Anda di halaman 1dari 15

ETIKA KEPERAWATAN

PERMASALAHAN ETIKA DALAM PELAYANAN


KEPERAWATAN

Disusun Oleh :
Alicia Primadani
Cindy Claudia Delviana
Furqan Khana
Muhammad Ikhsan Ferdiman

IA Keperawatan

POLTEKKES KEMENKES TANJUNGPINANG


JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN
2014-2015

DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
2
DAFTAR
ISI
3
PENDAHULUAN
4
Latar
Belakang
4
Rumusan Masalah

Tujuan
5
PEMBAHASAN
6
Dilema
Etika
6
Kecenderungan dan Isu Etik Keperawatan Retrospektif dan Prospektif
Permasalahan
Keperawatan

Dasar

Etika
10

Permasalahn Etika dalam Praktek Keperawatan Saat Ini


Penerapan Tanggung Jawab dan Tanggung Gugat
PENUTUP
21
Kesimpulan
21
DAFTAR
PUSTAKA
23

11
17

BAB I
PEMBAHASAN
1.1 Latar Belakang
Pelayanan keperawatan yang bermutu adalah pelayanan yang dapat memuaskan setiap
pemakai jasa, serta penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode etik profesi yang telah
ditetapkan. Upaya untuk memberikan keperawatan bermutu ini dapat dimulai perawat dari adanya
rasa tanggung jawab perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara profesional.
Keperawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan
langsung baik kepada individu, keluarga dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga profesional,
keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan dengan mengunakan ilmu
pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan. Dimana ciri sebagai profesi
adalah mempunyai body of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat
diimplementasikan kepada masyarakat langsung.
Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk implementasi praktek
keperawatan yang ditujukan kepada pasien/klien baik kepada individu, keluarga dan masyarakat
dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan guna mempertahankan dan memelihara
kesehatan serta menyembuhkan dari sakit, dengan kata lain upaya praktek keperawatan berupa
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi.
Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara langsung berhubungan dan
berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan, dan pada saat interaksi inilah sering timbul beberapa hal
yang tidak diinginkan baik disengaja maupun tidak disengaja, kondisi demikian inilah sering
menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan penerima praktek keperawatan.Oleh karena itu profesi
keperawatan harus mempunyai standar profesi dan aturan lainnya yang didasari oleh ilmu
pengetahuan yang dimilikinya, guna memberi perlindungan kepada masyarakat. Dengan adanya
standar praktek profesi keperawatan inilah dapat dilihat apakah seorang perawat melakukan

malpraktek, kelalaian ataupun bentuk pelanggaran praktek keperawatan lainnya baik itu pelanggaran
yang terkait dengan etika ataupun pelanggaran terkait dengan masalah hukum.
1.2 Rumusan Masalah
Apa saja Dilema etika dari segala bentuk aspek etik ?
Apa saja permasalahan dasar etika keperawatan ?
Apa saja permasalahan etika dalam praktek keperawatan saat ini ?
Masalah-masalah apakah yang terkait dengan pelayanan keperawatan ?
1.3 Tujuan
Mengetahui macam dilema etik
Mengetahui berbagi permasalahan dasar keperawatan
Mengetahui berbagai etika dalam praktik keperawatan
Mengetahui berbagai permasalahan yg terkait denagn pelayanan keperawatan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Dilema Etik
Dilema etik adalah suatu masalah yang melibatkan dua (atau lebih) landasan moral
suatutindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu kondisi dimana
setiapalternatif memiliki landasan moral atau prinsip. Pada dilema etik ini sukar untuk
menentukanyang benar atau salah dan dapat menimbulkan stress pada perawat karena dia tahu apa
yangharus dilakukan, tetapi banyak rintangan untuk melakukannya.Nilai-nilai, keyakinan dan filosofi
individu memainkan peranan penting pada pengambilankeputusan etik yang menjadi bagian tugas
rutin perawat. Peran perawat ditantang ketika harusberhadapan dengan masalah dilema etik, untuk
memutuskan mana yang benar dan salah; apayang dilakukannya jika tak ada jawaban benar atau
salah; dan apa yang dilakukan jika semuasolusi tampak salah.Dilema etik dapat bersifat personal
ataupun profesional.
Kerangka pemecahan dilema etik adalah sebagai berikut :
a. Mengembangkan data dasar
b. Mengidentifikasi konflik
c.Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan mempertimbangkan
hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut
d. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat
e. Mendefinisikan kewajiban perawat
f. Membuat keputusan

