Anda di halaman 1dari 23

TUGAS RADIOLOGI

Oleh :
Yuda Ayu Kusuma Wardani
1118011141

Perceptor :
dr. Karyanto, Sp.Rad.

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN RADIOLOGI


RSUD DR H ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016

PERTANYAAN
1. Bagaimanakah Gambaran skematis lobus dan segmen paru-paru?
2. Sebutkan gambaran radiologis dan diagnosis banding lesi opak dan semi opak pada lapangan
paru?
3. Sebutkan gambaran radiologis dan diagnosis banding lesi lusent pada lapangan paru?
4. Bagaimana klasifikasi TB international, Klasifikasi TB pada anak, patofisiologi TB anak?
5. Sebutkan organ intra dan retriperitoneal rongga abdomen?
6. Bagaimanakah indikasi, kontra indikasi, persiapan dan pelaksanaan IVP, colon in loop?

JAWABAN
1. Gambaran skematis lobus dan segmen paru

Lobus Kanan Atas :


1. segmen apical

1. segmen superior

2. segmen posterior

2. segmen basal anterior

3. segmen anterior

3. segmen basal lateral

Lobus Kanan Tengah :

1.

Lobus Kanan Bawah :

4. segmen basal posterior

1. segmen lateral

5. segmen basal medial

2. segmen medial
Lobus Kiri Atas

Lobus kiri bawah

segmen apical

1. segmen superior

2. segmen posterior

2. segmen basal medial

3. segmen anterior

3. segmen basal anterior

4. segmen lingula superior

4. segmen basal lateral

5. segmen lingual

5. segmen basal posterior

2.

Gambaran radiologi lesi opak


4

NO
.
1.

DIAGNOSA
BANDING
Bronkitis kronik

GAMBARAN RADIOLOGIS

2.

Pneumonia

Bayangan homogen berdensitas tinggi pada satu segmen,


lobus paru, atau pada sekumpulan segmen lobus yang
berdekatan, berbatas tegas.

3.

Abses paru

Satu atau multi kavitas berdinding tebal, dapat pula


ditemukan permukaan udara dan cairan di dalamnya.

4.

Sindrom loffler

Bayangan kurang opak, dapat satu atau ganda, unilateral


atau bilateral. Tipe bayangan tersebut menempel (patchy

Corakan peribronkial yang bertambah di basis paru oleh


penebalan dinding bronkus dan peribronkus.

in type) biasanya kurang berbatas tegas.

5.

Pneumonia
rheumatik

Densitas berkabut, biasanya di daerah parahiler dan di


lapangan tengah paru. Bayangan ini dapat menyatu atau
bercak yang tidak rata dan acapkali berhubungan dengan
perubahan basal menunjukkan kongesti paru.

6.

Atelektasis

Bayangan lebih suram (densitas tinggi) pada bagian paru,


baik lobaris, segmental, atau seluruh paru, dengan
penarikan mediastinum ke arah atelektasis, sedangkan
diafragma tertarik ke atas dan sela iga menyempit.

7.

Efusi pleura

Perselubungan homogen menutupi struktur paru bawah


yang biasanya relatif radioopak dengan permukaan atas
cekung , berjalan dari lateral atas ke arah medial bawah.
Jaringan paru akan terdorong ke arah sentral/hilus dan
kadang mendorong mediastinum ke arah kontralateral.

8.

Pleuritis

Garis-garis densitas tinggi yang tidak teratur atau


kalsifikasi, sinus kostofrenikus tumpul, biasanya terjadi di
lapangan paru bagian bawah, tetapi dapat juga terjadi di
6

puncak paru.
9.

Mesotelioma
(tumor pleura)

Bayangan padat pada lapangan paru, dengan permukaan


yang bergelombang (globulated) dan pembesaran kelenjar
hilus.

10.

Mediastinitis

Pelebaran mediastinum dengan densitas bertambah.

11.

Tuberkulosis paru
aktif

Bercak berawan disertai kavitas pada kedua lapangan


paru.

12.

