Anda di halaman 1dari 24

HANDOUT HAK

PENGERTIAN HAK
Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan
pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas
HAK DARI SUDUT HUKUM
Hak mempunyai atau memberi kekuasaan tertentu untuk mengendalikan situasi,
misalnya seseorang mempunyai hak untuk masuk restoran dan membeli makanan yang
diinginkannya. Dalam hal ini jika ditinjau dari sudut hukum, orang yang bersangkutan
mempunyai kewajiban tertentu yang menyertainya yaitu orang tersebut diharuskan atau
diwajibkan untuk berperilaku sopan dan membayar makanan tersebut.
HAK DARI SUDUT PRIBADI
Hak dilihat dari sudut pribadi, yang telah disesuaikan dengan perkembangan etis antara lain
mengatur kehidupan seseorang berdasarkan konsep benar atau salah, baik atau buruk yang
ada di llingkungan tempat ia hidup dan tinggal dalam kurun waktu tertentu.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN KONSEP PRIBADI DARI
HAK- HAK SESEORANG
1.
2.
3.
4.

Hubungan sosial dengan keluarga, antar keluarga maupun dengan lingkungan


Pendidikan dari orang tua
Kebudayaan
Informasi yang diperoleh

PERANAN HAK
1.

Hak dapat digunakan sebagai pengekspreian kekuasab dalam konflik antara seseorang
dengan kelompok
Contoh: seorang dokter mengatakan pada perawat bahwa ia mempunyai hak untuk
menginstruksikan pengobatan yang ia inginkan untuk kliennya. Disini terlihat bahwa dokter
tersebut mengekspresikan kekuasaanya untuk menginstruksikan pengobatan kepada klien.
Hal ini merupakan haknua selaku penanggung jawab medis.
1.
Hak dapat digunakan untuk memberikan pembenaran pada suatu tindakan
Contoh: seorang perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatannya, mendapat kritikan
kerena terlalu lama menghabiskan waktunya bersama klien. Perawat tersebut dapat
mengatakan bahwa ia mempunyai hak untuk memberikan asuhan keperawatan yang terbaik
untuk klien sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. Dalam hal ini, perawat tersebut

mempunyai hak melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien/
klien.
1.
Hak dapat digunakan untuk menyelesaikan perselisihan
Seseorang seringkali dapat menyelesaikan perselisihan dengan menuntut hak yang juga dapat
diakui oleh orang lain.
Contoh: seorang perawat menyarankan kepada pasien agar tidak keluar ruangan selama
hospitalisasi. Pada situasi tersebut, klien marah karena tidak setuju dengan saran perawat dan
klien tersebut mengatakan pada perawat bahwa ia juga punya hak untuk keluar dari ruangan
bilamana ia mau.
Dalam hal ini, perawat dapat menerima tindakan pasien sepanjang tidak merugikan kesehatan
pasien. Bila tidak tercapai kesepakatan karena membatasi pasien, berarti ia mengingkari
kebebasan pasien.

JENIS- JENIS HAK


Hak terdiri dari 3 jenis yaitu hak kebebasan, hak kesejahteraan dan legislatif
1.
Hak kebebasan
Hak mengenai kebebasan diekspresikan sebagai hak- hak orang untuk hidup sesuai dengan
pilihannya dalam batas- batas yang ditentukan. Misalnya seorang perawat wanita yang
bekerja di suatu rumah sakit dapat memakai seragam yang diinginkan (haknya) asalkan
berwarna putih bersih dan sopan sesuai dengan batas- batas. Dalam contoh tersebut terdapat
dua hal penting yaitu sebagai berikut:
1.
Batas- batas kesopanan tersebut merupakan kebijakan rumah sakit
2.
Warna putih dan sopan merupakan norma yang diterapkan untuk perawat
3.
Hak kesejahteraan
Hak yang diberikan secara hukum untuk hal- hal yang merupakan standart keselamatan
spesifik dalam suatu bangunan atau wilayah tertentu. Misalnya hak pasien untuk memperoleh
asuhan keperawatan, hak penduduk untuk memperoleh air yang bersih, dll.
1.
Hak legislatif
Hak legislatif diterapkan oleh hukum berdasarkan konsep keadilan. Misalnya seorang wanita
mempunyai hak legal untuk tidak diperlakukan semena- mena oleh suaminya. Hak legislatif
mempunyai empat peranan di masyarakat yaitu membuat perarturan, mengubah perarturan,
membatasi moral terhadap perarturan yang tidak adil, memberikan keputusan pengadilan atau
menyelesaikan perselisihan.

Hak- hak kelompok khusus


Kelompok khusus adalah:
1.
Individu dengan cacat fisik dan mental
2.
Individu yang akan meninggal
3.
Individu dengan retardasi mental, dengan IQ kurang dari normal (100), debil (74-99),
imbisil (50-75) dan idiot (<50)
4.
Wanita hamil
5.
Individu lansia
6.
Anak- anak
HAK DAN KEWAJIBAN MENURUT UU RI
Hak- hak individu dengan cacat fisik dan mental
1.

Hak mendapat penghargaan dan martabat sebagai manusia sehingga dapat menikmati
kehidupan sepenuhnya dan sebaik mungkin.
2.
Hak sebagai penduduk dan berpolitik sesuai kemauan dan kemampuannya
3.
Hak atas tindakan yang telah diterapkan agar mereka dapat percaya diri
4.
Hak memperoleh tindakan atau pengobatan medis, psikologis, fungsional
(penggunaan alat bantu) seperti protesa, rehabilitasi, sosial, pendidikan, dsb, yang
memungkinkan dikembangkannya kemampuan dan atau ketrampilan secara maksimal
agar dapat mempercepat proses integrasi dan reintegrasi sosial
5.
Hak memperoleh kesejahteraan sosial dan ekonomi pada tingkat kehidupan yang
layak (sesuai dengan kemampuannya untuk mendapatkan pekerjaan)
6.
Hak mendapatkan kebutuhan spesifik dan harus dipertimbangkan dalam semua
tingkat perencanaan baik sosial atau ekonomi
7.
Hak untuk tinggal bersama keluarga atau orag tua angkat dan berpartisipasi dalam
kegiatan sosial, kreatif atau rekreasi
8.
Hak mendapatkan perlindungan terhadap hal- hal yang menyangkut diskriminasi atau
tindakan kejam dari pihak lain
9.
Mereka harus mampu menggunakan kesempatan dan memanfaatkan batuan hukum
apabila bantuan tersebut diperlukan untuk pribadi atau mempertahankan hak- hak yang
dimiliki
10. Organisasi orang cacat dapat berkonsultasi kepada instansi atau lembaga terkakit
mengenai hal- hal yang menyangkut hak- hak mereka
11. Orang- orang dengan kecacatan, keluarga dan masyarakat harus diberikan informasi
tentang hak- hak mereka
HAK- HAK INDIVIDU YANG AKAN MENINGGAL
1.

