Anda di halaman 1dari 6

Energi Angin

1. Turbin angin
Turbin angin mengambil energi angin dengan menurunkan kecepatannya. Untuk bisa
mencapai 100% efisien, maka sebuah turbin angin harus menahan 100% kecepatan angin
yang ada, dan rotor harus terbuat dari piringan solid dan tidak berputar sama sekali, yang
artinya tidak ada energi kinetik yang akan dikonversi.
Energi angin bisa ditangkap dengan dua atau tiga buah bilah sudu yang didesain seperti sayap
pesawat terbang. Untuk mendapatkan kecepatan angin yang cukup tinggi, konstan, dan tidak
terlalu banyak turbulensi biasanya turbin angin dipasang di atas sebuah menara pada
ketinggian 30 meter atau lebih.
Bilah sudu yang digunakan berfungsi seperti sayap pesawat udara. Ketika angin bertiup
melalui bilah tersebut, maka akan timbul udara bertekanan rendah di bagian bawah dari sudu,
Tekanan udara yang rendah akan menarik sudu bergerak ke area tersebut. Gaya yang
ditimbulkan dinamakan gaya angkat. Besarnya gaya angkat biasanya lebih kuat dari tekanan
pada sisi depan bilah, atau yang biasa disebut tarik. Kombinasi antara gaya angkat dan tarik
menyebabkan rotor berputar seperti propeler dan memutar generator. Turbin angin bisa
digunakan secara stand-alone, atau bisa dihubungkan ke jaringan transmisi atau bisa
dikombinasikan dengan sistem panel surya.
Untuk perusahaan listrik, sejumlah besar turbin angin dibangun berdekatan untuk membentuk
pembangkit listrik tenaga angin. Secara teori, efisiensi maksimum yang bisa dicapai setiap
desain turbin angin adalah 59%, artinya energi angin yang bisa diserap hanyalah 59%. Jika
faktor-faktor seperti kekuatan dan durabilitas diperhitungkan, maka efisiensi sebenarnya
hanya 35 - 45%, bahkan untuk desain terbaik. Terlebih lagi jika ditambah inefisiensi sistem
wind turbin lengkap, termasuk generator, bearing, transmisi daya dan sebagainya, hanya 1030% energi angin yang bisa dikonversikan ke listrik.
VAWT (Vertical Axis Wind Turbine)

Sesuai namanya, Vertical Axis Wind Turbine (VAWT) mempunyai sumbu vertikal
dengan bilah-bilah sudu paralel dengan sumbunya. Turbin angin sumbu vertikal memiliki
efisiensi yang lebih kecil dibandingkan dengan Horizontal Axis Wind Turbine (HAWT) atau
turbin angin sumbu horisontal.

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki oleh turbin sumbu vertikal, antara lain : aman, mudah
membangunnya, bisa dipasang tidak jauh dari tanah, dan lebih baik dalam menangani
turbulensi angin. Generator dan gearbox bisa ditempatkan tidak jauh dari permukaan tanah.
Hal ini meringankan beban tower dan memudahkan perawatan. Turbin sumbu vertikal yang
lazim digunakan adalah Savonius dan Darrieus.
Savonius
Savonius merupakan jenis turbin angin yang paling sederhana dan versi besar dari
anemometer. Turbin Savonius dapat berputar karena adanya gaya tarik (drag). Efisiensi yang
bisa dicapai turbin angin jenis ini sekitar 30%.
Darrieus
Turbin angin Darrieus mempunyai bilah sudu yang disusun dalam posisi simetri dengan sudut
bilah diatur relatif terhadap poros. Pengaturan ini cukup efektif untuk menangkap berbagai
arah angin. Berbeda dengan Savonius, Darrieus memanfaatkan gaya angkat yang terjadi
ketika angin bertiup. Bilah sudu turbin Darrieus bergerak berputar mengelilingi sumbu.
Horizontal Axis Wind Turbine

Turbin angin sumbu vertikal memiliki rotor shaft dan generator yang berada di
puncak menara dan harus searah dengan arah angin. Turbin angin yang berukuran lebih kecil
diarahkan dengan menggunakan sirip, sedangkan untuk turbin angin berkapasitas besar
menggunakan sensor dan motor servo untuk menggerakkan turbin agar menghadap dan
searah dengan arah angin.
Energi angin yang ditangkap oleh bilah-bilah sudu menghasilkan putaran yang rendah pada
hub-nya. Oleh karenanya, sebagian besar turbin angin menggunakan gear box untuk
mengubah putaran rendah yang dihasilkan bilah sudu menjadi lebih cepat dan sesuai untuk
memutar generator.
Bilah sudu yang digunakan biasanya terbuat dari bahan yang kuat untuk menghindari bilah
sudu tersebut terdorong dan mengenai menara ketika berputar pada saat angin kencang
bertiup. Biasanya, jarak antara bilah sudu dan menara pun diatur, bahkan kadang-kadang
agak sedikit dimiringkan ke atas, agar kemungkinan tersebut semakin kecil.

konversi energi angin


Proses konversi energi listrik yang terjadi pada PLTB pertama kali bermula dari angin yang
berhembus melalui turbin, lalu ditangkap oleh sudu yang kemudian digunakan untuk
memutar rotor. Putaran rotor yang dihasilkan umumnya ditingkatkan putarannya dengan
menggunakan roda gigi sebelum digunakan untuk memutar generator. Hingga tahap ini
proses konversi hanya berupa proses mekanis. Daya mekanis yang ditangkap oleh sudu pada
turbin dapat direpresentasikan secara matematis sebagai berikut:

dimana, (rho) angin adalah kerapatan angin persatuan luas, A rot adalah luas bidang yang
terlingkupi sudu turbin, V angin adalah kecepatan angin, dan Cp adalah koefisien daya yang
nilainya bergantung pada jari-jari rotor, kecepatan putar rotor, dan kecepatan angin:

