Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FITOFARMASI

MATERI 2 :
PENETAPAN KADAR Etilp-MetoksiSinamat (EPMS)
DALAM EKSTRAK KENCUR

Disusun Oleh
Kelompok

:2

Dosen Pembimbing

: Prof. Gunawan Indrayanto, Apt.

Anggota Kelompok

Nyimas Rosdiani
Riski Ayu Asturik
Dwi Fatmawati
Izzatul Laili
Diana Fairuz

051211131017
051211131019
051211131174
051211132001
051211132003

Sayyidati Aqilah
Fesha Febrianti
Intan Ayu Kartika

051211132033
051211132034
051211132036

Larisa Winu A
Rizki Dwi C
Ayuning Dimas P
Fina Agustin Nur
Sungging Purwo
Aris Yulita A
Yuliaty Retta H
Alin Anindia

051211132045
051211133028
051211133032
051211133033
051211133036
051211133038
051211133039
051211133047

DEPARTEMEN FARMAKOGNOSI DAN FITOKIMIA


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015

I.

Latar Belakang
Kencur merupakan tanaman terna yang hampir menutupi tanah, tidak berbatang,
rimpang bercabang-cabang, berdesak-desakan, akarakar berbentuk gelondong, kadangkadang berumbi, panjang 1 cm sampai 1,5 cm. Setiap tanaman berdaun sebanyak 1 sampai 3
(umumnya 2) helai, lebar merata dan hampir menutupi tanah, daun berbentuk jorong lebar
sampai hampir bundar, pengkal hampir berbentuk jantung, ujung mendadak lancip, bagian
atas tidak berambut, bagian bawah berambut halus, pinggir bergelombang berwarna merah
kecoklatan, bagian tengah berwarna hijau, panjang helai daun 7 cm sampai 15 cm, lebar 2 cm
sampai 8 cm, tangkai pendek, berukuran 3 mm sampai 10 mm, pelepah terbenam dalam
tanah, panjang 1,5 cm sampai 3,5 cm, warna putih. Perbungaan, panjang 14 cm dan
mengandung 4 sampai 12 bunga. Tajuk berwarna putih dengan tabung panjang 2,5 cm
sampai 5 cm, ujung berbelahbelah berbentuk pita, panjang 2,5 cm sampai 3 cm, lebar 1,5
mm sampai 3 mm (Depkes RI, 2001).
Rimpang kencur mengandung minyak atsiri sekitar 2-4% yang terdiri dari 3,7,7trimetil-bisiklo-[4,1,0]-hept-3-ena, etil sinamat, etil para metoksi sinamat (EPMS), para 4 5
metoksi stirena, n-penta dekana, borneal, dan kamfen (Suyatno et al., 2011). Pada kencur
terdapat senyawa Etil-p-metoksisinamat (EPMS) yang merupakan salah satu senyawa hasil
isolasi rimpang kencur (Kaempferia galanga, L) yang merupakan bahan dasar senyawa tabir
surya yaitu pelindung kulit dari sengatan matahari. EPMS merupakan senyawa aktif yang
ditambahkan pada lotion kulit ataupun bedak setelah mengalami sedikit modifikasi yaitu
perpanjangan rantai dimana etil dari ester ini digantikan oleh oktil, etil heksil, atau heptil
melalui transesterifikasi bertahap.

Modifikasi yang dilakukan diharapkan mengurangi

kepolaran EPMS sehingga kelarutannya dalam air berkurang dan hal itu merupakan salah
satu syarat senyawa sebagai tabir surya (Barus, 2009). Senyawa EPMS termasuk dalam
golongan senyawa ester yang mengandung cincin benzena dan gugus metoksi yang bersifat
nonpolar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat sedikit polar sehingga
dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai variasi kepolaran
yaitu etanol, etil asetat, metanol, air dan heksana (Barus, 2009).
Rimpang kencur berkhasiat sebagai obat batuk, obat lambung, obat

mual, obat

bengkak dan obat bisul (Depkes RI, 2001). Perkembangan obat-obatan yang berasal dari
bahan alam (tanaman) semakin berkembang pesat baik produk jamu, obat herbal terstandar
maupun fitofarmaka. Terutama untuk produk jamu dan obat herbal terstandar, semakin hari

