Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK (KI-2051)

UJI TRITERPEN DAN STEROID SERTA UJI ALKALOID TERHADAP SAMPEL


DAUN MELINJO (Gnetum gnemon) DAN DAUN BUNGA MERAK (Caesalpinia
pulcherrima)

Disusun oleh :
Risti Desiyanti
10613043
Kelompok 8

Asisten :
Ilham A.P/20515004
S.Nelson A/20515044

Tanggal Praktikum : Kamis, 22 Oktober 2015


Tanggal Pengumpulan : Kamis, 29 Oktober 2015

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

I. TUJUAN PERCOBAAN
1.Menentukan hasil uji Liebermann-Burchard terhadap sampel daun melinjo (Gnetum
gnemon) dan daun bunga merak (Caesalpinia pulcherrima).
2. Menentukan hasil uji busa terhadap sampel daun melinjo (Gnetum gnemon) dan daun
bunga merak (Caesalpinia pulcherrima).
3. Menentukan nilai Rf dari sampel daun melinjo (Gnetum gnemon) dan daun bunga merak
(Caesalpinia pulcherrima) dari eluen n-heksana etilasetat.
4. Menentukan hasil uji alkaloid terhadap sampel daun melinjo (Gnetum gnemon) dan daun
bunga merak (Caesalpinia pulcherrima) dengan pereaksi Dragendroff.
5.

Menentukan hasil uji alkaloid terhadap sampel daun melinjo (Gnetum gnemon) dan
daun bunga merak (Caesalpinia pulcherrima) dengan pereaksi Meyer.

6. Menentukan nilai Rf dari sampel daun melinjo (Gnetum gnemon) dan daun bunga merak
(Caesalpinia pulcherrima) dengan eluen kloroform : metanol (9:1)

II. TEORI DASAR

2.1 Triterpenoid
Triterpenoid merupakan senyawa organik yang dihasilkan oleh beberapa kelompok
tumbuhan tertentu. Karena keberadaannya yang spesifik maka triterpenoid dapat
dijadikan patokan ciri atau penanda untuk ilmu taksonomi tumbuhan (Ajayi et al., 2011).
Senyawa inimemiliki kerangka karbon yang berasal dari enam satuan isoprena dan secara
biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C-30 asiklik, yaitu skualena.Triterpenoid
memiliki ciri khas, yaitu tidak berwarna, berbentuk kristal, bertitik leleh tinggi, dan
bersifat optis aktif (Harborne,1987). Menurut Harborne (1987), senyawa triterpenoid
dapat dibagi berdasarkan jumlah cincin yang terdapat dalam struktur molekulnya, yaitu:
1.

Triterpen asiklik yaitu triterpen yang tidak mempunyai cincin tertutup,


skualena.

misalnya

2. Triterpen trisiklik adalah triterpen yang mempunyai tiga cincin tertutup pada struktur
molekulnya, misalnya: ambrein.
3. Triterpen tetrasiklik adalah triterpen yang mempunyai empat cincin tertutup pada struktur
molekulnya, misalnya:lanosterol.
4. Triterpen pentasiklik adalah triterpen yang mempunyai lima cincin tertutup pada struktur
molekulnya, misalnya -amirin.
2.2 Steroid
Steoid merupakan senyawa organik yang dihasilkan oleh hampir semua jenis
tanaman. Steroid adalah salah satu golongan senyawa triterpenoid yang mengandung inti
siklopentana perhidrofenantren. Senyawa inibanyak ditemukan dalam jaringan tumbuhan
karena berfungsi sebagai bahan pembentukan membran(Harborne,1987; Robinson,
1995).. Menurut asalnya senyawa steroid dibagi atas:
1. Zoosterol, yaitu steroid yang berasal dari hewan misalnya kolesterol.
2. Fitosterol, yaitu steroid yang berasal dari tumbuhan misalnya sitosterol dan stigmasterol
3. Mycosterol, yaitu steroid yang berasal dari fungi misalnya ergosterol
4. Marinesterol,

