Anda di halaman 1dari 15

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Inovasi


Kata inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembaruan dan
perubahan. Kata kerjanya innova yang artinya memperbarui dan mengubah.
Inovasi dapat diartikan sebagai proses dan atau hasil pengembangan dan
pemanfaatan atau mobilisasi pengetahuan, keterampilan (termasuk keterampilan
teknologis) dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang
dan/atau jasa), proses, dan sistem yang baru, yang memberikan nilai yang berarti atau
secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial)
Inovasi sebagai suatu obyek juga memiliki arti sebagai suatu produk atau
praktik baru yang tersedia bagi aplikasi, umumnya dalam suatu konteks komersial.
Biasanya, beragam tingkat kebaruannya dapat dibedakan, bergantung pada
konteksnya. suatu inovasi dapat bersifat baru bagi suatu perusahaan, baru bagi pasar,
negara maupun daerah, serta secara global. Sementara itu, inovasi sebagai suatu
aktivitas merupakan proses penciptaan inovasi, seringkali diidentifkasi dengan
komersialisasi suatu invensi.
Inovasi dapat dikatakan juga suatu perubahan yang baru menuju kearah
perbaikan, yang lain atau berbeda dari yang sudah ada sebelumnya, yang dilakukan
dengan sengaja dan berencana atau tidak secara kebetulan.
Jenis Inovasi, inovasi terdiri dari 4 jenis, yaitu:
1. Penemuan ( Invention ) merupakan kreasi suatu produk, jasa, atau proses baru
yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Konsep ini cenderung disebut
revolisioner.
9

10
2. Pengembangan ( Extension ) merupakan pengembangan suatu produk, jasa,
atau proses yang sudah ada. Konsep seperti ini menjadi aplikasi ide yang
telah ada berbeda.
3. Duplikasi ( Duplication ) merupakan peniruan suatu produk, jasa, atau proses
yang telah ada. Meskipun demikian duplikasi bukan semata meniru
melainkan menambah sentuhan kreatif untuk memperbaiki konsep agar lebih
mampu memenangkan persaingan.
4. Sintesis ( Synthesis ) merupakan perpaduan konsep dan faktor-faktor yang
sudah ada menjadi formulasi baru. Proses ini meliputi pengambilan sejumlah
ide atau produk yang sudah ditemukan dan dibentuk sehingga menjadi
produk yang dapat diaplikasikan dengan cara baru.
Menurut Avanti Fontana (2011) inovasi sebagai keberhasilan ekonomi berkat
adanya pengenalan cara baru atau kombinasi baru dari cara cara lama dalam
mentransformasi input menjadi output ( teknologi ) yang menghasilkan perubahan
besar atau drastis dalam perbandingan antara nilai guna yang dipersepsikan oleh
konsumen atas manfaat suatu produk ( barang dan/atau jasa ) dan harga yang
ditetapkan oleh produsen. Kemudian inovasi dalam konteks lebih luas bahwa inovasi
yang berhasil mengandung arti tidak saja keberhasilan ekonomi melainkan juga
keberhasilan sosial. Inovasi yang berhasil adalah inovasi yang menciptakan nilai
besar untuk konsumen, untuk komunitas, dan lingkungan pada saat yang sama.

11
Tabel 2.1 Definisi Definisi Inovasi
Item
Menciptakan sesuatu yang baru

Deskripsi
Merujuk pada inovasi yang menciptakan pergeseran
paradigma dalam ilmu, teknologi, struktur pasar,
keterampilan, pengetahuan, dan kapabilitas

Menghasikan hanya ide ide baru

Merujuk pada kemampuan untuk menemukan


hubungan hubungan baru, melihat suatu subyek
dengan perspektif baru dan membentuk kombinasi
kombinasi baru dari konsep konsep lama.

