Anda di halaman 1dari 26

TUGAS PATOGEN TERBAWA TANAH

TRICHODERMA HARZIANUM IN BIOLOGICAL CONTROL


OF FUNGAL DISEASES (TRICHODERMA HARZIANUM
SEBAGAI PENGENDALI HAYATI PADA PENYAKIT
DIKARENAKAN JAMUR)

OLEH
AYU OCTAVIA TANJUNG PUTRI
14/372386/PPN/3880

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
FAKULTAS PERTANIAN
FITOPATOLOGI
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Pengendalian hayati (Biological control) dapat memberikan hasil yang
baik jika dilakukan berdasarkan prinsip keanekaragaman hayati. Hal ini
dikarenakan keanekaragaman hayati merupakan ciri kondisi ekosistem yang ideal,
dimana di dalamnya terdapat berbagai tingkat populasi biota yang membentuk
komunitas setempat. Makin tinggi keanekaragaman maka akan membuat kondisi
semakin stabil, karena telah terdapat rantai makanan yang berkesinambungan.
Perubahan ekosistem baik yang terjadi secara alami maupun dikarenakan campur
tangan manusia sering kali telah mengubah tatanan yang sudah ada, hal ini
mengakibatkan kerusakan rantai makanan dalam ekosistem.
Pemerintah kita telah menyadari pentingnya keanekaragaman hayati,
apalagi mengingat Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi
dikarenakan kondisi geografis yang beragam. Kesadaran akan pentingnya
menjaga keanekaragaman hayati ditunjukkan Indonesia dengan mereatifikasi
konvensi PBB tentang keanekaragaman hayati atau Convention on Biological
Diversity (CBD) melalui undang-undang No. 5 Tahun 1994. Konvensi ini menjadi
landasan untuk penerapan berbagai kebijakan, strategi, dan teknologi mengenai
pengelolaan ekosistem yang sesuai dengan prinsip pengendalian hayati.
Introduksi tanaman budidaya baru disertai introduksi kultur teknisnya akan
mengakibatkan perubahan komposisi biota, termasuk binatang dan tumbuhan
serta mikroorganisme pada ekosistem tersebut. Penggunaan pestisida dan pupuk
sintetik secara berlebihan menimbulkan dampak negatif terhadap organisme
patogenik maupun musuh alaminya, hal ini akan menyebabkan rantai makanan
yang telah ada akan terputus. Perubahan ekstrim dalam ekosistem pertanian dapat
menimbulkan ledakan populasi suatu organisme. Secara alami, ledakan populasi
dapat normal kembali tetapi dengan waktu yang lama. Untuk mempercepat
pemulihan atas ledakan populasi tersebut dilakukan berbagai cara pengendalian
yang didasarkan pada konsep Pengelolaan Hama Penyakit Terpadu (PHPT).

BAB II
PEMBAHASAN

SEJARAH PENGENDALIAN HAYATI


Secara universal pengendalian hayati tercatat mulai dilakukan pada tahun
1200 (Simmonds et al., 1976 dalam Mangoendihardjo., 1996), sedangkan secara
nasional terutama dilakukan pada zaman pemerintahan Belanda pada dekade
kedua sampai kelima abad ke-20. Dua orang Indonesia yang sering disebut dalam
upaya pengendalian hayati adalah Awibowo dan Tjoa Tjien Mo, karena keduanya
memunyai perhatian yang sangat besar dalam pemanfaatan musuh alami atau
agens pengendalian hayati (APH) di Indonesia (Kalshoven, 1950 dalam
Mangoendihardjo, 1996). Secara keseluruhan, pengendalian hayati mengalami
banyak hambatan selama perkembangannya, salah satunya adalah hambatan dari
penemuan pestisida kimia, dimulai dari penemuan DDT sebagai hasil samping
pengolahan minyak bumi. Bahkan pengendalian hayati hampir terlupakan ketika
produksi pestisida kimia semakin marak hingga terjadi sindrom pestisida dan
malapetaka akibat penggunaan pestisida kimia yang tidak bijaksana di berbagai
negara.
Berawal pada era 60an dimana semua masalah penyakit tanaman nampak
dapat diatasi dengan penggunaan bahan kimia pertanian yang dijual bebas di
pasar. Namun, apa yang terjadi ketika bahan super kimia tersebut gagal
mengatasi permasalahn penyakit pada tanaman dan justru menyebabkan
organisme sasaran menjadi adaptif dan kemudian menjadi resisten serta kondisi
lingkungan yang terancam oleh industri moderen. Sebuah kejadian besar menjadi
titik balik dari perlawanan dengan penggunaan bahan kimia secara berlebihlebihan, di awali dengan kemunculan buku berjudul Silent Spring oleh Rachel
Carson (1963) dan buku karya Bosch (1980) yang berjudul The Pesticide
Conspiracy, membuat banyak ilmuan mulai melakukan penelitian mencari cara
alternatif selain penggunaan bahan kimia untuk pengelolaan hama dan penyakit
tanaman.

