Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Batas-batas wilayah negara adalah manifestasi kedaulatan teritorial
suatu negara. Batas-batas wilayah ini ditentukan oleh proses sejarah, politik,
dan hubungan antar negara, yang dikulminasikan ke dalam aturan atau
ketentuan hukum nasional maupun hukum internasional. Penanganan
masalah dan pengelolaan perbatasan sangat penting saat ini untuk digunakan
bagi berbagai kepentingan dan keperluan, baik oleh pemerintah maupun
masyarakat. Untuk itu diperlukan strategi yang tepat untuk melakukan
pengelolaan wilayah perbatasan nasional Indonesia. (Agoes, dkk.,2005)
Berdasarkan Permendagri Pasal 1 ayat (4) bahwa batas desa
merupakan pemisah antara desa yang satu dengan desa yang lainnya . Batas
desa dikatakan jelas dan tegas jika batas tersebut telah memiliki kepastian
hukum dan dapat diukur serta diwujudkan dalam bentuk peta. (Dino, 2015)
Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan sistem basis data
dengan kemampuan analisis yang tereferensi secara spasial. SIG memiliki
kemampuan untuk menginterpretasi data spasial dan data atribut sehingga
dapat mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan
pengolahan sumber daya alam, lingkungan, transportasi, dan fasilitas
pelayanan umum lainnya. ( Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar,
2007)
Dengan adanya Sistem Informasi Geografis (SIG), kita dapat
melakukan observasi, perencanaan, dalam penentuan batas desa. Selain itu
mempermudah aparatur negara untuk mengatur ataupun mengelola
perbatasan antar desa dalam laporan praktek kerja lapangan di wilayah
Kabupaten Kapuas.

1.2

Rumusan Masalah
Rumusan Masalah dalam kegiatan ini adalah :
Bagaimana pembuatan peta batas administrasi khususnya Desa
Masupa Ria, Kecamatan Mandau Talawang di Kabupaten Kapuas.
1

1.3

Tujuan Penulisan
Maksud dari kegiatan praktek kerja lapangan ini adalah proses atau
tahapan dalam pembuatan peta kajian sebagai acuan untuk melakukan
pelacakan peta batas desa.
Tujuan dari kegiatan ini dilakukan adalah untuk menghasilkan peta
kajian berupa data dari vektor dan raster yang dapat digunakan aparat
Pemerintah Desa dalam melaksanakan pelacakan batas desa.

1.4

Volume Pekerjaan
Cakupan yang dilakukan meliputi sebagai berikut :
1. Pengumpulan data berupa shapefile dan citra.
2. Lokasi kegiatan wilayah Kabupaten Kapuas.
3. Metode yang digunakan metode kartomerik.
4. Print out peta kertas A3 dan A4 yang sudah dilengkapi keterangan
administrasi batas desa.

1.5

Manfaat
1. Manfaat umum dari kegiatan ini :
Aparat pemerintah dapat memahami hasil peta administrasi yang
dicetak.
2. Manfaat khusus dari kegiatan ini :
Manfaat dari dibuatnya peta batas desa. Agar pemerintah setempat
dapat menggunakan hasil peta tersebut untuk penulusuran dan
pelacakan batas desa di wilayah Kabupaten Kapuas.

BAB II
SPESIFIKASI PANDUAN KERJA
2.1

Pengertian Peta
Peta adalah gambaran sebagian atau seluruh muka bumi baik yang
terletak di atas maupun di bawah permukaan dan disajikan pada bidang
datar pada skala dan proyeksi tertentu (secara matematis). Karena dibatasi
oleh skala dan proyeksi maka peta tidak akan pernah selengkap dan sedetail
aslinya (bumi), karena itu diperlukan penyederhanaan dan pemilihan unsur
yang akan ditampilkan pada peta. ( Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat
Dasar, 2007 )
Namun menurut para ahli tentang peta adalah sebagai berikut :
1. ICA

(International

Carthographic

Assotiation)

Peta

adalah gambaran ataurepresentasi unsur-unsur ketampakan abstrak


yang dipilih dari permukaan bumi yangada kaitannya dengan
permukaan bumi atau benda-benda angkasa, yang padaumumnya
digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil/diskalakan.
2. Ariyono Prihandito (1988) : Peta merupakan gambaran permukaan
bumi denganskala tertentu, digambar pada bidang datar melalui
sistem proyeksi tertentu.
3. Erwin Raisz (1948) : Peta adalah gambaran konvensional dari
ketampakan muka bumi yang diperkecil seperti ketampakannya
kalau dilihat vertikal dari atas, dibuat pada bidang datar dan
ditambah tulisan-tulisan sebagai penjelas.
4. Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (BaKoSurTaNal)
: Peta merupakan wahana bagi penyimpanan dan penyajian data
kondisi lingkungan, merupakan sumber informasi bagi para
perencana dan pengambilan keputusan pada tahapan dan tingkatan
pembangunan.

2.2

Batas
Batas adalah garis/sisi atau sempadan pemisah antara dua buah
daerah atau permukaan bumi dalam kaitannya dengan administrasi
pemerintah, lingkungan, perairaan, sungai dan bidang lainnya. Batas
administrasi pemerintahan baik provinsi maupun kabupaten/kota dikenal
dengan daerah otonom. Daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum
yang mempunyai batas-bats wilayah yang berwenang mengatur dan
mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
menurut prakarsa sendiri berdasarkan asoirasi dalam sistem suatu Negara.
( Penegasan Batas dalam Kaltimprov, 2014 )

2.2.1

Pengertian Batas Daerah


Penataan Batas di Daerah daratan, dilakukan melalui: pemisahan
wilayah untuk penyelenggaraan kewenangan suatu daerah dengan daerah
lain. Sedangkan penentuan untuk menegaskaan batas daerah di daratan
harus mengacu pada dokumen (U.U tentang Pembentukan Daerah beserta
lampiran peta wilayah), dan Peraturan Pemerintah, Peraturan Daera
(PERDA) tentang pembentukan Desa/Kelurahan/Kecamatan. Batas wilayah
di darat terdiri dari d2 (dua) : yaitu masing-masing batas alam, seperti
sungai, gunung, dll, dan batas buatan, seperti pilar bats, tugu, jalan, saluran
irigsai dll.
( Penegasan Batas dalam Kaltimprov, 2014 )
Tujuan penegasan batas, adlah untuk menyiapkan fakta dan
informasi yang jelas dalam penetapan batas yang pasti di lapangan. Lebih
spesifik Tujuan penegasan batas wilayah ini, adalah untuk menetapkan batas
kewenangan pelayanan publik, baik wajib maupun pilihan.
( Penegasan Batas dalam Kaltimprov, 2014 )

