Anda di halaman 1dari 12

M - VIII

SIFAT FISIK TANAH

8.1

Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengukur massa jenis dan kadar air

alami tanah yang menunjukan sifat fisik tanah (khusus untuk tanah yang
berfraksi tidak kasar).

8.2

Landasan Teori
Percobaan ini mengukur massa jenis (density) dan kadar air alami tanah

dengan menggunakan uji ring gamma. Besaran-besaran lain yang dapat


diturunkan adalah angka pori (e), porositas (n), dan derajat kejenuhan (Sr).
Definisi yang berkaitan dengan percobaan ini antara lain :
a. Massa jenis ( )

: Berat tanah per satuan volume.


b. Kadar air (w)

Perbandingan antara berat

air dengan berat butir tanah, dinyatakan dalam


persen
c. Derajat kejenuhan (Sr) :

Perbandingan volume

air dan volume pori total, dinyatakan dalam persen.


d. Angka pori (e)

: Perbandingan antara volume pori dan volume butir.

e. Porositas (n)

: Perbandingan antara volume pori dan volume total.

a. Kadar Air Tanah


Kadar air tanah adalah jumlah air yang bila dipanaskan dengan oven
yang bersuhu tinggi hingga diperoleh berat tanah kering. Air mempunyai fungsi
yang penting dalam tanah. Antara lain pada proses pelapukan mineral dan bahan
organik tanah, yaitu reaksi yang mempersiapkan hara larut bagi pertumbuhan
tanaman. Selain itu, air juga berfungsi sebagai media gerak hara ke akar-akar
tanaman. Akan tetapi, jika air terlalu banyak tersedia, hara-hara dapat tercuci dari
daerah-daerah perakaran atau bila evaporasi tinggi, garam-garam terlarut
mungkin terangkat kelapisan tanah atas. Air yang berlebihan juga membatasi
pergerakan udara dalam tanah, merintangi akar tanaman memperoleh
O2 sehingga dapat mengakibatkan tanaman mati.

Kandungan air tanah dapat ditentukan dengan beberapa cara. Sering


dipakai istilah-istilah nisbih, seperti basah dan kering. Kedua-duanya adalah
kisaran yang tidak pasti tentang kadar air sehingga istilah jenuh dan tidak jenuh
dapat diartikan yang penuh terisi dan yang menunjukkan setiap kandungan air
dimana pori-pori belum terisi penuh. Jadi yang dimaksud dengan
b.

Density (kerapatan isi)


Kerapatan isi adalah berat per satuan volume tanah kering oven,

biasanya ditetapkan dalam g/cc (Hakim et al, 1986). Menurut Hardjowigeno


(1987), bulk density dapat digunakan untuk menghitung ruang pori total dengan
dasar bahwa kerapatan zarah tanah adalah 2,65 g/cc. Metode penentuan bulk
density yang paling sering digunakan adalah dengan ring sampel atau metode
clod gumpalan tanah yang dicelupkan ke dalam cairan plastik yang kemudian
ditimbang dan di dalam air untuk mengetahui berat dan volume dari clod
gumpalan isi. Nilai kerapatan massa tanah berbanding lurus dengan tingkat
kekasaran partikel-partikel tanah, makin kasar akan makin berat.
c. Ruang Pori Total
Ruang pori total adalah volume dari tanah yang ditempati oleh udara dan
air. Persentase volume ruang pori total disebut porositas. Untuk menentukan
porositas, contoh tanah ditempatkan pada tempat berisi air sehingga jenuh dan
kemudian cores ini ditimbang. Perbedaan berat antara keadaan jenuh air dan
core yang kering oven merupakan volume ruang pori.
Ruang pori total pada tanah pasir mungkin rendah tetapi mempunyai
proporsi yang besar yang disusun daripada komposisi pori-pori yang besar yang
sangat efisien dalam pergerakan udara dan airnya. Persentase volume yang
dapat terisi oleh pori-pori kecil pada tanah pasir rendah yang menyebabkan
kapasitas menahan airnya rendah. Sebaliknya tanah-tanah permukaan dengan
tekstur halus memiliki ruang pori total lebih banyak dan proporsinya relatif besar
yang disusun oleh pori kecil. Akibatnya adalah tanah mempunyai kapasitas
menahan air yang tinggi.
d.

