Anda di halaman 1dari 15

MINI-CEX

HIPEREMESIS GRAVIDARUM
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan
Program Profesi Dokter Stase Kandungan dan Kebidanan
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pembimbing :
dr. Heryuristianto, Sp.OG

Disusun oleh:
Sandhya Putri Arisanti

(J510155022)

Lia Nurmalasari

(J510155028)

Nourma Yustia Sari, S.Ked

(J510155045)

Muhammad Taufan Akbar

(J510155062)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KANDUNGAN DAN KEBIDANAN FAKULTAS


KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

MINI-CEX
HIPEREMESIS GRAVIDARUM
Diajukan Oleh :
Sandhya Putri Arisanti

J510155022

Lia Nurmalasari

J510155028

Nourma Yustia Sari, S.Ked

J510155045

Muhammad Taufan Akbar

J510155062

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari Kamis, tanggal 29 Oktober 2015
Pembimbing

dr. Heryuristianto, Sp.OG

(.........................................)

Disahkan Ka. Prodi Profesi FK UMS :


dr. D. Dewi Nirlawati

(.........................................)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KANDUNGAN DAN KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

\
BAB I
PENDAHULUAN
Kehamilan biasanya ditandai dengan adanya riwayat terlambat haid dan keluhan mual
muntah. Mual dan muntah dalam kehamilan dikenal dengan morning sickness, dialami 80%
wanita hamil. Mual dan muntah adalah gejala yang umum dan wajar terjadi pada usia
kehamilan trimester I . Mual biasanya terjadi pada pagi hari, dapat juga timbul setiap saat.
Gejala ini biasanya terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung 10
minggu. Derajat beratnya mual dan muntah yang terjadi pada kebanyakan kehamilan sampai
dengan gangguan yang berat dimana keluhan semakin memburuk, menetap, hingga
mengganggu aktivitas sehari-hari dikenal dengan hiperemesis gravidarum.1,2
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai
umur kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang begitu hebatnya sehingga segala apa
yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum dan
mengganggu pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun dan dehidrasi.1,2
Mual dan muntah mempengaruhi hingga 50% kehamilan, kebanyakan perempuan
mampu mempertahankan kebutuhan cairan dan nutrisi dengan diet dan simptom akan teratasi
hingga akhir trimester I. Etiologinya belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa ahli
yang menyatakan bahwa erat hubungannya dengan endokrin, biokimia dan psikologis.1,2,4
Penelitian-penelitian memperkirakan bahwa mual dan muntah terjadi pada 50-90%
dari kehamilan. Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primi gravida dan 40-60% multi
gravida. Dari seluruh kehamilan di USA 0,3-2% diantaranya mengalami hiperemesis
gravidarum. Mual dan muntah yang berkaitan dengan kehamilan biasanya dimulai pada usia
kehamilan 9-10 minggu, puncaknya pada usia kehamilan 11-13 minggu, dan kebanyakan
sembuh pada umur kehamilan 12-14 minggu, 1-10% dapat berlanjut melampaui 20-22
minggu.3,4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Hiperemesis Gravidarum.
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan
sampai umur kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang begitu hebatnya
sehingga segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat
mempengaruhi keadaan umum dan mengganggu pekerjaan sehari-hari, berat badan
menurun dan dehidrasi.1-4
B. Etiologi
Mual dan muntah mempengaruhi hingga 50% kehamilan, kebanyakan
perempuan mampu mempertahankan kebutuhan cairan dan nutrisi dengan diet dan
simptom akan teratasi hingga akhir trimester pertama. Etiologinya belum diketahui
secara pasti, tetapi adal beberapa ahli yang menyatakan bahwa erat hubungannya
dengan endokrin, biokimia dan psikologis.1,2 Faktor-faktor yang menjadi predisposisi
diantaranya:2,3
a) Sering terjadi pada primigravida, mola hidatidosa, diabetes dan kehamilan
ganda akibat peningkatan kadar HCG.
b) Faktor organik : masuknya vili khoriales dalam sirkulasi maternal dan
perubahan metabolik.
c) Faktor psikologik: keretakan rumah tangga, kehilangan pekerjaan, rasa takut
terhadap kahamilan dan persalinan, takut memikul tanggung jawab dan
sebagainya.
d) Faktor endokrin lainnya: hipertiroid, diabetes dan lain-lain.
Literatur menyebutkan bahwa ibu dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih
dari 35 tahun lebih sering mengalami hiperemesis gravidarum. Usia gestasi atau usia
kehamilan juga merupakan faktor resiko hiperemesis gravidarum, hal tersebut
berhubungan dengan kadar hormon korionik gonadotropin, estrogen dan progesteron
di dalam darah ibu. Kadar hormon korionik gonadotropin merupakan salah satu
etiologi yang dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum. Kadar hormon
gonadotropin dalam darah mencapai puncaknya pada trimester pertama, tepatnya
sekitar mingu ke 14-16. Oleh karena itu, mual dan muntah lebih sering terjadi pada
trimester pertama. Faktor resiko lain adalah jumlah gravida. Hal tersebut berhubungan
4

