Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN

MEKANIKA FLUIDA
ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA PADA AQUARIUM

Oleh :
1. Almer Sudhiarta
2. Dara Ayu
3. M. Ariansyah Dzikri
4. Megawati Fratiwi
5. Nila N Fadhilah
6. Shinta
7. Shanty
8. Bella Dwi Aulina
9. Novita Sari
10. Elfrida octavia S

061430400316
061430400318
061430400322
061430400323
061430400326
061430401265
061430401238
061430401245
061430401231
061430401247

Kelas : 3 KB
Dosen Pembimbing

: Dr. Ir. H. Muhammad Yerizam, M.T

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2015/2016

ALIRAN FLUIDA DALAM PIPA


PADA AQUARIUM
I. Tujuan Kegiatan
Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah :
1. Untuk mengetahui aliran pipa pada aquarium yang telah dibuat
2. Untuk mengetahui friksi-friksi yang terjadi pada aliran tersebut
3. Untuk mengetahui besar kerugian (Head Losses) aliran pada pipa
4. Untuk mengetahui efisiensi pompa yang digunakan

II. Dasar Teori


A. Konsep Dasar

Fluida dapat didefinisikan sebagai zat yang berubah bentuk secara


kontinyu bila terkena tegangan geser. Fluida mempunyai molekul yang terpisah
jauh, gaya antar molekul kecil daripada benda padat dan molekul-molekulnya
lebih bebas bergerak, dengan demikian fluida lebih mudah terdeformasi.
Untuk aliran fluida dalam pipa khususnya untuk air terdapat kondisi
yang harus diperhatikan dan menjadi prinsip utama, kondisi fluida tersebut
adalah fluida merupakan fluida inkompresibel, fluida dalam keadaan steady dan
seragam.
B. Jenis Aliran Fluida
Aliran fluida dapat dibedakan atas 3 jenis yaitu aliran laminar , aliran
transisi dan aliran turbulen. Jika air mengalir melalui sebuah pipa berdiameter
d dengan kecepatan rata-rata V maka dapat diketahui jenis aliran yang terjadi.
Berdasarkan eksperimen tersebut maka didapatkan bilangan reynold dimana
bilangan ini tergantung pada kecepatan fluida, kerapatan, viskositas, dan
diameter.
Aliran dikatakan laminar jika partikel-partikel fluida yang bergerak
teratur mengikuti lintasan yang sejajar pipa dan bergerak dengan kecepatan
sama. Aliran ini terjadi apabila kecepatan kecil atau kekentalan besar. Aliran
disebut turbulen jika tiap partikel fluida bergerak mengikuti lintasan sembarang
di sepanjang pipa dan hanya gerakan rata-rata saja yang mengikuti sumbu pipa.
Aliran ini terjadi apabila kecepatan besar dan kekentalan zat cair kecil.
Pengaruh kekentalan sangat besar sehingga dapat meredam gangguan
yang dapat menyebabkan aliran menjadi turbulen. Dengan berkurangnya
kekentalan dan bertambahnya kecepatan aliran maka daya redam terhadap
gangguan akan berkurang, yang sampai pada batas tertentu akan menyebabkan
terjadinya perubahan aliran dari laminar menjadi turbulen.
Koefisien gesekan untuk pipa silindris merupakan fungsi dari bilangan
Reynold (Re). Dalam menganalisa aliran di dalam saluran tertutup, sangatlah
penting untuk mengetahui type aliran yang mengalir dalam pipa tersebut.