Hak diperlakukan sebagaimana manusia yang hidup sampai ajal tiba

2.
3.

Hak mempertahankan harapannya tidak peduli apapun perubahan yang terjadi


Hak mendapatkan perawatan yang dapat mempertahankan harapannya apapun
perubahan yang terjadi
4.
Hak mengekspresikan perasaan dan emosinya sehubungan dengan kematian yang
sedang dihadapinya.
5.
Hak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan perawatannya
6.
Hak memperoleh perhatian dalam pengobatan dan perawatan secara
berkesinambungan, walaupun tujuan penyembuhannya harus diubah menjadi tujuan
memberikan rasa nyaman
7.
Hak untuk meninggal dalam kesendirian
8.
Hak untuk bebas dari rasa sakit
9.
Hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaanya secara jujur
10. Hak untuk memperoleh bantuan dari perawat atau medis untuk keluarga yang
ditinggalkan agar dapat menerima kematiannya
11. Hak untuk meninggal dalam damai dan bermartabat
12. Hak untuk tetap dalam kepercayaan atau agamanya dan tidak diambil keputusan yang
bertentangan dengan kepercayaan yang dianutnya
13. Hak untuk mengharapkan bahwa kesucian raga manusia akan dihormati setelah yang
bersangkut meninggal
14. Hak untuk memperdalam dan meningkatkan kepercayaannya, apapun artinya bagi
orang lain
15. Hak untuk mendapatkan perawatan dari orang yang profesional, yang dapat mengerti
kebutuhan dan kepuasan dalam menghadapi kematian.
HAK- HAK INDIVIDU DENGAN RETARDASI MENTAL
1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.

Hak menunjukan tingkat maksimum dari kemampuannya yang sama dengan orang
lain
Hak memperoleh asuhan medis, fisioterapi, pendidikan, latihan, rehabilitasi serta
bimbingan yang tepat yang sesuai dengan kemampuan dan potensial yang maksimal
Hak memperoleh standart hidup yang layak dan keamanan dalam hal ekonomi dan
berhak melakukan pekerjaan yang produktif sesuai dengan kemampuannya.
Hak untuk tinggal bersama keluarga atau orang tua angkat dan berpartisipasi dalam
berbagai bentuk kehidupan dalam masyarakat secara layak, bila mungkin
Hak atas penjagaan apabila diperlukan untuk melindungi diri dan kepentingannya
Hak mendapatkan perlindungan atas tindakan kekerasan, apabila dituntut atas suatu
pelanggaran, ia berhak mendapatkan pertimbangan hukum dan pengakuan penuh
terhadap tanggung jawab mentalnya.
Apabila mereka tidak mempunyai kemampuan karena keadaan cacatnya yang berat,
mereka dapat dilatih untuk memahami hak mereka melalui prosedur yang berlaku yang
didasarkan pada evaluasi seorang ahli.

8.

Hak memperoleh perawatan, bila diperlukan, dari orang yang berpengetahuan dan
mengerti akan kebutuhannya serta dapat membantu dalam menghadapi kesulitan
memperoleh pengakuan terhadap dirinya.

HAK- HAK WANITA HAMIL


1.

Wanita hamil berhak memperoleh informasi tentang obat yang diberikan kepadanya
dan pelaksanaan prosedur oleh petugas kesehatan yang merawatnya, terutama yang
berkaitan dengan efek- efek yang mungkin terjadi secara langsung maupun tidak
langsung, resiko bahaya yang mungkin terjadi secara langsung maupun tidak langsung,
resiko bahaya yang mungkin terjadi pada diri atau bayinya selama masa kehamilan,
melahirkan dan laktasi.
2.
Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang hal- hal yang menyangkut
persiapan kelahiran dan cara- cara mengatasi ketidaknyamanan dan stress serta
informasi sedini mungkin tentang kehamilan.
3.
Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang obat- obatan yang
diberikan kepadanya serta pengaruhnya secara langsung maupun tidak langsung
terhadap bayi yang dikandungnya.
4.
Wanita hamil yang akan dioperasi cesar, sebaiknya diberi premedikasi sebelum
operasi
5.
Wanita hamil berhak untuk memperoleh informasi pengaruh terhadap fisik, mental,
maupun neurologis terhadap pertumbuhan bayinya.
6.
Wanita hamil berhak untuk mengetahui nama obat dan nama pabriknya, bila
diperlukan, sehingga dapat memberikab keterangan kepada petugas yang profesional
bila terjadi reaksi terhadap obat tersebut.
7.
Waita hamil berhak untuk membuat keputusan tentang diterima atau ditolaknya suatu
terapi yang dianjurkan setelah mengetahui kemungkinan resiko yang akan terjadi pada
dirinya, tanpa tekanan dari pihak lain.
8.
Wanita hamil berhak untuk mengetahui nama dan kualifikasi orang yang memberikan
obat atau melakukan prosedur selama melahirkan
9.
Wanita hamil berhak untuk memperoleh informasi tentang keuntungan suatu prosedur
bagi bayi dan dirinya sesuai indikasi medis
10. Wanita hamil berhak untuk didampingi oleh orang yang merawatnya selama dalam
stress persalinan
11. Setelah melakukan konsultasi medis, wanita hamil berhak untuk memilih posisi
melahirkan yang tidak menimbulkan stress bagi diri sendiri maupun dirinya
12. Wanita hamil berhak untuk meminta agar perawatan bayinya dilakukan satu kamar
dengannya, bila bayinya normal dan dapat memberi minum bayinya sesuai kebutuhan
dan bukan menurut aturan rumah sakit.
13. Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang orang yang menolong
persalinannya serta kualifikasi profesionalnya untuk kepentingan surat keterangan
kelahiran

14.

Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang kondisi diri sendiri dan
bayinya yang dapat menimbulkan masalah atau penyakitnya di kemudian hari.
15. Wanita hamil berhak atas dokumen lengkap tentang diri dan bayinya termasuk catatan
perawat yang disimpan dalam kurun waktu tertentu.
16. Wanita hamil berhak untuk menggunakan dokumen medis lengkap, termasuk catatan
perawat dan bukti pembayaran selama dirawat di rumah sakit
HAK INDIVIDU LANSIA
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hak untuk diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai harga diri dan martabat
Hak menikmati kehidupan pada masa tua, tanpa tekanan
Hak mendapatkan perlindungan dari keluarga dan instansi yang berwenang
Hak mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal
Hak untuk tinggal di lingkungan kerja atau panti, bila ia menginginkannya
Hak memperoleh pendidikan yang dibutuhkannya untuk menghabiskan sisa hidupnya,
misalnya pendidikan agama dan sebagainya
7.
Hak berekreasi dan mengatur hobinya, bila diinginkan
8.
Hak untuk dihargai dan menghargai dirinya dan orang lain
9.
Hak menerima kasih sayang dari anak, keluarga dan masyarakat
HAK ANAK
UU RI no 23 tahun 1992 tentang kesehatan, BAB V Upaya Kesehatan pasal 7 ayat 1
dan 2 :
Ayat 1: kesehatan anak diselenggarakan untuk mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan
anak
Ayat 2: kesehatan anak dilakukan melakukan peningkatan kesehatan anak dalam kandungan,
masa bayi, usia pra sekolah dan usia sekolah
hak-hak dalam etika profesi
BAB I
PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG

Praktek keperawatan sebagai suatu pelayanan profesional diberikan berdasarkan ilmu


pengetahuan, menggunakan metodologi keperawatan dan dilandasi kode etik keperawatan.
Kode etik keperawatan mengatur hubungan antara perawat dan pasien, perawat terhadap
petugas, perawat terhadap sesama anggota tim kesehatan, perawat terhadap profesi dan
perawat terhadap pemerintah, bangsa dan tanah air.

Pada hakikatnya keperawatan sebagai profesi senantiasa mangabdi kepada kemanusiaan,


mendahulukan kepentingan masyarakat diatas kepentingan pribadi, bentuk pelayanannya
bersifat humanistik, menggunakan pendekatan secara holistik, dilaksanakan berdasarkan pada
ilmu dan kiat keperawatan serta menggunakan kode etik sebagai tuntutan utama dalam
melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan. Dengan memahami konsep etik, setiap
perawat akan memperoleh arahan dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang merupakan
tanggung jawab moralnya dan tidak akan membuat keputusan secara sembarangan.
Norma-norma dalam etika kesehatan dibentuk oleh kelompok profesi tenaga kesehatan itu
sendiri, yang bila dihimpun (dikodifikasikan) sering disebut sebagai kode etik. Kode etik
keperawatan merupakan suatu pernyataan komprehensif dari profesi yang memberikan
tuntunan bagi anggotanya dalam melaksanakan praktek keperawatan, baik yang berhubungan
dengan pasien, masyarakat, teman sejawat dan diri sendiri. Dengan kata lain pengertian kode
etik perawat yaitu suatu pernyataan / keyakinan publik yang mengungkapkan kepedulian
moral, nilai dan tujuan keperawatan, yang bertujuan untuk memberikan alasan terhadap
keputusan-keputusan etika. Kode etik diorganisasikan dalam nilai moral yang
merupakan pusat bagi praktik keperawatan yang etika, semuanya bermuara dalam
hubungan profesional perawat dengan klien dan menunjukan apa yang diperdulikan perawat
dalam hubungan tersebut.

B.

TUJUAN PENULISAN

Makalah ini ditulis dengan tujuan agar tenaga kesehatan dalam hal ini perawat khususnya
mahasiswa AKPER Fatima dapat mengetahui dan memahami hak-haknya sebagai tenaga
kesehatan dan juga hak-hak dari pasien sehingga dalam memberikan asuhan keperawatan
semuanya dapat berjalan lancer dan memperoleh hasil seperti yang diharapkan.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

PENGERTIAN

Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan sesuai dengan
keadilan, moralitas, dan legalitas.
v Hak menurut C. Fagin (1975)
Hak merupakan tuntutan terhadap sesuatu, di mana seseorang mempunyai hak terhadapnya,
seperti kekuasaan dan hak-hak istimewah yang berupa tuntutan yang berdasarkan keadilan,
moralitas, atau legalitas.
Hak dapat dipandang dari sudut hokum dan pribadi.
a)

Hak dari sudut hukum

Hak mempunyai atau memberi kekuasaan tertentu untuk mengendalikan situasi, misalnya
seseorang mempunyai hak untuk masuk restoran dan membeli makanan yang diinginkannya.
Dalam hal ini, jika ditinjau dari sudut hukum, orang yang bersangkutan mempunyai
keewajiban tertentu yang menyertainya yaitu orang tersebut diharuskan atau diwajibkan
untuk berperilaku sopan dan membayar makanan tersebut (Fromer, 1981).
b)

Hak dari sudut pribadi

Dilihat dari sudut pribadi, yang telah disesuaikan dengan perkembangan etis, antara lain
mengatur kehidupan seseorang berdasarkan konsep benar atau salah, baik atau buruk yang
ada di lingkungan tempat ia hidup dan tinggal dalam kurun waktu tertentu.

Factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep pribadi dari hak-hak seseorang:


v Hubungan social dengan keluarga, antar keluarga, maupun dengan lingkungan.
v Pendidikan dari orangtua
v Kebudayaan
v Informasi yang diperoleh
B.

HAK-HAK ASASI MANUSIA

Hak-hak asasi manusia mengacu pada hak-hak istimewah atau hak-hak asasi setiap orang.
Misalnya, seseorang dapat mengekspresikan rasa iba, simpati, dan pemikiran-pemikirannya
(Fagin, 1957).
Hak asasi manusia (HAM) adalah hak untuk dapat mengekspresikan dirinya secara bebas
agar dapat berkembang dengan layak untuk tumbuh, menerima upah atas pekerjaan yang
dilakukannya secara bertanggungjawab.
Peranan Hak-hak
1.
Hak dapat digunakan sebagai pengekspresian kekuasaan dalam konflik antara
seseorang dengan kelompok.
2.

Hak dapat digunakan untuk memberikan pembenaran pada suatu tindakan.

3.
Hak dapat digunakan untuk menyelesaikan perselisihan. Seseorang seringkali dapat
menyelesaikan suatu perselisihan dengan menuntut hak yang juga dapat diakui oleh orang
lain.
C.

