Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Sectio Caesarea
1. Pengertian
Terdapat beberapa pencetus sectio caesarea, antara lain :
a. Sectio caesarea merupakan prosedur bedah untuk pelahiran janin dengan
insisi melalui abdomen dan uterus (Liu, 2007, hal .227).
b. Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan
melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan sayatan
rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Sarwono, 2005,
hal. 133).
c. Sectio caesarea atau bedah sesar adalah sebuah bentuk melahirkan anak
dengan melakukan sebuah irisan pembedahan yang menembus abdomen
seorang ibu (laparotomi) dan uterus (hiskotomi) untuk mengeluarkan satu
bayi atau lebih (Dewi Y, 2007, hal. 1-2). Sehingga penulis dapat
menyimpulkan bahwa sectio caesarea adalah suatu tindakan operasi yang
bertujuan untuk melahirkan bayi dengan jalan pembukaan dinding perut.
Universitas Sumatera Utara2. Jenis-Jenis Sectio Caesarea
Ada dua jenis sayatan operasi yang dikenal yaitu :
a. Sayatan melintang
Sayatan pembedahan dilakukan dibagian bawah rahim (SBR). Sayatan
melintang dimulai dari ujung atau pinggir selangkangan (simphysisis) di atas
batas rambut kemaluan sepanjang sekitar 10-14 cm. keuntunganya adalah
parut pada rahim kuat sehingga cukup kecil resiko menderita rupture uteri
(robek rahim) di kemudian hari. Hal ini karna pada masa nifas, segmen
bawah rahim tidak banyak mengalami kontraksi sehingga luka operasi dapat
sembuh lebih sempurna (Kasdu, 2003, hal. 45).
b. Sayatan memanjang (bedah caesar klasik)
Meliputi sebuah pengirisan memanjang dibagian tengah yang memberikan
suatu ruang yang lebih besar untuk mengeluarkan bayi. Namun, jenis ini kini
jarang dilakukan karena jenis ini labil, rentan terhadap komplikasi (Dewi Y,
2007, hal .4).
3. Indikasi Sectio Caesarea
Para ahli kandungan atau para penyaji perawatan yang lain menganjurkan
sectio caesarea apabila kelahiran melalui vagina mungkin membawa resiko pada
ibu dan janin. Indikasi untuk sectsio caesarea antara lain meliputi:
Universitas Sumatera Utara1. Indikasi Medis
Ada 3 faktor penentu dalam proses persalinan yaitu :
a) Power
Yang memungkinkan dilakukan operasi caesar, misalnya daya mengejan
lemah, ibu berpenyakit jantung atau penyakit menahun lain yang
mempengaruhi tenaga.
b) Passanger
Diantaranya, anak terlalu besar, anak mahal dengan kelainan letak
lintang, primi gravida diatas 35 tahun dengan letak sungsang, anak
tertekan terlalu lama pada pintu atas panggul, dan anak menderita fetal
distress syndrome (denyut jantung janin kacau dan melemah).
c) Passage
Kelainan ini merupakan panggul sempit, trauma persalinan serius pada
jalan lahir atau pada anak, adanya infeksi pada jalan lahir yang diduga bisa
menular ke anak, umpamanya herpes kelamin (herpes genitalis),
condyloma lota (kondiloma sifilitik yang lebar dan pipih), condyloma
acuminata (penyakit infeksi yang menimbulkan massa mirip kembang kol
di kulit luar kelamin wanita), hepatitis B dan hepatitis C.

(Dewi Y, 2007, hal. 11-12)


2. Indikasi Ibu
a) Usia
Ibu yang melahirkan untuk pertama kali pada usia sekitar 35 tahun, memiliki
resiko melahirkan dengan operasi. Apalagi pada wanita dengan usia 40 tahun
ke atas. Pada usia ini, biasanya seseorang memiliki penyakit yang beresiko,
Universitas Sumatera Utaramisalnya tekanan darah tinggi, penyakit jantung,
kencing manis, dan
preeklamsia. Eklampsia (keracunan kehamilan) dapat menyebabkan ibu
kejang sehingga dokter memutuskan persalinan dengan sectio caesarea.
b) Tulang Panggul
Cephalopelvic diproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak
sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak
melahirkan secara alami. Tulang panggul sangat menentukan mulus tidaknya
proses persalinan.
c) Persalinan Sebelumnya dengan sectio caesarea
Sebenarnya, persalinan melalui bedah caesar tidak mempengaruhi persalinan
selanjutnya harus berlangsung secara operasi atau tidak. Apabila memang
ada indikasi yang mengharuskan dilakukanya tindakan pembedahan, seperti
bayi terlalu besar, panggul terlalu sempit, atau jalan lahir yang tidak mau
membuka, operasi bisa saja dilakukan.
d) Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang kaku sehingga
tidak memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan
pada jalan lahir, tali pusat pendek, dan ibu sulit bernafas.
e) Kelainan Kontraksi Rahim
Jika kontraksi rahim lemah dan tidak terkoordinasi (inkordinate uterine
action) atau tidak elastisnya leher rahim sehingga tidak dapat melebar pada
proses persalinan, menyebabkan kepala bayi tidak terdorong, tidak dapat
melewati jalan lahir dengan lancar.
Universitas Sumatera Utaraf) Ketuban Pecah Dini
Robeknya kantung ketuban sebelum waktunya dapat menyebabkan bayi
harus segera dilahirkan. Kondisi ini membuat air ketuban merembes ke luar
sehingga tinggal sedikit atau habis. Air ketuban (amnion) adalah cairan yang
mengelilingi janin dalam rahim.
g) Rasa Takut Kesakitan
Umumnya, seorang wanita yang melahirkan secara alami akan mengalami
proses rasa sakit, yaitu berupa rasa mulas disertai rasa sakit di pinggang dan
pangkal paha yang semakin kuat dan menggigit. Kondisi tersebut karena
keadaan yang pernah atau baru melahirkan merasa ketakutan, khawatir, dan
cemas menjalaninya. Hal ini bisa karena alasan secara psikologis tidak tahan
melahirkan dengan sakit. Kecemasan yang berlebihan juga akan mengambat
proses persalinan alami yang berlangsung.
(Kasdu, 2003, hal. 21-26)
3. Indikasi Janin
a) Ancaman Gawat Janin (fetal distress)
Detak jantung janin melambat, normalnya detak jantung janin berkisar
120- 160. Namun dengan CTG (cardiotography) detak jantung janin
melemah, lakukan segera sectio caesarea segara untuk menyelematkan janin.
b) Bayi Besar (makrosemia)
(Cendika, dkk. 2007, hal. 126).
Universitas Sumatera Utarac) Letak Sungsang
Letak yang demikian dapat menyebabkan poros janin tidak sesuai dengan
arah jalan lahir. Pada keadaan ini, letak kepala pada posisi yang satu dan

