Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan bagian dari mata
kuliah yang wajib dilaksanakan oleh setiap mahasiswa UNM sebagai calon
guru dengan program studi kependidikan. Dengan pengalaman lapangan ini
diharapkan mahasiswa dari program kependidikan dapat belajar dan
berpengalaman dalam melaksanakan tugas kelak saat mereka menjadi guru.
Laporan Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan bukti nyata
hasil pelaksanaan program praktek pengalaman lapangan. Melalui laporan ini
diperoleh gambaran tentang kondisi di sekolah tempat praktek dalam hal ini
SMA Negeri 4 Pinrang. Laporan ini juga menginformasikan kegiatan yang
telah dilaksanakan mulai tanggal 09 September 2015 s.d 09 Desember 2015 di
SMA Negeri 4 Pinrang.
Laporan ini merupakan rangkaian PPL yang mutlak harus dipenuhi
sebagai salah satu syarat bagi kelulusan mahasiswa yang memprogramkan
mata kuliah PPL II.
1. Hakikat PPL
Program Pengalaman Lapangan (PPL) kependidikan merupakan
bagian dari intrakurikuler yang dilaksanakan oleh mahasiswa guru/tenanga
pendidik secara terbimbing maupun tugas pendidikan lainnya secara
terbimbing dan terpadu sebagai prasyaratan pembentukan profesi
kependidikan.

PPL merupakan muara dari seluruh pendidikan prajabatan guru.


Oleh karena itu, pelaksanaan PPL secara terjadwal dilaksanakan sesudah
mahasiswa dianggap telah mendapat bekal memadai dalam berbagai mata
kuliah terutama yang berkaitan dengan pengelolaan proses belajar
mengajar. Bakat kemampuan tersebut diperoleh melalui berbagai mata
kuliah yang disajikan oleh para dosen sejak mahasiswa memasuki jenjang
perguruan tinggi.
Program Pengalaman Lapangan (PPL) adalah suatu program dalam
pendidikan prajabatan guru yang dirancang untuk melatih para calon guru
menguasai kemampuan keguruan yang utuh dan terintegrasi sehingga
setelah menyelesaikan pendidikannya mereka siap secara mandiri
mengembang tugas sebagai guru, sebagai pengembang tugas professional,
seorang guru dituntut tidak hanya tahu dan memahami tugasnya, tetapi
juga

mampu

melaksanakan

tugas

tersebut.

Kemampuan

untuk

melaksanakan tugas sebagai seorang guru inilah yang dibimbing dan


diarahkan melalui PPL.
PPL merupakan titik kulminasi dari seluruh program pendidikan
yang harus dialami oleh mahasiswa di LPTK. Oleh karena itu, PPL dapat
diartikan sebagai salah satu program yang menjadi ajang pelatihan untuk
menerapkan berbagai pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam rangka
pembentukan guru yang profesional. PPL dilaksanakan dengan latihan
kerja (job training) bagi calon pegawai atau staf perusahaan. Hakikat dari
semua pelatihan tersebut adalah mempersiapkan calon pengembang tugas
menjadi profesional dalam bidang yang akan ditekuninya nanti.

Dipandang dari sudut kurikulum, PPL merupakan mata kuliah


proses belajar mengajar yang dipersyaratkan dalam pendidikan prajabatan
guru. PPL sengaja dirancang untuk menyiapkan mahasiswa PPL agar
memiliki atau menguasai kemampuan keguruan yang terpadu secara utuh,
sehingga setelah mereka menjadi guru mereka dapat mengembang tugas
dan tanggung jawab secara profersional
Kegiatan-kegiatan PPL diselenggarakan dalam bentuk pelatihan
terbatas, pelatihan terbimbing dan pelatihan mandiri yang diharapkan pada
terbentuknya kemampuan keguruan yang terjadwal secara sistematis di
bawah bimbingan dosen pembimbing dan guru pamong yang memenuhi
syarat. Hakikat latihan yang diberikan pada mahasiwa PPL yaitu
mempersiapkan calon guru agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya
dengan baik pada masa yang akan datang.
2. Maksud dan Tujuan PPL
Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan serangkaian
kegiatan yang diprogramkan mahasiswa yang memungkinkan mahasiswa
mengenal dengan baik lapangan yang kelak akan menjadi tempat
tugasnya. PPL diberikan pada mahasiswa dengan maksud untuk
memberikan dan membekali mahasiswa calon guru dengan kemampuan
yang beragam untuk melaksanakan tugas baik tugas mengajar (teaching)
maupun tugas kependidikan lainnya (non teaching).
PPL diberikan kepada mahasiswa dengan maksud memberikan
pengalaman kepada calon guru tentang tugas mengajar dan tugas

