Anda di halaman 1dari 12

1.

Pengertian Filsafat Pendidikan


1.1.

Pengertian Filsafat

Apakah filsafat itu? Bagaimana definisinya? Demikianlah


pertanyaan pertama. yang kita hadapi tatkala akan mempelajari ilmu
filsafat. Istilah "filsafat" dapat ditinjau dari dua segi, yakni:
Segi semantik: perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab
'falsafah', yang berasal dari bahasa Yunani, 'philosophia', yang berarti
'philos' = cinta, suka (loving), dan 'sophia' = pengetahuan,
hikmah(wisdom). Jadi 'philosophia' berarti cinta kepada kebijaksanaan
atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang
berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada
pengetahuan disebut 'philosopher', dalam bahasa Arabnya 'failasuf".
Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan
sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya
kepada pengetahuan.
Segi praktis: dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat bererti
'alam pikiran' atau 'alam berpikir'. Berfilsafat artinya berpikir. Namun
tidak semua berpikir bererti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir
secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan
mengatakan bahwa "setiap manusia adalah filsuf". Semboyan ini
benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum
semboyan itu tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir
adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala
sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Tegasnya: Filsafat
adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan
suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain:
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh
hakikat kebenaran segala sesuatu.
Beberapa definisi, karena luasnya lingkungan pembahasan ilmu
filsafat, maka tidak mustahil kalau banyak di antara para filsafat
memberikan definisinya secara berbeda-beda. Coba perhatikan
definisi-definisi ilmu filsafat dari filsuf Barat dan Timur di bawah ini:
1. Plato (427SM - 347SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur
murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah
pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang
berminat mencapai kebenaran yang asli).

3.

4.

5.

6.

7.

2. Aristoteles (384 SM - 322SM) mengatakan : Filsafat adalah ilmua


pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya
terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi,
politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala
benda).
Marcus Tullius Cicero (106 SM - 43SM) politikus dan ahli pidato
Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu
yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
Al-Farabi (meninggal 950M), filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina,
mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud
dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
Immanuel Kant (1724 -1804), yang sering disebut raksasa pikir Barat,
mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan
yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu: "apakah yang
dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika); "apakah yang dapat
kita kerjakan? (dijawab oleh etika); "sampai di manakah pengharapan
kita? (dijawab oleh antropologi).
Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI, menyimpulkan: Filsafat
adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari
radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak
dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat
berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang
universal.
Drs H. Hasbullah Bakry merumuskan: ilmu filsafat adalah ilmu yang
menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan,
alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan
pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat
dicapai oleh akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu
seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

Setelah mempelajari rumusan-rumusan tersebut di atas dapatlah


disimpulkan bahwa:
1. Filsafat adalah 'ilmu istimewa' yang mencoba menjawab masalahmasalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa
kerana masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu
pengetahuan biasa.
2. Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk
memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta
sistematis
hakikat
sarwa
yang
ada,
yaitu:
"hakikat Tuhan, "hakikat alam semesta, dan "hakikat manusia, serta
sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut. Perlu

ditambah bahwa definisi-definisi itu sebenarnya tidak bertentangan,


hanya cara mengesahkannya saja yang berbeda.
1.2.