yaitu steroid yang berasal dari organisme laut misalnya spongesterol

(Robinson, 1995). Menurut Robinson(1995), steroid dapat dubagi berdasarkan jumlah atom
karbonnya, yaitu:
1. Steroid dengan jumlah atom karbon 27, misalnya zimasterol.
2. Steroid dengan jumlah atom karbon 28, misalnya ergosterol.
3. Steroida dengan jumlah atom karbon 29, misalnya stigmasterol.
4.
2.3 Saponin
Saponin merupakan senyawa dalam bentuk glikosida yang tersebar luas pada
tumbuhan tingkat tinggi. Saponin membentuk larutan koloidal dalam air dan membentuk
busa yang mantap jika dikocok dan tidak hilang dengan penambahan asam
(Harbrone,1996).Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat dan menimbulkan
busa bila dikocok dengan air. Saponin ialah senyawa yang rumit dengan kegunaan luas

yang mempunyai massa dan berat molekulnya besar. Saponin yang bekerja sebagai
antimikroba.Sifat-sifat Saponin :
a. Mempunyai rasa pahit
b. Dalam larutan air membentuk busa stabil
c. Menghemolisa eritrosit
d. Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi
e. Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksiteroid lainya
f. Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi
g. Berat molekul relative tinggi dan analisi hanya menghasilkan formula empiris yang
mendekati
Saponin dalam bentuk gugus triterpenoid dan glikosida adalah steroid umum
dalam produk tumbuh-tumbuhan. Suatu glikosida yang memiliki aglikon berupa
sapogenin disebut saponin. Saponin dapat menurunkan tegangan permukaan air, sehingga
akan mengakibatkan terbentuknyabuih pada permukaan air setelah dikocok. Senyawa
saponin dibagi menjadi 2 berdasarkanjenis sapogenisnya yang menempel pada
molekulnya yaitu saponin steroid dan saponintriterpen. Saponin steroid biasanya bersifat
netral, dan disebut juga sebagai glikosidajantung kaerana mempengaruhi kerja otot
jantung. Yang kedua adalah saponin triterpenyang merupakan saponin yang mememiliki
sapogenis berupa triterpen. Kedua jenis saponin diatas disintesis melalui jalur asam
mevalonat yang berasal dariasam asetat. Sebelum membentuk sapogeninnya asam
mevalonat akan membentuk rantaitriterpen yang disebit squalen. Squalen ini mengalami
oksidasi menjadi epoksidasqualensetelah itu terjadi siklisisasi dan dibagi menjadi dua
jalur. Jalur pertama akan di perolehlanosterol dan jalur kedua akan membentuk triterpen
dengan berbagai bentuk (Robinson,1995)

2.4 Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Kromatografi lapis tipis adalah kromatografi serapan, dimana sebagai fasa tetap
(diam) berupa zat padat yang disebut adsorben (penyerap) dan fasa gerak adalah zat cair
yang disebut larutan pengembang (Gritter,1991). Penyerap untuk KLT ialah silika gel,
alumina, kiselgur, dan selulosa. Penyerap biasanya mengandung pengikat atau
mengandung zat tambahan lain.
Ada dua kekurangan utama KLT pada kaca objek.

Pertama,

lapisan nisbi tipis

dibandingkan dengan lapisan buatan sendiri yang ukurannya lebih besar. Kedua, jarak
untuk pengembangan kromatografi jauh lebih pendek. Jadi, kita harus menotolkan
cuplikan dengan luas totolan sekecil mungkin.

Penotolan dapat dilakukan dengan

memakai kapiler halus yang dibuat dari pipa kaca demikian rupa sehingga besarnya tidak
jauh berbeda dengan peniti. Cuplikan berupa larutan, harus ditotolkan sekitar 8-10 mm
dari salah satu ujung kaca objek yang terlapisi sempurna. Beberapa kali penotolan dapat
dilakukan pada tempat yang sama asal saja lapisan kering dulu sebelum penotolan
berikutnya (Gritter, 1991).
Identifikasi dari senyawa-senyawa hasil pemisahan KLT dapat dilakukan dengan
penambahan pereaksi kimia dan reaksi-reaksi warna. Tetapi lazimnya untuk identifikasi
digunakan harga Rf. Harga Rf didefenisikan sebagai berikut:
Rf = Jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik penotolan dibagi Jarak yang ditempuh
oleh pelarut dari titik penotolan. Harga-harga Rf untuk senyawa-senyawa murni dapat
dibandingkan dengan hargaharga standar.Perlu diperhatikan bahwa harga-harga Rf yang
diperoleh hanya berlaku untuk campuran tertentu dari pelarut dan penyerap yang
digunakan.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi harga Rf:
1. Struktur kimia dari senyawa yang dipisahkan
2. Sifat dari penyerap dan derajat aktifitasnya
3. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap

4. Pelarut(dan derajat kemurniannya) fasa bergerak


5. Derajat kejenuhan dari uap dalam mana bejana pengembangan yang
digunakan
6. Teknik percobaan
7. Jumlah cuplikan yang digunakan
8. Suhu
9. Kesetimbangan
2.3 Alkaloid
Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik yang biasanya metabolit sekunder
dengan banyak kandungan atom nitrogen. Alkaloid memiliki struktur siklik yang
kompleks dengan atom nitrogen biasanya berada di tengah ( Yubin et al., 2014 ).
Alkaloid disintesis oleh banyak organisme seperti tumbuhan, hewan maupun organisme.
Alkaloid merupakan senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antiinflamasi, antitumor,
antimikroba. Selain itu alkaloid memiliki efek farmakologin terhadap sistem syaraf.
Karena kegunaannya dalam bidang medis, maka diperlukan metode untuk mendeteksi
keberadaan alkaloid serta isolasi atau ekstraksinya dari berbagai tanaman.Senyawa
alkaloid merupakan suatu senyawa organik yang paling banyak ditemukan di alam.
Senyawa ini mirip alkali dan mengandung atom nitrogen yang bersifat basa dalam cincin
heterosiklik. Hampir seluruh senyawa alkaloid berasal dari tumbuh-tumbuhan dan
tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Hampir semua alkaloida yang ditemukan di
alam memiliki keaktifan biologis tertentu. Misalnya kuinin, morfin dan stikinin
merupakan senyawa yang terkenal memiliki efek sifiologis dan psikologis (Aniszewski,
2007).
Hasil uji positif suatu sampel sebagai senyawa yang mengandung alkaloid adalah
warna merah ketika sampel direaksikan dengan pereaksi Dragendorff. Pengujian alkaloid
menggunakan pereaksi Dragendorff memiliki sifat dasar alkaloid yang reaktif terhadap
logam berat. Pereaksi Dragendorff mengandung logam berat timbal (Pb). Selain itu, bukti

suatu sampel mengandung senyawa alkaloid adalah dengan adanya gumpalan atau
endapan setelah terjadi reaksi antara sampel dan pereaksi (Rasyid, 2012).

III. DATA PENGAMATAN


3.1 Uji Triterpenoid dan Steroid,saponin
Tabel 3.1.1 Uji Lieberman -Burchad

Nama
Tumbuhan

Perlakuan

Warna

Keterangan
Hasil
Pengamatan

Ekstrak kering
sampel
Daun Melinjo

ditambahkan

(Gnetum

beberapa tetes

gnemon)

anhidrida

Larutan berwarna
merah muda kuat /

+3

pekat

asetat, + 1-2
tetes H2SO4
Daun Bunga

Larutan berwarna Hijau

Merak

tua kuat / pekat

(Caesalpinia
pulcherrima)
Gambar 3.1.1 Uji Lieberman -Burchad

+3

Tabel 3.1.2 Uji Busa

Nama
Tumbuhan

Daun Melinjo
(Gnetum
gnemon)
Daun Bunga
Merak

Perlakuan

Tinggi busa

Keterangan
Hasil Pengamatan

Ekstrak
kering + 5

Busa yang dihasilkan

mL air dan

setinggi 1 cm

+1

dikocok
Busa yang dihasilkan
setinggi 1 cm

(Caesalpinia
pulcherrima)

Gambar 3.1.2 Uji Busa

+1

Tabel 3.1.3 Analisis KLT Triterpen


Nama

Perlakuan

Tumbuhan

Perbandingan

Jarak tempuh

Keterangan

pelarut

noda

Panjang lintasan

Ekstrak
triterpen
ditotolkan
pada KLT dan
Daun Bunga

dikembangkan

eluen n-

Dengan jarak

Merak

pada chamber

heksana : etil

tempuh noda 0 cm

(Caesalpinia

berisi eluen n-

asetat

pulcherrima)

heksana :