Menghasilkan ide, metode, alat Merujuk pada tindakan menciptakan produk baru
baru

atau proses baru. Tindakan ini mencakup invensi


dan pekerjaan yang diperlukan untuk mengubah ide
atau konsep menjadi bentuk akhir

Memperbaiki sesuatu yang sudah Merujuk pada perbaikan barang atau jasa untuk
ada

produksi besar besaran atau produksi komersial


atau perbaikan sistem

Menyebarkan ide ide baru

Menyebarkan dan menggunakan praktik praktik


baru di dunia

Mengadopsi sesuatu yang baru Merujuk pada pengadopsian sesuatu yang baru atau
yang sudah dicoba secara sukses di yang secara signifikan diperbaiki, yang dilakukan
tempat lain

oleh organisasi untuk menciptakan nilai tambah,


baik secara langsung untuk organisasi maupun
secara tidak langsung untuk menciptakan nilai
tambah, baik secara langsung untuk organisasi
maupun secara tidak langsung untuk konsumen.

Melakukan sesuatu dengan cara Melakukan tugas dengan cara yang berbeda secara
yang baru

radikal

12
Mengikuti pasar

Merujuk pada inovasi yang berbasiskan kebutuhan


pasar

Melakukan perubahaan

Membuat

perubahan

perubahan

yang

memungkinkan perbaikan berkelanjutan


Menarik orang orang inovatif
Menarik

kepemimpinan

merekrut

dan

mempertahankan

dan

manjemen

talenta

dan

manhemen manusia (people management) untuk


memandu jalannya inovasi
Melihat sesuatu dari perspektif Melihat pada suatu masalah dari perspektif berbeda
yang berbeda
Inovasi adalah kesuksesan ekonomi berkat diperkenalkannya cara baru atau kombinasi
baru dari cara cara lama dalam mentransformasi input menjadi output yang
menciptakan perubahan besar dalam hubungan antara nilai guna dan harga yang
ditawarkan kepada konsumen dan/atau pengguna. Perluasan definisi: inovasi adalah
kesuksesan ekonomi dan sosial berkat diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru
dari cara cara lama dalam mentransformasi input menjadi output yang menciptakan
perubahan besar dalam hubungan antara nilai guna dan harga yang ditawarkan kepada
konsumen dan/atau pengguna, komunitas, sosietas, lingkungan
Sumber: Goswami dan Mathew (2005); PDMA (2008); De Meyer dan Garg (2005); Senge dkk.
(2008)

2.1.1 Pengertian Inovasi Produk


Definisi mengenai pengertian inovasi produk menurut Hurley and Hult dalam
(Kusumo, 2006) mendefinisikan inovasi sebagai sebuah mekanisme perusahaan
untuk beradaptasi dalam lingkungan yang dinamis, oleh karena itu perusahaan
dituntut untuk mampu menciptakan pemikiran pemikiran baru, gagasan-gagasan

13
baru dan menawarkan produk yang inovatif serta peningkatan pelayanan yang
memuaskan pelanggan.
Avanti Fontana (2011) mendefinisikan inovasi produk sebagai proses
pengenalan produk atau sistem baru yang membawa kesuksesan ekonomi bagi
perusahaan dan kesuksesan sosial bagi konsumen serta komunitas atau lingkungan
yang lebih luas.
Dari teori diatas dapat di simpulkan bahwa inovasi produk merupakan salah
satu faktor penting dalam kesuksesan suatu perusahaan melalui produk inovatif yang
mereka ciptakan guna memuaskan pelanggan. Sebab, kunci dari keberhasilan produk
adalah produk mampu beradaptasi terhadap perubahaan yang terjadi.

2.1.2 Bentuk Bentuk Inovasi Produk


Dalam bukunya (Avanti Fontana, 2011) menyebutkan inovasi produk yang
mencakup perubahan perubahan pada :

Bungkus produk, membangun, memperbaiki kemasan suatu produk sehingga


lebih inovatif

Ukuran produk, adanya keragaman ukuran yang inovatif.

Inovasi proses, mengubah maupun membangun proses produksi menjadi


lebih efisien.