Pengertian Pendidikan

Berikut ini adalah beberapa Pengertian Definisi Pendidikan


Menurut Para Ahli diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Pengertian pendidikan menurut M.J. Langeveld
Pendidikan adalah merupakan upaya manusia dewasa
membimbing manusia yang belum dewasa kepada kedewasaan.
Pendidikan ialah usaha menolong anak untuk melaksanakan
tugastugas hidupnya, agar bisa mandiri, akil-baliq, dan
bertanggung jawab secara susila. Pendidikan adalah usaha
mencapai penentuan-diri-susila dan tanggung jawab.
b. Tujuan Pendidikan menurut prof dr langeveld
Pendewasaan diri, dengan ciri-cirinya yaitu : kematangan
berpikir, kematangan emosional, memiliki harga diri, sikap dan
tingkah
laku
yang
dapat
diteladani
serta
kemampuan
pengevaluasian diri. Kecakapan atau sikap mandiri, yaitu dapat
ditandai pada sedikitnya ketergantungan pada orang lain dan selalu
berusaha mencari sesuatu tanpa melihat orang lain.
c. Pengertian pendidikan menurut driyarkara
Pendidikan didefinisikan sebagai upaya memanusiakan
manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani.
(Driyarkara, Driyarkara Tentang Pendidikan, Yayasan Kanisius,
Yogyakarta, 1950, hlm.74.)
d. Pengertian pendidikan menurut Stella van Petten Henderson
Pendidikan merupakan kombinasai dari pertumbuhan dan
perkembangan insani dengan warisan sosial. Kohnstamm dan
Gunning (1995) : Pendidikan adalah pembentukan hati nurani.
Pendidikan adalah proses pembentukan diri dan penetuan-diri
secara etis, sesuai denga hati nurani.
e. Pengertian pendidikan menurut John Dewey (1978)

Aducation is all one with growing; it has no end beyond itself.


(pendidikan
adalah
segala
sesuatu
bersamaan
dengan
pertumbuhan; pendidikan sendiri tidak punya tujuan akhir di balik
dirinya).
f. Pengertian pendidikan menurut H.H Horne
Dalam pengertian luas, pendidikan merupakan perangkat
dengan mana kelompok sosial melanjutkan keberadaannya
memperbaharui diri sendiri, dan mempertahankan ideal-idealnya.
Carter V. Good Pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan
seseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam
masyarakatnya. Proses sosial dimana seseorang dipengaruhi oleh
sesuatu lingkungan yang terpimpin (khususnya di sekolah)
sehingga
iya
dapat
mencapai
kecakapan
sosial
dan
mengembangkan kepribadiannya.
g. Pengertian pendidikan menurut Thedore Brameld
Istilah pendidikan mengandung fungsi yang luas dari
pemelihara dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat, terutama
membawa warga masyarakat yang baru mengenal tanggung jawab
bersama di dalam masyarakat. Jadi pendidikan adalah suatu proses
yang lebih luas daripada proses yang berlangsung di dalam sekolah
saja. Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial yang memungkinkan
masyarakat tetap ada dan berkembang. Di dalam masyarakat yang
kompleks, fungsi pendidikan ini mengalami spesialisasi dan
melembaga dengan pendidikan formal yang senantiasa tetap
berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolah).

1.3.

Pengertian Filsafat Pendidikan

Seacara umum pengertian filsafat pendidikan bisa diartikan salah


satu cabang filsafat yang ruang lingkupnya terfokus dalam bidang
pendidikan.
Berikut ini, beberapa pengertian filsafat pendidikan menurut para
ahli:

Muhammad Labib al-Najihi: Filsafat pendidikan adalah suatu


aktivitas yang teratur yang menjadikan filsafat itu sebagai jalan
mengatur, menyelaraskan dan memadukan proses pendidikan.

Kilpatrik dalam Buku Philosophy of Education menyebutkan


"Philisophizing and education are, then, but two stages of the
same endeavo; Philisophizing to think out better values and
idealism, education to realize these in life, in human personality.
Education acting out of the best direction philosophizing in can
give, tries and beginning primarly wit h the young, t o lead people
to build critrised values to their characters, and in this way to get
the highest ideals of philosophy progressively embodied in their
lives." Berfilsafat dan mendidik adalah dua fase dalam satu usaha.
Berfilsafat adalah memikirkan dan mempert imbangkan nilai-nilai
dan cita-cita yang lebih baik, sedangkan mendidik ialah usaha
merealisasi nilai-nilai dan cita-cita itu didalam kehidupan dan
dalam kepribadian manusia. Mendidik ialah mewujudkan nilai-nilai
yang disumbangkan filsafat, dimulai dengan generasi muda, untuk
membimbing rakyat membina nilai-nilai di dalam kepribadian
mereka, dan melembagakannya dalam kehidupan mereka.

