Anda di halaman 1dari 34

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)

Kabupaten Hulu Sungai Utara

2-1

2.1. PEMAHAMAN TERHADAP KAJIAN PERMUKIMAN DAN INFRASTRUKTUR


2.1.1. Pengertian Perumahan
Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang akan terus ada dan
berkembang sesuai dengan tahapan atau siklus kehidupan manusia. Selain sebagai pelindung
terhadap gangguan alam maupun cuaca serta mahluk lainnya, rumah juga memiliki fungsi sosial
sebagai pusat pendidikan keluarga, persemaian budaya, nilai kehidupan manusia
Ada beberapa pandangan mengenai batasan pengertian perumahan dari para ahli maupun
beberapa peraturan, antara lain:
1) Menurut Undang-Udang RI nomor 4 tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman
- Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal/hunian dan sarana pembinaan
keluarga
- Yang dimaksud dengan perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan
tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana
lingkungan. Perumahan juga merupakan tempat untuk menyelengarakan kegiatan
bermasyarakat dalam lingkup terbatas. Penataan ruang dan kelengkapan prasarana dan sarana
lingkungan dan sebagainya, dimaksudkan agar lingkungan tersebut akan merupakan
lingkungan yang sehat, aman, serasi dan teratur serta dapat berfungsi sebagaimana
diharapkan.
- Sedangkan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung
(kota/desa) yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal/hunian dan tempat kegiatan
yang mendukung perikehidupan dan penghidupan
2) Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 3 tahun 1987
Tentang penyediaan dan pemberian hak atas tanah untuk keperluan perusahaan pembangunan
perumahan. Menjelaskan pengertian perumahan adalah sekelompok rumah atau tempat

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2-2
kediaman yang layak dihuni dilengkapi dengan prasarana lingkungan, utilitas umum dan fasilitas
sosial.
3) Pengertian dari kawasan perumahan dan pemukiman menurut Kepmen Perumahan Rakyat
nomor : 04/KPTS/BKP4N/1995
Wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian.
Sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan perumahan dan pemukiman adalah kawasan
perumahan dan pemukiman yang mempunyai batas-batas dan ukuran yang jelas dengan
penataan tanah dan ruang, prasarana serta sarana lingkungan yang terstruktur.
4) Pedoman Perencanaan Lingkungan Permukiman Kota tahun 1983
Perumahan adalah sebagai salah satu sarana hunian yang sangat erat kaitannya dengan tata cara
kehidupan masyarakat. Lingkungan perumahan merupakan suatu daerah hunian yang perlu
dilindungi dari gangguan-gangguan, misalnya gangguan udara, kotoran udara, bau dan lain-lain.
Sehingga daerah perumahan harus bebas dari gangguan tersebut dan harus aman serta mudah
mencapai pusat-pusat pelayanan serta tempat kerjanya. Dengan demikian dalam daerah
perumahan harus disediakan sarana-sarana lain yaitu sarana-sarana pendidikan, kesehatan,
peribadatan, perbelanjaan, rekreasi dan lain-lain, yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
penduduk.
2.1.2. Dasar-dasar Perencanaan Perumahan Permukiman
Menurut Undang-Undang Perumahan dan Kawasan Permukiman (UU, No.1, Tahun 2011),
pengertian makro perumahan dan kawasan permukiman adalah satu kesatuan sistem yang terdiri
atas

pembinaan,

penyelenggaraan

perumahan,

penyelenggaraan

kawasan

permukiman,

pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan
permukiman kumuh, penyediaan tanah, pendanaan dan sistem pembiayaan, serta peran masyarakat.
Ini berarti seluruh sistem ketersediaan perumahan menjadi beban bersama seluruh pemangku
kepentingan, baik pemerintah, swasta dan masyarakat itu sendiri. Sedangkan pengertian perumahan
adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang
dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang
layak huni. Hal ini mengamanahkan dukungan infrastruktur mutlak harus tersedia sehingga bisa
dicapai kehidupan yang layak. Oleh sebab itu perlu adanya dasar-dasar perencanaan perumahan
yang layak dijadikan sebagai lokasi perumahan, yang meliputi diantaranya:
a) Tidak terganggu oleh polusi (air, udara, suara)
b) Tersedia air bersih
c) Memiliki kemungkinan untuk perkembangan pembangunan

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2-3
d) Mempunyai aksebilitas yang baik
e) Mudah dan aman mencapai tempat kerja
f)

Tidak berada dibawah permukaan air setempat

g) Mempunyai kemiringan rata-rata


2.1.3. Standar Teknis Penyelenggaraan Keterpaduan PSU Kawasan Perumahan
Dalam penyelenggaraan keterpaduan PSU kawasan perumahan standar teknis yang digunakan
adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) dan pedoman teknis meliputi:
1.

Prasarana Jalan
a. Standar teknis bidang Jalan antara lain: sesuai SNI 03-2853-1995, SNI 03-2446-1991, SNI
03.6967-2003
b. Salah satu prasarana penting yang harus disediakan secara baik dan terpadu adalah
prasarana jalan, khususnya jalan di kawasan perumahan juga merupakan bagian penting
dari suatu kota dalam Sistem Jaringan Jalan Sekunder.
c. Jaringan jalan di kawasan perumahan menurut fungsinya adalah jalan lokal dan jalan
lingkungan dalam sistem jaringan jalan sekunder.
d. Jaringan jalan pada kawasan perumahan dibagi ke dalam 5 bagian meliputi: jalan lokal
sekunder I, jalan sekunder II, jalan sekunder III, jalan lingkungan I, dan jalan lingkungan II.
e. Wewenang penyelenggaraan jalan pada kawasan perumahan adalah Pemerintah
Kabupaten/ Kota yang dilaksanakan oleh Bupati/ Walikota, karena sistem jaringan jalan
tersebut merupakan bagian dalam sistem jaringan jalan tersebut merupakan bagian dalam
sistem jaringan jalan sekunder. Dalam hal ini Pemerintah Kabupaten/ Kota belum mampu
membiayai pembangunan jalan yang menjadi tanggung jawabnya secara keseluruhan,
maka Pemerintah Kabupaten/ Kota dapat minta bantuan Kantor Menpera, berupa
stimulant melalui program pengembangan kawasan siap bangun dan lingkungan siap
bangun serta kawasan khusus.
f.

Dalam standar teknis penanganan jalan kawasan perumahan dijelaskan bagaimana cara
membangun jalan-jalan tersebut, prototipe konstruksi jalan, parameter perencanaan,
perencanaan dimensi minimal ideal jalan kawasan, termasuk

saluran drainase yang

berfungsi untuk mengeringkan jalan.


2.

Prasarana Drainase
a. Standar teknis bidang ini antara lain: sesuai SNI 06-2409-2002 dan SNI 03-2453-2002

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2-4
b. Dalam pembangunan kawasan perumahan aspek yang sangat penting adalah tersedianya
prasarana drainase kawasan yang mampu menjamin kawasan tersebut tidak tergenang air
pada waktu musim penghujan.
c. Saluran drainase kawasan perumahan harus terintegrasi dengan sistem drainase di luar
kawasan atau sistem drainase perkotaan perdesaan. Maksudnya adalah bahwa saluran
drainase kawasan perumahan dialirkan ke luar kawasan pada saluran induk yang akan
mengalirkan air ke laut/ sungai/ danau.
d. Disamping itu untuk kepentingan kawasan perumahan yang lebih luas dalam upaya
mengurangi genangan air, khususnya di daerah bekas rawa-rawa perlu disediakan kolam
retensi yang berfungsi menyimpan dan meresapkan air ke dalam tanah. Pembuatan kolam
retensi dan sumur resapan dapat dilihat pada standar teknis yang ada.
e. Dalam standar teknis penyediaan prasarana drainase, dijelaskan persyaratan umum dan
teknis, secara rinci dijelaskan cara pengumpulan data, analisis kerusakan dan kerugian
akibat banjir, analisis konservasi, pengembangan sistem drainase dan pengembangan
kelembagaan.
3.

Prasarana Air Minum


a.

Standar teknis bidang ini disesuaikan AB-K/ RE-RT/ TC/ 026/98 dan AB- K/OP/ST/004/98.

b.

Setiap kawasan perumahan harus dilengkapi dengan prasarana air minum yang
memenuhi kebutuhan minimal bagi penghuni sesuai dengan kebijakan yang diterapkan
oleh Pemerintah Daerah.

c.

Layanan air minum dalam kawasan dapat diberikan oleh PDAM atau Badan Pengelola Air
Minum Kawasan/ Swasta, atau dapat pula menyediakan sendiri/ komunal melalui sumur
gali, pantek sesuai dengan persyaratan teknis yang berlaku.

d. Penanganan air minum di kawasan perumahan meliputi:

Pengendalian kualitas air melalui proses pemeriksaan periodik sesuai letentuan teknis
yang berlaku.

Pembuatan sumur dalam, untuk keperluan persil (cluster). Diperlukan pengelolaan,


pembagian tugas dan kewajiban oleh unit pengelola. Lokasi dapat diletakan di dekat
kompleks perumahan atau di luar kompleks perumahan. Pengembangan dari sistem ini
terjadi dengan cara pengelola kawasan menyediakan instalasi pengolahan air minum
skala perkotaan yang ada

e. Perhitungan volume air minum minimal untuk kebutuhan rumah tangga adalah 60 liter/
orang/ hari.
4.

Prasarana Pengelolaan Air Limbah

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2-5
Pada standar teknis penyediaan sistem penanganan air limbah untuk kawasan berisi antara
lain:
a. Standar teknis bidang ini antara lain: sesuai SNI 03-2398-2002, PTT-19-2000-C dan PTS-092000-C
b. Penjelasan umum, meliputi: pengertian penanganan air limbah, hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam pemilihan sistem pengolahan air limbah, dan bagaimana penanganan
air limbah dengan menggunakan sistem jaringan (perpipaan).
c. Persyaratan teknis meliputi langkah pengembangan, sistem setempat, sistem terpusat, dan
pembagian tugas dan wewenang dan keterkaitannya dengan sistem perkotaan.
d. Pemilihan sistem penanganan air limbah, perencanaan sistem air limbah setempat, dan
perencanaan sistem pengolahan air limbah terpusat.
e. Keterpaduan dalam pengembangan dan pengelolaan
5.

Prasarana Pengelolaan Persampahan


a.