dengan kondisi psikologis ibu hamil dimana ibu hamil yang baru pertama kali hamil
akan mengalami stres yang lebih besar dari ibu yang sudah pernah melahirkan dan
dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum, ibu primigravida juga belum mampu
beradaptasi terhadap perubahan korionik gonadotropin, hal tersebut menyebabkan ibu
yang baru pertama kali hamil lebih sering mengalami hiperemesis gravidarum.
Pekerjaan juga merupakan faktor resiko penyakit hiperemesis gravidarum. Pekerjaan
berhubungan dengan kondisi sosial ekonomi yang juga mempengaruhi pola makan,
aktifitas dan stres pada ibu hamil.5,6
C. Epidemiologi
Mual dan muntah terjadi dalam 50-90% kehamilan. Gejalanya biasanya
dimulai pada gestasi minggu 9-10, memuncak pada minggu11-13, dan berakhir pada
minggu 12-14. Pada

1-10%

kehamilan,gejala dapat berlanjut melewati 20-22

minggu. Hiperemesis berat yang harus dirawat inap terjadi dalam 0,3-2% kehamilan.3
D. Patofisiologi
Ada teori yang menyebutkan bahwa perasaan mual adalah akibat dari
meningkatnya kadar korionik gonadotropin, estrogen dan progesteron karena keluhan
ini mucul pada 6 minggu pertama kehamilan yang dimulai dari hari pertama haid
terakhir dan berlangsung selama 10 minggu. Pengaruh fisiologis hormon ini korionik
gonadotropin, estrogen dan progesteron ini masih belum jelas, mungkin berasal dari
sistem saraf pusat akibat berkurangnya sistem pengosongan lambung. Penyesuaian
terjadi pada kebanyakan ibu hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat
berlangsung berbulan-bulan. Selain teori hormon korionik gonadotropin, estrogen dan
progesteron ini masih ada beberapa teori lain yang dapat menyebabkan hiperemesis
gravidarum seperti infeksi H.Pylori. Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa infeksi
H.pylori dapat menyebabkan hiperemesis gravidarum. Selain itu masih ada teori
penyebab hiperemesis gravidarum akibat psikologis.3
Secara umum berdasarkan berbagai teori, pada hiperemesis gravidarum terjadi mual,
muntah dan penolakan semua makanan dan minuman yang masuk, sehingga apabila
terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi, tidak imbangnya kadar elektrolit dalam
darah,

dengan

alkalosis

hipokloremik.

