Anda di halaman 1dari 16

TUGAS INDIVIDU

MATA AJAR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN


Pengembangan Informatika Keperawatan
Melalui Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Untuk Meningkatkan Kualitas Pelayanan
Keperawatan
Dosen Pengampu:
Rr.Tutik Sri Haryati, SKp.,MARS

OLEH
MURSIDAH DEWI
NPM. 0906594500

PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN


KEKHUSUSAN KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN
KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS
INDONESIA
TAHUN 2010

Pengembangan Informatika Keperawatan


Melalui Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
Untuk Meningkatkan Kualitas Pelayanan Keperawatan
Oleh : Mursidah Dewi*

Abstrak
Berbagai tingkat kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan keperawatan,
mengharuskan praktik keperawatan memiliki suatu Sistem Pendukung Keputusan
(SPK) yang dapat mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi
dalam keperawatan. Luasnya lingkup tanggung jawab keperawatan dan kehadiran
perawat secara berkesinambungan mendampingi pasien, menempatkan
keperawatan pada posisi sentral bagi layanan kesehatan dan pusat informasi
pasien. Tulisan ini menelaah penerapan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dari
perspektif kegiatan pengembangan sistem informasi keperawatan. Hasil telaah
menunjukkan pengembangan SPK ini dapat dirasakan manfaatnya dalam
meningkatkan keselamatan pasien yaitu mencegah terjadinya adverse event,
pengambilan keputusan yang berdasarkan data, bukti serta analisa yang sesuai
dengan kebutuhan pelayanan keperawatan. Tantangan utama pengembangan SPK
dalam pelayanan keperawatan adalah bagaimana para pengambil keputusan dapat
menterjemahkan komitmen dan kebijakan untuk mengintegrasikan sistem
informasi keperawatan ke dalam rencana strategis serta mengembangkan
infrastruktur yang mendukung upaya peningkatan kualitas pelayanan keperawatan
melalui Sistem Pendukung Keputusan (SPK).
Kata kunci : Informatika keperawatan; Sistem pendukung keputusan; Kualitas
pelayanan; Keperawatan.
1. Pendahuluan

Pada saat ini, berbagai rumah sakit terus mengembangkan diri dan
meningkatkan kualitas manajemen pelayanan kesehatan dengan menerapkan
sistem informasi rumah sakit berbasis komputer untuk mendukung perubahan
serta perbaikan dari semua aspek dan bidang yang terkait, baik dari segi sarana
dan prasarana, finansial, perlengkapan alat-alat medis maupun sumber daya
manusia.
Tenaga keperawatan merupakan salah satu SDM terbesar di rumah sakit,
baik dari segi jumlah maupun keberadaannya dalam memberikan pelayanan
kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat (Praptianingsih, 2006). Perawat
memiliki peranan penting sebagai kunci keberhasilan pelayanan kesehatan, hal ini
terkait erat dengan tugas perawat yang selama 24 jam melayani pasien , dan

jumlah perawat yang mendominasi tenaga kesehatan di rumah sakit yaitu sekitar
40 60% (Swanburg, 2000). Oleh karena itu rumah sakit perlu mengelola
manajemen keperawatan sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan
profesional yang berdampak pada peningkatan mutu pelayanan rumah sakit secara
keseluruhan.
Pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan
mempunyai daya ungkit yang besar dalam mencapai tujuan pembangunan bidang
kesehatan. Keperawatan sebagai profesi dan perawat sebagai tenaga profesional
bertanggung jawab untuk memberikan pelayanan keperawatan sesuai kompetensi
dan kewenangan yang dimiliki secara mandiri maupun bekerja sama dengan
anggota tim kesehatan lain. Pelayanan keperawatan bermutu merupakan tujuan
yang ingin dicapai oleh perawat. Pelayanan bermutu memerlukan tenaga
profesional yang mampu mengembangkan profesi perawat menjadi bagian penting
dalam institusi pelayanan kesehatan.
Salah satu bentuk pengembangan profesi keperawatan di rumah sakit
adalah keterlibatan perawat manajer dalam penyusunan kebijakan organisasi,
struktur organisasi, sistim penugasan, dan sistim pembinaan dalam rangka
menganalisa berbagai kesempatan dan ancaman, pencapaian tujuan dan rencana,
serta membantu mengidentifikasi pengembangan area pelayanan keperawatan di
masa yang akan datang (Huber, 2006). Keberhasilan seorang manajer keperawatan
adalah kemampuannya dalam mengkomunikasikan berbagai kesenjangan dengan
merumuskan sebuah rencana dalam peran kepemimpinannya untuk mempengaruhi
orang lain serta melakukan suatu proses perubahan (Olson, 2009).
Kondisi ini mengharuskan manajemen keperawatan mampu memberikan
kontribusi besar dalam menata pelayanan keperawatan kearah yang lebih baik
melalui pengelolaan teknologi informasi keperawatan yang dirancang untuk
membantu manajemen dan pemrosesan data, informasi serta pengetahuan
keperawatan