Para ilmuan mulai menunjukkan ketertarikan yang lebih dalam mencari


jalan alternatif untuk pengelolaan penyakit tanaman menggunakan senjata
pertahanan alami masing-masing organisme. Penyakit tanaman dapat terkontrol
secara efektif dengan mengaplikasikan atau menstimulasi antagonis diatas
maupun di dalam tanah. Peneliti Indonesia juga telah banyak yang menunjukkan
ketertarikannya akan hal tersebut. Pengendalian hayati di Indonesia dilakukan
berdasarkan keanekaragaman hayati. Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 yang
memuat Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Undang-Undang
No. 12 Tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman, merupakan aspek hukum yang
melandasi penerapan pengelolaan ekosistem pada umumnya dan perlindungan
tanaman pada khususnya. Adanya ratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati
oleh Pemerintah Indonesia dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 5 Tahun
1994 semakin menguatkan aspek hukum yang ada, sekaligus menjadi peluang
yang besar untuk melaksanakan pengendalian hayati di Indonesia.
PENGERTIAN DAN CAKUPAN PENGENDALIAN HAYATI
Selama lebih dari 60 tahun istilah pengendalian hayati telah digunakan
oleh ahli entomologi dan patologi tanaman yang berarti kontrol satu organisme
dengan organisme lainnya. Definisi pengendalian hayati di bidang entomologi
adalah tindakan parasit, predator, atau patogen yang dilakukan suatu organisme
dalam mempertahankan kepadatan populasinya dari organisme lain pada rata-rata
yang lebih rendah daripada yang terjadi pada ketiadaan mereka. Sedangkan di
bidang patologi tanaman, tidak hanya menekankan hanya pada pengurangan
populasi (inokulum) kepadatan saja, tetapi juga perlindungan hayati pada
permukaan tanaman dan pengendalian hayati pada tanaman inang.
DeBach (1964) menyatakan bahwa pengendalian hayati adalah kegiatan
parasit, pemangsa dan patogen dalam menekan kepadatan populasi sesuatu jenis
organisme lain pada suatu tingkatan rata-rata yang lebih rendah dibandingkan
dalam kondisi yang ketika mereka tidak ada (absen), sedangkan Wilson dan
Huffaker (1976) mengungkapkan bahwa istilah pengendalian hayati untuk

pertama kalinya digunakan oleh Smith (1919) dengan pengertian penggunaan


musuh alami (yang diintroduksi atau dimanipulasikan) untuk mengendalikan
serangga organisme penggangu tanaman. Pengertian mengenai pengendalian
hayati semakin lama semakin meluas dan berkembang pesat, sebuah definisi
terbaru dari pengendalian hayati pada patogen tanaman dijelaskan oleh Cook dan
Baker sebagai berikut Pengendalian hayati adalah pengurangan jumlah inokulum
atau aktivitas patogen memproduksi penyakit dilakukan dengan atau melalui satu
atau lebih organisme lain selain manusia. Pengertian agens hayati menurut FAO
(1988) adalah mikroorganisme, baik yang terjadi secara alami seperti bakteri,
cendawan, virus dan protozoa, maupun hasil rekayasa genetik (genetically
modified microorganisms) yang digunakan untuk mengendalikan organisme
pengganggu tumbuhan (OPT). Pengertian ini hanya mencakup mikroorganisme,
padahal agens hayati tidak hanya meliputi mikroorganisme, tetapi juga organisme
yang ukurannya lebih besar dan dapat dilihat secara kasat mata seperti predator
atau parasitoid untuk membunuh serangga.
Dengan demikian, pengertian agens hayati perlu dilengkapi dengan kriteria
menurut FAO (1997), yaitu organisme yang dapat berkembang biak sendiri seperti
parasitoid, predator, parasit, artropoda pemakan tumbuhan, dan patogen. Lebih
jauh, jika diperhatikan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 411 tahun 1995
tentang pengertian agens hayati maka maknanya menjadi lebih sempurna lagi,
yaitu setiap organisme yang meliputi spesies, subspesies, varietas, semua jenis
serangga, nematoda, protozoa, cendawan (fungi), bakteri, virus, mikoplasma, serta
organisme

lainnya

dalam

semua

tahap

perkembangannya

yang

dapat

dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme


pengganggu, proses produksi, pengolahan hasil pertanian, dan berbagai keperluan
lainnya (Menteri Pertanian RI 1995). Definisi terakhir mempunyai pengertian
bahwa agens hayati tidak hanya digunakan untuk mengendalikan OPT, tetapi juga
mencakup pengertian penggunaannya untuk mengendalikan jasad pengganggu
pada proses produksi dan pengolahan hasil pertanian.

AGENS HAYATI SEBAGAI KOMPONEN EKOSISTEM


Tanaman mendapat banyak gangguan dari hama dan patogen. Di Amerika,
terhitung sekitar 160 spesies dari bakteri, 250 macam dari virus, 8000 spesies
dari jamur patogen, 8000 dari serangga, dan 2000 spesies dari gulma yang telah
mengganggu tanaman. Semua organisme berbahaya bagi tanaman diserang oleh
kelompok predator, parasit, patogen, dan antagonis yang kompleks.
Telah dijelaskan sebelumnya

bahwa pendekatan ekologi dengan

memertimbangkan keanekaragaman hayati merupakan dasar pemikiran dan


pelaksanaan pengendalian hayati. Hal ini menempatkan musuh alami dari patogen
atau pengganggu lainnya menjadi komponen penting dalam ekosistem yang
menjalankan setiap kegiatan pengendalian hayati. Keberadaan musuh alami dalam
ekosistem dapat dilihat dari perannya dalam pengendalian alami (Natural Control)
dan pengendalian hayati (Biological Control) serta statusnya sebagai Agens
Hayati.
1. Pengendalian Alami (Natural Control)
Adanya kontrol biologis alami telah diterima dalam komunitas
ilmiah, namun peran dan efektivitas sulit untuk ditunjukkan. Fokkema et
al, menyatakan bahwa bagaimanapun nantinya akan mampu membuktikan
terjadinya pengendalian alam oleh ragi saprofit pada daun rye. Mereka
menyemprot tanaman dengan benomyl, yang tidak memiliki efek pada
patogen Cochliobolus sativus, tapi hampir dieliminasi mikroflora alami
ragi. Percobaan inokulasi dengan patogen dalam kondisi lapangan
menunjukkan bahwa ada sekitar 60% lebih sedikit nekrosis pada daun
yang disemprotkan benomyl.
Dalam pengendalian alami, musuh alami akan menekan populasi
patogen tanpa campur tangan manusia dan semua terjadi berdasarkan
hukum alam yang sempurna. Musuh alami sendiri dalam proses tersebut
merupakan faktor hayati yang berinteraksi dengan patogen dan
dipengaruhi oleh fakor non hayati. Dengan sifatnya yang tergantung pada
inang atau mangsanya, maka ada keterkaitan antara kehidupan musuh

