Anda di halaman 1dari 5

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Drama

A. UNSUR INTRINSIK
Seperti halnya cerpen dan novel, teks drama pun memiliki unsur pembangunnya yang
dating dari dalam teks drama itu sendiri dan yang (sering disebut sebagai unsur intrinsik),
yaitu unsur alur , tokoh, latar, tema dan amanat, dan unsur lain yang saling menunjang
satu dengan lainnya. Akan tetapi sedikit berbeda dengan cerpen dan novel, unsur alurlah
yang paling utama bagi drama (Oemaryati, 1971:60). Unsur pembangun drama diawali
dengan unsur alur, tokoh, latar, tema dan amanat, serta unsur lainnya yang saling
mengait.
1. Alur
Alur merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang
merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan. Konflik
berkembang karena kontradiksi para pelaku.
Gustaf Freytag memberikan unsur-unsur alur ini lebih lengkap, antara lain:
a. Exposition atau pelukisan awal cerita
Dalam tahap ini pembaca diperkenalkan dengan tokoh-tokoh drama
dengan watak masing-masing. Pembaca mulai mendapat gambaran
tentang lakon yang dibaca.
b. Komplikasi atau pertikaian awal
c. Klimaks atau titik puncak cerita
Konflik yang meningkat itu akan meningkat terus sampai mencapai
klimaks atau titik puncak kegawatan dalam cerita.
d. Resolusi atau penyelesaian atau falling action
Dalam tahap ini konflik mereda atau menurun. Tokoh-tokoh yang
memanaskan situasi atau mencurigakan konflik telah mati atau
menemukan jalan pemecahan.
e. Catastrophe atau denoument atau keputusan
Drama-drama modern akan berhenti pada klimaks atau resolusi. Drama
tradisional membutuhkan penjelasan akhir, seperti halnya dengan tancep
kayon dalam wayang kulit. Dalam tahap ini ada ulasan penguat terhadap
seluruh kisah lakon itu.
Alur drama ada 3 jenis, yaitu sebagai berikut:
a. Sirkuler, cerita berkisar pada satu peristiwa saja
b. Linear, cerita bergerak secara berurutan dari A-Z
c. Episodik, jalinan cerita itu terpisah kemudian bertemu pada akhir cerita
2. Tokoh
Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan di dalam
berbagai peristiwa dalam lakon. Berdasarkan perannya, ada tiga macam tokoh,
yaitu:
a. Tokoh protagonis
Tokoh protagonis adalah tokoh yang mendukung cerita, biasanya ada satu
atau dua figure tokoh protagonist utama, yang dibantu oleh tokoh-tokoh
lainnya yang ikut terlibat sebagai pendukung cerita.
b. Tokoh antagonis

