Anda di halaman 1dari 25

1

BAB 1
PENDAHULUAN
Hematothoraks atau hemothoraks adalah akumulasi darah pada rongga
intrapleura. Perdarahan dapat berasal dari pembuluh darah sistemik maupun
pembuluh darah paru. Pada trauma, yang tersering perdarahan berasal dari arteri
interkostalis dan arteri mammaria interna (Sub Bagian Bedah Thoraks Bagian
Ilmu Bedah FK-USU / RS HAM / RS Pirngadi Medan, 2000).
Akumulasi darah dalam dada , atau hematothorax adalah masalah yang
relatif umum , paling sering akibat cedera untuk intrathoracic struktur atau
dinding dada . Hematothorax yang tidak berhubungan dengan trauma jarang
terjadi dan dapat disebabkan oleh berbagai penyebab . Identifikasi dan pengobatan
traumatik hematothorax adalah bagian penting dari perawatan pasien yang terluka
.
Hematothorax mengacu pada mengumpulnya darah dalam rongga pleura .
Walaupun beberapa penulis menyatakan bahwa nilai hematokrit setidaknya 50 %
diperlukan untuk mendefinisikan hematothorax ( dibandingkan dengan berdarah
efusi pleura ) , sebagian besar tidak setuju pada perbedaan tertentu . Meskipun
etiologi paling umum adalah hematothorax tumpul atau trauma tembus , itu juga
dapat hasil dari sejumlah nontraumatic menyebabkan atau dapat terjadi secara
spontan .
Pentingnya evakuasi awal darah melalui luka dada yang ada dan pada saat
yang sama , menyatakan bahwa jika perdarahan dari dada tetap , luka harus
ditutup dengan harapan bahwa adanya tekanan intrathoracic akan menghentikan
perdarahan. Jika efek yang diinginkan tercapai , luka dapat dibuka kembali
beberapa hari kemudian untuk evakuasi tetap beku darah atau cairan serosa.
Mengukur frekuensi hematothorax dalam populasi umum
sulit .
Hematothorax yang sangat kecil dapat dikaitkan dengan satu patahan tulang
rusuk dan mungkin tidak terdeteksi atau tidak memerlukan pengobatan .
Dislokasi fraktur dari vertebra torakal juga dapat menyebabkan terjadinya
hemotoraks. Biasanya perdarahan berhenti spontan dan tidak memerlukan
intervensi operasi. Hematotoraks akut yang cukup banyak yang terlihat pada foto
toraks, sebaiknya diterapi dengan selang dada kaliber besar. Selang dada tersebut

akan mengeluarkan darah dari rongga pleura, mengurangi resiko terbentuknya


bekuan darah di dalam rongga pleura, dan dapat dipakai dalam memonitor
kehilangan darah selanjutnya. Walaupun banyak faktor yang berperan dalam
memutuskan perlunya indikasi operasi pada penderita hematotoraks, status
fisiologi dan volume darah yang keluar dari selang dada merupakan faktor utama.
Sebagai patokan bila darah yang dikeluarkan secara cepat dari selang dada
sebanyak 1.500 ml, atau bila darah yang keluar lebih dari 200 ml tiap jam untuk 2
sampai 4 jam, atau jika membutuhkan transfusi darah terus menerus, eksplorasi
bedah harus dipertimbangkan.
Oleh karena itu,penting bagi kita untuk mengetahui dan memahami tentang
penyebab, penegakan diagnosis, serta penatalaksanaan pasien hematothorax.

BAB 2
HEMATOTORAKS
2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI
a) Anatomi Toraks
Rongga thorax dibatasi oleh iga-iga, yang bersatu di bagian
belakang pada vertebra thoracalis dan di depan pada sternum. Kerangka
rongga thorax, meruncing pada bagian atas dan berbentuk kerucut terdiri
dari sternum, 12 vertebra thoracalis, 10 pasang iga yang berakhir di
anterior dalam segmen tulang rawan dan 2 pasang yang melayang.
Kartilago dari 6 iga memisahkan articulatio dari sternum, kartilago ketujuh
sampai sepuluh berfungsi membentuk tepi kostal sebelum menyambung
pada tepi bawah sternum. Perluasan rongga pleura di atas clavicula dan di
atas organ dalam abdomen penting untuk dievaluasi pada luka tusuk.

Gambar 1 . (a) Anterior view dinding toraks. (b). Posterior view dari
dinding toraks
Musculus pectoralis mayor dan minor merupakan muskulus utama
dinding

anterior

thorax.

