecil. Dengan kebutuhan energi yang
kecil, maka sumber energi seperti cahaya matahari atau angin bisa dimanfaatkan.
Dengan demikian pengembangan sarana telekomunikasi dan penyediaan sumber
energi listrik didaerah terpencil bisa dilakukan secara sinergi.
Usaha pemerintah seringkali lambat karena terkendala oleh aturan birokrasi, oleh
karena itu usaha lain terus dilakukan untuk mendorong pihak operator untuk
melayani masyarakat pedesaan, seperti: bersama program Indosat Cinta Indonesia
mengembangkan energi alternatif untuk BTS di kawasan terpencil dan kemudian
melalui Telkomsel Merah. Usaha yang baik ini perlu dipercepat dengan pemberian
insentif bagi operator yang mau mengembangkan jaringan telekomunikasi di daerah
terpencil. Secara teknologi permasalahan sumber energi listrik bagi peralatan
telekomunikasi khususnya GSM sudah bisa diatasi, perusahaan pemasok
telekomunikasi besar dunia sudah menemukan teknolgi BTS yang hemat energi
yang sengaja diperuntukan bagi pengembangan daerah-daerah terpencil.
Usaha seperti itu pula yang perlu dilakukan bagi daerah seperti Kab. Aru, khususnya
wilayah-wilayah

kecamatan

yang

selama

ini

belum

mendapat

pelayanan

telkomunikasi. Pada tahap awal, sistem telekomunikasi yang harus dibangun adalah
bisa menggunakan teknologi SSB (Single Side Band). Atau dengan sistem yang
dikembangkan oleh Departemen Dalam Negeri melalui Siskomdagri, namun sistem
yang menggunakan teknologi VSAT ini saat ini banyak mengalami kendala baik
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 192

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

teknis maupun non-teknis sehingga banyak yang tidak bisa mempertahankan.


Selanjutnya sistem yang dapat yang dapat dikembangkan bekerjasama dengan
operator telekomuniasi seluler secara bertahap dikembangan pada masing-masing
kota kecamatan sesuai dengan perkembangannya.
5.13.5 Sarana Drainase dan Pengelolaan Air Limbah
A. Sarana Drainase
Permasalahan drainase di Kab. Kepulauan Aru masih belum menjadi masalah
yang serius, akan tetapi khususnya di Kota Dobo hal ini cepat atau lambat akan
menjadi permasalahan yang besar jika tidak diantisipasi secara dini, hal ini
karena kondisi Kota Dobo yang secara topografi sebagian berada dibawah
permukaan air laut, khususnya di waktu kondisi pasang. Hal ini menyebabkan
buangan air hujan tidak sepenuhnya terbuang secara cepat ke laut, kondisi ini
akan menyebabkan banjir. Oleh karena pengembangan sistem drainase perlu
dilakukan dengan cermat dengan memperhatikan kontur kota secara teliti.
Berbeda dengan kota seperti Ambon yang merupakan kota perbukitan, dimana
pembuatan saluran drainase bisa dilakukan dengan mudah karena perbedaan
antara daerah rendah dan tinggi sangat signifikan untuk suatu aliran air.
B. Pengolahan Limbah Cair
Limbah cair pada daerah yang belum berkembang sebagian besar merupakan
limbah rumah tangga. Sejalan dengan perkembangan wilayah dan kota di Kab.
Aru khususnya kebutuhan akan menajemen limbah cair menjadi sangat penting.
Hal ini karena sebagai daerah kepulauan yang tidak mempunyai gunung, maka
sumber air baku sangat terbatas dan yang utama sumber daya alam andalan
yaitu kekayaan laut bisa terancam jika limbah cair tidak ditangani secara benar.
Oleh karena itu pembuangan limbah cair harus diarahkan ke wilayah laut yang
tidak mempunyai potensi ekonomi tinggi.
Sementara limbah cair industri, khususnya industri perikanan yang kini ada di
Kab. Kepualauan Aru, diwajibkan melakukan pengolahan limbah cair berbahaya
sebelum dibuang ke laut.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 193

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

5.13.5.

