Anda di halaman 1dari 10

Resume Mata Kuliah Filsafat Pendidikan

Matematika
Materi ; Filsafat Konstruktivisme
DODI ISRAN

ALIRAN FILSAFAT KONSTRUKTIVISME


I. Pengertian Aliran Filsafat Konstruktivisme
Konstruktivisme berasal dari kata konstruktiv dan isme. Konstruktiv berarti bersifat
membina, memperbaiki, dan membangun. Sedangkan Isme dalam kamus Bahasa Inonesia berarti
paham atau aliran. Konstruktivisme merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan
bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri. Kaum konstruktivis menyatakan
bahwa kita dapat mengetahui sesuatu melalui indera kita.
1.1.

Pengertian Aliran Filsafat Konstruktivisme menurut para ahli


Pengertian Aliran Filsafat Konstruktivisme menurut beberapa ahli (tokoh dalam aliran
konstruktivisme) akan dijelaskan sebagai berikut :
(a) Piaget yang menyatakan bahwa pengetahuan konseptual tidak dapat ditransfer dari
seseorang ke orang lainnya, melainkan harus dikonstruksi oleh setiap orang berdasar
pengalaman mereka sendiri.
Konstruktivisme dibedakan dalam 2 kelompok besar menurut Piaget, yaitu konstruktivisme
psikologis (personal) dan sosial.
(b) Konstrukivisme menurut von Glasersfeld (von Glasersfeld, 1984) adalah pengetahuan
secara aktif diterima orang melalui indera atau melalui komunikasi atau pengalaman.
Orang menginterpretasi dan mengkonstruksi realitas berbasis pengalaman dan interaksinya
dengan lingkungannya. Fosnot menyatakan konsep bahwa siswa membangun pengetahuan
berdasar pengalaman dinamakan konstruktivisme.
(c) Konstruktivisme menurut pandangan Vygotsky menekankan pada pengaruh budaya.
Vygotsky berpendapat fungsi mental yang lebih tinggi bergerak antara interpsikologi
(interpsychological) melalui interaksi sosial dan intrapsikologi (intrapsychological) dalam
benaknya. Internalisasi dipandang sebagai transformasi dari kegiatan eksternal ke internal.
Ini terjadi pada individu bergerak antara interpsikologi (antar orang) dan intrapsikologi
(dalam diri individu). Vygotsky menekankan pada pentingnya hubungan antara individu
dan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan.
Berkaitan dengan pembelajaran, Vygotsky mengemukakan empat prinsip, yaitu
sebagai berikut:
(1) pembelajaran sosial (social leaning). Pendekatan pembelajaran yang dipandang
sesuai adalah pembelajaran kooperatif. Vygotsky menyatakan bahwa siswa belajar
melalui interaksi bersama dengan orang dewasa atau teman yang lebih cakap.
(2) ZPD (zone of proximal development). Bahwa siswa akan dapat mempelajari
konsep-konsep dengan baik jika berada dalam ZPD. Siswa bekerja dalam ZPD jika
siswa tidak dapat memecahkan masalah sendiri, tetapi dapat memecahkan masalah
itu setelah mendapat bantuan orang dewasa atau temannya (peer).
(3) masa magang kognitif (cognitif apprenticeship). Suatu proses yang menjadikan
siswa sedikit demi sedikit memperoleh kecakapan intelektual melalui interaksi
dengan orang yang lebih ahli, orang dewasa atau teman yang lebih pandai.

Resume Mata Kuliah Filsafat Pendidikan


Matematika
Materi ; Filsafat Konstruktivisme
DODI ISRAN

(4) pembelajaran termediasi (mediated learning). Vygostky menekankan pada


scaffolding. Siswa diberi masalah yang kompleks, sulit, dan realistik, dan kemudian
diberi bantuan secukupnya dalam memecahkannya.
Berdasar beberapa pendapat tentang pengertian konstruktivisme yang di kemukakan
tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa konstruktivisme adalah suatu filsafat pengetahuan
yang memiliki anggapan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi (bentukan) manusia
itu sendiri. Manusia menkonstruksi pengetahuan mereka secara individu maupun melalui
interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungan mereka.
Untuk memahami teori Piaget , perlu kita mengetahui beberapa istilah baku yang
digunakannya untuk menjelaskan proses seseorang mencapai pengertian :
(i) Skema/schemata
Skema adalah suatu struktur mental atau kognitif yang dengannya seseorang secara
intelektual beradaptasi dan mengkoordinasikan dengan lingkungan sekitarnya. Skemata itu
akan beradaptasi dan berubah selama perkembangan mental anak.
(ii) Asimilasi
Asimilasi adalah suatu proses kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan
persepsi, konsep, ataupun pengalaman baru kedalam skema yang sudah ada dalam
pikirannya. Asimilasi tidak mengubah schemata melainkan memperkembangkan schemata
(Wadsworth dalam Suparno 2008). Seseorang akan mengalami asimilasi dengan
mengaitkan kembali suatu pengalaman baru dengan skema yang sudah ada.
(iii)

