Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN RESMI

Klasifikasi

Oleh :
Milade Annisa M.
Dwi
Septi
Mega
Lisa

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

A. Dasar Teori
Klasifikasi adalah proses pengaturan tumbuhan dalam tingkat
tingkat kesatuan kelasnya yang sesuai secara ideal. Menurut rideng (1989)
klasifikasi adalah pembentukan takson takson dengan tujuan mencari
keseragaman dalam keanekaragaman.dikatakan pula bahwa klasifikasi
adalah penempatan organisme secara berurutan pada kelompok tertentu
(takson) yang didasarkan oleh persamaan dan perbedaan. Sedangkan
(Tjitrosoepomo, 1993) mengatakan bahwa dasar dalam mengadakan
klasifikasi adalah keseragaman. Kesamaan kesamaan itulah yang
dijadikan dasar dalam mengadakan klasifikasi.
Mengingat banyaknya macam atau cara klasifikasi antara satu
orang ahli dengan ahli lain yang mempunyai pendapat yang berbeda
beda menyebabkan permasalahan dalam klasifikasi tumbuhan. Adapun
yang menyebabkan sistem klasifikasi berbeda beda adalah sebagai
berikut :
1. Keanekaragaman klasifikasi ini disebabkan karena tumbuhan yang
diklasifikasikan

begitu

banyak

sehingga

akan

menghasilkan

klasifikasi yang berbeda beda.


2. Seorang ahli botani satu dan ahli botani yang lain dalam membuat
klasifikasi menggunakan dasar dan tujuan yang berbeda,
3. Seorang ahli botani satu dan ahli botani yang lain mempunyai
kemampuan atau pengetahuan yang berbeda dalam hal membuat
klasifikasi.
4. Seorang ahli botani satu dan ahli botani yang lain mempunyai interes
dalam mengambil keputusan, pertimbangan terhadap pemilihan sifat
dan cirri yang dipakai dalam klasifikasi.
5. Adanya revisi atau perubahan peraturan tatanama menyebabkan hasil
klasifikasi berbeda.
6. Bahan dan data antara ahli botani satu dengan ahli botani yang lain
berbeda beda, ada yang lengkap dan ada yang kurang.
7. Adanya perbedaan disiplin ilmu yang digunakan oleh seorang ahli
botani satu dengan ahli botani lainnya.

Pebedaan dasar yang digunakan dalam mengadakan klasifikasi


tumbuhan memberikan hasil klasifikasi yang berbeda-beda sehingga dari
masa ke masa melahirkan sistem klasifikasi yang berlainan juga. Sistem
Klasifikasi dalam Sejarah Perkembangan Taksonomi Tumbuhan adalah
sebagai berikut :
1. Periode sistem Habitus
Dalam periode ini sistem klasifikasinya didasarkan pada habitus,
yaitu kesan keseluruhan yang nampak dari suatu tumbuhan. Berlangsung
dari 300 SM hingga pertengahan abad ke-18, dengan pelopornya adalah
Theophrastus (370-385 SM). Menurut sistem ini tumbuhan digolongkan
menjadi pohon, perdu, semak, dan herba. Para ahli filsafat dan
penggemar alam pada periode ini adalah Albertus Magnus (1193-1280),
Otto Brunfels (1464-1534), Jerome Bock (1489-1554), Andrea
Caesalpinus (1519-1602), Jean Bauhin (1541-1631), Josseph Pitton De
Turnefort (1656-1708), John Ray (1628-1705), dan lain-lainnya
mengajukan gagasan-gagasan baru tentang dasar-dasar klasifikasi
tumbuhan. Taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuan baru di
anggap pada abad ke-4 sebelum Masehi oleh orang-orang Yunani yang
dipelopori oleh Theophrastus ( 370-285 SM) murid seorang filsuf
Yunani bernama Aristoteles. Aristoteles sendiri adalah murid filsuf
Yunani yang semashur yaitu plato. Sistem klasifikasi yang diusulkan
bangsa Yunani dengan Theophrastus sebagai pelopornya juga diikuti
oleh kaum herbalis serta ahli-ahli botani dan nama itu terus dipakai
sampai selama lebih 10 abad. Pengklasifikaan tumbuhan terutama
didasarkan atas perawakan (habitus) yang golongan-golongan utamanya
disebut dengan nama pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan
terna. Sistem klasifikasi ini bersifat dominan dari kira-kira abad ke-4
sebelum masehi sampai melewati abad pertengahan, dan selama periodeperiode ini ahli-ahli botani, herbalis, dan filsuf telah menciptakan sistemsistem klasifikasi yang pada umumnya masih bersifat kasar, namun

