Anda di halaman 1dari 38

PROPOSAL

LOMBA KARYA ILMIAH


TANOTO STUDENT RESEARCH AWARD 2016

Inverter Tiga Level dengan Teknik Space Vector Pulse Width Modulation
untuk Meningkatkan Efisiensi Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Diusulkan oleh:
Candra Adi Wiguna
Adrian Dewanto

18012028
18012054
aaa
aaa

Kerjasama ITB dengan TANOTO FOUNDATION


2016

2012
2012

LEMBAR PENGESAHAN
1 Judul Penelitian

: Inverter Tiga Level dengan Teknik


Space Vector Pulse Width Modulation
untuk Meningkatkan Efisiensi Sistem
Pembangkit Listrik Tenaga Surya

2 Ketua Pelaksana Kegiatan


Nama Lengkap
NIM
a. Jurusan
b. Universitas
c. Alamat Rumah dan No Tel./HP
d. Alamat email
3 Anggota
/Penulis

Pelaksana

:
:
:
:
:

Candra Adi Wiguna


18012028
Teknik Tenaga Listrik
Institut Teknologi Bandung
Jalan Cisitu Lama no. 30/160C, Bandung
085641411300
: candraadi.wiguna@gmail.com

Kegiatan : 3 orang

4 Biaya Penelitian yang diusulkan


5 Jangka waktu pelaksanaan
6 Waktu untuk kegiatan penelitian

:
: 9 bulan

Bandung, 8 Maret 2016


Ketua Pelaksana Kegiatan

(Candra Adi Wiguna)


NIM : 18012028
Mengetahui
Dosen Pendamping

()
NIP

BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah


Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, kebutuhan energi listrik suatu
negara khususnya di Indonesia akan semakin meningkat. Pada akhir tahun 2015,
kapasitas total pembangkit listrik nasional diprediksi akan mencapai 56,7 GW [1].
Kementerian ESDM melalui Rencana Strategi (RENSTRA) Kementerian ESDM
2015 -2019 menargetkan peningkatan kapasitas total pembangkit listrik sampai 95
GW dan peningkatan jumlah pembangkit-pembangkit listrik Energi Baru
Terbarukan (EBT) dimana salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya
(PLTS). PLTS yang memiliki potensi 4,80 kWh/m 2/hari ditargetkan terjadi
peningkatan kapasitas pembangkit dari 76,9 MW menjadi 260,3 MW pada tahun
2019 [2]. Kebijakan ini menjadi sebuah momentum bagi Indonesia untuk
meningkatkan pemanfaatan EBT dalam jangka menengah.
Namun dalam pengembangan PLTS terdapat tantangan yang harus
diperhatikan. Tantangan dalam implementasi PLTS selain energi listrik keluaran
yang tidak konsisten adalah efisiensi sistem PLTS. Energi listrik keluaran PLTS di
Indonesia baru dapat dihubungkan dengan sistem tenaga listrik setelah melalui
inverter. Dampak dari penggunaan inverter ini adalah penurunan efisiensi. Salah
satu faktor penyebab penurunan efisiensi ini adalah Total Harmonic Distortion
(THD), riak arus listrik keluaran dari inverter yang dapat menurunkan efisiensi
gelombang keluaran inverter [3].
THD yang dihasilkan inverter dapat direduksi dengan cara memodifikasi
teknik pengendalian inverter. Teknik pengendalian yang biasa digunakan untuk
inverter adalah teknik Sinusoidal Pulse Width Modulation (SPWM). Besar THD
yang dihasilkan dengan teknik SPWM masih cukup signifikan untuk

memengaruhi efisiensi sistem. Saat ini, telah dikembangkan teknik Space Vector
Pulse Width Modulation (SVPWM). Teknik SVPWM diyakini mampu
menghasilkan gelombang keluaran inverter dengan THD yang lebih rendah karena
teknik ini menghilangkan penyaklaran inverter yang tidak bermanfaat sehingga
kerja inverter lebih efisien dibandingkan teknik SPWM untuk spesifikasi yang
sama [3].
Oleh karena itu, pada penelitian ini kami bermaksud melakukan
implementasi inverter 3-level dengan teknik SVPWM. Selanjutnya, kami akan
membandingkan THD yang dihasilkan oleh inverter 3-level teknik SPWM dengan
inverter 3-level teknik SVPWM dengan spesifikasi yang sama untuk
membuktikan bahwa THD keluaran inverter 3-level teknik SVPWM lebih baik
dibandingkan dengan teknik SPWM.

1.2 Perumusan Masalah


1.2.1 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian Inverter Tiga Level dengan Teknik
Space Vector Pulse Width Modulation Untuk Meningkatkan Efisiensi Sistem
Pembangkit Listrik Tenaga Surya adalah sebagai berikut.
1. Apakah terbukti bahwa teknik SVPWM menghasilkan THD yang lebih
rendah dibandingkan dengan teknik SPWM pada inverter 3-level?
2. Bagaimana implementasi inverter 3-level dengan teknik SPWM dan
SVPWM?