alami dengan patogen sasarannya, terutama parasitoid dan patogen. Jika


faktor non hayati lebih kuat pengaruhnya, mungkin baik musuh alami
maupun sasarannya sama-sama tertekan. Hal ini antara lain diakibatkan
oleh penyimpangan iklim misalnya hujan yang amat lebat, kekeringan atau
penurunan dan kenaikan suhu yang terjadi secara tiba-tiba.
Sifat musuh alami yang sangat tergantung pada inangnya untuk
tumbuh dan berkembangbiak dan mengharuskan adanya keseimbangan
antara musuh alami dan kesediaan patogen sasarannya, membuat kita
dapat menarik sebuah pendapat bahwa keberadaan patogen di alam sendiri
tidak boleh sampai pada titik nol atau musnah, agar keseimbangan hayati
dan alami dapat dilestarikan.
2. Pengendalian Hayati (Biological Control)
Jika pengendalian alami merupakan pengendalian yang terjadi
tanpa campur tangan manusia dan berjalan sesuai dengan hukum alam,
makan pengendalian hayati merupakan proses penekanan populasi patogen
dengan bantuan campur tangan manusia di dalamnya. Secara garis besar
ada tiga teknik pengendalian hayati yang sudah dikenal, yakni:
a. Introduksi
Teknik ini dilaksanakan dengan memasukkan suatu jenis
agens hayati, yang utamanya diperoleh dari daerah asal patogen
sasarannya. Dengan harapan bahwa di daerah asal patogen
sasaran terdapat kompleks musuh alami yang potensial untuk
dijadikan agens hayati di daerah sasaran tersebut. Pengalaman
dalam melihat secara jeli potensi yang berada dalam sebuah
daerah sangat dibutuhkan disini.
b. Augmentasi
Teknik ini diterapkan pada ekosistem sal dan daerah sebaran
musuh alami dan agens hayati yang telah mapan bersama inang
atau patogen sasarannya. Dimungkinkan karena telah terjadi
perubahan ekosistem, baik karena introduksi jenis tanaman,
kultur teknis, atau cara pengendalian baru. Oleh karena itu
teknik ini dapat dilakukan dengan sekedar memindahkan
sebagian musuh alami atau agens hayati tersebut (dapat pula

diperbanyak dahulu di laboratorium) dari petak yang


populasinya tinggi ke petak dengan populasi rendah.
c. Konservasi
Sasaran dalam teknik konservasi seperti dalam teknik
augmentasi, yaitu jasad pengganggu yang sudah mapan disuatu
lahan.

Tujuannya

untuk

melestarikan,

melindungi

dan

meningkatkan potensi musuh alami atau agens hayati yang


telah ada. Teknik ini dilakukan dengan menyediakan pakan
tambahan, baik yang bersifat alami maupun tambahan, menjaga
kelestarian lingkungan sehingga tersedia habitat yang cocok
atau mengurangi penggunaan pestisida kimia atau bahan tidak
melakukan sama sekali tindakan yang dapat mematikan musuh
alami atau agens hayati.
Dalam penyediaan pakan tambahan lebih disarankan
pemberian secara alami, sehingga tidak menimbulkan dampak
negatif. Sebagai contoh teknik konservasi kumbang buas
anggota

Coccinellidae,

misalnya

Coccinella

arcuata

(Harmonia octomacullata) F. Merupakan pemangsa berbagai


jenis kutu tanaman anggota Aphididae. Contoh menarik dari
penelitian

di

Yogyakarta,

yakni

tanaman

jeruk

muda

ditumpangsarikan dengan jagung. Jagung sering terkena kutu


Rhopalosiphum (=Aphis) maidis (Fitch.,), dapat menjadi tempat
berkembangbiakan yang baik bagi kumbang buas tersebut.
Selain mendapatkan makanan dari kutu, pemangsa juga
memperoleh pakan tambahan yang berupa serbuk sari yang
dihasilkan

tanaman

jagung.

Kajian

dilaboratorium

membuktikan bahwa serbuk sari jagung dapat meningkatkan


produksi telur pemangsa. Setelah tanaan jagung tua, kutu dan
serbuk sari nya habis maka kumbang buas akan berpindah
memangsa kutu lain yaitu Aphis nigricans (tavaresi) yang kini
disebut sebagai Toxoptera citricidus (Kirk.) pada tanaman
jeruk. Hal ini pernah dikemukakan oleh Rabb et al (1976),

yang memperkuat teori pertanian kotor (dirty farming), dengan


contoh pada ekosistem pertanaman padi yang kanopinya telah
menutup, maka membiarkan gulma berbunga tumbuh diantara
larikan padi dapat membantu melestarikan parasitoid dan
pemangsa yang hidup dalam habitat tersebut.
3. Agens Pengendalian Hayati
Musuh alami dapat termasuk sebagai agens pengendali hayati,
penggunaan istilah agens pengendali hayati sendiri telah dirubah menjadi
agens hayati yang memiliki definisi sebagai musuh alami yang sudah
atau sedang digunakan sebagai sarana (agens) untuk pengendali hayati.
Contoh berbagai jenis agens hayati antara lain yang berperan sebagai
parasitoid (Chelonus sp., Diadegma cerophaga (=semiclausum) Grav.,
Diatraeophaga striatalis Tsn., dan Trichogramma spp.) dan pemangsa
dalam pengendalian hama (Canteconidea sp., Curinus coeruleus Muls.,
Beuveria bassiana (Ball,Vuil) dan lainnya), serta pengendalian dengan
jamur antagonis (Fusarium avirulen dan Trichoderma spp) (Kalshoven,
1981;

