Anda di halaman 1dari 5

Nama

: M. Azzaky Bimandama

NPM

: 1318011099

No. Presensi

: 12

Nama Penceramah

: Hj. Dedeh Rosidah

Tugas ke-6

Hari/Tanggal/Waktu : Kamis/17 April 2014/05.30 WIB


Tempat

: Indosiar

Kategori

: Kuliah Subuh

JUJUR KUNCI KEBERHASILAN RUMAH TANGGA

Jujur adalah sifat penting bagi Islam. Salah satu pilar Aqidah Islam adalah Jujur. Jujur adalah
berkata terus terang dan tidak bohong. Orang yang bohong atau pendusta tidak ada nilainya
dalam Islam.
Kalau seandainya ummat Islam seorang pendusta, tidak jujur, tentunya ketika ia menyatakan
beriman, maka imannya sangat rapuh untuk dipercaya, karena orangnya tidak amanah atau
dapat dipercaya karena telah dianggap pendusta.
Memang kita diciptakan manusia ini dua jalan, yaitu jalan kejahatan dan jalan kebaikan.
Firman Allah taala:
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan Tetapi dia tiada menempuh jalan yang
mendaki lagi sukar. [QS. Al-Balad :10-11]
Yang dimaksud dengan Dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan. Jalan kejahatan
adalah jalan yang mudah dan enak dikerjakan, tetapi jalan kebaikan dan kebajikan adalah
jalan yang sulit, mendaki lagi sukar.
Kalau kita memilih jalan kebaikan, kebajikan. Inilah jalan yang diridhoi Allah subhanahu
wataala, dan orang yang berada dijalan ini akan mendapat ganjaran dari allah subhanahu
wataala. Tetapi jalan kebaikan ini tidak mudah, sulit lagi sukar.
Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,atau memberi makan pada hari kelaparan,
(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir.
[QS. Al-Balad :12-16]

Demikianlah jalan kebaikan yang harus orang-orang mumin tempuh dan selalu bersabar
berada dijalannya sama seperti kita puasa dibulan ramadhan ini tetap sabar dalam
menjalankan ibadah dan segala kebaikan dan kebajikan yang kita amalkan selama dalam
bulan Ramadhan.
Perbuatan baik dijalan yang baik tersebut diantaranya juga bersikap jujur. Jujur dalam segala
perbuatan dan perbuatan kita. Karena orang yang terbiasa tidak jujur akan selalu menjadi
serentetan kebohongan berikutnya yang lambat laun menjadi kebiasaan, dan dicaplah sebagai
pembohong atau pendusta, nauzubillah
Jujur adalah pokok, pangkal segala permasalahan termasuk rumah tangga. Jika dua-duanya,
suami berbuat jujur dan istripun berbuat jujur, insyaallah rumah tangga yang didambakan
akan ada dalam genggaman kita. Kebalikannya, jika salah satu dari kedua pasangan suami
istri apalagi kalau keduanya melakukan sesuatu yang tidak jujur, jangan harap rumah tangga
akan damai melainkan akan hancur. Kita lihat dalam masyarakat atau bahkan rumah tangga
kita sendiri, kalau seorang suami sudah berkata tidak jujur, bersikap dan berperilaku tidak
jujur atau berdusta, lama-kelamaan akan ketahuan dan membuat emosi diri meningkat.
Bila kamu orang yang jujur, kejujuran mengantarkan dalam kebaikan dan kebaikan akan
mengantarkan kalian ke dalam surga Allah SWT. Itulah jujur. Namun jika tidak ada
pengertian kedua belah pihak yang namanya jujur kadang-kadang juga sering mengalami
salah paham. Sebagai contoh misalnya seorang suami pulangnya terlambat, jika memang
modalnya sudah jujur, maka akan menceritakan semua sesuai dengan yang dialami oleh sang
suami. Terkadang kejujuran itu menyakitkan, untuk itu kedua belah pihak harus siap
menghadapi apapun selama pasangan kita berlaku jujur. Daripada berlaku tidak jujur,
kejujuran wajib ada di dalam rumah tangga yang sudah dijalani termasuk berkaitan dengan
penghasilan, pengeluaran dana dan lainnya harus didasari dengan kejujuran. Suami
memperoleh penghasilan berapapun, kebutuhan-kebutuhan yang dicukupi setiap hari oleh
istri dan sekecil apapun harus dimusyawarahkan dan didasari oleh perilaku yang jujur.
Terkadang kebohongan-kebohongan kecil yang diabaikan adalah salah. Justru kebohongan
yang besar dimulai dari kebohongan yang kecil. Untuk itu, jangan pernah sekali-sekali untuk
pasangan suami istri berbuat kebohongan meskipun sekecil apapun. Yang dikhawatirkan,
karena telah terbiasa dengan melakukan kebohongan yang kecil, maka di saat melakukan
kebohongan yang besar akan merasa tidak bersalah. Dan lama-kelamaan kebohongankebohongan itu menjadi suatu kebiasaan yang dirutinitaskan. Bom waktu kehancuran rumah
tangga pasti akan meledak. Jadi, marilah kita mulai untuk tidak berbohong sekecil apapun
kepada pasangan.

