Anda di halaman 1dari 55

Rumah Sakit Karya Medika II

PEDOMAN
PENANGGULANGAN TERHADAP KEWASPADAAN
BENCANA DAN KEBAKARAN
K3 - RS

Jl. Sultan Hasanuddin No. 63 Tambun, Bekasi


Telp. ( 021 ) 88324366, 88361980
Fax. ( 021 ) 88327514
Rskm@indo.net.id
2015

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Bencana dapat terjadi kepada siapa saja, dimana saja dan kapan
saja, serta datangnya tidak dapat diduga atau diterka. Hampir semua
bencana yang disebabkan oleh alam maupun ulah manusia mengancam
Bangsa Indonesia dan khususnya Bekasi. Jumlah penduduk yang besar
dengan penyebaran yang tidak merata dan adanya ketimpangan sosial
serta masalah dalam penyimpangan pengelolaan kekayaan alam akan
meningkatkan kejadian dan macam-macam bencana yang tidak lagi
disebabkan oleh alam itu sendiri tetapi juga oleh faktor manusia.
Rumah Sakit sebagai salah satu Public Area, tidak mustahil
menghadapi bahaya dari bencana, oleh karena itu diperlukan tindakan
penanggulangan terhadap bencana. Rumah sakit memiliki peranan kunci
dalam menanggulangi kegawatdaruratan dan bencana. Karena itu, rumah
sakit harus dipastikan aman dan memiliki rencana kesiapsiagaan
menanggulangi kegawatdaruratan dan bencana. Maka diperlukanlah
organisasi untuk mengantisipasi keadaan dan melakukan tindakan yang
tepat.
Banyaknya pihak yang bekerjasama dengan RS KARYA MEDIKA II
yang merupakan perusahaan dengan jumlah karyawan dan konsumen
yang cukup besar, merupakan tantangan tersendiri dalam memberikan
pelayanan bila suatu saat terjadi musibah masal yang mengenai
perusahaan tersebut.
Kondisi gedung RS KARYA MEDIKA II yang berlantai lima,
dilengkapi dengan sarana gas sentral serta lift dan tangga untuk

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

transportasi pengunjung maupun karyawan, serta tingkat hunian yang


rata-rata tinggi, merupakan faktor penyulit tersendiri untuk mentransfer
pasien saat terjadinya bencana di dalam rumah sakit.
Dampak dari bencana yang datang tanpa diduga tersebut
mengakibatkan kerugian berupa korban yang tidak sedikit bahkan
kemeninggalan, kerusakan sarana dan prasarana pendukung serta
terjadinya evakuasi dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karena itu,
upaya penanggulangan bencana dan penanganan korban perlu dilakukan
pada tahapan sebelum, saat kejadian dan sesudah kejadian bencana.
Penanggulangan bencana dan dua upaya penyelamatan korban
harus dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan melibatkan
seluruh unit pelayanan RS KARYA MEDIKA II dan kerjasama dengan
pihak lainnya (lintas sektor) di luar RS KARYA MEDIKA II. Untuk itu perlu
dibentuk Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan
kebakaran RS KARYA MEDIKA II.

1.2

TUJUAN
1. Sebagai pedoman bagi seluruh karyawan Rumah Sakit dalam
mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah dan
menanggulangi bencana di rumah sakit.
2. Untuk meningkatkan sistem koordinasi antar personil atau bagian
agar dapat bertindak secara terpadu dan terorganisir.
3. Pembentukan sistem komunikasi dan kontrol komando dalam waktu
cepat agar korban bencana dapat ditangani secara cepat dan tepat
sesuai dengan kondisinya.
4. Menyusun prosedur pelaksanaan respon bencana dan pemulihan,
serta tahap kemBekasi ke fungsi normal.

1.3

SASARAN

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

Di dalam Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana


dan kebakaran K3 RS mempunyai sasaran meliputi :

1.4

Pengelolah Rumah Sakit

SDM Rumah Sakit

Pasien Rumah Sakit

Pengunjung Rumah Sakit

Lingkungan Rumah Sakit

RUANG LINGKUP PEDOMAN


Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran K3
RS meliputi bencana baik internal maupun eksternal yang sesuai dengan
standart yang di tetapkan oleh peraturan pemerintah dan kebijakan
rumah sakit.,

1.5

BATASAN PEDOMAN

PENGERTIAN
Bencana adalah rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam atau
manusia yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia,
kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana dan
prasarana umum serta menimbulkan gangguan tata kehidupan dan
penghidupan, yang memerlukan pertolongan dan bantuan secara
khusus. Korban masal adalah banyaknya korban dengan penyebab
kejadian yang sama, sehingga membutuhkan pertolongan medis yang
lebih memadai dalam hal, fasilitas maupun tenaga sehingga dapat
memberikan pelayanan yang cepat dan tepat.

KATEGORI BENCANA

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

o Bencana Internal
Bencana internal adalah bencana yang terjadi di dalam rumah
sakit dan bencana eksternal yang berdampak di dalam rumah
sakit. Potensi jenis bencana (Hazard) yang mungkin terjadi di RS
KARYA MEDIKA II adalah sebagai berikut :
1. Kebakaran
Sumber kebakaran dapat berasal dari dalam maupun luar
gedung. Detail respon penanganannya ada pada Bab
Penanganan Bencana Internal Kebakaran.
2. Gempa Bumi
Lokasi kepulauan di Indonesia berada pada area lempengan
bumi di bawah laut yang sewaktu-waktu dapat bergerak dan
menghasilkan gempa dan kepulauan di Indonesia memiliki
banyak gunung berapi yang sangat memungkinkan terjadinya
gempa bumi. Dampak terjadinya gempa ini dapat juga terjadi
di Bekasi dan sekitarnya yang akan merupakan bencana
external namun bila dampak gempa pada areal bangunan di
RS maka hal ini merupakan situasi bencana yang terjadi di
RS. Detail respon penanganannya ada pada Bab Penanganan
Bencana Internal - Gempa Bumi.
3. Kebocoran Gas
Kebocoran gas dapat terjadi pada tabung-tabung besar gas
maupun sentral gas rumah sakit yang dapat disebabkan
karena adanya kecelakaan maupun kerusakan dan sabotase.
Tabung-tabung gas maupun salurannya itu sendiri merupakan
sumber dari kebocoran. Detail respon penanganannya ada
pada bab Penanganan Bencana Internal Kebocoran Gas.
4. Ledakan
Ledakan dapat dihasilkan dari kebocoran gas maupun karena
ledakan bahan berbahaya yang ada si RS. Detail respon
penanganannya ada pada bab Penanganan Bencana Internal
Ledakan.
5. Penyakit Menular

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

Penyakit menular yang potensial terjadi di Bekasi adalah diare,


demam berdarah, serta new emerging diseases akibat
pembauran peradaban global.
o Bencana Eksternal
Dampak dari bencana tersebut yang datang tanpa diduga
mengakibatkan kerugian berupa korban jiwa, kerusakan sarana
dan prasarana pendukung serta terjadinya evakuasi dalam jumlah
yang cukup besar. Oleh karena itu upaya penanggulangan
bencana dan penanganan korban perlu dilakukan pada tahapan
sebelum, saat kejadian dan sesudah kejadian bencana.
Apabila terjadi bencana eksternal, maka sistem penanggulangan
bencana di rumah sakit diaktifkan, antara lain :
1. Korban hidup dimasukkan melalui satu pintu di IGD tetap
melalui

prosedur

Triage,

sedangkan

korban

meninggal

langsung dibawa ke kamar jenazah.


2. Petugas keamanan bersama dengan kepolisian mengatur alur
lalu lintas di sekitar rumah sakit.
3. Pengunjung diarahkan ke pusat informasi untuk mengetahui
informasi korban.
4. Petugas tambahan

akan

dikontak

oleh

masing-masing

penanggungjawab.
5. Tidak seorang pun dari petugas dapat meninggalkan rumah
sakit pada situasi penanganan korban bencana tanpa ijin.
6. Semua media/informasi kepada pers hanya melalui Direktur
Utama RS, ruang pertemuan dipersiapkan untuk jumpa pers.
7. Form pemeriksaan, form permintaan obat, alat habis pakai dan
kebutuhan lainnya menggunakan form yang ada. Gudang dan
farmasi dibuka sesuai keperluan untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan.
8. Pasien non keadaan bahaya darurat yang berada di triage IGD
tetap mendapatkan pelayanan sesuai dengan prosedur yang
berlaku.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

9. Komunikasi dan informasi untuk situasi yang terbaru akan


disampaikan pada keluarga atau yang berkepentingan.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

BAB II
ORGANISASI DAN TATA KERJA

3.1

Kedudukan Rumah Sakit terhadap Supra Struktural


Pada saat terjadi bencana eksternal rumah sakit, maka rumah sakit
bersikap, siap siaga atau standby. Supra struktural adalah dinas
kesehatan terkait, hubungan terjalin melalui garis koordinasi dengan
Direktur rumah sakit. Direktur memberikan instruksi kepada Tim keadaan
bahaya darurat rumah sakit untuk langkah-langkah lebih lanjut, sesuai
hasil koordinasi dengan pihak supra struktural. Tim keadaan bahaya
darurat memberikan laporan dan rekomendasi atas pelaksanaan
instruksi direktur dan kondisi atau situasi di lapangan. Tim keadaan
bahaya darurat juga dapat berkoordinasi dengan pihak lain yang terkait
seperti, ambulance 118, RS lain, PMI, Puskesmas guna memperlancar
pelaksanaan penanganan bencana.

3.2

Kedudukan Tim Keadaan bahaya darurat dalam organisasi Rumah Sakit


Tim keadaan bahaya darurat rumah sakit terdiri dari Pimpinan keadaan
bahaya darurat dan Tim pendukung. Pimpinan keadaan bahaya darurat
rumah sakit berada langsung dibawah garis komando Direktur rumah
sakit,

dan

keadaan

bertanggungjawab

bahaya

melaksanakan

darurat

atas

kepada

penanggulangan

Keadaan bahaya darurat

pelaksanaan
Direktur

penanggulangan

rumah

sakit.

keadaan bahaya darurat

dibantu

oleh

Dalam
Tim

tim pendukung.

