Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM

APLIKASI BIOKIMIA PASCA PANEN

PEMBUATAN LARUTAN BUFFER

OLEH:
KELOMPOK IV
1. SRI NURHAYU

(G311 10 264)

2. SAGITA INGGRIANI NASSA

(G311 12 255)

3. NURMILA QUDRIANA

(G311 12 260)

4. ERNAWATI BINTI MUSTAMAR

(G311 12 005)

5. GABRIELLA SHERLY ROMBE

(G311 12 251)

6. HENRI KARTONO

(G311 12 253)

ASISTEN:SARASDAMAYANTI. M

LABORATORIUM KIMIA ANALISA DAN PENGAWASAN MUTUPANGAN


PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu dan Teknologi Pangan merupakan program studi yang
hampir setiap aktivitasnya berada di dalam laboratorium. Pada saat
melakukan aktivitas di laboratorium tersebut para praktikan, peneliti
ataupun laboran sering dihadapkan dengan berbagai macam larutan.
Salah satu contoh larutan yang sering kita temukan yaitu larutan buffer atau
yang disebut dengan larutan penyangga memiliki peranan penting dalam
kehidupan sehari-hari.
Larutan

buffer

dapat

diartikan

jenis

larutan

yang

dapat

mempertahankan pH agar saat melakukan penambahan asam maupun


basa tidak terlalu banyak perubahan pH yang terjadi. Contoh aplikasi
larutan

buffer

misalnya

saja

dalam

tubuh

manusia,

larutan

penyangga berperan penting untuk mempertahankan pH. Hal ini


terjadi karena di dalam cairan sel tubuh terdapat sistem penyangga,
yaitu asam dihidrogen fosfat. Selain itu larutan buffer digunakan
juga dalam analisis kimia, bakteriologi, zat warna, fotografi, dan
industri kulit.
Mahasiswa
perlu

mengetahui

program
metode

studi

Ilmu

pengenceran

dan

Teknologi

dan

pembuatan

pangan
larutan

buffer dengan baik. Baik rumus yang digunakan maupun mengetahui


jenis larutan dan padatan yang akan digunakan. Berdasarkan uraian
diatas maka dilakukanlah praktikum pengenceran dan pembuatan
larutan buffer.

B. Tujuan dan Kegunaan Praktikum


Tujuan yang ingin dicapai dalam percobaan ini adalah:
1. Untuk mengetahui cara pengenceran.
2. Untuk mengetahui cara pembuatan larutan buffer.
Kegunaan dari praktikum mengenai pembuatan larutan buffer adalah
dapat memudahkan praktikan dalam melakukan kegiatan di laboratorium
khususnya dalam proses pembuatan larutan buffer.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Larutan
Larutan adalah campuran yang bersifat homogen antara molekul, atom
ataupun ion dari dua zat atau lebih. Disebut campuran karena susunannya
atau komposisinya dapat berubah. Disebut homogen karena susunanya
begitu seragam sehingga tidak dapat diamati adanya bagian-bagian yang
berlainan, bahkan dengan mikroskop optis sekalipun. Fase larutan dapat
berwujud gas, padat ataupun cair. Larutan gas misalnya udara. Larutan
padat misalnya perunggu, amalgam dan paduan logam yang lain. Larutan
cair misalnya air laut, larutan gula dalam air, dan lain-lain. Komponen larutan
terdiri dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute). Pada bagian ini dibahas
larutan cair (Darma, 2014).
Pelarut cair umumnya adalah air. Pelarut cair yang lain misalnya
bensena, kloroform, eter, dan alkohol. Jika pelarutnya bukan air, maka nama
pelarutnya disebutkan. Misalnya larutan garam dalam alkohol disebut larutan
garam dalam alkohol (alkohol disebutkan), tetapi larutan garam dalam air
disebut larutan garam (air tidak disebutkan). Zat terlarut dapat berupa zat
padat, gas atau cair. Zat padat terlarut dalam air misalnya gula dan garam.
Gas terlarut dalam air misalnya amonia, karbon dioksida, dan oksigen. Zat
cair

terlarut

dalam

air

misalnya

alkohol

dan

cuka.

