Anda di halaman 1dari 37

Case Report Session

*Kepaniteraan Klinik Senior / 05-2014


**Pembimbing

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU


Silviana Sari, S.Ked*,
dr. Panggayuh Wilutomo, Sp.OG **

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RSUD RADEN MATTAHER JAMBI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014

LEMBAR PENGESAHAN
CASE REPORT SESSION
*Kepanitraan Klinik Senior/ 05-2014 **Pembimbing

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU


Silviana Sari, S.Ked*,
dr. Panggayuh Wilutomo, Sp.OG **

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RSUD RADEN MATTAHER JAMBI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014
Jambi, Mei 2014
Pembimbing,

dr. Panggayuh Wilutomo,Sp.OG


2

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan Casse Report
Session yang

merupakan syarat kelengkapan dalam mengikuti Kepaniteraan

Klinik Senior di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUD Raden Mattaher Jambi
dengan judul Kehamilan Ektopik Terganggu.
Terima kasih banyak penulis ucapkan kepada dr.Panggayuh Wilutomo,
Sp.OG yang telah bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing
penulis selama menjalani Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Obstetri dan
Ginekologi RSUD Raden Mattaher Penulis juga menyadari bahwa Clinical
Report Session ini masih banyak kekurangan dan belum sempurna. Oleh karena
itu, penulis sangat mengharapkan sumbangan kritik dan saran terhadap referat ini
agar nantinya dapat menjadi lebih baik. Semoga referat berjudul Kehamilan
Ektopik Terganggu ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua serta dapat
menambah wawasan.

Jambi, Mei 2014

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN.............................................................................. ii
KATA PENGANTAR....................................................................................... iii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
BAB II STATUS PASIEN................................................................................. 2
BAB III TINJAUAN PUSTAKA..................................................................... 10
3.1 Definisi ................................................................................................... 10
3.2 Epidemiologi............................................................................................ 10
3.3 Klasifikasi................................................................................................ 10
3.4 Etiologi..................................................................................................... 14
3.5 Patofisiologi............................................................................................. 15
3.6 Manifestasi Klinis.................................................................................... 18
3.7 Diagnosis................................................................................................. 20
3.8 Diagnosis Banding................................................................................... 24
3.9 Penatalaksanaan....................................................................................... 24
3.10 Prognosis................................................................................................ 27
BAB IV ANALISIS KASUS............................................................................ 27
BAB V KESIMPULAN.................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 32

BAB I

PENDAHULUAN
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan di tempat yang luar biasa,
dapat terjadi diluar rahim misalnya dalam tuba, ovarium, atau rongga perut, tetapi
dapat juga terjadi di dalam rahim yaitu cervix, pars interstitialis tubae atau dalam
tanduk rudimenter Rahim. Kebanyakan kehamilan ektopik terjadi di dalam tuba.1
Kehamilan ektopik merupakan penyebab 10% morbiditas dan mortalitas
pada ibu meningkat. Insidennya meningkat dalam 20 tahun terakhir. Di New
york dalam 4 tahun terdapat 2.38% kehamilan dengan ektopik, 2.07 di California,
dan 2.43% di Linois, resiko meningkat pada wanita kulit hitam dibandingkan
dengan wanita kulit putih. KE berulang pada 25% pasien. Hanya 50% yang dapat
hamil normal lagi.2
Sebagian besar kehamilan ektopik penyebabnya tidak diketahui, terdapat
berbagai

faktor

yang

mempengerahi

yaitu

lumen

tuba

yang

sempit,

(endosalpingitis, hypoplasia uteri, operasi plastik tuba), dinding tuba (perlekatan


perituba, dengan distorsi, lekukan tuba, tumor menekan dinding tuba), faktor lain
berupa migrasi ovum, fertilisasi invitro.1
Diagnosis Kehamilan ektopik ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan ginekologi, pemeriksaan lab, USG, dan
kuldosintesis.1 Penatalaksanaan dilakukan berupa laparotomi namun sebelumnya
lakukan perbaikan KU terlebih dahulu.1 Komplikasi kehamilan ektopik dapat
berupa syok irreversible, perlengketan yang dapat menyebabkan obstruksi usus,
DIC. 1 Kematian akibat KET dapat diturunkan dengan diagnosis yang tepat dan
persedian darah yang cukup, dan penaganna yang tepat. Sebagian wanita menjadi
steril setelah KET atau mengalami KE lagi pada tuba lainnya. Angka rekurensinya
sekitar 0-14.6% .

BAB II

STATUS PASIEN
2.1 Identitas Pasien
Nama

: Ny. S

Umur

: 241 tahun

Suku / Bangsa

: Melayu/ Indonesia

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: IRT

Alamat

: RT 08/RW 02.Kel.Paal V. Kec.Kota Baru

MRS

: 29 April 2014 pukul 20.50 WIB.

Nama Suami

: Tn. IJ

Umur

: 30 tahun

Suku / Bangsa

: Melayu/ Indonesia

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Supir

Alamat

: RT 08/RW 02.Kel.Paal V. Kec.Kota Baru

Datang ke ruang VK bagian Obsgyn RSUD Raden Mattaher via IGD, Hari
Selasa, Tanggal 29 April 2014 pukul 20.50 WIB.
2.2 Anamnesis
Keluhan Utama:
Pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah sejak + 2 hari yang lalu.

Riwayat perjalanan Penyakit/ Penyakit Sekarang :

Pasien mengeluh keluar darah berwarna merah segar sejak + 25 hari


yang lalu selama 3 hari, setelah itu, keluar flek-flek berwarna coklat
kehitaman, sedikit. Pasien mengeluh terlambat haid. Pasien mengeluh mual
dan muntah sejak 8 hari yang lalu. Sekarang pasien sudah tidak mengeluh
mual dan muntah lagi. 3 hari yang lalu, pasien mengeluh nyeri perut bagian
bawah disertai keluar darah dari jalan lahir yang berwarna flek-flek
kehitaman sedikit-sedikit. Riwayat demam tidak ada.
masuk rumah sakit pasien

1 hari sebelum

memeriksakan dirinya ke dokter spesialis

kandungan, setelah diperiksa pasien didiagnosis dengan kehamilan di luar


kandungan. Pasien direncanakan operasi hari ini di salah satu rumah sakit
swasta, tetapi pasien pulang atas permintaannya sendiri. Pasien lalu
memeriksakan dirinya ke RS RM pada hari ini pukul 20.50 WIB.
Data Kebidanan
1