Inovasi sistem distribusi, membuat saluran distribusi lebih sederhana

Inovasi manajemen, bertujuan membuat manajemen organisasi menjadi lebih


fleksibel dan lincah dalam menghadapi perubahan kondisi lingkungan
organisasi.

14
2.2 Pengertian Produk
Menurut Kotler dan Armstrong (2006), product is anything that can be
offered to a market for attention, acquisition, use, or consumption that might satisfy
a want or need. Artinya bahwa produk merupakan sesuatu yang bisa ditawarkan ke
pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, dikonsumsi yang bisa memuaskan
keinginan atau kebutuhan. Produk dikatakan baik apabila produk tersebut dapat
memenuhi kebutuhan pasar. Perkembangan penjualan produk yang tidak memenuhi
kebutuhan dan keinginan pembeli, tidak dapat dibantu dengan strategi promosi
penjualan yang efektik sekalipun. Karena tidak mampu membantuk merubah produk
tersebut menjadi sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan pembeli.
Produk adalah bentuk fisik barnag yang ditawarkan dengan seperangkat citra
(image) dan jasa (service) yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan. Oleh
karena itu, pengertian perusahaan tentang hakekat produk dimata pembeli adalah
penting, konsumen tidak semata mata membeli atribut produk secara fisik tetapi
juga manfaat manfaat yang dapat diperoleh dari produk tersebut.
Menurut Buchari Alma (2008), produk adalah seperangkat atribut baik
berwujud maupun tidak berwujud termasuk di dalamnya warna, harga, nama baik
produk, nama baik toko yang menjual (pengecer) dan pelayanan pabrik serta
pelayanan pengecer yang diterima oleh pembeli guna memuaskan kebutuhan dan
keinginnya.
Sedangkan Fandy Tjiptono (2008) mendefinisikan produk sebagai segala
sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhartikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan, dikonsumsi pasar yang bersangkutan.

15
Berdasarkan beberapa definisi teori diatas, maka produk didefinisikan sebagai
fokus inti dari semua bisnis. Produk merupakan elemen dari keseluruhan penawaran
pasar. Kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak nyata, termasuk di
dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merek ditambah dengan jasa dan
reputasi penjualannya. Bagi konsumen, produk identik dengan perusahaan. Bagi
pesaing, produk merupakan sasaran yang harus dikerahkan.
Menurut Tjiptono (2008) klasifikasi produk bisa dilakukan atas berbagai
macam sudut pandang, yaitu :
Berdasarkan wujudnya :
1) Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba
atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik
lainnya.
2) Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk
dijual (dikonsumsi pihak lain). Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan
yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya
tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apa pun. Produknya
dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik
Berdasarkan daya tahannya :
1. Barang Tidak Tahan Lama (Non-durable Goods)
Barang tidak tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya habis
dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Contohnya adalah
sabun, minuman dan makanan ringan, kapur tulis, gula dan garam.
2. Barang Tahan Lama (Durable Goods)
Barang tahan lama merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan
lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian

16
normal adalah satu tahun atau lebih). Contohnya antara lain TV, lemari es,
mobil, dan komputer.
Berdasarkan tujuannya :
1) Barang konsumen (costumer's goods)
Merupakan barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir
sendiri (individu dan rumah tangga), bukan untuk tujuan bisnis. Barang
konsumen dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu :
Convinience Goods merupakan barang yang pada umumnya memiliki
frekuensi pembelian tinggi (sering beli), dibutuhkan dalam waktu segera,
dan hanya memerlukan usaha yang minimum (sangat kecil) dalam
pembandingan dan pembeliannya. Contohnya sabun, pasta gigi, makanan,
minuman, dsb.
Shopping Goods merupakan barang-barang dalam proses pemilihan dan
pembeliannya dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif
yang tersedia. Kriteria perbandingan tersebut meliputi harga, kualitas dan
model masing masing barang. Contohnya alat-alat rumah tangga (TV,
mesin cuci), furniture (mebel), dan pakaian.
Specially Goods merupakan barang-barang yang memiliki karakteristik dan
identifikasi merek yang unik di mana sekelompok konsumen bersedia
melakukan usaha khusus untuk membelinya. Contohnya adalah barangbarang mewah dengan merek dan model spesifik.
Unsought Goods merupakan barang-barang yang diketahui konsumen atau
kalaupun sudah diketahui tetapi pada umumnya belum terpikirkan
untukmembelinya. Contohnya asuransi jiwa (Tjiptono, 2008).