Umumnya

komponen larutan yang jumlahnya lebih banyak disebut sebagai


pelarut. Larutan 40 % alkohol dengan 60 % air disebut larutan alkohol.
Larutan 60 % alkohol dengan 40 % air disebut larutan air dalam alkohol.

Larutan 60 % gula dengan 40 % air disebut larutan gula karena dalam


larutan itu air terlihat tidak berubah sedangkan gula berubah dari padatan
(kristal) menjadi terlarut (menyerupai air) (Darma, 2014).
B. Pengenceran
Pengenceran yaitu suatu cara atau metoda yang diterapkan pada
suatu senyawa dengan jalan menambahkan pelarut yang bersifat netral,
lazim dipakai yaitu aquadest dalam jumlah tertentu. Penambahan pelarut
dalam suatu senyawa dan berakibat menurunnya kadar kepekatan atau
tingkat konsentrasi dari senyawa yang dilarutkan/diencerkan. Dalam
pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu sering dihasilkan konsentrasi
yang tidak kita inginkan.Untuk mengetahui konsentrasi yang sebenarnya
perlu dilakukan standarisasi. Standarisasi sering dilakukan dengan
titrasi. Zat-zat yang di dalam jumlah yang relatif besar disebut pelarut.
Pengenceran diartikan pencampuran yang bersifat homogen antara
zat terlarut dan pelarut dalam larutan.Zat yang jumlahnya lebih sedikit
di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut, sedangkan zat yang
jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut
atau solven (Alfa, 2014).
Rumus pengenceran berdasarkan Nita (2014) adalah:
V1 x M1 = V2 x M2
Keterangan:

V= volume cairan (L),


M= molaritas (mol/L)

Pengenceran adalah mencampur larutan pekat (konsentrasi tinggi)


dengan cara menambahkan pelarut agar diperoleh volume akhir yang lebih
besar. Jika suatu larutan senyawa kimia yang pekat diencerkan,

kadang-kadang sejumlah panas dilepaskan. Hal ini terutama dapat terjadi


pada pengenceran asam sulfat pekat. Agar panas ini dapat dihilangkan
dengan aman, asam sulfat pekat yang harus ditambahkan ke dalam air, tidak
boleh sebaliknya. Jika air ditambahkan ke dalam asam sulfat pekat, panas
yang dilepaskan sedemikian besar yang dapat menyebabkan air mendadak
mendidih dan menyebabkan asam sulfat memercik. Jika kita berada
di dekatnya, percikan asam sulfat ini merusak kulit (Alfa, 2014).
Pengenceran yaitu penambahan pelarut yang mengakibatkan jumlah
pelarut lebih banyak dibandingkan jumlah zat terlarutnya. Untuk membuat
larutan dengan konsentrasi tertentu yang berasal dari larutan pekat,
maka diambil dengan volume tertentu (dengan gelas ukur atau pipet ukur)
larutan

pekat

yang

yang

diperlukan

kemudian

diencerkan

dengan

aquadest sampai volume yang dikehendaki. Ketelitian dalam pengenceran


merupakan salah satu faktor untuk memproleh ketepatan konsentrasi yang
diinginkan, karena itu pengenceran akan lebih baik jika dilakukan di dalam
labu takar (Tim Dosen Kimia Universitas Hasanuddin, 2010).
C. Molaritas
Molaritas (disingkat M) adalah salah satu ukuran konsentrasi larutan.
Molaritas suatu larutan menyatakan jumlah mol suatu zat per liter larutan.
Umumnya konsentrasi larutan berair encer dinyatakan dalam satuan molar.
Keuntungan menggunakan satuan molar adalah kemudahan perhitungan
dalam stoikiometri, karena konsentrasi dinyatakan dalam jumlah mol
(sebanding dengan jumlah partikel yang sebenarnya). Kerugian dari
penggunaan satuan ini adalah ketidaktepatan dalam pengukuran volum.
Selain itu, volum suatu cairan berubah sesuai temperatur, sehingga

