Anda di halaman 1dari 90

OPTIMALISASI KOMUNIKASI ANTARA POLRI DAN MASYARAKAT

MELALUI PENGGUNAAN APPLICATION LAUNCHER BERBASIS ANDROID


GUNA MENINGKATKAN AKSESIBILITAS POLRI
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA
POLRI YANG MODERN DAN DAPAT DIPERCAYA MASYARAKAT
BAB I
PENDAHULUAN
1 Latar Belakang
Pemerintahan Jokowi-JK telah membuat visi, misi, dan slogan baru
dalam konteks sistem pemerintahan Indonesia, dengan mencetuskan slogan
revolusi mental yang diambil dari misi Nawa Cita dan dijabarkan kedalam
program Trisakti, yang harus dijabarkan oleh setiap kementerian, lembaga,
dan instansi pemerintahan, termasuk Polri. Sebagai organisasi yang berada
dalam struktur pemerintahan, Polri dituntut untuk melakukan revolusi mental
dalam setiap pelaksanaan tugas pokok Polri, baik dalam penegakan hukum,
pemeliharaan kamtibmas, perlindungan, pengayoman, maupun pelayanan
masyarakat.
Program Trisakti revolusi mental tersebut telah dijabarkan oleh instansi
Polri menjadi 6 (enam) nilai yaitu:

pertama berdaulat dalam politik

yang

mengandung nilai kewargaan dan nilai dapat dipercaya, kedua berdikari


dalam ekonomi yang mengandung nilai mandiri dan nilai kreatif, ketiga
berkepribadian dalam budaya yang mengandung nilai gotong-royong dan nilai
saling menghargai. Keenam nilai tersebut harus di implementasikan oleh
seluruh jajaran Polri.
Fokus revolusi mental Polri telah ditegaskan oleh Kapolri, Jenderal
Polisi Badrodin Haiti, pada karakter, jati diri, perilaku, moralitas, mentalitas,
dan kepribadian anggota Polri yang didasari kecerdasan intelektual,
kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan sosial. Polri
harus mampu mengubah mindset dan cultureset organisasi secara cepat
sehingga akan mampu menggerakkan revolusi mental dalam setiap kesatuan
Polri, baik di tingkat mabes, polda, polres, dan polsek. Paradigma polisi sipil
dan community policing harus mampu dijadikan modal untuk melakukan
revolusi mental Polri yang nyata, kongret, dan riil dalam tugas pokok Polri.

Dalam penyelenggaraan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan


masyarakat, Polri harus mampu menggerakkan revolusi mental pada aspek
sikap dan perilaku yang berbasis pada prinsip 3S (senyum, sapa, salam).
Pelayanan masyarakat yang diberikan oleh Polri harus memenuhi standar
pelayanan prima, yaitu tampilan anggota Polri yang setiap hari bersentuhan
dengan masyarakat harus memiliki mental melayani dan karakter pelayan.
Revolusi mental Polri di bidang pelayanan harus mampu menyasar
proses pelayanan Polri yang selama ini banyak dikeluhkan oleh berbagai
pihak. Stigma negatif masyarakat masih menyatakan bahwa pelayanan Polri
buruk, lama, lambat, mahal, dan berbelit-belit. Melalui revolusi mental Polri,
desain pelayanan Polri harus dirancang secara cepat, tepat, murah, dan
mudah sehingga akan dapat dirasakan masyarakat. Kuncinya ada pada
karakter, moralitas, mentalitas, dan kepribadian anggota Polri yang bertugas
melayani masyarakat.
Sebagai representasi negara dibidang pemeliharaan keamanan dan
ketertiban masyarakat serta penegakan hukum, organisasi Polri dituntut untuk
memiliki kemampuan dalam menyelenggarakan berbagai pelayanan publik
yang dapat merefleksikan bentuk pelayanan, perlindungan dan pengayoman
bagi masyarakat. Kinerja Polri dalam menyelenggarakan pelayanan publik
akan menjadi parameter yang mudah untuk dinilai oleh masyarakat sebagai
stake holder. Penilaian masyarakat terhadap kinerja Polri dalam memberikan
pelayanan publik sangat berpengaruh terhadap citra Polri. Jika pelayanan
publik yang diberikan oleh Polri dapat sesuai dengan harapan dan
memuaskan masyarakat, maka secara otomatis citra Polri akan menjadi baik.
Citra yang telah dengan baik terbangun tentunya akan menumbuhkan
kepercayaan masyarakat terhadap Polri.
Dalam era perkembangan teknologi informasi saat ini, modernisasi
pelayanan

publik

yang

diselenggarakan

oleh

Polri

menjadi

sebuah

keniscayaan. Pelayanan publik yang modern pada era perkembangan


teknologi informasi saat ini telah menjadi kebutuhan yang tidak dapat
dihindari. Tidak ada alasan bagi organisasi sebesar Polri yang mengemban
tugas pelayanan publik untuk tidak melakukan modernisasi
memberikan pelayanan kepada masyarakat, mengingat begitu

dalam

banyaknya

pilihan fitur teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh Polri. Modernitas


pelayanan publik telah menjadi salah satu tolok ukur masyarakat dalam
menilai keberhasilan organisasi Polri.
2

Namun demikian, kondisi pelayanan publik yang diberikan oleh Polri


saat ini, terutama di Polres Karanganyar, masih jauh dari harapan. Sebagai
contoh, ketika pelayanan yang paling sederhana dibutuhkan, yaitu pelayanan
pemberian informasi, baik informasi situasi kamtibmas maupun informasi
tentang mekanisme pelayanan publik lainnya, masyarakat masih menemui
kesulitan. Masyarakat tidak tahu ke mana dan kepada siapa mereka harus
bertanya untuk mendapatkan informasi tersebut. Saluran komunikasi yang
ada belum dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat akan informasi
kepolisian. Hal ini disebabkan saluran komunikasi yang digunakan masih
konvensional, bahkan tidak tersosialisasikan dengan baik kepada masyarakat.
Secara umum, pelayanan publik oleh Polres Karanganyar masih belum
mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Jika kondisi seperti ini dibiarkan
maka akan sulit untuk mewujudkan revolusi mental di Polres Karanganyar.
Kondisi tersebut di atas terbukti melalui hasil survei yang dilakukan oleh
komunitas Pro Solo1 terhadap 620 responden yang diambil secara acak
dengan rentang usia antara 21-35 tahun pada awal tahun 2015 2. Hasil survei
menyebutkan bahwa dari seluruh responden terdapat 486 responden atau
sekitar 78% yang tidak mengetahui bagaimana cara menghubungi dan
mendapatkan informasi pelayanan dari Polres Karanganyar. Terlepas dari
rendahnya tingkat kebutuhan masyarakat kabupaten Karanganyar terhadap
pelayanan kepolisian, namun hal ini cukup menggambarkan bahwa tingkat
aksesibilitas pelayanan yang dimiliki oleh Polres Karanganyar sangat rendah.
Rendahnya aksesibilitas pelayanan Polres Karanganyar berimplikasi
pada ketidakseragaman kualitas pelayanan yang diterima oleh masyarakat.
Aksesibilitas pelayanan Polres Karanganyar yang rendah secara alamiah
akan

membentuk

pola

komunikasi

antara

masyarakat

dan

Polres

Karanganyar sebagai pribadi-pribadi, bukan Polres Karanganyar sebagai


institusi. Pola komunikasi yang bersifat pribadi inilah yang menyebabkan
ketidakseragaman kualitas pelayanan karena masyarakat yang memiliki
hubungan pribadi dengan salah satu anggota Polres Karanganyar tentunya
1

Komunitas para pelaku kegiatan kehumasan (public relation), baik dari unsur akademisi,
pemerintah dan swasta termasuk di dalamnya awak media massa.

2 Survei dilakukan di wilayah kabupaten Karanganyar selama 14 (empat belas) hari, dimulai pada
tanggal 18 Januari 2015.

akan memperoleh pelayanan yang lebih daripada masyarakat yang sama


sekali tidak memiliki hubungan pribadi. Pada akhirnya, standarisasi kualitas
pelayanan tidak akan terwujud.
Program Reformasi Birokrasi Polri tahap III saat ini menekankan adanya
revolusi mental sehingga membutuhkan perubahan mind set dan culture set
Polri dari reaktif menjadi proaktif, elitis menjadi populis, arogan menjadi
humanis,

otoriter

menjadi

demokratis,

tertutup

menjadi

transparan,

akuntabilitas vertikal menjadi akuntabilitas publik dan monologis menjadi


dialogis. Semua kondisi yang diharapkan tersebut harus diawali dari
optimalnya komunikasi antara Polri dan masyarakat. Jika komunikasi antara
Polri

dan

masyarakat

dapat

optimal,

maka

kesalahpahaman

dalam

berkomunikasi dan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan Polri


dapat diminimalisir.
Optimalisasi komunikasi antara Polri dan masyarakat dalam era
perkembangan teknologi informasi saat ini bukanlah suatu hal yang sulit.
Terdapat banyak pilihan fitur teknologi yang dapat dimanfaatkan. Berdasarkan
data, saat ini terdapat 78 juta orang di Indonesia yang menggunakan telepon
genggam dengan kemampuan komunikasi data 3. Jenis telepon genggam ini
masuk dalam kategori telepon pintar (smartphone). Besarnya pengguna
smartphone di Indonesia disebabkan oleh semakin terjangkaunya harga jual
smartphone tersebut. Dalam operasionalisasi smartphone saat ini, telah
banyak perangkat lunak (software) pendukung berbentuk application launcher
yang dibuat untuk memudahkan pengguna smartphone dalam mengakses
situs (website) yang dibutuhkan. Melihat dari fenomena tersebut, maka
penentuan strategi untuk melakukan optimalisasi komunikasi antara Polri dan
masyarakat harus disesuaikan dengan kondisi tersebut. Organisasi Polri
harus melihat hal ini sebagai sebuah peluang yang terlalu bagus untuk
dilewatkan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis terinspirasi untuk
mengambilsalah satu nilai revolusi mental yaitu nilai dapat dipercaya
mengingat masih kurangnya kepercayaan masyarakat kepada Polri. Sehingga
dalam penulisan ini membahas langkah-langkah untuk mengoptimalkan
komunikasi antara Polri dan masyarakat melalui penggunaan application
launcher berbasis Android

untuk mewujudkan Polri sebagai institusi yang

dapat dipercaya masyarakat yang kemudian penulis abstraksikan kedalam


3

Data Kementerian Komunikasi dan Informasi, 2015.


4

judul penulisan Optimalisasi komunikasi antara Polri dan masyarakat


melalui penggunaan application launcher berbasis Android guna
meningkatkan aksesibilitas Polri dalam rangka terwujudnya Polri yang
modern dan dapat dipercaya masyarakat.
2 Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, yang menjadi
permasalahan komunikasi antara Polri dan masyarakat melalui penggunaan
application launcher berbasis Android belum optimal guna meningkatkan
aksesibilitas Polri dalam rangka terwujudnya Polri yang modern dan dapat
dipercaya masyarakat.
3 Persoalan
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka persoalan yang akan
dibahas dalam penulisan ini adalah :
a. Bagaimana kondisi sumber daya personel Polres Karanganyar dan
masyarakat dalam melakukan komunikasi antara Polri dan masyarakat
melalui penggunaan application launcher berbasis Android ?
b. Bagaimana sarana dan prasarana yang mendukung komunikasi antara
Polres Karanganyar dan masyarakatdengan menggunakan application
launcher berbasis Android ?
c. Bagaimana anggaran untuk mendukung komunikasi antara Polres
Karanganyar dan

masyarakat dengan

menggunakan

application

launcher berbasis Android ?


d. Bagaimana metode komunikasi antara Polres Karanganyar dan
masyarakat dengan menggunakan

application launcher berbasis

Android ?
4 Ruang Lingkup
Penulisan Naskah Karya Perorangan ini dibatasi pada upaya untuk
melakukan optimalisasi komunikasi antara Polri dan masyarakat melalui
penggunaan application launcher berbasis Android guna meningkatkan
aksesibilitas Polri khususnya di Polres Karanganyar dengan fokus bahasan
terkait sumber daya personel Polres Karanganyar, sarana dan prasaranserta
sistem dan metode yang digunakan dalam melakukan komunikasi antara
Polres Karanganyar dan Masyarakat dengan menggunakan application
launcher berbasis android.

Kajian pertama yaitu tentang sumber daya personel, penulis akan


membicarakan permasalahan yang terkait dengan sumber daya manusia,
baik dilihat dari sisi kuantitas maupun kualitas.
Kajian kedua yaitu tentang sumber daya sarana dan prasarana, penulis
akan

membahas

permasalahan

terkait

sarana

dan

prasarana

mendukung Polres Karanganyar dalam mengoperasionalkan

yang

application

launcher berbasis android.


Kajian ketiga yaitu tentang sumber daya anggaran, penulis akan
membahas

anggaran

yang

digunakan

untuk

menunjang

kegiatan

operasionalapplication launcher berbasis Android .


Kajian keempat yaitu tentang metode, penulis akan membahas metode
yang digunakan dalam mengelola informasi dan komunikasi, bagaimana
proses sosialisasi penggunaan application launcher berbasis Android ini
dilaksanakan, baik sosialisasi secara internal di lingkup Polres Karanganyar,
maupun sosialisasi kepada masyarakat luas. Dalam kajian keempat ini juga
akan dibahas tentang segala hal yang terkait dengan kontribusi informasi
masyarakat kepada Polres Karanganyar, baik yang terkait dengan keamanan
dan ketertiban masyarakat maupun hal-hal yang bersifat pengaduan, kritik
dan saran. Peran serta masyarakat juga termasuk didalamnya komunikasi
yang terjadi antara Polres Karanganyar dan masyarakat.
5 Maksud dan Tujuan
a Maksud
Maksud dari penulisan Naskap ini adalah mendeskripsikan konsepsi
sumber daya manusia, anggaran, sarana prasarana dan metode yang
digunakan sehingga komunikasi antara Polri dan masyarakat melalui
penggunaan

application

Karanganyar

dapat

launcher

berjalan

berbasis

dengan

lancar

Android
guna

di

Polres

meningkatkan

aksesibilitas Polri dalam rangka terwujudnya Polri yang modern dan


dipercaya masyarakat. Selain itu, penulisan Naskah Karya Perorangan
ini jugasebagai salah satu persyaratan untuk memenuhi seleksi
Pendidikan Sespimmen Polri Dikreg ke-56 TA. 2016.
b Tujuan
Tujuan dari penulisan Naskah Karya Perorangan ini adalah
memberikan masukan kepada Polri melalui Polda Jawa Tengah tentang
pentingnya komunikasi antara Polri dan masyarakat melalui penggunaan
6

application launcher berbasis Android, sehingga komunikasi antara Polri


dan masyarakat dapat berjalan dengan lancar guna meningkatkan
aksesibilitas Polri dalam rangka terwujudnya Polri yang modern dan
dapat dipercaya masyarakat.
6.

Metode dan Pendekatan


a

Metode
Metode

yang

digunakan

dalam

penulisan

Naskah

Karya

Perseoranganini adalah metode deskriptif analisis yaitu dengan cara


menggambarkan dan menguraikan tentang kondisi komunikasi saat ini
antara Polri dan masyarakat melalui penggunaan application launcher
berbasis Android, kemudian

dilakukan

analisis secara cermat guna

mencari solusi atau alternatif pemecahannya. Hasil analisis selanjutnya


dirumuskan ke dalam langkah-langkah konsepsi pemecahan masalah
yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam komunikasi antara Polri
dan masyarakat melalui penggunaan application launcher berbasis
Android

guna

meningkatkan

aksesibilitas

Polri

sehingga

dapat

mewujudkan Polri yang modern dan dapat dipercayamasyarakat.


b

Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan Naskah Karya
Perorangan ini adalah melalui pendekatan empiris dan pendekatan
yuridis dimana penulis membaca referensi dan peraturan yang berkaitan
dengan judul penulisan ini dengan tetap melakukan pendekatan tugas
yaitu dengan melihat sejauhmana komunikasi antara Polri dan
masyarakat melalui penggunaan application launcher berbasis Android
dapat meningkatkan aksesibilitas Polri dalam rangka terwujudnya Polri
yang modern dan dapat dipercaya masyarakat.

7.

Tata Urut
a.

Bab I Pendahuluan
Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang, pokok masalah dan

persoalan,

ruang lingkup penulisan, maksud dan tujuan penulisan,

metode dan pendekatan yang digunakan untuk menganalisis pokok


permasalahan, sistematika serta pengertian-pengertian.

b.

Bab II Landasan Teori


Dalam bab ini akan diuraikan tentang landasan teori yaitu teori-

teori yang relevan dan terkait dengan permasalahan yang ada, antara
lain meliputi: teori analisis SWOT, teori manajemen strategis, teori
kompetensi, teori manajemen, teori kerjasama, teori ANSVA, teori
komunikasi.
c.

Bab III Kondisi Faktual


Dalam bab ini akan diuraikan mengenai kondisi faktual komunikasi

antara Polri dan masyarakat, yang dilihat dari kondisi sumber daya
manusia yang bertugas melakukan komunikasi dengan masyarakat,
anggaran yang digunakan, sarana dan prasarana yang tersedia serta
metode yang digunakan. Selain itu dalam bab ini penulis juga akan
menganalisa kondisi faktual tersebut berdasarkan opini penulis, tanpa
menggunakan teori.
d.

Bab IV Faktor-faktor Yang Mempengaruhi


Dalam bab ini akan diuraikan tentang berbagai faktor yang

mempengaruhi komunikasi

antara Polri dan

masyarakat melalui

penggunaan application launcher berbasis Android guna meningkatkan


aksesibilitas Polri, meliputi faktor internal berupa kekuatan dan
kelemahan serta faktor eksternal berupa peluang dan kendala.
e.

Bab V Kondisi Ideal


Dalam bab ini akan diuraikan mengenai kondisi ideal yang

diharapkan. Penentuan kondisi ideal ini merupakan hasil analisa penulis


terhadap kondisi faktual dengan menggunakan teori-teori yang telah
ditentukan pada bab II. Penjelasan kondisi ideal ini terkait mengenai
kondisi sumber daya manusia yang bertugas melakukan komunikasi
dengan masyarakat, anggaran yang digunakan, sarana dan prasarana
yang harus tersedia serta metode yang akan digunakan.
f. Bab VI Pemecahan Masalah
Dalam bab ini akan diuraikan tentang berbagai upaya untuk
mengoptimalkan komunikasi antara Polri dan masyarakat melalui
penggunaan application launcher berbasis Android guna meningkatkan
aksesibilitas Polri dalam rangka terwujudnya Polri yang modern dan
dipercayamasyarakat. Dalam pembahasannya akan diuraikan tentang :

visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi dan implementasi strategi


berupa rencana aksi.
g.

Bab VII Penutup


Dalam bab ini akan diuraikan hasil pembahasan dan analisa

berupa kesimpulan dan selanjutnya dikemukakan beberapa rekomendasi


kepada satuan atas terkait hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh Polres
Karanganyar.
8. Pengertian-pengertian
Untuk memperjelas pembahasan dan pemahaman serta menghindari
kesalahpahaman tentang beberapa istilah yang digunakan dalam penulisan
ini, perlu dijelaskan penggunaan istilah-istilah yang ada sebagai berikut :
a.

Optimalisasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, optimalisasi adalah
membuat lebih baik, lebih tinggi sesuatu hal 4.Dalam penulisan Naskap
ini yang dimaksud dengan optimalisasi adalah upaya membuat lebih
baik

kualitas

komunikasi

antara

Polri

dan

masyarakat

melalui

penggunaan application launcher berbasis Android sehingga mampu


meningkatkan aksesibilitas Polri.
b.Komunikasi
Komunikasi menurut Laswell adalah proses penyampaian pesan
oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap,
pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak
langsung (melalui media)5. Komunikasi yang dimaksud dalam penulisan
ini adalah proses penyampaian baik oleh Polres Karanganyar maupun
oleh masyarakat terkait informasi yang saling dibutuhkan oleh kedua
belah pihak.
c.Application launcher berbasis Android
Application launcher berbasis Android adalah sebuah fitur berupa
perangkat lunak (software) yang memungkinkan pengguna smartphone
untuk lebih mudah dalam mengakses sebuah website, melancarkan
pembukaan aplikasi, membuat panggilan telepon dan melaksanakan
tugas smartphone, termasuk merubah tampilan smartphone sesuai
4Depdiknas, 2005.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta :Balai Pustaka.
5Hovland, Janis & Kelley,1953.A chance to make a difference. London : Bright Publisher.
9

keinginan.Application launcher dalam tulisan ini adalah application


launcher yang telah didesain khusus sesuai kebutuhan Polres
Karanganyar.
d.

Aksesibilitas
Aksesibilitas adalah tingkat kemudahan sesuatu untuk dapat
diakses. Maksud

dari

aksesibilitas

dalam

penulisan

ini

adalah

kemudahan Polres Karanganyar untuk dapat diakses oleh masyarakat 6.


e. Modern
Modern, berasal dari bahasa Latin moderna yang berarti masa kini,
terbaru atau mutakhir. Modern juga bisa berarti sikap atau cara berpikir
serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Maksud dari
modern dalam penulisan ini adalah sebuah kondisi di mana Polres
Karanganyar mampu

menyesuaikan

cara

berkomunikasi

dengan

masyarakat sesuai dengan perkembangan jaman.


f. Dapat dipercaya
Dapat dipercaya berasal dari kata dasar percaya yang berarti yakin
benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang
atau sesuatu akan dapat memenuhi harapan dan sebagainya. Maksud
dari dapat dipercaya dalam penulisan ini adalah bahwa Polri dengan
kemampuan yang dimiliki dapat memenuhi harapan masyarakat yaitu
adanya komunikasi yang baik dengan masyarakat.Program Trisakti
revolusi mental telah dijabarkan oleh instansi Polri menjadi 6 (enam)
nilai yaitu:

pertama berdaulat dalam politik

yang mengandung nilai

kewargaan dan nilai dapat dipercaya, kedua berdikari dalam ekonomi


yang mengandung nilai mandiri dan nilai kreatif, ketiga berkepribadian
dalam budaya yang mengandung nilai gotong-royong dan nilai saling
menghargai.Sehingga dapat dipercaya ini merupakan salah satu nilai
dalam revilusi mental.