17
2) Barang industri (industrial's goods) merupakan suatu jenis produk yang
masih memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan suatu
manfaat tertentu. Biasanya hasil pemrosesan dari barang industri diperjual
belikan kembali.

2.3 Pengertian Kualitas Produk


Menurut Kotler and Armstrong (2006) definisi kualitas produk product
quality is the ability of a product to perform its functions, it includes the products
several durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other
valued attributes yang artinya kualitas produk adalah kemampuan sebuah produk
dalam menampilkan fungsinya baik dalam sudut pandang internal maupun sudut
pandang eksternal. Hal itu termasuk keseluruhan daya tahan dari produk, keandalan,
ketepatan, presisi, kemudahan pengoperasian dan perbaikan produk, juga atribut
produk lainnya. Menurut Kotler, kebanyakan produk disediakan pada satu diantara
empat tingkatan kualitas, yaitu : kualitas rendah, kualitas rata-rata sedang, kualitas
baik dan kualitas sangat baik. Beberapa dari atribut diatas dapat diukur secara
objektif. Namun demikian dari sudut pemasaran kualitas harus diukur dari sisi
persepsi pembeli tentang kualitas produk tersebut.
Menurut teori yang telah disampaikan di atas, dapat di tarik kesimpulan
bahwa kualitas produk merupakan keseluruhan karakteristik suatu produk pada
kemampuan yang ditampilkan untuk memuaskan kebutuhan yang tersirat.

2.3.1 Dimensi dan Indikator Kualitas Produk


Menurut Mullins, Walker, Larreche, dan Boyd (2005) di dalam Kotler dan
Amrstrong

(2006),

apabila

perusahaan

ingin

mempertahankan

keunggulan

18
kompetitifnya dalam pasar, perusahaan harus dapat mengerti aspek aspek dimensi
yang digunakan oleh konsumen atau pelanggan untuk membedakan produk yang
dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing. Dimensi kualitas produk tersebut
dari:
1. Kinerja (Performance), Kinerja produk merupakan dimensi paling dasar dari
produk tersebut. Konsumen atau pelanggan akan kecewa jika kinerja produk
tersebut tidak dapat memenuhi harapan mereka. Hal ini meliputi, kecepatan,
kemudahan, dan kenyamanan.
2. Fitur (Features) adalah Karakteristik produk yang dirancang untuk
menyempurnakan fungsi produk atau menambah fungsi dasar, berkaitan
dengan pilihan pilihan produk dan pengembangannya. Seperti keunikan
dari fitur yang dimiliki dan keragaman fitur yang dimiliki. Karena
perkembangan fitur ini hampir tidak terbatas sejalan dengan perkembangan
teknologi, maka fitur menjadi target para produsen untuk berinovasi dalam
rangka memuaskan pelanggan.
3. Keandalan (Reliability) adalah kemungkinan suatu produk

tersebut

mengalami kerusakan atau gagal pakai. Misalnya, tidak cacat maupun


mengalami kerusakan lainya. Semakin kecil kemungkinan terjadinya
kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
4. Kesesuaian (Conformance) adalah karakteristik operasi dasar dari sebuah
produk

memenuhi

spesifikasi

tertentu

dari

konsumen

atau

tidak

ditemukannya cacat pada produk tersebut. Hal ini meliputi, pengawasan


kualitas, pengawasan desain, dan karakteristik operasional yang digunakan
memenuhi standar.