Dilema etik sulit dipecahkan karena memerlukan pemilihan keputusan tepat diantara dua atau
lebihprinsip etis. Penetapan keputusan terhadap satu pilihan, dan harus membuang yang lain
menjadisulit karena keduanya sama-sama memiliki kebaikan dan keburukan apalagi jika tak
satupunkeputusan memenuhi semua kriteria. Berhadapan dengan dilema etis bertambah pelik
denganadanya dampak emosional seperti rasa marah, frustrasi, dan takut saat proses
pengambilankeputusan rasional.
Dilema etika juga merupakan situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai
perilaku yang layak harus di buat. (Arens dan Loebbecke, 1991: 77). Untuk itu diperlukan
pengambilan keputusan untuk menghadapi dilema etika tersebut. Enam pendekatan dapat dilakukan
orang yang sedang menghadapi dilema tersebut, yaitu:

Mendapatkan fakta-fakta yang relevan

Menentukan isu-isu etika dari fakta-fakta

Menentukan siap dan bagaimana orang atau kelompok yang dipengaruhi dilemma

Menentukan alternatif yang tersedia dalam memecahkan dilema

Menentukan konsekwensi yang mungkin dari setiap alternative

Menetapkan tindakan yang tepat.

Dengan menerapkan enam pendekatan tersebut maka dapat meminimalisasi atau menghindari
rasionalisasi perilaku etis yang meliputi: (1) semua orang melakukannya, (2) jika legal maka disana
terdapat keetisan dan (3) kemungkinan ketahuan dan konsekwensinya.
Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau salah dan dapat menimbulkan
stress pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi banyak rintangan untuk
melakukannya. Dilema etik biasa timbul akibat nilai-nilai perawat, klien atau lingkungan tidak lagi
menjadi kohesif sehingga timbul pertentangan dalam mengambil keputusan. Menurut Thompson &
Thompson (1981 ) dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang
memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan atau tidak memuaskan
sebanding. Kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada dasarnya
menggunakan kerangka proses keperawatan / Pemecahan masalah secara ilmiah, antara lain:
Model Pemecahan masalah ( Megan, 1989 )
Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik, yaitu :
Mengkaji situasi
Mendiagnosa masalah etik moral
Membuat tujuan dan rencana pemecahan
Melaksanakan rencana
Mengevaluasi hasil

Kerangka Pemecahan Dilema Etik (kozier & erb, 2004 )

a. Mengembangkan data dasar.


Untuk melakukan ini perawat memerukan pengumpulan informasi sebanyak mungkin meliputi :
Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana keterlibatannya
Apa tindakan yang diusulkan
Apa maksud dari tindakan yang diusulkan
Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang diusulkan
b.Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut.
c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan
mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut.

yang

direncanakan

dan

d.Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil keputusan yang tepat.
e.Mengidentifikasi kewajiban perawat.
f. Membuat keputusan.

Model Murphy dan Murphy

Mengidentifikasi masalah kesehatan


Mengidentifikasi masalah etik
Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
Mengidentifikasi peran perawat
Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan
Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif keputusan
Memberi keputusan
Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan falsafah umum untuk
perawatan klien
Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan menggunakan informasi tersebut
untuk membantu membuat keputusan berikutnya.
Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel ( 1981)
Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik, diantaranya :
a. Mengumpulkan data yang relevan
b. Mengidentifikasi dilema
c. Memutuskan apa yang harus dilakukan
d. Melengkapi tindakan

Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson ( 1981)


Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang diperlukan, komponen etis
dan petunjuk individual
Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
Mengidentifikasi Issue etik
Menentukan posisi moral pribadi dan professional
Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