sering dinyatakan telah mencerminkan adanya hubungan kekerabatan


antara golongan yang terbentuk.
2. Periode sistem Numerik
Sistem klasifikasinya didasarkan pada jumlah-jumlah dan susunan
alat kelamin tumbuhan. Disebut juga sistem seksual, penciptannya adalah
Carolus Linnaeus (1707-1778). Linnaeus membagi tumbuhan menjadi 24
kelas antara lain monoandria (golongan tumbuhan dengan satu benang
sari), diandria (golongan tumbuhan dengan dua benang sari), dan
seterusnya. Tokoh-tokoh lain yang dikenal dalam periode ini adalah Peter
Kalm (1716-1779), Fredrick Hasselquist (1723-1752), dan Peter
Thunderg (1743-1828). Periode ini terjadi pada permulaan abad ke 18,
yang ditandai dengan sifat sistem yang murni artifisial, yang sengaja
dibuat sebagai sarana pembantu dalam identifikas tumbuhan. Sistem ini
tidak menggunakan bentuk dan tekstur tumbuhan sebagai dasar utama
pengklasifikasian. Tetapi pengambilan kesimpulan mengenai kekerabatan
antara tumbuhan. Dalam periode ini tokoh yang paling menonjol
adalah Karl Linne (Carolus Linneaus).
3. Sistem Klasifikasi Alam
Klasifikasi yang didasarkan pada hubungan kekerabatan yang
ditunnjukkan oleh banyaknya persamaan bentuk yang terlihat sehingga
dapat disusun takson-takson yang bersifat alami. Sistem ini dikatakan
alami karena dianggap mencerminkan keadaan sebenarnya seperti
terdapat di alam. Kesadaran mengenai adanya hubungan kekerabatan
disebabkan oleh bertambahnya ilmu pengetahuan tentang fungsi dan
morfologi dari organ tumbuhan serta kemajuan ilmu pengetahuan optik,
sehingga

pengamatannya

lebih

seksama

dibandingkan

periode

sebelumnya. Tokoh-tokoh terkemuka pada periode ini antara lain adalah


Lamarck (1744-1829), Michel Adenson (1727-1826), dan Antonie
Laurent de Jussieu (1748-1836) yang membagi tumbuhan menjadi
Acotyledonae, monocotyledonae, dan dicotyledonae. Sistem de Jussie ini
kemudian disempurnakan oleh tokoh-tokoh lain seperti Augustine

Pyrame de Candole (1778-1884), Sir Joseph Dalton Hooker (1817-19)


dan George Bentham (1800-1884).
4. Sistem Klasifikasi Filogenetik
Klasifikasi yang didasarkan pada jauh dekatnya hubungan
kekerabatan antara takson satu dengan takson lainnya. Sistem
klasifikasinya

didasarkan

mengikutsertakan

teori

pada
evolusi.

filogeni

takson-takson

Takson-takson

yang

dengan
dibentuk

ditempatkan dengan urutan-urutan , yang diberi segi filogeni mempunyai


tingkatan yang lebih rendah (primitif) sampai ke tingkatan yang tinggi
(maju). Periode ini bertahan dari pertengahan abad 9 hingga sekarang,
merupakan salah satu akibat logis timbulnya teori evolusi yang
dipelopori oleh Jean Baptise Lamarck (1744-1824), disusul oleh Charles
Darwin dengan karyanya On the Origin Of Species by Means of Natural
Selection (1859). Tokoh-tokoh yang terkemuka pada periode ini antara
lain August Wilhem Eichler (1839-1887), ia membagi tumbuhan menjadi
Cyptogameae (thalophyta, bryophyta, pteridophyta) dan Phanerogamae
(spermatophyta). Masing-masing golongan masih dibagi lagi menjadi
takson-takson yang lebih rendah. Sistem ini kemudian disempurnakan
lagi oleh tokoh-tokoh lain seperti Adolph Engler (1844-1930), Richard
von Wettstein (1862-1931), Charles E. Bessey (1845-1915), dan Hans
Hallier (1868-1932).
5. Sistem Klasifikasi Kontemporer
Klasifikasi yang didasarkan pada pengkuatitatifan data penelitian
taksonomi dan penerapan matematika dalam pengolahan datanya. Sistem
ini lahir akibat kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat dalam abad ke-20.
Komputer telah digunakan secara luas dalam pengembangan metode
kuantitatif dalam klasifikasi tumbuhan yang melahirkan bidang baru
dalam taksonomi tumbuhan yaitu taksonomi numerik, taksometri, atau
taksonometri. Taksometri numerik didefinisikan sebagai metode evaluasi
kuantitatif mengenai kesamaan atau kemiripan sifat antar golongan
organisme, dan penataan golongan-golongan itu melalui suatu analisis

kelompok ke dalam kategori takson yang lebih tinggi atas dasar


kesamaan-kesamaan tadi. Taksonomi numerik didasarkan atas buktibukti fenetik, artinya atas kemiripan yang diperlihatkan objek studi yang
diamati dan dicatat, dan bukan atas dasar kemungkinan-kemungkinan
perkembangan filogenetiknya. Kegiatan-kegiatan dalam taksonomi
numerik bersifat empirik operasional, dan data serta kesimpulannya
selalu dapat diuji kembali melalui observasi dan eksperimen.
B. Tabulasi Data

No

Tokoh

Dasar/ Tujuan

Bahan
Thallophyta,
Bryophyta,
Pterydophyta
Thallophyta,
Cormophyta
Dicotyledonae,
Monocotyledonae,
Acotyledonae

W. Eichler

Klasifikasi Alam

St. L. Endlicher

Klasifikasi Alam

Augustin Pyramus De
Candolle

Sifat-Sifat Anatomi

Theophrastus

Perawakan / Habitus

Jean Baptiste De
Lamarck

Pohon, Perdu,
Semak,
Persamaan Dan
Bentuk Luar Tubuh
Perbedaan Morfologi Tumbuhan

Carles Darwin

Fenotif

Theophrastus

Umur

Carolus Linneaus

Kesamaan Jumlah
Alat-Alat Kelamin

Tumbuhan yang
terdapat di Kebun
Raya di Upsala

Benard De Jussie dan


Antoine De Jussie

Tumbuhan Berbiji

10

Robert Brown

Membagi Tumbuhan
Bangsa dalam
Tumbuhan Biji
Tunggal
dan Tumbuhan Biji
Belah
Bakal Biji Telanjang

11

M. Adanson

Sistem Alam

Tumbuhan di Daerah

Molekul dan
Biokimia Tubuh
Tumbuhan
Tumbuhan

Gymnospermae dan
Angiospermae

Tropika

C.
Brongniart (1801-1847)
Adalah Guru Besar ilmu tumbuhan dan anggota Akademik Ilmu
Pengetahuan di Paris dan merupakan seorang ahli paleobotani dan taksonomi.
Sebagai penulis sejumlah besar karya-karya dalam ilmu tumbuhan, ia antara lain
mengusulkan suatu sistem klasifikasi tumbuhan sebagai berikut:
I.
II.

