Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena telah memberikan rahmat,
taufik dan hidayah-NYA kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah dengan judul
Tahap-tahap perilaku sakit, perilaku sakit, peranan sakit, dan hak orang sakit/pasien secara
sosial sebagai tugas mata kuliah KDK 1 & 2..
Penulis masih menerima dengan tangan terbuka terhadap kritik dan saran dari pihak
yang peduli terhadap makalah ini agar menjadi bahan perbaikan dikemudian hari. Akhir
kata,semoga makalah ini dapat bermanfaat baginkita semua. Amin.

Depok, 30 September 2015

Tim Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ketika kita membicarakan mengenai arti sakit tentunya dalam benak kita
bahwasannya hal tersebut adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh bermacam-macam
hal, bisa suatu kejadian, kelainan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap susunan
jaringan tubuh, dari fungsi jaringan itu sendiri maupun gangguan terhadap keseluruhan
fungsi itu sendiri.
Konsep sakit adalah konsep yang kompleks dan multi interpretasi, banyak faktor yang
mempengaruhi kondisi sakit. Setiap individu, keluarga, masyarakat maupun profesi
kesehatan mengartikan sakit secara berbeda tergantung paradigmanya. Kemampuan
kognitif akan membentuk cara berpikir seseorang untuk memahami faktor-faktor yang
berkaitan penyakit dan menggunakan pengetahuan tentang kesehatan dan penyakit yang
dimilikinya untuk menjaga kesehatan sendiri. Konsep sakit ini penting diketahui agar
ketika kita merasakan tanda sakit atau kurang sehat, maka kita bisa segera mendatangi
tenaga kesehatan untuk memeriksakan status kesehatan kita.
Bila memang sakit, maka kita akan segera mendapatkan pengobatan yang tepat dari
ahlinya. Oleh karena itu, penulis membuat makalah dengan judul Tahap-tahap perilaku
sakit, perilaku sakit, peranan sakit, dan hak orang sakit/pasien secara sosial.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tahap-tahap perilaku sakit?
2. Apa saja perilaku sakit ?
3. Apa peranan sakit?
4. Apa saja hak orang sakit/pasien secara sosial ?
C. Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah KDK
2. Untuk mengetahui tahap-tahap perilaku sakit
3. Untuk mengetahui perilaku sakit
4. Untk mengetahui peranan sakit
5. Untuk mengetahui apa saja hak orang sakit/pasien secara social

BAB II

PEMBAHASAN
A. TAHAP-TAHAP PERILAKU SAKIT
1. Tahap I (Mengalami Gejala)
Pada tahap ini pasien menyadari bahwa ada sesuatu yang salah Mereka mengenali
sensasi atau keterbatasan fungsi fisik tetapi belum menduga adanya diagnosa tertentu.
Persepsi individu terhadap suatu gejala meliputi:

Kesadaran terhadap perubahan fisik (nyeri, benjolan, dll);


Evaluasi terhadap perubahan yang terjadi dan memutuskan apakah hal tersebut
merupakan suatu gejala penyakit;
Respon emosional.

Jika gejala itu dianggap merupakan suatu gejal penyakit dan dapat mengancam
kehidupannya maka ia akan segera mencari pertolongan.
2. Tahap II (Asumsi Tentang Peran Sakit)
Terjadi jika gejala menetap atau semakin berat. Orang yang sakit akan melakukan
konfirmasi kepada keluarga, orang terdekat atau kelompok sosialnya bahwa ia benar-benar
sakit sehingga harus diistirahatkan dari kewajiban normalnya dan dari harapan terhadap
perannya. Menimbulkan perubahan emosional seperti: menarik diri/depresi, dan juga
perubahan fisik. Perubahan emosional yang terjadi bisa kompleks atau sederhana
tergantung beratnya penyakit, tingkat ketidakmampuan, dan perkiraan lama sakit.
Seseorang awalnya menyangkal pentingnya intervensi dari pelayanan kesehatan,
sehingga ia menunda kontak dengan sistem pelayanan kesehatan akan tetapi jika gejala itu
menetap dan semakin memberat maka ia akan segera melakukan kontak dengan sistem
pelayanan kesehatan dan berubah menjadi seorang klien.
3. Tahap III (Kontak dengan Pelayanan Kesehatan)
Pada tahap ini klien mencari kepastian penyakit dan pengobatan dari seorang ahli,
mencari penjelasan mengenai gejala yang dirasakan, penyebab penyakit, dan implikasi
penyakit terhadap kesehatan dimasa yang akan datang.
Profesi kesehatan mungkin akan menentukan bahwa mereka tidak menderita suatu
penyakit atau justru menyatakan jika mereka menderita penyakit yang bisa mengancam
kehidupannya.Klien bisa menerima atau menyangkal diagnosa tersebut.
Bila klien menerima diagnosa mereka akan mematuhi rencanapengobatan yang telah
ditentukan, akan tetapi jika menyangkal mereka mungkin akan mencari sistem pelayanan
kesehatan lain, atau berkonsultasi dengan beberapa pemberi pelayanan kesehatan lain sampai
mereka menemukan orang yang membuat diagnosa sesuai dengan keinginannya atau sampai
mereka menerima diagnosa awal yang telah ditetapkan.