Haid

Menarche

: Umur 13 tahun

HPHT

: 10-03-2014

Haid

: Teratur

Lama haid

: 8 Hari

Siklus

: 28 hari

Dismenorrhea

: Iya

Warna

: Merah tua,bergumpal

Bentuk perdarahan: encer

Bau Haid

: anyir

Flour Albous

:-

Kapan

:-

Lama

:-

Warna

:-

Banyak

:-

Riwayat Perkawinan

: Pasien menikah satu kali. Lamanya 1 Tahun. Pada

usia 20 tahun
P1

: ini

Riwayat Kontrasepsi

: tidak ada

Riwayat Kesehatan
1

Riwayat kesehatan keluarga


Keturunan kembar

: ada (suami pasien)

Penyakit Keturunan

: tidak ada

Perilaku kesehatan yang lalu


Penyakit menular / keturunan

: tidak ada

2.3 Pemeriksaan Fisik


Status Generalis

Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Vital Sign

TD

: 130/90 mmHg

HR

: 78 x/menit

RR

: 20 x/menit

Temp : 36,5 C

Berat badan

: 56 kg

Tinggi badan

: 158 cm

Pemeriksaan Fisik Umum


Kepala

Rambut

: Kebersihan cukup, rontok (-)

Wajah

: Pucat (+), sianosis (-), cloasma gravidarum (-)

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil

isokor, refleks cahaya (+/+)

THT

: Dalam batas normal

Mulut

: Simetris, bibir sianosis (-), gigi karies (-), gusi perdarahan


(-), lidah kotor (-)

Leher

: Pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), JVP


5 2 cmH2O

Thorax

Inspeksi

: Bentuk simetris kanan dan kiri, tarikan dada (-),


Retraksi (-), mammae dbn

Palpasi

: Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi

: Sonor pada semua lapangan paru

Auskultasi

o Pulmo : Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)


o Cor

: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

Inspeksi

: Simetris, abdomen datar, bekas luka operasi (-), striae (-),

linea (-)

Palpasi

: Supel, hepar dan lien tidak teraba, massa (-), nyeri tekan

(+)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Ekstremitas
4

: Simetris (+), akral dingin (-/-), edema (-/-), CRT < 2 detik

Pemeriksaan Ginekologi
a. Pemeriksaan luar : abdomen tegang, simetris, Tinggi Fundus Uteri tidak
teraba. Labia mayora minora simetris, pembengkakan kelenjar bartolini

(-), perdarahan 0,5 cc (+), Nyeri tekan pada perut bagian bawah (+),
nyeri lepas (+)
b. Pemeriksaan inspekulo : portio livide, OUE tertutup, fluor (-), fluxus (+)
darah tak aktif, erosi (-), laserasi (-), polip (-), infiltrasi (-)
c. Pemeriksaan bimanual:
Vulva/Vagina: oedem (-), mukosa vagina licin
serviks: portio lunak, OUE tertutup, nyeri tekan portio (+), nyeri
goyang portio (+).
Adnexa/parametrium: kanan-kiri tegang
Cavum Douglas: tidak menonjol.
2.5

Pemeriksaan Penunjang
Darah rutin (29 04 2014)
Hb

: 10,6 g/dl

Ht

: 31,1 L %

Eritrosit

: 3,48. 106/mm3

Leukosit

: 6,4.103/mm3

Trombosit

: 252.103/mm3

Golongan Darah: B
Kimia darah (29 04 2014)
GDS

: 105 mg/dl

Urine rutin (29 024 2014)


Gravindex Test : (+)
Hb serial:
Hb I : 10,6 g/dl
Hb II: 10,2 g/dl
Hb III: 10,1 g/dl
Hb IV: 10,2 g/dl

10

Hasil :
-

Uterus lebih besar , bentuk antefleksi ukuran 9,6 x 5,8 x 5,8


cm.

Tampak gambaran hyperplasia ekogenik intra cavum uteri.

Massa (-), cairan bebas (-)

Saran : Laparotomi

2.6 Diagnosis Kerja


G1P0A0 gravida 8-9 minggu + perdarahan pervaginam susp.KET
2.7 Penatalaksanaan
Jam 20.50 WIB
Rawat inap
IVFD RL 20 gtt/menit
Observasi keadaan umum, Tanda Vital dan perdarahan.
Bed rest total
Konsul ke dr.Herlambang, pemeriksaan Hb serial
Rencana USG besok pagi
Rencana laparotomi
Persiapan operasi (izin, obat)
2.8 Prognosis

11

Quo ad vitam et fungsionam : dubia at bonam

2.8 Follow up
Tabel 2.1 Follow up pasien
Tanggal
30/04/14

Jam
12.30

Follow up
Pasien diantar ke OKE

Ket.

WIB
(OKE)

(30-042014)

12.30

Diagnosis pre operatif :G1P0A0 gravida 8-9

WIB

minggu suspek KET


Diagnosis post operatif : ruptur tuba Fallopii
pars ampularis dextra
Jaringan yang dieksisi : tuba fallopii dextra
Macam operatif : salpingektomi dekstra
Laporan operasi
1. Penderita tidur di meja operasi dengan
spinal anestesi
2. Insisi dinding abadomen sampai
peritoneum terbuka
3. Tampak darah dalam cavum abdomen
4. Lakukan eksplorasi uterus
5.

Ovarium sinistra dalam batas normal,


ovarium dextra, tuba kanan ruptur pars
ampularis dextra, dilakukan
salfingektomi dextra.

6. Bekuan darah dibersihkan


7. Perdarahan baru (-)
8. Tutup dinding abdomen lapis demi
lapis.
9. Tindakan selesai

12

Instruksi post operasi


Terapi IVFD RL:NaCl 32 gtt/menit
Inj. Cefotaxim 2x1 ampul
Inj. Alinamin F 3x1 ampul
Inj. Ketorolac 3x1 ampul.
Puasa sampai flatus (+)
Observasi KU dan tanda-tanda vital.
01-052014

06.00

S: Nyeri luka post operasi

WIB

O: TD: 110/80 mmHg, N: 86 x/m, S:36,5 C RR:


18x/m
A: post op salpingektomi a.i KET hari II
P:

02-052014

06.00

IVFD RL :32 gtt/m

Inj. Ceftriaxone 3x1 amp

Inj. Ketorolac 3x1 amp

Inj.Alinamin F 3x1 amp

Post transfusi kolf I


S: Masih keluar darah warna merah kehitaman,

WIB

sebanyak 1 kali ganti pembalut


O: TD: 110/80 mmHg, N: 72 x/m, RR: 18 x/m, S:
36,5 C, HB: 9,6 g/dl
A: post op salpingektomi dekstra a.i KET hari III
P:

