Anda di halaman 1dari 7

Analisis Kasus 4-4 Dan Kasus 4-5:

Kasus Campbell Soup Company


Dan Toro Manufacturing

Disusun Oleh :
Bima Baskara Sakti
Datu Beru
Pratiwi Noviayanti

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM PASCASARJANA ILMU MANAJEMEN
UNIVERSITAS NDONESIA
DEPOK
2016

CASE 4-4 CAMPBELL SOUP COMPANY LTD.


Pembahasan kali ini melanjutkan kasus 4-4 pada perusahaan Campbell Soup. Kali ini
yang dibahas adalah mengenai aset atau aktiva tetap perusahaan baik aset tangible seperti
properti, pabrik, dan peralatan, maupun aset intangible perusahaan. Selain itu pembahasan kali
ini juga akan menjelaskan mengenai depresiasi yang ada pada aktiva tetap.
Dalam upaya untuk menganalisa aktivitas investasi sebuah perusahaan, perlu
diperhatikan aset berwujud yang noncurrent yang biasa disebut property, plant, and
equipment (PPE). Hal ini penting untuk diperhatikan karena PPE sebagai aset tetap digunakan
dalam kegiatan operasi untuk menghasilkan pendapatan (revenue) dan arus kas untuk lebih
dari satu periode. Dapat dilihat dari data laporan neraca keuangan Campbell Soup, persentase
aset tetap perusahaan ini adalah 43.15% dari total aset.
Percentage of Total assets = Plant assets/fixed assets x100%
= $1790.4/$4,149 x100%
= 43.15%.
Jika dibandingkan dengan persentase aset tetap pada tahun ke-11 dan tahun ke-10, dari nilai
PPE, dapat terlihat bahwa persentase tahun ke 11 naik dari tahun ke 10. Hal ini menunjukkan
bahwa investasi Campbell Soup naik atau meningkat pada tahun ke-11.
Nilai atau kemampuan menghasilkan arus kas dari aset tetap berupa PPE akan
berkurang seiring dengan waktu penggunaan, maka perlu diperhatikan tingkat depresiasi asset
tersebut. Depresiasi dinilai sebagai alokasi biaya dari aset tetap selama masa penggunaannya.
Tingkat depresiasi sendiri bergantung pada dua faktor, yaitu masa penggunaan (useful life) dan
metode alokasi. Metode alokasi pun terbagi menjadi dua jenis: straight-line dan akselerasi.
Dalam kasus Campbell Soup ini, perusahaan menggunakan metode depresiasi straight-line
(lihat note 1 dalam laporan keuangan Campbell Soup) dimana biaya aset tetap dialokasikan
dengan besaran biaya yang sama setiap periodenya. Dalam menganalisa depresiasi, salah satu
pengukuran yang perlu dilihat adalah persentase biaya historis depresiasi yang terakumulasi
dari aset tetap.
Akumulasi depresiasi menunjukkan seberapa banyak aset tetap terdepresiasi dari saat
pembelian atau seberapa sering aset tersebut telah digunakan. Akumulasi depresiasinya adalah
$1,131.5 / ($2,921.9 - $56.3 - $327.6) = 44.6%. Nilai ini menunjukkan bahwa aset tetap telah
terdepresiasi sebesar 44,6% dan Campbell Soup harus mengeluarkan biaya untuk perbaikan

atau pemeliharaan. Semakin tinggi nilai depresiasi semakin besar biaya yang dikeluarkan
perusahaan untuk memperbaiki atau memelihara aset tetapnya.

Tabel 1. neraca keuangan Campbell Soup

Tabel 2. Common-size neraca keuangan Campbell Soup

Tabel 3. Analsis Depresiasi Campbell Soup

Aset intangible berasal dari akuisisi, yang merepresentasikan porsi dari harga pembelian
untuk perusahaan yang diakusisi yang diaokasikan pada aset intangible. Transaksi utama yang
menigkatkan jumlah ini adalah akuisisi dari bisnis yang berbeda. Mereka memperoleh $180 juta
saham publik dari 71% kepemilikan anak perusahaan, Campbell Soup Company Ltd. di Kanada,
yang memproses pembungkusan dan distribusi makanan siap saji pada jangkauan yang luas
secara eksklusif di Kanada dibawah nama banyak merek yang dimiliki perusahaan. Aset
intangible meningkat $52.1 juta ($ 435.5-$383.4) sebagai akuisisi yang dihasilkan di $132.3 juta
tambahan properti, penjualan bisnis atau merestruktur bisnis, dan kita juga dapat berasumsi
bahwa mereka mungkin telah memberikan lisensi kepada bisnis lain.