Akomodasi
Seseorang terkadang tidak bisa mengasimilasikan pengalaman baru kedalam skemata yang
sudah ada, karena mungkin tidak cocok. Sehingga seseorang tersebut akan mengadakan
akomodasi dengan cara, membentuk skema baru yang cocok maupun memodifikasi skema
sehingga cocok dengan rangsangan baru.

(iv)Equilibriation
Equilibriation merupakan pengaturan diri secara mekanis untuk mengatur keseimbangan
proses asimilasi dan akomodasi. Equilibriation membuat seseorang dapat menyatukan
pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skemata).
1.2.

Klarifikasi Pengertian Konstruktivisme


(a) Konstruktivisme Kognitif
Dari sudut pandang konstruktivisme kognitif, pengetahuan merupakan hasil internalisasi
dan rekonstruksi dari realitas eksternal (Doolittle dan Camp, 1999). Hasil dari proses
internalisasi ini adalah strukturstruktur dan proses-proses kognitif yang secara akurat
berkaitan dengan struktur-struktur dan prosesproses yang terdapat di dunia nyata.
(b) Konstruktivisme Radikal

Resume Mata Kuliah Filsafat Pendidikan


Matematika
Materi ; Filsafat Konstruktivisme
DODI ISRAN

Konstruktivisme radikal tergolong konstruktivisme individu sebagaimana konstruktivisme


Piaget. Konstruktivisme radikal bukan suatu teori pengembangan atau teori pembelajaran,
tetapi suatu model pengetahuan yang dapat digunakan oleh para ahli teori pengembangan
pembelajaran untuk mengembangkan suatu model pembelajaran (Steffe, 1996).
Pembelajaran beracuan konstruktivisme radikal memfokuskan pada siswa secara individu
mengkonstruksi pengetahuan berdasar pengalaman siswa sendiri.
(c) Konstruktivisme Sosial
Konstruktivisme sosial meyakini bahwa pengetahuan merupakan hasil dari interaksi sosial
dan pemakaian bahasa, jadi merupakan pengalaman yang dihasilkan dari kesepakatan
melalui tukar pendapat dalam interaksi sosial, dan bukan pengalaman yang hanya
dihasilkan secara individu.
II. Aliran Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan
Teori konstruktivisme adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa
untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru, pengertian baru, dan pengetahuan baru
berdasarkan data.
2.1.

Implikasi Konstruktivisme Terhadap Proses Pembelajaran

Penggunaan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran akan membawa implikasi


sebagai berikut:
(a) Isi Pembelajaran
Dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme, guru tidak
dapat menentukan secara spesifik isi atau bahan yang harus dipelajari oleh siswa, tetapi
hanya sebatas memberikan rambu-rambu bahan pembelajaran yang sifatnya umum.
Proses penyajian dimulai dari keseluruhan ke bagian-bagian, bukan sebaliknya.
Mengingat aliran konstruktivisme lebih mengutamakan pemahaman terhadap konsepkonsep besar, maka konsep tersebut disajikan dalam konteksnya yang actual yang
kadang-kadang kompleks. Siswa perlu didorong agar ia tidak takut pada hal-hal yang
komplek. Siswa perlu memahami bahwa hal-hal yang kompleks akan memberikan
tantangan untuk diketahui dan dipahami.
(b) Tujuan Pembelajaran
Tugas guru dalam pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme adalah membantu
siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui proses internalisasi,
pembentukan kembali, dan transformasi informasi yang telah diperolehnya menjadi
pengetahuan baru. Transformasi terjadi kalau ada pemahaman (understanding),
sedangkan pemahaman terjadi sebagai akibat terbentuknya struktur kognitif baru dalam
pikiran siswa. Pemahaman terjadi kalau terjadi proses akomodasi atau perubahan
paradigma dalam pikiran siswa. Berlandaskan teoritik, tujuan pembelajaran dengan

Resume Mata Kuliah Filsafat Pendidikan


Matematika
Materi ; Filsafat Konstruktivisme
DODI ISRAN

menggunakan pendekatan konstruktivisme adalah membangun pemahaman.