6 Depdiknas, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta :Balai Pustaka.


10

BAB II
LANDASAN TEORI
Untuk membahas optimalisasi komunikasi antara Polri dan masyarakat
melalui penggunaan application launcher berbasis Android guna meningkatkan
aksesibilitas Polri, penulis akan menggunakan tinjauan kepustakaan sebagai arah
dalam menganalisa kondisi faktual yang ada sehingga dapat menghasilkan upaya
optimalisasi komunikasi antara Polri dan masyarakat yang meliputi beberapa
landasan teori sebagai berikut :
9. Teori Analisis SWOT
Analisa SWOT

merupakan

salah

satu

alat

analisa

untuk

mengoptimalisasikan suatu kegiatan atau program dalam organisasi profit


maupun non profit. Dengan menggunakan analisa SWOT dapat diidentifikasi
berbagai faktor yang secara otomatis dapat digunakan untuk merumuskan
langkah-langkah

perbaikan

dan

peningkatan

organisasi.Analisis

ini

didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strenght) dan


peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan
kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats)7.
Proses pengambilan keputusan selalu berkaitan dengan pengembangan
visi, misi, tujuan, strategi, dan kebijakan organisasi. Dengan demikian dalam
upaya mengoptimalisasikan komunikasi antara Polri dengan masyarakat
melalui penggunaan application launcer berbasis Android harus menganalisis
faktor-faktor dominan organisasi yang meliputi kekuatan, kelemahan,
peluang, dan kendala dalam kondisi yang ada pada saat ini.
Sebagai alat analisa, analisa SWOT berfungsi sebagai panduan yang
sangat berguna untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan terutama
berkaitan dengan komunikasi antara Polri dengan masyarakat melalui
penggunaan application launcer berbasis android guna meningkatkan
aksesibilitas

Polri

dalam

rangka

mewujudkan

kepercayaan

masyarakat.Analisa faktor-faktor tersebut dimasukkan dalam Matrik TOWS


(matrik ini menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman
eksternal yang dihadapi organisasi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan
kelemahan yang dimilikinya) untuk dapat membuat berbagai alternatif strategi
dalam rangka pemecahan masalah.
7Freddy, R. 2005.Strategi Bisnis.Jakarta : Media Komputindo
11

Untuk melakukan analisis SWOT secara garis besar harus dilakukan


melalui tiga tahapan yaitu :
Tahap Pertama, pengumpulan data, umumnya data akan dikategorikan
sebagai data internal dan eksternal. Untuk keperluan analisis biasanya
dipakai External Faktor Analysis Summary (EFAS) dan Internal Faktor
Analysis Summary (IFAS) yang ditunjukkan seperti pada format matrik berikut:
Tabel 2.1
Matrik EFAS / IFAS
Faktor-faktor Strategis
A.Kategori peluang / Kekuatan
B.Kategori Ancaman / Kelemahan
Total

Bobot (B)

Rating (R))

Nilai BxR

Sumber : Freddy Rangkuti 2002

Tahapan yang diperlukan dalam penyusunan table EFAS IFAS terdiri dari :
a. menentukan bobot pada masing-masing faktor internal dan faktor eksternal
dengan ketentuan jumlah bobot adalah 1,00. Langkah perhitungan
bobotnya adalah:
1). menyusun urutan kepentingan variabel internal dan ekternal dengan
ukuran 1 = sedikit penting, 2 = agak penting, 3 = penting, 4 = sangat

b.

penting.
2). menyusun bobot tiap variabel dengan cara :
Bobot = Nilai urut kepentingan masing-masing variabel
Jumlah nilai urut kepentingan tiap variabel
menentukan rating dengan ketentuan untuk faktor-faktor

yang

memberikan peluang atau kekuatan diberi tanda positif dan sebaliknya


untuk faktor-faktor yang memberikan ancaman atau kelemahan diberi
tanda negative. Jika faktor tersebut memberikan peluang paling besar
makan harus diberi rating positif paling besar, demikian sebaliknya bila
peluangnya kecil. Cara yang sama juga diperlakukan pada faktor yang
memberikan ancaman atau kelemahan paling besar harus diberi rating
c.

negative paling besar.


selanjutnya bobot dikalikan dengan rating sehingga akan diperoleh nilai
atau skor, setelah semua faktor dihitung skornya kemudian dijumlahkan
untuk mendapatkan total skor secara keseluruhan.
Untuk memberikan keseragaman dalam membuat rating baik untuk IFAS

maupun EFAS maka berikut adalah pedoman yang dapat dipakai dari angka
rating serta maskudnya.

Tabel 2.2
12

Angka Rating
Kelompok
Peluang dan Kekuatan

Angka Rating
4
3
2
1
-1
-2
-3
-4

Ancaman dan
Kelemahan

Arti Maksud
Sangat Baik
Baik
Cukup
Buruk
Agak Buruk
Cukup Khawatir
Hati-hati
Bahaya

Tahap Kedua, Analisis, setelah berhasil menyusun matrik EFAS dan


IFAS langkah berikutnya adalah melakukan analisis, untuk keperluan analisis
ini

digunakan

menggambarkan

diagram
faktor

SWOT. Sumbu

IFAS

dan

mendatar

atau

sumbu

vertical

atau

sumbu

sumbu

menggambarkan faktor EFAS.Bagian positif masing-masing sumbu X dan Y


ditempati kekuatan dan peluang, sedangkan bagian negative masing-masing
sumbu X dan sumbu Y ditempati kelemahan dan ancaman. Ploting dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
a. Nilai total skor yang mencerminkan peluang (Opportunity) dari matrik
EFAS di plot ke sumbu Y pada bagian positif.
b. Nilai total skor yang mencerminkan Ancaman (Threat) dari matrik EFAS
di plot ke sumbu Y pada bagian negative.
c. Nilai total skor yang mencerminkan kekuatan ( Strenght) dari matrik IFAS
di plot ke sumbu X pada bagian positif.
d. Nilai total skor yang mencerminkan kelemahan ( Weaknesses) dari
matrik IFAS di plot ke sumbu X pada bagian negative.
e. Selanjutnya dilakukan positioning, posisi yang ideal adalah poisis yang
memiliki tingkat kelemahan dan tingkat ancaman mendekati nol, dengan
mengetahui posisi terakhir diharapkan dapat diperoleh berbagai strategi
yang dapat bermanfaat bagi Polres Karanganyar.
f. Hitung luas area dari setiap kuadran dan kemudian di rangking
berdasarkan urutan luas yang paling tinggi.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas dari diagram SWOT,
berikut disajikan format serta penjelasannya.
Gambar 2.1
Diagram SWOT

13

Sumber : Freddy Rangkuti 2002

Dari diagram di atas dapat dilihat adanya empat kuadran, dimana setiap
kuadran memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda-beda. Adapun
penjelasan karakteristik setiap kuadran adalah sebagai berikut :
a Sel I dibatasi sumbu X dan sumbu Y yang keduanya bertanda positif
disebut

Pertumbuhan,

artinya

mempunyai

posisi

yang

paling

menguntungkan yaitu mempunyai banyak pilihan strategi yang dipakai


untuk mengembangkan usaha.
b Sel II dibatasi sumbu X yang negative dan sumbu Y yang positif disebut
Stabilitas, artinya tersedia peluang namun terkendala masalah internal
sehingga dituntut untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan
masalah internal agar dapat memberikan dukungan pengembangan
c

usaha.
Sel III dibatasi sumbu X yang negative dan sumbu Y yang negative
disebut

Penciutan

atau

Defensive

Strategy,

artinya

organisasi

dihadapkan pada kondisi masalah internal berupa kelemahan dan


masalah eksternal berupa ancaman, sehingga organisasi dihadapkan
pada satu pilihan yaitu bertahan dan melakukan efisiensi.
d Sel IV dibatasi sumbu X yang positif dan sumbu Y yang negative disebut
Kombinasi, artinya meskipun organisasi menghadapi ancaman dari
eksternal namun mempunyai kekuatan untuk mengatasi ancaman
tersebut.
Tahap ketiga, Memilih alternatif strategi dengan menggunakan matrik
SWOT yang juga sering disebut dengan matrik TOWS, matrik ini terdiri dari
empat bidang sebagaimana yang telah disinggung pada bagian sebelumnya,
dari masing-masing kuadran mempunyai strategi usaha sendiri sendiri yang
dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.2
Matriks AnalisisTOWS
14

Teori analisis SWOT ini digunakan sebagai analisis pada bab IV dan bab
VI yang berkaitan dengan faktor internal dan faktor eksternal Polres
Karanganyar yang mempengaruhi dalam menentukan strategi dalam
mengoptimalkan penggunaan application launcher berbasis android.

10. Teori Manajemen Strategis


Manajemen strategis merupakan serangkaian keputusan dan tindakan yang
merupakan hasil dari formulasi dan implementasi rencana yang didesain
untuk mencapai tujuan suatu perusahaan8.
Gambar 2.3
Proses Manajemen Strategis

Manajemen strategis terdiri atas sembilan tugas kritikal sebagai berikut 9:


a. Memformulasikan misi (mission) perusahaan, termasuk pernyataan yang
luas mengenai maksud (purpose), falsafah (philosophy) dan sasaran
(goal);
8 John A. Pearce II dan Richard B. Robinson, Jr., 2013. Manajemen Startegis :
Formulasi, Implementasi, Dan Pengendalian, Jakarta : Penerbit Salemba Empat,
Hal 19.
9

Ibid, hal 12
15

b. Menilai

lingkungan

eksternal

perusahaan,

termasuk

baik

faktor

kompetitif, maupun faktor yang berhubungan dengan konteks umum;


c. Menganalisis opsi perusahaan dengan menandingi sumber daya
perusahaan dengan lingkungan eksternalnya;
d. Mengidentifikasi opsi yang paling diinginkan dengan menilai setiap opsi
dipandang dari sudut misi perusahaan;
e. Memilih sekumpulan tujuan jangka panjang dan strategi total (grand
strategy);
f. Mengembangkan tujuan tahunan dan strategi jangka pendek yang
sesuai dengan kumpulan tujuan jangka panjang yang dipilih dari strategi
secara keseluruhan (grand strategy);
g. Mengimplementasikan pilihan strategi

dengan

alat

dan

alokasi

sumberdaya yang dianggarkan, yaitu memadani tugas-tugas, manusia,


struktur, teknologi, dan menekankan sistem ganjaran.
Teori ini digunakan sebagai analisis pada bab VI dalam menentukan visi,
isi dan tujuan serta strategi yang dipilih dalam rangka mengoptimalkan
komunikasi natara Polri dan masyarakat dengan penggunaan application
launcher berbasis android.
11. Teori Kemampuan (Competency)
Stephen P Robbin dalam bukunya tentang perilaku organisasi (1996),
menyampaikan

bahwa

kemampuan

(competency)

merupakan

suatu

kapasitas individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan.


Pada dasarnya kemampuan/kompetensi terdiri dari 3 unsur utama, yaitu :
pengetahuan, kemahiran dan sikap dan kualitas pribadi. Ketiga unsur ini
secara langsung mempengaruhi perilaku (behaviour) dalam melaksanakan
tugas (task). Kompetensi yang dimiliki seseorang harus dapat diukur, dinilai,
ditunjukan dan dapat dilihat melalui perilaku individu saat menjalankan
tugas10.
Jika dikaitkan dengan penulisan ini, personel Polres Karanganyar yang
bertugas melakukan komunikasi dengan masyarakat melalui penggunaan
application launcher berbasis Android setidaknya harus memiliki ke tiga aspek
kompetensi tersebut, yaitu memiliki pengetahuan tentang kehumasan,
memerlukan keahlian/kemahiran (skiil) dalam mengelola application launcher
serta memiliki sikap dan kualitas yang baik.
10Stephen P Robbin. 1996. Perilaku Organisasi (Konsep, Kontroversi, Aplikasi). Jakarta : PT.
Prenhallindo.

16

Teori kemampuan ini digunakan sebagai analisis pada babV terkait


dengan kemampuan sumber daya personel Polres Karanganyar yang
mengoperasionalkan sistemapplication launcher berbasis android.
12. Teori Manajemen
George R. Terry dalam teori manajemennya, mengklasifikasikan fungsifungsi manajemen sebagai berikut :
a.

Perencanaan (Planning),dalam tahap ini direncanakan siapa saja yang


dilibatkan, apa yang dilaksanakan, fasilitas apa yang digunakan,
ancaman apa yang dihadapi, peluang apa yang dimanfaatkan, kapan
dimulai dan kapan selesai.

b.

Pengorganisasian (Organizing),setelah rencana dibuat dengan matang,


maka dilakukan pembagian tugas dengan tepat. Siapa melaksanakan
apa dan bertanggung jawab kepada siapa, apa tugasnya, apa yang
menjadi wewenang dan tanggung jawabnya.

c.

Pelaksanaan (Actuating), setelah semua rencana dan pembagian tugas


dilakukan, kegiatan berikutnya adalah melaksanakan rencana tersebut
sesuai dengan waktu yang tepat dan semua anggota melaksanakan
tugasnya sesuai dengan perannya dan berpedoman kepada rencana
yang telah dibuat.

d.

Pengendalian

(Controlling),pengendalian

dilakukan

untuk

melihat

apakah suatu rencana dapat terlaksana atau tidak, apa kendala yang
dihadapi, bagaimana solusi yang bisa ditawarkan. Dengan demikian
pengendalian berfungsi untuk menghindari adanya penyimpanganpenyimpangan dalam pelaksanaan tugas sebagaimana rencana yang
sudah ditetapkan11.
Terori manajemen ini digunakan sebagai analisis pada bab V dan bab VI
tentang perencanaan kebutuhan personel dan metode yang digunakan
dalam optimalisasi komunikasi antara Polri dan masyarakat dengan
penggunaan application launcher berbasis android.
13. Teori Kerjasama
Menurut Roucek & Warren kerjasama berarti :
11George R Terry, 1986. Principles of Management (Asas-Asas Manajemen), Winardi, Alumni.
17

Bekerja

bersama-sama untuk mencapai

merupakan

suatu proses

tujuan bersama, dan

yang paling mendasar. Kerjasama

merupakan suatu bentuk proses sosial, dimana didalamnya terdapat


aktifitas

tertentu yang ditujukan untuk mencapai

dengan saling membantu

dan saling memahami

tujuan bersama
terhadap aktifitas

masing-masing12.
Perubahan biasanya tidak bisa berjalan tanpa adanya kerja sama dari
semua pihak. Teori kerja sama menjelaskan mengapa manusia mau bekerja
sama dan bagaimana memperoleh kerja sama. Ada beberapa penjelasan
mengapa manusia mau melakukan kerja sama13, antara lain adalah :
a Motivasi memperoleh rewards atau khawatir akan mendapatkan
punishment. Misalnya berharap akan memperoleh imbalan keuangan,
kepuasan bekerja, pekerjaan yang lebih menyenangkan atau khawatir
sebaliknya.
b Motivasi kesetiaan terhadap profesi, pekerjaan atau perusahaan.
c Motivasi moral, karena dengan bekerja sama dapat diterima secara
moral.
d Motivasi menjalankan keahlian.
e Motivasi karena sesuai dengan sikap hidup.
f Motivasi kapatuhan terhadap kekuasaan.
Teori ini sangat relevan bila diterapkan dalam penulisan ini. Dengan
berbagai keterbatasan sumber daya yang dimiliki, maka dalam meningkatkan
pelayanan publik, Polri termotivasi untuk dapat melakukan kerjasama dengan
lintas sektoral baik dalam bentuk komunikasi termasuk tukar menukar
informasi, koordinasi maupun kolaborasi. Dengan demikian, kerjasama ini
dapat dilakukan karena adanya motivasi terhadap profesi maupun pekerjaan.
Sehingga teori ini digunakan sebagai analisis pada bab V dan bab VI
tentang metode kerjasama yang dilakukan oleh Polres Karanganyar dengan
pihak yang berkompeten.
14 Teori Partisipasi Masyarakat
Canter (Arimbi, 1993) mendefinisikan partisipasi sebagai feed-forward
information and feedback information yang diawali melalui proses societal
demand.

Dengan definisi ini, partisipasi masyarakat sebagai proses

12Syani, Abdul, 2002. Sosiologi, Skema, Teori dan Terapan, Bumi Aksara, Jakarta.
13Mulyo, Barito, 2007. Budaya dan Etos Kerja, Pustaka Ilmu, Jakarta.
18

komunikasi dua arah yang terus menerus dapat diartikan bahwa partisipasi
masyarakat merupakan komunikasi antara pihak pemerintah sebagai
pemegang kebijakan dan masyarakat dipihak lain sebagai pihak yang
merasakan langsung dampak dari kebijakan tersebut yang diawali melalui
proses societal demand, yaitu sebuah proses rekayasa untuk membuat
sesuatu menjadi sebuah kebutuhan. Dari pendapat Canter juga tersirat
bahwa masyarakat dapat memberikan respon positif dalam artian mendukung
atau memberikan masukan terhadap program atau kebijakan yang diambil
oleh pemerintah, namun dapat juga menolak kebijakan.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka teori partisipasi masyarakat
sangat relevan dengan penulisan ini. Partisipasi masyarakat terhadap Polres
Karanganyar diharapkan dapat terwujud melalui proses societal demand,
yaitu sebuah rekayasa yang bertujuan agar berkomunikasi dengan Polri yang
dalam hal ini adalah Polres Karanganyar menjadi sebuah kebutuhan
masyarakat. Kebutuhan masyarakat ini meliputi kebutuhan untuk memberikan
informasi terkait situasi kamtibmas termasuk menyalurkan pengaduan, kritik
dan saran terhadap pelayanan yang diberikan oleh Polres Karanganyar
melalui sistem yang ada.
Sehingga teori ini digunakan sebagai analisis pada babV tentang peran
serta masyarakat dalam memberikan informasi kepada Polres Karanganyar.
15 Teori ANSVA
Menurut Alan H. Monroe, terdapat 5 (lima) tahapan urutan motif yang
sesuai dengan cara berpikir manusia dalam formula ANSVA : perhatian
(attention),

kebutuhan

(need),

pemuasan

(visualization) dan tindakan (attitude)14.


Terkait dengan perhatian (attention),

(satisfaction),
perhatian

visualisasi

khalayak

harus

dibangkitkan terlebih dahulu. Polres Karanganyar harus mampu untuk


menarik perhatian masyarakat terhadap penggunaan application launcher
berbasis Android ini. Setelah perhatian terbentuk, selanjutnya khalayak akan
merasakan

adanya

sebuah

kebutuhan

(need)

tertentu.

Masyarakat

diharapkan akan membutuhkan application launcher berbasis Android dengan


segala kemudahan yang diberikan. Kemudian khalayak akan diberikan
petunjuk bagaimana cara memuaskan (satisfaction) kebutuhan tersebut. Hal
ini akan dilaksanakan dalam bentuk simulasi sehingga masyarakat paham
14 Raymond S. Ross, 1984. Persuasion : Communication and Interpersonal Relation, Rakhmat,
Nusantara, Jakarta.

19

cara menggunakannya. Setelah kepuasan tercapai, maka khalayak harus


dapat menggambarkan (visualization) dalam pikirannya penerapan usul yang
dianjurkan kepadanya. Hal ini direalisasikan dalam bentuk pemberian saran
dan masukan untuk pengembangan application launcher berbasis Android ini.
Akhirnya, saran dan tindakan tegas (attitude) harus dinyatakan. Masyarakat
akan turut serta berpartisipasi dalam mewujudkan keamanan dan ketertiban
melalui pemberian informasi menggunakan application launcher berbasis
Android.

20

Teori tersebut di atas sangat relevan untuk digunakan pada bab V ketika
membahas bagaimana proses sosialisasi penggunaan application launcher
berbasis Android kepada masyarakat dilaksanakan. Application launcher
berbasis Android ini diharapkan dapat menjadi sarana yang dibutuhkan oleh
masyarakat untuk memuaskan kebutuhan berkomunikasi secara optimal
dengan Polres Karanganyar.
16 Teori Komunikasi
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide, gagasan)
dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara
keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan
kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Menurut
Littlejohn (1989), Berdasarkan konteks atau tingkat analitisnya, teori-teori
komunikasi secara umum dapat dibagi dalam lima konteks atau tingkatan,
yaitu sebagai berikut :
a Komunikasi Intrapribadi
b Komunikasi Antarpribadi
c

Komunikasi Kelompok

d Komunikasi Organisasi
e Komunikasi Massa
Dari uraian tentang teori komunikasi berdasarkan konteks atau tingkat
analisisnya sebagaimana tersebut di atas, maka teori komunikasi yang
relevan dengan tulisan ini adalah komunikasi massa. Teori komunikasi massa
adalah komunikasi melalui media massa yang ditujukan kepada sejumlah
khalayak yang besar. Teori-teori komunikasi massa umumnya memfokuskan
perhatiannya pada hal-hal yang menyangkut struktur media, hubungan media
dan masyarakat, hubungan antara media dan khalayak, aspek-aspek budaya
dari komunikasi massa, serta dampak atau hasil komunikasi massa terhadap
individu15. Dalam penulisan ini, komunikasi massa digambarkan melalui
komunikasi antara Polri dan masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi
yang dalam hal ini dilakukan melalui penggunaan application launcher
berbasis Android.

15Mulyana, Dedy, Prof, 2012. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Obor Ilmu, Jakarta.
21

Teori komunikasi ini digunakan sebagai analisis pada bab V dan bab VI
berkaitan dengan sistem dan metode yang digunakan dalam sosialisasi yang
melibatkan media massa.