IVFD RL :32 gtt/m

Inj. Ceftriaxone 3x1 amp

Inj. Ketorolac 3x1 amp

Inj.Alinamin F 3x1 amp

Post transfusi kolf I

Pasien boleh pulang

13

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 DEFINISI
Kehamilan ektopik ialah suatu kehamilan yang pertumbuhan sel telur
yang telah dibuahi tidak menempel pada dinding endometrium kavum uteri. 1
Tempat kehamilan normal ialah di dalam cavum uteri. Kehamilan ektopik dapat
terjadi di luar rahim misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut tetapi dapat
juga terjadi di dalam serviks, pars interstitialis tuba, atau dalam tanduk rudimenter
Rahim. Lebih dari 95 % kehamilan ektopik berada di saluran telur (Tuba
fallopii).1,3
3.2 EPIDEMIOLOGI
Kehamilan ektopik ditemukan pada hampir 1% kehamilan, dan lebih dari
90% kasus implantasi terjadi di tuba fallopii (kehamilan tuba). 3 D Indonesia,
kejadiannya sekitar 5-6 dari 1.000 kehamilan.1 Risiko kematian akibat kehamilan
ekstra uterin lebih besar daripada angka kelahiran per vaginam atau induksi
aborsi. Insidensi kehamilan ektopik pada wanita bukan berkulit putih lebih tinggi
dibandingkan wanita berkulit putih.3

3.3 KLASIFIKASI
Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba fallopii (paling sering,
90-95% dengan 70-80% diampula). Sangat jarang terjadi d iovarium, cavum
14

abdominal, canalis servikalis, dan intraligamenter. Karena itu kehamilan ektopik


sering diklasifikasikan menjadi 1,3,4
1. Kehamilan ektopik tuba, dibedakan menjadi :
- Kehamilan pars ampularis tuba (kasus terbanyak 55%)
- Kehamilan pars ishtmika tuba (25%)
- Kehamilan pars interstitialis tuba (2%)
- Kehamilan pars infundibulum tuba
2. Kehamilan ektopik di luar tuba, dibedakan menjadi :
- Kehamilan ovarial
- Kehamilan intraligamenter
- Kehamilan servikal
- Kehamilan abdominal
- Kehamilan heterotropik, kehamilan ganda dimana satu janin berada di
kevum uteri sedangkan yang lain merupakan kehamilan ektopik.

Gambar 3.1 Lokasi Kehamilan Ektopik


1. KEHAMILAN EKTOPIK TUBA
Adalah kehamilan yang terjadi pada tuba falopii, implantasi patologik
di dinding lumen tuba paling sering, karena tuba merupakan jalur utama
perjalanan ovum.3-6

15

Gambar 3.2 Kehamilan Tuba

Kehamilan ektopik lain (< 5%)


Terjadi di serviks uterus, ovarium atau abdominal. Kehamilan
servikal jarang dijumpai, biasanya terjadi abortus spontan didahului oleh
perdarahan yang makin lama makin banyak dan jarang sekali berlangsung
lewat 20 minggu. 1
Kehamilan ovarial terjadi apabila spermatozoa memasuki folikel
de graaf yang baru saja pecah, dan menyatukan diri dengan ovum yang
masih tinggal dalam folikel. 1
Untuk kehamilan abdominal lebih sering merupakan kehamilan
abdominal sekunder dimana semula merupakan kehamilan tuba yang
kemudian abortus dan meluncur ke abdomen dari ostium tuba pars
abdominalis yang kemudian embrio mengalami reimplantasi di kavum
abdomen, misalnya di mesenterium/mesovarium atau di omentum.
Kehamilan abdominal primer sangat jarang ditemukan, terjadi apabila
ovum dan permatozoa bertemu dan kemudian bersatu di dalam satu tempat
pada peritoneum dalam rongga perut, dan kemudian juga berimplantasi di
tempat tersebut. 1

16

Gambar 2.2. Kehamilan abdominal

Kehamilan intraligamenter
Kehamilan ini jumlahnya sangat sedikit. Kehamilan intraligamenter
berasal dari kehamilan ektopik dalam tuba yang pecah. Konseptus yang
terjatuh ke dalam ruangan ekstra peritoneal ini apabila lapisan korionnya
melekat dengan baik dan memperoleh vaskularisasi di situ fetusnya dapat
hidup dan berkembang dan tumbuh membesar. Dengan demikian proses
kehamilan ini serupa dengan kehamilan abdominal sekunder karena keduanya
berasal dari kehamilan ektopik dalam tuba yang pecah. 1

17

Gambar 2.3. Kehamilan intraligamenter

Kehamilan heterotopik
Merupakan kehamilan ganda di mana satu janin berada di kavum uteri
sedangkan yang lain merupakan kehamilan ektopik. Kejadian sekitar 15.000 40.000 kehamilan. 1
Kehamilan heterotopik dapat di bedakan atas :

a. Kehamilan kombinasi (Combined Ectopik Pregnancy) yaitu kehamilan yang


dapat berlangsung dalam waktu yang sama dengan kehamilan intrauterin
normal.
b. Kehamilan ektopik rangkap (Compound Ectopic Pregnancy) yaitu terjadinya
kehamilan intrauterin setelah lebih dahulu terjadi kehamilan ektopik yang telah
mati atau pun ruptur dan kehamilan intrauterin yang terjadi kemudian
berkembang seperti biasa.

Kehamilan ektopik bilateral


Kehamilan ini jumlahnya sangat sedikit.
3.4 ETIOLOGI
Etiologi kehamilan ektopik sesuai dengan proses awal kehamilan
sejak pembuahan sampai nidasi. Bila nidasi terjadi diluar kavum uteri atau
di luar endometrium maka terjadilah kehamilan ektopik. Dengan demikian,
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam nidasi embrio
ke endometrium menjadi penyebab kehamilan ektopik. Faktor-faktor yang
disebutkan adalah sebagai berikut :1,3-6
1. Faktor tuba
- Faktor dalam lumen tuba
o Adanya peradangan atau infeksi pada tuba menyebabkan lumen
tuba menyempit atau buntu.
o Keadaan uterus yang mengalami hypoplasia dan saluran tuba yang
berkelok-kelok, panjang dapat menyebabkan fungsi silia tuba tidak
berfungsi dengan baik.
o Juga pada keadaan pasca operasi rekanalisasi tuba dapat
-

merupakan predisposisi terjadinya kehamilan ektopik.