1.2.2

Hipotesis dan Pendekatan/ Konsep yang Digunakan

Kami memiliki hipotesis bahwa inverter 3-level dengan teknik SVPWM


menghasilkan THD gelombangan keluaran yang lebih rendah dibandingkan
dengan inverter 3-level dengan teknik SPWM. Pendekatan atau konsep yang kami
gunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan pengukuran besar THD
arus dan tegangan yang dihasilkan oleh kedua inverter. Selanjutnya, THD arus dan

tegangan yang telah diukur dibandingkan satu sama lain sehingga terlihat
perbedaan besar THD yang dihasilkan oleh kedua inverter.
1.2.3

Batasan Masalah

Batasan - batasan yang kami gunakan pada penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1. Konfigurasi inverter yang digunakan adalah inverter tiga level
dengan topologi Neutral Point Clamped (NPC).
2. Teknik yang digunakan untuk mengendalikan inverter tiga level
adalah SVPWM dan SPWM.
3. Tegangan DC masukan merupakan sinyal murni.
4. Pengukuran THD tegangan dilakukan pada keluaran tegangan
keluaran fasa-netral tegangan keluaran fasa-fasa, dan arus keluaran.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian Inverter Tiga Level dengan Teknik Space Vector
Pulse Width Modulation Untuk Meningkatkan Efisiensi Sistem Pembangkit
Listrik Tenaga Surya adalah sebagai berikut.
1. Membuktikan bahwa THD yang dihasilkan inverter 3-level dengan
teknik SVPWM lebih rendah dibandingkan teknik SPWM.
2. Mengimplementasikan prototipe inverter 3-level dengan teknik SPWM
dan SVPWM.

1.4 Luaran yang Diharapkan


Penelitian ini diharapkan mampu memberikan suatu wawasan baru
mengenai cara pengendalian inverter dengan THD minimum sehingga sistem
tenaga listrik mendapatkan efisiensi energi yang lebih baik.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diimplementasikan pada inverter
yang digunakan untuk pembangkit listrik EBT khususnya PLTS dan pembangkit

listrik EBT lainnya yang membutuhkan konversi gelombang DC ke gelombang


AC. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi literatur untuk
penelitian-penelitian selanjutnya dengan tujuan pengembangan keilmuan tenaga
listrik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem PLTS
Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) merupakan sistem terintegrasi yang
mengubah energi matahari menjadi energi listrik. Pembangkit ini bekerja dengan
memanfaatkan sifak fotolistrik dari material dari semikonduktor yang digunakan
sel surya. Diagram sistem PLTS digambarkan sesuai gambar berikut.

Gambar 2.1 Diagram Sistem PLTS


Diagram diatas merupakan diagram yang digunakan untuk on-grid atau
tersambung dengan jaringan listrik (PLN), hal ini terlihat dari adanya pengontrol
dan power grid.

Aliran energi listrik hasil dari sel surya akan diatur oleh

pengontrol untuk mengisi baterai dan/atau mengalirkan daya ke sistem. Baterai


pada sistem berfungsi sebagai penyimpan energi listrik.
Energi listrik hasil PLTS ini tidak dapat langsung dimanfaatkan karena
bentuk energi listrik yang dihasilkan masih berupa gelombang DC. Sistem PLTS
memerlukan inverter (konverter DC-AC) sehingga dapat tersambung dengan
jaringan listrik. [6]

1.1
1.1.1

Rangkuman Teori Dasar


Inverter Tiga Level Topologi Neutral Point Clamped (NPC)
Inverter yang digunakan pada penelitian ini adalah inverter tiga level

dengan topologi Neutral Point Clamped (NPC). Pada inverter ini terdapat 4 saklar
untuk tiap kaki fasa. Terdapat 2 clamped diode (dioda kelem) setiap kaki fasa.
Jumlah kapasitor DC link terdapat 2. [7]

Gambar 1-1 NPC Inverter Tiga Level Tiga Fasa

Inverter multilevel dibandingkan inverter dua level memiliki beberapa


kelebihan diantaranya adalah kemampuan aplikasi pada level tegangan tinggi dan
efisiensi yang tinggi [7]. Jumlah saklar yang lebih banyak dan terhubung secara
seri membuat tekanan tegangan yang diterima masing-masing saklar terbagi
sesuai dengan jumlah saklar. Adanya NPC di topologi inverter ini membuat
tegangan keluaran kaki pada menjadi tiga variasi, yaitu sebagai berikut.