Kawasan perumahan yang sehat dan bersih adalah kawasan perumahan yang dilengkapi
dengan sistem pengelolaan sampah yang memadai, yaitu sistem pengelolaan yang aman,
nyaman dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

b.

Standar teknis pengelolaan persampahan berisi tentang:


Ketentuan umum yang terdiri dari persyaratan umum, persyaratan teknis dan
pembagian tugas dan wewenang pembangunan dan pengelolaan sistem persampahan.
Pengelolaan sampah pada kawasan perumahan, meliputi: penentuan timbulan dan
densitas dan komposisi sampah, prediksi beban timbulan sampah, pengelolaan sampah
tingkat kawasan, dan teknik operasional pengelolaan sampah pada kawasan
perumahan. Standar teknis bidang persampahan sesuai dengan SNI 19-3964-1994, SNI
03-3242-1994 dan SNI 19-3983-1995.
Pengelolaan persampahan mandiri termasuk pembuatan komposter komunal untuk
kebutuhan kawasan perumahan.
Pembuangan sisa pengolahan sampah pada tempat pemrosesan akhir (TPA). Standar
teknis bidang sampah disesuaikan dengan PTS 06-2000-C dan PTS 07-2000-C.

6.

Prasarana Jaringan Listrik


a.

Sebelum membuka lahan baru untuk perumahan, pihak Pemerintah Kabupaten/ Kota
atau Badan Pengelola Kawasan Perumahan perlu berkoordinasi dengan pihak PLN cabang
yang menangani PLN di kawasan yang bersangkutan.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2-6
b.

Berbagai permasalahan yang sering timbul dalam pengalokasian daya ini karena
terlambatnya informasi yang disampaikan oleh Pemerintah Daerah atau Badan Pengelola
ke Pihak PLN.

c.

Selanjutnya koordinasi yang perlu dilakukan adalah pembangunan gardu induk. Apabila
sudah diprogramkan oleh PLN, pihak Pemda atau badan pengelola dapat menyambung ke
para konsumen.

d.

Untuk kawasan perumahan dan permukiman yang kekurangan pasokan daya listrik dari
PLN atau belum ada jaringan listrik dari PLN perlu diupayakan alternatif lain.

e.
7.

Standar teknis bidang kelistrikan disesuaikan dengan SNI 04-0225-2000.

Ruang Terbuka Hijau (RTH)


a.

Kawasan Perumahan perlu menyediakan ruang terbuka hijau yang bermanfaat untuk
menjaga kualitas dan keseimbangan lingkungan di sekitar kawasan.

b.

Ruang terbuka hijau, bermanfaat tidak langsung seperti: perlindungan tata air, dan
konservasi hayati atau keanekaragaman hayati, dan bermanfaat langsung seperti:
kenyamanan fisik (teduh dan segar) dan mendapatkan bahan untuk dijual (kayu, daun dan
bunga), tempat wisata (bermain) serta bangunan umum yang bersifat terbatas (WC
umum, pos polisi, lampu taman, gardu listrik dan lain-lain).

c.

Persyaratan ruang terbuka hijau didasarkan luas wilayah dan berdasarkan jumlah
penduduk.

d.

Untuk persyaratan luas wilayah, ditentukan bahwa ruang terbuka hijau publik (milik
pemerintah dan terbuka untuk umum) dan privat (perorangan) paling sedikit 10 (sepuluh)
persen dari seluruh luas wilayah kawasan perumahan atau mengacu pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku

e.

Untuk persyaratan jumlah penduduk, ditentukan luas per kapita dalam m2, misalnya
jumlah penduduk 250 jiwa sampai dengan 480.000 jiwa, diperlukan RTH sebesar 1 m 2
sampai dengan 0,3 m2 per kapita.

f.

Bentuk tipologi ruang terbuka hijau berupa ruang terbuka hijau taman lingkungan dan
taman kota, jalur hijau, jalur hijau sempadan sungai, jalur hijau sempadan rel kereta api,
jalur hijau tegangan tinggi, RTH pemakaman dan RTH pekarangan.

g.

Kriteria penyediaan ruang terbuka hijau adalah pemilihan vegetasi, ketentuan penanaman
dan pemeliharaan ruang terbuka hijau.

h.

Ruang terbuka hijau perlu dilakukan pengelolaan secara rutin oleh Pemerintah Daerah,
dalam pengelolaan RTH ini diperlukan peran serta masyarakat, swasta dan organisasi non
pemerintah.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2-7
i.

Standar teknis bidang RTH sesuai dengan 009/T/BT/1995.

2.1.4. Sistem Pembangunan Perumahan


Menurut John FC Turner disebutkan bahwa terdapat dua sistem pembangunan perumahan,
meliputi :
1) Sistem Pembangunan Nonformal
Sistem pembangunan nonformal yaitu suatu sistem pembangunan perumahan yang
perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan pembangunannya dilakukan terutama oleh
penghuni sendiri (lembaga nonformal). Biasanya dibangun tanpa mengikuti standar baku dan
sesuai dengan tingkat kebutuhannya atau biasa disebut dengan perumahan swadaya.
2) Sistem Pembangunan Formal
Sistem pembangunan formal yaitu suatu sistem pembangunan perumahan yang perencanaan,
pelaksanaan dan pengelolaan pembangunannya dilakukan oleh pihak lain atau lembaga formal,
seperti pemerintah atau swasta yang biasanya perumahan tersebut dibangun dalam bentuk jadi,
dan menggunakan standar-standar yang ideal.
Sistem ini di Indonesia dilaksanakan oleh pemerintah melalui Perum Perumnas dengan
membangun perumahan baru berupa rumah sederhana, rumah inti, dan rumah susun.
Sedangkan oleh swasta melalui developer atau pengusaha real estate. Baik Perum Perumnas
maupun developer menggunakan sistem kredit pemilikan rumah dengan membangun satu atau
beberapa tipe rumah yang dibuat standar yang ideal serta membangun dalam jumlah yang
cukup banyak atau memproduksi secara massal.
2.1.5. Kebijaksanaan Penilaian Aspek Lingkungan
Didalam suatu pemilihan tempat tinggal (rumah) harus memperhatikan faktor-faktor yang
dapat memudahkan di dalam perkembangan kehidupan keluarga, agar di dalam menjalankan
kehidupan dapat tercapai secara lancar tanpa hambatan, yaitu :
A.

Aksesibilitas
Setiap kegiatan pembangunan, baik pembangunan lingkungan perumahan, industri, dan lainlain, masalah lokasi harus dipertimbangkan secara cermat dan dipilih secara tepat agar kegiatan
tersebut dapat berlangsung secara produktif dan efisien.
Dalam teori Johan Von Thunen mengembangkan hubungan antara perbedaan lokasi pada tata
ruang (spatial location) dengan penggunaan tanah. Inti pembahasan Von Thunen adalah
mengenai lokasi dan pemilihan lokasi perumahan. Dimana dalam teorinya untuk penggunaan
tanah dipengaruhi oleh tingkat sewa tanah dan didasarkan pula pada aksesibiltas.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2-8
Dalam hal ini aksesibilitas merupakan dasar yang utama untuk berkembang dan tidaknya suatu
perumahan. Apabila aksesibilitas didukung dengan baik, maka suatu perumahan akan
berkembang lebih cepat. Hal ini dapat digambarkan dengan adanya dukungan, baik jalan ke
lokasi perumahan maupun jalan lingkungan yang telah ditetapkan.
Dengan adanya jalan akan lebih menghidupkan aktivitas suatu pemukiman apalagi bila didukung
dengan adanya sarana yang memadai dalam hal dengan adanya angkutan yang dapat
memudahkan aktivitas di dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan demikian peran pemerintah
dan developer untuk mau memikirkan ketersediaan sarana dan prasarana transportasi yang
memadai guna tercapai perkembangan suatu perumahan.
B.

Fasilitas Sosial
Selain rumah sebagai tempat tinggal, manusia juga memerlukan fasilitas sosial. Dibangunnya
fasilitas sosial di lingkungan perumahan adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
penghuni perumahan, karena selain rumah sebagai tempat untuk hidup, penduduk juga
membutuhkan tempat kerja untuk mencari nafkah dan tempat-tempat dimana dapat dipenuhi
kebutuhan sehari-hari, seperti kebutuhan fasilitas pendidikan, peribadatan, kesehatan,
perbelanjaan, air minum, pembuangan sampah, tempat pertemuan dan tempat penguburan.
Pembangunan lingkungan perumahan berskala besar akan membebani sarana dan prasarana
kota. Hal ini dapat menimbulkan ketimpangan, karena beban yang ditanggung oleh sarana dan
prasarana di dalam kota terkadang melebihi kapasitas yang ada. Dengan dibangunnya fasilitas
sosial di lingkungan perumahan baru, beban kota diharapkan akan berkurang.

C.

Utilitas
Proses pertumbuhan dan perkembangan wilayah akan selalu berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan perkembangan penggunaan lahan yang tentunya juga akan berpengaruh
terhadap pemanfaatan ruang, penggunaan lahan terbangun pada wilayah akan banyak
didominasi oleh perumahan disamping fasilitas-fasilitas pendukung lainnya, serta utilitas yang
juga sangat penting perananya dalam mendukung proses perkembangan wilayah di lain sisi
wilayah tanpa dilengkapi utilitas yang memadai juga akan mengalami hambatan dalam proses
perkembangannya, keterkaitan antarsektor yang saling mempengaruhi tersebut sangat sulit
untuk dipisahkan karena keduanya saling mengisi.

2.1.6. Isu Strategis Perumahan dan Permukiman


Isu strategis penyelenggaraan perumahan dan permukiman di Indonesia sesungguhnya tidak
terlepas dari dinamika yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat, dan kondisi kebijakan
pemerintah sebagai berikut:

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2-9
1. Isu kesenjangan pelayanan
Isu ini terjadi karena terbatasnya peluang memperoleh pelayanan dan kesempatan
berperan, khususnya bagi kelompok masyarakat miskin dan berpendapat rendah, serta
adanya konflik kepentingan akibat implementasi kebijakan yang relative masih belum
sepenuhnya dapat memberikan perhatian dan keberpihakan kepada kepentingan
masyarakat.
2. Isu Lingkungan
Isu lingkungan dipicu oleh tingkat urbanisasi dan industrialisasi yang tinggi, serta dampak
pemanfaatan sumber daya dan teknologi yang kurang terkendali. Kelangkaan prasarana
dan sarana dasar, ketidakmampuan memelihara dan memperbaiki lingkungan permukiman
yang ada dan masih rendahnya kualitas permukiman yang ada, dan masih rendahnya
kualitas permukiman baik secara fungsional, lingkungan maupun visual wujud lingkungan,
merupakan isu utama bagi upaya menciptakan lingkungan yang sehat , aman, harmonis dan
berkelanjutan. Isu utama tersebut menjadi lebih berkembang dikaitkan dengan belum
diterapkannya secara optimal pencapaian standar pelayanan minimal perumahan dan
permukiman yang berbasis indeks pembangunan berkelanjutan di masing-masing daerah.
3. Isu Manajemen Pembangunan
Isu manajemen pembangunan umumnya dipengaruhi oleh keterbatasan kinerja tata
pemerintahan di seluruh tingkatan, sehingga berdampak pada lemahnya implementasi
kebijakan yang telah ditetapkan, inkonsistensi di dalam pemanfaatan lahan untuk
perumahan dan permukiman, dan munculnya dampak negatif terhadap lingkungan.