Pemahaman dinilai penting, karena pemahaman akan memberikan makna kepada apa
yang dipelajari. Karena itu tekanan belajar bukanlah untuk memperoleh atau
menemukan lebih banyak, akan tetapi yang lebih penting adalah memberikan
interpretasi melalui skema atau struktur kognitif yang berbeda.
(c) Strategi Pembelajaran
Tugas guru adalah membantu agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuannya
sesuai dengan situasi konkrit, maka strategi pembelajaran yang digunakan perlu
disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi siswa. Guru tidak dapat memastikan strategi
yang digunakan, yang dapat hanya sebatas tawaran dan saran. Dalam hal ini teknik dan
seni yang dimiliki guru ditantang untuk mengoptimalkan pembelajaran. Pendekatan
konstruktivisme mementingkan pengembangan lingkungan belajar yang meningkatkan
pembentukan pengertian dari perspektif ganda, dan informasi yang efektif atau kontrol
eksternal yang teliti dari peristiwaperistiwa siswa yang ketat, dihindari sama sekali.
(d) Penataan Lingkungan Belajar
Penataan lingkungan belajar berdasar pendekatan konstruktivistik diidentifikasikan
dengan alternatif sebagai berikut (1) menyediakan pengalaman belajar melalui proses
pembentukan pengetahuan dimana siswa ikut menentukan topik/sub topik yang mereka
sikapi, metode pembelajaran berikut strategi pembelajaran yang dipergunakan, (2)
menyediakan pengalaman belajar yang kaya akan alternatif seperti peninjauan masalah
dari berbagai segi, (3) mengintegrasikan proses belajar dengan konteks yang nyata dan
relevan dengan harapan siswa dapat menerapkan pengetahuan yang didapat dalam
hidup seharihari, (4) memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan isi dan
arah belajar mereka dengan menempatkan guru sebagai konsultan, (5) peningkatan
interaksi antara guru dengan siswa dan antar siswa sendiri, (6) meningkatkan
penggunaan berbagai sumber belajar disamping komunikasi tertulis dan lisan, (7)
meningkatkan kesadaran siswa dalam proses pembentukan pengetahuan mereka agar
siswa mampu menjelaskan mengapa/bagaimana mereka memecahkan masalah dengan
cara tertentu.
(e) Hubungan Guru-Siswa
Dalam aliran kostruktivisme, guru bukanlah seseorang yang maha tahu dan siswa
bukanlah yang belum tahu, karena itu harus diberi tahu. Dalam proses belajar, siswa
aktif mencari tahu dengan membentuk pengetahuannya, sedangkan guru membantu agar
pencarian itu berjalan baik. Dalam banyak hal guru dan siswa bersama-sama
membangun pengetahuan. Dalam hal ini hubungan guru dan siswa lebih sebagai mitra
yang bersamasama membangun pengetahuan.
2.2.

Implikasi Konstruktivisme Terhadap Pendidik Dan Peserta Didik


(a) Pendidik dalam proses pembelajaran harus mendorong terjadinya kegiatan kognitif
tingkat tinggi seperti mengklasifikasi, menganalisis, menginterpretasikan, memprediksi
dan menyimpulkan, dll.

Resume Mata Kuliah Filsafat Pendidikan


Matematika
Materi ; Filsafat Konstruktivisme
DODI ISRAN

(b) Pendidik merancang tugas yang mendorong peserta didik untuk mencari pemecahan
masalah secara individual dan kolektif sehingga meningkatkan kepercayaan diri yang
tinggi dalam mengembangkan pengetahuan dan rasa tanggungjawab pribadi.
(c) Dalam proses pembelajaran, pendidik harus memberi peluang seluasluasnya agar terjadi
proses dialogis antara sesama peserta didik, dan antara peserta didik dengan pendidik,
sehingga semua pihak merasa bertanggung jawab bahwa pembentukan pengetahuan
adalah tanggungjawab bersama. Caranya dengan memberi pertanyaanpertanyaan, tugastugas yang terkait dengan topik tertentu, yang harus dipecahkan, didalami secara
individual ataupun kolektif, kemudian diskusi kelompok, menulis, dialog dan presentasi
di depan teman yang lain.
2.3.

