Anda di halaman 1dari 4

Rhipicephalus

Rhipicephalus sanguineus

Merupakan jenis caplak yang menyerang anjing di indonesia. Caplak sering


disamakn dengan kutu, sebenarnya membedakan caplak dengan kutu atau
pun pinjal dapat dilihat dari ukurannya. caplak memiliki ukuran yang lebih
besar daripada kutu / pinjal. Rhipicephalus sanguineus ini mempunyai
palpus pendek dan sebuah basis kapituli yang berbentuk segienam di
sebelah dorsal. Caplak muda memiliki tiga pasang kaki, sedangkan caplak
dewasa memiliki 4 pasang kaki. Rhipicephalus sp. yang sering menyerang pada anjing di
Indonesia adalah Rhipicephalus sanguineus.[2] Caplak mudah dikenali karena ukurannya yang
besar hingga 30 milimeter dengan bentuknya yang memiliki tiga pasang kaki (tahap belum
dewasa) dan empat pasang kaki (tahap dewasa) serta berwarna coklat gelap.[3] Caplak betina
bagian punggungnya berbentuk heksagonal.[butuh rujukan] Parasit ini paling sering ditemukan di
kepala, leher, telinga dan telapak kaki anjing.[4] Caplak jantan memiliki lempeng adanal yang
menyolok.[4]

Siklus Hidup
Caplak memiliki 4 tahapan siklus hidup yaitu telur, larva, nimpha dan
dewasa. Daur hidupnya diawali dari bentuk telur yang diletakkan induknya di
tanah. Caplak dewasa setelah kawin akan menghisap darah sampai kenyang,
lalu jatuh ke tanah dan disinilah akan bertelur. Larva yang baru menetas
segera akan mencari inangnya dengan pertolongan benda-benda sekitarnya
serta bantuan olfaktoriusnya. Setelah mendapatkan inangnya, ia akan
menghisap darah inang darah hingga kenyang (enggorged) lalu akan jatuh
ke tanah atau tetap tinggal pada tubuh inang tersebut dan segera menyilih
(molting) menjadi nimfa. Nimfa menghisap darah kembali, setelah kenyang
akan jatuh ke tanah dan molting menjadi capak dewasa.
Satu siklus daur hidup berkisar antara 6 minggu sampai tiga tahun(dalam
keadaan tertentu). Yang dewasa dapat bertelur sekitar 100-5.000
butir/caplak. Caplak sangat tahan terhadap perubahan fisik misalnya

terendam air, kekeringan


berbulan-bulan.

atau

ketidakadaan

makanan

dalam

waktu

Patogenesa
Caplak dapat menularkan penyakit melalui dua cara yaitu secara transtadial
dan tranovarial. Secara transtadial artinya setiap stadium caplak baik larva,
nimfa maupun dewasa mampu menjadi penular patogen, sedangkan secara
transovarial artinya caplak dewasa betina yang terinfeksi patogen akan
dapat menularkannya pada generasi berikutnya melalui sel-sel telur.
Gejala Klinis
Dermatosis
Infestasi caplak dapat mengakibatkan kerusakan kulit atau dermatosis
sehingga menurunkan kualitas kulit. Infestasi caplak juga menghilangkan
rambut penutup dan menimbulkan suatu jaringan nekrotik pada kulit.
Iritasi
Tusukan kelisera menyebabkan iritasi dan kegelisahan sehingga aktivitas
dan waktu istirahat inang akan berkurang. Tusukan kelisera akan
memperbesar faktor stress yaitu banyak energi yang terbuang, sehingga
akan menurunkan efisiensi makanan dan sekaligus menghambat laju
pertumbuhan badan dan daya produksi.
Pegendalian
Pengendalian secara kimia dengan cara penggunaan akarisida, antara lain
spraying (penyemprotan), dipping (perendaman), pour on (penuangan),
jetting (penyemprotan dengan tekana tinggi), atau dengan backrubber
(penggosok punggung). Cara penggunaan akarisida untuk pengendalian
caplak berbeda pada setiap negara, misalnya di Australia cara jetting
sepanjang punggung dan daerah bahu merupakan cara yang dinilai lebih
efektif dibandingkan penyemprotan biasa. Di Selandia Baru dan Inggris
digunakan cara dipping, sedangkan di Amerika Serikat, Australia dan Afrika
cara dipping dan spraying digunakan untuk pengawasan sebagian infestasi
caplak. Jadi penggunaan akarisida tergantung dari caplak berumah satu atau
lebih.

Klasifikasi caplak (genus Rhipicephalus) menurut Sonenshine dkk (2002) adalah sebagai berikut
:
Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda

Class: Arachnida
Subclass: Acari
Superorder: Parasitiformes
Order: Ixodida
Family: Ixodidae
Genus: Rhipicephalus
Morfologi :

ukurannya besar hingga 30 milimeter


berwarna coklat gelap

tiga pasang kaki (tahap belum dewasa) dan empat pasang kaki (tahap dewasa)

mulut terletak pada ujung anterior tubuh

sepasang mata pada sisi lateral skutum

sepasang stigmata atau spiraker pada sisi posterior lateral sampai koksa keempat kaki.

basis kapitulum terdapat bagian alat-alat mulut, palpi, kalisera, hipostoma.

Caplak Rhipicephalus sanguineus merupakan pengganggu baik pada hewan


domestik maupun manusia, karena banyak penyakit sistemik yang diperantarai
olehnya. Sampai saat ini masih belum ditemukan cara untuk mencegah infestasi
dan penyebaran dari R.sanguineus . Tujuan penelitian ini adalah mempelajari sifat
immunogenik dari R. sanguineus yang dapat meningkatkan kekebalan terhadap
caplak tersebut. Penelitian ini dilakukan pada anjing, kelinci dan domba. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pada anjing, baik kelompok vaksinasi maupun
kelompok tanpa vaksinasi (kontrol), terjadi infestasi caplak R. sanguineus. Namun
pada kelompok kontrol, infestasi caplak sangat berat dibandingkan dengan
kelompok yang divaksinasi. Hasil yang sama ditunjukkan pula pada domba dan
kelinci kelompok kontrol. Pada kelinci walaupun secara statistik tidak berbeda nyata
(p > 0.05), nilai ERCE (Efficiency rates of female ticks in converting their food
reservoir to eggs) pada kelompok vaksinasi menunjukkan kecenderungan yang
lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol.

http://id.wikipedia.org/wiki/Rhipicephalus_sanguineus