Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
Proses menua tidak dapat dihambat, baik penuaan otak maupun fisik.
Otak akan mengalami atrofi, sel pyramidal neuron di neokorteks dan
hipokampus akan mengkerut, serta pengurangan dendrit dan sinaps. Seiring
dengan itu maka gerakan dan reaksi akan melambat.
suatu

sindroma

penurunan

kemampuan

intelektual

Demensia adalah
progresif

yang

menyebabkan deteriorasi kognisi dan fungsional, sehingga mengakibatkan


gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. (Asosiasi
Alzheimer Indonesia, 2010).
Pada umumnya 40% penderita demensia berada di atas 65 tahun
dengan angka insidens 187/100.000/tahunnya. Untuk demensia tidak ada
perbedaan antara pria dan wanita, sedangkan untuk demensia Alzheimer
lebih banyak wanita dengan rasio 1,6. Insiden demensia Alzheimer sangatlah
berkaitan dengan umur, 5% dari populasi berusia di atas 65 tahun di Amerika
dan Eropa merupakan penderita Alzheimer, dan ini sesuai dengan makin
banyak populasi orang tua di Amerika Serikat dan Eropa (Japardi, 2002).
Demensia disebabkan oleh penyakit otak (organik), yang tidak
berhubungan dengan gangguan tingkat kesadaran. Penyebab pertama
penderita demensia adalah penyakit alzheimer (50-60%) dan kedua oleh
vaskuler (20%), serta berbagai penyakit lainnya seperti Huntington, Pick, dan
lain-lain.
Diagnosis klinis tetap merupakan pendekatan yang paling baik karena
sampai saat ini belum ada pemeriksaan elektrofisiologis, neuro imaging dan
pemeriksaan lain untuk menegakkan demensia secara pasti. Pemeriksaan
fisik untuk demensia terdiri dari pemeriksaan umum, neurologis, dan
neuropsikologis. Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk membantu
menegakkan diagnosis, diantaranya pemeriksaan laboratorium, imaging
pada otak, EEG, hingga pemeriksaan genetika.
Terapi yang adekuat dan sesuai dengan kausanya akan memberikan
prognosis yang lebih baik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Definisi demensia menurut WHO adalah sindrom neurodegeneratif
yang timbul karena adanya kelainan yang bersifat kronis dan progesif disertai
dengan gangguan fungsi luhur multiple seperti kalkulasi, kapasitas belajar,
bahasa, dan pengambilan keputusan. Kesadaran pada demensia tidak
terganggu. Gangguan fungsi kognitif biasanya disertai dengan perburukan
kontrol emosi, perilaku, dan motivasi.1
Sedangkan menurut PPDGJ III, Demensia merupakan suatu
sindrom akibat penyakit / gangguan otak yang biasanya bersifat kronik
progresif, dimana terdapat gangguan fungsi luhur kortikal yang multiple (
multiple higher cortical function ), termasuk di dalamnya : daya ingat, daya
pikir, orientasi, daya tangkap ( comprehension ), berhitung, kemampuan
belajar, berbahasa, dan daya nilai ( judgement ). Umumnya disertai dan ada
kalanya diawali dengan kemrosotan ( deterioration ) dalam pengendalian
emosi, perilaku sosial, atau motivasi hidup.2
Pedoman diagnostik demensia menurut PPDGJ III:
1. Adanya penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir, yang
sampai mengganggu kegiatan harian seseorang ( personal activities
of daily living ) seperti : mandi, berpakaian, makan, kebersihan diri,
buang air besar dan kecil
2. Tidak ada gangguan kesadaran ( clear consiousness ).
3. Gejala dan disabilitas sudah nyata untuk paling sedikit 6 bulan.

2.2 Epidemiologi
Prevalensi demensia semakin meningkat dengan bertambahnya usia.
Prevalensi demensia sedang hingga berat bervariasi pada tiap kelompok
usia. Pada kelompok usia diatas 65 tahun prevalensi demensia sedang
hingga berat mencapai 5%, sedangkan pada kelompok usia diatas 85 tahun
prevalensinya mencapai 20-40%.1,2,4

Gambar 1. Estimasi global jumlah manusia yang menderita demensia


Dari gambar diatas, perkiraan jumlah orang yang menderita demensia
terus bertambah dari tahun ke tahun. Menurut Ferry et al., tiap-tiap negara
memiliki kecenderungan peningkatan angka kejadian demensia, yang akan
disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 1. Estimasi Global Jumlah Absolut Penderita Demensia


(Delphi Consensus Study)

Dari seluruh pasien yang menderita demensia, 50 hingga 60 persen


diantaranya menderita jenis demensia yang paling sering dijumpai, yaitu
demensia tipe Alzheimer (Alzheimers diseases). Prevalensi demensia tipe
Alzheimer meningkat seiring bertambahnya usia. Untuk seseorang yang
berusia 65 tahun prevalensinya adalah 0,6 persen pada pria dan 0,8 persen
pada wanita. Pada usia 90 tahun, prevalensinya mencapai 21 persen. Pasien
dengan demensia tipe Alzheimer membutuhkan lebih dari 50 persen
perawatan rumah (nursing home bed).1,2,4
Jenis demensia yang paling lazim ditemui berikutnya adalah
demensia vaskuler, yang secara kausatif dikaitkan dengan penyakit
serebrovaskuler. Hipertensi merupakan faktor predisposisi bagi seseorang
untuk menderita demensia. Demensia vaskuler meliputi 15-30% dari seluruh
kasus demensia. Demensia vaskuler paling sering ditemui pada seseorang
yang berusia antara 60 hingga 70 tahun dan lebih sering pada laki-laki
daripada wanita. Sekitar 10 hingga 15 persen pasien menderita kedua jenis
demensia tersebut.1,5

Gambar. Persentase Penyebab Demensia


Penyebab

demensia

paling

sering

lainnya,

masing-masing

mencerminkan 1-5 % kasus adalah trauma kepala, demensia yang


berhubungan

dengan

alkohol,

dan

berbagai

jenis

demensia

yang

berhubungan dengan gangguan pergerakan, misalnya penyakit Huntington


dan penyakit Parkinson. Karena demensia adalah suatu sindrom yang
umum, dan mempunyai banyak penyebab, dokter harus melakukan
pemeriksaan klinis dengan cermat pada seorang pasien dengan demensia
untuk menegakkan penyebab demensia pada pasien tertentu.