JENIS-JENIS HAK

Hak terdiri dari tiga jenis, yaitu hak kebebasan, hak kesejahteraan, dan hak legislative.
1)

Hak kebebasan

Hak mengenai kebebasan diekspresikan sebagai hak orang-orang untuk hidup sesuai dengan
pilihannya dalam batas-batas yang ditentukan (Former, 1981). Misalnya, seorang perawat
wanita bekerja di suatu rumah sakit, dapat memakai seragam yang dia inginkan (haknya)
asalkan berwarna putih bersih dan sopan sesuai dengan btas-batas. Dalam contoh tersebut
terdapat dua hal penting, yaitu sebagai berikut.
a.

Batas-batas kesopanan tersebut merupakan kebijakan rumah sakit.

b.

Warna putih dan sopan merupakan norma yang diterapkan untuk perawat.

2)

Hak-hak kesejahtraan

Hak-hak yang diberikan secara hukum untuk hal-hal yang merupakan standar keselamatan
spesifik dalam suatu bangunan atau wilayah tertentu. Misalnya, hak pasien untuk
memperoleh asuhan keperawatan, hak penduduk untuk memperoleh air yang bersih, dan lainlain.
3)

Hak-hak Legislatif

Hak-hak legislatif diterapkan oleh hukum berdasarkan konsep keadilan. Misalnya, seorang
wanita mempunyai hak legal untuk tidak diperlakukan semena-mena oleh suaminya. Badman
dan Badman (1986), menyatakan bahwa hak-hak legislatif mempunyai empat peranan di
masyarakat, yaitu membuat peraturan, mengubah peraturan, membatasi moral terhadap
peraturan yang tidak adil, memberikan keputusan pengadilan atau menyelesaikan
perselisihan.
D. LIMA SYARAT YANG MEMPENGARUHI PENENTUAN HAK-HAK
SESEORANG
Badman dan Badman (1985) menjelaskan lima syarat yang mempengaruhi penentuan hakhak seseorang, yaitu sebagai berikut.
a.
Kebebasan untuk menggunakan hak yang dipilih oleh seorang lain ,orang yang
bersangkutan tidak dapat disalahkan atau dihukum karena menggunakan atau tidak
menggunakan hak tersebut.
b.
Seseorangmempunyai tugas untuk memberikan kemudahan bagi orang lain untuk
menggunakan hak-haknya.
c.

Hak harus sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan

d.

Hak untuk dapat dilaksanakan.

e.
Apabila hak seseorang bersifat membahayakan ,maka hak tersebut dapat
dikesampingkan atau ditolak dan orang yang bersangkutan akan diberi kompensasi atau
pengganti.
E.

HAK- HAK PASIEN /KLIEN

Pentingnya mengetahui hak-hak pasien dalam pelaksanaan asuhan kesehatan baru muncul
pada akhir tahun 1960 . Tujuan dari hal tersebut adalah untuk meningkatkan mutu asuhan
kesehatan dan membuat system asuhan kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan klien .
Kebutuhan atas hak klien merupakan perluasan dari dua keadaan berikut ini
A.

Kerentanan klien terhadap penyakit

Kerentanan klien terhadap penyakit terjadi karena :


1. Pada waktu seorang sakit , ia sering tidak mampu menyatakan hak-haknya .

2. Untuk dapat menyatakan haknya, seorang memerlukan energi dan kesadaran akan hak
tersebut.
3. Seseorang yang lemah dan terikat oleh penyakit yang dideritanya mungkin tidak mampu
untuk menyatakan haknya.
4. Setiap orang/klien tidak selalu menyadari hak-hak mereka karena lingkungan kesehatan
yang tidak mereka kenal atau mereka ketahui.
5. Kebutuhan untuk merahasiakan informasi tentang kesehatan klien mungkin tidak ada dan
mungkin tidak pernah terpikirkan.
B.

Kompleksitas hubungan dalam tatanan asuhan keperawatan

Kompleksitas dan macam-macam hubungan asuhan kesehatan dapat meningkatkan


kebutuhan akan hak-hak pasien/klien
Dengan adanya bermacam-macam spesialisasi , dimana klien dibantu oleh bermacam-macam
profesi kesehatan , akan sering terjadi hilangnya kebutuhan atau prioritas untuk klien,dalam
hubungannya dengan komunikasi antar profesi kesehatan tersebut.
Pada pola asuhan keperawatn asuhan keperawatan kesehatan trdisional , pasien /klien
kehilangan rasa kemandirian dan pengendalian dirinya karena dalam hubungan antara pasien
dan pemberi asuhan yang masih bersifat tradisional tersebut , terdapat perbedaan yang
menyolok, dimana pemberi asuhan terikat sebagai suporerdinate yang berwenang dan
terhormat, sedangkan pasien atau klien seolah-olah tidak diberi kesempatan untuk
menentukan pilihan.
Pola baru tentang hubungan asuhan kesehatan muncul akibat beberapa kekuatan masyarakat,
antara lain :
Konsumen yang lebih berpengetahuan
Pengakuan dari gaya hidup orang sakit
Dewasa ini , tujuan asuhan kesehatan dan keperawatan adalah mengembalikan otonomi
dan kemandirian klien.
Menerima asuhan kesehatan atau keperawatan secara optimal
sebagai tanggung jawab bersama antara pemberi asuhan , klien dan masyarakat.
Untuk itu diperlukan suatu keadaan dimana klien menerima tanggung jawab secara aktif;
dank lien serta pemberian asuhan , saling percaya dan saling menghargai satu sama lain.
Hak- hak yang dinyatakan dalam fasilitas asuhan kesehatan ( Annas dan Healay, 1974 )
terdiri dari 4 kategori yaitu :
1.

Hak kebenaran secara menyeluruh

2.

Hak privasi dan martabat pribadi ( kerahasiaan dan keamanannya )

3.
Hak untuk memelihara pengambilan keputusan untuk diri sendiri, sehubungan dengan
kesehatan.
4.

Hak untuk memperoleh catatan medis, baik selama dan sesudah dirawat di rumah sakit.

Pernyataan Hak-Hak Pasien


Sedangkan pernyataan hak pasien (Patients Bill of Right) yang diterbitkan oleh The
American Hospital Association 1973, meliputi beberapa hal, yang dimaksudkan
memberikan upaya peningkatan hak pasien yang dirawat dan dapat menjelaskan kepada
pasien sebelum pasien dirawat.