22

BAB III
KOMUNIKASI ANTARA POLRI DAN MASYARAKAT MELALUI PENGGUNAAN
APPLICATION LAUNCHER BERBASIS ANDROID SAAT INI
17 Kondisi Umum Polres Karanganyar
Polres Karanganyar memiliki wilayah hukum meliputi Kabupaten
Karanganyar yang terdiri dari 17 (tujuh belas) kecamatan dengan luas
77.378,64 Ha yang beribukota di Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.
Kabupaten Karanganyar terletak di antara 70 27 55 sampai dengan 70 45
59 Lintang Selatan dan 110 39 46 sampai dengan 110 69 46 Bujur Timur.
Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Sragen, sebelah barat dan
selatan berbatasan dengan Kota Surakarta dan sebelah timur berbatasan
dengan Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur.
Polres Karanganyar memiliki wilayah hukum yang melingkari Kota
Surakarta yang merupakan kota terbesar ke-2 di Provinsi Jawa Tengah.
Secara faktual di lapangan, Kabupaten Karanganyar terlihat seolah menyatu
dengan Kota Surakarta. Kabupaten Karanganyar merupakan penyedia
kawasan

pemukiman

bagi

Kota

Surakarta.

Pertumbuhan

kawasan

pemukiman di Kabupaten Karanganyar sangat cepat. Sampai dengan tahun


2015, terdapat 76 kawasan pemukiman di Kabupaten Karanganyar 16. Selain
itu, Kabupaten Karanganyar juga merupakan wilayah pendukung untuk Kota
Surakarta di bidang industri. Banyak terdapat kegiatan perindustrian di
Kabupaten Karanganyar. Sampai dengan tahun 2015, terdapat 164 pabrik
yang berada di Kabupaten Karanganyar 17.
Kondisi geografis wilayah hukum Polres Karanganyar memiliki kawasan
pegunungan di Kecamatan Tawangmangu.Hal ini menyebabkan Polres
Karanganyar memiliki daerah wisata pegunungan. Banyak terdapat hotel,
villa, penginapan dan berbagai wisata alam yang akan menjadi objek
pengamanan. Selain itu, terdapat juga kompleks makam keluarga mantan
Presiden Republik Indonesia ke-2 Soeharto yang berada di Mengadeg,
Kecamatan Matesih. Kompleks makam keluarga ini sering dijadikan sebagai
16 Data dari Dinas Tata Kota Kabupaten Karanganyar, 2015.
17 Data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Karanganyar,
2015.
23

objek kunjungan berbagai pejabat negara, tamu negara dan tamu penting
lainnya. Hal ini tentunya juga merupakan objek pengamanan yang tidak kalah
penting bagi Polres Karanganyar. Polres Karanganyar juga merupakan jalur
lintas utama yang menghubungkan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Hal ini yang menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka kecelakaan
lalu lintas di wilayah hukum Polres Karanganyar.
Penduduk

Kabupaten

Karanganyar

berjumlah

908.088jiwa

dan

Kabupaten pada tahun 201518. Profesi penduduk didominasi dengan profesi


sebagai pegawai sebesar 37,89% dan petani sebesar 16,72%. Untuk
memberikan perlindungan, pelayanan dan pengayoman terhadap wilayah
hukumnya, Polres Karanganyar sendiri saat ini didukung oleh 989 personil
yang terbagi dalam berbagai satuan fungsi di Polres dan 17 (tujuh belas)
Polsek. Polres Karanganyar juga telah memiliki sarana dan prasarana yang
cukup memadai seperti bangunan kantor, kendaraan operasional patroli
maupun kendaraan operasional khusus seperti kendaraan pengendali massa,
public address, water canon dan lain sebagainya. Selain itu, dukungan alat
komunikasi berupa radio HT trunking juga telah ada. Polres Karanganyar juga
telah memiliki sistem pengamanan kota (sispamkota) yang telah diperkuat
dengan Keputusan Kapolres Karanganyar.
Namun demikian, komunikasi antara Polri dan masyarakat di Kabupaten
Karanganyar saat ini belum optimal. Sebelum penulis membahas mengenai
kondisi faktual komunikasi antara Polri dan masyarakat, terlebih dahulu akan
dikemukakan mengenai penilaian masyarakat terhadap pelayanan Polri
sebagai

salah

satu

indikator

kualitas

komunikasi

antara

Polri

dan

masyarakat19. Dalam kondisi saat ini, masih terdapat penilaian negatif dari
masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh Polres Karanganyardi
antaranya :
a. Polres Karanganyar kurang responsif terhadap laporan masyarakat.
b. Tidak adanya kejelasan waktu, proses maupun biaya dalam setiap
pelayanan.
c. Sulitnya menghubungi polisi, aksesibilitas sangat buruk.
18 Sumber dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten
Karanganyar, 2015.
19 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Administrasi
Publik Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Surakarta pada bulan Agustus 2014.

24

d. Tidak adanya saluran pengaduan yang mudah diakses.


Masih adanya penilaian negatif dari masyarakat terhadap pelayanan
yang diberikan oleh Polres Karanganyar salah satunya disebabkan karena
komunikasi antara Polri dengan masyarakat saat ini masih belum optimal.
Untuk meminta bantuan kepolisian yang sifatnya mendesak atau darurat,
masyarakat harus mendatangi kantor kepolisian terdekat, karena pada
umumnya masyarakat tidak memiliki nomor telepon polisi. Kondisi tersebut
disebabkan karena beberapa hal sebagai berikut :
a Polisi belum mudah untuk diakses, terbukti dari hasil survei terhadap
100 responden, yang mengetahui nomor telepon Polres Karanganyar
hanya berjumlah 12 orang20. Dengan kondisi ini sudah dapat
menggambarkan bahwa komunikasi antara polisi dengan masyarakat
tidak akan efektif.
b Adanya fenomena hubungan komunikasi antara polisi dan masyarakat
tidak menempatkan polisi sebagai organisasi, namun polisi sebagai
individu. Terbukti dari beberapa kasus yang dihadapi masyarakat, ratarata masyarakat mencari atau menghubungi saudara atau kenalannya
yang bekerja sebagai anggota Polri untuk dimintakan bantuannya
menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Kondisi ini tentunya akan
mempersulit keberlanjutan komunikasi karena setiap personil Polri pasti
c

akan mengalami tour of duty dan tour of area.


Cara berkomunikasi dengan masyarakat saat ini masih bersifat
konvensional, yaitu hanya menggunakan saluran komunikasi berupa
telepon dan belum memanfaatkan fitur teknologi media sosial yang ada
termasuk menggunakan application launcher berbasis Android.
Komunikasi antara Polri dan masyarakat di Polres Karanganyar yang

belum optimal disebabkan karena masih terkendala dengan beberapa kondisi


yaitu belum memadainya sumber daya organisasi yang ada, belum adanya
peran serta dari masyarakat dalam memberikan informasi terkait kamtibmas,
belum ada upaya untuk memperkenalkan dan memberi pemahaman terkait
penggunaan

application

masyarakatsehingga

launcher

masyarakat

masih

berbasis
belum

Android
banyak

kepada

yang

tahu

tentangapplication launcher berbasis Android. Hal ini dapat diuraikan sebagai


berikut :
20 Survei dilaksanakan oleh Subbag Humas Polres Karanganyar pada tanggal
4-6 Juli 2014 dalam rangka persiapan pembuatan application launcher.
25

26

18.Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia yang dibahas di bawah adalah sumber daya
personel Polri dan sumber daya masyarakat terkait upaya optimalisasi
komunikasiantara Polri dan masyarakat yang meliputi :
a Kuantitas
Personel Polres Karanganyar yang ditugaskan untuk membina
hubungan komunikasi dengan masyarakat adalah Subbag Humas yang
diposisikan di bawah Bag Ops. Subbag Humas memiliki peran sebagai
penghubung antara organisasi Polri dengan masyarakat, termasuk di
dalamnya membina hubungan dan komunikasi dengan instansi terkait.
Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka untuk memberikan
dukungan kepada fungsi dan tugas pokok organisasi Polri dengan cara
mengkomunikasikan maksud dan tujuan organisasi, memberikan
informasi dan penerangan terkait operasionalisasi dan pelayanan publik
yang diberikan oleh organisasi serta membangun persepsi, citra dan
opini positif organisasi di mata masyarakat, termasuk membantu fungsi
lain dalam pelayanan dan pengelolaan aduan masyarakat.
Namun demikian, terkait dengan pertelaahan tugas seperti tersebut
di atas, secara kuantitas personil Subbag Humas masih belum optimal.
Hal ini dapat dilihat pada penjelasan sebagai berikut :
Tabel 3.1
Personil Bag Ops 2015
Perwira
DSP
Riil
1.
Ren Ops
3
1
2.
Dal Ops
3
1
3.
Humas
3
1
Total
9
3
Sumber : Bag Sumda Polres Karanganyar
No

Sub Bag

Bintara
DSP
Riil
4
2
4
2
4
3
12
7

Dari data tersebut di atas dapat dilihat bahwa dalam kegiatan


operasional rutin fungsi Humas, Polres Karanganyar saat ini diawaki
oleh Subbag Humas yang hanya terdiri dari 4 (empat) personil, dipimpin
oleh seorang perwira berpangkat Ajun Komisaris Polisi. Dalam
menjalankan fungsi Humas, Subbag Humas Polres Karanganyar
memiliki 2 (dua) fungsi utama, yaitu sebagai pengelola informasi dan
dokumentasi serta penerangan masyarakat.
Untuk menjalankan pengelolaan informasi dan dokumentasi hanya
dilaksanakan oleh 2 (dua) orang personil dan penerangan masyarakat
27

dilaksanakan oleh 1 (satu) orang personil.Pelibatan kekuatan personil di


luar fungsi Humas untuk membantu menjalankan kegiatan kehumasan
juga masih belum dilaksanakan.Dengan jumlah personel Humas yang
hanya terdiri dari 4 (empat) orang personil, maka bila dihadapkan pada
pertelahaan tugas fungsi Humas, baik dalam pengelolaan informasi dan
dokumentasi maupun dalam penerangan kepada masyarakat tidak akan
berjalan optimal.
Saat ini, personil Subbag Humas Polres Karanganyar hanya
mengampu kegiatan pengumpulan laporan kegiatan dari Polsek jajaran,
peliputan kegiatan Polres, pelaporan rangkuman kegiatan Polres ke
Polda dan konferensi pers dengan awak media. Personil Subbag
Humas belum menjalankan fungsi kehumasan secara maksimal untuk
dapat berkomunikasi dengan masyarakat, termasuk memberikan
informasi dan penerangan terkait kegiatan operasionalisasi dan
pelayanan publik Polres Karanganyar.
b Kuantitas
Selain dari aspek kuantitas, aspek kualitas personel Subbag
Humas Polres Karanganyar dari sisi keterampilan, pengetahuan dan
sikap perilaku masih belum memadai.Hal ini terbukti dari 4 orang
personel Subbag Humas, belum ada satupun yang memiliki latar
belakang pendidikan kehumasan.Keterampilan mengelola informasi
juga belum ada. Bahkan, terdapat 1 (satu) personil Subbag Humas yang
sudah kehilangan motivasi kerja karena menganggap pekerjaan di
bidang kehumasan adalah pekerjaan yang tidak memiliki arti.Hal ini
merupakan sebuah ancaman secara psikologis terhadap rekan lainnya.
Dengan kondisi tersebut di atas, kemampuan personel Subbag
Humasmasih

kurang memadai. Hal tersebut dapat digambarkan

sebagai berikut :
a Berdasarkan wawancara dengan Kabag Ops Polres Karanganyar
Kompol. Soni Suharno, personil Subbag Humas hanya memiliki
kemampuan staf seperti mengkompulir laporan dan mengetik
surat. Pengetahuan personel tentang cara berkomunikasi yang
efektif masih kurang. Hal ini terlihat dari tidak adanya dokumentasi
terkait

komunikasi

yang

telah

dilaksanakan,

baik

dengan

masyarakat maupun pengampu kegiatan kehumasan lainnya

28

seperti pihak pemerintah, swasta, komunitas public relation


maupun awak media.
b Berdasarkan wawancara

dengan

Kasubbag

Humas

Polres

Karanganyar AKP. Rohmat, SH, didapat hal-hal sebagai berikut :


1
Personil Subbag Humas hanya terbiasa untuk berinteraksi
dengan para wartawan yang sering meliput berita di
lingkungan Polres Karanganyar saja. Belum ada interaksi
yang dilakukan selain dari yang telah disebutkan. Hal ini
berarti keterampilan untuk membangun jaringan (networking)
dengan berbagai pihak berkaitan dengan organisasi atau
kegiatan kehumasan itu sendiri belum dilaksanakan. Subbag
Humas Polres Karanganyar belum memiliki mitra kerja yang
luas dalam melaksanakan kegiatannya. Seharusnya, Subbag
Humas Polres Karanganyar harus menjalin komunikasi
dengan pelaksana kegiatan kehumasan dari berbagai pihak,
baik instansi pemerintah, swasta, komunitas public relation
2

maupun awak media.


Personel Subbag Humas masih terjebak dengan rutinitas
pekerjaan sehingga kurang memiliki kreatifitasuntukmembuat
terobosan dalam menciptakan komunikasi yang efektif
melalui

penggunaan

media

sosial

dengan

masyarakat.Pengetahuan tentang ilmu komunikasi belum


maksimal. Komunikasi yang dilakukan masih menggunakan
saluran telepon ataupun kontak fisik secara langsung dan
3

bersifat pasif.
Keterampilan personil terutama dalam mengelola informasi
melalui penggunaan teknologi informasi seperti application
launcher berbasis android masih belum ada. Pengelolaan
informasi

melalui

penggunaan

teknologi

informasi

sebenarnya dapat dilakukan dengan memanfaatkan media


sosial

yang

penggunaannya

sangat

mudah.

Namun

penggunaan media sosial oleh Subbag Humas saat ini belum


dimanfaatkan untuk pengelolaan informasi demi kepentingan
c

organisasi.
Berdasarkan wawancara dengan Kasi Propam Polres Karanganyar
IPTU Joko Sriyanto, S.Sos, sikap dan kualitas pribadi personil
Subbag Humas dalam melayani kebutuhan komunikasi masyarakat
29

masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Sering ditemukan


kondisi pesawat telepon yang menjadi satu-satunya saluran
komunikasi secara sengaja digantung gagangnya dengan tujuan
agar

telepon

dari

luar

tidak

bisa

masuk

sehingga

tidak

mengganggu aktifitas dan kegiatan personil. Tidak jarang juga


ditemukan kabel telepon yang sengaja dilepas dengan maksud
yang sama. Hal ini tentunya semakin mempersulit akses
komunikasi masyarakat kepada polisi.
19 Sumber Daya Anggaran
Alokasi anggaran yang diberikan oleh negara saat ini kepada Subbag
Humas Polres Karanganyar tergabung dengan anggaran Bag Ops sebagai
satuan di atasnya. Secara umum, anggaran Bag Ops terbagi menjadi 3 (tiga)
anggaran sub satker, yaitu anggaran Subbag Bin Ops, anggaran Subbag Dal
Ops dan anggaran Subbag Humas. Untuk lebih jelasnya anggaran untuk
Subbag Humas dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 3.2
Anggaran Operasional Subbag Humas 2015
Jenis Kegiatan

Mata

Jenis

Anggaran
3

RM
4

PNBP
5

113.04335.145

Rp. 7.200.000,-

113.04335.146

Rp. 6.600.000,-

111.03142.189
Alat Tulis
Sumber : Bag Ren Polres Karanganyar

Rp. 1.200.000,-

2
Pengelolaan Informasi
dan Dokumentasi
Penerangan Masyarakat
Untuk Informasi
Operasional Kantor dan

Berdasarkan tabel tersebut di atas, maka anggaran yang dapat


dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan kehumasan oleh Subbag Humas
Polres Karanganyar dalam waktu 1 (satu) tahun anggaran adalah anggaran
pengelolaan informasi dan dokumentasi sebesar Rp. 7.200.000,- (Tujuh Juta
Dua Ratus Ribu Rupiah), anggaran penerangan masyarakat untuk informasi
sebesar Rp. 6.600.000,- (Enam Juta Enam Ratus Ribu Rupiah) dan
anggaran operasional kantor dan alat tulis sebesar Rp. 1.200.000,- (Satu
Juta Dua Ratus Ribu Rupiah). Seluruh mata anggaran tersebut bila
dijumlahkan hanya berjumlah sebesar Rp. 15.000.000,- (Lima Belas Juta
Rupiah).
30

Dengan dukungan anggaran yang sangat terbatas, di sisi lain, Subbag


Humas Polres Karanganyar memiliki pertelaahan tugas yang cukup banyak
antara lain :
1
Menjalin komunikasi baik dengan masyarakat maupun pihak
2

lainnya.
Memberikan informasi dan penerangan terkait operasionalisasi dan

pelayanan publik yang diberikan oleh organisasi.


Membangun persepsi, citra dan opini positif organisasi di mata

masyarakat.
Membantu fungsi lain dalam melayani dan mengelola aduan
masyarakat.
Jika disandingkan dengan pertelaahan tugas Subbag Humas Polres

Karanganyar dalam menjalankan fungsi kehumasan untuk berkomunikasi


dengan masyarakat seperti tersebut di atas, maka anggaran yang telah
disediakan oleh negara saat ini sangat jauh dari kebutuhan ideal. Dalam
prakteknya,

anggaran

mengakomodir

kegiatan

yang
yang

disediakan
bersifat

tersebut

dokumentasi

hanya
dan

mampu
pelaporan

administrasi. Perlu adanya upaya untuk memperbaiki kuantitas anggaran


guna mendukung kegiatan kehumasan Subbag Humas Polres Karanganyar.
Namun demikian, saat ini Polres Karanganyar telah mendapatkan
bantuan dari pihak ketiga untuk membangun dan memelihara sistem
application launcher berbasis Android ini. Untuk membangun sistem, Polres
Karanganyar mendapatkan bantuan berupa tenaga ahli pengembangan
perangkat lunak (software engineering) secara gratis. Menurut Kabag Ops
Polres

Karanganyar, Kompol.

Soni

Suharno,

bantuan

tersebut

jika

dinominalkan bernilai sekitar Rp. 20.000.000,- (Dua Puluh Juta Rupiah).


Selain bantuan tersebut, masih menurut Kabag Ops, Polres Karanganyar
juga mendapatkan bantuan pemeliharaan sistem sebesar Rp. 7.500.000,(Tujuh Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) yang pelaksanaannya langsung
dibayarkan oleh pihak ketiga tersebut kepada pelaksana pemelihara sistem.
Sayangnya, bantuan dari pihak ketiga seperti tersebut di atas saat ini secara
akuntabilitas keuangan belum memenuhi persyaratan. Perlu adanya sebuah
langkah agar bantuan dari pihak ketiga tersebut memperoleh legitimasi yang
sah.
20 Sarana dan Prasarana

31

Operasionalisasi kegiatan Subbag Humas Polres Karanganyar saat ini


masih tergolong sederhana dan konvensional. Untuk mendukung kegiatan
operasional, Subbag Humas Polres Karanganyar saat ini hanya memiliki
sarana yang dapat digunakan untuk kegiatan dokumentasi berupa 2 (dua)
unit kamera saku digital, meskipun status kepemilikan kamera tersebut
adalah milik pribadi personil Subbag Humas Polres Karanganyar. Subbag
Humas Polres Karanganyar saat ini belum memiliki kamera video, termasuk
alat perekam.
Untuk lebih jelasnya, sarana yang ada untuk mendukung kegiatan
Subbag Humas dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 3.3
Sarana Subbag Humas 2015
No
Jenis
Jumlah
1.
Jaringan Internet
1 jalur
2.
Komputer
2 buah
3.
Website
1 buah
4.
Akun media sosial
2 buah
5.
Alat Perekam
6.
Kamera Foto
2 buah
7.
Kamera Video
Sumber : Subbag Humas Polres Karanganyar

Keterangan
Hanya 2 Mbps
Dinas 1 ; Swadaya 1
Tidak aktif
Twitter dan Facebook
Swadaya

Untuk mendukung kegiatan administrasi, saat ini Subbag Humas Polres


Karanganyar telah memiliki 2 (dua) unit komputer yang telah terhubung
dengan jaringan internet. Namun demikian, jaringan internet yang tersedia
masih berbagi dengan fungsi lain sehingga belum memiliki kecepatan
transmisi data yang baik.
Saat ini, Subbag Humas Polres Karanganyar telah memiliki prasarana
berupa gedung kantor. Gedung kantor ini selain digunakan untuk aktifitas
perkantoran juga berfungsi sebagai ruangan untuk melaksanakan press
conference. Dengan kondisi tersebut, maka ketika sedang dilaksanakan
kegiatan press conference, maka aktifitas kegiatan perkantoran untuk
sementara waktu tidak dapat berjalan.
Kantor Subbag Humas Polres Karanganyar hanya terdiri dari 1 (satu)
ruangan yang ditempati oleh 3 (tiga) personil termasuk Kasubbag Humas
AKP. Rohmat SH. Dalam ruangan tersebut juga dilengkapi dengan berbagai
peralatan kantor dan tempat untuk melaksanakan press conference.
Kegiatan press conference saat ini hanya dilakukan secara insidentil ketika
Polres Karanganyar akan merilis pemberitaan terkait pengungkapan kasus.

32

Untuk lebih jelasnya, kondisi prasarana yang dimiliki oleh Subbag


Humas Polres Karanganyar yang dipakai untuk aktifitas kegiatan kantor dan
kegiatan press conferencedapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 3.1
Kantor Subbag Humas dan Ruang Press ConferencePolres
Karanganyar

Sumber : Subbag Humas Polres Karanganyar, 2015

Berdasarkan kondisi sarana dan prasarana tersebut di atas, sangat sulit


untuk dapat mengakomodir seluruh kegiatan kehumasan yang ideal.
Kegiatan kehumasan yang dapat terakomodir dengan kondisi sarana dan
prasarana saat ini adalah kegiatan kehumasan yang sederhana. Komunikasi
yang berkualitas antara Polri dan masyarakat dapat dipastikan tidak akan
terwujud mengingat tidak tersedianya saluran komunikasi yang memadai.
21 Metode
Pembahasan

terkait

dengan

metode

yang

dilakukan

dalam

melaksanakan kegiatan komunikasi antara Polri dan masyarakat akan dibagi


menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu kerjasama dengan pihak internal dan
eksternal,proses

sosialisasi

dan

peran

serta

masyarakat.