yang

relevan

untuk

menunjang

praktek

keperawatan

dan

penyampaian layanan keperawatan secara komprehensif.


Berbagai tingkat kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan keperawatan,
mengharuskan praktik keperawatan memiliki suatu sistem pendukung keputusan
(Decision Support System) yang dapat mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan

teknologi informasi dalam keperawatan. Sistem pendukung keputusan ini


diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dalam mengatasi berbagai
kesenjangan antara perkembangan ilmu pengetahuan dan praktik keperawatan
yang dilakukan di pelayanan, sehingga dapat dirancang aplikasi secara
komputerisasi yang dapat digunakan setiap saat untuk mendukung praktik
keperawatan (Murphy, 2008).
Penerapan sistem pendukung keputusan (SPK) yang diintegrasikan dengan
sistem informatika keperawatan diharapkan dapat berkontribusi pada manajemen
pelayanan keperawatan yang mampu memberikan informasi lengkap secara cepat
pada situasi dan kondisi penting dalam pengambilan keputusan, juga mampu
memberikan umpan balik secara cepat jika terjadi kesalahan (adverse event).
Sehingga, meningkatkan kualitas keputusan yang berdasarkan fakta (evidenced
based decision support) (Murphy, 2008). Menggunakan data dari berbagai sumber,
tulisan ini mencoba menelaah penerapan sistem pendukung keputusan (SPK) dari
berbagai perspektif kegiatan pengembangan sistem informasi keperawatan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan khususnya dan pelayanan
kesehatan pada umumnya.
2. Informatika Keperawatan

Dilingkungan kompetitif seringkali sulit untuk dapat membuat keputusan


yang paling baik, hal ini bisa saja disebabkan karena kurangnya informasi, atau
penerimaan suatu informasi yang terlambat, atau bahkan terlalu banyaknya
informasi yang diperoleh. Kondisi tersebut bisa bertambah buruk jika waktu yang
ada terlalu sempit untuk dapat melakukan analisa informasi ataupun untuk
mengevaluasi alternative-alternatif solusi, sehingga hal ini dapat mengakibatkan
para

pengambil

keputusan

sulit

melakukan

suatu

keputusan

secara

berkesinambungan dan juga sulit untuk melakukan pengambilan keputusan yang


optimal.
Luasnya lingkup tanggung jawab keperawatan dan kehadiran perawat
secara berkesinambungan mendampingi pasien, menempatkan keperawatan pada
posisi sentral bagi layanan kesehatan dan pusat informasi pasien. Keadaan ini
membangkitkan