Untuk itu harus dihitung besarnya bilangan Reynold dengan mengetahui


parameter-parameter yang diketahui besarnya.
Bilangan Reynold (Re) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
=

dv

Dimana:
= massa jenis fluida (kg/m3)
d = diameter dalam pipa (m)
v = kecepatan aliran fluida (m/s)
= viskositas dinamik fluida (Pa.s)
Karena viskositas dinamik dibagi dengan massa jenis fluida merupakan
viskositas kinematik (v) maka bilangan Reynold dapat juga dinyatakan:
v=

sehingga

dv

Menurut Orianto (1989), berdasarkan percobaan aliran di dalam pipa,


Reynolds menetapkan bahwa untuk angka Reynolds dibawah 2000, gangguan
aliran dapat diredam oleh kekentalan zat cair maka disebut aliran laminar.
Aliran akan menjadi turbulen apabila angka Reynolds lebih besar dari 4000.
Apabila angka Reynolds berada di antara kedua nilai tersebut (2000 < Re <
4000) disebut aliran transisi.
1. Aliran laminar
Aliran laminar adalah aliran fluida yang ditunjukkan dengan gerak
partikel-partikel fluidanya sejajar dan garis-garis arusnya halus. Dalam
aliran laminer, partikel-partikel fluida seolah-olah bergerak sepanjang
lintasan-lintasan yang halus dan lancar, dengan satu lapisan meluncur
secara mulus pada lapisan yang bersebelahan. Sifat kekentalan zat cair
berperan penting dalam pembentukan aliran laminer. Aliran laminer
bersifat steady maksudnya alirannya tetap. Tetap menunjukkan bahwa di

seluruh aliran air, debit alirannya tetap atau kecepatan aliran tidak berubah
menurut waktu.
Aliran fluida pada pipa, diawali dengan aliran laminer kemudian pada
fase berikutnya aliran berubah menjadi aliran turbulen. Fase antara laminer
menjadi turbulen disebut aliran transisi. Aliran laminar mengikuti hukum
Newton tentang viskositas yang menghubungkan tegangan geser dengan
laju perubahan bentuk sudut. Tetapi pada viskositas yang rendah dan
kecepatan yang tinggi aliran laminar tidak stabil dan berubah menjadi
aliran turbulen.
Bisa diambil kesimpulan mengenai ciri- ciri aliran laminar yaitu: fluida
bergerak mengikuti garis lurus, kecepatan fluidanya rendah, viskositasnya
tinggi dan lintasan gerak fluida teratur antara satu dengan yang lain.
2. Aliran turbulen
Kecepatan aliran yang relatif besar akan menghasilakan aliran yang tidak
laminar melainkan komplek, lintasan gerak partikel saling tidak teratur
antara satu dengan yang lain. Sehingga didapatkan Ciri dari aliran turbulen:
tidak adanya keteraturan dalam lintasan fluidanya, aliran banyak
bercampur, kecepatan fluida tinggi, panjang skala aliran besar dan
viskositasnya rendah. Karakteristik aliran turbulen ditunjukkan oleh
terbentuknya

pusaran-pusaran

dalam

aliran,

yang

menghasilkan

percampuran terus menerus antara partikel partikel cairan di seluruh


penampang aliran.
3. Aliran Transisi
Aliran transisi merupakan aliran peralihan dari aliran laminar ke aliran
turbulen. Aliran berdasarkan bisa tidaknya dicompres yaitu compressible
flow, dimana aliran ini merupakan aliran yang mampu mampat. Sedangkan
incompressible flow, aliran tidak mampu mampat. Empat faktor penting
dalam pengukuran aliran fluida dalam pipa adalah kecepatan fluida,
friksi/gesekan

fluida

dengan

pipa,

viskositas/kekentalan

fluida,

densitas/kerapatan fluida
C. Kecepatan dan Kapasitas Aliran Fluida
Besarnya kecepatan akan mempengaruhi besarnya fluida yang mengalir
dalam suatu pipa. Jumlah dari aliran fluida mungkin dinyatakan sebagai
volume, berat atau massa fluida dengan masing masing laju aliran ditunjukkan