19
5. Daya tahan (Durability) adalah berapa lama atau umur produk bersangkutan
bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Hal ini meliputi umur
ekonomis maupun tingkat keawetan terhadap produk yang bersangkutan
Dengan semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk
tersebut, maka semakin besar pula daya tahan produk.
6. Estetika (Aesthetics) Merupakan karakteristik yang bersifat subjektif
mengenai nilainilai estetika yang berkaitan dengan penilaian pribadi dan
preferensi dari setiap individu atau konsumen. Berupa penampilan produk
bisa dilihat dari keindahan desain, keunikan model, dan kombinasi warna
yang dimiliki produk tersebut.
7. Kualitas yang dipersepsikan (Perceived quality) Merupakan hasil dari
penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena
terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan
informasi atas produk yang bersangkutan. Misalnya, dari segi harga, merek
maupun tanggung jawab yang perusahaan berikan.

2.3.2 Kualitas
Menurut Davis dalam Yamit (2004) definisi kualitas merupakan suatu kondisi
dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan
yang memenuhi atau melebihi harapan. Pendekatan yang dikemukakan Davis
menegaskan bahwa kualitas bukan hanya menekankan pada aspek akhir yaitu produk
dan jasa tetapi juga menyangkut kualitas manusia, kualitas proses dan kualitas
lingkungan. Sangatlah mustahil menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas
tanpa melalui manusia dan produk yang berkualitas.

20
Ada lima pendekatan perspektif kualitas yang dapat digunakan oleh para
praktisi bisnis menurut Davis dalam Yamit (2004), yaitu :
1. Transcendental Approach
Kualitas dalam pendekatan ini adalah sesuatu yang dapat dirasakan, tetapi sulit
didefinisikan dan dioperasionalkan maupun diukur.
2. Product-based Approach
Kulitas dalam pendekatan ini adalah suatu karakteristik atau atribut yang dapat
diukur. Perbedaan kualitas mencerminkan adanya perbedaan atribut yang dimiliki
produk secara objektif, tetapi pendekatan ini tidak dapat menjelaskan perbedaan
dalam selera dan preferensi individual.
3. User-based Approach
Kualitas dalam pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas
tergantung pada orang yang memandangnya, dan produk yang paling memuaskan
preferensi seseorang atau cocok dengan selera (fitnes for used) merupakan produk
yang berkualitas paling tinggi.
4. Manufacturing-based Approach
Kualitas dalam pendekatan ini adalah bersifat supply-based atau dari sudut
pandang produsen yang mendefinisikan kualitas sebagai sesuatu yang sesuai
dengan persyaratan (conformance quality) dan prosedur. Pendekatan ini berfokus
pada kesesuaian spesifikasi yang ditetapkan perusahaan secara internal. Oleh
karena itu, yang menentukan kualitas adalah standar standar yang ditetapkan
perusahaan, dan bukan konsumen yang menggunakannya.
5. Value-based Approach
Kualitas dalam pendekatan ini adalah memandang kualitas dari segi nilai dan
harga. Kualitas didefinisikan sebagai affordable ascellence.Oleh karena itu

21
kualitas dalam pandangan ini bersifat relatif, sehingga produk yang memiliki
kualitas paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai. Produk yang
paling bernilai adalah produk yang paling tepat beli.

2.4

Citra Perusahaan
Menurut Lawrence L. Steinmetz yang dikutip Sutojo (2004) bagi perusahaan,

citra juga dapat diartikan sebagai persepsi masyarakat terhadap pancaran atau
reproduksi jati diri perusahaan atau bentuk

perorangan, benda atau organisasi.

