Anda di halaman 1dari 119

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI APOTEK SAMMARIE BASRA
JL. BASUKI RACHMAT NO. 31 JAKARTA TIMUR
PERIODE 16 SEPTEMBER 25 OKTOBER 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DEWI SANTY LOPA, S.Farm.


1206329493

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JANUARI 2014

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI APOTEK SAMMARIE BASRA
JL. BASUKI RACHMAT NO. 31 JAKARTA TIMUR
PERIODE 16 SEPTEMBER 25 OKTOBER 2013

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Apoteker

DEWI SANTY LOPA, S.Farm.


1206329493

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JANUARI 2014
ii

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

iii

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

iv

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

ABSTRAK

Nama
NPM
Program Studi
Judul

: Dewi Santy Lopa, S. Farm


: 1206329493
: Profesi Apoteker
: Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek
Sammarie Basra Jl. Basuki Rachmat No. 31 Jakarta Timur
Periode 16 September 25 Oktober 2013

Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Sammarie Basra bertujuan untuk


memahami peran, tugas dan fungsi apoteker pengelola apotek (APA) di apotek
dan memahami serta melihat secara langsung proses pengelolaan apotek dan
kegiatan yang dilakukan oleh APA di apotek baik secara teknis kefarmasian
maupun non teknis kefarmasian. Tugas khusus yang diberikan berjudul Brosur
Sebagai Media Komunikasi Kesehatan Tentang Keputihan pada Wanita. Tujuan
dari tugas khusus ini adalah untuk sosialisai masalah keputihan melalui media
komunikasi kesehatan berupa brosur yang berisi upaya penanganan dan
pengobatan agar masyarakat dapat lebih mencegah dan mengobati keputihan
secara dini serta memahami komunikasi kesehatan.

Kata kunci
: Apotek Sammarie Basra, Keputihan, Komunikasi Kesehatan
Tugas umum : xiii + 68 halaman; 5 gambar; 17 lampiran
Tugas khusus : iii + 31 halaman; 5 gambar; 2 lampiran
Daftar Acuan Tugas Umum : 16 (1993-2009)
Daftar Acuan Tugas Khusus : 17 (1998-2012)

vi

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

ABSTRACT

Name
NPM
Program Study
Title

: Dewi Santy Lopa, S. Farm


: 1206329493
: Apothecary Profession
: Report of the Working Practice Pharmacist in pharmacy
Sammarie Basra Jl. Basuki Rachmat No. 31 East Jakarta
Period 16 September 25 October 2013

Practice Pharmacy Pharmacist in Basra SamMarie aims to understand the roles,


duties and functions of pharmacists pharmacy manager (APA) in pharmacies and
understand and see the process of managing the pharmacy and the activities
conducted by APA in pharmacy both technical and non-technical pharmacy
pharmacy. Special task given Brochure entitled As Media Communication About
Whiteness in Women's Health. The purpose of this special task is to socialization
problems whiteness through communication media such as brochures containing
health management and treatment efforts so that people can better prevent and
treat vaginal discharge early and understand health communication.

Keywords : Pharmacy Sammarie Basra, flour albus, Health Communications


General Assignment : xiii + 68 pages, 5 pictures; 17 appendices
Specific Assignment : iii + 31 pages, 5 images, 2 appendices
Bibliography of General Assignment : 16 (1993-2009)
Bibliography of Specific Assignment : 17 (1998-2012)

vii

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

KATA PENGANTAR
.

Rasa syukur yang teramat dalam penulis panjatkan kehadirat Allah SWT
atas berkah, rahmat, dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Sammarie Basra, Jalan Basuki
Rachmat

No.

31

Jakarta

Timur

yang

berlangsung

dari

tanggal

16 September-25 Oktober 2013. Laporan ini disusun sebagai salah satu syarat
untuk mendapatkan gelar Apoteker pada program Profesi Apoteker Fakultas
Farmasi Universitas Indonesia. Dalam

penyusunan laporan ini, penulis tidak

terlepas dari bimbingan, arahan, bantuan, serta dukungan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.

Dr. Mahdi Jufri, M.Si, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas
Indonesia.

2.

Prof. Dr. Yahdiana Harahap, M.S, Apt., selaku PJ.S Dekan Fakultas
Farmasi Universitas Indonesia sampai dengan tanggal 20 Desember 2013.

3.

Dr. Harmita, Apt., selaku ketua Program Profesi Apoteker Fakultas Farmasi
Universitas Indonesia, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis
untuk melakukan kegiatan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini.

4.

T. Nebrisa Z., S.Farm., Apt., MARS selaku Pembimbing I, yang telah


memberikan kesempatan, bimbingan, pengarahan serta nasehat kepada
penulis selama kegiatan PKPA di Apotek SamMarie Basra.

5.

dr. Euis Mutmainah Sp.KK, selaku pembimbing tugas khusus yang telah
bersedia memberikan bimbingan, pengarahan serta penjelasan yang sangat
bermanfaat dalam penyusunan tugas khusus.

6.

Dra. Rosmala Dewi, Apt., selaku pembimbing II dari Fakultas Farmasi


Universitas Indonesia, yang telah bersedia memberikan bimbingan dan
pengarahan dalam penyusunan laporan ini.

7.

Widia, S.Si., Apt., selaku Apoteker Pengelola Apotek, yang telah


memberikan pengarahan dan penjelasan kepada penulis selama kegiatan
PKPA di Apotek SamMarie Basra.
viii

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

8.

Karyawan dan karyawati Apotek SamMarie Basra atas perhatian dan


kerjasamanya.

9.

Seluruh staf pengajar dan sekretariat Fakultas Farmasi Universitas


Indonesia.

10.

Orang tua dan kakak-adik penulis, suami dan putri yang selalu memberikan
doa, serta dukungan moril maupun materil kepada penulis.

11.

Seluruh teman-teman Apoteker Angkatan 77 Universitas Indonesia atas


kebersamaan, kerjasama dan kesediaan berbagi suka dan duka, dukungan
dan semangat yang diberkan kepada penulis.

12.

Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah
memberikan bantuan dan dukungannya kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa laporan PKPA ini jauh dari sempurna, oleh karena
itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Semoga
pengetahuan dan pengalaman yang penulis dapatkan selama kegiatan PKPA ini
dapat berguna bagi penulis di masa mendatang dan laporan ini dapat memberikan
manfaat bagi para pembaca.

Penulis

2014

ix

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ...................................................................................


HALAMAN JUDUL .....................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................
KATA PENGANTAR ...................................................................................
DAFTAR ISI ..................................................................................................
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

i
ii
iii
iv
vi
viii
ix

BAB 1 PENDAHULUAN ...........................................................................


1.1 Latar Belakang..........................................................................
1.2 Tujuan ......................................................................................

1
1
2

BAB 2 TINJAUAN UMUM .......................................................................


2.1 Pengertian Apotek ...................................................................
2.2 Landasan Hukum Apotek ........................................................
2.3 Tugas dan Fungsi Apotek .........................................................
2.4 Tata Cara Pemberian Izin Apotek ...........................................
2.5 Petugas Apotek ........................................................................
2.6 Pelanggaran Apotek .................................................................
2.7 Pencabutan Surat Izin Apotek ................................................
2.8 Pengelolaan Apotek .................................................................
2.8.1 Pengelolaan Perbekalan Farmasi ...................................
2.8.2 Pengelolaan Keuangan ...................................................
2.8.3 Administrasi ...................................................................
2.9 Perbekalan Farmasi ..................................................................
2.10 Pelayanan Apotek .....................................................................
2.10.1 Pelayanan Resep ..........................................................
2.10.2 Promosi dan Edukasi ...................................................
2.10.3 Pelayanan Residensial ..................................................
2.10.4 Pelayanan Swamedikasi (Home Care) .........................
2.10.5 Pelayanan Obat Wajib Apotek (OWA) .......................
2.11 Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika di Apotek ................
2.11.1 Pengelolaan Narkotika di Apotek ................................
2.11.2 Pengelolaan Psikotropika di Apotek ............................
2.12 Pelayanan Informasi Obat ........................................................

3
3
3
4
5
9
12
14
16
16
19
19
20
24
25
27
27
28
31
32
32
35
36

BAB 3 TINJAUAN KHUSUS APOTEK SAMMARIE BASRA ...........


3.1 Sejarah Singkat ........................................................................
3.2 Lokasi, Bangunan, dan Tata Ruang Apotek ............................
3.3 Struktur Organisasi ..................................................................
3.4 Kegiatan di Apotek ..................................................................
3.4.1 Pengadaan/Pembelian Perbekalan Farmasi ....................
3.4.2 Penyimpanan dan Pengeluaran Barang ..........................
3.4.3 Penjualan ........................................................................
3.5 Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika .................................

38
38
38
38
40
40
41
41
42

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

3.5.1
3.5.2
3.5.3
3.5.4

Pengadaan Narkotika dan Psikotropika .........................


Penyimpanan Narkotika dan Psikotropika ....................
Pelayanan Resep Narkotika dan Psikotropika ...............
Laporan Penggunaan narkotika dan Psikotropika .........

42
43
43
43

BAB 4 PEMBAHASAN .............................................................................


4.1 Sumber Daya Manusia .............................................................
4.2 Lokasi dan Tata Ruang Apotek ................................................
4.3 Struktur Organisasi ...................................................................
4.4 Pengelolaan Apotek ..................................................................

44
44
44
45
46

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 49


5.1 Kesimpulan .............................................................................. 49
5.2 Saran ........................................................................................ 49
DAFTAR ACUAN ......................................................................................... 50
LAMPIRAN ................................................................................................... 52

xi

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Penandaan Obat Bebas ............................................................... 21


Gambar 2.2. Penandaan Obat Bebas Terbatas ................................................ 21
Gambar 2.3. Tanda Peringatan pada Obat Bebas Terbatas ............................. 22
Gambar 2.4. Penandaan Obat Keras ............................................................... 22
Gambar 2.5. Penandaan Narkotika .................................................................. 23

xii

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Denah Lokasi Apotek SamMarie Basra ...................................

52

Lampiran 2. Desain Apotek SamMarie Basra ...............................................

53

Lampiran 3. Desain ruang racik Apotek SamMarie Basra ...........................

54

Lampiran 4. Denah ruangan Apotek SamMarie Basra .................................

55

Lampiran 5. Form resep ................................................................................

56

Lampiran 6. Salinan resep ..............................................................................

57

Lampiran 7. Etiket obat .................................................................................

58

Lampiran 8. Plastik pembungkus obat ..........................................................

59

Lampiran 9. Struktur organisasi Apotek SamMarie Basra ...........................

60

Lampiran 10. Alur Pemesanan Obat ...............................................................

61

Lampiran 11. Surat Pesanan ............................................................................

62

Lampiran 12. Faktur pembelian ......................................................................

63

Lampiran 13. Kartu stok barang ......................................................................

64

Lampiran 14. Surat Pesanan Narkotika ...........................................................

65

Lampiran 15. Surat Pesanan Psikotropika ......................................................

66

Lampiran 16. Laporan penggunaan narkotika ................................................

67

Lampiran 17. Laporan penggunaan psikotropik .............................................

68

xiii

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1027/Menkes/SK/IX/2004

tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, apotek adalah tempat


dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi serta perbekalan
kesehatan lainnya kepada masyarakat. Apotek menjadi salah satu sarana
pelayanan kesehatan untuk mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang
optimal bagi masyarakat. Pelayanan kefarmasian tersebut merupakan suatu tugas
dan tanggung jawab apoteker pengelola apotek dalam melaksanakan pengelolaan
baik secara teknis farmasi maupun non teknis farmasi di apotek.
Berdasarkan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

Nomor

1027/MENKES/SK/IX/2004 bahwa pelayanan kefarmasian pada saat ini telah


bergeser orientasinya dari obat ke pasien yang mengacu kepada pelayanan
kefarmasian (pharmaceutical care). Kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula
hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi menjadi pelayanan yang
komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari pasien. Sebagai
konsekuensi perubahan oriental tersebut apoteker dituntut untuk meningkatkan
pengetahuan, keterampilan dan perilaku agar dapat meningkatkan interaksi
langsung dengan pasien dalam bentuk pemberian informasi, monitoring
penggunaan obat, dan mengetahui tujuan akhir terapi sesuai harapan dan
terdokumentasi dengan baik. Apoteker harus memahami dan menyadari
kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) dalam proses
pelayanan. Oleh sebab itu apoteker dalam menjalankan praktik harus sesuai
standar yang ada untuk menghindari terjadinya hal tersebut. Apoteker harus
mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam menetapkan terapi
untuk mendukung penggunaan obat yang rasional.
Agar calon apoteker dapat memahami dan melihat secara langsung
bagaimana sebenarnya peran, tugas dan tanggung jawab dari seorang apoteker
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan mengelola apotek, maka

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

dilakukan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek SamMarie Basra


pada tanggal 16 September 25 Oktober 2013.

1.2

Tujuan
Tujuan pelaksanaan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek SamMarie

Basra yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Universitas Indonesia adalah:


a. Memahami peran dan fungsi Apoteker Pengelola Apotek di Apotek.
b. Memahami dan melihat secara langsung proses pengelolaan apotek yang
dilakukan oleh Apoteker Pengelola Apotek baik secara teknis farmasi maupun
non teknis farmasi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

BAB 2
TINJAUAN UMUM

2.1

Pengertian Apotek
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan


RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotek, yang dimaksud dengan apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat
dilakukannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan
kesehatan lainnya kepada masyarakat (Keputusan Menteri Kesehatan No.1332,
2002). Sementara menurut Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian, dalam ketentuan umum dijelaskan bahwa apotek adalah
sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh
apoteker dan apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker
dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009,
pekerjaan

kefarmasian

pengendalian

mutu

adalah
sediaan

perbuatan
farmasi,

meliputi
pengadaan,

pembuatan

termasuk

penyimpanan,

dan

pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat
tradisional (Peraturan Pemerintah No. 51, 2009).

2.2

Landasan Hukum Apotek


Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan masyarakat

yang diatur dalam:


1.

Undang Undang antara lain:


a. Undang - Undang No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika
b. Undang - Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika
c. Undang - Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

2.

Peraturan Pemerintah antara lain:


a. Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 1980 tentang Perubahan atas PP No.
26 tahun 1965 tentang Apotek
3

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

b. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1990 tentang Masa Bakti Apoteker,


yang disempurnakan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 184/Menkes/Per/II/1995.
c. Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
3.

Peraturan Menteri Kesehatan antara lain:


a. Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin


Apotek
b. Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

695/Menkes/Per/VI/2007 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan


Menteri Kesehatan No. 184 tahun 1995 tentang Penyempurnaan
Pelaksanaan Masa Bakti dan Izin kerja Apoteker.
4.

Keputusan Menteri Kesehatan antara lain:


a. Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.1332/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia No.922/MenKes/Per/X/1993 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek.
b. Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di


Apotek.

2.3

Tugas dan Fungsi Apotek


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1027/MENKES/SK/IX/2004 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia


Nomor 51 Tahun 2009, tugas dan fungsi apotek adalah sebagai berikut:
a.

Suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan


penyaluran

sediaan

farmasi,

perbekalan

kesehatan

lainnya

kepada

masyarakat.
b.

Tempat dilakukan pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi,


pengamanan,

pengadaan,

penyimpanan

dan

pendistribusian

atau

penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter,

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional.
c.

Sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh


Apoteker.

d.

Tempat dilakukannya suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab


kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud
mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.

2.4

Tata Cara Pemberian Izin Apotek


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/Per/X/1993,

persyaratan yang harus dipenuhi oleh apotek adalah sebagai berikut :


a.

Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker, atau apoteker yang bekerja sama
dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan
tempat, perlengkapan, termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi
lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.

b.

Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan
pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan farmasi.

c.

Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lainnya di luar sediaan


farmasi.
Berdasarkan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

No.

1027/Menkes/SK/IX/2004, disebutkan bahwa :


a.

Sarana apotek berlokasi pada daerah yang dengan mudah dikenali oleh
masyarakat.

b.

Pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek.

c.

Apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh anggota masyarakat.

d.

Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari


aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk
menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi risiko
kesalahan penyerahan.

e.

Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker
untuk memperoleh informasi dan konseling.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

f.

Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya, bebas dari hewan pengerat,


serangga.

g.

Apotek memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari


pendingin.
Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam pendirian sebuah

apotek, antara lain:


a.

Lokasi
Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan pelayanan

komoditi lainnya di luar sediaan farmasi. Persyaratan jarak minimum antar apotek
tidak dipermasalahkan lagi, akan tetapi ketentuan ini dapat berbeda, sesuai dengan
kebijakan/peraturan daerah masing-masing. Lokasi apotek dapat dipilih dengan
mempertimbangkan segi pemerataan dan pelayanan kesehatan, jumlah penduduk,
jumlah praktek dokter, sarana dan pelayanan kesehatan lain, sanitasi dan faktor faktor lainnya.
b.

Bangunan
Suatu apotek harus mempunyai luas bangunan yang cukup sehingga dapat

menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi apotek. Bangunan apotek


yang baik hendaknya memiliki ruang tunggu pasien, ruang peracikan dan
penyerahan obat, ruang administrasi, ruang kerja apoteker, tempat pencucian alat
dan kamar kecil. Bangunan apotek sebaiknya juga memiliki sumber air yang
memenuhi syarat kesehatan, sumber penerangan yang dapat memberikan
penerangan yang memadai, alat pemadam kebakaran, serta ventilasi dan sanitasi
yang baik. Papan nama apotek dipasang di depan bangunan dengan ketentuan
memenuhi ukuran minimal panjang 60 cm, lebar 40 cm dengan tulisan hitam
diatas dasar putih, tinggi huruf minimal 5 cm, umumnya terbuat dari papan seng
yang pada bagian mukanya memuat nama apotek, nama APA, nomor SIA, alamat
apotek, nomor telepon.
c.

Peralatan Apotek
Suatu apotek baru yang ingin beroperasi harus memiliki peralatan apotek

yang memadai agar dapat mendukung pelayanan kefarmasiannya. Peralatan


apotek yang harus dimiliki antara lain :

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

a. Peralatan pembuatan, pengolahan dan peracikan seperti timbangan, lumpang,


alu, gelas ukur, dan lain-lain.
b. Peralatan dan tempat penyimpanan alat perbekalan farmasi seperti lemari obat,
lemari pendingin (kulkas), dan lemari khusus untuk narkotika dan
psikotropika. Lemari narkotik harus memenuhi persyaratan yang ada dalam
Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009.
c. Wadah pengemas dan pembungkus.
d. Perlengkapan administrasi seperti blanko pesanan, salinan resep, buku catatan
penjualan, buku catatan pembelian, kartu stok obat, dan kuitansi.
e. Buku-buku dan literatur standar yang diwajibkan, serta kumpulan perundangundangan yang berhubungan dengan kegiatan apotek.
Surat Izin Apotek (SIA) adalah surat yang diberikan Menteri Kesehatan RI
kepada apoteker atau apoteker yang bekerja sama dengan Pemilik Sarana Apotek
(PSA) untuk membuka apotek di tempat tertentu. Izin apotek diberikan oleh
Menteri yang melimpahkan wewenangnya kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota. Pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin, pencairan izin,
dan pencabutan izin dilaporkan setahun sekali oleh Kepala Dinas Kesehatan
kepada Menteri dan tembusan disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Provinsi.
Berdasarkan

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.1332/Menkes/SK/X/2002 Pasal 7 dan 9 tentang Perubahan Atas Peraturan


Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/PER/X/1993 mengenai Tata Cara
Pemberian Izin Apotek adalah sebagai berikut:
a.