Infiltrasi
Kapasitas infiltrasi suatu tanah dipengaruhi oleh sifat-sifat fisiknya dan
derajat kemampatannya, kandungan air dan permebilitas lapisan bawah
permukaan, nisbi air, dan iklim mikro tanah. Air yang berinfiltrasi pada suatu

tanah hutan karena pengaruh gravitasi dan daya tarik kapiler atau disebabkan
juga oleh tekanan dari pukulan air hujan pada permukaan tanah.
Infiltrasi adalah proses masuknya air dari permukaan ke dalam tanah.
Perkolasi adalah gerakan aliran air di dalam tanah (dari zone of aeration ke zone
of saturation). Infiltrasi berpengaruh terhadap saat mulai terjadinya aliran
permukaan dan juga berpengaruh terhadap laju aliran permukaan (run off).
Beberapa faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi laju infiltrasi adalah :
e. Permeabilitas
Permeabilitas tanah menunjukkan kemampuan tanah dalam meloloskan
air. Struktur dan tekstur serta unsur organik lainnya ikut ambil bagian dalam
menaikkan laju permeabilitas tanah. Tanah dengan permeabilitas tinggi
menaikkan laju infiltrasi dan dengan demikian, menurunkan laju air larian.
Koefisien permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori yang
dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan struktur tanah.
Secara garis besar, makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran pori dan
makin rendah koefisien permeabilitasnya.
f.

Stabilitas Agregat
Kemantapan agregat adalah ketahanan rata-rata agregat tanah melawan
pendispersi oleh benturan tetes air hujan atau penggenangan air. Kemantapan
tergantung padaketahanan jonjot tanah melawan daya dispersi air dan kekuatan
sementasi atau pengikatan, Faktor-faktor yang berpengaruh dalam kemantapan
agregat antara lain bahan-bahan penyemen agregat tanah, bentuk dan ukuran
agregat, serta tingkat agregasi Stabilitas agregat yang terbentuk tergantung pada
keutuhan tanag permukaan agregat pada saat rehidrasi dan kekuatan ikatan
antarkoloid-partikel di dalam agregat pada saat basah. Pentingnya peran lendir
microbial sebagai agen pengikat adalah menjamin kelangsungan aktivitas.
Besaran yang diperoleh dapat digunakan untuk kolerasi empiris dengan sifatsifat mekanis tanah.

8.3

Alat dan Bahan


Alat :

Cylinder ring

Sumber : Praktikum Geomekanika 2015

Foto 8.1
Cylinder Ring

Neraca Ohauss

Sumber : Praktikum Geomekanika 2015

Foto 8.2
Neraca Ohauss

Oven

Alat dongkrak

Sumber : Praktikum Geomekanika 2015

Foto 8.3
Alat Dongkrak

Bahan :

Spesimen tanah

8.4

Prosedur

Cylinder ring dibersihkan, kemudian dengan stickmaat diukur diameter


(d), tinggi (t) dan beratnya ditimbang.

Cylinder ring ditekan masuk ke dalam tanah dan kemudian dengan alat
dongkrak silinder dikeluarkan, potong dengan pisau, kemudian tanah
disekitar ring dibersihkan dan permukaan tanah diratakan.

Sumber : Praktikum Geomekanika 2015

Foto 8.4
Cylinder Ring Dimasukkan ke Tanah dan Diratakan

Ring + contoh tanah ditimbang, kemudian dimasukan ke dalam oven


selama 24 jam dengan suhu 105C.

Contoh tanah yang sudah kering ditimbang, didapat berat kering.

Sumber : Praktikum Geomekanika 2015

Foto 8.5
Spesimen yang Telah Dimasukkan ke Oven Ditimbang

8.5

Rumus Yang Digunakan

Massa Jenis

m
v
Dimana :

= massa jenis tanah (gr/cm3)

M = massa tanah alami (gr)


V = volume tanah alami (cm3)

Kadar air (water content)

w=

Mw
x 100
Md

Dimana :
W = Kadar air (%)
Mw = Massa air (gr)
Md = Massa tanah kering (gr)

Derajat Kejenuhan (Degree of Saturation)

( SGMdxw ) x 100

Mw
)
w
Sr =
(

Dimana :
Sr = Derajat kejenuhan (%)
V = volume tanah alami (cm3)
Mw = Massa air (gr)
Md = Massa tanah kering (gr)

w = massa jenis air (gr/cm3)


SG = 1,695 gr/cc

Tabel 8.1
Kondisi Tanah Berdasarkan Derajat Angka Derajat Kejenuhan

Derajat Kejenuhan
Kondisi Tanah

(Degree of Saturation)

Dry (Kering)
Humid (Agak Lembab)
Damp (Lembab)
Moist (Agak Basah)
Wet (Basah)
Saturated (Jenuh)

(%)
0
1 - 25
25 50
50 75
75 99
100

Sumber : Praktikum Geomekanika 2015

Angka Pori (Void Ratio)

V (
e=

Mw
)
SG x w
Md
d

Dimana :
e = Angka pori
V = volume tanah (cm3)
Mw = Massa air (gr)
Md = Massa tanah kering (gr)

d = massa jenis tanah alami (1 gr/cm3)