sebagai laju aliran volume ( m3/s ), laju aliran berat ( N/s ) dan laju aliran massa
( kg/s).
Kapasitas aliran ( Q ) untuk fluida yang inkompresible yaitu :
Q = A. V
dimana:
Q
= laju aliran volume (m3/s )
A
= luas penampang aliran (m2)
V
= kecepatan aliran fluida (m/s)
D. Persamaan Bernouli
Penurunan persamaan Bernoulli untuk aliran sepanjang garis arus
didasarkan pada hukum Newton II. Persamaan ini diturunkan dengan anggapan
bahwa:
1. Zat cair adalah ideal, jadi tidak mempunyai kekentalan (kehilangan energi
akibat gesekan adalah nol)
2. Zat cair adalah homogen dan tidak termampatkan (rapat massa zat cair
adalah konstan).
3. Aliran adalah kontiniu dan sepanjang garis arus.
4. Kecepatan aliran adalah merata dalam suatu penampang.
5. Gaya yang bekerja hanya gaya berat dan tekanan.
Energi yang ditunjukkan dari persamaan energi total di atas, atau dikenal
sebagai head pada suatu titik dalam aliran steady adalah sama dengan total
energi pada titik lain sepanjang aliran fluida tersebut. Hal ini berlaku selama
tidak ada energi yang ditambahkan ke fluida atau yang diambil dari fluida.

Konsep ini dinyatakan ke dalam bentuk persamaan yang disebut dengan


persamaan Bernoulli, yaitu:
2
2
PA A v A g
P v
g
+
+ Z A = B + B B + Z B +h f
A
2 gc g c
B 2 g c gc

E. Kerugian Head
Head losses merupakan suatu fenomena rugi rugi aliran di dalam
sistem pemipaan. Rugi rugi aliran selalu terjadi pada sistem pemipaan dengan
menggunakan berbagai macam fluida, seperti fluida cair dan gas. Pada
umumnya, rugi aliran yang terbesar terjadi pada fluida cair, hal ini dikarenakan
sifat molekulnya yang padat dibandingkan gas dan memiliki gesekan lebih
besar terhadap media yang dilaluinya, terutama jika koefisien gesek media yang
dilalui itu lebih besar, maka gesekan yang terjadi pun akan semakin besar. Head
losses sangat merugikan dalam aliran fluida di dalam sistem pemipaan, karena
head losses dapat menurunkan tingkat efisiensi aliran fluida.
1. Kerugian Head Mayor
Aliran fluida yang melalui pipa akan selalu mengalami kerugian
head. Hal ini disebabkan oleh gesekan yang terjadi antara fluida dengan
dinding pipa atau perubahan kecepatan yang dialami oleh aliran fluida
(kerugian kecil). Kerugian head akibat gesekan dapat dihitung dengan
menggunakan salah satu dari dua rumus berikut, yaitu:
Persamaan Darcy Weisbach

h f =f

L v2
2 dg

Dimana:
hf

= kerugian head karena gesekan (m)

= faktor gesekan (diperoleh dari diagram Moody)

= diameter dalam pipa (m)

= panjang pipa (m)

= kecepatan aliran fluida dalam pipa (m/s)

= percepatan gravitasi

Diagram

Moody

telah

digunakan

untuk

menyelesaikan

permasalahan aliran fluida di dalam pipa dengan menggunakan faktor


gesekan pipa (f) dari rumus DarcyWeisbach. Untuk aliran laminar
dimana bilangan Reynold kurang dari 2000, faktor gesekan
dihubungkan dengan bilangan Reynold, dinyatakan dengan rumus:

f=

64

Untuk aliran turblen dimana bilangan Reynold lebih dari 4000, faktor
gesekan dihubungkan dengan bilangan Reynold, dinyatakan dengan
rumus :
1
f

= 2 log

3,7

( )

2. Kerugian Head Minor


Head losses minor (rugi minor) adalah besar nilai kehilangan
energi aliran fluida di dalam pipa yang disebabkan oleh perubahan luas
penampang jalan aliran, entrance, fitting dan lain sebagainya.
Jenis jenis head losses:
a. Kerugian yang disebabkan oleh pembesaran ukuran pipa yang
mendadak.
b. Kerugian yang disebabkan oleh pengecilan ukuran pipa yang
mendadak
c. Kerugian aliran pipa disebabkan oleh fitting atau katup
Pipa pipa sambung (fitting) dan katup (valve) bersifat
menghambat aliran normal dan menyebabkan gesekan tambahan. Pada
pipa yang pendekpendek yang mempunyai banyak pipa sambungan,
rugi gesek yang disebabkan oleh pipa sambung mungkin lebih besar
dari yang berasa dari bagian pipa yang lurus. Rugi gesek h ff yang
disebabkan oleh pipa sambung dapat ditentukan dengan menggunakan
rumus :
2

