Anda di halaman 1dari 20

ANALISIS PERHITUNGAN

HARGA POKOK PRODUKSI SKETSEL DENGAN


METODE FULL COSTING
(Studi Kasus pada Meubel Jawa Indah Antique di Jepara)

PEMBIMBING:
H. ICHWAN MARISAN, S.E., M.Si.
SOLIKUL HIDAYAT, S.E., M.Si.

PROPOSAL METODELOGI PENELITIAN


Disusun Oleh:
NOVA SEFBRIYANI
131120001130

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA
JEPARA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Industri meubel merupakan salah satu sektor industri yang terus berkembang di
Indonesia. Kebutuhan akan produk-produk dari industri meubel terus meningkat karena
sektor industri ini memberikan desain interior serta nilai artistik yang dapat memberikan
kenyamanan sehingga dapat menunjang berbagai aktifitas. Meubel Indonesia kini juga
berperan penting sebagai sumber devisa bagi negara karena peminat produk tidak hanya di
dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Keadaan ini membuat para produsen meubel bersaing
untuk menghasilkan produk yang berkualitas sesuai dengan keinginan konsumen. Faktor
yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli suatu produk adalah kualitas.
Kualitas produk yang baik akan meningkatkan loyalitas pelanggan serta mampu menjaga
persaingan dengan para kompetitor.
Persaingan tentu membuat suatu perusahaan harus mempunyai suatu metode dalam
menghadapi kompetitor salah satunya metode harga pokok produksi, yang memiliki tingkat
kepastian

relatif

tinggi. Di dalam perhitungan harga pokok produksi, informasi yang

dibutuhkan adalah informasi mengenai biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya
overhead pabrik. Ketiga jenis biaya tersebut harus ditetukan secara cermat, baik dalam
pencatatan maupun penggolongannya.
Dalam menentukan harga pokok produksi dapat menggunakan dua metode yaitu
metode full costing dan variable costing. Pada metode full costing semua biaya-biaya
diperhitungkan baik yang bersifat tetap maupun variabel. Sedangkan pada metode variable
costing untuk menentukan harga pokok produksi hanya biaya-biaya produksi variable saja
yang dimasukkan dalam persediaan dan biaya pokok penjualan.
Dengan perhitungan harga pokok produksi, perusahaan dapat mengetahui biaya
produksi yang akan dikeluarkan begitupun dengan perhitungan harga pokok produksi yang
tepat maka akan mengakibatkan penetapan harga jual yang benar, tidak terlalu tinggi bahkan
terlalu rendah dari harga pokok, sehingga nantinya mampu menghasilkan laba sesuai dengan
yang diharapkan. Pada dasarnya tujuan dari perhitungan harga pokok produksi adalah:
1. Sebagai dasar untuk menetapkan harga jual suatu produk
2. Untuk menetapkan keuntungan atau laba yang diinginkan perusahaan
3. Sebagai alat untuk mengukur atau menilai efisiensi dari proses produksi.

Untuk meningkatkan efisiensi serta efektivitas proses produksi yang berkualitas,


industri meubel saat ini tidak saja menuntut perusahaan untuk memproduksi barang
sebanyak-banyaknya namun bagaimana produsen barang tersebut tepat dalam metode
perhitungan harga produksi. Apabila perhitungan harga pokok produksi kurang tepat dalam
perhitungannya, maka yang akan terjadi adalah harga barang produksi terlalu tinggi sehingga
dapat mengakibatkan produk yang ditawarkan perusahaan akan sulit bersaing dengan produk
sejenis yang ada di pasar sehingga produk tidak diminati konsumen, sebaliknya apabila
harga terlalu rendah memang akan menarik minat konsumen untuk membeli produk hasil
produksi perusahaan namun hal ini juga mengakibatkan laba yang diperoleh perusahaan
rendah sehingga hasil penjualan tidak dapat menutup biaya produksi apabila keadaan ini
terus berlanjut maka akan menyebabkan kebangkrutan perusahaan.
Jawa Indah Antique adalah salah satu industri menengah yang mengembangkan
usahanya dalam kategori industri meubel, yang menghasilkan produk berupa daun pintu jati,
kusen pintu, gebyok ukir, kursi antik, sketsel, dll. Dalam hal memproduksi produk,
perusahaan semaksimal mungkin mempertahankan kualitas yang sudah terjaga sejak lama.
Mempertahankan produk tentunya juga sangat berhubungan erat dengan proses harga pokok
produksi yang akan dikeluarkan oleh perusahaan.
Perusahaan menghitung proses penentuan harga pokok produksi dengan cara membagi
seluruh biaya yang akan dikeluarkan untuk memproduksi dengan jumlah produk yang akan
dihasilkan. Cara tersebut dinilai kurang memadai dan tidak menghasilkan harga pokok
produk yang wajar. Perusahaan semestinya melakukan penghitungan harga pokok produksi
berdasarkan pengumpulan dan penggolongan sesuai dengan fungsi pokoknya dalam
perusahaan.
Untuk