Musculus

latissimus

dorsi,

trapezius,

rhomboideus, dan musculus gelang bahu lainnya membentuk lapisan


musculus posterior dinding posterior thorax. Tepi bawah musculus
pectoralis mayor membentuk lipatan/plika axillaris posterior. Dada berisi
organ vital yaitu paru dan jantung. Pernafasan berlangsung dengan
bantuan gerak dinding dada. Inspirasi terjadi karena kontraksi otot
pernafasan yaitu musculus interkostalis dan diafragma, yang menyebabkan
rongga dada membesar sehingga udara akan terhisap melalui trakea dan
bronkus.
Pleura adalah membran aktif yang disertai dengan pembuluh darah
dan limfatik. Disana terdapat pergerakan cairan, fagositosis debris,
menambal kebocoran udara dan kapiler. Pleura visceralis menutupi paru
dan sifatnya sensitif, pleura ini berlanjut sampai ke hilus dan mediastinum
bersama sama dengan pleura parietalis, yang melapisi dinding dalam
thorax dan diafragma. Pleura sedikit melebihi tepi paru pada setiap arah
dan sepenuhnya terisi dengan ekspansi paru paru normal, hanya ruang
potensial yang ada.
Diafragma bagian muskular perifer berasal dari bagian bawah iga
keenam kartilago kosta, dari vertebra lumbalis, dan dari lengkung
lumbokostal, bagian muskuler melengkung membentuk tendo sentral.
Nervus

frenikus

mempersarafi

motorik

dari

interkostal

bawah

mempersarafi sensorik. Diafragma yang naik setinggi putting susu, turut


berperan dalam ventilasi paru paru selama respirasi biasa / tenang sekitar
75%.

Gambar 2 . Skematik anatomi dinding dada.


b) Fisiologi Pernapasan
Udara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena ada selisih
tekanan yang terdapat antara atmosfir dan alveolus akibat kerja mekanik
otot-otot. Seperti yang telah diketahui, dinding toraks berfungsi sebagai
penembus. Selama inspirasi, volume toraks bertambah besar karena
diafragma turun dan iga terangkat akibat kontraksi beberapa otot yaitu
sternokleidomastoideus mengangkat sternum ke atas dan otot seratus,
skalenus dan interkostalis eksternus mengangkat iga-iga.
Selama pernapasan tenang, ekspirasi merupakan gerakan pasif
akibat elastisitas dinding dada dan paru-paru. Pada waktu otot interkostalis
eksternus relaksasi, dinding dada turun dan lengkung diafragma naik ke
atas ke dalam rongga toraks, menyebabkan volume toraks berkurang.
Pengurangan volume toraks ini meningkatkan tekanan intrapleura maupun
tekanan intrapulmonal. Selisih tekanan antara saluran udara dan atmosfir
menjadi terbalik, sehingga udara mengalir keluar dari paru-paru sampai
udara dan tekanan atmosfir menjadi sama kembali pada akhir ekspirasi.
Tahap kedua dari proses pernapasan mencakup proses difusi gasgas melintasi membrane alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari
0,5 m). Kekuatan pendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan
parsial antara darah dan fase gas. Tekanan parsial oksigen dalam atmosfir
pada permukaan laut besarnya sekitar 149 mmHg. Pada waktu oksigen
diinspirasi dan sampai di alveolus maka tekanan parsial ini akan

mengalami penurunan sampai sekiktar 103 mmHg. Penurunan tekanan


parsial ini terjadi berdasarkan fakta bahwa udara inspirasi tercampur
dengan udara dalam ruangan sepi anatomik saluran udara dan dengan uap
air. Perbedaan tekanan karbondioksida antara darah dan alveolus yang jauh
lebih rendah menyebabkan karbondioksida berdifusi kedalam alveolus.
Karbondioksida ini kemudian dikeluarkan ke atmosfir.
Dalam keadaan beristirahat normal, difusi dan keseimbangan
oksigen di kapiler darah paru-paru dan alveolus berlangsung kira-kira 0,25
detik dari total waktu kontak selama 0,75 detik. Hal ini menimbulkan
kesan bahwa paru-paru normal memiliki cukup cadangan waktu difusi.
Pada beberapa penyakit misal; fibosis paru, udara dapat menebal dan
difusi melambat sehingga ekuilibrium mungkin tidak lengkap, terutama
sewaktu berolahraga dimana waktu kontak total berkurang. Jadi, blok
difusi dapat mendukung terjadinya hipoksemia, tetapi tidak diakui sebagai
faktor utama.
Adapun fungsi dari pernapasan adalah :
1. Ventilasi: memasukkan/mengeluarkan udara melalui jalan napas ke
dalam/dari paru dengan cara inspirasi dan ekspirasi. Untuk melakukan
fungsi ventilasi, paru-paru mempunyai beberapa komponen penting,
antara lain :
a.
Dinding dada yang terdiri dari tulang, otot, saraf perifer.
b.
Parenkim paru yang terdiri dari saluran napas, alveoli, dan
c.