bokong pada posisi yang lain.


d) Faktor Plasenta
i. Plasenta previa
Posisi plasenta terletak dibawah rahim dan menutupi sebagian atau selruh
jalan lahir.
ii. Plasenta lepas (Solution placenta)
Kondisi ini merupakan keadaan plasenta yang lepas lebih cepat dari
dinding rahim sebelum waktunya. Persalinan dengan operasi dilakukan
untuk menolong janin segera lahir sebelum ia mengalami kekurangan
oksigen atau keracunan air ketuban.
iii. Plasenta accreta
Merupakan keadaan menempelnya plasenta di otot rahim. Pada umumnya
dialami ibu yang mengalami persalinan yang berulang kali, ibu berusia
rawan untuk hamil (di atas 35 tahun), dan ibu yang pernah operasi
(operasinya meninggalkan bekas yang menyebabkan menempelnya
plasenta.
e) Kelainan Tali Pusat
i prolapsus tali pusat(tali pusat menumbung)
keadaan penyembulan sebagian atau seluruh tali pusat. Pada keadaan ini,
tali pusat berada di depan atau di samping atau tali pusat sudah berada di
jalan lahir sebelum bayi.
Universitas Sumatera Utaraii Terlilit tali pusat
Lilitan tali pusat ke tubuh janin tidak selalu berbahaya. Selama tali pusat
tidak terjepit atau terpelintir maka aliran oksigen dan nutrisi dari plasenta
ke tubuh janin tetap aman.(Kasdu, 2003, hal. 13-18).
4. Prosedur Tindakan Sectio Caesarea
a. Izin Keluarga
Pihak rumah sakit memberikan surat yang harus ditanda tangani oleh
keluarga, yang isinya izin pelaksanaan operasi.
b. Pembiusan
Pembiusan dilkakukan dengan bius epidural atau spinal. Dengan cara ini ibu
akan tetap sadar tetapi ibu tidak dapat melihat proses operasi karena
terhalang tirai.
c. Disterilkan
Bagian perut yang akan dibedah, disterilkan sehingga diharapkan tidak ada
bakteri yang masuk selama operasi.
d. Pemasangan Alat
Alat-alat pendukung seperti infus dan kateter dipasangkan. macam peralatan
yang dipasang disesuaikan dengan kondisi ibu.
e. Pembedahan
Setelah semua siap, dokter akan melakukan sayatan demi sayatan sampai
mencapai rahim dan kemudian selaput ketuban dipecahkan. Selanjutnya
dokter akan mengangkat bayi berdasarkan letaknya.
Universitas Sumatera Utaraf. Mengambil Plasenta
Setelah bayi lahir, selanjutnya dokter akan mengambil plasenta.
g. Menjahit
Langkah terakhir adalah menjahit sayatan selapis demi selapis sehingga
tetutup semua.
(Juditha, dkk, 2009, hal. 90-91)
5. Fase Pembedahan
Ada tiga fase dalam tahap pembedahan, yaitu : a) Fase praoperatif dimulai
ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhirketika pasien
dikirim ke
meja operasi. b) Fase intraoperatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah

kebagian atau departemen bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang
pemulihan. c) Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien ke ruang
pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau
rumah
(Bare,et all, 2002, hal. 426).
B.Konsep Kecemasan
1. Defenisi
Menurut Post (1978), kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak
menyenangkan ditandai oleh perasaan-perasaan subjekif seperti ketegangan,
ketakutan,
kekhawatiran, dan juga ditandai dengan aktifnya sistem saraf pusat.
Menurut Videbeck (2008, hal. 12) kecemasan atau ansietas adalah perasaan
takut yang
tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Ketika merasa cemas, individu
merasa tidak
Universitas Sumatera Utaranyaman atau takut atau memiliki firasat akan ditimpa
malapetaka menyenangkan
padahal ia tidak mengerti mengapa emosi yang mengancam tersebut terjadi.
Menurut Suliswati (2005, hal. 108-109) kecemasan merupakan pengalaman
subyektif
dari individu dan tidak dapat di observasi secara langsung serta merupakan
suatu
keadaan emosi tanpa obyek yang spesifik. Kecemasan adalah kebingungan,
kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas
dan
dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya. Kecemasan
tidak dapat
dihindarkan dari kehidupan individu dalam memelihara keseimbangan.
Pengalaman
cemas seseorang tidak sama dalam beberapa situasi dan hubungan
intepersonal.
2. Etiologi Cemas
Kecemasan terjadi karena individu tidak mampu mengadakan penyesuaian diri
terhadap diri semdiri didalam lingkungan pada umumnya. Kecemasan timbul
karena
manifestasi perpaduan bermacam-macam proses emosi (Sundari, 2005).
Penyebab
timbulnya kecemasan dapat ditinjau dari dua faktor yaitu : a) Faktor Internal
seperti
tidak memiliki keyakinan akan kemampuan diri. b) Faktor Eksternal adalah dari
lingkungan seperti ketidaknyamanan akan kemampuan diri, threat (ancaman),
conflik
(pertentangan), fear(ketakutan), unfuled need (kebutuhan yang tidak terpenuhi).
3. Tanda-Tanda Umum Kecemasan
Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh yang mengalami gangguan
kecemasan antara lain adalah penyataan cemas, khawatir, firasat buruk, takut
akan
pikiranya sendiri, mudah tersinggung, merasa tegang, tidak tenang, gelisah,
mudah
terkejut, takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang, gangguan
pola tidur,
Universitas Sumatera Utaramimpi-mimpi yang menegangkan, gangguan
konsentrasi dan daya ingat, keluhankeluhan somatik, misalnya rasa sakit pada
otot dan tulang, pendengaran berdenging,

berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan,


sakit kepala
dan lain sebagainya (Hawari, 2001, hal. 66-67).
4. Tingkat Kecemasan
Menurut Dalami (2009) ansietas atau kecemasan terdapat dalam 4 tingkatan,
setiap tingkatan memiliki karakteristik dalam persepsi yang berbeda, tergantung
kemampuan individu yang ada dan dari dalam dan luarnya maupun dari
lingkungannya,
tingkat kecemasan atau ansietas yaitu :
a. Kecemasan Ringan
Berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari. Individu
masih waspada dan berhati-hati, serta lapang persepsinya melebar. Individu
terdorong
untuk belajar yang akan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas. Respon
fisiologi
kecemasan ringan adalah : sesekali nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik,
gejala
ringan pada lambung, muka berkerut dan bibir bergetar, sedang respon perilaku
dan
emosinya adalah : tidak dapat duduk tenang, tremor halus pada tangan, suara
kadangkadang meninggi.
b. Kecemasan Sedang
Individu lebih memfokuskan hal-hal penting saat itu dan mengenyampingkan hal
lain, lapangan persepsi terhadap lingkungan menurun. Respon fisiologi pada
kecemasan
sedang adalah : sering nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, mulut kering,
anorexia, konstipasi atau diare, gelisah., sedang respon perilaku dan emosinya
adalah :
Universitas Sumatera Utaragerakan tersentak-sentak (mremas tangan), bicara
banyak dan lebih cepat, susah tidur,
perasaan tidak aman.
c. Kecemasan Berat
Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatianya pada detil yang
kecil (spesifik) dan mengabaikan hal lain. Individu tidak mampu lagi berfikir
realistis
dan membutuhkan banyak pengarahan untuk memusatkan perhatian pada area
lain.
Respon fisiologi pada kecemasan berat adalah : nafas pendek, nadi dan tekanan
darah
naik, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan kabur, ketegangan, sedang
respon
perilaku dan emosinya adalah : perasaan ancaman meningkat, verbalisasi cepat.
d. Kecemasan Panik
Pada tingkatan ini lapangan persepsi Individu sudah sangat menyempit dan
sudah terganggu sehingga tidak dapat mengendalikan diri lagi dan tidak dapat
melakukan apa-apa walaupun telah diberikan pengarahan. Respon fisiologi pada
tingkat
kecemasan ini adalah : nafas pendek, rasa tercekik, sakit dada, pucat, hipotensi,
koordinasi motorik rendah, sedang respon perilaku dan emosi nya adalah :
mengamuk
dan marah, ketakutan, berteriak, kehilangan kendali atau kontrol diri, persepsi
kacau.
5. Respon Psikologi Suami
a. Merasa Tersingkir

Beberapa pria mungkin menunjukan kepedulian akan istrinya, sedangkan pria


lain justru merasa kesepian dan terasing karena istrinya secara fisik dan
emosional
terikat dengan calon anak mereka. Pria yang demikian memiliki kemungkinan
mencari
kenikmatan dan dukungan atas sikap mereka di luar rumah atau melibatkan diri
dalam
suatu hobi baru atau membenamkan diri dalam pekerjaan.
Universitas Sumatera Utarab. Respon Emosi
Pria menunjukan berbagai respon emosi dalam menghadapi persalinan istrinya,
diantaranya adalah, 1). Gaya pengamat didefenisikan sebagai sifat yang
menjauhi
kehamilan istrinya, 2). Gaya ekspresif dikenal sebagai respon emosi yang kuat
terhadap
kehamilan dengan keinginan untuk menjadi pasangan secara penuh, 3). Gaya
instrumental diperlihatkan oleh pria yang menekankan bahwa tugasnya harus
diselesaikan dan memandang dirinya sebagai pengurus atau manager
kehamilan.
c. Mimpi Kehamilan
Bagi para calon ibu dan ayah , kehamilan adalah masa intensnya perasaan,
perasaan bisa naik turun dari perasaan antisipasi yang gembira sampai ke
kecemasan
yang menimbulkan kepanikan, kemudian kembali lagi. Tidak mengherankan bila
perasaan ini mencari jalan keluar dalam mimpi, di mana bawah sadar suami bisa
menindak lanjuti dan menyelesaikanya dengan aman. Mimpi tentang seks
(terutama jika
dengan pasangan lain) adalah alam bawah sadar yang mengatakan apa yang
mungkin
sudah diketahui bahwa ia khawatir bahwa kehamilan dan mempunyai anak akan
mempengaruhi hubungan seksualnya. Seorang suami bisa bermimpi menjadi
anak-anak
lagi, yang bisa mengungkapkan ketakutan yang wajar akan tanggung jawab
yang
mendatang dan keriduan akan tahun-tahun kebebasan yang sudah berlalu. Ia
bisa
bermimpi bahwa ia sendirilah yang hamil, ini mengungkapkan simpati akan
beban yang
ditanggung oleh istrinya, atau karena dilubuk hatinya khawatir bahwa
pengasuhan akan
membuat kejantanannya berkurang.
d. Melamunkan Calon Bayi
Dalam banyak hal pria mempersiapkan diri untuk menjadi ayah dengan cara
sama yang dilakukan wanita dalam mempersiapkan diri untuk menjadi ibu,
misalnya
Universitas Sumatera Utaramenbaca, membayangkan, dan melamunkan
bayinya. Pria menyesuaikan segala kegiatan
yang dahulu biasa dilakukan dengan tanggung jawabnya yang baru sehingga
memungkinkan menyediakan waktu untuk keluarga barunya.
Melamun merupakan bentuk bermain peran atau persiapan psikologis
menyambut bayi, yang sering dilakukan selama beberapa minggu terakhir
sebelum bayi
lahir. Pria jarang sekali menceritakan lamunannya kecuali jika mereka diyakinkan
behwa melamun merupakan hal yang normal dan sering ditemui.
Sebagian calon ayah terlibat dengan memilih nama dan menduga jenis kelamin