Ada

pun

pembahasannya adalah sebagai berikut :


1 Kerjasama dengan pihak internal dan eksternal
Hasil wawancara dengan Kabag Ops Polres Karanganyar, Kompol.
Soni Suharno, dalam kegiatan mendukung komunikasi antara Polres
Karanganyar dan masyarakat, subbag humas melakukan kerjasama
internal dengan satuan fungsi dan bagian sebatas meminta data yang
diinput ke dalam application launcher, sedangkan kerjasama dengan
pihak eksternal Polres Karanganyar belum melaksanakan kerjasama
apa pun dengan berbagai pihak, baik instansi pemerintah, swasta,
komunitas public relation maupun awak media. Seharusnya, dalam
33

melaksanakan

kegiatan

kehumasan,

Subbag

Humas

Polres

Karanganyar harus melakukan kerjasama dengan berbagai instansi


tersebut di atas, baik dalam bentuk komunikasi, kordinasi dan
kolaborasi untuk menyempurnakan kegiatan kehumasannya.
2)

Proses Sosialisasi
Penggunaan application launcher berbasis Android oleh Polres
Karanganyar

dalam

melakukan

komunikasi

dengan

masyarakat

merupakan hal yang baru. Penggunaan application launcher berbasis


Android oleh Polres Karanganyar dilatarbelakangi dari hasil brain
storming dan diskusi dalam bentuk focused group discussion yang
sering dilakukan oleh Polres Karanganyar dengan berbagai pihak
seperti para akademisi, tokoh masyarakat, awak media, praktisi
kehumasan termasuk para pengusaha dari berbagai bidang. Dari
kegiatan tersebut dihasilkan sebuah kesimpulan bahwa perlunya
memanfaatkan perkembangan teknologi informasi melalui penggunaan
application launcher berbasis Android agar komunikasi antara Polres
Karanganyar dan masyarakat menjadi lebih optimal.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, untuk sementara ini, maka
proses sosialisasi hanya ditujukan kepada kalangan terbatas. Namun
demikian, meskipun hanya ditujukan kepada kalangan terbatas,
kegiatan tersebut banyak menghasilkan informasi berharga bagi Polres
Karanganyar yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam menyusun dan
mengembangkan strategi komunikasi dengan masyarakat antara lain :
a) Informasi tentang pengalaman dan kesan masyarakat selama ini
dalam berinteraksi dengan Polres Karanganyar, terutama yang
terkait dengan hal negatif, sehingga dapat dilakukan upaya
pembenahan di kemudian hari.
b) Informasi tentang bagaimana seharusnya Polres Karanganyar
dalam memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan
kepada masyarakat.
c) Informasi tentang hal-hal apa saja yang menjadi kebutuhan utama
masyarakat dan harus menjadi prioritas terkait dengan pelayanan
Polres Karanganyar.
d) Informasi tentang bagaimana seharusnya application launcher
berbasis Android dirancang serta saran dan pendapat untuk
mengembangkannya agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
34

3).

Peran Serta Masyarakat


Peran serta masyarakat saat ini dalam memberikan informasi
terkait kamtibmas kepada Polres Karanganyar melalui application
launcher masih nihil, sedangkan informasi masyarakat melalui sarana
komunikasi call center masih rendah. Rendahnya peran serta
masyarakat dapat dilihat dari belum maksimalnya komunikasi yang
terjadi, baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Secara kuantitas,
komunikasi antara Polres Karanganyar dan masyarakat saat ini belum
dapat diukur secara rinci. Hal ini disebabkan oleh belum maksimalnya
sistem yang dapat mengakomodir hal tersebut.Gambaran yang paling
memungkinkan untuk mengukur kuantitas komunikasi antara Polres
Karanganyar dan masyarakat saat ini sementara dapat dilihat dari
jumlah penelpon layanan Call Center 110.

35

Tabel 3.4
Jumlah Penelepon Layanan Call Center 110 Pada Tahun 2015
No

Bulan

Jumlah

Keterangan

Januari

Melaporkan laka lantas

Februari

Melaporkan laka lantas

Maret

Menanyakan prosedur SIM

April

Nihil

Mei

Melaporkan perjudian

Juni

Nihil

Juli

Melaporkan laka lantas

Sumber : Bag Ops Polres Karanganyar, 2015.

Berdasarkan Tabel 3.4 menunjukkan bahwa data yang ada tidak


memiliki arti yang signifikan karena jumlah penelepon layanan Call
Center 110 yang tercatat sangat minim.
Kualitas komunikasi antara Polres Karanganyar dan masyarakat
saat ini juga masih jauh dari harapan. Informasi yang diperoleh dari
masyarakat tidak terdata dengan baik. Tidak ada klasifikasi jenis
informasi yang diterima sehingga akan menyulitkan proses evaluasi.
Rendahnya kualitas komunikasi antara Polres Karanganyar dan
masyarakat dapat dilihat dari fenomena-fenomena di bawah ini :
a)

Banyak kebijakan Polri yang dijalankan


Polres Karanganyar yang tidak diketahui dengan baik oleh
masyarakat. Sebagai contoh, ketika terdapat kebijakan melakukan
penindakan terhadap pengendara sepeda motor yang tidak
menghidupkan lampu utama di siang hari, maka terjadi beragam

reaksi dan protes dari masyarakat.


b)
Sulitnya

memberikan

sosialisasi

kepada masyarakat ketika ada hal yang baru yang akan


digulirkan. Sebagai contoh, ketika akan membuat program
Polmas, maka Polres Karanganyar membutuhkan waktu dan
energi

yang

besar

untuk

mengenalkan

dan

memberikan

pengertian kepada masyarakat.


c)
Masih banyak masyarakat yang belum
memahami

prosedur

dan

36

mekanisme

pelayanan

Polres

Karanganyar. Masyarakat kesulitan mencari informasi, sekalipun


d)

untuk pelayanan paling sederhana.


Masyarakat

kesulitan

melakukan

pengaduan ketika menemukan pelayanan Polres Karanganyar


yang tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya. Kritik dan saran
juga jarang diberikan oleh masyarakat.
Dengan melihat kondisi sumber daya organisasi dan metode di atas
dapat dipastikan bahwa komunikasi antara polisi dan masyarakat sulit
terwujud dengan optimal, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini
disebabkan oleh belum maksimalnya sumber daya organisasi dan metode
yang dilakukan saat ini.
22 Implikasi kurang optimalnya komunikasi antara Polri dan masyarakat
terhadap aksesibilitas Polri dan terwujudnya Polri yang modern dan
dapat dipercaya masyarakat
Gambaran kondisi tersebut di atas terkait dengan sumber daya
organisasi dan metode yang digunakan Polres Karanganyar untuk komunikasi
dengan masyarakat yang belum maksimal saat ini, ternyata membawa
implikasi belum optimalnya komunikasi antara Polri dan masyarakat, baik
secara

kuantitas

maupun

kualitas.

Komunikasi

yang

terjadi

masih

berlangsung secara konvensional. Resistensi dari masyarakat terhadap


berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Polres Karanganyar juga masih sering
terjadi. Belum optimalnya komunikasi antara Polri dan masyarakat dapat
dilihat dari hal-hal sebagai berikut :
a
Komunikasi antara Polri dan masyarakat di Kabupaten Karanganyar
masih menggunakan saluran telepon biasa. Saluran komunikasi dengan
cara ini sangat tidak efektif. Kualitas dan kuantitas komunikasi yang
b

terjadi tidak dapat terdata dengan baik.


Akuntabilitas terkait dengan pelaksanaan program Polres Karanganyar
tidak dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat. Hal ini
berakibat pada banyaknya anggapan dari masyarakat bahwa kegiatan
operasional Polres Karanganyar mengada-ada sehingga mempersulit
masyarakat. Contohnya ketika pelaksanaan sosialisasi kewajiban
menyalakan lampu utama pada kendaraan roda 2 (dua). Masyarakat

menganggap bahwa hal tersebut mengada-ada.


Masyarakat belum dapat memberikan kontribusi informasi bagi Polres
Karanganyar, baik yang terkait dengan situasi kamtibmas maupun dalam
bentuk kritik, saran maupun pengaduan.
37

Dengan tidak optimalnya komunikasi antara Polri dan masyarakat di


Kabupaten

Karanganyar,

maka

akan

berimplikasi

pada

rendahnya

aksesibilitas Polres Karanganyar. Hal ini dapat dilihat pada kondisi sebagai
berikut :
a
Tidak terjadi komunikasi dua arah antara Polres Karanganyar dengan
masyarakat sehingga fungsi kontrol dari masyarakat melalui kritik dan
saran tidak dapat terlaksana.
Masyarakat sulit untuk meminta bantuan kepada Polres Karanganyar

dengan cepat dan mudah akibat ketidaktahuan masyarakat tentang


bagaimana cara menghubungi polisi. Aksesibilitas Polri jauh dari kondisi
yang diharapkan.
Masyarakat harus menghubungi kerabat atau orang yang dikenal yang

berprofesi sebagai anggota Polri untuk dapat merasa nyaman


berhubungan dengan Polres Karanganyar. Hanya masyarakat yang
memiliki kerabat atau kenalan anggota Polri saja yang akan merasa
nyaman berhubungan dengan Polres Karanganyar. Hubungan yang
terbentuk dalam komunikasi antara Polres Karanganyar dan masyarakat
menempatkan Polres Karanganyar sebagai pribadi-pribadi, bukan
sebagai institusi sehingga hubungan komunikasi yang terjalin tidak akan
berkelanjutan mengingat personil Polri akan selalu mengalami tour of
duty.
Informasi tentang pelayanan yang diberikan oleh Polres Karanganyar

sulit didapatkan oleh masyarakat sehingga transparansi pelayanan tidak


dapat terwujud. Hal ini juga diakibatkan karena buruknya aksesibilitas
Polri.
Rendahnya aksesibilitas Polres Karanganyar akan berimplikasi pada
sulit terwujudnya pelayanan Polri yang modern. Kepercayaan masyarakat pun
akan sulit diraih. Hal tersebut dapat dilihat pada kondisi di bawah ini :
a Pelayanan Polres Karanganyar tidak maksimal karena komunikasi
dengan masyarakat masih lambat dan kurang responsif. Pelayanan
masih konvensional, belum memanfaatkan perkembangan teknologi
informasi dan tidak mampu mencapai harapan masyarakat akan
pelayanan Polri yang cepat, responsif dan efisien.
b Fungsi kontrol pimpinan terhadap kinerja personil

tidak

dapat

dilaksanakan karena hasil kinerja personil tidak dapat terdata dengan


c

baik.
Timbulnya ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan Polres
Karanganyar akibat dari tidak adanya saluran untuk menampung
38

pengaduan, kritik dan saran sehingga berujung pada menurunnya


kepercayaan masyarakat terhadap Polres Karanganyar.

39

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi komunikasi antara Polri dan
masyarakat melalui penggunaan application launcher berbasis Android antara lain
faktor internal yang meliputi faktor kekuatan dan kelemahan serta faktor eksternal
yang meliputi faktor peluang dan ancaman seperti yang dijelaskan berikut ini :
23. Faktor Internal
a

Kekuatan (Strengths)
1 Arah kebijakan dan strategi Polri 2015-2019 untuk membangun
teknologi informasi dan komunikasi secara terpadu mulai dari
Mabes Polri sampai dengan Polres. Mabes Polri saat ini tengah
gencar

dalam

membangun

infrastruktur

guna

menunjang

pembangunan teknologi informasi dan komunikasi mulai dari


revitalisasi call center 110, pemberdayaan

National Traffic

Management Center (NTMC) melalui perluasan aksesibilitas


menggunakan Iboltz NTMC TV yang baru saja diresmikan oleh
Kakor Lantas Polri serta pengaktifan kembali beberapa website
seluruh Polres jajaran di bawah kendali Divisi Humas Mabes Polri.
Pada Polres Karanganyar, hal ini ditindaklanjuti dengan adanya
kebijakan Kapolres Karanganyar untuk merancang sistem yang
dapat menunjang agar komunikasi antara Polri dan masyarakat
dapat berjalan dengan mudah, efektif dan efisien.
2 Program Polda Jawa Tengah terkait penguatan bidang kehumasan
melalui implementasi keterbukaan informasi masyarakat guna
mewujudkan kepercayaan masyarakat. Polda Jawa Tengah saat ini
telah merevitalisasi

website

resminya

dalam rangka

untuk

meningkatkan kapasitas komunikasi dan intensitas pemberian


informasi di berbagai bidang kepada masyarakat. Pada Polres
Karanganyar, hal ini ditindaklanjuti dengan adanya kebijakan
Kapolres Karanganyar untuk merevitalisasi fungsi Humas.
3 Adanya dukungan dari pimpinan Polres Karanganyar agar mampu
memberikan

pelayanan

prima

kepada

masyarakat

dengan

memperkuat dan meningkatkan komunikasi. Kapolres saat ini


sangat mendukung program pengembangan kegiatan kehumasan.
Hal ini dapat dibuktikan dengan besarnya peran Kapolres dalam
40

mewujudkan application launcher berbasis Android di Polres


Karanganyar. Kapolres berperan aktif membantu menyediakan
software engineering dan mencari rekanan yang dapat membantu
operasionalisasi proses pembuatan application launcher ini.
4 Banyak personil Polres Karanganyartelah memiliki akun media
sosial. Kemampuan personil terkait dengan penggunaan media
sosial sudah cukup baik meskipun belum dapat berkontribusi untuk
kepentingan organisasi. Penggunaan media sosial masih terbatas
untuk kepentingan yang bersifat pribadi.
5 Sudah terbentuknya website Polres Karanganyar yang berisi
informasi kegiatan operasional Polres Karanganyar. Website Polres
Karanganyar ini merupakan modal utama yang dijadikan sebagai
bangunan dasar pembentukan application launcher berbasis
Android meskipun untuk saat ini pengelolaannya belum maksimal
sehingga belum dapat berkontribusi untuk meningkatkan kualitas
komunikasi dengan masyarakat.
b.

Kelemahan (Weaknesses)
1)

Secara kuantitas jumlah personel Subbag Humas masih sangat


terbatas sehingga kurang mampu mendukung tugasnya. Terkait
dengan luasnya pertelaahan tugas di bidang kehumasan, maka
keterbatasan jumlah personil ini mengakibatkan beban tugas yang
terlalu besar harus diemban masing-masing personil karena
adanya tugas rangkap yang dikerjakan.

2)

Personil Subbag Humas belum memahami tentang fungsi PR


(Public Relation). Personil Subbag Humas saat ini hanya
melakukan

sebagian

kecil

dari

tugas

kehumasan

yang

sesungguhnya. Personil Subbag Humas hanya menjalankan fungsi


dokumentasi kegiatan Polres Karanganyar serta mengkompulir
laporan dokumentasi kegiatan Polsek jajaran untuk kemudian
dilaporkan kepada Bidang Humas Polda Jawa Tengah. Tugas
kehumasan dalam rangka berkomunikasi dengan masyarakat
hanya dilakukan sebatas kegiatan press release dengan awak
media massa. Belum ada interaksi komunikasi secara langsung
dengan masyarakat, apalagi kegiatan kehumasan yang bersifat
membangun citra organisasi.
41

3)

Personil Subbag Humas masih bersikap pasif terhadap kebutuhan


informasi dari masyarakat sebagai stake holder. Sikap pasif
tersebut dapat dilihat dari tidak adanya inisiatif personil Subbag
Humas untuk membangun komunikasi secara langsung dengan
masyarakat.

4)

Belum adanya anggaran khusus yang dapat digunakan untuk


mengoperasionalkan application launcher berbasis android baik
dari APBN maupun bantuan dari pemerintah daerah Karanganyar.

5)

Belum digunakannya saluran komunikasi khusus yang lebih


mudah, murah dan cepat seperti penggunaan application launcher
berbasis Android. Saluran komunikasi yang ada hanya pesawat
telepon yang saat ini dalam kondisi tidak dapat diandalkan sebagai
saluran komunikasi efektif.

6)

Belum dibangunnya kerjasama Subbag Humas dengan berbagai


pihak terkait pelaksanaan kegiatan kehumasan, baik pihak
eksternal yaitu komunitas public relation, awak media, lembaga
akademisi, software engineering, provider selular maupun dengan
pihak internal, yaitu satuan-satuan fungsi yang ada di internal
Polres Karanganyar. Saat ini personil Subbag Humas masih
berjalan sendiri dalam melaksanakan kegiatannya.

24. Faktor Eksternal


a.

Peluang (Opportunities)
1)

Adanya providerseluler sebagai penyedia jaringan komunikasi


data. Jaringan komunikasi data merupakan unsur pokok dalam
operasionalisasi application launcher berbasis Android. Jaringan
komunikasi data yang nantinya digunakan harus memiliki kapasitas
yang besar dan stabil.

2)

Berkembangnya teknologi informasi yang cepat dan masif. Saat ini


telah bermunculan berbagai sistem yang memiliki beragam fitur
yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Polres
Karanganyar harus memanfaatkan hal ini agar tidak tertinggal
dengan perkembangan situasi yang ada.

3)

Keinginan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang cepat,


mudah, murah dan transparan dari Polres Karanganyar. Kondisi
42

kehidupan sehari-hari masyarakat saat ini telah dipengaruhi oleh


perkembangan teknologi informasi sehingga segala proses dalam
kehidupan sehari-hari yang bernuansa cepat, mudah, murah dan
transparan telah menjadi sebuah kebutuhan.
4)

Adanya komunitas public relation di wilayah hukum Polres


Karanganyar,

serta

lembaga

akademik

seperti

Fakultas

Komunikasi Universitas Slamet Riyadi, Lembaga Pengembangan


Teknik Komunikasi dan lain sebagainya. Hal ini akan sangat
membantu Polres Karanganyar untuk menambah pengetahuan
dan keterampilan personil Subbag Humas dalam mengelola
informasi dan menjalin komunikasi dengan masyarakat.
5)

Sebagian besar masyarakat telah menggunakan sarana telepon


seluler pintar (smartphone) atau komputer untuk berkomunikasi
dan mencari informasi.Smartphone atau komputer saat ini bukan
lagi merupakan barang yang mewah. Harga smartphone atau
komputer saat ini sudah sangat terjangkau oleh masyarakat.

6)

Adanya

ahli

pengembangan

perangkat

lunak

(software

engineering) yang dapat mendukung implementasi application


launcher berbasis Android. Software engineering ini memiliki peran
vital dalam proses pembuatan application launcher berbasis
Android meskipun dalam pelaksanaannya tidak akan terlepas dari
pengawasan personil Subbag Humas terkait konsep konten yang
akan disusun.
7)

Adanya Komisi Informasi Pusat (KIP) yang bertugas untuk


menjamin terpenuhinya hak-hak masyarakat akan informasi dari
institusi penyelenggara pelayanan publik di mana Polri yang dalam
hal ini Polres Karanganyar masuk di dalamnya. Dengan adanya
KIP maka tuntutan kepada Polres Karanganyar untuk semakin
bersikap informatif kepada masyarakat semakin besar.

43

b.

Ancaman (Threaths)
1)

Perkembangan media sosial sering dimanfaatkan untuk kejahatan.


Telah

banyak

kejadian

penipuan,

pemerkosaan

dan

lain

sebagainya menggunakan sarana media sosial untuk melakukan


kejahatan.
2)

Adanya era keterbukaan pers membuat dinamika informasi melalui


media saat ini terkadang tidak terkendali dengan pemberitaan yang
tidak berimbang. Perlu adanya pengendalian dari pihak Polres
Karanganyar berupa counter opini agar pemberitaan menjadi
berimbang.

3)

Banyaknya opini negatif terhadap Polri yang berkembang di media


sosial dapat menurunkan citra sehingga kepercayaan masyarakat
berkurang. Karakteristik media sosial yang mampu menyebarkan
informasi secara masif berimplikasi pada semakin cepatnya
pengaruh opini negatif terhadap citra organisasi Polri.

4)

Belum ada informasi atau sosialisasi kepada masyarakat tentang


pentingnya penggunaan application launcher berbasis Android
yang bisa memudahkan komunikasi dengan Polri. Masyarakat
masih banyak yang belum mengetahui kemudahan yang akan
didapatkan dari penggunaan application launcher ini.

44

BAB V
KOMUNIKASI ANTARA POLRI DAN MASYARAKATMELALUI APPLICATION
LAUNCHER BERBASIS ANDROID YANG DIHARAPKAN
Komunikasi antara Polri dan masyarakat harus berlangsung optimal, baik dari
sisi kuantitas maupun kualitas. Hal ini bertujuan agar kepuasan masyarakat
terhadap pelayanan Polri dapat terwujud dan aksesibilitas Polri dapat meningkat
sehingga dapat berkontribusi pada terwujudnya Polri yang modern dan dapat
dipercaya masyarakat. Kegiatan optimalisasi komunikasi antara Polri dan
masyarakat dapat dilakukan melalui pemanfaatan teknologi informasi yang
berkembang begitu pesat dewasa ini.
Pesatnya
perkembangan
teknologi

informasi

berkontribusi

pada

perkembangan media sosial yang begitu pesat dan masif. Hal ini kemudian juga
telah mempengaruhi cara berkomunikasi antar sesama manusia. Mulai dari
maraknya penggunaan internet yang membuat orang dapat dengan cepat dan
mudah mendapatkan informasi sampai dengan adanya perkembangan teknologi
telepon seluler juga sudah semakin baik dan canggih.Jika dahulu orang
menggunakan telepon seluler hanya untuk mengirim pesan dan berbicara, saat ini
hanya dengan menggunakan telepon seluler orang sudah bisa melakukan hal
apapun21.
Polres Karanganyar memiliki wilayah hukum Kabupaten Karanganyar. Kondisi
geografis Kabupaten Karanganyar yang memiliki kawasan pegunungan membuat
kegiatan pariwisata berkembang pesat. Selain itu, karena berbatasan dengan Kota
Surakarta, maka kehidupan sosial masyarakat di Kabupaten Karanganyar
bercirikan kehidupan perkotaan.
Dengan mencermati kondisi geografis Kabupaten Karanganyar yang cukup
luas serta sebagai daerah penyangga kota besar Surakarta, dalam rangka
mendukung kegiatan pemeliharaan kamtibmas oleh Polres Karanganyar, maka
komunikasi antara Polri dan masyarakat harus optimal. Upaya optimalisasi
komunikasi tersebut harus dapat memanfaatkan perkembangan teknologi informasi
yang ada. Salah satu perkembangan teknologi informasi adalah perkembangan
teknologi telepon seluler yang semakin canggih yang ditandai dengan hadirnya
telepon seluler pintar (smartphone) serta semakin besarnya jumlah masyarakat

21http://www.academia.edu/5630022/Pengaruh Perkembangan Media Sosial Terhadap


Komunikasi Individu, diakses pada hari Rabu, 7 Juli 2015 pukul 11.17

45

yang menggunakan smartphone untuk mengakses berbagai informasi dan


melakukan komunikasi.
Hal-hal tersebut di atas telah mendorong Polres Karanganyar untuk
memanfaatkan situasi dengan caramenggunakan application launcher berbasis
Android sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dan
berkomunikasi dengan Polres Karanganyar. Kebijakan Polres Karanganyar untuk
menggunakan application launcher berbasis Android merupakan sebuah hasil dari
beberapa focused group discussion (FGD) yang telah dilakukan. FGD tersebut
merekomendasikan bahwa Polres Karanganyar harus memanfaatkan teknologi
informasi guna mengoptimalkan komunikasinya dengan masyarakat. Hal ini
diakibatkan oleh besarnya jumlah pengguna telepon genggam yang menggunakan
komunikasi data. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5.1
Pengguna Telepon Seluler Wilayah Surakarta 2015
No

Jenis

Kab / Kota

Total

Komunikasi Suara

Komunikasi Data

1.

