Anda di halaman 1dari 26

TUGAS

SUMBERDAYA MINERAL DAN ENERGI


PROSES PEMBENTUKAN ENDAPAN BIJIH

KELOMPOK :

DISUSUN OLEH:
AJI AMANDO
DWIZARI
(03021281419085)
DWI NUGRAHA
HUTAMA
(03021181419049)
EZIL DEFRI MAHARFI
(03021181419025)
MUHAMMAD
FARDAN
(03021181419041)
RIZKI DESELIMA NUSADA

(03021181419011)

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Proses dan aktivitas geologi bisa menimbulkan terbentuknya batuan dan jebakan mineral. Yang
dimaksud dengan jebakan mineral adalah endapan bahan-bahan atau material baik berupa mineral
maupun kumpulan mineral (batuan) yang mempunyai arti ekonomis (berguna dan mengguntungkan
bagi kepentingan umat manusia).
Dari distribusi unsur-unsur logam dan jenis-jenis mineral yang terdapat didalam kulit bumi
menunjukkan bahwa hanya beberapa unsur logam dan mineral saja yang mempunyai prosentasi
relative besar, karena pengaruh proses dan aktivitas geologi yang berlangsung cukup lama, prosentase
unsur unsur dan mineral-mineral tersebut dapat bertambah banyak pada bagian tertentu karena
Proses Pengayaan, bahkan pada suatu waktu dapat terbentuk endapan mineral yang mempunyai nilai
ekonomis.
Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
Mengetahui tentang bagaimana proses pembentukan endapan bijih.
Rumusan Masalah
1.Apa pengertian dari bijih?
2.Bagaimana proses terbentuknya endapan bijih?

BAB II
PEMBAHASAN

I.

Pengertian Bijih

Mineral bijih (ore mineral)adalah mineral yang mengandung logam, atau


suatu agregat mineral logam, yang dari sisi penambang dapat diambil suatu profit,
atau dari sisi ahli metalurgi dapat diolah/diekstrak menjadi suatu profit.
Contoh:kalkopirit dapat diekstrak menjadi Cu atau galena dapat diekstrak menjadi timah
hitam (Pb). Mineral opak dan mineral logam sering digunakan sebagai sinonim dari mineral bijih
(ore minerals).Tubuh bijih = orebodies, oreshoots & ore deposits.Kandungan atau kadar mineral, atau
logam, juga bentuk keujudannya, secara langsung akan memengaruhi ongkos pertambangan bijih.
Ongkos ekstraksi harus diberi pembobotan untuk dibandingkan dengan nilai ekonomis logam yang
terkandung untuk menentukan bijih yang mana yang lebih menguntungkan dan bijih yang mana yang
kurang atau tidak menguntungkan. Bijih logam secara umum merupakan persenyawaan oksida,
sulfida, silikat, atau logam "murni" (misalnya tembaga murni yang biasanya tidak terkumpul di dalam
kerak Bumi atau logam "mulia" (biasanya tidak berbentuk persenyawaan) seperti emas. Bijih harus
diolah untuk mengekstraksi logam-logam dari "batuan sampah" dan dari mineral bijih. Tubuh bijih
dibentuk oleh berbagai macam proses geologis. Di dalam bahasa Inggris, proses "pembentukan bijih"
disebut sebagai ore genesis.

II.

KONSENTRASI METAL DALAM KERAK BUMI


Konsentrasi rata rata metal di kerak bumi, konsentrasi minimal bernilai ekonomi dan

faktor pengkayaan melalui proses geologi (geologicalenrichmentfactors)

III.

Teori Pembentukan

Teori pembentukan 1
Teori

proses alamiah

Asal mula

proses internal

Kristalisasi

Presipitasi mineral bijih sebagai komponen utama


minor dari batuan beku, seperti endapan intan

atau

pada

kimberlit, REE pada karbonatit di Zimbabwe


Segregasi magma

Separasi akibat kristalisasi sebagian dan proses


yang selama diferensiasi magma, seperti lapisan
kromit, Bushfeld complex, RSA
Liquasi, ketidakbercampuran cairan. Pelepasan

sulfida, sulfida-oksida, atau lelehan oksida dari


magma, yang terakumulasi pada di bawah lelehan
silikat, seperti endapan Cu-Ni di Sudbury, Canada.

Teori pembentukan 2
Teori
Asal mula
Hidrotermal

proses alamiah
proses internal
Pengendapan dari larutan air panas, yang melalui

permukaan tubuh magma atau batuan metamorf atau


sumber lainnya. Contohnya Porfiri Cu-Au

Grasberg/

Irian

Jaya, Batu Hijau/Sumbawa.


Sekresi lateral

Difusi material bijih atau pengotor dari batuan asal ke suatu


patahan atau celah. Contohnya

Yellowknife gold deposits,

Canada.
Metamorfisme

Pyrometasomatik (skarn) yang terbentuk oleh proses


penggantian batuan dinding. Contohnya
Jaya,

Ertsberg/Irian

Teori pembentukan 3
Teori

proses alamiah

Asal mula

proses eksternal

Supergen

Pelepasan unsur-unsur bernilai dari bagian atas


suatu endapan mineral dan terpresipitasi

kembali di bagian

yang lebih dalam, sehingga membentuk

konsentrasi

lebih tinggi. Contoh:


Pongkor/Jawa
Ekshalasi volkanik

dari

endapan

emas-perak

yang

epitermal

Barat; porfiriCu-Mo Chuquicamata/Chile

Ekshalasi larutan hidrothermal pada permukaan,biasanya di


bawah kondisi laut.

Contoh: endapan Kuroko/Jepang.

Teori pembentukan 4
Teori

proses alamiah

Asal mula

proses eksternal

Akumulasi mekanis

Konsentrasi mineral berat ke dalam endapan

placer.

Contohnya Timah placer di Bangka &

Belitung/Sumatera, Emas placer di Yukon,


Canada, Emas placer, bombana, indonesia
Presipitasi sedimenter

Presipitasi unsur-unsur tertentu pada suatu

lingkungan sedimen tertentu, baik dengan atau


intervensi organisme tertentu. Contohnya

BIF

Brazili, endapan mangan di Chiaturi,


Proses residual

Pelepasan
Contohnya

unsur
Nikel

yang

mudah

laterit

di

tanpa
di

Rusia.
larut

dari

batuan.

Soroako/Sulawesi,

Bauksit/Pulau Bintan, Bauksit di Ketapang Kalbar.

Penggolongan bijih menurut pembentukannya


1.Bijih primer (hipogen), yakni bijih yang diendapkan pada saat terjadinya proses pelogaman.
2.Bijih sekunder (supergen), yakni bijih yang diendapkan sebagai akibat alterasi dari bijih primer,
oleh proses pelapukan dari air permukaan yang meresap ke dalam tanah.