Permohonan izin apotek diajukan kepada Kepala Dinas Kesehatan


Kabupaten/Kota dengan menggunakan formulir APT-1.

b.

Dengan

menggunakan

formulir

APT-2

Kepala

Dinas

Kesehatan

Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah menerima


permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM
untuk melakukan pemeriksaan terhadap kesiapan apotek melakukan kegiatan.
c.

Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambatlambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

setempat dengan menggunakan contoh formulir APT-3.


d.

Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam (b) dan (c) tidak
dilaksanakan, apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap
melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Provinsi dengan
menggunakan contoh formulir APT-4.

e.

Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan
pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (c) atau pernyataan ayat (d)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan SIA
dengan menggunakan contoh formulir APT-5.

f.

Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau


Kepala Balai POM dimaksud ayat (c) masih belum memenuhi syarat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 (dua
belas) hari mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan contoh
formulir APT-6.

g.

Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (f),


Apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum
dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal
Surat Penundaan.

h.

Apabila apoteker menggunakan sarana pihak lain, maka penggunaan sarana


dimaksud wajib didasarkan atas perjanjian kerja sama antara apoteker dan
pemilik sarana.

i.

Pemilik sarana yang dimaksud (poin h) harus memenuhi persyaratan tidak


pernah terlibat dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang
obat sebagaimana dinyatakan dalam surat penyataan yang bersangkutan.

j.

Terhadap

permohonan

izin

apotek

yang

ternyata

tidak

memenuhi

persyaratan APA dan atau persyaratan apotek atau lokasi apotek tidak sesuai
dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya (12) dua belas hari kerja
wajib mengeluarkan surat penolakan disertai dengan alasannya dengan
menggunakan formulir model APT-7.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Petugas Apotek

2.5

Tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan operasional apotek terdiri dari :
a.

Satu orang Apoteker Pengelola Apotek (APA), yaitu apoteker yang telah
diberi Surat Izin Apotek (SIA).

b.

Apoteker Pendamping, yaitu apoteker yang bekerja di apotek di samping


Apoteker Pengelola Apotek (APA) dan/atau menggantikan pada jam-jam
tertentu pada hari buka apotek.

c.

Apoteker Pengganti, yaitu apoteker yang menggantikan Apoteker Pengelola


Apotek selama Apoteker Pengelola Apotek tersebut tidak berada di tempat
lebih dari 3 (tiga) bulan secara terus-menerus, telah memiliki Surat Izin Kerja
dan tidak bertindak sebagai Apoteker Pengelola Apotek di apotek lain.

d.

Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundangundangan berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten
Apoteker.
Tenaga lainnya yang diperlukan untuk mendukung kegiatan di apotek

terdiri dari :
a. Juru resep adalah petugas yang membantu pekerjaan Asisten Apoteker.
b. Kasir adalah petugas yang bertugas menerima uang dan mencatat pemasukan
serta pengeluaran uang.
c. Pegawai tata usaha adalah petugas yang melaksanakan administrasi apotek
dan membuat laporan pembelian, penjualan, penyimpanan dan keuangan
apotek.
Berdasarkan Permenkes RI No. 1322/MENKES/SK/X/2002, Apoteker
adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan sumpah jabatan
Apoteker. Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah Apoteker yang telah diberi
Surat Izin Apotek (SIA). Sebelum melaksanakan kegiatannya, seorang APA wajib
memiliki Surat Izin Apotek (SIA) yang berlaku untuk seterusnya selama apotek
masih aktif melakukan kegiatan dan APA dapat melakukan pekerjaannya serta
masih

memenuhi

persyaratan.

Seorang APA

bertanggung jawab

akan

kelangsungan hidup apotek yang dipimpinnya, dan juga bertanggung jawab


kepada pemilik modal apabila bekerja sama dengan pemilik sarana apotek (PSA).

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

10

Apoteker yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian harus memenuhi


persyaratan-persyaratan sebagai berikut (Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun
2009 Pasal 35,37,52,54) :
a. Memiliki keahlian dan kewenangan.
b. Menerapkan Standar Profesi.
c. Didasarkan pada Standar Kefarmasian dan Standar Operasional
d. Memiliki sertifikat kompetensi profesi
e. Memiliki Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA)
f. Wajib memiliki Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) bagi Apoteker Pengelola
Apotek (APA) dan Apoteker Pendamping di Apotek.
g. Apoteker Pengelola Apotek (APA) hanya dapat melaksanakan praktek di satu
apotek sedangkan Apoteker Pendamping hanya dapat melaksanakan praktek
paling banyak di tiga Apotek.
Surat Tanda Registrasi (STRA) merupakan bukti tertulis yang diberikan
oleh Menteri kepada Apoteker yang telah diregistrasi. STRA berlaku 5 (lima)
tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu lima tahun selama masih
memenuhi persyaratan. Untuk memperoleh STRA, Apoteker harus memenuhi
persyaratan (Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Pasal 40):
a. Memiliki ijazah Apoteker
b. Memiliki sertifikat kompetensi profesi
c. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker
d. Mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki
surat izin praktek
e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika
profesi
Surat Izin Praktek Apoteker (SIPA) adalah surat izin yang diberikan
kepada Apoteker dan Apoteker Pendamping untuk dapat melaksanakan pekerjaan
kefarmasian pada Apotek atau Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS). SIPA
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan
kefarmasian dilakukan. SIPA dapat dibatalkan demi hukum apabila pekerjaan
kefarmasian dilakukan pada tempat yang tidak sesuai dengan yang tercantum

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

11

dalam surat izin. Untuk mendapatkan SIPA, Apoteker harus memiliki (Peraturan
Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Pasal 55) :
a. Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA)
b. Tempat atau ada tempat untuk melakukan pekerjaan kefarmasian atau fasilitas
kesehatan yang memiliki izin
c. Rekomendasi dari organisasi profesi
Tugas dan kewajiban apoteker di apotek adalah sebagai berikut :
a. Memimpin seluruh kegiatan apotek, baik kegiatan teknis maupun non teknis
kefarmasian sesuai dengan ketentuan maupun perundangan yang berlaku
b. Mengatur, melaksanakan, dan mengawasi administrasi
c. Mengusahakan agar apotek yang dipimpinnya dapat memberikan hasil yang
optimal sesuai dengan rencana kerja dengan cara meningkatkan omset,
mengadakan pembelian yang sah dan penekanan biaya serendah mungkin
d. Melakukan pengembangan usaha apotek
Wewenang dan tanggung jawab APA meliputi (Umar, 2011):
a. Menentukan arah terhadap seluruh kegiatan
b. Menentukan sistem (peraturan) terhadap seluruh kegiatan
c. Mengawasi pelaksanaan seluruh kegiatan
d. Bertanggung jawab terhadap kinerja yang dicapai.
Dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/Menkes/SK/X/2002
Pasal 19 disebutkan bahwa apabila APA berhalangan melakukan tugasnya pada
jam buka apotek, maka APA harus menunjuk Apoteker Pendamping. Apoteker
Pendamping adalah apoteker yang telah bekerja di apotek di samping Apoteker
Pengelola Apotek dan/atau menggantikan pada jam-jam tertentu pada hari buka
apotek. Apabila APA dan Apoteker Pendamping karena hal-hal tertentu
berhalangan melakukan tugasnya, APA menunjuk Apoteker Pengganti. Apoteker
Pengganti yaitu apoteker yang menggantikan APA selama APA tersebut tidak
berada di tempat lebih dari tiga bulan secara terus-menerus, telah memiliki Surat
Izin Kerja (SIK) dan tidak bertindak sebagai APA di apotek lain.
Penunjukkan Apoteker Pendamping/Pengganti harus dilaporkan kepada
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala
Dinas Kesehatan Provinsi setempat dengan menggunakan formulir model APT-9.
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

12

Apoteker Pendamping dan Apoteker Pengganti wajib memenuhi persyaratan yang


ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Apabila Apoteker Pengelola Apotek
berhalangan melakukan tugasnya lebih dari dua tahun secara terus-menerus, Surat
Izin Apotek atas nama Apoteker yang bersangkutan dapat dicabut.
Selanjutnya, menurut Permenkes No. 922/Menkes/Per/X/1993 Pasal 20-23
dijelaskan bahwa Apoteker Pengelola Apotek bertanggung jawab atas
pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker Pendamping maupun
Apoteker

Pengganti,

dalam

pengelolaan

apotek.

Apoteker

Pendamping

bertanggungjawab atas pelaksanaan tugas pelayanan kefarmasian selama yang


bersangkutan bertugas menggantikan APA. Pada setiap pengalihan tanggung
jawab kefarmasian yang disebabkan karena penggantian APA oleh Apoteker
Pengganti, harus diikuti dengan serah terima resep, narkotika, dan perbekalan
farmasi lainnya, serta kunci-kunci tempat penyimpanan narkotika dan
psikotropika. Serah terima ini harus diikuti dengan pembuatan berita acara.
Pada Pasal 24, dijelaskan apabila APA meninggal dunia, maka:
1.

Ahli waris APA wajib melaporkan dalam waktu 2 x 24 jam kepada Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

2.

Apabila pada apotek tersebut tidak terdapat Apoteker Pendamping, maka


laporan wajib disertai penyerahan resep, narkotika, psikotropika, obat keras,
dan kunci tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika.

3.

Penyerahan dibuat Berita Acara Serah Terima sebagaimana dimaksud Pasal


23 ayat (2) kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan
menggunakan formulir model APT-11 dengan tembusan kepada Kepala Balai
POM setempat.

2.6

Pelanggaran Apotek
Pelanggaran apotek dapat dikategorikan berdasarkan berat atau ringannya

pelanggaran tersebut. Kegiatan yang termasuk dalam pelanggaran berat apotek


yaitu:
a. Melakukan kegiatan tanpa ada tenaga teknis farmasi
b. Terlibat dalam penyaluran atau penyimpanan obat palsu atau gelap
c. Pindah alamat apotek tanpa izin
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

13

d. Menjual narkotika tanpa resep dokter.


e. Kerja sama dengan PBF dalam menyalurkan obat kepada pihak yang tidak
berhak dalam jumlah besar.
f. Tidak menunjuk Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti pada waktu
APA keluar daerah selama tiga bulan berturut-turut.
Kegiatan yang termasuk dalam pelanggaran ringan apotek yaitu:
a. Tidak menunjuk Apoteker pendamping pada waktu APA tidak dapat hadir
pada jam buka apotek.
b. Mengubah denah apotek tanpa izin.
c. Menjual obat daftar G kepada yang tidak berhak.
d. Melayani resep yang tidak jelas dokternya.
e. Menyimpan obat rusak, tidak mempunyai penandaan atau belum dimusnahkan.
f. Obat dalam kartu stok tidak sesuai dengan jumlah yang ada.
g. Salinan resep yang tidak ditanda tangani oleh Apoteker.
h. Melayani salinan resep narkotika dari apotek lain.
i. Lemari narkotika tidak memenuhi syarat.
j. Resep narkotika tidak dipisahkan.
k. Buku harian narkotika tidak diisi atau tidak bisa dilihat atau diperiksa.
l. Tidak mempunyai atau tidak mengisi kartu stok hingga tidak dapat diketahui
dengan jelas asal-usul obat tersebut.
Setiap pelanggaran apotek terhadap ketentuan yang berlaku dapat
dikenakan sanksi, baik bersifat administratif ataupun sanksi pidana. Sanksi
administratif yang diberikan menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1332/MENKES/SK/X/2002 dan Permenkes No. 992/MENKES/PER/1993 adalah
diberikan peringatan secara tertulis kepada APA secara tiga kali berturut-turut
dengan tenggang waktu masing-masing dua bulan. Selain itu, dilakukan
pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya enam bulan sejak
dikeluarkannya Penetapan Pembekuan Izin Apotek. Keputusan Pencabutan SIA
disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan
tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Balai/Balai Besar POM
setempat. Pembekuan izin apotek tersebut dapat dicairkan kembali apabila apotek
tersebut dapat membuktikan bahwa seluruh persyaratan yang ditentukan dalam
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

14

Keputusan Menteri Kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik


Indonesia tersebut telah dipenuhi. Pencairan izin apotek dilakukan setelah
menerima laporan pemeriksaan dari Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat.
Sanksi pidana berupa denda maupun hukuman penjara diberikan bila
terdapat pelanggaran terhadap:
a.

Undang-Undang Obat Keras (St. 1937 No. 541)

b.

Undang-Undang Psikotropika No. 5 tahun 1997

c.

Undang-Undang Narkotika No. 35 tahun 2009

d.

Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009

2.7

Pencabutan Surat Izin Apotek (Keputusan Menteri Kesehatan RI No.


1332/Menkes/SK/X/2002)
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.1332/MENKES/SK/X/2002

Pasal 25 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota setempat wajib melaporkan pemberian izin,
pembekuan izin, pencairan izin, dan pencabutan izin apotek dalam jangka waktu
setahun sekali kepada Menteri Kesehatan dan tembusan disampaikan kepada
Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat
mencabut surat izin apotek apabila:
a. Apoteker tidak lagi memenuhi kewajibannya untuk menyediakan, menyimpan
dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya
terjamin. Sediaan farmasi yang sudah dikatakan tidak bermutu baik atau
karena sesuatu hal tidak dapat dan dilarang untuk digunakan, seharusnya
dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang
ditetapkan oleh Menteri.
b. Apoteker Pengelola Apotek (APA) berhalangan melakukan tugasnya lebih
dari 2 (dua) tahun secara terus menerus.
c. Terjadi pelanggaran terhadap Undang Undang obat keras Nomor St. 1937
No. 541, Undang-Undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, UndangUndang No.5 tahun 1997 tentang psikotropika, Undang-Undangh No.22 tahun

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

15

1997 tentang narkotika, serta ketentuan peraturan perundang-undangan lain


yang berlaku.
d. Surat Izin Kerja Apoteker Pengelola Apotek dicabut.
e. Pemilik Sarana Apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundangundangan di bidang obat.
f. Apotek tidak dapat lagi memenuhi persyaratan mengenai kesiapan tempat
pendirian apotek serta kelengkapan sediaan farmasi dan perbekalan lainnya
baik merupakan milik sendiri atau pihak lain.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebelum melakukan pencabutan
harus berkoordinasi dengan Kepala Balai POM setempat. Pelaksanaan pencabutan
Surat Izin Apotek dilakukan setelah dikeluarkan:
a.

Peringatan secara tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek sebanyak 3 kali


berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 2 bulan dengan
menggunakan contoh Formulir APT-12.

b.

Pembekuan izin Apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6 bulan sejak


dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan Apotek dengan menggunakan
contoh Formulir APT-13.
Pembekuan Izin Apotek sebagaimana dimaksud dalam poin (b) di atas,

dapat dicairkan kembali apabila apotek telah membuktikan memenuhi seluruh


persyaratan sesuai dengan ketentuan dalam peraturan ini dengan menggunakan
contoh formulir APT-14. Pencairan Izin Apotek dimaksud di atas dilakukan
setelah menerima laporan pemeriksaan dari Tim Pemeriksaan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setempat. Apabila Surat Izin Apotek dicabut, Apoteker Pengelola
Apotek atau Apoteker Pengganti wajib mengamankan perbekalan farmasi sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengamanan yang dimaksud wajib
mengikuti tata cara sebagai berikut :
a. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan narkotika, obat keras
tertentu dan obat lain serta seluruh resep yang tersedia di apotek.
b. Narkotika, psikotropika, dan resep harus dimasukkan dalam tempat yang
tertutup dan terkunci
c. Apoteker Pengelola Apotek wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala
Kementerian Kesehatan atau petugas yang diberi wewenang olehnya, tentang
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

16

penghentian kegiatan disertai laporan inventarisasi yang dimaksud dalam poin


(a).

2.8

Pengelolaan Apotek
Seluruh upaya dan kegiatan apoteker untuk melaksanakan tugas dan fungsi

pelayanan apotek disebut pengelolaan apotek. Menurut Keputusan Menteri


Kesehatan RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 pengelolaan apotek dapat dibagi
menjadi dua, yaitu:
a.

Pengelolaan teknis kefarmasian meliputi pembuatan, pengelolaan, peracikan,


pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan, penyerahan obat atau bahan
obat, pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan
farmasi lainnya. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi yang
meliputi pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi lainnya yang
diberikan baik kepada dokter, tenaga kesehatan lainnya, maupun kepada
masyarakat, pengamatan dan pelaporan mengenai khasiat, keamanan, bahaya
dan atau mutu obat serta perbekalan farmasi lainnya.

b.

Pengelolaan non teknis kefarmasian meliputi semua kegiatan administrasi,


keuangan, personalia, pelayanan komoditas selain perbekalan farmasi dan
bidang lainnya yang berhubungan dengan fungsi apotek. Secara garis besar
pengelolaan apotek dapat dijabarkan sebagai berikut:

2.8.1
a.

Pengelolaan Perbekalan Farmasi

Perencanaan
Kegiatan yang termasuk dalam proses perencanaan adalah pemilihan jenis,

jumlah, dan harga dalam rangka pengadaan dengan tujuan mendapatkan jenis dan
jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, serta menghindari
kekosongan obat. Dalam perencanaan pengadaan sediaan farmasi seperti obatobatan dan alat kesehatan, maka perlu dilakukan pengumpulan data obat-obatan
yang akan dipesan. Data obat-obatan tersebut biasanya ditulis dalam buku defekta,
yaitu jika barang habis atau persediaan menipis berdasarkan jumlah barang yang
tersedia pada bulan-bulan sebelumnya. Beberapa pertimbangan yang harus
dilakukan APA di dalam melaksanakan perencanaan pemesanan barang, yaitu
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

17

memilih Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang memberikan keuntungan dari


segala segi, misalnya harga yang ditawarkan sesuai, ketepatan waktu pengiriman,
diskon dan bonus yang diberikan sesuai, jangka waktu kredit yang cukup, serta
kemudahan dalam pengembalian obat-obatan yang hampir kadaluarsa.
Sesuai

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek,


maka

dalam

membuat

perencanaan

pengadaan

sediaan

farmasi

perlu

memperhatikan:
1.

Pola penyakit, maksudnya adalah perlu memperhatikan dan mencermati pola


penyakit yang timbul di sekitar masyarakat sehingga apotek dapat memenuhi
kebutuhan masyarakat tentang obat-obat untuk penyakit tersebut.

2.

Tingkat perekonomian masyarakat di sekitar apotek juga akan mempengaruhi


daya beli terhadap obat-obatan.

3.