pembuluh darah.
Dua lapisan pleura, yakni pleura viseralis yang membungkus erat
jaringan parenkim paru, dan pleura parietalis yang menempel erat
ke dinding toraks bagian dalam. Di antara kedua lapisan pleura

terdapat rongga tipis yang normalnya tidak berisi apapun.


Beberapa reseptor yang berada di pembuluh darah arteri utama.
2. Distribusi: menyebarkan/mengalirkan udara tersebut merata ke seluruh
d.

sistem jalan napas sampai alveoli .


3. Difusi: oksigen dan CO2 bertukar melalui membran semipermeabel
pada dinding alveoli (pertukaran gas) .

4. Perfusi: Darah arterial di kapiler-kapiler meratakan pembagian muatan


oksigennya dan darah venous cukup tersedia untuk digantikan isinya
dengan muatan oksigen yang cukup untuk menghidupi jaringan tubuh.
Volume paru-paru dibagi menjadi empat macam, yakni:
a. Volume tidal merupakan volume udara yang diinspirasikan dan
diekspirasikan pada setiap pernapasan normal.
b. Volume cadangan merupakan volume tambahan udara yang dapat
diinspirasikan di atas volume tidal normal.
c. Volume cadangan ekspirasi merupakan jumlah udara yang masih dapat
dikeluarkan dengan ekspirasi kuat setelah akhir suatu ekspirasi.
d.Volume residual adalah volume udara yang masih tersisa di dalam paruparu setelah melakukan ekspirasi kuat.
Dalam menguraikan peristiwa-peristiwa pada siklus paru-paru, juga
diperlukan kapasitas paru-paru yaitu:
1. Kapasitas inspirasi.
2. Kapasitas residual fungsional.
3. Kapasitas vital paksa.
4. Kapasitas total paru-paru.
Setiap kegagalan atau hambatan dari rantai mekanisme tersebut
akan menimbulkan gangguan pada fungsi pernapasan, berarti berakibat
kurangnya oksigenasi jaringan tubuh. Hal ini misalnya terdapat pada suatu
trauma pada thoraks. Selain itu maka kelainan-kelainan dari dinding
thoraks

menyebabkan

terganggunya

mekanisme

inspirasi/ekspirasi,

kelainan-kelainan dalam rongga thoraks, terutama kelainan jaringan paru,


selain

menyebabkan

berkurangnya

elastisitas

paru,

juga

dapat

menimbulkan gangguan pada salah satu/semua fungsi-fungsi pernapasan


tersebut.
2.2 DEFINISI
Hematothorax adalah adanya kumpulan darah di dalam ruang antara
dinding dada dan paru-paru (rongga pleura). Sumber darah mungkin dari
dinding dada, parenkim paruparu, jantung atau pembuluh darah besar.
Kondisi biasanya merupakan akibat dari trauma tumpul atau tajam. Ini juga
mungkin merupakan komplikasi dari beberapa penyakit. (Puponegoro, 1995).

Hemathothoraks (hemotoraks) adalah terakumulasinya darah pada


rongga thoraks akibat trauma tumpul atau tembus pada dada. Hemathothoraks
biasanya terjadi karena cedera di dada. Penyebab lainnya adalah pecahnya
sebuah pembuluh darah atau kebocoran aneurisma aorta yang kemudian
mengalirkan darahnya ke rongga pleura.
2.3 ETIOLOGI
Penyebab utama hematothoraks adalah trauma, seperti luka penetrasi
pada paru, jantung, pembuluh darah besar, atau dinding dada. Trauma tumpul
pada dada juga dapat menyebabkan hematothoraks karena laserasi pembuluh
darah internal (Mancini, 2011).
Menurut Magerman (2010) penyebab hematothoraks antara lain :
1. Penetrasi pada dada
2. Trauma tumpul pada dada
3. Laserasi jaringan paru
4. Laserasi otot dan pembuluh darah intercostal
5. Laserasi arteri mammaria interna
Secara umum, penyebab terjadinya Hematotoraks adalah sebagai berikut :
a. Traumatis
- Trauma tumpul.
- Penetrasi trauma (Trauma tembus, termasuk iatrogenik).
b. Non traumatic atau spontan
- Neoplasia (primer atau metastasis).
- Diskrasia darah, termasuk komplikasi antikoagulasi.
- Emboli paru dengan infark.
- Robek adhesi pleura berkaitan dengan pneumotorax spontan.
- Bullous emfisema.
- Tuberkulosis.
- Paru atriovenosa fistula.
- Nekrosis akibat infeksi.
- Telangiektasia hemoragik herediter.
- Kelainan vaskular intratoraks non pulmoner.
- Sekuestrasi inralobar dan ekstralobar.
- Patologi abdomen.