2.2.2

Metode Kartometrik
Mengacu

kepada

Permendagri

No.76

tahun

2012,

metode

Kartometrik adalah penelusuran/penarikan garis batas pada peta kerja dan


pengukuran/perhitungan posisi titik, jarak serta luas cakupan wilayah
4

dengan menggunakan peta dasar dan peta peta lain sebagai pelengkap.
Dari pengertian ini, untuk penelusuran dan penarikan garis batas serta
pengukuran dan perhitungan posisi ( koordinat ), jarak serta luas cakupan
wilayah, terlebih dahulu harus disiapkan peta kerja. Peta kerja ini dibuat
menggunakan peta dasar ( peta RBI ) sebagai acuan dan peta peta atau
informasi geospasial lain seperti citra satelit sebagai pedukung.
2.3

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor : 27 Tanggal : 10 Oktober


2006 Tentang Prosedur Penetapan Dan Penegasan Batas Desa
2.3.1

Prinsip Penetapan Batas Desa


Penetapan batas desa adalah proses penetapan batas dilakukan secara

kartometrik di atas suatu peta dasar yang disepakati. Proses penetapan ini
terdiri atas tiga tahapan kegiatan, antara lain:
1. Penentuan Peta Dasar
a. Peta dasar yang dapat digunakan untuk menggambarkan batas desa
secara kartometrik dapat menggunakan peta rupabumi, peta topografi,
peta pajak bumi dan bangunan, peta pendaftaran tanah, peta laut dan
citra satelit.
b. Sebagai kesepakatan penggunaan peta batas secara kartometrik dibuat
berita acara.
2. Pembuatan Peta Batas desa Secara Kartometrik
a. Pembuatan peta batas desa secara kartometrik dibuat sesuai spesifikasi
teknis yang sudah ditentukan.
b. Peta penetapan batas desa akhir yang dihasilkan mempunyai spesifikasi
pemetaan seperti tabel di bawah ini:
Tabel 1 : Spesifikasi Teknis Pemetaan Wilayah Desa

( Sumber : Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor : 27 Tahun 2006 )

2.4

Spesifikasi Citra Bing


Citra Opensource seperti Bing menggunakan citra dari citra satelit
landsat 8, mulai tanggal 11 Februari 2013, NASA melakukan peluncuran
satelit Landsat Data Continuity Mission (LDCM). Satelit ini mulai
menyediakan produk citra open access sejak tanggal 30 Mei 2013, menandai
perkembangan baru dunia antariksa. NASA lalu menyerahkan satelit LDCM
kepada USGS sebagai pengguna data terhitung 30 Mei tersebut. Satelit ini
kemudian lebih dikenal sebagai Landsat 8. Pengelolaan arsip data citra
masih ditangani oleh Earth Resources Observation and Science (EROS)
Center. Landsat 8 hanya memerlukan waktu 99 menit untuk mengorbit bumi
dan melakukan liputan pada area yang sama setiap 16 hari sekali. Resolusi
temporal ini tidak berbeda dengan landsat versi sebelumnya.
( NASA. Landsat Data Continuity Mission Brochure, 2013 )
Platform Bing Maps menyediakan data visualisasi untuk menambah
gambaran. Dari tampilan gambar besar, kita dapat menentukan point yang
menarik juga lebih mengerti konteks gambaran dimana lokasinya dan
meliputi resulusi tinggi gambaran aeriak, street maps, dan kombinasi peta
dan label aerial layer. Dan dengan sistem ArcGIS 9.3.1 yang keluar, bing
maps dapat dengan mudah diakses oleh kostumer ArcGIS.
Karena Microsoft dan ESRI produk bekerja sama, Anda tidak perlu
mengalokasikan sumber daya tambahan untuk integrasi sistem dan
interoperabilitas. ESRI terintegrasi dengan produk-termasuk Microsoft SQL
Server 2008 lainnya, SharePoint Server 2007, dan Microsoft Dynamicsyang mungkin menjadi bagian dari solusi Bing Maps Anda. Bersama-sama,
Microsoft dan ESRI membuatnya mudah bagi Anda untuk menemukan,
memvisualisasikan, dan bertindak atas informasi dari berbagai sumber.
( Bing, Bing Brochure,2010 )
Manfaat Intergrasi Sebagai built-in layanan terpadu di seluruh ESRI ArcGIS
9.3.1 Sistem, Bing Maps memberikan kualitas tinggi lapisan peta dasar

untuk membuat, mengelola, visualisasi, dan memberikan data. Integrasi ini


membantu organisasi menjadi produktif dengan GIS lebih cepat,
meningkatkan proses bisnis, mendapatkan wawasan informasi geografis,
dan meningkatkan sambungan pelanggan untuk data dan aplikasi manfaat
tambahan dari ArcGIS dan Bing Maps integrasi mencakup kemampuan
untuk:
Membuat dan mempublikasikan peta kaya lebih cepat dan lebih mudah.
Membuat, mengedit, dan menganalisis data GIS kustom didukung oleh
layanan geocoding.
2.4.1

Spesifikasi Landsat 8
Pemanfaatan data satelit LDCM (Landsat-8) atau data inderaja

lainnya, yang berorientasi pada ketersediaan data dan kebutuhan jenis


informasi, faktor-faktor yang menjadi pertimbangan untuk melaksanakan
aplikasi kasus-kasus pemetaan atau perencanaan wilayah, pengelolaan
sumber daya alam dan lingkungan maupun untuk pengelolaan bencana
alam dan lain sebagainya dengan hasil yang efektif dan efisien adalah:
1. Pemilihan data yang menyangkut: pemilihan kanal/resolusi atau
kombinasi kanal spektral dan resolusi spasial, resolusi temporal dan
resolusi radiometrik serta luas liputan satu citra,
2. Penentuan prosedur atau teknik dan metode pengolahan dan analisis data
citra.
Sekarang ini data citra dari satelit-satelit seri Landsat adalah yang
secara rutin digunakan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia dalam
peramalan pertanian, eksplorasi energi, pemantauan ekosistem, pengelolaan
sumber alam, pemetaan penggunaan lahan/penutup lahan, pengumpulan
intelligent militer, dan mitigasi bencana.