Surakarta

148.459

513.035

661.494

2.

Klaten

259.325

799.023

1.058.348

3.

Sukoharjo

217.287

765.035

982.322

4.

Karanganyar

202.067

755.245

957.312

5.

Sragen

199.209

694.035

893.244

6.

Boyolali

165.647

692.046

857.693

7.

Wonogiri

123.337

667.893

791.230

1.315.331

4.886.312

6.201.643

Total

Sumber : Himpunan penyedia jasa seluler Surakarta, 2015.

Kemudahan mengakses informasi dan berkomunikasi antara polisi dengan


masyarakat dapat menumbuhkan rasa saling percaya dan saling membangun satu
sama lain. Arus informasi dapat menjadi lancar dan transparan. Komunikasi juga
dapat berjalan dengan cepat, mudah dan murah. Penggunaan application
launcherberbasis Android merupakan pilihan yang tepat, karena dengan aplikasi ini
masyarakat akan mendapatkan beberapa keuntungan diantaranya :
1 Memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses website yaitu
dengan tidak perlu lagi bersusah payah menuliskan alamat website.
2 Akan terjadi komunikasi dua arah sehingga masyarakat bisa berperan aktif
untuk memberikan masukan terkait konten website tersebut termasuk
memberikan saran, kritik maupun informasi kepada kepolisian.
46

3 Application launcher mampu diintegrasikan dengan media sosial seperti


Twitter, Facebook dan lain sebagainya sehingga akan memperkaya website.
Informasi dan jaringan komunikasi juga akan semakin luas jangkauannya.
Kemudahan mengakses informasi dan berkomunikasi antara polisi dengan
masyarakat melalui implementasi application launcher berbasis Android dapat
merangsang masyarakat untuk senang menggunakanapplication launcher berbasis
Android tersebut. Setelah senang menggunakan, masyarakat akan terbiasa dan
akhirnya akan menimbulkan ketergantungan (addicted). Jika ketergantungan ini
telah muncul, maka akan berubah menjadi suatu kebutuhan pada application
launcher berbasis Android ini yang secara tidak langsung dapat membuat polisi
lebih dibutuhkan oleh masyarakat.
Mencermati besarnya manfaat yang diperoleh dari penggunaan application
launcher berbasis Android dalam menunjang komunikasi antara polisi dengan
masyarakat, maka penerapan application launcher berbasis Android tersebut perlu
didukung oleh sumber daya organisasi meliputi personel, anggaran, sarana dan
prasarana serta didukung metode yang tepat dalam mengoptimalkan komunikasi
antara Polri dan masyarakat melalui penggunaan application launcher berbasis
android. Adapun uraian ari hal tersebut adalah sebagai berikut :
25.Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang dibahas di bawah ini terkait upaya
optimalisasi komunikasi antara Polri dan masyarakat yang meliputi sumber
daya personel Polres Karanganyardari sisi aspek kuantitas dan kualitas.
Adapun uraian penjelasannya adalah sebagai berikut :

1 Kuantitas
Dengan mencermati adanya keterbatasan personel Subbag
Humas yang hanya terdiri dari 3 (tiga) orang, maka ke depan jumlah
personel harus ditingkatkan. Sesuai dengan teori Manajemen menurut
George R. Terry, untuk menambah kuantitas personil Subbag Humas
perlu diadakan perencanaan yang matang agar jumlah personil dapat
disesuaikan

dengan

besarnya

beban

kinerja.

Perencanaan

ini

mempertimbangkan Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang


Kode Etik Profesi Polri pasal 26 yang menjelaskan bahwa Polri yang

47

profesional harus dapat menyesuaikan jumlah personil dan bidang


keahlian dengan beban kinerja yang akan dihadapi.
Perencanaan ini juga disesuaikan dengan pertelaahan beban
tugas Subbag Humas antara lain peliputan/dokumentasi, pengelolaan
informasi

dan

komunikasi

serta

administrasi

pelaporan. Bagian

peliputan/dokumentasi memiliki tugas dan tanggung jawab untuk


melakukan peliputan/dokumentasi terhadap segala kegiatan operasional
Polres Karanganyar, baik yang dilakukan oleh unsur pimpinan maupun
yang dilakukan oleh masing-masing satuan fungsi. Agar seluruh
kegiatan

dapat

terdokumentasikan

dengan

baik,

kegiatan

peliputan/dokumentasi dapat bekerjasama dengan masing-masing


personil di setiap satuan fungsi untuk kemudian melaporkan hasilnya
kepada personil Subbag Humas.
Bagian pengelolaan informasi dan komunikasi merupakan bagian
inti dari kegiatan kehumasan oleh Subbag Humas. Bagian inilah yang
bertugas selama 24 (dua puluh empat) jam penuh melakukan kegiatan
monitoring dan evaluasi terhadap seluruh informasi yang masuk
maupun keluar. Bagian ini juga harus bisa memberikan jawaban secara
langsung manakala terdapat kebutuhan informasi yang masuk melalui
application launcher dari masyarakat. Selain itu, bagian ini juga
bertugas untuk mendistribusikan informasi sesuai dengan kompetensi
masing-masing satuan fungsi. Dengan beban tugas yang sedemikian
berat, maka dibutuhkan personil khusus di bagian ini sebanyak 6
(enam) personil yang akan terbagi menjadi 3 (tiga) kelompok kecil
dengan jumlah masing-masing 2 (dua) personil yang akan bertugas
setiap 8 (delapan) jam selama 24 (dua puluh empat) jam penuh.
Pada bagian administrasi pelaporan, dibutuhkan personil minimal 2
(dua) untuk melakukan kegiatan yang bersifat pengumpulan data, baik
data kegiatan maupun data untuk dilaporkan kepada satuan atas.
Dengan beban tugas tersebut di atas, maka diperlukan penambahan
minimal sebanyak 7 (tujuh) orang sehingga seluruhnya berjumlah 11
(sebelas) orang.
Setelah mendapatkan tambahan personil, maka sesuai dengan
Teori Manajemen menurut George R. Terry, langkah yang harus
dilakukan selanjutnya adalah pengorganisasian

yaitu pembagian

personel sesuai dengan tugasnya seperti : 2 (dua) orang untuk


48

peliputan/dokumentasi, 6 (enam) orang untuk pengelolaan informasi


dan komunikasi dan 2 (dua) orang untuk administrasi pelaporan. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 5.2
Jumlah Ideal Personil Humas Polres Karanganyar
No.
1.
2.
3.
4.

Subbag Humas
Jabatan/Fungsi
Jumlah Pers
Kasubbag
1
Peliputan / Dokumentasi
2
Pengelola Informasi &
6
Komunikasi
Administrasi Pelaporan
Total

2
11

Dengan adanya penambahan personil ini, diharapkan komunikasi


antara Polri dan masyarakat melalui penggunaan application launcher
berbasis Android dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
2 Kualitas
Berbicara tentang kualitas, sesuai dengan Peraturan Kapolri
Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri pasal 7 ayat (1)
huruf c yang menyebutkan bahwa setiap anggota Polri wajib
menjalankan tugas secara profesional, proporsional, dan prosedural.
Oleh karena itu, maka ke depan personel Subbag Humasdalam
mengoptimalkan komunikasi antara Polri dan masyarakat melalui
application launcher berbasis Androidharus memiliki latar belakang
pendidikan tentang kehumasan serta latihan pengelolaanapplication
launcher. Dengan dimilikinya latar belakang pendidikan kehumasan,
terutama personil yang bertugas pada bidang peliputan/dokumentasi
serta pengelolaan informasi dan komunikasi, maka personel Subbag
Humas sebagaimana Teori Kompetensi menurut Stephen P. Robin akan
memiliki pengetahuan, keterampilan serta sikap dan kualitas pribadi
yang mampu menunjangimplementasiapplication launcher berbasis
Android.
Pengetahuan, keterampilan serta sikap dan kualitas pribadi yang
a

diharapkan adalah sebagai berikut :


Personel Subbag Humas memiliki kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat
berdasarkan pengetahuan kehumasan yang dimiliki.Kemampuan berkomunikasi ini
dijabarkan dalam bentuk kemampuan menginterpretasikan perkembangan situasi

yang ada untuk kemudian disesuaikan dengan cara berkomunikasi yang efektif.
Personel Subbag Humas memiliki kemampuan untuk membangun jaringan
(networking) dengan berbagai pihak yang berkaitan dengan kegiatan kehumasan
49

dan operasionalisasi application launcher, seperti dengan komunitas public


relation, provider seluler, lembaga akademisi maupun web engineering, sehingga
dapat terjalin hubungan yang sinergis dengan tetap mengedepankan kepentingan
c

organisasi Polri.
Personel Subbag Humas memiliki daya kreatifitas yang penuh dengan ide dan
gagasan, mampu memecahkan permasalahan serta mampu menyusun rencana
yang tepat sehingga dapat membuat terobosan untuk menciptakan komunikasi

yang efektif melalui penggunaan media sosial dengan masyarakat.


Personel Subbag Humas memiliki keterampilan dalam mengelola informasi dan
komunikasi yang ada di lingkungannya, baik secara langsung maupun melalui
saluran informasi dan komunikasi yang ada, termasuk di dalamnya pengelolaan

application launcher berbasis Android.


Personil Subbag Humas memiliki sikap dan kualitas pribadi yang melayani dengan
memiliki kesadaran bahwa kebutuhan informasi dan komunikasi masyarakat
tentang kepolisian merupakan sesuatu yang harus dipenuhi sehingga dalam
pelaksanaan operasionalisasi application launcher berbasis Android dapat berjalan
dengan sempurna.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa
personil yang bertugas di bidang kehumasan harus memiliki kapabilitas 22
untuk :
a Menjaga terpeliharanya saling pengertian antara Polri dan
masyarakat.
b Menjaga dan membentuk rasa saling percaya melalui komunikasi
c

yang intensif antara Polri dan masyarakat.


Memelihara dan menciptakan kerjasama dengan berbagai pihak,
baik internal maupun eksternal dalam melakukan kegiatan
kehumasan.
Dengan demikian, tujuan humas pada intinya adalah mewujudkan

dan memelihara hubungan saling percaya dengan masyarakat dalam


rangka menjalin kerjasama yang baik sehingga implementasi nilai-nilai
revolusi mental dapat terwujud di Polres Karanganyar.
26. Sumber Daya Anggaran
Dalam mendukung kegiatan optimalisasi komunikasi antara Polri dan
masyarakat melalui penggunaan application launcher berbasis Android, maka
anggaran yang tersedia saat ini tentunya tidak dapat mengakomodir
22 Frida, Kusumastuti, 2002. Dasar Humas, Cetakan Pertama, Ghalia
Indonesia, Jakarta.
50

operasionalisasi kegiatan tersebut. Terdapat perbedaan kegiatan operasional


yang sangat signifikan pada saat operasionalisasi application launcher
dilaksanakan. Dukungan anggaran yang dibutuhkan tidak hanya terbatas
pada operasionalisasi application launcher saja, namun kegiatan pendukung
juga harus diberikan alokasi anggaran.
Kegiatan pendukung yang dimaksud pada penjelasan tersebut di atas
adalah sebagai berikut :
1 Publikasi kegiatan Polres
Kegiatan ini bertujuan untuk menginformasikan secara masif seluruh
kegiatan Polres Karanganyar secara fisik kepada masyarakat. Publikasi
ini dapat dilakukan melalui media massa, baik cetak maupun elektronik,
pemasangan spanduk, banner, pamflet dan lain sebagainya.
2 Pembentukan forum kehumasan
Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan komunikasi dengan sesama
pelaksana kehumasan, baik yang berada di lingkungan pemerintahan,
swasta maupun media massa dalam rangka pertukaran informasi.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka kegiatan kehumasan yang
dilaksanakan oleh Polres Karanganyar secara garis besar dibagi menjadi 2
(dua) kegiatan, yaitu :
1 Pengelolaan informasi dan data
Kegiatan pengelolaan informasi dan data inilah yang akan diwujudkan
melalui penggunaan application launcher, di mana masyarakat diberikan
kesempatan untuk memberikan masukan kepada Polres Karanganyar.
2 Penerangan masyarakat
Kegiatan penerangan masyarakat, selain dilakukan melalui penggunaan
application launcher, juga dilakukan melalui kegiatan nyata berupa
pemasangan alat peraga maupun pembentukan forum kehumasan.
Penerangan

masyarakat

juga

digunakan

sebagai

upaya

untuk

membangun citra organisasi.


Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka sesungguhnya 2 (dua)
kegiatan kehumasan tersebut sudah terakomodir dalam mata anggaran yang
ada saat ini. Namun demikian, besaran anggaran yang ada pada setiap
kegiatan tersebut masih belum bisa mencukupi seluruh kegiatan yang ada.
Agar anggaran yang tersedia dapat mencukupi seluruh kegiatan
kehumasan, maka idealnya besaran anggaran adalah sebagai berikut :

51

Tabel 5.3
Anggaran Ideal Subbag Humas
No

Sub Satker

Jenis

Mata Anggaran

RM

PNBP

113.04335.145

Rp. 20.000.000,-

113.04335.146

Rp. 48.000.000,-

111.03142.189

Rp.

Subbag Humas
Pengelolaan Informasi
1.

dan Dokumentasi
Penerangan Masyarakat
Untuk Informasi
Operasional Kantor dan
Alat Tulis

5.000.000,-

Berdasarkan tabel di atas, maka pengelolaan informasi dan data


idealnya membutuhkan anggaran Rp. 20.000.000,- (Dua Puluh Juta Rupiah).
Alokasi anggaran yang ada akan dipergunakan untuk pembayaran sewa
jaringan sebesar Rp. 7.500.000,- setiap tahunnya. Selain itu, alokasi
anggaran yang ada juga dipergunakan untuk memberikan insentif bagi 2 (dua)
personil di bagian peliputan / dokumentasi dan 6 (enam) personil di bagian
pengelolaan informasi dan data, termasuk dipergunakan untuk dukungan
operasionalisasi penggunaan application launcher.
Penerangan masyarakat idealnya membutuhkan anggaran sebesar Rp.
48.000.000,- (Empat Puluh Delapan Juta Rupiah). Anggaran tersebut dibagi
ke dalam 12 (dua belas) bulan kegiatan dengan besaran Rp. 4.000.000,(Empat Juta Rupiah) per bulan. Anggaran tersebut akan dipergunakan untuk
melakukan publikasi dan pembentukan forum kehumasan dengan detail
kegiatan yang ditentukan oleh rencana kegiatan Subbag Humas.
Melihat masih kurangnya anggaran yang dialokasikan khusus untuk
mendukung kegiatan fungsi Humas dalam mengoperasionalkan application
launcher berbasis Android, maka perlu adanya kebijakan Kapolres untuk
mengalihkan anggaran dukungan operasional Kapolres untuk membantu
fungsi Humas. Selain itu, kekurangan anggaran fungsi Humas juga dapat
ditutupi dari bantuan pihak ketiga.
Terkait dengan bantuan dana dari pihak ketiga, perlu adanya kordinasi
dengan Subbag Hukum untuk membahas mekanisme pemberian bantuan
agar sesuai dengan aturan yang berlaku. Mekanisme pemberian bantuan
yang paling memungkinkan adalah melalui mekanisme hibah dari pihak
swasta yang memiliki program corporate social responsibility (CSR). Namun
52

demikian, kegiatan hibah melalui program CSR ini sesuai dengan Peraturan
Kapolri Nomor 11 Tahun 2013 tentang Mekanisme Pengelolaan Hibah pasal
43 menyebutkan bahwa pemberian hibah oleh pihak ketiga kepada Polri
harus didahului dengan adanya Nota Kesepakatan Bersama/Memory of
Understanding (MoU) antara Polri dengan pihak ketiga. Oleh karena itu, agar
proses hibah dari pihak ketiga untuk membantu kegiatan operasionalisasi
application launcher berbasis Android dapat sesuai dengan peraturan yang
berlaku, perlu adanya penyusunan Nota Kesepakatan Bersama/Memory of
Understanding (MoU) terlebih dahulu yang akan difasilitasi oleh Subbag
Hukum Bag Sumda Polres Karanganyar.
27. Sarana dan Prasarana
Dengan semakin kompleksnya kegiatan yang harus dilakukan oleh
Subbag Humas dalam melakukan kegiatan, maka sarana dan prasarana yang
ada juga harus ditingkatkan. Adapun sarana dan prasarana yang ideal
sehingga dapat menunjang kegiatan komunikasi antara Polri dan masyarakat
melalui penggunaan application launcher adalah sebagai berikut :
a. Sarana
Agar komunikasi antara Polri dan masyarakat melalui penggunaan
application launcherberbasis android dapat berjalan dengan efektif, maka
diperlukan

sarana

jaringan

internet

yang

digunakan

untuk

operasionalisasi application launcher harus memiliki kapasitas kecepatan


data sebesar 20 Mbps (Megabyte per second) sehingga mampu
menampung seluruh lalu lintas data.
Peralatan komputer juga harus ditambah dengan jumlah minimal 4
(empat)

unit

sehingga

dapat

mendukung

kegiatan

operasional

application launcher sebanyak 2 (dua) unit dan pelayanan administrasi


laporan sebanyak 2 (dua) unit.
Kebutuhan yang diperlukan

agar

penggunaan

application

launcherberbasis android dapat berjalan dengan efektif,tertera pada


tabel berikut :

53

Tabel 5.4
Sarana dan Prasarana Ideal Subbag Humas
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jenis
Jaringan Internet
Komputer
Website
Akun media sosial
Alat Perekam
Kamera Foto
Kamera Video

Jumlah
1 jalur
4 buah
1 buah
2 buah
1 buah
2 buah
1 buah

Keterangan
Optimal, kecepatan 20 Mbps
2 untuk operasional. 2 untuk administrasi
Aktif
Twitter dan Facebook
Jenis SLR

Pengelolaan website juga diaktifkan kembali agar menjamin


validitas informasi. Alat perekam, kamera foto dan video juga harus
tersedia sebagai sarana dokumentasi.
b. Prasarana
Prasarana berupa gedung kantor yang digunakan sekaligus
sebagai ruang press conference harus dapat dikembangkan sehingga 2
(dua) kegiatan yaitu aktifitas perkantoran dan kegiatan press conference
tidak saling mengganggu satu sama lain. Artinya, 2 (dua) kegiatan
tersebut harus dapat berjalan bersamaan sehingga menghasilkan output
yang maksimal. Selain itu, prasarana gedung kantor dan ruang untuk
melaksanakan press conference juga harus dilengkapi dengan sound
sistem yang memadai.
28. Metode
Metode yang diharapkan dalam melaksanakan kegiatan komunikasi
antara Polri dan masyarakat melalui penggunaan application launcher
berbasis android dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yaitu :
a. Kerjasama internal dan eksternal
Dengan adanya keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh Poles
Karanganyar, maka untuk dapat mengimplementasikan application
launcher berbasis Android sehingga mampu meningkatkan kualitas
komunikasi antara Polri dan masyarakat, diperlukan adanya jalinan
kerjasama

dengan

berbagai

pihak,

baik

pihak

internal

Polres

Karanganyar maupun pihak eksternal.


Hal tersebut di atas sesuai dengan teori Kerjasama menurut
Roucek & Waren yang menyebutkan bahwa perlunya kerjasama untuk
mencapai tujuan bersama yang dilakukan melalui proses kolaborasi,
kordinasi dan komunikasi. Agar penggunaan application launcher
berbasis Android dapat berjalan dengan lancar sehingga komunikasi
54

antara Polri dan masyarakat dapat berjalan dengan efektif, maka perlu
adanya kerjasama dengan berbagai pihak antara lain dengan :
1 Internal
Kerjasama dilaksanakan dengan seluruh satuan fungsi yang ada di
Polres Karanganyar, terutama satuan fungsi yang memiliki
pelayanan publik. Kerjasama dilakukan melalui proses komunikasi
dan kordinasi terkait dengan hal-hal yang menyangkut tugas pokok
dan fungsi masing-masing. Dalam application launcher setiap
satuan fungsi memberikan kontribusi berupa :
a Informasi tentang menu pelayanan. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 5.5
Menu Pelayanan Satuan Fungsi Polres Karanganyar
No.

Satuan Fungsi

1.

Lantas

2.

Intelkam

3.

Sabhara

4.