kependidikan lainnya. Tujuan PPL ini dapat dibagi menjadi dua bagian,
yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.
1) Tujuan Umum
PPL bertujuan memberikan pengalaman kependidikan secara
faktual dilapangan kepada mahasiswa sebagai wahana terbentuknya
tugas kependidikan yang profesional yaitu tenaga kependidikan yang
memiliki seperangkat pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap
yang diperlukan bagi profesinya serta mampu menerapkannya dalam
penyelenggaraan kependidikan dan pengajaran baik di sekolah
maupun di luar sekolah.
2) Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang diharapkan dapat dicapai mahasiswa melalui
PPL kependidikan adalah:
a. Mengenal dengan cermat lingkungan fisik, administrasi serta
akademik micro sekolah sebagai tempat pengabdian kelak.
b. Menguasai berbagai keterampilan dasar mengajar.
c. Dapat menerapkan berbagai kemampuan keguruan secara utuh dan
terintegrasi dalam situasi nyata di bawah bimbingan Dosen
Pembimbing dan Guru Pamong.
d. Mampu belajar dari penghayatan dan pengalaman selama
mengikuti latihan.
e. Dapat menarik pelajaran dari pengalaman dan penghayatan yang
direfleksikan dalam perilaku sehari-hari.

3. Kegunaan PPL

a. Bagi mahasiswa PPL


Secara umum dapat digambarkan bahwa kegunaan PPL bagi
mahasiswa

adalah

sebagai

suatu

medan

untuk

mendapatkan

pengalaman pendidikan secara faktual di lapangan untuk menerapkan


dan mengaplikasikan ilmunya secara langsung. Kegiatan ini juga
berguna

sebagai

bekal

dalam

berbagai

bidang

agar

mampu

melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik kelak.


Melalui PPL, mahasiswa sebagai calon guru dapat berhubungan
langsung dengan lingkungan sekolah dalam kedudukannya sebagai
seorang guru. Kegiatan-kegiatan di sekolah merupakan tempat latihan
yang akan memberikan gambaran dan pengalaman dalam menghadapi
lingkungan sekolah dimana kelak ia ditempatkan.
Masalah-masalah kependidikan dan non kependidikan yang
dihadapi dalam latihan merupakan pengalaman yang harus diantisipasi
pada masa yang akan datang sehingga masalah tersebut tidak akan
muncul dengan mengambil suatu pemecahan atau solusi yang efektif
dan efisien.
Selama kelas dipegang oleh mahasiswa calon guru, para guru
memantau rekan juniornya. Pemantauan dilakukan untuk mencegah
terjadinya hal-hal yang merugikan para mahasiswa disebabkan kurang
matangnya para rekan junior mengatasi kelas. Hasil pemantauan
tersebut kemudian disampaikan dalam suatu pertemuan dengan kepala
sekolah yang disertai dengan dosen pembimbing sehinggga terjalinlah
suatu proses berbagai pengalaman dan keakraban. Dengan demikian

dapat mempererat hubungan antara lembaga pendidikan menengah


sebagai konsumen guru LPTK sebagai lembaga penasihat guru.
b. Bagi LPTK
LPTK akan mendapatkan berbagai informasi tentang dunia
pendidikan khususnya sekolah lanjutan, sehingga menemukan satu sistem
yang menyiapkan dan menghasilkan guru yang sesuai dengan kebutuhan
sekolah atau ahli dibidangnya masing-masing.
c. Bagi Sekolah Tempat Praktik
Melalui kegiatan PPL, sekolah tempat praktik sedikit banyaknya
mendapat kontribusi bagi kepentingan kependidikan di sekolahnya.
Misalnya, adanya pengalaman baru memunculkan kesadaran pihak
sekolah untuk senantiasa berbenah diri baik secara individual maupun
secara kolektif demi kepentingan pendidikan.

B. Keadaan Sekolah
1. Riwayat Singkat Pendidikan dan Pengembangannya
SMA Negeri 4 Pinrang awalnya bernama SMA Negeri 1 Suppa,
yang didirikan pada tahun 1991 dan diresmikan pada tanggal 10 Agustus
1991 oleh Prof. Dr. Hasan Walonono Dirjen Pendidikan Dasar dan
Menengah. SMA Negeri 4 Pinrang yang beralamat di jalan Andi Wanreng
No. 7 Pinrang Kel. Watang Suppa. Kec. Suppa. Kab. Pinrang.
Nama SMA Negeri 1 Suppa diganti namanya menjadi SMA Negeri
4 Pinrang berdasarkan Keputusan Bupati Pinrang No.410/71/2014 pada

tanggal 10 januari 2014 tentang Perubahan Momenklatur Sekolah


Menengah Atas Negeri (SMAN) Se-Kabupaten Pinrang.
Selama berdirinya SMA Negeri 4 Pinrang selalu mengadakan
pembenahan struktur organisasi termasuk personil-personil yang duduk di
dalamnya, terutama kepala sekolah yang telah lima kali mengalami
pergantian sejak didirikannya sekolah ini sampai sekarang yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Drs. H. Sappe Beddu (5 Desember 1991-17 November 1998)