Tokoh antagonis adalah tokoh penentang cerita, biasanya ada seorang


tokoh utama yang menentang cerita, dan beberapa figure pembantu yang
ikut menentang cerita.
c. Tokoh tritagonis
Tokkoh tritagonis adalah tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonis
atau antagonis.
Berdasarkan fungsinya, tokoh dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Tokoh sentral
Tokoh sentral adalah tokoh-tokoh yang paling menentukan dalam seluruh
lakuan dalam drama. Dalam hal ini tokoh protagonist dan antagonislah
yang menjadi tokoh sentralnya.
b. Tokoh utama
Tokoh utama adalah pelaku yang diutamakan dalam suatu drama. Tokoh
utama adalah tokoh yang paling banyak muncul atau paling banyak
dibicarakan dalam drama.
c. Tokoh pembantu
Tokoh pembantu adalah tokoh-tokoh seperti tentara, pangeran, Mercutio,
Benvolio, Peter, dan pembantu lainnya yang memegang peran pelengkap
atau tambahan dalam seluruh jalinan cerita.
3. Latar
Latar atau tempat kejadian cerita harus secara cermat sebab drama naskah harus
juga memberikan kemungkinan untuk dipentaskan. Latar atau setting mengacu
pada segala keterangan tentang waktu, ruang, dan suasana peristiwa dalam drama.
Jenis-jenis latar, antara lain:
a. Latar fisik
Latar fisik adalah segala keterangan tau keadaan tentang ruang dan waktu.
Ruang atau tempat dapat berupa nama kota, jalan, desa, kantor, dan
sebagainya. Sementara waktu, dapat berupa abad, tahun, bulan, hari,
tanggal, pagi, saat bulan purnama, dan sebagainya.
b. Latar spiritual
Segala keterangan tentang adat istiadat, tata cara, kepercayaan, atau nilainilai yang dimiliki oleh latar fisik. Keterangan atau keadaan tersebut dapat
berupa kebiasaan hidup, tradisi, dan kepercayaan, juga termasuk di dalam
latar spiritual.
c. Latar netral
Latar yang tidak memiliki sifat khas, bersifat umum dan berlaku dimaan
saja. Sifat yang ditunjukkan latar netral loebih merupakan sifat umum
terhadap hal yang sejenis misalnya desa, kota, hutan, pasar, sehingga dapat
berlaku dimana saja.
d. Latar tipikal
Latar yang menonjolkan sifat khas. Latar jenis ini cenderung bersifat
kusus, berlaku pada sewaktu-waktu dan tempat tertentu. Latar tipikal ini
secara langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap sikap
tokoh-tokohnya maupun jalan ceritanya.
4. Tema

Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema


berhubungan dengan premis dari drama tersebut yang berhubungan pula dengan
nada dasar dari sebuah drama dan sudut pandang yang dikemukakan oleh
pengarangnya. Sudut pandangan ini sering dihubungkan dengan aliran yang
dianut oleh pengarang tersebut. Premis adalah perumusan tingkat dari tema lakon.
Secara dekotomis, tema dapat dikategorisasikan menjadi tema tradisional dan
tema non tradisional. Tema tradisional dimaksudkan sebagai tema yang berkaitan
dengan masalah kebenaran dan kejahatan. Pada umumnya orang menggemarinya
karena pada dasarnya orang cenderung mencintai kebaikan dan membenci
kejahatan. Tema non tradisional adalah ide utama yang tidak lazim dan bersifat
melawan arus, mengecewakan karena tidak sesuai dengan harapan pembaca atau
penonton.
5. Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Bagaimana jalan
keluar yang diberikan pengarang terhadap permasalahan rumit yang
dipaparkannya itulah amanat. Dengan demikian, amanat erat kaitannya dengan
makna. Makna dari karya yang kita baca atau tonton. Amanat itu biasanya
memberikan manfaat dalam kehidupan secara praktis.
6. Unsur lain: dialog dan pemikiran
a. Dialog
Ciri khas suatu drama adalah naskah yang berbentuk percakapan. Lewat
dialog yang baik akan tercipta pemikiran, karakter yang kuat, dan konflik
peristiwa. Dialog mungkin tidak lengkap, tetapi akan dilengkapi dengan
gerakan, musik, ekspresi wajah, dan sebagainya. Dalam menyusun dialog
ini pengarang harus benar-benar memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh
dalam kehidupan sehari-hari. Pembicaraan yang ditulis pengarang adalah
pembicaraan yang diucapkan dan harus pantas untuk diucapkan di atas
panggung. Gerakan Bahasa dalam dialog, tokoh-tokoh drama adalah
Bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam Bahasa tulis. Hal ini
disebabkan karena drama adalah potret kenyataan. Banyak naskah drama
yang sulit dipentaskan karena dialognya bukan ragam Bahasa tutur tetapi
ragam Bahasa tulis. Disamping hal ragam maka diksi hendaknya dipilih
sesuai dengan dramatic action dari alur itu. Diksi berhubungan dnegan
irama lakon artinya panjang pendeknya kata-kata dalam dialog
berpengaruh terhadap konflik yang dibawakan lakon. Dialog juga harus
bersifat estetis artinya memiliki keindahan Bahasa. Kadang-kadang juga
dituntut bersifat filosofis dan mampu mempengaruhi keindahan. Hal ini
disebabkan karena kenyataan yang ditampilkan di pentas harus lebih indah
dari kenyatan kehidupan sehari-hari.
b. Pemikiran
Dalam struktur dramatik, pemikiran meliputi ide dan emosi, yang
ditunjukkan oleh kata-kata dari semua karakter. Pemikiran juga meliputi
keseluruhan arti dari lakon itu. Pemikiran merupakan tujuan akhir yang

