Anda di halaman 1dari 22

MODUL BERCAK MERAH

PADA KULIT
KLP 7

Skenario

Seorang ibu rumah tangga berumur 30 tahun datang ke


Puskesmas dengan keluhan kemerahan pada daerah
dada yang dialami sejak 1 minggu lalu.

Diagnosis utama

MORBUS HANSEN
(LEPRA/KUSTA)

DD

Dermatology An Illustrated Colour Text, 3rd ed., 2003

Etiologi
Mycobacterium
leprae

Gram positif
Basil tahan asam
Obligate intraseluler
Pleomorfik
Belum dapat
dikultur pada media
kultur artifisial.

Patomekanisme
Mycobacterium leprae

Penularan

Droplet infection, kontak langsung kulit

Masuk ke pembuluh darah dan menuju ke sel schwann di daerah yang dingin
(truncus saraf kutaneus dan perifer tubuh dan wajah)

Sistem imun seluler (SIS)

Respon SIS baik

Respon SIS lemah

Lepra tipe Pausibasilar

Lepra tipe Multibasilar

1. Tidak ada lesi kulit atau saraf yang


muncul atau
2. Lesi kulit atau saraf muncul diikuti
oleh penyembuhan spontan

Mengenai kulit dan saraf, mata,


testis, ginjal, otot halus atau
volunter, sistem retikulo endotelial
dan endotelium vaskular ikut
terlibat

Klasifikasi Internasional (1953)


TipeIndeterminan(I)

TipeTuberculoid(T)

TipeLepromatosa

TipeBorderline(B)

Klasifikasi Ridley Jopling (1960)


Tuberkoloid (TT)

Boderline tubercoloid (BT)

Mid-berderline (BB)

Lepromatosa (LL)

Borderline lepromatous (BL)

Klasifikasi WHO
WHO (1981):
PB I, TT, BT dgn IB < 2+
MB LL, BL, BB dgn IB > 2+
WHO (1987):
PB BTA - , I, TT, BT
MB LL, BL, BB

(BTA +)

PB vs MB

Diagnosis
Anamnesis,gambaranklinis,bakterioskopis,
histopatologisdanserologis.
Cardinal Sign

Klasifikasi

Kehilangan sensasi (anastesi)


Penebalan saran perifer
Hipopigmentasi tau eritema
Basil positif dalam pemeriksaan skin
smear atau biopsi

Pausibasilar (1-5 lesi kulit)


Multibasilar (6 atau lebih lesi kulit)

WHOsCardinalSign(1997)

Diagnosis ditegakkan jika 2

dari 3 tanda atau BTA +

Anamnesis

Gangguan sensibilitas, riwayat


keluarga, riwayat penyakit terdahulu,
riwayat pengobatan

Gejala Klinis
Tipe
tuberculoid

Tipe
lepromatosa

Tipe
bordeline

awitan dini berkembang dengan cepat, saraf yang


terlibat terbatas (sesuai jumlah lesi), dan terjadi
penebalan saraf yang menyebabkan gangguan
motorik, sensorik dan otonom.
kerusakan saraf tersebar, perlahan tetapi progresif,
beberapa tahun kemudian terjadi hipoestesi (bagian
dingin pada tubuh), simetris pada tangan dan kaki
(glove & stocking). Anastesia terjadi penebalan
saran menyebabkan gangguan motorik, sensorik
dan otonom dan ada keadaan akut apabila terjadi
reaksi tipe 2.
campuran dari
lepromatosa