Drs. H. Syarifuddin Caco (18 November 1998-16 Maret 2005)
Drs. H. Mahmud Bandu, M.Pd (17 Maret 2005-20 Agustus 2009)
Drs. Bahri Bohari, M.Pd (21 Agustus 2009-22 April 2014)
Muhammad Aris, S.Pd, M.Pd (23 April-sekarang)

2. Nama, Lokasi dan Administrasi Sekolah


1. Nama
Nama Sekolah

: SMA Negeri 4 Pinrang

NSS

: 301191401004

NSB

:-

SK Pendirin

: No.0283/0/1991 Tgl. 30 Mei 1991

Status Tanah

: Milik Sendiri

Type Sekolah

:A

2. Lokasi
SMA Negeri 4 Pinrang berlokasi di Jl. Andi Wanreng No. 7 Pinrang,
Provinsi Sulawesi Selatan.
3. Administrasi Sekolah
Adapun yang menjadi sarana dan prasarana untuk menjalankan
administrasi sekolah pada SMA Negeri 4 Pinrang, adalah sebagai
berikut:

Ruangan yang meliputi:


1. Ruangan Kantor

Ruangan Kepala Sekolah

Ruangan Wakil Kepala Sekolah

Ruangan Kantor

Ruangan Tata Usaha

Ruangan Tamu

2. Ruangan Belajar

Ruangan Kelas/Teori

Ruangan Perpustakaan

Ruangan Komputer

Ruangan Laboratorium IPA

3. Ruangan Penunjang

Ruangan BP

Ruangan Ibadah

4. Mebel Dan Peralatan Lainnya

Kursi Dan Meja Pimpinan

Kursi Tamu

Komputer

Mesin Ketik

Meja dan Bangku Panjang

Meja Konsultasi

Meja dan Kursi Guru

TV

Kipas Angin

3. Personil
a. Guru
Guru yang mengajar di SMA Negeri 4 Pinrang adalah alumni
berbagai Perguruan Tinggi dan kebanyakan berasal dari IKIP Ujung
Pandang yang sekarang menjadi Universitas Negeri Makassar (UNM).
Jumlah guru yang mengajar sebanyak 39 orang yang terdiri dari 27
orang guru tetap dan 12 orang guru tidak tetap (honorer).
Adapun nama-nama personil yang memegang jabatan dalam rangka
pembinaan SMA 4 Pinrang yaitu:
1. Muhammad Aris, S.Pd, M.Pd

: Kepala Sekolah

2. Muhammad Tahir,S.Pd

: Wakasek Kurikulum

3. Muhammad Zaif, S.Pd

: Wakasek Kesiswaan

4. Makmur,

:Wakasek

Sarana

dan

Prasarana
5. Ggg

: Wakasek Humas

6. Abdul Hakim, S.Sos

: Kepala Urusan Tata Usaha

b. Karyawan
Adapun jumlah karyawan di SMA Negeri 4 Pinrang sebanyak 7
orang yang terdiri dari:
a)

Kepala tasa usaha

: 1 orang

b)

Anggota tata usaha

c)

Satpam

: 5 orang
: 1 orang

c. Siswa
Siswa SMA Negeri 4 Pinrang sebanyak 443 orang yang terdiri dari:
a) Kelas X sebanyak 170 orang
b) Kelas XI sebanyak 155 orang
c) Kelas XII sebanyak 118 orang
4. Keadaan Fisik Sekolah
a. Luas Tanah

: 4.135 m2

Luas Bangunan

: 2.256 m2

Luas Pekarangan

: 1.789 m2

b. Jumlah Ruang Kelas

: 17 Kelas

c. Ukuran Kelas

: 7 x 6 m2

d. Bangunan Lain Yang Ada

Ruang Kepala Sekolah

: 5 x 4 m2

Ruang Guru

: 7 x 6 m2

Ruang Ibadah

: 8 x 4 m2

Ruang OSIS

: 1 x 2 m2

Ruang Pramuka

: 1 x 2 m2

WC

: 2 x 2 m2

Gudang

: 5 x 4 m2

Koperasi

: 5 x 4 m2

10

e. Keadaan Lingkungan Sekolah


SMA Negeri 4 Pinrang terletak jauh dari jalan raya yang padat lalu
lintas dan tidak dikelilingi perumahan penduduk sehingga tidak
menggangu proses belajar mengajar.
f. Fasilitas Sekolah

Perpustakaan

: 1 buah, ukuran

Laboratorium Biologi

: 1 buah, ukuran

Laboratorium Fisika

: 1 buah, ukuran

Laboratorium Komputer

: 1 buah, ukuran

Ruang BP/BK

: 1 buah, ukuran

Ruang Tata usaha

: 1 buah, ukuran

Ruang Kurikulum

: 1 buah, ukuran

Ruang Kelas

: 17 buah, ukuran

5. Interaksi Sosial
Interaksi social pada SMA Negeri 4 Pinrang cukup baik diantara
semua personil, baik hubungan guru dengan guru, guru dengan pegawai,
guru dengan siswa, siswa dengan siswa, maupun hubungan social secara
keseluruhn