Faktor di luar dinding tuba

18

Faktor tuba yang lain adalah adanya kelainan endometriosis tuba atau
divertikel saluran tuba yang bersifat kongenital.
Adanya tumor di sekitar saluran tuba, misalnya mioma uteri atau
tumor ovarium yang menyebabkan perubahan bentuk dan patensi tuba
2. Faktor abnormalitas dari zigot
Apabila tumbuh terlalu cepat atau tumbuh dengan ukuran besar, maka
zigot akan tersendat dalam perjalanan pada saat melalui tuba,
kemudian terhenti dan tumbuh di saluran tuba.
3. Faktor ovarium
Bila ovarium memproduksi ovum dan ditangkap oleh tuba yang
kontralateral, dapat membutuhkan proses khusus atau waktu yang
lebih panjang sehingga kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik
lebih besar.
4. Faktor hormonal
Pada akseptor, pil KB yang hanya mengandung progesterone dapat
mengakibatkan gerakan tuba melambat. Apabila terjadi pembuahan
dapat mengakibatkan terjadinya kehamilan ektopik.
5. Faktor lain
Termasuk di sini antara lain adalah pemakaian IUD dimana proses
peradangan yang dapat timbul pada endometrium dan endosalping
dapat menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik. Faktor umur
penderita yang sudah menua dan faktor perokok juga sering
dihubungkan dengan terjadinya kehamilan ektopik.
Faktor resiko lain yang meningkatkan kejadian kehamilan ektopik
meliputi : banyaknya pasangan seksual, terminasi kehamilan sebelumnya,
keguguran, seksio sesarea, wanita yang subfertil, reproduksi buatan seperti
fertilisasi in vitro, kehamilan heterotopik dan riwayat kehamilan ektopik. 6

3.5 PATOLOGI
Proses implantasi zigot pada dinding tuba pada dasarnya sama
dengan implantasi zigot di dalam kavum uteri. Nidasi zigot pada dinding
tuba dapat terjadi secara :3-4

19

Kolumner : telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping,


perkembangan zigot menjadi terbatas karena kurangnya vaskularisasi

dan biasanya zigot mati secara dini dan kemudian direabsorpsi.


Interkolumner : telur bernidasi di antara dua jonjot endosalping.
Implantasi telur dapat bersifat columner ialah pada puncak lipatan

selaput tuba atau intercolumner ialah antara lipatan selaput lendir. Setelah
telur menembus epitel, maka pada implantasi intercolumner telur masuk
ke dalam lapisan otot tuba karena tidak ada desidua: pada implantasi
columner telur terletak didalam lipatan selaput lendir. Walaupun
kehamilan terjadi diluar rahim, rahim membesar juga karena hypertropi
dari otot-ototnya disebabkan pengaruh hormon-hormon yang dihasilkan
trofoblas : begitu pula endometriumnya berubah menjadi desidua vera.3,5
Menurut Arias Stella perubahan histologis pada endometrium
cukup khas untuk membantu diagnosis. Setelah janin mati, desidua ini
mengalami degenerasi dan dikeluarkan sepotong demi sepotong, tapi
kadang-kadang lahir secara keseluruhan hingga merupakan cetakan dari
cavum uteri. Pelepasan desidua ini disertai dengan perdarahan dan
kejadian ini menerangkan gejala perdarahan pervaginam pada kehamilan
ektopik terganggu. Sebagian besar kehamilan tuba mengalami gangguan
pada umur kehamilan 6-10 minggu.
Adapun kehamilan tuba dapat mengalami beberapa perubahan
sebagai berikut :1,3,4
- Hasil konsepsi mati dini dan direabsorpsi
Pada implantasi kolumner, zigot cepat mati karena kurangnya
vaskularisasi dan dengan mudah terjadi resorbsi total. Dalam keadaan
ini, penderita tidak mengeluh apa-apa, hanya haidnya terlambat untuk
-

beberapa hari.
Abortus ke dalam lumen tuba (abortus tubaria)

20

Gambar 3.3 Abortus Tubae


Telur bertambah besar menembus endosalpinx (selaput lendir tuba)
masuk ke dalam liang tuba dan di keluarkan ke arah infundibulum.
Hal ini terutama terjadi kalau telur berimplantasi di daerah ampulla
tubae. Abortus ke dalam lumen tuba kira-kira terjadi antara minggu ke
6 12. Perdarahan yang timbul karena abortus keluar dari ujung tuba
dan mengisi cavum douglas, terjadilah haematocele retrouterina. Ada
kalanya ujung tuba tertutup karena perlekatan-perlekatan hingga darah
berkumpul di dalam tuba dan menggembungkannya timbullah
-

haematosalpinx.3-4
Ruptur dinding tuba

21

Gambar 3.4 Ruptur Dinding Tuba


Ruptur dinding tuba sering terjadi jika zigot berimplantasi pada
isthmus dan biasanya terjadi pada kehamilan awal, sedangkan (ruptur
pada pars interstitialis) biasanya terjadi pada kehamilan lanjut. Faktor
utama yang menyebabkan ruptur adalah penembusan villi choriales ke
dalam tunica muscularis tuba yang berlanjut ke peritoneum. Ruptur
dapat terjadi secara spontan atau karena trauma ringan seperti koitus
dan pemeriksaan vaginal selanjutnya akan terjadi perdarahan dalam
cavum abdominalis hingga bisa mengakibatkan syok dan kematian.
Bila pseudokapsularis ikut pecah maka akan terjadi juga perdarahan
dalam lumen tuba dan darah akan mengalir ke dalam kavum abdomen
melalui ostium tuba abdominal.3-6
Jika kemudian hasil abortus tidak dapat dikeluarkan karena
terjadi sumbatan, maka ruptur sekunder dapat terjadi lagi hal ini terjadi
karena dinding tuba menipis oleh invasi trofoblas dan tekanan yang
ditimbulkan oleh timbunan darah di dalam lumen tuba. Kadangkadang ruptur terjadi di dalam ligamentum latum dan terbentuk