2.2 Kecenderungan dan Isu Etik Keperawatan Retrospektif dan Prospektif


Studi Case Control (Retrospektif)
Pengertian studi retrospektif adalah meneliti ke belakang dengan menggunakan data sekunder untuk
melihat apakah ada hubungan atau tidak antara penyakit dan factor resiko yang terdapat pada orang
yang sakit.
Studi Cohort (Prospektif)
Pengertian studi prospektif adalah meneliti apakah orang yang sehat tetapi memiliki resiko atau
paparan positif akan menderita sakit atau tidak pada waktu mendatang. Dengan kata lain, ingin
melihat dan membuktikan ada atau tidaknya hubungan atau asosiasi antara factor resiko dan penyakit.
2.3 Permasalahan Dasar Etika Keperawatan
Bandman (1990) secara umum menjelaskan bahwa permasalahan etika keperawatan pada dasarnya
terdiri dari lima jenis, yaitu :
Kuantitas Melawan Kuantitas Hidup
Contoh Masalahnya : seorang ibu minta perawat untuk melepas semua selang yang dipasang pada
anaknya yang berusia 14 tahun, yang telah koma selama 8 hari. Dalam keadaan seperti ini, perawat
menghadapi permasalahan tentang posisi apakah yang dimilikinya dalam menentukan keputusan
secara moral. Sebenarnya perawat berada pada posisi permasalahan kuantitas melawan kuantitas
hidup, karena keluarga pasien menanyakan apakah selang-selang yang dipasang hampir pada semua
bagian tubuh dapat mempertahankan pasien untuk tetap hidup.
Kebebasan Melawan Penanganan dan pencegahan Bahaya.
Contoh masalahnya : seorang pasien berusia lanjut yang menolak untuk mengenakan sabuk pengaman
sewaktu berjalan. Ia ingin berjalan dengan bebas. Pada situasi ini, perawat pada permasalahan upaya
menjaga keselamatan pasien yang bertentangan dengan kebebasan pasien.

Berkata secara jujur melawan berkata bohong


Contoh masalahnya : seorang perawat yang mendapati teman kerjanya menggunakan narkotika.
Dalam posisi ini, perawat tersebut berada pada masalah apakah ia akan mengatakan hal ini secara
terbuka atau diam, karena diancam akan dibuka rahasia yang dimilikinya bila melaporkan hal tersebut
pada orang lain.
Keinginan terhadap pengetahuan yang bertentangan dengan falsafah
ekonomi dan ideologi

agama, politik,

Contoh masalahnya : seorang pasien yang memilih penghapusan dosa daripada berobat ke dokter.
Terapi ilmiah konvensional melawan terapi tidak ilmiah dan coba-coba
Contoh masalahnya : di Irian Jaya, sebagian masyarakat melakukan tindakan untuk mengatasi nyeri
dengan daun-daun yang sifatnya gatal. Mereka percaya bahwa pada daun tersebut terdapat miang
yang dapat melekat dan menghilangkan rasa nyeri bila dipukul-pukulkan dibagian tubuh yang sakit.