Selain

itu

hiperemesis

gravidarum

mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan


energi karena energi yang didapat dari makanan tidak cukup, lalu karena oksidasi
5

lemak yang tidak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam asetonasetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah sehingga menimbulkan asidosis.
Selanjutnya, dehidrasi yang telah terjadi menyebabkan aliran darah ke jaringan
berkurang, hal tersebut menyebabkan pasokan zat makanan dan oksigen berkurang
dan juga mengakibatkan penimbunan zat metabolik yang bersifat toksik didalam
darah. Kemudian, hiperemesis gravidarum juga dapat menyebabkan kekurangan
kalium akibat dari muntah dan ekskresi lewat ginjal, yang menambah frekuensi
muntah yang lebih banyak, dan membuat lingkaran setan yang sulit untuk dipatahkan.
Patofisiologi hiperemesis gravidarum ditunjukkan dalam skema dibawah.1,2
E. Gejala klinis
Batas jelas antara mual yang masih fisiologis dalam kehamilan dan
hiperemesis gravidarum tidak ada tetapi bila keadaan umum penderita terpengaruh
sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Secara klinis hiperemesis
gravidarum di bedakan atas 3 tingkatan, yaitu:1,2
a) Tingkat I : muntah yang terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum
penderita, pasien merasa lemah, tidak nafsu makan, berat badan menurun dan
nyeri epigastrium. Nadi meningkat sampai 100x/ menit dan tekanan darah
sistolik menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang dan urin
sedikit tetapi masih normal.
b) Tingkat II : gejala lebih berat, penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor
kulit lebih berkurang, lidah lebih mengering dan tampak kotor, nadi kecil dan
cepat > 100 140x/ menit, tekanan darah sistolik < 80 mmHg, subfebris, berat
badan turun, mata cekung, hemokonsentrasi dan oligouria.
c) Tingkat III : terjadi gangguan kesadaran (somnolen-koma), muntah berkurang
atau berhenti, nadi kecil dan cepat, tensi menurun, suhu meningkat.5,6
F. Diagnosis
Diagnosis hiperemesis gravidarum biasanya tidak sukar. Harus ditentukan
adanya kehamilan muda dan muntah yang terus menerus sehingga mempengaruhi
keadaan umum. Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan
kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi keadaan janin sehingga pengobatan
6

perlu segera diberikan. Pada diagnosis harus ditentukan adanya kehamilan dan
muntah yang terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Pemeriksaan
fisik pada pasien hiperemesis gravidarum biasanya tidak memberikan tanda-tanda
yang khusus. Lakukan pemeriksaan tanda vital, keadaan membran mukosa, turgor
kulit, nutrisi dan berat badan. Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai dehidrasi, turgor
kulit yang menurun, perubahan tekanan darah dan nadi. Pemeriksaan laboratorium
yang perlu dilakukan antara lain, pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan kadar
elektrolit, keton urin, tes fungsi hati, dan urinalisa untuk menyingkirkan penyebab
lain. Bila hyperthyroidism dicurigai, dilakukan pemeriksaan T3 dan T4. Lakukan
pemeriksaan ultrasonografi untuk menyingkirkan kehamilan mola.1,2
G. Komplikasi
a. Maternal : akibat defisiensi tiamin (B1) akan menyebabkan teradinya diplopia,
palsi nervus ke-6, ataksia, dan kejang. Jika hal ini tidak segera ditangani akan
terjadi

psikosis

korsakoff

(amnesia,

menurunnya

kemampuan

untuk

beraktivitas), ataupun kematian. Komplikasi yang perlu diperhatikan adalah


Ensephalopati Wernicke. Gejala yang timbul dikenal sebagai trias klasik yaitu
paralisis otot-otot ekstrinsik bola mata (oftalmoplegia), gerakan yang tidak
teratur (ataksia), dan bingung.5,6
b. Fetal : penurunan berat badan yang kronis akan meningkatkan kejadian
gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (IUGR).5,6
H. Penatalaksanaan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksananakan dengan
jalan memberikan penerangan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses
yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah
merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah
kehamilan 4 bulan, menganjurkan mengubah makanan sehari-hari dengan makanan
dalam jumlah kecil, tetapi lebih sering. Makanan yang berminyak dan berbau lemak
sebaiknya dihindarkan. Defekasi yang teratur hendaknya dapat teratur.1,2,3

Obat-obatan.

Apabila keluhan dan gejala tidak mengurang maka diperlukan pengobatan.