Klien yang merasa sakit, tapi dinyatakan sehat oleh profesi kesehatan, mungkin ia
akan mengunjungi profesi kesehatan lain sampai ia memperoleh diagnosa yang diinginkan
Klien yang sejak awal didiagnosa penyakit tertentu, terutama yang mengancam kelangsungan
hidup, ia akan mencari profesi kesehatan lain untuk meyakinkan bahwa kesehatan atau
kehidupan mereka tidak terancam. Misalnya: klien yang didiagnosa mengidap kanker, maka
ia akan mengunjungi beberapa dokter sebagai usaha klien menghindari diagnosa yang
sebenarnya.
4. Tahap IV (Peran Klien Dependen)
Pada tahap ini klien menerima keadaan sakitnya, sehingga klien bergantung pada
pemberi pelayanan kesehatan untuk menghilangkan gejala yang ada. Klien menerima
perawatan, simpati, atau perlindungan dari berbagai tuntutan dan stress hidupnya.
Secara sosial klien diperbolehkan untuk bebas dari kewajiban dan tugas
normalnya, semakin parah sakitnya, semakin bebas. Pada tahap ini klien juga harus
menyesuaikan dengan perubahan jadwal sehari-hari. Perubahan ini jelas akan mempengaruhi
peran klien di tempat ia bekerja, rumah maupun masyarakat.
5. Tahap V (Pemulihan dan Rehabilitasi)
Merupakan tahap akhir dari perilaku sakit, dan dapat terjadi secara tiba-tiba, misalnya
penurunan demam. Penyembuhan yang tidak cepat, menyebabkan seorang klien butuh
perawatan lebih lama sebelum kembali ke fungsi optimal, misalnya pada penyakit kronis.
Tidak semua klien melewati tahapan yang ada, dan tidak setiap klien melewatinya dengan
kecepatan atau dengan sikap yang sama. Pemahaman terhadap tahapan perilaku sakit akan
membantu perawat dalam mengidentifikasi perubahan perubahan perilaku sakit klien dan
bersama-sama klien membuat rencana perawatan yang efektif.
B. PERILAKU SAKIT
a. Definisi
Perilaku sakit merupakan perilaku orang sakit yang meliputi: cara seseorang
memantau tubuhnya,mendefinisika dan menginterpretasikan gejala yang dialami, melakukan
upaya penyembuhan, dan penggunaan system pelayanan kesehatan. Perilaku sakit bisa
berfungsi sebagai mekanisme koping.
Menurut Parsons, perilaku spesifik yang tampak bila seseorang memilih peran sebagai
orang sakit, yaitu orang sakit tidak dapat disalahkan sejak mulai sakit, dikecualikan dari
tanggungjawab pekerjaan, social dan pribadi, kemudian orang sakit dan keluarganya
diharapkan mencari pertolongan agar cepat sembuh.
Menurut Cockerham, meskipun konsep Parsons tersebut tidak berguna untuk
memahami peran sebagai orang sakit, namun tidak terlalu tepat untuk :menerangkan variasi
perilaku sakit, dipakai pada penyakit kronis, keadaan dan situasi yang mempengaruhi

hubungan pasien-dokter, atau untuk menerangkan perilaku sakit masyarakat kelas bawah.
Juga menurut Meile, konsep Parsons tersebut tidak cocok dipakai pada orang sakit jiwa.
b. Penyebab Perilaku Sakit
Menurut Mechanic sebagaimana diuraikan oleh Solito Sarwono (1993) bahwa penyebab
perilaku sakit itu sebagai berikut :

