Anda di halaman 1dari 10

Akuntansi Aset

Bersejarah di Museum
Oleh:

Bernardinus Adi
Cahya

I Wayan Budi
Darmawan

Imaniar Aulia

Laras Laksmidewi

Gitta Wahyu Retnani

Fitri Ayu Ningtias

Tri Prasetyo
Rachman Rosyadi

May Amalia Lailul


Adha

Erika Giovanni
Simangunsong

Aisyah Assadiah Putri

Ayu Marshaa Devany

Arrasaq Johansyah

Definisi Aset Bersejarah


Aset bersejarah adalah aset berwujud yang dilindungi oleh
pemerintah, di dalamnya terkandung nilai seni, budaya,
pendidikan, sejarah, pengetahuan dan karakteristik unik lainnya
sehingga patut untuk dipelihara dan dipertahankan
kelestariannya.
Aset bersejarah adalah kelompok aset karena memiliki sesuatu
yang bernilai, ada value yang melekat pada benda itu. Dalam
akuntansi definisi aset sudah ditetapkan, adalah future economic
benefit yang dikuasai oleh entitas yang terjadi akibat transaksi di
masa lalu.

Kriteria Aset Bersejarah

Aversano dan Ferrone (2012) mengungkapkan bahwa aset bersejarah


mempunyai beberapa aspek yang membedakannya dengan aset- aset lain,
diantaranya adalah

1. Nilai budaya, lingkungan, pendidikan dan sejarah yang terkandung di


dalam aset tidak mungkin sepenuhnya tercermin dalam istilah moneter

2. Terdapat kesulitan untuk mengidentifikasi nilai buku berdasarkan harga


pasar yang sepenuhnya mencerminkan nilai seni, budaya, lingkungan,
pendidikan atau sejarah

3. Terdapat larangan dan pembatasan yang sah menurut undang- undang


untuk masalah penjualan

4. Keberadaan aset tidak tergantikan dan nilai aset memungkinkan untuk


bertambah seiring bejalannya waktu, walaupun kondisi fisik aset memburuk

5. Terdapat kesulitan untuk mengestimasikan masa manfaat aset karena


masa manfaat yang tidak terbatas, dan pada beberapa kasus bahkan tidak
bisa didefinisikan.

6. Aset tersebut dilindungi, dirawat serta dipelihara

Pengakuan Asset Bersejarah di


Museum

Aset bersejarah museum dapat kita kelompokan dalam 2 bagian asset


yaitu:

1. Aset bersejarah operasional, artinya adalah asset bersejarah tersebut


aktif digunakan atau dipajang sebagai benda pameran museum untuk
menarik para pengunjung sehingga museum dapat memperoleh
pendapatan.
2. Aset bersejarah non-operasi, artinya dalah asset bersejarah yang tidak
dipajang oleh museum atau dengan kata lain sedang disimpan ataupun
sedang dirawat oleh pihak museum sehingga tidak dipajang.
Aset bersejarah suatu museum diakui sebagai asset saat benda
bersejarah tersebut berada di dalam lingkungan museum tersebut. Pada
dasarnya asset bersejarah bukanlah milik siapapun, tetapi penulis
berpendapat bahwa benda tersebut perlu dipastikan keberadaannya.

Pengukuran Nilai Aset Bersejarah

Karena benda sejarah memiliki niai yang sulit untuk diperkirakan maka
kami memutuskan bahwa asset bersejarah harus dinilai berdasarkan
nilai fair value nya.

Penilaian fair value pada saat perolehan dapat dilakukan dengan


beberapa opsi antara lain:

1. Berdasarkan historical cost (biaya yang telah dikeluarkan oleh museum


untuk memperoleh asset tersebut seperti biaya penggalian, penemuan,
pembersihan, pengiriman, dan lain sebagainya.
2. Menggunakan nilai pasar aktif.
3. Menggunakan nilai pasar lelang.

Pengukuran Nilai Aset bersejarah


(Depresiasi)
Aset bersejarah tidak memiliki umur yang dapat diperkirakan
secara wajar. Jadi asset bersejarah tidak perlu dilakukannya
depresiasi.
Karena tidak ada kewajiban untuk didepresiasi, asset bersejarah
wajib untuk dilakukan revaluasi asset secara berkala baik dinilai
berdasarkan kondisi, harga pasar, maupun menggunakan jasa
appraiser dari luar.
Penurunan maupun peningkatan nilai disesuaikan sebagai
Kerugian atau Keuntungan Revaluasi.

Perlakuan Perawatan Aset Bersejarah

Aset bersejarah merupakan asset yang sangat rentan keberadaan dan


kondisinya. Pemerintah maupun museum pasti mengeluarkan berbagai
biaya untuk perawatan benda bersejarah tersebut.

Biaya yang berkaitan dengan perawatan asset bersejarah tersebut


dibagi perlakuannya menjadi dua:

1. Biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai biaya untuk perawatan diakui


sebagai beban periode berjalan dan dilaporkan dalam laporan laba rugi.
2. Apabila biaya-biaya perawatan yang dikeluarkan sangat material
jumlahnya dan memengaruhi umur asset (seperti proses pemugaran)
maka biaya-biaya tersebut diperbolehkan dikapitalisasi kedalam nilai
asset bersangkutan.

Penghapusan Aset Bersejarah


Jika asset bersangkutan sudah tidak ada dalam lingkungan
museum maka nilai asset tersebut harus dihapuskan
berdasarkan nilai bukunya.
Jika asset tersebut dipindahkan karena proses perawatan maka
tidak perlu dihapuskan.
Jika asset tersebut hilang karena pencurian maka diakui sebagai
kerugian museum.

Penyajian dan Pengungkapan Aset


Bersejarah
Aset bersejarah disajikan dalam laporan posisi keuangan sesuai
dengan nilai bersihnya. Penyajian disesuaikan dengan
pembagian jenis asset bersejarahnya.
Seluruh informasi penting terkait asset tersebut wajib
diungkapkap dalam catatan atas laporan keuangan. Mulai dari
informasi mengenai perolehan asset, revaluasi, maupun
kapitalisasi biaya, serta penghapusan asset bersangkutan.