2.3 Etiologi
Penyebab demensia yang paling sering pada individu yang berusia diatas
65 tahun adalah (1) penyakit Alzheimer, (2) demensia vaskuler, dan (3)
campuran antara keduanya. Penyebab lain yang mencapai kira-kira 10
persen diantaranya adalah demensia jisim Lewy (Lewy body dementia),
penyakit Pick, demensia frontotemporal, hidrosefalus tekanan normal,
demensia alkoholik, demensia infeksiosa (misalnya human immunodeficiency
virus (HIV) atau sifilis) dan penyakit Parkinson. Banyak jenis demensia yang
melalui evaluasi dan penatalaksanaan klinis berhubungan dengan penyebab
yang reversibel seperti kelaianan metabolik (misalnya hipotiroidisme),
defisiensi nutrisi (misalnya defisiensi vitamin B12 atau defisiensi asam folat),
atau sindrom demensia akibat depresi. Pada tabel 2.1 berikut ini dapat dilihat
kemungkinan penyebab demensia:
Tabel 1. Etiologi Demensia

Demensia Degeneratif
Trauma
Penyakit Alzheimer
Dementia pugilistica,
Demensia frontotemporal (misalnya;
post traumatic dementia
Subdural
hematoma
Penyakit Pick)
Penyakit Parkinson
Demensia Jisim Lewy
Ferokalsinosis serebral idiopatik

(penyakit Fahr)
Kelumphan supranuklear yang

Fisiologis

progresif

Normal

Infeksi
Penyakit Prion (misalnya penyakit
Creutzfeldt-Jakob,bovine

Hidrosefalus Tekanan

Kelainan Jantung,
Vaskuler, dan Anoksia
Infark serebri (infark

spongiform encephalitis, (Sindrom

tunggal mauapun

Gerstmann-Straussler)
Acquired immune deficiency

mulitpel atau infark

syndrome (AIDS)
Sifilis

lakunar)
Penyakit

Binswanger

(subcortical
arteriosclerotic

encephalopathy)
Insufisiensi hemodinamik
(hipoperfusi

Kelainan Psikiatrik
Pseudodemensia pada depresi
Penurunan fungsi kognitif pada

atau

hipoksia)
Kelainan Metabolik
Defisiensi vitamin
(misalnya vitamin B12,

skizofrenia lanjut

folat)
Endokrinopati

(e.g.,hipotiroidisme)
Gangguan metabolisme

kronik (contoh : uremia)


Tumor
Penyakit Demielinisasi
Tumor primer maupun metastase Multiple sklerosis
(misalnya meningioma atau tumor
metastasis dari tumor payudara atau
tumor paru)
Obat-obatan dan Toksin
Alkohol
Logam berat
Radiasi
Pseudodemensia

Lain-lain
Penyakit Huntington
Penyakit Wilson
Leukodistrofi
akibat

pengobatan (misalnya penggunaan

antikolinergik)
Karbon monoksida

metakromatik
Neuroakantosistosis

Jenis-jenis Demensia:
Berbagai gangguan dan faktor-faktor tertentu berkontribusi terhadap
perkembangan penyakit demensia. Pada penyakit neurodegeneratif misalnya
penyakit

Alzheimer,

gangguan

frontotemporal,

dan

demensia

Lewy

Body

mengakibatkan kehilangan fungsi otak dan neuron yang progresif serta ireversibel.
Saat ini, belum ada pengobatan yang adekuat untuk penyakit neurodegeneratif ini.
Namun, ada tipe lain dari demensia yang dapat reversibel dengan terapi yang
dekuat. Pada hidrosefalus tekanan normal misalnya, sering reversibel ketika cairan
serebrospinal yang berlebih didrainase via shunt dan disirkulasikan di tempat lain di
dalam tubuh. Vaskulitis serebral berespon baik terhadap pemberian obat
imunosupresif.
Berbagai jenis demensia dideskripsikan sebagai berikut,
1. Demensia Alzheimer
Alois Alzheimer pertama kali menggambarkan suatu kondisi yang selanjutnya
diberi nama dengan namanya dalam tahun 1907, saat ia menggambarkan
seorang wanita berusia 51 tahun dengan perjalanan demensia progresif
selama 4,5 tahun. Diagnosis akhir Alzheimer didasarkan pada pemeriksaan
neuropatologi otak; meskipun demikian, demensia Alzheimer biasanya
didiagnosis dalam lingkungan klinis setelah penyebab demensia lain tela
disingkirkan dari pertimbangan diagnostik.

Gambar. Gambaran histologis penyakit Alzheimer. Tampak secara jelas plak senilis
disebelah kiri. Beberapaserabut neuron tampak kusut disebelah kanan. Menjadi
catatan tentang adanya kekacauan hantaran listrik pada sistem kortikal

Gambar. Gambaran organ otak makroskopik yang normal dan pada penyakit
Alzheimer
2. Demensia Vaskuler
Penyebabnya

adalah

penyakit

vaskuler

serebral

yang

multipel

yang

menimbulkan gejala berpola demensia. Ditemukan umumnya pada laki-laki,


khususnya dengan riwayat hipertensi dan faktor resiko kardiovaskuler lainnya.
Gangguan terutama mengenai pembuluh darah serebral berukuran kecil dan sedang
yang mengalami infark dan menghasilkan lesi parenkhim multipel yang menyebar
luas pada otak (gambar 2.2). Penyebab infark berupa oklusi pembuluh darah oleh
plaq arteriosklerotik atau tromboemboli dari tempat lain( misalnya katup jantung).
Pada pemeriksaan akan ditemukan bruit karotis, hasil funduskopi yang tidak normal
atau pembesaran jantung.
3.