Cryptogamae
A. Amphigenes (Algae, Fungi, Lichenes)
B. Aerogenes ( Musci, Cryptogamae berberkasangkutan dan Characeae)
Phanerogamae
C. Monocotyledoneae
a. Perispermaeb.
b. Aperispermae
D. Dicotyledoneae1.
1. Angiospermae
a. Gamopetalaeb.
b. Dialypetalae
2. Gymnospermae
Letak kelemahan system Brongniart ini adalah penempatan

angiospermae dan gymospermaedalam lingkungan Dicotyledonae.

1.

A.L. de Jussie
(1748-1836)

I.

II.
III.

Acotyledoneae, satu kelas dengan 6 suku


:
1. Suku Fungi
2. Suku Algae
3. Suku Hepaticae
4. Suku Musci
5. Suku Filices
6. Suku Najades
Monocotyledoneae, terdiri atas 3 kelas
dengan 16 suku
Dicotyledoneae, teebagi dalam :

A. Monoclinae, yang dibagi dalam 3


golongan :
1. Apetalae, terdiri atas 3 kelas
dengan 11 suku
2. Monopetalae, terdiri atas 4 kelas
dengan 25 suku
3. Polypetalae, terdiri atas 3 kelas
dengan 37 suku
B. Diclinae, terdiri atas 1 kelas dengan 5
suku
2.

Augustin
Pyramus de
Candolle
( 1778-1841)

3.

A. Brongniart
( 1801-1847 )

I.

Kelas Dicotyledoneae (Exogenae )


A. Anak kelas Thalamiflorae, yang
terdiri atas 4 kohor dan 51 bangsa
B. Anak kelas Calyciflorae, yang terdiri
atas 64 bangsa
C. Anak kelas Corolliflorae, dengan 23
bangsa
D. Anak kelas Monochlamydeae,
dengan 20 bangsa
II.
Kelas Monocotyledoneae (
Endogenae )
A. Anak kelas Phanerogamae, dengan
21 bangsa
B. Anak Kelas Cryptogamae, dengan 5
bangsa
III.
Kelas Acotyledoneae (Cellulares)
A. Anak kelas Foliaceae, yang
mencakup Musci dan Hepaticeae
B. Anak kelas Aphyllae, yang meliputi
Lichenes, Hypoxyla, Fungi, dan
Algae
I. Cryptogamae
A. Amphigenes (Algae, Fungi,
Lichenes)
B. Aerogenes (Musci, Cryptogamae
berberkas angkutan dan Characeae)
II.
Phanerogamae
C. Monocotyledoneae
a. Perispermae
b. Aperispermae
D. Dicotyledoneae
1. Angiospermae
a. Gamopetalae
b. Dialypetalae
2. Gymnospermae

4.

St. L. Endlicher
( 1804-1849)

Regio I. Thallophyta
Sectio 1. Protophyta (Algae dan lichenes)
Sectio 2. Hysterophyta (Fungi)
Regio II. Cormophyta
Sectio 3. Acrobrya
Kohor 1.
Acrobrya anophyta (Hepaticae
dan Musci)
Kohor 2.
Acrobrya protophyta
(Calamariae, Filices,
Hydropterides, Selaginales,
Calamiae)
Kohor 3.
Acrobrya hysterophyta
(Rhizantheae)
Sectio 4. Amphybrya (Monocotyledoneae)
Sectio 5. Acramphibya
Kohor 1.
Gymnospermae
Kohor 2.
Apetalae
Kohor 3.
Gamopetalae
Kohor 4.
Dalypetalae

5
.

Alexander Braun
(1805-1877)

I.

II.
III.

4. A.W. Eichler
( 1883 )

I.

Tingkat Bryophyta
1. Kelas Thallodea (Algae, Lichenes, Fungi)
2. Kelas Thallophyllodeae (Chorinae,
Muscinae)
Tingkat Cormophyta (Fillices)
Tingkat Anthophyta
A. Bagian besar Gymnospermae
B. Bagian besar Angiospermae
1. Kelas Monocotyledoneae
2. Kelas Dycotyledonaeae
1e.Apetalae
2e.Sympetalae
3e.Eleutheropetalae
Cryptogamae
A. Divisi Thallophyta
1. Kelas Algae
Cyanophyceae
Chlorophyceae
Phaeophyceae
Rhodophyceae
Diatomeae
2. Kelas Fungi
Schizomycetes
Eumycetes
Lichens
B. Divisi Bryophyta
1. Kelas Hepaticae

2. Kelas Musci
C. Divisi Pteridophyta
1. Kelas Lycopodinae
2. Kelas Equisetinae
Phanerogamae
A. Afdeling Gymnospermae
B. Afdeling Phanerogamae
1. Kelas Monoctyledoneae
2. Kelas Dycotyledoneae

II.

7.