( 7:3 )

etilasetat lalu
disemprot
dengan
Ce(SO4)2

Gambar 3.1.3 Analisis KLT Triterpen

Dengan panjang
eluen 4 cm

3.2 Alkaloid
Tabel 3.2.1 Uji Alkaloid dengan pereaksi Dragendorff

Nama
Tumbuhan

Perlakuan

Warna

Keterangan
Hasil Pengamatan

Ekstrak
Daun Melinjo
(Gnetum
gnemon)

alkaloid

Terdapat endapan

ditambahkan

hijau tua pekat

1-2 tetes

dan terdapat

pereaksi

endapan jingga

+2

Dragendorff
Daun Bunga
Merak
(Caesalpinia
pulcherrima)

Gambar 3.2.1 Uji Alkaloid dengan pereaksi Dragendorff

Tabel 3.2.1 Uji Alkaloid dengan pereaksi Meyer

Nama
Tumbuhan

Perlakuan

Warna

Keterangan
Hasil Pengamatan

Ekstrak
Daun Melinjo

alkaloid

Terdapan endapan

(Gnetum

ditambahkan

kuning tua yang

gnemon)

1-2 tetes

pekat

pereaksi Meyer
Daun Bunga
Merak
(Caesalpinia
pulcherrima)

Gambar 3.2.1 Uji Alkaloid dengan pereaksi Meyer

+3

Tabel 3.2.2 Analisis KLT Alkaloid

Nama

Perlakuan

Tumbuhan

Perbandingan
pelarut

Jarak
tempuh

Keterangan

noda

Panjang lintasan

Ekstrak
alkaloid
ditotolkan
Daun Melinjo

pada KLT dan

eluen

(Gnetum

dibiarkan

kloroform :

gnemon)

dalam chamber

metanol (9:1)

3,7 cm
Dengan panjang eluen 4 cm

yang berisi
eluen
kloroform

IV. PENGOLAHAN DATA


4.1 Uji Triterpenoid dan Steroid
Rf daun bunga melinjo (Gnetum gnemon)

= -

Rf daun bunga merak (Caesalpinia pulcherrima) = 0 cm


4.2 Uji Alkaloid
Rf daun bunga melinjo (Gnetum gnemon)

= 0,925 cm

Rf daun bunga merak (Caesalpinia pulcherrima) = -

V. PEMBAHASAN
5.1 Uji Triterpenoid dan Steroid
Pada praktikum ini, dilakukan pengujian senyawa triterpen dan steroid terhadap daun
melinjo (Gnetum gnemon) dan daun bunga merak (Caesalpinia pulcherrima). Uji yang
dilakukan, di antaranya ekstraksi triterpen, steroid, dan saponin, uji Liebermann-Burchard,
uji busa, dan uji KLT.
Uji Liebermann Burchard digunakan untuk mendeteksi adanya suatu triterpenoid yang
berupa kolesterol. Hasil uji positif di tandai dengan terbentuknya warna hijau pada sampel
yang diuji. Prinsip kerja dari Uji Liebermann Burchard adalah mengidentifikasi adanya
kolesterol dengan penambahan asam sulfat dalam sampel yang diuji. Mekanisme yang
terjadi pada uji ini adalah saat asam sulfat ditambahakan kedalam sampel yang mengandung
kolesterol, molekul air akan berpindah dari gugus C3 kolesterol, selanjutnya kolesterol akan
teroksidasi membentuk 3,5-kolestadiena. Produk tersebut dikonversi menjadi polimer yang
mengandung konformor yang menghasilkan warna hijau. Warna hijau yang muncul
disebabkan karena adanya gugus hidroksi (-OH) dari kolesterol bereaksi dengan pereaksi
Liebermann Burchard dan meningkatkan konjugasi dari ikatan tak jenuh dalam cincin yan
berdekatan(Haryudin & Otih, 2009).
Mekanisme lengkapnya terlihat pada skema dibawah ini:

Hijau

Uji Liebermann Burchard terdiri dari dua reagen utama yaitu asam asetat ahidrida dan
asam sulfat pekat. Asam asetat ahidrida berfungsi untuk mengikat air, mengekstraksikan
kolesterol, dan mengendapkan protein serta akan membentuk turunan asetil dari steroid yang
akan membentuk turunan asetil di dalam kloroform., sedangkan asam sulfat berfungsi untuk
membentuk ikatan rangkap terkonjugasi yang terbentuk akibat polimerisasi hidrokarbon tak
jenuh. Penambahan sedikit asam asetat glasial sebelum penambahan asam sulfat pekat akan
memperjelas pembentukan warna hijau, artinya reaksi menjadi lebih sensitif dan kadar
steroid yang dapat diukur pun menjadi lebih kecil. Sedangkan, eluen n-heksana : etil asetat
(7:3) digunakan pada uji kromotografi lapis tipis karena komponen kimia yang terkandung
dalam sampel relatif baik dengan eluen n-heksana : etil asetat. Hal ini sesuai dengan system
yang disarankan untuk pemisahan steroid (Harbone, 2006).
Uji busa yang digunakan untuk menguji adanya kandungan senyawa saponin. Saponin
merupakan senyawa yang memiliki kandungan gugus hidrofilik dan gugus hidrofobik.
Apabila larutan dari sampel daun yang mengadung saponin dikocok, gugus yang hidrofilik
akan berikatan dengan air, sedangkan yang hidrofobik akan berikatan dengan udara
membentuk buih (Hostettmann & Marston, 1995). Adapun hasil uji positif ditandai dengan
terjadinya perubahan warna dan terbentuknya banyak busa.
Berdasarkan hasil percobaan pada daun melinjo, tinggi busa yang dihasilkan 1 cm yang
artinya hanya +1, sedangkan pada sampel daun bunga merak, tinggi busa yang dihasilkan
juga sama dihasilkan 1 cm yang artinya hanya +1 kandungan saponin nya pada daun melinjo
dan bunga merak tidak terlalu banyak .Selanjutnya dilakukan uji KLT, didapatkan nilai Rf
untuk daun melinjo adalah 0,925 sedangkan nilai Rf untuk daun merak adalah 0. Adanya
hasil spot yang tunggal menandakan bahwa hasil ekstraksi pada percobaan ini murni pada
percobaan alkaloid pada daun melinjo sedangkan pada daun merak didapat nilai Rf 0 karena
jarak noda tidak bergeak sama sekali ini menandakan kadar triterpen dan steroidnya yang
amat kuat dan banyak sehingga kepolaranya pun mempengaruhi larutan ini untuk bergerak
dengan eluen .
Dapat disimpulkan bahwa pengujian senyawa triterpenoid, steroid dan saponin ini
berhasil. Hal ini disebabkan pada percobaan ini uji Liebermann-Burchard terhadap sampel
daun melinjo (Gnetum gnemon ) dan daun bunga merak (Caesalpinia pulcherrima)

menunjukkan hasil yang positif. Kedua sampel mengandung triterpen dan steroid. Begitu
pula dengan uji busa terhadap sampel daun melinjo (Gnetum gnemon ) dan daun bunga
merak (Caesalpinia pulcherrima) menunjukkan hasil yang positif. Sampel daun melinjo
(Gnetum gnemon) dan daun bunga merak (Caesalpinia pulcherrima) menunjukkan adanya
kandungan saponin walaupun tidak terlalu banyak.

5.2 Uji Alkaloid


Pada praktikum ini, dilakukan pengujian senyawa alkaloid terhadap daun melinjo
(Gnetum gnemon) dan daun bunga merak (Caesalpinia pulcherrima). Uji yang dilakukan, di
antaranya ekstraksi alkaloid, uji alkaloid dan uji KLT. Pada uji alkaloid digunakan pereaksi
Meyer dan Dragendroff. Hasil uji positif sampel mengandung alkaloid akan ditunjukkan
dengan terbentuknya endapan berwarna jingga. Pada pengujian alkaloid, sampel dihaluskan
dengan cara digerus menggunakan pasir. Penggerusan ini bertujuan untuk menghancurkan
dinding sel yang bersifat kaku sehingga senyawa metabolit sekunder yang ada pada vakuola
dapat diambil (Syarifudin, 2011).
Selain menggunakan pasir, penggerusan daun juga menggunakan kloroform dan
klorofrom-amonia. Penambahan kloroform bertujuan untuk memutuskan ikatan antara asam
tannin dan alkaloid yang terikat secara ionik. Adanya ikatan tersebut disebabkan oleh
adanya atom nitrogen yang berasal dari alkaloid yang secara stabil berikatan dengan gugus
hidroksil fenolik dari asam tannin. Jika ikatan ini putus, alkaloid akan bebas sedangkan asam
tannin akan berikatan dengan kloroform (Bahl, 2011). Setelah ditambahkan larutan
kloroform-amonia, sampel di aduk. Pengadukan ini bertujuan untuk memperbanyak kontak
yang terjadi antara kloroform dengan sampel sehingga ikatan yang putus antara asam tannin
dan alkaloid semakin banyak dan alkaloid semakin bebas (Artati & Fadilah, 2007)
Setelah sampel diekstraksi larutan ditambahkan 5% asam sulfat dan dikocok dengan
kuat. Penambahan asam sulfat ini berfungsi untuk mengikat alkaloid menjadi garam alkaloid
sehingga dapat bereaksi dengan pereaksi-pereaksi logam berat. Berdasarkan teori dasar,
logam berat tersebut akan bereaksi spesifik untuk alkaloid dan mengahasilkan kompleks
garam anorganik yang tidak larut sehingga dapat terpisah dengan metabolit sekundernya