Sedativa yang sering diberikan adalah phenobarbital, vitamin yang dianjurkan
yaitu vitamin B1 dan B6, antihistamin juga dianjurkan. Pada keadaan lebih berat
diberikan antiemetik seperti disiklomin hidrochlorida atau khlorpromasin.

Isolasi.
Dilakukan dalam kamar yang tenang, batasi pengunjung / tamu, hanya dokter dan
perawat yang boleh keluar masuk kamar sampai muntah berhenti dan pasien mau
makan. Catat cairan yang masuk dan keluar dan tidak diberikan makan dan
minum dan selama 24 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan
berkurang atau hilang tanpa pengobatan.

Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan
rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah
dan konflik, yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

Cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan
glukosa 5% dalam cairan fisiologis sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat
ditambah kalium dan vitamin, khususnya vitamin B komplek dan vitamin C dan
bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intra vena.
Dibuat daftar kontrol cairan yang masuk dan yang dikeluarkan. urin perlu
diperiksa sehari-hari terhadap protein, aseton, khlorida dan bilirubin. Suhu dan
nadi diperiksa setiap 4 jam dan tekanan darah 3 kali sehari. Dilakukan
pemeriksaan hematokrit pada permulaan dan seterusnya menurut keperluan. Bila
selama 24 jam penderita tidak muntah dan keadaan umum bertambah baik dapat
dicoba untuk diberikan minuman, dan lambat laun minuman dapat ditambah
dengan makanan yang tidak cair.

Penghentian kehamilan
Penghentian kehamilan dilakukan bila keadaan umum memburuk melalui
pertimbangan beberapa aspek meliputi pemeriksaan medik dan psikiatrik.

Delirium, kebutaan, takikardi, ikterus, anuria dan perdarahan merupakan


komplikasi organik.4,5,6
I. Prognosis
Dengan penanganan yang baik, prognosis hiperemesis gravidarum sangat
memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri namun demikian pada
tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin.3,4
BAB III
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. IV

Umur

: 38 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pendidikan Terakhir

: SLTA

Alamat

: Nglarangan 1/1 Kebakkramat

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 28 Oktober 2015
di bangsal Teratai.
Keluhan Utama :
Pasien datang ke RSUD Karanganyar dengan keluhan mual dan muntah.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien G1P0A0 usia kehamilan 11 minggu +3hari dengan keluhan mual dan
muntah sejak 3 hari yang lalu. Mual muntah awalnya hanya terjadi pada pagi hari
saja dan terjadi setelah makan dan minum, namun sejak 1 hari sebelum masuk
RSUD Karanganyar muntah yang dialami >10 kali per hari dengan volume
kurang lebih 1/2 - 3/4 gelas besar. Isi yang dimuntahkan berupa makanan dan
minuman yang dikonsumsi sebelumnya. Keluhan mual dan muntah semakin
bertambah berat bila setelah makan dan minum dan berkurang saat istirahat.
9

Selain itu pasien juga mengeluh badan terasa lemas sehingga tak mampu
melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya, bibir terasa kering, nafsu makan
dirasakan menurun karena pasien takut muntah. BAB dan BAK dirasakan
semakin menurun. Pasien mengaku tidak ada permasalahan dalam kehidupan
rumah tangganya maupun dalam pekerjaan.
Riwayat Haid :
Menarche

: 15 tahun

Haid

: teratur

Siklus

: 28 hari

Lama Haid

: 7 hari

Hari Pertama Haid Terakhir

: 9 Agustus 2015

Hari Perkiraan Lahir

: 16 Mei 2016

Riwayat Nikah :
belum menikah.
Riwayat Obstetri :
G1P0A0
1. Hamil ini.
Riwayat Keluarga Berencana (KB) :
Pasien mengaku belum pernah menggunakan KB.
Riwayat Ante Natal Care (ANC) :
Pasien memeriksakan kehamilannya di bidan 1 kali.
Riwayat Penyakit Dahulu
-

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat Diabetes Melitus

: disangkal

Riwayat Asma

: disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal

Riwayat Alergi Obat

: disangkal

Riwayat Gastritis

: disangkal

Riwayat penyakit selama kehamilan

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


-

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat Diabetes Melitus

: disangkal

10

III.