Adolph Engler
( 1844-1930 )

IV.
V.
VI.
VII.
VIII.
IX.
X.
XI.
XII.
XIII.
XIV.
XV.
XVI.

8.

Charles E.
Bessey
( 1845-1915 )

IV.

V.

Afdeling Schizophyta
Afdeling Phytosarcodina
Afdeling Flagellatae
Afdeling Dinoflagellatae
Afdeling Bacillariophyta
Afdeling Conjugatae
Afdeling Chlorophyceae
Afdeling Charophyta
Afdeling Phaeophyceae
Afdeling Rhodophyceae
Afdeling Eumycetes
Afdeling Embryophyta asiphonogama
1. Sub afdeling Bryophyta
2. Sub afdeling Pteridophyta
Afdeling Embryophyta siphonogama
1. Sub afdeling Gymnospermae
2. Sub afdeling Angiospermae
a. Kelas Monocotyledoneae
b. Kelas Dicotyledoneae
Kelas Alternifoliae (Monocotyledoneae
)
E. Anak kelas Strobiloidae
1. Bangsa Alismatales
2. Bangsa Liliales
3. Bangsa Arales
4. Bangsa Palmales
5. Bangsa Graminales
F. Anak kelas Cotyloideae
6. Bangsa Hydrales
7. Bangsa Iridales
8. Bangsa Orchidales
Kelas Oppositifoliae ( Dicotyledoneae )
C. Anak kelas Strobiloideae
Super bangsa ApopetalaePolycarpellatae
9. Bangsa Ranales
10.Bangsa Marvales
11.Bangsa Sarraceniales

9.

Richard
Wettstein
( 1862-1931 )

I.
II.
III.
IV.
V.
VI.
VII.
VIII.

12.Bangsa Geraniales
13.Bangsa Guttiferales
14.Bangsa Rhoeadales
15.Bangsa Caryophyllales
Super bangsa SympetalaePolycarpellatae
16.Bangsa Ebenales
17.Bangsa Ericales
18.Bangsa Primulales
Super bangsa SympetalaeDicarpellatae
19.Bangsa Gentianales
20.Bangsa Polemoniales
21.Bangsa Scrophulariales
22.Bangsa Lamiales
D. Anak kelas Cotyloideae
Super bangsa Apopetalae
23.Bangsa Rosales
24.Bangsa Polemoniales
25.Bangsa Loasales
26.Bangsa Cactales
27.Bangsa Celastrales
28.Bangsa Sapindales
29.Bangsa Umbellales
Super bangsa Sympetalae
30.Bangsa Rubiales
31.Bangsa Campanulales
32.Bangsa Asterales
Stamm ( Divisi ) Schizophyta
1. Kelas Schizophyceae
2. Kelas Schizomycetes
Stamm Monodophyta
Stamm Myxophyta
Stamm Conjugatophyta
Stamm Bacillariophyta
Stamm Phaeophyta
Stamm Rhodophyta
1. Kelas Bangieae
2. Kelas Florideae
Stamm Euthallophyta
1. Kelas Chlorophyceae
2. Kelas Fungi
A. Cendawan parasit dan saprofit
hidup ( Eumycetes )
1. Anak kelas Phycomycetes
2. Anak kelas Ascomycetes
3. Anak kelas Basidiomycetes
Tambahan Fungi imperfecti

IX.

10
.

August A. Pulle
( 1878 )

B. Cendawan yang bersimbiosis


dengan ganggang ( Lichenes )
1. Kelompok Ascolichenes
2. Kelompok Basidiolichenes
Stamm Cormophyta
1. Afdeling Archegoniata
a. Sub afdeling Archegoniata
1. Kelas Musci
2. Kelas Hepaticae
b. Sub afdeling Pteridophyta
1. Kelas Psilophytinae
2. Kelas Lycopodiinae
3. Kelas Psilotinae
4. Kelas Articulatae
5. Kelas Filicinae
2. Afdeling Anthophyta
a. Sub afdeling Gymnospermae
1. Kelas Pteridospermae
2. Kelas Cycadinae
3. Kelas Bennettitinae
4. Kelas Cordaitinae
5. Kelas Ginkgoinae
6. Kelas Coniferae
7. Kelas Gnetinae
b. Sub afdeling Angiospermae
1. Kelas Dicotyledoneae
Anak kelas Choripetalae
a. Monochlamydeae
b. Dialypetalae
Anak kelas Sympetalae
2. Kelas Monocotyledoneae

Divisi Spermatophyta
Anak divisi :
I.
Pteridospermae
Bangsa Caytoniales
II.
Cycadospermae
Kelas Cycadinae
Bangsa Cycadales
Kelas Bennettitinae
Bangsa Bennettitiales
III.
Ginkyospermae
Kelas Cordaitinae
Bangsa Cordaitales
Kelas Ginkyoinae
Bangsa Ginkyoales
IV.
Coniferospermae
Kelas Taxinae

V.

VI.