perkembangan

informatika

keperawatan

yang

dapat

menginformasikan perkembangan aplikasi multidisiplin yang terintegrasi pada


berbagai tatanan manajemen keperawatan bagi pelayanan pasien (Barton, 2008).
Keperawatan merupakan serangkaian aktivitas melingkupi pelayanan
secara otonom dan kolaboratif bagi individu dari segala usia, keluarga, kelompok
dan komunitas, sakit maupun sehat dalam segala latar. Pelayanan keperawatan
merupakan pemasok utama layanan kesehatan bagi pasien, pengembangan
informatika keperawatan dalam lingkup manajemen keperawatan berpengaruh
penting terhadap rancangan dan implementasi system pengembangan pengetahuan
dan ketrampilan perawat untuk menjalin komunikasi yang terintegrasi
berhubungan dengan perawatan klinis pasien di rumah sakit.
Komunikasi adalah aktivitas utama dari manajer perawat, manajer perawat
saat ini harus berkomunikasi baik terhadap mesin maupun terhadap manusia.
Mainframe, sistem mini computer dan makro computer digunakan oleh manajer
untuk menerima, mengatur, menganalisa, memindahkan dan menyimpan informasi
yang diperlukan untuk merencanakan jalannya keperawatan. Manajer perawat
yang terampil memiliki pemikiran untuk mengembangkan dan merancang system
informasi terkomputerisasi untuk mendukung berbagai aktivitas perawat, seperti:
kebutuhan laporan asuhan keperawatan, perawatan pasien dan berbagai kegiatan
pelayanan klinis keperawatan (Gillies, 1996).
Manajemen keperawatan membutuhkan keputusan yang dibuat oleh
perawat pada setiap tingkatan bagian di bangsal atau unit. Proses pembuatan
keputusan bervariasi tergantung pada pola tradisi dari hubungan yang diikuti atau
pembuatan keputusan di pusatkan pada tingkat pelaksanaan (Swanburg, 2000).
Staggers and Thompson (2002) dalam Daly. J et al (2010), mendefinisikan
Informatika keperawatan sebagai bidang kekhususan ilmu keperawatan.
Merupakan serangkaian kombinasi ilmu komputer, ilmu informasi dan ilmu
keperawatan

yang

dirancang

sedemikian

rupa

untuk

membantu

mengkomunikasikan, dan memanajemen data bagi perawat dan tenaga kesehatan


lainnya dalam kegiatan pemrosesan data, informasi, dan pengetahuan keperawatan
untuk menunjang praktek keperawatan, pengambilan keputusan dan penyampaian
layanan keperawatan. Menggunakan pengetahuan empirik dan berdasarkan
pengalaman

secara

berkesinambungan

untuk

memperluas

wawasan dan

meningkatkan kualitas praktek professional perawat. Hal ini mencakup perawatan


pasien, administrasi, pendidikan dan penelitian, dalam lingkup struktur informasi,
proses informasi dan teknologi informasi.
Daly. J et al (2010) mengemukakan bahwa teknologi informasi memiliki
kemampuan untuk mengkomunikasikan berbagai keadaan dalam pelayanan
keperawatan berdasarkan keakuratan data, kecepatan informasi dan ketepatan
analitik yang merupakan domain utama dalam informatika keperawatan.
Informatika menjadi penting bagi disiplin keperawatan, karena : Pertama,
Informatika dapat membuat praktek keperawatan tampak dalam himpunan data
layanan

kesehatan

local,

nasiomal

maupun

internasional,

sehingga

memberdayakan perawat dengan informasi untuk mempengaruhi kebijakan.


Kedua, Informasi adalah komponen kritis bagi pengambilan keputusan yang
efektif serta praktek keperawatan berkualitas tinggi. Informasi dan pengetahuan
yang diperoleh melalui informatika keperawatan dapat meningkatkan kesadaran
serta pemahaman terhadap isu-isu keperawatan dan layanan kesehatan. Ketiga,
Informatika keperawatan dengan sepenuhnya memelihara perspektif klinik dan
mempromosikan penelitian yang secara langsung mendukung peningkatan layanan
pasien.
3. Konsep Pengambilan Keputusan Dalam Teknologi Informasi

Begitu banyak informasi yang tersedia, tetapi untuk dapat memanfaatkan


informasi tersebut pada berbagai tingkat pelayanan keperawatan sehingga
meningkatkan kualitas pelayanan harus diputuskan oleh orang yang tepat dan pada
waktu yang tepat (McConnell, 2000).
Dalam manajemen, pengambilan keputusan memegang peranan yang
sangat penting karena keputusan yang diambil oleh manajer merupakan hasil
pemikiran akhir yang harus dilaksanakan bawahan atau mereka yang bersangkutan
dengan organisasi. Ada masalah yang mudah saja dipecahkan, ada yang sukar, ada
pula yang sangat sulit, tergantung besarnya masalah dan luasnya sangkut paut
dengan berbagai faktor. Atas dasar itulah, maka keputusan yang dihasilkan
memiliki resiko masing-masing.
Bagaimana cara mengambil keputusan?
Jawaban atas pertanyaan ini akan mempengaruhi perancangan sistem informasi
berbasis komputer yang dimaksudkan untuk mendukung pengambilan keputusan.
Sutabri (2005), Ada tiga tahap pengambilan keputusan dalam hubungannya

dengan teknologi informasi, berdasarkan model yang dikemukakan oleh Herbert.