molaritas larutan dapat berubah tanpa menambahkan atau mengurangi


zat apapun. Selain itu, pada larutan yang tidak begitu encer, volume molar
dari zat itu sendiri merupakan fungsi dari konsentrasi, sehingga hubungan
molaritas-konsentrasi tidak linear (Wikipedia, 2014).
Rumus Molaritas berdasarkan Wikipedia (2014) yaitu:
M=

n
V

Keterangan : M = Molaritas
n = mol
V = Volume (L)
D. Larutan Buffer
Larutan penyangga adalah larutan yang bersifat mempertahankan
pH-nya, jika ditambahkan sedikit asam atau sedikit basa atau diencerkan.
Larutan penyangga merupakan campuran asam lemah dengan basa
konjugasinya atau campuran basa lemah dengan asam konjugasinya. Nilai
pH larutan buffer tidak berubah (konstan) setelah penambahan sejumlah
asam, basa, maupun air. Larutan buffer mampu menetralkan penambahan
asam maupun basa dari luar (Utami, 2009).
Larutan
basa

lemah

buffer
dengan

bisa

dibuat

garamnya

bukan

dari

saja.Larutan

campuran
buffer

dapat

antara
juga

berupa campuran hasil reaksi dari basa lemah dan asam kuat asalkan
banyaknya

basa

lemah

lebih

banyak

dari

pada

asam

kuat

yang dicampurkan. Cara ini lebih umum dilakukan untuk larutan


buffer (Tim Dosen Kimia Universitas Hasanuddin, 2010).

Larutan buffer dapat dibuat dengan berbagai cara. Larutan buffer asam
dapat dibuat dengan cara mencampurkan sejumlah larutan asam lemah
dengan larutan basa konyugasinya secara langsung. Selain itu, larutan
buffer asam juga dapat dibuat dengan mencampurkan sejumlah larutan
basa kuat dengan larutan asam lemah berlebih.Setelah reaksi selesai,
campuran dari larutan basa konjugasi yang terbentuk dan sisa larutan asam
lemah membentuk larutan buffer asam. Cara yang serupa, larutan buffer
basa juga dapat dibuat melalui dua cara. Pertama, mencampurkan sejumlah
larutan basa lemah dengan larutan asam konjugasinya secara langsung.
Cara kedua, mencampurkan sejumlah larutan asam kuat dengan larutan
basa lemah berlebih.Setelah reaksi selesai, campuran dari larutan asam
konjugasi yang terbentuk dan sisa larutan basa lemah membentuk larutan
buffer basa (Andy, 2009).
E. Jenis Jenis Larutan Buffer
Jenis-jenis larutan buffer berdasarkan Chyntia (2014), yaitu:
1. Larutan Buffer yang Bersifat Asam
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7). Untuk
mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan garamnya
yang merupakan basa konjugasi dari asamnya. Adapun cara lainnya yaitu
mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu basa kuat dimana asam
lemahnya

dicampurkan

dalam

jumlah

berlebih.

Campuran

akan

menghasilkan garam yang mengandung basa konjugasi dari asam lemah


yang bersangkutan. Pada umumnya basa kuat yang digunakan seperti
natrium, kalium, barium, kalsium, dan lain-lain.

Contoh yang biasa merupakan campuran asam etanoat dan natrium


etanoat dalam larutan. Pada kasus ini, jika larutan mengandung
konsentrasi molar yang sebanding antara asam dan garam, maka
campuran tersebut akan memiliki pH 4.76. Ini bukan suatu masalah
dalam hal konsentrasinya, sepanjang keduanya memiliki konsentrasi
yang sama. Kita dapat mengubah pH larutan penyangga dengan
mengubah rasio asam terhadap garam, atau dengan memilih asam yang
berbeda dan salah satu garamnya.
2. Larutan Buffer yang bersifat Basa
Apabila suatu basa lemah dicampur dengan asam konjugasinya maka
akan

terbentuk

suatu

larutan

buffer

basa.