Generator mengubah energi gerak menjadi energi listrik dengan menggunakan prinsip
induksi magnetik. Pada tahap ini konversi daya memasuki tahap konversi elektris. Kualitas
daya yang dihasilkan pada umumnya diatur dengan menggunakan komponen elektronika
daya. Sehingga tegangan dan frekuensi keluaran generator dapat diatur sedemikian rupa
sesuai dengan kebutuhan.
Apabila energi listrik yang dihasilkan ingin ditransmisikan melalui grid karena jarak pusat
beban dan PLTB cukup jauh, maka tegangan nominal perlu dinaikkan untuk mengurangi
susut daya yang terjadi pada saluran transmisi/distribusi. Demikian sebaliknya pada saat
energi lsitrik tersebut didistribusikan pada konsumen (beban), tegangan nominalnya perlu
diturunkan kembali. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 1
Aliran Konversi Energi PLTB
Sistem turbin angin fixed-speed terkoneksi grid dengan generator induksi
Pada awal sejarah digunakannya PLTB sebagai pembangkit listrik, teknologi fixed-speed
terkoneksi grid dengan menggunakan generator induksi rotor sangkar banyak digunakan
(gambar 2). Alasan utama sistem ini banyak dipakai karena memiliki beberapa kelebihan
diantaranya sangat murah, kokoh, dan sederhana. Selain itu juga, keuntungan dalam
mengekstrak energi secara optimal tanpa menggunakan dummy load pada kondisi beban
rendah juga didapatkan pada sistem turbin angin ini, karena sudah terhubung grid.
Konsep fixed-speed mengandalkan konsep kendali yang dapat menjaga kecepatan putar sudu
turbin pada kecepatan putar konstan. Karena itu, sistem ini dirancang untuk mengekstrak
energi angin secara optimal pada satu tingkat kecepatan angin saja. Hal ini tentunya akan
menjadi kekurangan utama dalam aplikasi PLTB, karena seperti kita ketahui profil kecepatan
angin dapat berubah cepat dalam orde detik. Pada kasus ini, efek nyata dari penggunaan
sistem turbin angin sangat terasa pada produksi daya yang dihasilkan oleh PLTB per
tahunnya jika dibandingkan sistem turbin angin lainnya.

Gambar 2 Sistem Turbin Angin Fixed-Speed Terkoneksi Grid Dengan Generator Induksi

Sistem turbin angin ini hanya menggunakan komponen elektronika soft-starter yang
digunakan untuk mengurangi dampak inrush current (gambar 3) yang terjadi pada saat
pertama kali generator mulai terhubung dengan grid. Pencegahan inrush current ini harus
dilakukan karena bila tidak ditangani akan menyebabkan frekuensi dan tegangan grid akan
berubah secara drastis dan akan mempengaruhi stabilitas komponen yang terhubung
dengannya.

Gambar 3 Inrush Current


Selain itu, apabila grid yang terpasang pada sistem turbin angin lemah (memiliki suplai daya
reaktif yang rendah), sisi keluaran generator harus terhubung dengan kapasitor bank untuk
membantu suplai daya reaktif yang dibutuhkan generator agar dapat menghasilkan daya aktif.
Sistem turbin angin direct-drive dengan generator sinkron magnet permanen
Perkembangan terakhir dari teknologi sistem turbin angin yang ada saat ini sudah banyak
menggunakan komponen generator putaran rendah permanen magnet untuk menghindari
penggunaan roda gigi (gambar 4). Penggunaan roda gigi (gearbox) dinilai merugikan karena
menimbulkan rugi-rugi daya tambahan pada PLTB dan memerlukan perawatan, pelumasan
secara berkala. Selain itu, nilai lebih dari sistem ini terletak pada kemampuannya
mengkonversikan energi listrik secara optimal pada rentang kecepatan angin berapapun.
Rugi-rugi eksitasi generator pada sistem turbin angin juga dapat dihilangkan dengan
penggunaan permanen magnet yang notabene tidak menghasilkan arus muatan. Sistem ini
sudah teruji kehandalannya baik pada saat beroperasi dengan grid maupun tidak (standalone). Akhirnya, dari penelitian yang sudah pernah dilakukan sebelumnya, sistem turbin
angin ini teruji paling baik dari segi efisiensi dan produksi daya per tahunnya.
Sayangnya, dari kelebihan-kelebihan yang telah dikemukakan sebelumnya terdapat beberapa
kerugian yang membuat para developer PLTB menghindari penggunaan sistem direct-drive,
diantaranya karena biaya investasi yang dibutuhkan jauh lebih mahal dari sistem turbin angin
lainnya. Disamping itu, untuk dapat menghasilkan daya yang optimal pada kecepatan angin
yang rendah (<100 rpm) ukuran sistem ini memiliki dimensi yang lebih besar dibandingkan
sistem lainnya, sehingga diperlukan pembangunan infrastruktur tambahan yang tentunya juga
berimplikasi pada bertambahnya biaya yang diperlukan.

Gambar 4 Sistem Turbin Angin Direct-Drive Terkoneksi Grid Dengan Generator Putaran
Rendah Magnet Permanen