Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN
Untuk meningkatkan pembangunan nasional, pemerintah dewasa ini terus
menggalakkan pembangunan yang mencakup disegala bidang, terutama
pembangunan dalam pembangunan perhubungan. Untuk menghubungkan daerah
kota dengan daerah terpencil lainnya segala membutuhkan pembangunan
prasarana dan sarana perhubungan yang meliputi pembangunan jalan dan
jembatan. Tujuan pembangunan ini dilakukan untuk dapat terwujud jalinan
hubungan yang erat dan komunikasi yang baik, sehingga dapat meningkatkan
perekonomian yang dan taraf hidup masyarakat adil dan makmur berdasarkan
pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Khususnya di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, pembangunan dalam
bidang perhubungan semakin berkembang, ini menunjukkan bahwa angka
pertambahan pembangunan semakin meningkat. Salah satunya pembangunan
jembatan pante karya.
Konstruksi jembatan tersebut mempunyai panjang bentangan 32 m dan
lebar lantai kendaraan 12 m dengan lebar trotoar kiri dan kanan 2 x 1,7 m.
Menurut peraturan Bina Marga jembatan krueng bereugang ini digolongkan kelas
II dengan pembebanan 70 %.

BAB II
DASAR TEORI
Pondasi adalah bagian dari suatu bangunan yang berfungsi meneruskan
beban bangunan tersebut ke tanah dimana bangunan didirikan.
Pondasi sumuran biasanya digunakan apabila lapisan tanah keras berada
pada kedalaman 2-7 meter. Menurut buku karangan Tarzaghi dan RB.Peck,tahun
1991,dengan judul mekanika tanah dalam Praktek, Rekayasa,jilid II,dijelaskan
bahwa pondasi sumuran lebih besar dari 5 (DF/B > 5). Berdasarkan penjelasan
tersebut, maka untuk memindahkan beban-beban yang berkerja pada jembatan
pante karya Ke atas lapisan tanah keras dipakai pondasi sumuran.
Untuk mencapai sasaran dalam perencanaan pondasi sumuran, pada bab
ini akan dikemukakan beberapa teori dan penggunaan rumus dari beberapa
referensi yang berhubugan dengan perecanaan pondasi sumuran.
2.1 Pembebanan
Beban-beban yang berkerja pada pondasi merupakan beban-beban yang
diteruskan dari bangunan di atasnya. Beban-beban tersebut terdiri dari beban
primer, beban sekunder, beban khusus dan kombinasi pembebanan. Beban-beban
tersebut dihitung berdasarkan pedoman perencanaan pembebanan jembatan jalan
raya ( PPPJR) 1987.
2.1.1

Beban Primer
Beban primer merupakan beban utama dalam perencanaan kontruksi

jembatan. Beban-beban primer terdiri dari beban mati, beban hidup dan beban
kejut. Beban mati adalah semua beban yang berasal dari beban sendiri jembatan
yang terdiri dari berat bangunan bawah. Berat bangunan atas terdiri dari beban
gelagar, berat lantai kendaraan, berat lapisan aspal dan diafragma serta berat
sandara, berat plat injak, berat tembok pengarah, berat aspal diatas plat injak dan
beban pipa pembuang. Dan pada konstruksi bangunan bawah, beban-beban yang
diperhitungkan adalah berat abutment dan berat tanah di atas abutment.

Beban hidup adalah semua beban yang berasal dari kendaraan-kendaraan yang
bergera/lalu lintas atau penjalan kaki yang diangaap berkerja diatas konstruksi.
Beban hidup terdiri dari beban T dan D dan beban T merupakan beban terpusat
dari lantai kerja yang dihitung berdasarkan beban kendaraan truk roda ganda (dual
wheel load) sebesar 10 ton. Sedangkan beban D merupakan beban yang bekerja
pada jalur lalu lintas yang terdiri dari beban garis ( P ) dan beban terbagi rata ( q )
Beban terbagi rata yang berkerja pada bentang jembatan yang kurang dari 30
meter di tetapkan sebesar :
q = 2,2 t/m.(2.1)
Dimana :
q = beban terbagi rata (t/m)
Perhitungan penggunaan beban D digunakan berdasarkan PPPJR(1987),
yaitu untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan lebih besar dari 5,5 meter,
beban D sepenuhnya (100 %) dibebankan pada jalur tersebut, sedangkan lebar
selebihnya dibebankan setengah (50 %) dari beban D.
Dan lebar jalur sama atau lebih kecil dari 5,5 m, beban D sepenuhnya
dibebankan pada seluruh lebar jembatan, beban hidup yang bekerja di atas trotoar
ditetapkan sebesar 500 kg/m2.
Untuk menghitung besarnya beban kejut yang timbul akibat dari pengaruh
getaran dan pengaruh dinamis lainnya, digunakan persamaan :
k=1+
20
................................................................................
50 L

...(2.2)
Besar Beban Kejut adalah :
K = k x p (2.3)
Dimana :
K

= Koefisien Kejut

= Panjang Bentang (m)

2.1.2

= Beban Garis (ton)

= Beban Kejut (ton)

Beban Sekunder
Beban sekunder yang mempengaruhi konstruksi pondasi pada jembatan

yang diperhitungkan melewati beban akibat pengaruh tekanan angin, gaya traksi,
gaya rem dan gaya gempa bumi. Beban angin diperhitungkan sebesar 150 kg/m2
yang bekerja tegak lurus dengan sumbu jembatan. Dapat dihitung dengan
persamaan :
W

= P x A ..(2.4)

Dimana :
W

= Besarnya tekanan angin (kg)

= Beban angin yang bekerja 150 kg/m2

= Luas bidang yang terkena angin (m2)

Untuk gaya rem yang bekerja pada arah memanjang jembatan setinggi 1,8
m diatas permukaan lantai kendaraan sebesar 5% dari beban D.
Menurut PPPJR (1987), besarnya gaya gempa bumi dapat dihitung dengan
persamaan :
Gh

= E x M.(2.5)

Dimana :
Gh

= Gaya akibat gempa bumi (ton)

= Koefisien gempa

= Beban mati dari konstruksi (ton)

Besarnya koefisien gempa tergantung dari jenis tanah dan daerah gempa.
2.1.3

Kombinasi Pembebanan
kombinasi

pembebanan

dihitung

untuk

menjaga

kemungkinan-

kemungkinan timbulnya pengaruh beban yang ada konstruksi jembatan yang


bekerja pada konstruksi jembatan.