Tuberkulosis paru
lama aktif

Bercak berawan pada kedua lapangan paru atas yang


disertai kavitas, bintik-bintik kalsifikasi, garis fibrosis
yang menyebabkan retraksi hilus ke atas.
7

13.

Tuberkulosis paru
lama tenang

Bintik-bintik kalsifikasi serta garis fibrosis pada kedua


lapangan paru atas.

14.

Tuberkulosis miliar

Bercak-bercak granuler pada seluruh lapangan kedua paru

15.

Hamartoma

Nodul berbentuk bulat atau bergelombang (globulated)


dengan batas yang tegas. Biasanya <4 cm dan sering
mengandung kalsifikasi berbentuk bercak-bercak garis
atau gambaran pop corn.
8

16.

Kista paru

Bayangan bulat berdinding tipis dengan ukuran bervariasi.


Bila kista paru lebih dari satu dan tersebar di kedua paru
dikenal sebagai paru polikistik.

17.

Tumor paru

Perselubungan homogen yang berbatas tegas pada daerah


paru.

18.

Metastasis paru

Gambaran coin lesion pada kedua lapangan paru.

19.

Bronkopneumonia

Bercak infiltrat pada lapangan bawah/tengah paru.

20.

Edema pulmonum

Perselubungan perihilar bilateral


gambaran bat wings appearance.

yang

memberikan

21.

Hidropneumotorak
s

Perselubungan homogen pada bagian basal paru yang


menutupi sinus, diafragma, serta batas jantung disertai
hiperlusen avaskuler pada bagian atasnya yang meberikan
gambaran air fluid level (+). Jantung sulit dinilai.

3. Gambaran radiologi lesi lusent paru


NO
.
1.

DIAGNOSA
BANDING
Emfisema

GAMBARAN RADIOLOGIS
Toraks berbentuk silindrik.

Bayangan paru lebih


10

radiolusen pada seluruh paru atau lobaris ataupun


segmental, corakan jaringan paru tampak lebih jelas,
vaskular paru yang relatif jarang. Diafragma letak
rendah dengan bentuk yang datar dan peranjakan yang
berkurang. Jantung ramping, sela iga melebar.

2.

Bronkiektasis

Bronkovaskular yang kasar yang umumnya terdapat di


lapangan bawah paru, atau gambaran garis-garis
translusen yang panjang menuju ke hilus dengan
bayangan konsolidasi sekitarnya akibat peradangan
sekunder,
kadang-kadang
juga
bisa
berupa
bulatan=bulatan translusen yang sering dikenal sebagai
gambaran sarang tawon (honey comb appearance).
Bulatan-bulatan ini dapat berukuran besar (diameter 110cm) yang berupa kista-kista translusen dan kadangkadang berisi cairan (air fluid level) akibat peradangan
sekunder.

3.

Pneumotoraks

Bayangan radiolusen yang tanpa struktur jaringan paru


(avascular pattern) dengan batas paru berupa garis
radioopak tipis berasal dari pleura viseral. Jika
pneumotoraks luas, akan menekan jaringan paru ke
arah hilus atau paru menjadi kuncup/kolaps di daerah
hilus dan mendorong mediastinum ke arah
kontralateral. Sela iga menjadi lebih lebar.
11

4.

Flail chest

Bayangan udara yang terlihat akibat kontusio paru.


Gambaran fraktur kosta yang multipel.

5.

Kista Paru

Tampak hilus normal, corakan paru bertambah, ronga


luscen/opak berdinding tipis reguler, soliter/multipel di
kedua lapang paru

6.