calon bayinya. Saat persalinan berlangsung kebanyakan otangtua dapat


menerima jenis
kelamin bayinya., tetapi kadang-kadang kekecewaan muncul dan diungkapkan
degan
jelas. Orangtua mungkin merasa sedih melepaskan anak yang dibayangkan dan
mulai
menerima anaknya yang nyata (Bobak, 2005).
6. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan Pada Suami
a. Kecemasan karena Indikasi Persalinan
Suami yang menunggu persalinan istrinya dihadapkan pada situasi yang tidak
menentu, artinya suami tidak tahu secara pasti kondisi saat-saat menjelang
persalinan.
Kondisi inilah yang memunculkan kecemasan pada suami. Beberapa hal yang
dicemaskan dan ketidaksiapan suami dalam menunggu proses persalinan sang
istri
karena adanya ketakutan seperti apakah akan memperoleh pertolongan dan
perawatan
semestinya, apakah bayinya cacat, ataukah bayinya akan meninggal. Selain
suami
mencemaskan kondisi istrinya, masalah lain yang ikut dicemaskan oleh suami
diantaranya masalah rumah tangga, keadaan sosial ekonomi.
Universitas Sumatera Utarab. Kecemasan Akan Tanggung Jawab Finansial
May (1982) menemukan bahwa kesiapan calon ayah menyambut persalinan
dicerminkan dalam tiga aspek : 1). Keuangan yang relatif cukup, 2). Hubungan
yang
stabil dengan pasangan, 3). Kepuasan dalam hubungan tanpa anak. Banyak pria
menyatakan kekhawatirannya akan ekonomi keluarga yang tidak aman. Para
calon ayah
merasa khawatir akan perannya sebagai orang tua dan efeknya pada
kehidupanya.
Kekhawatiran yang paling umum adalah, apakah ia akan menjadi ayah yang
baik?
apakah hubungannya dengan istri akan berubah? Bagaimana ia dan istri akan
membagi
pekerjaan pengasuhan anak? bagaimana ia bisa melanjutkan jadwal kerja
sekaligus
menjadi ayah yang baik? serta mampukah ia membiayai keluarga yang lebih
besar?
Terutama di masa sekarang, ketika biaya perawatan anak semakin meninggi,
banyak
calon ayah yang susah tidur memikirkan pertanyaan ini. Penyesuaian dalam
keuangan
harus dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap penurunan pendapatan dan
peningkatan pengeluaran karena kehadiran seorang anggota keluarga baru.
c. Ketakutan Menjadi Calon Ayah Pada Anak Pertama
Setiap calon ayah mempunyai sikap yang mempengaruhi perilakunya terhadap
suatu kehamilan. Dengan sikap tersebut, ia menyesuaikan diri terhadap
kehamilan dan
peran sebagai orang tua. Ingatan calon ayah bagaimana ia dulu dirawat
ayahnya,
pengalamannya merawat anak, dan persepsinya terhadap peran pria dan ayah
dalam
kelompok budaya dan sosialnya akan mengarahkan pilihanya dalam menetapkan
tugas

dan tanggung jawab yang akan ia pikul.