John Dewey memandang pendidikan sebagai suatu proses


pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik
menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan
(emotional) menuju kearah tabiat manusia, maka filsafat juga
dapat diartikan sebagai teori umum pendidikan (Democracy and
Educat ion, p. 383)

Prof. Brameld berkata tentang pengertian filsafat pendidikan : That


is, we should bring philosophy to bear upon the problems of
education as effientlyKita harus membawa filsafat guna
mengatasi persoalan-persoalan pendidikan secara efisien, jelas,
dan sistematis sedapat mungkin);

Van Cleve Morris menyatakan : Secara ringkas kita mengatakan


bahwa pendidikan adalah studi filosofis, karena ia pada dasarnya,
bukan alat social semata untuk mengalihkan cara hidup secara
menyeluruh kepada setiap generasi, akan tetapi ia juga menjadi
agen (lembaga) yang melayani hati nurani masyarakat dalam
perjuangan mencapai hari depan lebih baik (Van Cleve Morris,
Becamingan Education, p.57 dalam buku Filsafat Pendidikan Islam,
Prof HM. Arifin, Med, p. 3)

Aliran filsafat pendidikan:


1. Filsafat pendidikan
pragmatisme.

progresivisme

yang

didukung

oleh

filsafat

2. Filsafat pendidikan esensialisme yang didukung oleh idealisme dan


realisme; dan
3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.
Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum.
Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal, menyala.
tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut
progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalamanpengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam
kebudayaan. Belajar berfungsi untuk mempertinggi taraf kehidupan sosial
yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang
eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan
kebutuhan.
Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada
cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula.
Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan
yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.
Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat
hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala
sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Realisme berpendapat
bahwa kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya,
apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada
subjek tersebut.
Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh
setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui
atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya
dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman
dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menurut realisme,
pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu
menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul
karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar.
Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilainilai yang telah teruji ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa.
Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau
balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada
prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut perenialisme, kenyataan
yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme
berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab

hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat
dipandang
baik.
Obyek Kajian Filsafat Pendidikan
Dalam rangka menggali, menyusun, dan mengembangkan pemikiran
kefilsafatan tentang pendidikan terutama pendidikan Islam, maka perlu
diikuti
pola
dan
pemikiran
kefilsafatan
pada
umumnya.
Adapun pola dan sistem pemikiran kefilsafatan sebagai suatu ilmu adalah:

Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti cara


berfikirnya bersifat logika dan rasional tentang hakikat permasalahan
yang dihadapi. Hasil pemikirannya tersusun secara sistematis artinya
satu bagian dengan bagian lainnya saling berhubungan.

Tinjauan terhadap permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal


artinya menyangkut persoalan yang mendasar sampai keakar-akarnya.

Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal, artinya persoalanpersoalan yang dipikirkan mencakup hal-hal yang menyeluruh dan
mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan
yang ada di alam ini, termasuk kehidupan umat manusia, baik pada
masa sekarang maupun masa mendatang.

Meskipun pemikiran yang dilakukan lebih bersifat spekulatif, artinya


pemikiran-pemikiran yang tidak didasari dengan pembuktianpembuktian empiris atau eksperimental (seperti dalam ilmu alam),
akan tetapi mengandung nilai-nilai obyektif. Dimaksud dengan nilai
obyektif oleh permasalahannya adalah suatu realitas (kenyataan) yang
ada pada obyek yang dipikirkannya.

Secara makro (umum) apa yang menjadi obyek pemikiran filsafat, yaitu
dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia,
alam semesta dan sekitarnya adalah juga obyek pemikiran filsafat
pendidikan. Tetapi secara mikro (khusus) yang menjadi obyek filsafat
pendidikan meliputi:
1. Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (The Nature of
Education).
2. Merumuskan sifat hakikat manusia
pendidikan (The Nature Of Man).

sebagai

subyek

dan

obyek

3. Merumuskan secara tegas hubungan


pendidikan, agama dan kebudayaan.