Tabel 2.1.1 Kombinasi Pembebanan :


Tegangan yang digunakan
Kombinasi Pembebanan

dalam % terhadap
tegangan izin

Kom I M + H + Ta + T

100 %

Kom II M + Ta + Ah + Gg + A + Sr + Tm

125 %

Kom III Kom I + Rm + Gg + A + Sr + Tm + S

140 %

Kom IV M + Gh + Tag + Gg + Ahg + Tu

150 %

Kom V + Pi

130 %

Kom VI M + H + K + Ta + S + Tb

150 %

Sumber : PPPJR SKBI 1.3.28.1987

Dimana :
A

= Beban Mati

Ah

= Gaya akibat aliran dan hanyutan

Ahg

= Gaya akibat aliran dan hanyutan pada saat terjadi gempa

Gg

= Gaya gesek pada tumpuan

(H+K) = Beban hidup dengan beban kejut


M

= Beban mati

PI

= Gaya-gaya pada waktu pelaksanaan

Rm

= Gaya rem

= Gaya sentrilpugal

Sr

= Gaya akibat susut dan rangkak

Tag

= Gaya tekan tanah akibat gempa

Tb

= Gaya tumbuk

Tu

= Gaya angkat

Ta

= Gaya akibat tekanan tanah

Tm

= Gaya akibat tekanan suhu

2.2

Analisa Konstruksi Pondasi


Penganalisaan pondasi ini didasari dari bentuk dan ukuran yang telah

dihitung oleh konsultan perencana. Analisa yang dilakukan meliputi analisa


tekanan tanah pada dinding pondasi dan analisa penulangan, baik tulangan
melingkar maupun tulangan vertikal.
2.2.1

Analisa tekanan tanah pada dinding pondasi


Dalam merencanakan pondasi, sering didasarkan atas keadaan yang

meyakinkan tidak terjadinya keruntuhan atau penurunan total. Dalam menghitung


tekanan tanah tersebut diperlukan data berat jenis tanah ( ), nilai kohesi tanah
(C)
Dan sudut geser dalam ( ). Jika kita tidak memperoleh data tanah dari
laboratorium, maka dapat memperolehnya dari data CPT. Unutk mengetahui berat
jenis tanah yang berasal dari data CPT dapat dihitung dengan menginterpolasikan
harga N dari tabel penafsiran

hasil penyelidikan tanah. Menurut Rankine

(Hary. C. H, 1994), koefisien tekanan tanah pasif diperoleh dengan persamaan :

Ka

1 Sin
1 Sin

Kp

1 Sin
1 Sin

(2.6)

(2.7)
Untuk tekanan tanah aktif pada dasar dinding dapat digunakan persamaan :
Pad

= x H x Ka .

(2.8)
Maka besarnya tekanan tanah aktif adalah :

Pa

= H2 x x Ka ....

(2.9)
Pada beban terbagi rata besarnya tekanan tanah aktif dinyatakan dalam persamaan
berikut ini :
Pa

= q x Ka x H (2.10)

Dimana :
Ka

= Koefisien tanah aktif

Kp

= Koefisien tanah pasir

= Sudut geser dalam

Pad

= Tekanan tanah aktif pada dinding pondasi (t/m2)

Pa

= Tekanan tanah aktif total (t/m2)

Pa

= Tekanan tanah aktif total (t/m)

= Kedalaman pondasi (m)

= Jenis tanah (t/m3)

= Beban terbagi rata (t/m)

Dan untuk menghitung besarnya tekanan tanah pasir total digunakan


persamaan :
Pp

= H2 x x Kp .(2.1.1)

Pada beban terbagi rata persamaan yang digunakan untuk tekanan tanah
pasif adalah :
Pp

= q x Kp x H ...(2.1.2)

Dimana :
Pp

= Tekanan tanah pasif total (t/m)

Pp

= Tekanan tanah pasif akibat beban terbagi rata (t/m)

2.2.2

Analisa Penulangan
Analisa penulangan pondasi sumuran sangat penting dilakukan agar

kemampuan dan kekokohan penulangan yang direncanakan mampu menerima dan


menyalurkan beban-beban yang bekerja diatasnya dengan baik. Menurut Gideon
Kusumo (1994), penulangan sumuran dapat dilakukan dengan persamaanpersamaan berikut ini :

E 01

Mu
(2.13)
Pu

E02 = 1/30 x ht

2 (Jika 2, Diambil 2) (2.14)

E 0 e01 e02

..

(2.15)

lk
E1 C1 x C 2
x ht
100
x
ht

(2.16)
E 2 0,15 x ht ...

(2.17)
C2

eo
....
ht

(2.18)
etot e0 e1 e 2 ...

(2,19)
e
Pu
x tot ...
xAg x 0,85 fc '
ht

(2.20)

Ast pq x Ag

..

(2.21)
Dimana :
Pu

= Beban Rencana (ton)

Mu

= Moment Rencana (t.m)

Fc

= Mutu Beton (mpa)

= Eksentrisitas (m)

= Faktor Reduksi Tulangan

Ast

= Luas Tulangan Vertikal (cm2)

Ht

= Diameter Pondasi

Ag

= Luas Pondasi Sumuran (cm2)

Menurut Cha-Kia Wang (1994), unutk menjamin kekuatan tulangan


melingkar akan melebihi kekuatan selimut beton dan dengan mengambil kekuatan
selimut beton 90 % dari kekuatan inti beton atau 0,75 fc, kama digunakan
persamaan :
Ps

fc '
Ag

1 x
...
Ac
fy

= 0,45 x

(2.23)
Ps

Asp
...
Ac

(2.24)

x (Dc db) ...(2.25)


x x Dc2 x S

Asp

= As x

Ac

(2.26)
Ag

= x

x D2

(2.27)
Dimana :
Ps

= Perbandingan antara Volume dari penulangan melingkar dengan volume


dari inti untuk panjang S.

Asp

= Volume dari tulangan melingkar (cm3).

Ac

= Volume dari inti untuk panjang S (cm2)

Ag

= Luas pondasi sumuran (cm2)

Fc

= Mutu beton (Mpa)

Fy

= Mutu baja tulangan (Mpa)

db

= Diameter tulangan melingkar (cm)

Dc

= Diameter Inti (cm)

As

= Luas tulangan inti (cm2)

= Jarak antara tulangan melingkar (cm)


Menuru Margaret dan Gunawan (1990), untuk menentukan tebal dinding
sumuran dapat digunakan persamaan :

bs

Pr
bs
100 x t ( n 1) x A
...