Khususnya di Indonesia,

ketersediaan data inderaja TM/ Landsat-5 dan ETMplus/Landsat-7 yang


diterima pada Stasiun Bumi Penginderaan Jauh (Inderaja) Parepare yang
dioperasikan oleh LAPAN, dan kemudahan perolehan data dari Stasiun

Bumi Inderaja ParePare

tersebut di atas, telah

membuka peluang

pemanfaatan data inderaja tersebut untuk berbagai bidang aplikasi. Hal itu
dapat

dilihat

dari

penelitian/

pengembangan

dan

operasionalisasi

pemanfaatan data tersebut untuk sektor kehutanan, pertanian, perkebunan,


pengembangan wilayah, geologi/ pertambangan, pemetaan dan lain
sebagainya di Indonesia. Akan tetapi sehubungan dengan kondisi teknis
Landsat-7 yang mengalami keadaan SLC OFF, maka dengan kondisi data
ETMplus tersebut, Stasiun Bumi
Hasil kajian ini menunjukkan perlunya
data Landsat

di

Indonesia

melalui

kontinuitas

akuisisi

pengembangan

Stasiun

Bumi Inderaja yang dikelola oleh LAPAN untuk dapat menerima data satelit
Landsat masa depan yaitu

LDCM (Landsat-8) di dalam menjamin

kontinuitas pelayanan data, bagi para pengguna data inderaja dan juga di
dalam pengembangan teknologi Inderaja di Indonesia.

Hasil kajian ini

dapat pula digunakan sebagai alat pertimbangan pemilihan

atau

pemanfaatan data satelit masa depan: LDCM (Landsat-8) untuk aplikasi


pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di Indonesia. ( Gokmaria
Sitanggang, Peneliti Bidang Bangfatja, LAPAN, 2013)
Gambar 2.1 : Satelit Landsat 8

( Sumber Gambar : http://www.usgs.gov, 2011)

Tabel 2 : Parameter Parameter Orbit Satelit LDCM ( LANDSAT-8)


Jenis Orbit

mendekati lingkaran sikron

Ketinggian
Inklinasi
Periode
Waktu liput ulang (resolusi temporal)
Waktu melintasi katulistiwa (Local Time on

matahari
705 km
98.2
99 menit
16 hari
Jam 10:00 s.d 10:15 pagi

Descending Node -LTDN) nominal


(Sumber : Gokmaria Sitanggang Peneliti Bidang Bangfatja, LAPAN, 2013)

Tabel 3 : Karakteristik Teknis Satelit LDCM ( LANDSAT-8 )


PARAMETER
SATELIT

SPESIFIKASI TEKNIS

Wahana Satelit
Bus SA-200HP ( Dayaguna tinggi )
Massa Satelit
Massa peluncuran : 2623 kg; massa kering : 1512 kg
Umur
5 tahun ; dukungan yang dapat dikonsumsi pada satelit
rancangan
(onboard) : hydrazine: 86 kg, akan berakhir untuk umur
satelit
operasi 10 tahun.
Subsistem
-Tenaga listrik : 4.3 kW @ EOL (End of Life).
Tenaga
- Array matahari tunggal yang dapat dikembangkan dengan
Listrik
kapabilitas artikulasi sumbu-tunggal.
(Electric
- Sel-sel matahari sambung-tiga (Triple-junction)
Power
- Baterei : NiH2 dengan kapasitas: 125 Ah
SubsystemEPS)
Subsistem
- Aktuasi : 6 roda-roda reaksi 3 tiga batang tenaga putaran
Kontrol dan
(torque rods)
Penentuan
- Sikap satelit diindera dengan tiga buah alat untuk
Sikap
mengikuti jejak bintang (star trackers) yang presisi
(Attitude
Determination - SIRU (Scalable Inertial Reference Unit) (redundant)
- 12 buah sensor matahari yang kasar,
and
- Penerima penerima GPS (Viceroy) (redundant)
Control
Subsystem- 2 TAMs (Three Axis Magnetometers)
ADCS)
- Kesalahan kontrol sikap satelit (3) (Attitude control error
I3)) : 43 rad
- Kesalahan pengetahuan sikap satelit (3) (Attitude knowledge
error (3)): 29 rad
- Stabilitas pengetahuan sikap satelit (3) (Attitude knowledge
stability (3): 1.7 rad dalam waktu 2,5 detik.
- Jitter Sikap (Attitude Jitter) 0 .21 rad dalam 0.5 detik

- Waktu slew, 180 pitch: 8.5 menit, inclusive settling


- Waktu slew , 15 roll: 3.7 menit, inclusive settling

Subsistem
- cPCI backplane RAD750 CPU standar.
Penanganan
- Bus data MIL-STD-1553B
Data dan
- Perekam solid state memberikan kapasitas penyimpanan 4
Komando
TB @ BOL dan 3.1 TB @ EOL
(Command &
Data
HandlingC&DH)
Subsistem
Perubahan kecepatan total V = 334 m/detik menggunakan 8
Propulsi
pendorong ( thrusters ) 22 N
(Propulsion
subsystem)
Resolusi Spasial 30 meter
(Sumber : Gokmaria Sitanggang Peneliti Bidang Bangfatja, LAPAN, 2013)

Tabel 4 : Spesifikasi Kanal Kanal Spektral Sensor ( LANDSAT-8 )

Ka
nal
No

Kanal

Kisaran
spektral
(nm)

Penggunaan
Data

Biru

433-453

Biru

450-515

3
4
5

Hijau
Merah
Infra
merah
dekat

525-600
630-680
845-885

Aerosol/coastal
zone
Pigments/scatter
/coastal
Pigments/coastal
Pigments/coastal
Foliage/coastal

10

GSD
(resolusi
spasial)
30 m

30 m
(Kanalkan
al wari-

Radianc
e
(W/m2s
r
m),
typical
40

SNR
(typic
al)
130

40

130

30
22
14

100
90
90

(NIR)
6

SWIR 2

SWIR 3

PAN

SWIR

san TM)
15601660
21002300
500-680
13601390

Foliage

4.0

100

Minerals/litter/n
o scatter
Image
sharpening
Cirruscloud
detection

1.7

100

15 m

23

80

30 m

6.0

130

(Sumber : Gokmaria Sitanggang Peneliti Bidang Bangfatja, LAPAN, 2013)

2.5

SIG ( SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS )


Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS)
yang selanjutnya akan disebut SIG merupakan sistem informasi berbasis
komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau
informasi geografis (Aronoff, 1989).
Secara umum pengertian SIG sebagai berikut:
Suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat
lunak, data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara
efektif untuk memasukan, menyimpan,memperbaiki, memperbaharui,
mengelola,

memanipulasi,

mengintegrasikan,

menganalisa

dan

menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis .


SIG akan selalu diasosiasikan dengan sistem yang berbasis
komputer, walaupun pada dasarnya SIG dapat dikerjakan secara manual,
SIG yang berbasis komputer akan sangat membantu ketika data geografis
merupakan data yang besar (dalam jumlah dan ukuran) dan terdiri dari
banyak tema yang saling berkaitan.
SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data
pada suatu titik tertentu di bumi,menggabungkannya, menganalisa dan
akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan
data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan
lokasiyang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya.
Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti; lokasi,
11

kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuaninilah yang membedakan


SIG dari sistem informasi lainnya.
Telah dijelaskan diawal bahwa SIG adalah suatu kesatuan sistem
yang terdiri dari berbagai komponen, tidak hanya perangkat keras komputer
beserta dengan perangkat lunaknya saja akan tetapi harus tersedia data
geografis yang benar dan sumberdaya manusia untuk melaksanakan
perannya dalam memformulasikan dan menganalisa persoalan yang
menentukan keberhasilan SIG. ( Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar,
2007 )
2.5.1

Data Spasial
Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan

data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem
koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian
penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi
(spasial) dan informasi deskriptif (attribute) yang dijelaskan berikut ini :
1. Informasi lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik
koordinat geografi (lintang dan bujur) dan koordinat XYZ, termasuk
diantaranya informasi datum dan proyeksi.
2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial, suatu lokasi
yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya,
contohnya : jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya.
Secara sederhana format dalam bahasa komputer berarti bentuk dan kode
penyimpanan data yang berbeda antara file satu dengan lainnya. Dalam
SIG, data spasial dapat direpresentasikan dalam dua format, yaitu:
1. Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam
kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal
dan berakhir pada titik yang sama), titik dan nodes (merupakan titik
perpotongan antara dua buah garis).
Gambar 2.2 : Data Vektor

12

(Sumber Gambar : Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar, 2007 )

Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam


merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus. Hal ini sangat
berguna untuk analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya
pada basisdata batas-batas kadaster. Contoh penggunaan lainnya
adalah untuk mendefinisikan hubungan spasial dari beberapa fitur.
Kelemahan data vektor yang utama adalah ketidakmampuannya dalam
mengakomodasi perubahan gradual. ( Modul Pelatihan ArcGIS
Tingkat Dasar, 2007 )
2. Data raster (atau disebut juga dengan sel grid) adalah data yang
dihasilkan dari sistem Penginderaan Jauh. Pada data raster, obyek
geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut
dengan pixel (picture element).
Gambar 2.3 : Data Raster

(Sumber Gambar : Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar, 2007 )

Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran


pixel-nya. Dengan kata lain, resolusi pixel menggambarkan ukuran
sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh setiap pixel pada

13

citra. Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan


oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat baik untuk
merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti
jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah dan sebagainya.
Keterbatasan utama dari data raster adalah besarnya ukuran file;
semakin tinggi resolusi grid-nya semakin besar pula ukuran filenya
dan sangat tergantung pada kapasistas perangkat keras yang tersedia.
Masing-masing format data mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Pemilihan format data yang digunakan sangat tergantung pada tujuan
penggunaan, data yang tersedia, volume data yang dihasilkan, ketelitian
yang diinginkan, serta kemudahan dalam analisa. Data vektor relatif lebih
ekonomis dalam hal ukuran file dan presisi dalam lokasi, tetapi sangat sulit
untuk digunakan dalam komputasi matematik. Sedangkan data raster
biasanya membutuhkan ruang penyimpanan file yang lebih besar dan
presisi lokasinya lebih rendah, tetapi lebih mudah digunakan secara
matematis. ( Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar,
2007 )
2.5.2

ArcGIS
ArcGIS adalah salah satu perangkat lunak SIG yang memiliki versi

desktop. Perangkat lunak ini memiliki banyak fungsional, exstension yang


sudah terintegrasi, dan juga mengimplementasikan konsep basis data
spasial; khususnya geodatabase (baik personal maupun multi-user). ArcGis
dekstop memiliki 4 aplikasi dasar, yaitu :
1. Arcglobe

, adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk

menampilkan peta-peta secara 3D ke dalam bola dunia dan dapat


dihubungkan langsung dengan internet. Aplikasi ini umumnya
dirancang untuk digunakan dengan dataset yang sangat besar dan
memungkinkan untuk visualisasi yang tidak terputus untuk data raster
dan fitur peta lainnya. View dalam arcglobe didasarkan pada

14

pandangan global, dengan semua data diproyeksikan ke proyeksi cube


global dan ditampilkan pada berbagai tingkat detail ( LODs ).
2. ArcScene

, adalah sebuah aplikasi yang

digunakan untuk mengolah dan menampilkan peta-peta


ke dalam 3D. ArcCatalog digunakan untuk menjelajah
(browsing),

mengatur

(organizing),

membagi

(distribution) dan menyimpan (documentation) data


data SIG. Secara sederhana, fungsi dari ArcCatalog
ialah manajemen data.
3. ArcCatalog

, merupakan bagian dari ArcGis yang

digunakan untuk menjelajah (browsing), mengatur (organizing),


membagi (distribution) dan menyimpan (documentation) data data
SIG. Secara sederhana, fungsi dari ArcCatalog ialah manajemen data.
4. ArcMap

, merupakan modul utama di dalam ArcGis yang

digunakan untuk membuat (create), menampilkan (viewing), memilih


(query), editing, composing dan publishing peta. ( Pengenalan
ArcGis, 2014 )