A. Simon yaitu :
a. Pemahaman, Menyelidiki lingkungan kondisi yang memerlukan
keputusan, mengolah data mentah untuk dijadikan petunjuk. Proses
penyelidikan mengandung makna pemeriksaan data, dan sistem informasi
pilihannya. Sistem informasi harus meneliti semua data dan mengajukan
permintaan untuk di uji mengenai situasi yang menuntut perhatian. Sistem
informasi maupun organisasi harus menyediakan saluran komunikasi
untuk masalah yang diketahui.
b. Perancangan, Pada tahap ini, mengandung proses untuk memahami
masalah untuk menghasilkan cara pemecahan. Sistem informasi harus
mengandung model keputusan untuk mengolah data dan memprakarsai
pemecahan alternative, serta membantu menganalisis alternative.
c. Pemilihan, Sistem informasi menjadi paling efektif apabila hasil

perancangan disajikan dalam suatu bentuk yang mendorong pengambilan


keputusan. Apabila telah dilakukan pemilihan, peranan sistem informasi
berubah menjadi pengumpulan data untuk umpan balik dan penilaian
kemudian.
4. Sistem Pendukung Keputusan (SPK) atau Decision Support System (DSS)
Pada dasarnya sistem pendukung keputusan (SPK) atau Decision Support
System

(DSS)

dibuat

untuk

meningkatkan

kualitas

SIM,

merupakan

pengembangan lebih lanjut dari sistem informasi manajemen terkomputerisasi


(Computerized Management Information System). Sistem Pendukung Keputusan
(SPK) merupakan suatu sistem informasi komputer yang dirancang untuk
menunjang dan meningkatkan proses pembuatan keputusan, dibangun untuk
mendukung keputusan-keputusan yang dapat digunakan pada tingkat kontrol
manajemen dan kegiatan perencanaan suatu organisasi.
SPK dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan aplikasi-aplikasi
komputer baru yang berguna untuk menunjang upaya pemecahan masalah, bersifat
interaktif dengan pemakainya. Konsep SPK pertamakali diungkapkan pada awal
tahun 1970-an oleh Michael S.Scott dengan istilah Management Decision System,
yang didefinisikan sebagai sistem berbasis komputer interaktif yang membantu
para pengambil keputusan untuk menggunakan data dan berbagai model untuk
memecahkan masalah-masalah yang tidak terstruktur. SPK yang bersifat interaktif
ini dimaksudkan untuk memudahkan integrasi antar berbagai komponen dalam

proses pengambilan keputusan, seperti prosedur, kebijakan, teknik analisis, serta


pengalaman dan wawasan manajerial guna membentuk suatu kerangka keputusan
yang bersifat fleksibel (Raymont and Schell, 2010).
SPK dapat menghasilkan output dalam bentuk laporan berkala dan model
matematik untuk mempermudah pemecahan masalah. Rancangan SPK tersusun
atas beberapa komponen yaitu :
a. Data base yaitu kumpulan data yang tersusun secara terstruktur dan dalam

b.

c.
d.

e.

format elektronik yang mudah diolah oleh program komputer. Data base
ini menghimpun berbagai jenis data, baik yang berasal dari pasien maupun
dari dokter dan perawat.
Knowledge base, merupakan kumpulan pengetahuan yang merupakan
sintesis dari berbagai literature, pendapat pakar maupun hasil penelitian
yang sudah diterjemahkan dalam bahasa yang dapat dipahami oleh
komputer.
Instrumen, merupakan alat yang dapat mengumpulkan data.
Mesin inferensial (Inference engine) merupakan program utama dari SPK
yang mengendalikan keseluruhan system, mulai dari menangkap informasi,
mengkonsultasikannya dengan knowledge base dan memberikan hasil
interpretasinya kepada pengguna.
Antar muka (User interface) adalah tampilan program komputer, yang
memungkinkan pengguna berkonsultasi untuk memasukkan data, memilih
menu hingga mendapatkan hasil baik berupa teks, grafis, sinyal, simbol
dan bentuk interaktivitas lainnya. Interaktivitas dapat bersifat aktif,
otomatis maupun pasif.