2.4 Neurofisiologi dan Neuroanatomi Otak


Fungsi kognitif merupakan aktivitas mental secara sadar seperti
berpikir, mengingat, belajar, dan menggunakan bahasa. Fungsi kognitif
juga merupakan kemampuan atensi, memori, pertimbangan, pemecahan
masalah, serta kemampuan eksekutif seperti merencanakan, menilai,
mengawasi dan melakukan evaluasi.

Fungsi kognitif terdiri dari: (Modul Neurobehavior PERDOSSI, 2008)


a. Atensi: Atensi adalah kemampuan untuk bereaksi atau
memperhatikan satu stimulus dengan mampu mengabaikan
stimulus lain yang tidak dibutuhkan. Atensi merupakan hasil
hubungan antara batang otak, aktivitas limbik dan aktivitas korteks
sehingga mampu untuk fokus pada stimulus spesifik dan
mengabaikan stimulus lain yang tidak relevan. Konsentrasi
merupakan kemampuan untuk mempertahankan atensi dalam
periode yang lebih lama. Gangguan atensi dan konsentrasi akan
mempengaruhi fungsi kognitif lain seperti memori, bahasa dan
fungsi eksekutif.
b. Bahasa: Bahasa

merupakan perangkat dasar komunikasi dan

modalitas dasar yang membangun kemampuan fungsi kognitif.


Jika terdapat gangguan bahasa, pemeriksaan kognitif seperti
memori verbal dan fungsi eksekutif akan mengalami kesulitan
atau tidak dapat dilakukan. Fungsi bahasa meliputi 4 parameter,
yaitu:
1. Kelancaran: Kelancaran mengacu pada kemampuan untuk
menghasilkan kalimat dengan panjang, ritme dan melodi yang
normal. Metode yang dapat membantu menilai kelancaran pasien
adalah dengan meminta pasien menulis atau berbicara secara
spontan.
2. Pemahaman: Pemahaman mengacu pada kemampuan untuk
memahami suatu perkataan atau perintah, dibuktikan dengan
kemampuan seseorang untuk melakukan perintah tersebut.
3. Pengulangan: Kemampuan seseorang untuk mengulangi suatu
pernyataan atau kalimat yang diucapkan seseorang.
4. Penamaan: Merujuk pada kemampuan seseorang untuk
menamai suatu objek beserta bagian-bagiannya.
Gangguan bahasa sering terlihat pada lesi otak fokal maupun
difus, sehingga merupakan gejala patognomonik disfungsi otak.
Penting bagi klinikus untuk mengenal gangguan bahasa karena
hubungan yang spesifik antara sindroma afasia dengan lesi
neuroanatomi.

c. Memori: Fungsi memori terdiri dari proses penerimaan dan


penyandian

informasi,

proses

penyimpanan

serta

proses

mengingat. Semua hal yang berpengaruh dalam ketiga proses


tersebut akan mempengaruhi fungsi memori. Fungsi memori
dibagi dalam tiga tingkatan bergantung pada lamanya rentang
waktu antara stimulus dengan recall, yaitu
1. Memori segera (immediate memory), rentang waktu antara
stimulus dengan recall hanya beberapa detik. Disini hanya
dibutuhkan pemusatan perhatian untuk mengingat (attention)
2. Memori baru (recent memory), rentang waktu lebih lama yaitu
beberapa menit, jam, bulan bahkan tahun.
3. Memori lama (remote memory), rentang waktunya bertahuntahun bahkan seusia hidup.
d. Visuospasial: Kemampuan visuospasial merupakan kemampuan
konstruksional seperti menggambar atau meniru berbagai macam
gambar (misal : lingkaran, kubus) dan menyusun balok-balok.
Semua lobus berperan dalam kemampuan konstruksi dan lobus
parietal terutama hemisfer kanan berperan paling dominan.
Menggambar jam sering digunakan untuk skrining kemampuan
visuospasial dan fungsi eksekutif dimana berkaitan dengan
gangguan di lobus frontal dan parietal.
e. Fungsi Eksekutif: Fungsi eksekutif dari otak dapat didefinisikan
sebagai suatu proses kompleks seseorang dalam memecahkan
masalah/ persoalan baru. Proses ini meliputi kesadaran akan
keberadaan suatu masalah, mengevaluasi, menganalisis, serta
memecahkan/ mencari jalan keluar suatu persoalan.
Sedangkan lobus otak yang berperan dalam fungsi kognitif antara lain:
1. Lobus Frontalis: Pada lobus frontalis mengatur motorik, perilaku,
kepribadian, bahasa, memori, orientasi, spaial, belajar, asosiatif,
daya analisis dan sintesis. Sebagian korteks medial lobus frontalis
dikaitkan sebagai bagian dari sistem limbik dan adanya perubahan
emosi bila terjadi kerusakan.
2. Lobus Parietalis: Lobus ini berfungsi dalam membaca, persepsi,
memori, dan visuospasial. Korteks ini menerima stimuli sensorik
(input visual, auitori, taktil) dari area asosiasi sekunder. Karena

menerima input dari berbagai modalitas sensori sering disebut


korteks heteromodal dan mampu membentuk asosiasi sensorik
(cross

modal

association),

sehingga

manusia

dapat

menghubungkan input visual dan menggambarkan apa yang mereka


lihat atau pegang.
3. Lobus
Temporalis:

Lobus

temporal

berfungsi

mengatur

pendengaran, penglihatan, emosi, memori, kategorisasi bendabenda, dan seleksi rangsangan auditorik dan visual.
4. Lobus Oksipitalis: Lobus oksipitalis berfungsi mengatur penglihatan
primer, visuospasial, memori, dan bahasa (Markam, 2003).
Masing-masing domain kognitif tidak dapat berjalan sendiri-sendiri dalam
menjalankan fungsinya tetapi sebagai satu kesatuan yang disebut sistem limbik.
Sistem limbik terdiri dari amygdala, hipokampus, nukleus talamik anterior, girus
subkalosus, girus cinguli, girus parahipokampus, formasio hipokampus dan korpus
mamilare. Alveus, fimbria, forniks, traktus mammilotalmikus dan striae terminalis
membentuk jaras-jaras penghubung sistem ini (Waxman, 2007).
Peran sentral sistem limbik meliputi memori, pembelajaran, motivasi, emosi,
fungsi neuroendokrin dan aktivitas otonom. Struktur otak berikut ini merupakan
bagian dari sistem limbik:
1. Amygdala, terlibat dalam pengaturan emosi, dimana pada hemisfer kanan
predominan untuk belajar emosi dalam keadaan tidak sadar, dan pada
hemisfer kiri predominan untuk belajar emosi pada saat sadar.
2. Hipokampus, terlibat dalam pembentukan memori jangka panjang,
pemeliharaan fungsi kognitif yaitu proses pembelajaran.
3. Girus parahipokampus, berperan dalam pembentukan memori spasial.
4. Girus cinguli, mengatur fungsi otonom seperti denyut jantung, tekanan
darah dan kognitif yaitu atensi.
5. Forniks, membawa sinyal dari hipokampus ke mammillary bodies dan
septal nuclei. Adapun forniks berperan dalam memori dan pembelajaran.
6. Hipothalamus, berfungsi mengatur sistem saraf otonom melalui produksi
dan pelepasan hormon, tekanan darah, denyut jantung, lapar, haus, libido
dan siklus tidur / bangun, perubahan memori baru menjadi memori
jangka panjang.

7. Thalamus ialah kumpulan badan sel saraf di dalam diensefalon


membentuk dinding lateral ventrikel tiga. Fungsi thalamus sebagai pusat
hantaran rangsang indra dari perifer ke korteks serebri. Dengan kata lain,
thalamus merupakan pusat pengaturan fungsi kognitif di otak / sebagai
stasiun relay ke korteks serebri.
8.

Mammillary

bodies,

berperan

dalam

pembentukan

memori

dan

pembelajaran.
9. Girus dentatus, berperan dalam memori baru.
10.Korteks enthorinal, penting dalam memori dan merupakan komponen
asosiasi (Markam, 2003, Devinsky dkk. 2004).
2.5 Patofisiologi
Faktor genetik
Walaupun penyebab demensia tipe Alzheimer masih belum diketahui, telah
terjadi kemajuan dalam bidang molekular yakni deposit amiloid yang
merupakan tanda utama neuropatologi gangguan. Beberapa peneliti
mengungkapkan bahwa 50% prevalensi kasus alzheimer ini diturunkan
melalui gen autosomal dominan. Individu keturunan garis pertama pada
keluarga penderita alzheimer mempunyai resiko menderita demensia 6 kali
lebih besar dibandingkan kelompok kontrol normal. Pemeriksaan genetika
DNA pada penderita alzheimer dengan familial early onset terdapat kelainan
lokus pada kromosom 21 diregio proximal log arm, sedangkan pada familial
late onset didapatkan kelainan lokus pada kromosom 19. Begitu pula pada
penderita down syndrome mempunyai kelainan gen kromosom 21, setelah
berumur 40 tahun terdapat neurofibrillary tangles (NFT), senile plaque dan
penurunan. Marker kolinergik pada jaringan otaknya yang menggambarkan
kelainan histopatologi pada penderita alzheimer. Hasil penelitian penyakit
alzheimer terhadap anak kembar menunjukkan 40-50% adalah monozygote
dan 50% adalah dizygote. Keadaan ini mendukung bahwa faktor genetik
berperan dalam penyaki alzheimer. Pada sporadik non familial (50-70%),
beberapa penderitanya ditemukan kelainan lokus kromosom 6, keadaan ini

menunjukkan bahwa kemungkinan faktor lingkungan menentukan ekspresi


genetika pada alzheimer.
Faktor Infeksi
Ada hipotesis menunjukkan penyebab infeksi virus pada keluarga penderita
alzheimer yang dilakukan secara immuno blot analisis, ternyata diketemukan
adanya antibodi reaktif. Infeksi virus tersebut menyebabkan infeksi pada
susunan saraf pusat yang bersipat lambat, kronik dan remisi. Beberapa
penyakit infeksi seperti Creutzfeldt-Jacob disease dan kuru, diduga
berhubungan dengan penyakit alzheimer. Hipotesa tersebut mempunyai
beberapa persamaan antara lain:
a. Manifestasi klinik yang sama
b. Tidak adanya respon imun yang spesifik
c. Adanya plak amyloid pada susunan saraf pusat
d. Timbulnya gejala mioklonus
e. Adanya gambaran spongioform
Faktor Lingkungan
Ekmann (1988), mengatakan bahwa faktor lingkungan juga dapat berperan
dalam patogenesa penyakit alzheimer. Faktor lingkungan antaral ain,
aluminium, silicon, mercury, zinc. Aluminium merupakan neurotoksik
potensial pada susunan saraf pusat yang ditemukan neurofibrillary tangles
(NFT) dan senile plaque (SPINALIS). Hal tersebut