Pengorganisasian Tim Keadaan bahaya darurat Rumah Sakit, yang


mana anggotanya terdiri dari setiap unit kerja terkait dengan tugas,
fungsi dan wewenangnya masing-masing, sebagai berikut:

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

3.2.1 Pimpinan Keadaan bahaya darurat

Pada saat jam dinas kantor yang bertindak sebagai pimpinan


keadaan bahaya darurat adalah Direktur Pelayanan medis dan
keperawatan rumah sakit dan di luar jam kantor yang bertindak
sebagai pimpinan keadaan bahaya darurat adalah Kepala Jaga
IGD yang bertugas saat itu sebagai pengganti direktur rumah
sakit. Berwenang :

Menentukan keadaan bencana

Menentukan tingkat siaga

Memobilisasi Tenaga yang ada

Mengkoordinasi segenap unsur di rumah sakit yang


bertugas menanggulangi bencana.

Berkoordinasi dengan unsur dari luar rumah sakit bilamana


dipandang perlu setelah berkonsultasi dengan direktur Rumah
Sakit.

3.2.2

Tim Evakuasi
Terdiri dari perawat, petugas kebersihan, petugas administrasi dan
keuangan, Bertugas :

Membantu pasien dan keluarganya untuk keluar dari gedung


rumah sakit menyelamatkan diri.

3.2.3

Menyelamatkan harta benda milik rumah sakit dan pasien.

Tim Keamanan
Adalah Satuan Pengamanan dari rumah sakit. Bertugas :

Mengamankan lokasi bencana dari orang-orang yang tidak


bertanggungjawab

Mengamankan jalur lalu lintas ambulance, tenaga medis,


dokumen-dokumen dan harta benda.

Mengamankan jalur transportasi intern rumah sakit

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

3.2.4 Tim Medis


Dipimpin oleh dokter IGD yang bertugas saat itu dan dibantu oleh
perawat IGD.
Berwenang :

Menentukan kondisi kegawatdarurat korban

Menentukan penanganan lanjut untuk para korban, misalnya


dirujuk atau tidak

Menentukan tempat rujukan yang tepat buat


korban

Bertugas :
Memberikan pertolongan medis pertama kepada korban bencana
3.2.5 Tim Logistik Umum
Adalah petugas dapur dan laundry
Bertugas : Melakukan perencanaan dan menyediakan logistik
umum yang dibutuhkan oleh petugas maupun korban bencana
yang dibutuhkan saat itu.
3.2.6 Tim Penunjang
Tim Penunjang ini terdiri dari :

Penunjang

medik yaitu radiologi, farmasi, laboratorium,

ambulance, rekam medis yang bertugas memberikan bantuan


penunjang medis sesuai bidangnya.

Penunjang Umum yaitu petugas tekhnik akan memberikan


bantuan penunjang yang sifatnya umum seperti mengamanan
kelistrikan agar tetap berfungsi dan dapat memberikan tenaga
listrik sesuai kebutuhan dan bantuan komunikasi, serta
bantuan umum yang lain yang dibutuhkan saat bencana.

3.2.7

Tim Khusus

Adalah petugas / perawat di Kamar Operasi

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

- Bila ada operasi yang sedang berlangsung dan operasi harus


diselesaikan maka operasi

diselesaikan

dan

ditutup

terjamin

dengan

sementara, maka petugas kamar operasi


Bertugas :

Mengupayakan

tenaga

listrik

tetap

berkoordinasi petugas tekhnik.

Berkoordinasi dengan pimpinan keadaan bahaya darurat untuk


kondisi dan situasi bencana.

Petugas Kamar Operasi berwenang menghentikan kegiatan


operasi
dan

mengevakuasi

pasien

bilamana

situasi

bencana

tidak memungkinkan lagi.


- Bila tidak ada operasi atau operasi baru dimulai maka operasi
dihentikan dan dilakukan evakuasi pasien oleh petugas kamar
operasi sesuai ketentuan.
- Bila Korban bencana dari luar Rumah Sakit, maka perawat Kamar
Operasi berperan menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan
operasi, baik kamar operasi yang akan digunakan, tim operasi
yaitu dokter anastesi dan dokter operator, dll. Bagi korban yang
memerlukan tindakan operasi segera.
- Perawat OK dapat dalam keadaan standby di tempat atau bila
diperlukan perawat OK dapat menjemput korban yang telah tiba di
IGD rumah sakit.

3.3

URAIAN TUGAS:
Uraian tugas yang dimaksud disini adalah tugas dan tanggung jawab
yang dimiliki oleh setiap personal dalam sistem penanganan bencana di
rumah sakit sesuai dengan struktur yang telah disusun. Struktur ini
diaktifkan saat terjadinya situasi bencana baik di dalam rumah sakit
maupun penanganan korban bencana dari luar rumah sakit.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

3.3.1

KOMANDAN RUMAH SAKIT

(Direktur Rumah sakit)


Bertanggung Jawab Kepada

: Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi

Bertanggung Jawab Untuk :

Mengatur

pengelolaan

penanganan

bencana dan korban bencana di rumah


sakit
TUGAS:
1.

Memberi arahan kepada Komandan Bencana untuk pengelolaan


penanganan korban

2.

Melaporkan

proses

penanganan

bencana

kepada

pihak

Departemen Kesehatan maupun Pemerintah Daerah Kabupaten


3.

Memberikan briefing kepada komandan bencana, ketua medical


support dan ketua management support

4.

Memberikan informasi terkait proses penangan bencana kepada


pihak lain di luar RS

5.

Mengkoordinasikan permintaan bantuan dalam negeri dan luar


negeri

6.
3.3.2

Melakukan evaluasi pelaksanaan pelayanan bencana rumah sakit


KOMANDAN BENCANA

(Direktur Pelayanan Medik dan keperawatan)


Bertanggung Jawab Kepada

: Komandan Rumah sakit

Bertanggung jawab Untuk : Mengkoordinir pelaksanaan pelayanan


medical support dan management support

TUGAS:
1.

Merencanakan dan mengendalikan pelayanan medical support


dan management support

2.

Memberikan laporan kepada Komandan Rumah Sakit terkait


proses tersebut diatas.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

3.

Menindaklanjuti upaya permintaan bantuan oleh Komandan


Rumah Sakit

4.

Memastikan

proses

penanganan

korban

dan

sumber

pendukungnya terlaksana dan tersedia sesuai kebutuhan.


5.

Melakukan koordinasi kerja kepada instansi lain dan rumah sakit


jejaring

3.3.3

KETUA MANAGEMENT SUPPORT

(Direktur SDM & Keuangan )


Bertanggung Jawab Kepada
Bertanggung

Jawab

Untuk:

: Komandan Bencana
Memastikan

pendukung

ketersediaan
untuk

sumber

pelaksanaan

penanganan korban
TUGAS:
1.

Mengkoordinir

penyediaan

logistik,

SDM,

keuangan

dan

penunjang medik
2.

Menindaklanjuti koordinasi kerja ke instansi luar yang dilakukan


oleh Komandan Bencana sehubungan dengan penyediaan
sumber pendukung penanganan medis.

3.

Melaporkan pelaksanaan proses penyiapan, kesiapan sumber


pendukung dan sumber bantuan yang diterima kepada Komandan
Bencana

3.3.4

KETUA MEDICAL SUPPORT

(Kepala IGD)
Bertanggung Jawab Kepada
Bertanggung Jawab Untuk

: Komando Bencana
: Pengendalian penanganan korban

bencana hidup dan meninggal


TUGAS
1.

Mengendalikan penanganan korban hidup

2.

Mengendalikan penanganan korban meninggal

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

3.

Mengkoordinasikan pelaksanaan tugas tim medik dan forensik

4.

Melaporkan proses penanganan korban hidup dan korban


meninggal kepada Komandan Bencana

5.

Mengkoordinir proses evakuasi korban ke luar RS

6.

Memberikan briefing kepada tim pra-hospital dan intra hospital

7.

Menyampaikan laporan proses pelaksanaan penanganan korban


dan evakuasi korban (data hasil kegiatan) kepada komandan
bencana

3.4 TIM PRA HOSPITAL


Bertanggung jawab kepada : Ketua Medical Support
Bertanggung jawab untuk : Melakukan pelayanan pra hospital dan evakuasi
korban ke rumah sakit
TUGAS:
1. Melaksanakan Triage dan RHA (Rapid Health Assessment)
2. Menentukan prioritas dan melakukan evakuasi
3. Melaporkan hasil RHA:
4. Jumlah korban Kondisi korban
5. Kondisi lingkungan sekitar
6. Kepada Ketua Medical Support
3.4.1

KETUA TIM PEMADAM KEBAKARAN

TUGAS :
1. Membuat perencanaan dan melengkapi sarana pemadam kebakaran
di setiap lokasi strategis di lingkungan RS KARYA MEDIKA II.
2. Membuat perencanaan dan melakukan latihan pemadam kebakaran
dengan APAR maupun Hydran secara teratur berkoordinasi dengan
Diklat dan Team Penanggulangan Bencana lainnya.
3. Mengirim anggotanya untuk mendapatkan pelatihan pemadaman dari
pihak pemadam kebakaran kota.
4. Segera bergerak ke tempat kejadian begitu menerima informasi
adanya kebakaran.
Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

5. Melakukan tindakan pemadaman dengan APAR bila memungkinkan.


6. Memberikan informasi tentang situasi kebakaran kepada penanggung
jawab area terdekat dengan lokasi dan bagian informasi sehingga
setiap perkembangan bisa dipantau oleh setiap inut di rumah sakit.
7. Melakukan pemadaman dengan menggunakan Hydran, bila api tidak
bisa diatasi dengan APAR.
8. Memberikan keputusan untuk melakukan evakuasi bila situasi tidak
bisa

ditangani

dan

menghubungi

pihak

Pemadam

Kebakaran

Kabupaten.
9. Bila team sudah datang, ikut membantu team BPBD/Kabupaten dalam
melakukan tugas pemadaman.