2.1.7. Pengertian Perumahan Dan Permukiman


Pemukiman diartikan sebagai perumahan atau kumpulan tempat tinggal dengan segala unsur
serta kegiatan yang berkaitan dan yang ada di dalam pemukiman. Perumahan harus diartikan sebagai
wadah fisiknya, sedangkan pemukiman harus dibayangkan sebagai paduan antara wadah dengan
isinya, yaitu manusia yang hidup bermasyarakat dan berbudaya.
Permukiman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Pemerintah wajib
memberikan akses kepada masyarakat untuk dapat memperoleh permukiman yang layak huni,
sejahtera, berbudaya, dan berkeadilan sosial. Pengembangan permukiman ini meliputi
pengembangan prasarana dan sarana dasar perkotaan, pengembangan permukiman yang
terjangkau, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah, proses penyelenggaraan lahan,
pengembangan ekonomi kota, serta penciptaan sosial budaya di perkotaan.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 10
Perumahan sebagai salah satu kebutuhan dasar, sampai dengan saat ini sebagian besar
disediakan secara mandiri oleh masyarakat baik membangun sendiri maupun sewa kepada pihak lain.
1.

Rumah layak dalam lingkungan sehat, aman, lestari dan berkelanjutan diartikan sebagai suatu
kondisi perumahan dan permukiman yang memenuhi standart minimal dari segi kesehatan,
sosial, ekonomi dan kualitas teknis, yang dikelola secara benar terus menerus, memperhatikan
sumberdaya alam yang ada, memperhatikan pola tata air dan usaha konservasi sumberdaya
alam, pengelolaan dan pemanfaatan. Secara tersurat terdapat 3 (tiga) kategori layak, yaitu :
Layak huni yang berkaitan dengan pencapaian persyaratan fisik, kesehatan dan kesusilaan,
sebagai kelompok manusia berbudaya.
Layak usaha yang berkaitan dengan terpenuhinya kondisi lingkungan yang kondusif bagi
berlangsungnya kehidupan sosial ekonomi.
Layak berkembang yang berkaitan dengan terpenuhinya kondisi lingkungan yang
mendukung terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat (prospektif dan produktifitas).

2.

Lahan tidur adalah sebidang tanah yang luasnya lebih dari 5.000 m 2 yang tidak atau belum
digunakan sesuai peruntukan, keadaan, sifat dan tujuan haknya, atau tidak terpelihara dengan
baik. Dalam kaitan dengan lahan tidur ini, perlu diperhatikan beberapa hal :
Yang dicakup dalam lahan tidur adalah lahan untuk pertanian/agribisnis, kawasan
perkebunan, kawasan hutan tanaman industri, kawasan wisata dan kawasan perumahan dan
permukiman.
Pemilik/pengusaha lahan tidur dapat perorangan, yayasan, badan hukum atau instansi
pemerintah, yang mempunyai atau mendapat hak secara hukum untuk memanfaatkan areal
tersebut sesuai dengan ijin yang dimilikinya.
Pemakai lahan tidur adalah tenaga kerja yang terkena PHK, penganggur atau setengah
penganggur yang berdomisili satu kecamatan atau pada kecamatan yang berbatasan dengan
lokasi lahan tidur.

3.

Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah adalah kelompok masyarakat yang dari


penghasilan tidak dapat mencukupi kebutuhannya paling primer. Termasuk dalam kelompok ini
adalah kelompok masyarakat miskin, yang terbagi atas dua kategori.
Golongan fakir, yang tidak mempunyai penghasilan tetap dan tidak mampu memenuhi
kebutuhan pokok hidupnya.
Golongan miskin produktif yang mempunyai penghasilan tetap tetapi belum mampu
memenuhi kebutuhan pokok hidupnya.

4. Jaringan primer prasarana lingkungan, yaitu jaringan dasar yang memenuhi kebutuhan dasar
suatu lingkungan perumahan dan permukiman yang mencakup 3 kepentingan:

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 11
Menghubungkan antarkawasan permukiman atau antara kawasan permukiman dengan
kawasan fungsional lainnya.
Melayani lingkungan tertentu (permukiman saja, pusat kota saja, pusat olahraga,
perdagangan, dll)
Mendukung keperluan seluruh lingkungan di kawasan permukiman yang mencakup
prasarana transportasi, penyehatan lingkungan, komunikasi dan listrik.
5. Kawasan adalah suatu wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya, ruang yang
merupakan satu kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait padanya, yang batas dan
sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta mempunyai ciri tertentu, mencakup :
Kawasan perdesaan, adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk
pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman
perdesaan, pelayanan jasa pemerintah, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
Kawasan perkotaan, adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian
dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan
distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
Kawasan permukiman, yaitu sebidang tanah yang diperuntukkan bagi pengembangan
permukiman, didominasi tempat hunian, dilengkapi dengan prasarana dan sarana, daerah
dan tempat kerja yang memberikan layanan dan kesempatan kerja yang mendukung
penghidupan, perikehidupan sehingga fungsi kawasan dapat berdaya dan berhasil guna.

2.1.8. Masalah Perumahan Dan Permukiman


Urusan perumahan dan permukiman sering tumbuh sebagai sumber permasalahan yang
seakan tidak berujung (the endless problems) bagi banyak Pemerintah Daerah, yang ditunjukkan
dengan :
1) Berkembangnya penguasaan lahan skala besar oleh banyak pihak tidak disertai dengan
kemampuan untuk membangun atau merealisasikan pada waktunya.
2) Pemberian perijinan penguasaan lahan untuk kawasan perumahan dan permukiman yang
umumnya belum dilandaskan pada kerangka penataan wilayah yang lebih menyeluruh.
3) Belum terorganisasikannya perencanaan dan pemrograman pembangunan perumahan dan
permukiman yang dapat saling mengisi antara ketersediaan sumberdaya pembangunan dan
kebutuhan yang berkembang di masyarakat.
4) Penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman nampaknya belum menjadi
prioritas bagi banyak pemerintah daerah karena berbagai sebab dan keterbatasan, diantaranya

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 12
kelembagaan yang mengurusi perumahan dan permukiman masih terbatas jumlah dan ruang
gerak/aktifitasnya.
5) Belum tertampungnya aspirasi dan kepentingan masyarakat yang memerlukan rumah, termasuk
hak untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan.
6) Penyediaan tanah, prasarana dan sarana, teknologi bahan bangunan, konstruksi, pembiayaan
dan kelembagaan yang masih memerlukan pengaturan yang dapat mengakomodasikan muatan
dan kapasitas lokal.
7) Belum terselesaikannya masalah ketidakseimbangan pembangunan desa-kota yang telah
menumbuhkan berbagai kesenjangan sosio-ekonomi. Akibatnya desa menjadi kurang menarik
dan dianggap tidak cukup prospektif untuk dihuni, sedang kota semakin padat dan tidak nyaman
untuk dihuni.
8) Marak dan berkembangnya masalah sosial kemasyarakatan di daerah perkotaan (kesenjangan
pendapatan, menajamnya strata antar kelompok dalam masyarakat, ketidaknyamanan
bertempat tinggal, urban crime, dll).
9) Kekurangsiapan dalam mengantisipasi kecepatan dan dinamika pertumbuhan fisik dan fungsional
kawasan perkotaan, sehingga kawasan kumuh tumbuh sejalan dengan berkembangnya pusatpusat kegiatan ekonomi.
Guna mengantisipasi dan menanggulangi permasalahan tersebut diperlukan strategi pemberdayaan
masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah dengan :
Penciptaan iklim yang kondusif yang dapat mendorong pengembangan potensi masyarakat dan
investasi yang luas.
Membangun, mengembangkan, dan memobilisasi potensi lokal yang ada di masyarakat sebagai
landasan pemberdayaan.
Memberikan perhatian, dukungan, perlindungan, layanan dan kepastian hukum yang jelas
keberpihakannya pada kelompok berpenghasilan rendah, terutama yang membangun rumahnya
secara swadaya.

2.1.9. Kawasan Permukiman Perkotaan


Kawasan permukiman perkotaan dapat terdiri atas bangunan rumah tempat tinggal, berskala
besar, sedang, kecil, bangunan rumah campuran tempat tinggal/usaha dan tempat usaha.
Pengembangan permukiman pada tempat-tempat yang menjadi pusat pelayanan penduduk
sekitarnya serta daerah sekitar yang secara fungsional menunjang, seperti Ibukota Kecamatan,
Ibukota Kabupaten agar dialokasikan di sekeliling kota yang bersangkutan atau merupakan perluasan

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 13
areal permukiman yang telah ada. Untuk pengembangan permukiman perkotaan ini hendaknya
diperhatikan beberapa hal berikut ini :
a. Sejauh mungkin tidak menggunakan tanah sawah beririgasi teknis.
b. Sejauh mungkin tidak menggunakan tanah sawah beririgasi setengah teknis, tetapi
intensitas penggunaannya lebih dari satu kali dalam setahun.
c. Pengembangan permukiman pada sawah non irigasi teknis atau kawasan lahan pertanian
kering diperkenankan sejauh mematuhi ketentuan yang berlaku mengenai peralihan fungsi
peruntukan kawasan.

2.1.10.

