Anda di halaman 1dari 8

Program Pengendalian Fasciolosis pada Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Bogor | 22

PROGRAM PENGENDALIAN FASCIOLOSIS PADA PETERNAKAN SAPI


PERAH DI KABUPATEN BOGOR
Haris Praytino (1), Chaerul Basri (2)
(1) Mahasiswa PPDH I 2010-2011, FKH IPB
(2) Bagian Kesehatan Masyarakat Veteriner, Departemen IPHK, FKH IPB

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Menurut Iskandar T (2005) kerugian yang ditimbulkan penyakit ini sekitar 513,6
milyar tiap tahun berupa kerusakan hati yang harus diafkir, kekurusan dan penurunan
tenaga dalam membanjak sawah. P revalensi kejadian penyakit ini cukup tinggi di
indonesia sekitar 60 %-90%, sehingga perkembangan ternak sapi yang meningkat
belum menjadi jaminan bahwa kebutuhan pangan asal hewan dapat dimaksimalkan
karena rendahnya produktivitas sebagai akibat masih tingginya angka kematian anak
sapi yang dapat mencapai 30-50 % (Wirdahayati et al. 1999). Fasciolosis pada sapi
dan kerbau merupakan penyakit parasitik penting di Indonesia yang memiliki dampak
yang cukup luas terhadap perekonomian nasional dengan menimbulkan kerugian pada
hewan ternak seperti penurunan berat badan, penurunan daya kerja, infertilitas dan
laktasi dapat mencapai US$ 107 juta. Prevalensi kejadian penyakit ini di Indonesia
mencapai 25 -90% pada sapi dan kerbau (Copeman dan Coplan 2004). Faciola
hepatica menginfeksi sekitar 300 juta sapi dan 250 juta kambing di seluruh dunia.
Kedua parasit ini menyebabkan kerugian ekonomi US$ 3 juta tiap tahun dengan
turunnya produktivitas, seperti daging dan susu (Mas-Coma et al. 2005).
Selain itu, fasciolosis sekarang dikenal sebagai parasit manusia muncul.
Menurut WHO (1995), sebesar 2.4 juta manusia di dunia terinfeksi dan 180 juta
manusia yang berisiko terinfeksi. Dampak fasciolosis terhadap kesehatan masyarakat,
diantaranya muncul gejala demam, sakit daerah abdomen, gangguan gastrointestinal,
urtikari, hepatomegali, anemia dan jaundice (Qureshi et al. 2005). Infeksi penyakit ini
pada manusia ummnnya terjadi pada daerah endemik. Transmisi penyakit terjadi pada
lingkungan peternakan yang menggunakan air dari sumber yang sama dengan hewan
ternak pada daerah endemik.Infeksi tertinggi terjadi pada wanita dan anak-anak
dengan prevalensi yang mencapai 40 % (Mas-Coma et al.2005). Antehelmitik yang
umum digunakan sebagai kontrol terhadap parasit ini yaitu Triclabendazole dan
turunan Benzimendazole yang sudah 20 tahun diaplikasikan di peternakan dan
pengobatan pada manusia (Fairweather 2005). Pengendalian alternatif terhadap
fasciolosis dengan pengembangan vaksin anti-Fasciola. Residu obat-obatan dan
resistensi pada bidang pertanian memberi peluang dalam pengembangan antehelmitik
baru, termasuk pengembangan vaksin. Walaupun pengembangan vaksin cukup maju
namun sampai saat ini belum tersedia secara komersial (MacManus dan Dalton 2006).
Fasciolosis merupakan penyakit yang banyak menimbulkan kerugian ekonomi, berupa
penurunan berat badan dan karkas, penurunan produksi, hati yang terbuang,
penurunan tenaga kerja, daya tahan tubuh ternak terhadap penyakit lain hingga dapat
menyebabkan kematian (Kurniasih 2007). Pengendalian fasciolosis yang telah
dilakukan di Indonesia dengan cara (1) memberantas parasit di dalam tubuh ternak
melalui pengobatan seperti karbon tetraklorida, heksa kloroetan; (2) memberantas
siput hospes intermediet cacing hati secara fisik (dengan drainase lahan pengairan),
kimia (Cupri sulfat dengan dosis 10-30 per hektar) dan biologi (dengan melepas itik
agar memakan siput); (3) menghindarkan ternak dari kemungkinan terinfeksi cacing

Program Pengendalian Fasciolosis pada Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Bogor | 23

hati dengan cara menghindari penggembalaan ternak di tempat yang tergenang, tidak
menyabit rumput yang pernah tergenag air (Achmad et al. 1996). Pengendalian lain
yang dapat dilakukan dengan rotasi pengembalaan, memperbaiki sistem pengairan
sehingga dapat dilkukan pengeringan dan ternak sakit jangan dilepaskan di daerah
pengembalaan serta tidak mengembalakan hewan sehat di padang rumput yang
terkontaminasi.
Tujuan
Melakukan pengendalian tingkat kejadian fasciolosis pada peternakan sapi di
beberapa kecamatan Kabupaten Bogor.