Rao

et

al.,

1971,

Spancer

and

Coulson,

1975

dalam

Mangoendihardjo, 1996)
PENGENDALIAN HAYATI PATOGEN TERBAWA TANAH
Seperti yang kita ketahui bahwa patogen terbawa tanah dapat menurunkan
produksi dan kualitas tanaman. Hal ini menjadi tantangan dalam budidaya
pertanian, karena patogen bertahan di tanah dalam waktu yang lama dan setiap
tanaman mungkin saja rentan terhadap beberapa species patogen terbawa tanah
tersebut. Infeksi yang simultan oleh patogen terbawa tanah kadangkala
menghasilkan penyakit kompleks yang dapat menghancurkan tanaman budidaya.
Banyak penyakit yang disebabkan oleh patogen terbawa tanah ini sulit
diprediksi, dideteksi dan didiagnosis, sementara tanah dan lingkungannya juga
sangat komplek sehingga diperlukan pengetahuan yang luas dari seluruh aspek.
Semakin banyak jumlah dan macam species patogen terbawa tanah di dalam tanah
maka semakin besar pula peluang akan terjadinya serangan penyakit pada
tanaman (Brown et al, 1984). Patogen terbawa tanah adalah kelompok

mikroorganisme yang sebahagian siklus hidupnya berada di dalam tanah dan


mempunyai kemampuan untuk menginfeksi dan menimbulkan penyakit pada
tanaman. Umumnya patogen terbawa tanah memiliki kemampuan pemencaran
dan bertahan dalam tanah dan hanya sedikit yang mempunyai kemampuan
membentuk spora udara sehingga dapat memencar ke areal yang lebih luas
(Garrett, 1970).
Patogen akar umumnya bersifat terbawah tanah dan menyebabkan
penyakit akar yang mengganggu sistem tanaman. Patogen akar terdiri dari
beragam jenis mikroba, oleh karena keragaman patogen akar tersebut, jenis
antagonis dan mekanisme penekanannya pun akan berbeda per patogen terbawa
tanah. Agens pengendali hayati patogen akar, umumnya adalah antagonis yang
dapat memanfaatkan atau menguasai relung ekologi yang mirip dengan patogen,
baik melalui tindakan alami maupun melalui manipulasi persaingan dengan
patogen di dalam relungnya.
Berdasarkan uraian dari pustaka, maka dapa dikelaskan beberapa macam
interaksi antara lingkungan, patogen, dan agens hayati yang dapat terjadi dalam
kejadian penyakit, antara lain:

Contoh: Penyakit layu fusarium pada tanah berpasir yang bersifat asam

Contoh: Penyakit layu fusarium pada tanah berlempung yang bersifat


alkalin

Contoh: P. cinnamomi (root rot) pada avocado di Quensland

Contoh: Penyakit layu fusarium pada beberapa tanah pada waktu tanaman
membawa ketahanan monogenik

Trichoderma harzianum SEBAGAI AGENS PENGENDALI HAYATI


Menurut Lia, (2009) Trichoderma adalah salah satu jamur tanah yang
tersebar luas (kosmopolitan), dan hampir dapat ditemui di lahan-lahan pertanian
maupun perkebunan. Trichoderma bersifat saprofit pada tanah, kayu, dan
beberapa jenis bersifat parasit pada jamur lain. Jamur T. harzianum dapat
mengendalikan penyakit layu semai pada kacang buncis dan kol pada kondisi
rumah kaca, tetapi hasilnya belum mantap untuk skala lapangan. Jamur T.
harzianum dilaporkan juga dapat menghambat serangan jamur Rhizoctonia solani
dan Phytium sp yang menyerang persemaian

tanaman kapri dan lobak

(Acehpedia, 2009).

Gambar. Phialides dan Phialospora dari Trichoderma harzianum.

Gambar. Koleksi biakan murni Trichoderma harzianum.

Menurut Alexopoulos dan Mims (1979), pengkelasan T. harzianum adalah:


Kingdom : Myceteae
Divisi

: Amastigomycota

Subdivisi : Deuteromycota
Kelas

: Deuteromycetes

Ordo

: Moniliales

Famili

: Moniliaceae

Genus

: Trichoderma

Spesies

: T. harzianum Rifai
Menurut Soesanto (2008), T. harzianum mempunyai ciri morfologi koloni

berwarna hijau muda sampai hijau tua, hifa bersekat, berdinding licin, ukuran
(1,5-12 m), dan percabangan hifa membentuk sudut siku-siku pada cabang
utama, konidium berbentuk bulat, agak bulat sampai bulat telur pendek, berukuran
(2,8-3,2) x (2,5-2,8) m, berdinding halus, konidiofor bercabang mendukung
fialid, fialid berjumlah tiga atau lebih secara bergerombol atau lebih, dan agak
ramping, Jamur dapat hidup baik secara saprofit maupun parasit pada jamur lain,
dan perkembangan secara tak-kawin dengan menghasilkan konidium yang

berkecambah membentuk individu baru. T. harzianum akan tumbuh dengan baik


jika lingkungan menguntungkan. Namun demikian, jamur ini mempunyai
kemampuan bertahan pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan,
dengan membentuk struktur tahan, seperti klamidospora (Sudantha, 1997). Suhu
optimum untuk pertumbuhan jamur ini adalah 15-350C, dengan

suhu

maksimumnya 30-360C (Domsch et al., 1993).