Caverne

Tampak bayangan rongga luscent, berdinding agak


tebal, irreguler, avaskuler

4. Klasifikasi Tuberculosis
a. International
1) Tuberkulosis primer
Adalah tuberkulosis yang terjadi karena infeksi melalui jalan pernapasan (inhalasi)
oleh Mycobacterium tuberculosis
2) Tuberkulosis sekunder
12

Timbul karena reinfeksi pada seorang yang dimasa kecilnya pernah menderita
tuberkulosis primer tetapi tidak diketahui dan menyembuh sendiri.
- Tuberkulosis minimal yaitu luas sarang-sarang yang terlihat tidak melebihi
daerah yang dibatasi garis median, apeks, dan iga 2 depan. Tidak ditemukan
adanya kavitas.
- Tuberkulosis lanjut sedang (moderately advanced tuberculosis) yaitu luas sarangsarang yang bersifat bercak-bercak tidak melebihi luas satu paru, sedangkan bila
ada lubang diameternya tidak melebihi 4 cm.
- Tuberkulosis sangat lanjut (far advanced tuberculosis) yaitu luas daerah yang
dihinggapi oleh sarang-sarang lebih daripada klasifikasi kedua diatas atau bila ada
lubang-lubang maka diameter keseluruhan semua lubang melebihi 4 cm.
Menurut bentuk kelainan:
a. Sarang eksudatif berbentuk awan-awan atau bercak yang batasnya tidak tegas
dengan densitas rendah
b. Sarang produktif, berbentuk butir-butir bulat kecil yang batasnya tegas dan
densitasnya sedang
c. Sarang induratif atau fibrotik yaitu berbentuk garis-garis atau pita tebal berbatas
tegas dengan densitas tinggi
d. Kavitas (lubang)
e. Sarang kapur (kalsifikasi)

b. TB pada anak
Penentuan klasifikasi dan tipe kasus TB pada anak tergantung dari hal berikut:
Lokasi atau organ tubuh yang terkena:
a. Tuberkulosis Paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
(parenkim) paru, tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
b. Tuberkulosis Ekstra Paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain
paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe,
tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
Anak dengan gejala hanya pembesaran kelenjar tidak selalu menderita TB Ekstra
13

Paru. Pasien TB paru dengan atau tanpa TB ekstra paru diklasifikasikan sebagai
TB paru
Riwayat pengobatan sebelumnya:
a. Baru
Kasus TB anak yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan ( 28 dosis) dengan hasil pemeriksaan
bakteriologis sesuai definisi di atas, lokasi penyakit bisa paru atau ekstra paru.
b. Pengobatan ulang
Kasus TB Anak yang pernah mendapat pengobatan dengan OAT lebih dari 1 bulan
( 28 dosis) dengan hasil pemeriksaan bakteriologis sesuai definisi di atas, lokasi
penyakit bisa paru atau ekstra paru. Berdasarkan hasil pengobatan sebelumnya, anak
dapat diklasifikasikan sebagai kambuh, gagal atau pasien yang diobati kembali
setelah putus berobat (lost to follow-up).
Berat dan ringannya penyakit
a. TB ringan: tidak berisiko menimbulkan kecacatan berat atau kematian, misalnya
TB primer tanpa komplikasi, TB kulit, TB kelenjar dll
b. TB berat: TB pada anak yang berisiko menimbulkan kecacatan berat atau
kematian, misalnya TB meningitis, TB milier, TB tulang dan sendi, TB abdomen,
termasuk TB hepar, TB usus, TB paru BTA positif, TB resisten obat, TB HIV.
Status HIV
Pemeriksaan HIV direkomendasikan pada semua anak suspek TB pada daerah
endemis HIV atau risiko tinggi terinfeksi HIV. Berdasarkan pemeriksaan HIV, TB
pada anak diklasifikasikan sebagai:
a. HIV positif
b. HIV negatif
c. HIV tidak diketahui
d. HIV expose/ curiga HIV. Anak dengan orang tua penderita HIV diklasifikasikan
sebagai HIV expose, sampai terbukti HIV negatif. Apabila hasil pemeriksaan HIV