Larutan

ini

akan

mempertahankan pH pada daerah basa (pH>7). Misalnya larutan


campuran NH3 dengan ion amonium (NH4+). Larutan buffer basa juga
dapat terjadi dari campuran suatu basa lemah dengan suatu asam kuat
dimana basa lemah dicampurkan berlebih. Jika ke dalam larutan
ditambahkan suatu asam kuat, maka ion H+ yang berasal dari asam itu
akan mengikat atau bereaksi dengan ion OH-. Hal itu menyebabkan
kesetimbangan larutan menjadi bergeser ke kanan sehingga konsentrasi
ion OH- dapat dipertahankan atau dengan kata lain pH larutan stabil atau
dapat bertahan. Demikian juga pada penambahan suatu basa kuat,
jumlah

ion

OH-

dalam

larutan

akan

bertambah.

Hal

ini

akan

menyebabkan kesetimbangan larutan menjadi bergeser ke kiri sehingga


konsentasi ion OH- dapat dipertahankan dan pH larutan tidak berubah.

F. Buffer Sitrat
Seperti yang kita ketahui bahwa larutan buffer memiliki peranan yang
sangat penting, tidak hanya bagi tubuh manusia namun juga dalam
pekerjaan laboratorium. Larutan buffer diperlukan agar kondisi atau tingkat
keasaman atau kebasaan dalam suatu larutan tetap terjaga pada nilai pH
yang diinginkan. Hal tersebut terutama untuk zat-zat yang sifatnya sensitive
terhadapadanya perubahan sedikit pH. Salah satu contoh larutan buffer yaitu
buffer sitrat yangdigunakan untuk kisaran pH asam, yaitu pada kisaran nilai
pH 3.0 6.2 (Rachma, 2014).
Buffer sitrat merupakan larutan buffer dengan pH 6.Jenis larutanuntuk
pembuatan buffer sitrat yaitu larutan asam sitrat, natrium sitrat, natrium
dihidrogen fosfat dan terakhir dinatrium monohidrogen fosfat.Natrium sitrat
digunakan sebagai zat buffer untuk mengontrol pH guna membantu
mengatur kegetiran atau untuk mengontrol keasaman.Larutan buffer
pH 6 dapat juga dibuat dari campuran larutan kalium dihidrogen fosfat dan
natrium hidroksida (Susi, 2008).
G. Aplikasi Buffer
Larutan penyangga sangat penting dalam kehidupan, misalnya dalam
analisis kimia, biokimia, bakteriologi, zat warna, fotografi, dan industri kulit.
Darah dalam tubuh manusia mempunyai kisaran pH 7,35 sampai 7,45 dan
apabila pH darah manusia di atas 7,8 akan menyebabkan organ tubuh
manusia dapat rusak, sehingga harus dijaga kisaran pHnya dengan larutan
penyangga (Sahri, 2013).

Fungsi penambahan larutan buffer dalam suatu larutan adalah untuk


mempertahankan nilai pH tertentu larutan agar tidak banyak berubah selama
reaksi kimia berlangsung. Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah
pH-nya hanya berubah sedikit dengan pemberian sedikit asam kuat atau
basa kuat. Larutan penyangga mengandung komponen asam dan basa
dengan asam dan basa konjugasinya, sehingga dapat mengikat baik ion H+
maupun ion OH-. Sehingga penambahan sedikit asam kuat atau basa kuat
tidak mengubah pH-nya secara signifikan (Wikipedia, 2014).
Beberapa fungsi larutan penyangga menurut Sahri (2013), adalah
sebagai berikut :
1. Darah sebagai Larutan Penyangga
Ada beberapa faktor yang terlibat dalam pengendalian pH darah,
diantaranya penyangga karbonat, penyangga hemoglobin dan penyangga
sebagai berikut :
a. Penyangga Karbonat
Penyangga karbonat berasal dari campuran asam karbonat (H2CO3)
dengan basa konjugasi bikarbonat (HCO3). Penyangga karbonat
sangat berperan penting dalam mengontrol pH darah. Pelari maraton
dapat mengalami kondisi asidosis, yaitu penurunan pH darah yang
disebabkan oleh metabolisme yang tinggi sehingga meningkatkan
produksi ion bikarbonat. Kondisi asidosis ini dapat mengakibatkan
penyakit jantung, ginjal, diabetes miletus (penyakit gula) dan diare.
Orang yang mendaki gunung tanpa oksigen tambahan dapat
menderita alkalosis, yaitu peningkatan pH darah.Kadar oksigen yang