MEKANISME TRICHODERMA HARZIANUM SEBAGAI AGENS HAYATI
Setiap agens pengendali hayati memiliki mekanisme penghambatan
tersendiri, tidak ada kesamaan mutlak antar agens pengendali hayati yang satu
dengan yang lainnya. Terkadang, sering dijumpai agens pengendali hayati yang
memiliki lebih dari satu mekanisme penghambatan, yang masing-masing jenis
mekanisme tersebut saling berpengaruh, baik terhadap penghambatan dan daya
hidup patogen tanaman, maupun terhadap pertumbuhan tanamannya.
Keberhasilan suatu pengendalian hayati di dalam mengendalikan patogen
tanaman salah satunya sangat tergantung kepada mekanisme yang dimiliki agens
pengendali

hayati

itu

sendiri.

Tiga

mekanisme

antagonis

yang

telah

dikelompokkan secara garis besar adalah Antibiosis, yang berarti produksi


metabolit sekunder (antibiotika, toksin, enzim, atau hormon) penghambatan
terhadap patogen tanaman; Kompetisi untuk nutrisi dan ruang: dan Parasitisme,
di mana antagonis langsung ekstrak nurients dari patogen.
Trichoderma harzianum merupakan spesies jamur antagonis yang umum
dijumpai di dalam tanah, khususnya dalam tanah organik, dan sering digunakan di
dalam pengendalian hayati untuk patogen terbawa tanah maupun patogen filosfer.
Sebagai agens pengendali hayati T.harzianum memiliki hifa yang dapat melilit
atau membelit hifa beberapa jamur patogen tanaman. Jamur antagois ini mampu
menurunkan intensitas penyakit mati mendadak sampai 78% pada tanaman selada,
bunga matahari, kembang kol, dan kedelai, baik di rumah kaca maupun di lapang.
Selain itu, jamur ini menghasilkan karbon dioksida dan etanol yang diperkirakan

bertanggung jawab terhadap penghambaan pertumbuhan dan pensporaan


Aspergillus niger dan Pestalotia rhododendri.
Trichoderma harzianum memiliki mekanisme tersendiri sebagai agens
pengendali hayati di dalam menekan perkembangan patogen terbawa tanah,
sehingga dapaat menjadi pertimbangan pada saat akan mengaplikasikannya.
Mekanisme yang dilakukan oleh T.harzianum, yaitu (Susanto, 2006) :
a. Persaingan, dengan patogen yang terjadi karena terbatasannya pasokan
akan karbon, nitrogen, besi, vitamin, tempat infeksi, dan oksigen
b. Antibiosis, karena produksi antibiotika atau senyawa racun hasil
metabolisme sekunder yang mempengaruhi keterpaduan selaputjamur
patogen
c. Mikoparasitisme, yang memarasit jamur patogen inang di lokasi dan
d.
e.
f.
g.

permukaan infeksi patogen


Kemostopis
Pengenalan yang diantarai lektin
Pembentukan struktur rangkap dan pemantakan
Pengeluaran enzim pengurai dinding sel jamur patogen, seperi enzim lisis,
kitinase, -1,3- dan -1,6-glukanase, proteinase, dan ekso--1,3-glukanase
ketika ditumbuhkan pada polisakarida, dinding sel jamur Corticium rolfsii
dan Rhizoctonia solani, atau miselium yang diautoklaf sebagai sumber
karbon. Berikut tabel ringkasan enzim lisis dinding sel yang diidentifikasi
dalam Trichoderma spp. (Steyarert et al., 2003)
Nama Kelompok
-glukasane

Nama Spesies
Sifat
Ekso- -1,3- dan -1,6- Memotong ikatan dari
glukanase

ujung rantai yang tidak

Endo- -1,3- dan -1,6-

berkurang.
Memotong ikatan -glukan

glukanase
-1,3dan
glukosidae
Selulase

-1,6-

dan oligomernya.
Memotong
oligo-

dan

-1,4-D-glukan

disakarida
Memotong unit selobiose

selobiohidrolase

dari ujung selulosa dan

eksoselulase

oligomernya

Endo--1,4-glukanase
Kitinase

Khitin

Memotong ikatan internal

secara acak
-1,4- Memotong ikatan dari

khitibiosidase

ujung

kitin

yang

tidak

eksokitinase
Endokitinase

berkurang dan oligomernya


Memotong ikatan internal
secara aak pada khitin dan

Proteinase

-1,4-N-asetilhekso-

oligomernya
Memotong

kitin,

aminidase eksokitinase

oligomernya,

dan

khitobiose dariujung yang


tidak berkurang
Menyerang
sisa

asam

amino khusus dengan rantai


polipeptida

Talanca, dkk., (1998) dengan mengutip beberapa penulis lain memberikan


penjelasan bahwa kemampuan antagonis Trichoderma spp. berhubungan dengan
mekanisme-mekanisme berikut :
a. Trichoderma spp. mengeluarkan toksin yang menyebabkan terlambatnya
pertumbuhan bahkan mematikan inangnya
b. Trichoderma spp. menghasilkan enzim hidrolitik -1,3 glukanase, kitinase
dan selulase.
Diketahui Trichoderma spp. mampu menghasilkan metabolit gliotoksin
dan viridin sebagai antibiotik dan beberapa spesies juga diketahui dapat
mengeluarkan enzim -1,3-glukanase dan kitinase yang menyebabkan eksolisis
pada hifa inangnya (Chet, 1987), tapi proses yang terpenting adalah kemampuan
mikoparasit dan persaingannya yang kuat dengan patogen (Cook and Baker,
1983). Isolat T.harzianum yang paling efektif dalam mengendalikan patogen
tanaman, adalah yang memiliki aroma yang tajam seperti kelapa, dan membentuk
metabolit utama yang mudah menguap, yang diidentifikasi sebagai 6-n-pentil-2H-