14

menunjukkan hasil negatif pada anak usia < 18 bulan, maka status HIV perlu
diperiksa ulang setelah usia > 18 bulan.
Resistensi Obat
Pengelompokan pasien TB berdasarkan hasil uji kepekaan M. tuberculosis terhadap
OAT terdiri dari:
a. Monoresistance adalah M. tuberculosis yang resistan terhadap salah satu jenis OAT
lini pertama.
b. Polydrug Resistance adalah M. tuberculosis yang resistan terhadap lebih dari satu
jenis OAT lini pertama selain Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) secara bersamaan.
c. Multi Drug Resistance (MDR) adalah M. tuberculosis yang resistan terhadap
Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) dengan atau tanpa OAT lini pertama lainnya.
d. Extensive Drug Resistance (XDR) adalah MDR disertai dengan resistan terhadap
salah satu OAT golongan fluorokuinolon dan minimal salah satu dari OAT lini
kedua jenis suntikan yaitu Kanamisin, Kapreomisin dan Amikasin.
e. Rifampicin Resistance adalah M. tuberculosis yang resistan terhadap Rifampisin
dengan atau tanpa resistansi terhadap OAT lain yang dideteksi menggunakan
metode pemeriksaan yang sesuai, pemeriksaan konvensional atau pemeriksaan
cepat. Termasuk dalam kelompok ini adalah setiap resistansi terhadap rifampisin
dalam bentuk Monoresistance, Polydrug Resistance, MDR dan XDR.
c. Patofisiologi TB anak
Penularan tuberkulosis primer terjadi karena batuk atau percikan ludah yang
mengandung basil Mycobacterium Tuuberkulosis bertebaran di udara, kemudian
terhirup oleh anak yang pada saat itu sistem imunitas dalam tubuhnya menurun
sehingga mudah terinfeksi. Basil tersebut berkembangbiak perlahan-lahan dalam paru
sehingga menyebabkan kelainan paru. Basil ini bila menetap di jaringan paru, ia akan
tumbuh dan berkembangbiak dalam sitoplasma makrofag. Basil juga dapat terbawa
masuk ke organ tubuh lain yang nantinya bisa menyebabkan tuberkulosis hati, ginjal,
jantung, kulit dan lain-lain (UKK PP IDAI, 2005).

15

Bersamaan dengan itu, sebagian kuman akan dibawa melalui cairan getah bening ke
kelenjar getah bening yang terdekat disamping bronkus. Dari kedua tempat tersebut,
kuman akan menimbulkan reaksi tubuh, dan sel-sel kekebalan tubuh akan berkumpul.
Dalam waktu 4 hingga 8 minggu akan muncul daerah kecil di tengah-tengah proses
tersebut dimana terdapat jaringan tubuh yang mati (perkijuan) yang dikelilingi sel-sel
kekebalan tubuh yang makin membesar. Perubahan-perubahan yang terjadi pada paru
dan kelenjar getah bening ini dikenal sebagai tuberkulosis primer (Harun, 2002). Basil
Mycobacterium Tuberculosis ini dapat bertahan selama 1-2 jam pada suasana lembab
dan gelap, sebaliknya akan mati jika terkena sinar matahari. Dalam jaringan tubuh
kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun (Depkes RI, 2001).
5. Organ intraabdomen

a. Organ Intraperitoneal
S: Stomach
A: Appendix
L: Liver
T: Transverse colon
D: duodenum (pars superior)
S: Small intestines
P: Pancreas (only the tail though)
R: Rectum (satu pertiga proksimal)
S: Sigmoid colon
S: Spleen
b. Organ Retroperitoneal
S: Suprarenal gland
A: Aorta
16

D: Duodenum (bagian kedua dan ketiga)


P: Pankreas
U: Ureter
C: Colon (pars ascendens dan descendens)
K: Kidneys
E: Esophagus
R: Rectum

6. Persiapan, indikasi dan kontraindikasi dari pemeriksaan Colon In Loop

dan

Intravenous Pyelography
A. Pemeriksaan Colon In loop
Teknik pemeriksaan Colon In Loop adalah teknik pemeriksaan secara radiologis dari usus
besar dengan menggunakan media kontras yang dimasukkan per anal. Pemeriksaan ini
disebut juga barium enema.
Indikasi pemeriksaan Colon In Loop:

Kolitis kronik (kolitis

Karsinoma

karena tidak adanya sel ganglion


dipleksus mienterik dan sub mukosa

atau

pada segmen colon distal.

keganasan.

disease

adalah kelainan kongenital yang terjadi

ulseratif dan Crohn disease)

Hirschprung

Divertikel, merupakan

invaginasi, volvulus

kantong yang menonjol pada dinding


colon, terdiri atas lapisan mukosa dan
muskularis mukosa.

