Anda di halaman 1dari 14

.

Definisi Puring
Puring ialah tanaman semak hias yang berkayu, bentuk
daunnya bermacam - macam (lonjong membundar,
panjang seperti pita dsb) dan warnanya merah atau
hijau bercak-bercak merah atau kuning.
2. Macam Macam Puring
Secara
umum,
berdasarkan :

jenis

puring

dapat

dibedakan

Komposisi warna daunnya.


Warna tunggal (monocolor): hijau, kuning, hitam, atau
merah.
Misal,
puring
jengkol
yang
dominan
hitam.Warna ganda (bicolor), yakni kombinasi dua
warna, seperti hijau-kuning, merah-kuning, hitamkuning, hitam-merah, dan sebagainya. Misalnya puring
tissue, puring air mancur, puring timun, puring telur,
puring tanduk, puring badak, puring kobra, dan puring
koi yang warna daunnya hanya terdiri dari warna hijaukuning
atau
merah-kuning.
Warna
majemuk
(multicolor), puring jenis ini sangat banyak jumlahnya.
Satu daun terdiri atas berbagai warna sehingga tampak
colorfull. Contoh puring seperti ini adalah puring
sakura, puring kirana, puring concorde, puring kura,
puring walet dll.
Bentuk daunnya, Puring dapat dibedakan dalam 2
golongan, yakni
a. Golongan pertama yaitu golongan berdaun lebar,
sepert puring raja dan puring oscar.
b. Golongan kedua adalah golongan puring berdaun
sempit, seperti puring air mancur dan puring Thailand.
Kadang-kadang, puring mengalami mutasi pada bagian
batangnya. Sel-sel di ujung batang pecah sehingga
bentuk batang berubah menjadi pipih pada bagian
ujungnya. Keadaan mutasi seperti ini disebut kistata.

Jenis jenis puring

A. Puring Anggur (Puring batik)


Puring Anggur merupakan puring yang agak jarang
ditemukan, bentuk daunnya oval dengan kombinasi
warna merah, coklat, kuning dan hijau. Daya tariknya
terletak pada corak batik dibagian tengah-tengah.
B. Puring Apel
Ada beberapa jenis puring Apel, diantaranya adalah
puring apel merah Thailand, puring apel washington,
puring apel biasa dan puring ijo yang bentuk daunnya
bulat dengan kombinasi warna hijau kuning.
C. Puring Bor
Puring ini merupakan puring yang paling umum
dijumpai, daunya yang memiliki banyak corak dan
warna, diantaranya adalah berwarna kuning emas (bor
emas), merah, hitam, hijau dan kuning bentuk daunnya
melintir seperti bor.
D. Puring Cabai
Puring cabai memiliki daun kecil-kecil memanjang
dengan warna merah kombinasi dengan coklat, kuning
dan hijau, disebut puring cabai karena daunnya yang
mirip buah cabai.
E. Puring Cobra
Puring Cobra memiliki daun panjang dengan bagian
tengah daun menyempit, lalu melebar kembali
diujungnya, motif daunnya berbelang-belang dengan
warna kuning, hijau dan jingga. Daya tarik puring ini
terletak pada daunnya yang mirip ular cobra.
F. Puring Dasi

Bentuk puring ini ada yang panjang dan juga ada yang
pendek seperti dasi kupu-kupu, jenis puring ini yang
terkenal adalah puring dasi jojon yang bentuk daunnya
lebar dan pendek dengan warna merah cerah.
G. Puring Emping
Puring emping memiliki ciri-ciri bentuk daunnya lancip,
namun begitu ada juga yang bulat, warna daunnya
didominasi hijau dan kuning.
H. Puring Jari
Puring jari karena daun puring ini mirip dengan jari
manusia dan warnanya daunnya hijau dan bagian
tepinya kuning.
I. Puring Jengkol Bewe
Ciri-ciri daunnya merah tua mendekati hitam, namanya
diambil dari bentuk daunnya yang bulat dengan warna
daunnya yang sudah tua mirip dengan jengkol.
J. Puring Kerupuk
Puring kerupuk merupakan puring yang paling banyak
memiliki variasi warna, sehingga kelihatan ramai.
K. Puring Kuku Bima
Warna daunnya merah dan bentuknya sempit sedikit
berpilin pada ujungnya.
L. Puring Kura
Disebut puring Kura karena bentuk daunnya mirip
batok kura-kura dengan warna meran dan corak kotakkotak hijau dan kuning. Puring ini termasuk puring yang
paling banyak diincar oleh para penggemar tanaman
hias puring.