2.4 Permasalahan Etika dalam Praktek Keperawatan Saat Ini


Adapun permasalahan etik yang yang sering muncul banyak sekali, seperti berkata tidak jujur
(bohong), abortus, menghentikan pengobatan, penghentian pemberian makanan dan cairan,
euthanasia, transplantasi organ serta beberpa permasalahan etik yang langsung berkaitan dengan
praktek keperawatan, seperti: evaluasi diri dan kelompok, tanggung jawab terhadap peralatan dan
barang, memberikan rekomendasi pasien pad dokter, menghadapi asuhan keperawatan yang buruk,
masalah peran merawat dan mengobati (Prihardjo, 1995).Disini akan dibahas sekilas beberapa hal
yang berikaitan dengan masalah etik yang berkaitan lansung pada praktik keperawatan.
- Konflik etik antara teman sejawat
Keperawatan pada dasarnya ditujukan untuk membantu pencapaian kesejahteraan pasien.
Untuk dapat menilai pemenuhan kesejahteraan pasien, maka perawat harus mampu mengenal/tanggap
bila ada asuhan keperawatan yang buruk dan tidak bijak, serta berupaya untuk mengubah keadaan
tersebut. Kondisi inilah yang sering sering kali menimbulkan konflik antara perawat sebagai pelaku
asuhan keperawatan dan juga terhadap teman sejawat. Dilain pihak perawat harus menjaga nama baik
antara teman sejawat, tetapi bila ada teman sejawat yang melakukan pelanggaran atau dilema etik hal
inilah yang perlu diselesaikan dengan bijaksana.
- Menghadapi penolakan pasien terhadap Tindakan keperawatan atau pengobatan
Masalah ini sering juga terjadi, apalagi pada saat ini banyak bentuk-bentuk pengobatan
sebagai alternative tindakan. Dan berkembangnya teknologi yang memungkinkan orang untuk
mencari jalan sesuai dengan kondisinya. Penolakan pasien menerima pengobatan dapat saja terjadi
dan dipengaruhi oleh beberapa factor, seperti pengetahuan, tuntutan untuk dapat sembuh cepat,
keuangan, social dan lain-lain. Penolakan atas pengobatan dan tindakan asuhan keperawatan
merupakan hak pasien dan merupakan hak outonmy pasien, pasien berhak memilih, menolak segala
bentuk tindakan yang mereka anggap tidak sesuai dengan dirinnya, yang perlu dilakukan oleh perawat
adalah menfasilitasi kondisi ini sehingga tidak terjadi konflik sehingga menimbulkan masalahmasalah lain yang lebih tidak etis.

- Masalah antara peran merawat dan mengobati


Berbagai teori telah dijelaskan bahwa secara formal peran perawat adalah memberikan asuhan
keperawatan, tetapi dengan adanya berbagai factor sering kali peran ini menjadai kabur dengan peran
mengobati. Masalah antara peran sebagai perawat yang memberikan asuhan keperawatan dan sebagai
tenaga kesehatan yang melakukan pengobatan banyak terjadi di Indonesia, terutama oleh perawat
yang ada didaerah perifer (puskesmas) sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan kepada
masyarakat. Dari hasil penelitian, Sciortio (1992) menyatakan bahwa pertentangan antara peran
formal perawat dan pada kenyataan dilapangan sering timbul dan ini bukan saja masalah Nasional
seperti di Indonesia, tetapi juga terjadi di Negara-negara lain.Walaupun tidak diketahui oleh
pemerintah, pertentangan ini mempunyai implikasi besar. Antara pengetahuan perawat yang
berhubungan dengan asuhan keperawatan yang kurang dan juga kurang aturan-aturan yang jelas
sebagai bentuk perlindungan hukum para pelaku asuhan keperawatan hal inisemakin tidak jelas
penyelesaiannya.

