Anda di halaman 1dari 53

UTILITAS

ANALISIS JARINGAN INSTALASI LISTRIK DAN PENERANGAN JALAN PADA


JALAN PEMUDA PANDANARAN
SEMARANG

Dosen Pembimbing : Ir. Agung Dwiyanto, MSA


DISUSUN OLEH:
CHRISTIANITA K 21020111130097
VERONIKA DYAH SETIATI 21020111130099
FEBRINA KUSUMASARI 21020111130108
ADELINA DWIYANI 21020111130117
IZAS AMAR MEGA SATITI 21020111140152
AGNES CHRISTIN PURBA 21020111140153
YOHANA ANEKE 21020111140181

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2013

Kata pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan
rahmatnya sehingga kami dapat menyusun Makalah Utilitas Lingkungan Tentang
Jaringan Instalasi Listrik dan Penerangan Pada Jalan Pemuda Pandanaran Semarang.
Penyusunan Makalah Jaringan Jaringan Instalasi Listrik dan Penerangan Pada
Jalan Pemuda Pandanaran Semarang ini ditujukan untuk memenuhi persyaratan mata
kuliah utilitas lingkungan.
Jika dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan baik itu dari segi
penulisan, isi dan lain sebagainya, maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran
guna perbaikan untuk pembuatan makalah untuk hari yang akan datang.
Harapannya semoga makalah ini dapat diterima dan bermanfaat untuk
kedepannya.

Semarang, 10 Desember 2013

BAB I

KAJIAN TEORI
1.1 Sistem Tenaga Listrik
Sistem tenaga listrik secara umum adalah rangkaian alat yang
dipergunakan untuk mengubah berbagai sumber energi menjadi energi
listrik dan memindahkannya dari suatu tempat yang membangkit energi
listrik ketempat yang membutuhkan energi listrik tersebut.
Tenaga listrik merupakan sarana produksi maupun sarana kehidupan
sehari-hari yang memegang peranan penting dalam mencapai sasaran
pembangunan.
Dalam upaya untuk meningkatkan nilai skala produksi yang ekonomis,
efisiensi dan keandalan, membuat sistem ketenagalistrikan dikembangkan
menjadi satu kesatuan yang terpadu (interkoneksi) diantara sistem-sistem
yang terpisah (Purnomo, 1994).
Suatu sistem ketenagalistrikan terdiri dari 3 (tiga) bagian utama yaitu:
a. Pusat-pusat pembangkit listrik
Pusat pembangkit tenaga listrik (electric power station) biasanya
terletak jauh dari pusat-pusat beban dimana energi listrik digunakan.
b. Saluran transmisi
Energi listrik yang dibangkitkan dari pembangkit listrik yang jauh
disalurkan melalui kawat-kawat atau saluran transmisi menuju gardu
induk (GI).
c. Sistem distribusi
Energi listrik dari gardu-gardu induk akan disalurkan oleh sistem
distribusi sampai kepada konsumen.

Pada dasarnya, energi listrik merupakan suatu energi sekunder yang


didapat melalui suatu proses konversi berbagai macam energi primer.
Energi primer tersebut diantaranya adalah energi potensial atau aliran air,
pembakaran energi nuklir, energi matahari, energi panas bumi, energi
nuklir dan energi-energi lainnya. Dari suatu pusat pembangkit, energi
listrik dinaikkan tegangannya melaui suatu gardu induk pembangkit.
Energi yang terbentuk disalurkan melalui suatu jaringan transmisi
tegangan ekstra tinggi atau tegangan tinggi. Energi tersebut kemudian
diturunkan tegangannya melalui gardu induk.
Dari gardu induk ini, sebagian energi disalurkan ke konsumen tegangan
menengah dan sisanya disalurkan dalam suatu jaringan distribusi dan
diturunkan tegangannya menjadi tegangan rendah melalui gardu distribusi
dan kemudian disalurkan ke konsumen tegangan rendah.

gambar 1.1
Sistem Ketenagalistrikan

1.1.1

Pusat Pembangkit

Pusat-pusat pembangkit listrik berfungsi memproduksi atau


membangkitkan energi listrik, sedangkan untuk memproduksi energi
tersebut memerlukan tenaga penggerak (dari berbagai sumber energi
lainnya) untuk memutar turbin pembangkit listrik.
Macam pusat pembangkit berdasarkan tenaga penggerak dapat
dibedakan sebagai
berikut:
a. PLTA : Pusat Listrik Tenaga Air
b. PLTU : Pusat Listrik Tenaga Uap
c. PLTD : Pusat Listrik Tenaga Diesel
d. PLTG : Pusat Listrik Tenaga Gas
e. PLTN : Pusat Listrik Tenaga Nuklir

1.1.2

Transmisi Dan Gardu Induk

Transmisi berfungsi untuk menyalurkan energi listrik dari pusat-pusat


pembangkit (yang berjauhan jaraknya dari pusat beban) ke gardu induk
(di sekitar pusat beban). Dengan pertimbangan teknoekonomis,
penggunaan tegangan tinggi untuk menyalurkan kapasitas daya yang
besar dan berjauhan tempatnya serta dapat menekan rugi-rugi
jaringan. Tegangan keluaran dari pusat pembangkit dinaikkan melalui
transformator tenaga (penaik tegangan) di serandang sebelum
disalurkan ke transmisi kemudian tegangan tersebut diturunkan melalui
transformator tenaga (penurun tegangan) di gardu induk.
Menurut jenis tegangannya, transmisi dapat dibedakan seperti berikut
ini :
a. TT (HV) : Transmisi tegangan tinggi (High Voltage). Tegangan
antara 30 kV sd kurang dari 345 kV.
b. TET (EHV) : Transmisi tegangan ekstra tinggi (Extra High Voltage)
Tegangan antara 345 kV sd 765 kV.
c. TUT (UHV) : Transmisi tegangan ultra tinggi (Ultra High Voltage).
Tegangan diatas 765 kV.
Sumber: Ditjen LPE, DESD