Dikenal dan dirasakan nyata tanda dan gejala yang menyimpang dari keadaan normal.
Anggapan dan gejala serius yang dapat menimbulkan bahaya.
Gejala penyakit dirasakan akan menimbulkan dampak terhadap hubungan keluarga,
hubungan kerja, dan kegiatan kemasyarakatan.
Frekuensidanpersisten (terus-menerus, menetap) tanda dan gejala yang dapat dilihat.
Kemungkinan individu untuk terserang penyakit.
Adanya informasi, pengetahuan, dan anggapan budaya tentangpenyakit.
Adanya perbedaan interpretasi tentang gejala penyakit.
Adanya kebutuhan untuk mengatasi gejala penyakit.
Tersedianya berbagai sarana pelayanan kesehatan, seperti: fasilitas ,tenaga, obat-

obatan, biaya, dan transportasi.


C.PERANAN SAKIT
Orang yang berpenyakit (having a disease) dan orang yang sakit (having a illness)
adalah dua hal yang berbeda. Berpenyakit adalah suatu kondisi patologis yang obyektif,
sedangkan sakit adalah evaluasi atau persepsi individu terhadap konsep sehat-sakit.
Dua orang atau lebih secara patologis menderita suatu jenis penyakit yang sama. Bisa
jadi orang kesatu merasa lebih sakit dari yang lain, dan bahkan orang yang satunya lagi tidak
merasa sakit. Hal ini disebabkan karena evaluasi atau persepsi mereka yang berbeda tentang
sakit.
Orang yang berpenyakit belum tentu akan mengakibatkan berubahnya peranan orang
tersebut di dalam masyarakat. Sedangkan orang yang sakit akan
menyebabkan perubahan peranannya di dalam masyarakat maupun di dalam lingkungan
keluarga. Jelasnya, orang yang sakit memasuki posisi baru, dan posisi baru ini menurut suatu
peranan yang baru pula. Peranan baru dari orang sakit (pasien) harus mendapat pengakuan
dan dukungan dari anggota masyarakat dan anggota keluarga yang sehat secara wajar.
Sebab dengan sakitnya salah satu anggota keluarga atau anggota masyarakat maka di
dalam keluarga atau masyarakat itu akan ada lowongan posisi yang berarti juga mekanisme
sistem di dalam keluarga atau masyarakat tersebut akan terganggu. Hal ini disebabkan karena
salah satu anggota pemegang peranan absen. Untuk itu maka anggota-anggota
keluarga/masyarakat harus dapat mengisi lowongan posisi tersebut, yang berarti juga
menggantikan peranan orang yang sedang sakit tersebut.
Kadang-kadang peranan orang yang sakit tersebut demikian luasnya sehingga peranan
yang ditinggalkannya tidak mungkin digantikan oleh satu orang saja. Hal ini mengingat pula
orang yang menggantikan tersebut sudah mempunyai posisi dan peranan sendiri.
Demikian seterusnya bahwa orang sakit sebagai anggota masyarakat atau keluarga
akan mengakibatkanperubahan-perubahan posisi dan peranan-peranannya. Berbicara tentang
peranan, maka ada dua hal yang saling berkaitan, yakni hak (rights) dan kewajiban