IV.
Proses Pembentukan
Konsentrasi magmatik > deposit magmatik
Proses ini merupakan proses pembentukan mineral dengan cara pemisahan magma, yang
diakibatkan oleh pendinginan dan penurunan temperature dan membentuk satu atau lebih jenis
batuan beku. Contoh: Platina, Timah, Intan, Tembaga.
Terbentuknya bahan galian karena adanya diff dari magma. Magma sebagai cairan panas
dan pijar merupakan sumber dari jebakan bijih yang terjadi dari bermacam-macam komponen,
dimana dari masing-masing komponen mempunyai daya larut yang berlainan. Pada waktu magma
naik ke permukaan bumi, maka temperature dan tekanannya akan turun. Akibatnya terjadi
kristalisasi, dimana komponen yang sukar larut akan mengkristal lebih dahulu sebagai terbentuk
endapan bijih.
Proses magmatic concentration dibagi atas:
I. Early magmatic
Early magmatic disebabkan karena terjadi langsung dari proses magmatic mineral yang
terjadi lebih cepat dari membekunya batuan silikat dan dipisahkan oleh kristalisasi diff.
II. Late magmatic
Jebakan menghasilkan kristal setelah terbentuk batuan silikat sebagai bentuk sisa
magma yang lebih kompleks dan mempunyai corak dengan variasi yang lebih banyak.
Magma dari endpan late magmatic mempunyai sifat mobilitas tinggi.
Jebakan ore mineral late magmatic terjadi setelah terbentuknya batuan silikat yang menerobos
dan bereaksi dan menghasilkan rangkaian reaksi.
Perubahan ini disebut Deuteric alteration yang terjadi pada akhir kristalisasi dari batuan beku
dan cirri-cirinya hampir mirip dengan efek yang dihasilkan proses pneumatolytic atau larutan
hydrothermal.
Jebakan late magmatic terutama berasosiasi dengan batuan beku yang basic dan
disebabkan oleh bermacam-macam proses differensiasi, kebanyakan jebakan mgmatic
termasuk dalam golongan ini.

Sublimasi > sublimat


Sublimasi adalah perubahan wujud dari padat ke gas tanpa mencair terlebih dahulu.
Misalkan es yang langsung menguap tanpa mencair terlebih dahulu. Pada tekanan normal,
kebanyakan benda dan zat memiliki tiga bentuk yang berbeda pada suhu yang berbeda-beda.
Pada kasus ini transisi dari wujud padat ke gas membutuhkan wujud antara. Namun untuk
beberapa antara, wujudnya bisa langsung berubah ke gas tanpa harus mencair. Ini bisa terjadi

apabila tekanan udara pada zat tersebut terlalu rendah untuk mencegah molekul-molekul ini
melepaskan diri dari wujud padat.Sublimasi juga dapat diartikan sebagai metode pemisahan
campuran yang didasarkan pada campuran zat yang memiliki satu zat yang apat
menyublim(perubahan wujud padat ke gas), sedangkan zat lainnya tidak dapat menyublim.
Contohnya, campuran iodin dan garam dapat dipisahkan dengan cara sublimasi.

Dari

Ke

Padat

Cair

Gas

Plasma

Padat

N/A

Mencair

Menyublim

Cair

Membeku

N/A

Menguap

Gas

Mengkristal

Mengembun

N/A

Ionisasi

Plasma

Rekombinasi/Deionisasi

N/A

Kontak metasomatisme > deposit kontak metasomatikcock


Kontak metasomatisme: akan menghasilkan bahan galian logam yang sangat
bervariasi. Hal ini ini terjadi apabila batuan yang diterobos mudah bereaksi, dengan batuan
samping serta penerobosan terjadi cukup dalam serta berulang-ulang sehingga dapat terbentuk
mineral-mineral logam. Suhu di daerah kontak akan berkisar 500-1.100oC untuk magma yang
bersifat silikaan (siliceous magma) dan makin jauh dari kontak suhunya menurun.
Terdapatnya mineral-mineral tertentu akan menunjukkan suhu tertentu, di mana
mineral tersebut terbentuk misal: Mineral wollastonite: tidak lebih 1.125oC Mineral kuarsa:
suhu di atas 573oC.
Bahan galian yang terbentuk karena kontak metasomatisme, terjadi karena proses
Rekristalisasi. Proses rekristalisasi berlangsun meliputi prsoses penggabungan unsur,
penggantian ion dan penambahan unsur-unsur baru, dari magma ke batuan yang diterobos.
Secara umum dapat diuraikan sebagai berikut: Kalau suatu batuan country rock mempunyai

komposisi mineral AB dan CD, maka melaui proses penggabungan kembali akan berubah
menjadi mineral AC dan BD. Oleh proses penambahan unsur-unsur dari magma akan berubah
lagi menjadi ACX dan BDX, di mana X dan Y unsur dari magma.
Penambahan unsur dari magma sebagian berupa logam, silika, boron, klorin, florin,
kalium, magnesium dan natrium. Mineral logam (ore mineral) yang terbentuk dalam kontak
metasomatisme hampir semua berasal dari magma, demikian pula kandungan-kandungan
yang asing pada batuan yang diterobos, melalui proses penambahan unsur. Jenis magma yang
menerobos batuan yang akhirnya akan menghasilkan endapan bahan galian kontak
metasomatisme, pada umumnya terbatas pada magma silika dengan komposisi menengah
(intermediate) seperti: kuarsa monzonit, granodiorit dan kuarsa diorit. Sedang magma yang
kaya akan silika seperti granit, jarang menghasilkan endapan bahan galian, demikian juga
magma ultra basa, pada magma yang basa, kadang-kadang dapat membentuk endapan bahan
galian kontak metasomatik.
Hampir semua endapan bahan galian kontak metasomatisme berasosiasi dengan
tubuh batuan beku intrusif yang berupa stock, batholit, dan tidak pernah berasosiasi
dengandike atau sill yang berukuran kecil. Untuk lacolith dan sill yang besar meskipun
jarang, tetapi kadang-kadang dapat menghasilkan endapan bahan galian kontak metasomatik.
Melihat tekstur endapan bahan galian metasomatisme ini selalu berhubungan dengan
batuan beku intrusif dengan tekstur granular, yang menunjukkan bahwa pendinginan magma
waktu itu sangat lambat dengan kedalaman yang cukup besar. Sebaliknya pada batuan intrusif
yang bertekstur gelas maupun afanitik, hampir tidak pernah dijumpai adanya endapan bahan
galian kontak metasomatik. Hal ini membuktikan bahwa endapan kontak metasomatik selalu
hanya berhubungan dengan magma dalam saja. Kedalaman pembekuan magma yang akan
menghasilkan batuan beku intrusif dengan tekstur granular diperkirakan+ 1.500 m. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa pada penerobosan magma dengan komposisi menengah
pada kedalaman sekitar 1.500 m. Batuan country rock yang terterobos oleh magma yang
paling besar kemungkinannya untuk dapat menimbulkan deposit kontak metasomatik adalah
batuan karbonat.
Batugamping murni ataupun dolomit dengan segera akan mengalami rekristalisasi
dan rekombinasi dengan unsur yang diintrodusir dari magma. Pada batugamping yang tidak
murni, efek kontak metasomatik yang terjadi lebih kuat, karena unsur-unsur pengotor seperti
silika, alumina dan besi adalah bahan-bahan yang dapat dengan mudah membentuk
kombinasi-kombinasi baru dengan kalsium oksida. Seluruh massa batuan di sekitar kontak
dapat berubah menjadi garnet, silika dan mineral-mineral bijih.