Budaya masyarakat dimana pandangan masyarakat terhadap obat, pabrik


obat, bahkan iklan obat dapat mempengaruhi dalam hal pemilihan obatobatan khususnya obat-obatan tanpa resep. Demikian juga dengan budaya
masyarakat yang lebih senang berobat ke dokter, maka apotek perlu
memperhatikan obat-obat yang sering diresepkan oleh dokter tersebut.

b.

Pengadaan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 918/Menkes/Per/X/1993

tentang PBF, menyebutkan bahwa pabrik farmasi dapat menyalurkan produksinya


langsung ke PBF, apotek, toko obat, apotek rumah sakit, dan sarana kesehatan lain
(Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 918/Menkes/per/X/1993, 1993). Pengadaan
barang di apotek meliputi pemesanan dan pembelian. Pembelian barang dapat
dilakukan secara langsung ke produsen atau melalui PBF. Proses pengadaan
barang dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu:
1.

Tahap persiapan, dilakukan dengan cara mengumpulkan data barang-barang


yang akan dipesan dari buku defekta, termasuk obat baru yang ditawarkan
pemasok.

2.

Pemesanan dilakukan dengan menggunakan Surat Pesanan (SP), minimal


dibuat 2 lembar (untuk pemasok dan arsip apotek) dan ditandatangani oleh
APA dengan mencantumkan nomor SIK.
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

18

Pengadaan atau pembelian barang di apotek dapat dilakukan dengan cara


antara lain (Anief, 1998):
1.

Pembelian dalam jumlah terbatas yaitu pembelian dilakukan sesuai dengan


kebutuhan dalam waktu pendek, misalnya satu minggu. Pembelian ini
dilakukan bila modal terbatas dan PBF berada dalam jarak tidak jauh dari
apotek, misalnya satu kota dan selalu siap untuk segera mengirimkan obat
yang dipesan.

2.

Pembelian berencana dimana metode ini erat hubungannya dengan


pengendalian persediaan barang. Pengawasan stok obat atau barang dagangan
penting sekali, untuk mengetahui obat yang fast moving atau slow moving, hal
ini dapat dilihat pada kartu stok. Selanjutnya dilakukan perencanaan
pembelian sesuai dengan kebutuhan.

3.

Pembelian secara spekulasi merupakan pembelian dilakukan dalam jumlah


yang lebih besar dari kebutuhan, dengan harapan akan ada kenaikan harga
dalam waktu dekat atau karena ada diskon atau bonus. Pola ini dilakukan
pada waktu-waktu tertentu jika diperkirakan akan terjadi peningkatan
permintaan. Hal ini apabila spekulasinya benar akan mendapat keuntungan
besar, tetapi cara ini mengandung resiko obat akan rusak atau kadaluarsa.

c.

Penyimpanan
Obat dengan bentuk sediaan padat, sediaan cair, atau setengah padat

disimpan secara terpisah. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari zat-zat yang
bersifat higroskopis. Serum, vaksin, dan obat-obat yang mudah rusak atau meleleh
pada suhu kamar disimpan dalam lemari pendingin. Penyusunan obat dapat
dilakukan secara alfabetis untuk mempermudah dan mempercepat pengambilan
obat saat diperlukan. Pengaturan pemakaian barang di apotek sebaiknya
menggunakan sistem FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First
Out), sehingga obat-obat yang mempunyai waktu kadaluarsa lebih singkat
disimpan paling depan dan memungkinkan diambil terlebih dahulu.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

19

2.8.2

Pengelolaan Keuangan
Laporan keuangan yang biasa dibuat di apotek adalah:

a.

Laporan Rugi-Laba
Laporan yang menyajikan informasi tentang pendapatan, biaya, laba atau

rugi yang diperoleh perusahaan selama periode tertentu disebut laporan laba-rugi.
Laporan rugi-laba biasanya berisi hasil penjualan, HPP (persediaan awal +
pembelian - persediaan akhir),laba kotor, biaya operasional, laba bersih usaha,
laba bersih sebelum pajak, laba bersih setelah pajak, pendapatan non usaha, dan
pajak.
b.

Neraca
Laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu unit usaha pada

waktu tertentu disebut laporan neraca. Keadaan keuangan ini ditunjukkan dengan
jumlah harta yang dimiliki yang disebut aktiva dan jumlah kewajiban yang
disebut pasiva, atau dengan kata lain aktiva adalah investasi di dalam perusahaan
dan pasiva merupakan sumber-sumber yang digunakan untuk investasi tersebut.
Oleh karena itu, dapat dilihat dalam neraca bahwa jumlah aktiva akan sama besar
dengan pasiva. Aktiva dikelompokkan dalam aktiva lancar dan aktiva tetap.
Aktiva lancar berisi kas, surat-surat berharga, piutang, dan persediaan. Aktiva
tetap dapat berupa gedung atau tanah, sedangkan pasiva dapat berupa hutang dan
modal.
c.

Laporan Hutang-Piutang
Laporan yang berisi utang yang dimiliki apotek pada periode tertentu

dalam satu tahun disebut laporan hutang, sedangkan laporan piutang berisikan
piutang yang ditimbulkan karena transaksi yang belum lunas dari pihak lain
kepada pihak apotek.

2.8.3 Administrasi
Kegiatan yang biasa dilakukan dalam proses administrasi apotek meliputi:
a. Administrasi umum, kegiatannya meliputi membuat agenda atau mengarsipkan
surat masuk dan surat keluar, pembuatan laporan-laporan seperti, laporan
narkotika dan psikotropika, pelayanan resep dengan harganya, pendapatan, alat
dan obat KB, obat generik, dan lain-lain.
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

20

b. Pembukuan meliputi pencatatan keluar dan masuknya uang disertai bukti-bukti


pengeluaran dan pemasukan.
c. Administrasi penjualan meliputi pencatatan pelayanan obat resep, obat bebas,
dan pembayaran secara tunai atau kredit.
d. Administrasi pergudangan meliputi, pencatatan penerimaan barang, masingmasing barang diberi kartu stok, dan membuat defekta.
e. Administrasi pembelian meliputi pencatatan pembelian harian secara tunai atau
kredit dan asal pembelian, mengumpulkan faktur secara teratur. Selain itu
dicatat kepada siapa berhutang dan masing-masing dihitung besarnya hutang
apotek.
f. Administrasi piutang, meliputi pencatatan penjualan kredit, pelunasan piutang,
dan penagihan sisa piutang.
g. Administrasi kepegawaian dilakukan dengan mengadakan absensi karyawan,
mencatat kepangkatan, gaji, dan pendapatan lainnya dari karyawan.

2.9

Perbekalan Farmasi
Pemerintah menetapkan beberapa peraturan mengenai Tanda untuk

membedakan jenis-jenis obat yang beredar di wilayah Republik Indonesia agar


pengelolaan obat menjadi mudah. Beberapa peraturan tersebut antara lain yaitu:
a. UU RI No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.
b. Kepmenkes RI No. 2396/A/SK/VIII/86 tentang Tanda Khusus Obat Keras
Daftar G.
c. Kepmenkes RI No. 347/Menkes/SK/VIII/90 tentang Obat Wajib Apotek.
d. Kepmenkes RI No. 2380/A/SK/VI/83 tentang Tanda Khusus Obat Bebas dan
Obat Bebas Terbatas.
e. Permenkes RI No.688/Menkes/Per/VII/1997 tentang Peredaran Psikotropika.
Berdasarkan ketentuan peraturan tersebut, maka obat dapat dibagi menjadi
beberapa golongan yaitu (Umar, 2011; Departemen Kesehatan RI, 1997):
1. Obat Bebas
Obat tanpa peringatan, yang dapat diperoleh tanpa resep dokter disebut
obat bebas. Tandanya berupa lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi
hitam. Contoh obat bebas adalah Panadol, Promag, dan Diatab
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

21

Gambar 2.1 Penandaan Obat Bebas

2. Obat Bebas Terbatas


Obat dengan peringatan, yang dapat diperoleh tanpa resep dokter disebut
obat bebas terbatas. Tandanya berupa lingkaran bulat berwarna biru dengan garis
tepi hitam.

Gambar 2.2 Penandaan Obat Bebas Terbatas

Komposisi obat bebas terbatas merupakan obat keras sehingga dalam


wadah atau kemasan perlu dicantumkan tanda peringatan (P1-P6). Tanda
peringatan tersebut berwarna hitam dengan ukuran panjang 5 cm dan lebar 2 cm
(disesuaikan dengan warna kemasannya) dan diberi tulisan peringatan
penggunaannya dengan huruf berwarna putih.
Tanda-tanda peringatan ini sesuai dengan golongan obatnya yaitu:
a.

P No 1: Awas! Obat keras. Baca aturan memakainya. Contoh: Decolgen,


Ultraflu, dan Fatigon.

b.

P No 2: Awas! Obat keras. Hanya untuk dikumur, jangan ditelan. Contoh:


Betadine gargle, Listerin dan Minosep.

c.

P No 3: Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar dari badan. Contoh:
Canesten krim, dan Fosen enema

d.

P No 4: Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.

e.

P No 5: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan. Contoh: Dulcolax


Suppositoria

f.

P No 6: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan. Contoh: Anusol


Suppositoria.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

22

P. No. 1
Awas! Obat Keras
Baca aturan
memakainya
P. No. 3
Awas! Obat Keras
Hanya untuk bagian
luar dari badan

P. No. 5
Awas! Obat Keras
Tidak boleh ditelan

P. No. 2
Awas! Obat Keras
Hanya untuk kumur,
Jangan ditelan

P. No. 4
Awas! Obat Keras
Hanya untuk dibakar
P. No. 6
Awas! Obat Keras
Obat wasir, jangan
ditelan

Gambar 2.3 Tanda Peringatan pada Obat Bebas Terbatas

3. Obat Keras Daftar G


Obat-obat

yang

mempunyai

khasiat

mengobati,

menguatkan,

mendesinfeksi, dan lain-lain, pada tubuh manusia, baik dalam bungkusan atau
tidak yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan disebut obat keras. Tanda khusus
obat keras yaitu lingkaran merah dengan garis tepi hitam dan huruf K di dalamnya
yang ditulis pada etiket dan bungkus luar.

Gambar 2.4 Penandaan Obat Keras

Obat keras merupakan obat yang hanya bisa didapatkan dengan resep
dokter dan dapat diulang tanpa resep baru bila dokter menyatakan pada resepnya
boleh diulang. Obat-obat golongan ini antara lain obat jantung, obat diabetes,
hormon, antibiotika, beberapa obat ulkus lambung, semua obat suntik, dan
psikotropika.

4.

Psikotropika
Zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang

berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku disebut
psikotropika. Penggolongan dari psikotropika berdasarkan Undang-Undang No. 5
tahun 1997 tentang Psikotropika adalah:

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

23

a.

Psikotropika golongan I adalah Psikotropika yang hanya dapat digunakan


untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh: etisiklidina, tenosiklidina, metilendioksi metilamfetamin (MDMA).

b.

Psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan


dapat digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh:
amfetamin, deksamfetamin, metamfetamin, fensiklidin.

c.

Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan


dan banyak digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan
serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh: amobarbital, pentobarbital, siklobarbital.

d.

Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan


dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh: diazepam, estazolam, etilamfetamin, alprazolam.
Berdasarkan UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, disebutkan bahwa

psikotropika golongan I dan II telah dipindahkan menjadi narkotika golongan I


sehingga lampiran mengenai psikotropika golongan I dan II pada UU No. 5 tahun
1997 dinyatakan tidak berlaku lagi.

5. Narkotika
Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis
maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan, disebut narkotika (Undang-Undang No.35
tahun 2009 tentang Narkotika, 2009).

Gambar 2.5 Penandaan Narkotika

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

24

Narkotika dibagi menjadi 3 golongan, yaitu (Undang-Undang No. 35


tahun 2009 tentang Narkotika):
a.

Narkotika Golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk


tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi,
serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.
Contoh: kokain, opium, heroin, ganja.

b.

Narkotika Golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan,


digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau
untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi
tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh: morfin, petidin, normetadona,
metadona.

c.

Narkotika Golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan


banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan ilmu
pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.
Contoh: kodein, norkodeina, etilmorfina.

2.10

Pelayanan Apotek
Peraturan yang mengatur tentang Pelayanan Apotek adalah Peraturan

Menteri Kesehatan No. 922/Menkes/Per/X/1993 yang meliputi:


a. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter
hewan. Pelayanan resep ini sepenuhnya atas dasar tanggung jawab Apoteker
Pengelola Apotek, sesuai dengan keahlian profesinya yang dilandasi pada
kepentingan masyarakat.
b. Apotek wajib menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan perbekalan yang
bermutu baik dan absah.
c. Apotek tidak diizinkan mengganti obat generik yang ditulis dalam resep
dengan obat paten. Namun resep dengan obat paten boleh diganti dengan obat
generik.
d. Apotek wajib memusnahkan perbekalan farmasi yang tidak memenuhi syarat
mengikuti ketentuan yang berlaku, dengan membuat berita acara. Pemusnahan
ini dilakukan dengan cara dibakar atau dengan ditanam atau dengan cara lain
yang ditetapkan oleh Balai Besar POM.
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

25

e. Dalam hal pasien tidak mampu menebus obat yang diresepkan, apoteker wajib
berkonsultasi dengan dokter penulis resep untuk pemilihan obat yang lebih
tepat.
f. Apoteker wajib memberikan informasi yang berkaitan dengan penggunaan
obat secara tepat, aman, dan rasional atas permintaan masyarakat.
g. Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep terdapat kekeliruan atau
penulisan resep yang tidak tepat, Apoteker harus memberitahukan kepada
dokter penulis resep. Apabila atas pertimbangan tertentu dokter penulis resep
tetap pada pendiriannya, dokter wajib melaksanakan secara tertulis atau
membubuhkan tanda tangan yang lazim di atas resep.
h. Salinan resep harus ditandatangani oleh Apoteker.
i. Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik dalam jangka
waktu 3 tahun.
j. Resep dan salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis
resep atau yang merawat penderita, penderita yang bersangkutan, petugas
kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan
yang berlaku.
k. Apoteker Pengelola Apotek, Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti
diizinkan menjual obat keras tanpa resep yang dinyatakan sebagai Daftar Obat
Wajib Apotek, yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

2.10.1

Pelayanan

Resep

(Keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

Nomor

1027/MENKES/SK/IX/2004)
a.

Skrining Resep
Apoteker melakukan kegiatan skrining resep yang meliputi:
1. Memeriksa kelengkapan persyaratan administrasi: nama dokter, nomor
SIP, alamat dokter, tanggal penulisan resep, tanda tangan atau paraf
dokter penulis resep, nama pasien, alamat pasien, umur pasien, jenis
kelamin pasien, dan berat badan pasien, nama obat, potensi, dosis, jumlah
yang diminta, cara pemakaian yang jelas dan informasi lainnya.
2. Memeriksa kesesuaian farmasetik seperti bentuk sediaan, dosis,
inkompatibilitas, stabilitas, cara dan lama pemberian.
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

26

3. Melakukan pertimbangan klinis seperti adanya alergi, efek samping,


interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain). Jika ada
keraguan terhadap resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter
penulis resep dengan memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya
bila perlu menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.
b.

Penyiapan Obat
Peracikan merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur,

mengemas, dan memberikan etiket pada wadah. Suatu prosedur tetap harus dibuat
untuk melaksanakan peracikan obat, dengan memperhatikan dosis, jenis, dan
jumlah obat serta penulisan etiket yang benar. Etiket harus jelas dan dapat dibaca.
Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok sehingga
terjaga kualitasnya. Pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan
resep harus dilakukan sebelum obat diserahkan kepada pasien. Penyerahan obat
dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada
pasien.
c.

Informasi Obat
Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah

dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana dan terkini, informasi obat pada
pasien sekurang-kurangnya meliputi cara pemakaian obat, jangka waktu
pengobatan, cara penyimpanan obat, aktivitas serta makanan dan minuman yang
harus dihindari selama terapi.
d.

Konseling
Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi dan

perbekalan kesehatan lainnya sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien


atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan
obat yang salah. Untuk penderita penyakit seperti kardiovaskular, diabetes, TBC,
asma, dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling secara
berkelanjutan.
e.

Monitoring Penggunaan Obat


Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan

pemantauan

penggunaan

obat

terutama

untuk

pasien

tertentu

seperti

kardiovaskular, diabetes, TBC, asma dan penyakit kronis lainnya.


Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

27

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 28 tahun 1987 tentang


penyimpanan dan pemusnahan resep menyebutkan bahwa:
a.

APA mengatur resep yang telah dikerjakan menurut urutan tanggal dan
nomor urut penerimaan resep dan harus disimpan sekurang-kurangnya selama
tiga tahun.

b.

Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya.

c.

Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu penyimpanan, dapat


dimusnahkan.

d.

Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang
memadai oleh APA bersama-sama dengan sekurang-kurangnya seorang
petugas apotek.

e.

Pada pemusnahan resep, harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan
bentuk yang telah ditentukan dan dibuat rangkap empat serta ditandatangani
oleh APA dan petugas apotek.

2.10.2 Promosi dan Edukasi


Apoteker harus memberikan edukasi dalam rangka pemberdayaan
masyarakat, apabila masyarakat ingin mengobati diri sendiri (swamedikasi) untuk
penyakit ringan, dengan memilihkan obat yang sesuai. Apoteker juga harus
berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu
diseminasi informasi antara lain dengan penyebaran leaflet atau brosur, poster,
penyuluhan, dan lain-lain.

2.10.3 Pelayanan Residensial (Home Care)


Apoteker sebagai pemberi pelayanan (care giver) diharapkan juga dapat
melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya
untuk kelompok lanjut usia (lansia) dan pasien dengan pengobatan penyakit
kronis lainnya. Untuk aktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan
pengobatan (medication record).