semakin banyak industri yang mencoba untuk mengembangkan ataupun memproduksi


produk tersebut. Suatu produk farmasi termasuk juga produk obat tradisional akan dikatakan
berkualitas baik apabila memenuhi aspek keamanan, khasiat, kualitas dan kenyamanan.
Semakin maraknya penggunaan obat tradisional semakin memperluas kesempatan bagi
pelaku kejahatan terhadap pemalsuan simplisia dalam berbagai produk jamu. Pemalsuan ini
bisa berupa penggantian atau pencampuran simplisia suatu tanaman yang diharapkan dengan
simplisia tanaman yang memiliki kekerabatan yang cukup dekat. Atau bahkan ada beberapa
fakta yang menunjukkan bahwa ada beberapa produk jamu yang memasukkan bahan kimia
obat didalam produk jamunya.
Produk obat bahan alam berasal dari tumbuhan kualitasnya sangat dipengaruhi oleh
bahan baku yang mengandung bahan berkhasiat. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap
kualitas bahan baku baik terletak pada proses panen maupun pasca panen. Proses-proses
yang berhubungan dengan penyiapan produksi seperti budidaya, pasca panen dan proses
pengolahan sangat berpengaruh terhadap keajegan bahan berkhasiat. Oleh karena itu
standarisasi dan penetapan kadar perlu dilakukan untuk mencapai produk obat bahan alam
yang memenuhi syarat aman, berkhasiat dan bermutu (Wahyuningsih, 2000).
Penetapan kadar menjadi hal terpenting dalam identifikasi suatu senyawa serta untuk
kontrol kualitas. Salah satu metode penetapan kadar EPMS dapat digunakan GC (analysis
of the essential oil of the roots and leaves of the medicinal plant kaempferia galenga l).
Selain itu ada penetapan kadar EPMS juga bisa dilakukan dengan menggunakan metode
TLC, dan HPLC (Saputro et al).
Oleh karena itu, sebagai apoteker yang bertanggung jawab pada instansi/pabrik
tradisional tertentu, yang memerlukan senyawa EPMS pada ekstrak kencur, harus menjamin
bahwa EPMS yang digunakan kadarnya sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Sehingga
perlu dilakukan adanya penetapan kadar EPMS.

II.

Macam-macam Metode Penetapan Kadar EPMS


1. Penetapan Kadar EPMS menggunakan HPTLC
Review Jurnal (Hanumantharajul et al., 2010)

Evaluation of Ethyl-p-methoxy cinnamate in Natural and in vitro Regenerated Plant of


Kaempferia galanga by HPTLC Method
Tahap awal untuk evaluasi kandungan tanaman adalah dilakukan preparasi sampel
dengan mengekstraksi 500 mg serbuk rhizoma menggunakan pelarut metanol selama satu
jam pada alat refluks kondenser. Kemudian ekstrak disaring dan diuapkan hingga kering.
Selanjutnya 2 mg ekstrak kering dilarutkan pada 1 ml metanol

untuk dianalisis

menggunakan HPTLC. Plat KLT (silika gel GF254) yang telah ditotolkan larutan standar
dan sampel dieluasi dengan fase gerak n-heksan : etil asetat (9 : 1). Dideteksi pada UV
254 nm, 366 nm dan kemudian disemprot dengan reagen vanilin-asam sulfur, dikeringkan
selama 10 menit suhu 1100 C.
Berdasarkan hasil, dapat disimpulkan bahwa tanaman regenerasi memiliki pola
kromatogram dan noda yang mirip dengan standar dengan kandungan terbesar yaitu
EPMS. Penetapan kadar EPMS hanya dilakukan dengan membandingkan peak area
EPMS dengan peak area total kandungan yang ada pada regenerasi tanaman.
Pada jurnal ini tidak dilakukan validasi metode EPMS dan penentuan peak
identity dan peak purity untuk memastikan kebenaran senyawa yang dianalisis. Penyajian
gambar pada jurnal sebaiknya dilengkapi dengan keterangan yang menunjukkan bahwa
peak tersebut merupakan peak dari EPMS dan data pendukung lain seperti peak area dari
senyawa yang dianalisis sehingga lebih memudahkan pembaca dalam memahami isi
jurnal.
2. Penetapan Kadar EPMS menggunakan GC
Review Jurnal (Kumar, 2014)
Chemical Composition of Essential Oil Isolated from the Rhizomes of Kaempferia
galanga
Pada jurnal ini dilakukan penentuan komposisi dari minyak esensial hasil isolasi
dari rhizoma tanaman Kaempferia galanga. Tahapan awal adalah melakukan isolasi
minyak esensial menggunakan metode distilasi uap selama 8 jam dengan Clevenger-type
apparatus. Minyak diekstraksi dari distilat menggunakan dietileter dan kemudian
dikeringkan dengan natrium sulfat anhidrat.
Selanjutnya hasil isolasi ini dianalisis menggunakan GC-MS dengan kolom yang
bersifat nonpolar (30 m x 0,25 mm x 0.10 m). Oven dijaga pada suhu 50 0 C selama 5
menit, dinaikkan perlahan hingga mencapai suhu 280 0 C dengan kenaikan 40 C /menit dan