Konsentrasi hidrotermal > pengisian celah-celah terbuka (pertukaran ion pada batuan)
Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil
differensiasi magma.Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relative ringan, dan
merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan-endapan bijih.
Proses Hidrothermal yaitu air panas yang naik akibat proses magmatik ataupun dari
proses lainnya seperti air meteorik atau yang terbebaskan pada suatu proses malihan. Air
panas tersebut dapat melarutkan unsur logam dari batuan yang dilaluinya, kemudian
diendapkan di suatu tempat pada temperatur yang lebih rendah, sebagian besar cebakan
mineral berasal dari proses ini.
Sirkulasi hidrotermal dalam arti yang paling umum adalah sirkulasi air panas,
sedangkan Yunani yang berarti air dan "termos 'berarti hydros' panas '. sirkulasi hidrotermal
terjadi paling sering di sekitar sumber panas di dalam kerak bumi. Hal ini umumnya terjadi di
dekat gunung berapi aktivitas, tetapi dapat terjadi pada kerak dalam berhubungan dengan
intrusi granit , atau sebagai hasil dari orogeny atau metamorfosis.
Selain itu dapat juga menghasilkan ubahan pada batuan yang dialirinya. Larutan
hidrotermal mempunyai peranan penting dalam pembentukan cebakan mineral yang berharga,
dengan membentuk urat-urat dan alterasi batuan. Cebakan mineral berharga hasil larutan
hidrotermal lebih banyak dijumpai dari pada tipe lainnya. Komposisi utama dari larutan
hidrotermal adalah air.
Airnya selalu mengandung garam-garam, sodium khlorida, potassium khlorida,
kalsium sulfat, dan kalsium khlorida. Kadar garam yang terlarut sangatlah bervariasi, mulai
dari salinitas air laut yaitu 3.5% berat sampai puluhan kalinya. Larutan yang sangat asin
(barin, kadar garam tinggi) dapat melarutkan sedikit mineral yang tamoaknya tidak larut
seperti emas, kalkopirit, galena dan sfalerit.
Larutan hidrotermal terjadi dalam beberapa cara. Salah satunya peleburan magma
yang terjadi oleh parsial basah yang mendingin dan mengkristal, air yang menyebabkan
peleburan parsial basah dilepaskan. Namun tidak sebagai air murni, tetapi mengandung semua
unsure yang dapat larut yang terdapat pada magma seperti NaCl dan unsure kimia: emas,
perak, tembaga, timbal, zinc, merkuri dan molybdenum, yang tidak terikat kuarsa, feldspar,
dan mineral lain dengan substitusi ion. Suhu yang tinggi meningkatkan efektifitas larutan
yang sangat asin ini untuk membentuk endapan mineral hidrotermal.

Sedimentasi lapisan sedimenter (evaporit)

Batuan evaporit atau sedimen evaporit terbentuk sebagai hasil proses penguapan
(evaporation) air laut. Proses penguapan air laut menjadi uap mengakibatkan tertinggalnya
bahan kimia yang pada akhirnya akan menghablur apabila hampir semua kandungan air
manjadi uap. Proses pembentukan garam dilakukan dengan cara ini. Proses penguapan ini
memerlukan sinar matahari yang cukup lama.
1. Batuan garam (Rock salt) yang berupa halite (NaCl).
2. Batuan gipsum (Rock gypsum) yang berupa gypsum (CaSO4.2H20)
3. Travertine yang terdiri dari Calcium carbonate (CaCO3), merupakan batuan karbonat. Batuan
travertin umumnya terbentuk dalam gua batugamping dan juga di kawasan air panas (hot
springs).

Pelapukan Konsentrasi residual


Endapan residual yaitu endapan hasil pelapukan dimana proses pelapukan dan
pengendapan terjadi di tempat yang sama, dengan kata lain tanpa mengalami transportasi
(baik dengan media air atau angin) seperti endapan sedimen yang lainnya. Proses pelapukan
(weathering) biasanya terjadi secara fisika dan kimia.
Asal batuannya yaitu berupa batuan beku atau metamorf, mengalami pelapukan
berupa penghancuran, baik karena tekanan ataupun pelapukan alami (cuaca dan iklim) dan
hancur berubah menjadi butiran-butiran (grain). Butiran-butiran tersebut akan menumpuk
dicekungan tepat dimana batuan asalnya. Lalu mengalami proses sedimen yaitu kompaksi dan
sedimentasi.
Endapan sedimen ini umumnya membawa endapan lain yaitu berupa bahan
galian dalam bentuk unsur -unsur kimia yangterkandung dalam mineral. Endapan-endapan
mineral tersebut umumnya berbentuk badan bijih. Badan bijih yang terkandung di dalam
residual deposit yaitu badan bijih yang terbentuk akibat perombakan batuan-batuan yang
mengandung mineral bijih dengan kadar rendah, kemudian mengalami pelapukan dan
pelarutan serta pelindian, dan selanjutnya mengalami pengayaan relatif hingga mencapai
kadar yang ekonomis.