Gambar berbagai Jenis


Puring

3. Cara menanam Puring

Cara menanam Puring yang baik ialah


1. Syarat media tumbuh.
Media tumbuh yang baik harus mampu mengikat dan
menyimpan air dan hara dengan baik, memiliki sistem
sanitasi, aerasi dan drainase yang baik, sehingga tidak
menjadi sumber penyakit dan bersifat tahan lama.
Jangan sampai kondisi media tanam tersebut terlalu
lembab.Komposisi media tumbuh puring bisa terdiri
atas tanah merah, humus daun, sekam bakar, pupuk
kandang dan bambu.
2.

Penyiraman.
Puring akan tumbuh baik bila kebutuhan air tercukupi.
Penyiraman dilakukan satu kali sehari, pagi atau sore
jika kondisi panas, atau dua hari sekali jika kondisi
hujan, atau jangan disiram jika kondisi media masih
basah. Kelebihan air bisa menyebabkan akar busuk
yang ditandai dengan rontoknya daun-daun muda.

3.

Pencahayaan.
Cahaya dianggap mampu membuat warna puring
menjadi lebih cerah. Puring yang kurang cahaya
warnanya akan memudar. Oleh karena itu, ada baiknya
pemilik tanaman memenuhi kebutuhan tanaman ini
akan cahaya matahari secukupnya. Bila puring
dijadikan tanaman hiasindoor, setiap sepekan sekali
puring dikeluarkan agar kebutuhan akan panas atau
cahaya matahari bisa tercukupi.

4. Pemupukan.
Pemupukan bisa dilakukan melalui akar atau daun,
setiap tiga bulan sekali. Pemupukan melalui akar
dengan cara disiram atau ditabur di atas media
sedangkan
pemupukan
melalui
daun
dengan
penyemprotan. Dosis yang digunakan disesuaikan
dengan jenis pupuk. Saat melakukan pemupukan, ada
baiknya juga disertai dengan penggantian media tanam

Cara menanam puring baik ditanam di media tanah


langsung, akan tetapi bisa juga di dalam pot. Untuk
menanam di dalam pot, sebaiknya menggunakan
campuran
tanah,
humus,
dan
pasir
dengan
perbandingan 1 : 1 : 1. Kemudian, masukan bibit pada
pot yang sudah diisi dengan media tanam tadi. Puring
jika sering dipangkas akan cepat lebat dan kelihatan
indah menarik, dan perawatan puring sangat mudah
cukup dengan menyiramnya setiap hari. Puring dapat
dikembang biakan dengan cara di stek dan di cangkok
4. Media Tanam yang cocok untuk Puring
Media tanam yang cocok untuk puring ialah :
a. Tanah Merah
Media tanah merah memang banyak dipakai
pekebun puring.Tanah merah dipilih karena puring
dianggap tanaman bandel. Di tanah merah lapisan
bawah
(seperti
di
pemakaman)
pun
dapat
tumbuh. Puring pun mampu beradaptasi di tanah liat
hingga berpasir. Tanah liat mengikat air dengan kuat,
tapi sulit dilewati air. Sebaliknya tanah berpasir kurang
mengikat air, tapi mudah dilewati air.Lantaran bandel,
banyak kolektor dan pekebun meniru media tumbuh
puring di alam untuk penanaman di pot tanpa
modifikasi sama sekali. Lazimnya mereka membuat
campuran 50-80% tanah merah dan sisanya pupuk
kandang atau kompos. Padahal kondisi mikro di pot
dengan di lahan berbeda,. Di pot jumlah air, hara, dan
udara serba terbatas. Karena itu dibutuhkan media
porous, artinya mudah memegang air sekaligus
gampang dilewati air. Bila media terlalu kuat mengikat
air, daerah perakaran becek sehingga akar gampang
busuk. Sebaliknya bila terlalu mudah dilewati air,
daerah perakaran kering.Media terlalu basah atau
kering berisiko kematian bagi puring muda yang baru
dipindahkan.