..(2.28)
Dimana :

bs

= Tegangan beton (Kg/cm2)

bs

= Tegangan izin beton (kg/cm2)

= Tebal dinding (cm)

= Perbandingan elastisitas antara baja dengan beton

= Luas penampang (cm2)

2.3

Analisa daya dukung pondasi


Daya dukung tanah adalah tekanan maksimum yang dapat dipikul oleh

tanah tanpa terjadinya kelongsoran atau penurunan. Kemampuan daya dukung


tanah dihitung berdasarkan daya dukung izin dan daya dukung terhadap kekuatan
bahan.
2.3.1

Daya Dukung Tanah Berdasarkan Data

Menurut Manyerhof (1986), kemampuan daya dukung izin suatu tanah


dihitung dengan mengunakan persamaan :
Tabel 2.3 Faktor Konfersi
Satuan

F
1

SI (m)
0,50

Fps (ft)
2,5

0,08

4,0

0,30

1,0

0,20

4,0

Sumber : Bowles, 1991 sifat-sifat fisis dan geoteknik tanah

2.3.2

Daya Dukung Tanah Terhadap Kekuatan Bahan


Daya dukung tanah yang dihitung berdasarkan kekuatan dari bahan yang

digunakan sebagai pembentuk pondasi. Menurut Sardjono (1990),besarnya daya


dukung tersebut dihitung dengan menggunakan persamaan:

= b x A ......(2.30)

Dimana:
P

=Daya dukung tanah (kg)

=Tegangan izin bahan (kg/m 2 )

=Luas penampang pondasi (m)

Penampang pondasi dihitung dengan persamaan :


A

= Fb x n Fe
Dan

Fb

x x (d12 d22)

Dinama :
Fb

= Luas penampang dinding pondasi (m2)

= Koefisien perbandingan elastisitas

2.4

Fe

= Luas penampang tulangan (m2)

d1

= Diameter luas pondasi (m)

d2

= Diameter dalam pondasi (m)

Analisa Stabilitas Konstruksi Pondasi


Stabilitas kontruksi adalah kemampuan konstruksi dalam menahan beban-

beban yanga bekerja diatasnya tanpa mengalami pergeseran guling dan


penurunan. Setiap perencanaan

konstruksi harus memperhitungkan stabilitas

kontruksi terhadap beban yang bekerja agar kontruksi yang direncanakan aman
pada tahap pengamanan.
2.4.1

Stabilitas Terhadap Guling


Menurut Margaret dan Gunawan (1990), stabilitas konstruksi terhadap

guling dapat dihitung dengan persamaan :

Fk

Mr Fk 2
Mo

..

(2.33)
Mr

= Gaya arah vertikal x lengan.(2.34)

Mo

=- Gaya arah horizontal x lengan ...(2.35)

Dimana :

2.4.2

Mr

= Momen penahan (t.m)

Mo

= Momen guling (t.m)

Stabilitas terhadap geser


Menurut Margaret dan Gunawan (1990), stabilitas konstruksi terhadap

geser dapat dihitung dengan persamaan :

Fk

(2.36)

Er
Fk 1,5 ....
PH

= R tg + (c x B) + Pp ...

Fr
(2.37)

Dimana :

2.4.3

Pr

= Tegangan geser (t)

PH

= Tekanan memanjang (t.m)

= Besargaya arah reaksi vertikal (t)

= Lebar Abutment

= Sudut geser

= Kohesif tanah

Pp

= Tekanan tanah pasif

Tegangan kontak
Munurut Margaret dan Gunawan (1990), besarnya tegangan kontak dapat

dihitung dengan persamaan :


q Mak
P
6 x ex 6 x ex

q Min
As
B
B

..(2.3.8)

2.4.4

Penurunan Pondasi
Berdasarkan Ir. Saedjono HS, 1991, penurunan permukaan dapat dihitung

dengan persamaan :

H
PI
Log
.
C
Po

(2.39)
C

1,5 P
..
Po

(2.40)
Dimana :
S

= Penurunan (cm)

P1

= Tekanan tanah setelah ada bangunan (kg/cm2)

Po

= Tekanan tanah sebelum ada bangunan (kg/cm2)

= Indeks Of Compressibility

= Nilai konus (kg/cm2)

Besarnya tekanan tanah setelah bangunan selesai dapat dihitung dengan


persamaan:

PI

= Po +

(2.41)

(B x L )
( B 2 htg 30 o ) ( L
1

htg 30 o )

(2.42)
q

w
BxL

(2.43)

Po

I x hI 2 (h2 1 2 h) ..

(2.44)

BAB III
PERHITUNGAN
3.1.

Beban Primer
Beban primer merupakan beban utama dalam perencanaan konstuksi

jembatan. Beban primer terdiri beban mati, beban hidup, beban kejut dan beban
akibat tekanan tanah.

3.1.1

Beban Mati
Untuk mempermudah perhitungan, maka beban mati pada konstuksi

dibagi beberapa bagian :


A.

Beban Bangunan Atas


Beban bangunan atas terdiri yang dihitung terdiri dari :
1. Berat Plat Lantai Kendaraan
Dimensi dan pembagian pias pada plat lantai kendaraan dapat dilihat

gambar dibawah ini. Panjang plat lantai kendaraan 13,8 m dan lebar 4 m, tebal
lantai 0.20 m, Bj beton 2.4 t/m3, Bj aspal 2.2 t/m3.

Maka besarnya beban plat lantai adalah :


Bpl = P x L x Tebal lantai x Bj beton
= 13.8 m x 4 m x 0.20 m x 2,4 t/m3
= 26.496 t
Untuk beban plat lantai yang bekerja pada satu abutmen adalah :
Bpl = x 24.496 t
= 25.79 t
2. Berat ASPAL

Pengaspalan diatas pias lantai setebal 0.05 m dengan kemiringan 2%


dengan lebar jalan 4 m dan berat volume aspal 2,2 t/m.