Adapun hak-hak pasien, adalah sebagai berikut, pasien mempunyai hak:


1) Mempertahankan dan mempertimbangkan serta mendapatkan asuhan keperawatan
dengan penuh perhatian
2) Memperoleh informasi terbaru, lengkap mengenai diagnosa, pengobatan dan program
rehabilitasi dari tim medis, dan informasi seharusnya dibuat untuk orang yang tepat mewakili
pasien, karena pasien mempunyai hak untuk mengetahui dari yang bertanggung jawab dan
mengkoordinir asuhan keperawatannya.
3) Menerima informasi penting untuk memberikan persetujuan sebelum memulai sesuatu
prosedur atau pengobatan kecuali dalam keadaan darurat, mencakup beberapa hal penting,
yaitu; lamanya ketidakmampuan, alternatif-alternatif tindakan lain dan siapa yang akan
melakukan tindakan
4) Menolak pengobatan sejauh yang diijinkan hukum dan diinformasikan tentang
kosekwensi dari tindakan tersebut.
5) Setiap melakukan tindakan selalu mempertimbangkan privasinya termasuk asuhan
keperawatan, pengobatan, diskusi kasus, pemeriksaan dan tindakan, dan selalu dijaga
kerahasiaannya dan dilakukan dengan hati-hati, siapapun yang tidak terlibat langsung asuhan
keperawatan dan pengobatan pasien harus mendapatkan ijin dari pasien.
6) Mengharapkan bahwa semua komunikasi dan catatan mengenai asuhan keperawatan dan
pengobatannya harus diperlakukan secara rahasia.
7) Pasien mempunyai hak untuk mengerti bila diperlukan rujukan ke tempat lain yang
lebih lengkap dan memperoleh informasi yang lengkap tentang alasan rujukan tersebut, dan
Rumah Sakit yang ditunjuk dapat menerimannya.
8) Memperoleh informasi tentang hubungan Rumah Sakit dengan instansi lainnya, seperti
pendidikan dan atau instansi terkait lainnya sehubungan dengan asuhan yang diterimannya,
Contoh: hubungan individu yang merawatnya, nama perawat dan sebaginnya.

9) Diberikan penasehat/pendamping apabila Rumah Sakit mengajukan untuk terlibat atau


berperan dalam eksperimen manusiawi yang mempengaruhi asuhan atau pengobatannya.
Pasien mempunyai hak untuk menolak berpartisipasi dalam proyek riset/penelitian tersebut.
10) Mengharapkan asuhan berkelanjutan yang dapat diterima. Pasien mempunyai hak untuk
mengetahui lebih jauh waktu perjanjian dengan dokter yang ada. Pasien mempunyai hak
untuk mengharapkan Rumah Sakit menyediakan mekanisme sehingga ia mendapat informasi
dari dokter atau staff yang didelegasikan oleh dokter tentang kesehatan pasien selanjutnya.
11) Mengetahui peraturan dan ketentuan Rumah Sakit yang harus diikutinya sebagai pasien
12) Mengetahui peraturan dan ketentuan Rumah Sakit yang harus diikutinya.
Pernyataan di atas dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu:
1) Meningkatnya kesadaran para konsumen terhadap asuhan kesehatan dan lebih besarnya
partisipasi mereka dalam perencanaan asuhan.
2)

Meningkatnya jumlah malpraktik yang terjadi di masyarakat

3)

Adanya legislasi yang diterapkan untuk melindungi hak-hak asasi pasien

4) Konsumen menyadari tentang peningkatan jumlah pendidikan dalam bidang kesehatan


dan penggunaan klien sebagai objek atau tujuan pendidikan, dan bila pasien tidak
berpartisipasi apakah akan mempengaruhi mutu asuhan kesehatan atau tidak.
Kewajiban Pasien
Kewajiban adalah seperangkat tanggungjawab seseorang untuk melakukan sesuatu yang
memang harus dilakukan, agar dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan haknya.
Agar pelaksanaan asuhan kesehatan dan keperawatan dapat dilakukan semaksimal mungkin,
diperlukan suatu kewajiban sbb:
1) Pasien atau keluarga wajib menaati segala peraturan dan tata tertib yang ada di institusi
kesehatan dan keperawatan yang memberikan pelayanan kepadanya.
2) Pasien diwajibkan untuk mematuhi segala kebijakan yang ada, baik dari dokter maupun
perawat yang memberikan asuhan.
3) Pasien atau keluarga berkewajiban untuk memberikan informasi yang lengkap dan jujur
tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter atau perawat yang merawatnya.
4) Berkewajiban untuk menyelesaikan biaya pengobatan, perawatan, dan pemeriksaan
yang diperlukan selama perawatannya.
5) Berkewajiban untuk memenuhi segala sesuatu yang diperlukan sesuai dengan perjanjian
atau kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.
F.

HAK DAN KEWAJIBAN PERAWAT

Hak Perawat
a.
Mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan
profesinya
b.
Mengembangkan diri melalui kemampuan kompetensinya sesuai dengan latar
pendidikannya
c.
Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
serta standard an kode etik profesi
d.
Mendapatkan informasi lengkap dari pasien atau keluaregannya tentang keluhan
kesehatan dan ketidakpuasan terhadap pelayanan yang diberikan
e.
Mendapatkan ilmu pengetahuannya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam bidang keperawatan/kesehatan secara terus menerus.
f.

Diperlakukan secara adil dan jujur baik oleh institusi pelayanan maupun oleh pasien

g.
Mendapatkan jaminan perlindungan terhadap resiko kerja yang dapat menimbulkan
bahaya baik secara fisik maupun emosional
h.

Diikutsertakan dalam penyusunan dan penetapan kebijaksanaan pelayanan kesehatan.

i.
Privasi dan berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan oleh pasien dan atau
keluargannya serta tenaga kesehatan lainnya.
j.
Menolak dipindahkan ke tempat tugas lain, baik melalui anjuran maupun
pengumuman tertulis karena diperlukan, untuk melakukan tindakan yang bertentangan
dengan standar profesi atau kode etik keperawatan atau aturan perundang-undangan lainnya.
k.
Mendapatkan penghargaan dan imbalan yang layak atas jasa profesi yang diberikannya
berdasarkan perjanjian atau ketentuan yang berlaku di institusi pelayanan yang bersangkutan
l.

Memperoleh kesempatan mengembangkan karier sesuai dengan bidang profesinya.