Bangsa Taxales
Kelas Coniferinae
Bangsa Araucariales
Bangsa Podocarpales
Bangsa Pinales
Bangsa Cupressales
Chlamydospermae
Kelas Gnetinae
Bangsa Ephedrales
Bangsa Gnetales
Bangsa Welwitschiales
Angiospermae
Kelas Monocotyledoneae
Bangsa Pandanales
Bangsa Alismatales
Bangsa Triuridales
Bangsa Arales ( Spathiflorae )
Bangsa Arecales ( Palmales )
Bangsa Bromeliales ( Farinosae )
Bangsa Poales ( Glumiflorae )
Bangsa Zingiberales ( Scitamineae )
Bangsa Liliales ( Liliiflorae )
Bangsa Cyperales
Bangsa Orchidales ( Gynandrae )
Kelas Dicotyledoneae
1. Deret Ranunculales-Clusiales-Cistales
Bangsa Ranunculales ( Ranales )
Bangsa Clusiales ( Guttiferales )
Bangsa Cistales ( Parietales )
Bangsa Cucurbitales
Bangsa Sarraceniales
2. Deret Hamamelidales-UrticalesFagales
Bangsa Hammamelidales
Bangsa Casuarinales
Bangsa Urticales
Bangsa Fagales
3. Deret Piperales
Bangsa Piperales
4. Deret Caryophyllales-Primulales
Bangsa Caryophyllales
( Centrospermae )
Bangsa Polygonales
Bangsa Plumbaginales
Bangsa Primulales
5. Deret Geraniales-Euphorbiales
Bangsa Geraniales
Bangsa Malvales
Bangsa Euphorbiales

14.

11
.

Tippo
(1992)

Bangsa Daphniphyllales
6. Deret Rutales
Bangsa Rutales
Bangsa Polygalales
Bangsa Malpighiales
7. Deret Sapindales
Bangsa Sapindales
Bangsa Balsaminales
Bangsa Melianthales
8. Deret Celastrales-Rubiales
Bangsa Celastrales
Bangsa Rhamnales
Bangsa Apiales ( Umbelliflorae )
Bangsa Garryales
Bangsa Rubiales
9. Deret Rosales-Myrtales-Santalales
Bangsa Rosales
Bangsa Podostemales
Bangsa Pandales
Bangsa Proteales
Bangsa Myrtales
Bangsa Aristolochiales
Bangsa Balanophorales
Bangsa Santalales
10.Deret Ericales
Bangsa Ericales
Bangsa Diapensiales
11.Deret Brassicales
Bangsa Brassicales
Bangsa Batidales
12.Deret Ebenales
Bangsa Ebenales
13.Deret Solanales-Apocynales
Bangsa Oleales ( Ligustrales )
Bangsa Apocynales ( Contortae )
Bangsa Solanales ( tubiflorae )
Bangsa Plantaginales
Bangsa Callitrichales
Bangsa Hippuidales
Deret Asterales
Bangsa Asterales

Subkingdom 1.
Phylum 1
Phylum 2
Phylum 3
Phylum 4
Phylum 5
Phylum 6
Phylum 7

Thallophyta
Cyanophyta
Chlorophyta
Euglenophyta
Phaeophyta
Rhodophyta
Chrysophyta
Phyrrophyta

Phylum 8
Phylum 9
Phylum 10

12
.

Schyzomycophyta
Myxomycophyta
Eumycophyta
Class 1
Phycomycetes
Class 2
Ascomycetes
Class 3
Basidiomycetes
Subkingdom 2.
Embryophyta
Phylum 11
Bryophyta
Class 1
Hepaticae
Class 2
Musci
Phylum 12
Tracheophyta
Subphylum 1Psilopsida
Subphylum 2Lycopsida
Subphylum 3Sphenopsida
Bold and La
Superkingdom
Prokaryota
Claire Kingdom A Monera
Division 1
Schizonta
(1987)
Division 2
Cyanophyta
Division 3
Prochlorophyta
Superkingdom
Eukaryota
Kingdom A
Phyta (Plants)
Chlorophyta
Charophyta
Euglenophyta
Chrysophyta
Phaeophyta
Phyrrophyta
Rhodophyta
Hepatophyta
Anthocerotophyta
Bryophyta
Psilotophyta
Microphyllophyta
Arthrophyta
Pterydophyta
Cycadophyta
Gynkgophyta
Coniferophyta
Gnetophyta
Anthophyta
Kingdom B Mycetae (Fungi)
Myxomycota
Acrasiomycota
Chytridiomycota
Oomycota
Zygomycota
Ascomycota
Basidiomycota
Deuteromycota

13
.

Strasburger dkk.
(1898)

Kelas
Bangsa
Suku
Bangsa
Suku
Suku
Bangsa
Suku

14
.

Prof. Gembong
Tjitrosoepomo
(1986)

Divisi
Anak Divisi

15
.

Cronquist,
Takhtajan,
Zimmerman
(1966)

Gymnospermae
Cycadinae
Cycadiceae
Coniferae
Pinaceae
Taxaceae
Gnetineae
Gnetaceae

Spermatophyta
Gymnospermae
Kelas 1
Pteridospermae
Bangsa
Caytoniales
Kelas 2
Cycadinae
Bangsa
Cycadales
Kelas 3
Bennettinae
Kelas 4
Cordaitinae
Bangsa
Cordaitales
Kelas 5
Ginkyoinae
Bangsa
Gonkyoales
Kelas 6
Coniferinae/Conife
rae
Bangsa
Taxales
Bangsa
Araucariales
Bangsa
Podocarpales
Bangsa
Pinales
Bangsa
Cupressales
Kelas 7
Gnetinae
Bangsa
Ephedrales
Bangsa
Gnetales
Bangsa
Welwitschiales
Divisi
Pinophyta
Anak-Divisi
Cyacadicae
Kelas
Lyginopteridatae
Kelas
Cycadatae
Kelas
Bennettitatae
Anak-Divisi
Pinicae
Kelas
Ginkgoatae
Kelas
Pinatae
Anak-Divisi
Gneticae
Kelas
Gnetatae
Sub-kelas
Ephedridae
Sub-kelas
Welwitschiidae
Sub-kelas
Gnetidae