Hemothoraks massif lebih sering disebabkan oleh luka tembus


yang merusak pembuluh darah sistemik atau pembuluh darah pada hilus
paru.

2.4 PATOFISIOLOGI
Hemothoraks adalah adanya darah yang masuk ke areal pleura (antara
pleura viseralisdan pleura parietalis). Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul
atau trauma tajam pada dada, yang mengakibatkan robeknya membran serosa
pada dinding dada bagian dalam atau selaput pembungkus paru. Robekan ini akan
mengakibatkan darah mengalir ke dalam rongga pleura, yang akan menyebabkan
penekanan pada paru.
Sumber perdarahan umumnya berasal dari A. interkostalis atau A.
mamaria interna. Rongga hemitoraks dapat menampung 3 liter cairan, sehingga
pasien hematotoraks dapat syok berat (kegagalan sirkulasi) tanpa terlihat adanya
perdarahan yang nyata, oleh karena perdarahan masif yang terjadi terkumpul di
dalam rongga toraks.
Pendarahan di dalam rongga pleura dapat terjadi dengan hampir semua
gangguan dari jaringan dada di dinding dan pleura atau struktur intrathoracic.
Respon fisiologis terhadap perkembangan hemothorax diwujudkan dalam 2 area
utama: hemodinamik dan pernafasan. Tingkat respon hemodinamik ditentukan
oleh jumlah dan kecepatan kehilangan darah.
Perubahan hemodinamik bervariasi tergantung pada jumlah perdarahan
dan kecepatan kehilangan darah. Kehilangan darah hingga 750 mL pada seorang
pria 70-kg seharusnya tidak menyebabkan perubahan hemodinamik yang
signifikan. Hilangnya 750-1500 mL pada individu yang sama akan menyebabkan
gejala awal syok (yaitu, takikardia, takipnea, dan penurunan tekanan darah).
Tanda-tanda signifikan dari shock dengan tanda-tanda perfusi yang buruk
terjadi dengan hilangnya volume darah 30% atau lebih (1500-2000 mL). Karena
rongga pleura seorang pria 70-kg dapat menampung 4 atau lebih liter darah,
perdarahan dapat terjadi tanpa bukti eksternal dari kehilangan darah.

10

Efek pendesakan dari akumulasi besar darah dalam rongga pleura dapat
menghambat gerakan pernapasan normal. Dalam kasus trauma, kelainan ventilasi
dan oksigenasi bisa terjadi, terutama jika berhubungan dengan luka pada dinding
dada. Sebuah kumpulan yang cukup besar darah menyebabkan pasien mengalami
dyspnea dan dapat menghasilkan temuan klinis takipnea. Volume darah yang
diperlukan untuk memproduksi gejala pada individu tertentu bervariasi tergantung
pada sejumlah faktor, termasuk organ cedera, tingkat keparahan cedera, dan
cadangan paru dan jantung yang mendasari.
Dispnea adalah gejala yang umum dalam kasus-kasus di mana hemothorax
berkembang dengan cara yang membahayakan, seperti yang sekunder untuk
penyakit metastasis. Kehilangan darah dalam kasus tersebut tidak akut untuk
menghasilkan respon hemodinamik terlihat, dan dispnea sering menjadi keluhan
utama.
Darah yang masuk ke rongga pleura terkena gerakan diafragma, paru-paru,
dan struktur intrathoracic lainnya. Hal ini menyebabkan beberapa derajat
defibrination darah sehingga pembekuan tidak lengkap terjadi. Dalam beberapa
jam penghentian perdarahan, lisis bekuan yang sudah ada dengan enzim pleura
dimulai.
Lisis sel darah merah menghasilkan peningkatan konsentrasi protein cairan
pleura dan peningkatan tekanan osmotik dalam rongga pleura. Tekanan osmotik
tinggi intrapleural menghasilkan gradien osmotik antara ruang pleura dan jaringan
sekitarnya yang menyebabkan transudasi cairan ke dalam rongga pleura. Dengan
cara ini, sebuah hemothorax kecil dan tanpa gejala dapat berkembang menjadi
besar dan gejala efusi pleura berdarah.
Dua keadaan patologis yang berhubungan dengan tahap selanjutnya dari
hemothorax adalah empiema dan fibrothorax. Empiema hasil dari kontaminasi
bakteri pada hemothorax. Jika tidak terdeteksi atau tidak ditangani dengan benar,
hal ini dapat mengakibatkan syok bakteremia dan sepsis.
Fibrothorax terjadi ketika deposisi fibrin berkembang dalam hemothorax
yang terorganisir dan melingkupi baik parietal dan permukaan pleura viseral.