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

28

2.10.4 Pelayanan Swamedikasi


Pengobatan sendiri (swamedikasi) adalah tindakan mengobati diri sendiri
dengan obat tanpa resep (golongan obat bebas, bebas terbatas dan wajib apotek)
yang dilakukan secara tepat guna dan bertanggung jawab. Hal ini mengandung
makna bahwa walaupun digunakan untuk diri sendiri, pengobatan sendiri harus
dilakukan secara rasional. Ini berarti bahwa tindakan pemilihan dan penggunaan
produk bersangkutan sepenuhnya merupakan tanggung jawab bagi para
penggunanya.
Penggunaan obat bebas, obat bebas terbatas dan obat wajib apotek (OWA)
dalam pengobatan sendiri (swamedikasi) harus mengikuti prinsip penggunaan
obat secara aman dan rasional. Pelaksanaan swamedikasi yang bertanggung jawab
membutuhkan produk obat yang sudah terbukti keamanan, khasiat dan
kualitasnya, serta membutuhkan pemilihan obat yang tepat sesuai dengan indikasi
penyakit dan kondisi pasien.
Apoteker mempunyai peran yang sangat penting dalam memberikan
bantuan, nasehat dan petunjuk kepada masyarakat yang ingin melakukan
swamedikasi, agar dapat masyarakat dapat melakukan swamedikasi secara
bertanggung jawab. Apoteker harus dapat menekankan kepada pasien, bahwa
walaupun dapat diperoleh tanpa resep dokter, namun penggunaan obat bebas, obat
bebas terbatas, dan OWA tetap dapat menimbulkan bahaya dan efek samping
yang tidak dikehendaki jika dipergunakan secara tidak semestinya.
Dalam pelaksanaan swamedikasi, Apoteker memiliki dua peran yang
sangat penting, yaitu menyediakan produk obat yang sudah terbukti keamanan,
khasiat dan kualitasnya serta memberikan informasi yang dibutuhkan atau
memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya agar obat digunakan secara
aman, tepat dan rasional. Pemberian informasi dilakukan terutama dalam
mempertimbangkan:
1. Ketepatan penentuan indikasi atau penyakit.
2. Ketepatan pemilihan obat yang efektif, aman, dan ekonomis.
3. Ketepatan dosis dan cara penggunaan obat.
Satu hal yang sangat penting dalam informasi swamedikasi adalah
meyakinkan agar produk yang digunakan tidak berinteraksi negatif dengan
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

29

produk-produk yang sedang digunakan pasien. Selain itu, apoteker juga


diharapkan dapat memberikan petunjuk kepada pasien bagaimana memonitor
penyakitnya dan kapan harus menghentikan pengobatannya atau kapan harus
berkonsultasi kepada dokter. Informasi yang perlu disampaikan oleh Apoteker
pada masyarakat dalam pelaksanaan swamedikasi antara lain:
1. Khasiat obat
Apoteker perlu menerangkan dengan jelas khasiat obat yang bersangkutan,
sesuai atau tidak dengan indikasi atau gangguan kesehatan yang dialami
pasien.
2. Kontraindikasi
Pasien perlu diberi tahu dengan jelas kontraindikasi dari obat yang diberikan,
agar tidak menggunakannya jika memiliki kontra indikasi dimaksud.
3. Efek samping dan cara mengatasinya (jika ada)
Pasien juga perlu diberi informasi tentang efek samping yang mungkin
muncul dan apa yang harus dilakukan untuk menghindari atau mengatasinya.
4. Cara pemakaian
Cara pemakaian harus disampaikan secara jelas kepada pasien untuk
menghindari salah pemakaian, apakah ditelan, dihirup, dioleskan, dimasukkan
melalui anus, atau cara lain.
5. Dosis
Dosis harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan pasien. Apoteker dapat
menyarankan

dosis

sesuai

dengan

yang

disarankan

oleh

produsen

(sebagaimana petunjuk pemakaian yang tertera di etiket) atau dapat


menyarankan dosis lain sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
6. Waktu pemakaian
Waktu pemakaian juga harus diinformasikan dengan jelas kepada pasien,
misalnya sebelum atau sesudah makan atau saat akan tidur.
7. Lama penggunaan
Lama penggunaan obat juga harus diinformasikan kepada pasien, agar pasien
tidak menggunakan obat secara berkepanjangan karena penyakitnya belum
hilang atau sudah memerlukan pertolongan dokter.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

30

8. Hal yang harus diperhatikan sewaktu minum obat tersebut, misalnya


pantangan makanan atau tidak boleh minum obat tertentu dalam waktu
bersamaan.
9. Hal apa yang harus dilakukan jika lupa meminum obat.
10. Cara penyimpanan obat yang baik.
11. Cara memperlakukan obat yang masih tersisa.
12. Cara membedakan obat yang masih baik dan sudah rusak.
Selain itu, apoteker juga perlu memberi informasi kepada pasien tentang
obat generik yang memiliki khasiat sebagaimana yang dibutuhkan, serta
keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan obat generik. Hal ini
penting dalam pemilihan obat yang selayaknya harus selalu memperhatikan aspek
farmakoekonomi dan hak pasien. Selain konseling dalam farmakoterapi, Apoteker
juga memiliki tanggung jawab lain yang lebih luas dalam swamedikasi. Dalam
pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh IPF (International Pharmaceutical
Federation) dan WMI (World Self-Medication Industry) tentang swamedikasi
yang bertanggung jawab (Responsible Self-Medication) dinyatakan sebagai
berikut:
1. Apoteker memiliki tanggung jawab profesional untuk memberikan nasehat
dan informasi yang benar, cukup dan objektif tentang swamedikasi dan semua
produk yang tersedia untuk swamedikasi.
2. Apoteker memiliki tanggung jawab profesional untuk merekomendasikan
kepada pasien agar segera mencari nasehat medis yang diperlukan, apabila
dipertimbangkan swamedikasi tidak mencukupi.
3. Apoteker memiliki tanggung jawab profesional untuk memberikan laporan
kepada lembaga pemerintah yang berwenang, dan untuk menginformasikan
kepada produsen obat yang bersangkutan, mengenai efek yang tidak
dikehendaki (adverse reaction) yang terjadi pada pasien yang menggunakan
obat tersebut dalam swamedikasi.
4. Apoteker memiliki tanggung jawab profesional untuk mendorong anggota
masyarakat agar memperlakukan obat sebagai produk khusus yang harus
dipergunakan dan disimpan secara hati-hati, dan tidak boleh dipergunakan
tanpa indikasi yang jelas.
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

31

Berdasarkan

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Nomor

919/MENKES/PER/X/1993 tentang kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa


resep harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di
bawah usia 2 tahun dan orangtua di atas 65 tahun.
b. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan resiko pada
kelanjutan penyakit.
c. Penggunaannya tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan.
d. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di
Indonesia.
e. Obat

dimaksud

memiliki

resiko

khasiat

keamanan

yang

dapat

dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.

2.10.5 Pelayanan Obat Wajib Apotek (OWA)


Obat keras yang dapat diserahkan oleh Apoteker kepada pasien di Apotek
tanpa resep dokter disebut Obat Wajib Apotek (OWA). Obat yang termasuk
dalam OWA ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
Apoteker di apotek dalam melayani pasien yang memerlukan obat wajib :
a.

Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien sesuai dengan
yang disebutkan dalam daftar obat wajib apotek.

b.

Membuat catatan pasien serta obat yang telah diserahkan.

c.

Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakainya, kontraindikasi,


efek samping dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan oleh pasien.
Penggolongan Daftar Obat Wajib Apotek dibagi menjadi:

a.

DOWA 1 (Keputusan Menteri Kesehatan 347/MenKes/SK/VII/1990)


Penggolongan obat wajib apotek 1 berdasarkan kelas terapi yaitu oral

kontrasepsi, obat saluran cerna, obat mulut dan tenggorokan, obat saluran napas,
obat yang memengaruhi sistem neuromuskular, antiparasit, obat kulit topikal.
b.

DOWA 2 (Permenkes 924/MenKes/PER/X/1993).


Obat wajib apotek 2 terdiri dari: albendazol, bacitracin, benorilate, bismuth

subcitrate, carbinoxamin, clindamicin, dexametason, dexpanthenol, diclofenac,


Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

32

diponium, fenoterol, flumetason, hydrocortison butirate, ibuprofen, isoconazol,


ketoconazol, levamizol, methylprednisolon, niclosamid, noretrison,omeprazol,
oxiconazole,

pipazetate,

piratiasin

kloroteofilin,

pirenzepine,

piroxicam,

polymixin B sulfate, prednisolon, scopolamine, silver sulfadiazin, suclarfare,


sulfasalazine, tioconazole, urea.
c.

DOWA III (Keputusan Menteri Kesehatan, 1176/MenKes/SK/X/1999)


Penggolongan obat wajib apotek 3 berdasarkan kelas terapi yaitu saluran

percernaan dan metabolisme, obat kulit, anti infeksi oral, sistem


muskuloskeletal.
Berdasarkan

keputusan

Menteri

Kesehatan

RI

No.

1176/MenKes/SK/X/1999, terdapat perubahan dengan dikeluarkannya beberapa


obat dari daftar obat wajib apotek 1 yaitu sebagai berikut:
1)

Obat saluran cerna yaitu antasida + sedatif/spasmodik dan antispasmodik +


analgesik

2) Obat mulut dan tenggorokan yaitu heksitidin


3) Obat saluran napas yaitu aminofilin suppositoria dan bromhexin
4) Obat yang memengaruhi sistem neuromuskular yaitu glafenin dan
metampiron + klordiazepoksid/diazepam.
5) Antiparasit yaitu mebendazol
6) Obat kulit topikal yaitu tolnaftat

2.11

Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika di Apotek

2.11.1 Pengelolaan Narkotika di Apotek


Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009,
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman,
baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa
nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam
golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang. Pengendalian
dan pengawasan narkotika, di Indonesia merupakan wewenang Badan POM.
Untuk mempermudah pengendalian dan pengawasan narkotika maka pemerintah
Indonesia hanya memberikan izin kepada PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. untuk
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

33

mengimpor bahan baku, memproduksi sediaan dan mendistribusikan narkotika di


seluruh Indonesia. Hal tersebut dilakukan mengingat narkotika adalah bahan
berbahaya yang penggunaannya dapat disalahgunakan. Secara garis besar
pengelolaan narkotika meliputi pemesanan, penyimpanan, pelayanan, pelaporan
dan pemusnahan (Umar, 2011).
1.

Pemesanan Narkotika
Untuk memudahkan pengawasan maka apotek hanya dapat memesan

narkotika ke PBF PT. Kimia Farma dengan menggunakan Surat Pesanan (SP)
khusus narkotika, yang ditandatangani oleh APA, dilengkapi dengan nama jelas,
stempel apotek, nomor SIK dan SIA. Surat pesanan terdiri dari empat rangkap.
Surat pesanan narkotika dilengkapi dengan nama dan tanda tangan APA, nomor
Surat Izin Apotek (SIA), tanggal dan nomor surat, alamat lengkap dan stempel
apotek. Satu surat pesanan hanya untuk satu jenis narkotika.
2.

Penyimpanan Narkotika
Apotek harus mempunyai tempat khusus untuk menyimpan narkotika dan

harus dikunci dengan baik. Tempat penyimpanan narkotika di apotek harus


memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Keputusan Menteri Kesehatan RI No 28,
1987):
a.

Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat.

b.

Harus mempunyai kunci yang kuat.

c.

Dibagi dua, masing-masing dengan kunci yang berlainan. Bagian pertama


dipergunakan untuk menyimpan morfin, petidin dan garam-garamnya serta
persediaan

narkotika

sedangkan

bagian

kedua

dipergunakan

untuk

menyimpan narkotika yang dipakai sehari-hari.


d.

Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40 x 80


x 100 cm, maka lemari tersebut harus dibaut melekat pada tembok atau lantai.

e.

Lemari khusus tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang lain selain
narkotika, kecuali ditentukan oleh Menteri Kesehatan.

f.

Anak kunci lemari khusus harus dipegang oleh pegawai yang dikuasakan.

g.

Lemari khusus harus ditempatkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh
umum.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

34

3.

Pelayanan Narkotika
Hal yang harus diperhatikan dalam penyerahan narkotika antara lain

(Undang-undang RI No. 35, 2009):


a.

Penyerahan narkotika hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, pusat
kesehatan masyarakat, balai pengobatan dan dokter.

b.

Apotek hanya dapat menyerahkan narkotika kepada rumah sakit, pusat


kesehatan masyarakat, apotek lainyya, balai pengobatan, dokter, dan pasien

c.

Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat, dan balai pengobatan


hanya dapat menyerahkan narkotika kepada pasien berdasarkan resep dokter.

d.

Penyerahan narkotika oleh dokter hanya dapat dilaksanakan untuk


menjalankan praktik dokter dengan memberikan narkotika melalui suntikan
dan menolong orang sakit dalam keadaan darurat dengan memberikan
narkotika melalui suntikan atau menjalankan tugas di daerah terpencil yang
tidak ada apotek

e.

Narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu yang diserahkan oleh
dokter hanya dapat diperoleh di apotek.

4.

Pelaporan Narkotika
Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika menyatakan

bahwa apotek wajib membuat, menyampaikan dan menyimpan laporan berkala


mengenai pemasukan dan/atau pengeluaran narkotika yang berada dalam
penguasaannya. Pelaporan penggunaan narkotika telah dikembangkan dalam
bentuk perangkat lunak atau program Sistem Pelaporan Narkotika dan
Psikotropika (SIPNAP) sejak tahun 2006 oleh Kementerian Kesehatan. Sistem
Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) adalah sistem yang mengatur
pelaporan penggunaan Narkotika dan Psikotropika dari Unit Layanan (Puskesmas,
Rumah Sakit dan Apotek) ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan
menggunakan pelaporan elektronik selanjutnya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
melaporkan ke tingkat yang lebih tinggi (Dinkes Provinsi dan Dit jen Binfar dan
Alkes) melalui mekanisme pelaporan online yang menggunakan fasilitas internet.
Laporan ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat
dengan tembusan kepada Kepala Balai Besar POM setempat, Dinas Kesehatan
Provinsi setempat, dan 1 salinan untuk arsip. Namun, penerapan undang-undang
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

35

ini belum dilaksanakan secara menyeluruh di Indonesia.


5.

Pemusnahan Narkotika
APA dapat memusnahkan narkotika yang rusak, kadaluarsa atau tidak

memenuhi syarat lagi untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan. Apoteker


Pengelola Apotek dan dokter yang memusnahkan narkotika harus membuat Berita
Acara Pemusnahan Narkotika yang sekurang-kurangnya memuat:
a. Nama, jenis, sifat, dan jumlah narkotika yang dimusnahkan.
b. Keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan dan tahun dilakukan
pemusnahan.
c. Tanda tangan dan identitas lengkap pelaksana dan pejabat yang menyaksikan
pemusnahan.
d. Cara pemusnahan dibuat Berita Acara Pemusnahan Narkotika dikirim kepada
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Balai POM.
Pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan dan pelaporan
narkotika dapat dikenai sanksi administratif oleh Menteri atas rekomendasi dari
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan berupa: teguran, peringatan, denda
administratif, penghentian sementara kegiatan atau pencabutan izin (Undangundang RI No. 35, 2009).

2.11.2 Pengelolaan Psikotropika di Apotek


Ruang lingkup pengaturan psikotropika adalah segala hal yang
berhubungan dengan psikotropika yang dapat mengakibatkan ketergantungan.
Tujuan pengaturan psikotropika yaitu:
a.

Menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan kesehatan


dan ilmu pengetahuan.

b.

Mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika.

c.

Memberantas peredaran gelap psikotropika.


Secara garis besar pengelolaan psikotropika meliputi:

a.

Pemesanan Psikotropika
Kegiatan ini memerlukan surat pesanan (SP), dimana satu SP bisa digunakan

untuk beberapa jenis obat. Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat
dilakukan kepada apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan,
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

36

dokter, dan pasien dengan resep dokter. Tata cara pemesanan adalah dengan
menggunakan SP yang ditandatangani oleh APA dilengkapi dengan nama jelas,
stempel apotek, nomor SIK dan SIA. Surat pesanan dibuat rangkap 3, dua lembar
untuk PBF dan 1 lembar untuk arsip apotek. Satu SP untuk beberapa jenis obat
psikotropika.
b.

Penyimpanan Psikotropika
Kegiatan ini belum diatur oleh perundang-undangan, namun karena

kecenderungan penyalahgunaan psikotropika, maka disarankan untuk obat


golongan psikotropika diletakkan tersendiri dalam suatu rak atau lemari khusus.
c.

Pelaporan Psikotropika
Apotek wajib membuat dan menyimpan catatan mengenai kegiatan yang

berhubungan dengan psikotropika dan melaporkan pemakaiannya setiap bulan.


Laporan ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat
dengan tembusan kepada Kepala Balai Besar POM setempat, Dinas Kesehatan
Provinsi setempat, dan 1 salinan untuk arsip.
d.

Pemusnahan Psikotropika
Kegiatan ini dilakukan bila berhubungan dengan tindak pidana, diproduksi

tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan atau tidak dapat
digunakan dalam proses produksi, kadaluarsa atau tidak memenuhi syarat untuk
digunakan pada pelayanan kesehatan dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan.
Pemusnahan psikotropika wajib dibuat Berita Acara dan dikirim kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Balai POM.

2.12

Pelayanan Informasi Obat


Pekerjaan kefarmasian di apotek tidak hanya pada pembuatan, pengolahan,

pengadaan, dan penyimpanan perbekalan farmasi, tetapi juga pada pelayanan


informasi obat (PIO). Tujuan diselenggarakannya PIO di apotek adalah demi
tercapainya penggunaan obat yang rasional, yaitu tepat indikasi, tepat pasien, tepat
regimen (dosis, cara, waktu, dan lama pemberian), tepat obat, dan waspada efek
samping. Dalam memberikan informasi obat, hendaknya seorang apoteker
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.

Mandiri, artinya bebas dari segala bentuk keterikatan dengan pihak lain yang
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

37

dapat mengakibatkan informasi yang diberikan menjadi tidak objektif.


b.

Objektif, artinya memberikan informasi dengan sejelas-jelasnya mengenai


suatu produk obat tanpa dipengaruhi oleh berbagai kepentingan.

c.

Seimbang, artinya informasi diberikan setelah melihat dari berbagai sudut


pandang yang mungkin berlawanan.

d.

Ilmiah, artinya informasi berdasarkan sumber data atau referensi yang dapat
dipercaya.

e.

Berorientasi pada pasien, maksudnya informasi tidak hanya mencakup


informasi produk seperti ketersediaan, kesetaraan generik, tetapi juga harus
mencakup informasi yang mempertimbangkan kondisi pasien.
Peran apoteker di apotek dalam pemberian informasi obat kepada pasien,

dokter, maupun tenaga medis lainnya sangat penting, mengingat apotek sebagai
sarana kesehatan masyarakat yang melayani masyarakat dengan cara memberikan
obat sesuai dengan kebutuhan pasien atau resepnya. Pelaksanaan pelayanan
informasi obat di apotek bertujuan agar obat dapat digunakan pasien secara
rasional, yaitu tepat indikasi, tepat pasien, tepat regimen, tepat obat, serta waspada
terhadap efek samping obat. Oleh karena itu, dibutuhkan peran aktif apoteker di
apotek untuk memberikan informasi obat kepada pasien, dokter serta tenaga medis
lain yang terlibat di apotek.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

BAB 3
TINJAUAN KHUSUS APOTEK SAMMARIE BASRA

3.1

Sejarah Singkat
Apotek SamMarie Basra berdiri pada tanggal 7 Desember 2005,

berdasarkan atas akta notaris Herawati, SH No. 7 tahun 2005. Apotek SamMarie
Basra di bawah naungan SamMarie Healthcare Group.

