Anda di halaman 1dari 4

F.4.

LAPORAN KEGIATAN UPAYA PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT


KEGIATAN PENYULUHAN GIZI BAYI DAN BALITA
MANAJEMEN KASUS GIZI BURUK PUSKESMAS BUNGORO
I.

LATAR BELAKANG
Masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di

Indonesia. Kekurangan gizi belum dapat diselesaikan, prevalensi masalah gizi


lebih dan obesitas mulai meningkat khususnya pada kelompok sosial ekonomi
menengah ke atas di perkotaan. Dengan kata lain, saat ini Indonesia tengah
menghadapi masalah gizi ganda. Hal ini sangat merisaukan karena mengancam
kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat diperlukan di masa
mendatang.
Kekurangan gizi pada umumnya terjadi pada balita karena pada umur
tersebut anak mengalami pertumbuhan yang pesat. Balita termasuk kelompok
yang rentan gizi di suatu kelompok masyarakat di mana masa itu merupakan masa
peralihan antara saat disapih dan mulai mengikuti pola makan orang dewasa.
Diperkirakan masih terdapat sekitar 1,7 juta balita terancam gizi buruk
yang keberadaannya tersebar di pelosok-pelosok Indonesia. Jumlah balita di
Indonesia menurut data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) Tahun 2007 mencapai 17,2% dengan laju pertumbuhan penduduk 2,7%
per tahun. United Nations Childrens Fund (UNICEF) melaporkan Indonesia
berada di peringkat kelima dunia untuk negara dengan jumlah anak yang
terhambat pertumbuhannya paling besar dengan perkiraan sebanyak 7,7 juta
balita.
Pemerintah terus berupaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
khususnya menangani masalah gizi balita karena hal itu berpengaruh terhadap
pencapaian salah satu tujuan Millennium Development Goals (MDGs) pada Tahun
2015 yaitu mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah
lima tahun. Prevalensi kekurangan gizi pada anak balita menurun dari 25,8 %
pada Tahun 2004 menjadi 18,4 % pada Tahun 2007, sedangkan Rencana
Pembangunan

Jangka

Menengah

Nasional

(RPJMN)

Tahun

2010-2014

menargetkan penurunan prevalensi kekurangan gizi (gizi kurang dan gizi buruk)
pada anak balita adalah <15,0% pada Tahun 2014.
Berdasarkan Sistem Kesehatan Nasional

(SKN)

Tahun

2009,

pembangunan kesehatan perlu digerakkan oleh masyarakat di mana masyarakat


mempunyai peluang dan peran yang penting dalam pembangunan kesehatan, oleh
karena itu pemberdayaan masyarakat menjadi sangat penting atas dasar untuk
menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuannya sebagai pelaku
pembangunan kesehatan. Pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan berbasis
masyarakat secara optimal oleh masyarakat seperti Pos Pelayanan Terpadu
(Posyandu) merupakan salah satu pendekatan untuk menemukan dan mengatasi
persoalan gizi pada balita. Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan
Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari,
oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan
kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada
masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar.
Menurut Depkes RI, perubahan berat badan balita dari waktu ke waktu
merupakan petunjuk awal perubahan status gizi balita. Anak balita sehat, gizi
kurang atau gizi lebih (obesitas) khususnya di daerah perkotaan dapat diketahui
dari pertambahan berat badannya tiap bulan. Upaya pemantauan terhadap
pertumbuhan balita dilakukan melalui kegiatan penimbangan balita di posyandu
secara rutin tiap bulannya yang hasilnya dicatat dalam Kartu Menuju Sehat
(KMS).
Ibu yang tidak menimbang balitanya ke posyandu dapat menyebabkan
tidak terpantaunya pertumbuhan dan perkembangan balita dan berturut-turut
berisiko keadaan gizinya memburuk sehingga mengalami gangguan pertumbuhan.
Salah satu solusi jangka panjang yang bisa diberikan adalah masyarakat harus
mendapat penyuluhan mengenai pentingnya gizi dan cara mengolah makanan
yang benar.
II. PERMASALAHAN DI MASYARAKAT
Pada dasarnya, gizi buruk merupakan penyakit yang tidak terjadi secara
akut atau dalam waktu singkat, melainkan memerlukan waktu beberapa bulan.
Sebagian besar kasus gizi kurang dan gizi buruk dengan tatalaksana gizi buruk
2