Kewajiban Perawat
Disamping beberapa hak perawat yang telah diuraikan diatas, dalam mencapai keseimbangan
hak perawat maka perawat juga harus mempunyai kewajibannya sebagai bentuk tanggung
jawab kepada penerima praktek keperawatan. (Claire dan Fagin, 1975l,dalamFundamental of
nursing,Kozier 1991)
Kewajiban perawat, sebagai berikut:
a.

Mematuhi semua peraturan institusi yang bersangkutan

b.
Memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi dan
batas kemanfaatannya

c.

Menghormati hak pasien

d.
Merujuk pasien kepada perawat atau tenaga kesehatan lain yang mempunyai keahlihan
atau kemampuan yang lebih kompeten, bila yang bersangkutan tidak dapat mengatasinya.
e.
Memberikan kesempatan kepada pasien untuk berhubungan dengan keluarganya,
selama tidak bertentangan dengan peraturan atau standar profesi yang ada.
f.
Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan ibadahnya sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing selama tidak mengganggu pasien yang lainnya.
g.
Berkolaborasi dengan tenaga medis (dokter) atau tenaga kesehatan lainnya dalam
memberikan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada pasien
h.
Memberikan informasi yang akurat tentang tindakan keperawatan yang diberikan
kepada pasien dan atau keluargannya sesuai dengan batas kemampuaannya
i.

Mendokumentasikan asuhan keperawatan secara akurat dan berkesinambungan

j.
Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dn tehnologi keperawatan atau kesehatan
secara terus menerus
k.
Melakukan pelayanan darurat sebagai tugas kemanusiaan sesuai dengan batas
kewenangannya
l.
Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, kesuali jika dimintai
keterangan oleh pihak yang berwenang.
m. Memenuhi hal-hal yang telah disepakati atau perjanjian yang telah dibuat sebelumnya
terhadap institusi tempat bekerja.
G.

HAK-HAK KELOMPOK KHUSUS

Kelompok khusus adalah :

Individu dengan cacat fisik dan mental

Individu yang akan meninggal

Individu dengan retardasi mental, dengan IQ kurang dari normal (100), debil (74-99),
imbisil (50-75), dan idiot (<50)

Wanita hamil

Individu lansia

Anak-anak
I.

Hak-Hak Individu Dengan Cacat Fisik Dan Mental

Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang tidak mampu meyakinkan keberadaan
dirinya dalam kehidupan social atau perorangan secara normal. Hal ini terjadi karena adanya
kelemahan fisik maupun mental.
Hak-haknya antara lain;
1)
Mendapatkan penghargaan dan martabat sebagai manusia sehingga dapat menikmati
kehidupan sepenuhnya dan sebaik mungkin.
2)

Diakui sebagai penduduk dan berpolitik sesuai kemauan dan kemampuannya

3)

Berhak atas tindakan yang telah ditetapkan agar mereka dapat percaya diri.

4)
Memperoleh tindakan atau pengobatan medis, psikologis, fungsional (penggunaan alat
bantu) seperti prostesa, rehabilitasi, social, pendidikan, dan sebagainya, yang memungkinkan
dikembangkannya kemampuan dan keterampilan secara maksimal agar dapat mempercepat
proses integrasi dan reintegrasi social.
5)
Memperoleh kesejahteraan social dan ekonomi pada tingkat kehidupan yang layak
(sesuai dengan kemampuannya untuk mendapatkan pekerjaan).
6)
Mendapatkan kebutuhan spesifik dan harus dipertimbangkan dalam semua tingkat
perencanaan baik social atau ekonomi.
7)
Tinggal bersama orangtua angkat dan berpartisipasi dalam kegiatan social, kreatif, atau
rekreasi.
8)
Mendapatkan perlindungan terhadap hal-hal yang menyangkut diskriminasi atau
tindakan kejam dari pihak lain.
9)
Mereka harus mampu menggunakan kesempatan dan memanfaatkan bantuan hukum
apabila bantuan tersebut diperlukan untuk pribadi atau mempertahankan hak-hak yang
dimilikinya.
10) Organisasi orang cacat dapat berkonsultasi kepada instansi atau lembaga terkait
mengenai hal-hal yang menyangkut hak-hak mereka.
11) Orang-orang dengan kecacatan, keluarga dan masyarakat harus diberikan informasi
tentang hak-hak mereka.
II.

Hak-Hak Individu yang Akan Meninggal

1)

Diperlakukan sebagaimana manusia yang hidup sampai ajal tiba.

2)

Mempertahankan harapannya, tidak peduli apapun perubahan yang terjadi

3)
Mendapatkan perawatan yang dapat mempertahankan harapannya, apa pun perubahan
yang terjadi.

4)
Mengekspresikan emosi dan perasaannya sehubungan dengan kematian yang sedang
dihadapinya.
5)

Berpartisipasi dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan perawatannya.

6)
Memperoleh perhatian dalam pengobatan dan perawatan secara berkesinambungan,
walaupun tujuan penyembuhannya harus diubah menjadi tujuan memberikan rasa nyaman.
7)

Tidak meninggal dalam kesendirian.

8)

Bebas dari rasa sakit.

9)

Memperoleh jawaban atas pertanyaan secara jujur.

10) Memperoleh bantuan dari perawat atau medis untuk keluarga yang ditinggalkan agar
dapat menerima kematiannya.
11) Meninggal dalam damai dan bermartabat.
12) Tetap dalam kepercayaan atau agamanya dan tidak diambil keputusan yang bertentangan
dengan kepercayaan yang dianutnya.
13) Memperdalam dan meningkatkan kepercayaannya apapun artinya bagi orang lain.
14) Mengharapkan bahwa kesucian raga manusia akan dihormati setelah yang bersangkutan
meninggal.
15) Mendapatkan perawatan dari orang yang professional, yang dapat mengerti kebutuhan
dan kepuasan dalam menghadapi kematian.
III.

Hak-Hak Individu dengan Retardasi Mental

1) Hak menunjukkan tingkat maksimum dari kemampuannya yang sama dengan orang
lain.
2) Hak memperoleh asuhan medis , fisioterapi , pendidikan , latihan ,rehabilitasi ,serta
bimbingan yang tepat, yang sesuai dengan kemampuan dan potensinya yang maksimal.
3) Hak memperoleh standar hidup yang layak dan keamanan dalam hal ekonomi dan
berhak melakukan pekerjaan yang produktif sesuai dengan kemampuannya.
4) Hak untuk tinggal bersama keluarga atau orang tua angkat dan berpartisipasi dalam
berbagai bentuk kehidupan dalam masyarakat secara layak , bila mungkin.
5)

Hak atas penjagaan apabila diperlukan untuk melindungi diri dan kepentingannya.