mengetahui

apakah

perusahaan

telah

melakukan

pengumpulan

dan

penggolongan biaya serta penentuan harga pokok produksinya secara tepat, maka diperlukan
adanya evaluasi di dalamnya. Dengan adanya evaluasi tersebut, diharapkan nantinya akan
dapat digunakan dalam berbagai pengambilan keputusan. Di sisi lain penentuan harga pokok
produksi yang wajar akan dapat dipakai dalam penentuan laba rugi perusahaan, sehingga
dapat mencerminkan laba yang sesungguhnya yang menjadi tujuan dari perusahaan.

1.2. Ruang Lingkup Penelitian


Pada penelitian ini, penulis membatasi penelitian pada harga pokok produksi sketsel
dikarenakan peminat dari sketsel yang relatif banyak. Penelitian ini didasarkan pada metode
full costing yang umumnya digunakan pada industri kecil dan menengah karena industri ini
masih menggunakan proses pencatatan biaya yang relatif sederhana. Dengan menggunakan
metode full costing maka akan memperoleh biaya produksi yang tepat dan dapat menentukan
harga jual yang kompetitif di pasar.
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan perhitungan harga pokok
produksi yang akurat dan efisien pada Jawa Indah Antique.
1.3. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka timbul perumusan masalah sebagi berikut :
1) Bagaimana perhitungan harga pokok produksi sketsel dengan metode full costing?
2) Bagiamana perbedaan antara metode full costing dengan metode yang digunakan oleh
Jawa Indah Antique dalam perhitungan harga pokok produksi sketsel?
1.4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah:
1) Menganalisa perhitungan harga pokok produksi sketsel dengan menggunakan metode
full costing.
2) Menganalisa perbedaan antara metode full costing dan metode yang digunakan oleh
Jawa Indah Antique dalam perhitungan harga pokok produksi gebyok ukir
1.5. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian yang dapat di ambil dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1) Bagi peneliti,
Penelitian ini bermanfaat dalam menambah wawasan dan pengetahuan mengenai
perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan metode full costing.
2) Bagi perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan perusahaan dalam
mengetahui biaya yang akurat melalui perhitungan harga pokok produksi yang
sesuai.
3) Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai bahan referensi bagi peneliti lainnya untuk menyempurnakan penelitian
selanjutnya yang sifatnya sejenis serta memberikan wawasan yang relatif luas

mengenai perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan metode full


costing.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
Untuk mendukung dan mempermudah dalam memahami maksud dan tujuan penelitian
yang telah dikemukakan pada bab I, diperlukan literatur tentang teori-teori yang berhubungan
dengan masalah yang diteliti. Adapun ulasan berbagai literatur mengenai teori tersebut
adalah sebagai berikut:
Harga Pokok Produksi

Harga pokok produksi merupakan akumulasi dari biaya-biaya yang dibebankan


kedalam produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Harga pokok produksi juga digunakan
oleh perusahaan sebagai dasar dari harga jual suatu produk serta dapat membantu perusahaan
dalam menentukan kebijakan-kebijakan dalam pengelolaan perusahaan.
2.1.1.
Pengertian Harga Pokok Produksi Menurut Para Ahli
a. Menurut Hansen dan Mowen dalam bukunya Management Accounting adalah
sebagai berikut :
Harga pokok produksi adalah mewakili jumlah biaya barang yang diseleseikan
pada periode tertentu. (2004 ; 48)
b. Menurut Supriyono dalam bukunya Sistem Pengendalian Manajemen adalah
sebagai berikut :
Harga pokok produksi adalah aktiva atau jasa yang dikorbankan atau diserahkan
dalam proses produksi yang meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya
overhead pabrik dan termasuk biaya produksi. (2002 ; 11)
c. Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:49), harga pokok produksi adalah:
Kumpulan biaya produksi yang terdiri dari bahan baku langsung, tenaga kerja
langsung, dan biaya overhead pabrik ditambah persediaan produk dalam proses awal
dan dikurang persediaan produk dalam proses akhir. Harga pokok produksi terikat
pada periode waktu tertentu. Harga pokok produksi akan sama dengan biaya
produksi apabila tidak ada persediaan produk dalam proses awal dan akhir.
Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa harga pokok produksi adalah
biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk pada waktu tertentu yang terdiri
dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.
2.1.2.