3.5 TIM INTRA HOSPITAL


Bertanggung jawab kepada :

Ketua Medical Support

Bertanggung jawab untuk :

Melakukan

penanganan

di

dalam

rumah sakit
TUGAS:
1. Melakukan Triage dan RHA
2. Menentukan prioritas penanganan dan melakukan evakuasi ke IGD
3. Menentukan jumlah tempat tidur dan ruangan yang diperlukan pasca
life saving
4. Melaporkan hasil penanganan kepada ketua medical support

3.5.1

KETUA TIM AMBULANCE (EVAKUASI)

TUGAS :
1. Merencanakan system evakuasi dan meyiapkan perlengkapan alat-alat
evakuasi disetiap ruangan dan lokasi strategis tertentu di rumah sakit
untuk memudahkan proses evakuasi.
Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

2. Membuat mapping jalur evakuasi berkoordinasi dengan engeneering


dan memasang jalur evakuasi di lokasi strategis di setiap ruangan
perawatan.
3. Memantau kelayakan jalur dan bila diperlukan dalam hal pemeliharaan
berkoordinasi dengan petugas engeneering.
4. Melakukan sosialisasi jalur evakuasi kepada seluruh staf dan
karyawan.
5. Menyusun rencana pelatihan evakuasi kepada seluruh karyawan
berkoordinasi dengan bagian Diklat.
6. Melakukan latihan evakuasi secara rutin dan teratur, berkoordinasi
dengan tim penanggulangan bencana lainnya.
7. Mengkoordinasikan proses evakuasi pasien dari ruang perawatan ke
master point.
8. Mengkoordinasikan dengan team IGD untuk meyiapkan peralatan
resusitasi dan peralatan perawatan pasien di lokasi master point.
3.5.2

KETUA TIM KEUANGAN

(Bagian Keuangan)
Bertanggung Jawab Kepada :

Ketua Management Support

Bertanggung Jawab Untuk :

Pengelolaan

sumber

dana

dari

keuangan
PT.

baik

Medika

dari

Sarana

Traliansia maupun donatur


TUGAS:
1. Merencanakan, memobiliasi dan mengevaluasi pengelolaan keuangan
untuk menunjang keperluan penanganan bencana.
2. Melakukan koordinasi kerja dengan tim perencanaan, tim pengadaan
terkait pengelolaan dana bencana.
3. Melaporkan pengelolaan keuangan baik bersumber dari PT. Medika
Sarana Traliansia maupun donatur kepada Ketua Management Support
dan Komandan Bencana
3.5.3

KETUA TIM SDM

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

(Bagian SDM)
BertanggungJawab Kepada :

Ketua Management Support

Bertanggung Jawab Untuk : Penyediaan SDM dari karyawan RS maupun


relawan sesuai kualifikasi yang diperlukan
TUGAS:
1. Mengkoordinir penyediaan SDM di RS
2. Melakukan koordinasi dengan unit external dalam upaya pemenuhan
kebutuhan tenaga.
3. Mengkoordinir proses seleksi relawan berdasarkan keahlian dan
kebutuhan, serta merencanakan penugasannya.
4. Mengkoordinir pendokumentasian semua relawan yang bekerja di RS
dan mengelola proses penugasannya
5. Melaporkan kesiapan tenaga kepada Ketua Management Support
3.5.4

KETUA TIM LOGISTIK DAN OPERASIONAL

(Bidang Penunjang Medik)


Bertanggung Jawab Kepada :

Ketua Management Support

Bertanggung jawab Untuk :

Penyediaan

informasi

dan

logistik,

penyediaan

operasional

penanganan

bencana
TUGAS:
1. Merencanakan

dan

mengadakan

seluruh

kebutuhan

dalam

penanganan bencana
2. Mengkoordinir penyediaan dan pengelolaan logistik
3. Menindaklanjuti bantuan logistik dari instansi terkait dan donatur
4. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan logistik
5. Memastikan penyediaan sarana transportasi (termasuk ambulance),
kebersihan lingkungan dan keamanan rumah sakit serta ketertiban lalu
lintas.
6. Mengkoordinir pengelolaan jenazah di kamar jenazah
7. Memastikan berfungsinya gedung dan alat serta pemeliharaannya
melaksanakan
Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

8. Menyelesaikan urusan administrasi bantuan

3.5.5

KETUA TIM INFORMASI

TUGAS:
1. Memberikan informasi kepada semua team Penanggulangan Bencana
bila mendapatkan informasi kebakaran di lingkungan rumah sakit.
2. Memberikan informasi kepada semua penghuni rumah sakit tentang
adanya kebakaran.
3. Memberikan informasi yang sifatnya arahan untuk mencegah kepanikan
saat terjadi kebakaran dan memberikan arahan mengenai jalur evakuasi.
4. Meneruskan sistem informasi tentang proses pemadaman kepada
seluruh unit di rumah sakit.
5. Bila diperlukan bantuannya menghubungi pihak BPBD/Kabupaten.
6. Melakukan pendataan tentang kerugian yang timbul akibat kebakaran
tersebut baik berupa personal maupun material dan meyediakan
informasi tentang penanganan korban atau pasien pasca kebakaran,
baik yang bisa dirawat sendiri oleh RS KARYA MEDIKA II maupun yang
dirujuk ke rumah sakit lain secara lengkap menyangkut identitas pasien,
alamat dan rumah sakit rujukan.

3.5.6

KETUA TIM JENAZAH

Fungsi:
-

Tempat penampungan, penyimpanan korban meninggal atau body part


serta proses pengeluarannya.

Tempat identifikasi jenazah.

Tempat penyimpanan barang bukti.

TUGAS:

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

1. Pada eksternal keadaan bahaya darurat penekanan pada korban


masuk terutama ketepatan data korban sehingga identifikasi lebih
cepat.
2. Menunjang

pelayanan

medis

dalam

mengungkapkan

kejadjan

sehingga penanganan pelayanan medis lebih tepat (korban bencana


mekanikal/ biologis)
3. Koordinasi dengan jajaran terkait (tim DVI) terutama dalam identifikasi
4. Menyiapkan segala hal yang terkait dengan evakuasi jenazah baik
dalam/ luar negeri.
5. Menjaga barang bukti.
6. Membangun komunikasi dengan keluarga korban terkait identifikasi.
7. Membuat laporan yang informeninggalf terutama pada kasus internal
keadaan bahaya darurat yang melibatkan korban dari pasien dan
petugas. (Untuk melihat gambaran proses kejadian penyelamatan oleh
petugas rumah sakit dalam upaya mengurangi korban meninggal).
3.5.7

KETUA TIM PENGAMANAN

TUGAS:
1.

Mengamankan lokasi kebakaran dari pasien atau penunggu pasien


sehingga team pemadam bisa bertugas dengan baik.

2.

Mengamankan

jalur

evakuasi

agar

selalu

terbuka

untuk

dipergunakan

selama

terjadi

memperlancar proses evakuasi.


3.

Mengamankan

lift

agar

tidak

kebakaran.
4.

Mengamankan fasilitas gas medic (Oksigen dan Nitrogen) dengan


menutup akses gas sentral untuk mencegah bahaya ledakan gas
pada kondisi kebakaran.

5.

Menjamin tersediannya sarana gas medic di lokasi master point


pada saat kebakaran.

6.

Mengamankan Rumah sakit secara keseluruhan dari orang-orang


yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan kekacauan
situasi saat terjadi kebakaran.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

7.

Mengalur alur lalu-lintas untuk memudahkan akses kendaraan


pemadam kebakaran dan arus evakuasi keluar rumah sakit.

3.5.8

KETUA TIM MEDIS DAN PENUNJANG

(Bidang Pelayanan Medis)


Bertanggung jawab kepada :

Ketua Medical Support

Bertanggung jawab untuk : Penyediaan


medik,

dan

pelaksanaan

keperawatan,

pelayanan

pengunjung

serta

informasi tentang keberadaan korban hidup


selama di RS.
TUGAS :
1. Mengkordinir kesiapan tim medis, keperawatan dan penunjang.
2. Menjamin kesiapan operasional penunjang dan pendukung pelayanan
korban bencana.
3. Menyiapkan dukungan konseling dan surveilance pasca bencana.
4. Menyiapkan rencana mobilisasi pasien keluar RS.
5. Melaporkan pelaksanaan pelayanan medik dan penunjang kepada ketua
management support.
3.5 POS PENANGANAN BENCANA
Pengadaan
pengelolaan

pos

maupun

penanganan
penampungan

bencana
beberapa

diperlukan

untuk

kegiatan

dalam

mendukung penanganan korban bencana sehingga penanganan dan


pengelolaannya dapat lebih terkoordinasi dan terarah.
PENGALIHAN RUANGAN SEBAGAI POSKO
POS
POS KOMANDO

LOKASI
Sudah

POS PENGOLAHAN DATA

memanfaatkan ruang KIPA


Ruang MR di lantai 1 sebelah lobby

disiapkan

dengan

informasi

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

POS INFORMASI
Ruang FO di depan
POS LOGISTIK DAN DONASI Ruang logistik di belakang iGD
POS
PENANGANAN Ruang Jenazah lantai 1 belakang LAB
JENAZAH
POS RELAWAN

Depan ruangan ESWL lantai 1

3.5.1 POS KOMANDO


Tempat : Ruangan KIPA lantai 1
Fungsi :
1. Pusat koordinasi dan komunikasi baik dengan internal maupun
external unit yang dipimpin oleh Komandan Bencana. Area ini
merupakan area khusus, dimana hanya petugas tertentu yang
boleh masuk.
2. Wadah yang melibatkan semua unsur pimpinan pengambil
keputusan dan mengendalikan bencana.
3. Tempat

penyimpanan

keadaan

bahaya

darurat

kit,

radio

komunikasi dan peta-peta yang diperlukan untuk koordinasi


maupun pengambilan keputusan
Lingkup kerja:
1. Pada bencana yang bersifat ekternal tetapi mengakibatkan
gangguan

infrastruktur

(gangguan

ekonom)

maka

lingkup

kerjanya adalah menyelesaikan masalah pelayanan medis dan


upaya untuk dapat mengatasi masalah ekonomi dan SDM,
dengan melibatkan koordinasi dan kerjasama lintas program dan
lintas sektoral.
2. Pada keadaan bahaya darurat yang bersifat internal keadaan
bahaya darurat dimana bencana terjadi didalam rumah sakit,
maka lingkup kerjanya adalah sebatas menyelesaikan masalah
pelayanan medis dan penunjangnya.
3. Pemegang kendali komunikasi medik dan non medik.
Fasilitas:
1. Telepon, Fax
2. Komputer

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

3. Peta Area berkumpul


4. Peta ruangan perawatan pasca emergency
5. Peta Instansi Pelayanan Kesehatan di Bekasi
6. Peta area Hazard di rumah sakit
7. White Board
8. Meja Pertemuan
9. Radio Komunikasi
10. Emergency kit medis dan non medis
3.5.2 POS PENGOLAHAN DATA
Tempat

: Ruang MR di lantai 1 sebelah lobby informasi

Fungsi

: Tempat penerimaan dan pengolahan data yang terkait


dengan penanganan bencana.

