Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN

PENGAMATAN KONDISI SIMPANG

DI AREA

TERMINAL CICAHEUM
RUAS JALAN P.H.H. MUSTOFA DAN AHMAD YANI
Disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan nilai mata kuliah
Sistem Manajemen Jalan pada semester VII tahun ajaran 2015/2016.
Disusun oleh:
Bhakti Jatnika Saepulloh

NIM. 121134008

Faris Yasirahman Wibowo

NIM. 121134015

Rofad Fathin

NIM. 121134026

Sausan Hana Nabilah

NIM. 121134028

Taufik Faris Ismail

NIM. 121134029

PROGRAM STUDI TEKNIK PERANCANGAN JALAN DAN JEMBATAN


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

1. Pendahuluan
Jalan merupakan salah satu prasarana transportasi dalam kehidupan bangsa. Kedudukan
dan peranan jaringan jalan pada hakikatnya menyangkut hajat hidup orang banyak serta
mengendalikan struktur pengembangan wilayah hingga tingkat nasional. Adapun efisiensi dalam
melakukan perjalanan diakibatkan oleh:
1. Kemacetan di persimpangan ataupun ruas jalan
2. Geometrik jalan, baik ruas maupun simpang, yang tidak mengikuti standar yang berlaku.
3. Kerugian ekonomi akibat konsumsi waktu perjalanan yang panjang
4. Kesalahan desain
5. Kesalahan tata guna jalan, dan lain sebagainya.
Hal itu menimbulkan ketidak nyamanan masyarakat untuk melalui jalan tersebut. Salah
satu ruas jalan yang memiliki masalah serupa yaitu pada simpang antara Jalan P.H.H. Mustofa
dengan Jalan Ahmad Yani yang terletak di wilayah Bandung Timur atau tepatnya di sekitar terminal
Cicaheum. Adapun untuk lebih detailnya, dapat dilihat pada gambar 1.1.

Gambar 1.1 Peta Lokasi


Sumber: Google maps

2. Pembahasan
Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang yang memiliki permasalahanpermasalahan yang lebih kompleks dibandingkan dengan negara-negara maju. Permasalahan yang
terjadi adalah pertumbuhan pendudukan yang tinggi, kesenjangan sosial, hingga kurangnya sarana
dan prasaran yang menunjang pembangunan itu sendiri. Diantara banyaknya permasalahan yang
terjadi adalah kemacetan. Kemacetan ini sering terjadi di kota-kota besar, terutama kurangnya
transportasi publik yang baik atau memadai ataupun tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan
kepadatan penduduk.
Kawasan yang sering terjadi kemacetan salah satu satunya adalah kawasan Terminal
Cicaheum, Kota Bandung. Kemacetan yang terjadi adalah disekitar simpang bersinyal antara Jl.
PHH Mustofa dan Jl. Jend. A Yani yang diakibatkan adanya keluar masuk kendaraan berupa bus
maupun angkutan umum lainnya serta kesemrawutan kendaraan yang terjadi disekitar Terminal
Cicaheum. Dari hasil survey ke lapangan, adapun permasalahan dan penanganan yang dapat
dilakukan di simpang Jl. PHH Mustofa dan Jl. Jend. A Yani adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Penanganan Penyebab Kemacetan

Tabel 2.2 Penanganan Penyebab Kemacetan dari Tata Guna Lahan

Tabel 2.3 Penanganan Penyebab Kemacetan dari Kondisi Jalan

Tabel 2.4 Penanganan Penyebab Kemacetan dari Kondisi Geometrik Jalan

3. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor manusialah yang paling
berpengaruh terhadap permasalahan lalu lintas. Pada dasarnya, sebaik apapun tahap perencanaan
baik dari segi sarana (moda transportasi) ataupun dari segi prasarana (geometrik jalan) akan
5

menjadi percuma apabila tidak diiringi dengan pola pikir yang baik dari penggunanya. Menanggapi
hal tersebut maka salah solusi yang paling tepat dalam mengatasi permasalahan lalu lintas di area
Cicaheum yaitu pembenahan dari aspek penggunanya terlebih dahulu. Adanya penyuluhan tentang
kedisiplinan dalam penggunaan prasarana serta adanya sanksi tegas terhadap pelanggaran yang ada
merupakan hal yang dapat diterapkan dalam rangka penerapan solusi terhadap permasalahan lalu
lintas yang kian hari kian parah. Apabila dari aspek penggunanya sudah dinilai baik, langkah
selanjutnya yaitu penerapan solusi dari aspek prasarana (geometrik jalan).

4. Saran
Penerapan solusi dapat dilakukan dengan berbagai hal, diantaranya :
1. Pemasangan rambu-rambu pada area yang sering terjadi pelanggaran, baik itu ditujukan
untuk pengendara bermotor maupun pejalan kaki dan pedagang kaki lima.
2. Adanya penerapan aturan 3 in 1 supaya penggunaan mobil pribadi lebih efisien.
3. Peningkatan layanan sarana transportasi, seperti halte dan angkutan umum. Dengan hal
tersebut diharapkan pengguna kendaraan pribadi dapat beralih menggunakan angkutan
umum yang pada akhirnya akan berdampak pada pengurangan volume kendaraan pribadi.
4. Adanya sanksi yang tegas dan jelas terhadap para pelanggar, baik itu pengendara bermotor
maupun pejalan kaki dan pedagang kaki lima.
5. Apabila secara matematis terbukti bahwa perbandingan antara volume kendaraan dengan
kapasitas jalan lebih dari 0,7 maka perlu dilakukan penambahan kapasitas jalan, baik itu
pelebaran jalan, rekasaya arah lalu lintas, maupun pembuatan simpang tak sebidang.