Pengertian Infrastruktur
Infrastruktur merujuk pada sistem fisik yang menyediakan transportasi, pengairan, drainase,

bangunan-bangunan gedung dan fasilitas publik lainnya yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi (Grigg, 1988 dalam Robert J. Kodoatie,
PhD, 2003). Sistem infrastruktur merupakan pendukung utama fungsi-fungsi sistem sosial dan sistem
ekonomi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Sistem infrastruktur dapat didefinisikan sebagai
fasilitas-fasilits atau struktur-struktur dasar peralatan-peralatan, instalasi-instalasi yang dibangun dan
yang dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan sistem ekonomi masyarakat.
Sebagai salah satu konsep pola pikir di bawah ini diilustrasikan diagram sederhana bagaimana peran
infrastruktur. Diagram ini menunjukkan bahwa secara ideal lingkungan alam merupakan pendukung
dari sistem infrastruktur, dan sistem ekonomi didukung oleh sistem infrastruktur. Sistem sosial
sebagai obyek dan sasaran didukung oleh sistem ekonomi.

SOCIAL SYSTEM
EKONOMIC SYSTEM
PHYSICAL INFRASTRUCTURE
NATURAL ENVIRONMENT
Sumber: Grigg, 1988 dalam Robert J. Kodoatie

Gambar 2.1.
Hubungan Antara Sistem Sosial, Ekonomi, Infrastruktur
Dan Lingkungan Alam Yang Harmoni

Dari gambar di atas ini dapat dikatakan bahwa lingkungan alam merupakan pendukung dasar
dari semua sistem yang ada. Peran infrastruktur sebagai mediator antara sistem ekonomi dan sosial
dalam tatanan kehidupan manusia dengan lingkungan alam menjadi sangat penting. Infrastruktur

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 14
yang kurang (bahkan tidak) berfungsi akan memberikan dampak yang besar bagi umat manusia.
Sebaliknya, infrastruktur yang terlalu berlebihan untuk kepentingan umat manusia tanpa
memperhitungkan kapasitas daya dukung lingkungan akan merusak alam yang pada hakekatnya akan
merugikan manusia termauk makluk hidup lainnya. Berfungsi sebagai suatu sistem pendukung sistem
sosial dan sistem ekonomi, maka infrastruktur perlu dipahami dan dimengerti secara jelas terutama
bagi penentu kebijakan.
2.1.11.

Air Bersih

a) Sistem Air Bersih


Pengelolaan dan proses infrastruktur untuk water supply sistem adalah:
1. Eksporasi sumberdaya air
-

Sumberdaya air permukaan (sungai, danau, waduk, dll)

Sumberdaya air tanah (sumur, pemompaan, mata air, dll)

2. Pengelolaan (treatment)
-

Penjernihan dari partikel lain (sedimentation, flocculation, filtration, dll)

Pengontrolan bakteri air (disinfection, ultra violet ray, ozone treatment, dll)

Komposis kimia air (aeration, iron and manganese removal, carbon active, dll)

3. Penampungan (storage)
-

Penampungan bahan baku air (waduk, sungai/long storage)

Penampungan bahan baku air olahan (tangki tertutup, kolam terbuka, dll)

4. Transmisi
-

Truk tangki dan moda lainnya

Jaringan pipa transmisi dari primer ke sekunder

Ban pelepas tekan

pipa

5. Jaringan distribusi ke pelanggan


-

Sistem jaringan pipa

Sistem penampungan

Fittings

Control

Valve

Pompa

Sumber air ada 2 (dua) macam, yaitu:


1. Air permukaan

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 15
2. Air tanah
b) Kebutuhan Air
Kebutuhan air yang dimaksud adalah kebutuhan air yang digunakan untuk menunjang segala
kegiaan manusia, meliputi air bersih, domestik dan non domestik, air irigasi baik pertanian
maupun perikanan dan air untuk penggelontoran kota.
1. Kebutuhan air domestik
Kebutuhan air domestik sangat ditentukan oleh jumlah penduduk dan konsumsi perkapita.
Kecenderungan populasi dan sejarah populasi dipakai sebagai dasar perhitungan kebutuhan
air domestik terutama dalam penentuan kecenderungan laju pertumbuhan.
2. Kebutuhan air non domestik
Kebutuhan air domestik meliputi kebutuhan air komersial, kebutuhan institusi dan industri.
Kebutuhan air komersial untuk suatu daerah cenderung meningkat sejalan dengan
peningkatan penduduk dan perubahan tata guna lahan. Kebutuhan ini bisa mencapai 20
25% dari total suplai (produksi) air. Kebutuhan institusi anta lain meliputi kebutuhan air
untuk sekolah, RS, gedung pemerintahan, tempat ibadah dan lainnya.
3. Kebocoran air (unaccounted for water/UFW)
UFW merupakan kompoen mayor dari kebutuhan air. Dalam penentuan kebutuhan air,
analisa kebocoran air perlu dilakukan. Kebocoran dapat didefinisikansebagai perbedaan
antara jumlah air yang doproduksi oleh produsen air dan jumlah air yang terjual keada
konsumen, sesuai dengan yang tercatat di meteran air pelanggan. Ada 2 (dua) jenis
kehilanganair pada sistem suplesi air bersih, yaitu:
- Kebocoran fisik, disebabkan oleh kebocoran pipa, reservoir yang melimpas keluar,
penguapan, pemadaman kebakaran, pencuci jalan, pembilas pipa/saluran dan pelayanan
air tanpa meter air yang kadangala terjadi penyambungan yang tidak tercatat.
- Kebocoran administrasi, disebabkan oleh meter aitr tanpa registrasi, juga termasuk
kesalahan di dalam sistem pembacaan, pengumpulan dan pembuatan rekening serta
kasus-kasus yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap
kehilangan air.
c) Pengelolaan Air Bersih
Konservasi air dapat dilakukan dengan cara:
-

Meningkatkan pemanfaatan air permukaan dan air tanah.

Meningkatkan efisiensi air irigasi

Menjaga kualitas air sesuai dengan peruntukannya.

d) Sumber Air

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 16
Sumber Air Permukaan
Pengelolaan sumber air permukaan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
- Pengendalian aliran permukaan yang dilakukan dengan cara memperpanjang waktu air
tertahan di permukaan tanah dan meningkatkan jumlah air yang masuk ke dalam tanah
- Pemanenan air hujan dengan cara pengumpulan air hujan yang mengucur dari atap
rumah. Untuk pemanenan skala besar dapat dilakukan di daerah tangkapan air dilakukan
dengan suatu bak penampungan. Air yang tertampung dapat digunakan untuk pertanian
maupn keperluan rumah tangga.
- Meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah dengan memperbaiki struktur tanah dengan
menutup tanah yang cukup baik dengan tumbuhan atau mulsa atau dengan memberikan
bahan organik.
Sumber Air Tanah
Dalam rangka menjaga kelestarian air tanah, maka perlu dijaga antara pengisian dan
pengambilannya. Pengisian air tanah secara buatan dapat dipakai untuk:
- Menyimpan kelebihan aliran permukaan menjadi air tanah
- Memperbaiki kualitas air tanah dengan mencampur air tanah lokal dengan air pengisian
- Pemurnian dan reklamasi saluran pembuangan
- Membentuk tabir tekanan untyk mencegah intrusi air asin
- Meningkatkan produksi pertanian dengan terjaminnya air irigasi
- Menurunkan biaya pemompaan air tanah kerena kedalaman air tanah kecil
- Mencegah terjadinya penurunan muka tanah.
2.1.12.

Persampahan
Sampah adalah limbah atau buangan yang bersifat padat, setengah padat / cair yang

merupakan hasil sampingan dari kegiatan perkotaan atau siklus kehidupan manusia, hewan maupun
tumbuhan. Sumber sampah perkotaan berasal dari permukiman, pasar, kawasan pertokoan dan
perdagangan, kawasan perkantoran dan sarana umum, kawasan industri, peternakan hewan dan
fasilitas umum lainnya.
Jenis sampah perkotaan terdiri atas 2 (dua) yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah
organik adalah sampah yang mempunyai komposisi kimia mudah terurai oleh bakteri
(biodegradable), sedangkan sampah anorganikadalah sampah yang mempunyai komposisi kimia sulit
untuk diuraikan atau membutuhkan waktu yang lama (nonbiodegradable).
Sistem pengelolaan sampah perkotaan pada dasarnya dilihat sebagai komponen-komponen
subsistem yang saling mendukung satu dengan lainnya, saling berinteraksi untuk mencapai tujuan,
yaitu kota yang bersih, sehat dan teratur. Komponen itu adalah:

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 17
1. Sub sistem kelembagaan
2. Sub sistem teknik operasional
3. Sub sistem pembiayaan
4. Sub sitem hukum dan kelembagaan
5. Sub sistem peran serta masyarakat
Strategi pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lintas kabupaten/kota. Pada aspek
kelembagaan pengelolaan bersama lintas kabupaten/kota perlu dibentuk 3 badan yaitu badan
pengatur yang merupakan lembaga teknis antar daerah yang merupakan perangkat masing-masing
daerah, badan pengelola myang merupakan lembaga teknis operasional pengelolaan kebersihan
antar daerah tetapi bukan perangkat murni daerah dan badan pengawas yaitu lembaga yang
dibentuk oleh masyarakat, bersifat mandiri dan independen yang bertugas pelaksanaan pengelolaan.
2.1.13.

Air Limbah
Air limbah domestik adalah air bekas yang tidak dapat dipergunakan lagi untuk tujuan

semula baik yang mengandung kotoran manusia (tinja) atau dari aktifitas dapur, kamar mandi dan
cuci dimana kuantitasnya antara 50-70% dari rata-rata pemakaian air bersih (120-140 l/orang/hari).
Air limbah domestik mengandung lebih dari 90% cairan. Zat-zat yang terdapat dalam air buangan
diantaranya adalah unsur-unsur organik tersuspensi maupun terlarut dan juga undsur-unsur
anorganik serta mikroorganisme. Unsur-unsur tersebut memberikan corak kualitas air buangan
dalam sifat fisik kimiawi maupun biologi.
Dampak pembuangan air limbah domestik mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap
kesehatan individu manusia. Faktor yang terkait dengan seberapa jauh pengaruh limbah terhadap
kesehatan antara lain:
a. Daya tahan tubuh
b. Jenis limbah dan jumlah dosis yang diterima tubuh
c. Akumulasi dosis limbah dalam tubuh
d. Sifat-sifat racun (toxin) dari limbah terhadap tubuh
e. Mudah tidaknya limbah dicerna dan dikeluarkan dari tubuh
f.

Waktu kontak (lama tidaknya) berada dalam lingkungan limbah

g. Alergi (sensifitas tubuh) terhadapo limbah dalam bentuk tertentu.