Manfaat Harga Pokok Produksi

Menurut Mulyadi (2010:65) dalam perusahaan berproduksi umum, informasi harga


pokok produksi yang dihitung untuk jangka waktu tertentu bermanfaat bagi manajemen
untuk:
1. Menentukan harga jual produk
Dalam penetapan harga jual produk, biaya produksi per unit merupakan salah satu
data yang dipertimbangkan, disamping data biaya lain serta data non biaya.
2. Memantau realisasi biaya produksi
Jika rencana produksi untuk jangka waktu tertentu telah diputuskan untuk dilakukan,
manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang sesungguhnya dikeluarkan
dalam pelaksanaan rencana produksi tersebut, Oleh karena itu akuntansi biaya

digunakan untuk mengumpulkan informasi biaya produksi, yang dikeluarkan dalam


jangka waktu tertentu untuk memantau apakah proses produksi mengkonsumsi total
biaya produksi sesuai dengan yang dipertimbangkan sebelumnya.
3. Menghitung laba atau rugi periode tertentu
Manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang telah dikeluarkan untuk
memproduksi produk dalam periode tertentu. Informasi laba atau rugi bruto
periodik, diperlukan untuk mengetahui kontribsi produk dalam menutup biaya non
produksi dan menghasilkan laba atau rugi.
4. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang
disajikan dalam neraca
Pada saat manajemen dituntut untuk membuat pertanggungjawaban keuangan
periodik, manajemen harus menyajikan laporan keuangan berupa neraca dan laporan
rugi laba. Di dalam neraca, manajemen harus menyajikan harga pokok persediaan
produk jadi, dan harga pokok produk yang pada tanggal neraca masih dalam proses.
Untuk tujuan tersebut, manajemen perlu menyelenggarakan catatan biaya produksi
tiap periode.

2.1.3.

Unsur unsur Harga Pokok Produksi

Unsur unsur yang membentuk harga pokok produksi adalah biaya bahan baku
langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Pada umumnya biaya
bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung disebut juga dengan biaya utama
(Prime Cost), sedangkan yang lainnya disebut biaya konversi (Conversion Cost). Biayabiaya
ini dikeluarkan untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Yang termasuk kedalam
unsur unsur harga pokok produksi adalah sebagai berikut:
1) Biaya Bahan Baku Langsung (Direct Material Cost)
Bahan baku adalah bahan yang menjadi bagian utama dan dapat diidentifikasikan
secara langsung pada produk jadi. Dalam Standar Akuntansi Keuangan (2002:14),
dinyatakan bahwa biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya
konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan barang dalam kondisi dan
tempat yang siap untuk dijual atau dipakai. Bahan baku yang digunakan dalam suatu
proses produksi biasanya dikelompokkan atas bahan baku langsung dan bahan baku
tidak langsung atau bahan penolong. Pertimbangan utama dalam pengelompokkan
bahan baku ini adalah kemudahan penelusuran bahan tersebut sampai menjadi barang
jadi.

Bahan baku langsung merupakan keseluruhan bahan baku yang diolah menjadi
barang jadi dan dapat ditetapkan langsung pada harga pokok dari barang jadi. Atau
dengan kata lain merupakan komponen biaya yang jumlahnya relatif besar dalam
menghasilkan output dan biasanya merupakan bagian integral dari output tersebut.
Biaya bahan baku langsung ini biasanya dianggap sebagai biaya variabel, yaitu biaya
yang bergerak secara proporsional sesuai dengan perubahan volume kegiatan. Secara
teoritis, biaya bahan baku langsung terdiri dari harga pokok pembelian bahan baku
langsung ditambah semua biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan
menyiapkannya untuk memasuki proses produksi, misalnya biaya pengangkutan, biaya
bongkar muat, biaya gudang dan biaya asuransi. Syarat jual beli dan potongan
pembelian juga harus diperhatikan.
Bahan baku tidak langsung disebut juga biaya bahan penolong, yaitu bahan baku
yang jumlahnya relatif kecil untuk menghasilkan produk. Walaupun penggunaan bahan
ini relatif kecil tetapi merupakan bagian dari barang jadi.
2) Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)
Mulyadi (2001:343), mendefinisikan biaya tenaga kerja adalah harga yang dibebankan
untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut. Biaya tenaga kerja pada fungsi
produksi diklasifikasikan atas biaya tenaga kerja langsung dan biaya tenaga kerja tidak
langsung. Biaya tenaga kerja langsung adalah jumlah upah yang dibayarkan kepada
tenaga kerja yang secara langsung menangani pengolahan bahan baku menjadi produk
jadi, sedangkan biaya tenaga kerja tidak langsung adalah jumlah gaji yang dibayarkan
kepada tenaga kerja yang secara tidak langsung menangani pengolahan bahan. Pada
umumnya biaya tenaga kerja langsung terdiri dari:
a. Gaji pokok, yaitu upah yang harus dibayarkan kepada setiap buruh sesuai dengan
kontrak kerja, yang dapat dibayar secara harian, mingguan atau bulanan.
b. Upah lembur, yaitu upah tambahan yang diberikan kepada pekerja yang
melaksanakan pekerjaan melebihi jam kerja yang ditentukan.
c. Bonus, yaitu upah tambahan diberikan kepada pekerja yang menunjukkan prestasi
melebihi batas yang ditentukan.
3) Biaya Overhead (Overhead Cost)
Berikut ini merupakan beberapa pengertian menurut para ahli mengenai biaya
overhead:
Menurut Carter (2009:40) yang diterjemahkan oleh Krista adalah sebaga berikut:
Biaya overhead pabrik terdiri atas semua biaya manufaktur yang tidak secara langsung
ditelusuri ke output tertentu. Misalnya biaya energi bagi pabrik seperti gas, listrik,
minyak dan sebagainya.