1.1.3

Distribusi

Jaringan distribusi secara umum terdiri dari jaringan distribusi


primer, gardu distribusi, jaringan distribusi sekunder dan sambungan
rumah. Jaringan distribusi primer yang biasanya disebut jaringan
tegangan menengah mempergunakan konstruksi di bawah tanah
(underground cable) dan di atas tanah (saluran udara) yang ditopang
oleh tiang-tiang penyangga. Untuk mengatasi keandalan sistem,
konfigurasi jaringan dapat dibedakan menjadi jaringan radial, jaringan
radial terbuka, jaringan terbuka dan jaringan anyaman. Saat ini,
jaringan tegangan menengah yang dikembangkan adalah dengan
tegangan 20 kV. Jenis penghantar yang digunakan antara lain XLPE,
ACSR, AAAC, AAC dengan ukuran mulai dari 10 mm2 sampai dengan
300 mm2. Penentuan ukuran penghantar sangat dipengaruhi
perkembangan pertumbuhan beban selama umur teknis atau selama 15
tahun.
Gardu distribusi adalah merupakan suatu bangunan yang
dipergunakan untuk menempatkan peralatan listrik dan trafo distribusi
yang berfungsi untuk menurunkan tegangan sesuai dengan tegangan
yang diperlukan oleh konsumen.
Trafo distribusi terdiri dari satu atau lebih trafo distribusi baik yang
ditempatkan di atas tiang maupun di dalam bangunan. Trafo distribusi
terdiri dari trafo 3 phasa atau 1 phasa dengan berbagai kapasitas mulai
dari 5 kVA sampai dengan 1000 kVA lebih dengan daerah jangkauan
radius 400 m. Dengan memperhatikan umur teknis, trafo distribusi
hanya dibebani 86% dari beban nominal secara terus menerus.

Gambar 1.2
Transformator

Peletakan trafo distribusi harus sedemikian rupa, sehingga dapat


melayani konsumen sesuai dengan mutu dan keandalan yang
disyaratkan, dan penentuan kapasitas trafo (kVA) sangat dipengaruhi
oleh tingkat kepadatan beban serta jenis pelanggannya. Penempatan
trafo distribusi dengan kapasitas kecil mempunyai banyak keuntungan
bila dibandingkan dengan kapasitas besar. Keuntungan yang dimaksud
antara lain pengangkutan mudah, penggunaan jaringan sekunder
pendek, rugi-rugi teknis kecil dan sebagainya, sedangkan kerugian
harganya relatif lebih mahal.
Jaringan distribusi sekunder yang biasa disebut jaringan tegangan
rendah baik yang menggunakan saluran udara maupun kabel tanah
dengan mempergunakan tegangan 230/400 V. Untuk saluran udara
jarak antartiang di daerah perkotaan sebesar 50 m dan setiap tiang
dapat dipergunakan untuk menampung sebanyak 5 (lima)8 (delapan)
sambungan rumah tergantung kerapatan dan besar bebannya.
Saluran tenaga listrik dari pusat pembangkit tenaga listrik ke tempat
pemakaian yang dekat atau jauh diselenggarakan dengan saluran
tegangan tinggi untuk jarak jauh 150-500 kV, jaringan saluran tegangan
menengah dalam kota 20 kV misalnya, dan jaringan saluran tegangan
rendah 220 V di kampung atau bagian kota masing-masing.

Gambar 1.3 Ilustrasi Sistem Distribusi

Syarat-syarat perancangan jaringan instalasi listrik yang


ekonomis antara lain:
1. Fleksibilitas, jaringan harus memberi kemungkinan untuk
penambahan beban, tetapi harus dalam batas ekonomis, cadangan
tambahan beban yang berlebihan (over design) adalah tidak
ekonomis dan merupakan pemborosan.
2. Kepercayaan, jaringan instalasi listrik harus dapat diandalakan dan
dapat dipercaya, sebab pembebanan oleh peralatan listrik sering
tidak dapat dikontrol. Hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas
bahan-bahan instalasi. Kegagalan-kegagalan peralatan harus dapat
diketahui secara dini agar tidak terjadi kecelakaan.
3. Keamanan, jaringan instalasi harus dirancang sesuai peraturan
nasional yang berlaku (peraturan umum instalasi listrik) tabungtabung
instalasi
harus
mudah
dicapai
dan
bebas
hambatan/halangan fisik.
Kota Semarang dilayani oleh transmisi 150 kV sepanjang 120 km dan
Gardu Induk (GI) sebanyak 8 lokasi dengan kapasitas trafo tenaga
(150/20 kV) sebanyak 15 unit/648 mVA yang melayani sebagian besar
kebutuhan energi listrik di Kota Semarang. Kedelapan gardu induk
tersebut masing-masing adalah gardu induk Randugarut, Krapyak,
Tambaklorok, Simpanglima, Kalisari, Pandeanlamper, Srondol, dan
Pudakpayung. Saat ini telah ada tambahan satu gardu induk di Kota
Semarang yaitu gardu induk Boja dengan kapasitas yang direncanakan
sebesar 2x60 mVA.
Penggunaan listrik di Kota Semarang digunakan untuk kebutuhan
rumah tangga, penerangan jalan, sosial dan komersial.

1.2 Lampu Penerangan Jalan


Lampu penerangan jalan adalah bagian dari bangunan pelengkap jalan
yang dapat diletakkan/dipasang di kiri/kanan jalan dan atau di tengah (di
bagian median jalan) yang digunakan untuk menerangi jalan maupun
lingkungan di sekitar jalan yang diperlukan termasuk persimpangan jalan
(intersection), jalan layang (interchange, overpass, flyover), jembatan dan
jalan di bawah tanah (underpass, terowongan).
Lampu yang dimaksud adalah suatu unit lengkap yang terdiri dari
sumber cahaya (lampu/luminer), elemen-elemen optik (pemantul/reflector,
pembias/refractor, penyebar/diffuser), elemen-elemen elektrik (konektor ke
sumber tenaga/power supply, dll), struktur penopang yang terdiri dari
lengan penopang, tiang penopang vertikal dan pondasi tiang lampu.

1.2.1

Sistem Penempatan Lampu Penerangan Jalan

Sistem penempatan lampu penerangan adalah susunan


penempatan/penataan lampu yang satu terhadap lampu yang lain.
Sistem penempatan ada 2 (dua) sistem, yaitu :
Sistem Penempatan Menerus

Sistem penempatan menerus adalah sistem penempatan lampu


penerangan jalan yang menerus/kontinyu di sepanjang
jalan/jembatan.
Sistem Penempatan Parsial (setempat)
Sistem penempatan parsial adalah sistem penempatan lampu
penerangan jalan pada suatu daerah-daerah tertentu atau pada suatu
panjang jarak tertentu sesuai dengan keperluannya.

1.2.2 Fungsi Penerangan Jalan


Penerangan jalan di kawasan perkotaan mempunyai fungsi antara lain :
1) Menghasilkan kekontrasan antara obyek dan permukaan jalan;
2) Sebagai alat bantu navigasi pengguna jalan;
3) Meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan,
khususnya pada malam hari;
4) Mendukung keamanan lingkungan;
5) Memberikan keindahan lingkungan jalan.