Rasul mengatakan, ada tiga kebohongan yang diperbolehkan :


1. Untuk menyenangkan pasangan.
2. Berbohong untuk mendapatkan ridho istri.
3. Berbohong demi perdamaian.

Tetapi tidak selama harus begitu, jika dibohongi terus-menerus, lama-kelamaan menjadi tidak
karuan. Segala sesuatu harus saling dimusyawarahkan dan saling sharing. Apabila terus
menerus berbohong demi kesenangan maka akan menjadi terlena dan terbelenggu dalam halhal yang menimbulkan dosa dan dibenci Allah SWT.
Modal rumah tangga ada empat, yakni :
1. Tahabub
Saling mencintai antara suami dan istri. Tercantum dalam QS. An-Nisa ayat 1. Yang
namanya pasangan harus saling mencintai, suami mencintai istri, istri mencintai
suami. Jangan lupa untuk selalu memupuk cinta, semakin dipupuk akan semakin
subur. Bagaimana memelihara keutuhan kejujuran rumah tangga, lihat QS. An-Nisa
ayat 19, dikatakan bahwa Wahai para suami, pergauli istri kalian dengan baik.
2. Taawun
Saling tolong-menolong antara suami dan istri dalam menjalani bahtera rumah tangga.
Tercantum dalam QS. Al-Maidah ayat 2. Jika istri sedang sakit parah, maka suami
berhak menolong istri dengan membantu mengerjakan sebagian pekerjaan rumah
tangga dan merawat istri yang sedang sakit. Begitupun sebaliknya. Hal ini merupakan
modal yang membuat pasangan suami istri semakin akur dan memberikan respons
positif akan pasangannya. Sehingga, kejujuran dapat dipupuk karena keharmonisan
pasangan. Taawun artinya sikap tolong menolong, bantu-membantu, dan bahumembahu antara satu dengan yang lain. Taawun juga dapat diartikan sebagai sikap
kebersamaan dan rasa saling memiliki dan saling membutuhkan antara satu dengan
yang lainnya, sehingga dapat mewujudkan suatu pergaulan yang harmonis dan rukun.
3. Tasyawar
Saling bermusyawarah dan saling memahami antara suami dan istri dalam menjalani
rumah tangga yang dibina.
4. Taafi
Saling memaafkan kesalahan yang dibuat secara sengaja ataupun tidak sengaja oleh
suami maupun istri.
Seberapa besar pengaruh kejujuran dalam rumah tangga? Pengaruh kejujuran dalam rumah
tangga sangat besar. Oleh karena itu, dimulai dari diri kita selalu berkata jujur, berperilaku
jujur, bersikap jujur, insyaallah suami atau istri pun akan melakukan hal yang sama. Selain
itu, apa indikator keberhasilan rumah tangga? Rumah tangga yang berhasil, lihat QS. Ar-Rum
ayat 21, yang artinya Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, telah dia ciptakan pasanganpasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadaNya dan Dia menjadikan di anatar kamu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah SWT) bagi kaum yang berpikir.
Dalam ayat ini, dikatakan bahwa rumah tangga yang berhasil adalah rumah tangga yang
mendapatkan sakinah, mawaddah, warahmah, istri merupakan pakaian buat suami, suami