Sedangkan menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2010:13) Biaya Overhead dapat
dikelompokkan menjadi elemen:
a) Bahan Tidak Langsung (Bahan Pembantu atau Penolong) adalah bahan yang
digunakan dalam penyelesaian produk tetapi pemakaiannya relatif lebih kecil dan
biaya ini tidak dapat ditelusuri secara langsung kepada produk selesai. Contoh:
amplas, pola kertas, oli dan minyak pelumas, paku, sekrup dan mur,staples, asesoris
pakaian, vanili, garam, pelembut, pewarna.
b) Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung adalah biaya tenaga kerja yang membantu
dalam pengolahan produk selesai, tetapi dapat ditelusuri kepada produk selesai.
Contoh: Gaji satpam pabrik, gaji pengawas pabrik, pekerja bagian pemeliharaan,
penyimpanan dokumen pabrik, gaji operator telepon pabrik, pegawai pabrik,
pegawai bagian gudang pabrik, gaji resepsionis pabrik, pegawai yang menangani
barang.
c) Biaya Tidak Langsung Lainnya adalah biaya selain bahan tidak langsung dan tenaga
kerja tidak langsung yang membantu dalam pengolahan produk selesai, tetapi tidak
dapat ditelusuri kepada produk selesai. Contoh : Pajak bumi dan bangunan pabrik,
listrik pabrik, air, dan telepon pabrik, sewa pabrik, asuransi pabrik, penyusutan
pabrik, peralatan pabrik, pemeliharaan mesin dan pabrik, gaji akuntan pabrik,
2.1.4.

reparasi mesin dan peralatan pabrik.


Metode Pengumpulan Harga Pokok Produksi

Metode pengumpulan harga pokok produksi menurut Blocher et.al (2001:551)


mengemukakan bahwa pada dasarnya ada dua macam sistem penentuan biaya produk yang
digunakan dalam jenis industri yang berbeda yaitu:
1. Penentuan biaya berdasarkan pesanan (job costing)
Merupakan sistem penentuan biaya produk yang mengakumulasikan dan membebankan
biaya ke pesanan tertentu.pengolahan produk akan dimulai setelah datangnya pesanan dari
langganan/ pembeli melalui dokumen pesanan penjualan (sales order), yang membuat jenis
dan jumlah produk yang dipesan, spesifikasi pesanan, tanggal pesanan, tanggal pesanan
diterima dan harus diserahkan. Atas dasar pesanan penjualan akan dibuat perintah produksi
untuk melaksanakan kegiatan produksi sesuai dengan yang dipesan oleh pembeli. Harga
pokok pesanan dikumpulkan untuk setiap pesanan sesuai dengan biaya yang dinikmati oleh
setiap pesanan, jumlah biaya produksi setiap pesanan akan dihitung pada saat pesanan selesai.
Untuk menghitung biaya satuan, jumlah biaya produksi pesanan tertentu dibagi jumlah
produksi pesanan yang bersangkutan.

Karakteristik usaha perusahaan yang menggunakan sistem penentuan biaya berdasarkan


pesanan menurut Mulyadi (1999:42) yaitu:
a. Proses pengolahan produk terjadi secara terputus- putus.
b. Produk dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan.
c. Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan.
d. Manfaat harga pokok produksi berdasarkan pesanan adalah:
e. Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan.
f. Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan pesanan.
g. Memantau realisasi biaya produksi.
h. Menghitung laba atau rugi tiap pesanan.
i. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses.
2. Penentuan biaya berdasarkan proses (process costing).
Mengakumulasikan biaya produk atau jasa berdasarkan proses atau departemen dan
kemudian membebankan biaya tersebut ke sejumlah besar produk yang hampir identik.
Karakteristik usaha perusahaan yang menggunakan sistem penentuan biaya berdasarkan
proses yaitu:
a. Produk yang dihasilkan merupakan produk standar.
b. Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama.
c. Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi
d.
e.
f.
g.
h.

rencana produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu.