3.2

Lokasi, Bangunan, dan Tata Ruang Apotek


Apotek ini awalnya berlokasi di lantai 1 Gedung Samudra, dan saat ini

berlokasi di lantai dasar gedung Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) SamMarie
Basra Jalan Basuki Rachmat No 31 Jakarta Timur. Apotek berada dipinggir jalan
dua arah, yang dilalui oleh kendaraan umum, sehingga mudah dijangkau oleh
pasien dengan kendaraan umum serta memiliki halaman parkir yang cukup luas
untuk kendaraan pribadi. Lokasi apotek dapat dilihat pada Lampiran 1.
Bangunan Apotek memilik satu lantai yang terdiri dari ruang tunggu,
tempat penerimaan resep dan penjualan obat, ruang peracikan, penyimpanan obat,
alkes dan arsip, serta wastafel. Loket kasir, tempat istirahat pegawai dan toilet
digunakan bersama dengan RSIA SamMarie Basra. Desain apotek dapat dilihat
pada Lampiran 2 dan 3. Sedangkan denah apotek dapat dilihat pada Lampiran 4.
Apotek memiliki ruang peracikan yang terpisah dengan ruang tunggu
sehingga terhindar dari pandangan langsung konsumen. Ruang peracikan cukup
luas sehingga karyawan dapat leluasa bergerak. Ruang tunggu apotek tidak terlalu
besar karena biasanya pasien menunggu di ruangan tunggu RSIA.

3.3

Struktur Organisasi
Pemilik Sarana Apotek (PSA) ini adalah PT SamMarie Primafiat yang

dikelola oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA). Apoteker Pengelola Apotek


bertanggung jawab atas keseluruhan kegiatan di Apotek. Agar manajemen apotek
38

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

39

dapat berlangsung dengan baik dan mendapatkan hasil yang maksimal, suatu
apotek harus mempunyai struktur organisasi serta pembagian tugas dan tanggung
jawab yang jelas. Apotek mempunyai beberapa orang karyawan dengan rincian
sebagai berikut (dapat dilihat pada Lampiran 9):
Tenaga Teknis Farmasi yang terdapat di dalam Apotek SamMarie Basra
yaitu terdiri dari :
1. Apoteker Pengelola Apotek

: 1 orang

2. Asisten Apoteker

: 5 orang

Tenaga kerja di Apotek SamMarie Basra secara bergantian bekerja


berdasarkan shift-shift yang telah dibagi, yaitu shift pagi hingga siang (pukul
07.00 -14.00), shift siang hingga malam (pukul 14.00-21.00), dan shift malam
hingga pagi (pukul 21.00 - 07.00). Adapun tugas dan fungsi tiap karyawan yang
ada di apotek SamMarie Basra adalah sebagai berikut:
a. APA (Apoteker Pengelola Apotek)
Tugas dan tanggung jawab APA sebagai berikut:
1.

Menyelenggarakan pelayanan kefarmasian yang sesuai dengan fungsinya


(apotek sebagai tempat pengabdian profesi) dan memenuhi segala
keperluan perundang-undangan di bidang perapotekan yang berlaku.

2.

Memimpin

seluruh

kegiatan

manajerial

apotek

termasuk

mengkoordinasikan dan mengawasi dinas kerja Asisten Apoteker (AA)


antara lain mengatur daftar giliran kerja, menetapkan pembagian beban
kerja, dan tanggung jawab masing-masing karyawan.
3.

Bertanggung jawab terhadap kelancaran administrasi dan penyimpanan


dokumen penting.

4.

Memberikan Pelayanan Informasi Obat (PIO) kepada pasien untuk


mendukung penggunaan obat yang rasional.

5.

Melaksanakan pelayanan swamedikasi

6.

Memeriksa kebenaran obat yang akan diserahkan kepada pasien meliputi


bentuk sediaan obat, jumlah obat, nama obat, nomor resep, nama pasien
kemudian menyerahkan obat kepada pasien dan memberikan informasi
tentang penggunaan obat tersebut serta informasi tambahan lain yang
diperlukan.
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

40

b. Asisten Apoteker
Tugas dan fungsi AA sebagai berikut:
1.

Mendata keperluan barang

2.

Mengatur, mengawasi, dan menyusun obat pada tempat penyimpanan obat


di ruang peracikan.

3.

Memberi harga-harga untuk resep-resep yang masuk dan memeriksa


kelengkapan resep.

4.

Melayani permintaan obat bebas dan resep dokter, mulai dari penerimaan
resep, menyiapkan obat, meracik, menulis etiket, mengemas, sampai
dengan menyerahkan obat.

5.

Memeriksa kebenaran obat yang akan diserahkan kepada pasien meliputi


bentuk sediaan obat, jumlah obat, nama obat, nomor resep, nama pasien
kemudian menyerahkan obat kepada pasien dan memberikan informasi
tentang penggunaan obat tersebut serta informasi tambahan lain yang
diperlukan.

6.

Mencatat keluar masuk barang

7.

Melakukan pengecekan terhadap obat-obat yang mempunyai kadaluarsa

8.

Menyusun daftar masuknya barang dan menandatangani faktur obat yang


masuk setiap harinya.

9.

3.4

Membuat salinan resep bila diperlukan.

Kegiatan di Apotek
Pengadaan atau pembelian perbekalan farmasi, penyimpanan barang,

pembuatan obat racikan, dan penjualan merupakan kegiatan yang dilakukan di


apotek.
3.4.1

Pengadaan/Pembelian Perbekalan Farmasi


Apoteker Pengelola Apotek dan AA membuat surat pesanan (SP) untuk

melakukan pengadaan perbekalan farmasi yang dilaksanakan melalui pembelian


secara kredit dan dibayar satu kali setiap bulan yaitu 30 hari setelah pemesanan.
Sebelum dilakukan pengadaan obat terlebih dahulu dilakukan perencanaan
pengadaan obat berdasarkan kebutuhan dan berdasarkan buku defecta. SamMarie

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

41

Healthcare Group memiliki unit usaha berupa Pedagang Besar Farmasi (PBF)
yaitu Tramedifa. Barang-barang yang dipesan, kemudian diantar dan disertai
dengan faktur sebagai tanda bukti penyerahan barang. Untuk pemesanan cito
disampaikan melalui telepon, dimana SP menyusul ketika barang diantar. Barang
yang diterima, diperiksa keadaan fisiknya, tanggal kadaluarsa, jenis, dan jumlah
barang sesuai dengan yang tertera pada faktur dan SP. Asisten Apoteker dan APA
akan menandatangani faktur barang yang diterima apabila barang yang diterima
sesuai dengan pesanan. Faktur asli diberikan kepada distributor dan lembar
kopinya disimpan. Bila sudah cocok dengan faktur maka barang yang diterima
diinput ke komputer dan kartu stok.Alur pemesanan obat di Apotek SamMarie
Basra dapat dilihat di Lampiran 10. Adapun contoh surat pesanan dan faktur
pembelian dapat dilihat pada Lampiran 11 dan 12.

3.4.2 Penyimpanan dan Pengeluaran Barang


Barang diterima disimpan berdasarkan bentuk sediaan dan alfabetis
dengan sistem FIFO (First in First Out). Setiap jenis obat yang disimpan disertai
dengan kartu stok (contoh kartu stok dapat dilihat pada Lampiran 13). Obat bebas,
obat bebas terbatas, suplemen makanan, Over The Counter (OTC), dan beberapa
alat kesehatan diletakkan di etalase. Obat keras (generik dan paten) diletakkan
pada lemari dalam, sedangkan narkotika dan psikotropika disimpan di lemari
khusus. Obat yang membutuhkan penyimpanan khusus pada suhu rendah,
disimpan dalam lemari pendingin.

3.4.3 Penjualan
Kegiatan penjualan yang dilakukan meliputi pelayanan resep, penjualan
obat bebas dan alat kesehatan. Pelayanan resep dokter terdiri dari resep yang
dibayar tunai dan resep yang dibayar kredit melalui kasir RSIA.
a. Penjualan Resep yang dibayar tunai
Permintaaan obat tertulis dari dokter untuk pasien dan dibayar secara tunai
disebut sebagai penjualan resep yang dibayar tunai.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

42

b. Penjualan Resep yang dibayar kredit


Permintaaan obat tertulis dari dokter untuk pasien dan dibayar tidak secara
tunai disebut sebagai penjualan resep yang dibayar kredit.
Pasien melakukan pembayaran melalui jasa perusahaan asuransi yang
pembayarannya secara berjangka, berdasarkan perjanjian yang telah disetujui
bersama. Tagihan dibebankan kepada perusahaan yang bersangkutan. Apotek
mengadakan kerja sama dengan empat belas perusahaan asuransi diantaranya
Admedika, Gami medilum, Medika Plaza, PT. Interpay Kalindo, dan lain-lain.
c. Penjualan OTC
Barang yang dijual tanpa resep dokter disebut penjualan OTC, dan meliputi
obat bebas dan obat bebas terbatas,obat tradisional, kosmetika, perlengkapan
bayi, dan alat kesehatan.

3.5

Pengelolaan Narkotika dan Psikotropika


Pengelolaan obat golongan narkotika dan psikotropika memerlukan

pengawasan yang khusus. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya


penyalahgunaan yang dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya, tidak
saja bagi pengguna tetapi juga bagi masyarakat lainnya. Pengelolaan terhadap
narkotika dan psikotropika meliputi :
3.5.1

Pengadaan Narkotika dan Psikotropika


Pembelian narkotika pada Pedagang Besar Farmasi (PBF) Kimia Farma

sebagai distributor tunggal, pembelian tersebut dilakukan dengan menggunakan


surat pesanan narkotika rangkap 4 dimana satu surat pesanan hanya berlaku untuk
1 jenis narkotika dan ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA)
dengan mencantumkan nama jelas, nomor SIK, nomor SIA, jabatan, alamat
rumah, nama apotek serta stempel apotek.
Pada pesanan psikotropika dapat dilakukan pada Pedagang Besar Farmasi
resmi khususnya untuk penyaluran psikotropika rangkap 3 dengan menggunakan
surat pesanan psikotropika. Contoh Surat Pesanan Narkotika dan Psikotropika
dapat dilihat pada Lampiran 14 dan 15.

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

43

3.5.2

Penyimpanan Narkotika dan Psikotropika


Tempat khusus untuk menyimpan narkotika yaitu : lemari khusus yang

terbuat dari kayu yang dibagi dua, masing-masing dilengkapi dengan kunci yang
disimpan khusus dalam lemari obat. Bagian pertama untuk menyimpan persediaan
narkotika sedangkan bagian kedua untuk menyimpan psikotropika. Lemari ini
tidak digunakan untuk menyimpan obat atau barang lain selain narkotika dan
psikotropik.

3.5.3

Pelayanan Resep Narkotika dan Psikotropika


Apotek hanya melayani resep yang mengandung narkotika dari resep asli

atau salinan resep yang berasal dari apotek SamMarie Basra yang belum dilayani.
Narkotika yang dikeluarkan dicatat dalam software pemakaian narkotika untuk
laporan penggunaan narkotika. Untuk psikotropika yang dipakai juga dicatat
dalam software pemakaian psikotropika.

3.5.4 Laporan Penggunaan Narkotika dan Psikotropika


Setiap bulan, apotek wajib membuat laporan narkotika berdasarkan
pemasukan dan pengeluaran narkotika yang tercatat di buku harian penggunaan
narkotika. Data pemasukan dan pengeluaran narkotika serta psikotropika di
masukkan ke dalam sebuah software khusus. Hasil data laporan dikirim ke Seksi
Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Jakarta Timur dalam bentuk softcopy
dengan tembusan ke Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan dalam bentuk
hardcopy. Contoh laporan penggunaan narkotik dan psikotropik dapat dilihat pada
lampiran 16 dan 17.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

BAB 4
PEMBAHASAN

4.1. Sumber Daya Manusia


Sesuai ketentuan perundangan yang berlaku Apotek harus dikelola oleh
seorang apoteker yang profesional. Dalam pengelolaan Apotek, Apoteker
senantiasa harus memiliki kemampuan menyediakan dan memberikan pelayanan
yang baik, mengambil keputusan yang tepat, kemampuan berkomunikasi antar
profesi, menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multidisipliner,
kemampuan mengelola SDM secara efektif.
Apotek SamMarie Basra ini dikelola oleh Ibu Widia, S. Si., Apt sebagai
Apoteker Pengelola Apotek (APA) dan Pengelolaan juga dibantu oleh ke 5 (lima)
Asisten Apoteker (AA).

4.2 Lokasi dan Tata Ruang Apotek


Apotek SamMarie Basra ini berlokasi di pinggir jalan raya Basuki
Rachmat No 31, Jakarta Timur. Ditinjau dari lokasinya, apotek ini cukup strategis
karena berada di daerah padat penduduk dan jalan yang ramai lalu lintas
kendaraan bermotor. Tetapi apotek ini tidak mempunyai papan nama yang dapat
terlihat dari luar karena berada didalam RSIA SamMarie Basra lantai dasar,
sehingga masyarakat sekitarnya kurang mengetahui keberadaan apotek ini.
Apotek SamMarie Basra ini terletak di dalam RSIA SamMarie Basra yang
memiliki tempat parkir yang cukup luas sehingga memudahkan pasien untuk
memarkir kendaraannya. Selain itu juga kompetitor apotek ini terletak cukup jauh
dari RSIA SamMarie Basra.
Tata ruangan di apotik SamMarie Basra didesain secara sederhana dimana
terdiri dari ruang tunggu, ruang pelayanan, ruang peracikan, yang mendukung
pelaksanaan kegiatan apotek sehingga dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Pada ruang pelayanan Apotek SamMarie Basra terdapat papan nama apotek, serta
etalase obat Over The Counter (OTC) yang sudah tertata dengan baik dan
penataan barang-barang di etalase ruang pelayanan dipisahkan antara sediaan
farmasi dan perbekalan kesehatan. Sediaan farmasi yang terdiri dari obat-obat
44

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

45

bebas dan bebas terbatas ditata berdasarkan bentuk sediaan dan kelas terapinya.
Pada penataan ini diperhatikan pengaturan warna kotak kemasan. Hal ini
diperlukan untuk menarik minat pelanggan dalam membeli. Perbekalan kesehatan
dan rumah tangga, seperti perlengkapan bayi, susu formula, kosmetika, shampoo,
dan alat kesehatan tertentu seperti perban disusun berdasarkan jenisnya masingmasing. Obat-obat resep atau obat-obat keras ditata di etalase ruang peracikan
berdasarkan bentuk sediaan dan disusun menurut bentuk sediaan dan alfabetis
untuk memudahkan pengambilan obat..
Ruang tunggu apotek dilengkapi dengan kursi, pendingin ruangan, dan
ditambah dengan adanya televisi sehingga pasien dapat merasa nyaman selama
menunggu obat yang membutuhkan waktu penyiapan atau peracikan yang cukup
lama.
Ruang peracikan terpisah dari ruang pelayanan resep sehingga konsumen
tidak dapat melihat langsung proses peracikan obat, apabila ruang peracikan dapat
dilihat langsung oleh konsumen maka akan meningkatkan kewaspadaan dan
kehati-hatian petugas dalam bekerja. Pada ruang peracikan, penyimpanan obat
disusun berdasarkan alfabetis dan bentuk sediaan (tablet, sirup, krim, salep, obat
tetes, dan obat suntik).

Obat-obatan yang memerlukan penyimpanan khusus

seperti supositoria, ovula, vaksin, dan insulin disimpan dalam lemari pendingin.
Ruang peracikan terdapat 2 meja yang dapat digunakan oleh petugas dimana meja
pertama terdapat alat timbang, lumpang dan alu dan meja yang kedua terdapat
peralatan seperti alat untuk membungkus puyer, etiket dan plastik obat. Kedua
meja ini kurang besar sehingga cukup mempersulit petugas dalam menyiapkan
obat.

4.2. Struktur Organisasi


Struktur organisasi Apotek SamMarie Basra cukup sederhana dengan
SDM yang terdiri dari PSA, APA, dan Asisten Apoteker (AA). Untuk jam
kerjanya baik APA maupun AA dibagi menjadi 3 shift. Pada masing-masing shift,
setiap karyawan yang bertugas menjalankan fungsi ganda mulai dari pengadaan,

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

46

pembelian, penjualan, pelayanan dan dokumentasi. Tidak adanya pembagian tugas


yang jelas, akan mengakibatkan setiap karyawan harus saling berkoordinasi untuk
mempertanggungjawabkan tugasnya masing-masing.
Peranan apoteker dalam

bidang pelayanan

kefarmasian meliputi

perencanaan keperluan obat, pengadaan dan pendistribusian sediaan farmasi dan


alat kesehatan, serta pelayanan informasi obat. Oleh karena itu, seorang apoteker
dituntut untuk memiliki pengetahuan yang baik dalam bidang kefarmasian
meliputi penilaian mutu obat, dosis, indikasi, kontra indikasi, efek samping, cara
pakai dan sebagainya. Selain itu, apoteker juga harus memiliki kemampuan
manajerial yang baik agar apotek yang dipimpinnya semakin maju. Kemampuan
manajerial diantaranya berupa kemampuan pengelolaan sumber daya manusia,
fasilitas, dan peraturan apotek yang merupakan aset berharga.