- Berkata Jujur atau Tidak jujur


Didalam memberikan asuhan keperawatan langsung sering kali perawat tidak merasa bahwa,
saat itu perawat berkata tidak jujur. Padahal yang dilakukan perawat adalah benar (jujur) sesuai
kaedah asuhan keperawatan.
Sebagai contoh: sering terjadi pada pasien yang terminal, saat perawat ditanya oleh pasien
berkaitan dengan kondisinya, perawat sering menjawab tidak apa-apa ibu/bapak, bapak/ibu akan
baik, suntikan ini tidak sakit. Dengan bermaksud untuk menyenangkan pasien karena tidak mau
pasiennya sedih karena kondisinya dan tidak mau pasien takut akan suntikan yang diberikan, tetapi
didalam kondisi tersebut perawat telah mengalami dilema etik. Bila perawat berkata jujur akan
membuat sedih dan menurunkan motivasi pasien dan bila berkata tidak jujur, perawat melanggar hak
pasien.
- Tanggung jawab terhadap peralatan dan barang
Dalam bahasa Indonesia dikenal istilah menguntil atau pilfering, yang berarti mencuri barangbarang sepele/kecil. Sebagai contoh: ada pasien yang sudah meninggal dan setalah pasien meninggal
ada barang-barang berupa obat-obatan sisa yang belum dipakai pasien, perawat dengan seenaknya
membereskan obat-obatan tersebut dan memasukan dalam inventarisasi ruangan tanpa seijin keluarga
pasien. Hal ini sering terjadi karena perawat merasa obat-obatan tersebut tidak ada artinya bagi
pasien, memang benar tidak artinya bagi pasien tetapi bagi keluarga kemungkinan hal itu lain. Yang
penting pada kondisi ini adalah komunikasi dan informai yang jelas terhadap keluarga pasien dan ijin
dari keluarga pasien itu merupakan hal yang sangat penting, Karena walaupun bagaimana keluarga
harus tahu secara pasti untuk apa obat itu diambil.
Perawat harus dapat memberikan penjelasan pada keluarga dan orang lain bahwa menggambil
barang yang seperti kejadian diatas tidak etis dan tidak dibenarkan karena setiap tenaga kesehatan
mempunyai tanggung jawab terhadap peralatan dan barang ditempat kerja.

Selain itu ada juga permasalahan etik y ang terjadi yaitu :


Malpraktek
Balcks law dictionary mendefinisikan malpraktek sebagai kesalahan profesional atau kurangnya
keterampilan tidak masuk akal "kegagalan atau satu layanan render profesional untuk melatih bahwa
tingkat keterampilan dan pembelajaran umum diterapkan dalam semua keadaan masyarakat oleh
anggota terkemuka rata bijaksana profesi dengan hasil dari cedera, kerugian atau kerusakan kepada
penerima layanan tersebut atau mereka yang berhak untuk bergantung pada mereka ".
Bila dilihat dari definisi diatas maka malpraktek dapat terjadi karena tindakan yang disengaja
(intentional) seperti pada misconduct tertentu, tindakan kelalaian (negligence), ataupun suatu
kekurang-mahiran/ketidakkompetenan yang tidak beralasan (Sampurno, 2005). Malpraktek dapat
dilakukan oleh profesi apa saja, tidak hanya dokter, perawat. Profesional perbankan dan akutansi
adalah beberapa profesi yang dapat melakukan malpraktek.
Neglience (Kelalaian)
Kelalaian tidak sama dengan malpraktek, tetapi kelalaian termasuk dalam arti malpraktik, artinya
bahwa dalam malpraktek tidak selalu ada unsur kelalaian.
Kelalaian adalah segala tindakan yang dilakukan dan dapat melanggar standar sehingga
mengakibatkan cidera/kerugian orang lain (Sampurno, 2005).
Sedangkan menurut amir dan hanafiah (1998) yang dimaksud dengan kelalaian adalah sikap kurang
hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati melakukannya dengan
wajar, atau sebaliknya melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati tidak akan
melakukannya dalam situasi tersebut.
Negligence, dapat berupa Omission (kelalaian untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan)
atau Commission (melakukan sesuatu secara tidak hati-hati). (Tonia, 1994).
Dapat disimpulkan bahwa kelalaian adalah melakukan sesuatu yang harusnya dilakukan pada
tingkatan keilmuannya tetapi tidak dilakukan atau melakukan tindakan dibawah standar yang telah
ditentukan. Kelalaian praktek keperawatan adalah seorang perawat tidak mempergunakan tingkat
ketrampilan dan ilmu pengetahuan keperawatan yang lazim dipergunakan dalam merawat pasien atau
orang yang terluka menurut ukuran dilingkungan yang sama.
a. Jenis-jenis kelalaian
Bentuk-bentuk dari kelalaian menurut sampurno (2005), sebagai berikut:

Malfeasance : yaitu melakukan tindakan yang menlanggar hukum atau tidak tepat/layak.

Misal: melakukan tindakan keperawatan tanpa indikasi yang memadai/tepat

Misfeasance : yaitu melakukan pilihan tindakan keperawatan yang tepat tetapi dilaksanakan
dengan tidak tepat.