(Rasyid, 2012). Pengocokan dengan kuat bertujuan agar senyawa-senyawa larut dengan
tepat dan sempurna. Selanjutnya, larutan akan membentuk dua fasa akibat adanya perbedaan
tingkat kepolaran antara fasa aqueous yang polar dan kloroform yang kurang polar. Lapisan
atas merupakan garam alkaloid yang larut, sedangkan lapisan paling bawah merupakan
kloroform karena memiliki massa jenis yang lebih besar (Hart, 2003).
Kemudian, dilakukan dua uji yaitu lapisan atas (lapisan asam sulfat) diuji dengan
pereaksi Meyer dan lapisan bawah menggunakan pereaksi Dragendorff. Uji Meyer
digunakan untuk mendeteksi alkaloid, di mana pereaksi ini berikatan dengan alkaloid
melalui ikatan koordinasi antara atom N alkaloid dan Hg pereaksi Meyer sehingga
menghasilkan senyawa kompleks merkuri yang nonpolar mengendap berwarna kuning.
Atom N pada alkaloid akan menyumbangkan pasangan electron bebas dan atom Hg
sehingga membentuk senyawa kompleks yang mengandung atom N sebagai ligannya
(Fluka, 2014).
Pada percobaan uji alkaloid dengan pereaksi Dragendorff membentuk endapan
jingga kehijau-hijauan hal ini disebabkan karena nitrogen digunakan untuk membentuk
ikatan kovalen koordinat dengan kafein menghasilkan endapan jingga sampai hijau pekat
(Maughran, 2003). Berdasarkan hasil uji menggunakan pereaksi Dragendorff menunjukkan
bahwa daun melinjo positif mengandung alkaloid dan hasil uji menggunakan pereaksi
Meyer juga menunjukkan bahwa daun melinjo positif mengandung alkaloid dengan nilai +3
pada uji menggunakan pereaksi Meyer sedangkan dari hasil uji menggunakan pereaksi
Dragendorff menunjukkan positif dengan nilai +2.
Pada Gambar pengamatan terlihat bahwa uji alkaloid menunjukkan hasil positif
menggunakan reagen Dragendorffs. Hasil positif alkaloid pada uji Dragendorff juga ditandai
dengan terbentuknya endapan jingga . Endapan tersebut adalah kalium-alkaloid. Pada uji
alkaloid dengan pereaksi Dragendorff, nitrogen digunakan untuk membentuk ikatan kovalen
koordinat dengan K+ yang merupakan ion logam. Reaksi pada uji Dragendorff ditunjukkan
pada Gambar 4.1 ( Marliana et al., 2005 ).

Gambar 4.1 Reaksi pada dragendroffs

Analisis yang digunakan dalam uji alkaloid adalah kromatografi lapis tipis
(KLT). Prinsip KLT adalah memisahkan senyawa-senyawa berdasarkan perbedaan
kepolarannya terhadap fasa diam ( pelat ) dan fasa gerak ( eluen ). Dalam analisis KLT
uji alkaloid digunakan eluen kloroform-metanol ( 8 : 2 ) yang memiliki kepolaran lebih
rendah dibandingkan dengan plat. Berdasarkan hasil pemaparan sinar UV diperoleh nilai
Rf yaitu 0,925. Dalam hal ini alkaloid hasil ekstraksi lebih mudah terbawa fasa gerak.
Penyebab alkaloid memiliki nilai Rf yang tinggi yaitu struktur alkaloid yang aromatik
atau membentuk cincin siklik sehingga membuatnya memiliki kepolaran yang lebih
rendah dibanding pelat. Hasil pemaparan UV menunjukkan konsentrasi alkaloid yang
berhasil di ekstrak sedikit, tampak pada garis melingkar berwarna oranye yang terdapat di
pinggiran noda. Dapat disimpulkan bahwa metode ekstraksi yang digunakan kurang
efektif dan efisien