kedua

tipe

tuberculoid

dan

Gejala Klinis Lepra


Pausibasilar

Gejala Klinis Lepra


Multibasilar

Pemeriksaan Fisik
dengan penerangan yang back until melihat lesi dan
kerusakan kulit.
diperhatikan pembesaran, konsistensi dan nyeri. Saraf
yang diperiksa yaitu N. Fasialis, N. Aurikularis magnus,
N. Radialis, N. Ulnaris, N. Medianus, N. Poplitea
Pemeriksaan lateralis, N. Tibialis Posterior. Pada pemeriksaan,
dibandingkan antara kiri dan kanan.
saraf tepi
Pada tipe lepromatosus biasanya kelainan sarafnya
bilateral dan menyeluruh sedangkan tipe tuberkuloid
terlokalisasi mengikuti tempat lesinya.
1. Tes sensoris = gunakan kapas, jarum serta tabung
reaksi brisi air hangat dan dingin.
2.Tes otonom (tes anhidrosis) = tes dengan tinta (Tes
Tes fungsi saraf
Gunawan)
3. Tes Motoris (Voluntary Muscle Test) pada N. Ulnaris,
N. Medianus, N. Radialis dan N. Peroneus.
Inspeksi

Pemeriksaan Penunjang
No

Pemeriksaan

Interpretasi

Pemeriksaan
bakteriologis (skin
smear dengan
pewarnaan ZiehlNeelsen)

IB (indeks bakteri) dengan nilai 0 sampai 6+ menurut


Ridley:
0
jika tidak ditemukan BTA dalam 100 LP
1+ jika ditemukan 1-10 BTA dalam 100 LP
2+ jika ditemukan 1-10 BTA dalam 10 LP
3+ jika ditemukan 1-10 BTA rata-rata dalam 1 LP
4+ jika ditemukan 11-100 BTA rata-rata dalam 1 LP
5+ jika ditemukan 101-1000 BTA rata-rata dalam 1 LP
6+ jika ditemukan >1000 BTA rata-rata dalam 1 LP
IM

Jumlah solid

X 100%

Jumlah solid + Non Solid

Pemeriksaan
histopatologi

Pemeriksaan serologi

Tipe tuberculoid > tuberkel dengan kerusakan saraf


lebih nyata, tidak terdapat kuman atau hanya sedikit
dan non-solid.
Tipe lepromatosa > subepidermal clear zone.
ELISA, ML dipstick test, dan ML flow test.

Reaksi Lepra
Reaksilepraadalahinterupsidenganepisodeakutpadaperjalananpenyakit
yangkronikbiasadialamipadasaatsebelumpengobatan,saatdiagnosis
ditegakkan,selamapengobatanmaupunsetelahpengobatanselesai.
Hipersensitivitas
tipe
lambat
karena
peningkatan mendadak SIS. Penderita lepra
Reaksi tipe I
(Reaksi upgrading) dengan tipe MB maupun PB dapat
mengalaminya.
pengobatan lama yang menyebabkan basil
leprae dalam jumlah besar terbunuh dan
Reaksi tipe II
secara
bertahap
dipecah
sehingga
(Eritema Nodosum
menimbulkan reaksi alergi yang akan
Leprosum)
membuat gejala sistemik. Biasanya pada tipe
MB.

Perbedaan reaksi tipe I dan II

Perbedaan reaksi ringan dan


berat pada tipe I dan II

Tata laksana farmakologik

KONTRA INDIKASI
Rifampisin : ggn fungsi hati & ginjal berat
Klofazimin : Nyeri perut berulang
DDS : hanya diberikan jika Hb normal

Tata laksana non


farmakologik
Pemeliharaan kulit harian (cuci ,
rendam, berikan minyak pada tangan
dan kaki).
Proteksi tangan dan kaki (sarung
tangan, alas kaki).
Latihan fisioterapi

Komplikasi
Kerusakan saraf > kelumpuhan otot
Kecatatan pada tangan (tersering)
Trauma dan infeksi kronik sekunder >
hilangnya ekstremitas distal
Kulit kering, alopecia
Keratitis, lesi pada bilik mata depan >
kebutaan

Pencegahan
Vaksin dengan hanya basil CalmetteGuerin, atau kombinasi basil CalmetteGuerin dengan anti M. leprae atau anti M.
leprae saja