Anda di halaman 1dari 3

Berdasarkan pasal 66 ayat (3) UU No.

13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,


bahwa perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh merupakan bentuk usaha yang berbadan
hukum (business entities) dan memiliki izin dari instansi yang bertanggung-jawab di
bidang ketenagakerjaan. Ketentuan tersebut dipertegas kembali dalamKeputusan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.Kep-101/Men/VI/2004 tentang Tata
Cara Perizinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh, khususnya dalam pasal
2 dan pasal 3, bahwa untuk dapat menjadi perusahaan penyedia jasa
pekerja/buruh wajib memiliki izin operasional dari instansi yang bertanggung-jawab di
bidang ketenagakerjaan (c.q. Dinas Ketenagakerjaan di Kabupaten/Kota) sesuai domisil
perusahaan penyedia jasa pekerja/buruh yang bersangkutan. Izin dimaksud berlaku di
seluruh Indonesia untuk jangka waktu 5 (lima) tahun, dan (selanjutnya) dapat
diperpanjang untuk jangka waktu yang sama.
Dengan

demikian

suatu

perusahaan

yang

beroperasi

di

bidang

penyedia

jasa

pekerja/buruh, selain harus memiliki tanda daftar perusahaan (TDP) dari Dinas
Perdagangan (sesuai pasal 5 dan 22 jo. pasal 11 dan pasal 12 UU No. 3 Tahun
1982
tentang
Wajib
Daftar
Perusahaan),
operasional sebagai
perusahaan
penyedia
jasa

juga
harus
pekerja/buruh

memiliki izin
dari
Dinas

Ketenagakerjaan di Kabupaten/Kota sesuai lokasinya.

Jadi bukan sertifikat penyedia jasa tenaga kerja dari Depnaker sebagaimana disebutkan
dalam surat (pertanyaan) Saudara. Demikian juga, izin dari Kadin sebagaimana yang
Saudara sebutkan dalam surat dimaksud, menurut hemat kami hanya sebagai bukti
keanggotaan perusahaan Saudara dalam organisasi Kamar Dagang dan Industri, dan
bukan sebagai persyaratan untuk beroperasi di bidang penyedia jasa pekerja/buruh.
Untuk
mendapatkan izin
operasional dimaksud,
perusahaan
penyedia
jasa
pekerja/buruh menyampaikan permohonan kepada Dinas Ketenagakerjaan setempat
dengan melampirkan persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
a. Copy pengesahan (Akta Pendirian dan Pengesahaannya) sebagai badan hukum
berbentuk PT atau Koperasi dari Kementerian Hukum dan HAM atau Kementerian
Koperasi (sesuai bentuk entitynya);
b. Copy Anggaran Dasar (articles of association) yang memastikan kegiatan usahanya
sebagai penyedia jasa pekerja/buruh;
c. Copy SIUP sesuai dengan TDP (sebagai badan usaha yang melakukan kegiatan usaha
bisnis); dan
d.

Copy bukti - Wajib Lapor Ketenagakarjaan di Perusahaan (berdasarkan UU No. 7


Tahun 1981).

Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat.

Dasar hukum:
1. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
2. Undang-Undang No. 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan;
3. Undang-Undang No. 7 Tahun 1981 tentang Wajib Lapor Ketenagakerjaan