Metamorfisme > deposit metamorfik


Metamorfisme adalah proses reaksi rekristalisasi di dalam kerak bumi pada
kedalaman antara (3-20 km) yang pada keseluruhannya atau sebagian besar terjadi dalam
keadaan padat, yakni tanpa melalui fase cair sehingga terbentuk struktur dan mineral yang

baru, akibat dari pengaruh temperatur (T) dan dari tekanan (P) yang tinggi. Sedangkan
menurut H.G.F. Winkler (1976) proses metamorfosa adalah suatu proses yang mengubah
mineral pada suatu batuan dalam fase padat karena suatu pengaruh atau response terhadap
kondisi fisika dan juga kimia di dalam kerak bumi, dimana pada kondisi fisika, dan kimia
tersebut berbeda dengan kondisi yang sebelumnya. Proses-proses tersebut tidak termasuk
pelapukan (H.M. Munir, 1995).
V.Klasifikasi
Endapan logam dapat dibagi menjadi 5 kelompok (Evans, 1993):

Precious metals (logam mulia): emas (Au), perak (Ag), platina (Pt)
Non-ferrous metals (logam non-ferrous): tembaga (Cu), timbal (Pb/lead), seng (Zn/zinc),
timah (Sn/tin), dan aluminium (Al). Empat pertama dikenal sebagai logam dasar (base

metals).
Iron and ferroalloy metals (logam ferroalloy dan besi): besi (Fe), Mangan (Mn), nikel (Ni),

krom (Cr), molibdenum (Mo), wolfram (W/tungsten), vanadium (V), kobal (Co).
Minor metals and related non-metals: antimon (Sb/antimony), arsen (As), berilium
(Be/beryllium), bismut (Bi), kadmium (Cd), magnesium (Mg), air raksa (Hg/mercury), REE,

selenium (Se), tantalium (Ta), telurium (Te), titanium (Ti), Zirkonium (Zr), dsb.
Fissionable metals: uranium (U), torium (Th), radium (Ra). Platinum
Klasifikasi Endapan Bijih

Endapan bijih magmatik-hidrotermal

Mineral-mineral bijih yang terbentuk pada fase awal diferensiasi magma, bersamaan
dengan pembentukan mineral olivine, piroksen, Ca-plagioklas, sepertimagnetit, ilmenit,
kromit, dll
Magmatisme-hydrothermal process

Endapan liquid magmatik (Cr pada ofiolit atau intrusi berlapis dengan produk sampingan
Pt, Fe/Ti dan Ni)

Pegmatit (Sn, Nb/Ta, Li, Be, etc).

Endapan hidrotermal: Cyprus-type(VMS); skarn (W, Sn, Cu, etc), porfiri (Cu, Mo, Sn,
etc); endapan urat (Sn, W, U); endapan epitermal Au-Ag; BIF (Algoma type)

Endapan hidrotermal-diagenetik
o

Tipe Kupferschiefer(Cu, Pb, Zn) SEDEX

Tipe Mississippi (MVT): Pb-Zn-Ba-F pada karbonat laut

Endapan hidrotermal-metamorfik
o

Urat kuarsa pada batuan metamorf (Au) atau lode gold.

Endapan hasil pelapukan (kimia)


o

Endapan sisa: bauksit dan Fe-laterit

Sisa pelarutan: endapan Ni dan Au laterit; pengkayaan Mn, Fe, Cu, Ag

Endapan bijih sedimenter (mekanik)


o

Endapan placer aluvial dan laut (Au, Sn, Ti, REE)

Tektonik vs mineralisasi

Pembagian kelompok mineral bijih:


a. Bijih Silisius (Keiko) yang mengandung sulfiIda terutama kalkopirit, terdesssiminasi
dalam batuan tersilisifikasi.
b. Bijih Kuning (Oko), terutama pirit dengan sedikit kalkopirit dan Kuarsa.
c. Bijih hitam (Kuroko), percampuran kuat antara Sphalerite kaya besi berwarna gelap,
galena,

barite,

dan

sejumlah

kecil

pirit

dan

kalkopirit

wurzit,

enargit,

tetrahidrit,markasit, serta sejumlah mineral lainnya yang ditemukan secara setempat


dalam jumlah kecil.

d. Urat (vein) dan massa besar gipsum (sekkoko), yang saling berhubungan tetapi dalam
tubuh yang terpisah- pisah.
e. Zona stringer, kaya kalkopirit dalam pipa- pipa bawah bijih (ryukoko)
f. Ferruginous (lapisan tetsusekiei), yang berada pada lapisan paling bawah.
Proses terbentuknya endapan bahan galian adalah komplek dan sering lebih dari satu proses yang
bekerja bersama-sama. meskipun dari satu jenis bahan, misalnya logam, kalau terbentuk oleh proses
yang berbeda maka akan menghasilkan tipe endapan yang berbeda pula. Contohnya adalah endapan
bijih besi, endapan ini dapat dihasilkan oleh proses diferensiasi magmatik oleh larutan
hidrotermal,oleh proses sedimentasi ataupun oleh proses pelapukan.Tiap-tiap proses akan
menghasilkan endapan bijih besi yang berbeda-beda baik dalam mutu, besarnya cadangan, maupun
jenis mineral-mineral ikutannya.
Tabel. Proses dan pembentukan jenis endapan
Proses
Konsentrasi Magmatik
Sublimasi
Kontak Metasotisme
Konsentrasi Hidrothermal

Endapan yang dihasilkan


Deposit magmatik
Sublimat
Deposit kontak metasomatik
Pengisian celah-celah terbuka

Pertukaran ion pada batuan


Sedimentasi
Lapisan-lapisan sedimenter evaporit
Pelapukan
Konsentrasi residual placer
Metamorfisme
Deposit metamorfik
Hidrologi
Air tanah,garam tanah,endapan caliche
Penjelasan Lebih Rinci Tentang Proses Terbentuknya Endapan Bijih
1. Konsentrasi magmatik
Beberapa dari mineral yang terdapat dalam batuan beku banyak yang mempunyai nilai
ekonomis,tetapi pada umumnya konsentrasi terlalu kecil untuk dapat diproduksi secara komersial,
oleh karena itu diperlukan suatu proses konsentrasi untuk dapat mengumpulkan bahan-bahan tersebut
dalam suatu deposit yang ekonomis. Konsentrasi tersebut terjadi pada saat batuan beku masih berupa
magma,karenanya disebut konsentrasi oleh proses magmatik. Perkecualian pada intan, dimana tidak
diperlukan konsentrasi, tetapi suatu kristal tunggal saja sudah cukup berharga.Deposit bahan galian
sebagai hasil endapan proses magmatik ini memiliki ciri-ciri adanya hubungan yang dekat dengan
batuan beku intrusif dalam atau intrusif menengah. Konsentrasi magmatik dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
a. Magmatik awal :
- Kristalisasi tanpa konsentrasi : intan- Kristalisasi dan pemisahan : khron, platina
b. Magmatik akhir :
- Akumulasi dan atau injeksi larutan residual : besi titan, platina, titan, khron.
- Akumulasi dan pemisahan larutan : beberapa tipe deposit nikel dan tembaga.

- Pegmatit.
Hasil atau produk dari proses magmatik dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu logam tunggal(native
metal), oksida, silfisa dan batu mulia (gemstone).
a)Contoh logam tunggal: Platina, Emas, Perak, Besi-Nikel
b)Contoh oksida : Besi (magnetit, hematit), Besi-titan (magnetit bertitan), Titan (ilmenit),
Khrom(kromit), Tungsten (wolframit).
c)Contoh sulfida: Nikel-tembaga (kalkopirit), Nikel (pentlandit, molibdenit).
d)Contoh batu mulia: Intan, Garnet (almandit), Peridotit.