Maka beban Aspal untuk satu bentang adalah :


B As = P x L x T x BJ. Aspal
= 13.8 x 4 x 0.05 x 2,2 t/m3
= 6.072 t
B Aspal

= x B As
= x 6.072 t
= 3.036 t

3. Beban Tiang Sandaran

Sandaran terbuat dari beton bertulang dengan berat jenis 2.4 t/m 3. Terdapat
di dua sisi jembatan yaitu :

Beban Sandaran
Bts = P x L x T x Bj. Beton
= 0,16 x 0,1 x 1.10 x 2,4 t/m3
= 0,0422 t
Maka berat tiang sandaran adalah:
Bts = Bts x 2 x 8 (jumlah tiang sandaran)
= 0.0422 t x 2 x 6
= 0.704 t

4. Berat Pipa Sandaran

5.
Diameter pipa

= 75 mm

Tebal pipa

Bentangan pipa

= 13.8 m

Jumlah pipa

= 4 buah

6 mm

Maka berat pipa sandaran adalah :


Bps = ( 1/4 x x d2 ) x bentangan pipa x jumlah pipa
= ( 1/4 x 3,14 x 0,0752) x 13.8 x 8
= 0.487 t
Maka beban pipa dan tiang sandaran adalah :
Bpst = Bts + Bps
= 0.704 t + 0.487 t
= 1.191 t
Untuk beban pipa dan tiang sandaran yang bekerja pada satu abotment adalah
Bpst = x Bpst
= x 1.191 t
= 0.595 t

6. Beban Plat Injak

Plat injak terbuat dari beton bertulang Bj beton 2.4 t/m3. Panjang 5.32,
lebar 1.50 m, tinggi 0.2 m. perhitungan dibagi menjadi beberapa pias :

Maka beban plat injak :


P1

= P x L x T x Bj Beton
= 1.75 m x 4 m x 0.2 m x 2.4 t/m3
= 3.36 t

P2

= P x L x T x Bj Beton
= 0.25 m x 4 m x 0.05 m x 2.4 t/m3
= 0.12 t

P3

= P x alas x T x Bj Beton
= 4 m x (0.05) m x 0.05 m x 2.4 t/m3
= 0.012 t

Maka beban total keseluruhan plat injak adalah :


Ptotal

= P1 + P2 + P3
= 3.36 + 0.12 + 0.012
= 3.492 t

7. Beban Diafragma

Diafragma terbuat dari beton bertulang dengan Bj beton 2.4 t/m3 adalah :
Bdf

= P x L x T x Bj beton x 5 buah
= 1.6 m x 0.3 m x 0.5 x 2.4 t/m3 x 5 buah
= 2.88 t

Beban untuk 1 abutment :


Bdf

= x 2.88 t
= 1.44 t

8. Berat Abutment
Dimensi dan pembagian pias pada abutment dapat dilihat gambar dibawah
ini. :

110

50

25

25 25

110

50

50

30

240

170

40

65

87.5

85

75

87.5

250

PIAS ABUTMENT
NON SKALA

Rumus :
Pias = P x L x T x Bj Beton

.......... ( 1 )

Pias = P x a x T x Bj Beton

... ( 2 )

Ket :
- pada pias 1,2,3,5 dan 9 munggunakan rumus no pada persaman 1
- pada pias 3,6,7 dan 8 munggunaka rumus no pada persamaan 2

9. Beban Wing Wall

Berat Elestomerik
Dimensi dan pembagian pias elestomerik dapat dihitung :

Rumus :
W = P x L x T x Bj karet Ng x 3 buah

Berdasarkan perhitungan diatas, maka diperoleh berat jembatan mati adalah :


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Muatan Muatan
Plat lantai
Aspal
Tiang sandaran
Pipa sandaran
Plat injak
Diafragma
Abutment
elestomerik
Total

Beban ( Ton )
25.79
3.036
0.704
0.595
3.492
1.44
66.240
0.012
101.309

3.1.2. Beban Hidup


Menurut PPPJJR-1987, beban hidup yang bekerja pada jembatan kelas A
diperhitungkan sebesar 70 % dari total beban hidup pada jembatan, dibagi
dalam beberapa bagian sebagai berikut :

1. Beban T (beban terpusat lantai kendaraan) diambil 12 ton.


2. Beban D (beban jalur lalu lintas) sepenuhnya (100%) harus
dibebankan pada seluruh lebar jembatan.
1. Beban Garis ( P )
Menurut PPPJJR-1987, besar beban garis (P) diambil 12 ton
diperhitungkan sebesar 70 %. Maka beban P dapat dihitung
P = 12 t x 70 %
= 8,4 t
P

P = 2,75 x L x100 %
8,4t

= 2,75 x 4mx 100 %


= 12.218 t

2. Beban Terbagi Rata (q)


Menurut PPPJJR-1987, beban q untuk L 30 m adalah 2,2 t/m dan
besar beban q yang bekerja pada jembatan adalah :

= 2,75 x L x 100%
2,2t

= 2,75 x 4mx 100 %


= 3.2 t/m
Maka besarnya beban untuk jalur lintas D adalah :
D = q x panjang bentang
= 3.2 t x 13.8 m
= 44.16 t

Beban D yang dilimpahkan pada satu abutment adalah :


Dabutment

=D
= x 44.16 t
= 22.08 t

3. Beban Hidup pada Sandaran


Menurut PPPJJR-1987, beban yang bekerja pada sandaran sebesar 100
kg/m2. Maka beban yang bekerja pada trotoar dan sandaran adalah :
Bh sandaran

= 0.1 t/m x panjang x 2 sisi


= 0,1 t/m x 13.8 m x 2
= 2,76 t

Maka besarnya beban hidup yang bekerja pada jembatan adalah :


No
Muatan
1 Beban Garis
2 Beban terbagi Rata
3 Beban Pada Sandaran
Total

Beban (Ton)
12.21
22.08
2.79
37.08

3.1.3. Beban Kejut ( K )


Menurut PPPJJR-1987, beban kejut (K) diperoleh dari hasil perkalian
beban garis (P) dengan koefisien kejut.
K = 1
= 1

20
(50 L )
20
(50 13.8m)

= 1,313 t
Maka besarnya beban kejut adalah :
K = Koefisien kejut x P
= 1,313 x 12.21 t
= 16.031 t
3.1.4. Perhitungan Tekanan Tanah
Untuk mencari berat jenis tanah (), sudut geser (), pada lapisan tanah
yang ditinjau dihitung berdasarkan harga konus (qc), pada kedalaman 3,80 m
diperoleh harga konus (qc) = 210 kg/m2 dan jenis tanah pasir padat, maka harga N
dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut :
qc = 210 kg/cm
N = X 210 kg/cm
= 52,5 kg/cm
Berat isi tanah asli :
50