diatas belum dapat

dijelaskan secara pasti, apakah keberadaan aluminum adalah penyebab


degenerasi neurosal primer atau sesuatu hal yang tumpang tindih. Pada
penderita alzheimer, juga ditemukan keadan ketidakseimbangan merkuri,
nitrogen, fosfor, sodium, dengan patogenesa yang belum jelas. Ada dugaan
bahwa asam amino glutamat akan menyebabkan depolarisasi melalui
reseptor N-methy D-aspartat sehingga kalsium akan masuk ke intraseluler
(Cairan-influks) danmenyebabkan kerusakan metabolisma energi seluler
dengan akibat kerusakan dan kematian neuron.
Faktor Imunologis
Behan dan Felman (1970) melaporkan 60% pasien yang menderita
alzheimer didapatkan kelainan serum protein seperti penurunan albumin dan
peningkatan alpha protein, anti trypsin alphamarcoglobuli dan haptoglobuli.
Heyman (1984), melaporkan terdapat hubungan bermakna dan meningkat
dari penderita alzheimer

dengan penderita tiroid. Tiroid

Hashimoto

merupakan penyakit inflamasi kronik yang sering didapatkan pada wanita


muda karena peranan faktor immunitas
Faktor Trauma
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan penyakit alzheimer
dengan trauma kepala. Hal ini dihubungkan dengan petinju yang menderita
demensia pugilistik, dimana pada otopsinya ditemukan banyak neurofibrillary
tangles.
Faktor Neurotransmitter
Perubahan neurotransmitter pada jaringan otak penderita alzheimer
mempunyai peranan yang sangat penting seperti:
a. Asetilkolin
Barties et al (1982) mengadakan penelitian terhadap aktivitas spesifik
neurotransmiter dgncara biopsi sterotaktik dan otopsi jaringan otak pada
penderita

alzheimer

didapatkan

penurunan

aktivitas

kolinasetil

transferase, asetikolinesterase dan transport kolin serta penurunan


biosintesa asetilkolin. Adanya defisit presinaptik dan postsynaptik
kolinergik ini bersifat simetris pada korteks frontalis, temporallis superior,
nukleus basalis, hipokampus. Kelainan neurottansmiter asetilkoline
merupakan kelainan yang selalu ada dibandingkan jenis neurottansmiter
lainnyapd penyakit alzheimer, dimana pada jaringan otak/biopsinya
selalu didapatkan kehilangan cholinergik Marker. Pada penelitian
dengan pemberian scopolamin pada orang normal, akan menyebabkan
berkurang atau hilangnya daya ingat. Hal ini sangat mendukung
hipotesa kolinergik sebagai patogenesa penyakit alzheimer.
b. Noradrenalin
Kadar metabolisma norepinefrin dan dopimin didapatkan menurun pada
jaringan otak penderita alzheimer. Hilangnya neuron bagian dorsal lokus
seruleus yang merupakan tempat yang utama noradrenalin pada
korteks serebri, berkorelasi dengan defisit kortikal noradrenergik. Bowen
et al.,(1988), melaporkan hasil biopsi dan otopsi jaringan otak penderita
alzheimer menunjukkan adanya defisit noradrenalin pada presinaptik
neokorteks. Palmer et al (1987), Reinikanen (1988), melaporkan
konsentrasi noradrenalin menurun baik pada post dan ante-mortem
penderita alzheimer.
c. Dopamin

Sparks et al (1988), melakukan pengukuran terhadap aktivitas


neurottansmiter regio hipothalamus, dimana tidak adanya gangguan
perubahan aktivitas dopamin pada penderita alzheimer. Hasil ini masih
kontroversial, kemungkinan disebabkan karena potongan histopatologi
regio hipothalamus setia penelitian berbeda-beda.
d. Serotonin
Didapatkan penurunan kadar serotonin dan hasil metabolisme 5 hidroxiindolacetil acid pada biopsi korteks serebri penderita alzheimer.
Penurunan juga didapatkan pada nukleus basalis dari meynert.
Penurunan serotonin pada subregio hipotalamus sangat bervariasi,
pengurangan maksimal pada anterior hipotalamus sedangkan pada
posterior peraventrikuler hipotalamus berkurang sangat

minimal.

Perubahan kortikal serotonergik ini berhubungan dengan hilangnya


neuron-neuron dan diisi oleh formasi NFT pada nukleus rephe dorsalis
e. MAO (Monoamine Oksidase)
Enzim mitokondria MAO akan mengoksidasi transmitter mono amine.
Aktivitas normal MAO terbagi 2 kelompok yaitu MAO A untuk deaminasi
serotonin, norepineprin dan sebagian kecil dopamin, sedangkan MAO B
untuk deaminasi terutama dopamin. Pada penderita alzheimer,
didapatkan peningkatan MAO A pada hipothalamus dan frontais
sedangkan MAO B meningkat pada daerah temporal dan menurun pada
nukleus basalis dari meynert

2.6 Gejala Klinis

Gambaran utama demensia yaitu adanya gangguan memori, setidaktidaknya satu diantara gangguan-gangguan kognitif berikut ini: afasia,
apraksia, agnosia, atau gangguan dalam hal fungsi eksekutif. Defisit
kognitif harus sedemikian rupa sehingga mengganggu fungsi sosial atau
okupasional, serta harus menggambarkan menurunnya fungsi luhur
sebelumnya (Jefferies, 2009).
a. Gangguan memori: Ketidakmampuannya untuk belajar tentang
hal-hal baru, atau lupa akan hal-hal yang baru saja dikenal,
dikerjakan, atau dipelajari. Lupa akan pekerjaan, sekolah, tanggal
lahir, anggota keluarga, dan bahkan terhadap namanya sendiri.
b. Gangguan orientasi: Orientasi dapat terganggu secara progresif
selama perjalanan penyakit demensia. Sebagai contohnya, pasien
dengan

demensia

mungkin

lupa

bagaimana

kembali

ke

ruangannya setelah pergi ke kamar mandi.


c. Gangguan bahasa: Penderita akan terlihat sulit untuk mencari
kata yang tepat dalam mengungkapkan isi pikirannya.
d. Apraksia: Penderita sering mengalami kesulitan

dalam

menyelesaikan tugas sehari-hari yang sangat mereka ketahui,


contohnya mereka tidak mengetahui langkah-langkah untuk
menyiapkan makanan, berpakaian.
e. Agnosia: Ketidakmampuan untuk mengenali atau mengidentifikasi
benda meskipun fungsi sensoriknya utuh. Sebagai contoh,
penderita tidak dapat mengenali kursi, pena, meskipun visusnya
baik. Akhirnya penderita tak mengenal lagi anggota keluarganya
f.

dan bahkan dirinya sendiri yang tampakpada cermin.