harus diungkapkan lewat alur, karakter maupun dialog. Dengan demikian,


pemikiran sebenarnya menjadi pedoman dan pemersatu bagi unsur-unsur
drama lainnya.
B. UNSUR EKSTRINSIK
Unsur ekstrinsik adalah unsur luar yang dapat menjadi bahan pengarang dalam
menciptakan karya sastra atau menjadi pertimbangan bagi pembaca, antara lain biografi
pengarang dan unsur sosial budaya masyarakatnya (Wellek dan Warren, 1956: 73-124;
dan Wellek dan Warren, 1989: 82-153)
1. Biografi Pengarang
Menurut Wellek dan Warren penyebab lahirnya suatu karya sastra (termasuk drama)
adalah pengarangnya sendiri. Itulah sebabnya biografi sang pengarang dapat
dipergunakan untuk menerangkan dan menjelaskan proses terciptanya suatu karya
sastra. Menurutnya ada tiga sudut pandang sehubungan dengan biografi pengarang.
Pertama, biografi pengarang dianggap dapatmenerangkan dan menjelaskan proses
penciptaan karya sastra. Kedua, jika tidak hati-hati, salah-salah yang dirunut bukan
karyanya, tetapi malah terbelok kearah pribadi pengarangnya. Ketiga, diarahkan pada
studi tentang psikologi pengarang dan proses kreatif kepengarangannya.
2. Pemikiran
Sastra sering dilihat sebagai suatu bentuk filsafat, atau sebagai pemikiran yang
terbungkus dalam bentuk khusus. Dengan kata lain sastra sering dianggap untuk
mengungkapkan pemikiran-pemikiran yang hebat, baik pemikiran psikologis ataupun
filsafat. Secara langsung ataupun melalui kiasan-kiasan dalam karyanya, kadangkadang pengarang menyatakan bahwa ia menganut aliran filsafat tertentu, atau
mengetahui garis besar ajaran paham-paham tersebut
3. Sosial Budaya Masyarakat
Unsur ekstrinsik lain yang paling banyak dipermasalahkan adalah unsur yang
berkaitan dengan biografi pengarang yang menyangkut latar sosial budaya
masyarakat yang terkait dengan karya sastra. Hal tersebut karena adanya hubungan
timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat. Hubungan timbal balik itu di
antaranya: (1) menyangkut posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat
pembaca termasuk di dalamnya faktor-faktor sosial yang bisa mempengaruhi
pengarang sebagai perseorangan di samping mempengaruhi isi karya sastranya, yang
disebutnya sebagai konteks sosial pengarang; (2) menyangkut sejauh mana karya
sastra dianggap sebagai pencerminan keadaan masyarakat, yang disebutnya sebagai
sastra sebagai cermin masyarakat; dan (3) menyangkut sampai seberapa jauh nilai
sastra berkaitan dengan nilai sosial, dan sampai seberapa jauh nilai sastra dipengaruhi
oleh nilai sosial, dan sampai seberapa jauh pula sastra dapat berfungsi sebagai alat
penghibur dan sekaligus sebagai pendidikan bagi masyarakat pembacanya.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (terjemahan). Jakarta:
Gramedia