ditahan selama 10 menit. Gas pembawa yang digunakan adalah helium (0.7 ml/menit),
dengan rasio split injeksi 1:20.
Pada hasil dinyatakan bahwa persen kandungan terbesar adalah etil sinamat dan
etil p-metoksi sinamat (EPMS). Penyajian data yang diberikan pada jurnal kurang
lengkap. Seharusnya disertakan gambar kromatogram maupun spektra hasil analisis
mengunakan GC-MS sehingga dapat terlihat secara jelas perbedaan setiap komponen
yang terkandung di dalam Kaempferia galanga. Pada jurnal ini penetapan kadar EPMS
hanya dilakukan dengan membandingkan peak area EPMS dengan standar.
Review Jurnal (Tunsaringkarn et al., 2007)
Pharmacognostic Specification of Kaempferia galanga Rhizome in Thailand
Pada jurnal ini dilakukan studi spesifikasi farmakognostik dari Kaempferia
galanga untuk standarisasi bahan baku obat. Beberapa uji dilakukan untuk menyatakan
bahwa bahan baku siap digunakan untuk pembuatan obat tradisional. Uji tersebut
diantaranya adalah uji makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar abu larut asam,
penetapan kadar zat larut etanol, penetapan bobot susut pengeringan, penetapan
kandungan air dan penetapan kandungan minyak atsiri.
Salah satu kandungan minyak atsiri dalam tanaman Kaempferia galanga adalah
etil p-metoksi sinamat (EPMS). Untuk penetapan kadar EPMS dalam tanaman dilakukan
menggunakan GC-MS. Tahapan awal penetapan kadar adalah dengan melakukan
ekstraksi tanaman menggunakan metode distilasi dengan alat Clevenger apparatus.
Selanjutnya ekstrak dianalisis menggunakan GC-MS dengan kondisi alat sebagai berikut,
kolom menggunakan silica (30 m x 0.25 mm x 0.25 m) dengan menggunakan ion trap
detektor. Temperatur injector 1800 C, dengan split rasio 1:100. Temperatur oven dijaga
pada suhu 600 C selama satu menit, kemudian dinaikkan hingga suhu mencapai 240 0 C
dengan kenaikan 3.30 C/menit. Digunakan helium sebagai gas pembawa, dengan laju alir
1 ml/menit. Hasil kromatogram dari GC akan diidentifikasi menggunakan MS dan
dicocokkan dengan standar pada library yang tersedia. Penetapan kadar pada jurnal ini
dilakukan dengan menggunakan parameter perbandingan peak area sampel dengan
standar.
Penyajian data oleh penulis sudah baik namun kurang lengkap, seharusnya data
MS dari EPMS perlu dilampirkan dan validasi metode perlu dilakukan untuk memastikan
ketepatan metode yang digunakan.