hff

= Kf

Va
2 gc

dimana:
Kf = faktor rugi pipa sambung
Va = kecepatan rata rata dalam pipa yang menuju pipa sambung
Bila pipa dipasangkan dengan pompa maka akan ada penambahan energi
sebesar Hp. Head pompa itu sendiri merupakan energi yang harus ditambahkan
pompa ke dalam fluida untuk memindahkan fluida tersebut dari tempat yang

memiliki head rendah ke tempat dengan head yang tinggi. Untuk menyelesaikan
persoalan di atas digunakan persamaan Bernoulli, yaitu:
PA Av A2
g
P
v2
g

Z A .WP B B B
Z B hf
A
2.gc
gC
B
2.gc
gC

hf : Total gesekan yang terjadi selama fluida mengalir dalam pipa dari sumber A
ke keluaran B
F. Proses Alir ( Flow-System) Steady-state
Steady flow adalah aliran yang mana kondisi alirannya (kecepatan,
tekanan, densitas, dsb) tidak berubah dengan waktu. Untuk kebanyakan proses
dalam industri, analisis terhadap

proses alir steady-state sering dijumpai,

terutama pada peristiwa mengalirnya fluida di dalam suatu peralatan. Analisis


dan perhitungan yang dilakukan terhadap peristiwa demikian tetap akan
didasari pada hukum thermodinamika pertama dalam bentuk yang sesuai
dengan kebutuhan yang ada. Istilah steady-state dalam hal ini berkaitan dengan
berlangsungnya suatu proses tidak tergantung kepada waktu atau dengan kata
lain, tidak terjadi akumulasi massa dan energi dari suatu sistem yang ditinjau.
Sebagai dasar dari perhitungan proses alir ini, disusunlah suatu persamaan
kontinuitas. Persamaan kontinuitas menggambarkan suatu hubungan tekanan,
kecepatan aliran, dan luas penampang aliran dari titik inlet ke titik outlet tanpa
melalui suatu sistem peralatan proses.
G. Sambungan pipa
Adapun macam-macam alat sambung pipa diantaranya sebagai berikut :
1. Socket : untuk memperpanjang pipa (menyambung pipa lurus) dengan
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

diameter pipa yang sama


Elbow : berguna untuk membelokkan aliran
Bend : berguna untuk membelokkan arah aliran beradius besar
Tee Stuck : berguna untuk membagi aliran menjadi dua arah
Reducer Elbow : berguna untuk memperkecil aliran yang dibelokkan
Reducer Socket : berguna untuk memperkecil aliran
Cross : berguna untuk membagi aliran menjadi 3 arah
Barrel Union : berguna untuk menyambung pipa permanent ( mati ).
Dop (F) : berguna untuk menutup aliran pada ujung pipa

10. Plug : berguna untuk menutup pipa pada sambungan


11. Stop kran (Gate Valve) : berguna untuk mengatur aliran, dapat menutup dan
menghentikan aliran pada saat perbaikan
12. Kran : berguna untuk penutupan atau pengeluaran air
13. Bushis : berguna untuk menyambung 4 buah pipa yang berlainan ukuran
diameternya
14. Hexagonal nipple : berguna untuk mengencangkan sambungan pipa. Bentuk
sambungan ini segi enam, alat ini berguna untuk mengencangkan sambungan
dengan bantuan kunci pipa.

III.