Obstruksi kolon seperti

Atresia
adanya

saluran

dari

adalah

tidak

colon

yang

seharusnya ada.
17

Kontraindikasi pemeriksaan Colon In


Loop:

Kolitis berat dimana dinding abdomen


menjadi sangat tipis dan ditakutkan

Perforasi usus

Ileus paralitik

Ileus obstruksi lama (> 8 jam).

Peritonitis, infeksi akut saluran cerna

terjadi perforasi

Keadaan umum pasien yang jelek

Persiapan pemeriksaan Colon In Loop


1)

Mengubah pola makanan pasien


Makanan konsistensi lunak, rendah serat dan rendah lemak untuk menghindari

2)

terbentuknya bongkahan tinja yang keras (48 jam sebelum pemeriksaan).


Minum sebanyak-banyaknya
Absorbsi air terbanyak terjadi pada kolon, dengan pemberian air minum yang banyak

3)

dapat menjaga tinja selalu dalam keadaan lembek.


Pemberian obat pencahar
Apabila kedua hal di atas dijalankan dengan benar, maka pemberian obat pencahar
hanya sebagai pelengkap saja. Pencahar mutlak diberikan pada pasien dengan keadaan :
tirah baring yang lama, konstipasi kronis, orang tua (18 jam sebelum pemeriksaan dan 4
jam sebelum pemeriksaan)

4)

Seterusnya puasa sampai pemeriksaan agar kolon kosong sehingga gambaran

5)

anatomi dari kolon terlihat dengan jelas


30 menit sebelum pemeriksaan pasien diberi sulfas atrofin 0,251mg per oral

6)

untuk mengurangi pembentukan lendir


15 menit sebelum pemeriksaan pasien diberi injeksi obat yang menurunkan
peristaltik usus sehingga saat memasukan barium tidak dikeluarkan kembali.

Persiapan Alat dan Bahan


Persiapan alat pada pemeriksaan Colon in Loop, meliputi :

Pesawat x ray siap pakai

Kaset

kebutuhan
Marker

dan

film

sesuai

dengan

Standar

lengkap dengan kanula rectal .


Vaselin atau jelly
Sarung tangan

irigator

dan

irigator

set

18

Penjepit atau klem


Kassa
Bengkok

Apron
Plester
Tempat mengaduk media kontras

Persiapan bahan
Media kontras, yang sering dipakai adalah larutan barium dengan konsentrasi antara 1225% W/V untuk kontras tunggal dan 70 80 % W/V (Weight /Volume) untuk kontras
ganda. Banyaknya larutan (ml) tergantung pada panjang pendeknya colon, kurang lebih
600 800 ml

Air hangat untuk membuat larutan barium


Vaselin atau jelly, digunakan untuk menghilangi rasa sakit saat kanula dimasukkan
kedalam anus.

Teknik Pemeriksaan
Metode pemasukan media kontras
a. Metode kontras tunggal
Pasien ditempatkan di atas meja pemeriksaan.
Siapkan bahan kontras, Barium Sulfat (BaSO4) dicampur dengan air dengan

perbandingan 1 : 8 di dalam wadah kemudian di aduk


Sebelum bahan kontras dimasukkan terlebih dahulu pasien diinjeksi dengan obat anti

peristaltik (ex : buskopan)


Untuk memasukkan bahan kontras pasien diinstruksikan berbaring miring ke kiri.
Selang irrigator (kateter) diklem, kemudian campuran Barium Sulfat dan air

dimasukkan ke dalam irrigator.


Ujung kateter diolesi dengan jelly kemudian dimasukkan ke dalam rectum kira-kira 5

cm, kemudian di kunci.