SIFAT ALAMIAH PENYAKIT


Mata Rantai Infeksi
Penyakit ini disebabkan oleh spesies trematoda yaitu Fasciola hepatica dan
Fasciola gigantica yang hidup di dalam hati, saluran empedu dan kantung empedu
(Mohammed 2008). Sumber agen berasal dari feses yang keluar melalui sistem
pencernaan, kemudian ditularkan secara horizontal tidak langsung melalui pakan yang
tercemar metaserkaria (peroral). Inang yang rentan terhadap fasciolosis yaitu ternak
herbivora khususnya ruminansia seperti sapi, kerbau dan kambing. Ternak berumur
muda lebih rentan daripada ternak dewasa
Riwayat Alamiah Penyakit
Cara penularan Fasciola melalui induk semang
perantara yaitu siput genus Limnea. Cacing bertelur
dalam saluran empedu ternak dan terbawa oleh
cairan empedu masuk ke dalam usus yang kemudian
keluar bersama tinja. Bila cuaca cocok, maka telur
akan menetas dan menghasilkan larva stadium
pertama atau mirasidium dalam waktu 9 hari.
Mirasidium beranang di air dengan menggunkan silia
yang menutupi tubuhnya. Jika bertemu dengan siput
genus Limnea, mirasidium akan menembus jaringan
siput membentuk sprorosis. Pada stadium lebih
lanjut, tiap sporosis akan terbentuk menjadi 5-8 buah
redia yang selanjutnya akan membentuk serkaria dan
kemudian diikuti oleh stadium akhir metaserkaria
yang infektif. Ternak (sapi, kerbau, kambing dan
domba) akan terinfeksi jika memakan rumput yang mengandung metaserkaria.
Kemudian metaserkaria akan menembus dinding usus dan tinggal dalam hati yang
berkembang selama 5-6 minggu. Dalam tahap akhir larva cacing akan memasuki
saluran empedu untuk tumbuh dewasa (BPTP 2001).

Determinan Penyakit
Fasciolosis dapat terjadi karena adanya interaksi antara agen, host dan
lingkungan (Gambar 2). Agen berupa trematoda spesies Fasciola hepatica dan
Fasciola gigantica. Metaserkaria yang terdapat pada air, rumput (pakan) dan sayuran
termakan oleh hewan (ruminansia) dan manusia sampai cacing tersebut dewasa dan

Program Pengendalian Fasciolosis pada Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Bogor | 24

bertelur serta keluar melalui feses. Telur akan berkembang menjadi mirasidium, pada
kondisi yang mendukung (curah hujan dan kelembapan yang tinggi). Kondisi tersebut
dapat meningkatkan populasi siput (inang antara). Adanya siput sebagai inang antara,
mirasidium akan berkembang menjadi sporokista, redia dan serkaria. Kemudian, di luar
tubuh siput serkaria berkembang menjadi metaserkaria. Keseimbangan antara agen
dan host berubah akibat fokus keseimbangan bergeser sehingga menyebabkan berat
agen meningkat. Peningkatan agen terjadi karena perubahan lingkungan yang
mempermudah penyebaran penyakit, seperti curah hujan dan kelembapan yang tinggi
serta jumlah vektor perantara yakni siput Lymnea

Agen:
Trematoda
spesies F.
hepatica dan

Host: Hewan
(herbivora:
ruminansia),
kerentanannya
meningkat,

Lingkungan: Curah hujan


dan kelembapan tinggi,
peningkatan kehadiran
siput sebagai inang antara,
pemotongan rumput