sedikit di gunung dapat membuat para pendaki bernafas lebih cepat,


sehingga gas karbondioksida yang dilepas terlalu banyak, padahal CO2
dapat

larut

dalam

mengakibatkan

pH

air

menghasilkan

darah

akan

naik.

H2CO3.

Kondisi

Hal

alkalosis

ini
dapat

mengakibatkan hiperventilasi (bernafas terlalu berlebihan, kadang


kadang karena cemas dan histeris).
b. Penyangga Hemoglobin
Pada darah, terdapat hemoglobin yang dapat mengikat oksigen untuk
selanjutnya dibawa ke seluruh sel tubuh. Asam hemoglobin ion aksi
hemoglobin

keberadaan

oksigen

pada

reaksi

di

atas

dapat

memengaruhi konsentrasi ion H+, sehingga pH darah juga dipengaruhi


olehnya. Pada reaksi di atas O2 bersifat basa.Hemoglobin yang telah
melepaskan O2 dapat mengikat H+ dan membentuk asam hemoglobin.
Sehingga ion H+ yang dilepaskan pada peruraian H2CO3 merupakan
asam yang diproduksi oleh CO2 yang terlarut dalam air saat
metabolisme.Reaksi kesetimbangan dari larutan penyangga oksi
hemoglobin adalah:
HHb + O2 (g) HbO2- + H+
c. Penyangga Fosfat
Pada
penting

cairan

intra

dalam

sel,

mengatur

kehadiran
pH

penyangga

fosfat

darah.Penyangga

sangat

fosfat

dapat

mempertahankan pH darah 7,4. Penyangga di luar sel hanya sedikit


jumlahnya, tetapi sangat penting untuk larutan penyangga urin.

2. Air Ludah sebagai Larutan Penyangga


Gigi dapat larut jika dimasukkan pada larutan asam yang kuat. Email
gigi yang rusak dapat menyebabkan kuman masuk ke dalam
gigi.

Air

ludah

dapat

mempertahankan

pH

pada

mulut

sekitar 6,8. Air liur mengandung larutan penyangga fosfat yang dapat
menetralisir asam yang terbentuk dari fermentasi sisa-sisa makanan.
3. Menjaga Keseimbangan pH Tanaman
Suatu metode penanaman dengan media selain tanah, biasanya
dikerjakan dalam kamar kaca dengan menggunakan mendium air yang
berisi zat hara, disebut dengan hidroponik. Setiap tanaman memiliki pH
tertentu

agar

dapat

tumbuh

dengan

baik.

Oleh

karena

itu

dibutuhkan larutan penyangga agar pH dapat dijaga.


4. Larutan Penyangga pada Obat-Obatan
Asam asetilsalisilat merupakan komponen utama dari tablet
aspirin, merupakan obat penghilang rasa nyeri. Adanya asam pada
aspirin dapat menyebabkan perubahan pH pada perut. Perubahan pH ini
mengakibakan pembentukan hormon, untuk merangsang penggumpalan
darah, terhambat; sehingga pendarahan tidak dapat dihindarkan.
Kegunaan larutan penyangga tidak hanya terbatas pada tubuh
makhluk hidup. Reaksi-reaksi kimia di laboratorium dan di bidang industri
juga banyak menggunakan larutan penyangga. Reaksi kimia tertentu ada
yang harus berlangsung pada suasana asam atau suasana basa.