dapat dipulihkan di Puskesmas/RS. Hal tersebut juga tergantung dari ada tidaknya
penyakit penyerta misalnya penyakit bawaan seperti jantung atau metabolisme
lainnya.
Pada tingkat keluarga, keluarga yang tidak sadar gizi juga merupakan
salah satu faktor penyebab terjadinya kasus gizi buruk. Pengetahuan dan perilaku
keluarga khususnya ibu tentang makanan bergizi yang kurang akan memengaruhi
perkembangan status gizi bayi. Misalnya kebiasaan untuk tidak memakan
makanan tertentu padahal memiliki nilai gizi yang tinggi akan berakibat pada
anak/bayi. Sanitasi serta lingkungan yang kurang baik dan tidak bersih akan
membuat bayi sakit-sakitan sehingga memengaruhi proses pertumbuhan bayi.
Serta kondisi ekonomi keluarga yang lemah dapat memengaruhi daya beli
keluarga untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi.
Pada tingkat masyarakat, kebiasaan tertentu di masyarakat dapat menjadi
salah satu faktor yang memengaruhi pertumbuhan bayi. Misalnya pada
masyarakat tertentu, imunisasi pada bayinya baru boleh dilakukan pada bulan ke-2
sehingga pada bulan pertama bayi tidak dibawa ke posyandu untuk melakukan
penimbangan. Sehingga proses terjadinya gizi buruk dapat juga berlangsung pada
masa ini.
Penyebab lain yang juga sering menjadi kendala adalah ketersediaan
fasilitas kesehatan yang tidak terjangkau oleh ibu dan bayinya. Hal tersebut
membuat bayi menjadi tidak dapat dikontrol berat badannya melalui KMS serta
dapat diperburuk jika bayi sakit sementara pengobatan tidak diberikan di fasilitas
kesehatan, misalnya pustu.
III. PEMILIHAN INTERVENSI
Dalam mengatasi masalah gizi buruk dan pengaruhnya terhadap
pertumbuhan harus dilakukan secara komprehensif serta menyeluruh. Cara dan
strategi yang dapat dilakukan berupa deteksi dini di posyandu dengan melakukan
penimbangan balita serta melalui KMS (Kartu Menuju Sehat) sehingga bisa
diketahui grafik pertumbuhannya. Upaya pemulihan gizi dengan mengadakan
Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) serta meningkatkan
3

pengetahuan dan keterampilan ibu terutama dalam memberi asupan gizi kepada
anak. Selain hal tersebut, pemberian edukasi atau penyuluhan gizi kepada ibu bayi
juga sangat penting untuk dilakukan.
IV. PELAKSANAAN
Penyuluhan Gizi dilaksanakan di Poskesdes Tabo Tabo pada tanggal 12
Agustus 2015 yang bertepatan dengan hari posyandu di Desa tersebut pada pukul
10.00 WITA. Penyuluhan menggunakan bantuan Flip Chart. Penyuluhan
dirangkaikan dengan diskusi dan tanya jawab antar pemateri dengan peserta
penyuluhan. Peserta penyuluhan terdiri dari ibu-ibu peserta posyandu yang
membawa bayinya untuk pemeriksaan rutin dan imunisasi.
V. EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
Persiapan kegiatan penyuluhan dilakukan satu minggu sebelumnya dengan
mempersiapkan peralatan dan bahan penyuluhan.
2. Evaluasi Proses
Peserta yang hadir kurang lebih 20 orang. Penyuluhan berjalan
sebagaimana yang diharapkan. Peserta penyuluhan antusias mengikuti
kegiatan penyuluhan dan sebagian besar peserta aktif dalam kegiatan ini
dengan memberikan pertanyaan.
3. Evaluasi Hasil
Lebih dari 75% peserta yang hadir mampu memberikan umpan balik
kepada pemateri mengenai pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada
peserta. Hal ini membuktikan bahwa peserta memperhatikan materi yang
disampaikan oleh pemateri.

PESERTA

PENDAMPING

dr. Ahmad Az Hari Nurdin

dr. Hj. Halima Hafid