Tabel 1- 1 Kombinasi Penyaklaran pada Inverter Tiga Fasa [7]


Penyaklaran

KONDISI

Penamaan
Kondisi
S1x
S2x
S3x
S4x
Vxo

ON
ON
OFF
OFF
VDC/2

OFF
ON
ON
OFF
0

OFF
OFF
ON
ON
-VDC/2

Persamaan keluaran tegangan fasa-netral pada inverter tiga level tiga fasa menurut
[7] sebagai berikut.

1
1
V an= ( 2 S1 aS 1b S 1 c )+ (2 S2 aS 2b S 2 c )
6
6

(1.1)

1
1
V bn= ( 2 S1 bS 1a S 1 c )+ (2 S2 bS 2a S 2 c )
6
6

(1.2)

1
1
V cn = ( 2 S 1 c S 1 bS1 a ) + (2 S 2 c S 2 bS2 a )
6
6

(1.3)

Adanya jumlah variasi tegangan yang lebih banyak dari inverter dua level, besar
THD pada inverter tiga level semakin kecil sehingga efisiensi inverter semakin
tinggi.
Inverter tiga level juga memiliki kekurangan diantaranya adalah skema
kontrol yang lebih rumit bila dibandingkan dengan inverter dua level dan
permasalahan keseimbangan pada kedua tegangan kapasitor DC link. Tegangan
kapasitor DC link pada inverter tiga level mengalami perubahan akibat
tersambungnya node penghubung kedua kapasitor dengan kaki fasa inverter atau
neutral point (NP). Node yang terhubung ini arus dari atau ke Inverter. Hal ini
membuat kapasitor akan mengalami charge dan discharge sesuai dengan besar
arus yang masuk atau keluar dari kapasitor.

Gambar 1-2 Arah Arus NP pada Inverter Tiga Level dengan Kondisi Penyaklaran
Berbeda [9]

Pada gambar dapat dilihat arah arus netral dengan kondisi penyaklaran
ONN (fasa a = O, fasa b = N, fasa c = N) dan POO (fasa a = P, fasa b = O, fasa c =
O). Pada kondisi penyaklaran ONN, kapasitor ON akan melakukan discharge arus
NP. Besar arus NP sebanding dengan arus pada fasa a. Pada kasus ini, tegangan
kapasitor ON akan turun dan akan menyebabkan beda tegangan antara kapasitor
PO dan ON. Pada kondisi penyaklaran POO, arus NP menuju kapasitor PO dari
sisi negatif sehingga tegangan kapasitor PO akan turun. Untuk menjaga
keseimbangan tegangan kedua kapasitor, telah dikembangan beberapa metode
pensaklaran agar beda tegangan kedua kapasitor tetap pada batas yang dapat
ditoleransi.

1.1.2

Sinusoidal Pulse Width Modulation (SPWM)


Pulse Width Modulation adalah kontrol yang biasa digunakan pada

rangkaian konverter daya.

Kontrol dari PWM ini adalah untuk mengatur

membuka dan menutupnya saklar dengan maksud menghasilkan tegangan


keluaran sesuai yang kita inginkan. Karena merupakan kontroler yang umum,
teknik PWM dapat dipakai diseluruh aplikasi konverter daya.

Untuk inverter, PWM sinusoidal merupakan PWM yang konvensional, dan


biasanya terbagi menjadi sinyal carrier (biasanya sinyal segitiga) dan sinyal
pemodulasi. Pada sinyal modulasi, gelombang sinusoidal yang dipakai memiliki
frekuensi yang disesuaikan dengan gelombang sinusoidal keluaran yang ingin
dihasilkan.[8]

Gambar 1-3 Pulse Width Modulation pada Inverter

Pengaturan besarnya tegangan puncak pada inverter sendiri dilakukan


dengan suatu rumus yang dinamakan rasio modulasi atau m a. Rasio ampiltudo
modulasi adalah besar perbandingan tegangan puncak dari sinyal kontrol
(sinusoidal dengan frekuensi fundamental) dan sinyal segitiga.
m a=

^ control
V
^ tri
V

Keterangan :
ma

= rasio amplitudo modulasi

(1.4)

^ control
V

= tegangan puncak sinyal sinusoidal

^ tri
V

= tegangan puncak sinyal segitiga


Tidak hanya pengaturan amplitudo antara sinyal carrier dan sinyal

modulasi yang harus diperhitungkan dalam inverter.

Perbandingan frekuensi

keduanya pun juga memiliki peranan penting dalam menghasilkan keluaran


inverter. Besaran ini dinamakan rasio frekuensi modulasi atau dinamakan mf.
mf =

fs
f1

(1.5)

Keterangan :
ma

= rasio frekuensi modulasi

fs

= frekuensi sinyal segitiga

f1

= frekuensi sinyal sinusoidal

Batasan yang ada dalam pemilihan nilai mf adalah rugi-rugi penyaklaran.