1.2.3 Dasar Perencanaan Penerangan Jalan


1) Perencanaan penerangan jalan terkait dengan hal-hal berikut ini :
a) Volume lalu-lintas, baik kendaraan maupun lingkungan yang
bersinggungan seperti pejalan kaki, pengayuh sepeda, dll;
b) Tipikal potongan melintang jalan, situasi (lay-out) jalan dan
persimpangan jalan;
c) Geometri jalan, seperti alinyemen horisontal, alinyemen vertikal,
dll;
d) Tekstur perkerasan dan jenis perkerasan yang mempengaruhi
pantulan cahaya lampu penerangan;
e) Pemilihan jenis dan kualitas sumber cahaya/lampu, data fotometrik
lampu dan lokasi sumber listrik;
f) Tingkat kebutuhan, biaya operasi, biaya pemeliharaan, dan lainlain, agar perencanaan sistem lampu penerangan efektif dan
ekonomis;
g) Rencana jangka panjang pengembangan jalan dan pengembangan
daerah sekitarnya;
h) Data kecelakaan dan kerawanan di lokasi.
2) Beberapa tempat yang memerlukan perhatian khusus dalam
perencanaan penerangan jalan antara lain sebagai berikut :
a) Lebar ruang milik jalan yang bervariasi dalam satu ruas jalan;
b) Tempat-tempat dimana kondisi lengkung horisontal (tikungan)
tajam;
c) Tempat yang luas seperti persimpangan, interchange, tempat
parkir, dll;
d) Jalan-jalan berpohon;
e) Jalan-jalan dengan lebar median yang sempit, terutama untuk
pemasangan lampu di bagian median;
f) Jembatan sempit/panjang, jalan layang dan jalan bawah tanah
(terowongan);

g)

Tempat-tempat
lain
dimana
berinterferensi dengan jalannya.

lingkungan

jalan

banyak

1.2.4 Jenis Lampu Penerangan Jalan


1) Jenis lampu penerangan jalan ditinjau dari karakteristik dan
penggunaannya secara
umum dapat dilihat dalam Tabel 1.
Jenis
Lampu

Efisiensi
rata-rata
(lumen/wa
tt)

Umur
rencan
a
ratarata
(jam)

Daya
(watt)

Pengar
uh
terhad
ap
warna
obyek

Keterangan

Lampu
tabung
fluorescent
tekanan
rendah

60 70

8.000
10.000

18 - 20;
36 - 40

Sedang

-Untuk jalan kolektor


dan
lokal;
-Efisiensi cukup tinggi
tetapi
berumur pendek;
-Jenis lampu ini masih
dapat
digunakan untuk hal-hal
yang terbatas.

Lampu gas
Merkuri
tekanan
Tinggi
(MBF/U)

50 55

16.000

24.000

125;
250;
400;
700

Sedang

-Untuk jalan
kolektor ,local dan
persimpangan;
-Efisiensi rendah,
umur
panjang dan ukuran
lampu
kecil;
-Jenis lampu ini masih
dapat digunakan
secara terbatas.

Lampu gas
sodium
bertekanan
rendah (SOX)

100 - 200

8.000 10.000

90; 180

Sangat
buruk

-Untuk jalan kolektor,


lokal, persimpangan,
penyeberangan,
terowongan, tempat
peristirahatan (rest
area);
-Efisiensi sangat
tinggi,
umur cukup panjang,
ukuran lampu besar
sehingga sulit untuk
mengontrol
cahayanya
cahaya lampu sangat
buruk karena warna
kuning;
-Jenis lampu ini
dianjurkan
digunakan karena
faktor
efisiensinya yang
sangat
tinggi.

Lampu gas
Sodium
tekanan
tinggi (SON)

110

12.000
20.000

150;
250;
400

Buruk

-Untuk jalan tol,


arteri,
kolektor,
persimpangan
besar/luas dan
interchange;
-Efisiensi tinggi, umur
sangat panjang,
ukuran
lampu kecil, sehingga
mudah pengontrolan
cahayanya;
- Jenis lampu ini
sangat baik
dan sangat
dianjurkan
untuk digunakan.

Tabel 1. Jenis lampu penerangan jalan secara umum menurut karakteristik


dan
penggunaannya

2) Rumah lampu penerangan (lantern)


Dapat diklasifikasikan menurut tingkat perlindungan terhadap
debu/benda dan air. Hal ini dapat diindikasikan dengan istilah IP
(Index of Protection) atau indek perlindungan, yang memiliki 2(dua)
angka, angka pertama menyatakan indek perlindungan terhadap
debu/benda, dan angka kedua menyatakan indek perlindungan
terhadap air. Sistem IP merupakan penggolongan yang lebih awal
terhadap penggunaan peralatan yang tahan hujan dan sebagainya,

dan ditandai dengan lambang. Semakin tinggi indek perlindungan


(IP), semakin baik standar perlindungannya. Ringkasan pengkodean
IP mengikuti Tabel 2 (A Manual of Road Lighting in Developing
Countries).
Pada umumnya, indek perlindungan (IP) yang sering dipakai untuk
klasifikasi lampu penerangan adalah : IP 23, IP 24, IP 25, IP 54, IP 55,
IP 64, IP 65, dan IP 66.

Tabel 2. Kode indeks perlindungan IP (Index of Protection)

1.3 Ketentuan Pencahayaan dan Penempatan


1.3.1 Kualitas pencahayaan
1.3.1.1 Pencahayaan pada ruas jalan
Kualitas pencahayaan pada suatu jalan diukur berdasarkan
metoda iluminansi atau luminansi. Meskipun demikian lebih
mudah menggunakan metoda iluminansi, karena dapat diukur
langsung di permukaan jalan dengan menggunakan alat
pengukur kuat cahaya. Kualitas pencahayaan normal menurut
jenis/klasifikasi fungsi jalan ditentukan seperti pada Tabel 3.

Tabel 3 Kualitas pencahayaan normal.


Keterangan : g1 : E min/E maks
VD : L min/L maks
VI : L min/L rata-rata
G : Silau (glare)
TJ : Batas ambang kesilauan

1.3.1.2 Pencahayaan pada rambu lalu lintas


Batasan kuat pencahayaan (iluminansi) dan luminansi pada
rambu-rambu lalu lintas yang dipasang berdekatan dengan
lampu penerangan jalan atau papan reklame ditentukan pada
Tabel 4 (AASHTO, 1984), yang bertujuan agar lebih menarik
perhatian bagi pengguna jalan.

Tabel 4. Batasan kuat pencahayaan untuk rambu lalu lintas

1.3.2 Rasio Kemerataan Pencahayaan (uniformity ratio)


Rasio maksimum antara kemerataan pencahayaan maksimum
dan minimum menurut lokasi penempatan tertentu adalah seperti
yang ditentukan pada Tabel 5.