11

C. Denah Sekolah

BAB II

12

PELAKSANAAN DAN PERMASALAHAN


PENDIDIKAN DI SEKOLAH
A. Kegiatan yang Berhubungan dengan Kegiatan Sekolah
Pengelolaan dan pelaksanaan kurikulum di SMA Negeri 4 Pinrang
berjalan sesuai dengan target yang ditetapkan, ini terjadi karena kedisiplinan
berbagai pihak baik kepala satuan pendidikan, wakil kepala satuan
pendidikan, guru-guru maupun staf tata usaha yang menangani kependidikan
di sekolah. Penentuan kurikulum sesuai dengan kalender akademiknya yang
dikoordinator oleh wakil kepala bidang kurikulum.Sehingga sampai sekarang
ini kegiatan sekolah menyangkut pengelolaan dan pelaksanaan kurikulum
tidak mendapatkan masalah dalam pelaksanaannya.
Cara penyusunan Program Tahunan dan Semester dan Rencana
Pelaksanaan Pengajaran (RPP) disusun berdasarkan Kompetensi Dasar dan
Tujuan pembelajaran yang ditetapkan pusat untuk kelas yang telah
menerapkan kurikulum 2006, akan tetapi yang masih menggunakan
kurikulum 2004 didasarkan pada Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) dan
Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) yang ditetapkan dalam kurikulum.
Dalam penulisan baik Satuan Pembelajaran (SP) maupun RPP terlebih
dahulu ditulis konsep, subkonsep, kelas, semester dan alokasi waktu. Pada
saat penyusunan tujuan pembelajaran hendaknya digunakan kata-kata
operasional dan jelas tujuan yang hendak dicapai serta tujuan pembelajaran
hanya satu tujuan yang hendak dicapai dengan sendirinya dalam kegiatan
pembelajaran yang sedang berlangsung maka harus berpatokan pada tujuan

13

pembelajaran yang telah disusun, demikian halnya penilaian proses, tiap


indikator harus minimal satu soal yang berpatokan pada indikator itu sendiri.
Kurikulum tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diterapkan saat ini di
SMA Negeri 4 Pinrang yang diterapkan di semua tingkat kelas ini membawa
efek yang positif bagi sekolah karena diberikan wewenang untuk menyusun
silabus sendiri sesuai dengan kebutuhan sekolah. Dalam penyusunan silabus
ini dilakukan dalam bentuk tim dan melalui MGMP.
Guru sebagai pelaksana kurikulum mempunyai wewenang materi
pembelajarannya,

metodenya

dan

alokasi

waktunya

sesuai

dengan

kompetensi dasar yang diterapkan.


Pembinaan kesiswaan SMA Negeri 4 Pinrang cukup baik, seperti OSIS,
Pramuka, PASKIB, English Club, Porseni, Studi Banding, aktif di berbagai
kegiatan nasional seperti hari ulang tahun kemerdekaan, hari guru,
perlombaan dan pertandingan, penyambutan tamu-tamu Negara dan lainnya.
Penyelenggaraan kegiatan kurikuler seperti pemberian tugas-tugas di luar
atau di dalam kelas juga berjalan dengan baik tanpa ada hambatan.
Salah satu yang menjadi penunjang keberhasilan suatu sekolah adalah
pembinaan kerjasama dengan orang tua siswa SMA Negeri 4 Pinrang sebagai
salah satu sekolah ternama tentu karena keberhasilan menyangkut ini juga.
Ditunjang oleh kemampuan ekonomi orang tua siswa yang umumnya
ekonomi menengah ke atas. Pengadaan sarana dan prasarana di lingkungan
sekolah sangat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar di kelas.
Guru lebih memantapkan penguasaan materi pelajaran, maka dirasa perlu
adanya pemantapan terhadap materi tertentu. Oleh karena itu jalan yang

14

ditempuh adalah diadakannya ekstrakurikuler atau pembimbingan belajar.


Kegiatan tersebut diadakan di luar jam formal sekolah, manfaat dari hasil
pembimbingan ini yaitu siswa semakin menguasai materi tertentu. Bidang
studi yang sering diberikan bimbingan adalah Matematika, Sosiologi, Kimia,
Fisika, Akuntansi, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
Pengadaan sarana dan prasarana di lingkungan sekolah sangat menunjang
keberhasilan proses belajar mengajar di kelas. Pada bidang studi sosiologi,
alat bantu yang sering digunakan adalah media penkontekstualan materi
dengan mengadakan praktikum dan alat lainnya untuk membantu
pembahasan materi tertentu walaupun sangat terbatas tetapi dapat membantu
kelancaran proses pembelajaran. Proses pembelajaran dapat berlangsung
secara efektif dan efisien serta tetap dapat dipahami oleh siswa.
B. Kegiatan yang Berhubungan dengan Kegiatan Mahasiswa
1. Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Silabus merupakan perencanaaan pembelajaran yang dijadikan
acuan oleh guru untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar agar
mencapai kompetensi yang diharapkan. Oleh karena itu, silabus harus
disusun secara sistematis dan berisikan komponen-komponen yang saling
berkaitan dan memandu para guru yang menggunakannya dalam
mengelola pembelajaran, yaitu standar kompetensi, kompetensi dasar,
indikator, materi, langkah pembelajaran (tatap muka dan pengalaman
belajar), alokasi waktu, penilaian dan sumber belajar.
Keberhasilan