Semakin tinggi nilai mf, maka semakin besar nilai rugi-rugi penyaklaran, namun
bentuk gelombang keluaran yang muncul akan semakin baik. Perbandingan rasio
frekeuensi sebaiknya juga merupakan nilai ganjil. Hasil dari pemilihan mf ganjil
adalah gelombang keluaran yang menjadi simetris ganjil, sehingga hanya
harmonisa orde ganjil yang muncul, dan harmonisa orde genapnya akan hilang.

1.1.3

Space Vector Pulse Width Modulation (SVPWM)


SVPWM merupakan salah satu teknik kontrol inverter dengan prinsip

dasar mengubah input tiga fasa baik arus atau tegangan menjadi vektor yang
berputar dengan kecepatan konstan [7]. Dasar teknik SVPWM adalah medan
magnetik yang berputar seperti prinsip pada mesin AC. Vektor berputar dengan

kecepatan = t t dimana t = 2fs. fs merupakan frekuensi fundamental tegangan


AC.

Gambar 1- 4 Vektor berputar hasil konversi 3 fasa tegangan dengan Transformasi


Clark [7]

Cara kerja SVPWM adalah melakukan pendekatan vektor yang berputar


atau yang biasa disebut Vref dengan vektor-vektor aktif dan pasif yang diciptakan
dengan pengaturan konfigurasi penyaklaran pada inverter. Berikut ini merupakan
konfigurasi Space Vector Modulation (SVM) untuk inverter tiga level.

Gambar 1- 5 Kumpulan Vektor Aktif dan Pasif pada SVM untuk Inverter Tiga
Level [10]

Total vektor pada SVM untuk inverter tiga level sebanyak 27 buah.
Terdapat 24 vektor aktif dan 3 vektor zero. Dari 24 vektor aktif terbagi menjadi 3
jenis vektor, yaitu 6 vektor besar dengan besar tegangan

2
V
3 DC , 6 vektor

sedang dengan besar tegangan

tegangan

1
V DC , dan 12 vektor kecil dengan besar
3

1
V
3 DC . Vektor zero memiliki besar tegangan 0. Pada kondisi vektor

zero tidak terdapat aliran daya antara sisi masukan dan keluaran. Pendekatan V ref
dengan pilihan 27 vektor SVM akan menghasilkan perintah penyaklaran pada
inverter.
SVPWM memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan SPWM.
Diantaranya adalah besar tegangan keluaran pada SVPWM. Penyaklaran yang
diatur pada SVPWM membuat penyaklaran yang bersifat redundan dapat
dihindari sehingga mampu bekerja dengan modulasi tegangan yang lebih tinggi
sebesar 15%.

1.1.3.1 Undermodulation
Modulasi indeks m dapat direpresentasikan dengan modulasi indeks
gelombang kotak M. Konversi nilai m maksimum ke dalam M sesuai dengan [11]
adalah sebagai berikut.
Vdc
V PWM
2

M=
=
= 0.785
V max, six step 2 Vdc 4

(1.6)

Untuk SVPWM, Mmaks = 0.9068. Dalam SVPWM, terdapat tiga operasi, yaitu
operasi

undermodulaion

(0 M 0.9068) ,

overmodulation

mode

(0.9068 M 0.9517) , dan overmodulation mode 2 (0.9517 M 1) .

Gambar 1-6 (a) undermodulation (b) overmodulation mode 1 (c) overmodulation


mode 2 [10]

Untuk merepresentasikan Vref dengan vektor-vektor SVM, diperlukan


beberapa langkah yang dibahas pada [7], [9], [10], dan [11], yaitu sebagai berikut.
a. Menentukan besar Vref dan sudut
Asumsi sistem seimbang

V ao +V bo +V co =0

Terdapat 3 tegangan fasa insantaneous


V a=Vsin (t )

(1.8)

V b=Vsin (t +
V c =Vsin (t

(1.7)

2
)
3

2
)
3

(1.9)
(1.10)

Dengan transformasi Clark, besar Vref dan sudut dapat ditentukan dengan rumus
sebagai berikut.

|V ref |=V 2 +V 2
=tan 1 (

V
)
V

(1.11)

(1.12)

dimana
V ref =V + jV

( )

2
3
2
sin
3

1 cos

V 2
=
V 3 0

2
3
2
sin
3
cos

)( ) (

1
Va
1
2
2
Vb =
3
3
0
Vc
2

(1.13)

)( )

1 V
a
2
Vb
3
Vc
2

(1.14)

b. Menentukan sektor dan regional


Langkah setelah menentukan besar Vref dan sudut adalah menentukan
sektor dan regional. SVM menurut [10] dibagi menjadi 6 sektor. Setiap sektor
dibagi menjadi 6 regional. Berikut ini merupakan pembagian sektor.
Sektor 1 berada di antara

0 <60 .

