Anda di halaman 1dari 10

INTERNAL AUDITING

Proses Internal Audit di Lembaga Masyarakat MUI

Diajukan untuk memenuhi dan melengkapi salah satu tugas Mata Kuliah
Seminar Audit Internal pada program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Widyatama

Dosen Pembina:
Prof. Dr. Hiro Tugiman, Ak, QIA
Disusun oleh:
Yonatan Tri

0113U026

Kelas : A
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan
makalah ini tepat pada waktunya yang berjudul Proses Internal Audit di
Lembaga Masyrakat MUI.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir,
terutama bapak Prof. Dr. Hiro Tugiman, Ak, QIA

Penyusun,

BAB I
LATAR BELAKANG

Pada tahun 2009 yang lalu sempat bersedar isu bahwa salah satu
ketua MUI Ogan Komering Ulu Selatan diduga menyelewengkan bantuan
dana calon haji senilai Rp509.500.000 dan selanjutnya terdakwa pergunakan sesuai peruntukan
hanya Rp237.284.000. Sementara sisa Rp287.716.000 tidak dapat dipertanggungjawabkan, untuk
memastikan apakah kecurangan tersebut sebelumnya sudah pernah dilakukan maka audtiot menerapkan
prosedur-prosedur audit meliputi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Seleksi Auditee
Persiapan Penugasan
Survei Pendahuluan
Evaluasi ICS
Pengujian Lapangan
Pengembangan Temuan
Pelaporan Hasil Audit
Monitoring Tindak Lanjut
Evaluasi

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Seleksi Audit
Penyeleksian auditee dapat dilakukan dengan 3 (tiga) metode, yaitu :
2.1.1

Systematic selection

Bagian audit internal menyusun suatu jadwal audit tahunan yang berkenaan dengan audit yang
diperkirakan akan dilaksanakan. Secara tipikal jadwal tersebut dikembangkan dengan
mempertimbangkan risiko. Auditee potensial yang menunjukkan tingkat risiko yang tinggi
mendapat prioritas untuk dipilih.
2.1.2

Ad Hoc Audits

Metode ini digunakan dengan mempertimbangkan bahwa operasi tidak selalu berjalan tepat
seperti yang direncanakan. Manajemen dan dewan komisaris sering menugaskan auditor internal
untuk mengaudit bidang/area fungsional tertentu yang dipandang bermasalah. Dengan demikian
manajemen dan dewan komisaris memilih auditee bagi auditor internal.
2.1.3

Auditee Requests

Beberapa manajer merasa bahwa mereka memerlukan input dari auditor internal untuk
mengevaluasi kelayakan dan keefektifan pengendalian internal serta pengaruhnya terhadap
operasi yang berada di bawah supervisinya. Oleh karena itu, mereka mengajukan permintaan
untuk diaudit. Tetapi dalam hal ini auditor internal tetap harus mempertimbangkan risiko dan
prioritasnya.

Dalam hal ini metode yang digunakan dalam menyeleksi auditee adalah
metode Auditee Request dimana MUI Ogan Komering Ulun Selatan meminta
bantuan secara langsung kepada auditor untuk mengevaluasi kecurangan
yang terjadi di organisasinya.

2.2 Persiapan Penugasan


Dalam persiapan penugasan auditor memeriksa dokumen-dokumen awal
yang terkait dengan lembaga tersebut meliputi profil dari MUI, track
record dari instansi tersebut, pengumpulan dokumen-dokumen terdahulu ,
profil-profil dari struktur organisasi di dalamnya.
Dalam Persiapan penugasan Audit merangkum bahwa,MUI atau Majelis
Ulama Indonesia adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang mewadahi ulama, zu'ama, dan
cendikiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum
muslimin di seluruh Indonesia. Majelis Ulama Indonesia berdiri pada tanggal 26 Juli 1975 di
Jakarta, Indonesia. Ketua MUI OKU Selatan masa jabatan 2015-2020 saat ini adalah Ali
Fuad, dimana dari awal terbentuknya MUI OKU Selatan belum pernah terjadi kecurangan
dalam organisasi ini sampai pada tahun 2009 terjadi kasus penyelewengan bantuan dana
calon haji dari APBD Tahun Anggaran 2009 dengan terdakwa Bahar Mustopa sebagai ketua
MUI OKU Selatan pada tahun tersebut.
2.3 Survey Pendahuluan
Tujuan dari dilaksanakannya survey pendahuluan adalah untuk memastikan auditor dalam
memperoleh pemahaman, informasi dan persektif yang dibutuhkan untuk mendukung
kesuksesan audit. Survei pendahuluan juga Survei pendahuluan dapat menjadi senjata
terbaik bagi auditor untuk memperoleh pemahaman, informasi dan persektif
yang dibutuhkan untuk mendukung kesuksesan audit. Survei pendahuluan dapat
membantu auditor menentukan jenis audit paling efektif terutama dengan
adanya paradigma baru bahwa auditor harus dapat memberikan nilai tambah
bagi