15

BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1

Informasi Umum Instansi


Kabupaten Kapuas dengan ibu kota Kuala Kapuas adalah Daerah
Otonom , sebagaimana dimaksud dalam UU Nomor 27 / 1959 tentang
Pembentukan Daerah Tingkat II Kalimantan Tengah. Setelah adanya
perubahan Kabupaten di Kalimantan Tengah. Maka luas dari Kabupaten
Kapuas adalah 14.999 km2. Jumlah kecamatannya adalah 14 buah.
(sumber : Pemerintah Daerah Kapuas )
Sesuai Peraturan Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Nomor : 1
Tahun 2008 tentang urusan Pemerintahan Daerah Kapuas tercantum bahwa
berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada penjelasan ayat
sebelumnnya, perlu menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Kapuas
tentang Urusan Pemerintahan Kabupaten Kapuas.
Pemerintah Kabupaten Kapuas memiliki koordinasi antar pejabat
berwenang. Dari semua yang menjabat ada bagian yang disebut Bagian

16

Pemerintahan Umum. Adapun tugas, fungsi, dan struktur organisasi Bagian


Pemerintahan Umum adalah:
Tugas :
Bagian Administrasi Pemerintahan Umum mempunyai tugas
melaksanakan program dan petunjuk teknis pembinaan penyelenggaraan
administrasi tata pemerintahan, kerjasama daerah dan pertanahan.
Fungsi :
1)

Pengumpulan

bahan

koordinasi

dan

penyusunan

pedoman

penyelenggaraan pemerintahan umum yang meliputi bidang


pengawasan, tugas pembantuan, ketentraman dan ketertiban,
kesatuan

bangsa

penanggulangan

dan

politik,

bencana,

perlindungan

pemerintah

desa,

masyarakat,
kependudukan,

pertanahan, dan kerjasama;


2)

Perumusan bahan kebijakan bidang pemerintahan umum otonomi


daerah, kerjasama daerah dan pertanahan ;

3)

Penginyentarisasian dan penyiapan kegiatan penerimaan kunjungan


eksekutif dan legislatif ;

4)

Pengumpulan bahan dan penyusunan pedoman tata cara pencalonan,


pengusulan, pengangkatan, dan pemberhentian Bupati dan Wakil
Bupati ;

5)

Pengumpulan bahan dan penyiapan materi dalam rangka rapat


paripurna DPRD ;

6)

Pengumpulan bahan dan penyiapan pelaksanaan LKPJ Kepala


Daerah, ILPPD dan ILLPD ; dan

7)

Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Asisten pemerintah


sesuai dengan bidang tugasnya.

Tugas Kepala Sub bagian Kependudukan, Agraria dan kerjasama memiliki


tugas yang tertuang dalam topoksi pasal 18 yaitu :

17

1. Kepala

Sub

mempunyai

Bagian
tugas

Kependudukan,
penyusunan

Agraria

kegiatan

dan

rencana

Kerjasama
kegiatan

kependudukan, menyiapkan bahan penyusunan pedoman dan petunjuk


tejniiis pembinaan penyelenggaraan Kependudukan, Agraria dan
Kerjasama, melaksanakan administrasi dan melakukan evaluasi seta
membuat laporan hasil pelaksanaan tugas.
2. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat satu
kepala

sub

bagian

Kependudukan,

Agraria

dan

Kerjasama

menyelenggarakan fungsi
a. Menyusun rencana kegiatan Sub Bagian Kependudukan, Agraria
dan Kerjasama sebagai pedoman kerja bagian Kependudukan,
Agraria dan Kerjasama.
b. Menghimpun dan mempelajari peraturan perndang undangan,
kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk teknis bahan bahan lain
yang berhubungan dengan kerjasama.
c. Mengumpulkan dan mengolah data Kependudukan dan Agraria
dalam rangka menginventarisasi serta evaluasi penanganan guna
menyiapkan

bahan

petunjuk

pengecekkan

maslalah

serta

melakukan pengawasan.
d. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait dengan bidang
masing masing.
e. Menilai prestasi kerja bawahan secara berkala melalui system
penilaian yang berlaku.
f. Memberikan saran dan pertimbangan kepada atasan langsung
sebagai bahan masukan.
g. Melaporkan pelaksanan tugas kepada atasan.
h. Melakukan tugas tugas kedinasan lain yang diberikan oleh
atasan.
Struktur Organisasi Bagian Administrasi Pemerintahan Umum Sekretariat
Daerah Kabupaten Kapuas :

18

Gambar 3.1: Struktur Organisasi

19

(Sumber : Pemerintah Kabupaten Kapuas)

3.2

Lokasi Pelaksanaan
Lokasi yang menjadi tempat pelaksanaan berada pada Kabupaten
Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah yang terletak antara 000848302700 Lintang Selatan dan 1120236- 1144400 Bujur Timur. Ruang
lingkup wilayah administrasi penataan ruang wilayah daerah dibatasi
dengan titik koordinat 1144122 - 1145425 Bujur Timur dan 325140
- 32837 Lintang Selatan dengan batas:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Murung Raya
20

b. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Tumbang Manyurung;


c. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tumbang Bukoi; dan
d. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Murung Raya
Gambar 3.2. Lokasi Pelaksanaan

(Sumber : Pemerintah Kabupaten Kapuas Tahun 2015 )

3.2.1

Pengmpulan Data
Data yang didapat terdiri dari data spasial berupa citra satelit, dan

data vektor yang berhubungan dengan batas. Data data tersebut diperoleh
dari BIG dan ADPUM Kabupaten Kapuas.
Data yang dikumpulkan adalah data spasial, yaitu :
1. Data Vektor Administrasi Kabupaten Kapuas tahun 2015
2. Data Vektor Batas Administrasi Kabupaten Kapuas tahun 2015
3. Data Vektor Jalan Kabupaten Kalimantan Tengah tahun 2015
4. Data Vektor sungai Kabupaten Kapuas tahun 2015
5. Citra Foto dari Bing tahun 2015
3.3

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam pengolahan data kegiatan ini adalah:
1. Alat hardware yang digunakan adalah :
-

Notebook Acer Aspire E1-470G dengan spesifikasi :

Processor Intel core i3

Operating System Windows 7, 64 bit

RAM 4GB HDD 500GB

2. Alat Software yang digunakan adalah :

21

ArcGIS 10.1

NET Framework 3.5 SP1

3. Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah :

3.4

Data Vektor aliran sungai Kabupaten Kapuas tahun 2015

Data Vektor jalur jalan Kabupaten Kapuas tahun 2015

Data Vektor batas Kabupaten Kalimantan Tengah tahun 2015

Data Vektor batas daerah Kabupaten Kapuas tahun 2015

Diagram Alir Pekerjaan


3.4.1

Alir Pekerjaan

Gambar 3.3. Diagram Alir Pekerjaan

Berikut ini adalah penjelasan tahapan-tahapan pada diagram alir


diatas :
1. Melakukan persiapan alat perangkat dari hardware berupa
sebuah notebook Acer Aspire E1-470G dengan spesifikasi Ram
4GB dan mouse untuk proses digitasi titik koordinat, dan
software berupa aplikasi ArcGis 10.1, NET framework 3.5 SP1.
22