Gangguan Fungsi Eksekutif: Ditandai dengan sulit menyelesaikan
masalah, reasoning, pembuatan keputusan, dan penilaian.
Misalnya penderita mengenakan baju tanpa mempertimbangkan
cuaca, memakai beberapa kaos di hari yang panas atau memakai

pakaian yang sangat minim ketika cuaca dingin.


g. Perubahan Kepribadian: Pasien menjadi introvert dan kurang
memperhatikan tentang efek perilaku mereka terhadap orang lain.
Waham paranoid, mudah marah dan meledak-ledak, delusi
paranoid dan halusinasi (dengar, visual, dan haptic), agitasi,

wandering (mondar-mandir), dan gangguan tidur (Clark et al.,


2010).
2.7 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien dengan
kecurigaan

demensia

meliputi

pemeriksaan

laboratorium,

pencitraan

otak,

elektroensefalografi dan pemeriksaan genetika. (Munir, 2015)


American Academy Of Neurology (AAN) merekomendasikan pemeriksaan
darah lengkap, serum elektrolit, blood urea nitrogen (BUN) dan serum glukosa
sebagai bagian dari pemeriksaan penunjang pada pasien dengan keluhan gangguan
memori. Pada pasien dengan riwayat kesaradaran fluktuatif maka perlu dilakukan
pemeriksaan electroencephalograph (EEG), sedangkan pada pasien dengan riwayat
nyeri kepala lama dan riwayat terpapar HIV atau infeksi lain, maka perlu dilakukan
lumbal pungsi. (Miller and Boeve. 2009)
Lebih dari 12 % pasien demensia mengalami depresi dan dilaporkan juga
ada keterlibatan kurangnya vitamin B12 dan hipotiroid. Sedangkan untuk
pemeriksaan sifilis secara rutin tidak disarankan lagi, meskipun sifilis merupakan
faktor resiko dari demensia karena infeksi. (McKeel, D W, 2007) Hal ini disetujui oleh
Miller dan Boeve (2009), yang menyatakan bahwa angka kejadian neurosifilis jarang
dan sering terjadi false positive pada teknik pemeriksaan sehingga tidak
direkomendasikan pemeriksaan Rapid Plasma Reagin (RPR) secara rutin.

Sumber

McKeel, D W.,
Burns,

J.,

Meusser, T M.,
Morris,

C.

2007. An Atlas Of Investigation And Diagnosis Of Dementia. Oxford. Atlas Medical


Publishing Ltd

Pencitraan otak yang direkomendasikan dalam penegakkan diagnosis dari


demensia adalah MRI atau CT scan kepala non kontras. Dasar rekomendasinya
adalah 5% dari pasien demensia memiliki lesi struktural yang signifikan yang tidak
ditemukan pada saat anamnesa dan pemeriksaan fisik. (McKeel, D W, 2007) Selain
itu, pemeriksaan pencitraan otak juga dapat menentukan beratnya penyakit dan
prognosis. Untuk mendeteksi pemeriksaan fungsional dapat dilakukan pemeriksaan
Positron emission tomography (PET) dan single photon emission tomography
(SPECT). Pemeriksaan MRI juga dapat membedakan demensia alzeimer dan
demensia vaskuler pada stadium awal. (Munir, 2015)

Sumber : Miller and Boeve. 2009. The Behavioral Neurology of Dementia.


Cambridge .Cambridge University Press.
Pada gambaran MRI, pasien dengan alzeimer menunjukkan adanya atrofi
otak hipokampus dan posterior parietal. Sedangkan pada pasien frontotemporal
disease ditemukan atrofi ada dorsolateral prefrontal, orbifrontal dan anterior singulat.
(Miller and Boeve. 2009)
Pemeriksaan EEG tidak menunjukkan kelainan yang spesifik, namun pada
stadium lanjut dapat ditemukan perlambatan umum dan kompleks periodik. (Munir,
2015)

Pemeriksaan genetik perlu dilakukan pada pasien dengan pola autosomal


dominan demensia. Presenilin 1 adalah mutasi tersering yang ditemukan pada
alzeimer onset dini, sedangkan vau dan progranulin adalah mutasi yang sangat
berhubungan dengan demensia frototemporal. (Miller and Boeve. 2009)
2.8 Penegakkan diagnosis
Penegakkan diagnosis demensia berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik
dan pendekatan neuropsikologis. (Munir, 2015)
American academy of Neurology (2001) melakukan parameter pada
diagnosis demensia yang direkomendasikan untuk digunakan secara rutin adalah
dari kriteria DSM-IV. (McKeel, D W, 2007) Berikut ini adalah kriteria diagnosis pada
berbagai tipe demensia mengacu pada Diangostic and Statitical Manual of Mental
Disorders, edisi keempat (DSM-IV-TR) ( mahfoed dkk, 2011)
A. Terjadinya berbagai defisit kognitif yang bermanifestasi sebagai berikut:
Penurunan memori
Satu atau lebih gangguan kognitif : afasia, apraxia, agnosia,
B. Defisit