Misal: melakukan tindakan keperawatan dengan menyalahi prosedur

Nonfeasance : Adalah tidak melakukan tindakan keperawatan yang merupakan kewajibannya.

Misal: Pasien seharusnya dipasang pengaman tempat tidur tapi tidak dilakukan.
Sampurno (2005), menyampaikan bahwa suatu perbuatan atau sikap tenaga kesehatan dianggap lalai,
bila memenuhi empat (4) unsur, yaitu:
Duty atau kewajiban tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan atau untuk tidak melakukan
tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada situasi dan kondisi tertentu.
Dereliction of the duty atau penyimpanagan kewajiban.
Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai kerugian
akibat dari layanan kesehatan yang diberikan oleh pemberi pelayanan.
Direct cause relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata, dalam hal ini harus terdapat
hubungan sebab akibat antara penyimpangan kewajiban dengan kerugian yang setidaknya
menurunkan Proximate cause.
b.

Dampak Kelalaian

Kelalaian yang dilakukan oleh perawat akan memberikan dampak yang luas, tidak saja kepada pasien
dan keluarganya, juga kepada pihak Rumah Sakit, Individu perawat pelaku kelalaian dan terhadap
profesi. Selain gugatan pidana, juga dapat berupa gugatan perdata dalam bentuk ganti rugi.
(Sampurna, 2005).
Bila dilihat dari segi etika praktek keperawatan, bahwa kelalaian merupakan bentuk dari pelanggaran
dasar moral praktek keperawatan baik bersifat pelanggaran autonomy, justice, nonmalefence, dan
lainnya. (Kozier, 1991) dan penyelesainnya dengan menggunakan dilema etik. Sedangkan dari segi
hukum pelanggaran ini dapat ditujukan bagi pelaku baik secara individu dan profesi dan juga institusi
penyelenggara pelayanan praktek keperawatan, dan bila ini terjadi kelalaian dapat digolongan
perbuatan pidana dan perdata (pasal 339, 360 dan 361 KUHP).
Liability (Liabilitas)
Liabilitas adalah tanggungan yang dimiliki oleh seseorang terhadap setiap tindakan atau kegagalan
melakukan tindakan. Perawat profesional, seperti halnya tenaga kesehatan lain mempunyai tanggung
jawab terhadap setiap bahaya yang timbulkan dari kesalahan tindakannya. Tanggungan yang
dibebankan perawat dapat berasal dari kesalahan yang dilakukan oleh perawat baik berupa tindakan
kriminal kecerobohan dan kelalaian.
Seperti telah didefinisikan diatas bahwa kelalaian merupakan kegagalan melakukan sesuatu yang oleh
orang lain dengan klasifikasi yang sama, seharusnya dapat dilakukan dalam situasi yang sama, hal ini
merupakan masalah hukum yang paling lazim terjadi dalam keperawatan. Terjadi akibat kegagalan
menerapkan pengetahuan dalam praktek antara lain disebabkan kurang pengetahuan. Dan dampak
kelalaian ini dapat merugikan pasien.
2.5 Strategi Penyelesaian Masalah Etik
Dalam menghadapi dan mengatasi permasalahan etis, antara perawat dan dokter tidak menutup
kemungkinan terjadi perbedaan pendapat. Bila ini berlanjut dapat menyebabkan masalah komunikasi
dan kerjasama, sehingga menghambat perawatan pada pasien dan kenyamanan kerja. (Mac Phail,
1988)Salah satu cara menyelesaikan permasalahan etis adalah dengan melakukan rounde ( Bioetics