52,5

51

10

23

52,5 50 10

51 10
23 10
2,5
41

10
13

32,5

= 41 410
=

442,5
41

= 10,792 kg/cm2

= 1,07 t/m

Jadi, berat jenis tanah () adalah 1,07 t/m3 (interpolasi)


Berdasarkan nilai N = 51 kg/cm2 ,maka diperoleh Sudut geser () sebesar
35o. Untuk tanah timbunan jenis tanah adalah pasir padat berat jenis (1),karena
diperoleh nilai qc sebesar 150 kg/cm2
qc

= 150 kg/cm
N = X 150 kg/cm
= 37,5 kg/cm

Berat isi tanah timbunan :


31

37,5

50

16

20

37,5 31 16

50 31
20 16

16
4

6,5
19

26

= 19 304
=

330
19

= 17,368 kg/cm2

= 1,74 t/m

Jadi, berat jenis tanah (1) adalah 1,7t/m3 (interpolasi)

Nilai untuk sudut geser () :


31

37,5

50

30

40

37,5 31 30

50 31
40 30
6,5
19

30
10

6,5 = 19 570
= 17,368 kg/cm2

635
19

= 33,42
= 33
Jadi, sudut geser () adalah 33 o (interpolasi)
Dari perhitungan diatas diperoleh

berat jenis tanah (1)

= 1,74 t/m3 (interpolasi)

berat jenis tanah (2)

= 1,07 t/m3 (interpolasi)

sudut geser ()

= 35 o berdasarkan nilai N

sudut geser ()

= 33 o (interpolasi)

lebar abutment (l)

tinggi abutment (h1)

= 5,05 m

tinggi sumuran (h2)

= 1,5 m

= 6,72 m

sumuran

= 1,2 m x 1,2 m

a. koefisien tekanan tanah timbunan.


1 sin

1 sin 33

1 sin

1 sin 33

Ka1

= 1 sin = 1 sin 33 = 0,295

Kp1

= 1 sin = 1 sin 33 = 3,392

b. koefisien tekanan tanah asli.


1 sin

1 sin 35

1 sin

1 sin 35

Ka2

= 1 sin = 1 sin 35 = 0,271

Kp2

= 1 sin = 1 sin 35 = 3,690

Tekanan tanah pada abutment :


Pa1

= Ka1 x q x h1 x L
= 0,295 x 1 t/m3 x 5,05 m x 6,72 m

= 10,011 t
Pa2

= x Ka1 x 1 x (h12) x L
= x 0,295 x 1,7 t/m3 x (5,05 m)2 x 6,72 m
= 42,973 t

Pa total = Pa1 + Pa2


= 10,011 t + 42,973 t
= 52,984 t

Besarnya momen akibat tekanan tanah adalah :


Mpa

= Pa1 x Ya1 + Pa2 x Ya2


= 10,011 t x 2,525 + 42,973 t x 1,667 m
= 25,278 tm + 71,636 tm
= 96,914 tm

Tekanan tanah pada sumuran


Pa1

= x Ka1 x 1 x (h12) x L
= x 0,295 x 1,7 t/m3 x (5,05 m)2 x 6,72 m
= 42,973 t

Pa2

= Ka1 x 1 x h1 x h2 x S x 2
= 0,295 x 1,7 t/m3 x 5,05 m x 1,2 m x 2
= 6,078 t

Pa3

= x (Ka2 x 2 x h2 + w x h2) x S x 2
= x (0,271 x 1,07 t/m3 x 1,5 m + 1 t/m3 x 1,5 m) x 1,2 m x 2
= 2,322 t

Pa4

= (Ka1 x q x h1) x L + (Ka2 x q x h2)x S x 2


= (0,295 x 1t/m3 x 5,05 m) x 6,72 m + (0,271 x 1t/m3 x 1,5 m) x 1,2 m x 2
= 10,987 t

P total

= Pa1 + Pa2 + Pa3 + Pa4


= 42,973 t + 6,078 t + 2,922 t + 10,987 t
= 62,960 t

Tekanan tanah pasif


Pp1

= x (Kp x 2 x w x h2) x h2 x S x 2
= x (3,690 x 2,3 t/m3 x 1 t/m3 x 1,5 m) x 1,5 m x 1,2 m x 2
= 22,915 t

Besarnya momen akibat tekanan tanah adalah :


Mpa

= Pa1 x Ya1 + Pa2 x Ya2 + Pa3 x Ya3 + Pa3 x Ya3


= 42,973 t x 3,183 m + 6,078 t x 0,750 m + 2,922 t x 0,500 m + 10,987 t x
3,275 m
= 136,783 tm + 4,559 tm + 1,461 tm + 35,982 tm
= 178,785 tm

4.1.5. Tekanan Tanah Akibat Gempa


Dari perhitungan sebelumnya diperoleh tekanan tanah aktif pada abutment
sebesar 52,984 t, maka tekanan akibat gempa adalah :
Tag

= Koefisien gempa x Pa total


= 0,14 x 52,984 t
= 7,418 t

4.2.

Beban Sekunder

Beban sekunder yang diperhitungkan terdiri dari beban angin, beban traksi
dan rem, gaya akibat gempa bumi, gaya akibat tekanan tanah dan gaya gesek
akibat perletakan.
4.2.1. Beban Angin
Menurut PPPJJR-1987, besarnya beban angin diperhitungkan 150 kg/m 2
dan bekerja tegak lurus sumbu memanjang jembatan.
WLantai

= 1,8 m x 12 m x 0,150 t/m2 x 100 %

= 3,240 t

WKendaraan

2 m x 12 m x 0,150 t/m2 x 100 %

= 3,600 t

WSandaran

1 m x 12 m x 0,150 t/m2 x 50 %

= 0,900 t

Wtotal

= 7,740 t

Besarnya beban angin yang bekerja pada 1 abutment :


W

= x Wtotal
= x 7,740 t
= 3,874 t

4.2.2. Beban Traksi dan Rem


Menurut PPPJJR-1987, besarnya beban rem diperhitungkan 5% dari beban
D tanpa menghitung koefisien kejut. Gaya rem dianggap bekerja horizontal arah
sumbu jembatan dengan titik tangkap 1,8 m dari atas permukaan lantai.
Rm = 5 % x D
= 5 % x 63,273 t
= 3,164 t
Besarnya beban rem untuk 1 abutment adalah :
Rabutment