2. Proses pembuatan peta dari data vektor memasukkan ke


software ArcGIS 10.1, selanjutnya tahap digitasi dimana Point
koordinat dicari dengan software ArcGIS 10.1, dari peta akan
dimunculkan

kenampakan

citra

daerah

yang

dilakukan

pembuatan peta. Sampai pembuatan layout dan keterangan


unsur pada gambar peta yang akan dicetak. Tahapan proses
pembuatan peta yang jelasnya akan dijelaskan pada alur
pembuatan peta selanjutnya.
3. Hasil peta akan menjadi berupa hasil cetakan dalam kertas
dimana semua sudah dalam tahap editing, semua keterangan
gambar akan dicantumkan pada hasil gambar, hasil peta akan
menjadi dua yaitu peta vector dan peta raster. Untuk ukuran
kertas yang digunakan adalah A3 ( 420 mm x 297 mm ) dan A4
( 247 mm x 210 mm ).
3.4.2

Alir Pembuatan Peta

Gambar 3.4. Diagram Alir Pembuatan Peta

23

Berikut ini adalah penjelasan tahapan-tahapan pada diagram alir


diatas :
1. Mengumpulkan Semua File Vektor
Semua file vektor untuk pembuatan peta didapat dari Pemerintah
Kabupaten Kapuas dan BIG ( Badan Informasi Geospasial), dan
untuk citra didapat dari citra satelit Bing yang dapat dihubungkan
dengan ArcGIS 10.1.
2. Membuka Software ArcGIS 10.1
Pertama dalam melakukan proses pembuatan peta kita harus
membuka software yang digunakan.
Mulai dari klik start -> ArcGIS 10.1

Gambar 3.5. Tampilan Membuka ArcGIS 10.1

Gambar 3.6. Tampilan Awal ArcGIS 10.1


3. Memasukkan File Vektor (Overlay)

Peta vektor yang digunakan sebagai dasar pembuatan peta baru


sudah anda simpan dalam folder yang sudah dibuat rapi. Cara
menampilkan peta dasar ArcGIS 10.1 adalah sebagai berikut :
a. Klik Add Data dan pilih peta dengan format Shapefile.

24

Gambar 3.7. Add Data

b. Pilih file peta dan klik Open > Add

Gambar 3.8. Memasukkan Data

c. Selanjutnya, klik Ok
4. Memasukkan Semua File Vektor

File Vektor yang didapat bersumber dari BIG ( Badan Informasi


Geospasial ), dimana untuk mendapatkan itu harus sebuah
instansi yang memerlukan, dan untuk saat ini yang memerlukan
adalah Pemerintah Kabupaten Kapuas. Data vektor yang didapat
untuk melakukan ini adalah:
- Data vektor aliran sungai Kapuas Tahun 2015
- Data vektor alur jalan Kapuas Tahun 2015
- Data vektor batas Kabupaten Kapuas Tahun 2015
- Data vektor batas desa Kapuas Tahun 2015
Masukkan semua file vektor tadi dengan cara yang sama seperti
penjelasan nomor 3 tadi
5. Hasil Tampilan data vector di ArcGIS 10.1
Setelah semua data vektor dimasukkan ke dalam software ArcGIS
10.1 , inilah sebagai berikut :

25

Gambar 3.9. Tampilan Data yang Telah Dimasukkan

6. Memulai Digitasi dari Membuat File Vektor Baru


Cara membuat shapefile baru pada Arcmap 10.1 sebagai berikut :
a. Buka tool ArcCatalog pada Arcmap 10.1

Gambar 3.10. Membuka ArcCatalog


b. Pilih Folder Connection, kemudian pilih folder yang

gunakan untuk menyimpan hasil digitasi. Klik kanan


dan pilih New > Shapefile.

26

Gambar 3.11. Membuat Shapefile Baru


c. Beri nama shapefile dan pilih Feature type : Point

Gambar 3.12. Tampilan Memberi Nama Shapefile


d. Pilih Edit > Projected Coordinate System > UTM >

WGS 1984 > Southern Hemisphere > WGS 1984


Zone 50S > Ok.

Gambar 3.13. Menentukan Koordinat Sistem


e. Secara Otomatis akan muncul pada layer ArcMap.

Gambar 3.14. Shapefile yang telah dibuat

27

f. Klik Editor > Start Editing

Gambar 3.15. Memulai Start Editing

g. Setelah start editing, maka anda sudah dapat memulai


digitasi peta.

Gambar 3.16. Pilih Shapefile yang Akan Didigitasi


h. Lakukan zoom in pada peta dan mulai digitasi.

Gambar 3.17. Tampilan Zoom In

i. Klik ganda pada titik koordinat yang ingin ditentukan.

28

Gambar 3.18. Digitasi Koordinat yang Dimasukkan

7. Mengeluarkan Nilai Titik Koordinat


Atribut Setiap digitasi titik koordinat dipeta memiliki nilai yaitu
berupa X dan Y.
a. Buka tool Arctoolbox pada Arcmap 10.1

Gambar 3.19. Letak Arctoolbox

b. Akan muncul disamping isi dari tool arctoolbox


selanjutnya klik data management tools > Features >
Add XY Coordinates

29

Gambar 3.20. Tampilan Arctoolbox

c. Akan muncul tool dari Add XY Coordinates, dan


masukan shapefile yang ingin dikeluarkan nilai
koordinatnya

dan

klik

Ok.

Gambar 3.21. Memasukkan Shapefile

d. Tunggu beberapa saat hingga muncul notifikasi jika


pengeluaran nilai koordinat telah selesai seperti di
bawah ini.

Gambar 3.22. Notifikasi XY Koordinat Telah Sukses

30

e. Untuk memastikan nilai keluar maka dapat diperiksa di

attribut table, dengan klik kanan pada layer shapefile


> Open Attribute Table.

Gambar 3.23. Memunculkan Atribut Table

f. Hasil dari Output Nilai koordinat.

Gambar 3.24. Hasil Output Koordinat

8. Save Edits
Apabila sudah selesai atau akan berhenti maka harus disimpan
terlebih dahulu dengan mengklik Editor > Save Edits.