3. Penetapan Kadar EPMS menggunakan HPLC


Review Jurnal (Sirisangtragul et al., 2011)
Effect of Ethyl-p-Methoxy Cinnamate from Kaempferia galanga on Cytochrome P450
Enzymes Expression in Mouse Hepatocytes
Pada jurnal ini disebutkan bahwa tahapan awal penetapan kadar (Etil p-metoksi
sinamat) EPMS menggunakan HPLC dilakukan dengan cara mengekstraksi serbuk kering
Rhizoma dari Kaempferia galanga menggunakan metode maserasi dengan pelarut
diklorometan selama tujuh hari kemudian disaring melewati kertas saring Whatman no. 1.
Selanjutnya, pelarut diuapkan menggunakan rotavapor.
Ekstrak dari Kaempferia galanga kemudian

difraksinasi

menggunakan

kromatografi kolom (70-230 mesh) dan dieluasi menggunakan fase gerak diklorometan :
heksan (70 : 30 sampai 95 : 5). Fraksi yang telah dipisahkan kemudian ditotolkan pada
plat KLT GF254 dan dieluasi menggunakan fase gerak diklorometan : heksan (95 : 5).
Fraksi yang mengandung EPMS kemudian dikumpulkan dan dikeringkan.
Identifikasi hasil fraksinasi EPMS dilakukan dengan menggunakan FTIR,
sedangkan untuk menentukan kemurniannya digunakan HPLC dengan mode isokratik
menggunakan pelarut asetonitril : methanol : 20 mM NaH 2PO4 (30 : 40 : 30). Laju alirnya
sebesar 1 ml/menit, dengan kolom ODS (5 m, 4.6 x 250 mm) dan guard kolom
Bondpack 10 m C18 untuk pemisahannya pada panjang gelombang 270 nm.
Selanjutnya hasil spektra dan kromatogram dibandingkan dengan standar EPMS.
Penyajian data oleh penulis sudah dipaparkan dengan jelas dan memudahkan
orang dalam memahaminya karena dilengkapi dengan keterangan pada gambar terlampir.
Untuk memastikan senyawa yang akan dianalisis adalah benar EPMS sebaiknya perlu
dilakukan penentuan peak identity dan peak purity agar hasil yang diperoleh lebih valid.
Review Jurnal (Kavita et al., 2014)
HPLC method for standardization of Hedychium spicatum (Ham) oil using EPMC as a
marker compound
Pada jurnal ini dilakukan standarisasi untuk minyak dari Hedychium spicatum
dengan EPMS sebagai senyawa marker aktifnya. Standarisasi akan dilakukan dengan
HPLC sehingga perlu dilakukan validasi metode. EPMS dari sampel akan dibandingkan
dengan EPMS tunggal dengan kemurnian 99,7 %.

Analisis dilakukan menggunakan HPLC dengan detector DAD dan fase gerak
campuran isokratik methanol air yang mengandung 0,01 % asam trifluoroasetat dengan
perbandingan 70 : 30 dan kolom C18. Validasi yang dilakukan adalah selektivitas,
linieritas, presisi, dan robustness. Dari hasil validasi metode diketahui bahwa standarisasi
minyak Hedychium spicatum dengan marker EPMS dapat dilakukan dengan HPLC. Pada
uji selektivitas tidak ditemukan adanya pengganggu pada peak EPMS. Koefisien korelasi
untuk linieritas didapatkan hasil 0,9994 dan masih masuk ke dalam kriteria, begitu juga
dengan validasi yang lain yaitu presisi dan robustness.
Penyajian data dan metode pada jurnal ini sudah memberikan informasi yang jelas
mengenai validasi metode menggunakan HPLC. Namun tidak dilakukan penetapan kadar
EPMS dalam minyak Hedychium spicatum secara jelas. Hanya ditunjukkan bahwa bisa
dilakukan standarisasi dengan menggunakan metode HPLC.
III.

Pembahasan
Berdasarkan jurnal yang telah dibaca, penetapan kadar etil p-metoksi sinamat (EPMS)
dapat dilakukan menggunakan beberapa metode dan alat. Masing-masing metode yang telah
dipaparkan pada jurnal memiliki kekurangan dan kelebihan.
Prosedur penetapan kadar EPMS yang benar seharusnya meliputi beberapa tahapan
yaitu preparasi sampel (ekstraksi analit), analisis (menggunakan GC, TLC atau HPLC).
Tahapan analisis ini meliputi proses validasi metode (linearitas, presisi, akurasi dan
selektivitas) serta penentuan peak identity dan purity untuk memastikan kebenaran senyawa
yang dianalisis merupakan EPMS. Setelah itu dapat dilakukan penetapan kadar EPMS
menggunakan perbandingan peak area sampel dan standar.
Metode yang digunakan pada praktikum materi II sudah mencakup semua yang telah
disebutkan di atas. Mulai dari preparasi sampel, analisis menggunakan TLC serta penentuan
peak identity dan purity.
Pada preparasi sampel, pemilihan pelarut yang sesuai merupakan faktor penting dalam
proses ekstraksi. Pelarut yang digunakan adalah pelarut yang dapat menyari sebagian besar
metabolit sekunder yang diinginkan dalam simplisia (Depkes RI, 2008). Secara umum
digunakan metanol sebagai pelarut karena bersifat universal dan dapat menarik sebagian
besar senyawa kimia dalam tanaman. Metanol dapat melarutkan analit yang bersifat polar