D. Pembahasan
Klasifikasi adalah pembentukan takson takson dengan tujuan
mencari keseragaman dalam keanekaragaman.dikatakan pula bahwa
klasifikasi adalah penempatan organisme secara berurutan pada kelompok
tertentu (takson) yang didasarkan oleh persamaan dan perbedaan. Ada
banyak sistem klasifikasi yang digunakan oleh para ahli dengan dasar atau
tujuan pengklasifikasian yang berbeda-beda pula. Selanjutnya akan
dibahas lebih lanjut dari pengamatan dan analisis sistem klasifikasi yang
dilakukan oleh beberapa ahli botani.
W. Eichler seorang ahli tumbuhan yang sangat termashur karena
publikasinya melalui diagram-diagram bunga, dan editor Flora Braziliensis
yang ditulis oleh Von Martius (1794-1868), yang waktu menjadi guru di
Munich pernah mengambil Eichler sebagai asistennya. Eichler juga pernah
menjadi penulis bab tentang Coniferae dalam edisi pertama buku Die
Naturlichen Pllanzen Familien yang diterbitkan oleh Engler (1844-1930)
dan K. Prantl. Klasifikasi alam tumbuhan menurut Eichler adalah sebagai
berikut:
A. Crytogamae
I.
Afdeling Thallophyta
1.
Kelas Algae
2.
Kelas Fungi (sebagai kelompok demikian pula Lichenes)
II. Afdeling Bryophyta
III. Afdeling Pterydophyta
B. Phanerogamae
I.
Afdeling Gymnospermae
II. Afdeling Angiospermae
1.
Kelas Monokotiledoneae
2.
Kelas Dikotiledonea
St. L. Endlicher adalah Guru besar Ilmu tumbuhan,
Direktur Kebun Raya dan Museum Botani di Wina. Dari sekian banyak
publikasinya, ia tercatat sebagai salah seorang pengajar sistem alam yang
termuat dalam bukunya Genera Plantarum yang memuat 8835 marga yang
6235 di antaranya adalah dari tumbuhan berbekas pengangkut. Sistem

klasifikasinya yang termuat dalam General Plantarum itu terbit kira-kira


pada masa yang bersamaan dengan terbitnya sistem bronkniart, dan
dianggap sebagai salah satu sumbangan yang besar dalam sejarah
klasifikasi tumbuhan. Endlicher mengklasifikasikan tumbuhan sebagai
berikut:
Region I Thallophyta
Sectio 1. Protophyta (Algaedan Lichenes)
Sectio 2. Hysterophita (fungi)
Region II Cormophyta
Sectio 3. Acrobrya
Kohor 1. Acrybrya anophyta (Hepaticae dan Musci ) Kohor 2.
Acrybrya protophyta (calamariae, felices, hidropterides)
Kohor 3. Acrobrya Hysterophyta (Rhizantheae)
Sectio 4. Ampibrya (Monocotiledonae)
Sectio 5. Acramphibrya
Kohor 1. Gymnospermae
Kohor 2. Apetalae
Kohor 3. Gamepetalae
Kohor 4. Dialypetalae
Augustin Pyramus De Candolle yang adalah murid R.L
Desfontaines (1752-1833) yang bertahun-tahun menjabat Guru Besar Ilmu
tumbuhan di Paris dan direktur Kebun Raya di sana, penulis Flora
Atlantica dan berbagai publikasi lainnya. De Candolle sendiri kemudian
menjadi Guru Besar di Montpellier (Perancis) dan akhirnya di Geneva
(Swiss). Ia menjadi sangat mashur sebagai pemrakarsa dan penulis sepuluh
jilid pertama sebuah karya monumental yang berjudul Prodromus
Sistematis Natural Regni Vegetabilis, previsi edisi ke-III karya Lamark
Flora Francoise, dan pencipta sistem klasifikasi tumbuhan disebut menurut
namanya (System de Candolle), yang banyak hal mirip sistemnya de
Jussieu, tetapi jauh lebih luas. Ia juga berpendapat, bahwa sifat-sifat
anatomi dapat dijadikan dasar klasifikasi yang lebih kuat dari pada sifatsifat fisiologi. Garis besar sistem klasifikasi de Candolle adalah sebagai
berikut :
I.
1.
51 marga
2.

Kelas Dicotyledonae (Exogenae)


Anak kelas Thalamiflorae, yang terdiri atas 4 kohor dan
Anak kelas Calicyflorae, yang terdiri atas 64 marga

3.

1.

Anak kelas Monochlamydeae dengan 20 bangsa


Kelas Monocotyledonae (Endogenae)
Anak kelas Phanerogamae dengan 21 marga
Anak kelas Cryptogamae dengan 5 bangsa
Kelas Acotyledonae (Cellulares)
Anak kelas Foliaceae, yang mencakup Musci dan

Hepaticae
2.