Rounds ) yang melibatkan perawat dengan dokter. Rounde ini tidak difokuskan untuk menyelesaikan
masalah etis tetapi untuk melakukan diskusi secara terbuka tentang kemungkinan terdapat
permasalahan etis.
2.6 Penerapan Tanggung Jawab dan Tanggung Gugat
Tanggung Jawab
Tanggung jawab utama perawat adalah meningkatkan kesehatan, mencegah timbulnya penyakit,
memelihara kesehatan, dan mengurangi penderitaan.
a) Tanggung jawab perawat terhadap masyarakat kelurga dan penderita
Perawat dalam rangka pengabdiannya senantiasa berpedoman kepada tanggung jawab yang pangkal
tolaknya bersumber dari adanya kebutuhan akan perawat untuk orang seorang, keluarga dan
masyarakat.
Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya dalam bidang perawat senantiasa memelihara suasana
lingkungan yang menghomati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama dari
orang seorang, keluarga atau penderita, keluarganya dan masyarakat.

b)

Tanggung jawab perawat tehadap tugas

Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disetai kejujuran profesional
dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan perawatan sesuai dengan kebutuhan orang seorang
atau penderita, keluarga dan masyarakat.
Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan dengan tugas yang
dipercayakan kepadanya.
Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan ketermpilan perawatan untuk tujuan yang
bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan.
Perawat dalam menunaikan tugas dan kewajibannya senantiasa berusaha dengan penuh kesadaran
agar tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, keagamaan, warna kulit, umur, jenis
kelamin, aliran politik yang dianut serta kedudukan sosial.
Perawat senantiasa mengutamakan perlindunagan-perlindungan dan keselamatan penderita dalam
melaksanakan tugas keperawatan, serta dengan matang mempetimbangkan kemampuan jika
menerima dan mengalihtugaskan tanggung jawab yang ada hubungannya dengan perawatan.
c)

Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesional kesehatan lain

Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antara sesama perawat dengan tenaga kesehatan
lainnya baik dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam mencapai tujuan
pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Perawat senantiasa menyebar luaskan pengetahuan, keterampilan dan pengalamanya kepada
sesama perawat serta menerima pengetahuan dan pengalamanya kepada sesama perawat serta
menerima pengetahuan dan pengalaman dari profesi bidang perawatan.

d)

Tanggung jawab perawat terhadap profesi perawatan

Perawat selalu berusaha meningkatkan pengetahuan profesional secara sendiri-sendiri dan atau
bersama-bersama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan,keterapilan dan pengalam yang
bermanfaat bagi pengembangan perawatan.

Perawat selalu menjunjung tinggi nama baik profesi perawatan dengan menunjukkan peri/tingka
laku dan sifat-sifat pribadi yang tinggi.

Perawat senantiasa berperan dalam menentukan pembakuan pendidikan dan pelanyanan perawat
an serta menerapkanya dalam kegiatan-kegiatan pelayanan danpendidikan perawatan.

Perawatan secara bersama-sama membina dan memelihara mutu organisasi profesi perawatan
sebagai sarana pengabdian.
e)

Tanggung jawab perawat terhadap pemerintah,banggsa dan tanah air

Perawat senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai kebijaksanaan yang di gariskan oleh


perintah dalam bidang kesehatan dan perawatan.
Perawat senantiasa berperan secara aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada pemerintah dalam
rangka meningkatkan pelayanan kesehatan dan perawatan kepada masyarakat.
Tanggung Gugat
Tanggung gugat yaitu sebagai konsekuensi apabila seeorang melakukan kesalahan /kelalaian dalam
melaksanakan tanggung jawab tidak sesuai dengan aturan aturan dalam perundang undangan yang
telah ditetapkan.
Peran tinggi perawat dalam pelayanan kesehatan ada tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap
pelayanan yang dilakukan , yaitu :
a. Perawat bertanggung jawab dan tanggung gugat terhadap setiap tindakan dan pengambilan
keputusan keperawatan
b. Perawat mempertahankan kompetensinya dalam melaksanakan pelayanan keperawatan .
c. Perawat melatih diri dalam menetapkan informasi dan menggunakan kompetensi individunya serta
kualifikasi kriteria untuk menerima konsultasi tanggung jawab dan memberikan delegasi tindakan
keperawatan kepada tenaga lain.
d. Perawat berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang terkait dengan pengembangan ketentuan dari
profesi keperawatan
e. Perawat berpartisipasi dalam upaya profesi untuk melaksanakan dan meningkatkan stndar profesi.
Masalah masalah yang timbul dalam praktik keperawatan terkait dengan tanggung jawab dan
tanggung gugat. isu bioetis,yang terkait dengan praktik keperawatan yang berhubungan sesama
perawat dan profesi lain .isu etis ini muncul hampir terjadi disemua bidang keperawatan
Tanggung Gugat dapat diartikan sebagai bentuk partisipasi perawat dalam membuat suatu keputusan
dan belajar dengan keputusan itu konsekuensi-konsekunsinya. Perawat hendaknya memiliki tanggung
gugat artinya bila ada pihak yang menggugat ia menyatakan siap dan berani menghadapinya.