Sektor 2 berada di antara

60 <120 .

Sektor 3 berada di antara

120 <180 .

Sektor 4 berada di antara

180 <240 .

Sektor 5 berada di antara

240 <300 .

Sektor 6 berada di antara

300 <360 .

Gambar 1- 7 Pembagian Sektor [7] dan Regional [10]

Menurut [10], berikut ini merupakan pembagian regional untuk sektor 1.

m1=V

m2=

(1.15)

2
V
3

(1.16)

Vref berada di regional 1 bila m1 , m2, m1+ m2 V DC / 3 dan

0 <30 .

Vref berada di regional 2 bila m1 , m2, m1+ m2 V DC / 3 dan

30 <60 .

Vref berada di regional 3 bila m1 > VDC/3.


V DC
V DC
Vref berada di regional 4 bila m1 , m2 < 3 , m1+ m2 > 3
Vref berada di regional 5 bila
0 <60 .

Vref berada di regional 6 bila m2 > VDC/3.

dan

0 <30 .

m1 , m2 <V DC /3, m1+ m2 >V DC /3

dan 3

c. Menghitung waktu penyaklaran Ta, Tb, Tc


Dari persamaan (1.11), (1.12), (1.13), dan (1.14) didapatkan dua
persamaan untuk tiap sektor yaitu
V ref =T a V x +T b V y +T c V z

(1.17)

T s=T a +T b +T c

(1.18)

Dengan nilai x, y dan z merupakan tiga kombinasi vektor untuk tiap


region. Sedangkan Ts merupakan frekuensi sampling. Dari persamaan diatas
dapat dibentuk persamaan baru dengan memecah Vref menjadi nilai real dan
imajiner nya.
V ref =V u e

(1.19)

V ref (cos + jsin)=T a V x +T b V y +T c V z


a=

(1.20)

3 V ref

(1.21)

V DC

Dengan Vu adalah nilai maksimum tegangan yang dapat dihasilkan


Space Vector (Large Vector). Sehingga nilai Ta, Tb dan Tc untuk masing
region akan berbeda bergantung dari kombinasi tiga vector yang ada
didekatnya. Persamaan umum yang dibentuk tertulis pada tabel di bawah.

Tabel 1- 2 Persamaan Waktu Penyaklaran untuk Sektor 1


Region
Region 1
dan 2
Region 3

Ta

Ts2 a sin ( )
3
Ts(22 a sin

+ )
3

( )

Tb

( 3 ))

Ts(1+2 a sin
Ts(2 a sin)

Tc
Ts2 a sin

Ts(2 a sin

( 3 )1)

Region
dan 5

Region 6

Ts(12 a sin )

( 3 + )1)

Ts(2 a sin ( ))
3
Ts(2 a sin

Ts(2 sin1)

( 3 )+1)

Ts(22 a sin ( + ))
3
Ts(2 a sin

d. Menentukan urutan penyaklaran


Menurut [10] urutan pensaklaran dibagi menjadi 7 tahap untuk setiap Ts.
Duty Cycle setiap tahap pada sektor 1 adalah sebagai berikut.

Regional1 T s=

Ta Tc Tb Ta Tb Tc Ta
+ + + + + +
4 2 2 2 2 2 4

(1.22)

Regional2 T s=

Tc Tb Ta Tc Ta Tb Tc
+ + + + + +
4 2 2 2 2 2 4

(1.23)

Regional3 T s=

Ta Tc Tb Ta Tb Tc Ta
+ + + + + +
4 2 2 2 2 2 4

(1.24)

Regional 4 T s=

Ta Tc Tb Ta Tb Tc Ta
+ + + + + +
4 2 2 2 2 2 4

(1.25)

Regional5 T s=

Tc Tb Ta Tc Ta Tb Tc
+ + + + + +
4 2 2 2 2 2 4

(1.26)

Regional6 T s =

Tc Tb Ta Tc Ta Tb Tc
+ + + + + +
4 2 2 2 2 2 4

(1.27)

Duty Cycle di atas dibandingkan dengan gelombang ramp yang memiliki


besar nilai sama seperti Ts dan durasi waktu sebesar frekuensi pensaklaran (f sw).
Dari perbandingn keduanya akan didapat pengaktifan saklar inverter sesuai urutan

pensaklaran yang telah diatur. Di bawah ini merupakan tabel urutan pensaklaran
untuk sektor 1.