11

Proses adhesive ini menyebkan paru-paru tetap pada posisinya dan mencegah dari
berkembang sepenuhnya.
Hemotoraks traumatik
Trauma laserasi pembuluh darah atau struktur parenkim paru perdarahan darah
berakumulasi di rongga pleura hemotoraks.

Gambar 3 . Skema Patofisiologi Trauma Toraks


2.5 KLASIFIKASI
Pada orang dewasa secara teoritis hematothoraks dibagi dalam 3 golongan,
yaitu:
a. Hematothoraks ringan
Jumlah darah kurang dari 400 cc
Tampak sebagian bayangan kurang dari 15 % pada foto thoraks
Perkusi pekak sampai iga IX
b. Hematothoraks sedang
Jumlah darah 500 cc sampai 2000 cc
15% - 35% tertutup bayangan pada foto thoraks

12

Perkusi pekak sampai iga VI


c. Hematothoraks berat
Jumlah darah lebih dari 2000 cc
35% tertutup bayangan pada foto thoraks
Perkusi pekak sampai iga IV

a.

b.

c.

Gambar 4 . Klasifikasi hemotoraks a. Ringan b. Sedang c. Berat


2.6 GEJALA KLINIS
Hemothorak tidak menimbulkan nyeri selain dari luka yang berdarah di
dinding dada. Luka di pleura viseralis umumnya juga tidak menimbulkan
nyeri. Kadang-kadang anemia dan syok hipovalemik merupakan keluhan dan
gejala yang pertama muncul. Secara klinis pasien menunjukan distress
pernapasan berat, agitasi, sianosis, takipnea berat, takikardia dan peningkatan
awal tekanan darah, di ikuti dengan hipotensi sesuai dengan penurunan curah
jantung (Hudak & Gallo, 1997).
Respon tubuh degan adanya hemothoraks dimanifestasikan dalam 2 area
mayor:
a. Respon hemodinamik
Respon hemodinamik sangat tergantung pada jumlah perdarahan yang
terjadi. Tanda-tanda shock seperti takikardi, takipnea, dan nadi yang
lemah dapat muncul pada pasien yang kehilangan 30% atau lebih volume
darah
b. Respon respiratori

13

Akumulasi darah pada pleura dapat menggangu pergerakan napas. Pada


kasus trauma, dapat terjadi gangguan ventilasi dan oksigenasi, khususnya
jika terdapat injuri pada dinding dada. Akumulasi darah dalam jumlah
yang besar dapat menimbulkan dispnea.
(Mancini, 2011)
Tingkat respon hemodinamik ditentukan oleh jumlah dan kecepatan
hilangnnya darah. Perdarahan hingga 750 mL biasanya belum mengakibatkan
perubahan hemodinamik. Perdarahan 750-1500 mL akan menyebabkan gejala
gejala awal syok (takikardi, takipneu, TD turun).
Adapun tanda dan gejala adanya hemotoraks dapat bersifat simptomatik
namun dapat juga asimptomatik. Asimptomatik didapatkan pada pasien dengan
hemothoraks yang sangat minimal sedangkan kebanyakan pasien akan
menunjukan symptom, diantaranya:

Nyeri dada yang berkaitan dengan trauma dinding dada

Tanda-tanda syok, seperti hipotensi, nadi cepat dan lemah, pucat, dan akral
dingin
-

Kehilangan darah volume darah Cardiac output TD


Kehilangan banyak darah vasokonstriksi perifer pewarnaan kulit
oleh darah berkurang

Takikardia
-

Kehilangan darah

volume darah

Cardiac output

hipoksia

kompensasi tubuh takikardia

Dyspnea
-

Adanya darah atau akumulasi cairan di dalam rongga pleura


pengembangan paru terhambat

pertukaran udara tidak adekuat

sesak napas.
Darah atau akumulasi cairan di dalam rongga pleura pengembangan
paru terhambat pertukaran udara tidak adekuat
takipneu dan peningkatan usaha bernapas

Hypoksemia

kompensasi tubuh

sesak napas.