2. Sublimasi
Proses sublimasi merupakan proses yang tidak begitu berarti dalam pembentukan bahan galian,
tetapi memang ada bahan galian yang terbentuk oleh proses ini.Proses sublimasi menyangkut
perubahan langsung dari keadaan gas atau uap menjadi keadaan padat,tanpa melalui fase cair. Proses
ini berhubungan erat dengan kegiatan gunung berapi dan fumarol,tetapi sublimat yang dihasilkan
sering jumlahnya tidak cukup banyak untuk dapat ditambang secara menguntungkan. Belerang adalah
bahan galian yang terjadi sebagai akibat proses sublimasi, yangsecara lokal sering cukup
menguntungkan untuk ditambang. Disamping belerang sering juga dapat dijumpai garam-garam
klorida dari besi, tembaga, seng dan garam-garam dari logam alkali lainnya,tetapi umumnya relatif
sangat kecil untuk dapat ditambang secara menguntungkan.
3. Kontak Metasomatisme
Pada saat magma yang pijar dan sangat panas menerobos lapisan batuan, magma tersebut makin
lamaakan makin kehilangan panasnya akhirnya akan membeku menjadi batuan beku intrusif. Proses
tersebut dapat terjadi pada keadaan yang dangkal, menengah ataupun pada kedalaman yang
besar,sehingga dikenal adanya batuan beku intrusif dangkal, menengah ataupun dalam. Dalam proses
tersebut akan terlihat adanya tekanan dan suhu yang sangat tinggi terutama pada kontak
terobosannya,antara magma yang masih cair dengan batuan disekitarnya. Pengaruh dari kontak ini
dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

a.Pengaruh dari panas saja, tanpa adanya perubahan-perubahan kimiawi baik pada
magmanya maupun pada batuan yang diterobos. Kontak ini disebut kontak
metamorfisme.
b.Pengaruh panas dan disertai adanya perubahan-perubahan kimiawi sebgai akibat
pertukaran ion dan sebagainya. Dari magma ke batuan yang diterobos dan sebaliknya.
Kontak semacam ini disebut kontak metasomatisme.

Kedua jenis kontak tersebut menimbulkan hasil yang sangat berbeda kecuali pada
keadaan yang sangat jarang dapat menghasilkan endapan bahan galian seperti silimanit.
Sebaliknya, pada kontak metasomatisme dapat dihasilkan bahan-bahan galian yang
berharga. Mineral yang terjadi sebagai akibat kontak metasomatisme akan lebih beraneka
ragam bila dibandingkan dengan yang terjadi pada kontak metamorfisme; hal ini karena
pada yang disebut terakhir tersebut hanya terjadi efek panas saja,sedang pada kontak
metasomatis terjadi efek padas dan kimiawi bersama-sama.
Manakala komposisi magma yang menerobos kaya akan material-material bahan
galian, maka akan dihasilkan deposit kontak metasomatik, terutama kalau lingkungannya
terdiri dari batuan sedimen yang gampingan, karena hal itu akan lebih menguntungkan
untuk terjadinya reaksi kimia. Magma tersebut haruslah mengandung unsur-unsur utama
yang nantinya akan menjadi bahan galian.Penerobosan haruslah terjadi pada kedalaman
yang cukup dalam,dan tidak terlalu dangkal. Batuan yang diterobos haruslah batuan yang
mudah bereaksi. Jadi jelaslah bahwa tidak semua terobosan magma akan menghasilkan
endapan bahan galian kontak metasomatisme.
Suhu diantara kontak akan berkisar antara 500oC sampai 1100oC untuk magma yang
bersifat silika,dan makin jauh letaknya dari kontak, suhunya makin menurun.
Terdapatnya mineral-mineral tertentu akan menunjukan shu tertentu pula, dimana mineral
tersebut terbentuk, misalnya adanya mineralwollastonit menunjukkan bahwa suhu tidak
melebihi 1125oC, kuarsa menunjukan suhu di atas 573oCdan seterusnya.
Bahan galian hasil kontak metasomatisme terjadi karena adanya proses rekristalisasi,
penggabungan unsur, pergantian ion, maupun penambahan unsur-unsur baru dari magma
ke batuan yang diterobosnya. Dari proses rekristalisasi batu gamping misalnya, akan
dihasilkan batu marmer,sedangkan rekristalisasi batu pasir kuarsa akan menghasilkan
batu kuarsit.Kalau suatu batuan samping memiliki komposisi mineral AB dan CD, maka
proses penggabungan kembali (recombination ) akan berubah menjadi mineral AC dan
BD, dan oleh proses penambahan unsur-unsur dari magma akan berubah lagi menjadi
mineral ACX dan BDY, dimana mineral X dan Y unsur baru dari magma.
Penambahan unsur baru dari magma sebagian berupa logam, silika, belerang, boron,
khlor, flour,kalsium, magnesium dan natrium.

Mineral logam (ore minerals) yang berbentuk dalam kontak metasomatisme hampir
semuanya berasaldari magma, demikian juga mengenai kendungan-kandungan yang
asing pada batuan yang terterobos,melalui proses penambahan unsur.
Jenis magma yang menerobos perlapisan batuan yang akhirnya akan menghasilkan
endapan bahan galian kontak metasomatisme pada umumnya terbatas pada jenis magma
silika dengan komposisi menengah (intermidiate) seperti kuarsa monzonit, granodiorit
atau kuarsa diorit. Tetapi magma yang sangat kaya akan silika seperti jenis granit jarang
yang akan menghasilkan endapan bahan galian,demikian pula dengan magma yang
ultrabasa. Sedangkan pada magma yang basa kadang-kadang terbentuk endapan bahan
galian metasomatisme.
Hampir semua endapan bahan galian kontak metasomatik berasosiasi dengan tubuh
batuan bekuintrusif yang berupa stock ,batholit ataupun tubuh-tubuh batuan beku intrusif
lain yang seukurandengan stock atau batholit, tidak pernah berasosiasi dengan dike atau
sill yang berukuran kecil,sedangkan lacolith atau sill yang besar meskipun jarang
dijumpai tetapi kadang-kadang dapatmenghasilkan endapan bahan galian kontak
metasomatik.
Batuan samping yang terterobos oleh magma, yang paling besar kemungkinannya
untuk dapat menimbulkan deposit kontak metasomatik adalah batuan karbonat.
Batugamping murni maupun dolomit dengan segera akan mengalami rekristalisasi dan
rekombinasi dengan unsur-unsur yang berasal dari magma, malahan pada batugamping
yang tidak murni, efek kontak metasomatik yang terjadi lebih kuat, karena unsur-unsur
pengotoran seperti silika, alumina dan besi adalah bahan-bahan yang dapat dengan
mudah membentuk kombinasi-kombinasi batu dengan oksida kalsium. Seluruh massa
batuan di sekitar kontak dapat berubah menjadi garnet, silika dan mineral bijih.
Sedangkan batuan yang agak sedikit terpengaruh oleh intrusi magma adalah
batupasir. Kalau mengalami rekristalisasi batu pasir akan menjadi kuarsit yang kadangkadang mengandung mineral-mineral kontak metasomatik yang tersebar setempatsetempat. Sedang lempung akan mengalami pengerasan dandapat berubah menjadi
hornfels, yang umumnya mengandung mineral-mineral andalusit, silimanit dan staurolit.
Tingkat perubahan terjadi pada batuan sedimen klastik halus tersebut tergantung dari
tingkat kemurniannya, paling baik kalau lempung tersebut bersifat karbonatan yaitu