Lingkup kerja :
1.

Mengumpulkan seluruh data yang terkait dengan bencana.

2.

Melakukan koordinasi dengan pos-pos penanganan bencana


lainnya dan unit pelayanan terkait baik internal maupun eksternal.

3.

Mengolah data menjadi informasi yang terbaru untuk menunjang


keputusan komandan bencana.

4.

Melakukan pengarsipan seluruh data dan informasi dalam bentuk


file sehingga sewaktu-waktu bisa dibuka bila diperlukan.

5.

Mengirimkan data ke pusat informasi dan ke Komandan Rumah


Sakit sebagai bahan press conference dan informasi ke pihak
external.

Fasilitas:
1. Telepon
2. Komputer, internet
3. Radio komunikasi

3.5.3 POS INFORMASI


Tempat: Ruangan FO lantai 1
Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

Fungsi:
Tempat tersedianya informasi untuk data korban, data kebutuhan
relawan, data perencanaan kebutuhan obat, alat medis, non medis,
barang habis pakai medis/non medis, perbaikan gedung, data donatur.
Informasi yang disiapkan di pos ini didapatkan dari pos pengolahan data.
Lingkup Kerja:
1. Memberikan informasi data korban, data kebutuhan relawan, data
perencanaan kebutuhan obat, alat medis, non medis, barang habis
pakai medis/non medis, perbaikan gedung, data donatur.
2. Mengexpose hanya data korban saja, baik korban sedang dirawat,
korban hilang, korban meninggal, hasil identifikasi jenazah, korban
yang telah dievakuasi ke luar RS.
Fasilitas :
1. Telepon (lokal, SLI)
2. Komputer, internet
3. Papan informasi

3.5.4 POS LOGISTIK DAN DONASI


Tempat : Ruangan Logistik belakang IGD lantai 1
Fungsi:
1. Menerima dan mendistribusikan semua bantuan logistik dan uang
dari pihak luar dalam menunjang operasional penanganan bencana.
2. Tempat penyimpanan sementara barang sumbangan, selanjutnya
didistribusikan ke bagian yang bertanggung jawab
Lingkup kerja.
1. Menerima bantuan/sumbangan logistic dan obat untuk menunjang
pelayanan medis.
2. Mengkoordinasikan

kepada

kepala

instalasi

terkait

tentang

sumbangan yang diterima.


3. Membuat laporan penerimaan bantuan dan pendistribusiannya.
Fasilitas:
Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

1. Komputer
2. Buku pencatatan dan pelaporan
3.5.5 POS PENANGANAN JENAZAH
Tempat: Ruangan jenasah belakang LAB lantai 1
Fungsi:
1.

Tempat

penampungan

sementara

korban

meninggal

dan

selanjutnya bisa dikirim ke ruang jenazah RSUP


2.

Tempat identifikasi jenazah.

3.

Tempat penyimpanan barang bukti.

Lingkup kerja:
1.

Pada eksternal keadaan bahaya darurat penekanan pada korban


masuk terutama ketepatan data korban sehingga identifikasi lebih
cepat.

2.

Menunjang pelayanan medis dalam mengungkapkan kejadian


sehingga penanganan pelayanan medis lebih tepat (korban
bencana mekanikai/ biologis)

3.

Koordinasi dengan jajaran terkait (tim DVI) terutama dalam


identifikasi

4.

Menyiapkan segala hal yang terkait dengan evakuasi jenazah baik


dalam/ luar negeri.

5.

Menjaga barang bukti.

6.

Membangun

komunikasi

dengan

keluarga

korban

terkait

identifikasi.
7.

Membuat laporan yang informeninggalf terutama pada kasus


internal keadaan bahaya darurat yang melibatkan korban dari
pasien dan petugas. (untuk melihat gambaran proses kejadian
penyelamatan oleh petugas rumah sakit dalam upaya mengurangi
korban meninggal).

Fasilitas:
1.

Komputer, internet

2.

Telepon

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

3.

Radio komunikasi

4.

Papan informasi

3.5.6 POS RELAWAN


Tempat: Depan Ruang ESWL lantai 1
Fungsi:
1. Tempat pendaftaran dan pengaturan tenaga relawan, baik orang
awam, awam khusus maupun tenaga profesional.
2. Tempat informasi relawan.
Lingkup kerja:
1. Menyiapkan

informasi

yang

dibutuhkan,

yang

sesuai

kompetensinya.
2. Mengatur schedule kerja sesuai tempat dan waktu yang diperlukan.
3. Menyiapkan ID card relawan.
4. Memberikan penjelasan prosedur tetap sesuai keinginan rumah
sakit.
Fasilitas :
1. Komputer, telepon, internet
2. Radio komunikasi
3. Buku pencatatan.
3.6

PENGOSONGAN RUANGAN
Pada keadaan bencana baik internal maupun eksternal, setelah
penanganan emergency korban di Triage IRD maka ruang perawatan
untuk melokalisasi korban yang ada diarahkan ke Ruangan lantai I.

PENGOSONGAN RUANGAN BILA TERJADI BENCANA INTERNAL


RUANG YANG TERJADI PENGOSONGAN

RUANGAN/

TEMPAT

BENCANA
Lantai I

PINDAH PASIEN SEMENTARA


Pasien dipindahkan ke areal Parkir depan

Lantai II

lobby
Pasien dipindahkan ke areal Parkir depan

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

lobby
Pasien dipindahkan ke areal Parkir depan

Lantai III

lobby.
3.6.1 RUANGAN DAN BERKUMPUL TERBUKA
Area tempat berkumpul (titik aman berkumpul) saat terjadinya
bencana internal bagi pasien, petugas dan pengunjung/keluarga pasien,
serta tempat untuk melaksanakan korban.

3.6.1.1 AREA BERKUMPUL TERBUKA (TITIK AMAN BERKUMPUL)


WILAYAH SEKITAR RS
AREA TERBUKA
Sebelah Barat gedung
RS
Sebelah Timur gedung
RS

3.6.1.2 PETA AREA BERKUMPUL (TITIK AMAN BERKUMPUL)


Untuk peta RS KARYA MEDIKA II masing-masing lantai dapat dilihat
pada lampiran.
3.6.1.3 RUANGAN BERKUMPUL
Ruangan

yang

dipilih

untuk

dimanfaatkan

sebagai

tempat

penampungan pasien sementara adalah ruangan aman terdekat


dengan kejadian.
3.6.1.4 ALUR EVAKUASI PASIEN PADA BENCANA

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

Alur evakuasi korban bencana baik internal maupun eksternal


selanjutnya akan dibuat berdasarkakn jenis bencana (kontijensi)

3.7 AKTIFASI SISTEM BENCANA


INFORMASI KEADAAN BENCANA

KOMANDAN BENCANA

TIM PENANGGULANGAN BENCANA


MELAKUKAN PENILAIAN TEMPAT KEJADIAN

AKTIFKAN SISTEM
PENANGGULANGAN BENCANA

TIDAK PERLU DIAKTIFKAN


PENANGGULANGAN BENCANA

AKTIFKAN POSKO
PENANGGULANGAN BENCANA

EVALUASI PROSES
PENANGGULANGAN YANG SUDAH
DILAKUKAN

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

3.8 GARIS KOMUNIKASI


Garis komunikasi yang dilaksanakan pada situasi bencana adalah:
1. Aktivasi Sistem Penanganan Bencana RS.
2. Mobilisasi tim medik
3. Mobilisasi tim manajemen
4. Aktifasi Pos Komando
5. Penggunaan media komunikasi yang ada, yaitu radio medik, operator
RS
6. Peran dan tanggung jawab inti pada kartu instruksi kerja, yang
dilaksanakan oleh tiap orang sewaktu-waktu sesuai jabatannya
7. Tetap memberikan informasi yang up to date yang telah disetujui oleh
Komandan Rumah Sakit.
Agar tim penanggulangan bencana dikenal oleh unit internal maupun
eksternal, maka semua yang terlibat langsung memakai identitas berupa
rompi warna hijau untuk personal sebagai berikut:
1.

Komandan RS

2.

Komandan bencana

3.

Ketua medical support

4.

Ketua manajemen support

5.

Tim medis

6.

Ketua pos

7.

Ketua tim dibawah manajemen support

3.9 PENGATURAN LALU LINTAS


Bencana Eksternal
Pengaturan lalu lintas pada bencana eksternal dilakukan sebagai berikut:
3.9.1 Kendaraan korban masuk melalui pintu masuk utama rumah sakit

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

3.9.2 Pintu masuk dibuka dan dijaga oleh satpam rumah sakit bekerja
sama dengan kepolisian, untuk kemudian diarahkan menuju IGD.
3.9.3 Di lobby Triage petugas satpam dan kepolisian mengatur
ketertiban dan

kelancaran proses penurunan korban

dari

kendaraan, serta mengarahkah kendaraan untuk keluar rumah


sakit.
3.9.4 Korban diterima oleh tim medis yang ada di IGD, untuk
selanjutnya dilakukan pertolongan korban.
3.9.5 Kendaraan pengangkut pasien yang bukan korban bencana,
diarahkan menuju FO dan parkir disebelah timur RS.
3.9.6 Kendaraan petugas dan pengunjung masuk melalui pintu utama
RS.
Bencana Internal
Pengaturan lalu lintas pada bencana internal dilakukan sesuai dengan
lokasi bencana. Seluruh kendaraan yang memasuki area rumah sakit
melalui pintu masuk utama dan yang diutamakan kendaraan PMK,
Ambulance dan Polisi dengan tidak menghambat pasien yang akan
berobat ke RS KARYA MEDIKA II. Pengaturan kendaraan keluar masuk
rumah sakit selanjutnya diatur sebagai berikut :
AREA BENCANA
Internal RS

AKSES MASUK
- Tim keadaan
darurat

masuk

AKSES KELUAR
bahaya - Tim keadaan bahaya
melalui

darurat keluar melalui

Tangga menuju ketempat

Tangga. Akses keluar

kejadian

sama melalui gerbang

- Pengunjung

masuk

utama RS.

melalui lobby RS dan


parkir LOBBY RS.