Sebagian pria akan sangat termotivasi untuk mengasuh dan mengasihi seorang
anak. Mereka mungkin bersemangat dan senang menyongsong peran ayah. Pria
yang
mempunyai rasaa percaya diri, pengaturan keuangan, dan kondisi kerja yang
baik
Universitas Sumatera Utaratampaknya lebih mudah terlibat dalam peran sebagai
seorang ayah dalam rencana
hidupnya.
Pria dalam penelitian dinyatakan bahwa pria dikenal sebagai penolong atau
pencari nafkah keluarga, tetapi mereka merasa asing akan pengalaman
kehamilan.
Mereka merasa, tidak memiliki contoh untuk berperan sebagai ayah baru.
Empat jenis dukungan yang diperlukan untuk mempersiapkan diri menjadi ayah :
a). Dukungan emosi. Sumber utama dukungan pria adalah pasanganya.
Dukungan ini
harus dimodifikasi, sehingga memungkinkan untuk mengasuh bayi dan memberi
asuhan
tambahan terhadap kebutuhanya istrinya. Oleh karena itu, para ayah perlu
mencari
dukungan dari keeluarga dan teman-teman. b). Dukungan instrumental. Ayah
perlu
mengetahui bahwa ia dapat bergantung kepada keluarga atau teman, jika
memerlukan
bantuan. c). Dukungan informasi. Ayah perlu mengetahui siapa saja yang dapat
memberi
nasehat tentang cara menyelesaikan persoalan yang tiba-tiba muncul. d).
Dukungan
penilaian. Ayah perlu menemukan orang lain yang dapat memberi kriteria yang
dapat ia
gunakan untuk mengukur keterampilanya
d. Pengalaman Persalinan Istri Sebelumnya
Pengalaman suami menunggu persalinan istri sebelumnya dapat mengurangi
kecemasan
karena memiliki pengalaman untuk melakukan tindakan yang akan dilakukan.
Pengalaman yang buruk atau traumatik pada persalinan pertama atau
sebelumnya akan
meningkatkan kecemasan suami dengan mengingat kembali proses yang
dialaminya
karena mengingat keadaan yang sama sebagai ancaman bagi kehidupanya
(Murkoff,
2006).
Universitas Sumatera Utara
Pdf 2 =
http://www.academia.edu/9535320/laporan_kasus_sectio_caesarea_atas_indikasi
_gagal_drip
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Persalinan Sectio Caesarea di
Kabupaten Pati (Studi pada RSUD RAA Soewondo dan Rumah Sakit Islam Pati)

Thursday, 20 February 2014

Last Updated on Thursday, 20 February 2014 06:32


Written by MasterAdmin
Hits: 10881
-4500
c
Naskah Masuk: 29 Oktober 2013
Naskah Revisi: 7 November 2013
Diterima: 14 November 2013
PENDAHULUAN

Naskah

Hampir setiap wanita akan mengalami proses persalinan.


Kodratnya wanita dapat melahirkan secara normal yaitu persalinan melalui
vagina atau jalan lahir biasa (Siswosuharjo dan Chakrawati, 2010). Apabila
wanita tidak dapat melahirkan secara normal maka tenaga medis akan
melakukan persalinan alternatif untuk membantu pengeluaran janin (Bobak,
et.al, 2005). Salah satu penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah
persalinan sectio caesarea. Persalinan sectio caesarea adalah melahirkan janin
melalui irisan pada dinding perut dan dinding uterus.
Persalinan sectio caesarea harus dipahami sebagai salah satu jalan untuk
menolong persalinan jika persalinan normal tidak dapat dilakukan dengan tujuan
tercapai bayi lahir sehat dan ibu juga selamat. Pertimbangan medis dilakukannya
persalinan caesar antara lain karena faktor dari ibu hamil dan faktor janin. Faktor
ibu antara lain ibu berpenyakit jantung, paru, ginjal, atau tekanan darah tinggi
atau pada ibu dengan komplikasi pre-eklampsia / eklampsia atau ibu dengan
kelelahan saat persalinan. Selain itu keadaan yang mendesak kehamilan dengan
pendarahan, perjalanan persalinan yang terhambat, kesempitan panggul,
kelainan letak janin dalam rahim, kelainan posisi kepala di jalan lahir dan
persalinan lama merupakan alasan yang dibenarkan secara medis untuk
dilakukan persalinan sectio caesarea. Faktor janin antara lain gawat janin akibat
air ketuban kurang, posisi bayi sungsang, pertumbuhan janin kurang baik, dan
kematian janin dalam rahim (Manuaba, dkk., 2009).
Jumlah persalinan sectio caesarea di Indonesia, terutama di rumah sakit
pemerintah adalah sekitar 20-25% dari total jumlah persalinan, sedangkan di
rumah sakit swasta jumlahnya lebih tinggi yaitu sekitar 30-80% dari total jumlah
persalinan (Mulyawati, dkk., 2011). Peningkatan persalinan dengan sectio
caesarea dilakukan dengan berbagai alasan. Survei Majalah Kartini edisi ibu dan
anak (2008) menunjukkan bahwa sebanyak 83,5% responden melakukan
persalinan sectio caesarea karena keputusan dokter berdasarkan komplikasi
medis, 10% responden lainnya beralasan memilih persalinan sectio
caesarea karena kehamilan sebelumnya juga melalui cara yang sama,
sementara sisanya sebanyak 6,5% responden memilih melahirkan secara sectio
caesareakarena tidak ingin merasakan nyeri hebat, merasakan persalinan
dengan proses yang relatif cepat, faktor estetika (tidak ingin elastisitas vagina
berubah), bisa menentukan tanggal kelahiran bayi, dan adanya rekomendasi
kerabat (Sari, 2009).
Persalinan sectio caesarea, yang merupakan jalan keluar jika persalinan
pervaginam (normal) tidak memungkinkan ternyata juga memiliki kelemahan.
Kelemahan tersebut bersumber dari risiko kematian dan infeksi yang lebih tinggi
dibandingkan persalinan pervaginam. Hasil penelitian oleh Sadiman dan Ridwan