Sistem pengelolaan limbah domestik terbagi menjadi 2 macam, yaitu sistem pengelolaan
limbah setempat (on site sistem) dan pembuangan terpusat (off site sistem). Sistem pembuangan
setempat adalah fasilitas pembuangan air limbah yang berada di dalam daerah persil pelayanan
(batas tanah yang dimiliki). Sistem pembuangan terpusat adalah sistem pembuangan yang berada di
luar persil. Keuntungan dan kerugian on site sistem dan off site sistem adalah:

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 18
1. On site sistem
a. Keuntungan:
-

Biaya pembuatan murah

Biasanya dibuat oleh sektor swasta/pribadi

Teknologi cukup sederhana

Sistem sangat privasi karena terletak pada persilnya

Operasi dan pemeliharaan dilakukan secara pribadi masing-masing

Nilai manfaat yang dapat dirasakan langsung seperti bersih, saluran air hujan tidak lagi
dibuangi air limbah, terhindar dari bau busuk, timbul estetika pekarangan dan populasi
nyamuk berkurang.

b. Kerugian:
-

Tidak selalu cocok di semua daerah

Sukar mengontrol operasi dan pemeliharaan

Bila pengendalian tidak sempurna maka air limbah dibuang ke saluran drainase

Sukar mengontrol operasi dan pemeliharaan

Sukar mengontrol air tanah bila pemeliharaan tidak dilakukan dengan baik

2. Off site sistem


a. Keuntungan:
-

Pelayanan yang lebih nyaman

Menampung semua air limbah domestik

Pencemaran air tanah dan lingkungan dapat dihindari

Cocok untuk daerah dengan tingkat kepadatan tinggi

Masa/umur pemakaian relatif lebih lama

b. Kerugian:

2.1.14.

Memerlukan pembiayaan yang tinggi

Memerlukan tenaga yang trampil untuk operasional dan pemeliharaan

Memerlukan perencanaan dan pelaksanaan jangka panjang

Nilai manfaat akan terlihat apabila sistem telah berjalan dan semua penduduk terlayani.
Drainase

Air hujan yang jatuh di suatu daerah perlu dialirkan atau dibuang dengan cara pembuatan
saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di permukaan tanah tersebut. sistem
saluran di atas selanjutnya dialirkan ke sistem yang lebih besar. Sistem yang paling kecil juga
dihubungkan dengan saluran rumah tangga dan sistem bangunan infrastruktur lainnya. Sehingga

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 19
apabila cukup banyak limbah cair yang berada dalam saluran tersebut, maka perlu dilakukan
pengolahan (treatment). Seluruh proses ini disebut sistem drainase.
Sistem drainase pada prinsipnya terbagi atas 2 macam, yaitu drainase daerah perkotaan dan drainase
untuk daerah pertanian. Pada drainase perkotaan diperlukan kombinasi antara perkembangan
perkotaan, daerah rural dan daerah aliran sungai (DAS). Fungsi drainase adalah:
1. Membebaskan suatu wilayah (terutama yang padat permukiman) dari genangan air, erosi dan
banjir.
2. Drainase dengan aliran lancar akan berfungsi memperkecil resiko kesehatan lingkungan.
3. Kegunaan tanah permukiman padat akan menjadi lebih baik karena terhindar dari kelembaban.
4. Dengan sistem yang baik, tata guna lahan dapat dioptimalkan dan juga memperkecil kerusakan
struktur tanah untuk jalan dan bangunan lainnya.
Sistem jaringan drainase dibagi menjadi 2, yaitu:
a.

Sistem drainase mayor/primer sampai sekunder


Sistem drainase mayor adalah sistem saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air
dari suatu daerah tangkapan air hujan (catchment area). Biasanya sistem ini menampung aliran
berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer, kanal-kanal atau sungai. Sistem ini
merupakan penghubung antara drainase dan pengendalian banjir. Debit rencana untuk daerah
urban umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 10 tahun. Untuk Indonesia, karena
keterbatasan dana, biasanya dipakai dengan periode berulang antara 25 50 tahun.

b.

Sistem drainase minor/mikro


Drainase mikro adalah sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase yang menampung dan
mengalirkan iar dari daerah tangkapan hujan dimana sebagaian besar berada di dalam wilayah
kota. Secara keseluruhan, yang termasuk dalam drainase mikro adalah saluran di sepanjang sisi
jalan, selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong, saluran drainase kota dan lainnya
dimana debit yang dapat ditampung tidak terlalu besar. Drainase mikro ini direncanakan untuk
hujan dengan masa ulang 2,5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna tanah yang ada. Sistem
drainase untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase mikro. Dari
segi konstruksinya, dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
1.

Sistem saluran tertutup


Sistem aliran tertutup masih bersifat grafitasi (aliran pada saluran terbuka) hanya
konstruksi di atasnya dibuat tertutup sehingga dapat dimanfaatkan untuk bangunan lain.

2.

Sistem saluran terbuka

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 20
Sistem saluran etrbuka biasanya direncak\nakan hanya untuk menampung dan mengalirkan
air hujan dan juga ada yang berfungsi sebagai saluran campuran (gabungan) misalnya
sampah dan limbah penduduk.
2.2. Permukiman Kumuh

Permukiman kumuh adalah lingkungan permukiman dengan tingkat kepadatan lebih dari 600
jiwa per hektar, bentuk hunian tidakr berstruktur, tidak berpola (letak rumah dan bentuk jalan
tidak beraturan) tidak tersedianya fasilitas umum, sarana dan prasarana permukiman yang baik
dan bentuk fisik bangunan yang tidak layak huni, yaitu yang secara reguler tiap tahun dilanda
banjir (JISS dalam Harun Sunarso, 1998 : 34);

Permukiman kumuh adalah permukiman tidak layak huni atau dapat membahayakan kehidupan
penghuni, karena keadaan keamanan dan kesehatan memprihatink:an, kenyamanan dan
keandalan bangunan dan lingkungan tersebut tidak mamadai, baik dilihat dari segi tata ruang,
kepadatan bangunan yang sangat rendah serta prasara dan sarana lingkungan yang tidak
memenuhi syarat (Kamus Tata Ruang, 1997: 81);

Kumuh dapat diartikan mengandung sifat-sifat keusangan, banyak ditujukan pada keadaan guna
lahan atau zona atau kawasan yang sudah sulit diperbaiki, jadi yang lebih baik dibongkar, tapi
juga dapat ditujukan pada keadaan yang secara fisik masih cukup baik, belum tua, tapi sudah
tidak lagi memenuhi berbagai standar kelayakan (Kamus Tata Ruang, 1997: 57);

Siswono Yudohusodo (1994) membedakan bahwa permukiman kumuh tidak selalu liar dan
hunian liar tidak selalu kumuh, pengertian hunian liar biasanya dikaitkan dengan status
kepemilikan yaitu jika dibangun diatas tanah yang bukan haknya, dan hunian liar di perkotaan
sebagian besar berdiri diatas tanah negara (Harun Sunarso, 1998: 34);

Menurut Sunaryati Hartono (1991), permukiman kumuh adalah ditinjau dari aspek hukum dan
non hukum. Beberapa aspek hukum permukiman kumuh adalah (Harun Sunarso, 1998: 34):

Status tanah rumah-rumah;


Sejarah terjadinya daerah permukiman kumuh;
Tujuan/peruntukan peremajaan permukiman;
Ganti rugi yang pantas dan adil.
Sedangkan non hukum permukiman kumuh adalah:

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 21

Daerah yang padat jumlah penduduknya dan mudah menimbulkan prikehidupan yang kurang
harmonis antar tetangga sebab mudah sekali timbul sengketa, seperti penguasaan lahan,
perumahan, sumber air, kebisingan, keterbatasan fasilitas umum, dan fasilitas sosial sarana
pendidikan anak dan lain-lain;

Daerah yang padat terdapat social kontrol yang kuat, antara lain gosip/sebaliknya sikap tidak
peduli;

Daerah permukiman kumuh merupakan daerah yang penduduknya relatif berpendapatan


rendah/miskin.

Departemen Kesehatan (1992) memberikan batasan tentang karakteristik daerah kumuh adalah
kawasan/area permukiman yang mempunyai resiko tinggi terhadap penularan penyakit dan
pencemaran lingkungan, baik di perkotaan maupun di pedesaan, yaitu (Harun Sunarso, 1998:
34): padat penduduk jarak rumah sangat berdekatan, kondisi rumah serta lingkungan yang tidak
sehat; sarana sanitasi dasar yang tidak memadai; rawan penyakit dan pencemaran; penghasilan
penduduk relatif rendah dan pekerjaan disektor informal; perilaku masyarakat, seperti gotong
royong tinggi, senasib dan mudah digerakkan, serta kurangnya pengetahuan tentang hidup
sehat;

Bergel merumuskan daerah kumuh atau slum area yaitu: daerah kumuh sebagai suatu kawasan
permukiman yang di atasnya terletak bangunan-bangunan berkondisi substandar, yang dihuni
oleh penduduk miskin yang padat (Mumu Suherlan, 1996: 33);

Suprijanto Riyadi (1993) mengemukakan batasan arti daerah kumuh, yaitu daerah dengan
jumlah penduduk yang padat, dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah, keberhasilan
lingkungan yang buruk (jalan, sumber air bersih, MCK, saluran pembuangan) (Mumu Suherlan,
1996: 33);

Ari Indrayana Mahar (1993) mengemukakan bahwa: permukiman kumuh adalah suatu istilah
yang mengacu kepada suatu istilah yang mengacu pada suatu permukiman dengan fasilitas dan
penataan serta penggunaan ruang-ruangnya yang mengungkapkan kondisi kurang mampu atau
miskin dari penghuninya yang mencerminkan adanya kesemrawutan tata ruang dan
ketidakberdayaan ekonomi (Mumu Suherlan, 1996: 33).

Kawasan kumuh adalah kawasan dimana rumah dan kondisi hunian masyarakat di kawasan
tersebut sangat buruk. Rumah maupun sarana dan prasarana yang ada tidak sesuai dengan
standar yang berlaku, baik standar kebutuhan, kepadatan bangunan, persyaratan rumah sehat,

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 22
kebutuhan sarana air bersih, sanitasi maupun persyaratan kelengkapan prasarana jalan, ruang
terbuka, serta kelengkapan fasilitas social lainnya (Prof. DR. Parsudi Suparlan).
2.2.1

Karakteristik Permukiman Kumuh


A. A. Laquaian, mengemukakan beberapa karakteristik daerah kumuh, yaitu (dalam Mumu

Suherlan, 1996: 33) :


1.

