Anda di halaman 1dari 5

Implementasi Otonomi Desa di Indonesia

Oleh Masrul Wisma Wijaya FTUI 14


Desa merupakan unit terkecil dalam bingkai sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang merupakan posisi yang strategis bagi masyarakat untuk saling belajar kehidupan
berdemokrasi secara baik dan benar. Pada dasarnya, NKRI memang tersusun atas puluhan ribu
desa yang merupakan integral dari kekuatan sosial, ekonomi, dan politik masyarakat Indonesia.
Berdasarkan data dari Peraturan Menteri Dalam Negeri No 56 tahun 2015 tentang Kode Dan Data
Wilayah Administrasi Pemerintahan, jumlah desa di negara kita mencapai 74.093. Bahkan
berdasar Peraturan Presiden RI No. 137 Tahun 2015 tentang Rincian Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara TA 2016, jumlah desa berjumlah sebanyak 74.754. Jumlah desa yang sangat
banyak tersebut tentu saja berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut dalam bidang sosial,
ekonomi, dan politik. Ketika semua komponen di desa sudah terfasilitasi dan diberdayakan dengan
cukup baik, maka harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan desa tidak lagi menjadi anganangan.
Secara umum, desa merupakan kesatuan hukum masyarakat Indonesia yang memiliki ciri
khas budaya dan tradisi tertentu untuk mengatur dirinya sendiri dan memang sudah diakui oleh
pemerintah RI. Di berbagai daerah di Indonesia, istilah desa yang digunakan berbeda-beda, seperti
Gampong di daerah Aceh, Nagari di daerah Sumatera Barat, Banjar di daerah Bali, Temukung
untuk wilayah NTB, dan lain-lain. Karakteristik khusus desa tersebut tentu berbeda satu sama lain
tergantung budaya di desa terkait. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal yang ada di setiap desa juga
merupakan aset negara yang harus dipertahankan karena hal itu merupakan identitas bangsa
Indonesia. Berbagai potensi lokal inilah justru bisa membuat desa menjadi lebih kuat untuk
menjawab tantangan zaman yang sudah berubah.
Peraturan mengenai desa sebenarnya belum terlalu diprioritaskan pada masa awal
kemerdekaan. Pada masa itu, pemerintah belum terlalu memberdayakan potensi desa. Peraturan
perundang-undangan pertama mengenai pemerintahan di Indonesia yang dikeluarkan yaitu
Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. UU yang
dikeluarkan pada zaman orde baru tersebut sebenarnya memuat penyeragaman tentang pemerintah
daerah serta bernuansa sentralistik. Namun menurut penulis UU ini malah mengabaikan eksistensi
desa itu sendiri. Nuansa sentralistik tersebut terbukti pada pasal 11 ayat 1, yang berbunyi Titik