= x Rm
= x 3,164 t
= 1,582 t

4.2.3. Beban Gempa


Berdasarkan daerah gempa di Indonesia, konstruksi ini terletak pada lokasi
gempa daerah II, sedngkan keadaan tanah atau pondasi untuk jembatan yang
didirikan diatas pondasi, selain pondasi langsung.
Gh

=ExM
= 0,14 x 268,938 t
= 37,651 t

4.2.4. Beban Gesek


Gaya gesek terjadi pada bangunan atas jembatan koefisien beban gesek
antara karet dengan beton, menurut PPPJJR-1987 berkisar antara 0,15 0,18.
pada perencanaan koefisien beban gesek diambil sebesar 0,16.
Gg

= Koefisien gesek x P bangunan atas


= 0,16 x 45,947 t
= 7,352 t

4.2.5. Perhitungan Kombinasi Pembebanan


Kombinasi pembebanan pada jembatan dihitung dengan berpedoman pada
PPPJJR-1987, dengan beban yang bekerja sebagai berikut :

Beban mati

(M)

= 268,938 t

Beban Hidup (H)

= 42,837 t

Beban Kejut (K)

= 20,200 t

Beban Tekanan Tanah (Ta)

= 52,984 t

Beban Angin (A)

1,582 t

Beban Rem

3,422 t

Beban Gempa (Gh)

(Rm)

= 37,651 t

Beban Tekanan Tanah Gempa (Tag) =

7,418 t

Beban Gesek (Gg)

7,352 t

Kombinasi I

= M + H +K + Ta + Tu x 100 %
= 268,938 t + 42,937 t + 20,200 t + 52,984 t + 0 x 100 %
= 385,059 t

Kombinasi II = M + Ta + Ah + Gg + A + SR + Tm x 125 %
= 268,938 t + 52,984 t + 0 + 7,352 t + 1,582 t + 0 + 0 x 125 %
= 413,570 t
Kombinasi III = Kombinasi I + Rm + Gg + A + SR + Tm + S x 140 %
= 385,059 t + 3,422 + 7,352 t + 1,582 + 0 + 0 + 0 x 140 %
= 556,381 ton
Kombinasi IV = M + Gh + Tag + Gg + AHg + Tu x 150 %
= 268,938 t + 37,651 t + 7,418 t + 7,352 t + 0 + 0 x 150 %
= 482,039 t
Kombinasi V = M + PI x 130 %
= 268,938 + 0 x 130 %
= 349,619 t
Kombinasi VI = M + H + K + Ta + S + Tb
= 268,938 t + 42,837 t + 20,200 t + 52,984 t + 0 + 0 x 150 %
= 577,439 t
Dari keenam perhitungan kombinasi diatas diambil yang terbesar untuk
beban pada perencanaan pondasi, yaitu kombinasi VI sebesar 557,439 t
4.3.

Perhitungan Momen

Momen yang bekerja pada jembatan terjadi dalam 2 arah, yaitu momen
dalam arah melintang jembatan (tegak lurus sumbu Y) dan momen dalam arah
memanjang (tegak lurus sumbu X).

4.3.1. Momen Melintang (My)


1.

Momen Akibat Gaya Angin (MA)


Bagian jembatan yang ditinjau untuk menentukan momen akibat gaya

angin adalah lantai gelagar, kendaraan dan sandaran. Panjang lengan momen
dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

2.000

6.100
5.550
4.575

No
Pias
1
2
3

Muatan
(t)
32,736
3,500
0,466

Beban
Lantai dan Gelagar
Aspal
Sandaran

Lengan Momen Momen


( m)
( tm )
4,575
149,767
5,550
19,425
6,100
2,843
172,035

Total

Dari perhitungan diatas diperoleh momen akibat angin sebesar 172,035 tm


2.

Momen Akibat Gaya Gempa (Mgh)


Bagian jembatan yang ditinjau untuk menentukan momen akibat gaya

gempa adalah abutment, gelagar, aspal dan sandaran.


Untuk menenetukan lengan pada abutment, maka harus ditentukan
abutment lengan lengan tiap pias abutment. Panjang lengan pias pada dapat
2.023

dilihat pada gambar dibawah ini.

1.799
1.799
1.350
1.250
1

0.767

3
4

4.373 4.523

3.750
3.334

3.334

2.029
7

0.750
0.325

0.567
1.250
1.933

0.750

No
Pias
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Xo

Beban
(t)
5,292
1,890
12,600
1,050
38,304
1,890
2,142
2,142
27,300
92,610

X
( m)
1,800
2,025
1,350
0,767
1,250
1,800
0,567
1,933
1,250

Y
( m)
4,525
4,375
3,75
3,333
2,075
3,333
0,75
0,75
0,325

Mx
( tm )
9,526
3,827
17,010
0,805
47,880
3,402
1,215
4,140
34,125
121,930

My
( tm )
23,946
8,269
47,250
3,500
79,481
6,299
1,607
1,607
8,873
180,830

121,930t / m
= 1,317 m
92,610m
180,830t / m
= 1,953 m
92,610 m

Yo

Me 1

= 92,610 t x 0,068 m
= 6,298 tm

Dari perhitungan diatas didapat lengan momen abutment 1,953m.


sedangkan lengan lainnya yang ditinjau dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

5.550
5.075
4.575

1,953

No
Pias
1
2
3
4

3.

Beban
Abutment
Gelagar
Aspal
Sandaran

Muatan
(t)
92,610
32,736
3,500
0,466
Total

Lengan Momen Koefisien Momen


( m)
Gempa
( tm )
1,953
0,14
25,321
4,575
0,14
20,967
5,075
0,14
2,487
5,550
0,14
0,362
49,138

Momen Pada Sandaran (Ms)


Sandaran diperhitungkan dapat menahan menahan beban horizontal

sebesar 100 kg, yang bekerja pada ketinggian 100 cm diatas lantai kendaraan.
Psandaran

= (0,1 t x 12,8 m x 2)
= 1,280 tm

Maka besarnya beban melintang adalah :


My

= MA + Mgh + Ms
= 172,035 tm + 49,138 tm + 1,280 tm
= 222,471tm

4.3.2. Momen Memanjang (Mx)


1.

Momen Akibat Gaya Gempa


Dari perhitungan momen melintang diperoleh momen akibat gempa

sebesar 49,138 tm.