dari

suatu

kegiatan

sangat

ditentukan

oleh

perencanaannya. Apabila perencanaan suatu kegiatan dirancang dengan

15

baik, maka kegiatan akan lebih mudah dilaksanakan, terarah serta


terkendali. Demikian pula halnya dalam proses belajar mengajar, agar
proses

pembelajaran

terlaksana

dengan

baik

maka

diperlihatkan

perencanaan pelaksanaan pembelajaran yang baik.


Dalam perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP) memuat
identitas mata pelajaran, kompetensi dasar, indicator pencapaian hasil
belajar, tujuan pembelajaran, materi pokok, strategi pembelajaran yang
meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup serta penilaian
yang dilakukan.
Silabus memuat standar kompetensi, kompetensi dasar, materi
pokok, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran, materi ajar,
metode pembelajaran, indicator pembelajaran yang terdiri atas kegiatan
awal, kegiatan inti, kegiatan akhir, dan sumber bahan belajar.
Silabus dan RPP yang telah dibuat inilah yang menjadi acuan pada
saat melaksanakan proses pembelajaran di kelas, sehingga pembelajaran
yang dilakukan terkontrol.
2. Saat Proses Penampilan Berlangsung
Penampilan proses merupakan suatu penampilan yang mempunyai
andil besar terhadap penguasaan ruangan. Adapun faktor-faktor yang
berkaitan dengan penampilan didukung oleh beberapa hal yaitu : kerapian,
menarik, dan sopan. Jika ketiga hal itu terpenuhi maka akan mendorong
siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar dengan baik dan akan
menghilangkan rasa bosan terhadap siswa.

16

Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa kerapian, menarik, sopan, sangat


menunjang terciptanya suasana belajar yang tidak monoton dan
membosankan. Apalagi pelajaran akuntansi adalah pelajaran yang
menakutkan bagi siswa. Apabila tercipta gaya belajar yang membosankan,
maka proses pengajaran akan fatal. Untuk menciptakan suasana belajar
siswa yang tidak membosankan, seorang guru harus terlebih dahulu
mempersiapkan diri baik fisik maupun mental, serta penguasaan materi
sebelum memasuki ruangan tempat dimana ia akan mengajar, penampilan
menarik dengan tetap memperhatikan kesopanan.
3. Bimbingan Belajar/ Ekstrakurikuler
Agar pengusaan materi pelajaran mantap, maka ini tidak hanya cukup
dalam jam formal saja, karena tingkat pengusaan siswa berbeda. Untuk itu,
maka salah satu cara agar siswa dapat memahami materi pelajaran tersebut
maka di samping penyampaian lewat guru formal, maka perlu pula
ditempuh atau diadakan di luar jam sekolah yaitu kegiatan ekstrakurikuler
(bimbingan belajar). Adapun tujuan yang ingin dicapai yaitu siswa secara
keseluruhan dapat mengusai materi tertentu dan lebih mantap. Selain itu,
juga dalam menghilangkan kejenuhan dari bentuk pembelajaran yang
monoton serta upaya pengembangan diri maka siswa diberikan
kesempatan untuk mengaktualisasikan diri melalui organisasi seperti
Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan kegiatan ekstrakurikuler lain
seperti Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), Remaja Masjid, Paskibra,
serta kegiatan lainnya.

17

4. Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah dan Hubungan dengan


Lingkungan
Guna meningkatkan keakraban bagi para mahasiswa PPL dengan
para guru maka setiap kegiatan yang dilakukan oleh sekolah, secara aktif
mahasiswa PPL ikut dalam kegiatan tersebut, misalnya pada hari senin
mengikuti upacara bendera dan lain-lain. Selain itu, mahasiswa juga
diharapkan dapat menjalin hubungan yang baik dengan guru-guru dan staf
SMA Negeri 4 Pinrang agar dapat tercipta keakraban dalam menjalani
masa-masa PPL di sekolah.
5. Pelaksanaan Usaha Pendidikan
Pelaksanaan pendidikan di SMA Negeri 4 Pinrang telah mengacu
pada satuan pendidikannya, juga telah mengikuti tahap-tahap suatu
pelaksanaan pendidikan, jumlah mata pelajaran yang ada di sekolah
sebanyak 16 mata pelajaran. Secara umum masalah yang dihadapi guru
maupun mahasiswa PPL adalah rendahnya minat belajar siswa, hal ini
secara teori disebabkan oleh watak, sifat dan lingkungannya yang
memberikan sifat/respon yang minim terhadap proses belajar mengajar di
sekolah, sehingga tenaga pendidik harus kerja ekstra keras untuk
menaikkan

semangat,

minat

belajar

siswa

dengan

keterampilan

menggunakan variasi belajar.