Tabel 1-3 Urutan Pensaklaran Setiap Regional untuk Sektor 1 [10]


Urutan
1
2
3
4
5
6
7

Regional
1
ONN
OON
OOO
POO
OOO
OON
ONN

Regional
2
OON
OOO
POO
PPO
POO
OOO
OON

Regional
3
ONN
PNN
POO
POO
PON
PNN
ONN

Regional
4
ONN
OON
POO
POO
PON
OON
ONN

Regional
5
OON
PON
POO
PPO
POO
PON
OON

Regional
6
OON
PON
PPO
PPO
PPN
PON
OON

BAB III
METODE PENELITIAN

1.2

Data
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer

diperoleh dari hasil implementasi inverter dan data sekunder didapat dari studi
literatur. Pada penelitian ini dilakukan simulasi terlebih dahulu dengan
menggunakan software untuk uji validitas dari solusi perhitungan secara
matematis. Setelah simulasi selesai, dilakukan implementasi pada inverter dan
didapatkan data primer.
Data primer keluaran yang diamati pada penelitian ini adalah harmonisa
tegangan fasa-fasa dan tegangan fasa-netral dari inverter tiga level teknik
SVPWM. Dari data primer tersebut, didapat variabel independen adalah modulasi
indeks dan variabel dependen adalah tegangan fasa-fasa dan tegangan fasa-netral.
Data sekunder didapat dari studi literatur pada [7] mengenai inverter pada
PLTS. Data didapat sebagai berikut.

1.3

Tegangan DC input,rms

= 440 V

Tegangan AC fasa-fasa,rms

= 380 V

Tegangan AC fasa-netral,rms

= 220 V

Metode/Rumus
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah perhitungan THD

tegangan menurut [6] dan [8].

THDv=

2
2

+V 23 +V 24+ +V 2n
x 100
V1

(2.1)

Keterangan
THDv : Total harmonisa tegangan

1.4

V1

: Tegangan frekuensi fundamental

Vn

: Tegangan harmonisa ke-n

Instrumentasi
Pada penelitian ini digunakan perangkat lunak (software) dan perangkat

keras (hardware). Software yang digunakan untuk simulasi rangakain adalah


Power Simulator versi 9.0, ALTIUM, QUARTUS, dan MATLAB SIMULINK.
PSIM atau MATLAB SIMULINK memiliki library komponen-komponen
elektronika daya dan fungsi-fungsi khusus beragam untuk simulasi pemodelan
rangkaian.
ALTIUM merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk
mendesain PCB. Pada penelitian ini ALTIUM akan digunakan untuk mendesain
rangkaian boost converter, gate driver, dan rangkaian kendali. Terdapat dua bagian
yaitu bagian skematik dan bagian PCB. Sebelum membuat Desain PCB, terlebih
dahulu membuat skematik sebelum diimplementasikan menjadi file PCB yang
siap untuk dicetak.
QUARTUS merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk mendesain
algoritma FPGA. Digunakan FPGA sebagai unit kendali dimungkinkan karena
sistem berjalan mengulang. Perbedaan dengan Digital Signal Processing (DSP)
adalah FPGA memberi perintah berdasarkan gerbang logika yang dibuat
sedangkan DSP bekerja dengan algoritma sequence programming atau berurutan

Hardware yang digunakan pada penelitian ini adalah rangkaian inverter


dengan saklar IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor) dan FPGA (Field
Programmable Gate Array). Saklar yang digunakan adalah IGBT karena memiliki
kapasitas daya yang cukup tinggi.

Gambar 2- 8 Karakteristik IGBT [8]


FPGA merupakan sirkit terintegrasi (IC) yang terdiri dari banyak gerbang
logika dengan interkoneksi yang dapat dikonfigurasi. Bahasa pemrograman yang
digunakan pada IC ini adalah VHDL (VHSIC Hardware Description Language).
FPGA memiliki kelebihan diantaranya sebagai berikut.
1. Tidak memerlukan proses fabrikasi.
2. Memiliki respon kerja yang cepat.
3. Dapat dikonfigurasi.
FPGA digunakan untuk menghasilkan sinyal kontrol penyaklaran dan gate
driver sebagai realisasi pengaturan penyaklaran.

1.5

Eksperimen
Pemodelan inverter tiga level tiga fasa dengan teknik SVPWM dilakukan

dengan menggunakan software MATLAB SIMULINK. Spesifikasi desain yang


digunakan sebagai berikut.
1. Tegangan DC input 440 V
2. Saklar IGBT asumsi ideal

3. Dioda asumsi ideal


4. Beban RL dengan R = 1 dan L = 10 mH
5. Kapasitor DC 0,5 F

Gambar 2-9 Skema Rangkaian Inverter Tiga Level Tiga Fasa beserta Perangkat
Pengukuran Arus, Tegangan, dan THD

Pada SVPWM terdapat skema kontrol pada saat undermodulation dan


overmodulation. Berikut ini merupakan skema kontrol digital inverter dan sinyal
penyaklaran untuk gate pada setiap skalar yang digunakan.