b. Campuran Cocochip/Potongan Sabut Kelapa


Media campuran cocochip alias potongan sabut
kelapa, humus bambu, dan tanah merah dengan
komposisi 60:15:25. Tanah merah tetap digunakan
karena berperan mengikat akar. Bila media tak
mengikat akar, tanaman gampang roboh. Agar tanin
pada cocochip hilang, pastikan sebelum dipakai
direndam air selama seminggu, lalu dikeringkan, humus
bambu kaya hara makro dan mikro yang siap dipasok
ke tanaman saat dibutuhkan. Humus memiliki sifat
mengikat hara agar tak mudah tercuci, tapi dapat
diserap tanaman saat dibutuhkan. Bobot jenis bahan
organik pun lebih rendah ketimbang tanah merah
sehingga humus bambu lebih ringan.
Prinsipnya porous dan harus banyak tersedia
sehingga mudah didapat. Artinya, bahan lain yang
sudah lazim seperti arang sekam, pupuk kandang, dan
pasir bisa digunakan. Arang sekam matang mudah
mengikat air, tidak mudah lapuk, dan tidak gampang
menggumpal. Peran pasir agar campuran media
porous.
5. Hama dan Penyakit yang menyerang Puring
Hama
Beberapa hama utama pada Puring adalah Mealibug,
thrips dan kutu merah. Sedangkan penyakit utama
pada croton adalah busuk batang dan busuk pucuk.
Serangan Mealibug ditandai dengan adanya hama
berwarna putih dilindungi tepung pada daun atau pada
batang. Biasanya serangan dimulai pada pucuk muda
dan meluas pada daun dan batang tua. Mealibug akan
menghisap cairan daun, sehingga serangan berat dapat
mengakibatkan
daun
menguning.
Seringkali
kemunculan mealibug diikuti oleh embun jelaga atau
noda warna hitam diatas daun. Embun jelaga adalah
jamur yang memakan kotoran mealibug berupa nektar.

Jika Mealibug telah menghilang, maka dengan


sendirinya embun jelagapun akan mati.
Pada beberapa kasus, serangan Mealibug maupun
thrips, akan mengakibatkan daun muda menjadi
malformasi atau tumbuh tidak sempurna, mengeriting.
Hal tersebut dapat terjadi karena kedua hama tersebut
dapat menjadi vektor atau perantara virus. Virus
keriting daun atau Tobaco Mozaic Virus adalah virus
yang masuk kedalam daun dengan perantara hama,
dan
selanjutnya
mempengaruhi
protein
dan
mengakibatkan
jaringan
tumbuh
tidak
normal.
Serangan virus pada stadium awal, dapat diobati
dengan memotong tangkai tanaman yang telah
terserang dan dibakar. Namun jika serangan sudah
meluas, biasanya keriting tidak hanya menyerang daun
muda tetapi akan menjalar ke daun dibawahnya dan
menjadi sulit untuk dihentikan (Budiarto, 2007).
Mealibug lebih menyukai tempat yang lembab dan
kurang cahaya matahari, sehingga untuk mengurangi
hama tersebut, dapat dilakukan dengan dengan jarak
tanam yang lebih longgar. Jika hama mulai menyebar,
dapat dikendalikan dengan pestisida dari jenis
Insektisida.
Misalnya Diazinon, Pegasus, Schumec, dan metindo
(Budiarto,
2007).
Thrips dapat menyerang daun muda maupun bunga
dengan cara menghisap cairan jaringan tersebut.
Serangan
thrips
juga
dapat
diikuti
dengan
pengeritingan daun akibat adanya virus yang masuk
kedalam jaringan tanaman. Pengendaliannya dapat
dilakukan dengan penyemprotan Insektisida (Budiarto,
2007). Daun tanaman puring sering berubah dari daun
besar atau oval menjadi kecil seperti keriting dan
memanjang. Sebagian orang mengira, hal tersebut
adalah penyakit oleh virus, tapi sebenarnya adalah
respon terhadap kekurangan pupuk. Pemberian pupuk
yang seimbang akan mengobati masalah tersebut

Beberapa hama penting yang menyerang


tanaman puring adalah sebagai berikut :
Kutu Putih (Homoptera aleyrodiae)
Kutu putih pada umumnya menempel di daun
atau tangkai bunga pada musim kemarau.
Larvanya akan menusuk dan mengikat cairan selsel daun serta mengakibatkan daun berkeriput.
Kutu ini dapat diberantas dengan insektisida
seperti Malathion, Diazinon, Orthane, dan
metindo dengan dosis sesuai anjuran pada
labelnya.
Tungau (Tetranychus sp.)