14

Hemotoraks

paru sulit mengembang

kerja paru terganggu

kadar O2 dalam darah

Takipneu
-

Akumulasi darah pada pleura

meningkatkan usaha napas takipneu.


Kehilangan darah volume darah Cardiac output
kompensasi tubuh

hambatan pernapasan

hipoksia

takipneu.

Anemia

Deviasi trakea ke sisi yang tidak terkena.


-

reaksi tubuh

Akumulasi darah yang banyak

menekan struktur sekitar

mendorong trakea ke arah kontralateral.

Gerak dan pengembangan rongga dada tidak sama (paradoxical).

Penurunan suara napas atau menghilang pada sisi yang terkena


-

Suara napas adalah suara yang terdenger akibat udara yang keluar dan
masuk paru saat bernapas. Adanya darah dalam rongga pleura
pertukaran udara tidak berjalan baik

suara napas berkurang atau

hilang.

Dullness pada perkusi (perkusi pekak)


-

Akumulasi darah pada rongga pleura

suara pekak saat diperkusi

(Suara pekak timbul akibat carian atau massa padat).

Adanya krepitasi saat palpasi.

2.7 DIAGNOSA
Penegakkan diagnosis hemothoraks berdasarkan pada data yang
diperoleh dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari
anamnesa didapatkan penderita hemothoraks mengeluh nyeri dada dan sesak
napas. Juga bisa didapatkan keterangan bahwa penderita sebelumnya
mengalami kecelakaan pada dada. Pada pemeriksaan fisik dari inspeksi
biasanya tidak tampak kelainan, mungkin didapatkan gerakan napas tertinggal
atau adanya pucat karena perdarahan. Pada perkusi didapatkan pekak dengan

15

batas tidak jelas, sedangkan pada auskultasi didapatkan bunyi napas menurun
atau bahkan menghilang.
Pemeriksaan penunjang untuk diagnostik, diantaranya:

Chest x-ray : adanya gambaran hipodense (menunjukkan akumulasi


cairan) pada rongga pleura di sisi yang terkena dan adanya
mediastinum shift (menunjukkan penyimpangan struktur mediastinal
(jantung)). Chest x-ray sebagi penegak diagnostik yang paling utama
dan lebih sensitif dibandingkan lainnya.

Gambar 5 . Chest xray Hematotoraks Kanan

CT Scan : diindikasikan untuk pasien dengan hemothoraks minimal,


untuk evaluasi lokasi clotting (bekuan darah) dan untuk menentukan
kuantitas atau jumlah bekuan darah di rongga pleura.

Gambar 6 . CT-scan Hematotoraks

USG : USG yang digunakan adalah jenis FAST dan diindikasikan


untuk pasien yang tidak stabil dengan hemothoraks minimal.

16

Gambar 7 . USG toraks pada pasien Hematotoraks

Nilai AGD : Hipoksemia mungkin disertai hiperkarbia yang


menyebabkan asidosis respiratori. Saturasi O2 arterial mungkin
menurun pada awalnya tetapi biasanya kembali ke normal dalam
waktu 24 jam.

Cek darah lengkap : menurunnya Hb dan hematokrit menunjukan


jumlah darah yang hilang pada hemothoraks.

Torakosentesis

Menunjukkan

darah/cairan

serosanguinosa

(hemothoraks).
Diagnosis banding
KONDISI
Tension pneumothorax

PENILAIAN
Deviasi Tracheal
Distensi vena leher
Hipersonor

Massive hemothorax

Bising nafas (-)


Deviasi Tracheal
Vena leher kolaps
Perkusi : dullness

Cardiac tamponade

Bising nafas (-)


Distensi vena leher
Bunyi jantung jauh dan lemah
EKG abnormal

17

2.8 PENATALAKSANAAN
Tujuan utama terapi dari hemothoraks adalah untuk menstabilkan
hemodinamik pasien, menghentikan perdarahan dan mengeluarkan darah
serta udara dari rongga pleura. Langkah pertama untuk menstabilkan
hemodinamik adalah dengan resusitasi seperti diberikan oksigenasi, cairan
infus, transfusi darah, dilanjutkan pemberian analgetik dan antibiotik.
Langkah

selanjutnya

untuk

penatalaksanaan

pasien

dengan

hemothoraks adalah mengeluarkan darah dari rongga pleura yang dapat


dilakukan dengan cara:

Chest tube (Tube thoracostomy drainage) : tube thoracostomy drainage


merupakan terapi utama untuk pasien dengan hemothoraks. Insersi
chest tube melalui dinding dada untuk drainase darah dan udara.
Pemasangannya selama beberapa hari untuk mengembangkan paru ke
ukuran normal.
Indikasi untuk pemasangan thoraks tube antara lain:

Adanya udara pada rongga dada (pneumothorax)

Perdarahan di rongga dada (hemothorax)

Post operasi atau trauma pada rongga dada (pneumothorax


or

hemothorax)

abses paru atau pus di rongga dada (empyema).