6) Hak mendapatkan perlindungan atas tindakan kekerasan , apabila dituntut atas suatu
pelanggaran , ia berhak mendapatkan pertimbangan hukum dan pengakuan penuh terhadap
derajat tanggung jawab mentalnya.

7) Apabila mereka tidak mempunyai kemampuan karena keadaan cacatnya yang berat,
mereka dapat dilatih untuk memahami hak mereka melalui prosedur yang berlaku yang
didasarkan pada evaluasi seorang ahli.
8) Hak memperoleh perawatan ,bila diperlukan , dari orang yang berpengetahuan dan
mengerti akan kebutuhannya serta dapat membantu dalam menghadapi kesulitan memperoleh
pengakuan terhadap dirinya.
IV.

Hak- Hak Wanita Hamil

Hak-hak yang diimiliki wanita hamil adalah sebagai berikut :


1) Wanita hamil berhak memperoleh informasi tentang obat yang diberikan kepadanya dan
pelaksanaan prosedur oleh petugas kesehatan yang merawatnya .
2) Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang hal-hal yang menyangkut
persiapan kelahiran dan cara-cara mengatasi ketidaknyamanan dan stres serta informasi
sedini mungkin tentang kehamilan.
3) Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang obat-obatan yang diberikan
kepadanya serta pengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap bayi yang
dikandungnya.
4)

Wanita hamil yang akan dioperasi sesar , sebaiknya dibberi medikasi sebelum operasi

5) Wanita hamil berhak untuk memperoleh informasi tentang pengaruh terhadap fisik,
mental maupun neurologis terhadap pertumbuhan bayinya.
6)

Wanita hamil berhak untuk mengetahui nama obat dan nama pabriknya, bila diperlukan .

7) Wanita hamil berhak untuk membuat keputusan tentang diterima atau ditolaknya suatu
terapi yang dianjurkan setelah mengetaahui kemungkinan risiko yang akan terjadi pada
dirinya , tanpa tekanan dari pihak lain.
8) Wanita hamil berhak untuk mengetahui nama dan kualiifikasi orang yang memberikan
obat atau melakukan prosedur selama melahirkan.
9) Wanita hamil berhak untuk memperoleh informasi tentang keuntungan suatu prosedur
bagi bayi dan dirinya sesuai indikasi medis.
10) Wanita hamil berhak untuk didampingi oleh orang yang merawatnya selama dalam
keadaan stres persalinan.
11) Setelah melakukan konsultasi medis, wanita hamil berhak untuk memilih posisi
melahirkan yang tidak menimbulkan stres bagi diri sendiri maupun dirinya.
12) Wanita hamil berhak untuk meminta agar perawatan bayinya dilakukan satu kamar
dengannya , bila bayinya normal dan dapat memberi minum bayinya sesuai kebutuhan,dan
bukan menurut aturan rumah sakit.

13) Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang orang yang menolong
persalinannya serta kualifikasi profesionalnya untuk kepentingan surat keterangan kelahiran.
14) Wanita hamil berhak untuk mendapatkan informasi tentang kondisi diri sendiri dan
bayinya yang dapat menimbulkan masalah atau penyakit dikemudian hari.
15) Wanita hamil berhak atas dokumen lengkap tentang diri dan bayinya, termasuk catatan
perawat yang disimpan selama kurun waktu tertentu.
16) Wanita hamil berhak untuk menggunakan dokumen medis lengkap , termasuk catatan
perawat dan bukti pembayaran selama di rumah sakit.

V.

Hak- Hak Individu Lansia

Termasuk kelompok lansia adalah orang yang berusia lebih dari 65 tahun. Seseorang yang
berusia lebih dari 65 tahun, pada umumnya tidak dapat melanjutkan kegiatan dan minatnya
sebagaimana mestinya karena terjadinya perubahan perubahan fisiologis. Hal ini dapat
mengakibatkan lansia menyadari kehilangan kemampuannya, merasa makin tergantung pada
orang lain, sulit menerima kenyataan ,namun ada juga lansia yang sudah jauh hari sebelimnya
mempersiapkan dirinya secar mentak dengan menekuni hobi sehingga masalah yang mungkin
terjadi sudah dapat diantisipasi.
Kemunduran yang terjadi pada lansia dapat terlihat pada :
1.

Fungsi panca indra yang menurun

2.

Keterampilan motorik yang berkurang

3.

Keterampilan koordinasi motorik(refleks) berkurang

4.

Kemampuan intelektual yang sebenarnya mungkin dapat dipertahankan lebih lama.

Karena proses kemunduran tersebut sebagian besar lansia mengalami perubahan-perubahan


kepribadian.
Hak-hak individu lansia antara lain :
1.

Hak untuk diperlakukan sebagi manusia yang mempunyai harga diri dan martabat.

2.

Hak menikmati kehidupan pada masa tua, tanpa tekanan

3.

Hak mendapatkan perlindungan dari keluarga dan instansi yang berwenang.

4.

Hak mendapatkan perawatan dan pengobatan yang optimal.

5.

Hak untuk tinggal di lingkungan keluarga atau panti, bila ia menginginkannya.

6.
Hak memperoleh pendidikan yang dibutuhkannya untuk menghabiskan sisa hidupnya,
misalnya pendidikan agama dan sebagainya.
7.

Hak berekreasi dan mengatur hobinya, bila diinginkan.

8.

Hak untuk dihargai dan menghargai dirinya dan orang lain.

9.

Hak menerima kasih sayang dari anak, keluarga dan masyarakat.

VI.

Hak Hak Anak

Anak adalah karunia tuhaan yang tidak ternilai harganya. Bila suatu keluarga tidak
mempunyai anak, maka dalam keluarga tersebut akan terjadi ketimpangan. Tanpa adanya
anak, fungsi keluarga tidak akan berjalan dengan normal. Anak juga merupakan aset bangsa
di masa depan. Kurang diperhatikannya hak-hak anak dapat memunculkan gangguan
terhadap perkembangan fisik maupun mental ,yang tentu saja akan merugikan masa depan
anak tersebut. Untuk itu, Departemen Kesehatan sedang mengembangkan kebijakan untuuk
menerapkan paradigma baru dalam pembangunan kesehatan.
Paradigma sehat yang diartikan sebagai pemikiran dasar sehat berorientasi pada peningkatan
dan perlindungan anak sehat, bukan merupakan penyembuhan anak yang jatuh sakit.
Kebijakan tersebut ditekankan pada upaya promotif dan preventif dengan tujuan untuk
melindungi dan meningkatkan kondisi anak yang sehat agar lebih produktif dan inovatif
sesuai dengan Undang-Undang RI No 23 tahun 1992 tentang kesehatan, pasal 7 ayat 1 dan 2.
Ayat 1 :
Kesehatan anak diselenggarakan untuk mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Ayat 2 :
Kesehatan anak dilakukan melalui peningkatan kesehatan anak dalam kandungan, masa bayi,
masa balita, usia pra sekolah, dan usia sekolah.
Untuk mencapai tujuan di atas, hak-hak anak dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Anak berhak mendapatkan perlindungan fisik maupun mental sejak dalam kandungan
sampai dengan lahir dan sesuai dengan perkembangannya.
2)

Anak berhak untuk dihargai bagaimanapun keberadaannya secara fisik maupun mental.