Anak kelas Aphyllae, yang meliputi Lichenes, Hipoxyla,

II.
1.
2.
III.

Fungi dan Algae


Taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuanh baru di anggap
pada abad ke-4 sebelum Masehi oleh orang-orang Yunani yang dipelopori
oleh Theophrastus ( 370-285 SM) murid seorang filsuf Yunani bernama
Aristoteles. Aristoteles sendiri adalah murid filsuf Yunani yang
semashur yaitu plato. Sistem klasifikasi yang diusulkan bangsa Yunani
dengan Theophrastus sebagai pelopornya juga diikuti oleh kaum herbalis
serta ahli-ahli botani dan nama itu terus dipakai sampai selama lebih 10
abad. Pengklasifikaan tumbuhan terutama didasarkan atas perawakan
(habitus) yang golongan-golongan utamanya disebut dengan nama pohon,
perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna. Sistem klasifikasi ini
bersifat dominan dari kira-kira abad ke-4 sebelum masehi sampai melewati
abad pertengahan, dan selama periode-periode ini ahli-ahli botani,
herbalis, dan filsuf telah menciptakan sistem-sistem klasifikasi yang pada
umumnya masih bersifat kasar, namun sering dinyatakan telah
mencerminkan adanya hubungan kekerabatan antara golongan yang
terbentuk.
Sistem klasifikasi tumbuhan yang diciptakan oleh Linnaeus masih
dikategorikan sebagai sistem artivisial. Nama Systema Sexsuale untuk
sistem yang diciptakan sebenarnya tidak begitu tepat karena pada dasarnya
sistem ini tidak ditekankan pada masalah jenis kelamin, tetapi pada
kesamaan jumlah alat-alat kelamin seperti jumlah benangsari. Nama-nama
golongan tumbuhan yang diciptakan oleh linnaeus seperti monandria
(berbenang sari tunggal), diandria (berbenangsari dua), triandria
berbenangsari tiga dan seterusnya. Itulah sebabnya sistem klasifikasi
tumbuhan ciptaan Linnaeus dikenal pula sebagai sistem numerik.

Klasifikasi sistem alami dirintis oleh Michael Adams dan Jean


Baptiste de Lamarck. Sistem ini menghendaki terbentuknya kelompokkelompok takson yang alami. Artinya anggota-anggota yang membentuk
unit takson terjadi secara alamiah atau sewajarnya seperti yang
dikehendaki oleh alam. Klasifikasi sistem alami menggunakan dasar
persamaan dan perbedaan morfologi (bentuk luar tubuh) secara alami atau
wajar. Contoh, hewan berkaki dua, berkaki empat, tidak berkaki, hewan
bersayap, hewan bersirip, hewan berbulu, bersisik, berambut dan lain-lain.
Sedangkan pada tumbuhan, ada kelompok tumbuhan berkeping biji satu,
berkeping biji dua.
Klasifikasi sistem

fiogenik

muncul

setelah

teori

evolusi

dikemukakan oleh para ahli biologi. Pertama kali dikemukakan oleh


Carles Darwin pada tahun 1859. Menurut Darwin terdapat hubungan
antara klasifikasi dan evolusi. Sistem filogenik disusun berdasarkan jauh
dekatnya kekerabatan antara takson yang satu dengan yang lainnya. Selain
mencerminkan persamaan dan perbedaan morfologi anatomi maupun
fisiologinya, sistem ini pun menjelaskan mengapa makhluk hidup
semuanya memiliki kesamaan molekul dan biokimia, tetapi berbeda-beda
dalam bentuk susunan dan fungsinya pada setiap makhluk hidup. Jadi pada
dasarnya, klasifikasi sistem filogenik disusun berdasarkan fenotif yang
mengacu pada sifat-sifat bentuk luar, faal, tingkah laku, yang dapat
diamati dan pewarisan keturunan yang mengacu pada hubungan
evolusioner

sejak

jenis

nenek

moyang

hingga

cabang-cabang

keturunannya.
Theophrastus sendiri yang dianggap sebagai bapaknya ilmu
tumbuhan, dalam karyanya yang berjudul Historia Plantarum telah
memperkenalkandan memberikan deskripsinya untuk sekitar 480 jenis
tumbuhan. Dalam karya ini sistem klasifikasi yang diterapkan oleh
Theoprastes telah mencerminkan falsafah guru dan eyang gurunya
( Aristoteles dan Plato), yaitu suatu suatu sistem klasifikasi tumbuhan
berdasarkan bentuk dan tekstur. Selain golongan-golongan pohon, perdu,
semak seperti yang disebut di atas, ia juga mengadakan pengelompokan

menurut

umur

dan

membedakan tumbuhan

berumur

pendek

(annual),tumbuhan berumur 2 tahun (biennial), serta tumbuhan berumur


panjang (perennial). Theophrastus juga telah dapat membedakan bunga
majemuk yang berbatas (centrifugal) dan yang tidak berbatas (centripetal),
juga telah dapat membedakan bunga dengan daun mahkota yang bebas
(polipetal atau dialipetal) dan yang berlekatan (gamopetal atau simpetal)
bahkan ia telah dapat mengenali perbedaan letak bakal daun yang
tenggelam dan yang menumpang. Adapun yang telah dilakukan oleh
theoprastes hasil klasifikasi tumbuhan yang telah diciptakan masih
dianggap nyata-nyata merupakan suatu sistem artifisial.
Benard de Jussie (1699-1776), Joseph de Jussie (1704-1779). Tiga
saudara de jussie yang merupakan putera-puteri seorang apoteker di Lyon,
Perancis. Yang ketiga-tiganya kemudian menjadi ahli taksonomi tumbuhan
yang bernama Antoine dan Benard adalah murid Pierre Magnol (16381715) yang menjadi guru besar dan direktur kebun raya di mompellier.
Perancis. Benard menyusun kembali klasifikasi menurut sistem ciptaannya
sendiri,tetapi banyak kemiripannya dengan sistem linnaeus yang
ditetapkan dalam karyanya yang berjudul fragmenta methodi naturalis dan
sistem ray dalam bukunya methodue plantarum benard membagi
tumbuhan bangsa dalam tumbuhan biji tunggal dan tumbuhan biji belah,
dan diadakan pembagian lebih lanjut mengenai kedudukan bakal buah, ada
atau tidaknya mahkota bunga,dan ada tidaknya pelekatan daun-daun
mahkota bunga.
Robert Brown adalah kolektor tumbuhan dan penulis publikasi
yang penting. Sekalipun ia sendiri tidak menciptakan suatu sistem
klasifikasi, tetapi karya-karyanya mempunyai pengaruh yang besar
terhadap sistem-sistem klasifikasi yang diciptakankemudian. Ia telah
menunjukan bahwa Gymnospermae adalah golongan tumbuhan yang
ditandai dengan adanya bakal biji yang telanjang dan harus dipisahkan dari
angiospermae. Ia juga orang pertana yang menjelaskan morfologi bunga
dan penyerbukan pada asclepiadeaceae dan Polygalaceae. Ia pun dikenal