juga pakaian buat istri. Jadi ini lah rumah tangga yang berhasil jika digenggaman mereka
sudah ada sakinah, mawaddah, warahmah, ada kepercayaan dan ada kasih sayang.
Untuk menumbuhkan kejujuran dalam rumah tangga harus saling setia, saling komunikasi.
Jika tidak terjalin komunikasi yang baik dan harmonis, maka tidak akan ada keutuhan rumah
tangga. Mau manis, pahit, enak ataupun tidak enak, berupayalah untuk dibicarakan saja,
berbicaralah jujur pada pasangan anda.
Menerima kejujuran terkadang juga menyakitkan, untuk mengatasinya yakinkan di hati,
bersyukur pasangan berkata jujur. Dari pada di dengar dari luar itu lebih menyakitkan lagi.
Jika dari awal terbiasa untuk jujur, maka ketika akan berbohong sedikit saja pasti akan
merasa berdosa. Jika kamu jujur, istri jujur, maka itu akan menjadi nilai tambah dalam
menjalani kehidupan rumah tangga. Rasul mengatakan, jika ada orang yang berkata bohong
dan orang yang mendengarkan percaya, maka tempatnya orang seperti itu adalah neraka
jahannam. Orang yang berbohong untuk memancing orang lain tertawa, hadits Nabi
mengatakan itu dosa yang sangat besar karena dibenci oleh Allah SWT dan Rasul-rasul Allah.
Untuk itu, kejujuran adalah segalanya yang dibutuhkan dalam keutuhan keluarga ataupun
rumah tangga. Mulailah untuk membiasakan tidak berbohong meskipun sekecil apapun itu.
Yang namanya kejujuran juga tidak selamanya setia, boleh juga kejujuran menyakitkan,
untuk itu diperlukan komunikasi. Selain itu, dalam rumah tangga, suami dan istripun harus
menjaga amanah yang telah diberikan Allah. Amanah secara etimologis (pendekatan
kebahasaan/lughawi) dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar dari (amina- amanatan) yang
berarti jujur atau dapat dipercaya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia amanah berarti pesan,
perintah, keterangan atau wejangan.
Amanah menurut pengertian terminologi (istilah) terdapat beberapa pendapat, diantaranya
menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Amanah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan
dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya. Sedangkan menurut Ibn Al-Araby,
amanah adalah segala sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya atau sesuatu yang
diambil dengan izin pemiliknya untuk diambil manfaatnya.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa amanah adalah
menyampaikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya
dan tidak mengurangi hak orang lain, baik berupa harga maupun jasa. Amanah merupakan
hak bagi mukallaf yang berkaitan dengan hak orang lain untuk menunaikan nya karena
menyampaikan amanah kepada orang yang berhak memilikinya adalah suatu kewajiban.
Perlu dicatat, amanah sangat berkaitan dengan akhlak yang lain, seperti kejujuran, kesabaran,
atau keberanian. Karena untuk menjalankan amanah, perlu keberanian yang tegas. Amanah
sebagai salah satu unsur dalam Islam, membuktikan bawah salah satu fungsi agama adalah
memberikan nilai pada kehidupan. Apalagi, amanah dititipkan pada hal-hal kecil, bukan
hanya hal-hal besar saja.

Islam mengajarkan bahwa tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tak ada agama
bagi orang yang tak berjanji. Ini berarti amanah adalah bagian dari iman. Sehingga mereka
yang tidak menjaga amanah, termasuk pada golongan orang-orang yang tidak beriman. Selain
itu, agama juga mengajarkan kita untuk berjanji dan menepatinya karena itu bagian dari
kehidupan.
Lebih lanjut, berbicara amanah juga merujuk pada golongan manusia yang termasuk para
pemimpin. Bagaimanapun juga, kita semua merupakan pemimpin, setidaknya bagi diri
sendiri dan keluarga. Sehingga, nanti kita pasti akan ditanya dan dimintai
pertanggungjawaban tentang kepempinan kita. Hal ini tercantum dalam Alquran surat Al
Anfaal ayat 27:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan
kepadamu, sedang kamu mengetahui.
Dari ayat di atas, kita bisa lihat bahwa Allah benar-benar dengan tegas melarang sifat khianat.
Rasulullah pun dengan tegas mendidik orang untuk menjalankan amanah, bahkan sedari
kecil.