3) Anak berhak memperoleh kasih sayang dari kedua orang tuanya dan anggota keluarga
yang lain.
4) Anak berhak memperoleh pendidikan yang layak sesuai dengan kemampuan keluarga
atau ketentuan dan kebijakan dari suatu lembaga pemerintahan yang ada .

5) Anak berhak berkomunikasi dan mengemukakan pendapat atau alasan yang benar sesuai
dengan kemampuan dan usianya.
6) Anak berhak memperoleh kesempatan bermain dan mengemukakan pendapat atau
alasan yang benar sesuai dengan kemampuan dan tingkat usianya.
7) Anak berhak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, memperoleh gizi yang
adekuat, rekreasi, dan perawatan serta pengobatan bila membutuhkannya.
8)

Anak berhak menolak untuk dipekerjakan.

9) Anak berhak diperlakukan dengan baik,sopan, dan terhindar dari tindakan kekejaman
atau eksplorasi.
10) Anak berhak memperoleh perlindungan hukum apabila diperlukan dalam penyelesaian
masalah pidana maupun perdata yang dilakukan terhadap dirinya.
Masalah- masalah yang sering terjadi dalam pemenuhan hak-hak anak, antara lain
disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
Kurangnya pengetahuan orang tua, keluarga, dan masyarakat tentang hak-hak anak.
Adanya tekanan ekonomi yang menyebabkan orang tua mempekerjakan anak-anaknya di
bawah umur.
Belum memasyarakatkan peraturan dan perlakuan hukum terhadap pelanggaran hak-hak
anak.
Masih minimnya sarana-sarana bermain tanpa biaya dan budaya informasi yang positif
tehadap perkembangan anak.

HAK DAN KEWAJIBAN MENURUT UNDANG-UNDANG RI, NO 23 TAHUN 1992


Berikut ini adalah isi Undang-Undang RI, No. 23 tahun 1992 tentang hak dan kewajiban
tenaga medis, perawat, dan pasien.
BAB I
Pasal 1, ayat (1)
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan,jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap
orang hidupproduktif secara sosial dan ekonomis.
BAB III HAK DAN KEWAJIBAN
Pasal 4

Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal .
Pasal 5
Setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan perorangan , keluarga dan lingkungannya.
BAB V UPAYA KESEHATAN
Bagian kedua : Kesehatan Keluarga
Pasal 12
Ayat (1):
Kesehatan keluarga diselenggarakan untuk mewujudkan keluarga sehat,kecil, bahagia, dan
sejahtera.
Ayat (2):
Kesehatan keluarga meliputi kesehatan suami-istri, anak, dan anggota keluarga lainnya.

Pasal 14
Kesehatan istri meliputi kesehatan pada masa prakehamilan, persalinan, pasca persalinan, dan
masa diluar kehamilan dan persalinan.
Pasal 15
Ayat (1):
Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya
dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
Ayat (2):
Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan :
a.

Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut.

b.
Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan
dilakukan sesuai dengan tangguna jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli.
c.

Dengan persetujuaan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya.

d.

Pada sarana kesehatan tertentu.

BAB VI SUMBER DAYA KESEHATAN


Bagian kedua: Tenaga Kesehatan

Pasal 53
Ayat (1):
Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai
dengan profesinya.

Ayat (2):
Tenaga kesehatan ,dalam melakukan tugasnya,berkewajiban untuk memenuhi standar profesi
dan menghormati hak pasien.
Pasal 54
Ayat (1):
Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan
profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin.
Ayat (2):
Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian, ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga
Kesehatan.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Keperawatan sebagai suatu profesi bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas
pelayanan/asuhan keperawatan yang diberikan. Oleh sebab itu pemberian pelayanan/asuhan
keperawatan harus berdasarkan pada landasan hukum dan etika keperawatan. Standar asuhan
perawatan di Indonesia sangat diperlukan untuk melaksanakan praktek keperawatan,
sedangkan etika keperawatan telah diatur oleh organisasi profesi, hanya saja kode etik yang
dibuat masih sulit dilaksanakan dilapangan karena bentuk kode etik yang ada masih belum
dijabarkan secara terinci dan lengkap dalam bentuk petunjuk tehnisnya.
Etik merupakan kesadaran yang sistematis terhadap prilaku yang dapat dipertanggung
jawabkan, etik bicara tentang hal yang benar dan hal yang salah dan didalam etik terdapat
nilai-nilai moral yang merupakan dasar dari prilaku manusia (niat). Prinsip-prinsip moral
telah banyak diuraikan dalam teori termasuk didalamnya bagaimana nilai-nilai moral di
dalam profesi keperawatan. Penerapan nilai moral professional sangat penting dan sesuatu
yang tidak boleh ditawar lagi dan harus dilaksanakan dalam praktek keperawatan.
B. SARAN

Setiap manusia mempunyai hak dasar dan hak untuk berkembang, demikian juga bagi pasien
sebagai penerima asuhan keperawatan mempunyai hak yang sama walaupun sedang dalam
kondisi sakit. Demikian juga perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan mempunyai hak
dan kewajiban masing-masing. Kedua-duannya mempunyai hak dan kewajiban sesuai
posisinya. Disinilah sering terjadi dilema etik, dilema etik merupakan bentuk konflik yang
terjadi disebabkan oleh beberapa factor, baik faktor internal dan faktor eksternal, disamping
itu karena adanya interaksi atau hubungan yang saling membutuhkan. Oleh sebab itu dilema
etik harus diselesaikan baik pada tingkat individu dan institusi serta organisasi profesi dengan
penuh tanggung jawab dan tuntas.