PENYUSUNAN PERENCANAAN SURVEY (SURVEILANS) UNTUK MENGETAHUI


STATUS PENYAKIT
Tujuan Survey
Survey ini bertujuan untuk mengkaji tingkat prevalensi fasciolosis pada
peternakan sapi perah di Kabupaten Bogor dan faktor risiko yang mempengaruhi
penyakit tersebut (lingkungan dan host).
Jenis Data
Data prevalensi dan data faktor risiko (aspek pemeliharaan dan aspek
kesehatan) pada peternakan sapi perah di Kabupaten Bogor
Populasi yang. Dijadikan Acuan dan Unit Perhatian (Kelompok, Unggas, atau
Keduanya).
Populasi target yaitu populasi sapi perah di Peternakan Kabupaten Bogor
Jawa Barat, dengan unit penarikan contoh individu.
Pemilihan dan Besaran Sampel
Penarikan contoh yang digunakan adalah multi stage sampling. Dilakukan
pemeriksaan di peternakan dengan jumlah populasi sapi perah yaitu 1200 ekor.
Berdasarkan software Winepiscope 2.0, sebanyak 1200 ekor sapi perah, dengan
tingkat prevalensi 50%, accepted error 5% dan tingkat kepercayaan 95% diperoleh
ukuran contohnya yaitu 292 ekor.
Kecamatan
Jumlah Sapi Perah (N)
Jumlah sampel (n)
Jasinga
150
37
Parung panjang
50
12
Tenjo
75
18
Cigudeg
75
18

Program Pengendalian Fasciolosis pada Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Bogor | 25

Sukajaya
Nanggung
Lewliang
Cibungbulang
Ciampea
Pamijahan
Rumpin
Jumlah Total

100
150
50
200
150
50
150
1200

24
37
12
49
37
12
37
292

Pengamatan dan Pengukuran yang Relevan


Pengamatan dan pengukuran yang relevan, meliputi kunjungan ke peternakan
sapi perah di Kabupaten Bogor, perancangan kuisioner, pre-test kuisioner dan
penyebaran kuisioner.
Kunjungan ke peternakan sapi perah di Kabupaten Bogor
Kegiatan yang dilakukan pada waktu kunjungan selama 3 bulan yaitu pemeriksaan
antemortem (gejala klinis yang terlihat) dan pengujian sedimentasi terhadap
keberadaan telur cacing pada feses sampel yang akan diambil (dalam rangka
mempertegas diagnosa pemeriksaan antemortem) dan pengmatan terhadap
lingkungan sekitar peternakan
Perancangan Kuisioner
Pengamatan terhadap aspek kepemilikan, pemeliharaan dan kesehatan.
Kuisioner (Terlampir)
Pre-test Kuisioner
Dilakukan pengujian kuisioner dengan melakukan interview pada peternak sapi
perah.
Penyebaran Kuisioner
Dilakukan interview pada peternak sapi perah.
Pengelolaan Data
Pengelolaan meliputi proses input data, seperti jumlah sampel sapi, jumlah sapi
yang positif fasciolosis. Selain itu, juga dilakukan komparasi data hasil kunjungan
dengan hasil kuisioner. Untuk meminimalisasi kesalahan dilakukan cross-checked
dengan menggunakan software.
Analisis Statistika
Data hasil pengamatan dan pemeriksaan dianalisis dengan analisis deskriptif
dan analisis regresi sehingga diperoleh estimasi prevalensi dan odds ratios.
Aspek-Aspek Keorganisasian
Aspek-aspek keorganisasian terdiri atas:
Kriteria petugas pemeriksa status penyakit (dokter hewan atau petugas pemeriksa
yang diberikan kewenangan oleh dokter hewan), petugas entri data (sarjana
statistika) dan supervisor (dokter hewan).
Persiapan logistik meliputi plastik, sarung tangan, label, pisau, sepatu boot, alat
tulis dan jas laboratorium.
Pengumpulan dan penanganan sampel
Sampel dari individu yang akan diambil berupa feses (dimasukkan ke dalam
plastik, diberi label kemudian diamati di bawah mikroskop.
Pertimbangan waktu dan anggaran

Program Pengendalian Fasciolosis pada Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Bogor | 26

Pengambilan sampel dan penyebaran kuisioner dilakukan oleh 4 orang petugas


selama 3 bulan (periode surveilens). Masing-masing petugas mengambil sampel
feses dari 3 ekor sapi/hari serta mengumpulkan kuisioner kepada supervisor. Dana
yang dibutuhkan selama periode surveilens yaitu Rp 62.433.600,Jumlah biaya yang dibutuhkan dapat dilihat pada lampiran