Manfaat harga pokok produksi berdasarkan proses adalah:
Menentukan harga jual produk.
Memantau realisasi biaya produksi.
Menghitung laba atau rugi periodik.
Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang
disajikan dalam neraca.

2.1.5.

Metode Penilaian Harga Pokok Produksi

Menurut Mulyadi (2001:18),metode penilaian harga pokok produksi adalah cara


memperhitungkan unsur-unsur biaya kebutuhan dalam harga pokok produksi. Dalam
memperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi terdapat dua
pendekatan, yaitu:
1. Metode pembiayaan penuh (full costing)
Metode pembiayaan penuh (full costing) atau sering pula disebut absorption costing
atau conventional costing adalah metode penentuan harga pokok produksi, yang
membebankan seluruh biaya produksi baik yang berprilaku tetap maupun periodik kepada
produk.
Harga pokok produksi menurut metode full costing terdiri dari:
Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja

Overhead pabrik-biaya tetap


Overhead pabrik-biaya variabel
Dalam metode full costing, biaya overhead pabrik baik yang berprilaku tetap maupun
variabel, dibebankan kepada produk yang diproduksi atas dasar periode yang telah ditentukan
pada kapasitas normal atas dasar overhead pabrik sesungguhnya. Oleh karena itu, overhead
pabrik tetap akan melekat pada harga pokok persediaan produk dalam proses dan persediaan
produk jadi yang belum laku dijual dan baru dianggap sebagai biaya (periode harga pokok
penjualan) apabila produk jadi tersebut telah terjadi.
Karena overhead pabrik dibebankan kepada produk atas dasar periode yang ditentukan
di muka pada kapasitas normal, maka jika dalam suatu periode overhead pabrik
sesungguhnya berbeda dengan yang dibebankan tersebut akan terjadi pembebanan biaya
overhead lebih (overapplied factory overhead) atau pembebanan biaya overhead pabrik
kurang (underapplied factory overhead). Jika semua produk yang diolah dalam periode
tersebut belum laku dijual maka pembebanan overhead lebih atau kurang tersebut digunakan
untuk mengurangi atau menambah harga pokok produk yang masih dalam persediaan tersebut
(baik yang berupa persediaan produk dalam proses maupun produk jadi). Namun jika dalam
suatu periode akuntansi tidak terjadi pembebanan overhead lebih atau kurang, maka biaya
overhead pabrik tetap tidak mempunyai pengaruh terhadap perhitungan laba-rugi sebelum
produk dijual.
Metode full costing menunda pembebenan overhead pabrik tetap sebagai biaya sampai
saat produk yang bersangkutan dijual. Jadi overhead pabrik yang terjadi baik yang berprilaku
tetap maupun yang variabel, masih dianggap sebagai aktiva (karena melekat pada persediaan)
sebelum persediaan tersebut dijual.
2. Metode pembiayaan variabel (vaiable costing)
Metode pembiayaan variabel (vaiable costing) atau periodic costing atau sering pula
disebut direct costing adalah metode penentuan harga pokok produksi, yang hanya
membebankan biaya-biaya produksi periodik saja ke dalam harga pokok produk. Harga
pokok produk menurut metode variable costing terdiri dari:
Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja
Overhead pabrik variabel
Dalam metode variable costing overhead pabrik tetap diberlakukan sebagai periode
harga pokok produk, sehingga overhead pabrik tetap dibebankan sebagai biaya dalam periode
terjadinya. Dengan demikian overhead pabrik tetap dalam metode variable costing tidak

melekat pada persediaan produk yang belum laku dijual, tetapi langsung dianggap sebagai
biaya dalam periode terjadinya. Jika metode full costing menunda pembebanan overhead
pabrik tetap maka metode variable costing sebaliknya tidak menyetujui penundaan
pembebanan biaya overhead pabrik tetap tersebut.
Menurut metode variable costing, penundaan pembebanan suatu biaya hanya
bermanfaat juka dengan penundaan tersebut diharapkan dapat dihindati terjadinya biaya yang
sama dalam periode yang akan datang.
2.1.6.