Adapun langkah-langkah dalam pemasangan chest tube


thoracostomy adalah sebagai berikut:

Memposisikan pasien pada posisi trandelenberg

Disinfeksi daerah yang akan dipasang chest tube dengan


menggunakan alkohol atau povidin iodine pada ICS VI atau
ICS VII posterior Axillary Line

Kemudian dilakukan anastesi local dengan menggunakn


lidokain

Selanjutnya insisi sekitar 3-4cm pada Mid Axillary Line

18

Pasang curved hemostat diikuti pemasangan tube dan


selanjutnya dihubungkan dengan WSD (Water Sealed
Drainage)

Lakukan jahitan pada tempat pemasangan tube

Gambar pemasangan chest tube

Thoracotomy : merupakan prosedur pilihan untuk operasi eksplorasi


rongga dada ketika hemothoraks massif atau terjadi perdarahan persisten.
Thoracotomy juga dilakukan ketika hemothoraks parah dan chest tube
sendiri tidak dapat mengontrol perdarahan sehingga operasi (thoracotomy)
diperlukan untuk menghentikan perdarahan. Perdarahan persisten atau
berkelanjutan

yang

segera

memerlukan

tindakan

operasi

untuk

menghentikan sumber perdarahan di antaranya seperti ruptur aorta pada


trauma berat.
Operasi (Thoracotomy) diindikasikan apabila :

1 liter atau lebih dievakuasi segera dengan chest tube

Perdarahan persisten, sebanyak 150-200cc/jam selama 2-4 jam

Diperlukan transfusi berulang untuk mempertahankan stabilitas


hemodinamik

Adanya sisa clot sebanyak 500cc atau lebih

19

Gambar 5 . Prosedur torakotomi

Trombolitik agent : trombolitik agent digunakan untuk memecahkan


bekuan darah pada chest tube atau ketika bekuan telah membentuk massa
di rongga pleura, tetapi hal ini sangat berisiko karena dapat memicu
terjadinya perdarahan dan perlu tindakan operasi segera.

2.9 KOMPLIKASI
Komplikasi dapat berupa :
a. Kegagalan pernafasan (Paru-paru kolaps sehingga terjadi gagal napas dan
b.
c.
d.
e.
f.

meninggal).
Fibrosis atau skar pada membran pleura.
Pneumothorax.
Pneumonia.
Septisemia.
Syok.
Perbedaan tekanan yang didirikan di rongga dada oleh gerakan
diafragma (otot besar di dasar toraks) memungkinkan paru-paru untuk
memperluas dan kontak. Jika tekanan dalam rongga dada berubah tibatiba, paru-paru bisa kolaps. Setiap cairan yang mengumpul di rongga
menempatkan pasien pada risiko infeksi dan mengurangi fungsi paru-paru,
atau bahkan kematian.

20

2.10 PROGNOSIS
Prognosis berdasarkan pada penyebab dari hemothoraks dan
seberapa cepat penanganan diberikan. Apabila penanganan tidak dilakukan
segera maka kondisi pasien dapat bertambah buruk karena akan terjadi
akumulasi darah di rongga thoraks yang menyebabkan paru-paru kolaps dan
mendorong mediastinum serta trakea ke sisi yang sehat.

BAB 3
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama

: AA

Gender

: Laki-laki

Umur

: 19 tahun

MR

: 66.82.93

Alamat

: Dusun XI gg. Bromo Kabupaten Deli Serdang

21

Pekerjaan

: Wiraswasta

Agama

: Islam

ANAMNESIS
Keluhan Utama

: Sesak Nafas

Telaah

: Hal ini dialami pasien 4 jam SMRS, pada saat itu


pasien mengendarai motor dengan kecepatan 60
km/j dan tiba-tiba kendaraan di depan dia berhenti
sehingga

pasien

menghindar

dan

akhirnya

terjatuh. Pasien mengaku bahwa ia jatuh lalu


terbentur

punggung

kanan

terbentur

lalu

berguling-guling di jalan aspal hingga jarak 3 m


dari kejadian awal. Pasien pada saat itu tidak
memakai helm pada saat kejadian.