Riwayat Asma

: disangkal

Riwayat Penyakit Jantung

: disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
Status generalis

Keadaan Umum

: cukup

Kesadaran

: compos mentis

Tanda Vital

Tekanan Darah

: 100/60 mmHg

Nadi

: 102 x/ menit

Pernapasan

: 18 x/ menit

Suhu

: 37,2 0C

Mata : mata cekung (+/+), konjungtiva palpebra anemis (-/-),


sklera ikterik (-/-)

Telinga: discharge (-/-)

Hidung

Mulut : sianosis (-), bibir kering (+)

Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-)

Thorak :
Cor

: discharge (-/-), napas cuping hidung (-/-)

: BJ I, II reguler, bising (-)


Batas jantung dalam batas normal

Pulmo

: Suara napas dasar vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen

: Datar,bising usus (+ lemah), turgor kulit menurun, nyeri tekan

epigastrium (+)

Ekstremitas

:
Superior
-/-

Inferior
-/-

-/-

-/-

Refleks Fisiologis

+N/+N

+N/+N

Refleks Patologis

-/-

-/-

Edema
Akral dingin

Status Obstetri
Tinggi fundus uteri : belum teraba.

11

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Usulan : pemeriksaan laboratorium: darah rutin, elektrolit, gula darah
pemeriksaan USG

Pemeriksaan
Hemoglobin
Leukosit
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit
MCV
MCH
MCHC
PDW
MPV
Limfosit
Monosit
Granulosit
Eosinofil
Basofil
Golongan darah
HbsAg

Hasil
13,1
12,46
4,28
38,4
309
89,8
30.6
34,1
15,5
8,9
16,1
4,7
77,1
1,7
0,4
B
Non reaktif

Nilai Rujukan
12.00- 16.00 g/dL
5-10 10^3/uL
4.00-5.00 10^6/uL
37.00-47.00 %
150-300 10^3/uL
82.0-92.0 fL
27.0-31.0 pg
32.0-37.0 g/dL
9.0-17.0
6,5-12 fL
25,0-40,0 %
3,0-9,0 %
50,0-70,0 %
0,5-5,0 %
0,0-1,0 %
Non reaktif

V. DIAGNOSA KERJA
Hiperemesis Gravidarum grade 1 pada primigravida, hamil 11 minggu +3hari.
VI.

PENATALAKSANAAN
Infus RL:D5% = 2:1
Ondansetron drip 1 amp/12jam
Ranitidin 1 amp/12jam

VII.