(2009) menyatakan Angka Kematian Ibu (AKI) dengan persalinan sectio


caesarea sebesar 40-80 setiap 100.000 kelahiran hidup, sementara risiko
kematian ibu pada persalinan section caesarea meningkat 25 kali dan risiko
infeksi 80 kali lebih tinggi dibandingkan persalinan pervaginam.
RSUD RAA Soewondo merupakan rumah sakit pemerintah yang menjadi rujukan
dari seluruh wilayah di Kabupaten Pati. Berdasarkan Profil RSUD RAA Soewondo
Kabupaten dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan persalinan
dengan sectio caesaria periode tahun 2010-2011. Pada tahun 2010, persentase
persalinan sectio caesarea sebesar 26,68% dari total 2.721 persalinan,
sedangkan di tahun 2011 persentase tersebut meningkat menjadi 27,87% dari
total 2.924 persalinan. Selain RSUD RAA Soewondo, terdapat beberapa rumah
sakit di Kabupaten Pati yang melayani persalinan sectio caesare, diantaranya
Rumah Sakit Islam (RSI) Pati. Berdasarkan data persalinan di RSI Pati tahun 2012,
persentase persalinan section caesarea sebesar 26,91%. Berdasarkan latar
belakang tersebut, tujuan penelitian adalah mengetahui faktor-faktor yang
berhubungan dengan tindakan persalinan sectio caesarea di Kabupaten Pati:
Studi pada RSUD RAA Soewondo dan Rumah Sakit Islam Pati
TINJAUAN PUSTAKA
Sectio Caesarea
Sectio caesarea adalah upaya mengeluarkan janin melalui pembedahan pada
dinding abdomen dan uterus.Sectio aesarea merupakan bagian dari metode
obstetrik operatif. Persalinan sectio caesarea dilakukan sebagai alternatif jika
persalinan lewat jalan lahir tidak dapat dilakukan. Tujuan dilakukan
persalinan sectio caesarea agar ibu dan bayi yang dilahirkan sehat dan selamat
(Reeder et.al, 2011).
Indikasi Persalinan Sectio Caesarea
Menurut Reeder, et.al. (2011), indikasi persalinan sectio caesarea terdiri atas
faktor ibu, faktor janin, faktor plasenta atau kombinasi satu dengan yang lain.
Faktor ibu terdiri atas penyakit ibu yang berat (seperti penyakit jantung berat,
diabetes mellitus, preeklamsia berat atau eklampsia, dan kanker serviks) atau
infeksi berat (virus herpes simpleks tipe II atau herpes genitalis dalam fase aktif
atau dalam 2 minggu lesi aktif). Penyakit tersebut membutuhkan
persalinan sectio caesarea karena beberapa alasan: (1) untuk mempercepat
persalinan dalam suatu kondisi yang kritis; (2) karena ibu dan janinnya tidak
mampu menoleransi persalinan; (3) janin akan terpajan dengan risiko bahaya
yang meningkat saat melalui jalan lahir. Faktor ibu yang lain adalah pembedahan
uterus sebelumnya, termasuk miomektomi, persalinan sectio
caesaria sebelumnya dengan insisi klasik, rekonstruksi uterus, dan obstruksi
jalan lahir karena adanya fibroid atau tumor ovarium.
Faktor janin terdiri atas gawat janin, seperti janin dengan kasus prolaps tali
pusat, insufisiensi uteroplasenta berat, dan malpresentasi (seperti letak
melintang, janin dengan presentasi dahi). Kehamilan ganda dengan bagian
terendah janin kembar adalah pada posisi melintang bokong. Faktor plasenta
berupa plasenta previa dan solusio plasenta (pemisahan plasenta sebelum
waktunya). Faktor kombinasi antara faktor ibu dan janin pada umumnya adalah
distosia (kemajuan persalinan abnormal) yang ditunjukkan sebagai suatu
kegagalan kemajuan dalam persalinan. Hal ini kemungkinan berhubungan
dengan ketidaksesuaian antara ukuran panggul dan ukuran kepala janin
(disproporsi sefalopelvik), kegagalan induksi, atau aksi kontraksi uterus yang
abnormal.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Persalinan Sectio Caesarea
1. Usia Ibu
Usia merupakan salah satu tolok ukur kesiapan seorang ibu untuk melahirkan,
dimana usia ideal untuk menjalani proses kehamilan dan persalinan adalah usia

20-35 tahun. Wanita berusia kurang dari 20 tahun biasanya memiliki kondisi
psikis yang belum matang serta kemampuan finansial yang kurang mendukung,
sementara wanita berusia lebih dari 35 tahun cenderung mengalami penurunan
kemampuan reproduksi (Harnowo, 2013).
2. Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan. Paritas merupakan faktor
penting yang menunjang keberhasilan kehamilan dan persalinan. Persalinan
yang pertama sekali biasanya mempunyai risiko relatif tinggi terhadap ibu dan
anak, kemudian risiko ini menurun pada paritas kedua dan ketiga, dan akan
meningkat lagi pada paritas keempat dan seterusnya (Mochtar, 1998). Ibu yang
sering melahirkan memiliki risiko mengalami komplikasi persalinan pada
kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi. Pada
paritas lebih dari empat keadaan rahim biasanya sudah lemah yang dapat
menimbulkan persalinan lama dan pendarahan saat kehamilan (Depkes RI, 2003)
3. Kadar Hb
Kadar Haemoglobin (Hb) merupakan salah satu indikator status gizi seseorang.
Selama kehamilan, anemia lazim terjadi dan biasanya disebabkan oleh defisiensi
besi sekunder karena kebutuhan besi seorang ibu hamil akan meningkat sebagai
suplai besi untuk janin. Kadar Hb menunjukkan status anemia. Ibu yang
mempunyai kadar Hb < 11 gr % berarti menderita anemia. Penelitian oleh
Mulyawati, dkk. (2011) di RSI YAKKIS Gumolong Kabupaten Sragen menunjukkan
adanya hubungan usia ibu dengan persalinan sectio caesarea. Anemia pada ibu
hamil merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia dan merupakan
salah satu penyebab pendarahan pascapersalinan yang dapat menyebabkan
kematian ibu.
4. Riwayat Persalinan
Persalinan sectio caesarea dengan irisan perut dan rahim secara vertikal
membuat ibu hamil rentan mengalami perobekan pada rahim saat mengejan
pada proses persalinan normal yang dapat berpotensi menyebabkan perdarahan.
Oleh karena itu, untuk menghindari morbiditas dan mortalitas pada ibu dengan
riwayat sectio caesarea terutama sectio caesarea dengan irisan vertikal, maka
persalinan sectio caesarea menjadi pilihan (Anonim, 2009).
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan rancangan cross
sectional. Variabel bebas dalam penelitian ini terdiri atas umur, paritas, kadar
Hb, dan riwayat persalinan sectio caesarea, sedangkan variabel terikat adalah
persalinan sectio caesarea. Penelitian dilaksanakan mulai bulan April hingga
Oktober 2013. Tempat penelitian di RSUD RAA Soewondo dan Rumah Sakit Islam
Pati.
Populasi penelitian adalah semua ibu yang melahirkan dengan persalinan normal
dan persalinan sectio caesareadi RSUD RAA Soewondo dan Rumah Sakit Islam
Pati tahun 2012 berjumlah 1.881 persalinan. Besar sampel dihitung berdasarkan
Tabel Krecjie, sehingga sampel penelitian berjumlah 320 persalinan. Teknik
pengambilan sampel menggunakan teknik random sederhana. Pengumpulan
data dilakukan dengan pencatatan di bagian rekam medis Rumah Sakit dengan
alat bantu cek list. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik Chi square.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Proporsi Persalinan Sectio Caesarea
Berdasarkan jenis persalinan, jumlah sampel dengan persalinan normal adalah
199 persalinan (62,2%) sedangkan sampel dengan persalinan sectio
caesarea sebanyak 121 persalinan (37,8%). Ringkasan persebaran sampel
berdasarkan jenis persalinan ditampilkan pada Tabel 1.
Tabel 1.

Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Jenis Persalinan


No Jenis Persalinan Jumlah
Persentas
e
1
Normal
199
62,2
2
Sectio caesarea 121
37,8
Total
320
100
Sumber: Pengolahan Data (2013)
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sadiman dan
Ridwan (2009) di RSUD Ahmad Yani Metro Tahun 2008 yang menyebutkan
proporsi ibu yang melahirkan dengan persalinan normal lebih besar (70,3%)
dibandingkan persalinan sectio caesarea (29,7%). Pengamatan terhadap data
menunjukkan bahwa persalinan sectio caesarea dilakukan berdasarkan
pertimbangan beberapa alasan sebagaimana disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2.
Alasan Persalinan Sectio caesarea di Kabupaten Pati Tahun 2012
No Alasan
Jumlah
Persentase
Sumber:
1
menolak pervaginam 41
33,9
Pengolahan Data
2
partus macet
24
19,8
(2013)
3
riwayat sc
20
16,5
Berdasarkan Tabel 2
dapat disimpulkan
4
induksi gagal
15
12,4
bahwa alasan utama
5
Gamely
3
2,5
dilakukannya
6
kala II lama
3
2,5
persalinan sectio
7
serotinus
3
2,5
caesarea adalah
menolak persalinan
8
fetal compromised
2
1,7
pervaginam
9
Ketuban Pecah Dini 2
1,7
(33,9%), selain
10 letak sungsang
2
1,7
partus macet
11 Pre-Eklamsi Berat
2
1,7
(19,8%),
mempunyai
12 hidrocepalus
1
0,8
riwayat sectio
13 Anemia
1
0,8
caesarea(16,5%)
14 oligohidramnion
1
0,8
dan induksi gagal
15 preeklamsi ringan
1
0,8
(12,4%).
Total
121
100,0
Persalinan sectio
caesarea dengan
alasan menolak persalinan pervaginam juga menjadi temuan penelitian oleh
Gondo dan Sugiharto (2006) dengan persentase sebesar 34,82%, sedangkan
sisanya sebesar 65,18% merupakan persalinan sectio caesarea dengan alasan
medis. Namun demikian, hasil berbeda dikemukakan oleh Annisa (2011) melalui
penelitian yang dilakukan di RSUD Dr. Adjidarmo Lebak yang menyebutkan
alasan terbanyak dilakukannya persalinan sectio caesarea adalah ketuban pecah
dini (18,6%), kala II lama (14,7%), partus tak maju (14,0), dan malposisi (13,6%).
Dewi dan Fauzi (2007) menyatakan indikasi nonmedis yang mendasari
persalinan sectio caesarea dapat berasal dari pasien itu sendiri, suami bahkan
keluarga. Beberapa alasan nonmedis antara lain : ibu tidak ingin keadaan
vaginanya agak longgar dan terlalu sayang pada anak, sehingga tidak tega
membiarkan anak menunggu lahir atau bersusah payah melewati jalan lahir.
Selain itu terdapat kepercayaan adanya hubungan antara saat kelahiran dengan
perjalanan nasib yang selanjutnya memunculkan upaya merekayasa waktu