Keterangan Gambar
Berikut keterangan gambar dari rangkaian perpipaan pada aquarium. Pipa
yang digunakan adalah jenis PVC (Poly Vinyl Chloride).
Friksi-friksi (hf) yang terjadi :
1. Panjang pipa 5/8 in pada pipa A yaitu 1,3 cm
2. Panjang pipa 5/8 in pada pipa B yaitu 1,1 cm
3. Panjang pipa 5/8 in pada pipa C yaitu 4,9 cm
4. Panjang pipa 5/8 in pada pipa D yaitu 11,7 cm
5. Panjang pipa 5/8 in pada pipa E yaitu 2,1 cm

IV.

Perhitungan
Diketahui : Q
= 800 L/jam
=222 ,2 cm3/s
D
= 5/8 in
= 1,5875 cm
-2
2

= 0,802 x 10 cm /s (lihat tabel kekentalan kinematik pada 300C)

= 1 g/cm3
g
= 10 m/s2
= 1000 cm/s2

= 0,05 mm
= 5x 10-3 cm
Wpump = 15 W
= 15 kg/ms = 150 g/cm.s
1. Penentuan Luas Penampang (A) dan kecepatan (V)
1
2
A 1= D

4
1
A 1= x 3,14 x 1,58752
4
A 1=

V=

Q
A

1,9783 cm 2

222,2 cm 3 / s
1,9783 c m2

112,3186 cm/s

2. Kecepatan pada pipa 5/8 in


2
V 2 (112,3186 cm/s)
6,3077
=
2g
2 x 1000 cm/s 2
3. Sambungan pada pipa 5/8 in yaitu elbow 900 (4 buah)
Elbow 900 (4 buah)
V 12
h ff =K f x
=4 x 0,9 x 6,3077=22,70772
2g
4. Panjang pipa 5/8 in yaitu 21,1 cm, pipa yang digunakan adalah pipa PVC.

L V1
h fs=4. f
.
D 2 gc
g
x 1,5875 cm x 112,3186 cm/s
DV
cm 3
=
=
=22232,64059

0,802 x 102 cm2 /s


1

Karena bilangan Reynolds > 4000. Maka faktor friksi dapat ditentukan dengan
menggunakan rumus :
1
3,7
=2 log
/ D
f

5 x 103
=
=3,1496 x 103
D 1,5875

( )

1
3,71
=2 log
3
f
3,1496 x 10

1
=5,8601
f
1
=34,3408
f
f =0,02911

h fs=4 f

L V2
21,1 cm
=4 x 0,02911 x
x 6,3077=9,76207
D 2g
1,5875 c m

Dari perhitungan di atas maka total friksi pada aliran pipa tersebut adalah:
h f = hff + hfs
h f =22,70772+9,76207
h f =32,46979
5. Ketinggian air dari tangki ke debit (H)
V2
H= h f +
=32,46979+6,3077=38,77749
2g

6. Efisiensi Pompa ( pump)


PA
v2
P
v2
g
g
A A
Z A .W P B B B
Z B hf
A
2.gc
gC
B
2.gc
gC

W p=

V
+ H + hf
2g

x 150=6,3077+38,77749+32,46979

77,55498
150

= 0,517

= 0,517 x 100 %
= 51,7 %

V. Rincian Pengeluaran
Pada pembuatan aquarium ini, berikut rincian pengeluaran dari aquarium yang
telah dibuat :
No
1

Nama Barang
Kaca +
pemotongan Kaca

Lem Kaca

Dekorasi Aquarium

Pompa Filter

Hiasan Aquarium

Lampu + Kabel

Terminal

ikan

Pellet

10

Pipa PVC

11

Pompa Udara

12

Meja

13

Garam Ikan

Pengeluaran
Rp
180.000
Rp
15.000
Rp
110.000
Rp
60.000
Rp
28.500
Rp
30.000
Rp
20.000
Rp
60.000
Rp
2.000
Rp
3.000
Rp
40.000
Rp
120.000
Rp

14

Elbow 90

15

Double Tip
Total

VI.