Tabel 5. Rasio kemerataan pencahayaan

1.3.3 Pemilihan jenis dan kualitas lampu penerangan


Pemilihan jenis dan kualitas lampu penerangan jalan didasarkan pada
:
1) Nilai efisiensi (Tabel 1);
2) Umur rencana;
3) Kekontrasan permukaan jalan dan obyek.

1.3.4 Penempatan Lampu Penerangan


1) Penempatan lampu penerangan jalan harus direncanakan
sedemikian rupa sehingga dapat memberikan :
a) Kemerataan pencahayaan yang sesuai dengan ketentuan Tabel
5;
b) Keselamatan dan keamanan bagi pengguna jalan;

c) Pencahayaan yang lebih tinggi di area tikungan atau


persimpangan, dibanding pada bagian jalan yang lurus;
d) Arah dan petunjuk (guide) yang jelas bagi pengguna jalan dan
pejalan kaki.
2) Sistem penempatan lampu penerangan jalan yang disarankan
seperti pada Tabel 8.
3) Pada sistem penempatan parsial, lampu penerangan jalan harus
memberikan adaptasi yang baik bagi penglihatan pengendara,
sehingga efek kesilauan dan ketidaknyamanan penglihatan dapat
dikurangi
4) Perencanaan dan penempatan lampu penerangan jalan dapat
dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Penempatan lampu penerangan


Keterangan :
H = tinggi tiang lampu
L = lebar badan jalan, termasuk median jika ada
E = jarak interval antar tiang lampu
S1 + S2 = proyeksi kerucut cahaya lampu
S1 = jarak tiang lampu ke tepi kereb
S2 = jarak dari tepi kereb ke titik penyinaran terjauh
I = sudut inklinasi pencahayaan.

5) Batasan penempatan lampu penerangan jalan tergantung dari tipe


lampu, tinggi lampu, lebar jalan dan tingkat kemerataan
pencahayaan dari lampu yang akan digunakan. Jarak antar lampu
penerangan secara umum dapat mengikuti batasan seperti pada
Tabel 7 (A Manual of Road Lighting in Developing Countries). Dalam

tabel tersebut dipisahkan antara dua tipe rumah lampu. Rumah


lampu (lantern) tipe A mempunyai penyebaran sorotan cahaya/sinar
lebih luas, tipe ini adalah jenis lampu gas sodium bertekanan rendah,
sedangkan tipe B mempunyai sorotan cahaya lebih ringan/kecil,
terutama yang langsung ke jalan, yaitu jenis lampu gas merkuri atau
sodium bertekanan tinggi.

Tabel 7. Jarak antar tiang lampu penerangan (e) berdasarkan


tipikal distribusi pencahayaan dan klasifikasi lampu.
Keterangan :
- Jarak antartiang lampu dalam meter.
- Rumah lampu (lantern) tipe A mempunyai penyebaran sorotan
cahaya/sinar lebih luas.
- Rumah lampu (lantern) tipe B mempunyai penyebaran sorotan cahaya
lebih ringan/kecil, terutama yang langsung ke jalan.

1.3.5 Penataan Letak Lampu Penerangan Jalan


Penataan/pengaturan letak lampu penerangan jalan diatur seperti
pada Tabel 8. Di daerah-daerah atau kondisi dimana median sangat
lebar (> 10 meter) atau pada jalan dimana jumlah lajur sangat
banyak (> 4 lajur setiap arah) perlu dipertimbangkan dengan
pemilihan penempatan lampu penerangan jalan kombinasi dari caracara tersebut di atas dan pada kondisi seperti ini, pemilihan
penempatan lampu penerangan jalan direncanakan sendiri-sendiri
untuk setiap arah lalu-lintas.

Tabel 8. Penataan letak lampu penerangan jalan.

1.4 Pemasangan Rumah Lampu Penerangan


1.4.1. Pemasangan Tanpa Tiang
Pemasangan rumah lampu tanpa tiang adalah lampu yang
diletakkan pada dinding ataupun langit-langit suatu konstruksi,
seperti di bawah konstruksi jembatan, di bawah konstruksi jalan
layang atau di dinding maupun langit-langit terowongan, dll.

1.4.2. Pemasangan
tiang
Gambar dengan
2. Bentuk dan
konstruksi lampu tanpa

1) Tiang
lampu dengan lengan tunggal;
tiang
Tiang lampu ini pada umumnya diletakkan pada sisi kiri atau
kanan jalan. Tipikal bentuk dan struktur tiang lampu dengan
lengan tunggal seperti diilustrasikan pada Gambar 3.

Gambar3. Tipikal tiang lampu lengan tunggal

2) Tiang lampu dengan lengan ganda


Tiang lampu ini khusus diletakkan di bagian tengah/median jalan,
dengan catatan jika kondisi jalan yang akan diterangi masih mampu

dilayani oleh satu tiang. Tipikal bentuk dan struktur tiang lampu dengan
lengan ganda seperti diilustrasikan pada Gambar 4.
Gambar 4. Tipikal tiang lampu lengan ganda.

3) Tiang lampu tegak tanpa lengan


Tiang lampu ini terutama diperlukan untuk menopang lampu
menara, yang pada umumnya ditempatkan di persimpanganpersimpangan jalan ataupun tempat-tempat yang luas seperti
interchange, tempat parkir, dll. Jenis tiang lampu ini sangat tinggi,
sehingga sistem penggantian/perbaikan lampu dilakukan di

bawah dengan menurunkan dan menaikkan kembali lampu


tersebut menggunakan suspension cable.
Gambar 5. Tipikal lampu tegak tanpa lengan

1.5 Simbol Perencanaan Penerangan Jalan


Simbol-simbol, gambar, istilah dan tanda yang digunakan untuk dalam
perencanaan lampu
penerangan jalan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 9.

Tabel 9. Simbol-simbol dalam perencanaan penerangan jalan

1.5.1 Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Perencanaan


Dasar perencanaan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
Volume lalu lintas baik kendaraan maupun lingkungan yang
berinteferensi.

Tipikal potongan melintang jalan, situasi (lay out) jalan dan

persimpangan jalan.
Geometrik jalan seperti alinemen horizontal dan vertikal dll.
Tekstur perkerasan dan jenis perkerasan yang mempengaruhi
pantulan cahaya lampu penerangan.
Pemilihan jenis dan kualitas sumber cahaya / lampu, data
fotometrik lampu dan lokasi sumber listrik.
Tingkat kebutuhan, biaya operasi, biaya pemeliharaan, dll, agar
perencanan lampu penerangan efektif dan ekonomis.
Rencana jangka panjang pengembangan jalan dan
pengembangan daerah sekitarnya.
Data kecelakaan dan kerawanan di lokasi.
Beberapa tempat yang memerlukan perhatian khusus dalam
membuat desain/merencanakan lampu penerangan jalan, antara
lain :
Lebar daerah milik jalan yang bervariasi dalam satu ruas jalan.
Tempat-tempat dimana kondisi lengkung horisontal (tikungan)
tajam.
Tempat yang luas seperti persimpangan, interchange, tempat
parkir dll.
Jalan-jalan berpohon.
Jalan-jalan yang mempunyai nilai sejarah untuk keperluan nilai
estetis.
Jalan-jalan dengan lebar median yang sempit, terutama untuk
pemasangan lampu di bagian median.
Jembatan sempit / panjang, jalan layang dan jalan bawah tanah
(terowongan).
Tempat-tempat lain dimana lingkungan jalan banyak
berinteferensi dengan jalan.