Irrigator dipasang pada stand infus dengan ketinggian kira-kira 1 meter dari
permukaan meja pemeriksaan kemudian Barium Sulfat dimasukkan dengan

membuka klem.
Setelah kontras Barium Sulfat masuk ke dalam colon kemudian pasien disuruh

miring kiri-kanan agar kontras merata ke seluruh colon.


Pasien di ubah posisinya menjadi terlentang dan kateter dikuatkan letaknya.
Selanjutnya dilakukan pemotretan.

b. Metode kontras ganda


19

Metode kontras ganda mutlak memerlukan fluroskopi, sebab untuk mengetahui


jumlah udara yang masuk tidak memungkinkan diukur dengan alat, oleh karena itu
untuk menilai udara yang masuk cukup atau kurang dinilai dengan fluroskopi dengan
melihat dilatasi dari colonnya bila udara yang masuk tidak dinilai, maka
kemungkinan udara yang masuk terlalu banyak sehingga menyebabkan tekanan

dalam colon juga sangat tinggi akibatnya terjadi perforasi dari colon tersebut.
Pemasukan media kontras dengan metode satu tingkat
Merupakan pemeriksaan Colon in Loop dengan menggunakan media kontras berupa
campuran antara BaSO4 dan udara. Barium dimasukkan kira-kira mencapai fleksura
lienalis kemudian kanula diganti dengan pompa. Udara dipompakan dan posisi
pasien diubah dari posisi miring ke kiri menjadi miring ke kanan setelah udara
sampai ke fleksura lienalis. Tujuannya agar media kontras merata di dalam usus.

Setelah itu pasien diposisikan supine dan dibuat radiograf.


Pemasukan media kontras dengan metode dua tingkat.
1)

Tahap pengisian
Pada tahap ini dilakukan pengisian larutan BaSO4 ke dalam lumen colon,

sampai mencapai pertengahan kolon transversum. Bagian yang belum terisi dapat
2)

diisi dengan mengubah posisi penderita.


Tahap pelapisan
Dengan menunggu kurang lebih 1-2 menit agar larutan BaSo4 mengisi

3)

mukosa colon.
Tahap pengosongan

Setelah diyakini mukosa terlapisi maka larutan perlu dibuang sebanyak

4)

yang dapat dikeluarkan kembali.


Tahap pengembangan

Pada tahap ini dilakukan pemompaan udara ke lumen kolon. Pemompaan


udara tidak boleh berlebihan (1800- 2000 ml) karena dapat menimbulkan
kompikasi lain, misalnya refleks vagal yang ditandai dengan wajah pucat,

5)

pandangan gelap, bradikardi, keringat dingin dan pusing.


Tahap pemotretan

Pemotretan dilakukan bila seluruh colon telah mengembang sempurna.

B. Pemeriksaan Intravenous Pyelography (IVP)


20

BNO IVP adalah salah satu pemeriksaan radiografi yaitu dengan cara menyuntikkan zat
kontras melalui pembuluh darah vena untuk menggambarkan anatomi dari pelvis renalis
dan sistem calyses serta seluruh traktus urinarius dengan penyuntikan kontras media positif
secara intra vena. Pemeriksaan ini dapat diketahui kemampuan ginjal mengkonsentrasikan
bahan kontras tersebut.

Indikasi pemeriksaan BNO IVP:


Batu saluran kemih
Infeksi ginjal kronis
Kelainan kongenital
Trauma abdomen
Hematuria
Disuria
Tumor ginjal
Check up, oleh karena nyeri
pinggang yang lama (flank pain)

Kontra indikasi pemeriksaan BNO


IVP:

Alergi terhadap media kontras


Memiliki kelainan atau penyakit

jantung atau hepar lanjut


Infeksi akut traktus urinarius
Retensi cairan berlebih
Multipel myeloma
Neonatus
Diabetes
melitus
tidak

terkontrol/parah
Pasien yang sedang dalam keadaan

kolik
Gangguan fungsi ginjal dengan
ureum >60mg% atau creatinine
>2mg%

21

Persiapan pemeriksaan BNO IVP


1) Persiapan pasien

Tujuan prosedur persiapan pasien adalah untuk membersihkan usus


(gastro intestinal) dari udara dan faeces yang dapat mengganggu visualisasi
dari foto IVP atau menutupi gambaran ginjal dan saluran-salurannya.
Pemeriksaan yang tidak baik terlihat dari bayangan lucent di usus karena
udara dan faeces.
Sehari sebelum pemeriksaan, pasien makan makanan lunak tanpa serat
(seperti bubur kecap) agar makanan mudah dicerna usus sehingga faeces
tidak keras.

Makan terakhir pukul 19.00 (malam sebelum pemeriksaan) agar tidak ada

lagi sisa makanan diusus, selanjutnya puasa sampai pemeriksaan berakhir.


Malam hari pukul 21.00, pasien diminta untuk minum laksatif (dulcolax)

sebanyak 4 tablet.
8 jam sebelum pemeriksaan dimulai, pasien tidak diperkenankan minum

untuk menjaga kadar cairan.


Pagi hari sekitar pukul 06.00 (hari pemeriksaan), pasien diminta untuk
memasukkan dulcolax supossitoria melalui anus, supaya usus benar-benar

bersih dari sisa makanan / faeces.


Selama menjalani persiapan, pasien diminta untuk tidak banyak bicara
dan tidak merokok supaya tidak ada intestinal gas (gas disaluran
pencernaan)

2) Persiapan bahan kontras

Media kontras yang digunakan adalah yang berbahan iodium, dimana


jumlahnya disesuaikan dengan berat badan pasien, yakni 1-2 cc/kg berat

badan.
Bahan kontras yang disuntikkan melalui vena fossa cubiti akan mengalir
ke vena capilaris, vena subclavia, kemudian ke vena cava superior. Dari
VCS bahan kontras akan masuk ke atrium kanan dari jantung, kemudian
ke ventrikel kanan dan mengalir ke arteri pulmo. Kemudian mengalir ke
vena pulmo menuju atrium kiri kemudian ventrikel kiri dan mengalir ke
aorta, serta terus mengalir menuju aorta desendens kemudian kedalam
22

aorta abdominalis dan masuk kedalam arteri renalis dan mulai memasuki
korteks ginjal.
3) Persiapan alat

Peralatan Steril: Wings needle No. 21 G (1 buah), spuit 20 cc (2

buah),kapas alcohol

Peralatan Tidak Steril: Plester, Marker R/L dan marker waktu,


Media kontras Iopamiro ( 40 50 cc), obat-obatan emergency (antisipasi
alergi media kontras), baju pasien, tourniquet

Prosedur pemeriksaan
1) Pasien dianamnesa perjalanan klinis dan riwayat alergi, inform consent
2) Buat plain photo BNO terlebih dahulu untuk menilai persiapan yang
dilakukan pasien, untuk melihat keadaan rongga abdomen khususnya tractus
urinaria secara umum.,untuk menentukan faktor eksposi yang tepat untuk
pemotretan berikutnya sehingga tidak terjadi pengulangan foto karena
kesalahan faktor eksposi.
3) Jika hasil foto BNO baik, lanjutkan dengan melakukan skin test dan IV test
sebelum dimasukkan bahan kontras melalui vena fossa cubiti
4) Sebelum melakukan penyuntikan, pasien ditensi terlebih dahulu.
5) Menyuntikkan bahan kontras secara perlahan-lahan dan menginstruksikan
pasien untuk tarik nafas dalam lalu keluarkan dari mulut guna meminialkan
rasa mual yang mungkin dirasakan pasien
6) Membuat foto 5, 15, dan 30 menit post injeksi
7) Pasien diminta untuk turun dari meja pemeriksaan untuk buang air kecil
(pengosongan blass) kemudian difoto lagi post miksi.
8) Foto IVP bisa saja dibuat sampai interval waktu berjam-jam jika kontras

belum turun

23