sebagai penemu suatu fenomenon yang hingga sekarang kita kenal sebagai
gerakan Brown.
M. Adanson yaitu seorang ahli tumbuhan berkebangsaan Perancis
dan seorang anggota akademi ilmu pengetahuan di Universitasa Sorbonne,
Paris. Yaitu ia menolak semua sistem artifisial, menggantikan dengan
sistem alam, ia termasuk orang yang pertama-tama mengadakan eksplorasi
tumbuhandidaerah tropika yang dalam bukunya families des plantes ia
telah membedakan dan mendeskripsi unit unit pada waktu sekarang setar
dengan yang kita kenal sebgai bangsa (ordo) dan suku ( familia).
Mengingat banyaknya macam atau cara klasifikasi antara satu
orang ahli dengan ahli lain yang mempunyai pendapat yang berbeda
beda menyebabkan permasalahan dalam klasifikasi tumbuhan. Adapun
yang menyebabkan sistem klasifikasi berbeda beda adalah sebagai
berikut :
1. Keanekaragaman klasifikasi ini disebabkan karena tumbuhan yang
diklasifikasikan

begitu

banyak

sehingga

akan

menghasilkan

klasifikasi yang berbeda beda.


2. Seorang ahli botani satu dan ahli botani yang lain dalam membuat
klasifikasi menggunakan dasar dan tujuan yang berbeda,
3. Seorang ahli botani satu dan ahli botani yang lain mempunyai
kemampuan atau pengetahuan yang berbeda dalam hal membuat
klasifikasi.
4. Seorang ahli botani satu dan ahli botani yang lain mempunyai interes
dalam mengambil keputusan, pertimbangan terhadap pemilihan sifat
dan cirri yang dipakai dalam klasifikasi.
5. Adanya revisi atau perubahan peraturan tatanama menyebabkan hasil
klasifikasi berbeda.
6. Bahan dan data antara ahli botani satu dengan ahli botani yang lain
berbeda beda, ada yang lengkap dan ada yang kurang.
7. Adanya perbedaan disiplin ilmu yang digunakan oleh seorang ahli
botani satu dengan ahli botani lainnya.
Teori tersebut di atas sesuai dengan analisis dari berbagai ahli botani yang
telah dilakukan, bahwa dasar, tujuan dan pengetahuan antara ahli botani
yang satu dengan ahli botani yang lain berbeda-beda.

Unsur utama yang menjadi ruang lingkup Taksonomi Tumbuhan


adalah pengenalan (identifikasi), pemberian nama dan penggolongan atau
klasifikasi. Cara penamaan yang lebih sistematik dalam tata nama
tumbuhan, pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus dalam buku
yang ditulisnya, yaitu Systema Naturae ("Sistematika Alamiah"). Dalam
taksonomi tumbuhan kita akan mengenal tujuh tingkatan takson, yang
agak sedikit berbeda dengan klasifikasi hewan. Ketujuh tingkatan takson
tumbuhan tersebut antara lain : Regnum / Kingdom (Kerajaan), Divisio,
Class, Ordo, Family, Genus, Species.
E. Kesimpulan
Prinsip pengklasifikasian adalah menggunakan dasar atau kriteria
tertentu, yaitu persamaan ciri atau sifat morfologi, fisiologi, dan anatomi
yang terdapat pada makhluk hidup. Dasar pengklasifikasian juga bisa
menggunakan prinsip filogenik. Sistem klasifikasi pada tumbuhan
menggunakan sistem filogenetik. Selain itu, banyak pula ditemukan sistem
pengklasifikasian yang dikemukakan oleh beberapa ahli sehingga
menimbulkan presepsi yang berbeda dalam pengklasifikasian.
Nama ilmiah dari suatu makhluk hidup termasuk tumbuhan selalu
menggunakan bahasa latin, karena bahasa latin dianggap tidak bisa
berkembang lagi karena dianggap bahasa yang telah mati. Disamping itu
penggunaan bahasa latin dianggap mewakili banyak bahasa yang ada di
dunia, sehingga dapat mempermudah pengenalan makhluk hidup termasuk
tumbuhan. Dan pemberian nama dengan menggunakan dua kata yang di
garis bawah atau dicetak miring. Adapun kata pertama menunjuk pada
genus, dan kata kedua menunjuk pada spesies.

F. Daftar Pustaka

Tjitrosoepomo, G. 1993. Taksonomi Umum (Dasar Dasar Taksonomi


Tumbuhan). Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Sudarsono, dkk. 2005. Taksonomi Tumbuhan Tinggi. Malang : Universitas
Negeri Malang.