piran-2-on atau 6PP. Alkil piron ini berpotensi menghambat terhadap jamur
dengan kisaran luas. Metabolit lain yang dihasilkan mikoparasit ini adalah
senyawa piridon, yang aktif terhadap Botrytis cinerea dan Rhizoktonia solani.
Lainnya adalah senyawa Antrakuinon dan butenolida. T.harzianum dilaporkan
juga menghasilkan antibiotika larut dalam air yang belum teridentifikasi,
khususnya yang efektif terhadap Neolentinus lepidus (= Lentinus lepidus)
(Soesanto,2006)
Berdasarkan penelitian purnomo (2006) bahwa Trichoderma spp. mampu
menguasai ruang dan nutrisi yang ada secara maksimum sehingga jamur F.
oxysporum tidak mampu bersaing untuk mendapatkan ruang dan nutrisi dalam
pertumbuhannya. Trichoderma spp. juga menghasilkan enzim yang menghambat
akan pertumbuhan patogen tersebut. Sebagai contoh enzim kitinase yang
diproduksi

oleh

Serratia

plymuthica

dilaporkan

mampu

pertumbuhan spora dan elongasi jaringan (germ-tube) pada

menghambat

Botrytis cinerea.

Sedangkan enzim - 1,3-glucanase yang disintesis dari Paenibacillus sp. dan


Streptomyces sp. Dapat menyebabkan lisis pada dinding sel jamur F. oxysporum
dan enzim lain yang diproduksi oleh bakteri tersebut meliputi hydrolase,
laminarinase and protease Schulz (2006).
Dalam beberapa penelitian yang dilakukan Trichoderma spp. berperan
sebagai mikoparasit terhadap Phytium apanidermatum, R. solani, dan S. rolfsii
(Johnson and Curl, 1972 ; Chet, 1987). Chet (2001), meyatakan bahwa
mikoparasitisme dari Trichoderma spp. merupakan suatu proses yang kompleks
dan terdiri dari beberapa tahap dalam menyerang inangnya. Interaksi awal dari
Trichoderma spp. yaitu dengan cara hifanya membelok ke arah jamur inang yang
diserangnya, hal ini menunjukkan adanya fenomena respon kemotropik pada
Trichoderma spp. karena adanya rangsangan dari hifa inang atau pun senyawa
kimia yang dikeluarkan oleh jamur inang. Ketika mikoparasit itu mencapai
inangnya, hifanya kemudian membelit atau menghimpit hifa inang tersebut
dengan membentuk struktur seperti kait (hook-like structure), mikoparasit ini juka

terkadang mempenetrasi miselium inang dengan mendegradasi sebagian dinding


sel inang (Elad et al.,1983, dalam Chet, 2001).

Gambar. Trichoderma harzianum mengkait jamur Rhizoktonia


(Agrios, 2005).
SELEKSI AGENS PENGENDALIAN HAYATI
Isolat T.harzianum biasanya diperoleh dengan cara mengambil contoh
tanah 100 gram dari lima titik pengambilan contoh yang ditentukan secara acak
di sekitar perakaran tanaman yang sehat pada kedalaman 0-20 cm.contoh tanah
kemudian dihomogenkan dan dibuat larutan pengenceran (Dharmaputra 2001,
Ernawati 2003). Proses pengenceran dilakukan sampai seri pengenceran 10 -3.
Hasil dari tiap-tiap pengencerean 10-1, 10-2, dan 10-3 dipipet sebanyak 1 ml
kemudian dituang ke dalam media PDA dengan metode pour plate. Media yang
telah padat diinkubasi pada suhu ruang (280C) selama dua sampai lima hari
(Ernawati, 2003). Isolat murni T.harzianum diperoleh dengan mengisolasi
potongan agar berukuran 5x5 mm dari miselium cendawan T.harzianum hasil
identifikasi (metode fragmentasi hifa) kemudian diinkubasi pada suhu ruang.
Peremajaan isolat dilakukan ketika isolat telah memenuhi cawan petri ( 7 hari).