persalinan, yaitu dengan cara menentukan tanggal dan bulan yang sesuai
dengan yang diyakini oleh ibu dan keluarga.
Distribusi frekuensi sampel dilakukan berdasarkan variabel yang diteliti, yaitu
usia, paritas, kadar Hb, dan riwayatsection caesarea (SC). Variabel usia
mengelompokkan sampel menjadi tiga kategori yaitu <20 tahun, 20-35 tahun,
dan >35 tahun. Observasi terhadap usia sampel menunjukkan sampel termuda
berusia 16 tahun dan sampel tertua berusia 44 tahun. Variabel paritas
menggolongkan sampel menjadi dua, yaitu tidak berisiko (paritas 2-3) dan
berisiko (paritas 1 atau 4). Kadar Hb dibedakan dalam dua kelompok, yaitu
anemia yaitu jika kadar Hb <11% dan tidak anemia jika kadar Hb 11%.
Riwayat persalinan sectio caesarea dibedakan dalam dua kelompok, yaitu tidak
punya riwayat Sectio Caesarea (SC) dan riwayat SC. Distribusi frekuensi sampel
berdasarkan variabel bebas ditampilkan pada Tabel 3.
DAFTAR PUSTAKA
Akhmad, S. A. 2008. Panduan Lengkap Kehamilan, Persalinan, dan Perawatan
Bayi. Yogjakarta : DIGLOSSIA MEDIA.
Annisa, S. A. 2011. Faktor-faktor Risiko Persalinan Sectio Caesarea di RSUD
Adjidarmo Lebak pada Bulan Oktober-Desember 2010. Skripsi. Program Studi
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Jakarta : Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatulloh.
Anonim, 2009. Sekali Operasi Caesar, Caesar
Selamanya.http://femae.kompas.com/read/2009/08/03/1011717/sekali.Operasi.C
aesar.Selamanya. Caesar. Diakses tanggal 13 November 2013.
Anonim, 2012. Liputan khusus I: Melahirkan Normal Adalah Fitroh Seorang
Ibu. http://www.omni-hospitals.com/omni_alamsutera/blog_detail.php?
id_post=42. Diakses tanggal 30 Oktober 2013.
Bobak, Lowdermilk dan Jensen. 2004. Keperawatan Maternal. (Penerjemah: Maria
dan Peter). Jakarta : EGC.
Departeman Kesehatan RI. 2003. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat
Kesehatan Ibu, dan Anak (PWS-KIA). Jakarta : Depkes RI.
-------------------------------2005. Materi Ajar Upaya Penurunan Kematian Ibu dan bayi
baru Lahir. Jakarta : Depkes RI- FKM UI.
Dewi, Y. danH.Fauzi. 2007. Operasi Caesar Pengantar Dari A sampai Z. Jakarta :
Edsa Mahkota.
Gondo H. K. dan K. Sugiharta . 2010. Profil Operasi Sectio Caesarea di SMF
Obstetri dan Ginekologi RSUP Sanglah Denpasar Bali Tahun 2001 dan
2006. CDK .Vol 175, No. 37 : 97-101.
Harnowo, P. A. 2013.Saat Terlalu Tua atau Terlalu Muda Tak Sehat, Ini Usia
Idealnya.http://health.detik.com/read/2013/02/06/142659/2162704/775/hamilsaat-terlalu-tua-atau-terlalu-muda-tak-sehat-ini-usia-idealnya. Diakses tanggal
13 November 2013.
Jovany, M. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Ibu Dilakukan
Sectio Caesarea yang Kedua. Skripsi. Fakultas Ilmu Keperawatan. Jakarta :
Universitas Indonesia.
Manuaba, I. A C., I. B. G. F. Manuaba, I. B. G. Manuaba. 2009. Mamahami
Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta : EGC.
Manuaba, I. A. C. 1999. Ilmu Kebidanan, Penyakit kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan.Jakarta : EGC.
Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid II (Edisi II). Jakarta : EGC.
Mulyawati, I., M. Azam, D.N. A. Ningrum, 2011. Faktor-Faktor yang Berhubungan
dengan Tindakan Persalinan melalui Operasi Sectio Caesarea. Jurnal Kesehatan
Masyarakat.Vol 7, No. 1 : 15-24.
Prawirohardjo, S. 2008. Ilmu Kebidanan (Edisi IV). Jakarta : Bina Pustaka.

Reeder,S. J., Martin, L. L., dan Griffin, D. K. 2011. Keperawatan


Maternitas:Kesehtan Wanita, Bayi dan Keluarga. Ed.18. Vol.2, Penerjemah: Yanti
Afiyanti, dkk. Jakarta : EGC.
RSI Pati. 2013. Profil Rumah Sakit Islam (RSI) Pati Tahun 2012. Pati.
RSUD RAA Soewondo. 2012. Profil RSUD RAA. Soewondo Pati Tahun 2011. Pati.
Sadiman dan M. Ridwan. 2009. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
Persalinan Seksio Caesaria di RSUD Ahmad Yani Metro Tahun 2008. Jurnal
Kesehatan Metro Sai Wawai. Vol. II No. 2 : 1-10.
Sari, D. S., 2010. Persalinan Normal vs Operasi Caesar: Pahami, Pilih, dan
tentukan dari Sekarang.http://www.kemangmedicalcare.com/. Diakses tanggal 23
April 2013
Setyaningrum, D. 2005. Hubungan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil Trimester
III dengan Lama Persalinan di RB Annisa Kota Semarang. Skripsi. Fakultas
Kesehatan Masyarakat. Semarang: Universitas Diponegoro
Siswosuharjo dan Chakrawati. 2010. Panduan Super Lengkap Hamil
Sehat. Semarang: Pesona Plus. B.
Sectio Caesarea
1. Definisi Sectio Caesarea
Sectio caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi
pada dinding abdomen dan uterus (Oxorn, et al, 2010).
Sectio caesarea adalah prosedur pembedahan yang di gunakan untuk
melahirkan
bayi melalui sayatan yang dibuat pada perut dan rahim (Simkin, et al, 2008).
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka
dinding perut dan dinding uterus (Prawirohardjo, 2007).
Sectio caesarea di definisikan sebagai lahirnya janin melalui insisi di dinding
abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histerektomi) (Cunningham, et al,
2005).
Sehingga penulis dapat menyimpulkan bahwa sectio caesarea adalah suatu
tindakan
operasi yang bertujuan untuk melahirkan bayi dengan jalan pembukaan dinding
perut.