4.3. Pengelolaan Apotek


a. Pengadaan Barang
Proses pengadaan dan pemesanan barang di Apotek SamMarie Basra
dilakukan berdasarkan buku permintaan (defecta) dengan memperhatikan arus
barang, fast moving atau slow moving. Pemesanan dan pembelian obat di apotek
biasanya dilakukan dengan membuat surat pemesanan (SP) yang ditandatangani
APA (dua rangkap) atau Asisten Apoteker kepada PBF (Pedagang Besar
Farmasi). Barang yang sudah dipesan biasanya akan dikirim oleh PBF pada hari
yang sama ketika obat tersebut dipesan. Obat-obat yang diterima oleh apotek dari
PBF diperiksa terlebih dahulu sesuai dengan surat pesanan barang, dilihat jumlah
barang, tanggal kadaluarsa dan kemasannya. Setelah selesai diperiksa kemudian
faktur ditandatangani oleh APA/AA yang bertugas. Faktur akan disimpan dan
dicatat dalam kartu stok dan sistem inventory obat. Faktur asli akan diserahkan ke
apotek dan PBF menerima tanda tukar faktur. Bila faktur akan jatuh tempo, maka
dilakukan pembayaran kepada PBF secara tunai oleh bagian keuangan RSIA.
Saat barang atau obat diterima dari PBF, dilakukan pencatatan ke dalam
kartu stok meliputi nomor dokumen, nomor batch, tanggal penerimaan barang,
nama barang, jumlah barang, dan tanggal kadaluarsa. Pengeluaran barang atau
obat dicatat dalam kartu stok dan diinput ke dalam komputer. Barang atau obat
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

47

yang diterima maupun yang dikeluarkan harus dicatat dalam kartu stok dan sistem
komputer yang terdiri dari dua warna, yaitu warna putih untuk sediaan oral (obat
dalam), dan warna hijau untuk sediaan topikal (obat luar). Dilakukan pula
pengecekan jumlah dan sisa barang/obat yang tertera dalam kartu stok dengan
persediaan yang ada dalam lemari penyimpanan.
Pemesanan narkotika dan psikotropika dilakukan dengan menggunakan
surat pemesanan khusus dan ditandatangani oleh APA. SP untuk Narkotika
ditujukan kepada PT. Kimia Farma sebagai distributor tunggal narkotika di
Indonesia, sementara untuk psikotropika dapat melalui PBF Tramedifa. Surat
pesanan narkotika terdiri dari 4 rangkap, yaitu untuk diberikan ke PBF (PT. Kimia
Farma), Balai POM, pabrik obat (PT. Kimia Farma), dan arsip, sedangkan untuk
psikotropika menggunakan surat pemesanan rangkap tiga yang diserahkan kepada
PBF Tramedifa, Balai POM, dan sebagai arsip.
Untuk mendokumentasikan jumlah obat yang masuk dan keluar, Apotek
SamMarie Basra memiliki kartu stok, yang masing-masing obat kartu stoknya
dijadikan satu dan disimpan didalam wadah penyimpanan. Pencatatan stok obat
disesuaikan dengan sistem inventory obat yang ada di komputer dan jumlah
barang yang tersedia. Blanko kartu stok obat di Apotek SamMarie Basra dapat
dilihat pada Lampiran 13.

b. Penyimpanan Barang
Obat disimpan berdasarkan bentuk sediaan, secara alfabetis dan dibedakan
antara obat generik dengan obat nama dagang, sehingga memudahkan dalam
pengambilan barang dan meniadakan resiko tertukarnya barang. Di apotek
SamMarie Basra terdapat gudang untuk menyimpan alat kesehatan. Pengantaran
obat oleh Pedagang Besar Farmasi (PBF), yang merupakan milik SamMarie
Healthcare Group, dilakukan pada hari yang sama dengan hari pemesanan. Hal
ini menguntungkan bagi apotek, karena tidak perlu menumpuk persediaan barang
yang akan menyebabkan over stock. Pengeluaran obat dilakukan dengan
menggunakan kombinasi dari sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First
Expired first out) dimana untuk sistem FIFO, penyimpanan berdasarkan pada obat
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

48

yang pertama kali masuk, sedangkan sistem FEFO berdasarkan pada obat yang
memiliki expire date terdekat.
Untuk narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus di dalam
lemari obat keras dengan keadaan terkunci. Penyimpanan narkotika dan
psikotropika sama seperti penyimpanan yang lainnya yaitu berdasarkan alfabetis
namun untuk penyimpanan narkotika dan psikotropika ini tidak dipisahkan
berdasarkan bentuk sediaan terkecuali obat yang membutuhkan perlakuan khusus
dimana penyimpanan tersebut di dalam kulkas.

c. Penjualan
Apotek SamMarie Basra melayani pelayanan obat, baik obat bebas
maupun obat berdasarkan resep. Apotek SamMarie Basra melayani obat-obat
racikan berdasarkan resep-resep dokter anak maupun dokter kulit. Untuk
pelayanan resep Apoteker melakukan skrining resep meliputi persyaratan
administratif, kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis. Dimulai dari
penerimaan resep oleh petugas apotek, pemberian harga, penimbangan/peracikan,
pengemasan, hingga penyerahan obat dan pelayanan informasi obat oleh petugas
apotek yang dilakukan oleh orang yang sama. Hal ini dapat menyebabkan
kesulitan dalam melakukan penelusuran bila terjadi penyimpangan.
Tahapan pelayanan resep di Apotek SamMarie Basra dimulai dari
penerimaan resep. Resep kemudian di skrining kelengkapan dan ketersediaan
obatnya. Selanjutnya karyawan apotek akan melakukan penginputan obat ke
komputer untuk mengetahui biaya yang harus dibayar pasien. Setelah diketahui
biaya yang harus dibayar oleh pasien selanjutnya pasien menuju ke kasir untuk
melakukan pembayaran. Resep yang telah dibayar dapat langsung disiapkan untuk
obat nonracik atau diracik untuk obat racikan. Pengerjaan resep di apotek
SamMarie Basra dapat dikatakan cukup cepat. Setelah itu, obat dikemas dan
dilakukan pemberian etiket. Pada etiket harus ditulis secara lengkap tanggal, nama
pasien, dan aturan pakainya. Etiket harus dituliskan dengan jelas agar tidak
menimbulkan persepsi yang salah bagi pasien. Etiket yang digunakan juga harus
benar, apakah etiket putih atau biru. Selanjutnya, obat-obat yang telah dikemas
dan diberi etiket diperiksa kembali oleh Asisten Apoteker. Pada bagian ini akan
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

49

diperiksa kesesuaian obat yang diminta konsumen, seperti jumlah, kekuatan obat,
aturan pakai, dan penulisan kopi resep. Pada saat penyerahan obat di apotek
SamMarie Basra, pemberian informasi mengenai obat yang diberikan kepada
pasien sudah cukup baik.

d. Pelaporan
Pelaporan yang dilakuakan oleh Apotek SamMarie Basra antara lain:
1. Pelaporan penggunaan narkotika dan psikotropika yang dilakukan setiap bulan
kepada Suku Dinas Jakarta Timur. Dalam pelaporan tersebut tertera nama obat
satuan, nama PBF, saldo awal obat, saldo akhir obat, dan penggunaan obat.
2. Pelaporan penjualan Apotek SamMarie Basra selama 1 bulan

e. Penyimpanan Resep
Penyimpanan resep di Apotek SamMarie Basra sudah dilakukan dengan
baik. Dalam satu bulan resep yang diterima disatukan dan disimpan dalam kotak
dan diberi label yang jelas.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1
a.

Kesimpulan
Peran dan fungsi apoteker pengelola apotek di Apotek SamMarie Basra
telah melaksanakan peran dan fungsinya sesuai dengan peraturan yang
berlaku.

b.

Pengelolaan teknis kefarmasian maupun non teknis kefarmasian telah


dilaksanakan dengan baik sesuai dengan peraturan yang berlaku.

5.2
a.

Saran
Untuk meningkatkan jumlah pengunjung apotek, sebaiknya dibuat papan
nama tersendiri khusus untuk apotek sehingga masyarakat lebih
mengetahui akan adanya apotek tersebut.

b.

Agar pelayanan kefarmasian dapat berjalan setiap saat, perlu seorang


apoteker pendamping, sehingga selalu tersedia apoteker di jam kerja
apotek

c.

Untuk meningkatkan pelayanan yang lebih optimal perlu diperjelas


tanggung jawab masing masing karyawan apotek.

d.

Hendaknya

sarana

dan

prasarana

harus

lebih

diperhatikan

dan

disempurnakan agar pelayanan terhadap masyarakat lebih optimal yang


pada akhirnya untuk kemajuan apotek.
e.

Hendaknya Pelayanan Informasi Obat dan mengenai swamedikasi lebih


ditingkatkan.

49

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR ACUAN

Anief, Moh. (1998). Manajemen Farmasi. Gadjah Mada University Press,


Yogyakarta.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan. (2008). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek (SK Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004).
Departemen Kesehatan RI.
Direktorat Jendral Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan. (2006) Standar
Pelayanan Kefarmaasian di Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. (1987). Peraturan Menteri Kesehatan
No.28/Menkes/PER/1978 tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. (1990). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
347/Menkes/SK/VII/1990
Tentang Obat Wajib Apotek. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
918/Menkes/Per/X/1993 Tentang Pedagang Besar Farmasi (PBF).
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan No.
924/Menkes/Per/X/1993 Tentang Daftar Obat Wajib Apotik No.2. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
922/Menkes/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian
Izin Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan No.
1176/Menkes/SK/X/1993 Tentang Daftar Obat Wajib Apotik No.3.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1332/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 992/Menkes/PER/X/1993 Ketentuan dan Tata Cara
Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

50

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

51

Kementerian Kesehatan RI. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1027


Tahun 2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2009). Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009
Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Umar, Muhammad. (2011). Manajemen Apotek Praktis cetakan keempat. Jakarta:
Wira Putra Kencana.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.
Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.
Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
Jakarta.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

LAMPIRAN

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Lampiran 1. Denah Lokasi Apotek SamMarie Basra

52

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

53

Lampiran 2. Desain Apotek SamMarie Basra

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

54

Lampiran 3. Desain ruang racik Apotek SamMarie Basra

a. Meja racik obat

b. Lemari penyimpanan obat

c. Lemari penyimpanan alat kesehatan

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

55

Lampiran 4. Denah Ruangan Apotek SamMarie Basra

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

56

Lampiran 5. Form resep

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

57

Lampiran 6. Salinan Resep

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

58

Lampiran 7. Etiket Obat

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

59

Lampiran 8. Plastik Pembungkus Obat

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

60

Lampiran 9. Struktur Organisasi Apotek SamMarie Basra

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

61

Lampiran 10. Alur Pemesanan dan Penerimaan Obat

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

62

Lampiran 11. Surat Pesanan

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

63

Lampiran 12. Faktur Pembelian

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

64

Lampiran 13. Kartu Stok Barang

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

65

Lampiran 14. Surat Pesanan Narkotika

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

66

Lampiran 15. Surat Pesanan Psikotropika

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

67

Lampiran 16. Laporan Penggunaan Narkotika

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

68

Lampiran 17. Laporan Penggunaan Psikotropika

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS KHUSUS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER


DI APOTEK SAMMARIE BASRA
JL. BASUKI RACHMAT NO. 31 JAKARTA TIMUR
PERIODE 16 SEPTEMBER 25 OKTOBER 2013

BROSUR SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI KESEHATAN


TENTANG KEPUTIHAN PADA WANITA

DEWI SANTY LOPA, S. Farm.


1206329493

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JANUARI 2014

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

ii

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .....................................................................................


DAFTAR ISI ..................................................................................................
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................

i
ii
iii
iii

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ........................................................................
1.2. Tujuan .....................................................................................

1
2

BAB 2. TINJAUAN UMUM


2.1. Definisi Keputihan ..................................................................
2.2. Klasifikasi Keputihan .............................................................
2.3. Patofisiologi Keputihan ....... ....................................................
2.4. Penyebab Keputihan ................................................................
2.5. Tanda dan Gejala Keputihan ...................................................
2.6. Diagnosis Keputihan ...............................................................
2.7. Penatalaksanaan Keputihan .....................................................
2.8. Pengobatan Keputihan . ...........................................................
2.9. Pencegahan Keputihan ............................................................
2.10 Komunikasi ..... .......................................................................
2.11. Komunikasi Kesehatan ............................................................
2.12. Brosur ............. . .......................................................................

4
4
5
5
8
9
10
10
13
14
16
18

BAB 3. METODE PENGKAJIAN ..............................................................


3.1. Waktu dan Tempat Pengkajian .................................................
3.2. Metode Pengkajian ...................................................................
3.3. Tahapan Pengkajian..

19
19
19
19

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN.........................................................


4.1 Hasil.........................................................................................
4.2 Pembahasan .............................................................................

20
20
22

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN .. 25


5.1. Kesimpulan ............................................................................ 25
5.2. Saran ...................................................................................... 25
DAFTAR ACUAN ........................................................................................

ii

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

26

Universitas Indonesia

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Ilustrasi poin a komunikasi kesehatan .......................................


Gambar 2.2. Ilustrasi poin b komunikasi kesehatan .......................................
Gambar 2.3. Ilustrasi poin c komunikasi kesehatan .......................................
Gambar 4.1. Hasil brosur sisi 1 ................................................................ .......
Gambar 4.2. Hasil brosur sisi 2 ................................................................ .......

14
15
15
20
21

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Bagan penatalaksanaan keputihan ..............................................


Lampiran 1 (Lanjutan). Bagan penatalaksanaan keputihan .............................
Lampiran 2. Resep yang terdapat obat keputihan ............................................
Lampiran 2 (Lanjutan). Resep yang terdapat obat keputihan ..........................

iii

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

28
29
30
31

Universitas Indonesia

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui
komunikasi kesehatan oleh tenaga-tenaga kesehatan, termasuk apoteker.
Komunikasi kesehatan adalah proses untuk mengembangkan atau membagi pesan
kesehatan kepada audiens tertentu dengan maksud mempengaruhi pengetahuan,
sikap,

dan

keyakinan

mereka

tentang

pilihan

perilaku

hidup

sehat.

Informasi-informasi yang diberikan melalui komunikasi tersebut diharapkan dapat


diterima masyarakat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga
kualitas hidup masyarakat dapat meningkat.
Masalah kesehatan reproduksi pada wanita perlu mendapat penanganan
serius, karena masalah tersebut paling banyak muncul pada negara berkembang
seperti Indonesia, dimana kurang tersedianya akses untuk mendapat informasi
mengenai kesehatan reproduksi. Buktinya banyak penelitian yang menyatakan
rendahnya tingkat pengetahuan mengenai kebersihan organ genitalia pada wanita
(Widyastuti, 2009).
Keputihan atau dalam istilah medis fluor albus atau leukore adalah semua
pengeluaran cairan dari alat genitalia yang bukan darah, berupa cairan agak kental
dan berwarna putih. Keputihan ada yang fisiologik (normal) dan ada yang
patologik (tidak normal). Keputihan bukan penyakit tersendiri, tetapi merupakan
manifestasi gejala dari hampir semua penyakit pada organ reproduksi wanita
(Manuaba, 2005). Keputihan fisiologik dapat terjadi pada masa pertengahan siklus
menstruasi yaitu sekitar dua minggu setelah haid dan bertepatan dengan waktu
ovulasi. Cairan keputihan juga dapat muncul pada wanita yang mendapatkan
rangsangan seksual dan wanita hamil juga bisa mengalami keputihan yang
merupakan pengaruh hormonal (Zubier, 2002).
Keputihan fisiologik terjadi karena pengaruh hormon, berupa cairan jernih,
berwarna putih, agak kental, tidak berbau dan jumlahnya tidak berlebih.
Keputihan patologik berupa cairan keruh, berwarna keabuan, kekuningan bahkan
1

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

kehijauan, berbau amis, busuk atau tanpa bau, sekret cair hingga kental,
jumlahnya berlebih, gatal, rasa nyeri, tergantung pada ringan dan beratnya infeksi.
Keputihan patologik dapat disebabkan oleh bakteri seperti Gonococcus,
Chlamydia, Trichomatis, Gardnerella vaginalis, adanya infeksi jamur seperti
Candida albicans dan adanya infeksi parasit seperti Trichomonas vaginalis, serta
adanya infeksi virus seperti Human Papiloma Virus dan Herpes Simplex Virus
atau kanker pada leher rahim. Penyebab lain dapat berupa adanya benda asing,
penyakit pada organ reproduksi wanita, penyakit menahun atau kronis, dan
gangguan hormon (Benson & Pernoll, 2008).
Keputihan patologik bila tidak diobati dengan tuntas akan berakibat buruk
pada kesehatan. Infeksi tersebut dapat merambat ke rongga rahim, kemudian naik
ke saluran telur, dan akhirnya bisa sampai ke dalam rongga panggul. Perempuan
yang mengalami keputihan akibat infeksi berulang atau menahun, yang tidak
diobati secara tuntas bisa mengalami kemandulan akibat gangguan pada organ
reproduksi. Keputihan juga bisa jadi merupakan tanda adanya penyakit lain yang
lebih parah seperti tumor pada organ reproduksi (Zubier, 2002).
Pengetahuan dan perilaku dalam menjaga kebersihan genitalia merupakan
faktor penting dalam pencegahan keputihan (Ratna, 2010). Sehingga perlu
meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap masalah ini, dengan pemberian
informasi, antara lain mengenai masalah keputihan itu sendiri, faktor risiko, serta
pencegahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Berdasarkan fenomena diatas,
maka penulis tertarik untuk berperan serta dalam masalah keputihan dengan
membuat brosur sebagai media komunikasi kesehatan yang informatif dan
menarik, yang berisi mengenai hal-hal yang terkait dengan keputihan, meliputi
definisi, penyebab timbulnya keputihan, gejala, pengobatan, serta pencegahan
keputihan.
1.2 Tujuan
Tujuan Pembuatan tugas khusus ini adalah untuk :
1. Sosialisasi masalah keputihan melalui media komunikasi kesehatan berupa
brosur yang berisi upaya penanganan dan pengobatan agar masyarakat
dapat lebih mencegah dan mengobati keputihan secara dini.
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

2. Lebih memahami mengenai komunikasi kesehatan, dengan komunikasi


kesehatan yang terus-menerus baik melalui brosur atau peraga lainnya
akan membantu masyarakat dalam memahami tentang kesehatan
khususnya keputihan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Keputihan


Keputihan atau dalam istilah medis disebut fluor albus (fluor artinya cairan
kental, albus artinya putih) atau leukore secara umum adalah semua pengeluaran
cairan kental berwarna putih dari alat genitalia wanita, yakni vagina. Keputihan
bukan penyakit tersendiri, tetapi merupakan manifestasi gejala dari hampir semua
penyakit kandungan (Manuaba, 2005). Keputihan merupakan gejala keluarnya
cairan dari vagina selain darah haid. Keputihan ada yang fisiologik (normal) dan ada
yang patologik (tidak normal). Keputihan bukan merupakan penyakit tersendiri,
melainkan salah satu tanda atau gejala dari suatu penyakit organ reproduksi wanita
(Potter dan Perry, 2005).

2.2 Klasifikasi Keputihan (Mariana, 2012)


Keputihan menurut penyebabnya, dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
2.2.1 Keputihan Fisiologik
Keputihan fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa sekret
berwarna putih, tidak berbau, dan jumlahnya tidak berlebih yang mengandung
banyak epitel dengan leukosit yang jarang. Keputihan fisiologik ditemukan pada :
a. Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, terjadi karena pengaruh
estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin.
b. Waktu di sekitar menars karena pengaruh estrogen dan akan hilang sendiri.
c. Wanita dewasa, apabila dirangsang sebelum dan pada waktu koitus
disebabkan oleh pengaruh transudasi dari dinding vagina.
d. Masa subur wanita, sebelum dan sesudah menstruasi karena kadar hormon
estrogen meningkat, sekret yang keluar dari kelenjar-kelenjar serviks uteri
menjadi lebih encer.
e. Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada
wanita dengan penyakit menahun, dengan kelainan jiwa neurosis.

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

2.2.2 Keputihan Patologik


Keputihan yang menimbulkan rasa gatal, nyeri di dalam vagina atau di
sekeliling vulva dengan warna cairan yang bervariasi dari warna putih kekuningan
sampai keabu-abuan bahkan kehijauan, dengan konsistensi cair sampai kental atau
berbentuk seperti gumpalan susu, dan berbau busuk atau berbau amis maupun
tanpa bau. Keputihan patologik utamanya disebabkan oleh infeksi (jamur, bakteri,
parasit, virus). Dapat juga terjadi akibat adanya benda asing dalam vagina,
gangguan hormonal akibat menopaus, kelainan bawaan dari alat kelamin wanita,
adanya kanker atau keganasan pada alat kelamin terutama di leher rahim.

2.3 Patofisiologi Keputihan (Mariana, 2012)


Keputihan fisiologik terjadi karena pengaruh hormon estrogen dan
progesteron yang berubah keadaannya terutama pada saat siklus haid, sehingga
jumlah dan konsistensi sekresi vagina berbeda. Sekresi meningkat pada saat
ovulasi atau sebelum haid. Pada saat menjelang ovulasi, hormon estrogen akan
meningkat jumlahnya, dan dua atau tiga hari setelah ovulasi hormon estrogen
akan kembali menurun dan digantikan oleh meningkatnya hormon progesteron,
sampai menjelang akan haid kembali, demikian seterusnya.
Flora normal dalam vagina dapat menyesuaikan diri dengan perubahan
hormonal, sehingga tidak terjadi gangguan. Laktobasili mengubah glikogen dalam
cairan vagina menjadi asam laktat. Asam laktat ini mempertahankan keasaman
vagina dan mencegah pertumbuhan bakteri yang merugikan. Bila kadar salah satu
atau kedua hormon berubah secara dramatis, keseimbangan pH yang ketat ini
akan terganggu. Laktobasili tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga
mudah terjadi infeksi.