BAB II
DATA DAN ANALISA
2.1 Data Titik Tiang Listrik di Jalan Pandanaran

2.1.1 Titik Penerangan Jalan Umum


1) Penerangan Sebelah Sisi Kiri

2) Penerangan Sebelah Sisi Kanan

2.1.2.Titik Jaringan Tegangan Rendah


1) Titik Jaringan Tegangan Rendah Pada Sisi Kiri

2) Titik Jaringan Tegangan Rendah Pada Sisi Kanan

2.1.3.Titik Jaringan Tegangan Menengah


1) Titik Jaringan Tegangan Menengah di Sisi Kiri

2) Titik Jaringan Tegangan Menengah di Sisi Kiri

2.2 Analisis Permasalahan Distribusi listrik di Pandanaran


2.2.1 Kabel Listrik Yang Berantakan

Sumber : Dokumentasi Pribadi


Sumber : Dokumentasi Pribadi

Disepanjang Jalan Pandanaran terdapat dua jenis jaringan listrik, yaitu


jaringan tegangan menengah (JTM) dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR).
Kabel tiang listrik di sepanjang Jalan Pandanaran mengganggu kualitas
visual, karena menggunakan sistem kabel listik di udara selain itu
terdapat kabel jaringan telepon yang melayang di udara. Dari foto diatas,
dapat dilihat betapa berantakan kabel-kabel tersebut, selain mengganggu
kualitas visual, hal itu berisiko tinggi dengan korsleting yang dapat
membahayakan manusia.

2.2.2 Kebutuhan Listrik


Sebagai pusat kota dan area bisnis, terdapat berbagai aktivitas di
Jalan Pandanaran, yaitu terdapat gedung-gedung perkantoran, rumah
sakit, dan pertokoan. Aktivitas-aktivitas tersebut tentu membutuhkan
banyak pasokan listrik untuk keberlangsungan kerja di daerah tersebut.
Seperti yang sudah banyak diberitakan, PLN di Indonesia sudah
mengalami krisis listrik dengan begitu PLN melakukan pemadaman
bergilir di Indonesia. Pemadaman listrik tersebut juga pernah terjadi di
Pandanaran, mengingat Pandanaran sebagai area bisnis, hal itu sangat
merugikan walaupun pemadaman hanya dilakukan 1-2 jam.

Gambar: Jalan Pandanaran


sebagai
pusat
kota
dan
area
bisnis
Sumber: http://www.panoramio.com/photo/20306545
http://www.indoflyer.net/Forum/tm.asp?m=633869

2.2.3 Penempatan MDP di Setiap Fungsi Bangunan

Sumber : http://cktpanellistrik.blogspot.com

Sumber : http://archive.kaskus.co.id

Untuk memudahkan aksesibilitas pekerja PLN maka penempatan


MDP harus seefisien mungkin. Selain itu, juga memudahkan
pengecekan terhadap MDP. Untuk MDP pada rumah sakit misalnya
akan dipisahkan dengan MDP lain, saluran listriknya pun berbeda
karena untuk berjaga-jaga saat terjadi operasi pasien ada
pemadaman listrik. Untuk ruko dan kantor-kantor MDP akan menjadi
satu, tidak terpisah-pisah.

2.3 Analisis Penerangan Jalan di Pandanaran

Sumber:
http://liproperty.biz/dijualdisewakanpandanaran-office-building-tengahkota-semarang-rp-25jtm2125rbm2

2.3.1 Tidak Ada Penerangan Untuk Pedestrian


Penerangan
hanya
ditujukan untuk kendaraan
sedangkan tidak ada lampu
yang mengarah untuk jalur
pedestrian sehingga pada
malam hari jalur pedestrian
gelap
dan
hanya
mengandalkan
pantulan
cahaya dan penerangan dari
gedung-gedung di sekitar
jalan.

2.3.2 Lampu Jalan Ada Yang Rusak


Di sepanjang jalan
Jalan
Pandanaran
menggunakan
jenis
lampu
mercuri
fluorescent
yang
mempunyasi
efisiensi
sebesar
60-70
lumen/watt dengan jarak antar lampu 40 meter.
Namun dari penerangan jalan itu masih kurang, dari sisi
jumlah, daya listrik yang ada pada tiap lampu terlalu kecil dan
penempatannya tidak merata. Lampu jalan ada yang rusak yaitu
di sekitar pusat oleh-oleh dan ruko pandanaran. Hal itu membuat
jalan menjadi gelap, jalan hanya di terangi dengan lampu
kendaraan yang melintas dan penerangan dari bangunan.
Sehingga perlu peninjauan terhadap jenis lampu dan
penempatan titik lampu jalan.

2.3.3

Penggantian Jenis Penerangan Jalan


Lampu di Jalan Pandanaran kurang estetis padahal Jalan
Pandanaran merupakan pusat kota Semarang yang terdapat
perkantoran, perdagangan, dan rumah sakit.

2.4 Rekomendasi Penerangan Jalan


2.4.1 Penempatan Titik Jaringan Listrik Listrik

2.4.2 Penempatan Titik Lampu Pada Pedestriant Ways dan Median Jalan

2.4.3 Penempatan MDP di Setiap Fungsi Bangunan

2.4.3 Penerangan Jalan Tenaga Surya


Penerangan jalan tenaga surya merupakan sebuah alternatif yang
murah dan hemat untuk digunakan sebagai sumber listrik penerangan
karena menggunakan sumber energi gratis dan tak terbatas dari alam
yaitu energi matahari. Menggunakan Modul/Panel Surya dengan
lifetime hingga 25 tahun yang berfungsi
menerima cahaya
(sinar) matahari yang kemudian diubah menjadi listrik melalui proses
photovoltaic. Lampu Jalan Tenaga Surya (PJU Tenaga Surya) secara
otomatis dapat mulai menyala pada sore hari dan padam pada pagi
hari dengan perawatan yang mudah dan efisien selama bertahun
tahun.Menggunakan Lampu LED jenis hi-power yang sangat terang,
hemat energi dan tahan lama. Masa pemakaian Lampu LED bisa
mencapai 50.000 jam dengan sumber daya DC.
Beberapa pertimbangan penggunaan lampu jalan berbasis panel
surya/solar cell dan LED:

Daya tahan perangkat panel surya/solar cell dan lampu LED

Tanpa jaringan kabel listrik, bersifat mandiri, menggunakan tenaga


matahari

Tidak merusak fasilitas dengan penggalian kabel

Hemat biaya perawatan

Instalasi sangat mudah

Kemudahan pemindahan

Life time yang lama hingga 25 tahun

Tersedia daya lampu dari 15 watt (950 lm)-168 watt (14558 lm)

Warna cahaya yang dipilih lampu penerangan jalan biasanya


yang tergolong 'warm light' bukan 'cool light'. Cool light atau identik
dengan warna putih sepintas jauh lebih terang, tetapi untuk cuaca
buruk seperti asap, kabut, hujan gerimis maupun hujan deras warna
'cool light' sangat tidak dianjurkan. Sedangkan 'warm light' yang
identik dengan warna kuning dipilih karena masalah safety. Dalam
kondisi cuaca buruk maka warna kuning masih dapat tembus sampai
ke retina mata kita.
Terang tidaknya suatu penerangan biasanya diukur dalam satuan
lumen yang merupakan satuan luminasi flux. Sedangkan bila
perangkat penerangannya sudah terpasang maka kekuatan cahaya
(illuminasi rata-rata) yang sampai ke obyek biasanya diukur dalam
satuan lux atau lumen/m2. Untuk aplikasi Penerangan Jalan Umum
(PJU) biasanya diukur dalam lux per berapa meter ketinggian sumber
cahaya ke alat ukur. Contoh PJU yang mempunyai luminasi flux sebesar
6075 lumen mempunyai illuminasi rata-rata 15 lux/10 m.

2.4.2 Penerangan Pejalan Kaki

Lampu penerangan merupakan salah satu elemen yang


mendukung kenyamanan pejalan kaki. Berikut ini adalah kriteria
pengadaan lampu untuk pedestrian (Dhanoe,2006):
- Tinggi lampu 4 6 meter.
- Jarak penempatan 10 15 meter, tidak menimbulkan black spot.
- Mengakomodasi tempat menggantung / banner umbul-umbul.
- Kriteria desain : sederhana, geometris, modern futuristic, fungsional,
terbuat dari bahan anti vandalism, terutama bola lampu.
Berdasarkan kriteria tersebut, akan direncanakan lampu pedestrian
dengan jarak penempatan tiap 10 meter dan menggunakan lampu LED
7 watt. Namun, lampu pedestrian ini tidak memerlukan jaringan kabel
listrik, tetapi menggunakan panel surya.

Sumber gambar:http://pjusurya.wordpress.com/

Lampu Untuk Pejalan Kaki

2.4.3 Jaringan Listrik Bawah Tanah


2.4.3.1 Kelebihan, Kekurangan dan Deskripsi Singkat
1) Keuntungan pemakaian kabel bawah tanah adalah :
a. Tidak terpengaruh oleh cuaca buruk, bahaya petir,
badai,tertimpa pohon, dsb.
b. Tidak mengganggu pandangan, bila adanya bangunan yang
tinggi.
c. Dari segi keindahan, saluran bawah tanah lebih sempurna
dan lebih indah dipandang.
d. Mempunyai batas umur pakai dua kali lipat dari saluran
udara.
e. Ongkos pemeliharaan lebih murah, karena tidak perlu
adanya pengecatan.
f. Tegangan drop lebih rendah karena masalah induktansi bias
diabaikan.
g. Tidak ada gangguan akibat sambaran petir, angin topan dan
badai.
h. Keandalan lebih baik.
i. Tidak ada korona.
j. Rugi-rugi daya lebih kecil. Jika ada kebocoran arus akan
tersalurkan ke tanah sebagai ground dan penetralisir arus
listrik.
k. Menciptakan keindahan tata kota.
2) Kekurangan
a. Gangguan yang terjadi bersifat permanen.
c. Tidak fleksibel terhadap perubahan jaringan.
d. Waktu dan biaya untuk menanggulangi bila terjadi
gangguan lebih lama dan lebih mahal.
e. Biaya investasi pembangunan lebih mahal dibandingkan
dengan saluran udara.
f. Saat terjadi gangguan hubung singkat, usaha pencarian titik
gangguan tidak mudah (susah).
g. Perlu pertimbangan-pertimbangan teknis yang lebih
mendalam di dalam perencanaan, khususnya untuk kondisi
tanah yang dilalui.
h. Hanya tidak dapat menghindari bila terjadi bencana banjir
desakan akar pohon, dan ketidakstabilan tanah.
i. Biaya pemakaian lebih besar atau lebih mahal.
j. Sulit mencari titik kerusakan bila ada gangguan.

3) Konstruksi kabel ada dua bagian yaitu :


a. Bagian utama yaitu bagian yang harus ada pada setiap
kabel antara lain :
1. Selubung (sheath)
2. Isolasi (insulation)
3. Penghantar
(conductor)
4. Tabir (screen)
Bagian Utama dari

b. Bagian pelengkap yaitu


yang
hanya
dipergunakan
untuk
(memperbaki) sifatsifat kabel tenaga
melindungi kabel tenaga antara lain yaitu :
1. Sarung kabel (serving)
2. Perisai (armour)
3. Bantalan (bedding)
4. Bahan pengisi (filler)

Kabel

bagian
memperkuat
atau untuk

Bagian pelengkap dari kabel

2.4.3.2 Instalasi Jaringan Yan Disesuaikan Dengan Kondisi


Eksisting
a. Spesifikasi
1) Tegangan rendah
Bagian Utama kabel :
- Konduktor : Aluminium
- Selubung karet
: karet silikon, polychoroprene.
Pelindung kabel dari pengaruh luar (korosi, penahan
gaya mekanis, mencegah keluarnya minyak dan
mencegah masuknya uap air (cairan) kedalam kabel)
Bagian Pelengkap kabel :
- Bantalan (bedding)
: Pita kertas (paper tape)
- Perisai
: Pita baja (stell tape armour)

- Bahan pengisi (filter)


: Untuk isolasi sintetis di pakai
jute (goni) dan karet buttle
- Sarung kabel (serving) : Isolasi XLPE (Cross Linked Poly
Ethylene)
2) Tegangan menengah
Bagian Utama kabel :
- Konduktor : Aluminium
- Selubung karet
: karet silikon, polychoroprene.
Bagian Pelengkap kabel :
- Bantalan (bedding)
: Pita kertas (paper tape)
- Perisai
: Pita baja (stell tape armour)
- Bahan pengisi (filter)
: Untuk isolasi sintetis di pakai
jute (goni) dan karet buttle
- Sarung kabel (serving) : Isolasi XLPE (Cross Linked Poly
Ethylene)
Alasan pemilihan (dibandingkan dengan isolasi kertas)
yaitu :
a. Lebih bersih
b. Ringan, karena tak memerlukan selubung logam
c. Perbaikan dan pemeliharaannya mudah
d. Cara penyambungannya sederhana
e. Suhu kerjanya lebih tinggi (khusus XLPE), karena
itu kapasitas
penyalurannya besar.
Keuntungan dari isolasi XLPE adalah :
a. Suhu kerja lebih tinggi sehingga dapat dialiri arus
yang
lebih tinggi.
b. Bobot yang ringan.
c. Bisa digunakan pada frekuensi tinggi.

