Anda di halaman 1dari 2

Ketersediaan Komoditas Pangan: Menggerakkan Sektor Riil Gapoktan dan

UMKM di Sistem Rantai Pasok sebagai Stimulus Perwujudan Safety Stock di


Daerah Sistem Tanam Tadah Hujan dan Rawan Paceklik
Aris Muzaqi, Tabah Darma, Riska Widyawati Purnomo, Inaki Maulida Hakim ST, MT.

ABSTRAK

Indonesia merupakan salah satu negara agraris dengan potensi komoditas pangan
yang cukup tinggi. Berdasar potensi pangan, pengoptimalan sumberdaya tersebut
harus dimulai dari sistem manajemen terutama pada daerah rawan kekeringan.
Pengaturan tersebut untuk menjaga ketersediaan pangan agar terciptanya tujuan
nasional yaitu swasembada daerah dapat terwujud. Studi kasus dilakukan di
Kabupaten Pacitan, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Ponorogo. Pemilihan
ketiga dilakukan atas dasar jumlah petani di daerah tersebut sangat tinggi dan
karakteristik lahan yang kering sehingga berpotensi untuk paceklik. Daerah
tersebut dijadikan studi kasus dengan maksud menjadi percontohan solusi daerah
lain yang memiliki permasalahan dan potensi yang sama. Salah satu aspek
menjadi dasar terciptanya permasalahan yaitu kurangnya ketersediaan pangan
terutama pada musim kemarau. Masalah yang menjadi perhatian adalah dari
sumber daya manusia yang belum mampu membuat olahan produk sebagai
produk inventory. Dalam pengolahan data, digunakan data sekunder untuk
memberikan analisis yang didukung dengan data statistik. Dengan data tersebut
didapat beberapa informasi terkait jumlah produksi komoditas pangan ketiga
Kabupaten, berapa hasil panen yang mampu ditahan, serta rantai pasok komoditas
pangan tersebut. Data statistik didukung dengan hasil observasi dan wawancara
dengan pedagang yang berada di Kabupaten Pacitan. Salah satu alternatif
penyelesaian masalah tingginya tingkat turnover sehingga minimnya inventory
stock yakni memperbaiki sistem supply chain sebagai solusi yang efektif. Dari
segi supply chain, proses-proses yang memungkinkan merugikan petani di
eliminasi. Solusi yang ditawarkan yakni mengoptimalkan Gabungan Kelompok
Petani (Gapoktan) di tingkat desa sebagai pihak pembuat lumbung pangan saat
terjadi kekeringan. Gapoktan tersebut akan mengubah alur rantai pasok yang lebih
efektif dan menguntungkan petani dan memungkinkan inventory stock. Supply
chain yang lebih efektif akan mampu menyeimbangkan turnover komoditas
pangan dari petani hingga pedagang eceran. Pengoptimalan gapoktan adalah tidak
menjual ke pembeli besar secara langsung, gapoktan dapat menjual hasil
komoditasnya melalui kerjasama dengan industri kecil yang ada di sekitarnya.
Gapoktan juga dapat diarahkan untuk membuat sebuah UMKM sendiri. UMKM
yang tebentuk dari kumpulan petani ini akan mengolah komoditas pangan menjadi
olahan dengan umur masa konsumsi lebih lama.Tahapan solusi yang bisa
dijadikan percontohan daerah lain adalah dengan peningkatan fungsi gapoktan,
selanjutnya penciptaan UMKM merupakan rangkaian berkelanjutan yang dirasa
mampu menjaga kestabilan turnover komoditas pangan di pasar.
Kata Kunci: inventory stock, turnover komoditas, supply chain, Gapoktan,
UMKM