mengandung kotoran karbonat. Tetapi secara umum batuan sedimen argillceous seperti
lempung, jarang yang mengandung mineral-mineral bahan galian.
Sedangkan pada batuan beku maupun metamorf, kalau mengalami terobosan magma
hampir tidak mengalami perubahan yang berarti, kecuali kalau antara magma yang
menerobos dan batuan beku yang diterobos komposisinya sangat berbeda, misalnya
magma granodiorit yang menerobos gabro,maka kemungkinan akan terjadi perubahanperubahan yang besar pada gabronya.
Jadi secara umum dikatakan bahwa batuan yang paling peka terhadap kontak
metasomatisme dan paling cocok untuk terjadinya pembentukan endapan bahan galian
bijih adalah batuan sedimen,terutama yang bersifat gampingan dan tidak murni.
Sedangkan bentuk, posisi atau penyebaran daripada bahan galian yang terjadi pada
proses kontak metasomatisme banyak tergantung juga pada struktur dari batuan yang
diterobos, akan tetapi pada umumnya terbentuk tidak teratur dan terpisah-pisah. Bentuk
tidak teratur tersebut lebih sering terjadi pada batu gamping yang tebal. Sedangkan pada
batu gamping yang berlapis-lapis maupun yang terkekarkan, maka endapan bijih tersebut
dapat membentuk menjari atau melidah.
Volume deposit kontak metasomatik pada umumnya kecil, berkisar antara beberapa
puluh sampai beberapa ratus ribu ton bijih saja, jarang sekali dapat dijumpai yang
berukuran sampai jutaan ton.Dimensinya antara 30 sampai 150 meter saja.
Produk akhir dari proses diferensiasi magmatik adalah suatu larutan yang disebut larutan sisa
magma,yang mungkin dapat mengadung konsenterasi logam yang dulunya berada dalam magma.
Larutan sisa magma ini yang juga disebut larutan hidrotermal, banyak mengandung logam-logam
yang berasal dari magma yang sedang membeku dan diendapkan ditempat-tempat sekitar magma yang
sedang membeku tadi.Larutan ini makin jauh letaknya dari magma makin kehilangan panasnya,
sehingga dikenal adanya deposit hidrotermal suhu tinggi di tempat yang terdekat dengan intrusi,
deposit hidrotermal suhu menengah ditempat yang agak jauh, dan deposit hidrotermal suhu rendah di
tempat yang terjauh. Deposit tersebut juga dinamakan hipotermal,mesotermal dan epitermal,
tergantung dari suhu, tekanan, dan keadaan geologi di mana mereka terbentuk, seperti yang ditunjukan
oleh mineral-mineral yang dikandungnya.
Dalam perjalanannya melalui (menerobos) batuan, larutan hidrotermal akan mendepositkan
mineral-mineral yang dikandungnya di rongga-rongga batuan dan membentuk deposit celah (cavity
filling deposit) atau melalui proses metasomatik membentuk deposit pengganti (replacement
deposit ).Secara umum deposit replacement terjadi pada kondisi suhu dan tekanan tinggi jadi pada

daerah lebihdekat batuan intrusinya, merupakan deposit hipotermal. Sebaliknya deposit pengisian atau
deposit celah (cavity filling deposit) lebih banyak terjadi di daerah dengan suhu dan tekanan rendah,
jadi merupakan deposit epitermal, yang terletak agak jauh dari batuan intrusifnya.
Syarat-syarat penting untuk terjadinya deposit hidrotermal adalah :
a.Adanya larutan yang mampu melarutkan mineral-mineral.
b.Adanya tekanan atau rongga pada batuan yang dapat dilewati larutan.
c.Adanya tempat dimana larutan dapat mendepositkan kandungan mineralnya.
d.Ada reaksi kimia yang menghasilkan pengendapan mineral baru.
e.Konsentrasi mineral yang cukup dalam deposit sehingga menguntungkan kalau
Ditambang.
5. Sedimentasi
Proses-proses sedimentasi tidak saja menghasilkan batuan-batuan sedimen, tetapi dapat juga
menghasilkan deposit-deposit mineral berharga seperti mangan, besi, tembaga, batubara,
karbonat,tanah lempung, belerang, lempung pemurni (fullers earth atau bleekarde), lempung bentonit,
tanah diatome, dan secara tidak langsung deposit vanadium-uranium. Meskipun demikian depositdeposit tersebut sebenarnya juga batuan sedimen, yang kebetulan karena sifat-sifat kimiawi dan
fisikanya kemudian menjadi sangat berharga. Karenanya, cara terbentuknya juga sama dengan cara
terbentuknya batuan sedimen, harus ada batuan yang bertindak sebagai sumber (asal), harus ada suatu
proses yang mengangkut dan mengumpulkan bahan-bahan hasil rombakan batuan asal, dan akhirnya
pengendapan hasil rombakan tersebut pada suatu cekungan pengendapan tertentu. Kemudian mungkin
saja dapat terjadi alterasi kimiawi ataupun kompaksi dan perubahan-perubahan lain pada endapan
tersebut. Jadi dalam proses di atas jelaslah bahwa batuan asal haruslah mengalami pelapukan terlebih
dahulu, baik pelapukan fisik maupun pelapukan kimia, sebelum diangkut dan diendapkan ditempat
lain.
Jenis batuan asal, cara pengangkutannya, dan lingkungan pengendapan dimana bahan-bahan
tersebutakan diendapkan kembali, pada umumnya akan serupa bagi satu jenis bahan tertentu.Termasuk
dalam proses sedimentasi ini pengendapan deposit mineral akibat penguapan (evaporation).Proses
penguapan ini paling baik terjadi di daerah beriklim panas dan kering.Air tanah, air danau atau air
pada daerah laut yang tertutup seperti laguna, dapat menghasilkan deposit-deposit mineral sebagai
akibat proses penguapan. Juga sumber-sumber air panas dapat menghasilkan deposit serupa.
Deposit-deposti mineral yang terjadi oleh proses ini adalah garam dapur dari penguapan air laut
atau air tanah yang asin, gipsum dan anhidrit berasal dari penguapan daerah lagun atau kadang-kadang
dapat juga dari daerah rawa-rawa, garam-garam kalium dari penguapan air laut, dan dari penguapanair