Buah-buahan dalam kaleng perlu dibubuhi asam sitrat dan natrium


sitrat untuk menjaga pH agar buah tidak mudah dirusak oleh
bakteri (Utami, 2009).
III.

METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Praktikum Aplikasi Biokimia Pasca Panen ini dilaksanakan pada hari


Senin, tanggal 10 Februari 2014, pukul 08:30 11:30 WITA, bertempat di
Laboratorium Kimia Analisa dan Pengawasan Mutu Pangan, Program Studi
Ilmu dan Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas
Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
B. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu :
-

labu takar
pipet volume
bulp

timbangan analitik
erlenmeyer
Bahan-bahan yang digunakan pada

praktikum ini yaitu :


-

asam asetat 0,2 M


natrium asetat 0,2 M
asam sitrat 0,05 M
natrium sitrat 0,05 M
asam natrium karbonat 0,1 M
natrium karbonat 0,1 M

aluminium foil
tissue

label

aquadest

C. Prosedur Praktikum
Prosedur kerja yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah :
Pembuatan larutan Natrium Sitrat
a. Disiapkan alat dan bahan.
b. Dihitung massa Natrium Sitrat padat.

c. Ditimbang Natrium Sitrat 1,47 gr.


d. Dimasukkan kedalam labu erlenmeyer.
e. Ditambahkan aquadest 100ml.
f. Dihomogenkan.
Pembuatan larutan buffer sitrat
a. Dipipet 86ml ke labu takar Natrium Sitrat.
b. Dipipet 14 ml kelabu takar Asam Sitrat.
c. Dihomogenkan kedua larutan tersebut dan di beri label.
D. Perlakuan Praktikum

Perlakuan praktikum yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Buffer asetat pH 5:
Asam Asetat 0,2 M
Natrium Asetat 0,2 M
2. Buffer sitrat pH6:
Asam Sitrat 0,05 M
Natrium Sitrat 0,05 M
3. Buffer karbonat pH11:
NaHCO3 0,1 M
Natrium Karbonat 0,1 M

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Hasil praktikum kali ini dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

Tabel 01.Volume dan Konsentrasi Larutan Buffer.

Jenis
Buffer

Buffer
Asetat
pH 5

Asam Asetat

0,2 M

Natrium Asetat

0,2 M

Buffer
Sitrat
pH 6

Asam Sitrat

0,05 M

Natrium Sitrat

0,05 M

Asam Natrium
Karbonat

0,1 M

0,1 M

Natrium Karbonat

Buffer
Karbonat
pH 11

Larutan

Molaritas
(M)

Vol
um
e
32
ml
68
ml
14
ml
86
ml
5,5
ml
94,
5
ml

Sumber: Data Primer Hasil PraktikumAplikasi Biokimia dan Pasca


Panen, 2014.

B. Pembahasan

Tahap

pertama

yang

dilakukan

pada

praktikum

ini

yaitu

pembuatan larutan natrium sitrat dengan cara menyiapkan alat dan bahan
yang diperlukan kemudian menghitung massa padat natrium sitrat dengan

menggunakan rumus molaritas yaitu M =

n
v . Setelah didapatkan hasil

massa padatnya kemudian dilakukan pengenceran dengan menambahkan


pelarut yang bersifat netral. Pelarut yang digunakan pada praktikum ini yaitu
aquadest sebanyak 100 ml lalu dihomogenkan. Hal ini sesuai dengan Alfa
(2014), yang menyatakan bahwa pengenceran yaitu suatu cara atau metoda
yang diterapkan pada suatu senyawa dengan jalan menambahkan pelarut
yang bersifat netral, lazim dipakai yaitu aquadest dalam jumlah tertentu.
Penambahan pelarut dalam suatu senyawa dan berakibat menurunnya kadar
kepekatan atau tingkat konsentrasi dari senyawa yang dilarutkan/diencerkan.