di

Perusahaan;
4. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kep-101/Men/VI/2004 tentang
Tata Cara Perizinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh;
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl5828/prosedur-mendirikan-perusahaanpenyedia-jasa-tenaga-kerja
OPEN YOUR MIND. USAHA penyedia jasa tenaga kerja (usaha outsourcing) cukup
menjanjikan. Tak heran, di daerah, tidak hanya perusahaan lokal yang beroperasi,
beberapa perusahaan dari Jakarta pun berani membuka cabang. Salah satunya PT
Delta Prima.
Pimpinan PT Delta Prima, Abdul Gopar, mengaku menggeluti bisnis penyedia jasa
tenaga kerja sejak 2006. Sekarang, ada 200 tenaga kerja yang ditampungnya. Mereka
ada yang bekerja sebagai cleaning service ada pula sebagai satpam.
Menurut Gopar, untuk menjalankan usahanya, dia harus mengurus beberapa surat
ke notaris dan dinas tenaga kerja. Khusus untuk penyedia jasa tenaga keamanan,
menurut dia harus ada izin dari polda. Dia mengatakan, tenaga yang direkrut tidak
bisa langsung dipekerjakan. Mereka terlebih dahulu dibekali dengan keterampilan
sesuai bidangnya. Misalnya cleaning service, diberi pelatihan tentang jenis-jenis lantai,
kaca serta cara membersihkannya. Tenaga kerja juga dilatih untuk merawat bunga
dan rumput.
Biaya pelatihan ditanggung perusahaan penyedia jasa tenaga kerja. Gopar
mengatakan, perusahaan juga harus keluar uang untuk membeli peralatan modern
yang mendukung pekerjaan. "Biasanya kantor-kantor pemerintah atau BUMN
membayar gaji tiga bulan sekali. Makanya, mau tak mau kita yang mesti menalangi
gaji pekerja outsourcing," ujarnya.
Untuk membuka usaha penyedia jasa tenaga kerja, perusahaan wajib memiliki izin
operasional dari dinas tenaga kerja setempat. Dasar hukumnya Undang Undang
Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Nomor 101 tahun 2004.
Kasi Perselisihan Hubungan Industrial, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker)
Kota Banjarmasin, Lefina Yohana R, mengatakan, izin operasional diberikan kepada
perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas (PT) dan koperasi. "Walaupun di
dalam anggaran dasar dan akte notaris tercantum bidang usaha penyedia jasa
pekerja, tapi mereka bisa bisa beroperasional sebelum mendapat izin dari dinas
tenaga kerja," kata Lefina.
Sesuai undang undang tentang ketenagakerjaan, hanya pekerjaan pendukung yang
dibolehkan untuk dijual jasanya seperti sopir, cleaning service dan satpam. "Izin
operasional penyedia jasa pekerja kita berikan selama lima tahun dengan masa
berlaku di seluruh Indonesia. Jadi, walaupun dibuat di Banjarmasin, pengusaha bisa
membuka di Sulawesi. Tapi, dengan catatan, lapor dulu ke instansi setempat," kata
Lefina.
Menurut Lefina, pemohon yang mengajukan izin operasional usaha penyedia jasa
tenaga kerja tidak dikenai biaya. Sedangkan waktu pengurusan, karena memerlukan
penelitian dan kebenaran dokumen, maksimal tiga hari selesai, asalkan semua
persyaratan lengkap izin cepat keluar. Pengalaman Lefina, izin telat dikeluarkan jika
perusahaan tidak mencantumkan bidang tertentu dari usahanya.
Pemohon juga harus melampirkan perjanjiaan antara penyedia tenaga kerja dan
pekerja. "Kita periksa dulu, apakah sudah sesuai dengan ketentuan, supaya tidak
terjadi masalah di kemudian hari," katanya. (mtb)

Bantu Usaha Lancar


LEGALISASI penggunaan jasa outsourcing diatur dalam UU Nomor 13 tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan. Pada pasal 64 disebutkan, perusahaan dapat menyerahkan
sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain melalui perjanjian
pemborongan pekerjaan yang dibuat secara tertulis.
Menurut Kasi Perselisihan Hubungan Industrial Dinsosnaker Kota Banjarmasin,
Lefina Yohana, tujuan penyedia jasa tenaga kerja untuk membantu kelancaran usaha.
Tidak semua kegiatan bisa ditangani oleh perusahaan, sehingga bisa menyerahkan
sebagian pekerjaan kepada pihak lain.
Sebab, jika tidak ditangani secara profesional bakal menghambat, tingkat
produktivitas pun jadi tidak maksimal. Artinya, pekerjaan tertentu akan lebih baik jika
ditangani oleh tenaga kerja yang disediakan perusahaan outsourcing. "Lebih baik
mengambil tenaga kerja yang sudah terlatih. Perusahaan bisa berkonsentrasi pada
pekerjaan pokoknya," kata Lefina.
Hubungan kerja pekerja outsourcing bukan dengan perusahaan pemberi pekerjaan,
tapi menjadi tanggung jawab pihak penyedia jasa tenaga kerja. (mtb)
-----------------------------------------------------Izin Operasional Penyedia Jasa Pekerja
* Fotocopi pengesahan sebagai badan hukum berbentuk perseorangan
terbatas atau koperasi
* Fotocopi anggaran dasar yang di dalamnya memuat kegiatan usaha
penyedia jasa pekerja atau buruh
* Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
* Fotokopi wajib lapor ketenagakerjaan yang masih berlaku
* KTP pemimpin perusahaan
* Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
* Pasfoto ukuran 3x4 sebanyak dua lembar
Kewajiban Perusahaan penyedia jasa Outsourcing
* Dilakukan secara terpisah dari kegiatan utama
* Dilakukan dengan perintah langsung atau tidak langsung dari
pemberi pekerjaan
* Merupakan kegiatan penunjang perusahaan secara keseluruhan
* Tidak menghambat proses produksi secara langsung
* Perusahaan pemborong harus berbentuk badan hukum
* Perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan
tersebut harus sama dengan perusahaan pemberi pekerjaan