Hama ini bersifat poliphag dan menyerang lebih


dari 100 jenis tanaman. Tungau betina sekali bertelur
kurang lebih 100 butir. Umur satu generasi mencapai
10 hari pada temperatur 300 C atau 22 hari pada
temperatur 180 C. tungau aktif pada siang hari dan
membuat benang-benang halus. Tungau dewasa
berukuran 0,5 mm warnanya kuning pucat hingga
kemerahan. Penyebaran tungau dapat terjadi karena
angin yang menghembuskan hingga berhamburan, ikut
bersama daun yang jatuh, melalui pakaian orang yang
lewat didekatnya, alat pertanian, serangga. Hama ini
menyerang tanaman pada musim kemarau yang
ditandai dengan adanya bintik-bintik pucat dan banyak
sarang pada daun. Serangan yang berat menyebabkan
daun menggulung berwarna coklat, kemudian
bergugur.
Wereng putih (Empoasca sp.)

Serangga ini berwarna putih, bentuknya kecil,


memiliki sepasang sayap berukuran 0,5 mm. hama ini
terdapat di permukaan bawah daun menyerang
tanaman hingga menimbulkan noda pada daun. Daun
yang terserang berwarna coklat kemerahan seperti
terbakar, tepi daun menggulung ke bawah kemudian
mongering. Hama meletakkan telurnya di bagian
bawah daun. Pengendalian hama ini dengan membakar
daun-daun yang terserang hama atau tanaman yang
diserang disemprot insektisida Tamaron, Decis, atau
Matados dengan konsentrasi 0,2%.
Thrips sp.

Hama ini berkembang pesat jika udara kering dan


temperatursekitar 260 C 280 C. panjangnya 1 mm 2
mm, berwarna hitam, bertelur hingga 50 butir. Lama
perkembangan mulai telur sampai dewasa sekitar 33
hari. Kebanyakan thrips bersifat parthenogenesis.
Thrips menyerang dengan cara menghisap cairan dari
permukaan hingga terjadi bercak berwarna putih
seperti perak. Bercak tersebut akan berubah menjadi
warna coklat, kemudian daun mati dan gugur. Serangan
yang berat menyebabkan daun menjadi keriput seperti
terserang virus. Pengendaliannya dengan cara
menyemprot insektisida Decis 0,5 cc 1 cc/liter ait atau
Thiodan 2 cc/liter air.
Penyakit
Penyakit yang sering muncul adalah busuk batang atau
busuk pucuk. Keduanya mudah muncul saat lingkungan

lembab, misalnya pada musim hujan. Tanaman yang


kekurangan pupuk, lebih mudah terkena penyakit.
Pemberian pupuk yang seimbang, serta menambah
pupuk dengan unsur Kalium tinggi disaat musim hujan,
adalah salah satu cara pencegahannya. Kalium yang
tinggi mengakibatkan jaringan tanaman lebih kuat dan
tidak mudah ditembus penyakit. Karena penyakit ini
mudah muncul pada kelembaban tinggi, maka
mengatur jarak tanam juga salah satu cara
mengendalikannya. Pengendalian juga dapat dilakukan
dengan penyemprotan fungisida (contohnya Dithane
M45/Antracol dengan dosis 1 gram/liter air)
Penyakit yang menyerang puring umumnya
merupakan gangguan yang diakibatkan oleh
adanya patogen atau jasad renik yang tidak
terlihat mata biasa.
Penyakit Karat

Penyakit ini menyerang tanaman pada malam hari


yang udaranya lembap, banyak hujan, dan berkabut.
Serangan berat dapat menimbulkan bercak-bercak
berwarna kecoklatan, kemudian daun mongering.
Pengendaliannya dengan membuat Drainase media
tanam agar air tidak menggenang, daun-daun yang
terserang dipotong dan dibakar dan tanaman
disemprot dengan fungisida Zineb 2%, atau Dithane M45 sebanyak 2 3 gram/liter air.
Lumut Kerak

Lumut ini menempel pada batang dan


percabangan tanaman yang tidak terkena cahaya
matahari. Serangannya tidak membahayakan, tetapi
ganggu kebersihan dan penampilan tanaman karena
batang dan percabangan tampak kotor.
Pengendaliannya yaitu :
Bagian batang yang diserang dipangkas dan dibakar.
Cahaya matahari diusahakan dapat menembus seluruh
bagian tanaman.
Lumut pada batang dibersihkan dengan cara dikerok
menggunakan pisau secara hati-hati, jangan sampai
kulit batang terluka atau tergores.
Batang tanaman yang diserang diolesi dengan
fungisida dengan menggunakan kuas, misalnya, Cobox,
Zineb, Benlate dan Ridomil dengan konsentrasi 2%.