3) Tegangan tingggi
Bagian Utama kabel :
- Konduktor : Aluminium
- Selubung karet
: karet silikon, polychoroprene.
-Tabir/screen (tambahan elemen untuk kabel tegangan
tinggi)

Bagian Pelengkap kabel :


- Bantalan (bedding)
: Pita kertas (paper tape)
- Perisai
: Pita baja (stell tape armour)
- Bahan pengisi (filter)
: Untuk isolasi sintetis di pakai
jute (goni) dan karet buttle
- Sarung kabel (serving) : Isolasi XLPE (Cross Linked Poly
Ethylene)
b. Kontruksi instalasi listrik bawah tanah
1) Pemasangan Kabel Bawah Tanah
Beberapa faktor penting yang perlu diingat pada saat
pemasangan kabel adalah : (PLN Operasi & Pemeliharaan
Jaringan Distribusi, 1995:18)
a. Sebelum meletakkan kabel, isolasinya harus diperiksa
dengan
megger
sebagai
pemeriksaan
pencegahan
kemungkinan adanya kerusakan.
b. Penggulungan kabel harus diputar searah dengan tanda
panah yang ada padanya. Jika tanda itu tidak ada,
penggulungan harus diputar searah dengan akhiran kabel di
dalam dan berlawanan arah dengan akhiran luar.
c. Kabel harus diambil dari bagian puncak penggulungan
dengan tanjakan penyangga, jika perlu penggulungan direm
guna menghindari putaran terlalu cepat.
d. Jika perlu dipindahkan, penggulungan kabel harus
dipindahkan dengan roda-roda kabel.
e. Jari-jari pemasangan harus dibuat sebesar mungkin. Jarijari pemasangan harus sesuai dengan yang dianjurkan
dalam IS : 1225-1967.
f. Pada cuaca dingin kabel harus dipanasi sebelum
ditangani. Kabel tersebut harus dipasang ketika suhunya
diatas 0 C (32 F) dan tidak boleh turun dari suhu tersebut
selama 24 jam.
g. Harus dibuat percobaan kelembaban
penyambungan sebelum penyambungan.

pada

bahan

h. Bila kabel disambungkan dengan kabel yang sudah


terpasang, jajaran teras dari ujung yang lain harus
berlawanan arah, jadi jika satu ujung searah jarum jam,
ujung yang lain harus berlawanan dengan jarum jam. Hal ini
perlu untuk menghindari teras ketika sedang menyambung.

i. Suatu sambungan menjadi titik terlemah dari sistem


distribusi tenaga listrik, semua usaha pencegahan harus
dilakukan untuk melindungi kabel.
Teknik pemasangan kabel bawah tanah pada ruangan saluran
kabel.

Konstruksi Penarikan Kabel Tanah

Kabel tanah diletakkan pada :


a. Minimum 0.8 meter di bawah permukaan tanah pada
jalan yang dilewati kendaraan.
b. Minimum 0.6 meter di bawah permukaan tanah pada
jalan yang tidak dilewati kendaraan.
c. Lebar galian sekuran-kurangnya 4 meter.

Konstruksi Penanaman Kabel Tanah Dibawah Jalan Raya

Cara pemasangan kabel tanah di atur dalam pasal 744.


antara lain ditentukan sebagai berikut.
Kabel tanah yang dipasang di dalam tanah harus dilindungi
terhadap kemungkinan terjadinya gangguan mekanis dan
kimiawi. Perlindungan terhadap gangguan mekanis pada
umumnya dianggap mencukupi jika kabelnya ditanam :

a. minimun 80 cm di bawah permukaan tanah pada jalan


yang dilalui kendaraan:
b. minimum 60 cm di bawah permukaan tanah yang tidak
dilalui kendaraan (ayat 744 A2). Kabelnya harus diletakkan
di dalam pasir atau tanah lembut yang bebas dari batubatuan , dan di atas galian tanah yang stabil , kuat dan
rata. Lapisan pasir atau tanah itu harus sekurangkurangnya 5 cm di sekeliling kabel. Sebagai perlindungan
tambahan di atas timbunan pasir atau tanah lembut dapat
dapat dipasang beton, batu bataS pelindungan (ayat A4).
Kabel tanah yang dipasang keluar dari tanah di luar
bangunan harus di lindungi dengan pipa baja atau bahan
lain yang cukup kuat sampai di luar jangkauan tangan,
kecuali kalau sudah ada perlindungan lain yang sederajat
(ayat 744 F1). Sambungan antar kabel tanah berperisai
atau berselubung logam harus dibuat dengan salah satu
cara berikut ini (ayat 741 B4) :
a. dibuat dalam kotak sambung kabel tanah: perisai atau
selubung logamnya harus ikut dimasukkan ke dalam kotak
sambung sampai suatu batas tertentu dan kotaknya harus
diisi dengan kompon isolasi yang tahan lembab.
b. dibuat di dalam suatu tabung timbel yang diselubungkan
pada selubung luar kabel.
c. Dibuat dengan cara lain yang dibenarkan.Ujung kabel
tanah tidak boleh dibiarkan terbuka,tetapi harus selalu
ditutup rapat dengan cara yang tepat untuk mencegah air
masuk dan lembab ke dalam kabel. Kabel yang dipasang
harus dilapisi pasir halus setebal minimum 5 cm dari
permukaan kulit kabel dan kabel bagian atas diberi
pelindung mekanis untuk maksud keamanan, terbuat dari
beton, batu atau bata. Kabel bawah tanah tidak jarang
melewati persilangan, persilangan kabel, persilangan kabel
telekomunikasi dan kabel listrik (non PLN), persilangan
dengan rel kereta api, persilangan dengan jalan raya,
persilangan dengan saluran air. Berikut ini ketentuan
pemasangan kabel tanah jika ada persilangan.
2) Persilangan Kabel Bawah Tanah
Kabel harus dilindungi pipa beton belah atau lempengan
minimum tebal 6 cm. pipa beton belah dilebihkan 0.5 meter
pada sisi kiri kanan persilangan, tutup pelindung minimal 5
cm lebih lebar dari kabel yang dilindungi.