Gambar 3.25. Cara Menyimpan Data

9. Menampilkan Data Citra Bing


Jika tadi kita menambahkan tentang peta vektor sekarang pada
data maka ini akan menambahkan peta raster yang berupa citra
dari Bing. Langkah langkahnya sebagai berikut :
31

a. Aktifkan tool ArcBruTile dengen mengklik costumize


dan klik centang pada ArcBruTile.

Gambar 3.26. Memunculkan Tool ArcBruTile

b. Aktifkan citra Bing dan pilih aerial pada tool


ArcBruTile.

Gambar 3.27. Mengaktifkan Aerial Map Bing

c. Pastikan citra Bing terdapat pada layer dan letaknya


paling bawah.

Gambar 3.28. Aerial Bing yang Aktif

d. Proses penambahan citra menunggu terdownload 100%.

Gambar 3.29. Citra Telah Terdownload 100 %

e. Hasil peta Raster dari citra Bing yang dimasukkan


kedalam layout.

32

Gambar 3.30. Citra yang Selesai

10. Proses Pembuatan Layout


a. Mengatur Ukuran Kertas
Cara mengatur kertas pada ArcMap 10.1 sebagai berikut :
1. Klik File dan pilih print and page setup.

Gambar 3.31. Pengaturan Page Setup

2. Pilih ukuran kertas, Orientation, dan centang Scale Map.


3. Gunakan ukuran kertas A4 dan Orientation Landscape.
Pastikan untuk mngaktifkan centang padaolom Scale
Map Elements Proportionally to changes in the page
size
4. Selanjutnya Klik, OK
5. Klik View > Layout View.

33

Gambar 3.32. Menampilkan Layout View

6. Secara otomatis, jendela layout dan peta yang anda olah


sudah aktif dan akan muncul pada layout view.

Gambar 3.33. Tampilan Layout View

b. Mengatur Layout View


Setelah data view aktif, atur letak view frame yang ada pada
layout peta dengan mengatur ukuran kertas supaya terlihat
simestris dan lebih enak dilihat. Langkah mengatur layout
view :
1. Klik hingga aktif view peta, kemudian geser kearah kiri

Gambar 3.35. Mengatur Lebar Layout View

34

2. Atur ukuran supaya simetris dengan menarik tiap sisi


garis.

Gambar 3.36. Mengatur Lebar Layout View 2


3. Titik kearah yang sesuai agar view simetris, dan peta

berada pada tengah view yang anda buat supaya lebih enak
dilihat.

Gambar 3.37. Penampilan Layout View yang Telah dirapikan

c. Membuat Bingkai Gambar


Cara membuat bingkai gambar adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Pilih ikon
(Rectangle) pada tool Draw.
Letakkan pointer pada layer view.
Klik pada titik awal.
Drag dengan arah diagonal.
Lepaskan dan klik ganda tombol

35

Gambar 3.38. Membuat Garis Kotak

6. Transparasi bingkai dengan klik kanan dan pada bingkai


dan pilih properties.

Gambar 3.39. Mengedit Kotak Menjadi Transparan

7. Dari window properties pilih fill color ubah menjadi no


color.

Gambar 3.40. Mengedi Kotak Menjadi Transparan 2


d. Membuat Bingkai Peta

Cara membuat bingkai legenda pada layout sebagai berikut :


1. Pilih ikon
(Rectangle) pada tool Draw.
2. Letakkan pointer pada layer view.
3. Klik pada titik awal.

36

4. Drag dengan arah diagonal.


5. Lepaskan dan klik ganda tombol.

Gambar 3.41. Setelah Drag


6. Lakukan transparasi pada bingkai legenda seperti
bingkai sebelumnya.

Gambar 3.42. Setelah Transparansi

e. Membuat Judul Peta


Cara menampilkan judul peta pada layout view sebagai
berikut:
1. Klik tool Insert > Title

37

Gambar 3.43. Membuka Title untuk Judul Peta

2. Tulis judu peta pada kolom.

Gambar 3.44. Ketik Judul Peta

3. Selanjutnya,Klik OK

Gambar 3.45. Setelah Transparansi

f. Membuat Legenda Peta


Cara menampilkan legend pada ArcMap 10.1 sebagai berikut:
1. Klik Insert > Legend.

38

Gambar 3.46. Tool Legend

2. Pilih data mana yang akan dimasukkan dalam legenda

Gambar 3.47. Memilih yang Akan dimasukan dalam Legenda

3. Klik Next > atur ukuran huruf legend.

Gambar 3.48. Atur Ukuran Font

4. Klik Next dan atur garis legend

39

Gambar 3.49. Mengubah Tampilan Legenda

5. Klik Next dan atur lebar label.

Gambar 3.50. Jarak Antar Legenda

6. Selanjutnta, klik Finish.

Gambar 3.51. Data Telah Selesai Ditampilkan

g. Menampilkan Skala Angka


Cara menampilkan skala angka pada layout peta sebagai
berikut :
1. Klik Insert > Scale Text

40

Gambar 3.52. Tool Skala Angka

2. Pilih skala peta.

Gambar 3.53. Pilihan Skala Angka

3. Selanjutnya klik Ok.

Gambar 3.54. Skala yang Telah dimasukkan


h. Menampilkan Skala Garis

Cara menampilkan skala garis pada langkah sebagai berikut:


1. Klik Insert > Scale Bar

41

Gambar 3.55. Tool Skala Bar akan Dimasukkan

2. Pilih model skala garis yang diinginkan

Gambar 3.56. Tampilan Pilihan Skala Bar

3. Selanjutnya, klik Ok.

Gambar 3.57. Skala Bar yang Telah dimasukkan


i.

Membuat Orientasi

Cara menampilkan orientasi pada peta sebagai berikut:


1. Klik Insert > North Arrow.

42

Gambar 3.58. tool Arah Orientasi

2. Pilih jenis yang akan digunakan untuk menmpilkan


orientasi.

Gambar 3.59. Pilih Jenis Orientasi

3. Klik Ok dan sesuaikan digambar.

Gambar 3.60. Orientasi yang Telah dimasukkan

j. Menampilkan Grid
Cara menampilkan Grid pada layout, sebagai berikut:
1. Klik kanan layer dan pilih propertie.