Lawrence mengemukakan persepsi seseorang terhadap perusahaan didasari atas apa


yang mereka ketahui atau mereka kira tentang perusahaan yang bersangkutan.
Menurut Soemirat dan Adianto dalam Meriani Setiawan (2007) bahwa citra
perusahaan adalah kesan, perasaan dan gambaran dari publik terhadap perusahaan,
kesan yang sengaja diciptakan dari suatu objek, orang-orang atau organisasi.
Keller dalam Alwi dan Da Silvia (2007) menyatakan bahwa citra perusahaan
kesan yang ada pada pikiran konsumen terhadap suatu perusahaan yang
menghasilkan barang atau menyediakan jasa untuk konsumen. Citra perusahaan
dapat menyebabkan terjadinya asosiasi antara produk dengan atribut atau manfaat
(konsumen lebih menyukai kualitas atau inovasi dari produk), orang dan hubungan
atau orientasi konsumen, program dan nilai (tanggung jawab perusahaan terhadap
lingkungan dan tanggung jawab sosial), kredibilitas perusahaan (perusahaan terlihat
lebih ahli, dapat dipercaya, dan menyenangkan).
Maka dapat disimpulkan dari teori diatas pengertian citra perusahaan adalah
suatu persepsi atau kesan tentang pandangan publik, khususnya pelanggan atas apa
yang mereka ketahui terhadap jati diri serta tindakan yang perusahaan ciptakan.
Rhenald Kasali (2003) mengemukakan, pemahaman yang berasal dari suatu

22
informasi yang tidak lengkap menghasilkan citra yang tidak sempurna. Dia juga
mengemukakan, informasi yang lengkap mengenai citra perusahaan meliputi empat
element
sebagai berikut:
1. Personality merupakan keseluruhan karakteristik perusahaan yang dipahami
publik sasaran seperti perusahaan yang dapat dipercaya, perusahaan yang
mempunyai tanggung jawab sosial.
2. Reputation merupakan hal yang telah dilakukan perusahaan dan diyakini
publik sasaran berdasarkan pengalaman sendiri maupun pihak.
3. Value merupakan nilai-nilai yang dimiliki suatu perusahaan dengan kata lain
budaya perusahaan seperti sikap manajemen yang peduli terhadap pelanggan,
karyawan yang cepat tanggap terhadap permintaan maupun keluhan
pelanggan
4. Corporate Identity merupakan komponen-komponen yang mempermudah
pengenalan publik sasaran terhadap perusahaan seperti logo, warna, dan
slogan.
Siswanto sutojo (2004) mengemukakkan bahwa citra perusahaan yang baik
dan kuat mempunyai manfaat sebagai berikut :
Daya saing jangka menengah dan panjang yang mantap
Menjadi perisai selama masa krisis
Menjadi daya tarik ekskutif handal
Meningkatkan efektivitas strategi pemasaran
Penghematan biaya operasional
Siswanto Sutoju juga mengemukakan bahwa keberhasilan perusahaan
membangun citra dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, yaitu:

23
 Citra dibangun berdasarkan orientasi terhadap manfaat yang dibutuhkan dan
diinginkan kelompok sasaran
 Manfaat yang ditonjolkan sesuai dengan kemampuan perusahaan
 Citra yang ditonjolkan mudah dimengerti kelompok sasaran
 Manfaat yang ditonjolkan cukup realistis
 Citra yang ditonjolkan merupakan sarana, bukan tujuan usaha.

2.4.1 Indikator Indikator dalam Citra Perusahaan


Keller dalam Alwi dan Da Silvia (2007) mengemukakan indikator indikator dalam
citra perusahaan ada beberapa faktor, yaitu :

Produk yang dibuat oleh perusahaan, dimana suatu produk sebagai objek atau
alat untuk menciptakan pandangan tertentu.

Kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan, menciptakan kesan tertentu


terhadap perusahaan tersebut melalui kegiatan periklanan maupun promosi
lainnya

Cara perusahaan berkomunikasi dengan konsumen, bagaimana perusahaan


menerima feedback dari konsumen, baik itu positif maupun negatif.

2.5 Kerangka Teorotis

X1

X2