Terutama yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan profesinya. Perawat harus mampu untuk
menjelaskan kegiatan atau tindakan yang dilakukannya. Hal ini bisa dijelaskan dengan mengajukan
tiga pertanyaan berikut :

Kepada siap tanggung gugat itu ditujukan ?

Apa saja dari perawat yang dikenakan tanggung gugat ?

Dengan kriteria apa saja tangung gugat perawat diukur baik buruknya ?

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Berbagai permasalahan etik dapat terjadi dalam tatanan klinis yang melibatkan interaksi
antara klien dan perawat. Permasalahan bisa menyangkut penentuan antara mempertahankan hidup
dengan kebebasan dalam menentukan kematian, upaya menjaga keselamatan klien yang bertentangan
dengan kebebasan menentukan nasibnya, dan penerapan terapi yang tidak ilmiah dalam mengatasi
permasalah klien. Dalam membuat keputusan terhadap masalah etik, perawat dituntut dapat
mengambil keputusan yang menguntungkan pasien dan diri perawat dan tidak bertentang dengan
nilai-nilai yang diyakini klien. Pengambilan keputusan yang tepat diharapkan tidak ada pihak yang
dirugikan sehingga semua merasa nyaman dan mutu asuhan keperawatan dapat dipertahankan.
Permasalahan etika keperawatan pada dasarnya terdiri dari lima jenis, yaitu :

Kuantitas Melawan Kuantitas Hidup

Kebebasan Melawan Penanganan dan pencegahan Bahaya.

Berkata secara jujur melawan berkata bohong

Keinginan terhadap pengetahuan yang bertentangan dengan falsafah


ekonomi dan ideologi

Terapi ilmiah konvensional melawan terapi tidak ilmiah dan coba-coba

Permasalahan Etika dalam Praktek Keperawatan Saat Ini

Malpraktek

Neglience

agama, politik,

Liability

Dalam upaya mendorong kemajuan profesi keperawatan agar dapat diterima dan dihargai oleh
pasien, masyarakat atau profesi lain, maka perawat harus memanfaatkan nilai-nilai keperawatan
dalam menerapkan etika dan moral disertai komitmen yang kuat dalam mengemban peran
profesionalnya. Dengan demikian perawat yang menerima tanggung jawab, dapat melaksanakan
asuhan keperawatan secara etis profesional. Sikap etis profesional berarti bekerja sesuai dengan
standar, melaksanakan advokasi, keadaan tersebut akan dapat memberi jaminan bagi keselamatan
pasien, penghormatan terhadap hak-hak pasien, dan akan berdampak terhadap peningkatan kualitas
asuhan keperawatan. Selain itu dalam menyelesaikan permasalahan etik atau dilema etik keperawatan
harus dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip-prinsip etik supaya tidak merugikan salah
satu pihak.

DAFTAR PUSTAKA

Ismaini, N. 2001. Etika Keperawatan. Jakarta : Widya Medika


http://www.slideshare.net/YafetGeu/dilema-etik-keperawatan
Amir & Hanafiah, (1999). Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, edisi ketiga: Jakarta: EGC.
Kozier. (2000). Fundamentals of Nursing : concept theory and practices. Philadelphia. Addison
Wesley.
Carol T,Carol L, Priscilla LM. 1997. Fundamental Of Nursing Care, Third Edition, by Lippicot
Philadelpia, New York.