2.4 Penyebab Keputihan (Benson dan Pernoll, 2008)


Penyebab terjadinya keputihan bermacam-macam yaitu :
1. Infeksi kuman (bakteri)
a. Gonococcus, bakteri ini menyebabkan penyakit akibat hubungan seksual yang
paling sering ditemukan, yaitu gonore. Pada laki-laki penyakit ini
menyebabkan kencing nanah, sedangkan pada perempuan menyebabkan
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

keputihan. Penyakit ini paling sering disebabkan oleh bakteri jenis Neisseria
gonorrhoeae.
b. Chlamydia trachomatis, menyebabkan penyakit pada mata yang dikenal dengan
penyakit trakoma, kuman ini juga ditemukan pada cairan rongga vagina.
Chlamydia trachomatis merupakan bakteri penyebab penyakit menular seksual
secara vaginal, anal, atau oral, dan dapat mengakibatkan bayi tertular dari
ibunya selama masa persalinan.
c. Gardnerella vaginalis, merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit
menular seksual dengan manifestasi keputihan.
2. Infeksi jamur
Jamur yang menyebabkan keputihan adalah spesies kandida, terutama
Candida albicans. kandida merupakan penghuni normal rongga mulut, usus besar,
dan vagina. Bila jamur kandida di vagina terdapat dalam jumlah banyak maka
dapat menyebabkan keputihan yang dinamakan kandidosis vaginalis. Gejala yang
timbul sangat bervariasi, tergantung dari berat ringannya infeksi.
Proses infeksi dimulai dengan perlekatan kandida pada sel epitel vagina.
Kemampuan melekat ini lebih baik pada Candida albicans dari pada spesies
kandida lainnya. Kemudian kandida mensekresikan enzim proteolitik yang
mengakibatkan kerusakan ikatan protein sel penjamu sehingga memudahkan
proses invasi. Selain itu, kandida juga mengeluarkan mikro toksin diantaranya
glikotoksin yang mampu menghambat aktivitas fagositosis dan menekan sistem
imun lokal. Terbentuknya kolonisasi kandida memudahkan proses imunisasi
tersebut

berlangsung

sehingga

menimbulkan

gejala

pada

penjamu

(Clayton, 2005).
3. Infeksi parasit
Parasit yang paling banyak menyebabkan keputihan adalah Trichomonas
vaginalis, parasit ini menimbulkan penyakit yang dinamakan trikomoniasis,
biasanya ditularkan melalui hubungan seksual.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

4. Infeksi virus
Keputihan akibat infeksi virus sering disebabkan oleh Virus Herpes
Simplex (VHS) tipe dua dan Human Papilloma Virus (HPV) yang ditularkan
melalui hubungan seksual. Infeksi HPV telah terbukti dapat meningkatkan
timbulnya kanker serviks, penis, dan vulva. Sedangkan VHS tipe dua dapat
menjadi faktor pendamping.
5. Penyakit organ kandungan
Keputihan juga dapat timbul jika ada penyakit di organ kandungan,
misalnya peradangan, tumor ataupun kanker. Tumor, misalnya papiloma, sering
menyebabkan keluarnya cairan encer, jernih, dan tidak berbau. Pada kanker rahim
atau kanker serviks (leher rahim), cairan yang keluar bisa banyak disertai bau
busuk dan kadang disertai darah.
6. Penyakit menahun atau kronis
Kelelahan, anemia (kurang darah), sakit yang telah berlangsung lama,
perasaan cemas, kurang gizi, usia lanjut, terlalu lama berdiri di lingkungan yang
panas, peranakan turun (prolaps uteri), dan dorongan seks tidak terpuaskan dapat
juga menimbulkan keputihan. Keputihan juga berhubungan dengan keadaan lain
seperti penyakit kencing manis (diabetes mellitus), kehamilan, memakai
kontrasepsi yang mengandung estrogen-progesteron seperti pil KB atau memakai
obat steroid jangka panjang.
7. Gangguan keseimbangan hormon
Hormon estrogen yang dihasilkan oleh indung telur akan berkurang pada
perempuan menjelang dan sesudah menopous (tidak haid). Akibatnya dinding
vagina menjadi kering, produksi glikogen menurun dan Lactobacilli menghilang.
Keadaan tersebut menyebabkan menghilangnya suasana asam sehingga vagina
dan uretra mudah terinfeksi dan sering timbul gatal. Akibat rasa gatal di vagina,
maka garukan yang sering dilakukan menyebabkan terjadinya luka-luka yang
mudah terinfeksi dan menyebabkan keputihan. Kekurangan atau hilangnya
estrogen juga dapat diakibatkan dibuangnya kedua ovarium (indung telur) akibat

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

kista atau kanker, atau karena radiasi (penyinaran) indung telur yang terserang
kanker.
8. Adanya benda asing
Benda asing di vagina akan merangsang produksi cairan yang berlebihan.
Pada wanita dewasa benda asing dapat berupa tampon, kondom yang tertinggal
didalam akibat lepas saat melakukan senggama, cincin pesarium yang dipasang
pada penderita hernia organ kandungan (prolaps uteri), atau adanya IUD pada
perempuan yang ber-KB spiral.

2.5 Tanda dan Gejala Keputihan (Monalisa dkk, 2012)


a. Keputihan akibat Neisseria gonorrhoeae
Tanda spesifik keputihan yaitu keluar sekret kental berwarna kuning
kehijauan dari vagina, bahkan dapat terjadi pendarahan. Tanda lainnya, rasa nyeri
pada bagian panggul bawah, sering berkemih dan nyeri saat buang air kecil.
b. Keputihan akibat Chlamydia trachomatis
Tanda spesifik keputihan yakni produksi cairan vagina yang berlebih, serta
rasa terbakar saat akan buang air kecil. Tanda lainnya, bercak-bercak darah di luar
masa menstruasi, keluhan nyeri perut yang tidak biasa, servisitis (peradangan pada
serviks uterus atau mulut rahim) dan radang panggul.
c. Keputihan akibat Gardnerella vaginalis
Tanda spesifik keputihan yakni warna sekret putih keruh keabu-abuan,
sekret agak lengket dan berbau amis disebabkan adanya amino yang menguap bila
cairan vagina menjadi basa sehingga terlepasnya amino dari perlekatannya pada
protein dan vitamin yang menguap mengakibatkan bau yang khas. Tanda lainnya
yaitu disertai rasa gatal dan panas pada vagina.
d. Keputihan akibat Candida albicans
Tanda spesifik keputihan diantaranya cairan yang keluar biasanya kental,
berwarna putih susu dan bergumpal seperti susu pecah. Tanda lainnya yaitu
daerah vulva (bibir genitalia) dan vagina meradang, vagina terasa panas, gatal dan
nyeri yang hebat.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

e. Keputihan akibat Trichomonas vaginalis


Tanda spesifik keputihan yakni sekret vagina berwarna kuning kehijauan,
berbusa kecoklatan yang mungkin banyak, berbau tak sedap. Tanda lainnya yaitu
biasanya disertai dengan gejala gatal dibagian labia mayora, nyeri saat kencing
dan terkadang sakit pinggang. Pada kasus yang berat, peradangan vulva dan
perineum, terdapat bintik merah strawberry cervix di dinding vagina dan
permukaan serviks.
f. Keputihan akibat VHS tipe dua atau HPV
Tanda dan gejala yang timbul pada keputihan akibat infeksi VHS tipe dua
dan HVP berupa rasa terbakar, nyeri, atau rasa kesemutan pada organ genital.
Terdapat

gelembung-gelembung kecil (vesikel) berisi cairan, berkelompok,

dengan dasar kemerahan yang cepat pecah dan membentuk tukak yang basah.
Dapat disertai keluhan nyeri sewaktu berkemih dan radang pada mulut rahim.

2.6 Diagnosis Keputihan (Tierney, 1998)


Diagnosis dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik yang dimulai
pada mulut vagina dan muara saluran kemih (uretra). Apabila terdapat cairan,
dilihat konsistensi, warna, jumlah, dan tanda khusus seperti busa atau gumpalan,
serta diperhatikan apakah terdapat bau.
a. Keputihan fisiologik
Keputihan fisiologik biasanya putih jernih, lendirnya encer, muncul saat
ovulasi, menjelang haid dan saat mendapat rangsangan seksual. Keputihan normal
tidak gatal, tidak berbau dan tidak menular karena tidak ada sumber infeksi serta
jumlahnya tidak berlebih.
b. Keputihan Patologik
Keputihan patologik dapat didiagnosa dengan anamnesa oleh dokter yang
telah berpengalaman dengan menanyakan keluhan pasien dengan ciri-ciri; jumlah
banyak, warnanya seperti susu basi, atau kekuning-kuningan sampai hijau, disertai
rasa gatal, perih, terkadang berbau amis dan berbau busuk. Pemeriksaan khusus
dengan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebabnya, apakah jamur,
bakteri atau parasit.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

10

Keputihan bukan merupakan penyakit tetapi hanya suatu gejala penyakit,


sehingga penyebab yang pasti perlu ditetapkan. Oleh karena itu, untuk mengetahui
adanya suatu penyakit perlu dilakukan berbagai pemeriksaan cairan yang keluar
dari alat genitalia tersebut. Pemeriksaan terhadap keputihan meliputi pewarnaan
Gram (untuk infeksi jamur dan bakteri), preparat basah (infeksi trikomonas),
preparat KOH (infeksi jamur), kultur atau pembiakan (menentukan jenis bakteri
atau jamur penyebab), dan pap smear (untuk menentukan adanya sel ganas)
(Manuaba, 2002).

2.7 Penatalaksanaan Keputihan (Mariana, 2012)


Penatalaksanaan keputihan meliputi usaha pencegahan dan pengobatan
yang bertujuan untuk menyembuhkan seorang penderita dari penyakitnya, tidak
hanya untuk sementara tetapi untuk seterusnya dengan mencegah infeksi
berulang. Apabila keputihan yang dialami adalah yang fisiologik tidak perlu
pengobatan, cukup hanya menjaga kebersihan pada bagian organ genitalia.
Apabila keputihan yang patologik, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter,
tujuannya menentukan lokasi bagian yang sakit dan darimana keputihan itu
berasal. Melakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat tertentu akan lebih
memperjelas dalam penegakkan diagnosa. Kemudian merencanakan pengobatan
setelah melihat kelainan yang ditemukan. Keputihan patologik yang paling sering
dijumpai yaitu keputihan yang disebabkan oleh kandida, dan trikomonas.
Penatalaksanaan yang adekuat menggabungkan terapi farmakologi dan terapi
nonfarmakologi. Penatalaksanaan keputihan selengkapnya dapat dilihat pada
Lampiran 1 (MIMS, 2011/2012).

2.8 Pengobatan Keputihan (Iso Farmakoterapi, 2008)


a. Terapi Farmakologi
1. Pengobatan keputihan yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae
terdapat beberapa pilihan pengobatan rekomendasi dan alternatif yakni :

Siprofloksasin oral 250 mg, 1x1 selama 3 hari (rekomendasi tanpa


komplikasi)

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

11

Siprofloksasin oral 250-500 mg, 2x1 selama 7-10 hari (rekomendasi


dengan komplikasi.

Seftriakson intramuskular 125 mg, dosis tunggal (rekomendasi)

Sefiksim oral 400 mg, dosis tunggal (rekomendasi)

Kanamisin intramuskular 2 g, dosis tunggal (alternatif).

2. Pengobatan keputihan yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis dapat


diberi pilihan pengobatan yang direkomendasikan dan alternatifnya, yaitu :

Doksisiklin oral 100 mg, 2x1 selama 7 hari (rekomendasi)

Azitromisin oral 1 g, dosis tunggal selama 7 hari (rekomendasi)

Tetrasiklin (alternatif)

Oral 500 mg, dengan dosis 4x1 selama 7 hari atau

Oral 250 mg, dengan dosis 4x1 selama 14 hari

Eritromisin (alternatif)

Oral 500 mg, dengan dosis 4x1 selama 7 hari atau

Oral 250 mg, dengan dosis 4x1 selama 14 hari

Ofloksasin oral 300 mg, 2x1 selama 7 hari (alternatif).

3. Pengobatan keputihan yang disebabkan oleh Gardnerella vaginalis, pilihan


pengobatan yang menjadi rekomendasi yaitu (Owen dkk, 2004) :

Metronidazol (rekomendasi)

Oral 500 mg, dosis 2x1 selama 7 hari

Gel 0,75% selama 5 hari

Klindamisin (rekomendasi)

Oral 300 mg, 2x1 selama 7 hari

Krim 2%, selama 7 hari.

4. Pengobatan keputihan yang disebabkan oleh Candida albicans, terdiri dari


beberapa pilihan pengobatan yang dijadikan sebagai obat rekomendasi dan
alternatif adalah :

Klotrimazol (rekomendasi)

1 tablet intravaginal (500 mg) pada malam hari selama 7


hari
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

12

Krim 1% selama 7 hari

Mikonazol (rekomendasi)

Krim 2 % selama 7 hari

100 mg tablet intravaginal diberikan sekali sehari untuk 7


hari

Flukonazol oral 150 mg sebagai dosis tunggal (rekomendasi)

Ketokonazol oral 200 mg (alternatif)

(infeksi berat), 1x2 tablet pada waktu makan.

(infeksi ringan) 1x1 tablet pada waktu makan

Nistatin 1-2 ovula saat malam, paling sedikit 2 minggu (alternatif).

5. Keputihan yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis dapat diberikan


beberapa pilihan pengobatan (Crowel dkk, 2003) yaitu :

Metronidazol oral 500 mg, 2x1 selama 7 hari

Tinidazol oral 500 mg, 2x1 selama 5 hari.

b. Terapi Non Farmakologi (Bobak dkk, 2005)


Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan cara-cara di bawah ini :
1. Perubahan Tingkah Laku
Keputihan yang disebabkan oleh jamur lebih cepat berkembang di
lingkungan yang hangat dan basah maka untuk membantu penyembuhan, pasien
dianjurkan untuk menjaga kebersihan alat kelamin dan sebaiknya menggunakan
pakaian dalam yang terbuat dari katun serta tidak menggunakan pakaian dalam
yang ketat. Keputihan dapat ditularkan melalui hubungan seksual dari pasangan
yang terinfeksi, oleh karena itu sebaiknya pasangan harus mendapat pengobatan
juga.
2. Kebersihan diri
Memperhatikan kebersihan diri sangat membantu penyembuhan. Alat
kelamin harus dijaga agar tetap bersih dan kering, seperti penggunaan tisu basah
atau produk panty liner harus betul-betul steril. Bahkan, kemasannya pun harus
diperhatikan. Jangan sampai menyimpan sembarangan, misalnya tanpa kemasan
ditaruh dalam tas bercampur dengan barang lainnya. Karena bila dalam keadaan
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

13

terbuka, bisa saja panty liner atau tisu basah tersebut sudah terkontaminasi.
Memperhatikan kebersihan setelah buang air besar atau kecil. Setelah bersih,
mengeringkan dengan tisu kering atau handuk khusus. Alat kelamin jangan
dibiarkan dalam keadaan lembab.
3. Pengobatan Psikologis
Pendekatan psikologik penting dalam pengobatan keputihan. Tidak jarang
keputihan yang mengganggu pada wanita, ketika dilakukan pemeriksaan
laboratorium gagal menunjukkan infeksi, semua pengujian telah dilakukan tetapi
hasilnya negatif, namun masalah atau keluhan tetap ada. Keputihan tersebut tidak
disebabkan oleh infeksi melainkan karena gangguan psikologi seperti kecemasan,
depresi, hubungan yang buruk, atau beberapa masalah psikologi lainnya.
Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan konsultasi dengan ahli psikologi. Selain
itu, perlu dukungan dari keluarga agar tidak terjadi depresi.

2.9 Pencegahan Keputihan (Ratna, 2010)


Pencegahan dapat di lakukan dengan cara :
a. Selalu menjaga kebersihan diri, terutama kebersihan alat kelamin. Rambut
vagina atau pubis yang terlampau tebal dapat menjadi tempat sembunyi kuman.
b. Biasakan untuk membasuh vagina dengan cara yang benar, yaitu dengan
gerakan dari depan ke belakang. Cuci dengan air bersih setiap selesai buang air
dan mandi. Jangan lupa untuk tetap menjaga vagina dalam keadaan kering.
c. Hindari suasana vagina yang lembab berkepanjangan karena pemakaian celana
dalam yang basah, jarang diganti dan tidak menyerap keringat. Usahakan
menggunakan celana dalam terbuat dari bahan katun yang menyerap keringat.
Pemakaian celana jeans terlalu ketat juga meningkatkan kelembaban daerah
vagina. Ganti tampon atau panty liner pada waktunya.
d. Hindari menggunakan larutan antiseptik khusus vagina secara berlebihan,
karena akan mematikan flora normal, mengganggu keasaman vagina dan
membuat iritasi.
e. Penggunaan bedak di area vagina dapat menjadi media pertumbuhan bakteri,
sehingga sebaiknya dihindari.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

14

f. Perhatikan kebersihan lingkungan dengan cara membersihkan bak mandi,


ember, kloset, dengan antiseptik untuk menghindari berkembangnya kuman.
g. Setia kepada pasangan merupakan langkah awal untuk menghindari keputihan
disebabkan oleh infeksi yang menular melalui hubungan seksual.

2.10 Komunikasi (Kurniasih, 2007)


Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk
atau melakukan pertukaran informasi satu sama lainnya, yang akhirnya timbul
saling pengertian yang mendalam. Komunikasi juga dapat diartikan sebagai
proses pengalihan suatu ide dari komunikator (orang yang menyampaikan pesan
kepada orang lain) kepada satu atau lebih komunikan (orang yang menerima
pesan dari orang lain), dengan maksud untuk mengubah tingkah laku.
Adapun tujuan dari komunikasi adalah perubahan sikap (attitude change),
perubahan pendapat (opinion change), perubahan perilaku (behaviour change),
dan perubahan sosial (social change).
Prinsip komunikasi dapat diibaratkan dua buah lingkaran yang bertindihan
satu sama lain. Daerah yang bertindihan disebut kerangka pengalaman (field of
experience), yang menunjukkan adanya persamaan antara A dan B dalam hal
tertentu, misalnya bahasa atau simbol.
a. Komunikasi hanya bisa terjadi bila terdapat pertukaran pengalaman yang sama
antara pihak-pihak yang terlibat dalam proses komunikasi (sharing similar
experiences).