perusahaan

dan

bahwa

perusahaan

adalah

pelanggan/klien

dari

auditor. dapat membantu auditor menentukan jenis audit paling efektif terutama dengan

adanya paradigma baru bahwa auditor harus dapat memberikan nilai tambah bagi
perusahaan dan bahwa perusahaan adalah pelanggan/klien dari auditor.
Tahap-tahap pelaksanaan survey terdiri dari 7 langkah dasar :

1. melakukan studi awal


2. mendokumentasikan
3. bertemu klien
4. mendapatkan informasi
5. mengamati
6. membuat bagan alir/flow chart
7. melaporkan
2.4 Evaluasi ICS
Sistem Pengendalian Internal yang ada dalam lembaga MUI OKU Selatan sepenuhnya telah
memadai.
2.5 Pengujian Lapangan
Dalam pengujian lapangan yang dilakukan oleh auditor, auditor mendeteksi beberapa
kecurangan yang terjadi yaitu :
2.5.1. Rekening lembaga diatasnamakan ketua lembaga bukan lembaga terkait.
2.5.2. Laporan audit eksternal tahun buku 2009 memberikan opini wajar dengan pengecualian.
2.5.3. Ketua lembaga tahun jabatan 2005-2010 tidak melaporkan LHKASN
2.5.4. Ketua lembaga tahun jabatan 2005-2010 belum melaporkan laporan realisasi anggaran
kepada pemerintah daerah.
2.5.5. Dalam struktur organisasi bagian keuangan tidak diisi dengan orang yang berkompeten
dalam bagian keuangan.
2.5.6. Setelah klarifikasi kepada para penerima bantuan dana hanya 5 dari 15 orang yang
mengaku mendapatkan bantuan dana dari MUI OKU Selatan.
2.6 Pengembangan Temuan
Setelah melaksanakan pengujian lapangan dan

menemukan beberapa bukti-bukti terkait

kecurangan yang terjadi di MUI OKU Selatan, auditor mengembangkan atas dasar bukti-bukti
yang ditemukan, dan memastikan bahwa terjadi kecurangan terkait bantuan dana calon haji yang
diberikan oleh pemerintah untuk 15 orang calon haji dan jumlah yang merugikan negara adalah
Rp 237.284.000.

2.7 Pelaporan Hasil Audit

Karakteristik yang harus dipenuhi oleh suatu laporan hasil audit yang baik
ialah:
2.7.1. Arti Penting
Hal hal yang dikemukan dalam laporan hasil audit harus merupakan
hal

yang

menurut

pertimbangan

auditor

cukup

penting

untuk

dilaporkan. Hal ini perlu ditekankan agar ada jaminan bahwa penerima
laporan yang waktunya sangat terbatas akan menyempatkan diri
untuk membaca laporan tersebut.
2.7.2. Tepat-waktu dan kegunaan laporan
Kegunaan laporan merupakan hal yang sangat penting. Untuk itu,
laporan harus tepat waktu dan disusun sesuai dengan minat serta
kebutuhan penerimaan laporan, terlepas dari maksud apakah laporan
ditujukan

untuk

memberikan

informasi

atau

guna

merangsang

dilakukannya tindakan konstruktif.