Untuk menggambarkan hubungan berbagai komponen yang membangun Sistem


Pendukung Keputusan (SPK) atau Decision Support System (DSS) dapat
digambarkan secara global seperti pada gambar dibawah ini:
Gambar 1.
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) secara Global. (Sutabri 2005)
Financial

Data
Ekstern
al Data
Internal
Data

Forecasti
E
x
t
r
a
c
t
i
o
n

DSS
Databa

DSS
Model

Simulatio
n
Strategic
model
Time
Charter
analysis

Ersonal
Data

Database
Manageme
nt System

Modelbase
managem
ent

Dialog
Dialog Generation and
management

User
5. Kajian Aplikasi Sistem Pendukung keputusan (SPK) Untuk

Meningkatkan Kualitas Pelayanan Keperawatan.


Fortier (2003) dalam lingkungan keperawatan saat ini, perawat harus
bekerja lebih cepat dan lebih cerdas membuat keputusan yang kompleks setiap
saat secara terus menerus. Berbasis pengetahuan, bukti dan pedoman/standar,
yang dapat mendukung keputusan perawatan klinis. Teknologi pendukung
keputusan akan menyediakan waktu nyata untuk beberapa kasus dan keputusan
yang diambil didasarkan pada karakteristik klinis praktek asuhan keperawatan.
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang dikembangkan dalam pelayanan
keperawatan tidak hanya berfokus pada tatanan manajer, hal ini dikarenakan
perawat selalu berinteraksi dengan manusia dalam hal ini pasien, selalu
dihadapkan dengan berbagai tantangan yang berhubungan dengan kualitas hidup
dari seorang manusia, sehingga tindakan pengambilan keputusan berdasarkan
bukti dan pengetahuan akan dialami oleh semua perawat dalam berbagai tatanan
pelayanan keperawatan klinis (Caeli, Kate et al, 2003).
Sistem pendukung keputusan (SPK) akan membantu Perawat untuk
mempertimbangkan berbagai penjelasan alternatif, menentukan kebutuhan data
tambahan, menemukan, mengidentifikasi dan memeriksa kasus pasien terkait data
diagnostik tambahan atau memverifikasi kesesuaian strategi yang dipilih.
Pengembangan menyeluruh sistem pendukung keputusan akan memiliki kapasitas
untuk meningkatkan kualitas keputusan dalam pelayanan keperawatan secara
berkesinambungan berdasarkan data dan pengetahuan. Hasil dari Penerapan SPK
ini adanya dukungan riil terhadap keputusan pelayanan keperawatan yang tepat
waktu mengurangi bisa dalam keputusan dan meningkatkan kesehatan pasien.