Tahap selanjutnya pembuatan larutan buffer. Larutan buffer ini

dapat dibuat dengan mencampurkan suatu asam lemah atau basa lemah
dengan basa kuat atau asam kuat. Adapun jenis larutan buffer yang dibuat
pada praktikum ini yaitu buffer sitrat pH 6, cara membuatnya mencampurkan
secara homogen larutan natrium sitrat dan asam sitrat yang sudah dibuat
sesuai dengan volumenya. Adapun volume natrium sitrat sebanyak 86 ml
sedangkan asam sitrat 14 ml.

Hal ini sesuai dengan Andy (2009), yang

menyatakan bahwa larutan buffer dapat dibuat dengan berbagai cara


tergantung dari sifat larutan buffer tersebut. Larutan buffer bersifat asam dapat
dibuat dengan cara mencampurkan sejumlah larutan basa kuat dengan asam
lemah berlebih sedangkan larutan buffer bersifat basa mencampurkan
sejumlah larutan asam kuat dengan larutan basa lemah berlebih.

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum pembuatan larutan buffer ini yaitu:


1. Cara pengenceran pada praktikum ini dilakukan dengan menghitung
massa padat natrium sitrat, setelah itu ditambahkan pelarut dengan
menggunakan aquadest sebanyak 100 ml dan dihomogenkan.
2. Cara pembuatan larutan buffer
pada praktikum ini dengan
mencampurkan suatu asam lemah atau basa lemah dengan basa kuat
atau asam kuat. Adapun jenis larutan buffer yang dibuat pada
praktikum ini yaitu buffer sitrat pH 6, cara membuatnya mencampurkan
secara homogen larutan natrium sitrat dan asam sitrat yang sudah
dibuat sesuai dengan volumenya.
B. Saran

Saran untuk praktikum selanjutnya yaitu sebaiknya praktikum ini

dilaksanakan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, agar waktu
yang dibutuhkan untuk praktikum lebih efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Alfa,
2014. Pengenceran-Larutan.http://alfakece.blogspot.com/.[10
Februari, 2014], Makassar.

Andy,
2009.Larutan
http://andykimia03.wordpress.com.
[10 Februari, 2014], Makassar.

Penyangga

Buffer.

Chyntia,
2014.Jenis Larutan Buffer. http://inschemist.blogspot.com/2012/06/
buffer-ala-chyntia-p-xi-ipa-5-08.html, [10 Februari, 2014], Makassar..
Darma, 2014.Larutan. http://ocw.gunadarma.ac.id/course/diploma-threeprog
ram/study-program-of-computer-engineering-d3/fisikadasar2/larutan.[10 Februari, 2014], Makassar.
Nita, 2014. Pelarutan dan Pengenceran.http://forum.um.ac.id/. [10
Februari, 2014], Makassar.
Rachma,
2014.LarutanBuffer
Sitrat. http://id.scribd.com/doc/159729035/Cara Membuat-Larutan-BufferSitrat.[11 Februari, 2014], Makassar.
Sahri, 2013.Fungsi Larutan Buffer.http://sahri.ohlog.com/fungsi-larutanpenyangga.oh81641.html . [10 Februari, 2014], Makassar
Susi, 2008.Buffer Sitrat. http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/626/jbptitbpp-gdlsusiherawa-31294-4-2008ts-3.pdf. [11 Februari, 2014], Makassar.
Tim Dosen Kimia Universitas Hasanuddin. 2010. Kimia Dasar.
Universitas Hasanuddin: Makassar.
Utami, Budi, dkk. 2009. Kimia 2 untuk SMA/MA Kelas XI Program
Ilmu Alam. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
Wikipedia,
2014.Larutan Penyangga. http://id.wikipedia.org/wiki/Larutan_penya
ngga.[10 Februari, 2014], Makassar.
Wikipedia, 2014.Molaritas.http://id.wikipedia.org/wiki.[10 Februari, 2014],
Makassar.

LAMPIRAN

Lampiran 01.Pembuatan larutan buffer

Perhitungan:
Natrium Sitrat

M=

gr
1000

Mr V ( ml )

gr 1000

294 100

0,05=

gr=

1, 47 gram

294 0,05
10