PROGRAM PENGENDALIAN FASCIOLOSIS PADA PETERNAKAN SAPI


PERAH DI KABUPATEN BOGOR
Strategi pengendalian dilakukan dalam rangka mengurangi tingkat kejadian
fasciolosis pada sapi perah di beberapa kecamatan Kabupaten Bogor dan dapat
meningkatkan penghasilan peternak di Kecamatan tersebut, yaitu:
Pencegahan
Tindakan ini dilakukan untuk mencegah masuknya agen penyakit
dan
mencegah tertularnya ternak lain di sekitar ternak yang terinfeksi. Menurut Robinson
dan Dalton (2007) pencegahan dapat dilakukan dengan mencegah terjadinya
kontaminasi rumput yang biasa menjadi sumber pakan ternak dengan metaserkaria
infektif, tindakan yang dapat dilakukan dengan pengeringan terlebih dahulu.
Pencegahan dengan pemberian rumput yang dipotong lebih dari 10 cm dari pangkal
rumput (Suhardono dan Copeman 2004). Menurut Suhardono (1997) pencegahan
dapat dilakukan dengan mencampur feces 5 -10 ekor bebek yang secara alami
terinfeksi Echinostoma revolotum dengan feces sapi yang dijadikan pupuk.
Echinostoma sp predator alami dari metaserkaria atau dengan menempatkan kandang
bebek di atas drainse air yang menuju ke sawah. Pencegahan terhadap vektor antara
dengan penggunaan Mollusida (Natrium pentacloropenat, 9 Kg/3600 ltr air/ hektar;
cooper pentacloropenat, 9 Kg/3600 ltr air/hektar; Bayer 73, 2 gram/2000 ltr/hektar) dan
pelepasan itik sebagai predator siput di sawah. Chemoprophylaxis juga dapat
dilakukan yaitu berupa pengobatan rutin sebagai langkah propilaktik untuk melindungi
individu dari penyakit, seperti pemberian anthelmentika sebanyak 3 kali yaitu awal,
pertengahan dan akhir musim hujan serta tidak menggabungkan hewan yang terinfeksi
dengan hewan sehat(BPTP 2001)
Pengendalian
Pengendalian adalah semua langkah pencegahan yang merupakan bagian dari
pendekatan pengendalian. Kegiatan pengendalian yang dapat dilakukan dalam rangka
menurunkan tingkat kejadian fasciolosis antara lain meningkatkan manajemen
pemeliharaan. Peningkatan manajemen pemeliharaan dapat dicapai dengan teknik
sederhana, seperti mengatur pemberian pakan dan mengatur waktu pemotongan
rumput (Mohammed 2008). Selain itu, juga dapat dilakukan deteksi dini telur cacing
dengan menggunakan pengujian sedimentasi. Hasil deteksi dini dapat digunakan
sebagai informasi dalam pengobatan. Pengendalian juga dapat dilkukan pengobatan
tiap pergantian musim (Muharsini et al. 2006)

Pemberantasan
Pemberantasan merupakan tindakan penghilangan agen penyakit dari suatu
daerah atau tempat pemeliharaan termasuk spesies inang tertentu. Salah satu
tindakan pemberantasan yang dapat dilakukan yaitu pengobatan. Keberhasilan

Program Pengendalian Fasciolosis pada Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Bogor | 27

pengobatan fasciolosis tergantung efektivitas obat terhadap stadium perkembangan


cacing, pada fase migrasi, pada migrasi atau pada fase menetap di hati dan sifat toksin
dari obat harus rendah karena jaringan hati yang mengalami kerusakan.
Strategi Utama Pengendalian Fasciolosis pada Sapi Perah Kabupaten Bogor
Strategi
Intervensi
Aktivitas/Tindakan
Pencegahan
1. Peningkatan
manajemen 1. Rumput dijemur terlebih
pakan
dahulu dan pemotongan 10
2. Chemoprophylaxis
cm dari pangkal rumput
3. Peningkatan
Menajemen 2. Pemberian Tricalbendazole
awal, pertengahan dan
pemliharaan
akhir musim hujan
3. Penyuluhan 2 kali setahun
mengenai
pentingnya
manajemen pemeliharaan
Pengendalian
1. Meningkatkan
sanitasi 1. Pembagian cupri sulfat
lingkungan (pengendalian
secara massal kepada
vektor secara kimia)
peternak setiap 3 bulan
2. Chemoprophylaxis
sekali
3. Peningkatan manajemen
2. Pemberian anthelmentika
pemeliharaan
seperti Tricarbendazolel
4. Deteksi
awal,pertengahan, dan
5. Survey
akhir musim hujan
3. Pemberian mollusida pada
padang rumput yang
menjadi sumber makanan
ternak
4. Penyuluhan dua kali
setahun kepada peternak
mengenai pentingnya
manajemen pemeliharaan,
deteksi telur cacing.
5. Survey 3 bulan untuk
mengetahui prevalensi
Pemberantasan