tanah dapat diendapkan garam-garam natrium karbonat, kalsium karbonat, garam nitrat dan natrium
sulfat.
Melihat proses kejadiannya, maka hampir semua deposit mineral sebagai akibat penguapan ini
berbentuk tipis dan meluas, jarang dijumpai dalam bentuk yang tebal. Misalnya endapan gipsum,
biasanya tebalnya antara 1 sampai 2 meter saja, kecuali kalau pada saat terjadinya pengendapan
disertai pula dengan penurunan dasar cekungan pengendapan secara perlahan-lahan, maka dalam
halini mungkin saja endapan gipsum dijumpai dalam keadaan agak tebal.
6. Pelapukan
Proses pelapukan yang meskipun berjalan lambat tetapi teru-menerus dalam jangka waktu
lama,sehingga pada akhirnya batuan dan mineral-mineral yang dikandungnya akan mengalami
disintregasi sebagai akibat pelapukan fisik dan dekomposisi sebagai akiat pelapukan kimiawi.
Pelapukan fisika dankimiawi terdiri dari bermacam-macam proses yang dapat bekerja sendiri-sendiri
ataupun secara bersama-sama. Pelapukan kimiawi banyak terjadi di daerah yang beriklim basah dan
panas seperti diIndonesia ini, sedang pelapukan fisik lebih menonjol di daerah yang beriklim kering.
Hasil pelapukan dapat dibedakan atas tiga jenis atau kelompok, yaitu :
a.Bahan-bahan yang dilarutkan dan diangkut sebagai larutan.
b.Bahan-bahan yang diangkut bukan sebagai larutan, tetapi sebagai bahan padat, yaitu sebagai beban
melayang (suspensi) dan sebagai beban dasar (bed-load ).
c.Bahan-bahan yang tertinggal.
Diantara ketiga jenis bahan sebagai hasil proses pelapukan diatas, maka bahan jenis pertama
kalaumerupakan bahan berharga konsenterasinya akan merupakan deposit evaporit (penguapan) yang
telah diterangkan di depan. Sedang konsenterasi bahan galian kedua akan merupakan deposit karena
proses sedimentasi seperti telah diuraikan didepan.

Berdasarkan tempat dimana diendapkan, plaser atau mineral letakan dapat dibagi
menjadi:
1.)Endapan plaser eluvium : diketemukan dekat atau sekitar sumber mineral bijih primer.
Mereka terbentuk dari hanya sedikit perjalanan residu (goresan), material mengalami
pelapukan setelah pencucian.Contoh endapan platina di Urals.
2.)Plaser aluvium, ini merupakan endapan plaser terpenting, terbentuk di sungai bergerak
kontinu oleh air, pemisahan tempat karena berat jenis, mineral bijih yang berat akan
bergerak ke bawah sungai. Intensitas pengayaan akan didapat kalau kecepatan aliran
menurun, seperti di sebelah dalam meander, di kuala sungai dsb.

Contoh endapan tipe ini adalah Sn di Bangka dan Belitung. Au-plaser di California.
3.)Plaser laut/pantai, endapan ini terbentuk oleh karen aktivitas gelombang memukul
pantai dan mengabrasi dan mencuci pasir pantai.Mineral yang umum di sini adalah
ilmenit, magnetit, monasit, rutil, zirkon, dan intan, tergantung dari batuan terabrasi.
4.)Fossil plaser, merupakan endapan primer purba yang telah mengalami pembatuan dan
kadang-kadang termetamorfkan.Contoh endapan ini adalah Proterozoikum Witwatersand,
Afrika Selatan, merupakan daerah emas terbesar di dunia, produksinya lebih 1/3 dunia.
Emas dan uranium terjadi dalam beberapa lapisan konglomerat.Mineralisasi menyebar
sepanjang 250 km. Tambang terdalam di dunia sampai 3000 meter, ini dimungkinkan
karena gradien geotermis disana sekitar 10 per 130 meter.
Sedangkan bahan-bahan yang tertinggal dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu :
a)Yang berupa tanah (soil) biasa, tanpa kandungan mineral-mineral berharga.
b)Yang berupa residu, terdiri dari mineral berharga dalam jumlah yang dapat diusahakan.
c)Residu yang berupa mineral berat dan mineral ringan yang tidak dapat larut karena sifatnya yang
stabil di mana hanya mineral yang berat yang berharga, sedang yang ringan tidak berharga. Keduanya
dapat dipisahkan dengan cara dialiri air atau udara.
d)Bahan yang dapat larut oleh air yang meresap ke dalam tanah dan diendapkan di tempat
yangdangkal dibawahnya untuk membentuk deposit mineral berharga.

Kelompok mana yang terbentuk tergantung dari hal-hal di bawah ini :


-Keadaan alami batuan asalnya
-Keadaan topografi
-Keadaan iklim
Dari keempat kelompok di atas, kedua akan membentuk deposit konsenterasi residual, kelompok
ketiga membentuk deposti konsenterasi mekanis atau deposit placer dan kelompok keempat akan
membentuk deposit pengkayaan sekunder (secondary enrichment deposit ).
Deposit konsentrasi residual
Konsenterasi residual adalah suatu pengumpulan bahan residu yang berharga setelah bagianbagian tidak berharga tersingkirkan oleh proses pelapukan. Contoh deposit yang terbentuk secara ini
adalah bijih besi yang terkandung dalam gamping murni dalam bentuk besi karbonat. Oleh proses
pelarutan(pelapukan kimiawi) gampingnya akan larut dan besinya tertinggal. Seperti juga besi,
mangan juga dapat terbentuk akibat pelapukan kimiawi.

Meskipun aluminium termasuk unsur yang sangat banyak dijumpai pada kerak bumi,
tetapi sebagian besar ada dalam kombinasi dengan bahan lain yang masih menimbulkan
kesulitan untuk dapat diambil secara komersial. Sampai sekarang hanya bauksit yang
merupakan bijih aluminium yang komersial.Bauksit adalah suatu oksida aluminium yang
terhidrasi, dan berasal dari hasil pelapukan batuan beku yang kaya akan mineral-mineral
feldspar dan tidak mengandung mineral kuarsa, yaitu nephelinesyenit. Bauksit yang baik
mengandung kira-kira 50% aluminium dan kurang dari 6% silika, 10%oksida besi dan
4% oksida titanium.
Beberapa jenis batuan beku yang basa, mengandung sejumlah kecil nikel. Di bawah
pengaruh pelapukan di daerah tropis atau subtropis batuan semacam itu akan melepaskan
silika danmenghasilkan ikatan nikel dan magnesium. Di beberapa tempat, nikel tersebut
dalam bentuk mineral garnierit, oleh proses konsentrasi residual dapat menjadi deposit
yang komersial.