Uji antagonis dilakukan dengan metode uji ganda,

yaitu potongan

miselium isolat cendawan patogen asal jaringan tertentu dari tanaman dengan
ukuran 5x5 mm dan potongan miselium isolat T. harzianum dengan ukuran 5x5
mm diletakkan di media menunjukkan PDA dalam cawan petri berdiameter 90
mm. vJarak antara kedua isolat tersebut 30 mm. Setiap perlakuan mempunyai
lima ulangan. Sebagai kontrol positif potongan miselium isolat murni T.
harzianum ditumbuhkan di media PDA dalam cawan petri. Kontrol negatif adalah
berupa penanaman potongan miselium jamur patogen di media PDA dalam cawan
petri. Pengamatan terhadap luas miselium T. Harzianum dilakukan mulai hari ke-0
sampai dengan hari ke-7 (Winarsih & Syafrudin 2001).
Setelah mendapatkan isolat yang memiliki potensi sebagai agens antagonis
yang baik, kemudian dilakukan perbanyakan untuk nanttinya mempermudah
dalam pengaplikasian dilapang. Media jagung giling merupakan suatu media
perbayakan yang relatif memberi hasil yang lebih baik dalam kecepatan tumbuh,
jumlah dan viabilitas spora jamur T.harzianum sehingga media jagung giling
dapat digunakan sebagai salah satu alternatif media perbanyakan yang efektif.
Jagung merupakan merupakan media yang bagus untuk pertumbuhan jamur, hal
ini disebabkan karena jagung mengandung berbagai unsur yang diperlukan untuk
pertumbuhan jamur. Kandungan gizi dari jagung antara lain air, protein ( 10 %),
minyak /lemak (4% ), karbohidrat (70,7 %), dan vitamin . Sedangkan komposisi
kimia jagung :air (15,5% ), Nitrogen ( 0,75 % ), Abu (4,37 % ), K2 O (1,64 % ),
Na2O (0,05 % ) dan CaO (0,49 %) sehingga dapat digunakan subagai sumber
bahan makanan pertumbuhan mikroorganisme.
PEMANFAATAN TRICHODERMA SEBAGAI PENGENDALIA HAYATI
Hasil-hasil penelitian tentang Trichoderma spp. dan kemampuannya
sebagai agen pengendalian hayati telah banyak dilaporkan. Trichoderma spp. yang
dinfestasikan kedalam tanah dilaporkan oleh Rifai,dkk., (1996) mampu menekan
serangan Phytium sp pada tanaman Kedelai. Data mereka menunjukkan bahwa
semakin panjangnya jarak antara infestasi T. viride dengan saat saat dating

Phytium cenderung semakin menurunkan intensitas dan persentase bibit dan benih
yang terserang Phytium spp. Hasil penelitian Djatmiko dan Rohadi (1997)
menunjukkan pelet T. harzianum yang diperbanyak dalam sekam
bekatul

mempunyai

padi dan

kemampuan menekan patogenitas Plasmodiophora

brassicea dan penyakit akar gada, baik pada tanah andosol maupun latosol. Pelet
T. harzianum 61 g/pot, merupakan perlakuan paling baik dalam memperkecil
diameter akar gada, bobot akar gada dan intensitas penyakit akar gada.
Contoh lain pemanfaatan T.harzianum adalah untuk pengendalian seperti
kemampuan penghambatan Trichoderma harzianum dan Trichoderma virens
terhadap pertumbuhan Phytophthora palmivora pada kultur ganda menunjukkan
hasil yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa kedua cendawan tersebut
mempunyai potensi yang sama dalam menekan pertumbuhan Phytophthora
palmivora.
Tabel. Persentase hambatan agen hayati terhadap pertumbuhan Phytophthora
palmivora pada umur 4 hsi.
Cendawan
Presentase Hambatan (%)
Penicillium purpurescens
19.34 a
Trichoderma harzianum
99.00 b
Trichoderma virens
100.00 b
KK= 5.61 %
Persentase hambatan yang sangat tinggi pada Trichoderma terhadap
Phytophthora palmivora, menunjukkan bahwa Trichoderma dapat dijadikan
sebagai agen hayati dalam pengendalian Phytophthora palmivora. Penghambatan
pertumbuhan oleh Trichoderma mulai terjadi pada hari ke 2 setelah inokulasi
dimana hifa Trichoderma dan hifa Phytophthora palmivora bertemu pada saat ini
pertumbuhan koloni Phytophthora palmivora mulai terhambat. Pada hari ke 5
setelah inokulasi miselium Trichoderma mampu mendesak miselium patogen
bahkan terjadi pertumbuhan konidia Trichoderma pada miselium Phytophthora
palmivora dan menyebabkan koloni Phytophthora palmivora tertutup oleh
miselium Trichoderma.

Gambar. Kultur ganda Phytophthora palmivora dengan agen hayati pada media
PDA umur 5 hari sesudah inokulasi.
Keterangan kiri-kanan :
A. Phytophthora palmivora dan Penicillium purpurescens
B. Phytophthora palmivora dan Trichoderma virens
C. Phytophthora palmivora dan Trichoderma harzianum

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Pengendalian hayati adalah setiap organisme yang meliputi spesies,
subspesies, varietas, semua jenis serangga, nematoda, protozoa, cendawan
(fungi), bakteri, virus, mikoplasma, serta organisme lainnya dalam semua
tahap perkembangannya yang dapat dipergunakan untuk keperluan
pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu, proses
produksi, pengolahan hasil pertanian, dan berbagai keperluan lainnya
(Menteri Pertanian RI 1995)
2. Hasil-hasil penelitian tentang Trichoderma spp. dan kemampuannya
sebagai agen pengendalian hayati telah banyak dilaporkan. T.harzianum
memiliki mekanisme antagonis secara umum dengan Antibiosis, yang
berarti produksi metabolit sekunder (antibiotika, toksin, enzim, atau
hormon) penghambatan terhadap patogen tanaman; Kompetisi untuk
nutrisi dan ruang: dan Parasitisme, di mana antagonis langsung ekstrak
nurients dari patogen.