Gambar 2- 10 Skema Kontrol Digital Space Vector Pulse Width Modulation


(SVPWM) untuk Inverter Tiga Level Tiga Fasa

Gambar 2-11 Skema Penyaklaran Gate Inverter

1.6

Diagram Alir
Berikut ini merupakan diagram alir rencana penelitian Tugas Akhir

Inverter Tiga Level dengan Teknik Space Vector Pulse Width Modulation.

Gambar 2- 12 Diagram Alir Penelitian Tugas Akhir

1.7

Pelaksanaan Penelitian
Pemodelan

sistem

dengan

menggunakan

MATLAB

SIMULINK

digunakan sebagai analisis awal sebelum implementasi pada perangkat keras.


Pada penelitian ini dilakukan simulasi operasi inverter tiga level SVPWM pada
kondisi undermodulation dan overmodulation mode 1. Hasil keluaran tegangan
pada inverter dibandingkan dengan keluaran tegangan inverter tiga level SPWM
dengan spesifikasi yang sama. Spesifikasi yang digunakan pada simulasi Inverter
SVPWM dan SPWM adalah sebagai berikut.
1. Tegangan DC masukan 400 V

2. Kapasitor DC Link 0,5 F


3. Saklar IGBT ideal
4. Dioda ideal
5. Beban RL dengan R = 1 dan L = 10 mH
6. fsw = 9 kHz
7. untuk SVPWM, digunakan Ts (waktu sampel) 1/10000 s

BAB IV
RENCANA PENELITIAN

4.1. Biaya
Tinggal digolek harga setiap komponen, nek ran emu ngarang. Gawene nggo
spek sing asli ning sistem, soale tanoto outpute harapane wes ora mung
prototype. Dadi nek ono tulisan prototype tinggal diilangi. Jare Deo, asumsi
Rsistem = 15 25 ohm, Lsistem = 0.025 mH, VDC = 600 V, kapasitor tinggal
ngitung nggo rumuse hibat. Digolek rego-regone. Plus digolek regone
FPGA DE2-70 (ben rencana biayane mayan).

4.2. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


Berikut ini merupakan bar-chart dan kurva S jadwal pelaksanaan kegiatan
penelitian Inverter Tiga Level dengan Teknik Space Vector Pulse Width
Modulation Untuk Meningkatkan Efisiensi Sistem Pembangkit Listrik Tenaga
Surya.

Bar-chart dan Kurva S Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

DAFTAR PUSTAKA

[1] Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Outlook Energi Indonesia


2014 - Pengembangan Energi Untuk Mendukung Program Substitusi
BBM, Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi, Jakarta,
2014
[2] Rencana Strategis Kementerian ESDM 2015 2019 (BELUM BENER)
[3] Bengi Tolunay, Space Vector Pulse Width Modulation for Three-Level
Converters

LabVIEW

Implementation, Thesis,

Teknisk

Naturvetenskaplig Fakultet, 2012.


[4] http://www.esdm.go.id/berita/323-energi-baru-dan-terbarukan/2846energi-surya-dan-pengembangannya-di-indonesia.html (diakses 1 Maret
2016 7.17 WIB)
[5] M. Mythili and N. Kayalvizhi, (2013) Harmonic Minimization in
Multilevel Inverters Using Selective Harmonic Elimination PWM
Technique. 2013 International Conference on Renewable Energy and
Sustainable Energy.
[6] N. Mohan, T. M. Undeland, and W. P. Robbins, Power Electronics
Converters, Applications and Design Third Edition, John Wiley &
Sons, Inc, New Jersey, 2004.
[7] M. H. Rashid, Power Electronic Handbook 2nd Edition, Academic
Press, Burlington, 2007.
[8]

Lampiran 1. Biodata Ketua


1 Nama Lengkap (dengan gelar)
2 Jenis Kelamin
3 Program Studi
4 NIM
5 Tempat dan Tanggal Lahir
6 E-mail
7 Nomor Telepon / HP

Candra Adi Wiguna


Laki-laki
Teknik Tenaga Listrik
18012028
Semarang, 21 Mei 1994
candraadi.wiguna@gmail.com
085641411300

A. Riwayat Pendidikan
Nama Institusi
Jurusan
Tahun Masuk - Lulus

SD
SD N Petompon
5 6 7 Semarang
2000 2006

SMP
SMP N 2
Semarang
2006 2009

B. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


N
Nama Pertemuan
Judul Artikel Ilmiah
o
Ilmiah / Seminar
1
Sidang Tugas Akhir I Inverter Tiga Level dengan
Teknik Tenaga Listrik Teknik Space Vector Pulse
ITB 2012
Width Modulation

SMA
SMA N 3
Semarang
IPA
2009 2012
Waktu dan
Tempat
21 Desember
2015, Gedung
Kerja Sama PLN
ITB, Institut
Teknologi
Bandung

C. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau


institusi lainnya)
No
Jenis Penghargaan
1 Juara 1 Lomba Nasyid
UNISBANK tingkat Jawa
Tengah
2 Juara 1 Lomba Paduan Suara
tingkat Kota Semarang
3 Juara 3 Lomba Nasyid
Yamaha tingkat Jawa Tengah

Institusi Pemberi Penghargaan


UNISBANK

Tahun
2011

Pemerintah Kota Semarang

2010

Yamaha

2010

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Lomba Karya Ilmiah TANOTO STUDENT
RESEARCH AWARD 2016.