Permukiman

Perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia selain sandang dan
pangan. Kehidupan dan karakter manusia dapat berawal dari unit lingkungan terkecil
yaitu rumah. Rumah dapat diusahakan sendiri baik oleh masyarakat secara informal
atau dibangun oleh pihak pengembang/developer secara formal dengan jumlah
relatif besar.
Eko Budiardjo berpendapat bahwa pembangunan perumahan adalah suatu proses
yang harus diwariskan dari generasi ke generasi untuk terciptanya lingkungan
permukiman dan arsitektur khas yang memiliki nafas tradisi tanpa menghilangkan
fungsi dan citra kekinian. Nampaknya dalam kehidupan perkotaan saat ini pendapat
tersebut sulit untuk diterapkan. Masyarakat cenderung membangun rumahnya tanpa
mengindahkan kaidah serta aturan-aturan yang berlaku.
Perumahan sebagai wadah kehidupan manusia tidak hanya menyangkut aspek fisik
saja, tetapi juga aspek sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Tidak hanya
menyangkut tempat hunian saja, tetapi juga tempat kerja, berbelanja, bersantai dan
wahana untuk bepergian (wisma, karya, marga, dan suka). Pengadaan perumahan
di suatu wilayah tidak hanya dilihat secara kuantitas, tetapi juga kualitas.
Pemukiman memiliki dua fungsi utama : (1) Fungsi pasif, menyediakan sarana dan
prasarana fisik dan (2). Fungsi aktif, menciptakan lingkungan yang sesuai dengan
pola hidup penghuninya. Pembangunan permukiman diharapkan dapat menciptakan
suatu kehidupan yang layak dan berwawasan lingkungan dengan menjamin
ketersediaan sumber daya alam.
Secara umum kondisi perumahan dan permukiman di wilayah Kabupaten Kepulauan
Aru relatif baik, meskipun masih terdapat kantong-kantong kawasan perumahan
yang kondisinya relatif kurang baik. Kepadatan bangunan perumahan dari rendah
sedang sampai tinggi. Kondisi ini masih memungkinkan pembangunan perumahan,
baik oleh pengembang maupun masyarakat, di lahan-lahan belum terbangun.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 194

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Sampai saat ini pembangunan perumahan dan permukiman di wilayah Kabupaten


Kepulauan Aru masih sporadis. Secara umum di Kabupaten Kepulauan Aru terdapat
dua tipologi kawasan perumahan informal dan formal yang menyebar di seluruh
wilayah

kabupaten,

yaitu

permukiman/perkampungan

yang

sebagian

besar

dibangun oleh masyarakat menengah ke bawah, dan permukiman yang dibangun


oleh pengembang/developer. Secara umum kawasan perumahan tersebut dihuni
oleh masyarakat sesuai dengan tingkat status sosial ekonominya. Masing-masing
kawasan permukiman tersebut mempunyai karakter dan identitas sendiri, yang
kadang dapat pula tercermin dari ketersediaan sarana dan prasarana.
Kluster-kluster perumahan yang dibangun secara formal oleh pengembangan
menyebar secara umum di seluruh wilayah Kota Dobo tanpa pola yang jelas.
Demikian pula perumahan informal yang dibangun oleh masyarakat berkembang
secara seporadis di lahan-lahan kosong yang masih banyak tersedia di wilayah ini.
Selain itu tidak adanya ketentuan serta kurangnya kepedulian masyarakat akan
kenyamanan,

keserasian

dan

keindahan,

menjadikan

permukiman di wilayah ini menjadi berkesan padat dan

beberapa
kumuh.

kawasan
Kondisi ini

sebenarnya dapat diatasi atau dikurangi salah satunya dengan memberikan vegetasi
pada ruang yang tersisa di bagian lahan belum terbangun.
Aspek

kependudukan

merupakan

dasar

bagi

penyusunan

rencana

dan

pengembangan kegiatan pada masa yang akan datang. Salah satu kebutuhan dasar
manusia adalah perumahan. Pertumbuhan perekonomian suatu wilayah akan
berpengaruh pada permintaan akan perumahan (housing demand). Semakin tinggi
aktifitas perekonomian suatu wilayah maka permintaan akan perumahan akan cepat
meningkat.
Untuk prediksi kebutuhan perumahan di Kabupaten Kepulauan Aru akan digunakan
asumsi bahwa satu keluarga terdiri dari 4,19 orang sebagaimana data tahun 2007
dimana jumlah penduduk Kabupaten Kepulauan Aru sebesar 75.924 Jiwa dengan
jumlah KK sebanyak 18.140. Asumsi lain yang digunakan adalah satu unit rumah
terdiri dari