22

hematoma intraligamenter. Jika janin dapat bertahan hidup, maka akan


terjadi kehamilan intraligamenter.3-4
Jika ruptur cukup besar, maka seluruh janin dapat dikeluarkan
dari tuba ke dalam cavum abdominalis dengan masih diselubungi
kantong amniom dan plasenta yang masih utuh, sehingga ada
kemungkinan bagi janin untuk terus tumbuh dan terjadilah apa yang
dinamakan kehamilan abdominal sekunder. Tapi jika ruptur yang
terjadi hanya berupa robekan kecil, perdarahan terjadi tanpa
pengeluaran hasil konsepsi dari tuba. Bila hal ini dibiarkan dan
janinnya mati, maka janin tetap berada dalam tubuh ibu dan jika ada
ion Ca yang mengimpregnansi maka akan berkembang menjadi
lithopedion.1,3-4
3.6 MANISFESTASI KLINIS
Gambaran klinis pada kehamilan tuba yang belum terganggu tidak
khas, sampai akhirnya terjadi ruptur tuba. Kehamilan ektopik biasanya baru
memberikan gejala-gejala yang jelas dan khas kalau sudah terjadi ruptur
tuba. Gejala khasnya adalah timbul rasa sakit pada perut mendadak yang
kemudian disusul dengan syok atau pingsan. Walau pun demikian tanda
dan gejala kehamilan tuba terganggu sangat berbeda. Gejala dan tanda
bergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau ruptur
tuba, tuanya kehamilan, derajat perdarahan yang terjadi, dan keadaan umum
penderita sebelum hamil.
Adapun gejalanya adalah sebagai berikut:
- Adanya gejala kehamilan, misalnya amenorrhea, mual, muntah, dan
sebagainya. Lamanya amenorrhea tergantung dari kehidupan janin.
Sebagian pasien tidak mengalami amenorrhea karena kematian janin
-

terjadi sebelum haid berikutnya.


Nyeri perut bagian bawah, merupakan keluhan utama pada kehamilan
ektopik terganggu. Pada ruptur tuba, nyeri perut bagian bawah terjadi
secara tiba-tiba dan sering disertai dengan perdarahan hingga

menyebabkan penderita pingsan dan mengalami syok.


Nyeri pada daerah bahu dan leher, diikuti tanda-tanda perdarahan
abdominal. Bisa disertai dengan ada tidaknya distensi perut dan pada
23

perkusi didapat bunyi pekak beralih. Biasanya terjadi pada abortus


tuba dimana nyeri tidak begitu hebat dan tidak kontinu. Rasa nyeri
mula-mula terjadi pada satu sisi. Tetapi setelah darah masuk ke dalam
cavum abdominale, rasa nyeri menjalar ke bagian tengah atau ke
seluruh perut bagian bawah. Darah dalam cavum abdominal
merangsang diafragma sehingga menyebabkan nyeri pada bahu. Jika
terbentuk hematocele retrouterina, maka ibu merasakan nyeri pada
-

saat defekasi.
Vaginal bleeding, perdarahan pervaginam merupakan tanda penting
pada kehamilan ektopik. Hal ini menandakan adanya kematian janin.
Perdarahan ini berasal dari cavum uteri karena adanya pelepasan
desidua. Perdarahan yang berasal dari uterus biasanya tidak banyak
dan berwarna coklat tua. Perdarahan berarti gangguan pembentukan
Human Chorionic Gonadotropin, jika plasenta mati, desidua dapat

dikeluarkan seluruhnya.
Pemeriksaan vagina: Nyeri goyang pada pergerakan serviks atau
slinger pijn. Pada pemeriksaan bimanual didapatkan massa pada cul

de sac atau adnexa.


Anemia atau syok hipovolemik, terjadi karena perdarahan, sering

diikuti penurunan tekanan darah dan frekuensi nadi yang meningkat


Pembesaran uterus : pada kehamilan ektopik uterus membesar juga
karena pengaruh hormon-hormon kehamilan tapi pada umumnya
sedikit lebih kecil dibandingkan dengan uterus pada kehamilan

intrauterine yang sama umurnya.


Tumor dalam rongga panggul : dalam rongga panggul teraba tumor

lunak kenyal yang disebabkan kumpulan darah di tuba dan sekitarnya


Perubahan darah : dapat diduga bahwa kadar hemaglobin turun pada
kehamilan tuba yang terganggu, karena perdarahan yang banyak ke
dalam rongga abdomen. Perdarahan juga menimbulkan angka leukosit
yang tinggi.

Trias klasik yang sering ditemukan adalah nyeri abdomen,


perdarahan vagina abnormal, dan amenorrhea.10

24

3.7 Diagnosis
Jika perempuan dalam masa reproduksi datang dengan nyeri perut
bagian bawah atau kelainan haid, maka kemungkinan kehamilan ektopik
harus dipikirkan. Yang harus kita lakukan adalah :3-6, 8-9
- Anamnesis
Biasanya ibu mengeluh terlambat haid (amenorrhea) dan kadangkadang terdapat gejala subjektif kehamilan. Kadang didapat nyeri
perut bagian bawah, nyeri bahu dan tenesmus, perdarahan biasanya
-

terjadi setelah nyeri perut bagian bawah


Pemeriksaan umum
Keadaan umum dan tanda vital dapat baik sampai buruk. Penderita
tampak kesakitan dan pucat. Pada perdarahan dalam rongga abdominal
dapat dijumpai tanda syok atau akut abdomen. Cavum douglas yang
menonjol menunjukkan adanya hematocele retrouterina. Suhu kadang

naik sehingga menyulitkan pembedaan dengan infeksi pelvik


Pemeriksaan Ginekologi
Tanda kehamilan mungkin dapat ditemukan. Nyeri pada pergerakan
serviks positif. Uterus terasa sedikit membesar dan kadang teraba
massa di samping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Perabaan

pada kavum douglas menonjol dan nyeri karena terisi oleh darah.
Pemeriksaan Laboratorium
Dilakukan dengan pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah
merah berguna menegakkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu,
terutama bila terdapat tanda-tanda perdarahan intraabdominal.
Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit dilakukan secara serial
dengan jarak satu jam selama 3 kali berturut-turut. Bila ada penurunan
Hb dan Ht dapat mendukung diagnosis kehamilan ektopik terganggu.
Perlu diingat bahwa penurunan HB baru terlihat setelah 24 jam.
Penghitungan leukosit berturut-turut menunjukkan adana perdarahan
bila leukosit meningkat. Untuk membedakan kehamilan ektopik
dengan infeksi pelvic dapat diperhatikan jumlah leukosit yang
melebihi 20.000. Tes urine -HCG (+), tapi bisa juga (-). Tes