Prinsip-prinsip Konstruktivisme Dalam Pendidikan


Sebenarnya prinsip-prinsip konstruktivisme telah banyak digunakan dalam pendidikan
sains dan matematika. Secara umum prinsip-prinsip itu berperan sebagai referensi dan alat
refleksi kritis terhadap praktek, pembaruan dan perencanaan pendidikan sains dan
matematika. Prinsip-prinsip yang diambil dari konstruktivisme adalah :
(a) Pengetahuan dibangun oleh peserta didik secara aktif.
(b) Tekanan dalam proses belajar terletak pada peserta didik.
(c) Mengajar adalah membantu peserta didik belajar.
(d) Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses, bukan hasil.
(e) Kurikulum menekankan partisipasi peserta didik.
(f) Guru adalah fasilitator.

Sedangkan menurut Jacqueline Grennon Brooks dan Martin G. Brooks dalam The case
for constructivist classrooms. (1993) menawarkan lima prinsip kunci konstruktivist teori
belajar. Anda dapat menggunakan mereka untuk membimbing/memandu pada kajian
struktur kurikulum dan perencanaan pelajaran. Menurutnya terdapat lima panduan prinsip
konstruktivisme:
Prinsip 1 : Permasalahan yang muncul sebagai hal yang relevan dengan siswa
Prinsip 2 : Struktur belajar di sekitar konsep-konsep utama
Prinsip 3 : Carikan dan hargai poin-poin pandangan siswa sebagai jendela memberi
alasan mereka.
Prinsip 4 : Sesuaikan pembelajaran dengan perkiraan menuju pengembangan siswa
Prinsip 5 : Nilai hasil belajar siswa dalam konteks pembelajaran.
2.4.
Kelebihan dan Kekekurangan Konstruktivisme dalam Pembelajaran
(a) Kelebihan pendekatan konstruktivisme antara lain:
(1) Guru bukan satusatunya sumber belajar. Peserta didik menurut konstruktivisme
adalah peseta didik yang aktif mengkonstruksi pengetahuan yang dia dapat. Mereka
membandingkan pengalaman kognitif mereka dengan persepsi kognitif mereka

Resume Mata Kuliah Filsafat Pendidikan


Matematika
Materi ; Filsafat Konstruktivisme
DODI ISRAN

tentang sesuatu. Jadi guru dalam pembelajaran konstruktivisme hanya fasilitator,


bukan model atau sumber utama yang bertugas untuk mentransfer ilmu pada siswa.
(2) Pembelajar lebih aktif dan kreatif. Sebagai akibat konstruksi mandiri pembelajar
terhadap sesuatu, pembelajar dituntut aktif dan kreatif untuk mengaitkan ilmu baru
yang mereka dapat dengan pengalaman mereka sebelumnya sehingga tercipta konsep
yang sesuai dengan yang diharapkan.
(3) Pembelajaran menjadi lebih bermakna. Belajar bermakna berarti mengkonstruksi
informasi dalam struktur pengertian lamanya. Jadi dapat dijabarkan bahwa dalam
konstruktivisme, pembelajar mendapatkan ilmunya tidak hanya dengan
mendengarkan penjelasan gurunya, tetapi juga dengan mengaitkan pengalaman
pribadi mereka dengan informasi baru yang mereka dapat. Sesuatu yang didapat
dengan proses pencarian secara mandiri akan menimbulkan makna yang mendalam
terhadap ilmu baru itu.
(4) Pembelajar memiliki kebebasan belajar. Kebebasan disini berarti bahwa pembelajar
dapat dengan bebas mengkonstruksi ilmu baru itu sesuai pengalamannya sebelumnya,
sehingga tercipta konsep yang diinginkan.
(5) Perbedaan individual terukur dan dihargai. Karena proses belajar sesuai
konstruktivisme adalah proses belajar mandiri, maka potensi individu akan terukur
dengan sangat jelas.
(6) Membina sikap produktif dan percaya diri. Pembelajar diharapkan selalu
mengkonstruksi ilmu barunya, sehingga mereka akan produktif menciptakan konsep
baru tentang sesuatu untuk diri mereka sendiri. Rasa percaya diri juga dipupuk dalam
filsafat ini dengan memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk menggunakan
pengalaman mereka sendiri untuk melahirkan konsep baru yang nantinya akan
mereka aplikasikan untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari
mereka.
(7) Proses evaluasi difokuskan pada penilaian proses. Filsafat konstruktivisme menuntun
pembelajar untuk mengkonstruksi ilmu barunya dengan merefleksi pada pengalaman
sebelumnya untuk membuat konsep baru. Dalam praktek pengajaran, penyelesaian
materi dan hasil bukanlah merupakan hal terpenting. Yang lebih penting adalah proses
pembelajaran yang lebih menekankan partisipasi murid. Belajar adalah kegiatan
murid untuk membentuk pengetahuan.
(8) Berfikir proses membina pengetahuan baru, murid berfikir untuk menyelesaikan
masalah, dan membuat keputusan.
(9) Faham, karena murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru,
mereka akan lebih faham dan boleh mengaplikasikannya dalam semua situasi.
(10) Ingat :karena murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih
lama semua konsep. Yakin Murid melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman
mereka. Justru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam
situasi baru.
(11) Kemahiran sosial :Kemahiran sosial diperoleh apabila berinteraksi dengan teman dan
guru dalam membina pengetahuan baru.
(b) Kekurangan Konstruktivisme dalam Pembelajaran