Salah satu bentuk aplikasi Sistem Pendukung Keputusan dalam pelayanan


keperawatan adalah pengembangan SPK yang ditujukan pada perawat baru
(pemula).
Perawat baru merupakan fenomena sumber daya manusia yang membutuhkan
perhatian khusus di rumah sakit dalam memasuki tatanan pelayanan keperawatan
klinis. Sebagian besar perawat baru belum memiliki pengalaman klinik memadai
yang dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam praktik klinis
keperawatan, bahkan masih memerlukan bimbingan berupa kegiatan orientasi.
Fortier, et al (2004) menguraikan bahwa perawat baru (pemula) dengan
variasi ketrampilan dan pengetahuannya, memiliki tanggung jawab terdepan untuk
mampu mengidentifikasi berbagi gejala (symptom) pasien, memonitor terjadinya
komplikasi serta mengantisipasi langkah-langkah pencegahan. Keadaan ini akan
menjadi sulit bila para perawat pemula tidak difasilitasi dengan kemudahan untuk
mengakses informasi, karena dengan hanya memanfaatkan pencatatan manual
yang seringkali tidak ter up grade dengan ilmu pengetahuan yang baru,
pengambilan keputusan yang cepat dan tepat sulit terlaksana dan tingkat
ketergantungan para perawat baru pada perawat yang lebih specialist akan lebih
besar.
Berdasarkan keadaan ini, dirancang suatu system pendukung keputusan
yang disebut NCODES (Nursing Computer Decision Support System) bagi
perawat baru (pemula) untuk menunjang bagaimana perawat pemula mengambil
keputusan dan mengembangkan ketrampilan penalaran klinisnya.
Langkah awal yang dilakukan dalam perancangan NCODES ini adalah
mengembangkan kerangka kerja/fikir (framework). Kerangka fikir yang dibuat
terdiri dari dua model yaitu model pengambilan keputusan klinis yang didasarkan
pada teori proses pengolahan informasi dan model baru pengembangan penalaran
klinis seorang perawat pemula (baru), dikenal dengan The Novice Clinical
Reasoning Model (NCRM) perpaduan antara teori dan research thinking.
Kerangka fikir NCRM dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Gambar 2.
Novice Clinical Reasoning Model (NCRM). Fortier et al (2004).

NCRM menjelaskan proses dimana didalam memasuki pekerjaannya, para


perawat baru/pemula harus beradaptasi dengan berbagai kondisi, dalam konteks
mereka masih memiliki keterbatasan baik pengetahuan maupun praktik yang
harus dikembangkan. Seiring berjalannya waktu, dengan pengalaman praktek
berulang, perawat baru/pemula akan dapat mengembangkan pola piker sistem
yang kompleks, terorganisisr membentuk suatu pola pemikiran klinis, memiliki
dasar kerja berbasis pengetahuan. Model NCRM berusaha menangkap keadaan ini
dengan mengembangan system pendukung keputusan yang mempertimbangkan
berbagai faktor dilapangan dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan, kegiatan ini
juga harus melibatkan para pembimbing lapangan yang berpengalaman dan juga
kepemimpinan yang suportif terhadap perubahan.
Berbagai pertimbangan pengetahuan, maka dimodifikasi pengetahuan
dasar yang fundamental dalam ilmu keperawatan dengan aplikasi langsung untuk
pengambilan keputusan berbasis komputerisasi bagi perawat pemula yang
didasarkan pola pemikiran induktif dalam pengembangan logaritma untuk
membentuk suatu pohon keputusan. Dengan teknologi ini berbagai laporan terkait
praktik klinis perawat dapat disajikan dalam bentuk rangkuman yang
dipresentasikan dalam bentuk pohon keputusan maupun grafik tiga dimensi
sehingga memudahkan penganalisaan. Konsep operasional dari NCODES ini
dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Feed
Back

Decision
Tree

Ke

Proces
Rules

Inferenc
e Engine

Data
Rules

Expert/Knowledge
Sources

Knowledge acquisition
and representation

Handheld
Device
with

Knowledge
Utilisation Proces

Dari gambar diatas, secara garis besar dapat dijelaskan bahwa komponen
utama DSS pada system ini adalah informasi yang dapat diperoleh secara langsung
oleh perawat baru dirancang melalui selluler, dimodifikasi oleh server yang ada
yang merupakan pusat pengumpulan data. Dengan perangkat praktis yang bersifat
link real time ini, diharapkan perawat pemula dapat mengumpulkan dan
memproses informasi berkaitan dengan ketrampilan klinis untuk melakukan suatu
tindakan keperawatan sesuai dengan status pasien. SPK NCRM

ini

memungkinkan perawat baru mendownload satu set informasi terkait keadaan


pasien, merangsang perawat bar u terus mengikuti perkembangan pengetahuan
serta aplikasi nyata dari tindakan keperawatan yang berbasis data sesuai dengan
fakta dan penilaian yang tepat.
Berbagai pengembangan Sistem Pendukung Keputusan (SPK) hendaknya
terus dilakukan, beberapa hal penting terkait dengan pengembangan SPK ini untuk
meningkatkan kualitas pelayanan juga dapat dirasakan manfaatnya dalam
meningkatkan keselamatan pasien yaitu mencegah terjadinya Adverse event,
memberikan respon cepat setelah terjadinya adverse event, melacak dan
menyediakan umpan balik secara cepat dengan keputusan yang berdasarkan data,
bukti serta analisa yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan.