25

kehamilan berguna apabila positif, akan tetapi hasil tes kehamilan


-

negatif tidak menyingkirkan kemungkinan adanya kehamilan ektopik.9


Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Ultrasonografi
Pemeriksaan

USG

dapat

dilakukan

perabdominam

atau

pervaginam. Diagnosis pasti kehamilan ektopik melalui pemeriksaan


ultrasonografi ialah apabila ditemukan kantung gestasi yang berisi
mudigah hidup yang letaknya di luar cavum uterus atau gambaran
uterus yang tidak ada kantung gestasinya. Gambaran ini dijumpai pada
5-10% kasus. Pada kehamilan ektopik terganggu sering tidak
ditemukan kantung gestasi ektopik.apabila sudah terganggu atau
ruptur, maka gambaran kantung gesatsi sudah tidak jelas. Tetapi akan
mendapatkan massa bangunan hiperekoik yang yang tidak beraturan,
tidak berbatas tegas, dan di sekitarnya didapatkan cairan bebas
(gambaran darah intra abdominal). Gambaran yang tampak ialah
cairan bebas dalam rongga peritoneum terutama di kavum Douglas.5
Sebagian besar kehamilan ektopik tidak memberikan gambaran
yang spesifik. Uterus mungkin besarnya normal atau mengalami
sedikit pembesaran yang tidak sesuai dengan usia kehamilan.
Endometrium menebal ekogenik sebagai akibat reaksi desidua. Kavum
uteri berisi cairan eksudat yang diproduksi oleh sel-sel desidua, yang
pada pemeriksaan tampak sebagai struktur cincin anekoik yang disebut
sebagai kantung gestasi palsu. Seringkali dijumpai massa tumor di
daerah adneksa, yang gambarannya sangat bervarisi. Mungkin terlihat
kantung gestasi yang masih utuh dan berisi mudigah, mungkin hanya
berupa massa ekogenik dengan batas irregular, ataupun massa
kompleks yang terdiri atas sebagian ekogenik dan anekoik. Perdarahan
intra abdomen memberikan gambaran berupa massa anekoik di kavum
douglas yang mungkin meluas sampai ke bagian atas rongga abdomen.
Bila sudah terjadi bekuan darah, gambaran massa ekogenik yang tidak
homogen.
26

Kuldosentesis
Merupakan suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah
terdapat darah dalam kavum Douglas. Cara ini sangat berguna untuk
membuat diagnosis kehamilan ektopik terganggu. Teknik kuldosentesis
yaitu :
-

Penderita dibaringkan dalam posisi litotomi.

Vulva dan vagina dibersihkan dengan antiseptik

Spekulum dipasang dan bibir belakang porsio dijepit dengan


tenakulum, kemudian dilakukan traksi ke depan sehingga
forniks posterior ditampakkan.

Jarum spinal no. 18 ditusukkan ke dalam kavum douglas dan


dengan semprit 10 ml dilakukan pengisapan.

Bila

pada

pengisapan

ditemukan

darah,

maka

isinya

disemprotkan pada kain kasa dan diperhatikan apakah darah


yang dikeluarkan merupakan:
-

Hasil positif bila dikeluarkan merupakan darah berwarna coklat


sampai hitam yang tidak membeku atau berupa bekuan-bekuan
kecil, darah ini menunjukkan darah hematokel retrouterina.

Hasil negatif bila cairan yang dihisap berupa :

Cairan jernih yang mungkin berasal dari cairan peritoneum


normal atau kista ovarium yang pecah.

Nanah yang mungkin berasal dari penyakit radang pelvis atau


radang appendiks yang pecah (nanah harus dikultur).

Darah segar berwarna merah yang dalam beberapa menit akan


membeku, darah ini berasal dari arteri atau vena yang tertusuk.

27

Gambar 3.5 Metode Kuldosentesis


Laparoskopi
Hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostik terakhir
untuk kehamilan ektopik apabila hasil penilaian prosedur diagnostik
yang lain meragukan. Melalui prosedur laparoskopik, alat kandungan
bagian dalam dapat dinilai. Secara sistematis dinilai keadaan uterus,
ovarium, tuba, kavum Douglas dan ligamentum latum. Adanya darah
dalam rongga pelvis mempersulit visualisasi alat kandungan tetapi hal
ini menjadi indikasi untuk dilakukan laparotomi.
3.8 Diagnosis Banding
-

Salpingitis, gejalanya sama, tetapi pada pemeriksaan tes kehamilan


negatif, peningkatan leukosit dan suhu.

Abortus immines, perdarahan biasanya banyak, nyeri pada perut bagian


bawah, nyeri goyang portio negatif.

Appendicitis, Amenorrhea atau perdarahan pervaginam tidak ada. Nyeri


perut kanan bawah yang terus menerus, demam dan gejala pada saluran
cerna. Tes kehamilan negatif.

Kista corpus uteri


Mirip kehamilan ektopik, yaitu ada amenorrhea dan adanya cairan bebas
d iperitoneum yang diikuti vaginal bleeding secara tiba-tiba. Karena kista
yang ruptur mengeluarkan progesteron akibatnya terjadi progesterone

withdrawl bleeding.5
Infeksi pelvik

28

Gejala biasanya timbul waktu haid datang dan jarang mengalami


amenorrhea. Adanya nyeri perut bawah dan tahanan yang dapat diraba
pada pemeriksaan vagina umumnya bilateral. Leukositosis lebih tinggi
dari kehamilan ektopik. Gravindex test (-), demam umumnya lebih tinggi5
-

Torsi kis toma ovarii


Gejala dan tanda kehamilan muda, amenore, dan perdarahan pervaginam
biasanya tidak ada. Tumor pada kista ovarium lebih besar dan lebih
bulat dibandingkan kehamilan ektopik terganggu.

3.9 Penatalaksanaan
Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi.
Dalam

tindakan

demikian

beberapa

hal

perlu

diperhatikan

dan

dipertimbangkan yaitu :1 kondisi pasien pada saat itu, keinginan pasien


mengenai fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, kondisi organ
pelvik, kemampuan tekhnik bedah dokter dan kemampuan tekhnologi yang
ada.
Hasil

pertimbangan

ini

menentukan

apakah

perlu

dilakukan

salpingektomi pada kehamilan tuba atau dapat dilakukan pembedahan


konservatif yaitu hanya dilakukan salpingostomi atau reanastomosis tuba.
Apabila kondisi penderita buruk, misalnya dalam keadaan syok, lebih baik
dilakukan salpingektomi.
1. Laparotomy
Sebelumnya harus dikoreksi terlebih dahulu keadaan syoknya. Untuk
menghentikan perdarahan, klem pada ramus tubarius a.uterina dan
-

ramus tubarius a.ovarica lalu dilakukan tindakan :1,3,4


Salpingektomi (pengangkatan tuba), jika tuba falopi rusak berat, tetapi
jika hanya segmen tertentu yang rusak lakukan ends to end

anastomosis (potong didua tempat lalu sambung ujung-ujungnya)


Salpingostomi (membuat lubang pada tuba dan membuang hasil

konsepsi dan darah)


Salpingografi (pengikatan tuba) jika hanya ada robekan kecil.