Permukiman tersebut dihuni oleh penduduk yang padat dan berjubel; karena adanya
pertumbuhan penduduk alamiah maupun migrasi yang tinggi dari pedesaan;

2.

Perkampungan tersebur dihuni oleh warga yang berpenghasilan rendah atau berproduksi
subsistem yang hidup di bawah garis kemiskinan;

3.

Perumahan di permukiman tersebut berkualitas rendah atau masuk dalam kategori kondisi
rumah darurat (sub standart hoasing conditions), yaitu bangunan rumah yang terbuat dari
bahan-bahan tradisional, seperti bambu, kayu, alang-alang, dan bahan-bahan cepat huncur
lainnya;

4.

Kondisi kesehatan dan sanitasi yang rendah; perkampungan miskin memang selalu ditandai oleh
tersebarnya penyakit menular dan lingkungan fisik yang jorok;

5.

Langkanya pelayanan kota (urban service), seperti air minum, fasilitas mandi cuci kakus (MCK),
listrik, sistem pembuangan kotoran dan sampah, dan perlindungan kebakaran;

6.

Pertumbuhannya tidak terencana sehingga penampilan fisiknya tidak teratur dan terurus, dalam
hal bangunan, halaman, dan jalan-jalan; sempitnya ruang antar bangunan, dan tidak, ada ruang
terbuka sama sekali;

7.

Penghuni permukiman miskin ini mempunyai gaya hidup pedesaan karena sebagian besar
penghuninya merupakan migran dari pedesaan yang masih mempertahankan pola kehidupan
tradisional, seperti hubungan-hubungan yang bersifat pribadi, (bersuasana seperti di desa) dan
gotong royong;

8.

Munculnya perilaku menyimpang seperti pencurian, pelacuran, kenakalan, perjudian dan


kebiasaan minum-minuman keras sebagai ciri lainnya perkampungan miskin tersebut. Tetapi
karena permukiman lapisan masyarakat lainnya juga terjadi pola-pola perilaku menyimpang
tersebut, maka kurang tepat kiranya bila hal itu dijadikan sebagai ciri khas permukiman miskin.
Suharno Sarojo (1991) juga mengemukan karakteristik daerah kumuh adalah sebagai berikut

(dalam Mumu Suherlan, 1996: 35):


a.

Penduduknya sangat padat;

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 23
b. Mata pencaharian penduduknya tidak tetap;
c.

Tata letak perumahannya sempit dan pada umumnya tidak layak huni;

d. Kondisi ekonomi penduduknya rendah sehingga tingkat kesehatan dan pendidikan pada
umumnya juga rendah;
e.

Pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari kurang lancar karena kurangnya fasilitas yang
mendukung termasuk penyediaan air bersih, penerangan, MCK, tempat pembuangan
sampah, dan sebagainya;

f.

Jalan umum tidak teratur;

g.

Kondisi lingkungan yang kotor, sehingga banyak penyakit yang bersumber dari keadaan
lingkungan yang tidak sehat;

h. Rawan dan cenderung menimbulkan berbagai masalah sosial, sehingga cenderung


mengganggu ketahanan nasional.
Ciri-ciri pemukiman kumuh, seperti yang diungkapkan oleh Prof. DR. Parsudi Suparlan adalah :
1.

Fasilitas umum yang kondisinya kurang atau tidak memadai.

2.

Kondisi hunian rumah dan pemukiman serta penggunaan ruangruanganya Mencerminkan


penghuninya yang kurang mampu atau miskin.

3.

Adanya tingkat frekuensi dan kepadatan volume yang tinggi dalam penggunaan ruang-ruang
yang ada di pemukiman kumuh sehingga mencerminkan adanya kesemrawutan tata ruang
dan ketidakberdayaan ekonomi penghuninya.

4.

Pemukiman kumuh merupakan suatu satuan-satuan komuniti yang hidup secara tersendiri
dengan batas-batas kebudayaan dan sosial yang jelas, yaitu terwujud sebagai :
a. Sebuah komuniti tunggal, berada di tanah milik negara, dan karena itu dapat digolongkan
sebagai hunian liar.
b. Satuan komuniti tunggal yang merupakan bagian dari sebuah RT atau sebuah RW.
c. Sebuah satuan komuniti tunggal yang terwujud sebagai sebuah RT atau RW atau bahkan
terwujud sebagai sebuah Kelurahan, dan bukan hunian liar.

5.

Penghuni pemukiman kumuh secara sosial dan ekonomi tidak homogen, warganya
mempunyai mata pencaharian dan tingkat kepadatan yang beranekaragam, begitu juga asal
muasalnya. Dalam masyarakat pemukiman kumuh juga dikenal adanya pelapisan sosial
berdasarkan atas kemampuan ekonomi mereka yang berbeda-beda tersebut.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 24
6.

Sebagian besar penghuni pemukiman kumuh adalah mereka yang bekerja di sektor informal
atau mempunyai mata pencaharian tambahan di sektor informil.
Dari sumber literatur yang dikeluarkan oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah

Direktorat Jenderal Perumahan dan Permukiman tahun 2000, disebutkan bahwa Definisi Kumuh /
Squatters secara umum adalah pemukim tanpa hak bermukim, artinya perorangan atau
sekelompok orang yang menghuni suatu lahan, baik secara hukum ataupun kewenangan tidak
diizinkan untuk dijadikan sebagai suatu tempat tinggal.
Dalam konteks perumahan dan permukiman, Permukiman Kumuh adalah permukiman yang
berada pada daerah yang menurut rencana kota tidak diperuntukkan untuk perumahan atau dihuni
oleh masyarakat yang tidak memiliki hak bermukim di tempat tersebut, karena tidak memenuhi
peraturan bermukim yang berlaku baik secara hukum maupun kewenangan.
Sidang BKPN No. IV 1998/1990 tanggal 15 Februari 1990 menyatakan bahwa ciri-ciri
lingkungan permukiman kumuh adalah sebagai berikut (Christina,1999: 27):
a.

Tanah tempat berdirinya lingkungan permukiman kumuh dapat berupa tanah negara, tanah
instansi, tanah perorangan atau badan hukum dan yayasan.

b.

Penghuni lingkungan kumuh dapat terdiri dari pemilik tanah dan bangunan, pemilik bangunan di
atas tanah sewa, penyewa bangunan tanpa termasuk tanahnya, atau pemilik/penyewa
bangunan yang didirikan tanpa seijin pemegang hak atas tanahnya.

c.

Penggunaan bangunannya dapat untuk tempat hunian, tempat usaha atau campuran.

d.

Peruntukan penggunaan tanahnya menurut rencana kota dapat untuk perumahan, jalur
pengaman atau untuk keperluan lain.

e.

Prasarana lingkungan biasanya kurang dan tidak memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan.

f.

Prasarana lingkungan biasanya tidak ada atau tidak lengkap memenuhi persyaratan teknis dan
kesehaan dengan tata letak yang tidak teratur.
Sedangkan menurut DPU Cipta Karya, tiga kondisi kekumuhan dapat dilihat dari status

tanahnya, antara lain:


a.

Kawasan/lingkungan kumuh di atas tanah ilegal dengan kondisi tingkat kekumuhan dan
kepadatan tinggi.

b.

Kawasan/lingkungan kumuh di atas tanah ilegal dengan tingkat kepadatan tinggi.

c.

Kawasan/lingkungan, kumuh di atas tanah legal (tidak terlalu kumuh/ padat).

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 25
Permukiman kumuh menurut M. Agung

Rid1o (2001:24), merupakan wujud fisik yang erat

kaitannya dengan kemiskinan di perkotaan yang memiliki karakteristik/ciri-ciri sebagai berikut:


a.

Kampung tumbuh dan berkembang secara organik (Organic Pattern) dengan kondisi perumahan
di bawah standard. Kondisi fisik lingkungan dan bangunan yang sangat buruk dan tidak teratur,
tidak memenuhi persyaratan teknis kesehatan, pelayanan sarana dan prasarana lingkungan
serba kurang (air bersih, saluran air limbah dan air hujan, pembuangan sampah, dll).

b.

Lingkungan permukiman kumuh merupakan lingkungan permukiman yang absah, legal dan
permanen tetapi kondisi fisik lingkungannya semakin memburuk karena kurang pemeliharaan,
umur bangunan yang menua, ketidak acuhan, atau karena terbagi-bagi menjadi unit pekarangan
rumah atau kamar yang semakin kecil.

c.

Pada umumnya penduduknya mempunyai status sosial dan ekonomi rendah atau
berpenghasilan di bawah standart.

d.

Kepadatan dan kerapatan bangunan yang lebih besar dari yang diijinkan dengan kepadatan
penduduk yang sangat tinggi.

e.

Penduduk masih mambawa sifat dan perilaku kehidupan perdesaan yang terjalin dalam ikatan
kekeluargaan yang erat.

f.

Kebanyakan penduduknya berpendidikan rendah, berstatus rendah dan mempunyai struktur


keluarga yang tidak menguntungkan,

g.

Bahan-bahan bangunan yang digunakan adalah bahan bagunan yang bersifat semi permanen.

h.

Merupakan suatu kawasan yang mempunyai fungsi kota yang bercambur dan tidak beraturan
yang merupakan kantong-kantong kemiskinan perkotaan yang rawan terhadap banjir.

2.2.2

Ciri-Ciri Hunian Kumuh


Hunian kumuh memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Penduduk sebagian besar sangat miskin, termasuk dalam kelompok Pra Sejahtera yang umumnya
berpenghasilan rendah dan tidak tetap.

Masyarakat yang tinggal di dalamnya sebagian besar tidak memiliki legalitas bermukim termasuk
tanpa identitas penduduk setempat.

Kondisi huniannya sangat buruk, dengan kepadatan di atas 500 orang / Ha, tidak tertata / terpola
dengan teratur, dan lebih dari 60% merupakan rumah tidak layak huni, karena tidak dilengkapi
dengan prasrana dasar permukiman, sanitasi buruk serta angka kejadian penyakit sangat tinggi.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 26

Status tanah tidak jelas, tanpa izin pemilik lahan atau peruntukkannya tidak sesuai dengan
rencana kota / RTRW Kota / Kabupaten, misal di tepi sungai, di sepanjang rel kereta api,
sepanjang jalur hijau dan sebagainya.