gangguan fungsi dalam pengambilan keputusan


kognitif di atas menyebabkan gangguan fungsi

sosial

dan

okupasional.
C. Defisit ini tidak terjadi selama adanya delirium.
Untuk dapat memenuhi keriteria tersebut, maka perlu dilakukan (McKeel,D W, 2007)
1. Evaluasi masalah yang terlihat
2. Kumpulkan informasi dari seseorang yang sangat tahu pasien.
3. Pemeriksaan fisik dan neurologis
4. Evaluasi kognisi, behavior, dan status fungsi dari pasien.
2.8.1 Anamnesa
Anamnesa dilakukan pada keluarga atau orang terdekat pasien yang
mengetahui riwayat perjalanan penyakit pasien. Hal yang perlu diperhatikan adalah
riwayat penurunan fungsi kognitif, onset mendadak atau kronik progresif dan adanya
perubahan perilaku dan kepribadian. Anamnesa yang perlu diketahui adalah sebagai
berikut (Munir, 2015):
a. Riwayat medis umum : menanyakan faktor resiko demensia
b. Riwayat neurologis : menanyakan gangguan neurologis

c. Riwayat gangguan kognisi: riwayat gangguan memori jangka pendek


maupun jangka panjang
d. Riwayat gangguan perilaku dan kepribadian : gejala neuropsikologis
berupa waham, halusinasi, depresi, dan lain-lain.
e. Riwayat intoksikasi
f. Riwayat keluarga
2.8.2 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan umum dan
pemeriksaan neurologis. Pemeriksaan neurologis dilakukan untuk membedakan
proses degeneratif primer atau sekunder dan kondisi komorbid lainnya serta
mengetahui adanya tekanan intrakranial. (Munir, 2015)
2.8.3 Pemeriksaan neuropsikologis
Pemeriksaan neuropsikologis meliputi evaluasi memori, orientasi, bahasa,
kalkulasi, praksis, visuospasial dan visuoperseptual. Pemeriksaan Mini Mental State
Examination ( MMSE) dan Clock Drawing Test ( CDT) dapat dilakukan untuk menilai
adanya disfungsi kognisi, menilai efektivitas pengobatan dan untuk menentukan
progresivitas penyakit. (Munir, 2015)Pemeriksaan neuropsikologis ini dilakukan
sebagai konfirmasi awal adanya gangguan kognisi dan bukan sebagai diagnosis.
(McKeel, D W, 2007)

Sumber : Machfoed, Hasan., M Hamdan., Abdullah M., Wardah. 2011. Buku Ajar
Ilmu Saraf. Surabaya. Pusar Penerbitan dan Percetakan UNAIR (AUP)

Sumber : Miller and Boeve. 2009. The Behavioral Neurology of Dementia.


Cambridge .Cambridge University Press.
Demensia Alzeimer
Kriteria diagnosis
Berdasarkan Nationals Institute Of Communcative Disorder And Stroke And The
Alzeimers Disease And Related Disorders Assocation (NINCDS-ADRDA), diagnosis
dementia alzeimer diklasifikasikan menjadi 3 :
1. Definit alzeimer : diagnosis berdasarkan pada otopsi dengan pemeriksaan
patologi anatomi.
2. Probable alzeimer : penderita dengan kriteria usia 40 tahun dan 90 tahun tanpa
menunjkkan gambaran klinis yang atipikal.
3. Possible alzeimer: apabila terdapat penyebab sekunder yang juga berkontribusi
tetapi tidak semata-mata penyebab demensia.
Dengan menggunakan kriteria ini memberi akurasi 85% untuk diagnosis Alzeimer
dementia. (Mahfoed dkk, 2011)

Sumber : Miller and Boeve. 2009. The Behavioral Neurology of Dementia.


Cambridge .Cambridge University Press.
Demensia Vaskuler
Dasar diagnosis (Mahfoed dkk, 2011)
Dasar diagnosis pada demensia vaskuler adalah :
1. Demensia atau perubahan kognitif dengan tipologi subkortikal
2. Klinis stroke dengan pembuktian radilogis infark serebri
3. Terdapat bukti keterkaitan antara demensia dengan stroke
4. Disfungsi motorik termasuk ganguan berjalan/gait
5. Terdapat gangguan miksi bisa inkontinensia atau sering kencing
(frekuensi)
Untuk demensia vaskuler paska stroke baru bisa ditegakkan setelah 3 bulan paska
stroke.
Kriteria diagnosis
Kriteria diagnosis untuk demensia vaskuler kurang memberi penunjuk yang spesifik
dan sensitif. Termasuk pemeriksaan otopsi. Namun, untuk menegakkan diagnosis
demensia

vaskuler, kita

dapat

membuktikan

keterlibatan

vaskuler

dengan

pemeriksaan radiologis ( MRI atau CT scan) dan menyingkirkan diagnosis banding


alzeimer jika tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan patologis. (Mahfoed, 2011)
Demensia lewy bodies
Seperti yang terlihat pada tabel, diagnosis demesia lewy bodies dapat ditegakkan
dari adanya fluktuasi atensi, halusinasi visual, dan parkinsonism. Tanda klinis lain
adalah seringnya jatuh, syncope, neuroleptic sensitivity, rem, gangguan tidur,
depresi dan delusi. (miller and boeve. 2009)

Sumber : Miller and

Boeve. 2009. The Behavioral Neurology of Dementia.