2.

Gaya Rem dan Traksi

Beban akibat gaya rem dan traksi sebesar 1,582 t yang bekerja horizontal
pada ketinggian 1,8 m diatas permukaan lantai kendaraan.
Mrm

= 1,582 t x (1,800 m + 5,075 m)


= 10,876 tm

3.

Momen Akibat Tanah (MTa)


Dari perhitungan tekanan tanah diperoleh momen akibat tekanan pada

abutment sebesar 57,520 t. Untuk lengan momen dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

0.683

0.400
0.300
8
1
2

4.7884.805
3.589

3.881

10

3.256 3.173

3.173
1.979

11

0.852

1.979
0.852

0.284
2.073
2.215

No
Pias
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Beban
(t)
0,857
3,427
0,714
19,906
1,457
0,057
0,457
7,997
1,285
19,906
1,457
57,520

X
( m)
0,400
0,300
0,683
0,425
0,283
2,167
2,350
2,300
1,952
2,075
2,217

Y
( m)
3,833
3,200
3,117
1,925
0,800
4,733
4,750
3,825
3,115
1,925
0,800

Mx
( tm )
0,343
1,028
0,488
8,460
0,412
0,124
1,074
18,393
2,508
41,305
3,230
77,365

My
( tm )
3,285
10,966
2,226
38,319
1,166
0,270
2,171
30,589
4,003
38,319
1,166
132,478

77,365t / m

Xo

= 57,520m

= 1,345 m

Yo

Me 2

= 57,520 t x 0,096 m

132,475t / m
= 2,316 m
57,520m

= 5,521 tm
MTa

= 57,520 t x 2,316 m
= 133,216 tm

Maka besarnya momen memanjang adalah :


Mx

= MGh + Mrm + MTa Me1 - Me2


= 49,138 tm + 10,876 tm + 133,216 tm - 6,298 tm - 5,521 tm
= 181,411 tm

4.4.

Perhitungan Daya Dukung

Diketahui data :

Sisi dalam sumuran

= 1,20 m

Sisi luar sumuran

= 1,00 m

Tinggi sumuran (H)

= 1,50 m

Tebal dinding sumuran

= 0,10 m

beton betulang

= 2,50 t/m 3

beton isian cyclop

= 2,20 t/m 3

Dengan menggunakan kemampuan daya dukung tanah akibat pembebanan


dihitung sebagai berikut :

qa

qc B F3
50
B

Konstanta yang dipakai (F3) adalah dalam satuan SI.

Qc

= 210 kg/m2

F3

= 30 cm

= 120 cm

qa

210
50

120 30

120

= 6,732 kg/cm2
= 60,732 kg/m2
Dalam perencanaan digunakan 2 buah sumuran dengan sisi 1,2 m x 1,2 m,
luas sumuran adalah :
Ap = Sisi x Sisi x 2 Sumuran
= 1,2 m x 1,2 m x 2
= 2,880 m2
Maka daya dukung 2 buah sumuran adalah :
Pa = qa x Ap
= 68,750 kg/m2 x 2,880 m2
= 198,000 t
= 0,198 t
Daya dukung tanah yang dihitung dengan menggunakan metoda Terzhagi,
c, deck.
qu = 1,3 x C x Nc + Po x Nq + 0,3 x x B x N
dan

Po = x Df
= 1,7 t/m3 x 1,5 m
= 2,550 t/m2

Dari hasil di atas didapat harga


= 35 o, Nc = 57,8, Nq = 41,4, N = 42,4
qu = (1,3 x C x Nc) +( Po x Nq) + (0,3 x x B x N)
= (1,3 x 9,4 x 57,8) + (2,550t/m2 x 41,4) + (0,3x1,7t/m3 x 1,2mx 42,4)
= 706,316 + 105,570 t/m2 + 25,949 t/m2
= 837,835 t/m2
qa

qu
Fk

qa

837,835t / m 2
3

qa = 279,278 t/m2
Besarnya daya dukung tanah pada dinding sumuran adalah :
Pa = qa x Ap
= 279,278 t/m2 x 2,880 m2
= 804,322 t

Berat Dinding sumuran


Diketahui :
= 2,5 t/m3

berat jenis beton (b)

berat jenis beton cyclop (c) = 2,2 t/m3

tinggi sumuran (h)

luar sumuran

= 1,2 m x 1,2 m

dalam sumuran

=1mx1m

Wdsumuran

= 1,5 m

= 2 x ((As1 ) (As2)) x h x b
= 2 x ((1,2 m x 1,2 m ) (1 m x 1 m)) x 1,5 m x 2,5 t/m3
= 2 x ((1,440 m2 ) (1m2)) x 1,5 m x 2,5 t/m3
= 2 x 0,440 m2 x 1,5 m x 2,5 t/m3
= 0,825 t

Wisumuran

= 2 x As2 x h x c
= 2 x (1 m x 1 m) x 1,5 m x 2,2 t/m3
= 6,600 t

Beban yang diterima sebesar :

Beban Mati (M)

= 268,938 t

Beban Hidup (H)

= 42,837 t

Beban Kejut (K)

= 20,200 t

Berat Dinding Sumuran (Wd)

0,825 t

Berat Isi Sumuran (Wi)

6,600 t

Total = 339,400 t
Berdasakan perhitungan diatas tanah pondasi mampu mendukung berat
daripada jembatan. Daya dukung tanah lebih besar dari beban yang bekerja pada
konstruksi.
Pa > Pk
804,322 t > 339,400 t( Aman )

4.4.1. Daya Dukung Berdasarkan kekuatan Bahan


Daya dukung pada sumuran berdasarkan kekuatan bahan dihitung dengan
menggunakan persamaan, yaitu :
P

= 0,8 (0,85 . fc (Ag Ast) + Ast . fy)

Ag

= 120 cm x 120 cm
= 14400 cm2

Ast

= 1610 mm
= 12,56 cm2

Ast

= Ag

125,66cm 2
14400cm 2

= 0,01
=1%

memenuhi syarat (1 % < g < 8 %)

P = 0,8 (0,85 . fc (Ag Ast) + Ast . fy)


= 0,8.0,65(0,85.225 kg/cm2(14400 cm212,566 cm2)+ 12,566 cm2.2400 kg/cm2)
= 2781755,153 kg
= 2781,755 t
P > Pk
2781,755 t > 339,400 t ( Aman )
4.4.2. Perhitungan Stabilitas Terhadap Konstruksi
Stabilitas konstruksi dihitung berdasarkan kestabilan guling dan geser.
Untuk lengan momen yang ditinjau dapat dilihat gambar dibawah ini.