Permasalahan lain biasanya muncul adalah masalah waktu.
Biasanya alokasi waktu yang ditetapkan telah habis namun materi belum
selesai untuk satu pertemuan. untuk menghindari hal yang demikian maka

18

pengajar harus betul-betul memperhatikan penggunaan waktu seefektif


dan seefisien mungkin
6. Kegiatan Penanggulangan Masalah
a)

Masalah yang muncul selama saya melaksanakan


PPL boleh dikatakan Menguasai dengan baik bahan yang diajarkan.

b)

Menggunakan metode yang dianggap sesuai dengan


materi pelajaran yang diajarkan.

c)

Menguasai ruangan atau penampilan mengajar


didepan siswa harus diperhatikan agar materi yang akan diajarkan
dengan mudah dapat dipahami oleh siswa.
ada. Tapi dalam usaha untuk mencapai tingkat keberhasilan yang

baik dalam menyampaikan materi pelajaran di kelas, maka sebaiknya


dilakukan hal-hal sebagai berikut:

C. Proses

Pembimbingan

dengan

Guru

Pamong,

Dosen

Tutor

(Pembimbing) dan Supervisor UPPL


Proses pembimbingan yang dilakukan oleh guru pamong, dosen tutor
(pembimbing), serta supervisor UPPL merupakan salah satu yang memegang
peranan dalam menunjang terlaksananya kelancaran proses belajar mengajar
yang dilakukan oleh mahasiswa PPL.
Guru pamong dalam membimbing mahasiswa PPL, memberikan masukan
tentang cara atau teknik sehubungan dengan kegiatan ini. Oleh karena itu,
sehubungan dengan kegiatan ini yang paling efektif membimbing adalah guru
pamong di samping dari guru pamong, tak kalah pentingnya adalah

19

bimbingan cara atau teknik dalam menghadapi anak didik agar apa yang kita
sampaikan dapat dipahami oleh para peserta didik.
Adapun kegiatan yang dilakukan bersama dengan guru pamong dan dosen
pembimbing yaitu:
1.

Dosen pembimbing (tutor) mengantarkan mahasiswa PPL ke


sekolah, memperkenalkan Kepala Sekolah dan Guru Pamong serta
menjelaskan tugas-tugas yang akan dilakukan.

2.

Pelaksanaan kegiatan selanjutnya dilakukan di bawah bimbingan


dan pengawasan Dosen Tutor dan Guru Pamong.
Di samping guru pamong, yang tak kalah pentingnya adalah bimbingan

yang diberikan oleh dosen pembimbing. Salah satu upaya yang dilakukan
oleh dosen pembimbing adalah melakukan simulasi (pertemuan) dengan
mahasiswa PPL, apa-apa saja kendala yang dihadapi oleh mahasiswa PPL di
kelas, bagaimana karakter siswanya. Sehingga setelah masuk kembali ke
kelas, mereka sudah memiliki solusi untuk mengatasi masalah yang
ada.Selain itu mahasiswa PPL itu sendiri harus cepat merngambil sikap, jika
terjadi suatu hal yang tak terduga di kelas tanpa harus menunggu solusi dari
guru pamong ataupun dosen pembimbing.
D. Permasalahan dan Ulasan Pendidikan Bidang Studi Pendidikan
Kewarganegaraan
Dalam melaksanakan PPL, masalah yang paling sering muncul adalah
masalah waktu.Keterbatasan waktu dengan materi yang banyak membuat
guru tidak optimal dalam menjelaskan suatu materi. Oleh karena itu,

20

diharapkan partisipasi aktif siswa dengan mengulang-ulang materi yang telah


dipelajari di rumah atau dengan cara berlatih soal-soal sehingga lebih paham.
Minat belajar siswa terhadap mata pelajaran sosiologi yang kurang juga
menjadi masalah yang paling sering dihadapi oleh guru dan mahasiswa PPL.
Hal ini disebabkan karena watak, sifat, lingkungan, dan image yang ada
dibenak siswa tentang sosiologi sehingga dibutuhkan guru yang mampu
mengubah image tersebut dengan adanya pembelajaran.
Pada saat ini terjadi perubahan Kurikulum 2013 menjadi Satuan Tingkat
Pendidikan (KTSP) yang pada dasarnya kurikulum ini hampir sama dengan
Kurikulum 2013 sehingga akan muncul berbagai macam metode dan
pendekatan dalam mengajar mata pelajaran sosiologi. Hal ini memberikan
peluang bagi mahasiswa PPL untuk kreatif dalam menggunakan metode dan
pendekatan tersebut sehingga sosiologi tidak terlihat sebagai mata pelajaran
yang sukar dan menakutkan, tetapi sosiologi tampak sebagai mata pelajaran
yang penuh dengan permainan terutama bila dikaitakan dengan kehidupan
sehari-hari.
Jumlah siswa yang cukup padat juga menjadi masalah di sekolah.Hal ini
menuntut penguasaan guru dalam beberapa keterampilan dasar mengajar
yang telah diperoleh di bangku kuliah untuk dipraktekan di kelas sehingga
siswa tidak cepat merasa bosan. Masih banyak masalah dan kendala yang
timbul pada saat pelaksanaan PPL tetapi berkat kerja sama semua pihak,
maka masalah ini tidak menjadi fatal pada proses pembelajaran.