[Sumber: Kurniasih, 2007]

Gambar 2.1. Ilustrasi poin a komunikasi kesehatan

b. Jika daerah tumpang tindih (the field of experience) menyebar menutupi


lingkaran A atau B, menuju terbentuknya satu lingkaran yang sama, maka
makin besar kemungkinannya tercipta suatu proses komunikasi yang mengena
(efektif).
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

15

[Sumber: Kurniasih, 2007]

Gambar 2.2. Ilustrasi poin b komunikasi kesehatan

c. Namun, jia daerah tumpang tindih ini makin mengecil dan menjauhi sentuhan
kedua lingkaran atau cenderung mengisolasi lingkaran masing-masing, maka
komunikasi yang terjadi sangat terbatas. Bahkan besar kemungkinannya gagal
dalam menciptakan suatu proses komunikasi yang efektif.

[Sumber: Kurniasih, 2007]

Gambar 2.3. Ilustrasi poin c komunikasi kesehatan

Ada beberapa bentuk komunikasi, yaitu :


a.

Komunikasi persona: komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau


lebih secara tatap muka.

b.

Komunikasi kelompok: komunikasi antara seseorang dengan sekelompok


orang dalam situasi tatap muka dan saling berinterkasi satu sama lainnya.

c.

Komunikasi massa: komunikasi yang disalurkan melalui pemancar-pemancar


audio-visual dan ditujukan kepada khalayak yang luar biasa banyaknya,
contoh pers, radio, TV, dan film.

d.

Komunikasi media: komunikasi yang menggunakan alat/ media, contoh surat,


telepon, pamflet, brosur, poster, dan spanduk.
Sifat komunikasi, antara lain tatap muka (face to face); bermedia

(mediated); verbal (menggunakan bahasa lisan/ oral atau tulisan/ cetak); serta
nonverbal (isyarat badaniah/ gestura dan bergambar/ pictorial).
Teknik-teknik komunikasi adalah sebagai berikut:

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

16

a. Komunikasi informatif (informative communication): komunikasi yang


dilakukan agar orang lain tahu dan memahami.
b. Komunikasi

persuasif

(persuasive

communication):

komunikasi

yang

dilakukan agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan.
c. Komunikasi instruktif/ koersif (instructive/ coersive communication): adalah
komunikasi yang dilakukan agar orang lain melakukan suatu perbuatan atau
kegiatan.
d. Hubungan manusiawi (human relatios): komunikasi antarpersona yang
hubungan antara orang-orang yang berkomunikasi tersebut mengandung unsur
kejiwaan yang amat mendalam.

2.11 Komunikasi Kesehatan


Komunikasi kesehatan adalah proses untuk mengembangkan atau
membagi pesan kesehatan kepada audiens tertentu dengan maksud mempengaruhi
pengetahuan, sikap, dan keyakinan mereka tentang pilihan perilaku hidup sehat.
Hal-hal yang tercakup dalam komunikasi kesehatan, antara lain :
a. Komunikasi persuasif atau komunikasi yang berdampak pada perubahan
perilaku kesehatan.
b. Faktor-faktor psikologis individual yang mempengaruhi persepsi terhadap
kesehatan.
c. Pendidikan kesehatan yang bertujuan memperkenalkan perilaku hidup sehat
melalui informasi dan pendidikan kepada individu.
d. Pemasaran sosial yang bertujuan untuk memperkenalkan atau mengubah
kearah perilaku positif dengan mengintervensi informasi kesehatan yang
bermanfaat bagi komunitas.
e. Penyebarluasan informasi kesehatan melalui media.
f. Advokasi/pendampingan melalui komunitas, kelompok, atau media massa
yang bertujuan untuk memperkenalkan kebijakan, peraturan, dan programprogram untuk memperbaharui kesehatan.
g. Risiko komunikasi bertujuan untuk menyebarluaskan informasi yang benar
mengenai risiko yang dihadapi masyarakat terhadap informasi kesehatan,

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

17

termasuk dampak penggunaan informasi yang salah mengenai kesehatan dan


mengusulkan cara-cara untuk mengatasi kesalahan informasi.
h. Komunikasi dengan pasien, meliputi informasi untuk individu mengenai
kondisi kesehatan, cara memaksimalkan perawatan, dan pemberian terapi.
i. Informasi kesehatan untuk para konsumen.
j. Merancang health entertain atau hiburan yang mengandung informasi
kesehatan

meliputi

pilihan

jenis

hiburan

sebagai

event

untuk

mengkomunikasikan tema-tema kesehatan individu dan masyarakat.


k. Komunikasi kesehatan interaktif yaitu komunikasi kesehatan yang dilakukan
melalui media interaktif sehingga terjadi dialog dan diskusi antara sumber
dengan penerima melalui media massa.
Tujuan dari komunikasi kesehatan adalah :
a. Tujuan Strategis
1. Meneruskan informasi kesehatan dari sumber kepada pihak lain

secara

berangkai.
2. Memberikan informasi akurat untuk

memungkinkan pengambilan

keputusan.
3. Memperkenalkan perilaku hidup sehat.
4. Mendukung pertukaran informasi kesehatan secara emosional.
5. Memperkenalkan pemeliharaan diri sendiri.
6. Memenuhi permintaan layanan kesehatan.
b. Tujuan Praktis
1. Meningkatkan pengetahuan.
2. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan berkomunikasi efektif.
3. Membentuk sikap dan perilaku berkomunikasi.
Manfaat komunikasi kesehatan, antara lain :
a. Memahami interaksi antara kesehatan dengan perilaku individu.
b. Meningkatkan kesadaran tentang isu kesehatan, masalah atau solusi.
c. Dapat melakukan strategi intervensi pada tingkat komunitas.
d. Menghadapi disparitas pemeliharaan kesehatan antar-etnik atau antar-ras
dalam masyarakat.
Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

18

e. Menampilkan

ilustrasi

keterampilan,

menggambarkan

berbagai

jenis

keterampilan untuk memelihara kesehatan, pencegahan, advokasi, atau sistem


layanan kesehatan kepada masyarakat.
f. Menjawab permintaan terhadap layanan kesehatan
g. Memperkuat infrastruktur kesehatan masyarakat di masa yang akan datang.
h. Memperbaharui peranan para profesional di bidang kesehatan masyarakat,
misalnya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para profesional
kesehatan, memperkuat infrastruktur kesehatan, dan membangun kemitraan.

2.12 Brosur
Penggolongan media komunikasi berdasarkan cara produksi yaitu media
cetak dan media elektronik. Brosur merupakan satu diantara dari contoh media
komunikasi media cetak. Menurut UNESCO, brosur adalah terbitan tidak berkala
yang tidak dijilid keras, lengkap (dalam satu kali terbitan), memiliki paling sedikit
lima halaman tetapi tidak lebih dari 48 halaman, di luar perhitungan sampul.
Menurut geneticalliance, pada brosur kesehatan dicantumkan mengenai deskripsi
penyakit (pengertian, penyebab), pengobatan, pencegahan, cara gaya hidup yang
dianjurkan. Brosur dibuat ditujukan untuk menginformasikan, mengedukasi dan
membujuk. Informasi dalam brosur ditulis dengan bahasa yang ringkas dan
dimaksudkan agar mudah dipahami dalam waktu singkat.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

BAB 3
METODE PENGKAJIAN

3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian


Pengkajian dilakukan pada tanggal 16 September-25 Oktober 2013 yang
bertempat di Apotek Sammarie Basra, Jl. Basuki Rachmat No. 31 Jakarta Timur.
3.2 Metode Pengkajian
Metode yang digunakan dalam pengkajian ini adalah observasi atau
pengamatan langsung berdasarkan resep obat keputihan yang diterima di apotek
sammarie basra pada bulan September-Oktober 2013 cukup banyak, sehingga
dilakukan pengkajian mengenai keputihan serta obat-obatan yang biasa diberikan
untuk pasien oleh dokter dan dibuat melalui media komunikasi kesehatan yakni
brosur. Contoh resep yang terdapat obat keputihan dapat dilihat pada Lampiran 2.
3.3 Tahapan Pengkajian
1. Melakukan penelusuran dan peninjauan terhadap literatur (pustaka) yang
didapat dari sumber sekunder maupun tersier.
2. Pustaka tersebut digunakan penulis untuk mendapatkan informasi dari
berbagai hal mengenai komunikasi kesehatan, dan media komunikasi
kesehatan yakni brosur serta mengenai keputihan yaitu definisi, klasifikasi,
penyebab, mekanisme serta pengobatan dan pencegahan yang tepat
dilakukan dalam menangani keputihan.
3. Informasi yang didapat tersebut kemudian diolah oleh penulis menjadi
suatu brosur yang menarik dan informatif, sehingga dapat bermanfaat bagi
masyarakat dengan menggunakan program Microsoft Publisher.

19

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Gambar 4.1 Hasil brosur sisi 1


20

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

21

Gambar 4.2 Hasil brosur sisi 2

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

22

4.2 Pembahasan
Apotek merupakan salah satu sarana kesehatan yang digunakan sebagai
tempat pembelian sediaan farmasi sekaligus tempat untuk masyarakat
mendapatkan informasi seputar terapi pengobatan. Informasi yang cukup sering
ditanyakan sebagian besar merupakan seputar masalah kesehatan yang diderita
oleh wanita, salah satunya adalah keputihan (fluor albus atau leukore).
Swamedikasi dapat dilakukan untuk penanganan keputihan yang ringan pada
wanita, namun pasien perlu mendapatkan informasi akurat terkait langkah
penanganan keputihan. Satu diantara media pemberian informasi di apotek dapat
ditunjang dengan tersedianya brosur tentang keputihan, sehingga pasien setelah
mendapatkan informasi di apotek dapat didukung dengan pemberian brosur ini
untuk diterapkan dalam kehidupan masing-masing.
Keputihan adalah semua pengeluaran cairan dari organ reproduksi wanita
yang bukan darah, berupa cairan putih, jernih, agak kental dan tidak berbau.
Keputihan ada yang fisiologik (normal) dan ada yang patologik (tidak normal).
Keputihan bukan penyakit tersendiri, tetapi merupakan manifestasi gejala dari
hampir semua penyakit pada organ reproduksi wanita (Manuaba, 2005).
Keputihan fisiologik dapat terjadi pada masa pertengahan siklus menstruasi yaitu
sekitar dua minggu setelah haid dan bertepatan dengan waktu ovulasi. Cairan
keputihan juga dapat muncul pada wanita yang mendapatkan rangsangan seksual
dan wanita hamil juga bisa mengalami keputihan yang merupakan pengaruh
hormonal (Zubier, 2002). Keputihan fisiologik terjadi karena pengaruh hormon,
berupa cairan jernih berwarna putih, agak kental, tidak berberbau dan jumlahnya
tidak berlebih. Keputihan patologik berupa cairan keruh, berwarna putih keabuan,
kekuningan bahkan kehijauan, berbau amis, busuk atau tanpa bau, sekret cair
hingga kental, jumlahnya berlebih, gatal, rasa nyeri, tergantung pada ringan dan
beratnya infeksi. Penyebab timbulnya keputihan ini juga beragam. keputihan
dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, parasit, virus dan lingkungan yang
kotor, dan konsumsi beberapa obat tertentu. Keputihan dianggap sebagai gejala
ringan yang banyak diderita, namun jika tidak dikenali dan ditangani dengan
benar maka akan berakibat fatal. Oleh karena itu, perlu dibuat suatu media

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

23

informatif yang dapat dibaca oleh masyarakat terutama pelanggan apotek


khususnya para wanita agar dapat mengenali keputihan yang dideritanya.
Brosur mengenai keputihan ini mencakup definisi, penyebab, tanda dan
gejala keputihan, pengobatan, serta pencegahan untuk mengatasi keputihan.
Brosur dibuat ringkas agar masyarakat dapat mudah memahami langkah-langkah
apa yang harus dilakukan untuk mencegah keputihan dan menanggulanginya.
Pembuatan brosur keputihan ini akan disediakan dan diberikan di Apotek
Sammarie Basra untuk pasien maupun pelanggan apotek. Jika pasien
menginginkan informasi yang lebih lanjut dapat menghubungi apoteker di apotek.
Peran apoteker menjadi hal yang penting dalam pelaksanaan swamedikasi,
khususnya swamedikasi mengenai keputihan. Apoteker harus menginformasikan
kepada pasien mengenai pemilihan obat yang tepat sesuai dengan kondisi
keputihan yang diderita, sehingga pasien memperoleh obat yang tepat dan efektif.
Pembuatan brosur kesehatan ini merupakan salah satu upaya untuk mengajak
masyarakat hidup sehat. Dengan adanya brosur kesehatan seperti ini, diharapkan
masyarakat dapat menyadari betapa pentingnya hidup sehat agar terhindar dari
berbagai macam penyakit, meskipun bukan penyakit yang parah ataupun
mematikan.
Komunikasi kesehatan adalah proses untuk mengembangkan atau
membagi pesan kesehatan kepada audiens tertentu dengan maksud mempengaruhi
pengetahuan, sikap, dan keyakinan mereka tentang pilihan perilaku hidup sehat
(Kurniasih, 2007). Manfaat komunikasi kesehatan, selain untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat tentang isu kesehatan, masalah atau solusi, juga untuk
memperbaharui peranan para profesional di bidang kesehatan masyarakat,
misalnya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para profesional
kesehatan, memperkuat infrastruktur kesehatan, serta membangun kemitraan
(Kurniasih, 2007). Dapat disimpulkan bahwa manfaat komunikasi kesehatan tidak
hanya dapat dirasakan masyarakat namun juga bagi para profesional kesehatan,
termasuk apoteker. Informasi-informasi yang diberikan melalui komunikasi
kesehatan ini diharapkan dapat diterima masyarakat dan diterapkan dalam
kehidupan sehari-harinya, sehingga kualitas hidup masyarakat dapat meningkat.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

24

Melalui tugas khusus Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) ini peserta
mencoba mengaplikasikan komunikasi kesehatan melalui media dengan
pembuatan brosur yang berisi informasi mengenai keputihan. Pemilihan keputihan
sebagai topik disebabkan karena di apotek tempat PKPA banyak menerima resep
dari dokter yang berisi obat keputihan, selain itu keputihan ini paling sering
dialami oleh wanita. Keputihan dapat terjadi pada setiap wanita dan pada usia
berapa saja. keputihan juga bisa merupakan gejala penyakit lain yang lebih parah.
Hal ini menyebabkan perlunya meningkatkan kewaspadaan khususnya para
wanita terhadap masalah ini. Peningkatan kewaspadaan dapat dilakukan dengan
pemberian informasi, antara lain mengenai masalah keputihan itu sendiri, faktor
yang mempengaruhi, serta pencegahan yang dapat dilakukan oleh setiap wanita.
Konten atau isi mengenai keputihan yang dimuat dalam brosur ini sangat
sederhana karena lebih ditujukan bagi masyarakat awam khususnya wanita, bukan
bagi profesional kesehatan. Selain itu, informasi yang diberikan lebih kepada
penyebab yang mungkin terjadi karena kebiasaan sehari-hari dan pencegahan
yang dapat dilakukan oleh setiap wanita.

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan

1. Brosur dibuat dengan tujuan memberikan informasi yang ringkas dan menarik
untuk mensosialisasikan masalah keputihan pada wanita beserta upaya-upaya
penanganan dan pengobatannya agar masyarakat dapat menangani masalah
keputihan sejak dini.
2. Komunikasi kesehatan adalah proses untuk mengembangkan atau membagi
pesan kesehatan kepada audiens dan masyarakat umumnya dengan maksud
mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan keyakinan mereka tentang pilihan
perilaku hidup sehat. Manfaat komunikasi kesehatan, selain untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu kesehatan, masalah atau
solusi, juga untuk memperbaharui peranan para profesional di bidang
kesehatan masyarakat, misalnya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
para profesional kesehatan, memperkuat infrastruktur kesehatan, serta
membangun kemitraan.

5.2

Saran

1. Media brosur yang dibuat diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai media


komunikasi kesehatan untuk memberikan informasi mengenai keputihan.
Pembuatan media lain seperti kalender, leaflet, atau poster-poster kesehatan
mengenai penyakit lain sebaiknya juga dilakukan untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat..
2. Selain dengan media tertulis, apoteker diharapkan dapat melakukan
komunikasi aktif dan juga secara langsung membantu masyarakat dalam
mengetahui dan memahami tentang informasi kesehatan.

25

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

DAFTAR ACUAN

Benson, R.C., & Pernoll, M. L. (2008). Buku saku obstetric & ginekologi.
Jakarta : EGC.
Bobak, Lowdermilk, & Jensen. (2005). Buku ajar keperawatan maternitas.
Jakarta : EGC.
Clayton, Caroline, 2005. Keputihan dan Infeksi Jamur Kandida Lain. Jakarta:
Arcan.
Crowell, A. L., K. A. Sanders Lewis, and W. E. Secor. 2003. In vitro
metronidazole and tinidazole activities against metronidazole-resistant
strains of Trichomonas vaginalis. Antimicrob. Agents Chemother.
47:1407-1409.
Kurniasih. (2007). Komunikasi dan Konseling. Paper presented at Kuliah
Komunikasi dan Konseling Program Profesi Apoteker, Depok.
Manuaba, IBG. (2002). Memahami kesehatan reproduksi wanita. Jakart : EGC.
Manuaba, IBG. (2005). Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga
berencana untuk pendidikan bidan. Jakarta : EGC.
Mariana Risa Evi. (2012). Keputihan (Fluor Albus) Pada Wanita. Al Ulum
Vol.51 No.1 Januari 2012 halaman 41-46.
Mims Indonesia petunjuk konsultasi edisi 11 2011/2012.
Monalisa., Abdul rahman bubakar., Muhammad Dali Amiruddin., 2012. Clinical
Aspect Flour Albus of female and Treatment. Makasar : UNHAS
Owen, Marion K., Timothy L Clenney. 2004. Management of vaginitis. America :
Family Physian. 70:11
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2005). Buku ajar fundamental keperawatan: konsep,
proses dan praktik. Edisi 4.Jakarta: EGC.
Ratna. (2010). Pentingnya menjaga organ kewanitaan. Jakart : Indeks.
Sukandar Yulinah Elin, dkk. (2009). Iso Farmakoterapi. Penerbit : PT. ISFI
Penerbitan-Jakarta.

26

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

Universitas Indonesia

27
Tierney, Lawrence. 1998. Medical Diagnosis dan Treatment. 37th edition. USA :
Appleton and Lange
Widyastuti, Y. (2009). Kesehatan reproduksi.Yogyakarta: Fitramaya.
Zubier, Farida. (2002). Keputihan kapan perlu dicemaskan?. Diperoleh tanggal
30 September 2013 dari
http://ceria.bkkbn.go.id/ceria/referensi/media/detail/312

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

28

Lampiran 1. Bagan penatalaksanaan keputihan

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

29

Lampiran 1 (Lanjutan). Bagan penatalaksanaan keputihan

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

30

Lampiran 2. Resep yang terdapat obat keputihan

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

31

Lampiran 2 (Lanjutan). Resep yang terdapat obat keputihan

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014

32

Universitas Indonesia

Laporan praktek.., Dewi Santy, FFar UI, 2014