Deposit konsentrasi mekanis atau placer


Sisa pelapukan yang tidak dapat larut akan menghasilkan suatu selubung dari bahan-bahan
lepas,diantaranya berat dan beberapa lagi ringan; ada yang getas (britlle) dan ada yang tahan
(durable).Bahan-bahan tersebut oleh suatu media tertentuk seperti air yang mengalir (sungai), angin
arus pantai (beach), ataupun air permukaan (running water) dapat mengalami pemisahan bagian yang
berat terhadap bagian yang ringan secara gravitasi dan membentuk endapan placer.
Konsentrasi hanya dapat terjadi kalau mineral berharga yang bersangkutan memiliki tiga sifat
sebagai berikut :
-Berat jenisnya tinggi
-Tahan terhadap pelapukan kimiawi
-Tahan terhadap benturan-benturan fisik (durable)
Mineral placer yang memiliki sifat-sifat tersebut adalah emas, platina,tinstone, magnetit,
khromit,ilmenit, rutil, tembaga, batu mulia, zircon, monazit, fosfat, tantalit, columbit. Diantara bahanbahan tersebut di atas yang paling berharga sebagai deposit placer adalah emas, platina,tinstone,
ilmenit(bijih titanium), intan dan ruby.

Deposit sebagai akibat oksidasi dan pengkayaan sekunder


Air dan oksigen adalah tenaga pelapukan kimiawi yang sangat kuat, kalau mereka bersentuhan
dengan suatu deposit bijih, maka hasilnya adalah reaksi-reaksi kimia yang kadang-kadang dapat
drastis dan merubah deposit yang sudah ada tersebut. Air permukaan yang mengandung oksigen akan
bersifatsebagai bahan pelarut yang mampu melarutkan mineral-mineral tertentu. Suatu deposit bijih
dapat teroksidasi dan dapat kehilangan banyak kandungan mineral yang berharga karena tercuci
(leached),kemudian terbawa ke bawah oleh air permukaan yang sedang turun ke bawah (meresap ke
bawah).
Pada

bagian

bawah,

akhirnya

larutan

tersebut

mengendapkan

kandungan-kandungan

minerallogamnya menjadi endapan bijih teroksidasi (oxidized ores ), ini terjadi di atas muka air
tanah.Pada saat larutan memasuki air tanah di bawah muka air tanah, mereka memasuki

zona dimana tidakada oksigen dan kandungan logamnya lalu diendapkan dalam bentuk
logam-logam sulfida. Proses tersebut dinamakan pengkayaan sulfida sekunder. Tentu saja
gambaran tersebut tidak terjadi pada semua deposit bijih yang terkena air, karena tidak
semua deposit bijih mengandung logam yang dapatteroksidasi, atau iklim yang tidak
memungkinkan terjadinya pelarutan yang kuat. Jadi haruslah adakondisi khusus yang
mengangkut waktu, iklim, topografi dan jenis bijih tertentu untuk dapat terjadinya zona
teroksidasi dan zona diperkaya.
7. Deposit oleh Proses Metamorfisme
Metamorfisme adalah suatu proses dimana batuan dan mineral mengalami ubahan akibat adanya
tekanan dan suhu yang tinggi yang ditimpakan kepadanya, disamping itu kadang-kadang disertai pula
dengan penambahan air dan karbon dioksida. Ubahan ini dapat dalam bentuk kristalisasi maupun
rekombinasi dari kandungan-kandungan batuan yang menimbulkan mineral-mineral bukan logam baru
yang berharga. Deposit mineral yang terjadi oleh proses metamorfisme terutama adalah grafit,
asbes,talk, batusabun, garnet dan bahan-bahan abrasif.
8. Konsentrasi oleh Proses Air Tanah
Yang dimaksud dengan air tanah adalah air di bawah permukaan tanah dan di bawah muka air
tanah,semua pori batuan terisi jenuh dengan air. Sedangkan air tanah yang berada di atas muka air
tanah disebut air gravitasi (gravity water ). Muka air tanah ini biasa juga disebut water table.
Air tanah dapat dibedakan antara yang berasal dari curah hujan dan merembes ke dalam tanah
yang akhirnya masuk ke dalam lapisan pembawa air (aquifer) dan air tanah yang terjebak di dalam
lapisan batuan bersamaan dengan waktu batuan sedimen itu terbentuk. Air tanah jenis pertama disebut
airmeteorik (meteoric water ) dan yang kedua disebut air konet (connet water ). Karena sifat
terbentuknya maka air konet ini lebih kaya akan garam garam dibandingkan dengan air meteorik. Di

daerah pedalaman yang jauh dari pantai sering air tanah yang kaya akan garam-garaman ini ditambang
untuk diambil garamnya dan dikenal sebagai garam air tanah.
Salah satu contoh pengusahaan garam air tanah ini adalah di daerah Kuwu, Purwodadi (Jawa
Tengah).Di sini air tanah konet terdesak keluar oleh gas methan dan menimbulkan apa yang disebut
mudvolcano (gunung lumpur). Oleh penduduk air konet yang keluar tersebut, yang juga muncul di
sumur-sumur galian, diuapkan dan diambil endapan garamnya.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Mineral bijih (ore mineral)adalah mineral yang mengandung logam, atau suatu agregat mineral
logam, yang dari sisi penambang dapat diambil suatu profit, atau dari sisi ahli metalurgi dapat
diolah/diekstrak menjadi suatu profit.
Proses-proses terbentuknya endapan bijih adalah Konsentrasi magmatik, Sublimasi,Kontak
metasomatisme , Konsentrasi hidrotermal , Sedimentasi lapisan sedimenter (evaporit) , Pelapukan
Konsentrasi residual , dan Metamorfisme.

Kritik dan Saran


Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila
ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada kami.Apabila
ada terdapat kesalahan mohon dapat dimaafkan dan dimaklumi.

DAFTAR PUSTAKA
Allcoma.blogspot.com/2011/12/mineral-bijih.html
Edwards R., Atkinson K. (1986), Ore deposit geology and its influence on mineral exploration,
Chapman and Hall, London, 466 p.
Evans, A.M., 1993. Ore geology and industrial minerals, an introduction, Blackwell Science, 389 p..
Robb, L. (2005), Introduction to Ore-Forming Processes, Blackwell Publishing, Carlton, Australia,
373 p.

https://id.wikipedia.org/wiki/Bijih
https://geologistwannabe.wordpress.com/2012/04/25/pembentukan-mineral-bijih/