(obligation). Demikian juga peranan orang sakit (pasien) akan menyangkut masalah hak dan
kewajiban orang sakit tersebut sebagai anggota masyarakat.
D. HAK ORANG SAKIT/PASIEN SECARA SOSIAL
1. Hak orang yang sakit yang pertama dan yang utama adalah bebas dari segala tanggung
jawab sosial yang normal. Artinya, orang yang sedang sakit mempunyai hak untuk tidak
melakukan pekerjaan sehari-hari yang biasa dia lakukan. hal ini boleh dituntut, namun tidak
mutlak. Maksudnya, tergantung dari tingkat keparahan atau tingkat persepsi dari penyakitnya
tersebut.
Apabila tingkat keparahannya masih rendah maka orang tersebut mungkin tidak perlu
menuntut haknya. Dan seandainya mau menuntutnya harus tidak secara penuh. Maksudnya,
ia tetap berada di dalam posisinya tetapi peranannya dikurangi, dalam arti volumedan
frekuensi kerjanya dikurangi.
Tetapi bila tingkat keparahannya tinggi maka hak tersebut harus dituntutnya. Lebihlebih apabila si sakit tersebut menderita penyakit menular. Hak untuk tidak memasuki posisi
sosial dapat dituntut olehnya sebab apabila tidak maka akan berakibat ganda. Di satu pihak
akan menambah derajat keparahan si sakit dan juga akan menghasilkan hasil kerja yang tidak
sempurna, dan di pihak lain masyarakat kerja atau anggota-anggota masyarakat yang lain
akan tertulari penyakitnya yang mungkin akan menimbulkan epidemi (outbreak) yang
berbahaya.
Kepada siapa hak tersebut dapat dituntut?
Sebagai anggota keluarga hak tersebut dapat dituntutnya kepada anggota-anggota
keluarga yang lain. Sebagai konsekuensi tuntutan hak atas sakit ini maka anggota keluarga
yang lain dituntut kewajibannya untuk meneruskan tuntutan tersebut kepada masyarakat di
mana saja si sakit tersebut mendapatkan posisi dan peranan.
Tuntutan yang kedua adalah kepada organisasi kerja (tempat kerja), dan yang ketiga
adalah tuntutan hak sakit kepada organisasi-organisasi masyarakat di mana si sakit
menduduki posisi dan men-jalankan peran. Kedua tuntutan ini boleh langsung maupun
melalui lembaga keluarga dan bahkan melalui lembaga pelayanan kesehatan seperti surat cuti
dokter dan sebagainya.
2. Hak yang kedua dari orang sakit adalah hak untuk menuntut (mengklaim) bantuan atau
perawatan kepada orang lain.
Di dalam masyarakat orang yang sedang sakit berada dalam posisi Iemah, lebih lebih
bila sakitnya sudah berada pada derajat keparahan yang tinggi. Di pihak lain orang yang sakit
dituntut kewajibannya untuk sembuh dan juga dituntut untuk segera kembali berperan di
dalam sistem sosial.
Dari situ ia berhak untuk dibantu dan dirawat agar cepat memperoleh kesembuhan.
Di dalam hal ini anggota keluarga dan anggota masyarakat yang tidak sakit berkewajiban

untuk membantu dan merawat. Oleh karena tugas penyembuhan dan perawatan itu
memerlukan suatu kemampuan dan ketrampilan khusus maka tugas ini didelegasikan kepada
lembaga-lembaga masyarakat atau individu-individu tertentu, seperti dukun, dokter,
perawat, bidan, dan petugas kesehatan yang lain. Pemerintah di dalam hal ini juga sebagai
penyelenggara pelayanan sosial berkewajiban untuk memberikan hak-hak penyembuhan dan
perawatan kepada anggotanva yang sedang sakit.

BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
Perilaku sakit merupakan perilaku orang sakit yang meliputi: cara seseorang
memantau tubuhnya,mendefinisikan dan menginterpretasikan gejala yang dialami,
melakukan upaya penyembuhan, dan penggunaan sistem pelayanan kesehatan. Perilaku sakit
bisa berfungsi sebagai mekanisme koping.
b. Saran
Untuk menjaga keadaan kita agar tetap sehat dan fit, berfikirlah secara positif, karena
keadaan sakit dimulai dengan keadaan jasmani, rohani dan sosial yang kurang baik. Sakit
bukan saja karena faktor alam tetapi faktor dari alam bawah sadar kita.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl2431/hak-pasien-atas-pelayanan-kesehatan- dirumah-sakit
http://e-medis.blogspot.co.id/2013/04/peranan-orang-sakit.html
http://naulicatsadeingesh.blogspot.co.id/2012/04/konsep-sehat-sakit.html?m=1
http://dr-suparyanto.blogspot.co.id/2013/10/perilaku-sakit.html
http://fourseasonnews.blogspot.co.id/2012/06/tahap-tahap-perilaku-sakit.html