antara

filsafat,

filsafat

4. Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan dan teori


pendidikan.
5. Merumuskan hubungan antara filsafat negara (ideologi), filsafat
pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidikan).
6. Merumuskan sistem nilai norma atau isi moral pendidikan yang
merupakan tujuan pendidikan.
Dengan demikian dari uraian diatas diproleh suatu kesimpulan bahwa
yang menjadi obyek filsafat pendidikan ialah semua aspek yang
berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami
hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhungan dengan bagaimana
pelaksanaan pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai
seperti
yang
dicita-citakan.
Fungsi dan Tugas Filsafat Pendidikan
Sebagai ilmu, pendidikan Islam bertugas untuk memberikan penganalisaan secara
mendalam dan terinci tentang problema-problema kependidikan Islam sampai kepada
penyelesaiannya. Pendidikan Islam sebagai ilmu, tidak melandasi tugasnya pada teori-teori saja,
akan tetapi memperhatikan juga fakta-fakta empiris atau praktis yang berlangsung dalam
masyarakat sebagai bahan analisa. Oleh sebab itu, masalah pendidikan akan dapat diselasaikan
bilamana didasarkan keterkaitan hubungan antara teori dan praktek, karena pendidikan akan
mampu berkembang bilamana benar-benar terlibat dalam dinamika kehidupan masyarakat.
Antara pendidikan dan masyarakat selalu terjadi interaksi (saling mempengaruhi) atau saling
mengembangkan sehingga satu sama lain dapat mendorong perkembangan untuk memperkokoh
posisi dan fungsi serta idealisasi kehidupannya. Ia memerlukan landasan ideal dan rasional yang
memberikan pandangan mendasar, menyeluruh dan sistematis tentang hakikat yang ada dibalik
masalah pendidikan yang dihadapi.
Dengan demikian filsafat pendidikan menyumbangkan analisanya kepada ilmu pendidikan
Islam tentang hakikat masalah yang nyata dan rasional yang mengandung nilai-nilai dasar yang
dijadikan
landasan
atau
petunjuk
dalam
proses
kependidikan.
Tugas filsafat adalah melaksanakan pemikiran rasional analisis dan teoritis (bahkan
spekulatif) secara mendalam dan memdasar melalui proses pemikiran yang sistematis, logis, dan
radikal (sampai keakar-akarnya), tentang problema hidup dan kehidupan manusia. Produk
pemikirannya merupakan pandangan dasar yang berintikan kepada trichotomi (tiga kekuatan
rohani pokok) yang berkembang dalam pusat kemanusiaan manusia (natropologi centra) yang
meliputi:

Induvidualisme

Sosialitas

Moralitas

Ketiga kemampuan tersebut berkembang dalam pola hubungan tiga arah yang kita namakan
trilogi hubungan yaitu:

Hubungan dengan Tuhan, karena ia sebagai makhluk ciptaan-Nya.

Hubungan dengan masyarakat karena ia sebagai masyarakat.

Hubungan dengan alam sekitar karena ia makhluk Allah yang harus mengelola, mengatur,
memanfaatkan kekayaan alam sekitar yang terdapat diatas, di bawah dan di dalam perut
bumi ini.

Brubacher menulis tentang fungsi filsafat pendidikan secara terperinci, dan pokok pikirannya
dapat diikhtisarkan sebagai berikut :
Fungsi Spekulatif.
Filsafat pendidikan berusaha mengerti keseluruhan persoalan pendidikan dan mencoba
merumuskannya dalam satu gambaran pokok sebagai pelengkap bagi data-data yang telah ada
dari segi ilmiah. Filsafat pendidikan berusaha mengerti keseluruhan persoalan pendidikan dan
antar hubungannya dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pendidikan.
Fungsi Normatif.
Sebagai penentu arah, pedoman untuk apa pendidikan itu. Asas ini tersimpul dalam
tujuan pendidikan, jenis masyarakat apa yang ideal yang akan dibina. Khususnya norma moral
yang bagaimana sebaiknya yang manusia cita-citakan. Bagaimana filsafat pendidikan
memberikan norma dan pertimbangan bagi kenyataan-kenyataan normatif dan kenyataankenyataan ilmiah, yang pada akhirnya membentuk kebudayaan.
Fungsi Kritik.
Terutama untuk memberi dasar bagi pengertian kritis rasional dalam pertimbangan dan
menafsirkan data-data ilmiah. Misalnya, data pengukuran analisa evaluasi baik kepribadian
maupun achievement (prestasi). Fungsi kritik bararti pula analisis dan komparatif atas sesuatu,
untuk mendapat kesimpulan. Bagaimana menetapkan klasifikasi prestasi itu secara tepat dengan