PROGNOSIS
Quo Ad Vitam

: dubia ad bonam

Quo Ad Sanationam

: dubia ad bonam

Quo Ad Fungionam

: dubia ad bonam

12

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada laporan kasus ini akan dibahas pasien Ny.IV usia 38 tahun, G1P0A0, hamil
11m+3 dengan hiperemesis gravidarum. Pasien datang ke IGD RSUD Karanganyar dengan
keluhan mual dan muntah sejak 3 hari yang lalu. Mual muntah awalnya hanya terjadi pada
pagi hari saja dan terjadi setelah makan dan minum, namun sejak 2 hari SMRS muntah yang
dialami >10 x / hari dengan volume 1/2 - 3/4 gelas besar. Isi muntahan berupa makanan
minuman yang dikonsumsi sebelumnya. Keluhan mual dan muntah semakin bertambah berat
bila setelah makan dan minum, dan berkurang saat istirahat. Selain itu pasien juga mengeluh
badan terasa lemas sehingga tak mampu melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya,
bibir terasa kering, nafsu makan dirasakan menurun karena pasien takut muntah. BAB dan
BAK dirasakan semakin menurun. Pasien juga mengeluh nyeri ulu hati. Pasien mengaku
belum menikah.
Riwayat haid pasien: menarche pada usia 14 tahun, haid teratur dengan siklus 28 hari,
lama haid 7 hari, HPMT 9 Agustus 2015 sehingga HPL 16 Mei 2016. Riwayat pernikahan:
pasien belum pernah berumah tangga. Riwayat Obstetri : G1P0A0, hamil ini. Riwayat KB:
tidak menggunakan KB. Pasien ANC di bidan 1 kali.
Pada kasus ini, pasien didiagnosis dengan hiperemesis gravidarum karena berdasarkan
anamnesis pada pasien ini didapatkan sedang hamil muda (Trimester I) dan ditemukan
adanya gejala mual dan muntah yang berat, dimana keluhan tersebut sampai menggangu
aktivitas sehari-hari. Muntah tersebut juga menimbulkan komplikasi dehidrasi karena
kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah. Pada pemeriksaan
fisik didapatkan keadaan umum tampak lemas, tekanan darah 100/ 70 mmHg, nadi 102 x /
menit, frekuensi pernapasan 22x / menit, teratur, suhu 37,5 0C, mata cekung (+/+),
konjungtiva palpebra anemis (+/+) dan bibir kering (+).
Dimana hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan
sampai umur kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang begitu hebatnya sehingga segala

13

apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum
dan mengganggu pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun dan dehidrasi.1,2
Pasien dimasukan dalam hiperemesis gravidarum tingkat I, karena mual muntah 10
kali sehari, penderita tampak lemah namun masih compos mentis, mata agak cekung, turgor
kulit menurun dan bibir kering, frekuensi nadi cepat (102x/menit), pernafasan agak cepat (22
x/menit), mata. Namun dalam penegakan diagnosis ini perlu dilakukan pemeriksaan darah
rutin, kimia urin, elektrolit, gula darah dan USG.
Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum dibedakan menjadi rehidrasi dan koreksi
elektrolit, isolasi, terapi nutrisi, terapi dengan obat-obatan, dan psikoterapi. Terapi cairan
dilakukan untuk mengatasi dehidrasi dengan pemberian cairan rehidrasi. Umumnya
kehilangan air dan elektrolit diganti dengan cairan isotonik, misalnya Ringer Laktat, ringer
asetat atau normal salin. Cairan yang digunakan untuk memperbaiki keadaan pasien ini
adalah kristaloid yaitu Ringer Laktat, dengan pertimbangan bahwa pada pasien terjadi
penurunan volume cairan intravaskuler dan kecenderungan defisit cairan intraseluler dan
interstisial. Resusitasi dikatakan adekuat bila terdapat parameter seperti tekanan darah arteri
rata-rata 70-80 mmHg, denyut jantung kurang dari 100x per menit, ekstremitas hangat
dengan pengisian kapiler baik, susunan saraf pusat baik, produksi urin baik. Pada pasien ini
diberikan terapi obat-obatan antara lain Infus RL:D5% = 2:1, ondansetron drip 1 amp/12jam,
dan ranitidin 1 amp/12jam.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Jennifer, R., Niebyl, M.D., 2010. Nausea and Vomiting in Pregnancy. New England
Journal of Medicine. 363:1544-50
2. Wei, Chiau., et al. 2013. Hyperemesis gravidarum and gestational transient
hyperthyroidism: A case report. Journal of Gynecology and Obstetrics. 1(2): 7-10
3. Loh, K.Y., Sivalingam, M., 2005. Understanding Hyperemesis Gravidarum. Med J
Malaysia. 60: 3
4. Li, Lin., et al. 2015. Helicobacter pylori Infection Is Associated with an Increased
Risk of Hyperemesis Gravidarum: A Meta-Analysis. Gastroenterology Research and
Practice.
5. Gunawan, K., et al. 2011. Diagnosis dan Tatalaksana Hiperemesis Gravidarum.
Journal Indonesia Medical Association, 61: 11
6. Wegrzyniak, L.J., et al. 2012. Treatment of Hiperemesis Gravidarum. Rev Obstet

Gynecol. 5(2):78-84

15