3.10

PERAN INSTANSI JEJARING

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

Pada situasi bencana suatu rumah sakit diharapkan dapat


menyelenggarakan pelayanan dan mengatasi semua situasi terkait
dengan pertolongan korban baik ketersediaan peralatan medik atau
masalah teknis lainnya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
sehingga pelayanan dapat diberikan dengan sebaik-baiknya, serta
dengan seminimal mungkin adanya korban meninggal. Dalam situasi
demikian, maka kemampuan rumah sakit diuji untuk mampu mengatasi
semua kejadian/korban yang ada. Sangatlah tidak mungkin jika semua
hal tersebut dibebankan kepada hanya 1 (satu) rumah sakit, dalam hal
ini

RS

KARYA MEDIKA II,

sehingga

sangatlah

penting

untuk

mengembangkan kerjasama dengan instansi dan rumah sakit jejaring


sebagai upaya memperluas dan meningkatkan peran aktif sektor/instansi
lain

untuk

bersama-sama

memberikan

bantuan

sesuai

dengan

kemampuan masing-masing. Instansi jejaring yang diharapkan perannya


pada situasi bencana, antara lain:
1. Dinas Pemadam Kebakaran : Bantuan Pemadam Kebakaran
diperlukan apabila bencana yang terjadi tidak dapat diatasi dengan
hanya memakai APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan Hydran
yang ada di RS KARYA MEDIKA II. Kepala security rumah sakit
menghubungi no.telp. 113 untuk meminta bantuan petugas dari
Dinas Pemadam Kebakaran. Selain untuk tujuan memadamkan api,
membantu proses evakuasi korban.
2. Palang Merah Indonesia : PMI diperlukan dalam rangka membantu
proses Triage dari evakuasi, serta penggunaan fasilitas yang
dimilikinya.
3. Kepolisian : Pengaturan keamanan, ketertiban dan lalu lintas
menuju dan keluar RS KARYA MEDIKA II, khususnya akses menuju
ke IGD pada saat kejadian bencana.
4. Satkorlak : Kejadian bencana dikoordinasikan kepada Satkorlak
Kabupaten Bekasi sebagai upaya antisipasi diperlukannya bantuan
logistik, makanan, dsb.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

5. PLN : Kejadian bencana memerlukan penambahan daya listrik


termasuk penambahan titik sambungan listrik di unit-unit yang
diperlukan agar pelayanan yang diberikan tetap optimal.
6. TELKOM : Tambahan sambungan telepon dan bantuan sambungan
telepon internasional bebas biaya sangat diperlukan pada saat
kejadian bencana, terutama untuk membantu korban/keluarga
warga negara asing yang ingin berhubungan dengan negaranya.
Sambungan telepon diperlukan juga untuk membuka akses internet
guna memberikan informasi tentang bencana yang terjadi.
7. PDAM : Kontinuitas pengadaan air bersih sangat diperlukan untuk
operasional penanganan korban.
8. Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi : Laporan kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten Bekasi menjadi prioritas pertama pada saat
bencana. Hal ini menjadi jembatan bagi diupayakannya mobilisasi
bantuan dari pihak/instansi terkait, khususnya Pemda dan intansi
kesehatan jejaring iainnya.
9. Rumah Sakit Jejaring : Pada situasi korban yang sangat besar
dimana RS KARYA MEDIKA II tidak mampu menampung untuk
penanganannya, maka kerja sama penanganan dengan rumah
sakit lain sangat diperlukan. Oleh karena itu perlu diinformasikan
upaya meminta bantuan kepada rumah sakit lain yang menjadi
rumah sakit jejaring RS KARYA MEDIKA II. Rumah sakit yang
merupakan jejaring untuk penanganan bencana adalah rumah sakit
pemerintah di bekasi, RSUD Bekasi, Rumah Sakit Angkatan Darat,
Rumah Sakit POLRI dan beberapa rumah sakit swasta (RS Mitra
Keluarga, Hermina, Juanda, Kartika Husada, Karya Medika I, dan
PMI Kabupaten Bekasi).
10. SAR : Tim SAR sangat diperlukan untuk membantu proses
evakuasi dalam penanganan bencana.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

BAB III
PENANGANAN BENCANA DI RUMAH SAKIT

Pada situasi bencana aspek koordinasi dan kolaborasi diperlukan untuk


mengatur proses pelayanan terhadap korban dan mengatur unsur penunjang
yang mendukung proses pelayanan sehingga dapat berjalan sebagaimana
mestinya. Penanganan bencana di rumah sakit pada sistem penanganan
bencana adalah sebagai berikut:
4.1

PENANGANAN KORBAN
Proses penanganan yang diberikan kepada korban dilakukan
secepatnya untuk mencegah resiko kecacatan dan atau kemeninggalan,
dimulai sejak di lokasi kejadian, proses evakuasi dan proses transportasi
ke IGD atau area berkumpul. Kegiatan dimulai sejak korban tiba di IGD.
Penanggung jawab : Ketua Tim Medical support (Ka IGD)
Tempat

: Triage-IGD/lokasi kejadian/area berkumpul/tempat


perawatan definitif

Prosedur:
Dilapangan:

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

1. Lakukan Triage sesuai dengan berat ringannya kasus (Hijau,


Kuning, Merah, hitam)
2. Menentukan prioritas penanganan
3. Evakuasi korban ketempat yang lebih aman
4. Lakukan stabilisasi sesuai kasus yang dialami.
5. Transportasi korban ke IGD.
Di rumah sakit (IGD):
1. Lakukan Triage oleh tim medik.
2. Penempatan korban sesuai hasil Triage.
3. Lakukan stabilisasi korban.
4. Berikan tindakan definitif sesuai dengan kegawatan dan situasi
yang ada (Merah, Kuning,Hijau)
5. Perawatan lanjutan sesuai dengan jenis kasus (ruang perawatan
dan OK)
6. Lakukan rujukan bila diperlukan baik karena pertimbangan medis
maupun tempat perawatan.
4.1.1 PENGELOLAAN BARANG MILIK KORBAN
Barang milik korban hidup baik berupa pakaian, perhiasan,
dokumen, dll ditempatkan secara khusus untuk mencegah barang
tersebut hilang maupun tertukar. Sedangkan barang milik korban
meninggal, setelah di dokumentasi oleh koordinator tim forensik,
selanjutnya diserahkan ke pihak kepolisian yang bertugas di forensik.
Tempat

: Ruang Triage-IGD

Penanggungjawab

: Kepala Ruangan IGD

Prosedur

1. Catat barang yang dilepaskan dari korban atau dibawa oleh


korban
2. Bila ada keluarga maka barang tersebut diserahkan kepada
keluarga korban dengan menandatangani form catatan.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

3. Tempatkan barang milik korban pada kantong plastik dan


disimpan di lemari/locker terkunci.
4. Bila sudah 1 minggu barang milik korban belum diambil baik oleh
pasien
tersebut

sendiri

maupun

diserahkan

keluarganya,

kepada

maka

Ka.Unit

barang-barang

Gudang

dengan

menandatangani dokumen serah terima, selanjutnya Ka.Unit


Gudang menghubungi pasien maupun keluarganya. Apabila
dalam waktu 1 bulan barang belum diambil, maka barang tersebut
diserahkan oleh Ka.Bag Hukum dan Humas ke Polsek Kuta.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

4.2

PENGOSONGAN RUANGAN DAN PEMINDAHAN PASIEN


Pada

situasi

bencana

maka

ruangan

perawatan

harus

disesuaikan dengan keadaan saat itu, apabila ada ruangan perawatan


yang masih kosong maka bisa ditempatkan di ruangan tersebut, dan
apabila ruangan tidak bisa mencukupi maka korban transfer ke rumah
sakit jejaring.
Penanggungjawab : Ka.Div.Keperawatan
Prosedur

1. Ka.Bag.Keperawatan menginstruksikan kepada Ka.Ru rawat inap


untuk mengecek ke masing-masing ruangan perawatan dan
menanyakan kepada Ka.Ru pada kamar yang kosong
2. Ka.Ruangan

mencatat

ruangan-ruangan

yang

kosong

dan

diserahkan kepada Ka.Bag rawat inap


3. Ka.Bag rawat inap melaporkan kepada Ka.Bag.Keperawatan
ruangan- ruangan mana yang kosong dan bisa diisi oleh korban
untuk perawatan selanjutnya
4.3

PENGELOLAAN MAKANAN KORBAN DAN PETUGAS


Makanan untuk pasien dan petugas, persiapan dan distribusinya
dikoordinir oleh petugas PANTRY sesuai dengan permintaan tertulis
yang disampaikan oleh kepala ruangan maupun penanggungjawab pos.
Makanan

yang

dipersiapkan

dengan

memperhitungkan

sejumlah

makanan cadangan untuk antisipasi kedatangan korban baru maupun


petugas baru/relawan.
Tempat

: Ruangan PANTRY

Penanggungjawab : Ka.Unit PANTRY


Prosedur

1. Ka.Unit PANTRY mengkoordinasikan jumlah korban dan petugas


yang ada ke ruangan/posko sebelum mempersiapkan makanan
pada setiap waktu makan.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

2. Petugas Gizi mengumpulkan semua permintaan makanan dari


ruangan/posko.
3. Ka.Unit

PANTRY

mengkoordinir

persiapan

makanan

dan

berkolaborasi dengan posko donasi makanan untuk mengetahui


jumlah donasi makanan yang akan/dapat didistribusikan.
4.4

PENGELOLAAN TENAGA RUMAH SAKIT


Pengaturan jumlah dan kualifikasi tenaga yang diperlukan saat
penanganan bencana. Tenaga yang dimaksud adalah SDM rumah sakit
yang harus disiagakan serta pengelolaannya saatsituasi bencana.
Tempat

: Bagian SDM

Penanggungjawab : Wadir Umum dan SDM


Prosedur

1. Wadir Umum dan SDM menginstruksikan Ka.Div/Ka.Bag/Ka.Unit


yang terkait untuk kesiapan tenaga.
2. Koordinasi

dengan

pihak

lain

bila

diperlukan

tenaga

tambahan/volunteer dari luar RS.