Menempati lahan yang tidak jelas (tanah negara atau tanah milik orang / lembaga lain yang
belum atau tidak termanfaatkan dengan baik).

Seringkali tumbuh terkonsentrasi pada lokaasi terlarang dan berkembang cepat sebagai hunian
karena terlambat diantisipasi.
Secara sosial, masyarakat kumuh menghadapi kendala sosial akibat pola hidup selama

menghuni kawasan yang tidak jelas statusnya, seperti :

Dianggap tidak ada / terabaikan karena satu dan lain hal atau tidak terlayani oleh layanan
administrasi pemerintah yang formal.

Tidak diikutsertakan dalam berbagai pengambilan keputusan, bahkan dalam memperbaiki


kehidupan diri dan keluarganya.

Tidak dilibatkan dalam pembangunan di wilayahnya.

Tidak memiliki akses terhadap informasi dan sumber daya utama bagi upaya memperbaiki taraf
kehidupannya.
Dilihat dari segi fisik lingkungannya, kondisi lahan yang mereka tinggali memiliki resiko

membahayakan diri dan lingkungannya serta mengganggu aktivitas umum dan fungsi-fungsi
pelayanan umum. Penyelesaian permasalahan kumuh ini merupakan permasalahan yang rumit,
sehingga dalam penyelesaiannya tidak saja dikaji dari pendekatan hukum, tetapi juga memerlukan
pendekatan secara sosial dan terpadu.
2.2.3

Klasifikasi Permukiman Kumuh


Prof. Eko Budihardjo mengklasifikasikan permukiman kumuh berdasarkan pada karakter fisik

dan aspek legalitasnya, yaitu:

Kategori Slum, yaitu kawasan kumuh tetapi diakui sah sebagai daerah permukiman;

Kategori Squatter Settlement, yaitu: pemukiman kumuh liar, yang menempati lahan yang tidak
ditetapkan untuk kawasan hunian, misalnya: di sepanjang pinggir rel kereta api, di pinggir kali, di
kolong jembatan, di pasar, di kuburan, di tempat pembuangan sampah, dan lainnya. Dari segi
legalitasnya, kategori permukiman liar (squatter) ini umumnya menempati lahan yang bukan
dalam hak penguasaannya misalnya pada lahan kosong yang ditinggal pemiliknya atau pada
lahan kosong milik negara.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 27
Sementara Siswono dalam bukunya membagi 3 (tiga) tipe perumahan yang tidak teratur di
perkotaan, yaitu Tipe Kampung, Tipe Perumahan Liar dan Tipe Permukiman Kumuh (yang berupa
kampung dan perumahan liar).

Tipe Kampung, berbeda dengan tipe perumahan liar, yaitu pada status pembangunan
rumahnya. Rumah-rumah kampung dibangun di atas tanah yang telah dimiliki, disewa, atau
dipinjam dari pemiliknya. Pembangunan rumah di kampung dilakukan dengan setahu dan seijin
pemilik tanahnya, sedangkan rumah-rumah di perumahan liar dibangun secara illegal, tanpa
setahu dan seijin pemilik tanahnya. Rumah-rumah di kampung ada yang memiliki ijin mendirikan
bangunan (IMB) adapula yang tidak. Kampung merupakan lingkungan masyarakat yang sudah
mapan, yang terdiri dari golongan masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah, yang pada
umumnya kondisi sarana dan prasarananya kurang memadai.

Tipe Perumahan Liar, biasanya tumbuh agak jauh dari jalan kendaraan, terletak di pinggir-pinggir
sungai, bantaran sungai, di sepanjang jalan kereta api, di sekitar pasar, di sekitar stasiun kereta
api, dan di daerah rendah yang sering kebanjiran. Daerah-daerah tersebut pada umumnya
berupa tanah yang belum dipergunakan, ditinggalkan, atau tidak diawasi lagi oleh pemegang
hak atas tanah tersebut. Penghuni merupakan pendatang dari pedesaan dan kota-kota lainnya
dan berpenghasilan rendah sekali. Mereka tinggal dengan gubuk-gubuk, tetapi kadang ada pula
yang dibangun secara permanen.

Tipe Permukiman Kumuh, berupa kampung dan perumahan liar yang ditempati oleh masyarakat
berpenghasilan rendah bahkan sangat rendah, dengan kepadatan penduduk dan bangunan yang
sangat tinggi (beberapa ratus hingga ribu orang perhektar), dengan kondisi rumah dan
lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan maupun persyaratan teknis, dengan pola
yang tidak teratur karena tidak direncanakan lebih dahulu, dan besarnya kota sangat
berpengaruh terhadap kepadatan permukiman kumuh tersebut. Lokasi permukiman kumuh
semakin dekat dengan pusat kota semakin tinggi kepadatan penduduknya. Ciri yang cukup
menonjol dari permukiman kumuh ini adalah fungsinya sebagai daerah transisi antara
kehidupan pedesaan dengan kehidupan kota, atau sebagai pusat proses terjadinya urbanisasi.
Berdasarkan lokasinya, lingkungan permukiman kumuh ini dibagi ke dalam 5 (lima) kelompok
menurut Siswono, yaitu :

Pertama, yang berada pada lokasi yang sangat strategis dalam mendukung fungsi kota yang
menurut rencana kota dapat dibangun untuk komersial atau pelayanan masyarakat kota yang
baik;

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 28

Kedua, yang lokasinya kurang strategis dalam mendukung fungsi kota dan memberi pelayanan
kepada masyarakat kota. Meskipun dalam rencana kota untuk dijadikan kawasan komersial
namun kurang memiliki berpotensi;

Ketiga, lokasinya tidak strategis dan menurut rencana kota hanya boleh dibangun untuk
perumahan;

Keempat, permukiman kumuh yang berada pada lokasi yang menurut rencana kota tidak
diperuntukkan bagi perumahan,

Kelima, permukiman kumuh yang berada pada lokasi yang berbahaya, yang menurut rencana
kota disediakan untuk jalur pengaman, seperti bantaran sungai, jalur jalan kereta api, dan jalur
tegangan listrik.
Dari beberapa klasifikasi permukiman kumuh tersebut di atas ternyata yang cukup mudah
diidentifikasikan perbedaannya terhadap kondisi permukiman kumuh di perkotaan adalah menurut
klasifikasi Budiharjo (1997) yang membedakan ke dalam dua kelompok kategori permukiman yaitu
permukiman yang slum dan squatter.
2.2.4

Penyebab Terjadinya Permukiman Kumuh


Penyebab utama tumbuhnya lingkungan kumuh antara lain terjadinya migrasi yang tinggi

terutama bagi sekelompok masyarakat tertentu dan berpenghasilan rendah, yang biasanya berada
didekat tempat bekerjanya. Mereka biasanya sudah betah tinggal dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan permukiman.
Permukiman kumuh di perkotaan biasanya terdapat diatas tanah negara bekas tanah
partikelir, tanah milik pemerintah kota yang sudah dikukuhkan dengan hak pengelolaan ataupun
yang belum dikukuhkan, tanah bantaran sungai, tanah instansi pemerintah tanah milik Perumka dan
sebagainya. Kondisi lingkungan pada permukiman kumuh di atas tanah negara tanpa hak ini
umumnya jauh lebih buruk dibandingkan dengan yang terjadi pada tanah hak.
Sesuai dengan status tanah permukiman kumuh ini, maka sebagian besar penggarapannya
dilakukn secara liar. Wilayah permukiman ini sama sekali tidak atau belum tersentuh oleh
pembangunan fasilitas perkotaan. Ketiadaan kepastian hukum mengenai hak atas tanahnya,
termasuk kemampuan ekonomi penghuninya yang relatif rendah, menyebabkan tidak adanya usaha
penduduk setempat untuk meningkatkan kondisi permukiman dan lingkungannya ataupun pindah
ke lokasi yang lebih baik.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 29
Keterikatan penduduk dengan lingkungan hunian yang ditempati terutama karena jaraknya
yang dekat dengan tempat bekerjanya. Penghuni wilayah permukiman kumuh ini sebagian besar
bekerja pada sektor informal, sehingga untuk dipindahkan ke lokasi lain, alasan keberatannya karena
akan makin jauh antara tempat tinggal dengan tempat bekerjanya.

Pada umumnya permukiman kumuh menempati lahan-lahan yang tidak terjaga oleh pemiliknya,
baik itu milik perorangan, pemerintah / negara atau milik umum. Sebagian besar para penghuni
datang ke kota karena merasa kurang beruntung hidup di daerah asalnya, sehingga mereka
berharap dapat mencari nafkah dan bekerja di tempatnya yang baru.

Tempat yang dipilih tersebut adalah tempat-tempat yang mampu mereka biayai / terjangkau
bahkan kalau mungkin tidak perlu membiayai dan dekat dengan tempat yang dekat dengan
lokasi usaha / pekerjaannya. Sementara di lain pihak, pemilik tanah tidak menjaga lahannya
karena sesuatu sebab, bahkan tidak melengkapi dengan dokumen administrasinya.
Penyebab adanya kawasan kumuh atau peningkatan jumlah kawasan kumuh yang ada di kota
adalah:
1. Faktor ekonomi seperti kemiskinan dan krisis ekonomi.
2. Faktor bencana.
Faktor ekonomi atau kemiskinan mendorong bagi pendatang untuk mendapatkan kehidupan
yang lebih baik di kota-kota. Dengan keterbatasan pengetahuan, ketrampilan, dan modal, maupun
adanya persaingan yang sangat ketat diantara sesama pendatang maka pendatang-pendatang
tersebut hanya dapat tinggal dan membangun rumah dengan kondisi yang sangat minim di kotakota. Di sisi lain pertambahan jumlah pendatang yang sangat banyak mengakibatkan pemerintah
tidak mampu menyediakan hunian yang layak.
Faktor bencana dapat pula menjadi salah satu pendorong perluasan kawasan kumuh. Adanya
bencana, baik bencana alam seperti misalnya banjir, gempa, gunung meletus, longsor maupun
bencana akibat perang atau pertikaian antar suku juga menjadi penyebab jumlah rumah kumuh
meningkat dengan cepat.
2.2.5

Tipologi Permukiman Kumuh


Terdapat beberapa tipologi permukiman kumuh yang antara lain (Dirjen Perumahan dan

Permukiman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2002:7):


2.2.5.1. Permukiman Kumuh Dekat Pusat Kegiatan Sosial Ekonomi
Yaitu permukiman yang terletak di sekitar pusat-pusat aktivitas pelayanan sosial ekonomi,
seperti halnya lingkungan industri, lingkungan pusat pelayanan ekonomi, lingkungan pendidikan atau

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 30
kampus. Jenis mata pencaharian masyarakatnya terkait erat dengan domain kegiatan pusat sosial
ekonomi terkait. Alternative pemecahannya adalah melalui program peremajaan, rehabilitasi dan
renovasi. Kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain:
1.