21

BAB III
PELAKSANAAN PPL DAN PENANGGULANGAN
MASALAH PROSES PEMBELAJARAN
A. Pelaksanaan PPL Setiap Mahasiswa
1. Kegiatan Orientasi dan Pengenalan Latar Belakang Sekolah dan
Kegiatan Pembelajaran Bidang Studi Pendidikan kewarganegaraan
Mengenal sarana dan prasarana yang ada di sekolah sehingga
memudahkan untuk memanfaatkan sarana tersebut bagi mahasiswa PPL di
sekolah itu. Penerimaan mahasiswa PPL diadakan pada hari Senin, 14
September 2015. Kegiatan orientasi dan pengenalan latar belakang SMA
Negeri 11 Makassar dilakukan 15 September 2015 s.d 19 September 2015.
Kegiatan

tersebut dilakukan oleh tiap mahasiswa dan dari kegiatan

tersebut diperoleh beberapa pengalaman dan informasi tentang sekolah itu.


Pada kegiatan ini, mahasiswa PPL dari jurusan pendidikan sosiologi
memperoleh manfaat yaitu :
a.

Mengenal secara langsung Kepala Sekolah, Guru


Pamong, Guru-guru lain, staf tata usaha yang membantu pelaksanaan
PPL.

b.

Mengenal sarana dan

prasarana yang ada di sekolah

sehingga memudahkan bagi mahasiswa PPL untuk memanfaatkan


sarana yang ada di sekolah tersebut apabila dibutuhkan.
c.

Dapat diketahui lokasi, situasi, dan kondisi sekolah.

22

d.

Dapat mengetahui tugas-tugas di kelas, tata tertib siswa,


tata tertib guru dan tata tertib tata usaha serta tata tertib bagi mahasiswa
PPL.

e.

Mempermudah terjadinya komunikasi yang baik antara


mahasiswa PPL dengan guru dan tenaga lain yang ada di sekolah.

f.

Dapat merencanakan program kegiatan praktek kegiatan


selanjutnya.

2. Kegiatan Latihan Mengajar


Kegiatan ini merupkan kegiatan inti dari seluruh kegiatan PPL
kependidikan. Contoh kegiatan yang telah disediakan dan dilaksanakan
oleh peserta PPL berupa silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP).
Sebelum masuk di kelas mengajar, maka terlebih dahulu
mahasiswa PPL harus membuat silabus dan RPP sesuai dengan silabus
dan RPP yang dibuat oleh guru pamong. Dalam RPP tersebut termuat
identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator,
tujuan pembelajaran, materi pelajaran, metode pembelajaran, strategi
pembelajaran memuat kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir, dan
penilaian serta sumber pembelajaran. Baik tidaknya RPP yang dibuat
sebelum masuk mengajar sangat berpengaruh pada penyampaian materi di
hadapan siswa.
Penampilan dalam mengajar merupakan suatu proses yang
memegang peranan penting terhadap penguasaan ruangan, juga sikap dan
tingkah laku guru ditampilkan dalam kelas waktu menyajikan materi di

23

dalam kelas. Pada saat pemberian materi digunakan pendekatan konsep,


dengan metode yang bervariasi sesuai dengan satuan bahasan. Adapun
materi tersebut adalah ceramah bermakna, tanya jawab demonstrasi dan
metode pemberian kuis di awal pembelajaran yang digunakan secara
terpadu.
Pada minggu pertama, mahasiswa PPL mengamati cara guru
pamong mengajar, kemudian pengajaran dilakukan oleh mahasiswa PPL,
dan dipantau oleh dosen pembimbing, guru pamong, serta rekan
mahasiswa PPL yang lain. Kegiatan mengajar dilakukan di kelas XI IPS I
dan XI IPS II.
3. Kegiatan Pendidikan Lain
Selain kegiatan mengajar seperti di atas, mahasiswa PPL juga berlatih
kegiatan lainnya. Kegiatan pendidikan lain yang dimaksud antara lain :
a. Mengawas/mengamati siswa yang ujian dan memeriksa hasil ujiannya.
b. Membuat analisis hasil belajar siswa yang meliputi tugas. Mahasiswa
PPL juga membuat soal harian serta membantu membahas soal-soal
yang diberikan.
c. Dari hasil analisis kemudian diadakan tindak lanjut berupa remedial
kepada siswa yang belum tuntas hasil belajarnya atau mendapat nilai di
bawah standar.
d. Melaksanakan administrasi kelas yakni membuat atau mengadakan
absensi siswa sebagai upaya memotivasi siswa agar aktif mengikuti
pelajaran.