Binmas

MENU PELAYANAN
Pelayanan
SIM, STNK, BPKB, Kecelakaan Lantas,
Pengawalan Lantas
SKCK, Perijinan Kegiatan
Pengawalan Barang Berharga, Penjagaan
dan Pengaturan
Kegiatan Komunitas, Pembinaan dan

Penyuluhan
Laporan Kejadian (LP), Laporan Kehilangan
5.
SPK
Sumber : Bag Ops Polres Karanganyar

b Jawaban atas pertanyaan yang masuk melalui application


launcher. Masyarakat dapat memberikan input melalui
application launcher berupa kritik dan saran serta pertanyaan
terkait tugas operasional Polres Karanganyar. Personil
Subbag Humas kemudian melakukan analisa terhadap input
tersebut untuk kemudian didistribusikan kepada Satuan
Fungsi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Dalam
bagian ini terjadi proses komunikasi dan kordinasi antara
personil Subbag Humas dengan personil masing-masing
Satuan Fungsi.Untuk dapat memahami dengan lebih jelas
alur informasi yang masuk melalui application launcher
berbasis Android ini, dapat dilihat pada diagram berikut :
Gambar 5.1
Alur Informasi Application Launcher

55

Sumber :Subbag Humas Bag Ops Polres Karanganyar Tahun 2015

2 Eksternal
a Komunitas Public Relation (humas). Kerja sama ini dilakukan
sebagai bentuk komunikasi sehingga personil Subbag Humas
dapat mengetahui trend perkembangan situasi ada sehingga
dapat dijadikan dasar untuk memilih cara berkomunikasi yang
efektif. Contohnya ketika di tengah masyarakat sedang
berkembang isu terkait kejahatan jambret, maka personil
Subbag Humas dapat secara simultan memberikan informasi
untuk mencegah terjadinya kejahatan tersebut.
b Provider Seluler. Kerjasama ini dilakukan sebagai bentuk
kordinasi dalam hal penyediaan jaringan komunikasi seluler
sehingga dapat menunjang operasionalisasi

application

launcher. Kerjasama ini juga dapat berbentuk kolaborasi


dalam hal sosialisasi application launcher kepada masyarakat
c

melalui jaringan pemasaran yang dimiliki oleh provider seluler.


Lembaga Akademisi. Kerjasama ini dilakukan sebagai bentuk
komunikasi untuk dapat meningkatkan pengetahuan personil
Subbag

Humas

meningkatkan

di

bidang

kehumasan

kemampuan

melakukan

dalam

upaya

teknik-teknik

komunikasi melalui media sosial.


d Ahli pengembangan perangkat lunak (software engineering).
Kerjasama ini dilakukan sebagai bentuk kordinasi dengan
personil

Subbag

Humas

untuk

dapat

mengelola

dan

memelihara sistem application launcher berbasis Android


sehingga dapat selalu up to date dan siap operasional.
Dengan terselenggaranya sumber daya manusia dan metode
seperti tersebut di atas, maka diharapkan kegiatan implementasi
application launcher berbasis Android dapat berjalan dengan lancar
sehingga komunikasi antara polisi dan masyarakat dapat meningkat, baik
secara kualitas maupun kuantitas.Hal ini dapat terjadi karena proses
komunikasi dan penyampaian informasi dapat berjalan dengan cepat,
mudah dan transparan.
56

b. Proses Sosialisasi
Proses sosialisasi kepada masyarakat merupakan hal yang sangat
penting agar masyarakat memahami manfaat dan kemudahan yang
didapatkan dari penggunaan application launcher berbasis Android ini.
Proses sosialisasi kepada masyarakat yang masih belum berjalan
maksimal karena terbatas pada lingkup tertentu diharapkan dapat
diperluas pada masa yang akan datang.
Sesuai dengan teori ANSVA oleh Alan H. Monroe, terdapat 5 (lima)
tahapan urutan motif yang sesuai dengan cara berpikir manusia dalam
formula ANSVA : perhatian (attention), kebutuhan (need), pemuasan
(satisfaction),

visualisasi

(visualization)

dan

tindakan

(attitude).

Berdasarkan teori tersebut, agar proses sosialisasi ini dapat berjalan


dengan maksimal, Polres Karanganyar perlu melakukan kegiatan
sosialisasi yang mampu menarik perhatian masyarakat (attention)
sehingga masyarakat sadar bahwa application launcher berbasis Android
itu merupakan kebutuhannya (need). Setelah itu, perlu adanya
pemahaman mendalam akan kegunaan application launcher berbasis
Android

tersebut

sehingga

masyarakat

akan

puas

dalam

memanfaatkannya (satisfaction). Masyarakat juga diharapkan mampu


memberikan

saran

dan

pendapat

untuk

proses

pengembangan

application launcher berbasis Android ini (visualization) yang pada


akhirnya akan membuat masyarakat turut serta dalam mewujudkan
keamanan dan ketertiban melalui proses komunikasi menggunakan
application launcher berbasis Android (attitude).
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka dalam proses
sosialisasi yang dilakukan perlu memperhatikan hal-hal berikut :
a Kemampuan dalam mengemas kegiatan
Kemampuan mengemas kegiatan merupakan sebuah hal yang
penting dalam proses sosialisasi. Dalam perspektif ilmu komunikasi,
mengemas kegiatan adalah analisis framing untuk membedah caracara dalam membangun fakta yang dapat diterima oleh masyarakat.
Mengemas kegiatan adalah strategi dalam memilih, menonjolkan

57

dan menghubungkan fakta ke dalam bentuk pesan agar lebih


bermakna, lebih menarik, lebih berarti dan lebih mudah diingat 23.
b Pemilihan media yang tepat
Dalam
memilih
media
yang
akan
digunakan,
harus
mempertimbangkan hal-hal berikut :
1 Alokasi anggaran yang tersedia;
2 Keterampilan personil dalam menggunakan saluran yang ada;
3 Dampak yang diinginkan;
4 Relevansi saluran dan respon yang diharapkan terhadap
informasi yang disampaikan;
5 Pilihan media yang dapat dikontrol atau tidak;
6 Tinggi-rendahnya kemampuan membawa

pesan

dan

merupakan tinggi-rendahnya kepercayaan publik terhadap


media tersebut24.
Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka
agar proses sosialisasi memiliki daya jangkau yang luas, akan dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
a Sosialisasi melalui media sosial
Sosialisasi ini dilakukan dengan cara mempublikasikan melalui
akun-akun

media

sosial

komunitas

kehumasan

di

wilayah

Karanganyar. Komunitas kehumasan memiliki jaringan media sosial


yang luas dan kuat. Jaringan media sosial yang dimiliki oleh
komunitas kehumasan dapat berupa akun media sosial Facebook,
Twitter, Instagram dan lain sebagainya di mana setiap akun memiliki
pengikut dalam jumlah yang cukup besar. Dengan metode repost
(memuat ulang berita) maka proses sosialisasi melalui media sosial
ini akan memiliki daya sebar yang sangat luar biasa.
b Sosialisasi melalui perangkat keras
Selain melalui media sosial, sosialisasi juga dapat dilakukan dengan
cara mempublikasikan melalui media standing banner dan spanduk
yang ditempatkan pada tempat-tempat strategis seperti pusat
perbelanjaan,

hotel,

tempat

hiburan,

sekolah,

rumah

sakit,

perkantoran dan tempat keramaian lainnya. Selain itu, publikasi


juga dapat dilakukan melalui pembagian kartu nama atau pamflet

23 Mukarom, Zainal, Dr, 2014. Manajemen Public Relation, Pustaka Setia,


Jakarta.
24 Ahimsa, Putra, 2000. Ketika Orang Jawa Nyeni, Yayasan Galang,
Yogyakarta.
58

yang dalam pelaksanaannya dapat memberdayakan personil


c

Bhabinkamtibmas.
Sosialisasi melalui media massa
Sosialisasi juga akan dilakukan dengan cara mempublikasikan
melalui media massa cetak dan elektronik, baik televisi lokal
maupun radio. Untuk mempermudah pelaksanaannya diperlukan
kerjasama dengan pihak media massa agar sosialisasi ini dapat
dikategorikan sebagai iklan layanan publik agar tidak membebani
Polres Karanganyar dari sisi anggaran.
Selain melalui cara tersebut di atas, kegiatan sosialisasi juga dapat

dilakukan dengan lebih efektif melalui proses diseminasi. Adapun


kegiatan diseminasi yang akan dilakukan antara lain :
a Diskusi komunitas
Diskusi komunitas juga memiliki peranan yang penting dalam
memberikan kontribusi untuk memperluas daya sebar kegiatan
sosialisasi ini. Kegiatan sosialisasi melalui diskusi komunitas akan
menjadi

sangat

menyajikan

efektif

pelayanan

ketika

Polres

kepolisian

Karanganyar

yang

menjadi

mampu

kebutuhan

komunitas tersebut. Sebagai contoh, ketika diskusi komunitas


berlangsung di klub otomotif, maka kemudahan mendapatkan
pengawalan saat pelaksanaan konvoi harus dapat disajikan melalui
penggunaan application launcher berbasis Android ini.
b Kegiatan simulasi
Kegiatan ini dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan bagi
masyarakat

tentang

bagaimana

menggunakan

application

launcherberbasis Android sehingga masyarakat dapat dengan


mudah berkomunikasi dengan Polres Karanganyar. Pelaksanaan
simulasi
c

ini

dapat

dilakukan

kemasyarakatan.
Focused Group Discussion
Kegiatan ini sebenarnya
Karanganyar.

Namun

pada

telah

demikian

saat

kegiatan

dilaksanakan
perlu

adanya

oleh

forum

Polres

pembahasan-

pembahasan yang lebih intensif dalam rangka monitoring dan


evaluasi penggunaan application launcher berbasis Android ini
dengan melibatkan berbagai pihak antara lain ahli akademisi,
software engineering, komunitas kehumasan, provider selular
maupun

awak

media

untuk
59

bersama-sama

dengan

Polres

Karanganyar dan masyarakat memberikan masukan sebagai bahan


pertimbangan guna pengembangan sistem di masa yang akan
datang.
Dengan adanya kegiatan sosialisasi melalui cara tersebut di atas
diharapkan pengenalan application launcher berbasis Android dapat
berjalan dengan efektif. Hal ini bertujuan agar masyarakat akan semakin
memahami manfaat dan kemudahan yang akan diperoleh yang akan
mewujudkan optimalnya komunikasi antara Polri dan masyarakat.
c.Peran serta masyarakat
Kebutuhan akan pentingnya situasi kamtibmas yang kondusif tidak
hanya menjadi keinginan dari aparat penegak hukum, dalam hal ini Polri,
tetapi juga menjadi sebuah kebutuhan dari masyarakat itu sendiri. Sesuai
dengan teori Komunikasi menurut Littlejohn, dalam komunikasi antara
Polres Karanganyar dan masyarakat harus terdapat penyampaian pesan
(ide, gagasan) dari satu pihak ke pihak lainnya agar terjadi saling
mempengaruhi di antara keduanya dengan menggunakan berbagai
media yang ada. Intinya, komunikasi yang dilaksanakan harus
memberikan dampak terhadap keduanya.
Oleh karena itu, perlu adanya jalinan komunikasi antara Polri dan
masyarakat sehingga dapat tercipta sebuah hubungan yang sinergis
dengan adanya pertukaran informasi untuk mengupayakan terwujudnya
kondisi kamtibmas yang kondusif. Dengan situasi kamtibmas yang
kondusif

diharapkan

dapat

mendukung

pembangunan

daerah

Karanganyar menuju masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.


Upaya Polri, dalam hal ini Polres Karanganyar untuk mewujudkan situasi
kamtibmas yang kondusif tanpa adanya peran serta masyarakat adalah
tindakan yang sia-sia, terutama ditengah beragamnya keterbatasan
sumber daya yang dimiliki oleh Polres Karanganyar.
Tidak maksimalnya Polres Karanganyar dalam menjaga dan
mengendalikan situasi kamtibmas di tengah masyarakat disebabkan oleh
berbagai faktor, salah satu faktor penyebabnyaadalah masih adanya
penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh oknum personil
Polres Karanganyar sendiri.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, dibutuhkan peran serta
masyarakat

untuk

dapat

memberikan

informasi

kepada

Polres

Karanganyar terkait dengan situasi dan kondisi kamtibmas, termasuk


60

kritik, saran dan pengaduan terhadap penyimpangan yang dilakukan


oleh oknum personil Polres Karanganyar. Informasi merupakan hal yang
sangat penting bagi sebuah organisasi dalam menentukan strategi yang
akan digunakan. Bagi Polres Karanganyar, informasi merupakan sebuah
bahan pertimbangan utama dalam menentukan berbagai kebijakan yang
akan datang. Informasi yang paling berharga adalah informasi yang
berasal dari masyarakat. Oleh karena itu, peran serta masyarakat dalam
memberikan informasi kepada Polres Karanganyar merupakan hal yang
harus segera diwujudkan.
Saat ini masyarakat

Kabupaten

Karanganyar

yang

sudah

mempunyai handphone yang dapat dipakai untuk komunikasi data


sebanyak 755.245 orang sedangkan jumlah penduduk Kabupaten
Karanganyar sebanyak 908.088 orang

yang berarti perbandingan

jumlah pemilik handphone yang bias dipakai komunikasi data atau


smartphone di Kabupaten Karanganyar adalah 83.16% dari jumlah
penduduk Kabupaten Karanganyar. Jumlah ini merupakan potensi yang
sangat besar untuk memperkenalkan sistem application launcher
berbasis android kepada masyarakat dan tentunya jumlah tersebut harus
diiringi dengan penyebaran pemilik smartphone yang merata diseluruh
wilayah Kabupaten Karanganyar dan bahkan setiap keluarga setidaknya
ada satu anggota keluarga yang mempunyai smartphone.Sehingga
kondisi ini dapat meningkatkan peran serta masyarakat.
Meningkatkan peran serta masyarakat sesuai dengan teori
Partisipasi Masyarakat menurut Canter harus diawali dengan proses
societal

demand,

yaitu

sebuah

rekayasa

yang

bertujuan

agar

berkomunikasi dengan Polri yang dalam hal ini adalah Polres


Karanganyar menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat. Polres
Karanganyar harus mampu membuat masyarakat merasa bahwa Polres
Karanganyar merupakan bagian dari dirinya yang tidak dapat dipisahkan.
Hal ini harus didahului dengan adanya penyamaan persepsi antara
Polres Karanganyar dengan masyarakat tentang hal-hal apa saja yang
harus diprioritaskan.
Peran serta masyarakat dalam memberikan informasi dapat diukur
dari sisi kuantitas maupun kualitas, baik yang bersifat dukungan maupun
penolakan terhadap kebijakan Polres Karanganyar. Dari sisi kuantitas,
peran serta masyarakat dalam memberikan informasi diharapkan dapat
61

terukur melalui sistem yang ada. Penggunaan application launcher


berbasis Android membuat masyarakat dengan mudah dapat memiliki
akses untuk berkomunikasi dengan Polres Karanganyar. Dengan
kemudahan yang ada akan membuat masyarakat lebih intensif
memberikan informasi. Hanya dengan memilih menu pelayanan yang
ada dalam sistem maka dengan mudah masyarakat dapat memberikan
berbagai macam informasi, baik yang berkaitan dengan kamtibmas di
wilayah hukum Polres Karanganyar maupun pengaduan masyarakat.
Melalui penggunaan application launcher berbasis Android yang
terintegrasi dengan website Poles Karanganyar, maka secara sistem
kuantitas masyarakat yang mengakses untuk memberikan informasi
dapat terhitung secara real time, baik harian, mingguan, bulanan bahkan
tahunan.
Dari sisi kualitas, penggunaan application launcher berbasis Android
ini juga menyediakan sistem untuk memilah-milah jenis informasi yang
diberikan oleh masyarakat. Pemilahan jenis informasi ini sangat penting
untuk proses evaluasi guna menentukan strategi kebijakan di masa yang
akan datang. Adapun pemilahan jenis informasi yang ada adalah sebagai
berikut :
a Informasi terkait situasi kamtibmas
Informasi yang diberikan berupa gangguan ketertiban umum,
kejadian kriminalitas dan kecelakaan lalu lintas. Informasi yang
masuk kemudian akan diteruskan kepada satuan-satuan fungsi
yang ada, termasuk kepada instansi luar yang berkompeten
terhadap permasalahan yang dihadapi.
b Informasi terkait pengaduan masyarakat
Informasi yang diberikan berupa keluhan atas pelayanan yang
diberikan oleh Polres Karanganyar termasuk kritik dan saran.
Sebagai langkah tindak lanjut, maka informasi ini akan ditembuskan
kepada Seksi Propam bila mengandung unsur pelanggaran disiplin
anggota.
Informasi yang masuk dari masyarakat, baik yang berbentuk
dukungan maupun penolakan, termasuk di dalamnya pengaduan, kritik
dan saran, diharapkan secara otomatis dapat diketahui oleh Kapolres
Karanganyar dan para perwira untuk dapat segera ditindaklanjuti.
Meningkatnya peran serta masyarakat dalam memberikan informasi
kepada Polres Karanganyar melalui application launcher berbasis
62

Android diharapkan mampu memperbesar kesempatan personil Polres


Karanganyar untuk berperan sebagai petugas Polri yang mampu
menyelesaikan setiap permasalahan di tengah masyarakat sebagai
bentuk pelayanan, perlindungan dan pengayoman masyarakat.

63

29. Kontribusi optimalnya komunikasi antara Polri dan masyarakat terhadap


aksesibilitas Polri dan terwujudnya Polri yang modern dan dapat
dipercaya masyarakat
Gambaran kondisi tersebut di atas terkait dengan sumber daya
organisasi, metode yang meliputi kerjasama internal dan eksternal, proses
sosialisasi dan peran serta masyarakat yang sesuai dengan kondisi yang
diharapkan, ternyata membawa kontribusioptimalnya komunikasi antara Polri
dan masyarakat, baik secara kuantitas maupun kualitas. Komunikasi yang
terjadi dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi yang ada sehingga
menjadi lebih modern. Resistensi dari masyarakat terhadap berbagai kegiatan
yang dilakukan oleh Polres Karanganyar dapat diminimalisir. Optimalnya
komunikasi antara Polri dan masyarakat dapat dilihat dari hal-hal sebagai
berikut :
a
Komunikasi antara Polri dan masyarakat di Kabupaten Karanganyar
telah mengikuti perkembangan teknologi informasi yang ada saat ini,
seperti penggunaan website yang dipermudah dengan application
launcher berbasis Android sehingga pelayanan Polres Karanganyar
menjadi modern. Saluran komunikasi dengan cara ini sangat efektif.
Kualitas dan kuantitas komunikasi yang terjadi dapat terdata dengan
b

baik.
Terjadinya

kesamaan

persepsi

antara

Polres

Karanganyar

dan

masyarakat terkait berbagai kegiatan yang dilakukan oleh Polres


Karanganyar dalam rangka memelihara situasi kamtibmas yang
kondusif. Akuntabilitas terkait pelaksanaan program Polres Karanganyar
c

dapat tersampaikan dengan baik kepada masyarakat.


Masyarakat dapat dengan mudah memberikan kontribusi informasi bagi
Polres Karanganyar, baik yang terkait dengan situasi kamtibmas
maupun dalam bentuk kritik, saran maupun pengaduan.
Dengan optimalnya komunikasi antara Polri dan masyarakat di

Kabupaten

Karanganyar,

maka

akan

berkontribusi

pada

tingginya

aksesibilitas Polres Karanganyar. Hal ini dapat dilihat pada kondisi sebagai
berikut :
a
Terjadinya komunikasi dua arah antara Polres Karanganyar dengan
masyarakat sehingga fungsi kontrol dari masyarakat melalui kritik dan
b

saran dapat terwujud.


Masyarakat mudah untuk meminta bantuan kepada Polres Karanganyar.
Masyarakat memiliki informasi yang cukup tentang bagaimana cara
64

menghubungi polisi. Aksesibilitas Polri dapat meningkat sesuai dengan


yang diharapkan.
Masyarakat tidak harus menghubungi kerabat atau orang yang dikenal

yang berprofesi sebagai anggota Polri untuk dapat merasa nyaman


berhubungan dengan Polres Karanganyar. Masyarakat, siapa pun
orangnya,

akan

merasa

nyaman

berhubungan

dengan

Polres

Karanganyar. Hubungan yang terbentuk dalam komunikasi antara Polres


Karanganyar dan masyarakat menempatkan Polres Karanganyar
sebagai institusi, bukan sebagai pribadi-pribadi. Hal ini menyebabkan
hubungan komunikasi yang terjalin akan berkelanjutan mengingat tour
of duty yang dialami oleh personil Polri tidak akan berpengaruh terhadap
jalinan komunikasi yang telah terbentuk.
Informasi tentang pelayanan yang diberikan oleh Polres Karanganyar

mudah didapatkan oleh masyarakat sehingga transparansi pelayanan


dapat terwujud. Hal ini diakibatkan karena aksesibilitas Polres
Karanganyar yang semakin baik.
Tingginya aksesibilitas Polres Karanganyar akan berkontribusi pada
terwujudnya pelayanan Polri yang modern. Kepercayaan masyarakat pun
akan mudah diraih. Hal tersebut dapat dilihat pada kondisi di bawah ini :
a Pelayanan Polres Karanganyar menjadi maksimal karena komunikasi
dengan masyarakat menjadi lancar. Pelayanan terhadap masyarakat
menjadi modern dan mampu mencapai harapan masyarakat.
b Fungsi kontrol pimpinan terhadap kinerja personil dapat dilaksanakan
karena hasil kinerja personil dapat terdata dengan baik. Akuntabilitas
c

kinerja dapat terwujud.


Timbulnyakepuasan
masyarakat

terhadap

pelayanan

Polres

Karanganyar. Hal ini dapat terwujud karena tersedianya saluran untuk


menampung pengaduan, kritik dan saran sehingga berujung pada
meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Polres Karanganyar.
Pelayanan Polri yang modern merupakan sebuah keniscayaan pada era
globalisasi saat ini. Polri harus dapat mengikuti perkembangan teknologi
informasi yang ada agar dapat selalu menyesuaikan dengan kebutuhan
masyarakat. Jika kebutuhan masyarakat terkait dengan kamtibmas di
Kabupaten Karanganyar dapat diwujudkan oleh Polres Karanganyar, maka
kepercayaan masyarakat akan terwujud.