Perbaikan sarana dan prasarana

2.

Pengembangan rumah susun sederhana (rusuna), rumah susun sederhana sewa (rusunawa)

3.

Perbaikan rumah sewa melalui dana bergulir

2.2.5.2. Permukiman Kumuh di Pusat Kota


Yaitu permukiman yang terletak di tengah kota (urban core) yang merupakan permukiman
lama/ kuno yang diindikasikan mempunyai warisan budaya tinggi dalam konfigurasi kota lama (old
city). Jenis mata pencaharian masyarakatnya beragam, diantaranya adalah buruh, pedagang kecil,
wiraswasta, industri rumah tangga, jasa transportasi dan lain-lain. Alternatif pemecahan dapat
melalui program rehabilitasi, renovasi, rekonstruksi, restorasi dan preservasi. Adapun komponen
kegiatan meliputi:
1. Perbaikan sarana dan prasarana
2. Pengembangan dana bergulir perbaikan rumah tinggal
3. Perbaikan kegiatan usaha
4. Pelatihan pelestarian banaunan dan lingkungan bersejarah

2.2.5.3. Permukiman Kumuh di Pinggiran kota


Yaitu permukiman yang terletak di luar pusat kota (urban fringe), yang umumnya merupakan
permukiman yang tumbuh dan berkembang sebagai konsekuensi dari perkembangan kota,
pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Jenis mata pencaharian masyarakatnya buruh, pedagang
kecil, wiraswasta, industri rumah tangga, jasa transportasi dan lain-lain. Alternatif pemecahannya
antara lain melalui program rehabilitasi dan renovasi. Adapun komponen kegiatan yang dapat
dilaksanakan antara lain meliputi:
1.

Perbaikan sarana dan prasarana

2.

Pengembangan dana bergulir perbaikan rumah tinggal

3.

Perbaikan kegiatan usaha

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 31
2.2.5.4. Permukiman Kumuh di Daerah Rawan Bencana
Yaitu permukiman yang terletak di area rawan bencana alam, khususnya bencana alam tanah
longsor, gempa bumi dan banjir. Alternatif pemecahannya antara lain melalui program resettlement,
rehabilitasi dan renovasi. Adapun komponen kegiatan yang dapat dilaksanakan antara lain meliputi:
1.

Perbaikan pembangunan sarana dan prasarana dengan teknologi khusus

2.

Pengembangan alternatif usaha

3.

Pengembangan lembaga keuangan komunitas

4.

Perbaikan rumah tinggal dan lain-lain

2.2.5.5. Permukiman Kumuh di Tepi Sungai


1.

Tipe pertama, yaitu permukiman kumuh yana terletak di luar garis sempadan sungai baik yang
bertanggul maupun tidak. Alternatif pemecahannya berupa program peremajaan. Adapun
komponen kegiatan yang dapat dilaksanakan adalah:
a. Perbaikan pembangunan sarana dan prasarana
b. Penataan kembali bangunan dan lingkungan
c. Pembangunan alternatif usaha
d. Pengembangan lembaga keuangan komunitas
e. Perbaikan rumah tinggal dan lain-lain

2.

Tipe kedua, yaitu permukiman kumuh lama yang secara historis berada di area badan sungai
bagian tepi sampai dengan tepi sungai karena menempatkan sungai sebagai sarana transportasi
vital. Tipe bangunan yang ada adalah rakit, panggung dan bidang lantai langsung berhubungan
dengan tanah. Alternatif pemecahannya antara lain melalui program rehabilitasi renovasi,
rekonstruksi, restorasi dan preservasi. Adapun komponen kegiatan yang dapat dilaksanakan
antara lain meliputi:
a. Perbaikan pembangunan sarana dan prasarana dengan teknologi khusus
b. Pengembangan dana bergulir perbaikan rumah tinggal
c. Pelestarian dan pemanfaatan kembali bangunan bersejarah untuk fungsi baru
d. Perbaikan kegiatan usaha
e. Pelatihan pelestarian bangunan dan lingkungan bersejarah

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 32
2.2.5.6. Permukiman Kumuh Dekat Pasar dan Terminal
Para permukim yang menempati dan membangun perumahan di sekitar pasar dan terminal,
biasanya tidak membentuk kelompok dalam jumlah besar, bahkan beberapa tidak memiliki ikatan
sosial antar individu para penghuninya. Pada umumnya para penghuni kumuh di sekitar pasar dan
terminal mencari nafkah berkaitan dengan kegiatan pasar maupun terminal, misal: pemulung, kuli
panggul, calo angkutan, pengemis maupun pedagang kaki lima. Fenomena yang terjadi di sekitar
pasar, banyak squatters yang hidup dalam satu lokasi rumah dan biasa disebut kaum boro. Mereka
bekerja di sekitar lokasi untuk waktu tertentu, dan kembali lagi ke daerah asalnya sesekali untuk
mengirim penghasilan kepada keluarga di desa. Sehingga kaum ini memiliki frekuensi pulang-pergi
yang cukup tinggi.
2.2.5.7. Permukiman Kumuh di Tanah Milik Negara
Jenis squatters di tanah milik negara sering dijumpai terdiri dari beberapa koloni keluarga yang
berasal dari daerah yang relatif homogen. Para pemukim ini lebih sering menempati tanah milik
negara yang kewenangannya masih berada di Pemerintah Pusat atau Provinsi. Kondisi permukiman
kumuh di tanah milik negara ini pada umumnya adalah sebagai berikut:
1.

Lama bermukim para squatters ini biasanya cukup lama, hal ini disebabkan karena tidak adanya
tindakan penertiban atau penhggusuran oleh pemilik lahan.

2.

Banyak dijumpai kondisi bangunan yang semi permanen dan berlantai plester dengan dinding
setengah batu bata, setengah papan.

3.

Waktu bermukim yang cukup lama ini disebabkan karena telah terjadi alih generasi, bahkan
telah terjadi pindah tangan penghuni dari penghuni lama ke penghuni yang baru.

4.

Pada umumnya para penghuni mendapatkan perlindungan dari oknum setempat, karena
mereka juga diharuskan membayar restribusi, uang sewa maupun bentuk pungutan yang lain
dan sarana penunjang permukiman (listrik, air) juga dipenuhi, sehingga para penghuni merasa
aman untuk tinggal di wilayah tersebut.

5.

Permasalahan akan muncul pada saat tanah tersebut diambil alih atau dimanfaatkan oleh
negara/ pemerintah, karena para penghuni/ pendatang yang lama akan menuntut ganti rugi.

2.2.5.8. Permukiman Kumuh di Tanah Milik Swasta


Sama halnya dengan permukiman di tanah milik pemerintah/ negara, para squatters yang
menempati tanah-tanah milik swasta/ perorangan akan menimbulkan masalah yang sama. Hal ini
membuka peluang yang lebih besar bagi datangnya para permukim liar apabila tanah milik
perorangan/ swasta ini masih dalam status sengketa atau tidak jelas kepengurusannya. Karena
biasanya penyelesaian permasalahan ini lewat pihak pengadilan melalui proses hukum akan
memakan waktu yang sangat lama.

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 33
2.2.5.9. Permukiman Kumuh di Daerah Milik Jalan
Daerah Milik Jalan (Damija) yang dipakai sebagai lahan non sirkulasi biasanya adalah lahan
kosong di belakang trotoar. Kondisi ini sering dimanfaatkan untuk kegiatan informal, terutama bagi
para pedagang kaki lima (PKL). Bahkan kegiatan tersebut seringkali sampai menjorok ke arah trotoar
dan badan jalan. Ada beberapa tempat Damija yang dimanfaatkan untuk kegiatan dengan ijin/
perjanjian tertentu. Tetapi di satu sisi, penggunaan trotoar untuk kegiatan informal akan
mengganggu fungsi trotoar sebagai areal yang difungsikan untuk pejalan kaki/ pedestrian.

2.1.

Pemahaman Terhadap Kajian Permukiman Dan Infrastruktur

2.1.1. Pengertian Perumahan 1


2.1.2. Dasar-dasar Perencanaan Perumahan Permukiman

2.1.3. Standar Teknis Penyelenggaraan Keterpaduan PSU Kawasan Perumahan


2.1.4. Sistem Pembangunan Perumahan

2.1.5. Kebijaksanaan Penilaian Aspek Lingkungan

2.1.6. Isu Strategis Perumahan dan Permukiman

2.1.7. Pengertian Perumahan Dan Permukiman

2.1.8. Masalah Perumahan Dan Permukiman 11


2.1.9. Kawasan Permukiman Perkotaan
2.1.10. Pengertian Infrastruktur
2.1.11. Air Bersih

12

13

14

2.1.12. Persampahan 16
2.1.13. Air Limbah

17

2.1.14. Drainase

18

2.2.

Permukiman Kumuh

20

2.2.1

Karakteristik Permukiman Kumuh

2.2.2

Ciri-Ciri Hunian Kumuh 25

2.2.3

Klasifikasi Permukiman Kumuh 26

2.2.4

Penyebab Terjadinya Permukiman Kumuh

2.2.5

Tipologi Permukiman Kumuh

22

28

29

2.2.5.1. Permukiman Kumuh Dekat Pusat Kegiatan Sosial Ekonomi


2.2.5.2. Permukiman Kumuh di Pusat Kota

30

2.2.5.3. Permukiman Kumuh di Pinggiran kota

30

2.2.5.4. Permukiman Kumuh di Daerah Rawan Bencana 31


2.2.5.5. Permukiman Kumuh di Tepi Sungai

31

2.2.5.6. Permukiman Kumuh Dekat Pasar dan Terminal 32

29

Inventarisasi Lingkungan Perumahan (Berbasis Spatial)


Kabupaten Hulu Sungai Utara

2 - 34
2.2.5.7. Permukiman Kumuh di Tanah Milik Negara

32

2.2.5.8. Permukiman Kumuh di Tanah Milik Swasta

32

2.2.5.9. Permukiman Kumuh di Daerah Milik Jalan

33

Gambar 2.1. Hubungan Antara Sistem Sosial, Ekonomi, Infrastruktur

13