Xo Pondasi
Xo Abutment
Xo Tanah

No
Pias
1
2
3
4

Beban
Abutment
Tanah pada Abutment
Pondasi
Beban Vertikal
Total

Momen penahan

= 500,583 tm

P tot Vertikal (R)

= 488,705 t

Muatan
(t)
92,610
57,520
6,600
331,975
488,705

Lengan Momen Momen


( m)
( tm )
1,317
121,967
1,345
77,364
1,250
8,250
1,250
414,969
500,583

4.4.3. Stabilitas Abutment Terhadap guling


Stabilitas guling dapat dihitung dengan persamaan.
Fkguling

Mpenahan
Mguling

> 1,5

Diketahui gaya-gaya untuk momen guling diambil berdasarkan


kombinasi pembebanan daerah memanjang jembatan, yaitu:
Momen guling

= MGh + MRm + MTa


= 37,651 t + 3,422 t + 52,984 t
= 94,054 t

Momen penahan = 500,583 tm


Maka :
Fkguling

500,583t / m

= 94,054t / m > 1,5


= 5,322 > 1,5 ...( Aman )

4.4.4. Stabilitas Terhadap Geser


Stabilitas terhadap geser dapat dihitung dengan persamaan :
Fk geser

Fr
> 1,5
Ph

Diketahui:

= 488,705 t

tanah

= 2,3 t/m3

= 9,4

= 35o

Kp

= 0,271

h abutment

= 5,05 m

Tekanan Tanah (Ta)

= 52,984 t

Beban Rem (Rm)

Beban Gempa (Gh) = 37,651 t

Fk geser

3,422 t

253,131

= 135,124 > 1,5


= 1,873 > 1,5 . ( Aman )

Pp = 2 c

kp

= 2 x 9,4

+ x x h2 x Kp
0,2710

+ x 2,3 t/m3 x (5,05 m) 2 x 0,271

= 17,734 t
Fr = R tan + 0,67 x C x B + Pp
= 488,705 t x tan 35o + 0,67 x 9,4 x 6,72 + 17,734 t
= 291,612 t
Ph = Rm + Gh + Ta + Gg
= 3,154 t + 37,651 t + 52,984 t + 7,352 t
= 101,141 t

Maka faktor keamanan terhadap geser adalah :


Fk =

Fr
>1,5
Ph
291,612t

= 101,141t > 1,5


= 2,883 > 1,5.(Aman)

4.4.5. Tegangan Kontak Pada Pondasi Sumuran


Tegangan kontak terjadi didasar sumuran, tegangan kotak dapat dihitung
dengan data data sepagai berikut :
Pa

= 804,322 t

As

= 1,2 m x 1,2 m x 2
= 2,880 m2

Mx

= 181,411 tm

ex

181,411tm
Mx
= 804,322t = 0,226m
P

Maka :
qmaks
P
6ex
=
x 1
q min
As
D

804,322t
1 6 x0,226m
2 x
1,2m
2,880m

= 279,278t/m2 x (1 0,678)
Sehingga
qmaks = 279,278 t/m2 x 1,678
= 468,628 t/m2
Maka untuk 2 buah sumuran

= x 468,628 t/m2 /2
= 234,314 t/m2
Qmaks

<

234,314 t/m2 <

qa
279,278 t/m2

Dan
qmin = 279,278 t/m2 x 0,322
= 89,928 t/m2
Maka untuk 2 buah sumuran :
= x 89,928 t/m2 /2
= 44,964 t/m2
= 4,496 kg/cm2

>

Dari perhitungan diatas diperoleh tegangan kontak yang sejenis sehingga pondasi
aman.

4.5.

Penurunan

Stabilitas konstruksi terhadap penurunan dapat dihitung dengan persamaan.


g

=L

Es

=L
As

Diketahui data sebagai berikut :


P

= x 8,68 t/m2
= 4,34 ton

gc

= 150 kg/cm2

= 3,5 m

Es

= 6 x 1500 t/m2

p
1 / 4 xxD 2

4,34
1 / 4 x3,14 x (3,5) 2

= 0,451 t/m2

=L

Es
0,451

= 3,5

9000
= 0,000175 < 2 ( 5,08 cm )
= 7,8 x 10 -3 < 2 ( 5,08 cm )
Diketahui data-data sebagai berikut :

=xR
= x 488,705 t
= 244,353 t

= 1,2 m = 120 cm

Es

= 2 x qc
= 2 x 196 kg/cm2
= 392 kg/cm2

244,353 t

= 2,880 m2 = 84,845 t/m


= 8,485 kg/cm2

Maka H

8,485kg / cm 2

= 150 cm x
2
392kg / cm
= 3,247 cm < 2 inchi (5,08 cm)..( Aman )

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan pada bab III maka diambil
beberapa kesimpulan antara lain :
4.1

Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil perhitungan

perencanaan Pondasi Sumuran tersebut antara lain adalah :


1. Sumuran yang direncanakan dengan mutu beton fc = 22,5 Mpa dan mutu
baja fy = 240 Mpa.
2. Berat untuk perencanaaan dipakai kombinasi VI sebesar 557,439 t ton
3. Kestabilan konstruksi terhadap pergulingan, pergeseran, tegangan kontak
dan penurunan.
4. Tulangan dengan arah vertikal 10 10 dan tulangan melingkar 10 mm.

4.2

Saran-saran
Sebaiknya dalam perencanaan pondasi sumuran hendaknya diperoleh data

yang lengkap dan akurat, sehingga mempermudah bagi perencana dalam


perhitungan.

1. 1. Menghitung kapasitas daya dukung pondasi sumuran


Membandingkan hasil perhitungan daya dukung pondasi sumuran antara
lain:
Dari data sondir dengan Metode Aoki dan De Alencer42
Dari data SPT dengan Metode Meyerhorf
Dalam menghitung daya dukung pondasi sumuran berdasarkan data hasil
pengujian sondir dapat dilakukan dengan menggunakan metode Aoki dan
De
Alencar.
Sedangkan dalam menghitung daya dukung pondasi sumuran berdasarkan
data
SPT dapat dilakukan dengan menggunakan metode Meyerhorf.