Cambridge .Cambridge University Press

Sumber :McKeel, D W., Burns, M J., Meusser, T M., Morris, J C. 2007. An Atlas Of
Investigation And Diagnosis Of Dementia. Oxford. Atlas Medical Publishing Ltd
Demensia Frontotemporal
Dasar diagnosis
Perubahan yang menonjol pada demensia frontotemporal adalah (Mahfoed dkk,
2011):
1. Perubahan kepribadian
2. Afasia motorik progresif

3. Penderita kehilangan kemampuan pemahaan kata terhadap objek dan


lingkungannya

Sumber :McKeel, D W., Burns, M J., Meusser, T M., Morris, J C. 2007. An Atlas Of
Investigation And Diagnosis Of Dementia. Oxford. Atlas Medical Publishing Ltd
2.9 Diagnosis Banding
Diagnosis banding pada demensia adalah penyakit-penyakit dengan kelainan
kognisi lainnya. Berikut adalah penyakit-penyakit dengan gangguan kognisi:

Sumber : McKeel, D W., Burns, M J., Meusser, T M., Morris, J C. 2007. An Atlas Of
Investigation And Diagnosis Of Dementia. Oxford. Atlas Medical Publishing Ltd
2.10 Tatalaksana
Tatalaksana pada demensia meliputi tatalaksana farmakologis dan non
farmakologis.
Farmakologis

Pengobatan simptomatis
Pengobatan dengan golongan penghambat asetilkolonesterasi seperti
hidrokorida,

rivastigmin

dan

galantamin.

Tujuannya

adalah

untuk

mempertahankan jumlah asetilkolin yang produksinya menurun. Obat ini


biasanya diindikasikan pada demensia ringan-sedang. (Mahfoed dkk, 2011)

Pengobatan dengan disease modifiying agents:

Obat golongan obat antiinflamasi non steroid, antioksidan, neurotropik, obat


yang bekerja pada beta amiloid protein tau dan presenilin.
Non farmakologis
Penatalaksanaan non farmakologis dilakukan oleh keluarga penderita
dengan tujuan untuk menetapkan programaktivitas harian penderita, orientasi
realitas, dan modifikasi perilaku.

Program harian penderia : kegiatan harian teratur dan sistematis, terdiri dari
aktivitas fisik dan aktivitas otak, asupan gizi berimbang, cukup serat,
mengandung antioksidan, dan mudah dicerna, mencegah dan mengelola
faktor resiko yang dapat memperberat penyakit, melaksanakan hobi dan
aktivitas sosial sesuai dengan kemampuan, melaksanakan program latih,
ulang, perhatian dan asosiasi, meningkatkan aktivitas saat siang hari dengan

pencahayaan cukup.
Program orientasi realitas : selalu diingatkan akan waktu dan tempat, beri
tanda khusus untuk tempat tertentu, pemberian stimulasi melalui latihan dan
permainan, menciptakan lingkungan yang familiar, aman dan tenang.(Munir,
2015)

2.10.1 Demensia Alzeimer

Sumber : Miller and

Boeve. 2009. The Behavioral Neurology of Dementia.

Cambridge .Cambridge University Press


2.10.2 Demensia Vaskuler
Karena demensia vaskuler biasanya berasal dari stroke, maka kunci pengobatan
adalah tatalaksana stroke dengan prevensi primer dan sekunder. Untuk pemberian

pengobatan simptomatis seperti asetilkolinesterase inhibitor, ternyata kurang


memberikan efek pada pasien demensia vaskuler, namun memberi manfaat pada
demensia alzeimer dengan stroke. (Mahfoed dkk, 2011)
2.10.3 Demensia frontotemporal
Asetilkolinesterase inhibitor tidak efektif pada manajemen simptomatis
demensia

frontotemporal.

Selain

itu,

asetilkolinesterase

inhibitor

dapat

menyebabkan agitasi. Pada pemberian SSRI justru menunjukkan kesuksesan


pengobatan. (miller and boeve. 2009)
2.10.4 Demensia Lewy Bodies
Data menunjukkan adanya efikasi farmakologi dari demensia lewy bodies
dengan menunjukkan perubahan signifikan setelah penggunaan asetilkolinesterase
inhibitor. (miller and boeve. 2009)
2.11 Prognosis
Demensia karena AIDS biasanya dimulai secara samar terapi berkembang
terus selama beberapa bulan atau tahun. sedangkan demensia karena penyakit
Creutzfeldt-Jakob biasanya menyebabkan demensia hebat dan seringkali terjadi
kematian dalam waktu 1 tahun. (Munir, 2015)

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1

Kesimpulan
1. Demensia adalah sindrom neurodegeneratif yang timbul karena adanya
kelainan yang bersifat kronis dan progesif disertai dengan gangguan
fungsi luhur multiple seperti kalkulasi, kapasitas belajar, bahasa, dan
pengambilan

keputusan.

Kesadaran

pada

demensia

tidak

terganggu.Demensia dapat disebabkan oleh proses degeneratif, lesi


vaskuler, maupun neoplasma, infeksi, dan metabolisme
2. Tatalaksana demensia harus dikerjakan secara holistik mencakup terapi
psikososial dan farmakoterapi
1.2

Saran
1. Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang pencegahan terhadap
terjadinya gangguan kognitif dini dan lanjut
2. Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang pencegahan terjadinya
demensia sehingga dapat dicegah onsetnya sejak dini

DAFTAR PUSTAKA
National Institute of Health. 2012. The Dementias, Hope Through Research. National
Institute of Neurological Disorder and Stroke, National Institute on Aging
Rizzi et al. 2014. Global Epidemiology of Dementia: Alzheimers and Vascular Types.
Biomed Research International
Machfoed, Hasan., M Hamdan., Abdullah M., Wardah. 2011. Buku Ajar Ilmu Saraf.
Surabaya. Pusar Penerbitan dan Percetakan UNAIR (AUP)
Miller and Boeve. 2009. The Behavioral Neurology of Dementia. Cambridge
.Cambridge University Press
Samuels, M A., Roppe, A H. 2007. Samuels Manual Of Neurologic Therapeutics 8th.
Spiral Manual.
McKeel, D W., Burns, M J., Meusser, T M., Morris, J C. 2007. An Atlas Of
Investigation And Diagnosis Of Dementia. Oxford. Atlas Medical Publishing Ltd