3.000
Rp
3.000
Rp
10.000
Rp
684.500

Analisa Percobaan
Pada kegiatan kali ini adalah mengenai aliran fluida dalam pipa yang pada
aquarium, yang tujuannya adalah untuk mengetahui friksi-friksi yang terjadi
serta menghitung besar efisiensi pompa yang digunakan. Pipa adalah saluran
tertutup yang biasanya berpenampang lingkaran yang digunakan untuk
mengalirkan fluida. Dimana fluida dapat didefinisikan sebagai zat yang berubah
bentuk secara kontinyu bila terkena tegangan geser.
Pada aliran fluida ada beberapa parameter yang mempengaruhi yaitu
diameter pipa, kecepatan, viskositas fluida, massa jenis fluida dan laju aliran
massa.Pada aliran fluida terdapat fenomena yang sering yang terjadi yaitu head
losses. Head losses merupakan suatu fenomena rugirugi aliran di dalam sistem
perpipaan. Pada umumnya, rugi aliran yang terbesar terjadi pada fluida cair, hal
ini dikarenakan sifat molekulnya yang padat dibandingkan gas dan memiliki
gesekan lebih besar terhadap media yang dilaluinya, terutama jika koefisien
gesek media yang dilalui itu lebih besar, maka gesekan yang terjadi pun akan
semakin besar.
Pada kegiatan ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti jenis
pipa yang digunakan pada aliran pipa, kekasaran pipa, jenis aliran fluida pada

pipa (apakah turbulen atau laminer) dan berapa banyak fitting (sambungan) yang
digunakan.
Berdasarkan proses pembuatan aquarium yang telah dilakukan, maka
dapat diketahui bahwa pipa yang digunakan sebagai saluran untuk tempat
mengalirnya air untuk isian aquarium adalah pipa PVC. Pipa dipasang dengan
pompa dan akan mengalirkan air ke dalam aquarium, pada saat air mengalir di
dalam pipa akan terjadi gesekan antara air dengan permukaan pipa, maka akan
didapat friksi pada aliran fluida atau dalam hal ini air, dengan nilai friksi total
sebesar 32,46979. Adapun jenis aliran yang terjadi pada pipa adalah aliran
turbulen, dimana bilangan Reynold yang didapat lebih besar dari 4000.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, maka didapat nilai efisiensi
pompa sebesar 51,7%. Berdasarkan nilai ini, maka dapat dikatakan bahwa
VII.

pompa masih bekerja dengan baik dan efisien.


Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :


Head losses adalah merupakan suatu fenomena rugi rugi aliran di dalam

sistem perpipaan.
Pada perpipaan di aquarium yang telah dibuat dapat diakibatkan oleh

beberapa hal seperti adanya friksi dan sambungan (fitting) pada pipa.
Head loss total pada aquarium adalah 32,46979
Efisiensi pompa sebesar 51,7 %

Lampiran

Tabel 1. Koefisien rugi untuk sambungan pipa berulir


Sambungan Pipa
Katup bola, terbuka penuh
Katup sudut, terbuka penuh
Katup gerbang, terbuka penuh
Setengah terbuka
Bengkolan balik
Tee
Siku, 90
45

Kf
10,0
5,0
0,2
5,6
2,2
1,8
0,9
0,4

Source : J.K.Venard, dalam V.L.Streeter ( ed ), handbook of fluid dynamics,


hal 3-23, McGraw-Hill Book Company, New York, 1961. Buku OTK jilid 1

Pipe Material
Wrought Iron
Asbestos cement
Poly Vinyl Chloride(PVC)
Steel
Asphalted cast iron
Galvanized iron
Cast / ductile iron

Roughness Height
( mm )
0.04
0.05
0.05
0.05
0.13
0.15
0.25

Concrete
Riveted Steel

0.3 to 3.0
0.9 to 9.0

DAFTAR PUSTAKA

Dake, J. M. K., 1985. Hidrolika Teknik. Jakarta : Erlangga


Yrizam, M, dkk. 2014. Mekanika Fluida. Palembang: Politeknik Negeri Sriwijaya
Selpan, M. 2014. Mekanika Fluida Aliran Fluida dalam Saluran Tertutup (Pipa).
Medan: Universitas Sumatera Utara