65

66

BAB VI
OPTIMALISASI KOMUNIKASI ANTARA POLRI DAN MASYARAKAT
MELALUI PENGGUNAAN APPLICATION LAUNCHER BERBASIS ANDROID
Komunikasi antara Polri dan masyarakat dalam era keterbukaan informasi
saat ini harus berjalan dengan optimal, baik secara kuantitas maupun kualitas.
Melalui komunikasi yang terjalin, maka arus informasi satu sama lain akan mengalir
dengan lancar. Hal ini kemudian akan mempermudah terwujudnya situasi
keamanan dan ketertibanyang kondusif.
Langkah-langkah untuk mengoptimalisasikan komunikasi antara Polri dan
masyarakat melalui penggunaan application launcher berbasis Android akan
disusun melalui tahapan manajemen strategis yang menurut pendapat Denise
Lindsey Wells (2011) terdiri dari perumusan visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan,
strategi dan rencana aksi yang nantinya akan menjadi arah dan pedoman bagi
organisasi untuk melaksanakan sinergitas polisional. Tahapan-tahapan tersebut
antara lain sebagai berikut :
30. Visi
Visi adalah pernyataan tentang gambaran situasi dan karakteristik yang
ingin digapai oleh suatu organisasi atau lembaga pada suatu waktu yang jauh
kedepan.Oleh karena itu, visi yang ditetapkan dalam penulisan ini adalah
sebagai berikut :
Terwujudnya optimalisasi komunikasi antara Polri dan masyarakat melalui
penggunaan application launcher berbasis Android guna meningkatkan
aksesibilitas Polri dalam rangka terwujudnya Polri yang modern dan
dipercaya oleh masyarakat.
31. Misi
Misi merupakan bisnis

atau

tujuan

utama

organisasi

yang

menggambarkan apa yang dilakukan organisasi, untuk siapa dan manfaatnya


(Linda Parker Gates, 2010). Lalu menurut Charles W. L. Hill and Gareth R.
Jones (2008), pernyataan misi yang tidak hanya berorientasi pada produk
tetapi juga berorientasi pada pelanggan dapat membantu organisasi dalam
memanfaatkan perubahan di lingkungan mereka. Terkait dengan hal tersebut
maka misi untuk mencapai terwujudnya visi yang telah dirumuskan di atas
adalah sebagai berikut:

67

a.

Meningkatkan kualitas dan kuantitassumber daya manusia untuk


mendukung penggunaan application launcher berbasis android.

b.

Meningkatkan dukungan anggaran yang cukup untuk mendukung


operasionalisasi application launcher berbasis android.

c.

Meningkatkan dukungan sarana dan prasarana yang ada dan


melakukan pengadaan sarana yang digunakan untuk operasionalisasi
application launcher berbasis android.

d.

Menerapkan metode yang profesional dalam menjalin kerjasama,


proses sosialisasi penggunaan application launcher berbasis Android
kepada masyarakat dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam
memberikan informasi kepada Polres Karanganyar.

32. Tujuan
a. Terwujudnya peningkatan jumlah personil Polres Karanganyar untuk
melaksanakan kegiatan kehumasan, peningkatan kualitas sumber daya
manusia

yang

mengoperasionalkannya

dari

sisi

pengetahuan,

ketrampilan serta sikap dan kualitas pribadi yang baik dalam mengelola
informasi dan komunikasi dengan masyarakat untuk mewujudkan
pelayanan prima serta terwujudnya pengetahuan masyarakat untuk
mampu menggunakan application launcher yang ada di smartphone
yang dimiliki.
b. Terwujudnya pengelolaan anggaran yang efisien dan memadai untuk
mendukung

kegiatan

kehumasan,

terutama

dalam

kegiatan

operasionalisasi application launcher berbasis Android dan pemeliharaan


sistem dalam melaksanakan kegiatan kehumasan.
c. Terwujudnya dukungan sarana dan prasarana pokok komunikasi untuk
operasionalisasi application launcher berbasis android
d. Terselenggaranya metode yang profesional dalam menjalin kerjasama
dengan pihak terkait, proses sosialisasi penggunaan application
launcher berbasis Android melalui media maupun melalui proses
diseminasi berupa kegiatan diskusi komunitas dan focused group
discussion, serta dalam mewujudkan peran serta masyarakat dalam
memberikan

informasi

terkait

kamtibmas,

termasuk

pengaduan, kritik dan saran terhadap Polres Karanganyar.

68

melakukan

33. Sasaran
a. Personel Polres Karanganyar yang melakukan kegiatan kehumasan
mengalami penambahan jumlah dan peningkatan kualitas sumber daya
manusia

yang

ketrampilan

mengoperasionalkan

serta

peningkatan

dari

segi

pengetahuan

pengetahuan
masyarakat

dan
untuk

menggunakan application launcher.


b. Angaran yang tersedia dapat dikelola dengan baik untuk merawat dan
mengoperasionalkan

application

launcher

dan

mampu

untuk

mendapatkan anggaran tambahan dari pengalihan anggaran dukungan


operasional kapolres maupun bantuan pihak ketiga.
c. Sarana dan prasarana yang telah ada dapat dikelola dan dirawat
dengan baik untuk melakukan kegiatan kehumasan dan dapat
melakukan pengadaan sarana yang baru untuk memaksimalkan
kegiatan kehumasan dengan menggunakan application launcher.
d. Tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk turut serta membantu dalam
pengembangan sistemapplication launcher dan meningkatnya partisipasi
masyarakat untuk memberikan informasi terkait situasu kamtibmas ke
Polres Karanganyar melalui media application launcher.
34. Kebijakan
a.
Meningkatkan kuantitas dan kualitas personel personilpada Subbag
Humas, yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang tugas
kehumasan serta mempunyai pengetahuan dan keterampilan personil
b.

dalam mengelola sistem application launcher berbasis Android.


Mengalokasikan
anggaran
untuk
kegiatan
operasionalisasi
application launcher berbasis Android dan pemeliharaan sistem di
dalam DIPA tahunan, dan berupaya untuk mendapatkan bantuan berupa
dana dalam bentuk hibah dari pihak swasta yang memiliki program
corporate

c.

social

responsibility

dalam

membantu

melaksanakan

pemeliharaan sistem application launcher berbasis Android.


Pengadaan sarana dan prasarana untuk mewujudkan saluran
komunikasi resmi berupa website dan sms gateway yang terintegrasi

d.

dengan application launcher berbasis Android.


Kegiatan sosialisasi penggunaan application launcher berbasis
Android melalui media sosial, media massa dan perangkat kerasserta
melalui proses diseminasi berupa kegiatan diskusi komunitas, simulasi
dan focused group discussion
69

e.

Kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan operasionalisasi


application launcher berbasis Android sehingga aplikasi ini akan selalu
sesuai dengan perkembangan dinamika di tengah masyarakat agar
peran serta masyarakat untuk memberikan informasi dapat meningkat

dari sisi kuantitas dan kualitas.


35. Strategi
Dalam merumuskan strategi, penulis mendasarkan pada berbagai faktor
yang mempengaruhi baik kekuatan, kelemahan, peluang dan kendala, yang
masing-masing

faktor tersebut dianalisis terlebih dahulu dengan matrik

External Factor Analysis Summary ( EFAS) dan Internal Factor Analysis


Summary (IFAS) yang selanjutnya dituangkan dalam matrik TOWS.
Berdasarkan beberapa faktor internal dan faktor ekternal yang terdapat
pada pada Bab IV dalam bagian ini dianalisis dengan menggunakan matrik
EFAS dan IFAS yang dijabarkan pada Bab III tentang teori analisis SWOT
untuk menentukan posisi strategis Polres Karanganyar. Matrik tersebut
dijabarkan sebagai berikut :
a).

Pengumpulan Data
Pada tahap pengumpulan data ini, data dikategorikan sebagai
data ekternal dan internal yang kemudian dianalisis menggunakan IFAS
dan EFAS. Masing masing data ekternal dan internal diberi bobot dan
ditentukan ratingnya yang selanjutnya bobot dikalikan dengan rating
sehingga diperoleh nilai atau skor, kemudian semua faktor dihitung
skornya dan dijumlahkan untuk mendapatkan total skor.
Berikut ini adalah cara untuk menentukan skor dengan matrik
IFAS dan EFAS yang dijelaskan sebagai berikut :

70

Tabel 6.1
Matrik IFAS (Kekuatan)
Faktor-faktor Strategi
1. arah bijak & strategis Polri 2015
2019 unt bangun teknologi infokom
terpadu
2. prog Polda Jateng ttg penguatan
bidang kehumasan
3. duk pimpinan unt berikan pelayanan
prima pd masyarakat
4. puan personel gun media sosial
sudah cukup baik
5. adanya website Polres Karanganyar
Total

Nilai

Bobot

Rating

Skor

Kptng

(B)

(R)

(BxR)

0.18

0.54

0.18

0.54

0.23

0.92

0.18

0.36

4
17

0.23
1.00

3
15

0.69
3.05

Bobot

Rating

Skor

Kptng

(B)

(R)

(BxR)

0.19

-2

-0.38

0.19

-2

-0.38

0.24

-3

-0.72

0.19

-2

-0.38

0.19

-2

-0.38

16

1.00

-11

-2.24

Tabel 6.2
Matrik IFAS (Kelemahan)
Nilai

Faktor-faktor Strategi
1. jml pers Humas masih terbatas
2. personel Humas belum memahami
fungsi PR
3. personel bersikap pasif thd
kebutuhan informasi dari masy.
4. blm digunakannya saluran
komunikasi khusus
5. blm dibangunnya kerjasama Humas
dengan berbagai pihak.
Total

Selanjutnya berdasarkan hasil evaluasi faktor internal yaitu faktor


kekuatan dan kelemahan, dapat disajikan tabel sebagai berikut :
Tabel 6.3
No
1
2

Total Skor Faktor Internal


Faktor Strategis
Faktor Kekuatan / Strenghts
Faktor Kelemahan / Weaknesses
Total

71

Skor
3.05
-2.24
0.81

Setelah evaluasi internal dilakukan, langkah berikutnya adalah


melakukan evaluasi eksternal. Hasilnya dijelaskan sebagai berikut :
Tabel 6.4
Matrik EFAS (Peluang)
Faktor faktor Strategis

Nilai
Kptng

Bobot
(B)

Rating
(R)

Skor
(BxR)

0.16

0.64

0.13

0.39

0.16

0.64

0.13

0.26

0.16

0.48

0.13

0.26

0.13

0.39

24

1.00

24

3.06

Nilai
Kptng

Bobot
(B)

Rating
(R)

Skor
(BxR)

0.23

-2

-0.46

0.15

-2

-0.30

0.31

-3

-0.93

0.31

-3

-0.93

13

1.00

-10

-2.62

1. adanya Provider seluler sebagai


penyedia jaringan komunikasi data
2. berkembangnya tehnologi informasi
3. keinginan masy untuk dapatkan
pelayanan cepat, mudah, transparan
4. adanya komunitas PR & lemdik
seperti Unikom
5. sebagian besar masy sudah gunakan
smartphone
6 adanya softwere enginering
7 adanya tuntutan untuk wujudkan
keterbukaan informasi oleh KIP
Total
Tabel 6.5

Matrik IFAS (Ancaman)


Faktor-faktor Strategi
1 perkembangan media sosial
dimanfaatkan untuk kejahatan
2 dinamika informasi melalui media
kadang tidak terkendali
3 banyaknya opini negatif thdp Polri yang
berkembang di media sosial
4. belum ada sosialisasi kpd masy ttg
pentingnya application launcher
Total
Selanjutnya

berdasarkan hasil evaluasi faktor eksternal yaitu

faktor peluang dan ancaman, dapat disajikan tabel sebagai berikut :


Tabel 6.6
No
1
2

Total Skor Faktor Eksternal


Faktor Strategis
Faktor Peluang / Opportunity
Faktor Ancaman / Threats
Total

72

Skor
3.06
-2.62
0.44

b Analisis Data Internal dan Eksternal


Berdasarkan hasil yang didapat dari analisis internal dan eksternal
pada tabel di atas, hasilnya dapat dirangkum bahwa skor total kekuatan
3.05, skor total kelemahan -2.24, skor total peluang 3.06 dan skor total
ancaman -2.62.
Dari perhitungan di atas, didalam perhitungan strateginya
memerlukan penegasan dari adanya posisi dalam salib sumbu yaitu
antara kekuatan dan kelemahan, maupun peluang dan ancaman yang
kesemuanya digambarkan dalam garis-garis positif dan negatif.

Dari

analisis tersebut di atas bahwasanya faktor kekuatan lebih besar dari


faktor kelemahan dan faktor peluang lebih besar dari faktor ancaman,
oleh karena itu posisi Polres Karanganyar berada pada kuadran I yang
berarti pada posisi pertumbuhan, dimana hal ini menunjukkan kondisi
intern Polres Karanganyar kuat dengan lingkungan yang sangat
mendukung. Berpijak dari skor total tersebut, maka penentuan posisi
Polres Karanganyar dapat digambar sebagai matrik SWOT dengan
koordinat analisis internal 0.81 dan koordinat analisis eksternal 0.44,
yang dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Gambar 6.1
Analisis Faktor Internal dan Eksternal

Berdasarkan gambar di atas dapat dijelaskan keterkaitan masingmasing faktor sebagai berikut :
73

Jika posisi diagram itu kekuatan x peluang = pertumbuhan


Jika posisi diagram itu kelemahan x peluang = stabilitas
Jika posisi diagram itu kelemahan x ancaman = penciutan
Jika posisi diagram itu kekuatan x ancaman = kombinasi
Setelah diketahui titik pertemuan diagonal-diagonal tersebut,
maka

diketahui

posisi

penggunaan

application

launcher

Polres

Karanganyar pada kuadran I. untuk mengetahui luasan matrik dan


prioritas strategi maka perlu dilakukan perhitungan masing-masing
kudran sebagai berikut :
Tabel 6.7
Luasan Matrik dan Prioritas Strategi
Kuadran
SO
WO
WT
ST

Posisi titik
3.05x3.06
-2.24x3.06
-2.24x-2.62
3.05x-2.62

Luas Matrik
9.333
6.854
5.868
7.991

Ranking
1
3
4
2

Prioritas strategi
Pertumbuhan
Stabilitas
Penciutan
Kombinasi

Dari pengolahan data untuk mengetahui luas matrik dan prioritas


strategi pada tabel 6.7, maka diperoleh luas matrik ranking1 pada
kuadran I dengan luas matrik 9.333, Ranking 2 pada kuadran IV dengan
luas matrik 7.991, Ranking 3 pada kuadran II dengan luas matrik 6.854
dan Ranking 4 pada kuadran III dengan luas matrik 5.868.
c Pemilihan Alternatif Strategi
Setelah diketahui rangking prioritas strategi berdasarkan luasan
matrik faktor internal dan eksternal, tahapan selanjutnya adalah
menentukan alternatif strategi yang digunakan dalam pengembangan
program application launcher berbasis android Polres Karanganyar.
Sebagaimana ditunjukkan dalam kuadran analisis SWOT, maka terdapat
4 (empat) kuadran srtategi yaitu kuadran I (SO Strategi), Kuadran II ( WO
Strategi), Kuadran III ( WT Strategi) dan kuadran IV ( ST Strategi),
alternatif strategi tersebut dapat dijelaskan pada matrik berikut :

74

Tabel 6.8
MATRIK SWOT

75

Dari rumusan matriks TOWS tersebut diatas maka diperoleh rumusan


strategi yang akan dilakukan dengan menyusun strategi jangka pendek,
jangka sedang dan jangka panjang yang disesuaikan dengan prioritas strategi
berdasarkan

rangking kuadran pada tabel 6.7 diatas, penyusunan

strateginya sebagai berikut :


a.

Strategi Jangka Pendek ( 1 Tahun )


1)

Memberikan

pemahaman

kepada

para

personil

Polres

Karanganyar akan pentingnya penggunaan application launcher


berbasis Android guna meningkatkan kualitas komunikasi Polri
dengan masyarakat.
2)

Melakukan penghitungan beban kinerja bagi personil yang akan


melakukan kegiatan operasionalisasi penggunaan application
launcher berbasis Android.

3).

Mempersiapkan kebutuhan sumber daya organisasi, baik dari sisi


manusia, anggaran, sarana dan prasarana serta metode yang
akan

mendukung

pelaksanaan

operasionalisasi

application

launcher berbasis Android.


4).

Membuat

kegiatan

sosialisasi

application

launcher

berbasis

Android kepada masyarakat, melalui berbagai media yang tersedia


5).

Melakukan kerjasama dengan pihak provider selular dan software


engineering

untuk

mendukung

pelaksanaan

kegiatan

operasionalisasi application launcher berbasis Android.


b.

Strategi Jangka Sedang (1.5 tahun)


1)

Melaksanakan kegiatan penguatan kemampuan personil dalam


berkomunikasi dengan masyarakat dan mengelola informasi yang
ada melalui penggunaan application launcher berbasis Android.
Kegiatan ini dilakukan dengan mengefektifkan focused group
discussion untuk melaksanakan diskusi mendalam (diseminasi).

2).

Melakukan pengembangan sistem application launcher berbasis


Android dengan mempertimbangkan berbagai masukan demi
kesempurnaan sistem yang sudah berjalan.

3).

Melaksanakan

kegiatan

monitoring

dan

evaluasi

terhadap

pelaksanaan kegiatan penggunaan application launcher berbasis


Android.

76

c.

Strategi jangka panjang (2 Tahun)


1)

Mengadakan pelatihan untuk membangun kemampuan personil


yang akan mengawaki operasionalisasi application launcher
berbasis Android dengan cara menghadirkan instruktur dari
komunitas public relation Solo (Pro Solo) dan ahli akademisi dari
Unikom.

2).

Menjalin kerjasama dengan perwakilan Komisi Informasi Pusat


(KIP)

di

Jawa

Tengah

untuk

memaksimalkan

pengenalan

application launcher berbasis Android kepada masyarakat.


3).

Melakukan

perbaikan

dan

pemeliharaan

sistem

application

launcher berbasis Android.


4).

Mempertahankan eksistensi sistem application launcher berbasis


android dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

36. Rencana Aksi (Antion Plan)


a.
Jangka Pendek ( 1 Tahun )
1) Memberikan pemahaman kepada personil Polres Karanganyar
akan pentingnya penggunaan application launcher berbasis
Android guna meningkatkan kualitas komunikasi Polri dengan
masyarakat. Kegiatan yang dilakukan antara lain :
a) Pengarahan oleh Kabag Ops.
(1) Memberikan pemahaman kepada anggota Subbag
Humas, tentang pentingnya penggunaan application
launcher berbasis Android dalam menjalin komunikasi
yang efektif dengan masyarakat sehingga aksesibilitas
meningkat.

Pemahaman

kepada

anggota

Subbag

Humas dilaksanakan secara simultan melalui kegiatan


diskusi internal 1 (satu) kali dalam seminggu. Dalam
kegiatan ini dijelaskan hal sebagai berikut :
(a) Fungsi
Humas
dalam
sebuah

organisasi

merupakan hal yang sangat penting, oleh karena


itu
(b)

dalam

melaksanakan

pekerjaannya

harus

profesional dan pahami tugas pokoknya.


Fungsi humas sebagai corong organisasi dan
representasi

organisasi

dalam

berhubungan

dengan dunia luar. Fungsi humas bertanggung


jawab terhadap citra organisasi.

77

(2)

Memberikan pemahaman kepada seluruh Kasat Fungsi


untuk mendukung implementasi application launcher
berbasis Android ini dengan cara aktif memberikan input
data dan menjawab setiap permasalahan yang masuk
dalam aplikasi ini sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya masing-masing. Pemahaman kepada seluruh
Kasat Fungsi dilaksanakan pada saat Gelar Operasi
mingguan. Dalam kegiatan ini terdapat hal-hal yang
perlu diperhatikan oleh seluruh Kasat Fungsi antara lain:
(a) Untuk Satuan Fungsi yang memiliki pelayanan
publik di bidang administrasional seperti Satuan
Lalu Lintas, Satuan Intelkam dan Sentra Pelayanan
Kepolisian,

Kasat

Fungsi

harus

mampu

memberikan penjelasan terkait mekanisme dan


prosedur secara detail kepada para anggota yang
ditunjuk sebagai kontributor informasi sehingga
apabila di kemudian hari terdapat permintaan
informasi dari masyarakat melalui application
launcher, maka anggota dapat dengan mudah
(b)

memberikan informasi yang dibutuhkan.


Untuk Satuan Fungsi yang mengemban proses
penyidikan

seperti

Satuan

Reskrim,

Satuan

Narkoba dan Seksi Propam, Kasat Fungsi harus


dapat memberikan batasan tentang informasi apa
saja yang dapat dan tidak dapat diberikan kepada
masyarakat sehingga kebutuhan masyarakat akan
informasi
(c)

tetap

terpenuhi

dengan

tidak

mengganggu proses penyidikan.


Untuk Satuan Fungsi yang mengemban fungsi
pelayanan non administrasional seperti Satuan
Binmas dan Satuan Sabhara, Kasat Fungsi harus
dapat memberikan petunjuk tentang bagaimana
menjalankan fungsinya masing-masing dengan
baik (penyuluhan dan pelatihan untuk Satuan
Binmas serta pengawalan dan penjagaan untuk

78

Satuan Sabhara) sehingga dalam pelaksanaan


pelayanan tidak mengecewakan masyarakat.
b)

Pengarahan oleh Kasubbag Humas.


(1)

Memberikan pemahaman kepada anggota bahwa fungsi


Humas telah berkembang dengan pesat dan memiliki
peran yang sangat penting dalam kehidupan organisasi.
Oleh karena itu, komunikasi Polri dengan masyarakat
harus optimal sehingga komunikasi dengan masyarakat
melalui

penggunaan

application

launcher

berbasis

Android menjadi sebuah kebutuhan. Hal yang harus


dipahami oleh anggota terkait penggunaan application
launcher berbasis Android adalah sebagai berikut :
(a)

Kinerja

anggota

akan

terpantau,

sehingga

diharapkan anggota selalu bersungguh-sungguh


dalam melaksanakan tugasnya.
(b)

Informasi yang masuk melalui sistem application


launcher akan terdata dengan baik. Hal ini
kemudian dapat dijadikan sebagai indikator kinerja
anggota.

