Anda di halaman 1dari 4

F.3.

LAPORAN KEGIATAN UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK


SERTA KELUARGA BERENCANA
KEGIATAN PENYULUHAN MENGENAI ASI EKLUSIF
DI POSKESDES TABO-TABO
I.

LATAR BELAKANG
Modal dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam

kandungan disertai dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak usia dini, terutama
pemberian ASI eksklusif yaitu pemberian hanya ASI saja (termasuk kolostrum)
sesegera mungkin setelah lahir sampai bayi berumur 6 bulan tanpa pemberian
makanan lain seperti air, air gula, madu, pisang, dan sebagainya.
Konvensi Hak-hak Anak tahun 1990 antara lain menegaskan bahwa
tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak. Berarti ASI
selain merupakan kebutuhan, juga merupakan hak azasi bayi yang harus dipenuhi
oleh orangtuanya. Dan dalam pemberian ASI terdapat dukungan dari orang tua.
Dengan memberikan ASI, ibu menjadi lebih dekat dengan anak. Hal ini telah
dipopulerkan pada pekan ASI sedunia tahun 2013 dengan tema Dukungan
Menyusui : Lebih Dekat Dengan Ibu.
Menurut Survei Demografi

Kesehatan

Indonesia

(SDKI)

2013

menunjukkan peningkatan terhadap angka pemberian ASI eksklusif yaitu sebesar


42% dan masih jauh dibawah target dinkes yaitu sebesar 80%.
Dalam riset kesehatan dasar (Riskesdas 2013) menerangkan bahwa
menyusui sejak dini mempunyai dampak yang positif baik bagi ibu maupun
bayinya. Bagi bayi, menyusui mempunyai peran penting untuk menunjang
pertumbuhan, kesehatan, dan kelangsungan hidup bayi karena ASI kaya akan zat
dan antibodi. Presentasi proses mulai menyusu pada anak 0-23 bulan pada tahun
2010 dan 2013 menunjukkan bahwa proses menyusu kurang dari satu jam
( inisiasi menyusui dini) meningkat menjadi 34,5% dari 29,3% dengan daerah
presentasi tertinggi di Nusa Tenggara Barat ( 52,9%) dan terendah di Papua Barat
(21,7%). (Riskesdas, 2013)
Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan baru melalui Menteri
Kesehatan RI No. 450/Menkes/SK/IV/2004 mengenai pemberian ASI eksklusif
sampai bayi berusia 6 bulan dan dianjurkan untuk dilanjutkan sampai anak berusia
1

2 tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai. Pada tahun 2012 telah
terbit Peraturan Pemerintah (PP) nomor 33 tentang Pemberian ASI Eksklusif dan
telah diikuti dengan diterbitkannya 2 (dua) Peraturan Menteri Kesehatan yaitu :
Permenkes Nomor 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus
Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu dan Permenkes Nomor 39 Tahun 2013
tentang Susu Formula Bayi dan Produk Bayi Lainnya.
Ibu pemberi ASI secara eksklusif, ternyata juga mendapatkan manfaat lain
yang sangat berguna bagi kesehatannya. Dengan menyusui, si ibu bisa lebih
terlindungi dari ancaman kanker ovarium dan payudara. Hal ini disebabkan karena
proses menyusui mempunyai efek pada keseimbangan hormon wanita. Selain itu,
pemberian ASI segera setelah melahirkan akan meningkatkan kontraksi rahim,
yang berarti mengurangi risiko perdarahan setelah melahirkan. Ini karena pada
ibu yang menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna

untuk

penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan lebih cepat berhenti.Di samping


berdampak positif pada kesehatan, menyusui juga membantu ibu menurunkan
berat badan usai melahirkan. Karena ketika menyusui, sekitar 500 kalori terbakar
setiap harinya. Hingga, sangat memungkinkan si ibu memulihkan postur tubuhnya
seperti sebelum melahirkan. Bagi yang berencana ikut Keluarga Berencana (KB)
namun belum menemukan alat kontrasepsi yang pas dan tepat, aktivitas menyusui
secara eksklusif juga dapat menunda haid

dan kehamilan, sehingga dapat

digunakan sebagai alat kontrasepsi alamiah. Secara umum, metode ini dikenal
sebagai Metode Amenorea Laktasi (MAL).
II.

PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
ASI sudah diketahui keunggulannya, namun kecenderungan para ibu

untuk tidak menyusui bayinya secara eksklusif semakin besar. Data Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan, bayi yang mendapatkan ASI
Eksklusif di Indonesia hanya 15,3%. Masalah utama rendahnya pemberian ASI
Eksklusif di Indonesia adalah faktor sosial budaya dan kurangnya pengetahuan ibu
hamil, keluarga dan masyarakat. Pengetahuan ibu tentang ASI masih sebatas
pernah mendengar sehingga tidak begitu mendalam dan tidak memiliki
keterampilan untuk mempraktikannya. Ibu bekerja sehingga pemberian susu
2

formula satu-satunya jalan keluar dalam pemberian makanan bagi bayi.


Prilaku/sikap ibu kurang mengenai kolostrum seperti membuang kolostrum karena
dianggap tidak baik untuk bayi. Kurangnya rasa percaya diri ibu bahwa ASI tidak
cukup untuk bayinya. Dukungan suami dan keluarga yang rendah dalam praktik
ASI Eksklusif juga dapat mendorong ibu dalam memberikan makanan dan susu
formula kepada bayinya.
Selain itu, menurut bagian promkes Puskesmas Bungoro bahwa kesadaran
masyarakat mengenai pentingnya ASI Ekslusif masih sangat kurang.
III.

PEMILIHAN INTERVENSI
Oleh karena permasalahan yang biasa terjadi diatas pada ibu-ibu yang baru

melahirkan, maka dianggap perlu untuk memberikan penyuluhan mengenai ASI


ekslusif, dimana didalam penyuluhan tersebut diberitahukan mengenai pengertian
ASI ekslusif, kandungan serta manfaat pemberian ASI ekslusif, juga manfaat dan
keuntungan pemberian ASI ekslusif untuk ibu yang menyusui. Selain itu
diselipkan juga pengetahuan mengenai bagaimana teknik menyusu yang benar
sehingga ibu mengerti bagaimana cara menyusui bayi mereka.
IV.

PELAKSANAAN
Penyuluhan ASI ekslusif dilaksanakan di Poskesdes Tabo-Tabo pada

tanggal 8 Juli 2015 pada pukul 10.00 WITA. Penyuluhan menggunakan bantuan
Flip Chart. Penyuluhan dirangkaikan dengan diskusi dan tanya jawab antar
pemateri dengan peserta penyuluhan. Peserta penyuluhan terdiri dari ibu-ibu
peserta posyandu yang membawa bayinya untuk pemeriksaan rutin dan imunisasi
serta warga sekitar yang ingin melakukan pengobatan rutin.

V. EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
Persiapan kegiatan penyuluhan dilakukan satu minggu sebelumnya dengan
mempersiapkan peralatan dan bahan penyuluhan.
3

2. Evaluasi Proses
Peserta yang hadir kurang lebih 20 orang. Penyuluhan berjalan sebagaimana
yang diharapkan walaupun masih ada beberapa peserta yang tidak
memperhatikan dengan seksama. Peserta penyuluhan dirasa cukup antusias
mengikuti kegiatan penyuluhan dan sebagian besar peserta aktif dalam
kegiatan ini dengan memberikan pertanyaan.
3. Evaluasi Hasil
Peserta penyuluhan yang hadir mampu memberikan umpan balik kepada
pemateri mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada peserta
khususnya ibu-ibu yang memiliki bayi usia kurang dari 6 bulan. Hal ini
membuktikan bahwa peserta penyuluhan tertarik dan memperhatikan
penyuluhan yang telah diberikan.

PESERTA

PENDAMPING

dr. Ahmad Az Hari Nurdin

dr. Hj. Halima Hafid