Perbedaan Full Costing dan Variabel Costing

Perbedaan pokok antara metode full costing dan variabel costing sebetulnya terletak
pada perlakuan biaya tetap produksi tidak langsung. Dalam metode full costing dimasukkan
unsur biaya produksi karena masih berhubungan dengan pembuatan produk berdasar tarif
(budget), sehingga apabila produksi sesungguhnya berbeda dengan budgetnya maka akan
timbul kekurangan atau kelebihan pembebanan. Tetapi pada variabel costing memperlakukan
biaya produksi tidak langsung tetap bukan sebagai unsur harga pokok produksi, tetapi lebih
tepat dimasukkan sebagai biaya periodik, yaitu dengan membebankan seluruhnya ke periode
dimana biaya tersebut dikeluarkan sehingga dalam variabel costing tidak terdapat
pembebanan lebih atau kurang.
Adapun unsur biaya dalam metode full costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik baik yang sifatnya tetap maupun variabel.
Sedangkan unsur biaya dalam metode variabel costing terdiri dari biaya bahan baku, biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang sifatnya variabel saja dan tidak
termasuk biaya overhead pabrik tetap.
Akibat perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya perbedaan lain yaitu :
a.

Dalam metode full costing, perhitungan harga pokok produksi dan penyajian laporan
laba rugi didasarkan pendekatan fungsi. Sehingga apa yang disebut sebagai biaya
produksi adalah seluruh biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi, baik
langsung maupun tidak langsung, tetap maupun variabel. Dalam metode variabel
costing, menggunakan pendekatan tingkah laku, artinya perhitungan harga pokok dan
penyajian dalam laba rugi didasarkan atas tingkah laku biaya. Biaya produksi dibebani

b.

biaya variabel saja, dan biaya tetap dianggap bukan biaya produksi.
Dalam metode full costing, biaya periode diartikan sebagai biaya yang tidak
berhubungan dengan biaya produksi, dan biaya ini dikeluarkan dalam rangka
mempertahankan kapasitas yang diharapkan akan dicapai perusahaan, dengan kata lain

biaya periode adalah biaya operasi. Dalam metode variabel costing, yang dimaksud
dengan biaya periode adalah biaya yang setiap periode harus tetap dikeluarkan atau
dibebankan tanpa dipengaruhi perubahan kapasitas kegiatan. Dengan kata lain biaya
c.

periode adalah biaya tetap, baik produksi maupun operasi.


Menurut metode full costing, biaya overhead tetap diperhitungkan dalam harga pokok,
sedangkan dalam variabel costing biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periodik.
Oleh karena itu saat produk atau jasa yang bersangkutan terjual, biaya tersebut masih
melekat pada persediaan produk atau jasa. Sedangkan dalam variabel costing, biaya

d.

tersebut langsung diakui sebagai biaya pada saat terjadinya.


Jika biaya overhead pabrik dibebankan kepada produk atau jasa berdasarkan tarif yang
ditentukan dimuka dan jumlahnya berbeda dengan biaya overhead pabrik yang
sesungguhnya maka selisihnya dapat berupa pembebanan overhead pabrik berlebihan
(over-applied factory overhead). Menurut metode full costing, selisih tersebut dapat
diperlakukan sebagai penambah atau pengurang harga pokok yang belum laku dijual

(harga pokok persediaan).


e. Dalam metode full costing, perhitungan laba rugi menggunakan istilah laba kotor (gross
profit), yaitu kelebihan penjualan atas harga pokok penjualan.
Dalam variabel costing, menggunakan istilah marjin kontribusi (contribution margin),
yaitu kelebihan penjualan dari biaya-biaya variabel.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari perbedaan laba rugi dalam metode full
costing dengan metode variable costing adalah :
i.

Dalam metode full costing, dapat terjadi penundaan sebagian biaya overhead pabrik
tetap pada periode berjalan ke periode berikutnya bila tidak semua produk pada periode
yang sama. Sedangkan dalam metode variable costing seluruh biaya tetap overhead
pabrik telah diperlakukan sebagai beban pada periode berjalan, sehingga tidak terdapat

ii.

bagian biaya overhead pada tahun berjalan yang dibebankan kepada tahun berikutnya.
Jumlah persediaan akhir dalam metode variable costing lebih rendah dibanding metode
full costing. Alasannya adalah dalam variable costing hanya biaya produksi variabel

iii.

yang dapat diperhitungkan sebagai biaya produksi.


Laporan laba rugi full costing tidak membedakan antara biaya tetap dan biaya variabel,
sehingga tidak cukup memadai untuk analisis hubungan biaya volume dan laba (CVP)
dalam rangka perencanaan dan pengendalian.
Dalam praktiknya, variable costing tidak dapat digunakan secara eksternal untuk

kepentingan pelaporan keuangan kepada masyarakat umum atau tujuan perpajakan


2.2 Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu secara lebih ringkas dapat diperjelaskan dalam tabel 2.2 sebagai berikut:
Tabel 2.2
Tinjauan Penelitian Terdahulu
No
.
1.