berat Otonomi Daerah diletakkan pada Daerah Tingkat II. Daerah tingkat II di masa sekarang
disebut kabupaten. Nuansa sentralistik tersebut dianggap sebagai penyebab buruknya daya kerja
birokrasi pemerintah pada masa itu karena keleluasaan untuk menetapkan kebijakan tidak berjalan
dengan baik. Akibatnya terjadi kelambanan penanganan dari pemerintah ketika berbagai masalah
di daerah bermunculan. Meskipun begitu, UU zaman Orde Baru ini tetap digunakan sebagai acuan
pemerintah sampai dua dekade terakhir. Pada tahun 1999, konsep otonomi pada UU tersebut
mendapat sorotan tajam dan akhirnya dikeluarkanlah UU no. 22 tahun 1999 yang mengatur
desentralisasi pemerintah pusat ke daerah. Lebih khusus lagi, UU ini diganti di tahun 2004 menjadi
UU no. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Poin penting yang ada di dalam UU ini adalah
efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah. Dan akhirnya, pemerintah
mengeluarkan UU No.6 tahun 2014 tentang Desa yang menyatakan bahwa desa telah berkembang
dalam berbagai bentuk sehingga perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju,
mandiri, dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan
pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Peraturan
yang melengkapi UU Desa ini adalah PP no. 60 tahun 2014 Tentang Dana Desa Yang Bersumber
Dari APBN dan PP no. 22 tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 60
Tahun 2014 Tentang Dana Desa Yang Bersumber Dari APBN. Bahkan belakangan UU Desa akan
segera direvisi perihal mekanisme penyaluran dana oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal, dan Transmigrasi dan direncanakan selesai tahun 2016.
UU Desa menganggarkan dana yang sangat fantastis untuk pembangunan desa. Pada tahun
2015 yang lalu, pemerintah sudah menganggarkan Dana Desa sebesar 20,766 triliun rupiah.
Sedangkan pada tahun ini, Dana Desa yang dianggarkan mencapai dua kali lipat yaitu 46,982
triliun rupiah. Dana Desa dialokasikan untuk pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat
desa dengan memperhatikan alokasi dasar dan alokasi formula dengan memperhitungkan variabel
tertentu, yaitu jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat kesulitan geografis.
Berdasarkan UU no 14 Tahun 2015 tentang APBN TA 2016 pasal 9 ayat 4, sebanyak 90% Dana
Desa dialokasikan secara merata di setiap desa yaitu 565,64 juta rupiah perdesa (alokasi dasar)
untuk 74.754 desa dan sebanyak 10% dialokasikan berdasarkan perhitungan variabel-variabel
yang ada sehingga nominalnya bisa berbeda di tiap desa (alokasi formula). Perhitungan alokasi
dana desa tersebut dinilai kurang proporsional, karena seharusnya proporsi untuk alokasi formula
memiliki presentase yang lebih besar daripada alokasi dasar. Hal ini disebabkan karena ada banyak

desa yang memiliki persoalan yang lebih rumit namun dana yang dikucurkan khusus untuk
persoalan rumit tersebut justru lebih sedikit. Variabel yang berbeda antar desa melahirkan masalah
yang berbeda pula, dan seharusnya proporsi dana yang dialokasikan untuk karakteristik
permasalahan desa lebih besar. Jika alokasi formula baru ini diimplementasikan, hal tersebut
dinilai bisa melancarkan pelaksanaan otonomi desa dan sanggup memicu pesatnya pembangunan
desa.
Dana Desa diklaim memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan pembangunan desa, sehingga jumlah desa yang membeludak di
pertengahan tahun 2015 bisa jadi diakibatkan karena keinginan desa untuk mendapatkan jatah
alokasi Dana Desa di tahun 2016. Hal ini sungguh di luar dugaan karena dengan bertambahnya
jumlah desa, maka penganggaran dana tiap desa berdasarkan roadmap Dana Desa Kementerian
Keuangan RI 2015-2019 bisa tidak sesuai rencana. Pada tahun 2017, Dana Desa dianggarkan 1,7
milyar rupiah perdesa, kemudian 2,19 milyar rupiah perdesa pada 2018, dan pada tahun 2019
sebesar 2,37 milyar rupiah perdesa. Pengendalian penambahan jumlah desa tentu harus
dikendalikan agar besaran dana yang direncanakan tiap desa bisa tercapai. Karena jumlah desa
bertambah, diperlukan pendampingan sumberdaya manusia dengan jumlah yang sebanding pula,
yaitu tugas pendamping desa, tugas pendamping teknis, dan tugas tenaga ahli pemberdayaan
masayarakat desa. Sumber daya manusia yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah ini
tentu perlu dikontrol dan diseleksi dengan ketat. Pendamping desa yang diperkirakan berjumlah
21.000 ini diperlukan untuk mengimplementasikan UU Desa dan mengawal penyerapan dana.
Semua pendamping desa tersebut digaji langsung oleh pemerintah melalui proses perekrutan yang
dilakukan secara tertutup. Gaji pendamping desa yang bisa mencapai 14 juta rupiah perbulan
tersebut membuat pelamar pekerjaan pendampingan menjadi membeludak dan tentu saja potensi
kongkalikong menjadi lebih besar di lapangan. Langkah yang perlu diperhatikan adalah adanya
pelibatan unsur nonpemerintah pada pengawalan penyerapan Dana Desa, misalnya dengan
menggandeng tokoh desa setempat. Pihak nonpemerintah harus berada jauh dari tangan-tangan
politik dan tidak digaji oleh pemerintah untuk menjaga netralitas.
Perjalanan panjang peraturan perundang-undangan di Indonesia tersebut sudah seharusnya
mampu menghasilkan sistem pelayanan publik yang lebih baik sehingga kebijakan mengenai desa
dapat langsung terimplementasi dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat desa secara