1,25 Keluarga, sehingga setidaknya jumlah rumah yang ada adalah

14.512 unit.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 195

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Untuk mengetahui permintaan rumah (housing demand) dapat dilakukan dengan


beberapa pendekatan sebagai berikut:
1.

Memperhatikan jumlah atau persentase KK yang memiliki rumah, dengan


angka tersebut akan diketahui KK yang tidak memiliki rumah. Kelompok ini
merupakan potential demand. Untuk Kabupaten Kepulauan Aru, jumlah atau
persentase keluarga Kabupaten Kepulauan Aru yang memiliki rumah adalah
80%. Dengan demikian besarnya KK yang tidak memiliki rumah adalah 20%
(2.902 KK).

2.

Kekurangan

rumah

(housing

backlog)

di

Kabupaten

Kepulauan

Aru

berdasarkan asumsi yang ditetapkan diatas adalah 2.902 unit (sekitar 20%
dari total rumah yang ada)
3.

Persentase rumah kosong mengindikasikan efektivitas pemanfaatan stock


rumah yang ada. Diperkirakan di Kabupaten Kepulauan Aru tidak terdapat
rumah yang tidak dihuni.

4.

Rumah yang kurang layak atau perlu di perbaiki juga merupakan item yang
perlu diperhitungkan dalan menentukan kebutuhan perumahan. Asumsi yang
digunakan dalam perhitungan ini adalah jumlah rumah perlu direnovasi sekitar
10% dari total unit rumah yang ada.

TABEL 5.43
PREDIKSI KEBUTUHAN PERUMAHAN DI KABUPATEN KEPULAUAN ARU
(2007 DAN 2028)

Uraian

2009

2028

Jumlah Penduduk

75.924

120.039

Jumlah Kepala Keluarga

18.140

28.680

Jumlah Rumah Eksisting

11.610

Kebutuhan Unit Rumah


Pertambahan Penduduk

44.115

Kekurangan Rumah (housing backlog)

2.902

Unit kurang layak

1.451

Sumber : Hasil Analisis, 2008.


LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 196

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

5.14

ANALISIS KEBUTUHAN FASILITAS

5.14.1 Fasilitas Peribadatan


Semua agama membutuhkan fasilitas peribadatan baik Islam, Katolik, Protestan,
Hindu maupun Budha. Kebutuhan fasilitas tersebut sejalan dengan bertambahnya
jumlah penganut agama yang bersangkutan. Kebutuhan peribadatan bersifat relatif
terhadap jumlah penganutnya, karena jika pada suatu tempat dimana tidak ada
tempat ibadah, sementara tempat ibadah yang ada cukup jauh untuk dijangkau,
harus menyeberang lautnya misalanya, maka disitu diperlukan ada suatu tempat
ibadah. Namun demikian untuk sebuah standar, Keputusan Menteri Permukiman
dan Prasarana Wilayah telah menetapkan melalui suatu Keputusan Menteri No.354
tahun 2001 tentang Standar Pelayanan Minimum.
Dalam kepmen tersebut di atur bahwa setiap penduduk berjumlah 2.500 jiwa
dibutuhkan sebuah tempat peribadatan. Sehingga dengan memperhatikan proyeksi
jumlah penduduk pada 20 tahun kedepan, kebutuhan tempat peribadatan adalah
sebanyak 48 buah. Sementara ketersediaan tempat ibadah saat ini (tahun 2007)
untuk agama islam (masjid) sebanyak 70 buah, gereja katolik 104 buah, dan gereja
protestan 26 buah. Secara spasial (menurut kecamatan) ketersediaan tempat ibadah
yang ada dan menurut SPM juga sudah mencukupi. Akan tetapi ketersediaan tempat
ibadah pada masing-masing pulau yang berpenghuni bisa jadi belum mencukupi,
oleh karena itu perlu dilakukan observasi lebih lanjut.
5.14.2 Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan seringkali menjadi kendala bagi suatu daerah kepulauan karena
penduduk yang tersebar dalam pulau-pulau sementara tempat pendidikan terdapat
hanya pada pulau-pulau tertentu. Kondisi ini akan menjadi sangat tidak
memungkinkan untuk sekolah yang tidak diasramakan karena jarak tempuh yang
jauh dan melalui laut dalam dengan kondisi cuaca yang tidak selamanya tenang.
Kebutuhan akan fasilitas pendidikan sebenarnya tidak hanya sejalan dengan
bertambahnya jumlah penduduk usia sekolah akan tetapi juga sejalan dengan
meningkatnya kesejahteraan/pendapatan masyarakat dan juga tingkat kesadaran
masyarakat akan pentingnya pendidikan.