Nama dan Tahun

Judul Penelitian

Tujuan penelitian

Nienik H Samsul Perbandingan Harga Menganalisis


(2013)
Pokok Produksi Full perbandingan

Costing
Variable

dan metode full costing


Costing

dan variable costing

Kesimpulan
Dalam proses
penggolongan biaya,
baik biaya nonproduksi
maupun biaya overhead,

Untuk Harga Jual dalam perhitungan

perusahaan tidak

CV. Pyramid

harga pokok

menggolongkan biaya

produksi untuk

dengan cermat sesuai

penentuan harga jual

jenisnya.

pada perusahaan.
Perbandingan metode
full costing dan variable
costing dalam
perhitungan harga
pokok produksi pada
perusahaan untuk
penentuan harga jual
menunjukkan metode
full costing memiliki
angka nominal jauh
lebih tinggi dalam
perhitungan harga
pokok produksi
daripada metode
variable costing, karena
disebabkan dalam
perhitungan harga
pokok produksi pada
metode full costing
memasukkan semua

akun biaya baik yang


berjenis variabel
maupun tetap.
2.

Helmina Batubara Penentuan Harga

Mengetahui

Hasil perhitungan

(2013)

Pokok Produksi

penetuan harga

berdasarkan full costing

Berdasarkan Metode

pokok produksi

lebih kecil dibandingkan

Full Costing

dengan metode

dengan HPP

Pembuatan Etalase

perusahaan dan

perhitungan perusahaan

Kaca dan

perbandingan

disebabkan oleh

Alumunium di UD.

dengan metode

pembebanan biaya

Istana Alumunium

full costing yang

overhead pabrik pada

Manado

dilakukan

perusahaan lebih tinggi

perusahaan

dari pembebanan

dalam

overhead dengan

pembuatan

metode full costing.

etalase kaca dan


3.

Dyah

Ayu Analisis

alumunium.
Penentuan Menganalisis dan
Pokok mendeskripsikan

Penentuan harga pokok

Setyaningrum

Harga

produksi kain batik

(2013)

Produksi

Batik penentuan harga

menggunakan sistem

Mustika

Blora pokok produksi kain

activity based costing

Berdasarkan System

batik berdasarkan

lebih akurat dan tepat

Activity

sistem activity based

apabila dibandingkan

Based

Costing (Studi Kasus costing (ABC).

dengan sistem

pada Usaha Batik

tradisional.

Mustika Blora)

Perbedaan yang terjadi


antara harga pokok
produksi menggunakan
sistem konvensional dan
sistem activity based
costing disebabkan
karena pembebanan
overhead pada activity

based costing
disesuaikan dengan
aktivitas-aktivitas yang
dilakukan dalam
pembuatan kain batik.

2.3 Kerangka Pemikiran Teoritis


Sketsel
Identifikasi biaya
produksi :
1) Biaya bahan baku
2) Biaya tenaga kerja
3) Biaya overhead pabrik
variabel
Perhitungan Harga Pokok
Produksi

Perhitungan Harga

Perhitungan Harga

Pokok Produksi

Pokok Produksi

dengan Metode

dengan Metode Full

Meubel Jawa Indah

Costing

Antique
Perbedaan Kedua Metode

Penetapan Harga Pokok


Produksi
Gambar 2.3
Kerangka Pemikiran Teoritis

2.4 Hipotesis
Hipotesis menurut Sugiyono (2004:51) merupakan jawaban sementara terhadap
rumusan masalah penelitian. Adapun hipotesis yang penelikti rumuskan adalah:
Ho: harga pokok produksi sketsel menggunakan Metode Full Costing tidak lebih rendah
daripada harga pokok produksi yang ditetapkan oleh Meubel Jawa Indah Antique
Ha: harga pokok produksi sketsel menggunakan Metode Full Costing lebih rendah daripada
harga pokok produksi yang ditetapkan oleh Meubel Jawa Indah Antique
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel
Variabel penelitian adalah hal-hal yang menjadi objek penelitian, yang ditatap dalam
suatu kegiatan penelitian, yang menunjukkan variasi, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif (Arikunto, 2006: 10). Variabel ataupun objek dalam penelitian ini adalah
perhitungan harga pokok produksi pada produk sketsel. Penentuan variabel penelitian ini
berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara terdahulu dengan pemilik Jawa Indah Antique
dan menghasilkan kesimpulan bahwa jenis sketsel merupakan produk yang paling banyak
diminati oleh konsumen. Untuk setiap bulannya, Jawa Indah Antique dapat memproduksi 3
sampai 4 jenis sketsel lebih banyak daripada jenis produk lain seperti kursi wayang, almari
dan sebagainya.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Variabel bebas atau variabel penyebab (independent variables)
Variabel bebas adalah variabel yang menyebabkan atau memengaruhi, yaitu faktorfaktor yang diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan
antara fenomena yang diobservasi atau diamati. Dalam hal ini variabel bebasnya yakni
harga pokok produksi.
2. Variabel terikat atau variabel tergantung (dependent variables).
Variabel terikat adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan
adanya pengaruh variabel bebas, yaitu faktor yang muncul, atau tidak muncul, atau
berubah sesuai dengan yang diperkenalkan oleh peneliti. Dalam hal ini variabel
terikatnya adalah unsur-unsur harga pokok produksi dan metode full costing.
3.2. Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini, jenis data yang akan digunakan adalah data sekunder. Data
sekunder adalah data yang diperoleh melalui hasil pengolahan dan hasil penelitian lapangan,
yakni: laporan harga pokok produksi sketsel yang diperoleh penulis dari Jawa Indah Antique,
yang berupa data kualitatif dan data kuantitatif.
1) Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, kalimat, skema, dan gambar. Dalam
penelitian ini, data kualitatif adalah:
Sejarah singkat Jawa Indah Antique
Struktur organisasi Jawa Indah Antique
2) Data kuantitatif adalah data yang dapat dihitung yang berupa angka/nominal. Dalam hal
ini adalah data dan laporan harga pokok produksi sketsel Jawa Indah Antique.
3.3. Populasi dan Jumlah Sampel
Menurut Sugiyono (2006:55) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh data harga pokok produksi sketsel periode 2013-2014 pada Jawa Indah Antique.
Menurut Sugiyono (2006:56), sampel adalah sebagian jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi tersebut. Sampel penelitian ini adalah harga pokok produksi sketsel ratarata setiap bulan pada Jawa Indah Antique dari tahun 2013 -2014, sehingga data observasi pada
penelitian ini berjumlah 24.