Bandung, tgl-bln-thn
Pengusul/Pembimbing,
Tanda tangan
( Nama Lengkap )

Lampiran 2. Biodata Anggota


1 Nama Lengkap (dengan gelar)
2 Jenis Kelamin
3 Program Studi
4 NIM
5 Tempat dan Tanggal Lahir
6 E-mail
7 Nomor Telepon / HP

Adrian Dewanto
L
Teknik Tenaga Listrik
18012054
Jakarta, 15 Desember 1994
dewanto.adrian@gmail.com
085228775787

A. Riwayat Pendidikan
Nama Institusi
Jurusan
Tahun Masuk - Lulus

SD
SD Kalinegoro
V
2003-2008

SMP
SMPN 2
Magelang
2008-2010

B. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


Nama Pertemuan
No
Judul Artikel Ilmiah
Ilmiah / Seminar
1 Sidang Tugas Akhir I Inverter Tiga Level dengan
Teknik Tenaga Listrik Teknik Space Vector Pulse
ITB 2010
Width Modulation

SMA
SMAN 1
Magelang
IPA
2010-2012
Waktu dan
Tempat
21 Desember
2015, Gedung
Kerja Sama PLN
ITB, Institut
Teknologi
Bandung

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Lomba Karya Ilmiah TANOTO STUDENT
RESEARCH AWARD 2016.
Bandung, tgl-bln-thn
Pengusul/Pembimbing,
Tanda tangan
( Nama Lengkap )

Lampiran 3. Biodata Anggota


1 Nama Lengkap (dengan gelar)
2 Jenis Kelamin
3 Program Studi
4 NIM
5 Tempat dan Tanggal Lahir
6 E-mail
7 Nomor Telepon / HP

L/P

A. Riwayat Pendidikan
SD

SMP

SMA

Nama Institusi
Jurusan
Tahun Masuk - Lulus
B. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)
Nama Pertemuan
No
Judul Artikel Ilmiah
Ilmiah / Seminar
1
2

Waktu dan
Tempat

C. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau


No
1
2

institusi lainnya)
Jenis Penghargaan

Institusi Pemberi Penghargaan

Tahun

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Lomba Karya Ilmiah TANOTO STUDENT
RESEARCH AWARD 2016.

Bandung, tgl-bln-thn
Pengusul/Pembimbing,
Tanda tangan
( Nama Lengkap )

Lampiran 4. Biodata Anggota


1 Nama Lengkap (dengan gelar)
2 Jenis Kelamin
3 Program Studi
4 NIM
5 Tempat dan Tanggal Lahir
6 E-mail
7 Nomor Telepon / HP

L/P

A. Riwayat Pendidikan
SD

SMP

SMA

Nama Institusi
Jurusan
Tahun Masuk - Lulus
B. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)
Nama Pertemuan
No
Judul Artikel Ilmiah
Ilmiah / Seminar
1
2

Waktu dan
Tempat

C. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau


No
1
2

institusi lainnya)
Jenis Penghargaan

Institusi Pemberi Penghargaan

Tahun

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Lomba Karya Ilmiah TANOTO STUDENT
RESEARCH AWARD 2016.

Bandung, tgl-bln-thn
Pengusul/Pembimbing,
Tanda tangan
( Nama Lengkap )

Lampiran 5. Biodata Pembimbing


1 Nama Lengkap (dengan gelar)
2 Jenis Kelamin
L/P
3 Program Studi
4 NIM
5 Tempat dan Tanggal Lahir
6 E-mail
7 Nomor Telepon / HP
A. Riwayat Pendidikan
SD

SMP

SMA

Nama Institusi
Jurusan
Tahun Masuk - Lulus
B. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)
Nama Pertemuan
No
Judul Artikel Ilmiah
Ilmiah / Seminar
1
2

Waktu dan
Tempat

C. Penghargaan dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah, asosiasi atau


No
1
2

institusi lainnya)
Jenis Penghargaan

Institusi Pemberi Penghargaan

Tahun

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata
dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Lomba Karya Ilmiah TANOTO STUDENT
RESEARCH AWARD 2016.
Bandung, tgl-bln-thn
Pengusul/Pembimbing
,
Tanda tangan
( Nama Lengkap )