Pemasangan Kabel Tanah Pada Jembatan Beton

a. Persilangan kabel telekomunikasi dan kabel listrik (non


PLN)
Kabel listrik harus dibawah kabel telekomunikasi, kabel
harus dilindungi dengan pelindung (pipa beton belah, plat
beton, pipa yang tahan api). Kedua sisi persilangan
pelindung ditambah 0.5 meter.

Gambar: Konstruksi Penanaman Kabel Tanah Dengan Kabel Telekomunikasi dan


Kabel Listrik

b. Persilangan dengan jalan raya


Kabel harus dimasukkan dalam pipa beton atau PVC atau
selubung baja, yang dilebihkan masing-masing 0.5 meter
sisi kiri kanan bahu jalan. Di bawah penerangan kabel
harus dilindungi dengan pelindung pipa beton separuh,
PVC atau sejenisnya.

Konstruksi Penanaman Kabel Bawah Tanah

Konstruksi Penanaman Kabel Tanah Melintasi Jalan Raya

c. Persilangan dengan saluran air


Kabel harus ditanam minimal 1 meter di bawah saluran
air. Sedangkan jarak minimal kabel tanah dengan
bangunan air adalah 0.3 meter dan harus dimasukkan
kedalam pipa beton/logam dengan diameter minimal 10
cm dan dilebihkan 0.5 meter pada sisi perlintasan.

Konstruksi Lintasan Kabel Tanah Diatas Sungai

Konstruksi Kabel Tanah Menyebrangi Pipa Atau Kabel

3) Penyambungan Kabel Bawah Tanah


Kemampuan sambungan harus baik pada pemasangan awal
suatu saluran, karena pada penyimpanan atau penanaman
setiap kabel di dalam tanah dan ruang terkurung dapat
dipastikan beroperasi di bawah bermacam-macam kondisi
cuaca (Gilbertson, 2001:127)

Konstruksi Penyambungan Secara Simplex Pulling Grip

Konstruksi Penyambungan Secara Duplex Pulling Grip

Konstruksi Penyambungan Kabel Bawah Tanah Dengan Pelindung Isolasi PE, XLP, dan
EPR

4) Pengaman Kabel Bawah Tanah


Penggunaan relay arus pada sumber daya yang terletak
pada satu ujung saja.
5) Pelacakan Lokasi Gangguan
Beberapa peralatan dan teknik yang digunakan untuk
mengetahui lokasi gangguan jaringan bawah tanah,
diantaranya :
1. Melacak dan mencari
Pada bagian mengalami kerusakan pengaman (fuse),
lokasi yang mengalami gangguan dibatasi dengan
membuka/melepas kabel, setelah kabel terlepas lalu
dilakukan penggantian fuse. Penggunaan fuse dengan
pembatas arus akan mengurangi gangguan arus tetapi
akan meningkatkan biaya.
2. Indikator Gangguan
Indikator jaringan yang terganggu adalah sebuah
peralatan kecil yang dipasang disekitar kabel sebagai
pengukur arus dan penghantar sinyal dari arus gangguan.
Pendeteksi gangguan jaringan bukanlah
penunjuk
gangguan yang akurat, setelah diidentifikasi
lokasi
gangguan, hendaknya masih dilakukan pendeteksi
gangguan dengan metode lain untuk mendapatkan likasi
yang terganggu secara tepat.

Indikator gangguan

3. Alat Pelacak Ground Penerating Radar (GPR)


Penggunaan GPR untuk mendeteksi lokasi gangguan
pada jaringan bawah tanah disebut dengan otomata. Hasil

yang didapat dari GPR adalah file gambar, dengan


menerapkan konsep otomata akan diketahui dan dilacak
pola difraksi file gambar yang diperoleh dari GPR,
sehingga dapat diketahui kedalaman dan jari-jari
(diameter) dari kabel listrik.

Gambar keluaran Alat GPR

Hasil Akuisisi Data Alat GPR

Alat Pelacak Gangguan Kabel Tanah

2.4.3.3 Inovasi Sumber Listrik


Pengolahan sampah menjadi energi listrik. Cara ini sangat
cocok untuk lingkungan Pandanaran, karena terdapat banyak
bangunan publik seperti perkantoran, pertokoan, restoran, serta
rumah sakit yang banyak menghasilkan sampah tiap harinya.
1. Sampah dari lingkungan Pandanaran dikumpulkan.
2. Sampah dipindahkan ke ruang pembakaran dan dibakar
dengan suhu yang sangat tinggi, kira-kira 1000 C. Sampah
menjadi bahan bakar.
3. Air akan mendidih dari proses pembakaran.
4. Uap tekanan tinggi akan digunakan untuk menggerakkan
turbin.
5. Uap ini menggerakkan turbin untuk menghasilkan tenaga
listrik.
6. Tenaga disalurkan ke jaringan listrik ke perumahan, industri
dan perkantoran dll.
7. Abu dari pembakaran diproses untuk menghilangkan unsur
logam dan disatukan dengan residu lain hasil proses
pembersihan udara.
8. Gabungan abu ini dibuang ke tempat pembuangan sampah.
9. Semua gas-gas yang dihasilkan dikumpulkan, ditapis dan
dibersihkan sebelum dibuang ke udara.
10. Semua partikel-partikel kecil ditapis sebelum dibuang ke
udara.
11. Semua jenis polutan akan diawasi sesuai dengan parameter
yang ditentukan untuk memastikan semua standar terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.alpensteel.com/component/virtuemart/?
page=shop.browse&category_id=25&vmcchk=1

http://semarang.go.id/pjpr/index.php/article/detail/103
SUMBER: Iswanto, Dhanoe, Maret 2006, Pengaruh Elemen Elemen Pelengkap
Jalur Pedestrian Terhadap Kenyamanan Pejalan Kaki. Studi Kasus : Penggal
Jalan Pandanaran, Dimulai dari Jalan Randusari Hingga Kawasan Tugu Muda.
Volume 5, No.1, http://eprints.undip.ac.id/18474/, 12 Desember 2013.
http://news.detik.com/read/2009/02/12/162321/1084027/10/jaringan-kabelbawah-tanah-pln-lebih-rapi-dan-aman
http://www.riyantoyosapat.com/arsitektur/perumahan-vs-instalasi-listrik.html
http://abdulsyakur.blog.undip.ac.id/2013/03/24/kota-tanpa-jaringan-listrikudara/
http://www.news.tridinamika.com/1251/inovasi-listrik-singapore
http://www.hijauku.com/2012/04/16/menciptakan-energi-bersih-darisampah/diagram-pengolahan-sampah-menjadi-energi/