Resume Mata Kuliah Filsafat Pendidikan


Matematika
Materi ; Filsafat Konstruktivisme
DODI ISRAN

Disisi lain pendekatan konstruktivisme juga memiliki kelemahan diantaranya adalah:


(1) Kemauan dan kemampuan belajar yang lemah dari pembelajar akan mengakibatkan
proses konstruksi menjadi terhambat, karena dalam filsafat konstruktifisme yang
berperan aktif dalam pembelajaran adalah pembelajar.
(2) Terkadang pembelajar tidak memiliki ketekunan dan keuletan dalam mengkonstruksi
pemahamannya terhadap sesuatu, itu bisa saja menjadi kendala dalam prosesnya
mengerti sesuatu.
(3) Pembelajaran kelas dapat lama, bila ada beberapa siswa yang kurang cepat berpikir.
(4) Gerak kelas dapat sangat berlainan bila siswanya beraneka inteligensi.
(5) Pengaturan kelas kadang lebih sulit.
(6) Pendekatan konstruktivisme memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang
dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran yang lain, membutuhkan kelengkapan
sarana/prasarana dan media penunjang pembelajaran serta menuntut adanya ketrampilan
dan kecakapan lebih dari guru dalam mengelola kelas yang dikembangkan dengan
pendekatan model pembelajaran konstruktivisme.
III.

Belajar Matematika menurut Aliran Filsafat Konstruktivisme

Konsep pembelajaran konstruktivis didasarkan kepada kerja akademik para ahli psikologi
dan peneliti yang peduli dengan konstruktivisme. Para ahli konstruktivisme mengatakan bahwa
ketika siswa mencoba menyelesaikan tugas-tugas di kelas, maka pengetahuan matematika
dikonstruksi secara aktif ( Suherman, 2001) Para ahli konstruktivisme yang lain mengatakan bahwa
dari perspektifnya konstruktivis, belajar matematika bukanlah suatu proses pengepakan
pengetahuan secara hati-hati, melainkan hal mengorganisir aktivitas, di mana kegiatan ini
diinterpretasikan secara luas.
Para ahli konstruktivis setuju bahwa belajar matematika melibatkan manipulasi aktif dari
pemaknaan bukan hanya bilangan dan rumus-rumus saja. Mereka menolak paham matematika
dipelajari dalam satu koleksi yang berpola linear. Setiap tahap dari pembelajaran melibatkan suatu
proses penelitian terhadap makna dan penyampaian keterampilan hafalan dengan cara yang tidak
ada jaminan bahwa siswa akan menggunakan keterampilan intelegensinya dalam setting
matematika.
Lebih jauh lagi para ahli konstrutivis merekomendasi untuk menyediakan lingkungan belajar
di mana siswa dapat mencapai konsep dasar, keterampilan algoritma, proses heuristik dan kebiasaan
bekerja sama dan berefleksi . Dalam kaitannya dengan belajar, Cobb dkk (1992) (dalam Suherman,
2001). menguraikan bahwa belajar dipandang sebagai proses aktif dan konstruktif di mana siswa
mencoba untuk menyelesaikan masalah yang muncul sebagaimana mereka berpartisipasi aktif
dalam latihan matematika di kelas.
Confrey (1990) (dalam Suherman, 2001), yang juga banyak bicara dalam konstruktivisme
menawarkan suatu powerfull contruction dalam matematika. Dalam mengkonstruksi pengertian
matematika melalui pengalaman, ia mengidentifikasi 10 karakteristik dari powerfull contructions
berfikir siswa. Lebih jauh ia mengatakan bahwa powerfull construction ditandai oleh:

Resume Mata Kuliah Filsafat Pendidikan


Matematika
Materi ; Filsafat Konstruktivisme
DODI ISRAN

(1) Sebuah struktur dengan ukuran kekonsistenan internal


(2) Suatu keterpaduan antar bermacam-macam konsep
(3) Suatu kekonvergenan di antara aneka bentuk dan konteks
(4) Kemampuan untuk merefleksi dan menjelaskan
(5) Sebuah kesinambungan sejarah
(6) Terikat kepada bermacam-macam system symbol
(7) Suatu yang cocok dengan pendapat expert (ahli)
(8) Suatu yang potensial untuk bertindak sebagai alat untuk konstruksi lebih lanjut
(9) Sebagai petunjuk untuk tindakan berikutnya
(10)
Suatu kemampuan untuk menjustifikasi dan mempertahankan (Confrey dalam
Suherman, 2001).
Implementasi pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran meliputi 4 tahap yaitu : 1)
apersepsi 2) eksplorasi 3) diskusi dan penjelasan konsep serta 4) pengembangan dan aplikasi.
Tahap pertama, siswa didorong agar mengemukakan pengetahuan awalnya tentang konsep yang
akan dibahas. Bila perlu guru memancing dengan memberikan pertanyaan pertanyaan problematik
tentang fenomena yang sering ditemui sehari-hari dengan mengaitkan konsep yang akan dibahas.
Siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan, mengilustrasikan pemahaman tentang konsep
itu.
Tahap kedua, siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep pengumpulan,
pengorganisasian, dan penginterpretasian data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang guru.
Kemudian secara berkelompok didiskusikan dengan kelompok lain. Secara keseluruhan, tahap ini
akan memenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena alam di sekelilingnya.
Tahap ketiga, saat siswa memberikan penjelasan dan solusi yang didasarkan pada hasil
observasinya ditambah dengan penguatan dari guru, maka siswa membangun pemahaman baru
tentang konsep yang dipelajari. Hal ini menjadikan siswa tidak raguragu lagi tentang konsepsinya.
Tahap keempat, guru berusaha menciptakan iklim pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat
mengaplikasikan pemahaman konseptualnya, baik melalui kegiatan atau pemunculan dan
pemecahan masalah masalah yang berkaitan dengan isu isu dilingkungannya.
Dalam pembelajaran matematika beberapa ahli konstruktivisme telah menguraikan indikator belajar
mengajar berdasarkan konstruktivisme. Confrey ( Suherman,2001 ) menyatakan:
sebagai seorang konstruktivis ketika saya mengajarkan matematika, saya tidak mengajarkan
tentang struktur matematika yang objeknya ada di dunia ini. Saya mengajar mereka,
bagaimana mengembangkan kognisi mereka, bagaimana melihat dunia melalui sekumpulan
lensa kuantitatif yang saya percaya akan menyediakan suatu cara yang powerful untuk
memahami dunia, bagaimana merefleksikan lensa lensa itu untuk menciptakan lensa lensa
yang lebih kuat, dan bagaimana mengapresiasi peranan dari lensa dalam memainkan
pengembangan kultur mereka. Saya mencoba untukmengajarkan untuk mengembangkan satu
alat intelektual yaitu matematika.

Resume Mata Kuliah Filsafat Pendidikan


Matematika
Materi ; Filsafat Konstruktivisme
DODI ISRAN

1
0

Resume Mata Kuliah Filsafat Pendidikan


Matematika
Materi ; Filsafat Konstruktivisme
DODI ISRAN

DAFTAR PUSTAKA

Anshar. (2013). Aliran Filsafat Konstruktivisme Dan Implikasinya Dalam Pendidikan.


http://ansharmtk.blogspot.co.id/2013/02/aliranfilsafatkonstruktivismedan.html.[Diakses pada
tanggal 18 Desember 2015].
Brooks, Jacqueline Grennon and Brooks, Martin G. (1993). The case for constructivist classrooms.
Alexandria, VA: ASCD
Doolittle, P.E dan Camp, W.G. 1999. Constructivism: The Career and Technical Education
Perspective. Kirk Swortsel (Ed.): Journal of Vocational and Technical Education. Volume 16,
Number 1.
Shanti, Widha Nur. (2012). Filsafat Konstruktivisme Dan Penerapannya Dalam Pembelajaran.
http://widhanurshanti.blogspot.co.id/2013/01/filsafatkonstruktivismedan.html [Diakses pada
tanggal 18 Desember 2015].
Suherman, dkk (2001).Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.JICA, UPI Bandung.
Suparno, Paul. (2008). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, Yogyakarta: Kanisius.