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 197

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

Kondisi eksisting fasilitas pendidikan sampai tahun 2008 di Kab. Aru secara spasial
untuk sarana pendidikan SD atau yang sederajat sudah mencukupi karena dari 119
desa dan kelurahan sudah terdapat SD, kecuali 1 desa yang belum ada SD yaitu
Desa Apara Kec. Aru Tengah Selatan.
Pada tingkat TK, sarana pendidikan tingkat ini masih jauh dari mencukupi karena
jauh dari SPM. Berdasarkan Standar SPM untuk penduduk pada tahun 2008,
seharusnya sudah ada TK sebanyak 80 unit. Sehingga masih kurang sebanyak 78
unit, jika mengikuti SPM yang ada kekurangan tersebut akan banyak untuk tahun
2028. Namun demikian karena tingkat pendidikan TK bukanlah jenjang pendidikan
yang wajib dilakukan oleh anak usia sekolah untuk memasuki tingkat pendidikan
yang lebih tinggi (SD/MI), maka seringkali penyediaan sarana pendidikan ini sering
diabaikan. Hal lain yang menjadikan tingkat pendidikan Tk terabaikan juga karena
TK sebagaimana disebutkan dalam PP No. 27 tahun 1990 diselenggarakan oleh
yayasan atau badan usaha bersifat sosial, yang dalam pembiayaan taman kanakkanak diperoleh dari penyelenggara, orang tua murid. Hal ini menunjukkan bahwa
penyelenggaraan TK bukan kewajiban pemerintah, akan tetapi pemerintah dapat
membantu dalam bentuk dana sarana dan prasarana pendidikan, tenaga
kependidikan yang berkedudukan sebagai Pegawai Negeri Sipil, dan bantuan lain.
Dengan ketentuan tersebut, maka untuk kota-kota kecamatan setidaknya perlu
dibangun sarana dan prasarana TK atas bantuan pemerintah kabupaten.
Berbeda dengan taman kanak-kanak fasilitas pendidikan SLTP, sudah ada 16 SLTP
yang tersebar pada 8 kecamatan dari 10 kecamatan yang ada. Kecamatan yang
belum ada sarana pendidikan SLTP adalah Kec. Sirsir dan Kec. Batulay, dari 8
kecamatan ada 2 kecamatan yang SLTP-nya tidak terletak pada ibu kota
kecamatan, yaitu Kec. Aru Selatan Timur dan Aru Selatan Utara. Oleh karena itu
walaupun secara agregat (tingkat kabupaten) berdasarkan SPM jumlah sarana
pendidikan SLTP sudah mencukupi akan tetapi secara spasial masih terdapat
kekurangan setidaknya jika masing-masing kecamatan minimal 2 SMP sampai
dengan tahun 2028 agar program pendidikan dasar 9 tahun terpenuhi, maka masih
terdapat kekurangan sekolah SLTP sebanyak 6 sekolah. Keenam sekolah tersebut
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 198