SG = 1,695 gr/cc

Porositas

n=

e
e +1

e=

8.6

Hubungan Angka Pori (e) dengan Porositas (n)

n
1n

Hasil Pengamatan
Tinggi ring 1 = 3,14 cm
Tinggi ring 2 = 3,14 cm
Diameter ring 1 = Diameter ring 2 = 3, 65 cm
Massa ring 1 = Massa ring 2 = 136 gram
Massa kontainer 1 = 14 gram
Massa kontainer 2 = 15 gram
Massa tanah alami (Spesimen 1) = 44 gram
Massa tanah alami (Spesimen 2) = 41,5 gram
Massa tanah kering (Spesimen 1) = Md = 38 gram
Massa tanah kering (Spesimen 2) = Md = 36 gram
Massa air (Spesimen 1) = Mw = 6 gram
Massa air (Spesimen 2) = Mw = 5,5 gram
Tinggi Spesimen 1 = 3 cm
Tinggi Spesimen 2 = 3,6 cm

8.7

Perhitungan

Massa jenis alami

1=

M 44 gram
3
=
=1,82 gr /c m
3
V 24,11 c m

2=

M 41,5 gram
=
=1,43 gr /c m3
3
V 28,94 c m

Kadar air

M w 6 gram
=
x 100 =15,78
Md 38 gram
Mw 5,5 gram
w 2=
=
x 100 =15,27
Md 36 gram
w 1=

Berat jenis tanah kering

1,82
=
=1,57 gr /c m3
1+w 1+0,157

1,43
3
d 2=
=
=1,24 gr /c m
1+w 1+0,152
d 1=

Derajat kejenuhan

Mw
6
w
1
Sr 1=
x 100 =
x 100 =1,11 ( Humid)
Md
38
Vx
24,11 x
SG x w
1,695 x 1
Mw
5,5
w
1
Sr 2=
x 100 =
x 100 =0,89 ( Kering)
Md
36
Vx
2 8,94 x
SG x w
1,695 x 1

Angka pori

Mw
6
24,11 x
SG x w
1,695 x 1
e 1=
=
=0,8 5
Md
38
d
1,57
Mw
5,5
Vx
28,94 x
SG x w
1,695 x 1
e 2=
=
=0,8 8
Md
36
d
1,24
Vx

Porositas

e
0,85
=
=0,4 6
e+ 1 0,85+1
e
0,88
n 2=
=
=0,4 7
e+ 1 0,88+1
n 1=

8.7

Analisa
Pada praktikum kali ini dapat dianalisa pada perhitungan mengenai sifat

fisik tanah salah satunya adalah semakin besar kadar air pada tanah maka jelas
akan semakin memperbesar berat jenis pada keadaan tanah kering, dan
semakin besar kadar air juga akan memperbesar derajat kejenuhan dari tanah
tersebut, hal ini terbukti pada perhitungan yang telah dilakukan dan diadapatkan
bahwa spesimen 1 memiliki keadaan tanah yang humid atau agak lembab
sedangkan pada spesimen 2 didapatkan keadaan tanah tersebut kering. Tanah

yang

memiliki

sifat

porositas,

makin

tinggi

porositasnya

akan

makin

memperbesar kemampuan tanah dalam menahan air.

8.9

Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum kali ini yaitu dapat menentukan sifat fisik tanah

dengan pengamatan serta perhitungan yang telah dilakukan. Hasilnya adalah


spesimen 1 memiliki berat jenis sebesar 1,82 gr/cm3 sedangkan spesimen 2
sebesar 1,43 gr/cm3, spesimen 1 memiliki kadar air sebesar 15,78% sehingga
berat jenis tanah keringnya 1,57 gr/cm 3 dan spesimen 2 memiliki kadar air
sebesar 15,27% sehingga berat jenis tanah keringnya 1,24 gr/cm 3, derajat
kejenuhan spesimen 1 sebesar 1,11% dan didapat keadaan tanah yang humid
atau agak lembab sedangkan spesimen 2 derajat kejenuhannya sebesar 0,89%
dan didapat keadaan tanah yang kering, spesimen 1 memiliki angka pori sebesar
0,85 dengan porositas sebesar 0,46 sedangkan spesimen 2 memiliki angka pori
sebesar 0,88 dengan porositas sebesar 0,47.

DAFTAR PUSTAKA

Marsedes, Purba. 2008. Pengaruh Besar Pembebanan Terhadap Angka Pori


Tanah

Timbunan

Dengan

Beban

http://www.polmed.ac.id/ojs/index.php/polimedia/article/view/150.

Standar.
Diakses

pada 30 Maret 2015 pukul 21.49 WIB


Nandy, A.E. 2011. Kemampatan Tanah.
http://fakultasteknik-diddyt.blogspot.com/2011/08/kemampumampatantanah.html. Diakses pada 30 Maret 2015 pukul 21.29 WIB

LAMPIRAN