6. Tantangan Pengembangan SPK Dalam Pelayanan Keperawatan.

Sistem Informasi Pendukung Keputusan (SPK) bukanlah sistem informasi


keseluruhan, karena tidak semua informasi terkait pelayanan keperawatan dapat
dimasukkan

secara

lengkap

ke

dalam

sebuah

sistem

yang

otomatis.

Pengambangan sistem informasi kearah Sistem pendukung keputusan berbasis


komputer ini memerlukan sejumlah orang yang berketrampilan tinggi dan
berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari para manajer.
Banyak organisasi yang gagal membangun sistem informatika karena
kurangnya pengorganisasian, kurangnya perencanaan yang memadai, kurang
personil yang handal serta kurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk
keikutsertaan para manajer dalam merancang sistem, mengendalikan upaya
pengembangan sistem dan memotivasi seluruh personil yang terlibat.
Selain itu, kendala dihadapi adalah financial, cultural dan ketiadaan standar,
pengembangan SPK membutuhkan investasi financial yang tidak sedikit, disisi
lain banyak rumah sakit yang menganggap teknologi informasi hanya sebagai
komoditas, bukan sebagai sumber daya yang strategis. Tantangan utama
pengembangan SPK dalam pelayanan keperawatan adalah bagaimana para
pengambil keputusan dapat menterjemahkan komitmen dan kebijakan untuk
mengintegrasikan sistem informasi keperawatan ke dalam rencana strategis serta
mengembangkan infrastruktur yang mendukung upaya peningkatan kualitas
pelayanan keperawatan melalui Sistem pendukung keputusan.
7. Kesimpulan

Sistem pendukung Keputusan merupakan sistem informasi yang dirancang


bukan untuk menyelesaikan suatu permasalahan, tapi digunakan untuk menunjang
pembuatan suatu keputusan oleh kepala divisi maupun manajer dibawahnya.
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) yang dikembangkan dalam pelayanan
keperawatan tidak hanya berfokus pada tatanan manajer, hal ini dikarenakan
perawat selalu berinteraksi dengan manusia, yaitu pasien, selalu dihadapkan
dengan berbagai tantangan yang berhubungan dengan kualitas hidup dari seorang
manusia, sehingga tindakan pengambilan keputusan berdasarkan bukti dan
pengetahuan akan dialami oleh semua perawat dalam berbagai tatanan pelayanan
keperawatan klinis.
8. Saran

Rumah sakit harus menerjemahkan Pengembangan informatika


keperawatan kedalam rencana strategis pengembangan sistem informasi rumah
sakit. Dimulai dari pembentukan tim sistem informasi rumah sakit secara umum,
pengembangan infra struktur (mulai dari database pasien elektronik, work station)
sampai pelatihan kepada staf (medis maupun keperawatan dan non medis), serta
menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Organisasi perlu menyadari apabila
mereka cukup realistis dalam keinginan untuk mengembangkan sistem informasi,
cermat dalam merancang dan menerapkannya sesuai keinginan serta wajar dalam
menentukan batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka sistem
informasi yang dihasilkan akan memberikan keuntungan. Begitu pula dengan
pelayanan kesehatan di rumah sakit, khususnya pelayanan keperawatan, marilah
bersama-sama mulai mengembangkan sistem informasi untuk meningkatkan
kualitas pelayanan.
*Mahasiswa Magister Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan FIK-UI Tahun 2010