3. Dokumentasikan semua staf yang bertugas untuk setiap shift.
4.5

PENGENDALIAN KORBAN BENCANA DAN PENGUNJUNG


Pada situasi bencana internal maka pengunjung yang saat itu
berada di RS ditertibkan dan diarahkan pada tempat berkumpul yang
ditentukan. Demikian pula korban diarahkan untuk dikumpulkan pada
ruangan/area tempat berkumpul yang ditentukan.
Tempat

: Lihat pembahasan ruangan dan area


berkumpul

Penanggungjawab

Prosedur

terbuka

: Kepala Security atau DANRU

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

1. Umumkan kejadian dan lokasi bencana melalui speaker dan


informasikan agar korban dipindahkan dan diarahkan ke area yang
ditentukan.
2. Perintahkan Ka.ruangan terkait untuk memindahkan korban.
3. Koordinir proses pemindahan dan alur pengunjung ke area yang
dimaksud.
4.6

KOORDINASI DENGAN INSTANSI LAIN


Diperlukannya bantuan dari instansi lain untuk menanggulangi
bencana maupun efek dari bencana yang ada. Bantuan ini diperlukan
sesuai dengan jenis bencana yang terjadi. Instansi terkait yang dimaksud
adalah Satkorlak, Dinas Kesehatan Kabupaten, Kepolisian, Dinas
Pemadam Kebakaran, SAR, PDAM, PLN, TELKOM, PMI dan RS
Jejaring.
Tempat

: Pos Komando

Penanggungjawab : Komandan RS
Prosedur
1.

Koordinir persiapan rapat koordinasi dan komunikasikan kejadian


yang sedang dialami serta bantuan yang diperlukan

2.

Hubungi instansi terkait untuk meminta bantuan sesuai kebutuhan

3.

Bantuan

instansi

Kabupaten,

terkait

dapat

Kabupaten/Kota

diminta
dan

kepada

pemerintah

Pusat,

termasuk

lembaga/instansi/militer/polisi dan atau organisasi profesi.


4.7

PENGELOLAAN OBAT DAN BAHAN/ALAT HABIS PAKAI


Penyediaan obat dan bahan/alat habis pakai dalam situasi
bencana merupakan salah satu unsur penunjang yang sangat penting
dalam pelayanan kesehatan, oleh karena itu diperlukan adanya
persediaan obat dan bahan/alat habis pakai sebagai penunjang
pelayanan korban.
Tempat

: Ruangan Farmasi

Penanggung Jawab

: Ka.Unit Farmasi

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

Prosedur

1. Menyiapkan persediaan obat & bahan/alat habis pakai untuk


keperluan penanganan korban bencana.
2. Distribusikan jumlah dan jenis obat & bahan/alat abis pakai sesuai
dengan permintaan unit pelayanan.
3. Membuat permintaan bantuan apabila perkiraan jumlah dan jenis
obat & bahan/alat habis pakai tidak mencukupi kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten/ Provinsi
4. Bantuan obat & bahan/alat habis pakai kepada LSM/lembaga donor
adalah pilihan terakhir, namun apabila ada yang berminat tanpa ada
permintaan, buatkan kriteria dan persyaratannya
5. Siapkan tempat penyimpanan yang memadai dan memenuhi
persyaratan penyimpanan obat & bahan/alat habis pakai
6. Buatkan pencatatan dan pelaporan harian
7. Lakukan pemusnahan/koordinasikan ke pihak terkait apabila telah
kadaluwarsa atau tidak diperlukan sesuai dengan persyaratan
4.8

PENGELOLAAN VOLUNTEER (RELAWAN)


Keberadaan relawan sangat diperlukan pada situasi bencana.
Individu/kelompok organisasi yang berniat turut memberikan bantuan
sebaiknya dicatat dan diregistrasi secara baik oleh Bagian SDM, untuk
selanjutnya diikut sertakan dalam membantu proses pelayanan sesuai
dengan jenis ketenagaan yang dibutuhkan.
Tempat

: Pos Relawan

Penanggung Jawab

: Ka. Bagian SDM

Prosedur

1. Lakukan rapid assessment untuk dapat mengetahui jenis dan


jumlah tenaga yang diperlukan
2. Umumkan kualifikasi dan jumlah tenaga yang diperlukan
3. Lakukan seleksi secara ketat terhadap identitas, keahlian dan
keterampilan yang dimiliki dan pastikan bahwa identitas tersebut
benar (identitas organisasi profesi).
Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

4. Dokumentasikan seluruh data relawan


5. Buatkan tanda pengenal resmi/name tag
6. Informasikan tugas dan kewajibannya
7. Antarkan dan perkenalkan pada tempat tugasnya
8. Pastikan relawan tersebut terdaftar pada daftar jaga ruangan/unit
dimaksud
9. Buatkan absensi kehadirannya setiap shift/hari
10. Siapkan penghargaan/sertifikat setelah selesai melaksanakan tugas
4.9

PENGELOLAAN KESEHATAN LINGKUNGAN


Kesehatan lingkungan tetap dijaga pada situasi apapun termasuk
situasi bencana untuk mencegah terjadinya pencemaran maupun
dampak dari bencana.
Tempat

: Lingkungan Rumah Sakit

Penanggungjawab : Ka.Unit Enegneryng atau IPSRS


Prosedur

1. Pastikan sistem pembuangan dan pemusnahan sampah dan limbah


medis dan non medis ke RS KARYA MEDIKA II sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
2. Catat dan laporkan dana yang diperlukan untuk jumlah sampah
medis yang dibakar.
3. Kontrol tempat penyimpanan sampah dan saluran limbah agar tidak
terjadi pencemaran lingkungan
4. Koordinasikan kebersihan ruangan dan pemisahan sampah medis
dan sampah umum dengan petugas ruangan.

4.10

PENGELOLAAN DONASI
Pada keadaan bencana rumah sakit membutuhkan bantuan
tambahan baik berupa obat, bahan/alat habis pakai, makanan, alat
medis/non medis, makanan, maupun financial.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

Tempat

: Pos Donasi

Penanggung jawab : Ka.Bag. Umum dan Rumah Tangga


Prosedur

1. Catat semua asal, jumlah dan jenis donasi yang masuk baik berupa
obat, makanan, barang dan uang maupun jasa.
2. Catat tanggal kadaluarsa
3. Distribusikan donasi yang ada kepada pos-pos yang bertanggung
jawab :
a. Obat dan bahan/alat habis pakai ke Ka.Unit Farmasi
b. Makanan/minuman ke Ka.Unit PANTRY
c. Barang medis/non medis ke Ka Bag Rumah Tangga
d. Uang ke Ka.Bag Keuangan untuk Mobilisasi Dana
e. Line telpon, sumbangan daya
4. Laporkan rekapitulasi jumlah dan jenis donasi (yang masuk, yang
didistribusikan dan sisanya) kepada Pos Komando
5. Sumbangan
difasilitasi

yang

oleh

ditujukan

kepala

langsung

ruangan

atas

kepada

korban

akan

sepengetahuan

ketua

manajemen support
4.11

PENGELOLAAN LISTRIK, TELEPON DAN AIR


Meningkatnya kebutuhan power listrik, instalasi air dan tambahan
sambungan telpon
kesiapsiagaan

dari

saat keadaan
tenaga

yang

bahaya

darurat membutuhkan

melaksanakannya.

Persiapan

pengadaan maupun sambungannya mulai dilaksanakan saat aktifasi


situasi bencana di rumah sakit.
Tempat

: Unit pelayanan RS KARYA MEDIKA II

Penanggungjawab :
Prosedur

Kepala Ruang IPSRS

1. Pastikan sistem berfungsi dengan baik dan aman.


2. Siapkan penambahan dan jaga stabilitas listrik agar layak pakai dan
aman

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

3. Siapkan penambahan line telpon untuk SLI maupun sambungan


keluar lainnya
4. Jaga kualitas air sesuai dengan syarat kualitas maupun kuantitas
air bersih dan hindari kontaminasi sehingga tetap aman untuk
digunakan
5. Lakukan koordinasi dengan Instansi terkait (PLN, PT TELKOM,
PDAM) untuk menambah daya, menambah line dan tetap menjaga
ketersediaan listrik, telpon, maupun Air.
6. Distribusikan kebutuhan listrik, telpon dan air ke area yang
membutuhkan
7. Berkoordinasi dengan pengguna/ruangan dan penanggung jawab
area.
8. Lakukan monitoring secara rutin
4.12

PENANGANAN KEAMANAN
Keamanan diupayakan semaksimal mungkin pada area-area
transportasi korban dari lokasi ke IGD, pengamanan sekitar Triage dan
IGD pada umumnya serta pengamanan pada unit perawatan dan pospos yang didirikan
Penanggung jawab
Tempat

: Kepala Security atau DANRU


: Alur masuk ambulance ke IGD, seluruh unit
pelayanan

Prosedur

dan pos.