3.4. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1) Penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian secara langsung ke perusahaan
yang menjadi obyek penelitian yang bertujuan untuk memperoleh data yang
dibutuhkan sehubungan dengan materi pembahasan.
2) Wawancara yaitu dengan melakukan tanya jawab langsung kepada pihak-pihak yang
terkait dalam penyediaan informasi atau data yang diperlukan dalam penelitian.
3) Penelitian kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang bertujuan untuk
memperoleh konsep dan landasan teori dengan mempelajari berbagai literatur, buku,
referensi, dan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan obyek pembahasan sebagai
bahan analisis.
3.5.Metode Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif yaitu dengan
menguraikan dan menginterpretasikan data yang telah didapat dari lapangan dan informan

sehingga informasi yang diperoleh dan dianalisis diharapkan dapat mengungkapkan


bagaimana komparasi perhitungan harga pokok produksi sketsel antara Jawa Indah Antique
dengan metode full costing.

Penjelasan deskriptif yang digunakan oleh peneliti adalah:


1. Menguraikan dengan detail perhitungan yang dilakukan oleh Jawa Indah Antique.
2. Mengidentifikasi biaya-biaya yang tidak diperhitungkan dalam harga pokok produksi
oleh Jawa Indah Antique.
3. Mengidentifikasi ketidak sesuaian dengan metode full costing
4. Menyajikan hasil perhitungan harga pokok produksi Jawa Indah Antique dengan
metode full costing untuk melihat perberdaan perhitungan yang telah diterapkan selama
ini.

Daftar Pustaka

Bustami & Nurlela.2006.Akuntansi biaya.Graha Ilmu:Yogyakarta.


Carter, dan Usry.2006.Akuntansi Biaya. Penerbit Salemba Empat, Jakarta
Hansen dan Mowen. 2007. Akuntansi Manajemen. Terjemahan Hermawan. Jilid 1. Penerbit
Erlangga. Jakarta.
Mulyadi. 2009. Akuntansi Biaya. Penerbit Aditya Media. Yogyakarta.
Ahmad,Firdaus.,Abdullah,Wasilah.2012.AkuntansiBiaya.EdisiKetiga.SalembaEmpat.
Jakarta.
Eprilianta, Silvania.2011.Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi Tahu Dengan Metode Full
Costing pada Industri Kecil (Studi Kasus CV. Laksa Mandiri).

http://www.slideshare.net/bycmd/metode-hargapokokpesananfullcosting
http://www.slideserve.com/aspasia/metode-harga-pokok-proses-process-costing
https://sites.google.com/site/penganggaranperusahaan/anggaran-biaya-overhead-pabrikbop/menghitung-harga-pokok-produksi
http://lib.unnes.ac.id/18179/
https://ml.scribd.com/doc/74271628/Variable-Costing-Akmen
https://ml.scribd.com/doc/127094777/PENERAPAN-ACTIVITY-BASED-COSTINGSYSTEM-UNTUK-MENENTUKAN-HARGA-POKOK-PRODUKSI
http://ejournal.unesa.ac.id/article/529/57/article.pdf
http://www.e-jurnal.com/2013/12/perbandingan-harga-pokok-produksi-full.html