24

e. Melakukan pendekatan kontrol individu terhadap siswa yang sering


membuat gaduh dalam kelas untuk meninggalkan kebiasaannya yang
tidak baik itu.

B. Kegiatan Penanggulangan Masalah


1. Proses Belajar Mengajar Bidang Studi Pendidikan kewarganegaraan
Dalam usaha untuk mencapai tingkat keberhasilan yang baik dalam
penyampaian materi di kelas, maka kami mahasiswa PPL melakukan berbagai
persiapan seperti:

Membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sebelum mengajar.

Menguasai bahan yang akan diajarkan

Menggunakan ruangan dan penampilan mengajar di depan siswa harus


diperhatikan sehingga materi yang diajarkan dengan mudah dapat dipahami
oleh siswa.
2. Penanggulangan Masalah Pendidikan Lainnya
Masalah-masalah kecil sering terjadi di SMA Negeri 4 Pinrang, namun

karena kecakapan dari berbagai pihak, baik sekolah maupun orang tua siswa,
sehingga dengan mudah masalah-masalah tersebut dapat diatasi. Masalah yang
timbul pada saat pelaksanaan PPL boleh dikatakan ada. Tetapi untuk mencapai
tingkat keberhasilan yang baik dalam penyampaian materi di kelas, dilakukan halhal antara lain dengan melakukan konsultasi dengan guru pamong, dosen
pembimbing serta rekan mahasiswa PPL yang lain. Hal ini dilakukan mengingat
waktu yang dipergunakan untuk mengajar relatif singkat sehingga kesulitan untuk
mempelajari segala kemungkinan yang menyebabkan masalah tersebut dapat
25

berpengaruh fatal dalam proses belajar mengajar di kelas, terutama sifat siswa
yang masih kekanak-kanakan.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. SMA Negeri 4 Pinrang awalnya bernama SMA Negeri 1 Suppa, yang
didirikan pada tahun 1991 dan diresmikan pada tanggal 10 Agustus 1991
oleh Prof. Dr. Hasan Walonono Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.
SMA Negeri 4 Pinrang yang beralamat di jalan Andi Wanreng No. 7
Pinrang Kel. Watang Suppa. Kec. Suppa. Kab. Pinrang.
2. Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan bagian intrakurikuler
yang dilaksanakan oleh mahasiswa calon guru / tenaga pendidik yang
mencakup latihan mengajar maupun tugas kependidikan lainnya, agar
menguasai kemampuan keguruan yang utuh dan terintegrasi untuk
pembentukan guru sebagai tenaga kependidikan yang professional.
3. Pada umumnya guru yang mengajar di SMA Negeri 4 Pinrang adalah
alumni IKIP Ujung Pandang dengan status kebanyakan Pegawai Negeri
Sipil (PNS).

26

4. Pelaksanaan kurikulum di SMA Negeri 4 Pinrang berjalan sesuai dengan


target yang telah diprogramkan berkat kedisplinan dan kerja sama antara
pihak sekolah.
5. Mahasiswa PPL harus mempersiapkan diri sebelum mengajar sehingga
dapat menguasai materi dengan baik serta dapat menggunakan metode
mengajar yang sesuai dengan materi yang diajarkan.
B. Saran
Melalui kegiatan ini mahasiswa PPL memberikan beberapa saran dan
masukan sebagai berikut:
1. Bagi mahasiswa yang akan melaksanakan PPL, dalam melaksanakan
observasi sebaiknya waktu yang diberikan dipergunakan sebagaimana
mestinya sehingga tugas-tugs selama di lokasi PPL tersebut berjalan sesuai
dengan yang diharapkan dan sebelum tampil di depan kelas, sebaiknya
mempersiapkan diri, baik dari penguasaan materi maupun keterampilan
sehingga dapat tercipta suasana yang baik dalam proses belajar mengajar
antara siswa dan guru.
2. Bagi mahasiswa yang melaksanakan PPL, agar lebih serius dalam
melaksanakan kegiatan yang ditugaskan kepadanya agar bisa dijadikan
pengalaman dan pelajaran yang sangat berarti sebagai modal dasar
sebelum menjadi guru yang sebenarnya di sekolah kelak.
3. Kepada pihak sekolah agar lebih menanamkan kepada siswa tentang
kedisplinan terutama pada saat siswa berada di kelas sehingga kualitas dan
kuantitas hasil pembelajaran semakin baik.

27

4. Kepada pihak UPPL, kiranya dapat mengadakan pemantauan ke sekolah


tempat praktek supaya dapat mengetahui keadaaan dan kedisplinan
mahasiswa praktek di sekolah

DAFTAR PUSTAKA

28

Dokumentasi. Data Administrasi SMA Negeri 4 Pinrang. Tahun Ajaran


2015/2016. Pinrang
Saputra, Waskita. 2013. Laporan Pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan
(PPL) Tahun Ajaran 2013/2014. UNM Makassar.
UPPL. 2015. Buku Panduan Program Pengalaman Lapangan (PPL). Universitas
Negeri Makassar.

29