1. Atur petugas sesuai dengan wilayah pengamanan.


2. Lakukan koordinasi dengan instansi terkait seperti kepolisian dan
pecalang.
3. Atur dan Arahkan pengunjung ke lokasi yang ditentukan pada saat
bencana internal
4. Lakukan kontrol rutin dan teratur.
5. Dampingi petugas bila ada keluarga yang mengamuk.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

4.13

PENGELOLAAN INFORMASI
Informasi, baik berupa data maupun laporan dibuat sesuai dengan
form yang ditentukan sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran mengenai
jumlah korban baik korban hidup, korban meninggal, asal negara, tempat
perawatan korban dan status evakuasi ke luar rumah sakit. Informasi ini
meliputi identitas korban, SDM dan fasilitas yang diperlukan untuk
penanganan korban.
Tempat

: Pos Informasi

Penanggung Jawab : Ka.Unit Humas Dan Marketing


Prosedur

1. Lengkapi semua data korban yang mencakup nama pasien, umur,


dan alamat/asal negara, dari korban rawat jalan, rawat inap dan
meninggal serta evakuasi dan lengkapi dengan data tindakan yang
telah dilakukan
2. Informasi di update setiap 12 jam untuk 2 hari pertama (jam 08.00
dan jam 20.00) dan 24 jam untuk hari-hari berikutnya (jam 08.00)
3. Informasi ditulis pada papan informasi dan dipasang di pos
informasi.
4. Setiap lembar informasi yang keluar ditandatangani oleh komandan
bencana dan diserahkan kepada pihak yang membutuhkan oleh
penanggung jawab pos informasi.
4.14

JUMPA PERS
Informasi dari posko data merupakan sumber informasi yang akan
digunakan pihak rumah sakit pada saat jumpa pers. Pihak RS yang
menghadiri pres release adalah Direktur RS sebagai Komandan RS,
Komandan Bencana, Ketua Medikal support dan Ketua manajement
support.
Tempat

: Ruangan marketing

Penanggung Jawab

: Ka.Div Marketing

Prosedur

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

1. Jumpa pers dilaksanakan setiap hari setiap jam 11.00 wita untuk 5
hari pertama, dua hari sekali untuk hari berikutnya dan seterusnya
bilamana dipandang perlu.
2. Undangan atau pemberitahuan kepada pers akan adanya jumpa
pers dilakukan oleh Ka.Div Marketing.
3. Siapkan dan sebelumnya dikonfirmasikan informasi yang akan
disampaikan pada jumpa pers kepada Direktur RS.
4. Jumpa pers dipimpin oleh Komandan Rumah Sakit
4.15

PENGELOLAAN MEDIA
Wartawan dari media cetak dan elektronik akan berada hampir 24
jam disekitar rumah sakit untuk meliput proses pelayanan dan kunjungan
tamu ke unit pelayanan, bukan hanya berasal dari media regional,
nasional tetapi juga internasional sehingga perlu dikelola dengan baik.
Tempat

: Ruangan Marketing

Penanggung Jawab
Proses

: Ka.Div Marketing
:

1. Registrasi dan berikan kartu identitas semua media serta wartawan


yang datang.
2. Sampaikan bahwa semua informasi dapat diperoleh dari pos
informasi
3. Koordinasikan dengan petugas pengamanan rumah sakit untuk
pengaturannya.
4. Peliputan media hanya diijinkan kepada yang sudah memperoleh
kartu identitas.
5. Peliputan langsung pada korban bencana atas seijin yang
bersangkutan.

4.16

PENGELOLAAN REKAM MEDIS


Semua korban bencana yang memerlukan perawatan dibuatkan
rekam medis sesuai dengan prosedur yang berlaku di RS. Pada rekam

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

medis diberikan tanda khusus untuk mengidentifikasi data korban


dengan segera.
Tempat

: Ruangan Rekam Medik

Penanggungjawab : Ka.Unit Rekam Medik


Prosedur

1. Siapkan sejumlah form rekam medis korban bencana untuk


persiapan kedatangan korban
2. Kontrol dan pastikan semua korban sudah dibuatkan rekam medik
3. Registrasi semua korban pada sistem billing setelah dilakukan
penanganan emergency.
4.17

IDENTIFIKASI KORBAN
Semua korban bencana yang dirawat menggunakan label ID.
Label ID yang dipasangkan pada pasien berisi identitas dan hasil Triage.
Setelah dilakukan tindakan life saving, label ID akan dilepas dan
disimpan pada rekam medik yang bersangkutan.
Tempat

: Ruang Triage-IGD, KamarJenazah

Penanggungjawab :
Prosedur

Ka.Unit Rekam Medik

1. Pasangkan label ID pada semua lengan atas kanan korban hidup


pada saat masuk ruangan triage atau korban meninggal pada saat
masuk kamar jenazah, serta dibuatkan rekam mediknya.
2. Kontrol semua korban bencana dan pastikan sudah menggunakan
label ID
4.18

PENGELOLAAN TAMU/KUNJUNGAN
Tamu dan kunjungan ke rumah sakit untuk meninjau pelaksanaan
pelayanan terhadap korban dilakukan berupa kunjungan formal/non
formal kenegaraan ataupun oleh institusi, LSM, partai politik maupun
perseorangan. Pengelolaannya diatur untuk mencegah terganggunya
proses pelayanan dan mengupayakan privacy korban. Tamu dari
pemerintahan seperti :Gubernur dan Dinas kesehatan akan didampingi

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

oleh Direksi PT AAM, Direksi RS, dan Tamu dari organisasi partai politik,
LSM, Institusi,dll diterima dan didampingi oleh Bagian Marketing
Tempat

: Ruangan Direktur RS

Penanggungjawab

: Ka.Div Marketing

Prosedur

1. Semua rencana kunjungan tercatat pada Bagian Sekretaris


2. Hubungi Direksi PT AAM dan Direksi RS, Pejabat Struktural
terkait untuk menerima kunjungan sesuai jenis kunjungan atau
tamu yang akan hadir.
3. Siapkan

ruangan

rencana

transit

dan

kebutuhan

lainnya

(makanan/ minuman) bila dibutuhkan.


4. Siapkan informasi/data korban dan perkembangannya, data
kesiapan rumah sakit dan proses pelayanannya.
5. Koordinasi

ke

Security

Rumah

Sakit

untuk

persiapan

pengamanannya
6. Koordinasikan Ka Bag RT dan Bidang Keperawatan untuk
kebersihan unit terkait.
7. Siapkan dokumentasi team dokumentasi RS

4.19

PENGELOLAAN JENAZAH
Untuk kejadian bencana, jenazah akan langsung dikirim ke ruang
jenazah. Pengelolaan jenazah seperti identifikasi, menentukan sebab
kemeninggalan dan menentukan jenis musibah yang terjadi dan
penyimpanan dilakukan di bagian Forensik kamar jenasah RS KARYA
MEDIKA II
Tempat

: Kamar Jenazah

Penanggungjawab

: Bagian Security

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

Proses
1.

Registrasi semua jenazah korban bencana yang masuk ke RS


melalui kamar jenazah.

2.

Bila

diperlukan, dilakukan

identifikasi

pada

korban

untuk

menentukan sebab kemeninggalan kalau tidak memungkinkan


segera kirim ke kamar jenazah RS KARYA MEDIKA II.
4.20

EVAKUASI KORBAN KE LUAR RS


Atas

indikasi

medis,

sosial,

politik

dan

hukum,

maupun

permintaan negara yang bersangkutan atau atas permintaan keluarga


pasien/korban pindah ataupun keluar dari RS KARYA MEDIKA II untuk
dilakukan perawatan di rumah sakit tertentu di luar RS KARYA MEDIKA
II. Perpindahan/evakuasi korban ini dilakukan atas persetujuan tim medis
dengan keluarga maupun negara yang bersangkutan bila korban adalah
warga negara asing. Kelengkapan dokumen medik serta persetujuan
keluarga/Negara yang bersangkutan diperlukan untuk pelaksanaan
proses evakuasi.
Tempat

: IGD, Unit Perawatan

Penanggungjawab

: Kepala IGD

Prosedur

1. Pastikan

adanya

persetujuan

medis,

maupun

persetujuan

keluarga/negara yang bersangkutan sebelum proses evakuasi


dilakukan
2. Koordinasikan rencana evakuasi korban kepada pihak/rumah sakit
penerima
3. Pastikan pasien dalam keadaan stabil dan siap untuk dievakuasi.
4. Siapkan ambulance sesuai standar untuk evakuasi pasien
5. Bila diperlukan hubungi pihak penerbangan untuk kesiapan
transportasi pasien
6. Pastikan adanya tim medis yang mendampingi selama proses
evakuasi

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

BAB IV
BENCANA INTERNAL
Kemungkinan bencana yang terjadi di RS KARYA MEDIKA II adalah :
kebakaran, gempa bumi, ancaman bom, kecelakaan oleh karena zat
berbahaya, kejadian luar biasa penyakit. Penanganan tiap-tiap jenis bencana
adalah sebagai berikut:
5.1

KEBAKARAN
Pada saat kebakaran, kemungkinan jenis korban yang dapat
terjadi adalah : luka bakar, trauma, sesak nafas, histeria (ggn.psikologis)
dan korban meninggal.
Langkah-langkah yang dilakukan ketika terjadi kebakaran :
1.

Pindahkah korban ke tempat yang aman (lihat pembahasan area


berkumpul)

2.

Hubungi petugas satpam atau operator (ext.0/100/101)untuk


menghubungi petugas kebakaran bahwa :
Ada kebakaran
Lokasi kebakaran
Sebutkan nama pelapor

3.

Jika memungkinkan batasi penyebaran api, dengan menggunakan


APAR

4.

Padamkan api jika memungkinkan dan jangan mengambil resiko.

Bila terjadi kebakaran selalu ingat :


1.

Kejadian kebakaran harus dilaporkan

2.

Bila bangunan betingkat, gunakan tangga dan jangan gunakan lift.

3.

Biarkan lampu selalu menyala untuk penerangan.

4.

Meninggalkan alat-alat lain seperti : mesin anastesi, suction, alatalat elektronik dll

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

5.

Tetap tenang dan jangan panik.

6.

Tempat yang rendah memiliki udara yang lebih bersih


Agar proses penanggulangan bencana kebakaran dapat berjalan

dengan baik kita Harus tahu:


1.

Tempat

menaruh

alat

pemadam

kebakaran

dan

cara

menggunakannya.
2.

Nomor pemadam kebakaran (telp.113), Operator (ext.0/100/101)

3.

Rule evakuasi dan pintu-pintu darurat.

4.