- Pengobatan

- Pemberian anthelmentika
seperti Trcarbendazolel
awal, pertengahan, dan
akhir musim hujan
- Penyingkiran hewan yang
terinfeksi berat yang
menjadi sumber penularan

BIAYA DAN KEUNTUNGAN PENGENDALIAN FASCIOLOSIS PADA SAPI


PERAH DI KABUPATEN BOGOR

Program Pengendalian Fasciolosis pada Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Bogor | 28

Dana yang dibutuhkan pada kegiatan pengendalian fasciolosis pada


peternakan sapi perah beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor selama 3 tahun,
yaitu:
Peningkatan Sanitasi Lingkungan (Pengendalian Vektor) secara Kimia
Pembagian Mollusida
Rp 9.000.000,Distribusi
Rp 24.000.000, Peningkatan Manajemen Pemeliharaan
Penyuluhan selama dua kali setahun
Rp 30.000.000,Transportasi
Rp 36.000.000,Akomodasi
Rp 2.000.000, Chemoprophylaxis
Pembagian Tricarbendazole
Rp 53.000.000, Deteksi Dini
Gaji pekerja
Peralatan
Pengujian sedimentasi
Transportasi

Rp 18.000.000,Rp 1.286.000.000,Rp 3.810.000.000,Rp


36.000.000,-

Total

Rp 5.268.000.000

SIMPULAN
Pendapatan yang diperoleh dari hasil pengendalian selama dua tahun yaitu Rp
6.904.500.000,- . Diperoleh NPV Rp 1.198.161.776,-, B/C = 1,28 dan IRR= 16% dapat
dilihat pada lampiran. Dengan keadaan ini maka dapat disimpulkan bahwa program ini
layak untuk dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA
Balai

Pengkajian Teknologi Pertanian.2004.Beberapa Penyakit


Ruminansia, Pencegahan dan Pengobatannya. Deptan.

pada

Ternak

Coperman, D.B and Copland, R.S. 2004. Importance and potential impact of liver fluke
in cattle and buffalo. Overcaming liver fluke in South-East Asia.
Isakandar,T. 2005. Gambaran Agen Parasit Pada Ternak Sapi Potong di Salah Satu
Peternakan di Sukabumi. Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor.
Kurniasih. 2007. Perkembangan Fasciolosis dan Pencegahannya di Indonesia.
Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Hewan, UGM.
MacManus D.P,and Dalton J.P. 2006. Vaccines against the zoonotic trematodes
Schistosoma japonicum, Fasciola hepatica and Fasciola gigantica. Parasitology
133, S43-S61
Mas-Coma .S, Bargues. MD and Valero. MA.2005. Fasciolosis and other plant borne
trematode
zoonoses.int
J.Parasitol.
35,
1255-1278.
(doi
;
10.1016/ji.ijpara.2005.07.010).

Program Pengendalian Fasciolosis pada Peternakan Sapi Perah di Kabupaten Bogor | 29

Muharsini S, Natalia L, Suhardono dan Darminto. 2006. Inovasi Teknologi dalam


Pengendalian Penyakit Ternak Kerbau. Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor.
Qureshi AW, Tanveer A, Qureshi SW, Maqbool A, Gill TJ dan Ali SA. 2005.
Epidemiology of Human Fasciolosis in Rural Areas of Lahore, Pakistan. Punjab
Univ, J. Zool, Vol 20 (2), pp. 159-168. [Minggu, 1 Mei 2011 pkl 20.10 WIB].
Robinson M.W dan Dalton J.P 2007.Zonootoc helminth infections with particular
emphasis of fasciolosis and other trematodes. Phil. Trans.R. Soc (2009) 364,
2763-2779.
Suhardono dan Copeman D.B.2004. Epidemiology of Fasciola gigantica in cattle and
buffalo. Overcaming liver fluke in South-East Asia.
Suhardono, Roberts J.A, Copland J.W dan Copeman D.B. 1997. Control of Bovine
Fascilosis in Indonesia. Epidemiol. Sante anim,1997,31-32.
Wirdahayati R.B, B.M Christie, A. Muthalib dan K.F Dowset. 1999. Productivity of beef
cattle in Nusa Tenggara. CHAPS, Book A Final Seminar of cattle health and
Productivity Survey (CHAPS). Heald at the Disease Investigation Centre,
Denpasar- Bali. May 15-17, 1999.p. 170-176.