Daftar Pustaka

Bakken, et al (2008). Integrating Evidence Into Clinical Information Systems for


Nursing Decision Support. International journal of medical information.
Diambil pada 30 Oktober 2010 dari
http://courses.mbl.edu/mi/2008/pubs/Bakken_IJMI.pdf
Barton (2008). Decision Support and The Clinical Nurse Specialist. Diambil
pada30 Oktober 2010 dari
http://www.nursingcenter.com/library/JournalArticle.asp?
Article_ID=834917
Caelli, et al (2003). Toward a Decision Support System for Health Promotion In
Nursing. Diambil pada 31 Oktober 2010 dari
http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1046/j.1365-2648.2003.02691.x/full
Daly,J. et al (2010). Contexts of Nursing : an introduction . Australia : churchill
livingstones . Diambil pada 30 Oktober 2010 dari

http://books.google.co.id/books?
id=2nArRTKt7SoC&pg=PA340&lpg=PA340&dq=journal+of+
developing+decision+support+system+%28DSS
%29+in+nursing&source=bl&ots=yBqg0xY1Px&sig=jtQ7on
n8gy1rARMI5A2yg0sObZw&hl=id&ei=oD_NTNnGL8e2cdCGjJ
sO&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CBI
Q6AEwADgK#v=onepage&q&f=false

Fortier, S. et al (2003). Development of a Hand-held Real-time Decision Support


Aid for Critical Care Nursing," Hawaii International Conference on System
Sciences, Diambil pada 30 Oktober 2010 dari
http://www.computer.org/portal/web/csdl/doi/10.1109/HICSS.2003.1174355.
Fortier. P. et al (2004). Hand Held Remote Decision Support aid for The Novice
Nurse. Diambil pada 1 Nopember 2010 dari
http://www.ece.umassd.edu/faculty/hmichel/publications/IADISehealth_4_2
7_2004.pdf
Fortier. P. et al (2005). A Computerized Decision Support Aid for Critical Novice
Nursing. Diambil pada 1 Nopember 2010 dari
http://www.computer.org/portal/web/csdl/doi/10.1109/HICSS.2005.6
Gillies. (1996). Manajemen Keperawatan;Suatu Pendekatan Sistem. Edisi Kedua.
Editor: Sudiyono,Y. Untuk kalangan terbatas.
Huber, D. (2006). Leadership and Nursing Care Management. Third Edition.
Philadelphia: W.B.Saunders Company.
Kuwamoto, et al (2004). Systematic Review of Decision Support Systems. Diambil
pada 1 Nopember 2010 dari
http://www.informaticsnurse.com/forums/nursing-nursing-informaticsnews/2560-rod-ward-systematic-review-decision-support-systems.html
McConnell. (2000). Get The Right Information to The Right People at The Right
Time. Diambil pada 31 oktober 2010 dari
http://proquest.umi.com/pqdweb?
index=91&did=65543579&SrchMode=1&sid=4&Fmt=6&VInst=PROD&V
Type=PQD&RQT=309&VName=PQD&TS=1288523475&clientId=45625
Murphy (2008). Decision Support For Nurses. Diambil pada 30 oktober 2010 dari
http://proquest.umi.com/pqdweb?
index=29&did=1594754901&SrchMode=1&sid=2&Fmt=6&VInst=PROD&
VType=PQD&RQT=309&VName=PQD&TS=1288522745&clientId=4562
5
Olson. (2009). Are Great Leaders Born, or Are They Made? Diambil pada 10
oktober 2010 dari

http://proquest.umi.com/pqdweb?
index=2&did=1986261551&SrchMode=1&sid=9&Fmt=6&VInst=PROD&
VType=PQD&RQT=309&VName=PQD&TS=1271561725&clientId=4562
5
Ponedal and Turker (2002). Understanding Decision Support System. Journal of
Managed care Pharmacy-JMCP. Diambil pada 30 Oktober 2010 dari
http://www.medinitiatives.com/pdf/Understanding_Decision_Support_S
ystems.pdf
Praptianingsih, Sri ( 2006). Kedudukan Hukum Perawat Dalam Upaya pelayanan
Kesehatan di Rumah Sakit. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Raymond & Schell. (2010). Sistem Informasi Manajemen. Edisi ke-9. Jakarta :
Indeks.
Sutabri (2005). Sistem Informasi manajemen. Yogyakarta : Andi.
Swansburg (2000). Pengantar Manajemen Keperawatan untuk Perawat Klinis,
Jakarta: EGC Kedokteran.