VI. KESIMPULAN
1. Uji Liebermann-Burchard terhadap sampel daun melinjo (Gnetum gnemon) dan daun
bunga merak (Caesalpinia pulcherrima) menunjukkan hasil yang positif. Kedua sampel
mengandung triterpen dan steroid.
2. Uji busa terhadap sampel daun melinjo (Gnetum gnemon) menunjukkan kandungan
saponin yang tidak terlalu banyak dan pada

daun bunga merak (Caesalpinia

pulcherrima) menunjukkan kandungan saponin yangsama nilainya dengan dau melinjo.


3. Nilai Rf daun melinjo (Gnetum gnemon) dengan dengan eluen n-heksana : etilasetat tidak
dihasilkan nilai (negatif). Nilai Rf daun bunga merak (Caesalpinia pulcherrima) dengan
eluen n-heksana : etilasetat adalah 0.
4. Hasil uji alkaloid menggunakan pereaksi Dragendorff terhadap sampel daun melinjo
(Gnetum gnemon) positif dengan nilai +2
5. Hasil uji alkaloid menggunakan pereaksi Meyer terhadap sampel daun melinjo (Gnetum
gnemon) positif dengan nilai +
6. Nilai Rf dari daun melinjo (Gnetum gnemon) adalah 0,925 cm dan daun bunga merak
(Caesalpinia pulcherima) adalah sebesar 0 cm

VII. DAFTAR PUSTAKA


Ajayi, I.A, Adjibade, O., Oderinde, R.A. 2011. Preliminary Phytochemical Analysis of Some Plant
Seed. Research Journal of Chemical Science. Vol 1(3): 58-62.

Aniszewski, Tadeusz. 2007. Alkaloids secrets of life. Amsterdam: Elsevier.


Artati, Enny Kriswiyanti., Fadilah. 2007. Pengaruh Kecepatan Putar Pengadukan dan Suhu
Operasi Pada Ekstraksi Tanin Dari Jambu Mete Dengan Pelarut Aseton.
Ekuilibrium 6(1) : 33-38
Fluka.

2014.
Mayers
Reagent.
http://www.sigmaaldrich.com/catalog/product/fluka/00665?lang=en&region=ID.
Diakses pada tangal 27 Oktober 2015 pada pukul 3:56 WIB

Hart, Harold., Craine, Leslie E., Hart, David J. 2003. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat
Edisi Kesebelas. Jakarta : Erlangga
Harbone, J.B. 2006. Metode Fitokimia. Penerbit ITB : Bandung
Harbrone.J.B.,1987.Metode Fitokimia : Penuntun Cara Moderen Menaganalisis
Tumbuhan, Terbitan Kedua,ITB : Bandung Kim Nio, Ocy.,1989. Zat-zat toksik yang
secara alamiah ada pada tumbuhan nabati. Cermin Dunia Kedokteran, No.58.
Haryudin, Wawan, & Otih,Rostiana. 2009. Karakteristik Morfologi Tanaman Cabe Jawa
(Piper retrofractum. Vahl) di Beberapa Sentra Industri. Buletin Littro. Volume 20 (1):
1-10.
Gritter, R. J. 1991. Pengantar Kromatografi. Terbitan ke-2.Terjemahan Kosasih
Maughan, Rj; Griffin J. 2003. Caffeine ingestion and fluid balance: a review. J Human
Nutrition dietetics 16:411-20
Rasyid, Abdullah.2012 Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder Serta uji aktivitas
antibakteri dan antioksidan ekstrak metanol teripang Stichopus hermani". Jurnal
Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 4(2) : 360-368
Yubin, Ji., Miao, Yu., Bing, Wang., Yao, Zhang. 2014. The extraction, separation and
purification of alkaloids in the natural medicine Journal of Chemical and Pharmaceutical
Research 6(1):338-345