Ada satu orang yang bisa mengambil keputusan dan tahu


bagaimana penanggulangan bencana kebakaran pada setiap shift
jaga.

5.

Kepala ruangan pada shift pagi/hari kerja dan Ketua tim pada jaga
sore atau malam yang memegang kendali/mengkoordinir bila
terjadi bencana.

5.2

GEMPA BUMI
Jenis korban yang dapat timbul pada saat terjadinya gempa bumi
adalah : trauma, luka bakar, sesak nafas dan meninggal.
Penanganan Jika Terjadi Gempa Bumi
Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut petunjuk yang
dapat dijadikan pegangan :

Di dalam ruangan : Merunduklah, lindungi kepala anda dan


bertahan di tempat aman. Beranjaklah beberapa langkah menuju
tempat aman terdekat. Tetaplah di dalam ruangan sampai
goncangan berhenti dan yakin telah aman untuk keluar,
menjauhlah dari jendela. Pasien yang tidak bisa mobilisasi
lindungi kepala pasien dengan bantal

Di luar gedung : Cari titik aman yang jauh dari bangunan, pohon
dan kabel. Rapatkan badan ke tanah. Jangan menyebabkan

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari


petugas atau satpam.

Di dalam lift: Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi


atau kebakaran. Jika anda merasakan getaran gempa bumi saat
berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift
berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah, jika
anda terjebak dalam lift, hubungi petugas dengan menggunakan
interphone jika tersedia.

5.3

ANCAMAN BOM
Ancaman bom bisa tertulis dan bisa juga lisan atau lewat telepon.
Ancaman bom ada dua jenis:
1.

Ancaman bom yang tidak spesifik : pengancam tidak menyebutkan


secara detail tentang ancaman bom yang disampaikan.

2.

Ancaman

bom

spesifik

pengancam

menyebutkan

tempat

ditaruhnya bom, jenis bom yang digunakan, kapan bom akan


meledak dan lain lain.
Semua ancaman bom harus ditanggapi secara serius sampai
ditentukan oleh tim penjinak bom bahwa situasi aman.
Jika anda menerima ancaman bom :
1.

Tetap tenang dan dengarkan pengancam dengan baik karena


informasi yang diterima dari pengancam sangat membantu tim
penjinak bom.

2.

Jangan tutup telepon sampai pengancam selesai berbicara.

3.

Panggil teman lain untuk ikut mendengarkan telepon ancaman,


atau jika memungkinkan gunakan HP anda untuk menghubungi
orang lain.

4.

Hubungi satpam bahwa :

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

Ada ancaman bom


Tempat/ruangan yang menerima ancaman
Nama petugas yang melaporkan adanya ancaman bom.
Ancaman bom tertulis :
1.

Simpan kertas yang berisi ancaman dengan baik.

2.

Laporkan kepada kepala ruangan bila shift pagi atau hari kerja dan
kepada ketua tim saat shift sore atau malam.

Ancaman bcm lewat telepon :


1.

Usahakan tetap bicara dengan penelepon.

2.

Beri kode pada teman yang terdekat dengan anda bahwa ada
ancaman bom.

Bila ada benda yang mencurigakan sebagai bom :


1.

Jangan menyentuh atau memperlakukan apapun terhadap benda


tersebut.

2.

Sampaikan kepada kepala ruangan bila shift pagi atau hari kerja
dan kepada ketua tim saat shift sore atau malam bahwa ada benda
yang mencurigakan.

3.

Lakukan evakuasi diruangan tersebut dan ruangan sekitarnya


segera.

5.4

4.

Buka pintu dan jendela segera.

5.

Lakukan evakuasi sesuai prosedur

KECELAKAAN OLEH KARENA ZAT-ZAT BERBAHAYA


Kecelakaan oleh karena zat-zat berbahaya meliputi kebocoran
atau tumpahan atau sengaja mengeluarkan cairan dan gas yang mudah
terbakar, zat-zat yang bersifat korosif, beracun, zat-zat radioaktif.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

Kemungkinan jenis korban yang terjadi adalah : keracunan, luka bakar,


trauma dan meninggal.
Pada

setiap

kecelakaan

oleh

karena

zat-zat

berbahaya

selalu

diperhatikan :
1. Keamanan adalah yang utama.
2. Isolasi area terjadinya tumpahan atau kebocoran
3. Evakuasi korban dilakukan pada area yang berlawanan dengan
arah angin di lokasi kejadian
4. Hubungi operator untuk menyiagakan tim penanggulangan bencana
rumah sakit.
5. Tanggulangi tumpahan atau kebocoran, jika anda pernah mendapat
pelatihan tentang hal tersebut, tapi jangan mengambil resiko jika
anda

tidak

pernah

mendapatkan

pelatihan

tentang

cara

menanggulangi tumpahan atau kebocoran zat-zat berbahaya.


6. Lakukan dekontaminasi sebelum penanganan korban
5.5

KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) PENYAKIT


Kejadian

Luar

kesakitan/kemeninggalan

Biasa
dan

(KLB)
atau

adalah

suatu

meningkatnya

suatu

kejadian
kejadian

kesakitan/kemeninggalan yang bermakna secara epidemiologis pada


suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu. (Peraturan
Menteri Kesehatan No. 949/Menkes/SK/VIII/2004). Kriteria KLB penyakit
adalah:
1. Timbulnya penyakit yang sebelumnya tidak ada di suatu daerah.
2. Adanya peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih
dibandingkan jumlah kesakitan yang biasa terjadi pada kurun waktu
yang sama tahun sebelumnya.
Tindakan yang harus dilakukan bila terjadi KLB penyakit:
1. Catat dan laporkan jumlah kejadian/penyakit yang terjadi di ruangan
kepada Wadir Pelayanan Medik dan Keperawatan bila shift pagi
atau pada hari kerja dan ke MOD bila diluar jam kerja.
Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

2. Tingkatkan standard precaution untuk mencegah penularan ke


pasein lain atau ke petugas kesehatan.
3. Komite Pengendalain Infeksi Nosokomial melakukan penyelidikan
epidemiologi terhadap terjadinya KLB untuk mengetahui penyebab
terjadinya KLB dan membuat rekomendasi untuk mengambil
tindakan selanjutnya.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

BAB V
PEMULIHAN KEMBALI KE FUNGSI NORMAL

Setelah semua korban hidup tertangani dalam fase gawat darurat dan
korban meninggal telah teridentifikasi serta kegiatan pelayanan sisa korban
baik hidup maupun meninggal telah bisa ditangani dengan kapasitas normal
rumah sakit maka lakukanlah upaya kembali ke fungsi normal untuk :
1. Mengembalikan semua fungsi organisasi ke fungsi pokoknya.
2. Mengembalikan SDM RS ke tugas pokoknya.
3. Melakukan rehabilitasi fisik maupun mental pegawai.
4. Melakukan evaluasi dan pelaporan kegiatan.
Untuk mencapai maksud tersebut maka kegiatan-kegiatan yang dilakukan
adalah :
1. Dalam bidang sumber daya manusia :
a. semua pegawai RS dikembalikan ke tugas pokoknya.
b. Semua relawan di kembalikan ke organisasi induknya dalam
pemberian ucapan terima kasih serta piagam penghargaan.
c. Bila dibutuhkan bisa diberikan konseling psikologis bagi pegawai
dan relawan yang membutuhkan.
d. Lakukan rehabilitasi mental bagi masyarakat RS dengan pendekatan
sosiokultural dengan menyelenggarakan doa bersama sesuai
dengan agama dan kepercayaan masing masing.

.
2. Sarana dan Prasana.
a. Ruang perawatan dan ruangan lainnya yang dipergunakan untuk
pelayanan bencana dibersihkan dan dikembalikan ke fungsi
normalnya.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

b. Alat-alat medis dan medis dicatat dan dikembalikan ke tempat


semula.
3. Debriefing
a. Lakukan pertemuan dengan seluruh komponen pelaksana baik
internal maupun internal untuk membahas kegiatan yang telah
dilakukan.
b. Sampaikan ucapan terima kasih dan telah pelajaran apa yang bisa
diambil dalam penyelenggaraan pelayanan bencana ini dan upaya
apa yang akan dilakukan untuk menyempurnakan organisasi
maupun prosedur kerja.
4. Penyusunan laporan
Buat laporan rs yang lengkap tentang penangan bencana ini.
Laporan terdiri dari :
i.

Pendahuluan.

ii.

Kegiatan penggulangan bencana

iii. Hasil-hasil kegiatan


iv. Kendala
v.

Kesimpulan dan sarana

5. Khusus untuk laporan donasi perlu dibuat tersendiri dilaporkan ke


Direktur PT AAM dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi / Provinsi
Jawa Barat yang mencakup secara lengkap semua donasi yang diterima
baik berupa natural, uang maupun kegiatan. Kesimpulan laporan
ditempel di papan pengumuman RS.

BAB VI
KESIMPULAN DAN PENUTUP

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

ini

Penanganan bencana di rumah sakit memerluakan sistem koordinasi


yang melibatkan seluruh komponen internal dan beberapa komponen external
yang terkait dengan pelayanan kesehatan. Penanganan ini tidak hanya
melibatkan tim medis namun juga keterlibatan tim menajemen untuk menunjang
kelancaran proses penanganan korban.
Bencana yang terjadi di dalam maupun di luar rumah sakit memerlukan
kesiapsiagaan dan respon cepat dari seluruh tim.
Adanya sumber daya yang tersedia baik fasilitas, SDM dan sistem yang
mendukung akan memperlancar proses tersebut. Tersedianya buku pedoman,
kartu instruksi kerja, keadaan bahaya darurat kit baik medik maupun non medik,
ambulance dan tim reaksi cepat merupakan suatu bentuk kesiapan pihak
rumah sakit dalam penanganan bencana.
Kesamaan

persepsi

tentang

prosedur

pelayanan

dan

prosedur

penunjang yang akan dilaksanakan sangat menentukan ketepatan dan


kecepatan dalam melaksanakan semua tahap penanganan bencana. Hal ini
tertuang daiam prosedur kerja yang telah disepakati bersama.

Pedoman Penanggulangan terhadap kewaspadaan Bencana dan kebakaran

Anda mungkin juga menyukai