43

Gambar 3.61. Membuka Option Properties

2. Pilih Tab Grid > New Grid

Gambar 3.62. Tampilan Membuat New Grid

3. Pilih Graticule > Next

Gambar 3.63. Memilih Jenis Grid

4. Pilih Tick mark and labels > Next

44

Gambar 3.64. Mengatur Jarak Interval

5. Klik Next > Finish

Gambar 3.65. Selesai Pengaturan

k. Mengeksport ke Format .Jpeg


Dari hasil pengolahan peta hingga layout peta, tahap
selanjutnya adalah mengeksport peta ke format JPG. Caranya
sebagai Berikut:
1. Klik File > Export Map.

Gambar 3.66. Tool Option Eksport Peta

2. Pilih direktori untuk penyimpanan peta akhir dan Beri


nama pada peta yang akan disimpan .

45

Gambar 3.67. Tampilan Sebelum Save Peta

3. Beri resolusi maksimal agar hasil peta dapat maksimal


dan save file

Gambar 3.68. Mengatur Resolusi Gambar

l. Hasil Peta Vektor


Hasil peta dalam bentuk vektor dan penambahan digitasi.

Gambar 3.69. Hasil Peta Vektor


m. Hasil Peta Raster

Hasil penambahan citra pada peta :

46

Gambar 3.70. Hasil Peta Raster

3.5

Jadwal Kegiatan Masa Praktek Keja Lapangan


Tabel 5 : Kegiatan
Minggu Ke
I
II
III IV
V,VI ,VII
VIII

KEGIATAN
Pengenalan lingkungan praktek kerja lapangan
Pengumpulan data shapefile
Penguasaan software ArcGIS 10.1
Proses pembuatan peta administrasi
Pencetakan peta batas administrasi

47

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil Penyajian Data

4.1.1 Hasil Penentuan Titik Koordinat


Hasil Penetapan Koordinat menggunakan ArcGIS 10.1 dengan
metode

kartometrik karena untuk menentukan garis batas diperlukan

beberapa titik. Dari hasil penempatan koordinat dapat nilai titik koordinat
sebagai berikut:
SKET :

Gambar 4.1 : Tampilan Sket

No titik
P1
P2
P3
P4

Koordinat X
152590.5707
153631.840283
155100.496495
174045.302283

Koordinat Y
9949326.0401
9946209.91366
9946276.29339
9934554.87336

48

P5
173275.002702
4.1.2 Hasil Peta

9934290.79398

1. Peta Vektor Administrasi Batas Desa Masupa Ria


Peta vektor ada adalah peta dalam bentuk format vektor, dimana
vektor terdiri dari point, polyline dan polygon. Pada peta ini sungai,
jalan, batas desa, dan titik koordinat dimunculkan dalam bentuk vektor.
Dengan adanya peta vektor dapat memudahkan pencarian koordinat
batas desa di wilayah sesungguhnya.
Ukuran Kertas
A3 ( 420 mm X 297 mm )
A4 ( 249 mm X 210 mm )

Skala
1 : 100.000
1 : 200.000

Orientasi
Landscape
Landscape

Gambar 4.2 : Peta Batas Administrasi Desa Masuparia Uk. A3

49

Gambar 4.3 : Peta Batas Administrasi Desa Masuparia Uk. A4

2. Peta Raster Administrasi Batas Desa Masupa Ria


Peta raster adalah peta dalam bentuk raster, dimana raster
kumpulan dari pixel pixel cahaya tampak yang berasal dari citra
satelit diluar angkasa. Peta raster mudah dipahami karena penampakan
atas lahan seperti sungai, hutan, pemukiman dll. Dengan adanya peta
raster dapat memudahkan pencarian koordinat batas desa di wilayah
sesungguhnya.
Ukuran Kertas
A3 ( 420 mm X 297 mm )
A4 ( 249 mm X 210 mm )

Skala
1 : 100.000
1 : 200.000

50

Orientasi
Landscape
Landscape

Gambar 4.4 : Peta Batas Administrasi Desa Masuparia (Raster ) Uk. A4

Gambar 4.5 : Peta Batas Administrasi Desa Masuparia (Raster) Uk. A3

51

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
Dari hasil pembuatan peta batas administrasi di Desa Masupa Ria
Kecamatan Mandau Telawang Kabupaten Kapuas didapatkan penentuan
titik koordinat, terdapat lima titik yang terdapat pada lokasi peta. Peta yang
dihasilkan dengan skala1 :150000 untuk ukuran kertas A4 dan skala
1:250000 untuk ukuran kertas A3. Data yang didapat untuk penentuan lima
titik koordinat :
No titik
P1
P2
P3
P4
P5

5.2

Koordinat X

Koordinat Y

152590.5707
153631.840283
155100.496495
174045.302283
173275.002702

9949326.0401
9946209.91366
9946276.29339
9934554.87336
9934290.79398

Saran
1.Diperlukannya survey awal untuk lebih memahami kondisi lapangan.
2.Diperlukannya data pendukung lapangan yang jelas sesuai kondisi
lapangan seperti sket lapangan atau peta lokasi.
3.Diperlukannya koordinasi ke pihak desa tentang batas desa.

52

DAFTAR PUSTAKA
Arief, Mukhammad, 2014. Pengenalan ArcGis. Universitas
Diponegoro, Semarang.
< URL : https://www.scribd.com/mobile/doc/182253119 >
Diakses : [22 Desember 2014, 5:44:58]
Biro Perbatasan, Penataan Wilayah, dan Kerja Sama, 2014,
Penegasan Batas
<
URL:https://biro-ppwk.kaltimprov.go.id/statis-6penegasbatas.html >
[ diakses tanggal 12 November 2015, pukul 22.40.44 ]
GIS Konsarium Aceh Nias, 2007, Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat

Dasar. Banda Aceh.


Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor : 27 Tahun 2006
Tanggal : 10 Oktober 2006 Tentang Prosedur Penetapan Dan
Penegasan Batas Desa, Kementerian Dalam Negeri Republik
Indonesia, Jakarta.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor : 76 Tahun 2012
Pedoman Penegasan Batas Daerah, Kementerian Dalam
Negeri Republik Indonesia, Jakarta.
Sitanggang Gokmaria, 2013 Kajian Pemanfaatan Satelit Masa Depan: Sistem
Penginderaan Jauh Satelit Ldcm (Landsat-8) Peneliti Bidang Bangfatja,
LAPAN
NASA, 2013 Landsat Data Continuity Mission Brochure. United State of America
Bing, 2010 Bing Brochure. United State of America

53