keseluruhan, yaitu pada kasus ini Dana Desa. Warga desa dan masyarakat umum tentu juga harus
berpartisipasi aktif dalam pengawalan implementasi kebijakan otonomi desa ini. UU Desa
merupakan wujud kepedulian pemerintah terhadap otonomi desa. Kebijakan untuk membangun
Indonesia dari akarnya ini wajib kita dukung untuk Indonesia yang lebih sejahtera dan bermartabat.
Indonesia bisa!

Referensi
Republik Indonesia. 1974. Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
Pemerintahan di Daerah. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2014. Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Sekretariat Negara.
Jakarta.
Republik Indonesia. 2015. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 56 Tahun 2015 tentang Kode dan
Data Wilayah Administrasi Pemerintahan. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2014. Peraturan Pemerintah RI No. 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang
Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2015. Peraturan Pemerintah RI No. 22 Tahun 2015 tentang Perubahan atas
Peraturan Pemerintah RI No. 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2015. Undang-Undang No. 14 Tahun 2015 tentang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Tahun Anggaran 2016. Sekretariat Negara. Jakarta.
___. ___. Hitung-hitung Dana Desa. Badan Pusat Statistik.
http://www.bps.go.id/KegiatanLain/view/id/109
___. 2014. Beberapa Istilah Desa di Indonesia. http://it-addict.net/beberapa-istilah-desa-diindonesia.html
___. 2013. Kebijakan Otonomi Daerah: Konsepsi, Implementasi dan Masalah. Masyarakat Ilmu
Pemerintahan Indonesia. http://www.mipi.or.id/pemilihan-kepala-daerah/item/100kebijakan-otonomi-daerah-konsepsi-implementasi-dan-masalah

___. 2015. Diungkap, Dugaan Penyelewengan Penyaluran Dana Desa. Harian Analisa.
http://analisadaily.com/aceh/news/diungkap-dugaan-penyelewengan-penyaluran-danadesa/175466/2015/10/01
___. 2015. Inilah Syarat dan Tugas Calon Tenaga Pendamping Desa. Media Warga.
http://www.mediawarga.info/2015/03/inilah-syarat-dan-tugas-calon-tenaga.html
Suyanto, Suyono. ___. Revitalisasi Kearifan Lokal sebagai Upaya Penguatan Identitas
Keindonesiaan. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/1366
Yulianingsih, Tanti. 2015. Potensi Desa Harus Diperjelas. Liputan6.
http://bisnis.liputan6.com/read/2344221/potensi-desa-harus-diperjelas
Mihardi. 2015. Formula Alokasi Dana Desa Harus Diubah. Sindonews.
http://ekbis.sindonews.com/read/1070277/34/formula-alokasi-dana-desa-harus-diubah1450360859
Sah, Dadang. 2015. Kemenkeu: Sejak Ada Dana Desa, Jumlah Desa Membludak. Aktual.
http://www.aktual.com/kemenkeu-sejak-ada-dana-desa-jumlah-desa-membludak/
Zubaidah, Neneng. 2015. Desa Butuh 21.000 Pendamping Lokal. Koran Sindo.
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=1&date=2015-10-12
Ariyanti, Fiki. 2015. DPD Sebut Ada permainan Dalam Seleksi Pendamping Desa. Liputan6
http://bisnis.liputan6.com/read/2310803/dpd-sebut-ada-permainan-dalam-seleksipendamping-desa
Sihombing, Martin. 2015. MARWAN JAFAR: Revisi UU Desa Tuntas 2016.

Kabar24.

http://kabar24.bisnis.com/read/20151106/78/489715/marwan-jafar-revisi-uu-desatuntas-2016