Riwayat

pingsan (+), riwayat muntah (-), nyeri kepala (-).


PEMERIKSAAN FISIK
Primary survey
a Airway :
Look
: Dada kanan ketinggalan bernafas
Listen
: Suara Nafas (+)
Feel
: Hembusan nafas terasa (+)
b Breathing :

c
d
e

Look

: ketinggalan bernafas pada thorax dextra

Listen

: kanan : menghilang ; kiri : vesikuler

Feel

: kanan : beda ; kiri : sonor

Circulation :
Look
: Perdarahan spontan (-)
Feel
: Akral hangat ; Arteri radialis teraba
Disability:
Look
: Pupil : isokor ; diameter : 3mm/3mm ; GCS : 15 (E4V5M6)
Exposure: Secondary survey

Secondary Survey:
a Kepala: : dalam batas normal

22

Mata: konjungtiva palpebra (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor

c
d
e
f
g

(3mm), refleks cahaya (+/+)


Telinga : tidak ditemukan kelainan
Hidung : tidak ditemukan kelainan
Mulut : tidak ditemukan kelainan
Leher : Tidak ditemukan kelainan
Thorax:
Inspeksi : ketinggalan bernafas pada thorax dextra , hematom pada

punggung dextra
Perkusi : kanan : beda; kiri : sonor
Auskultasi : kanan : menghilang ; kiri : vesikuler
Palpasi : tidak dilakukan pemeriksaan
Abdomen:
Inspeksi: distensi (-), jejas (-)
Auskultasi: bising usus (+) normal
Perkusi: timpani
Palpasi: soepel, nyeri tekan (-), defens muskular (-)
Ekstremitas: multiple excoriated wound

Status Lokalisata
Excoriated wound o/t regio patella sinistra, regio palmaris sinistra,
Hematom o/t back

DIAGNOSIS
Right Hematothorax
PENATALAKSANAAN
IVFD Asering 20 gtt/i
O2 10 L/i via Non Rebreathing Mask
Pasang Folley catheter 18 fr
Inj. Ceftriaxone 1 gr
Inj. Ketorolac 30mg
Inj. Ranitidine 50mg
Debridement luka
Pasang Thorax Drain

23

24

BAB 4
KESIMPULAN
Hemathothoraks (hemotoraks) adalah terakumulasinya darah pada rongga
thoraks akibat trauma tumpul atau tembus pada dada. Hemathothoraks biasanya
terjadi karena cedera di dada. Penyebab lainnya adalah pecahnya sebuah
pembuluh darah atau kebocoran aneurisma aorta yang kemudian mengalirkan
darahnya ke rongga pleura.
Hemathothoraks dapat dibagi berdasarkan penyebabnya, yaitu oleh trauma
dan non-trauma. Penanganan dan tujuan pengobatan Hematothorax adalah untuk
menstabilkan pasien,mmenghentikan pendarahan, dan menghilangkan darah dan
udara dalam rongga pleura. Penanganan pada hemotoraks dapat berupa resusitasi
cairan, pemasangan chest tube ( WSD ), sanpai Thoracotomy. Tergantung dari
derajat keparahannya.
Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui penyebab serta menangani
dengan cepat kasus ini karena dapat sangat menentukan prognosis yang akan
terjadi.

25

BAB 5
DAFTAR PUSTAKA
1. Dave

Lloyd,

MD.

Thoracic

Trauma.

www.doh.wa.gov/hsqa/emstrauma/OTEP/thoracictrauma.ppt
2. Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. EGC :
Jakarta.
3. Gopinath N, Invited Arcticle Thoracic Trauma, Indian Journal of
Thoracic and Cardiovascular Surgery Vol. 20, Number 3, 144-148.
4. Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
5. Mary
C
Mancini.2011.Hemothorax.
http://emedicine.medscape.com/article/2047916-overview#a0156
6. Mosby Inc. Elsevier Chapter 26. Thoracic Trauma. 2007
7. Setiawan, I., Tengadi K.A, Santoso, A. 1997. Buku Ajar Fisiologi
Kedokteran. Edisi 9. EGC. Jakarta.
8. Stanford Trauma Service Housestaff

Manual Available

from

http://scalpel.stanford.edu/ICU/Stanford%20Trauma%20Service%20rev
%204-05.pdf
9. Syamsu Hidayat,R Dan Wim De Jong, Buku Ajar Bedah, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC, Jakarta,tahun 1995