(2)

Kasubbag Humas memberikan pengarahan kepada


anggota agar dalam pemberian informasi kepada
masyarakat harus dilakukan

secara cepat, tepat dan

transparan. Oleh karena itu, anggota Subbag Humas


harus memiliki kemampuan dan pengetahuan sebagai
berikut :
(a) Mahir dalam mengoperasionalisasikan application
(b)

launcher berbasis Android.


Mampu bekerjasama dengan anggota Satuan
Fungsi

lain

sehingga

proses

pendistribusian

informasi dan permintaan informasi dapat berjalan


(c)

dengan lancar.
Memiliki integritas yang tinggi sehingga mampu
bersikap proaktif dan memiliki inisiatif dalam
melaksanakan pekerjaannya.

79

2)

Melakukan penghitungan beban kinerja bagi personil yang akan


melakukan kegiatan operasionalisasi penggunaan application
launcher berbasis Android. Hal yang dilakukan antara lain :
a) Kasubbag Humas membuat pertelaahan tugas masingmasing bagian yang ada,lengkap dengan job description dan
target kinerja untuk kemudian diserahkan kepada Kabag Ren,
yang meliputi kegiatan sebagai berikut :
(1) Mengkompulir infomasi yang masuk melalui kegiatan
(2)

peliputan/dokumentasi.
Pengelolaan informasi dan komunikasi. Kegiatan ini
merupakan

(3)

b)

inti

dari

operasionalisasi

launcher berbasis Android.


Kegiatan administrasi pelaporan

ke

Kegiatan

sebuah

ini

merupakan

application

satuan

atas.
bentuk

pertanggungjawaban kinerja satuan.


Kabag Ren menghitung beban kinerja dengan menggunakan
metode analisis beban kinerja untuk menentukan kebutuhan
sumber daya yang kemudian akan diserahkan kepada Kabag
Sumda. Hasil yang diserahkan dari Kabag Ren kepada Kabag

3)

Sumda adalah sebagai berikut :


(1) Jumlah personil yang dibutuhkan.
(2) Kualifikasi kemampuan personil yang dibutuhkan.
Mempersiapkan kebutuhan sumber daya organisasi yang akan
mendukung pelaksanaan operasionalisasi application launcher
berbasis Android, baik dari sisi manusia, anggaran, sarana dan
prasarana serta metode. Wakapolres memimpin rapat kordinasi
untuk membahas hal berikut :
a)

Sumber Daya Manusia


Kabag

Sumda

penyediaan

bertanggung

personil

mempersiapkan

yang

pelatihan

jawab

untuk

merancang

dibutuhkan,

termasuk

agar

pengetahuan

dan

keterampilan personil yang akan ditugaskan sesuai dengan


kebutuhan. Untuk penyediaan personil, Kabag Sumda
meminta usulan dari masing-masing Kasat Fung untuk
mengajukan personil yang memiliki kemampuan sebagai
berikut :

80

(1)

Mengutamakan personil yang berusia muda dengan


harapan memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang
media sosial.

(2)

Personil

memiliki

kemampuan

untuk

mengoperasionalkan komputer dengan baik.


Untuk melaksanakan pelatihan, Kabag Sumda melakukan
komunikasi

dengan

lembaga

akademisi

Unikom

guna

membekali anggota yang akan ditugaskan untuk melakukan


operasionalisasi

application

launcher

berbasis

Android.

Kemudian Kabag Sumda mengadakan kolaborasi untuk


menentukan jadwal waktu pelatihan yang akan dilaksanakan
3 (tiga) kali dalam seminggu.
b Anggaran
Kasi Keu atas ijin Kapolres, bertanggung jawab untuk
mengatur anggaran dukungan operasional Kapolres untuk
dialokasikan

dalam

mendukung

kegiatan

operasional

application launcher berbasis Android. Kasi Keu akan


berkordinasi dengan Kabag Ops melalui Kasubbag Humas
terkait anggaran yang mendesak dibutuhkan antara lain
pengadaan 1 (satu) unit komputer yang khusus akan
berfungsi sebagai server application launcher berbasis
Android.
Untuk perencanaan anggaran jangka panjang, Kabag Ren
bertanggung

jawab

untuk

mengusulkan

agar

kegiatan

operasional application launcher berbasis Android dapat


terdukung dengan anggaran yang tercantum dalam DIPA.
Kabag Ren akan berkordinasi dengan Kabag Ops melalui
Kasubbag Humas untuk membuat rincian anggaran yang
dibutuhkan untuk kemudian diusulkan melalui Karo Rena
Polda Jateng. Adapun anggaran yang harus dipersiapkan
adalah sebagai berikut :

c)

(1)

Anggaran pemeliharaan sistem.

(2)

Anggaran insentif personil pelaksana.

(3)

Anggaran pengembangan sistem.

Metode Pelaksanaan
81

Kabag Ops bertanggung jawab untuk mengkoordinir masingmasing Kasat Fungsi agar dapat bersinergi mendukung
kegiatan kegiatan operasional application launcher berbasis
Android, termasuk menyusun mekanisme arus informasi yang
terdiri dari tahapan berikut :
(1)

Tahap I, informasi atau permintaan informasi masuk dari


masyarakat ke dalam sistem.

(2)

Tahap II, operator akan mengidentifikasi informasi


tersebut untuk menentukan apakah langsung dilayani
atau perlu diteruskan kepada Satuan Fungsi yang
berkompeten.

(3)

Tahap III, jika diteruskan, maka personil yang menerima


pada

Satuan

Fungsi

yang

dibutuhkan

langsung

menjawab dan memberikan kepada operator untuk


diteruskan kepada masyarakat.
Selain itu, Kabag Ops juga melaksanakan pembuatan Nota
Kesepahaman (MoU) dengan pihak ketiga, bekerjasama
dengan Kasubbag Hukum sehingga dapat dijadikan dasar
untuk pelaksanaan proses bantuan dari pihak ketiga dalam
bentuk hibah. Adapun pihak ketiga yang akan bekerjasama
antara lain :
1 Provider

seluler

untuk

prasarana.
2 Lembaga akademisi

penyediaan

Unikom

untuk

sarana

dan

memberikan

pelatihan kepada personil Subbag Humas.


d Sarana dan Prasarana
Kasubbag Sarpras bertanggung jawab untuk menginventarisir
kebutuhan logistik dan menyediakannya untuk mendukung
kegiatan operasional application launcher berbasis Android
yang dilakukan melalui kordinasi dengan Kasubbag Humas.
Untuk

penyediaannya,

Kasubbag

Sarpras

berkordinasi

dengan pihak ketiga yang telah melakukan penandatanganan


Nota Kesepahaman (MoU) antara lain :
(2) Provider seluler untuk penyediaan sarana berupa
jaringan komunikasi data dan jaringan pemasaran untuk

82

keperluan sosialisasi application launcher berbasis


Android.
(3) Lembaga

akademisi

Unikom

untuk

menyediakan

prasarana pelatihan bagi personil Subbag Humas.


4)

Melaksanakan kegiatan sosialisasi application launcher berbasis


Android kepada masyarakat melalui berbagai media yang tersedia.
Kasubbag Humas dan Kasat Binmas melakukan hal berikut :
a)

Sosialisasi kepada masyarakat menggunakan media sosial


dan media massa, baik cetak maupun elektronik dengan
materi antara lain :
1 Adanya application launcher berbasis Android yang
dapat

dimanfaatkan

oleh

masyarakat

pengguna

smartphone untuk memudahkan komunikasi dengan


polisi.
2 Sosialisasi tentang kemudahan-kemudahan yang akan
diperoleh masyarakat dari penggunaan application
launcher.
3 Sosialisasi

tentang

caramendapatkan

menggunakan application launchertersebut.


Sosialisasi kegiatan dengan memanfaatkan

dan
jaringan

pemasaran yang dimiliki oleh provider seluler. Hal yang perlu


1

dilaksanakan antara lain :


Melakukan komunikasi awal untuk mendapatkan ijin
menggunakan jaringan pemasaran dari provider seluler
berdasarkan kesepakatan yang telah ada dalam Nota

Kesepahaman (MoU).
Memberikan kepada provider seluler terkait dengan
materi yang akan dijadikan sebagai bahan kegiatan

sosialisasi.
Sosialisasi kepada masyarakat menggunakan perangkat
keras yang berisi informasi pengenalan application launcher
berbasis Android secara singkat mengingat keterbatasan
media yang digunakan. Perangkat keras yang digunakan
antara lain :
1
Standing banner
Perangkat keras ini akan diletakkan di pusat-pusat
keramaian seperti pusat perbelanjaan, hotel, tempat
hiburan,

rumah
83

sakit,

sekolah,

bank

dan

kantor

pemerintah maupun swasta. Proses kegiatan ini diawali


dengan

proses

kordinasi

yang

dilakukan

oleh

Bhabinkamtibmas dengan pemilik masing-masing lokasi.


Kartu nama
Perangkat keras ini berbentuk kartu nama yang

diberikan kepada seluruh anggota Polres Karanganyar.


Anggota Polres Karanganyar akan diperankan sebagai
agen pemasaran yang akan memberikan kartu nama
tersebut kepada setiap orang yang ditemuinya. Proses
kegiatan ini diawali kordinasi dengan masing-masing
Kasat Fungsi untuk proses distribusi kepada seluruh
personil Polres Karanganyar.
Spanduk
Perangkat keras ini diletakkan di pusat-pusat keramaian

yang berlokasi di luar ruangan (outdoor).


5)

Melakukan kerjasama dengan pihak provider selular dan software


engineeringuntuk

mendukung

pelaksanaan

kegiatan

operasionalisasi application launcher berbasis Android. Kabag Ops


melakukan kegiatan antara lain :
a)

Melakukan kordinasi dengan Kasubbag Hukum untuk detail


isi dari Nota Kesepahaman (MoU) dengan para pihak
eksternal

sehingga

dapat

dijadikan

pedoman

dalam

pelaksanaan operasionalisasi application launcher berbasis


b)

Android.
Menjalin komunikasi dengan pihak eksternal untuk memulai
kegiatan kerjasama. Pihak eksternal antara lain :
(1) Provider seluler
Provider seluler dibutuhkan untuk memelihara jaringan
komunikasi data. Hal ini perlu dilakukan karena dengan
meningkatnya kuantitas komunikasi yang dilakukan
melalui sistem application launcher berbasis Android
akan

membawa

konsekuensi

meningkatnya

pula

kapasitas jaringan komunikasi data yang diperlukan.


Pada tahap awal diperlukan kapasitas jaringan data
sebesar 20 Mbps, namun dapat dipastikan akan
bertambah seiring dengan meningkatnya kuantitas
(2)

komunikasi.
Software engineering
84

Software engineering dibutuhkan untuk pengembangan


sistem secara kualitas. Dengan semakin banyaknya
masyarakat yang menggunakan application launcher
berbasis Android ini, maka akan semakin banyak pula
kebutuhan jenis informasi yang harus disediakan. Oleh
karena

itu

perlunya

software

engineering

untuk

melakukan penyesuaian terhadap sistem yang telah


ada.
b.

Jangka Sedang (1.5 tahun)


1)

Melaksanakan kegiatan penguatan kemampuan personil dalam


berkomunikasi dengan masyarakat dan mengelola informasi.
Kegiatan penguatan kemampuan personil ini dilaksanakan dengan
mengefektifkan
mendalam

focused

group

(diseminasi)

dapat

discussion
terlaksana.

sehingga

diskusi

Kabag

Sumda

mengadakan kolaborasi untuk melaksanakan kegiatan focused


group discussion dengan berbagai pihak antara lain :
a)

Komunitas public relation Solo (Pro Solo) terkait dengan


kegiatan berbagi pengalaman yang dijadwalkan secara rutin
setiap bulan untuk menambah wawasan bagi personil yang
melaksanakan kegiatan kehumasan di Polres Karanganyar.

b)

Awak media terkait dengan pertukaran informasi sehingga


informasi yang disediakan melalui application launcher
berbasis Android selalu up to date.

2)

Melakukan pengembangan sistem application launcher berbasis


Android dengan mempertimbangkan berbagai masukan, baik dari
internal maupun eksternal, demi kesempurnaan sistem yang sudah
berjalan. Kasubbag Humas melakukan pengembangan prosedur
operasional
kecepatan

application
distribusi

launcher

informasi,

sehingga
kritik,

dapat

saran,

menjamin

aduan

serta

permintaan bantuan polisi kepada setiap satuan fungsi sesuai


dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Dalam
kegiatan pengembangan, hal yang menjadi objek kegiatan adalah :
a)

Sistem dan metode operasional


Application

launcher

berbasis Android

dioperasionalkan

sesuai dengan pola komunikasi yang dibutuhkan. Pola


85

komunikasi tersebut akan berkembang juga seiring dengan


kebutuhan masyarakat.
b Jaringan komunikasi data
Jaringan komunikasi data ini juga akan berkembang seiring
dengan meningkatnya kuantitas dan kualitas komunikasi yang
dilakukan melalui application launcher berbasis Android.
3)

Melaksanakan

kegiatan

monitoring

dan

evaluasi

terhadap

pelaksanaan kegiatan penggunaan application launcher berbasis


Android. Wakapolres melakukan hal-hal sebagai berikut :
a)

Mengumpulkan laporan hasil kegiatan masing-masing satuan


fungsi terkait dengan kegiatan penerimaan dan pemberian
informasi kepada masyarakat melalui penggunaan application
launcher berbasis Android. Laporan hasil kegiatan meliputi :
(1)

Kendala yang dihadapi. Laporan ini penting untuk


melakukan perbaikan terhadap sistem yang ada.

(2)

Kritik dan saran dari masyarakat yang akan digunakan


sebagai bahan untuk pengembangan sistem.

b)

Melakukan rapat kordinasi dengan masing-masing satuan


fungsi

untuk

komunikasi

membahas

dengan

kendala

masyarakat

dalam
melalui

melakukan
penggunaan

application launcher berbasis Android termasuk kritik dan


saran dari masyarakat untuk kemudian dilaporkan kepada
Kapolres.
c.

Jangka Panjang (2 tahun)


1)

Mengadakan pelatihan untuk membangun kemampuan personil


yang akan mengawaki operasionalisasi application launcher
berbasis Android dengan mengikutsertakan instruktur yang berasal
dari lembaga akademisi Unikomdan anggota komunitas public
relation Solo (Pro Solo) . Hal yang dilakukan antara lain :
a)

Lembaga akademisi Unikom


Kabag Sumda menyelenggarakan kegiatan pendidikan
dan pelatihan dengan lembaga akademisi Unikom untuk
memberikan pengetahuan terhadap personil di bidang ilmu
komunikasi sehingga mampu berkomunikasi secara efektif
dengan masyarakat.
86

b Anggota komunitas public relation Solo (Pro Solo)


Kabag Sumda memperkaya materi simulasi melalui
kolaborasi dengan anggota komunitas public relation Solo
(Pro Solo). Hal ini dilakukan mengingat anggota komunitas
tersebut merupakan praktisi di bidang kehumasan yang
memiliki banyak pengalaman. Hal yang diberikan kepada
personil Subbag Humas antara lain mengenai :
(1)

Pengelolaan informasi melalui penggunaan application


launcher

guna

mewujudkan

layanan

informasi

masyarakat yang profesional, transparan dan akuntabel.


(2)

Cara

melakukan

komunikasi

yang

efektif

dengan

masyarakat melalui media sosial.


2)

Menjalin kerjasama dengan perwakilan daerah Komisi Informasi


Pusat

(KIP)

untuk

memaksimalkan

pengenalan

application

launcher kepada masyarakat mengingat luasnya jaringan informasi


yang dimilikinya. Hal yang perlu dilakukan antara lain :
a)

Memperkenalkan

application

launcher

berbasis Android

kepada KIP tentang sistem dan metode operasionalisasinya


serta kemanfaatannya.
b)

Memberikan bahan kepada KIP terkait application launcher


berbasis Android untuk disosialisasikan melalui jaringan
informasi yang dimilikinya.

3).

Melakukan

perbaikan

dan

pemeliharaan

sistem

application

launcher berbasis Android. Kasubbag Humas melakukan hal-hal


sebagai berikut :
a).

melakukan anev dan mendata bagian dari sistemapplication


launcher berbasis Android yang tidak bisa dioperasikan
dengan maksimal kemudian mengundang softwereenginering
untuk melakukan perbaikan sehingga Subbag Humas bisa
mengetahui dinamika informasi yang berkembang.

b).

melakukan

kontrol

mengoperasionalkan
Androiduntuk

terhadap
application

senantiasa

personel
launcher

menyalakan

yang
berbasis

pendingin

dan

menempatkan softwere jauh dari tembok agar softwere tidak


cepat panas.
87

c).

Melakukan penggalangan kepada pihak swasta yang memiliki


program corporate social responsibility dapat memberikan
bantuan kepada Polres Karanganyar berupa dana dalam
bentuk hibah untuk membantu melaksanakan pemeliharaan
sistem application launcher berbasis Android.

4).

Mempertahankan eksistensi sistemapplication launcher berbasis


android dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam
hal ini Kasubbag Humas melakukan hal-hal sebagaiberikut :
a).

menganalisa peningkatan kuantitas informasi yang masuk


melaluitraffic data yang terekam dalam sistem, jika traffic data
naik berarti hal ini menunjukkan meningkatnya kuantitas
informasi

yang

berasal

dari

masyarakat

dengan

menggunakan application launcher berbasis Android.


b).

menganalisa kualitas informasi yang masuk melalui sistem,


meningkatnya secara kualitas informasi yang diberikan oleh
masyarakat melalui application launcher berbasis android,
ditandai dengan semakin beragamnya informasi yang masuk
sehingga

dapat

dijadikan

bahan

evaluasi

untuk

merencanakan kegiatan operasional Polres Karanganyar.

88

BAB VII
PENUTUP
37. Kesimpulan
a. Kondisi personel Subbag Humas Polres Karanganyar dilihat dari segi
kuantitas dan kualitas belum mampu bekerja sesuai harapan dalam
mendukung optimalisasi komunikasi antara Polri dan masyarakat
melalui penggunaan application launcher berbasis Android. Oleh karena
itu perlu adanya kebijakan strategis untuk membentuk personel Subbag
Humas Polres Karanganyar yang memiliki kemampuan berkomunikasi
dengan masyarakat, kemampuan untuk membangun jaringan dengan
berbagai pihak, kemampuan untuk membuat kreatifitas dan gagasan
dalam

mengelola

informasi

dan

komunikasi

dengan

lingkungannnya.Langkah strategis ini perlu segera diambil mengingat


betapa pentingnya fungsi humas dalam mendukung pencapaian tujuan
organisasi dan perlunya perubahan yang signifikan yang didukung oleh
seluruh personil Polri dalam rangka terciptanya pelayanan prima
kepolisian melalui program yang modern, untuk mewujudkan revolusi
mental Polri.
b. Anggaran dalam mendukung optimalisasi komunikasi antara Polri dan
masyarakat melalui penggunaan application launcher berbasis Android,
belum mampu untuk mencukupi seluruh kegiatan operasionalisasi
application launcher. Maka, perlu adanya kebijakan pimpinan untuk
mengambil langkah strategis dalam mengelola anggaran dalam jangka
pendek dengan mengalokasikan anggaran dukungan operasional
(Dukops) Kapolres untuk mengoperasionalkan application launcher, dan
selanjutnya mengusulkan anggaran untuk operasional application
launchermenggunakan dana DIPA rutin.
c. Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh Polres Karanganyar sangat
sulit untuk dapat mengakomodir seluruh kegiatan kehumasan yang ideal
dalam mendukung optimalisasi komunikasi antara Polri dengan
masyarakat melalui penggunaan application launcher berbasis android.
Untuk itu perlu adanya kebijakan strategis untuk melakukan pengadaan
sarana menggunakan anggaran yang tercantum dalam DIPA atau
dengan hibah pihak ketiga.
d. Metode dalam proses sosialisasi yang dilakukan saat ini masih
dilaksanakan pada lingkungan yang terbatas melalui forum focused

89

group discussion (FGD), sehingga peran serta masyarakat dalam


memberikan informasi terkait kamtibmas kepada Polres Karanganyar
masih rendah, hal ini menggambarkan rendahnya pula tingkat
kepercayaan masyarakat terhadap Polres Karanganyar untuk dapat
memberikan pelayanan yang maksimal di bidang kamtibmas. Untuk itu
dibutuhkan kebijakan strategis untuk meningkatkan peran serta
masyarakat melalui kegiatan sosialisasi dengan menggunakan media
yang tepat dan menggunakan cara yang efektif.
38. Rekomendasi
a Kabid Humas untuk meneruskan kepada Kadiv Humas agar dapat
mengambil kebijakan strategis dalam mengoptimalkan komunikasi
antara Polri dan masyarakat melalui penggunaan application launcher
berbasis Android. Kebijakan strategis ini dapat dilaksanakan melalui
kolaborasi dengan Komisi Informasi Pusat (KIP) untuk secara bersamasama mengembangkan application launcher berbasis Android dengan
memanfaatkan jaringan komunikasi yang dimiliki oleh KIP sehingga
mampu memberikan informasi yang berkualitas kepada masyarakat
sebagai stake holder.
b Kabid Humas agar membuat petunjuk kepada Kapolres Jajaran Polda
Jawa Tengah bahwa sistem komunikasi dengan penggunaan application
launcher berbasis Android di Polres Karanganyar dapat dijadikan
sebagai bahan rujukan bagi Polres lain untuk menyelenggarakan sistem
komunikasi yang sama.
c Karo Rena bekerjasama
merencanakan

secara

dengan

sistematis

Kabid

Humas

anggaran

untuk

untuk

dapat

mendukung

operasionalisasi kegiatan kehumasan yang didukung dengan analisis


beban kinerja yang memadai sehingga fungsi Humas dapat optimal
menjalankan peran dan fungsinya sebagai representasi organisasi Polri
untuk berinteraksi dengan stake holder terkait.

90