2.7.3. Ketepatan dan kecukupan bukti pendukung
Ketepatan laporan diperlukan untuk menjaga kewajaran dan sikap
tidak memihak sehingga memberikan jaminan bahwa laporan dapat
diandalkan kebenarannya. Laporan harus bebas dari kekeliruan fakta
maupun penalaran. Semua fakta yang disajikan dalam laporan harus
didukung dengan buktibukti objektif dan cukup, guna membuktikan
ketepatan dan kelayakan hal-hal yang dilaporkan.
2.7.4. Sifat menyakinkan
Temuan,

kesimpulan

dan

rekomendasi

harus

disajikan

secara

menyakinkan dan dijabarkan secara logis dari faktafakta yang


ditemukan. Informasi yang disertakan dalam laporan harus mencukupi
agar

menyakinkan

pihak

penerima

laporan

tentang

pentingnya

temuantemuan, kelayakan kesimpulan serta perlunya menerima


rekomendasi yang diusulkan.
2.7.5. Objektif

Laporan hasil audit harus menyajikan temuantemuan secara objektif


tanpa prasangka, sehingga memberikan gambaran (perspektif) yang
tepat.
2.7.6. Jelas dan sederhana
Agar dapat melaksanakan fungsi komunikasi secara efektif, pelaporan
harus disajikan sejelas dan sesederhana mungkin. Ungkapan dan gaya
bahasa

yang

berlebihan

harus

dihindari.

Apabila

terpaksa

menggunakan istilahistilah teknis atau singkatansingkatan yang


tidak begitu lazim, harus didefinisikan secara jelas.
2.7.7. Ringkas
Laporan hasil audit tidak boleh lebih panjang dari pada yang
diperlukan, tidak boleh terlalu banyak dibebani rincian (kata-kata,
kalimat,

pasal

atau

bagian-bagian)

yang

tidak

secara

jelas

berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan, karena hal ini


dapat

mengalihkan

perhatian

pembaca,

menutupi

pesan

yang

sesungguhnya, membingungkan atau melenyapkan minat pembaca


laporan.
2.7.8. Lengkap
Walaupun

laporan

sedapat

mungkin

harus

ringkas

namun

kelengkapannya harus tetap dijaga, karena keringkasan yang tidak


informative bukan suatu hal yang baik. Laporan harus mengandung
informasi yang cukup guna mendukung diperolehnya pengertian yang
tepat mengenai hal-hal yang dilaporkan. Untuk itu perlu diserahkan
informasi mengenai latar belakang dai pokok-pokok persoalan yang
dikemukakan dan memberikan tanggapan positif terhadap pandanganpandangan pihak objek audit atau pihak lain yang terkait. Dalam
bahasa yang lain, dapat dinyatakan bahwa laporan hasil audit
seyogyanya mempunyai karakteristik: accurate, clear and concise,
complete, objective, constructive, dan prompt.

Dari bukti-bukti yang ditemukan oleh auditor, auditor memberikan rekomendasi terhadap MUI
OKUM Selatan :
a
b
c

Pemisahan rekening lembaga dengan rekening ketua lembaga.


Pemisahan fungsi antara ketua dengan bagian keuangan.
Pengevaluasian hasil kinerja per periode baik ketua dan juga tiap bagian di lembaga

tersebut.
Pemberian standar tertentu dalam perekrutan anggota lembaga yang akan difungsikan
dalam struktur organisasi.

2.8 Monitoring Tindak Lanjut


Dalam monitoring tindak lanjut auditor memastikan bahwa kecurangan-kecurangan tersebut
tidak terjadi lagi, dan juga memastikan tidak timbul kecurangan lain dalam lembaga yang dapat
merugikan baik negara ataupun lembaga terkait.
2.9 Evaluasi
Dalam tahap evaluasi auditor memeriksa kembali tindakan perbaikan secara kontinyu untuk
memastikan bahwa tujuandari lembaga terkait dapat tercapai secara lebih efektif dan efesien.

DAFTAR PUSTAKA
http://auditorinternal.com/2013/01/31/follow-up-vs-tindak-lanjut/
http://anhyfreedom.blogspot.com/2013/01/pelaporan-audit-menurut-spai.html
https://sites.google.com/site/operasiproduksi/evaluasi-audit-pelaporan-penghentian-proyek
https://id.wikipedia.org/wiki/Majelis_Ulama_Indonesia
https://prezi.com/mzqbs2hl8kni/temuan-audit/