data-data obyektif (angka-angka, statistik). Juga untuk menetapkan asumsi atau hipotesa yang
lebih resonable. Filsafat harus kompeten, mengatasi kelemahan-kelemahan yang ditemukan
bidang ilmiah, melengkapinya dengan data dan argumentasi yang tak didapatkan dari data
ilmiah.
Fungsi Teori Bagi Praktek.
Semua ide, konsepsi, analisa dan kesimpulan-kesimpulan filsafat pendidikan adalah
berfungsi teori. Dan teori ini adalah dasar bagi pelaksanaan/praktek pendidikan. Filsafat
memberikan prinsip-prinsip umum bagi suatu praktek.
Funsi Integratif.
Mengingat fungsi filsafat pendidikan sebagai asa kerohanian atau rohnya pendidikan,
maka fungi integratif filsafat pendidikan adalah wajar. Artinya, sebagai pemadu fungsional
semua nilai dan asas normatif dalam ilmu pendidikan.

Sumber:http://gudangartikelpendidikan.blogspot.co.id/2012/05/pengertianfilsafat-pendidikan-menurut.html

Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka salam membahas filsafat
pendidikan akamn berangkat dari filsafat. Dalam arti, filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan
cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia
tentang
realitas,
pengetahuan,
dan
nilai.
Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab, aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme,
pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat
beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran,
sekurang-kurnagnya
sebanyak
aliran
filsafat
itu
sendiri.
Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu filsafat
pendidikan progresif dan filsafat pendidikan Konservatif. Yang pertama didukung oleh filsafat
pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau. Yang kedua didsari oleh filsafat
idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius.
Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme, dan sebagainya.
Berikut

aliran-aliran

dalam

filsafat

pendidikan:

1.
Filsafat
Pendidikan
Idealisme
Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan
yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai
adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental
tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel,
Emanuael
Kant,
David
Hume,
Al
Ghazali.
2.
Filsafat
Pendidikan
Realisme
Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa
hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua
bagian, yaitu subjek yang menyadari dn mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya
realita
di
luar
manusia,
yang
dapat
dijadikan
objek
pengetahuan
manusia.
Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis
Bacon,
John
Locke,
Galileo,
David
Hume,
John
Stuart
Mill
3.
Filsafat
Pendidikan
Materialisme
Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau
supernatural.
Beberapa
tokoh
yang
beraliran
materialisme:
Demokritos,
Ludwig
Feurbach.
4.
Filsafat
Pendidikan
Pragmatisme
Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat
empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami.
Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey,
Heracleitos.
5.

Filsafat

Pendidikan

Eksistensialisme

Filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme


menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan
manusia
atas
setiap
skema
rasional
untuk
hakekat
manusia
atau
realitas.
Beberapa tokoh dalam aliran ini : Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger,
Karl
Jasper,
Gabril
Marcel,
Paul
Tillich.
6.
Filsafat
Pendidikan
Progresivisme
Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan
merupakan suatugerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa
pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus
terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan.
Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence
B.Thomas,
Frederick
C.
Neff.
7.
Filsafat
Pendidikan
esensialisme
Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu
kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif
telah
merusak
standar-standar
intelektual
dan
moral
di
antara
kaum
muda.
Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
8.
Filsafat
Pendidikan
Perenialisme
Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai
suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang
menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh
kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio
kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan
menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang
kukuh,
kuat
dan
teruji.
Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.
9.
Filsafat
Pendidikan
rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas
suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah
masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada
tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil.
Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.