29

2. Pemberian kemoterapi diberikan jika :


Pada kasus kehamilan ektopik di pars ampularis tuba yang belum
pecah pernah dicoba ditangani menggunakan kemoterapi untuk
menghindari tindakan pembedahan. Kriteria kasus yang diobati
dengan cara ini ialah:
a. Kehamilan di pars ampularis tuba belum pecah
b. Diameter kantong gestasi 4cm
c. Perdarahan dalam rongga perut 100 ml
d. Tanda vital baik dan stabil
Obat yang digunakan ialah methotreksat (MTX) 1 mg/kgBB i.v. dan
faktor sitrovorm 0,1 mg/kgBB i.m. berselang seling setiap hari selama 8
hari. Methotrexate merupakan analog asam folat yang akan mempengaruhi
sintesis DNA dan multiplikasi sel dengan cara menginhibisi kerja enzim
Dihydrofolate reduktase. MTX ini akan menghentikan proliferasi trofoblas.
Pemberian MTX dapat secara oral, sistemik IV, IM atau injeksi lokal
dengan panduan USG atau laparoskopi. Dari seluruh 6 kasus yang diobati,
satu kasus dilakukan salpingektomi pada hari ke-12 karena gejala abdomen
akut, sedangkan 5 kasus berhasil diobati dengan lain.1,3
Efek samping yang timbul tergantung dosis yang diberikan. Dosis yang
tinggi akan menyebabkan enteritis hemoragik dan perforasi usus, supresi
sumsum tulang, nefrotoksik, disfungsi hepar permanen, alopesia,
dermatitis, pneumonitis, dan hipersensitivitas. Pada dosis rendah akan
menimbulkan dermatitis, gastritis, pleuritis, disfungsi hepar reversibel,
supresi sumsum tulang sementara. Pemberian MTX biasanya disertai
pemberian folinic acid (leucovorin calcium atau citroforum factor) yaitu
zat yang mirip asam folat namun tidak tergantung pada enzim dihydrofolat
reduktase. Pemberian folinic acid ini akan menyelamatkan sel-sel normal
dan mengurangi efek MTX pada sel-sel tersebut. Sebelumnya penderita
diperiksa dulu kadar hCG, fungsi hepar, kreatinin, golongan darah. 11

30

Pada hari ke-4 dan ke-7 setelah pemberian MTX, kadar hCG diperiksa
kembali. Bila kadar hCG berkurang 15% atau lebih, dari kadar yang
diperiksa pada hari ke-4 maka MTX tidak diberikan lagi dan kadar hCG
diperiksa setiap minggu sampai hasilnya negatif atau evaluasi dapat
dilakukan dengan menggunakan USG transvaginal setiap minggu. Bila
kadar hCG tidak berkurang atau sebaliknya meningkat dibandingkan kadar
hari ke-4 atau menetap selama interval setiap minggunya, maka diberikan
MTX 50 mg/m2 kedua. 11
Stoval dan Ling pada tahun 1993 melaporkan keberhasilan metoda ini
sebesar 94,3%. Selain dengan dosis tunggal, dapat juga diberikan
multidosis sampai empat dosis atau kombinasi dengan leucovorin 0,1
mg/kgBB. 11
Yang perlu diperhatikan dalam pemberian MTX yaitu:11
a. Hindari hubungan seks vagina sampai HCG tidak terdeteksi
b. Hindari kehamilan selama tiga bulan karena risiko teoritis teratogenicity
dengan methotrexate
c. Hindari pemeriksaan panggul selama pengawasan terapi methotrexate
karena risiko ruptur tuba
d. menghindari paparan sinar matahari untuk membatasi risiko dermatitis
methotrexate
e. Hindari makanan dan vitamin yang mengandung asam folat
f. Hindari obat anti-inflamasi nonsteroid, interaksi dengan methotrexate
dapat menyebabkan penekanan sumsum tulang, anemia aplastik, atau
toksisitas gastrointestinal. Parasetamol dengan atau tanpa kodein
dianjurkan untuk menghilangkan rasa sakit.
3.10 Prognosis
Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan
diagnosis dini dan persedian darah yang cukup. Akan tetapi jika pertolongan
terlambat, angka kematian dapat tinggi.1
Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat
bilateral. Sebagian perempuan menjadi steril setelah mengalami kehamilan

31

ektopik lagi pada tuba yang lain. Angka kehamilan ektopik yang berulang
dilaporkan antara 0%-14.6%. Untuk wanita dengan anak yang sudah cukup,
sebaiknya pada operasi dilakukan salpingektomi bilateralis.3-6

BAB IV

ANALISIS KASUS
1. Apakah diagnosis pada kasus ini sudah tepat ?
Berdasarkan anamnesis terhadap Ny.S, 21 tahun, pasien mengeluhkan
nyeri pada perut bagian bawah disertai dengan perdarahan yang berwarna merah
segar sejak 25 hari yang lalu. Setelah itu pasien mengeluh keluar flek-flek coklat
kehitaman keluar dari jalan lahir dalam jumlah sedikit. Pasien mengaku terlambat
haid sejak 12 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh mual dan muntah sejak 8 hari
yang lalu, beberapa diagnosis dengan keluhan hamil muda dengan nyeri perut
bagian bawah disertai dengan perdarahan dapat disebabkan oleh berbagai macam
penyakit, seperti kehamilan ektopik terganggu, abortus immines/abortus
incomplet, penyakit radang panggul, torsi kista ovarii, dan appendisitis. Akan
tetapi, adanya gejala dan tanda kehamilan serta adanya perdarahan pervaginam
yang juga dikeluhkan penderita dapat menyingkirkan kemungkinan torsi kista
ovarii.
Berdasarkan

pemeriksaan fisik dan ginekologi didapatkan tanda pasien

dalam keadaan hamil. Gravindex test positif, abdomen tegang, simetris, Tinggi

32

Fundus Uteri tidak teraba, perdarahan 0,5 cc (+), Nyeri tekan pada perut
bagian bawah (+), nyeri lepas (+).
Pemeriksaan inspekulo : portio livide, OUE tertutup, fluor (-), fluxus (+)
darah tak