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

adalah 1 di Kec. PP. Aru, 2 di Kec. Sirsir, 1 di Kec. Aru Tengah Timur, 1 di Kec. Aru
Tengah Selatan, dan 1 di Kec. Aru Selatan Utara.
Selanjutnya untuk tingkat pendidikan SLTA, jumlahnya sudah memadai jika untuk
memenuhi kebutuhan SPM karena sudah ada 7 SLTA (4 SMU dan 3 SMK) padahal
kebutuhan hanya 4 SLTA, namun demikian jika dilihat dari penyebarannya masih
dibutuhkan beberapa SLTA untuk wilayah Aru bagian timur (Pantai Timur) yaitu 1 di
Kec. Aru Tengah Timur dan 1 di Kec. Aru Selatan Timur.
Dan untuk tingkatan perguruan tinggi, sampai dengan tahun 2028 perlu
membutuhkan perguruan tinggi setingkat diploma untuk bidang perikanan terkait
dengan kebutuhan tenaga ahli tingkat madya agar kekayaan perikanan Kab. Aru
dapat diolah oleh generasi muda Aru sendiri.

5.14.3 Fasilitas Kesehatan


Fasilitas kesehatan dalam suatu daerah tingkat kabupaten atau kota sesuai SPM
diantaranya adalah: Balai Kesehatan, BKIA/Klinik Bersalin, Puskesmas, dan Rumah
Sakit. Kondisi eksisting sebagaimana terlihat pada gambaran umum menunjukkan
bahwa sampai dengan tahun 2028 akan terdapat kekurangan Puskesmas
Pembantu, Klinik Bersalin. Jumlah puskesmas sudah memadai akan tetapi karena
seringkali kondisi alam yang kadang kala tidak memungkin untuk membawa pasien
yang perlu rawat inap ke Kota Dogo, maka perlu dibangun puskesmas rawat inap di
Kec. Aru Selatan dan Kec. Aru Tengah Timur. Demikian juga dengan klinik bersalin
atau Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) untuk memenuhi kekurangan sesuai
dengan aturan SPM, maka perlu dibangun BKAI atau klinik bersalin pada masingmasing kecamatan, namun demikian dalam pelaksanaanya pembangunan BKIA bisa
digabungkan dengan Puskesmas..Hasil perhitungan kebutuhan fasilitas kesehatan
sesuai SPM dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 199

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

5.14.4 Fasilitas Perekonomian


Fasilitas prekonomian dalam suatu wilayah yang paling utama adalah pasar sebagai
tempat transaksi jual beli. Sampai dengan tahun 2007 baru terdapat sebuah pasar di
Kota Dobo kecamatan-kecamatan lainnya masih belum, sehingga ke depan perlu
direncanakan untuk dibangun pasar pada kecamatan-kecamatan tersebut sesuai
dengan perkembangan ekonomi daerah tersebut.

TABEL 5.44
KONDISI EKSISTING DAN KEBUTUHAN FASILITAS PEREKONOMIAN,
PENDIDIKAN, KESEHATAN DAN FASILITAS PERIBADATAN MENURUT SPM
KAB. KEPULAUAN ARU TH. 2028

Jenis Fasilitas

Fasilitas Kab. Aru (Unit)

Standar
Kebutuhan
Penduduk (Jiwa)

Th. 2008

Eksisting
2007

Kebutuhan

Kekurangan

Fasilitas Perekonomian
1

Pasar

Fasilitas Pendidikan
1 TK
2 SD
3 SLTP
4 SLTA

30.000

1.000
6.000
25.000
30.000

1
118
16
5

120
20
5
4

119
-

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 200

Bab 5 Analisis Potensi dan Kendala Pengembangan Kab Kepulauan Aru | RTRW Kab Kepulauan Aru |
2008

PT

Fasilitas Pelayanan Kesehatan


1 Pustu
2 BKIA/Klinik Bersalin
3 Puskesmas
4 Rumah Sakit
Fasilitas Sosial
1 Masjid
2 Gereja Katolik
3 Gereja Protestan

70.000

3.000
10.000
120.000
240.000

25
1
17
0

40
12
4
1

15
11
1

2.500
2.500
2.500

70
104
26

12
31
5

Sumber: Hasil analisis 2008

LaporanAntara:DatadanAnalisi
s

5- 201