CASE 4-5 TORO MANUFACTURING


Penyusutan merupakan sistem yang bertujuan mengalokasikan biaya modal berupa aset
yang berwujud, lebih tua usianya (afkir), sepanjang masa manfaat barang tersebut dengan cara
sistematis dan rasional. Tujuan depresiasi adalah mengalokasikan harga perolehan aktiva tetap
menjadi beban pada periode dimana manfaat dari aktiva tersebut dikonsumsi.
Prinsip akuntansi penyusutan bergantung pada dua faktor, yakni (1) masa manfaat dan (2)
metode alokasinya. Masa manfaat pada aset sangat beragam bergantung pada asumsi yang
mendasarinya. Contohnya, masa manfaat bisa aset bisa dibuat berdasarkan kondisi ekonomi,
pemahaman teknis atas aset bersangkutan, pengalaman dan informasi fisik serta sifat produksi
aset tersebut.
Adapun metode alokasi dalam prinsip akuntansi penyusutan menyangkut beban
penyusutan secara periodik ketika masa manfaat sebuah aset telah ditetapkan. Penyusutan akan
berbeda-beda sesuai metode alokasinya. Ada 2 jenis metode alokasi yang umum digunakan
yakni:
1. Metode Garis Lurus
Metode garis lurus mengalokasikan biaya atas aset pada maasa manfaatnya
berdasarkan beban yang secara periodik sama. Contoh, jika sebuah aset bernilai $ 110.000,
dengan masa manfaat 10 tahun dan memiliki nilai sisa $ 10.000, maka menggunakan
metode garis lurus beban penyusutan menjadi: ($110.000-$10.000) / 10 tahun=$10.000.
Beban penyusutan $10.000 terus dihitung hingga tahun ke-10.
2. Metode Dipercepat (Accelerated)
Metode ini mengalokasikan biaya aset sepanjang masa manfaat suatu aset dengan
pola yang semakin menurun. Dua metode penyusutan dipercepat yang paling umum
digunakan adalah (a) saldo menurun dan (b) jumlah angka tahun.
Pada intinya, metode saldo menurun mengenakan tarif yang tetap terhadap saldo
nilai tercatat yang semakin menurun. Sementara, menerapkan bagian dari biaya aset
dikurangi nilai sisa yang semakin mengecil.
Metode baru yang diusulkan oleh Toro Manufacturing merujuk pada metode anuitas.
Dalam metode anuitas, beban penyusutan yang dihasilkan pada tahun/periode awal adalah
rendah dan akan meningkat jumlahnya tiap periode berikutnya.

Metode anuitas umumnya banyak digunakan dalam industri real estate dan beberapa pada
industri penyedia jasa. Namun, metode penyusutan ini secara umum bukanlah metode yang dapat
diterima menurut prinsip akuntansi U.S. GAAP.
Metode ini tidak diijinkan karena akan berpengaruh pada kenaikan net income seiring
semakin tuanya usia aset. Pada perusahaan manufaktur seperti Toro Manufacturing, hal tersebut
akan terjadi. Pada umumnya, perusahaan manufaktur akan memanfaatkan terlebih dahulu aset,
contohnya mesin-mesin, mulai dari yang baru. Kegiatan produksi perusahaan manufaktur hanya
akan memberdayakan lagi mesin lama jika terjadi lonjakan permintaan yang menyebabkan
lonjakan kebutuhan produksi. Dengan asumsi bahwa operasi yang sebenarnya (termasuk
penggunaan peralatan) setiap tahun adalah identik, maka biaya pemeliharaan dan perbaikan akan
lebih tinggi di tahun-tahun terakhir manfaat mesin tersebut daripada tahun sebelumnya. Hal ini
akhirnya akan menyebabkan net income juga akan meningkat seiring naiknya biaya penyusutan
aset tersebut (dalam hal ini, mesin-mesin).
Biaya penyusutan tidak mengembalikan juga membuat uang. Kegiatan menghasilkan
pendapatan adalah sumber kas dari operasi. Jika pendapatan melebihi biaya diluar-saku (out-ofpocket) selama periode, maka kas yang tersedia untuk menutupi selain biaya diluar-saku. Namun,
jika pendapatan tidak melebihi biaya diluar-saku, maka tidak ada uang tunai yang tersedia tidak
peduli berapa banyak, atau sedikit, penyusutan dibebankan.
Penyusutan dapat mempengaruhi kas dalam setidaknya dua cara. Pertama, biaya
depresiasi mempengaruhi pendapatan yang dilaporkan dan, karenanya, dapat mempengaruhi
keputusan manajerial seperti keputusan mengenai harga, pemilihan produk, dan dividen.
Misalnya, metode yang diusulkan akan menghasilkan pendapatan yang dilaporkan lebih tinggi
daripada metode straight line pada awalnya. Akibatnya, pemegang saham mungkin menuntut
dividen yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal dari yang mereka harapkan. Metode straight
line, dengan menghasilkan pendapatan yang dilaporkan lebih rendah selama tahun-tahun awal
usia aset dan dengan mengurangi jumlah dividen potensial di tahun-tahun awal dibandingkan
dengan metode yang diusulkan, dapat mendorong reinvestasi awal pada aset laba-produktif
lainnya untuk memenuhi meningkatnya permintaan.
Kedua, biaya depresiasi mempengaruhi penghasilan kena pajak yang dilaporkan. Ini
berarti depresiasi mempengaruhi jumlah pajak penghasilan terutang pada tahun deduksi secara
langsung. Penggunaan metode yang diusulkan untuk tujuan pajak akan mengurangi tagihan pajak

total atas umur aset (1) jika tarif pajak meningkat pada tahun-tahun mendatang atau (2) jika
usaha yang dilakukan sedang berkinerja buruk sekarang tetapi akan secara signifikan lebih baik
dalam masa depan. Kondisi pertama adalah politik dan spekulatif, tetapi kondisi kedua mungkin
berlaku untuk Toro dalam pandangan asalnya baru-baru ini dan program ekspansi yang cepat.
Akibatnya, lebih banyak dana mungkin tersedia untuk reinvestasi dalam aktiva tetap di tahun
pemotongan lebih besar jika bisnis tetap menguntungkan.
Jika Toro tidak menguntungkan sekarang, itu tidak akan mendapat manfaat dari
pemotongan yang lebih tinggi sekarang dan harus mempertimbangkan peningkatan metode biaya
untuk keperluan pajak, seperti yang diusulkan. Jika Toro menguntungkan sekarang, presiden
harus mempertimbangkan kembali proposalnya karena akan menunda ketersediaan uang tunai
yang harus dibayar untuk menutupi pajak. Juga metode yang diusulkan dapat mengakibatkan
estimasi biaya produksi yang lebih rendah pada tahun sebelumnya, yang dapat menyebabkan
underpricing produk.