aktif, erosi (-), laserasi (-), polip (-), infiltrasi (-). Pemeriksaan

bimanual: serviks: portio lunak, OUE tertutup, nyeri tekan portio (+), nyeri
goyang portio (+). Diagnosis banding seperti abortus immines dan abortus
incomplit dapat disingkirkan karena pada abortus perdarahan yang terjadi
berwarna lebih kemerahan (segar), rasa nyeri yang sering berlokasi di daerah
median, serta pada abortus tidak dapat diraba tahanan di samping atau di belakang
uterus, serta tidak terdapat nyeri goyang serviks. Selain itu, diagnosis kehamilan
disertai apendisitis akut juga dapat disingkirkan karena pada apendisitis tidak
ditemukan nyeri pada gerakan servik uteri seperti yang ditemukan pada penderita.
Nyeri perut bagian bawah pada apendisitis terletak pada titik Mc Burney. Jadi,
dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, kemungkinan diagnosis penderita adalah
kehamilan ektopik terganggu.
Untuk membantu penegakkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu,
maka dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan
laboratorium berupa gravindex test positif, pemeriksaan Hb serial, kuldosintesis
dan USG. Penurunan Hb secara bermakna dapat mengindikasikan bahwa
kemungkinan adanya perdarahan yang masih berlangsung (ongoing bleeding).
USG diperlukan untuk mengetahui letak kehamilan ektopik. Pada kasus ini hasil
pemeriksaan Hb serial menunjukkan adanya penurunan Hb tetapi belum cukup
bermakna. Hasil pemeriksaan USG menunjukkan adanya kehamilan ektopik yang
berlokasi di tuba fallopii pars ampularis. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
USG yang telah dilakukan, cukup mendukung ditegakkannya diagnosis KET pada
pasien ini.
Dalam menangani kasus kehamilan ektopik, beberapa hal harus
diperhatikan dan dipertimbangkan, yaitu: kondisi penderita, keinginan penderita
akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, dan kondisi anatomik organ
pelvis. Selanjutnya terapi yang dilakukan pada kasus ini adalah tindakan operatif
salpingektomi. Setelah tindakan operatif diberikan antibiotika Cefotaxim 2x1

33

ampul karena kehamilan ektopik biasanya berkaitan dengan gangguan fungsi


transportasi tuba yang disebakan oleh proses infeksi. Pemberian analgetik untuk
mengontrol nyeri pasca tindakan juga dapat diberikan seperti Ketorolac 3x1
ampul. pasien juga diberikan injeksi Alinamin 3x1 ampul dalam membantu daya
tahan tubuh dan pemulihan luka.
Sebagian besar penyebab kehamilan ektopik tidak diketahui. Penyebab
kehamilan ektopik dapat disebabkan oleh gangguan transportasi dari hasil
konsepsi (radang panggul, alat kontrasepsi dalam rahim (IUD), penyempitan
lumen akibat tumor, pasca tindakan bedah mikro pada tuba, abortus) dan kelainan
hormonal. Pada kasus ini, penyebab kehamilan ektopik pada pasien tidak
diketahui karena dari hasil anamnesis tidak ditemukan adanya faktor risiko yang
mungkin mendasari terjadinya kehamilan ektopik pada pasien ini.
Prognosis pada kasus ini adalah quo ad vitam: dubia ad bonam,dan quo ad
functionam : dubia ad bonam. Sebagian wanita setelah mengalami kehamilan
ektopik pada satu tuba, dapat mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba yang
lain. Ruptur dengan perdarahan intraabdominal dapat mempengaruhi fertilitas
wanita. Dalam kasus-kasus kehamilan ektopik terganggu terdapat 50-60%
kemungkinan wanita steril. Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan
antara 0-14,6%.
2. Apakah penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat?
Penanganan dalam kasus ini sudah dilakukan dengan tepat. yaitu
dilakukan tindakan laparotomi dengan dilakukannya tindakan salpingektomi
dekstra atas dasar lokasi kehamilan ektopik pada tuba fallopii pars ampullaris
yang sudah mengalami ruptur atau rusak berat. Menimbang kemampuan
tekhnik bedah dokter operator yang sangat baik dalam melakukan tindakan
salpingektomi.

34

BAB V
KESIMPULAN
1. Diagnosis pada kasus ini sudah tepat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan penunjang yaitu adanya tanda-tanda kehamilan ektopik terganggu.
2. Penyebab kehamilan ektopik pada pasien ini tidak diketahui.
3. Penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat yaitu dengan resusitasi cairan
tubuh dengan IVFD RL dan melakukan laparotomi dan dari hasil laparotomi
didapatkan ruptur tuba pars ampularis dekstra.
4. Angka rekurensi untuk terjadinya kehamilan ektopik pada wanita ini yaitu
sebesar 0-14,6%.

35

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Edisi keempat. Cetakan ketiga. Jakarta: PT
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2011.
2. Stulberg DB, Cain RL, Dahlquist I, Lauderdale DS. Ectopic pregnancy rates
in the Medicaid population. American Journal of Obstetrics & Gynecology
2013, 208:274.e1-7.
3. Chunningham FG, Gent NF, Leveno KJ, Gilstrap L, Hauth JC, Wenstrom KD.
Williams Obstetrics, Vol 1 Edisi 21. McGraw-Hill: EGC, 2006
4. Paket Pelatihan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED).
Edisi kelima. Jakarta: JNPK-KR; 2008.
5. Robbins S, Cotran R, Kumar V. Buku Ajar Patologi Robbins. Edisi ketujuh.
Jakarta: EGC; 2007.
6. Sepilian VP. Ectopic Pregnancy. 2014 Maret (diakses 20 Aprl 2014). Diunduh
dari: URL: http://www.emedicine.medscape.com/article/204923-overview
7. Anwar s, uppal t. recurrent viable ectopic pregnancy in the salpingectomy
stump.

2010

agustus

(diakses

april

2014).

diunduh

dari:

url:

http://www.minnisjournals.com.au

36

8. Prawirohardjo S. Ilmu Kandungan. Edisi kedua. Jakarta: PT Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo; 2009.
9. Sastrawinata S. Obstetri Fisiologi. Bandung: FK Unpad; 1981. Hal .49-69
10. Mansjoer, A. 2001. Kehamilan Ektopik Terganggu. Kapita Selekta
Kedokteran, Media Aesculapius. FKUI, Jakarta : 267-270.
11. Van Mello N M, Mol F, Adriaanse A H, Boss E A, Medical Management Of

Ectopic Pregnancy, Women And Newborn Health Service King Edward


Memorial Hospital, (diakses 10 Mei 2014) diunduh dari:
http://kemh.health.wa.gov.au/development/manuals/O
%26G_guidelines/sectionc/9/c9.4.2.pdf

37