dan nonpolar. Metanol dapat menarik alkaloid, steroid, saponin, dan flavonoid dari tanaman
(Thompson, 1985).
IV.

Kesimpulan dan Saran


Prosedur penetapan kadar EPMS yang benar seharusnya meliputi beberapa tahapan
yaitu preparasi sampel (ekstraksi analit), analisis (menggunakan GC, TLC atau HPLC).
Tahapan analisis ini meliputi proses validasi metode (linearitas, presisi, akurasi dan
selektivitas) serta penentuan peak identity dan purity untuk memastikan kebenaran senyawa
yang dianalisis merupakan EPMS. Setelah itu dapat dilakukan penetapan kadar EPMS
menggunakan perbandingan peak area sampel dan standar.
Penyajian data yang dilakukan oleh penulis sebagian besar sudah jelas dan mudah
dimengerti, tetapi ada beberapa jurnal yang tidak mencantumkan data pendukung seperti
hasil kromatogram lengkap dengan luas area dan waktu retensi sehingga pembaca sulit
menentukan peak mana yang menunjukkan adanya EPMS. Untuk itu disarankan agar
penyajian data pada jurnal dibuat lebih jelas dan didukung dengan data-data yang seharusnya
perlu untuk dicantumkan.

V.

Daftar Pustaka
Astarina, N.W.G,. Astuti, K.W,. Warditiani, N.K,. Skrining Fitokimia Ekstrak Metanol
Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Roxb). Universitas Udayana
Depkes RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia Edisi 1. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Hanumantharajul, N., Shashidhara, S., Rajashekharan, P.E., Rajendra, C.E. 2010. Evaluation
of Ethyl-p-methoxy Cinnamate in Natural and in vitro Regenerated Plant of
Kaempferia galangal by HPTLC Method. International Journal of Biotechnology
and Bioengineering Research Vol. 1, No. 2, 131137
Kavita, S., Rahul, S., Ashish, S. 2014. HPLC Method for Standardization of Hedichium
spicatum (Ham) Oil using EPMC as a Marker Compound. International Journal
Curr Sciences, 11: 26-31
Kumar, A. 2014. Chemical Composition of Essential Oil Isolated from the Rhizome of
Kaempferia galanga L. International Journal of Pharma and Bio Sciences, 5 (1): 225231

Rahimah., Sayekti, E., Jayuska, A. 2013. Karakterisasi Senyawa Flavonoid Hasil Isolat
dari Fraksi Etil Asetat Daun Matoa (Pometia Pinnata J.R.Forst & G.Forst). JKK,
Vol. 2(2), 84-89
Sirisangtragul, W., Jarukamjorn, K., Nemoto, N., Yenjai, J., Sripanidkulchai, B. 2011. Effect
of Ethyl p-Methoxy Cinnamate from Kaempferia galanga on Cytochrome p450
Enzymes Expression in Mouse Hepatocytes. Chiang Mai J. Sci, 38 (3): 453-462
Thompson, E. B. 1985. Drug Bioscreening. America: Graceway Publishing Company, Inc.
Tunsaringkarn, T., Palanuvej, C., Rungsiyothin, A., Issaravanich, S., Vipunngeun, N.,
Chuthaputti, A., Ruangrungsi, N. 2007. Pharmacognostic Specification of
Kaempferia Galanga Rhizome in Thailand. J Health Res, 21(3): 207-214
Wagner, H., Bladt, S., Zaganiski, E.M. 1996. Plant drug analysis 2nd Edition. Spinger
Verlag., Berlin.