DAFTAR PUSTAKA
Acehpedia.
2009.
Pengendalian
Biologi.
(On-line)
shttp://acehpedia.org/Pengendalian_Biologi. diakses tanggal 20 November
2009.
Alexopoulos, C.J., C.W. Mims. and M. Blackwell. 1996. Introductory of
Mycology 4ThEditions. John Wiley and Sons, Inc. New York. Pp. 215-257.
Agrios, G.N. 2005. Plant Pathology. Elsevier Academic Press. 30 Corporate
Drive, Suite 400, Burlington, MA 01803, USA. .
Chet,I (Ed.), 2001. Innovative Approaches to Plant Diseases Control. John Wiley
and Sons, A Wiley-Interscience Publication, USA. pp. 11-210.
Cook, R.J. dan Baker K.F., 1983. The nature and practice of biological control of
plant pathogens. APS Press The American Phytopathological Society. St.
Paul, Minnesota.
DeBach.1964. (Ed.). Biological Control of Insect Pests and Weeds. Chapman S
Holt. London. 884 pp.
Dharmaputra, O. S., A. S. R. Putri, I. Retnowati, dan S. Ambarwati. 2001. Soil
Mycobiota of Peanut Field in Wonogiri Regency Central Java: Their Effect
on the Growth and Aflatoxin Production of Aspergillus flavus In Vitro, J.
Biotropia, Seameo Biotrop, Bogor
Djafarudin. 2000. Dasar-dasar Pengendalian Penyakit Tanaman. Jakarta: Bumi
Aksara.
Djatmiko, H.A., dan Rohadi, S.S., 1997. Efektivitas Trichoderma harzianum Hasil
Perbanyakan dalam Sekam Padi dan Bekatul Terhadap Patogenesitas
Plasmodiophora brassicae pada Tanah latosol dan Andosol. Majalah Ilmiah
UNSOED, Purwokerto 2 : 23 : 10-22.
Domsch, K.H., W. Goms, and T.H.Anderson. 1993. Compendium of Soil Fungi.
IHW. Verlag. Netherlands. Pp. 325-328
Ernawati. 2003. Potensi Mikroorganisme Tanah Antagonis Untuk Menekan
Pseudomonas sollanacearum pada Tanaman Pisang Secara in Vitro Di Pulau
Lombok. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana (S3).
Garret, S. D. 1970. Toward biological control of soil-borne plant pathogens. In
Baker, K.F., W.C. Synder., R.R. Baker., J. . Menzies., F.E. Clark., L. L.
Miller., A. W. Dimock., Z. A. Patrick., W. A. Krentzer and M. Rubo (Eds).
Ecology of soil-borne plant pathogens prelude to biological control: An

International Symposium on Factor Detemining the Behavior of Plant


Pathogens in Soil. Held at the Universiy of California, Berkeley.
Hall, R. 1996. Principle and Practice of Managing Soil Borne Plant Pathogens.
American Phytopathological Society. USA
Huffaker, C.B., F. J. Simmonds, and J. E. Laing. 1976. The Theoritical and
Empherical Basical of Biological Control. In : Huffaker, C.B nd P.S.
Messenger: Theory and Practice of Biological Control. Academic Press. N.
Y.-S.F.- London.42-80
Kalshoven, L. G. E. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. PT. Ichtiar Baru-Van
Hoeve, Jakarta. 701 pp.
Lia, M. 2009 Trichoderma viride sebagai salah satu jamur yang menguntungkan
http://mey46lovers.blogspot.com/2009/03/trichoderma-viride-sebagai-salahsatu.html diakses tanggal 28 Desember 2009
Mangoendihardjo,S. 1996. Dasar-Dasar Pengendalian Hayati. Prosiding makalah
utama SNPH, Yogyakarta 25-26 november 1996.
Nurhayati, H., 2001. Pengaruh Pemberian Trichoderma sp. Terhadap Daya Infeksi
dan Ketahanan Hidup Sclerotium roflsii pada Akar Bibit Cabai. Skripsi
Fakultas Pertanian UNTAD, Palu
Rabb, R. L., R. E. Stinenr, and R. Van de Bosch. 1976. Conservation and
Augmentation of Natural Enmies. In : Huffaker, C. B. And P. S. Messenger.
Theory and Practice of Biological Control. Academic Press. N.Y.-S.F.London. 233-254
Simmonds, J.M. Franz and R.I. Sailer. 1976. The Philosophy, Scope, and
Importance of Biological Control. In : Huffaker C.B. and P.S. Messenger.
Theory and Practice of Biological Control. Academic Press. N.Y.-S.F.London. 787 pp
Smith, H.S. (1919). On Some Phases of Insect Control by The Biological
Methode. J. Econ. Entomol. 12, 288-292.
Soesanto, L. 2006. Pengantar Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman.
Rajagrafindo Persada. Jakarta 573 hal
Sudantha, I. M. 1997. Pengendalian patogen tular tanah pada tanaman kedelai
secara hayati menggunakan bahan organik dan jamur Trichoderma
harzianum. Prosiding Kongres Nasional XV dan Seminar Nasional PFI,
Palembang. Hal. 197-203.

Supriadi. 2006. Analisis resiko agens hayati untuk pengendalian patogen pada
tanaman. Jurnal Litbang Pertanian. 25(3): hal 75-80
Talanca, A.H. Soenartiningsih dan Wakman, W., 1998. Daya Hambat Jamur
Trichoderma spp.. pada Beberapa Jenis Jamur Patogen. Risalah Seminar
Ilmiah dan Pertemuan Tahunan XI PEI, PFI dan HPTI Sul-sel, Maros 5
Desember 1998 Hal 317-322.
Untung, K. 1996. Pengendalian Hayati Dalam Kerangka Konvensi
Keanekaragaman Hayati. Prosiding makalah utama SNPH, Yogyakarta 2526 november 1996.
Winarsih, S. dan Syafrudin. 2001. Pengaruh Diakses 15 Desember 2008.
Pemberian Trichoderma viridae Dan Sekam Padi Terhadap Penyakit Rebah
Kecambah Di Persemaian Cabai. J. Ilmu-Ilmu Pertanian, 3(1): 49-55.